Surat Untuk 20an: Belajar Berteman Dengan Rasa Takut | Henry Manampiring

Ringkasan Singkat

Henri Manampiring, seorang penulis dan profesional marketing, berbagi 5 pesan utama untuk anak muda usia 20-an berdasarkan pengalamannya selama 50 tahun. Pesan-pesan tersebut meliputi:

  • Hidup seperti permainan kartu: menerima keadaan awal dan memainkan kartu yang ada sebaik mungkin.
  • Memahami dan memanfaatkan privilege yang dimiliki.
  • Mengutamakan mental resilience (ketahanan mental) daripada mental comfort (kenyamanan mental).
  • Melakukan sesuatu meskipun tidak termotivasi, karena tindakan itu sendiri dapat membangun kekuatan mental.
  • Berhati-hati dalam memilih teman dan komunitas yang mendukung pertumbuhan positif.

Pembukaan

Henri Manampiring memperkenalkan dirinya sebagai penulis buku filosofi Teras dan profesional dengan 25 tahun pengalaman di bidang marketing. Ia merasa terhormat bisa berbicara di acara ini, terutama karena tema "A Letter to My 20s" sangat cocok dengan buku terbarunya, "50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan." Henri menekankan pentingnya pembelajaran antar generasi dan menghindari konflik antar generasi. Ia mengapresiasi inisiatif yang mempromosikan pertukaran pengalaman dan pengetahuan antara generasi yang berbeda.

Strategi vs. Taktik dalam Kehidupan

Henri menjelaskan perbedaan antara strategi dan taktik dengan contoh liburan akhir pekan di Bandung. Strategi adalah tujuan besar (misalnya, liburan ke Bandung untuk mencari udara segar dan kuliner), sedangkan taktik adalah langkah-langkah spesifik untuk mencapai tujuan tersebut (misalnya, naik kereta apa, aktivitas apa saja yang akan dilakukan). Generasi yang lebih tua dapat membantu dengan strategi, sementara generasi muda dapat berbagi taktik, terutama dalam hal teknologi dan media sosial.

Hidup adalah Permainan Kartu

Henri menganalogikan hidup dengan permainan kartu. Kita tidak bisa memilih kartu yang dibagikan (misalnya, jenis kelamin, keluarga, suku), tetapi kita bisa memilih cara memainkannya. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki privilege, meskipun seringkali tidak disadari karena terlalu fokus pada privilege orang lain. Henri mengajak audiens untuk menyadari dan memanfaatkan privilege yang mereka miliki.

Jangan Hanya Mengutuki Kartu yang Ada

Henri menekankan bahwa hidup tidak fatalistik. Kita masih bisa memainkan kartu yang ada sebaik mungkin. Hidup tidak akan menunggu jika kita hanya mengeluh dan menyalahkan keadaan. Semesta mengawasi bagaimana kita memainkan permainan ini. Ia memberikan contoh JK Rowling (Harry Potter), Dun, dan Star Wars yang ditolak berkali-kali sebelum akhirnya sukses, menunjukkan pentingnya untuk terus bermain dan tidak menyerah.

Mental Resilience vs. Mental Comfort

Henri membahas pentingnya kesehatan mental, tetapi mengingatkan bahwa mental health berbeda dengan mental comfort. Hidup itu tidak adil, dan hal buruk bisa terjadi pada siapa saja. Oleh karena itu, kita membutuhkan mental resilience (ketahanan mental) untuk menghadapi tantangan hidup. Ia menyarankan untuk "menemani" rasa takut daripada melawannya, karena rasa takut sebenarnya ingin melindungi kita.

Lakukan Saja Meski Takut

Henri tidak menyukai kata "motivasi" karena bisa menjadi seperti narkoba. Seharusnya, kita melakukan sesuatu karena tahu itu benar, bukan karena termotivasi. Ia mengutip "If you can't beat the fear, do it scared." Ia juga menjelaskan temuan sains tentang anterior singulate cortex, bagian otak yang tumbuh semakin besar setiap kali kita memaksa diri melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Bagian ini sangat kuat pada atlet profesional dan orang yang berumur panjang.

Overthinking is Underdoing

Henri mengatakan bahwa overthinking (terlalu banyak berpikir) seringkali disebabkan oleh kurangnya aktivitas. Obat untuk overthinking adalah "do something." Ia juga menekankan bahwa konsistensi tidak harus selalu sempurna. Yang penting adalah tetap muncul dan melakukan yang terbaik.

