SEPERTI APA KITA BERPIKIR SEPERTI ITU YANG AKAN TERJADI - Ps. Ruth Julia

Ruth Julia www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang kemerdekaan yang sesungguhnya, khususnya kemerdekaan dari rasa takut. Dijelaskan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka secara fisik, banyak orang masih belum merdeka secara psikis, terutama dalam hal finansial dan ekonomi. Rasa takut berawal dari pikiran, kemudian memengaruhi hati, dan akhirnya keluar melalui perkataan. Oleh karena itu, penting untuk mengelola pikiran agar dapat merdeka dari rasa takut dan mengalami kemerdekaan yang sejati.

  • Kemerdekaan sejati bukan hanya fisik, tetapi juga psikis dan finansial.
  • Rasa takut berawal dari pikiran dan memengaruhi tindakan.
  • Mengelola pikiran adalah kunci untuk merdeka dari rasa takut.

Pembukaan

Pembukaan dimulai dengan sapaan dan ucapan syukur. Pembicara menyampaikan bahwa ia dan keluarga sekarang tinggal di Australia, tetapi merasa dekat dengan Indonesia. Ia juga menyinggung tentang perayaan kemerdekaan Indonesia dan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa ini, seperti masalah ekonomi dan politik. Pembicara mempertanyakan apakah masyarakat Indonesia saat ini benar-benar merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kemerdekaan yang Belum Sempurna

Pembicara menjelaskan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka dari penjajah, banyak orang belum merasakan kemerdekaan dalam aspek lain, terutama finansial. Ia mencontohkan banyaknya orang yang mengalami masalah ekonomi, seperti PHK dan perceraian akibat faktor ekonomi. Pembicara mengutip mentornya yang mengatakan bahwa mengeluarkan orang Israel dari perbudakan Mesir lebih mudah daripada mengeluarkan Mesir dari dalam diri orang Israel, yang berarti kemerdekaan psikis lebih sulit dicapai daripada kemerdekaan fisik.

Merdeka dari Rasa Takut

Pembicara memperkenalkan tema utama, yaitu merdeka dari rasa takut. Ia mengakui bahwa banyak orang terlihat bahagia di luar, tetapi sebenarnya hatinya menangis karena berbagai masalah. Pembicara mencontohkan hashtag "Indonesia Gelap" dan "Kabur Aja Dulu" sebagai bukti bahwa banyak orang merasa tidak nyaman dan ingin melarikan diri dari masalah yang ada. Ia menceritakan pengalamannya terjebak di Australia saat lockdown dan belajar untuk bersyukur dalam situasi sulit.

Amsal 23:7 dan Pengaruh Pikiran

Pembicara mengajak audiens untuk merenungkan dari mana rasa takut berasal, apakah dari pikiran atau hati. Ia kemudian merujuk pada Amsal 23:7 yang menyatakan bahwa seperti apa seseorang berpikir, seperti itulah ia akan menjadi. Pembicara menjelaskan bahwa rasa takut dimulai dari pikiran, kemudian turun ke hati, dan akhirnya keluar melalui perkataan. Oleh karena itu, penting untuk mengelola pikiran agar dapat merdeka dari rasa takut dan menghindari dampak negatifnya, seperti pertengkaran dan stres.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Pertanyaannya adalah apakah anak-anak Tuhan bangsa Indonesia hari ini betul betul kita itu mengalami kemerdekaan? Jadi selalu segala masalah ada kebaikan Tuhan di dalamnya. Amin. Jadi kalau hari ini Anda sedang gelap, saya percaya berdoa Anda tetap bisa melihat dengan ucapan syukur. Selalu ada hal yang baik yang akan Tuhan buat. Nah, makanya bahaya sekali yang namanya ini, Bapak, Ibu. Menurut Amsal, apa yang kau pikirkan jadi seperti itulah engkau. Kami datang menghadap-Mu pagi hari ini

0:47 ya Tuhan. Kami percaya ada Tuhan di tengah-tengah kami melewati segala padang gurun, melewati segala lembah kekelaman, kami tetap percaya kami tidak pernah ditinggalkan. apapun yang sedang anak-anak-Mu hadapi hari-hari ini, kami mau hari ini kami boleh mendengar kebenaran firman-Mu dan kebenaran-Mu akan memerdekakan kami. Berbicara buat kami semua Tuhan, kami siap untuk menerima segala hormat kemuliaan hanya buat Tuhan selama-lamanya di dalam nama Yesus. Haleluya. Amin. Puji Tuhan. Silakan

1:33 duduk. Bapak, Ibu, Saudara semua yang dikasihi Tuhan. Shalom Bapak Ibu. Shalom. Apa kabar semuanya? Gereja GBI Shalom. Tadi saya tanya pada Bapak Gembala, kita, "Ah, berapa lama ya kita enggak ketemu?" Katanya 7 atau 8 tahun. Masa iya ya? Ternyata waktu tidak terasa begitu cepat ya. Sekarang ee mungkin Bapak Ibu sudah ada yang tahu juga dari YouTube. Jadi sekarang kami ee tinggal di Australia tapi puji Tuhannya enggak jauh dari Bali. Jadi diper cuman 3 jam seteng. 3 jam seteng dari Austral.

