Ringkasan Singkat
Video ini membahas tentang bagaimana menjadi orang Kristen yang dewasa secara rohani dan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa poin utama meliputi:
- Kekristenan sejati harus berbuah dan berdampak bagi orang lain.
- Pentingnya berjalan bersama Roh Kudus dan memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan.
- Menguji segala sesuatu yang kita lakukan agar berkenan di hadapan Tuhan.
- Memperhatikan bagaimana kita hidup dan menggunakan waktu dengan bijaksana.
- Menjadi garam dan terang dunia, memancarkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
Pembukaan dan Doa
Pendeta Peter Guntur membuka ibadah dengan doa, memohon kehadiran Roh Kudus untuk menjamah setiap orang yang hadir. Ia menekankan pentingnya bergantung sepenuhnya pada Tuhan dan meminta hikmat, wahyu, dan pengertian. Pendeta juga meminta jemaat untuk fokus kepada Tuhan dan khotbahnya, bukan pada handphone mereka.
Kedewasaan Rohani
Pendeta mengingatkan jemaat bahwa mereka telah merayakan ulang tahun gereja yang ke-28, yang berarti mereka harusnya dewasa secara rohani. Orang dewasa rohani seharusnya memanifestasikan kuasa Tuhan dalam hidup mereka, berdoa untuk orang lain, menginjil, memuridkan, dan memiliki karakter seperti Kristus. Mereka tidak lagi seperti bayi yang hanya ingin disuapi dan dilayani, tetapi mampu menghadapi masalah dengan pengertian firman Tuhan.
Buah Kekristenan
Pendeta menjelaskan bahwa kekristenan harus berbuah. Buah yang dihasilkan akan dinikmati oleh orang-orang di sekitar kita. Ia mengutip Lukas 6:43-45, yang menyatakan bahwa pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, dan orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya. Penting untuk berjalan bersama Roh Kudus setiap hari agar buah Roh dapat termanifestasi dalam hidup kita.
Praktik Firman dalam Kehidupan Sehari-hari
Pendeta menekankan bahwa praktik firman Tuhan tidak hanya terjadi di gereja, tetapi juga di jalan, di toko, di pabrik, dan dalam menghadapi berbagai situasi sulit. Apa yang kita manifestasikan melalui perkataan dan tindakan kita menunjukkan apa yang ada di dalam hati kita. Jika hati kita dipenuhi dengan firman, maka kita akan menghasilkan buah yang baik. Orang Kristen harus tahan uji dalam segala situasi dan kondisi, tetap tenang dan percaya bahwa Tuhan menyertai kita.
Menguji Diri Sendiri
Pendeta menyatakan bahwa kekristenan kita diuji bukan di gereja, tetapi ketika kita diperhadapkan dengan situasi dan keadaan yang buruk. Reaksi pertama kita dalam menghadapi masalah menunjukkan siapa kita sebenarnya. Kita harus memanifestasikan buah Roh seperti kesabaran, kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Pendeta mengajak jemaat untuk selalu tersenyum dan bersikap manis kepada orang lain, terutama kepada keluarga.
Mengasihi Tanpa Batas
Pendeta menjelaskan bahwa manifestasi kekristenan sejati adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain, terutama orang yang tidak layak dikasihi. Kasih yang sejati adalah mengasihi tanpa batasan, seperti Tuhan yang panjang sabar terhadap kita. Jika kita tidak menghasilkan buah, kita akan ditebang dan dibuang ke dalam api (Matius 3:10).
Urapan dan Hubungan Pribadi dengan Tuhan
Pendeta menekankan bahwa setiap orang percaya adalah orang yang diurapi Tuhan dan memiliki kuasa serta otoritas. Kita harus berani menumpangkan tangan pada orang sakit dan mengusir setan. Penting untuk memiliki keintiman dengan Tuhan, meluangkan waktu untuk duduk diam di kaki Tuhan dan terhubung dengan-Nya. Kekristenan tanpa hubungan pribadi dengan Tuhan seperti rumah tangga tanpa komunikasi.
Tinggal di Dalam Tuhan
Pendeta mengutip Yohanes 15:5, yang menyatakan bahwa kita adalah ranting-ranting dan Tuhan adalah pokok anggur. Jika kita tinggal di dalam Tuhan, kita akan berbuah banyak. Di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita harus selalu disertai Tuhan agar apa pun yang kita sentuh dan pegang diurapi dan berhasil.
Menghitung Waktu dengan Bijaksana
Pendeta mengingatkan bahwa waktu tidak dapat diulang. Kita harus menghitung hari-hari kita dan menggunakan waktu yang ada untuk memuliakan nama Tuhan. Jangan buang waktu dengan sia-sia, tetapi buat hidup kita bermakna dan bernilai sehingga menjadi dampak bagi banyak orang.
Terang yang Berbuah Kebaikan
Pendeta menjelaskan bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Hidup kita harus menghasilkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran (Efesus 5:9). Orang yang hatinya lembut akan cepat diubah oleh Tuhan dan bertobat dari perbuatan yang tidak berkenan kepada-Nya. Kita harus menguji segala sesuatu yang kita lakukan agar berkenan di hadapan Tuhan.
Memperhatikan Cara Hidup
Pendeta mengajak jemaat untuk memperhatikan cara hidup mereka dengan seksama. Jangan menjadi orang bebal yang pemarah dan emosional, tetapi menjadi orang arif yang bijaksana dan menggunakan waktu dengan baik. Kita harus mengerti kehendak Tuhan dan dipenuhi dengan Roh Kudus (Efesus 5:15-18). Pengalaman dipenuhi Roh Kudus akan membuat hidup kita berkuasa.
Berdoa dan Mempraktikkan Firman
Pendeta mengakhiri khotbahnya dengan mengajak jemaat untuk fokus kepada Tuhan dan mempraktikkan firman dalam kehidupan sehari-hari. Ia kemudian memimpin doa, memohon kuasa Tuhan untuk menjamah dan memberkati jemaat.

