0:02 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nastainuhu waastagfiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a'malina. May yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh la nabiya wala rasula ba'dah. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumil qiamati. Amma ba'd.
0:51 Bapak, Ibu hadirin rahimani warahimakumullah yang semoga selalu dirahmati Allah subhanahu wa taala. Yang pertama dan paling utama di kesempatan pagi hari ini kita bersyukur dan memuji Allah Subhanahu wa taala atas segala limpahan nikmat dan karunia yang masih Allah anugerahkan kepada kita semua. Selawat beriring salam semoga selalu tercurah dan terlimpahkan kepada uswah hasanah kita, Nabi Besar, Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman nanti. Bapak, Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. mengawali kajian di
1:39 kesempatan pagi hari ini tentang bagaimana cara menanamkan tanggung jawab dan kepedulian kepada anak. Maka saya ingin memberikan beberapa pendahuluan terlebih dahulu. Pendahuluan pertama adalah logika anak-anak kita ingin dipuaskan. Kenyataan ini, Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala akan membuat kita untuk siap terkadang dipertanyakan oleh anak kita. Kita memerintahkan sesuatu, kemudian anak kita bertanya, "Kok seperti itu bi? Kok seperti itu mi?" Maka itu adalah
2:27 sesuatu yang wajar dari seorang manusia. Kenapa kok seperti itu? Karena Nabi Ibrahim Alaih Salam pun juga bertanya seperti itu kepada Allah Subhanahu wa taala padahal yang sudah diimani bukan sesuatu yang diragukan lagi. Sudah diimani masih bertanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Di surah Albaqarah yang saya cantumkan di depan ini, Allah Subhanahu wa taala pernah menceritakan pertanyaan Nabi Ibrahim. Waidola Ibrahimu, rbi arini kaifa tuhyil mauta. Dan ingatlah ketika Ibrahim bertanya,
3:13 "Wahai Tuhanku, bagaimana engkau menghidupkan yang mati?" Wahai Tuhanku, bagaimana engkau menghidupkan yang mati?" Pertanyaan Allah Subhanahu wa taala sebagaimana pertanyaan kita ketika ditanya seperti itu oleh anak, misalkan pertanyaan kita, "Awalam tukmin," maka itu pula yang ditanyakan oleh Allah Subhanahu wa taala. "Awalam tukmin?" Apakah kamu belum beriman? Ya, dengan hal tersebut apakah kamu belum beriman? Kalau aku itu bisa menghidupkan yang mati. Nah, yang mencengangkan Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, Nabi Ibrahim mengatakan, "Qola bala,
3:58 bahkan aku sudah beriman." Maka pertanyaan kita juga sama, "Udah beriman kok mempertanyakan?" Ya sudah beriman kenapa mempertanyakan lagi? Kok mencari bukti? Maka di sini kita punya konsep bahwasanya yang namanya manusia itu, Bapak, Ibu, butuh bukti logikanya butuh dipuaskan dalam setiap perintah ataupun larangan yang kita berikan. Nabi Ibrahim pun setelah mengatakan, "Tentu aku sudah beriman." Beliau mengatakan, "Walakin liatmainna qolbi." Tapi aku ingin ya Allah agar hatiku tenang. Ya. Maka seringkiali Bapak Ibu anak kita mempertanyakan
4:44 perintah kita ataupun larangan kita. Tujuannya bukan ingin membantah sebenarnya. Tujuannya adalah agar hati mereka tenang. Kenapa Bapak Ibu melakukan seperti ini ataupun memerintahkan seperti ini? Kenapa Bapak Ibu melarang seperti ini? Dan terkadang jawabannya bisa beraneka ragam. Kalau itu sudah perintah Allah dan Rasul-Nya. Cukup kita mengatakan karena Allah memerintahkan seperti itu, Nak. Itu sudah cukup sebenarnya. Kalau itu ada hadis, tindakan kita itu berdasarkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam cukup mengatakan karena Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan seperti itu, Nak. Itu sudah sangat cukup sekali, langsung bisa diterima sama anak-anak.
