0:00 Problematika pada orang-orang adalah dia memandang nikah itu cuma nikah. Padahal nikah itu adalah bagian daripada hukum Allah. Hm. Nikah itu cuma perantara, persis kayak uang. Oh, iya kan? Semuanya perlu uang. Ingat enggak? Iya. Semuanya memang juga perlu istri. Iya. Iya. Ada juga sih yang enggak merasa enggak perlu sih. Tapi bagi yang orang-orang yang mau nikah, lu harus ngerti bahwasanya itu adalah perantara. Kalau perantara tidak perlu untuk dianggap sebagai sebuah pencapaian. Itu loh, Tad. Iya. Pencapaian itu aku juga sering kayak gitu maksudnya kayak Heeh. Ya kan nikah ya nikah. Heeh. Kenapa kayak jadi lu kebanggaan terus orang lain yang enggak nikah lebih nista gitu loh. Iya. Lu harus terus kemudian ngejek-ngejek orang yang belum nikah. Jomblo. Betul. Contoh kayak gini ya. Orang mau
0:45 orang Tiki nganterin paket. I tujuannya adalah paketnya nyampe. Betul. Bukan bawa paket ke dalam truk. Hmm. Kalau dia sudah paket dalam truk sudah. itu kemudian di dirasa itu sebuah pencapaian maka dia akan cepat puas. Iya. Iya. Iya. I. Nah, dan ketika orang cepat puas dia mulai akan apa ya? Vulnerable. Hmm. Nikah. Kalau itu dijadiin sebagai sebuah tujuan, maka begitu nikah aku jamin h rasa sayangnya hilang. Eh, itu benar lagi. Bukan rasa sayangnya hilang ya maksudnya [tertawa] maksudnya bukan aku I benar lagi, lebih ke ee karena sejak awal Iya. Bukan itu tujuanku. Betul. Makanya barang orang yang bingung juga kan. Aku dulu bilang prinsipnya tuh
1:31 cintai orang yang kamu nikahi bukan menikahi orang yang kamu cintai. Maksudnya adalah aku punya standar dulu setelah ketemu standarnya tempat aku nikahi dia. Nanti aku belajar mencintai gitu. Nah dari situ ee fokus hidupku tuh bukan berbunga-bunga. Betul. Di hidupku tuh ya ngerjain semua hal yang perlu dilakuin seorang suami, seorang ayah, seorang ya gitulah gitu. Dan kalaupun berbunga-bunga itu bonus itu aku rasa bonus kayak enak juga ya gitu. Ee tapi kalau orang yang nyari bunga-bunganya ketika sudah enggak berbunga lagi, dia nyari bunga di luar kan. Betul. Itu yang sering terjadi. Itu dia. Karena bunga tidak selalu ada di dalam. [tertawa] Kadang di bank, kadang bunga berbunga. Berbunga. Tapi tapi ini ini penting banget ya. Karena gini ya, kalau ada ada orang misalnya nyari tujuannya adalah pernikahan serius. Apalagi laki-laki. Ini kita kasih tahu pada semua pendengar
2:17 kita ya. Ee otak laki-laki dan otak perempuan itu berbeda. Secara neuros itu sudah fix banget bahwa otak laki-laki itu adalah otak pemburu. Iya. Ya. I. I betul. Jadi kalau misalnya kita banding ee kita bayangkan bahwasanya ini adalah zaman-zaman purba gitu kan ya. Yang penting survival instinct. Otak laki-laki itu adalah otak pemburu. Iya. Sementara otak perempuan adalah otak penjaga. Betul. Betul. Maka ketika dia menjaga, dia sangat sensitif terhadap perubahan emosi. Oh iya, iya ya, ya. Dia enggak peduli tujuan sih. Iya, benar. Benar. Oke. Karena yang dia peduliin adalah emosi. Iya. I sensitif harus sensitif. Harus sensitif. Contoh ya misalnya ya, perempuan itu saking sayangnya sama anaknya meskipun anaknya salah dia tetap sayang, dia tetap bela.