2:19 Ya, tidak pernah menyangka tapi saya percaya Roma 8 ayat 28. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Amin. Amin. Mau itu buruk, mau itu baik, Tuhan ikut campur dalam hidup kita. Amin. Kita hari ini ngerayakan kemerdekaan bangsa kita dari tahun 5 berarti udah ee 80 tahun ya, 80 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Tapi kalau kita melihat tahun 2025 sudah berawal dari beberapa tahun belakangan ini, bangsa kita sebetulnya sedang

3:06 menghadapi sebuah challenge, tantangan, kesulitan. dari bertahun-tahun belakangan ini ada banyak sekali problem, ada banyak sekali tekanan, ada banyak sekali tantangan kehidupan yang terjadi. Salah satunya adalah soal perekonomian ya, belum lagi politik dan sebagainya. Jadi kalau kita berkata hari ini kita merayakan kemerdekaan. Tadi pagi saya mendengar lagu-lagu kemerdekaan ya. Saya ngomong sama suami saya, kita ini dari dulu, kita ini dari dulu dengerin lagu-lagu ini, nyanyi lagu-lagu ini dari kecil, tapi kita gak pernah gak pernah memahami kata perkata. Dan waktu dengar

3:52 gitu sempat terpikir di dalam pikiran saya tuh gini, kita ini sudah merdeka dari penjajah. Pertanyaannya adalah apakah anak-anak Tuhan bangsa Indonesia hari ini betul-betul kita itu mengalami kemerdekaan? Ada begitu banyak. Salah satunya aja soal ekonomi. Ada banyak tantangan. beberapa bulan terakhir sangat banyak sekali DM, WhatsApp yang konseling, konsultasi rata-rata soal ekonomi. Ada yang di PHK, ada yang mengalami kemundoran drastis, ada keluarga bercerai. Kenapa? Ujung-ujungnya karena

4:38 faktor ekonomi juga. Jadi saya melihat kita ini merdeka dari penjajah, tapi belum tentu kita masing-masing betul-betul hidup dan menikmati kemerdekaan. Salah satunya kemerdekaan soal finansial, kemerdekaan dalam perekonomian. Betul gak, Bapak, Ibu? Ada ada pernah saya dengar mentor saya pernah bilang begini, waktu orang Israel keluar dari perbudakan Mesir, i waktu orang Israel keluar dari perbudakan Mesir kelihatannya begitu dahsyat. Mengeluarkan orang Israel keluar dari Mesir itu jauh lebih mudah

5:23 daripada mengeluarkan Mesir dari dalam diri orang Israel. Maksud saya tuh gini, mereka secara fisik bebas dari perbudakan Mesir, tetapi secara psikis mereka banyak yang masih belum merdeka. Nah, pagi ini saya mau berbicara tentang merdeka dari satu hal yang kelihatannya sepele tapi semua kita ngalamin hari-hari ini, yaitu merdeka dari rasa takut, Saudara. Kita merdeka secara fisik. Indonesia merayakan lomba makan kerupuklah, lomba masukkan apa lomba bawa kelereng di sendok dan sebagainya. Tapi apapun itu kita happy-happy. Tapi saya yakin banyak sekali orang yang mukanya aja happy,

6:10 hatinya menangis ya kan. Mukanya happy-happy ya sejenak melupakanlah daripada stres ikut lomba makan kerupuk. ketahuan nanti sampai rumah ingat lagi, stres lagi, sumpek lagi. Banyak orang yang mengalami seperti itu. Kenapa? Buktinya apa? Indonesia belakangan kan banyak hashtag ya. Hashtag apa? Indonesia gelap. Hashtag apalagi? Kabur aja dulu. Mau kabur ke mana? Kabur aja dulu. Ada orang bilang, "Saya kabur ke Australia." Saya bukan kabur ke Australia, Bapak Ibu. Saya ke lok tahun 2020 saya ingat bulan Maret tanggal 4 itu terakhir kali saya ada di Bali kemudian saya berangkat ke Perd dan