5:30 Terutama untuk anak-anak SD insyaallah pertanyaannya belum sampai logika yang sangat tinggi ya. Bahkan kalau untuk anak di bawah 7 tahun mereka dijawab salah aja menerima. Ya, sekali lagi Bapak Ibu untuk anak-anak di bawah 7 tahun jawaban kita salah aja diterima. Yang penting kita jawab ya. Cuman masalahnya kalau salah nah itu nanti kita susah ngerubahnya malahan. Karena itu di masa-masa doktrin dia gak pakai logika tapi pakai percaya. Ya, pakai kepercayaan. Nanti SD sampai dia lulus SD semakin berkembang kognitifnya, maka kadang logikanya semakin bermain. Kalau kita memberikan alasan gak masuk akal, dia mempertanyakan lagi. Tapi di bawah 7
6:17 tahun gak masuk akal pun akan diterima. Maka ini harus kita sadari Bapak Ibu bahwasanya anak-anak mempertanyakan perintah kita ataupun larangan kita, tujuannya buat hati mereka tenang, logikanya dipuaskan. Maka jawab saja, enggak usah emosi ya. Katakan memang ini perintah Allah, memang ini perintah Nabi, Nak. Ya, kita melakukan ini, itu sudah sangat cukup sekali. Atau kalau mau memuaskan logika dengan praktik boleh. Nah, ini yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa taala di ayat ini. Sudah tahu Nabi Ibrahim sudah beriman tapi Allah tetap memberikan buktinya. Tidak mengatakan, "Ya sudah toh Ibrahim wong sudah beriman gak perlu bukti. tidak dilakukan oleh Allah Subhanahu wa
7:03 taala. Allah malah memerintahkan arat miniri. Ambillah empat burung yaunika. Kemudian disembelih, dicincang-cincang, kemudian dagingnya dicampur-campur. Kemudian letakkan campuran-campuran. I. Baik, Bapak-bapak, Ibu-ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Kita lanjutkan tentang bagaimana Allah Subhanahu wa taala memuaskan logikanya Nabi Ibrahim. Ya Allah memberikan bukti untuk ngambil empat burung dicincang kemudian diletakkan di beberapa gunung. Kemudian kata Allah Subhanahu wa taala,
7:51 "Tummaduhunna yaaka." Kemudian panggil burung itu. Nanti burungnya akan datang dengan bersegera kepadamu. Ya. Waam annallaha azizun hakim. Ketahuilah Allah sangat maha perkasa dan maha bijaksana. Artinya Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, ayat ini sebuah bukti bahwasanya yang namanya anak muda itu logikanya pengin dipuaskan, tidak ingin ya mendapatkan perintah dan larangan tanpa sebuah alasan. Makanya Luqman al-Hakim ketika mengatakan kepada anaknya, "La tusyrik billah, nak bapak sayang kepadamu. Jangan sekutukan Allah." Maka
8:39 Nabi ee atau Luqman alhakim mengatakan, "Innas syirka ladulmun adzim." Karena kesyirikan itu adalah kezaliman yang paling jahat. Contoh memuaskan logika seperti itu, Bapak, Ibu. Cukup satu dua kalimat sudah cukup. Karena kesyirikan itu kezaliman yang terbesar. Atau misalkan kita mencontoh hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ayo nak kita salat. Salat itu cahaya. Misalkan sebatas itu sudah memuaskan logika. Ayo nak kita bersuci dan bersih-bersih. Kita suka kebersihan. Karena kata Nabi, atuh cek. Baik Bapak Ibu, ini yang pertama,
9:24 pendahuluan pertama bahwasanya anak kita ingin dipuaskan logikanya. Kemudian Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, saya ingin memberikan pendahuluan berikutnya dengan kalimat dari Syekh Abdur Razq Albadr hafidahullahu taala. Kita lihat apakah suaranya bisa masuk atau tidak. Saya akan terjemahkan pelan-pelan. Beliau mengatakan, "Tidak mungkin akan baik seorang pun dari
10:09 anak keturunan kalian. Tidak mungkin akan baik seorang pun dari anak kalian. Illa idza aslahahullahu laka. Kecuali jika Allah Subhanahu wa taala yang memperbaikinya. Bapak, Ibu, ini konsep dasar yang harus kita sadari. Mahma ijtahatta. meskipun kamu sudah bersungguh-sungguh optimal untuk mendidiknya, untuk memberikan pendidikan terbaik baginya, milihkan sekolah yang terbaik, terus memaksa dia ke dalam kebenaran, dipaksa untuk istikamah, tidak mungkin akan istiqamah, gak