3:02 Iya. Kenapa? karena dia sensitif sama hubungan hmm laki-laki. [tertawa] Tapi tapi itu benar kan kalau dia ee karena dia penjaga di rumah ee pemelihara di rumah maka dia harus sensitif kalau ada gangguan apapun. Nah, tapi kalau laki-laki sebagai pemburu sensitif dia enggak fokus entar untuk untuk memanah atau menombak kan engak fokus. Maka laki-laki fokus banget. Oh. Karena laki-laki fokus banget dia sudah tahu bahwasanya karena otaknya di didesain sebagai seorang pemburu. Begitu buruannya dapat dia langsung menurunkan semuanya. Oke. Ya kan? Makanya laki-laki ketika sudah dapat sesuatu, dia merasa itu sudah tercapai, sudah hilang. Iya. Oh. Dia enggak perlu lagi untuk nyari lagi, kan? Dan jika itu adalah nikah itu sendiri, gimana coba bayangin? Ah, dia enggak akan benar-benar mempertahankan lu juga gitu.
3:48 Itulah yang dikatakan dalam teori ekonomi margin the marginal eh sorry the diminishing law of marginal utility. Eh, kalau andaikan tujuan kita adalah makan, he, maka atau dunia lah semua yang bersifat dunia itu adalah semakin kita nikmati semakin hilang tuh rasanya. Hmm. Itu terjadi pada apapun. Contoh ya nih, berapa banyak di antara kita pengin banget beli satu handphone? Betul. Kita nontonin review-nya, kita tontonin 4050 review tentang itu. Semua kita tahu tentang itu. Udah fix banget gua pengen beli ini. Benar-benar fix banget. Udah bayangin kita seperti apa itu kayak ngomongin gue [tertawa] ya. Terus aku lagi relate banget ini. Setelah kita beli, kita pegang. Setelah kita pegang sehari, du hari lama-lama.
4:33 Ee paham enggak sih maksudnya? Lu bisa bayangin kalau itu pernikahan? Iya. It works the same. Kalau tujuannya adalah dunia. Hmm. Tapi kalau tujuannya adalah bukan dunia, rumusnya beda. Hmm. He rumusnya. Jadi semakin lama lu ada di situ, semakin lu jatuh cinta di situ. Itulah namanya sakinah. Tunggu. Kalau dikaitkan sama handphone tadi, aku relate banget. Dan jadi gini, benar kayak ta, Ustaz, ketika kita pengin banget punya handphone itu tonton berkali-kali, berkali-kali sampai sudah kepengin dan benar-benar kayak tiap hari mimpiin itu gitu. Tapi tadi yang Ustaz bilang karena bukan tujuannya itu Iya. Ya kan? Nah, tapi kan itu harus untuk diingatin terus kan tujuan lu apa gitu. Hm. Nah, aku pernah kejadian. Apa benar handphone ini mengantar ke tujuan? Apa jangan aku pengin handphone
5:20 ini doang? Iya. Aku mulai dulu dengan mengganti tas yang lebih kecil untuk bisa masukin handphone aku plus power bank. Karena waktu itu masalah power masalahnya di baterai. Oke. Iya. Ternyata makin kesulitan. Oke, aku coba dulu dengan mengganti baterainya ke tukang servis. Oke. Ternyata masih enggak bisa. Enggak bisa. Jadi aku coba hampir setahun, Tad. Setahun untuk tidak membeli handphone yang aku kan aku lagi ngecek. Betul. Jangan sampai aku penginnya pengin handphone-nya ini padahal ee jangan-jangan bukan karena tujuannya sebenarnya bukan karena fungsinya. Iya fungsi kan ke arah tujuan sebenarnya tujuannya tercapai aja dengan handphone yang lama kok. Nah aku nganti handphone gitu. Ternyata aku sudah coba semua dan memang sangat tidak produktif sampai aku nabung dan akhirnya terbelilah handphone yang baru. He. Dan tadi karena ee antum bilang kan karena sudah tahu tujuannya menikahnya akan sakinah tadi kan. Betul. Aku sekarang megang handphone ini