Soulmate dan Pentingnya Memilih Teman

Henri tidak percaya pada konsep satu soulmate. Menurutnya, ada potensi multiple soulmate dalam hidup kita. Ia juga menekankan pentingnya memilih teman dengan hati-hati. Bergaul dengan orang-orang yang positif dan mendukung akan mengangkat kita, sementara bergaul dengan orang-orang yang negatif akan menyeret kita ke bawah.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Semakin jauh seorang melangkah, semakin banyak hal yang ternyata bisa lepas. Di sesi ini, kita akan mendengarkan surat dari mereka yang sudah cukup lama meninggalkan umur 20-an. Selamat datang di sesi terakhir hari ini. A letter to me in my 20. Halo, selamat malam semua. Malam. Masih semangat enggak? Masih. Wah, luar biasa yang saya iri ya dari

0:47 teman-teman usia 20-an tuh stamina konser. Saya bilang ini generasi yang masih bisa konser sampai tengah malam. Kalau angkatan saya tuh jam 09.00 sudah menguap. Itu band band pembuka aja belum mulai. Ee saya senang banget ee hadir di sini berasa energinya. Eh, welcome again. Eh, terima kasih mau ngedengerin eh sesi saya. Nama saya Henri Manampiring. Eh, mungkin lebih dikenal sebagai penulis buku filosofi Teras, Davag Guide, dan buku-buku lain. Eh, tapi saya juga sebenarnya punya 25 tahun pengalaman berkarir di bidang marketing dan advertising. Emm, saya sebenarnya bagian dari GenX.

1:35 Kalau tadi kan sesi sebelumnya teman-teman dari usia 40-an itu milenial ya. Nah, saya GenX yang saya selalu bilang kami ini generasi yang enggak kelihatan, generasi yang kasihan. Kenapa? Kalau diperhatikan percakapan di media sosial gensi sekarang ramai ya. Beberapa tahun lalu milenial mulu ya. Kalau ada acara kementerian selalu bagaimana menjangkau milenial gitu. Habis itu dari milenial enggak ada yang ngomongin X. Kasihan banget gitu. Lompat langsung ke Boomer gitu kan. Dasar boomer gitu kan udah tua gitu. Tapi kami tuh dikip mulu gitu. Ee saya pernah dimaki-maki di

2:21 media sosial gitu. Dasar boomer itu saya enggak tahu saya mau sedih atau mau ketawa gitu. Karena saya bukan boomer, saya X loh gitu. Ee tapi begitulah ya. Em saya harap ee GenX sekarang masuk usia 50-an dan ada sesuatu yang bisa dibagikan. Dan ini ada hal yang menarik karena saya baru merilis buku ini 50 to20 pesan dari paruh perjalanan itu Desember. Selama saya menulis buku ini sampai rilis bahkan sampai beberapa minggu yang lalu saya enggak pernah tahu loh ada komunitas Indentis. Enggak tahu saya. gitu. Jadi waktu beberapa minggu yang lalu saya dikontak oleh Jihan, "Mas, mau datang enggak? Acara kami judulnya

3:07 Letter to 20. Lah kok sama plek ketiplek sama judul buku saya gitu. Ini istilahnya apa? Mestakung ya gitu. Wah saya mana mungkin menolak gitu kan karena ya ampun kok cocok banget gitu. Dan memang buku ini konsepnya sebenarnya adalah saya menulis surat berisi 50 pesan untuk diri saya sendiri yang berusia 20 gitu. Jadi memang matching banget. Dan tadi saya mendengarkan uraian tentang perjalanan 1 tahun ya eh in your 20s itu saya senang banget, happy banget dengar inisiatif ini karena akhirnya saya melihat ada sebuah apa? komunitas atau gerakan konkret yang mempromosikan intergenerational learning

3:55 bukan konflik. Kita sudah terlalu sering melihat atau mendengar generasi itu diadu gitu ya. yang yang muda ngatain yang tua gitu kan, dasar boomer gitu kan, enggak ngerti, anak muda gitu kan, generasi toksik ngerusak alam. Wah, pokoknya segala cacian dikirim ke yang tua. Yang tua juga sama aja ya bisanya mencerca gitu. Generasi strawberi nih lemah ya kan, generasi galau gitu. Jadi akhirnya tembak-tembakan celaan. Dan kalau kita hanya berhenti sampai situ amat sangat disayangkan. Karena