10:57 mungkin anak-anak kita akan baik. Ya, kecuali jika Allah Subhanahu wa taala yang memperbaiki anak kita, yang memberikan hidayah, yang bisa menuntun hanya Allah Subhanahu wa taala. Yang bisa memberikan taufik juga hanya Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya meninggikan harapannya kepada Allah Subhanahu wa taala. Jangan berharap banyak kepada sekolah. sekolah jangan berharap banyak kepada orang tua
11:44 meskipun kita me nyarankan memotivasikan untuk orang tua dan sekolah bekerja sama. Tapi harapan kita enggak boleh kepada sekolah, gak boleh kepada guru, gak boleh kepada orang tua. Harapan terbesar kita hanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, kita menyarankan kepada Bapak Ibu untuk bekerja sama. Misalkan kita berdoa kepada Allah semoga saja ini mati yang terakhir Bapak, Ibu ya. Nanti
12:29 sampai terakhir tidak ada ee mati listrik lagi. Baik, Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Tadi kata Syekh Abdur Razak, jangan pernah berharap ataupun hendaknya harapan kita dibesarkan kepada Allah Subhanahu wa taala, jangan kepada makhluk-makhluk dari dunia. Ya, orang tua. Orang tua, ini orang tua dan ini sekolah, maka mereka harus menjadikan segitiganya
13:15 di atasnya di sini adalah harapan kepada Allah Subhanahu wa taala. Orang tua jangan ke sana, sekolah jangan ke sana. Meskipun itu penting. Dan kita mengajarkan dan mendorong orang tua untuk bekerja sama dengan sekolah. Maksudnya gimana bekerja sama ini? Orang tua kalau melihat anaknya tidak memuliakan gurunya, diajari nak sama Pak Guru seperti ini caranya, ya. Ketika guru melihat anak tidak baik sama orang tuanya, maka gurunya menyatakan, "Nak, sama orang tua hendaknya kamu begini." Cuman satu kalimat, dua kalimat saja, Bapak, Ibu. Itu akan memperbaiki anak-anak kita ya. Jadi namanya kerja
14:01 sama. Dan ini sebagaimana orang tua, Bapak dan Ibu juga harus bekerja sama. Punya simbosis mutualisme, saling bekerja sama. Gimana cara kerja samanya? Kalau anak tidak baik sama ibunya, bapaknya yang turun tangan. ngajarin adab sama bap sama anaknya dengan memberikan pengingat bahwasanya misalkan promnya ya nak yang baik sama ibu ibu sudah mengandungmu
14:47 9 bulan 10 hari begitu Bapak Ibu Bapaknya yang turun tangan untuk memperbaiki adabnya anak kepada ibunya. Ingat-ingat lagi dulu istrinya ngapain? Misalkan menyusui 2 tahun. Bapaknya yang ingat ini, "Nak, yang baik sama ibu. Karena ibumu dulu sudah nyusuin kamu 2 tahun." Perjuangan yang lainnya misalkan, "Nak, yang baik sama ibumu." Karena dulu ibumu itu sering begadang untukmu. Ibu sering begadang
15:34 untukmu. Ya, ibu sering begadang untukmu dan perjuangan-perjuangan seorang ibu lainnya. Bapaknya harus tahu perjuangan-perjuangan istrinya. Ketika anak gak baik sama ibunya, bapaknya yang turun tangan seperti ini. Dan yang ini, Bapak, Ibu, gak boleh ibu-ibu yang mengatakan sendiri. Kalau ibu-ibu yang mengatakan sendiri kepada anaknya, malah anaknya gak mau. Kenapa? Karena dia merasa ibuku ini ngungkit-ungkit jasanya dan anak gak mau ada orang ngungkit-ungkit jasanya. Sama seperti kita pernah mendapatkan
16:21 bantuan dari orang lain. Kemudian yang mengatakan ngungkit-ungkit bantuan itu orang yang memberikan kepada kita. Mau, Pak? Gak mungkin. Mau. Mau, Bu. Gak mungkin. Mau. Kenapa? Karena manusia gak ingin seperti itu ya. Makanya kata Allah subhanahu wa taala, tumma la yutbiuna ma anfaqu manan walaan. Ya. Kemudian tidak mengikuti sedekahnya itu dengan man mengungkit-ungkit dan menyakiti baru dapat pahala gitu. Jadi tidak boleh ibunya sendiri. Begitu juga ketika anak tidak baik sama bapaknya maka ibu yang turun tangan, Bapak, Ibu. Ibu-ibu yang turun tangan. Ingat-ingat jasanya bapak itu apa saja. Oh, Bapak itu sudah
