0:00 Pada tahun 1996 di sebuah daerah bernama Putna yang berada di India, seorang pria bernama Anan Kumar memenangkan kompetisi kejuaraan matematika. Acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pendidikan yang dalam pidatonya membanggakan Anan Kumar karena telah memenangkan kejuaraan tersebut. Pidato menteri tersebut mendorong An bahwa orang India harus menjadi global karena dunia ini tidak hanya diisi oleh orang Amerika, Inggris, Jepang, dan Cina. Menteri juga berkomitmen untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan secara sosial dan ekonomi asalkan tujuannya adalah untuk mengembangkan India. Setelah kompetisi, Anan langsung pergi ke pacarnya, Supria, dan memberitahunya tentang rencananya untuk melanjutkan studi di Oxford atau Cambridge dan mendapatkan gelar PHD dalam matematika. Cinta Anan terhadap matematika sangat tinggi. Bahkan surat cintanya untuk
0:46 pacarnya ditulis dalam kode biner. Anan juga sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus yang berada di daerah lain untuk menyelesaikan masalah matematika dari jurnal-jurnal asing. Suatu hari dia tertangkap dan diusir oleh pustakawan. Pada saat itu, ada seorang office B yang memberitahu Anan jika ingin mendapatkan akses gratis ke kampus selama 1 tahun, dia harus membuat artikel yang bisa diterbitkan di jurnal asing sehingga Anan bisa membaca semua jurnal di perpustakaan tersebut. Tentu saja tips ini sangat membantu Anan sehingga dia tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia segera mengerjakan masalah matematika yang belum pernah diselesaikan oleh siapapun. Dia mengerjakan masalah tersebut di sebuah sekolah tua dan pada sore hari Anan berhasil menyelesaikan masalah tersebut. Kemudian dia langsung pergi ke kantor pos untuk mengirim artikelnya ke Inggris. Ayah Anan adalah seorang tukang pos dan dia selalu mendukung apapun yang
1:32 dilakukan oleh Anan. Termasuk ketika Anan tidak memiliki cukup uang untuk mengirim surat ke Inggris. Ayahnya mengajak teman-temannya untuk menyumbang agar artikel anaknya bisa dikirim ke Inggris. Ayah Anan hanyalah seorang tukang pos. Tetapi dari ayahnya, Anan belajar untuk selalu bermimpi besar meskipun mereka adalah keluarga miskin. Suatu hari, ayah Anan bergegas dengan sepeda dengan membawa surat di tangannya. Dia pulang dengan sangat bahagia. Dia memberitahu istri dan anak-anaknya termasuk Anan bahwa artikel yang dikirimkan oleh Anan mengesankan seorang profesor di sana. Oleh karena itu, Anan ditawari untuk masuk ke Universitas Cambridge tanpa ujian. Perasaan Anan campur aduk. Awalnya Anan hanya ingin menerbitkan artikel agar bisa mendapatkan akses ke perpustakaan, tetapi malah dia ditawari untuk studi di Inggris tanpa ujian. Setelah jurnalnya
2:18 diterbitkan, Anan dengan bangga menunjukkannya kepada pustakawan yang telah mengusirnya. Anan berhasil mendapatkan balas dendamnya, tetapi dengan cara yang positif. Tak lupa, Anan juga berterima kasih kepada OESB di perpustakaan karena dengan nasihatnya, Anan dapat mencapai prestasi besar. Orang tua Anan sangat bahagia. Mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Anan, terutama ayah Anan. Ketika mengurus paspor Anan, dia tidak berhenti membicarakan tentang kecerdasan Anan kepada orang-orang. Karena prestasinya, Anan menjadi lebih percaya diri untuk bertemu dan berkenalan dengan Ayah Supria. Meskipun Ayah Supria masih ragu karena Anan hanya seorang tukang pos, tetapi di sisi lain Ayah Supria mengakui kehebatan Anan yang akan studi di Inggris. Namun sebelum berangkat ke Inggris, keluarga Anan mengalami masalah keuangan. Biaya untuk