4:41 sebenarnya kita bisa justru belajar. Belajar. Saya tadi cukup terharu ya dengar lagu yang dinyanyikan itu flashlight. Ini di sini siapa yang nonton film Peach Perfect 2? Enggak, enggak enggak banyak. Enggak nyampai 50%. Itu lagu diambil dari film Page Perfect 2. Itu film favorit saya. By the way, saya suka banget dari yang kesatu sampai yang ketiga. Dan lagu ini diambil dari adegan terakhir dari finalinya. Dan sebenarnya lagunya nih bukan tentang percintaan kalau ngelihat film itu. Itu benar-benar lagu tentang ee apa? Dari satu generasi membimbing ke generasi yang lain, saling menginspirasi. Itu sebenarnya isi ee lagu itu. Dan saya pikir inilah yang

5:27 diperjuangkan oleh Jihan Olif dan kawan-kawan. Kenapa kita bisa saling belajar sih? Ada yang paham bedanya strategi sama taktik? Enggak. Enggak PD nih yang 20-an belum PD ngejawab tahu gitu. Strategi taktik itu dua hal yang berbeda. Saya pakai contoh yang gampang aja deh. Ini kan lagi long weekend. Nah, strategi tuh bisa seperti ini. Long weekend ke mana yang enggak terlalu jauh? gitu ya. Tapi keluar dari Jakarta gitu. Tapi ya dapatlah udara segar dikit-dikit kalau bisa ada kuliner. Nah, strateginya untuk mendapatkan itu apa ya? Misalkan long weekend di Bandung.

6:14 Jelas ya, itu strategi itu. Kita long weekend di Bandung aja gitu nanti dapat tuh hal-hal itu. Tapi kan belum selesai sampai situ aja. Di Bandung itu ngapain? Nah, masuklah taktik gitu ya. pertama ke Bandung mau naik apa? Travel wush. Nanti pembagian aktivitas hari satu, hari kedua ngapain? Kapan kita kuliner, kapan kita jalan-jalan? Kapan kita foto-foto instagramable? Nah, itu yang namanya taktik-taktiknya. Cukup jelas sekarang bedanya ya. Jadi strategi itu yang besarnya, gambaran besarnya kayaknya Bandung paling cocok deh gitu. Oke, tapi terus mau ngapain nih? Nah, itu itu taktik-taktiknya. Nah, dalam pelajaran antar generasi kita

7:00 saling bisa membantu di dua hal ini. Yang lebih tua milenial, GenX, Boomer, yang udah duluan digebukin dalam hidup itu bisa menyumbang strategi. Kan kami dikorbanin duluan nih, sudah jalan duluan. Kita laporan pandang nih ee guys, ternyata hidup kayak gini loh. Gitu. Jadi lebih ke lebih banyak ke strategi dan arah besarnya. Tetapi kami belajar banyak urusan taktik ke teman-teman kayak tadi luar biasa kan bikin podcast gitu, bikin event tour luar biasa gitu. Yang ngajarin saya buat bikin konten lebih aktif di media sosial ya itu Geni. Jadi em biar teman-teman melihat ya

7:47 betapa bagusnya inisiatif ini agar kita saling belajar dan ada banyak hal yang kita bisa pertukarkan. Jadi bukan satu arah ya. itu bukan satu arah. Dan kalau saya nanti ada di sini nanti Mbak Reda dan juga tadi mungkin kawan-kawan yang 40-an saya rasa spiritnya sama ya. Pada akhirnya ini adalah pilihan dan keputusan hidup teman-teman sendiri. Bukan kami yang menentukan. Bukan kami yang mengatakan, "Hai, kamu yang 20-an harus berbuat ini." Enggak. Enggak bisa seperti itu ya. Tapi harapan kami adalah keputusan keputusan teman-teman nanti itu lebih inform, lebih dapat ee apa sudut pandang

8:33 ya, lebih banyak dapat pengalaman orang lain sehingga pilihan-pilihannya lebih baik. Tapi kami tidak akan bisa mendikte apa keputusan teman-teman. Oke, mari mulai ee dengan yang yang ingin pertama kali saya share. Siapa di sini yang suka main kartu? Ada enggak suka main kartu? Wah, ini penjudi profesional enggak ketangkap semua? Enggak, enggak bercanda. Terima kasih. Siapa yang pernah main kartu? Enggak usah suka. Nah, oke. Pernah ya? Mayoritas bagus. Jadi enggak susah jelasin analoginya. Ee teman-teman, sesudah saya hidup 50 tahun sampai saat ini ya saya merasa analogi