17:07 bekerja di luar susah berjuang. Disampaikan yang baik sama bapak ya. Bapak kerja di luar kadang dimarahin sama atasannya. Kadang kerja di luar harus lembur. Ya, kadang kerja di luar ya lelahnya gak disampaikan kepada kita. disampaikan seperti itu biar anak ya tahu jasanya seorang bapak. Nah, nanti kalau sudah seperti ini anak akan bisa menghormati bapaknya, bisa menghormati ibunya. Dari mana? Dari subsidi silang, bukan dari masing-masing nyebutin jasanya Bapak, Ibu. Ini harus menjadi konsep kita. Jadi,
17:52 Bapak, Ibu atau orang tua harus saling subsidi silang. Orang tua dan sekolah pun harus subsidi silang. Mana yang dilihat anaknya enggak benar harus diperbaiki dengan kalimat yang singkat. Satu dua kalimat saja gak boleh banyak-banyak. Karena nasihat yang paling masuk itu adalah yang paling ringkas dan pendek. Ya, nasihat yang paling masuk itu yang paling ringkas dan paling pendek bukan yang paling panjang. Ya, kalau Bapak-bapak, Ibu-ibu menasihati anaknya panjang-panjang, anaknya salak pamitan. Ya, sebentar Bu, saya mau main sama temanku. Gak sabar Bapak Ibu, satu dua kalimat saja ya. Baik, ini ee konsep-konsep dasar. Kita lanjutkan lagi coba dari Syekh ee Abdur Razak tadi. Kita harus meninggikan
18:40 harapannya kepada Allah Subhanahu wa taala. Bukan kepada sekolah sekolah, jangan kepada orang tua untuk memperbaiki anaknya. Meskipun kita terus berusaha untuk memperbaiki masing-masing sesuai dengan kadarnya. Ya. Baik. Atau mungkin sekalian ini yang saya sampaikan juga yang namanya anak itu punya namanya bakat baik sama bakat buruk. Sampai kita mati bahkan kita pun juga punya bakat baik dan bakat buruk. Untuk jadi orang baik kita punya, untuk jadi orang buruk kita pun punya. Nah, nanti kalau Bapak Ibu menemui ada anak ada sesuatu yang baik perlu di-upgrade kan dari anak tersebut, maka tugasnya milih dari tiga ini. Yang
19:27 pertama di-upgrade 100% sampai tingkat tertingginya jika memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan, maka di-upgrade setidaknya 1% dan itu yang akan menjadi pondasi dasar kita dalam mengajarkan tanggung jawab dan kepedulian. Kalau tidak bisa di-upgrade 1% pun, maka dipertahankan jangan sampai berkurang. Yang baik jangan sampai berkurang, Bapak, Ibu. Terus dijaga. yang baik itu gimana jaganya? Jaganya adalah dengan apresiasi, dengan dibicarakan usaha
20:14 tersebut. Masyaallah, tadi ayah lihat kamu cuci piring sendiri. Masyaallah, ayah senang sekali. Ini namanya sedang menjaga Bapak, Ibu. Dan kadang bisa jadi itu sedang meng-upgrade ya. Masyaallah. Tadi kamu setelah azan berkumandang langsung siap-siap salat. Ibu senang sekali. Itu namanya menjaga dan bahkan bisa meng-upgrade. Hanya sekedar kalimat-kalimat seperti itu, Bapak, Ibu. Jadi belajar untuk memberikan sebuah apresiasi ya. Dan itu yang dilakukan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Misalkan seperti Abu Bakar Assiddiq radhiallahu anhu yang dikatakan oleh Allah subhanahu wa taala tidaklah dia beramal saleh kecuali ibtiq wajhillah. Jadi Abu Bakar Assiddiq radhiallahu anhu
20:59 itu dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa taala di surah Allail ya. ill wajhillah ya kata Allah subhanahu wa taala alladzi yuti maahu yatazakka yaitu orang yang memberikan hartanya untuk mensucikan dirinya w l ahadinahu min nikmatin tujza tidak ada seorang pun punya jasa kepada Abu Bakar kecuali pasti dia akan membalas. Apa tujuannya? Kecuali untuk mengharapkan keridaan