3:03 mempersiapkan keberangkatan Anan ke Inggris masih belum mencukupi. Mereka berencana meminta bantuan dari Menteri Pendidikan karena mereka ingat pidato menteri ketika di panggung kompetisi. Singkat cerita, Anan dan ayahnya mengunjungi Menteri Pendidikan untuk meminta bantuan. Tetapi sayangnya, menteri tersebut tidak mendengarkan cerita Anan. Bahkan dengan mudah melupakan pidatonya beberapa minggu yang lalu. Anan dan ayahnya pulang dengan kecewa. Ayahnya meyakinkan anaknya untuk tidak khawatir karena dia akan mencoba lagi untuk mencari dana agar Anan bisa mengejar mimpinya. Ayah Anan terus berusaha mencari uang tambahan. Dia bahkan menjual semua perhiasan istrinya dan juga meminjam uang dari bank meskipun ditolak. Dia juga menagih hutang dari teman-temannya, tetapi semuanya tidak menghasilkan solusi. Suatu malam, seluruh keluarga kecewa dengan kemungkinan bahwa Anan tidak akan bisa berangkat ke Cambridge. Dan sayangnya, pada saat yang sama ayahnya
3:50 jatuh pingsan. Anan dan saudaranya segera membawa ayah mereka ke rumah sakit di bawah hujan deras dengan sepeda. Anan sangat ingin menyelamatkan ayahnya, tetapi nasib berkata lain. Rantai sepeda putus di tengah jalan sehingga ayahnya tidak bisa mendapatkan bantuan. Anan menceritakan nasib malangnya kepada Supria. Dia juga menyerah dan meminta Supria untuk menikah dengan pria lain karena Anan merasa tidak memiliki masa depan untuk mendukung keluarganya. Setelah ayahnya meninggal, Anan harus mencari nafkah dengan menjual kue menggunakan sepeda ayahnya. Anan tampaknya melupakan mimpinya karena dia membungkus makanan menggunakan lembaran buku matematikanya. Hal yang paling penting bagi Anan saat ini adalah membantu perekonomian keluarganya. Suatu sore, Anan hampir menabrak mobil dan dia jatuh. Pemilik mobil itu adalah seorang pria kaya yang ternyata tahu tentang Anan Kumar. Anan mungkin tidak mengenal pria itu, tetapi
4:36 pria itu tahu seorang anak yang cerdas dan berbakat. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa Anan Kumar seseorang yang pintar, tetapi pekerjaannya adalah menjual kue. Ternyata nama pria ini adalah Lalongsing. Lalong menyuruh sopirnya membawa sepeda Anan. Kemudian Anan diajak masuk ke dalam mobil dan mereka pergi ke rumah mewah lalong. Di sana Anan ditawari pekerjaan di India. Ada kampus bernama IT, Indian Institute of Technology. Kampus favorit yang kampus favorit yang sangat sulit untuk diterima. Menurut Lalong, orang kaya bersedia membayar apa saja agar anak mereka bisa belajar di sana. Oleh karena itu, bisnis kursus belajar untuk masuk ke kampus tersebut sangat menjanjikan dan Lalong menawarkan Anan untuk bergabung dengan bisnis kursus belajarnya. Anan setuju untuk bergabung dengan Excellent Cele Arning Center milik Lalong. Singkat cerita, Anan menjadi guru di sana. Bahkan karena
5:22 Anan, mereka berhasil mendapatkan banyak siswa dan menggandakan tarifnya. Kondisi ekonomi Anan berubah. Sekarang dia bisa membeli sepeda motor sendiri. Anan juga menjadi percaya diri untuk memiliki hubungan dengan Supria. Bahkan Anan juga menyewa seorang pembantu rumah tangga agar ibunya bisa beristirahat. Namun karena memiliki penghasilan yang baik, Anan yang awalnya rendah hati berubah menjadi orang yang lupa diri. Terutama ketika dia menjadi bintang di Learning Center. Anan lupa siapa dirinya. Suatu hari setelah pesta, Anan bertemu seorang anak kecil yang sedang mengerjakan masalah matematika. Anak ini putus sekolah, tetapi minat belajarnya masih tinggi dan itu menarik perhatian Anan. Karena sedikit mabuk, Anan pulang dengan becak dan pengemudi becak adalah ayah dari anak kecil tersebut. Pengemudi becak mengatakan bahwa anaknya sangat keras kepala karena pekerjaannya hanyalah belajar, tidak membantu orang