9:21 hidup terbaik itu adalah hidup seperti permainan kartu. Jangan bukan aspek judinya ya kan main kartu tuh enggak harus judi. Gimana sih baru judi kalau pakai taruhan duit? Kalau enggak mah itu ini aja sport aja biasa permainan games. Emm kenapa saya bilang hidup seperti permainan kartu? Pada saat awal permainan kartu dibagikan kita bisa milih enggak? Enggak. Enggak ada permainan kartu yang kamu milih sendiri tuh enggak ada. Semua pasti dibagikan gitu ya. Dikocok, dibagikan dan teman-teman harus mulai dari apa yang ee didapat. Dan itu analogi pertama dari hidup. Dalam banyak hal, Teman-teman,

10:08 tidak bisa memilih jenis kelamin, mungkin orang tuanya, suku apa teman-teman dilahirkan, kota di mana ee teman-teman mengawali hidup seperti dapat kartu. Udah nih kartumu ya, warna kulit gitu ya. Dan enggak tahu warna kulit sudah bisa diputihin ya sekarang. Rambut saya tahu bisa dicatok dan lain-lain. Tapi warna kulit mungkin sudah bisa diubah. Tapi hidup tuh seperti itu ya. Banyak hal yang ee terima aja. Nah, itu membawa saya ke poin berikutnya bahwa kartu-kartu teman-teman itu saya

10:53 yakini semua orang di sini itu sebenarnya privilege kok. Sebenarnya kita semua di sini, saya percaya satu demi satu privilege. Tadi Jihan sebenarnya udah udah colongan duluan ya waktu dia katakan, "Teman-teman di sini bisa privilege datang ke sini karena acara di Jakarta gitu, teman-teman. ada di sini sedang sehat, Teman-teman punya duit buat bayar tiketnya. Itu semua bentuk privilege akses akses untuk datang ke sebuah event berkualitas. Tapi saya percaya enggak cuman soal event ini aja. Setiap teman-teman itu punya privilege-nya sendiri yang mungkin

11:40 teman-teman enggak sadari. Kenapa enggak disadari? karena terlalu sibuk ngelihatin privilege orang lain. Kalau teman-teman di sini besar dalam rumah tangga, orang tua yang stabil, orang tua yang saling menyayangi, maybe you take it for granted. Tapi itu privilege bagi banyak orang. Mereka ingin punya orang tua seperti kamu. Mungkin ee kalau teman-teman terlahir dalam agama mayoritas atau suku mayoritas, suka enggak suka, it's a privilege loh di negara ini, gitu. Em, ada film baru di baru ditayangkan ya, filmnya Joko Anwar

12:26 pengebungan di Bukit Duri. Eh, filmnya memang sangat violent, tapi pesannya itu sebenarnya mengangkat tentang isu itu. Friksi minoritas ya. Emm, masalahnya teman-teman sadar enggak bahwa itu em privilege? Karena kita biasanya ngelihatin privilege orang lain ya. Bahkan nih ya teman-teman ya mungkin merasa lahir di Indonesia itu bukan privilege gitu ya. Enggak ngaku aja gitu. Siapa yang enggak pernah terlintas Mei ini menjadi suara hati? Iya enggak? Mengapa aku terakhir WNI gitu kan? Kabur aja dulu gitu. I get it kan betul gitu

13:16 nih ya saya kasih tahu seenggak enak-enaknya apa yang teman-teman lihat di berita benar saya enggak enggak menyangkali itu. Tapi kalau nanya sama saya nih ya terlahir di Indonesia itu masih privilege loh. Beneran masih privilege. ada minusnya. Tapi kalau kita mau lihat secara keseluruhan masih privilege negara kita enggak dikoyak-koyak perang. Oke. Relatif masyarakat kita itu relatif hidup dalam rukun, relatif harmonis loh. Yang berantem kan cuma di Twitter doang, cuman di X doang, udah cuman di situ doang gitu. Yang enggak tahu kenapa tiap hari ada alasan berantem. Tetapi in real life nih ya, kita hidup dalam masyarakat

