0:01 Masih ingat gerakan ini? Ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia turun ke jalan berhadapan dengan gas air mata demi nyuarain keresahan. Orang-orang menyebutnya aksi paling besar setelah 1998. Tapi emang peristiwa 1998 sendiri jauh lebih besar. Waktu itu seluruh penjuru Indonesia terlibat. Sampai-sampai korban jiwa banyak yang berjatuhan. Saat itu aroma kebencian rasanya sampai bisa kita cium di udara. Tapi gerakan gede semacam itu gak cuma terjadi di Indonesia. Pernah ada revolusi Perancis yang ngelahirin konsep kebebasan dan gestaraan yang kita kenal sampai sekarang. Ada revolusi Bolshevik yang ngebentuk Uni Soviet meski kemudian runtuh lagi. Dan sampai di timur tengah sana, pernah ada revolusi musim semi-Arab di mana rakyatnya ngejatohin pemerintahan diktator.
0:47 Sekarang, yang bikin kita mikir adalah gimana ngejelasin kenapa peristiwa-peristiwa itu bisa terjadi. Atau apakah semua kekacauan tadi itu sebenarnya bisa diprediksi? Tapi tenang, kalau ilmu fisika bisa ngejelasin asal mula alam semesta, ilmu sosial juga bisa ngejelasin masalah tadi. Sekarang kita butuh tajamin penggiatan karena seabis ini kita bakal datengin semua sudut kota dan melihat bagaimana masyarakat saling ngobrol satu sama lain. Inilah Sosiologi. Sederhananya, ilmu sosiologi itu bisa kita ibaratin kayak kacamata. Bukan kacamata biasa, tapi kacamata canggih yang bisa ngeliat karakter masyarakat yang beda-beda. Misalnya ada penduduk desa yang orangnya akrab-akrab banget.
1:32 Di sisi lain, ada juga orang kota yang lebih cuek ngejalanin hari-harinya. Terus ada juga orang-orang yang sungannya ribut terus. Dengan ngeliat pake kacamata itu, hasil analisis dari yang kita lihat bisa keluar. Baru dari situlah makin menarik lagi buat diulik lebih dalam. Sosiologi membantu kita untuk bisa ngejawab pertanyaan. kenapa masyarakat bisa punya masalah yang beda-beda di saat bersamaan dan bahkan bisa lebih dari itu. Tujuan awalnya sampai ada ilmu sosiologi itu karena kita penasaran sama perilaku manusia. Ya, mirip dengan psikologi yang sama-sama ngebahas manusia tapi dalam skala yang lebih luas lagi. Berkat sosiologi, kita jadi tahu apa aja sih yang bisa nentuin kebiasaan dan sifat kita sehari-hari. Melekatnya adat ketimuran di negara kita, bikin hampir semua orang makan pakai tangan kanan, menempelnya jajahan kolonial di masa
2:22 lalu kita, bikin kita selalu mandang apa-apa yang luar negeri itu lebih keren, mengakarnya anggapan kalau pria harus jantan dan wanita harus anggun, bikin lapangan kerja di negara kita masih belum setara untuk laki-laki dan perempuan. Dan gak cuma itu, karena sekarang teknologi terus menerus menubah hidup kita. Sosiologi adalah sosok yang bisa bantu manu kita biar gak bingung ngadepin perubahan zaman. Karena begitu kita udah bisa ngamatin pola-pola perilaku masyarakat, kita bakalan bisa lebih kritis ngeliat itu semua. Dari sana, kita jadi bisa tau cara yang pas buat nyari solusi dan masalah-masalah yang ada. Tapi pastinya kacamata canggih ini pun gak tiba-tiba muncul gitu aja. Ilmu sosiologi udah ngelewatin perjalanan panjang biar kacamata ini bisa secanggih sekarang. Karena itu, coba sekarang kita pake kacamata ini buat ngeliat
3:09 jejak langkah sosiologi sampe hari ini. Perjalanan dimulai sejak revolusi industri terjadi. Perubahan dari bercocok tanam jadi buruh pabrik bikin masyarakat kebagi jadi kelas-kelas sosial, si kaya dan si miskin. Banyak filsuf penasaran tentang kondisi baru masyarakat ini. Hingga lahirlah ilmu bernama Sosiologi. Sejak itu, ilmu Sosiologi mulai diajar di kampus-kampus sampai dijadiin dasar ilmu buat bikin peraturan-peraturan pemerintah. Gara-gara adanya perang dunia kedua dan revolusi politik dimana-mana, sosiologi terus ngelahirin banyak teori baru untuk nyoba memahami masyarakat. Kini, tantangan-tantangan umat manusia memanjang dari perubahan iklim, intoleransi yang makin menjadi-jadi, majunya ekonomi digital, sampai
3:56 overpopulasi. Tapi, sosiologi tetap hadir sebagai solusi. Karena dalam masalah apapun, selama ada masyarakat, sosiologi akan selalu berguna. Sekarang, teknologi digital membuka panggung baru buat sosiologi. Ya, Sama kayak ilmu fisika yang lahir setelah penemuan teleskop dan biologi yang berkembang setelah ditemukan mikroskop. Sebelumnya, kita gak punya alat sehebat teleskop atau mikroskop untuk ngamatin pola perilaku manusia. Tapi lewat internet, sekarang kita punya itu semua terkumpul acak di samudera angka-angka bernama Big Data. Mungkin kita belum sadar seberapa dalamnya ia tertanam di hari-hari kita. Padahal semua perilaku dan sikap kita terekam oleh teknologi digital. tempat-tempat yang kita datengin, dan semua jalan kita lewatin dicatutin sama sistem GPS di HP