6:06 lebih banget apa ngerasanya kayak lebih menjaga ya karena aku tahu ini untuk sebuah tujuan. Betul. Jadi benar-benar kalau dulu pernah terjadi terjadi beli doang karena kepengin dalam hitungan minggu tahu-tahu udah ketelingsut di mana. Udah betul dan kepengin lagi beli yang baru. Tahu enggak kenapa aku tahu? Kenapa? Karena aku begitu. Oh makanya aku meng-hack diriku sendiri untuk tidak begitu untuk bisa membedakan mana yang benar-benar kita perlu untuk mencapai tujuan. Mana ini keinginan diri kita doang. Kalau dalam pernikahan gimana cara ngeceknya? Atau kayak mau, "Oh, udah suka nih sama dia atau aku pengin nikah nih, bagus." Biar tahu ini fomo doang kah atau nafsu doang itu gimana? Kayak kata lu tunda dulu. Tunda dulu. Udah jangan buru-buru di khitbah. Tunda dulu ya. Apa yang lu perluin sebenarnya? Contoh ya. Tahu enggak gimana caraku
6:52 menundaing? Gimana? Gimana gimana gimana? Gimana cara antum menunda dan akhirnya tetap nikah muda itu? Iya. Lihat lihat ya. Ya. Nah. I betul. Coba lihat ya. Ada seseorang datang pada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sebelum aku jelasin tentang menunda ini. Iya. Iya. Dan dia bilang pada Rasulullah, "Ya Rasulullah, aku pengin menikah." He, kata Rasul, "Kamu sudah lihat orangnya?" Hm. "Belum, ya Rasulullah? Lihat dulu." Hmm. Berarti jangan langsung Rasul aku pengin nikah kayak gitu kan. Masyaallah, mulia sekali nikah. [tertawa] Iya. Enggak lihat dulu. Oke. "Dukan apa yang kamu sukai daripada dirinya." He dalam arti adalah apa yang kamu perlu dari dia. I ya kamu coba lihat dulu artinya coba di ya kalau bahasa kita adalah tunda dulu. Coba dipikir lagi
7:38 ini benar atau enggak. Oke. Coba lihat ya. Aku punya banyak sekali kalau misal lu buka handphone aku punya banyak sekali barang-barang di marketplace yang aku taruh di keranjang wish lah. Keranjang. Keranjang. Dan kalau ada tanggal kapan aku taruh di kerajang, lu akan lihat ada yang 2 tahun yang lalu, ada yang 3 tahun yang lalu, ada yang beberapa bulan yang lalu, ada yang sudah aku hapus. Hm. Dan kebanyakan tanaman tuh di situ tuh. Oke. Karena aku kan tahu kan sekarang kan mudah banget kita untuk beli tanaman. Mudah banget. Mudah. Dan orang-orang mikir kan gimana bawanya Tiki? Tiki punya karena dia punya ee paket antar khusus untuk tanaman. Nah, tapi banyak banget tanaman di sini kan. He. Nah, ketika banyak banget tanaman di sini Bro itu aku ketika aku masukin tahu enggak? Itu aku tuh di dalam hati rasanya udah kayak beli. Oh,
8:25 paham enggak sih maksudnya? Nah, itu sama aja kayak ketika barangnya datang terus kemudian kita merasa ternyata kita enggak perlu-perlu amat ya. Iya. [tertawa] Sering kayak gitu kalau ini kalau caranya gitu tuh. Oh, masukin dulu ke kerajang udah perlu. Itu yang pertama. Dua, pinjam. Tapi ini aku enggak saranin ketika orang nikah ya, masa pinjam bini orang. Iya, gitu kan ya. Pinjam punya orang barang itu. Iya. Jangan dipinjam ya, Guys. Dimasukin keranjang. [tertawa] Iya. Masuk wislis. Wislis. Wis. Iya. Wisl kan dalam doa-doa sepertiga malam kata orang gitu. He. Tapi enggak usah spesifik orangnya. Kalau spesifik orangnya berarti curang tuh. Berarti itu malah nanti jadi memburu-buru setan yang masuk tuh. Iya. Itu sama aku enggak setuju enggak setuju. Heeh. Gitu kan ya. Nah, artinya itu bisa kita lantunda dulu. Yang kedua adalah ada orang berkata gini,
9:12 "Cenderung orang-orang yang kurang kasih sayang di rumah, A mereka cenderung untuk impulsif." Hmm. Dan salah satu impulsif adalah impulsif dalam memilih pasangan. Oh. Yang mungkin banget ketika dia sudah nikah, dia nyesal, ternyata dia bukan perlu spek ini. Hmm. Paham enggak sih maksudnya? Nah, itu impulsif. Nah, kenapa? Karena kurang kasih sayang. Maka cobalah perbaiki dulu kasih sayangnya di rumah, please. Bagi orang-orang yang mau nikah ya, salah satu nasihat terbaik yang aku yang bisa yang bisa aku berikan pada mereka, perbaiki hubungan dengan orang tua. Berkasih sayanglah dulu. Berkasih sayang dulu supaya kamu ngerti sebenarnya seperti apa pasangan yang kamu perluin. Ah, lah kalau kamu aja sama orang tua kamu enggak bisa berkasih sayang, Guys,
