Najis Nempel Kemana-mana⁉️ Simak Penjelasan Lengkapnya! | Buya Yahya

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang fikih bersuci, khususnya mengenai najis dan cara berpindahnya. Dijelaskan bahwa najis hanya ada tujuh dan penting untuk memahami cara najis berpindah agar tidak was-was. Selain itu, ditekankan bahwa segala sesuatu pada dasarnya suci kecuali diyakini terkena najis. Video ini juga membahas tentang keberadaan kolam di masjid dan pentingnya ilmu agar tidak berlebihan dalam menyikapi najis.

  • Najis hanya ada tujuh dan harus dihafalkan.
  • Najis berpindah jika ada unsur basah.
  • Segala sesuatu pada dasarnya suci kecuali diyakini terkena najis.
  • Jangan mudah was-was dalam masalah najis.

Pengantar Fikih Bersuci dan Najis

Pada bagian awal video, dijelaskan tentang pentingnya memahami fikih bersuci, khususnya mengenai najis. Najis hanya ada tujuh, yaitu segala sesuatu yang keluar dari lubang depan dan belakang (kecuali mani), muntahan, darah segar atau busuk, bangkai, anjing, babi, dan minuman keras. Dalam mazhab Imam Syafi'i, anjing dan babi najis seluruh tubuhnya.

Cara Najis Berpindah

Najis dikatakan berpindah jika najis tersebut basah atau menyentuh najis dalam keadaan basah. Kering dengan kering tidak memindahkan najis. Tidak ada perbedaan antara najis yang tampak (ainiah) atau tidak tampak. Segala sesuatu yang diyakini suci tidak akan berubah menjadi najis kecuali jika terkena sesuatu yang diyakini kenajisannya.

Memahami Konsep Suci dan Najis

Bumi Allah pada dasarnya suci. Jika ada keraguan tentang najis, tidak perlu dipikirkan kecuali ada bukti yang jelas. Jangan mudah was-was dalam masalah najis. Contohnya, jika ada rumah baru yang berdebu, lantainya tetap dianggap suci kecuali ada bukti najis di sana.

Pandangan Terhadap Fasilitas di Masjid

Keberadaan kolam di masjid antara masjid dan toilet untuk mencuci kaki tidak masalah jika ada atau tidak ada. Yang lebih penting adalah sisi kesehatan kolam tersebut. Jika toilet sudah bersih dan ada keran, tidak perlu khawatir tentang najis. Jangan sampai was-was membuat ibadah tidak khusyuk.

Menghindari Was-Was dalam Kehidupan Sehari-hari

Jangan ragu-ragu dalam masalah najis. Jika di jalan menginjak sesuatu yang becek, tidak perlu terlalu dipikirkan. Kecuali ada bukti yang jelas bahwa itu najis. Ada kisah tentang seorang imam yang melarang bertanya tentang percikan dari loteng untuk menghindari was-was. Ilmu tentang najis perlu dipahami agar tidak tersiksa dengan urusan tersebut.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:03 [Musik] Sarum mangga. Sarung kebanggaan kita. Bangga bersarung mangga. Kita membaca fikih bersuci ber thaharah. Fikih praktis bersuci. Pada pertemuan yang lalu kita membahas tentang najis. Jangan mikir macam-macam. Kenali najis bahwa najis itu hanya ada tujuh. Sudah kita sebutkan, harus hafal. Selain itu jangan dipikiri. Sudah. Nah, biasanya di balik ini banyak

0:48 pertanyaan-pertanyaan. Tapi pertanyaan itu yang menjawab adalah pemahaman dia tentang itu semuanya. Najis ada tujuh. Kami ingatkan kembali bahwasanya najis semua yang keluar dari lubang depan, lubang belakang baik dari manusia atau binatang kecuali irmani. Kemudian adalah muntahan. Kemudian darah segera atau darah busuk. Bangkai. Kemudian ada setelah bangkai ada ee ee anjing, anjing, babi, bangkai, anjing, babi dan minuman keras. Semudah ya sesuatu yang keluar dari lubang depan, lubang belakang muntahan.