14:03 yang relatif harmonis loh. Enggak kayak negara lain, Ukrain mungkin Palestina gitu. Kita hidup relatif damai. Jadi kadang-kadang kita enggak sadar privilege kita ya. Dan itu sebenarnya ee membuang waktu dan emosi itu ee sia-sia. Jadi saya pengin teman-teman mulai memikirkan privilege teman-teman dari usia 20-an. pasti ada. Kemudian main kartu, kartunya dikasih permainannya enggak. The play is yours. Hanya kartunya doang yang kamu enggak bisa milih. Tapi cara memainkannya itu diserahkan ke teman-teman. Yang artinya hidup itu tidak fatalistik,

14:49 bukan kayak ya itu ya udahlah takdir gua kayak gini terus enggak mau ngapa-ngapain. Enggak. masih ada yang bisa dimainkan gitu dan itu harus dimainkan. Kenapa? Karena hidup enggak akan nungguin kita. Kalau teman-teman enggak mau main, teman-teman komplain terus dengan kondisi teman-teman. Hidup enggak adil. Kenapa saya dilahirkan seperti ini? Kenapa orang tua saya seperti ini? Kenapa kota saya seperti ini? Kenapa rezim saya seperti ini? terus saja enggak main kartu cuman maki-maki kartunya atau sibuk ngelihatin ke kartu orang lain, Teman-teman. Ditinggal sama hidup karena permainan besar ini jalan terus. Dan saya meyakini

15:36 semesta atau Tuhan itu mengawasi permainan teman-teman. Dilihatin nih anak main enggak ya? atau cuman komplain terus kartunya cuma dipegang, dimarah-marahin, dibanding-bandingin sama kartu orang lain dan dia enggak main-main. Hasilnya dia akan tertinggal. Dan 50 tahun saya hidup, saya bertemu dan saya melihat orang-orang seperti itu yang hanya bisa mengutuki keadaannya, apapun yang mereka enggak bisa pilih, tapi mereka enggak mau mainin tuh kartu itu ya. Dan akhirnya mereka up nowhere gitu. Jadi, Teman-teman in your 20s, apapun kartu itu suka enggak suka mainkan aja ya. Kenapa? Karena permainan

16:24 kartu ini bukan satu ronde teman-teman, tapi beronde-ronde gitu. Jangan khawatir, kartunya itu dikocok lagi ada ronde berikutnya. Ini contoh favorit saya. Ini tiga karya kreatif yang saya pikir terkenal, Teman-teman. Tahu enggak JK Rolling Harry? Penulis Harry Potter ditolak berapa kali? Naskah Harry Potter? Ada yang tahu? Jangan Google. 12 kali. 12 kali Harry Potter ditolak, Teman-teman. Dibilang enggak oke. Gila enggak tuh? Dan kata siapa 13 angka sial? Karena penerbit ke-13 yang nerbitin. Eh, Dun ya. Filmnya keren banget. Kalau yang sudah nonton ini berdasarkan buku sebenarnya ditolak 20 kali Dun sampai

17:12 akhirnya terbit Star Wars ditolak oleh dua studio besar baru studio 3 yang menerima. Poinnya apa? Mereka memainkan terus kartunya gitu ngotot enggak mau nyerah dan akhirnya permainan berganti ronde gitu. Jadi teman-teman in your 20s the game is long. Rondenya masih banyak, mainkan ya. Jangan nyerah, jangan cuman ngomel. Topik berikut. Saya senang dengan Gensi ngomongin mental health. Bagus ya. Angkatan saya GenX boro-boro ngomongin mental health. Kalau kami dipukul sama guru di sekolah dan itu lumrah dipukul guru itu jangan harap mengadu ke orang

18:00 tua gitu. Kalau kami ngaduk orang tua, kami dipukul lagi sama orang tua. Goblok banget sih kamu sampai dipukul sama guru gitu. Jadi kami diam aja gitu ya. Itu bukan contoh yang baik ya. Nah, Teman-teman sekarang lebih terbuka sama mental health. Ada satu isu yang saya lihat. Saya melihat bahwa mental health disamakan dengan mental comfort. Mental health bukan mental comfort. Mental health bukan berarti jiwa teman-teman adem, tentram, nyaman terus. Salah. Salah. Ya, mana ada orang bisa dapat physical health, kesehatan fisik hanya dengan hidup yang rebahan dan nyaman. Saya jamin enggak ada. Beneran.