9:58 [tertawa] please. Iya sih. Heeh. Gimana cerita kamu bisa mengasihi orang lain? Atau kamu enggak siap kayaknya untuk dapat limpahan kasih sayang orang? Kalau kamu enggak bisa mengasihi orang tua, gimana kamu bisa menua bersama orang yang kamu kasihi? Oi [tertawa] ada lagunya tuh. Apa ustaz? Puasaku batal sukanya [tertawa] menguji. Tapi paham kan maksudnya kan? Nah, makanya aku bilang sebelum itulah kenapa birul walidain itu perlu ketika sebelum dia menikah minimal dia berkasih sayang dulu dengan orang tuanya. Kalau belum pernah terus kemudian ngobrol orang tua, ayo ngobrol dulu. Karena nanti kamu menikah itu 80% untuk ngobrol lah. Gimana ceritanya? Oh my God. Lah tapi aku pasti bisa ngobrol dengan pasanganku, dengan orang tua enggak
10:43 bisa. Siapa arti yang jamin? Iya. Siapa yang jamin? Benar benar benar benar. Karena kebanyakan orang-orang yang enggak bisa ngobrol sama orang tua juga enggak bisa ngobrol sama pasangannya. Itu sama aja. Iya. Paham enggak sih maksudku? Nah, ini ini coba coba dulu dilihat dulu sebelum lu nikah muda nih sama orang tuamu perbaiki dulu karena secara penelitian orang-orang yang sudah cukup kasih sayangnya di rumah pertama dia pasti akan memilih calon yang tinggi standarnya. Hmm. Begini cara bapakku memperlakukan aku. Oke. Aku dipeluk bapakku. Bapakku berkata baik kepada aku ketika aku lagi perlu bapakku coba untuk menasihatin kepada aku. Bagi yang perempuan, bagi yang laki-laki, ini cara bapakku memperlakukan aku. Ini cara ibu tuh ibuku diperlakukan sama bapakku. Berarti beginilah memperlakukan dia dan segala
11:28 macam. Otomatis yang pertama standarnya pasti akan naik. Yang kedua tadi, yang kedua adalah secara emosional dia sudah matang. Oke. Dia sudah bisa menerima kasih sayang. Dia sudah bisa mengekspresikan kasih sayang. Dan ini adalah sesuatu yang sangat penting. Serius. He. Ada banyak banget orang-orang yang sudah nikah bilang sayang pada istrinya sulit. Iya. Iya. Iya. Ada banyak banget orang-orang sudah yang sudah nikah tapi enggak bisa komunikasi apa dan ini jangan di apa sih di apa orang bilang dimaklumi itu apa sih? Jangan diwajarkan. Jangan diwajarkan karena sering gitu love language iya lewat kasih duit. Enggak gitu ceritanya. Iya kan bisa ngasih duit sambil bilang saya. Iya kadang-kadang bahkan seorang istri itu bisa banget enggak dikasih duit kalau dia bisa ngelihat kita tuh sayang sama dia. Iya. Iya. Iya. Tapi istri-istri itu kadang-kadang kalau sudah dikasih duit tapi orang enggak sayang, dia akan cari sayangnya pada yang lain. Oh iya. I
12:13 itu kan problematika. Nah, jadi permasalahnya bukan nikah mudah, tapi sejauh mana dia tuh siap gitu maksudnya. Nah, dan cara untuk siap adalah ayo ukur dulu dengan orang tuamu. Beres dulu di rumah. Beres dulu. Jangan-jangan nikah cuman pelarian karena udah enggak kuat lagi di rumah. Pleasure lagi kan? Iya. Lagi kenapa aku nikah? Supaya aku bisa terus kemudian diselamatkan dari rumah. Aku sudah bosan di rumah. Aku mau keluar. Ya Allah, ini toxic banget ya. Masalahnya adalah nikah tuh bukan cuma untuk kamu masalahnya. Iya sih. Tapi nikah itu adalah untuk satu purpose tujuan. Benar lagi. Nah, [tertawa] purpose ini pelajarin. Iya. Iya. Kalau purpose ini sudah dipelajarin, nikah itu menjadi sesuatu yang berkah. Benar. Nikah itu menjadi sesuatu yang tidak perlu untuk dijadiin sebagai pencapaian yang harus diumbar-umbar karena itu cuma perantara. Benar. Benar, benar, benar. Nah, yang harus kita kejar adalah jadi gini. Kalau aku mau pergi dari Jakarta
