0:03 Pada jaman dahulu, Kadipaten Semarang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak. Daerah ini, diperintah oleh Adipati Mangkubumi, yang lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pandan Arang II bersama sang istri. Ia tersehor sebagai pemimpin yang kaya raya, berwibawa, dan sangat dihormati oleh rakyatnya. Namun seiring berjalannya waktu, sang Adipati mulai abai terhadap kesejahteraan rakyat. Hatinya diliputi keserakahan, hingga ia menindas warganya dengan pajak yang mencegik, kehidupan rakyat pun berubah menjadi penuh penderitaan.
1:11 Kabar buruk ini akhirnya sampai ketelinga pihak kesultanan. Sunan Kalijaga, selaku penasihat spiritual kerajaan, memutuskan untuk turun tangan sendiri guna menegur sang Adipati. Pada suatu hari, ketika Ki Ageng Pandan Arang tengah memungut pajak bersama pengawalnya. Kemudian matanya tertuju pada seorang tukang rumput perpakaian
2:00 lusuh yang tengah memikul beberapa ikat rumput dipundaknya. Rumput itu tampak begitu hijau dan segar, hingga sang Adipati pun tertarik untuk membelinya. Berhenti, Kisanak. Oh, Ndoro. Aku ingin membeli semua rumput-rumput itu, Kisanak. Mohon maaf, Ndoro. Rumput-rumput ini telah dipesan seseorang. Sudahlah, nanti Kisanak bisa merumput lagi. Tukang rumput hanya diam tak menjawab. Ini satu keping uang untuk rumput-rumput itu, anggap sebagai imbalan dariku.
2:47 Sekarang, pergilah. Pengawal, bawa rumput-rumput itu. Tanpa sepengetahuan sang Adipati, situkang rumput diam-diam menyelipkan uang pembayaran, kedalam tumpukan rumput yang dibawa oleh pengawal. Sesampainya di kediaman Ki Ageng Pandan Arang, beliau memerintahkan pengawalnya untuk segera memberikan rumput-rumput itu kepada hewan ternaknya. Loh, ini kan uang Ndoro yang telah diberikan kepada tukang rumput itu?
3:36 Permisi, Ndoro. Hamba ingin menyampaikan sesuatu. Ada apa, pengawal? Hamba menemukan ini di rumput yang Ndoro beli tadi. Kalau tak salah, uang itu yang Ndoro berikan kepada tukang rumput tadi. Apa maksud tukang rumput itu? Dia tak mau menerima uang dariku? Mungkin dia tak sengaja menjatuhkan uangnya, Ndoro. Semoga saja. Uang yang diberikan sang Adipati selalu kembali tersembunyi di antara tumpukan rumput. Lama kelamaan, Ki Ageng Pandan Arang mulai geram atas kelakuan si tukang rumput. Hingga akhirnya, pada suatu hari, ia tak dapat menahan amarahnya.
4:25 Ampun, Ndoro. Ini sudah kesekian kalinya. Hamba menemukan uang di dalam tumpukan rumput setiap Ndoro membelinya dari si tukang rumput itu. Kurang ajar! Ini sudah diluar batas kesabaranku. Dia telah menghinaku, bahwa tukang rumput itu, akanku beri dia hukuman. Cepat laksanakan? Apa salah saya, Ndoro? Sampai Ndoro menampar Hamba. Diam! Kau hanya seorang pengawal. Lakukan perintahku sekarang. Baik... Baik, Ndoro. Pergilah pengawal mencari keberadaan si tukang rumput.
5:26 Tukang rumput itu kemudian dibawa kehadapan Ki Ageng Pandan Arang. Ndoro, ini tukang rumput itu. Kerja bagus. Aku ingin bicara denganmu di sana. Apa salah saya hingga Ndoro adipati memanggil saya kemari? Orang miskin yang sombong. Kau menolak pemberianku. Kau telah menghinaku kisanak. Mohon ampun sebelumnya, Ndoro. Hamba tak bermaksud untuk menghina. Jika Ndoro berbicara soal uang, Hamba tak memerlukan harta duniawi ini. Karena semua itu tak ada yang abadi. Lagi pula, Hamba bisa mendapatkan lebih banyak lagi dari pemberian Ndoro. Apa maksudmu? Hanya dengan sekali canggul.
6:12 Hamba bisa mendapatkan bongkahan emas. Memangnya kau siapa bisa melakukan hal seperti itu. Jaga ucapanmu di depanku. Buktikan sekarang. Pengawal, ambilkan canggul. Baik, Ndoro. Jika semua omong kosong ini tak terbukti, Maka kau akan ku hukum. Baik, Hamba bersedia. Namun jika Hamba berhasil membuktikannya, Sudah sepantasnya Ndoro bertahubat atas apa yang telah Ndoro lakukan selama ini. Apa maksudmu? Lancang sekali. Tapi baiklah, aku beri kau kesempatan.