21:44 Allah Subhanahu wa taala. Sudah seperti ini, Bapak, Ibu, konsepnya Abu Bakar ketika bantu itu berharap pahala dari Allah Subhanahu wa taala. Nabi sallallahu alaihi wasallam masih berusaha untuk mengapresiasi Abu Bakar Assiddiq radhiallahu anhu. Salah satu hadisnya dari beliau sallallahu alaihi wasallam adalah tidak ada seorang pun di antara manusia ya yang amanna alaiya fi nafsihi walihi yang lebih pemurah kepadaku dalam harta dan jiwanya. Paling rela berkorban harta untukku, paling rela berkorban jiwa untukku. Bahkan di Jabal Tsur beliau rela untuk disengat sama kalajengking. Biar Nabi sallallahu alaihi wasallam enggak disengat. Ya,
22:30 apa tujuannya? Untuk mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa taala. Kata Nabi mengapresiasi, "Tidak ada seorang pun dari manusia yang paling pemurah dalam harta dan jiwanya untuk untukku." Min Abi Bakar ibni Abi Quhafah. Dari Abu Bakar bin Abi Quhafah. Jadi, Nabi mengapresiasi Abu Bakar Assiddiq radhiallahu anhu. Diberikan apresiasi. Suhaib Arrumi misalkan Bapak Ibu berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dulu beliau datang ke Makkah masih menjadi ee atau datang ke Makkah berdagang di Makkah akhirnya menjadi orang kaya. ketika mau berhijrah dihadang sama orang-orang kafir Quraisy. Ketika dihadang tersebut
23:16 beliau mengatakan, "Sesungguhnya kalian tahu aku adalah orang yang paling pandai memanah. Kalian tidak akan mendekatiku kecuali setelah aku menghabiskan anak panahku ini. Dan kalau anak panahku sudah habis, akan kakan pedangku ini sampai masih ada yang tersisa di tanganku." Atau aku berikan pilihan yang ketiga. Kusampaikan kepadamu di mana tempat aku nyimpan uangku. Cuman beri izin kepadaku atau persilakan diriku untuk berhijrah. Jangan ganggu aku. Maka orang-orang kafir Quraisy memilih yang ketiga ini. Ya, memilih yang ketiga. Maka ketika sudah sampai di Madinah, Bapak Ibu, apa yang dikatakan Nabi sallallahu alaihi wasallam? Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "Rabihal baiu jual beli yang untung
24:02 besar." Jual beli yang untung besar. Nabi enggak diam aja. Ya wajarlah ya namanya Islam kayak gini perjuangan ya hijrah itu ya harus berjuang. Enggak. Nabi sallallahu alaihi wasallam ngapresiasi Bapak Ibu jual beli yang untung. Jual beli yang untung. Karena jiwa manusia itu pengin diapresiasi, pengin diakui perjuangannya. Anak-anak kita juga seperti itu. Pengin diakui perjuangannya. sebutkan usaha-usahanya gitu. Maka turunlah sebuah ayat di salah satu firmannya, waminanasi man yasri nafsahu ibtigardillah. Ya man yasri nafsahu ibtigardilah waminan yasri nafsahu ibtigardillah. Ini adalah ayat
24:49 yang turun dengan peristiwanya Suhaib Arumi tersebut. Bapak, Ibu bisa baca tafsirannya di ee di tafsir Ibnu Katsir misalkan ya. Jadi beliau berhijrah sudah ikhlas karena Allah Subhanahu wa taala tapi tetap diapresiasi sama Nabi. Bapak, Ibu, itu hebatnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Makanya pendidik terbaik itu adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, tidak ada seorang pun sebelum beliau dan setelah beliau yang lebih baik pendidikannya daripada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kata Muawiyah bin Hakam Assulami. Karena beliau pandai untuk mengapresiasi, maka kita sebagai orang tua, Bapak Ibu, pandai-pandailah untuk mengapresiasi anak-anak kita. Di-upgrade tadi kalau punya bakat baik di-upgrade
25:36 bakat baiknya dengan dikomentari perjuangannya. Kemudian kalau ada bakat buruk Bapak Ibu, maka yang dilakukan juga tiga ya. Yang pertama adalah dihilangkan 100% kalau bisa. Wah susah ustaz maka dihilangkan 1% kalau gak bisa. Kalau 1% juga gak bisa, maka setidaknya dijaga agar tidak semakin parah. Ini tugas orang tua dan guru dalam bakat baik dan bakat buruk anak. Nah, seringkiali Bapak Ibu kita itu lebih berkomentar pada hal yang buruk.