1:37 muntahan, darah segar, darah busuk, bangkai, minuman keras, anjing, babi. Selebihnya enggak usah dipikirin. Bangkai sudah dijelaskan. Perlu tambahan ini kami masukkan catat, kami masukkan cacatan bahwa selama ini mungkin mendengar bahwa yang najis dari anjing itu hanya air riurnya saja. Itu pendapat selain dari mazhab kita Imam Syafi'i ada mengatakan begitu. Tapi di dalam mazhab kita Imam Syafi'i, anjing dan babi yang najis sekujur tubuhnya. Nah, sekarang kita berbicara tentang bagaimana najis itu berpindah. Tolong pahami ini biar kita

2:23 tidak menjadi orang gampang stres urusan najis. Lalu kena waswas. Berpindahnya najis. Najis akan dikatakan berpindah jika najis tersebut basah atau menyentuh najis dalam keadaan basah. Salah satunya basah. Najisnya basah, tangan kita basah, maka berpindah. Atau najisnya basah, tangan kita kering, kita nyentuh najis pindah. Atau najisnya kering, tangan kita basah juga pindah. Pokoknya ada basah. Salah satunya kering dengan kering. Mohon maaf. Ada, mohon maaf unik, antik. Kotoran sapi warna hijau kayak jamrut kuring mengering. Tangan Anda

3:09 kering, Anda pegang, Anda latakkan gak najis tangan Anda. Wong dia kering, ini kering. Jadi kering dengan kering tidak memindah najis. Harus paham itu ya. Kering dengan kering tidak mindahkan najis. Baik itu najis tampak, tidak ada perbedaan antara najis yang tampak ainiah atau najis tidak tampak. Contoh lantai itu kena kencing najis dong. Kering. Lalu kita berjalan di atasnya kaki kering ya enggak pindah dong. Lantainya kering, kaki kita kering. Lantai najis tahu. Tapi kaki kita kering. Tapi tahu lantainya najis lah. Kok kaki kita basah? Nginjak najis langsung pindah. harus paham itu

3:57 sederhana. Kemudian ada kaidah [Tepuk tangan] sederhana, segala sesuatu yang diyakini suci tidak akan berubah menjadi najis kecuali jika terkena sesuatu yang diyakini kenajisannya. Ini masalah ilmu yakin. Jadi gini, bumi Allah itu semuanya suci. Lantai suci, karpet suci, semuanya suci, rumah semuanya suci karena bukan najis. Najis kan hanya tujuh. Maka sesuatu yang pada dasarnya asli suci, jangan Anda kepikiran kayaknya najis, enggak perlu dipikirin. Kecualihat. Betul. Contoh, Anda masuk rumah baru, rumah

4:43 baru, lantainya berdebu dan sebagainya. Pertanyaannya, lantainya suci atau tidak suci? Suci atau tidak suci? Masih bingung ya? Suci kenapa? Oh, kayaknya najis. Dari mana? Kayaknya najis. Kelihatan kencing atau tadi ada orang berdiri kencing? Tidak ada. Maka jangan gampang kepikiran kayak najis. Enggak ada. Selagi Anda tidak melihat orang kencing di atasnya, airnya menggenang lalu kering, Anda saksikan woh di di tehel atau keramik kotak yang keempat kemarin kelihatan najis. Kecuali Anda melihat begini baru berubah najis. Kalau gak jangan dipikiran dari mana ilmu najis Anda kok tiba-tiba mengatakan, "Oh, najis. Jalan raya Anda salat di situ sah." Siapa yang mengatakan najis? Tapi kan kenapa tadi takutnya kencing? Dari

5:31 mana? Oh, orang memang orang Cirebon kencing di pinggir jalan. Harus jelas masalah najis. Jangan gampang ka was-was. Itu sederhana. Rumah saya najis. Mulai kapan rumah kamu najis? Jadi kencingmu tidak di toilet. Jadi sederhana permasalahannya adalah belajarin setengah-tengah terus jadi ustaz. Ustaznya was-was, muridnya was-was semuanya. Kacobala ini selesai jadikan b najis. Makanya lihat salat di mana saja suka enggak usah pakai sajadah. Sehingga kadang kita kalau salat di hamparan luas kami sengaja tidak mau dikasih sajadah, khawatir orang menduga kalau salat di padang pasir harus pakai sajadah. Saya kata si jangan kasih sajadah biar

6:17 tahu kalau saya salat di atas tanah sah. Kalau dikasih sajadah yang lain enggak punya sajadah enggak salat dong karena enggak punya [Tepuk tangan] sajadah. Dan mungkin kita bisa pernah kita suatu perjalanan kalau kita nunggu rest area ini subuh hilang. Tapi kan biasa aja ada tempat darurat begitu tuh ada tempat minggir itu pinggir situ tapi kalau seandainya ada darurat jangan sampai ketabrak mobil juga kita. Segiranya aman salatnya gitu. Cari kiblat selesai wudunya pakai kan sudah tahu ilmu wudu nanti pakai air wudu selesai salat begitu enggak usah pakai sajadah suci najis becek becek. Becek dari mana becek najis? Mulai kapan becek najis? Lumpur. Mulai kapan lumpur