13:01 ke Bekasi, aku bisa jalan kaki. Hm. Dan taruhlah aku sudah pernah jalan kaki pergi ke Bekasi. He. Aku tahu kalau aku pakai motor aku bisa sampai lebih cepat. Hmm. I know it better. Karena aku sudah nyoba pakai jalan. Betul. Kalau aku pakai mobil aku tahu bukan hanya aku bisa lebih cepat, tapi aku tidak kepanasan dan aku tidak kehujanan. Tujuannya untuk apa? Untuk lebih cepat, untuk sampai lebih baik. Tujuannya untuk apa? Untuk yang lebih besar lagi. Dakwah misalnya atau misalnya purpose dalam nikahmu apa? misalnya untuk membentuk keluarga yang lebih lebih taat pada Allah misalnya atau misalnya untuk mencontohkan pada orang-orang seperti ini loh harusnya di dalam Islam itu terjadi. Nah, lu kebayang proses yang aku lakukan seperti apa? Ketika aku harus menunda nikah, aku nikah umur 18 maunya.
13:46 Ya Allah. Tuh serius tanya bapakku tuh. Aku bilang gini, "Kalau aku jadi bapak antum juga aku larang sih, [tertawa] Pi. Felix mau nikah jawabannya kanjinian kau nih. Oh e bahasa Palembang mesum mesum banget tuh [tertawa] gitu kan. 18. Iya 18. Karena aku pikir gua udah siap. Oke. Tapi ternyata di titik itu aku jadi belajar oke tunda dulu. H. Oke. Coba lihat sebenarnya kamu bisa meyakin dalam kepalaku gila lik. Lu yakinin bapak lu sendiri aja belum bisa yakinin bapak orang. Oh iya juga ya lah. Iya. Ngegolin di bapak aja masih belum bisa. Bapakku aja masih ngiraum. Iya. Apalagi bapak orang lain. Iya juga ya. Bisa jadi kalau aku ke rumahnya dia bilang apa? Emang kamu sudah hamilin anakku? Iya iya iya. Coba bayangin dulu. Tujuh macam-macam ya. Tujuh macam-macam kan. Tapi ketika aku sudah lebih bijaksana ee 18 tahun aku sudah ngerti oke bapakku belum bisa. aku yakinkan maka prioritasku adalah
14:31 memperbaiki hubungan dengan bapakku dong. Oh. Menunjukkan bahwa aku adalah el juga. Aku tuh juga laki-laki loh. Sama kayak el. Iya. Ee lu apa yang lu bisa? Gua juga bisa. Lu bisa benerin genteng? Gua juga bisa. Lu bisa ngurusin ee anak-anak lu, gua juga bisa ngurusin anak-anak lu. Ini subuh aja masih dibangunin kayak gitu. Kan sering kan terjadi gitu. Betul. Lu bisa apa? Bayar listrik. Gua juga bisa. Asal lu kasih gua duitnya. [tertawa] Situ bosnya. I paham kan maksudnya? Tapi maksudnya gini, karena itu adalah sesuatu yang penting banget dengan menunda itu kita jadi lihat, oke dan lu tahu apa yang terjadi? He. Ketika aku menunda pernikahanku, salah satu yang mungkin aku syukuri dalam hidupku calonnya ganti. Oh wow. Di titik itu,
15:17 biar aku tebak. Heeh. Calonnya ganti karena visi antum berganti. Betul. Ee di titik itu aku tahu ada yang lebih pantas mendampingi aku. Oh. Oh, yaitu wanita dengan kaos kaki nyemplut [tertawa] di itu. Paham enggak maksudku? Paham kan? Tapi, tapi gini ee itulah itulah penting menunda itu. Tapi tidak semua harus ditunda, ya. Iya. Makanya benar-benar ya kalau dia dia perlu ngobrol sama bapak ibunya, perlu ngobrol sama ustaznya misalnya dan segala macam. Karena kadang-kadang juga ada sesuatu yang memang harus disegerakan. Iya. Tapi ditunda-tunda. Tapi bagi aku penundaan itu berakhir manis. Oke. Karena setidaknya aku lebih ngerti tentang apa yang aku inginkan. Ternyata bukan bukan bukan fiturnya aku inginkan.