18:47 Kalau teman-teman hanya mau rebahan nih, sesehat-sehatnya paling cuma dari jaga makanan, paling mentok dari dietnya dijaga. Tapi itu tetap aja enggak sehat gitu. Dan teman-teman tahu kalau yang sudah rajin berolahraga, olahraga itu tidak nyaman. Olahraga itu capek. Olahraga itu keram. Olahraga itu panas. Olahraga itu keringetan. Tapi itulah sehat, itulah fit. Dan fit itu bukan nyaman. Karena breaking news, hidup itu enggak adil. Ya, sesudah saya 50 tahun hidup, hidup itu penuh ketidakadilan. Teman-teman boleh berharap hidup seharusnya adil, tapi saya kasih tahu dari sekarang enggak adil.

19:35 Enggak adil. Hal-hal buruk terjadi pada orang-orang yang baik. kamu udah baik, kamu tetap kena kejadian enggak enak, enggak ada hubungannya sama kamu baik atau enggak. Ya, memang that's how life is. Eh, orang-orang akan memperlakukan kamu dengan buruk bahkan ketika kamu sudah jadi orang yang baik. Apalagi kalau main di media sosial ya enggak posting hal yang apa gitu kan. Katanya saya suka apel. Aduh apel enak banget. Terus lu ada masalah sama jeruk gitu. Terus kan lu menghina petani jeruk loh kok jadi ke situ ya. Jadi jadi itu realita dan kenapa makanya saya bilang teman-teman lebih

20:21 butuh mental resilience daripada mental comfort. Ya, jangan cari nyamannya tapi cari comfortnya. Eh, apa? Jangan cari nyamannya tapi cari resilien. Maaf. Sori, ini remote-nya mati ya. Eh panitia. Oke. Sor ini kelompat banget. Nah, mental resilience ini saya minta extend waktu dikit saya akan percepat. Nah, mental resilience biasanya berkaitan dengan takut ya. Yang saya dapat sekarang tuh adalah ternyata rasa takut itu jangan dilawan atau ditumpas. Saya punya alternatif. Gimana kalau rasa takut ditemenin? Karena sebenarnya rasa takut itu niatannya baik. Rasa takut itu ingin

21:07 melindungi teman-teman. Betul enggak? Rasa takut itu melindungi teman-teman dari malu, berusaha menghindari dari kegagalan, menghindari dari sakit hati. Rasa malu itu niatannya baik. Hanya saja kalau diturutin terus-terusan kita enggak maju-maju. Jadi, coba relationship kita dengan takut itu kita ubah gitu ya. Kita bilang, "Makasih ya sudah memperingatkan saya, tapi saya harus melakukan ini." Apakah teman-teman sering melakukan sesuatu terus bestinya bilang, "Jangan." Sering kan aku udah cinta pada dia. Bestinya bilang, "Jangan, jangan. Dia redflek gitu kan. Enggak, enggak dipeduliin kan. Tetap tetap dipacarin baru nyesel kan.

21:53 Baru temannya belakangan kan gitu." Nah, seperti itu juga rasa takut gitu. Dia bisa ngomong seperti apa, tapi teman-teman bisa, you know what, kali ini gua enggak dengerin lu ya rasa takut, please banget karena gua tahu ini yang benar gua harus lakuin buat maju. E, saya suka quote ini. If you can't beat the fear, do it scared. Itu saya suka banget. Ingat-ingat. Jangan nunggu takutnya hilang. Lakuin aja dengan gemeter dan ketakutan. It's ok gitu. The fear will still be there and it's ok. Ya. Dan saya bisa bilang ya yang lebih seram dari takut itu sebenarnya kata motivation. Saya enggak suka sama kata motivation sekarang. Kenapa? Karena motivasi itu jadi

22:39 narkoba, jadi obat. Kalau enggak ada dia, Teman-teman, enggak mau mengerjakan sesuatu. Padahal ee itu pola pikir yang harus diubah. Teman-teman harusnya melakukan sesuatu itu bukan karena termotivasi, tapi karena tahu itu yang benar, gitu. Kalau harus tahu olahraga, enggak ada motivasi, lakuin aja. Enggak usah nunggu motivasi. Lakuin malas, lakuin ngomel, tapi jangan banyak-banyak. Lakuin takut, enggak apa-apa. Tapi just do it. Oke. Jangan tunggu motivasi itu. Dan ini barusan saya dapat nih ada sebuah temuan sains yang menarik. Ini adalah sebuah bagian otak yang warna biru yang namanya anterior singulate cortex.