7:04 najis? Nah, ini dari mana najis? Kan kita harus jelas. Ini permasalahannya kadang-kadang kita ini kurang ilmu. Karena kurang ilmu, kurang yakin. Gak usah pikir. Selesai. Itu adalah perpindahnya najis. Itu adalah dengan yang basah ketemu yang basah atau basah ketemu kering, kering ketemu basah. Baik. Contoh, bumi Allah adalah suci dan tidak akan berubah menjadi najis kecuali kita melihat dengan yakin bahwa ada najis di tempat tersebut. Bumi Allah najis. Kemudian ada orang kencing di atasnya, maka tempat itu jadi najis. Karena yakin suci kemudian menjadi yakin kena najis. Kalau kayaknya kena najis, enggak usah dipikirin. [Tepuk tangan]

7:51 Kayaknya orang was-was tuh ngerepoti lantainya gak ada pakai sandal. Sandalnya sandal lama bagian kelingkingnya sudah sudah lubang begitu karena terlalu lama dipakai. nyentuh lantai. Lantai di buminya, di kamarnya, rumahnya. Balik lagi, cuci kaki lagi. Nyentuh lantai. Kenapa? Lantainya najis. Ya, pertanyaannya, "Mulai kapan, Pak, anakmu kok ajari kencing di lantai situ?" Ini adalah permasalahan menjadi penyakit was-was, sederhana. Jadi, ilmu itu sederhana. [Tepuk tangan] Kemudian kita sekedar mencermati, apakah masjid itu harus ada tempat apa namanya itu biasanya antara

8:38 masjid dengan toilet itu ada kolam begitu untuk nyuci kaki. Apakah harus semacam itu? Kalau ada, Anda gak usah ngritiki juga. Kalau tidak ada juga enggak ada masalah sebab sudah ada kamar mandinya, toilet. Mohon maaf di sana. Oh, nanti orangnya bawa najis. Bawa najis sebentar. Mulai kapan orang di sini kalau kencing enggak pernah di disiram? J di dalam toalet sudah disiram. Kemudian masalah kolam itu ya kalau memang sudah ada ya biarkan. Akan tapi yang boleh dicermati adalah sisi lain sisi kesehatan. Ini jangan-jangan orang pudisen cuci kaki di situ. Anda masukkan kaki di situ besok sama ya kotor. Karena apa? ini 4 tahun enggak pernah dibersihkan airnya gak mengalir.

9:23 Ini perlu waspada juga penginnya. Penginnya waspada tapi mengundang ngundang penyakit. Ada penyakit yang menularnya dengan air ada kecuali kolamnya mengalir dan seterusnya. Artinya ada tidak ada enggak ada masalah. Yang penting ilmunya jadi masalah. Asal di toilet sudah ada kerannya, di tempat wudu ada kerannya. Selesai enggak ada masalah. Dicuci kakinya basah ya basah mana? Dari mana najis? Wong basahnya bekas air wudu kok. Bukan bekas kencing kok. Bahkan kalau ada toilet begini sudah rapi bersih, rapi bersih, kemudian ada mungkin ada barang jatuh ke kamar mandi begitu kira-kira najis atau tidak? Mungkin ak wong oh najis. Memang kenapa? Kan itu ada kencingnya. Mohon

10:11 maaf sepertinya yang kencing tidak disiram itu bukan manusia. Kalau manusia kalau kencing umumnya disiram sudah selesai. Kenapa pusing? Jatuh aja bingung setengah mati. Rata-rata ini orang dewasa semuanya. Kalau kencing pasti di siram. Ya sudah, jangan dipikirin najis. Permasalahannya ini loh. Kadang-kadang was-was itu membahayakan. Karena was-was itu menjadi ibadah gak khusyuk. Allahu Akbar. Ingat sandalnya tadi kayaknya nyentuh tadi siramnya kurang kayaknya. Nah, gitu. Mana bisa khusyuk salat kita was-was. Sehingga kata Imam Ghazali, Imam Ghazali kalau ketemu orang waswas dipentung orang itu sehingga bikin gak khusyuk juga. Takbir Allah sering balik lagi salat kayak belum wudu ada wudu. Baik, jangan kena was-was. Baik seperti itu tentang