16:04 Eh sori bukan gengsinya aku inginkan, tapi fiturnya misalnya atau segala macam. Nah, perlu waktu kadang-kadang untuk memahami itu. Jadi sebagaimana nikah butuh alasan kuat, betul. Menunda pun juga perlu alasan. Betul. Maka ketika anakku misalnya datang kepada aku, lalu lalu terus bilang gini, "Bi, mau nikah?" Heh, aku bilang gini, "Kenapa?" Ee yakinin aku. Iya lagi. Heeh. Aku ngomong gitu ke Hasan bahkan di level mainan. Buset [tertawa] Papa mau beli Chiki? Iya, itu beneran. Oh gitu. Iya. Yakinkan aku. Iya, ya. Ya, bahasanya enggak yakinkan aku. Kenapa? Kasih tahu alasannya. Oke. Ya, karena kan enggak enggak lapar. Dia bilang, "Kamu udah makan?" "Karena kamu bapakku, masa aku minta bapak lain?" Ya. Hah? Oh, Bapak [tertawa] berarti bilang boleh bilang enggak boleh dong. Bapak berarti boleh bilang enggak boleh dong.
16:49 Oke. Jadi kayak gitu. Itu ngelatih itu untuk kasih reason. He, reason. Itu itu kalau anakku aku aku tanya kenapa harus begitu dan aku akan ngomong gitu kan bisa begini kan bisa begitu sampai di titik sampai di titik dia bisa meyakinkan aku baru aku bilang oke kamu bisa ee karena dia harus bertanggung jawab dengan apapun pilihannya ini menarik nih heeh apa anggap aja ini sekarang ni dia orang mauakinin bapak ya apa yang bikin seorang bapak kayak antum percaya bahwa anak antum sudah siap nikah sangat simpel kalau dia punya purpose. Oh itu aja cukup. Iya. Oke. Contoh ya misalnya dia bilang, "Aku pengin membentuk anak-anakku untuk jadi pembebas Baitul Maqdis." Misal aku tanya, "Oke, semua orang bisa ngomong gitu." Oke. Tapi kalau sebelumnya kamu malah main game, e tapi ini game pembebasan Baitul Maqdis. Maksudnya niat itu tercermin dari
17:35 perbuatan kan. Benar. Jadi ketika dia mencoba untuk meyakinkan aku, dia harus tahu bahwasanya action speaks louder than words. H lah. Iya kan? Lah maksudnya cuma ngomong doang mah gampang. Tiba-tiba ada ada seorang seorang laki-laki ee datang ke lu ketika Husna udah gede. L dia bilang, "Aku pengin menikah sama anakmu." Terus lu tanya, "Kenapa lu harus milih anak gua? Kenapa harus anak gua enggak yang lain?" Terus dia tanya, "Karena anak bapak adalah anak terbaik yang pernah aku kenal." Oke. "Kenapa kamu emang mau ke mana anakku?" "Karena aku pengin membebaskan." [tertawa] Sebelum itu aku nanya, "Emang sudah berapa orang yang kamu kenal?" Aku pengin, "Kamu kenal cewek A, cewek B, cewek enggak bener?" Iya ya. Iyalah anakku yang terus terus lu tanya lu sudah nyiapin apa untuk untuk bisa nikahin dia untuk mencapai tujuannya itu alhamdulillah aku sudah salat dua rakaat sebelum subuh