6:58 Sekarang, buktikan ucapanmu. Kalau memang seperti yang kau katakan. Tukang rumput mengajak sang Adipati keluar menuju halaman rumah diikuti pengawal. Mohon izin Ndoro. Bismillahirrahmanirrahim. Allahu Akbar. Dengan sekali ayunan, tampaklah sebungkah emas mencuat dari tanah yang baru saja dicangkul. Semua orang terheran dan terpana dengan keajaiban itu. Kecuali ki Ageng Pandan Arang. Ah, tak mungkin. Itu hanya tipu muslihatmu.
7:44 Cangkul di tempat lain. Tukang rumput itu pun menurut mengikuti perintah ki ageng pandan arang. Ia mencangkul tanah di tempat lain. Dan sekali lagi, bongkahan emas keluar dari perut bumi. Kejadian serupa terus berulang. Setiap kali dia mencangkul, emas selalu muncul.
8:32 Namun sang adipati masih enggan percaya. Ia menduga, mungkin saja tanah yang ia tinggali memang mengandung emas melimpah. Ini mustahil. Berikan cangkul itu. Aku akan mencoba menggalinya sendiri. Pasti juga akan keluar emas. Silahkan mencobanya Ndoro. Kik ageng pandan arang mencangkul tanah di hadapannya dengan penuh semangat. Namun yang ia temukan hanyalah gumpalan tanah biasa.
9:30 Ia mencoba lagi dan lagi mencangkul di berbagai tempat. Namun hasilnya tetap sama. Tak ada emas. Tak ada keajaiban. Hanya tanah. Sebagai mana tanah pada umumnya. Hingga akhirnya adipati pandan arang kelelahan. Sesungguhnya siapakah dirimu wahai kisanak ? Mengapa engkau memiliki kesaktian seperti ini ? Aku adalah Raden Said.
10:16 Orang-orang biasa memanggilku sunan Kalijaga. Aku kesini karena mengetahui apa yang kau lakukan kepada rakyatmu. Aku ingin mengingatkanmu. Seketika ki ageng membungkuk lalu menangkupkan kedua telapak tangannya dengan penuh hormat. Ia akhirnya menyadari bahwa orang yang berdiri dihadapannya bukanlah orang sembarangan. Melainkan sunan kalijaga. Seorang penasihat sekaligus tokoh agama dari kesultanan demak. Maafkan atas semua kesalahan dan kekilafan saya kanjeng sunan. Aku memaafkanmu. Namun ingatlah tinggalkan kebiasaanmu yang terlalu mencintai kenikmatan duniawi. Itu sumber kerusakan hati. Baik kanjeng sunan. Ijinkan hamba untuk mengikuti panjenangan.
11:02 Hamba ingin memperdalam ilmu agama dan ikut menyebarkan agama Islam. Sesungguhnya tak ada seorang pun yang mampu mencegah orang lain untuk berbuat baik. Jika orang itu telah memiliki niat yang besar. Terima kasih kanjeng sunan. Kalau begitu, aku permisi dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Malam itu, setelah kejadian yang menggugah hati, ki ageng pandan arang segera menemui istrinya untuk menyampaikan keputusan besar yang telah dia ambil.
11:49 Nimas, ada yang inginku bicarakan denganmu. Oh kakang, sepertinya ini hal penting ya. Wajahmu tampak berbeda malam ini. Sebenarnya aku telah memutuskan untuk melepaskan jabatanku sebagai adipati. Aku ingin mengikuti kanjeng sunan kalijaga berguru dan memperdalam ilmu agama. Aku ingin menjalani hidup yang lebih sederhana dan bermanfaat bagi sesama. Apakah nimas bersedia mendampingi langkahku ini? Hah? Ini mendadak sekali kakang. Em... eh... Baiklah kakang. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukung.
12:36 Jika itu jalan kebaikan, aku akan ikut berjalan bersamamu. Syukurlah nimas. Tapi ingat, kita tidak boleh membawa kemewahan duniawi. Semua harta, perhiasan, dan barang mewah yang kita miliki harus kita tinggalkan. Lalu, bagaimana dengan semua itu? Berikan semua barang-barang serta harta kita kepada fakir miskin. Mereka lebih membutuhkan daripada kita. Nyai pandan arang hanya diam. Tak menanggapi sang adipati. Di dalam hati kecilnya, dia masih tak rela jika semua hartanya harus diberikan kepada fakir miskin. Dia mencari cara bagaimana agar hartanya tetap bisa dibawa tanpa sepengetahuan sang adipati.
13:23 Tiba hari dimana sang adipati pergi menemui kanjeng sunan kalijaga. Kakang, pergilah terlebih dahulu. Nanti aku akan menyusulmu. Ada hal yang perlu aku lakukan. Baiklah. Jika urusanmu sudah selesai, bergegaslah sebelum tertinggal jauh. Baik, Kakang. Hati-hati, Kakang. Seperginya sang adipati Nyai pandan arang segera memasukkan emas ke dalam tongkat bambu. Sungguh aku tak rela jika hartaku harus diberikan kepada orang-orang miskin itu.