10:58 pindahnya najis. Kemudian nanti ada najis dibagi menjadi tiga, najis mukhafafah dan sebagainya. Pembagian itu hanya untuk membahas masalah cara mandinya. Adapun hukumnya akibatnya sama. Najis mughaladah kena baju kita pakai salat tidak sah. Najis mukhafafah kena baju kita pakai salat tidak sah. Najis mutawasitah hukumnya tetap sama. Hanya membedakan najis mukhafafah aula untuk cara mensucikannya. Dan itu insyaallah kita bahas pada pertemuan yang akan datang. Ya, kami hanya menekankan masalah urusan najis. Jangan Anda ragu-ragu. Orang was-was mohon maaf kalau Anda tengah jalan kemudian nginjyek gitu. Ya Allah. Kira-kira mikir apa? Ah, daun pciik itu aja langsung digesek-gesek ke

11:45 debu selesai. Sampai sambil jalan nantiang jangan dipikirin. Wah, ini empup ini gorong. Dari mana orang buang air di tengah jalan ini? Anda ini terlalu berlebihan. Ini kan bisa saja timun jatuh busukya. Mm. Sudah gak usah dipikirin. Ya sudah kalau ternyata nanti kotoran beneran wong Anda ndak tahu betul kok ndak yakin. Kecuali kelihatan orang bawa air situ lalu diinjek. Ya jelas najis dong. Cuman kalau belenyek tok becek basah itu uh aduh basah apa ya kira-kira? Gak usah lihat sudah coba kalau dilihat ini ceritanya si si pintar tapi si aneh lenyek. Uh apa ini langsung sama tangannya. Kalau saya contohkan begini langsung habis begini

12:32 belenyek langsung disentuh pakai tangannya ini. Waduh penasaran dicium astagfirullah najis lengkap. Kakinya kena, tangannya kena, hidungnya kena, sak kepalanya kena. Harus cuju semuanya. Ini ibaratnya itu. Kenapa harus pakai was-was begitu? Jadi jangan gampang kena was-was pinggir jalan. W ada apa? Kecipratan lumpur. W lumpur. Mau ke masjid batal enggak jadi ke masjid. Kenapa? Kecipratan lumpur. Mulai kapan lumpur itu najis? Ini di pinggir jalan ni kotoran kotoran orang. Orang mana yang buang air di pinggir jalan? Suruh mikir. Itu ini. Jadi jangan teragu-ragu. Masalah

13:17 najisam sederhana banget lah. Pinggir jalan becek semuanya enggak ada masalah. Kecuali memang di situ ada kuda, ada ini kemudian mengalir warnanya kuning begitu kan. Anda kecipratan langsung wah baunya juga kerasa. Kalau memang rata-rata disuruh binatang juga jarang, enggak usah kepikiran. Kecuali Anda melihat ada cipat sudah jangan dipikirin. Ada kisah Sayidina Umar bin Khattab diriwayatkan atau yang lainnya. Salah satu imam berjalan dengan satu orang tiba-tiba dari loteng. Loteng itu tingkat atas begitu. Loteng itu tingkat atas ada percikan. Yang di bawah bertanya ini air apa? Dijawab oleh imam yang disamping, "Jangan dijawab, diam

14:03 kau. Ini ngapain usil kok banyak tanya-tanya? Gak ada orang kencing nongkrong di atas ke bawah tuh. Gak tanya-tanya macam kurang kecipratan apa kek. Jangan tanya ini air apa?" Seorang imam yang fakih ngerti itu malah ngomong. "Jangan dijawab diam." Usil banget tanya ini air apa? Was-was tuh ngerepoti ke rumahnya orang. "Heh, anu ini najis gak? Ini airnya drum ini. Ini lantainya najis enggak? Sudah tamu kurang ajar banget ini tamu ini. Jangan-jangan najis. W ini enggak bisa begitu ya. Tolong ilmu najis ini perlu dihadirkan supaya Anda tidak tersiksa dengan urusan semacam itu. Belum lagi kalau kita melangkah kepada mazhab lain yang lebih luas lagi,

14:48 ternyata kemudahan-kemudahan itu masih ada. itu kami berbicara dengan seputar mazhab kita Imam Asyafi'i radhiallahu taala anhu. [Musik] Sarum mangga, sarung kebanggaan kita. Bangga bersarung mangga. Sahabat Albaj TV, setelah menyaksikan video ini, jangan lupa berselawat kepada baginda Nabi Muhammad. Shallu alan Nabi Muhammad. Allahumma sholli alaihi waa alih

Share

Ringkasan Video YouTube