6:55 sampai di Perd ee kemudian saya sudah beli tiket pulang. Tiket pulang saya itu tanggal 20 Maret tahun 2020. Tidak pernah menyangka persis 20 Maret 2020 Indonesia lockdown, Perth juga lockdown. Kita gak boleh keluar termasuk touris. Tapi touris sempat dikasih kesempatan kalian boleh keluar. Setelah keluar gak bisa masuk dulu. Sampai kapan? Batas waktu yang tidak ditentukan. Akhirnya di situlah saya memutuskan. Saya mengunci diri juga tidak keluar karena saya kalau keluar saya nak tahu bisa masuk kapan. Kalau seluruh anak dibawa keluar berarti rencana sekolah berantakan semua. Akhirnya di situlah

7:41 saya terkunci di Australia. tidak pernah menyangka di satu sisi COVID, di sisi yang lain ee kita melihat juga banyak saudara-saudara kita juga mengalami musibah dan masalah semuanya kematian dan sebagainya dilanjutkan dengan kondisi finansial. Tapi saya belajar satu hal, bersyukur di lockdown. Kenapa nangis Bu di lockdown? Banyak orang bilang begini, "Bapak, Ibu, enak ya buru di Australia ya, enak ya di luar negeri ya. Wow, duitnya banyak ya. Enak, Saudara. Memang rumput tetangga selalu lebih hijau pada waktu menjalani terkunci di Australia sebagai orang asing. Terus

8:27 terang lebih enak di Indonesia karena tidak terkena rate Australia dolar. Jadi intinya kita mau makan Rp5.000 R.000 masih nemu ya kan? Masih ketemu enggak? Kalau di Bali masih ketemu gak bisa makan R5.000. 5.000 itu berarti sama dengan 50 sen. Australia 50 sen enggak dapat. Parkir aja. 50 sen mau makan apa, Saudara? Jadi, sesusah-susahnya lebih enak di lockdown itu di Indonesia. Kalau kita bicara tentang Rh itu yang saya bilang Allah turut bekerja

9:12 dalam segala sesuatu. Di satu sisi enggak enak terkunci di negeri orang. Tapi gara-gara terkunci itulah kami sekeluarga mendapatkan permanen residen. Kan ceritanya begitu. Jadi selalu segala masalah ada kebaikan Tuhan di dalamnya. Amin. Jadi kalau hari ini Anda sedang gelap, saya percaya berdoa Anda tetap bisa melihat dengan ucapan syukur. Selalu ada hal yang baik yang akan Tuhan buat. Jadi pagi ini saya mau sharing tentang yang namanya merdeka dari ketakutan. Kenapa saya tadi malam tergerak sekali untuk membagikan ini? Kenapa ini kelihatannya sepele tapi hari tiap hari

9:58 kita kan takut. Betul kan, Bu? Namanya manusia kan takut, Bu. Wong punya otak, punya pikiran, Bu. Namanya manusia kan bisa khawatir. Nah, saya mau tunjukkan kepada Saudara. Kita akan melihat Amsal 23 ayat yang keet7. Amsal 23 ayat yang keet7. Ketakutan itu sebetulnya di mana sih, Bapak, Ibu, terjadinya? Di sini atau di sini, Bapak, Ibu? Coba dirasakan. Kalau Anda takut, kalau Anda khawatir, sebetulnya di sini atau di sini? Di sini atau di sini? Di sini. Betul. Dari sini turun ke sini, dari sini keluarnya ke sini. Kan gitu toh. Dari pikiran turun ke hati, dari

10:46 hati keluarnya ke mulut. Kan gitu kan ceritanya. Jadi kita lihat ya Amsal pasal 23 ayat 7. Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah Ia. Silakan makan dan minum, katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu. Kalimat yang pertama dari Amsal 23 ayat 7 mengatakan begini. Seperti orang membuat perhitungan itu dalam terjemahan yang lain sederhananya begini. Sebagaimana kamu berpikir, seperti apa kamu mikir, seperti itulah kamu akan menjadi. Bisa nangkap ya? Seperti apa kamu berpikir, seperti

11:32 itulah kamu akan jadi. Nah, makanya saya percaya merdeka dari rasa takut, Bapak Ibu perlu ngerti bagaimana caranya supaya kita betul-betul bisa merdeka dari yang namanya takut. Kenapa? Karena takut itu di sini. Ketika Anda mulai ngelihat kondisi ekonomi, Anda mulai mikir kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan terjadi di depan, Anda mulai muncul di sini semua analisanya, lalu mulai takut, mulai khawatir, enggak masuk hitungan, lalu di sini tambah mendidih. Setelah di sini mendidih, kemudian keluar lewat mulut. Kita gak bisa ini, kita sulit, pertengkaran suami istri terjadi, ngomel dan sebagainya. Nah, makanya bahaya sekali yang namanya ini, Bapak, Ibu.

Share

Ringkasan Video YouTube