6:08 tuanya. Anan terkejut mendengar pernyataan itu dan pria itu juga mengatakan bahwa hanya orang kaya yang berhak mendapatkan pendidikan. Sementara orang miskin seperti mereka tidak akan ada gunanya. Anak-anak dari politisi dan pejabat kaya yang akan melayani dan memimpin negara ini nanti. Sementara orang miskin seperti mereka tidak akan pernah mendapatkan tempat. Kata-kata pengemudi becak itu tampaknya mengembalikan prinsip Anan. Dia ingat pesan ayahnya bahwa bukan hanya orang kaya yang akan mewarisi takahta. Dia juga ingat betapa sulitnya dia belajar di perpustakaan ketika dia miskin dan betapa lelah ayahnya berusaha mencari uang agar dia bisa pergi ke Inggris sampai ayahnya meninggal. Setelah itu, Anan membuat keputusan. Dia mencetak brosur untuk mengundang anak-anak yang kurang mampu belajar bersamanya agar bisa masuk ke kampus Iite. Bahkan Anan menjual jam tangan, kendaraan, dan perhiasan mahalnya untuk memulai
6:55 sekolah. Karena hal ini, Supria putus dengan Anan karena Anan lebih memilih mengajar anak-anak miskin. Supria yang kecewa mengatakan bahwa hidup Anan akan hancur dan dia akan tenggelam sendirian. Beruntung hal itu tidak menggoyahkan niat Anan untuk menunggu calon murid-muridnya. Cerita lain datang dari anak-anak miskin yang membaca selebaran tentang sekolah gratis. Mereka tidak menyanyi-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka memiliki semangat dan motivasi. Tidak peduli seberapa jauh mereka harus bepergian, mereka tetap pergi ke lokasi. Sementara itu, tanpa diduga, ada begitu banyak siswa yang tertarik untuk mendaftar di sekolah Anan sehingga Anan harus menyeleksi mereka. Anan akan memilih 30 anak terbaik untuk diajarkan, diberi makan, dan tempat tinggal. Anan juga berkenalan dengan siswa-siswa terpilih. Anan ingin tahu di mana mereka tinggal, apa pekerjaan mereka sebelumnya, dan bagaimana mereka datang
7:41 ke sekolah. Anan juga bertanya apa yang akan mereka lakukan ketika berhasil masuk ke kampus Iite. Sementara itu, berita tentang Anan membuka kursus gratis diketahui oleh Lalong. Bahkan para siswa meminta pengembalian uang jika bukan Anan Kumar yang mengajar mereka. Hal ini membuat Lalong marah dan menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Anan. Anan yang sedang mengajar mendengar anak-anaknya berteriak dan berlari keluar untuk memeriksa keadaan. Anan dihajar habis-habisan oleh anak buah lalong. Bahkan salah satu anak buah lalong memukulinya dengan menggunakan tongkat pemukul hingga Anan jatuh pingsan. Keesokan harinya, Anan terbangun dan melihat 30 anak didiknya merawatnya dengan penuh perhatian. Mereka memberitahu Anan bahwa dia harus segera ke rumah sakit. Namun Anan menolaknya dan mengatakan bahwa tidak ada waktu untuk itu. Anan meminta para siswa untuk mengambil lembaran-lembaran kertas untuk belajar. Meskipun dalam
8:28 keadaan babak belur, Anan masih bisa mengajar. Di akhir sesi, Anan berkata, "Ketika aku sudah selesai mengajar, kalian boleh membawaku ke rumah sakit." Begitulah karena dedikasi yang tinggi dari Anan Kumar, 30 siswa yang tidak mampu diterima di sekolah-sekolah ternama berhasil menyelesaikan ujian mereka dan diterima di IIT. Bahkan mereka lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Pada akhirnya Anan Kumar juga sukses membawa 30 siswa masuk IT. Meskipun tidak semua lulus ujian, tetapi jumlah siswa yang lulus sangat memuaskan. Anan berhasil menciptakan sejarah baru di kampus ternama tersebut. Namun, cerita tidak berhenti di situ. Para siswa yang sudah lulus tetap berhubungan dengan Anan dan terus memberikan semangat kepada adik-adik kelasnya. Anan Kumar telah mengubah kehidupan mereka. Seperti apa yang dikatakan oleh ayahnya, Anan telah mewujudkan mimpinya. Dan tidak hanya
9:14 itu, Anan telah mewujudkan impian banyak orang yang tidak memiliki kesempatan belajar seperti dirinya dulu. Di akhir cerita, Anan Kumar mendirikan sekolah gratis yang dikenal dengan nama Super 30. Setiap tahun, Anan mengajar 30 siswa yang tidak mampu untuk menghadapi ujian masuk kampus Iit. Dan dengan semangat serta dedikasi yang tinggi, Anan berhasil membuat banyak siswa dari kalangan kurang mampu berhasil masuk ke kampus ternama tersebut. Anan Kumar telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah halangan untuk meraih mimpi dan dia terus menginspirasi banyak orang hingga saat ini. [Musik]