14:09 Enak saja. Setelah selesai memasukkan semua hartanya ke dalam sebuah bambu, nyai pandan arang segera menyusul suaminya.
15:03 Di tengah perjalanan, adipati pandanarang dan sunan kali jaga dihadang oleh tiga perampok. Serahkan hartamu atau nyawamu yang menjadi taruhannya. Kalian tak akan mendapatkan apapun. Karena kami tak membawa apa-apa. Tak mungkin. Seseorang yang memiliki tampang seperti bangsawan tak membawa apa-apa. Silahkan kalian periksa sendiri kalau tidak percaya. Para perampok menggedah adipati pandan arang dan sunan kalijaga. Namun mereka tak menemukan apapun.
15:55 Benarkan apa yang aku katakan, kami tak membawa apa-apa. Kalau kalian ingin mendapatkan barang berharga, tunggulah sebentar lagi. Nanti akan lewat seorang perempuan. Dan kalian pasti akan menemukan apa yang kalian cari. Para perampok saling menatap ragu mendengar ucapan sunan kalijaga. Hah? Perempuan? Apa maksudmu? Iya, seorang perempuan yang membawa tongkat bambu. Didalam tongkat bambunya, banyak kepingan emas. Itu kan yang kalian cari? Aku tak yakin dengan apa yang kau katakan. Jika memang tak ada perempuan yang aku maksud. Kejarlah aku, aku akan beristirah di ujung jalan ini. Akhirnya para perampok melepaskan sunan kalijaga dan adipati pandan arang.
16:43 Mereka pun melanjutkan perjalanan. Namun, ada yang mengganjal dalam pikiran adipati. Ah, maaf sunan. Sebenarnya siapakah perempuan yang sunan maksud tadi? Dia adalah seorang wanita yang masih terikat dengan duniawi. Terbesit di benak adipati pandan arang. Bahwa istrinya lah yang dimaksud sunan kalijaga. Sebab dia memang akan segera menyusul. Namun, sang adipati segera menepis dugaan itu. Karena sebelumnya, dia telah berpesan agar sang
17:30 istri tidak membawa apapun dalam perjalanan ini. Nyai pandan arang berjalan cepat menembus hutan. Karena ingin segera menyusul suaminya. Sesampainya tengah hutan, nyai diawasi oleh para perampok. Ketiga perampok itu semakin yakin bahwa wanita yang dimaksud adalah nyai pandan arang. Karena dia membawa tongkat bambu. Bergegas mereka menghadang.
18:21 Berikan semua hartamu atau nyawamu akan melayang. Tolong, tolong, tolong ada perampok, tolong. Hei, percuma berteriak meminta tolong tak akan ada orang yang datang. Ampun Tuan, ampun aku tak memiliki apa -apa. Biarkan aku lewat, aku bukan orang kaya Tuan. Lihatlah aku berjalan kaki, bukan dengan kereta kuda. Bahkan berjalan pun aku menggunakan tongkat, Tuan. Nah, ini yang kami cari, didalam bambu itu kau menyimpan semua hartamu kan? Jangan Tuan, ini satu-satunya alat yang aku gunakan untuk melindungiku dalam perjalanan ini. Aku tak peduli, serahkan tongkat itu.
19:10 Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, para perampok itu segera meninggalkan nyai pandan arang. Dia tak bisa berbuat apa-apa dan bergegas untuk menemui suaminya.
19:58 Kakang, tolong Kakang. Ada apa? Nimas, apa yang terjadi denganmu? Kakang, tolong Kakang. Semua harta benda kita telah dirampok. Dirampok? Apa maksudmu? Dimana kau dirampok? Di perjalanan saat aku menyusulmu. Dan..../ Apa? Jadi, kau menyusulku sambil membawa harta benda kita. Kau benar-benar tak mematuhi pesan yang aku berikan. Sudahlah. Yang penting, sekarang kau selamat. Tapi bagaimana dengan semua harta kita? Hanya itu yang kita miliki. Astaghfirullahaladzim. Kau tak mendengarkan suamimu dan mengabaikan pesanku.
20:45 Kejadian ini adalah salahmu sendiri. Mohon maaf atas kekilafan istri saya, Sunan. Sungguh, saya tak menyangka dia akan berbuat seperti ini. Sudahlah. Ada tiga pihak yang bersalah dalam peristiwa ini. Dirimu sendiri. Istrimu. Dan para perampok itu. Untuk mengenang kejadian ini, aku akan menamai tempat ini. Salah Tiga. Semoga kelak. Tempat ini tumbuh menjadi daerah yang ramai dan makmur. Sunan kalijaga,
21:32 Adipati pandan arang, beserta istrinya melanjutkan perjalanan Semua peristiwa itu menjadi pelajaran berharga. Untuk adipati dan istrinya. Salah Tiga, Kemudian semakin lama bergeser pengucapannya menjadi Salatiga