18:21 karena itu lebih dari dunia dan seisinya. Iya pulang tambahin tahajud. [tertawa] Paham kan? Artinya kan aku yakin kalau ada orang ngerti bahwasanya salat sebelum subuh dua rakaat itu lebih lebih besar daripada dunia dan seluruhnya dia enggak akan jadiin itu sebagai alasan untuk ngambil anak orang. Iya. Itu tanda bahwa lu enggak paham, lu enggak ngerti, lu enggak ngerti. Paham kan ya? Jadi perbuatan lu tidak satu satu sinkron dengan ucapan lu. Oke. Oke. Makasih [tertawa] maksudku. Jadi kadang-kadang ada lu pernah ketemu enggak sih ada orang yang datang ke lu bukan untuk ngelamar anak ya, tapi untuk meyakinkan lu dengan seolah-olah kayak gini. Kalau karena ketika dia ketemu aku, dia seolah-ah ngomong tentang Islam gitu loh maksudnya yang dia pikir bakal membuat aku impress. Tapi ternyata dia enggak ngerti.
19:07 Dia kayak bawa dalil pal kita ngerti kayak enggak gitu. [tertawa] Om enggak sih, mendingan lu bicara yang lain aja, jangan bicara Islam gitu. Karena karena lu justru lucu, itu justru menggambarkan lu enggak ngerti gitu, Mas. Oke, berarti yang perlu dilakukan bagi seseorang sekarang ini bukan tentang nikah muda atau nikah tua, tapi lu nikah siap. Iya. Dan kesiapan itu dibangun dengan punya visi tadi ya kan? Purpose. Betul. Dan di purpose dilihat dari upaya-upaya mencari purpose itu. Betul. sebelum akad. Jadi gini, annikah sunnati atau nikah itulah sunahku. Kata Rasulullah, lu jangan potong di situ aja. Oke. Please, please lu lihat apa yang Rasul bentuk pada anak-anak ini. Sehingga mereka umur muda itu sudah bisa melakukan apapun yang bisa dilakukan
19:53 oleh orang-orang yang tua. Lu harus lihat bagaimana Rasul membentuk Zubair bin Awwam. He. Yang ketika dari kecil itu sudah tersinggung dengan orang yang menghina Rasulullah. Oh. Lalu nyeret pedangnya. Lalu bilang, "Siapa tadi yang menghina Muhammad?" Enggak gitu. Siapa tadi yang menghina Muhammad? Masih mudah [tertawa] maksudnya orang jadi kecil-kecil sudah berani ya gitu. Betul. Dan lu harus lihat bagaimana Rasul membentuk Ibnu Abbas. Ee lu harus lihat bagaimana Rasul membentuk Ali bin Abu Thalib. H. Dan ketika lu sudah melihat itu dan lu sudah ngerti seperti apa mereka terbentuk, mereka punya purpose yang lebih besar daripada hidup mereka sendiri. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan sebelum nikah. sebelum nikah ya catat dan garis bawahi sebelum nikah yang lebih besar daripada hidup mereka sendiri. Maka ketika mereka bertanya pada Rasulullah, "Kira-kira aku
20:38 nikah atau tidak?" Rasul bilang, "Anikah sunnati." Lu jadi ngerti konteksnya. Benar. Oh, kayak apalagi yang lu tunggu. Heeh. Kamu sudah sangat siap kok untuk ini. Benar. E benar. Eh, mungkin kalau ada yang nanya pada Rasul sekarang. Iya [tertawa] ada tapinya biasanya tuh dikasih ceklis. Dikasih ceklis. [tertawa] Tapi ini benar loh. Tapi ini benar loh bagi orang-orang yang taaruf kan kita kasih ceklist. Betul. Betul. Dari zaman dulu kan enggak perlu itu. Betul. Karena ya mereka sudah dididik oleh Rasulullah.