23:26 Yang ditemukan oleh neuroscience tuh adalah setiap kali teman-teman memaksa melakukan sesuatu yang teman-teman enggak suka. Misalkan, aduh jogging gua malas banget, tapi udah malas banget. Ya udah deh gua tetap lari aja. Setiap teman-teman melakukan itu bagian yang biru itu makin lama makin besar. Oke. Tapi syaratnya teman-teman harus enggak mau gitu, enggak enggak suka gitu. Jadi will power gitu. Kalau teman-teman melakukan sesuatu yang teman-teman enjoy, bagian biru ini enggak akan tumbuh. Harus ada memaksakan diri sendiri. Nah, bagian ini tahu enggak sangat besar di antara siapa? Sangat kuat di antara atlet profesional. Satu ya, karena mereka terbiasa disiplin

24:12 jadinya udah biasa tuh ngalahin kemalasan diri sama orang-orang yang umurnya panjang sekali 100 tahun lebih. Sampai sekarangat ini sains curiga bahwa ee itu adalah tempat semangat hidup ada di situ. Jadi, Teman-teman next time ingat-ingat gitu ya. Kalau malas banget, just do it. Karena itu sehat buat otak. Berikut ini saya bilang, overthinking is underoing. Artinya apa? Artinya sebenarnya teman-teman overthinking karena enggak kurang gerak, kurang banyak aktivitas aja gitu. Jadi obat overthinking do something. Ini baru lewat di media sosial saya. Saya suka ini ee yang kanan aja, Teman-teman. Lihat apa yang dipikir

24:57 orang-orang sebagai konsisten adalah yang atas. Padahal konsisten itu yang di bawah. It's ok. Kadang-kadang naik turun, Teman-teman, enggak 100% all the time. It's ok. Yang penting show up and do it. And that's enough, gitu. Itu cukup. Ee oke, ini saya lewatin aja. Nah, karena ada topik percintaan, saya pikir saya perlu sentuh ini. Ee menurut saya sesudah 50 tahun ya, saya enggak percaya ada konsep satu soulmate. Bullshit menurut saya. Sorry ini boleh didebat tapi menurut saya enggak ada. Yang ada adalah bisa jadi multiple. Bisa jadi multiple. Jadi dalam hidup teman-teman itu sebenarnya dipertemukan dengan potensi soulmate beberapa. Cuman

25:44 kita kebanyakan dengar lagu cengeng sih jadinya ngotot cuman ada satu teman-teman miss opportunity atau mungkin enggak ada. Jangan bilang aduh bukan akhir dunia. Beneran beneran. Banyak orang yang nanti hidup sendiri dan it's ok gitu. It's ok karena kamu bisa happy tanpa harus selalu ada pasangan hidup. Itu yang saya yakini sesudah kehidupan saya. Jadi, ini tolong dipikirkan mungkin enggak enak tapi soulmate bisa banyak, bisa satu, bisa juga. Enggak ada yang dis terakhir karena kita bicara komunitas, saya mau bilang, "Pilihlah teman teman-teman. Berhati-hatilah dalam memilih teman-teman." Eh, filsuf STA Epiktetus

26:30 bilang, "Kalau kamu bergaul dengan orang yang dilumuri lumpur, kamu pasti akan kecipratan juga." Jadi kalau teman-teman bergaul dengan orang-orang yang mencemooh, yang mengecilkan mimpi teman-teman yang hanya bisa negatif, teman-teman akan terseret. Sisi lainnya adalah kalau teman-teman dikelilingi seperti teman-teman di komunitas inenties ini mau belajar, mau improve, saling support, nah niscaya teman-teman juga akan terangkat. That's it waktunya lewat. Sekarang jalani hidup teman-teman. Belajar dari kesalahan. Terima kasih. Makasih. Suatu hari nanti

27:16 kita juga akan ketemu hari di mana kita bisa kasih pesan ke diri kita yang hari ini. Cerita-cerita tadi nunjukin kalau rasa bingung, takut, dan belum tahu harus ke mana, itu wajar. Semua orang pernah ada di titik itu. [Musik] Maybe someday we write our own letter to and we be glad we made it through.

Share

Ringkasan Video YouTube