4:43 kita. Pola pengeluaran uang kita sehari-hari direkam sama dompet elektronik dan bangbang digital yang kita punya. Bahkan semua perasaan dan pemikiran kita ditampung sama aplikasi-aplikasi ini yang kita pakai tiap hari. Semua ini bisa kita buktiin langsung dengan nyoba jelajah di aplikasinya. Yang kelihatan di sana adalah konten-konten yang dirancang khusus untuk kita dengan ngamatin kebiasaan kita di internet. Tahu teknologi digital, penelitian sosiologi bisa direvolusi. Para sosiolog udah gak harus neliti manual, ngelawancarain orang satu persatu, bahkan mungkin udah gak perlu ngamatin perilaku apa-apa lagi. Karena itu semua udah terekam dengan sendirinya. Namun, masalahnya internet dan big data bisa ngelakuin lebih dari itu. Gak cuma untuk penelitian, dengan tau kebiasaan kita dan tau apa-apa yang kita suka dan gak suka, informasi yang
5:31 kita terima bisa dikontrol. Akhirnya kita jadi bisa dikendalin sama pihak gak bertangg jawab di atas sana untuk ngelakuin apa yang mereka pengen. Kedepannya, ini bakalan lebih seram lagi. Di hari ketika manusia udah nguasain big data, mungkin saat itulah kita udah gak akan ketemu sama yang namanya. Gak ada bebas. Kita gak boleh sampai ketinggalan dalam ngikutin perkembangan zaman ini. Dan itu termasuk di bidang sosiologi. Dan penting untuk kita gak cuma ngandelin apa yang dia dapet di sekolah aja, Misalnya kayak Mbak Inaya Rahmani ini. Dari waktu masih duduk di bangku sekolah, beliau udah suka baca-baca buku ilmu sosial yang gak masuk di kurikulum. Dari sanalah, rasa ingin tahu Mbak Inaya dalam ilmu sosial selalu berkembang dan yang membawanya sampai lulus studi S3 di
6:19 usia yang masih tergolong muda. Ia terus belajar dan terus membaca. Dan tidak berhenti di buku, tapi juga berbagai media lain yang berdampak keperubahan sosial. Sosialogia itu harus paham ga sih biling-biling yang lain? Ini saya kasih gambaran ya, saya sendiri sebetulnya sosiolog media. Jadi yang saya meneliti adalah program televisi aplikasi handphone yang sering banget dipakai orang. Persileman, musik, fashion itu dampaknya apa ke perubahan sosial yang lebih luas. Jadi sebagai sosiolog media yang saya lakukan adalah meneliti, terakhir itu peningkat saya tentang pemilu, tentang polarisasi cebong dan kamprek di media sosial untuk menjelaskan konservatisasi agama dan politik. Ngertiin dasar-dasar
7:08 sosiologi itu pentingnya bukan main. Di dunia yang makin penuh keragaman dan perbedaan, kita tetap gak bisa lepas dari fakta bahwa manusia itu makhluk sosial. Sosiologi menjawab semua rasa penasaran kita. Bagaimana sih caranya supaya manusia itu bisa hidup bersama, tanpa perang. Bagaimana kita bisa hidup dengan lebih damai dan bersama-sama ya, meskipun kita beda agama, warna kulit, kebangsaan, kita semua manusia yang punya rasa takut, rasa ingin bahagia, dan rasa socially connected ke orang lain. Dengan berbagi kecamatanya, sosiologi mencoba membongkar puzzle dari apa yang selama ini tersembunyi di masyarakat. Dengan
7:57 berbagai cara pandang yang ditawarin sosiologi, kita bisa ngeliat masalah-masalah yang ada di masyarakat dengan lebih jelas. Dan dari sana, lebih menghargai perbedaan yang ada. Seandainya sosiologi gak pernah ditemukan, mungkin dunia akan terasa makin gelap dan kita gak pernah ngerti apapun tentang segala keributan yang terjadi di luar sana. Dan berpenjara dalam situasi itu tanpa tahu harus berbuat apa. Dari video psikologi kemarin, kita udah tahu kalau otak manusia adalah objek paling misterius di alam semesta. Dan tiap-tiap manusia ngehasilin begitu banyak data. Dan namanya masyarakat itu isinya ada banyak banget manusia. Perjalanan terbaru sosiologi baru aja dimulai. Jadi udah setengah serial Kok Bisa Explain sini kita jalani. Sampai titik ini kita udah
8:43 sama-sama liat gimana emang semua ilmu bener-bener berhubungan untuk saling nyempurnain satu sama lain. Dan itu akan kita temui dengan jelas banget di episode sehabis ini. Karena di sana kita akan ketemu sama kombinasi dua ilmu yang sekilas tampak gak ada hubungannya. Ilmu sosial dan matematika. Jadi sampai bertemu lagi di ilmu yang bantuin bikin kita keputusan yang sangat rasional dan penuh perhitungan dengan cara ngebuat kita dapetin hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal. Ya, ilmu ekonomi.