26:23 Kemudian yang baik didemin aja gak pernah kita komentari. Padahal namanya attliqu attaid. Ada sebuah kaidah namanya attliqu attaid ya. Komentar itu menguatkan. Jadi apa yang kita komentari itu semakin menguatkan anak-anak kita. Jadi kita harus berusaha untuk sering-sering mengomentari yang baik. Jangan sering-sering mengomentari yang buruk. Ya. Baik. Ini yang kita sarankan agar Bapak Ibu
27:09 terus bekerja sama antara orang tua dan sekolah. Melihat anaknya gak baik sama gurunya. Diajarkan bagaimana dulu para ulama menghormati guru-gurunya. Ada guru melihat anaknya enggak baik sama orang tuanya, dikasih tahu ya biar mereka saling bekerja sama untuk membentuk individu yang baik. Ya. Baik. Begitu Bapak, Ibu. Kita lanjutkan lagi tadi kalimat dari Syekh Abdul Razak ya. Kita harus memperbesar harapan kita kepada Allah Subhanahu wa taala dan meminta kepada Allah Subhanahu wa taala ya. Jadi kita harus banyak meminta kepada Allah agar Allah memperbaiki anak-anak
27:55 kita ya. Agar Allah Subhanahu wa taala memperbaiki anak-anak kita. Bahkan di video ini sebenarnya beliau melanjutkan dengan ee doa Nabi Ibrahim untuk anaknya. Di antara doa Nabi Ibrahim untuk anaknya, Bapak, Ibu. Dan ini bagus. untuk dibaca orang tua bersama dengan anaknya. Surah Albaqarah ayat 128. Bagus untuk dibaca bersama dengan anak. Orang tua, ibu sama anak baca doa ini. Bapak sama anak kadang baca doa ini. Doa agar anak menjadi orang yang patuh pada Allah.
28:41 Di surah Albaqarah ayat 128. Doa Nabi Ibrahim Alaih Salam adalah rbana waj'alna muslimaini laka. Ya Allah jadikanlah kami menjadi dua orang yang selalu tunduk dan patuh kepadamu. Siapa dua orang tersebut? Bapak Ibu Ibrahim dan Ismail. Jadi dua orang dibaca bareng-bareng atau setidaknya yang baca orang tua anaknya di sampingnya dan mengatakan, "Ya Allah, jadikanlah aku dan anakku ini ya Allah." Gitu. Orang yang selalu tunduk dan patuh kepadamu. Waminriyatina umatan muslimatan laka. dan anak keturunan kami. Ya Allah, tolong jadikan kami menjadi orang yang
29:28 selalu tunduk dan patuh kepada-Mu. Maka kita berdoa seperti ini, Bapak, Ibu. Ini yang disampaikan Syekh Abdul Razak yang ee tidak ada di video ini tadi, ya. Kelanjutannya adalah beliau membawakan doa ini agar anak-anak patuh dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Jadi, doanya dan harapannya kepada Allah subhanahu wa taala. Dan cara mengamalkan doa ini adalah ngajak anak untuk mengamalkan doa ini bareng-bareng. Ibu sama anaknya, bapak sama anaknya pernah mengamalkan, Pak? Belum pernah. Ibu-ibu juga belum. Salah satu amalan sudah, Bu. Alhamdulillah. Baik. Nah, kemudian Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Saya kemarin membuat beberapa konsep
30:15 bagaimana cara menanamkan habits ataupun kebiasaan kepada anak. Jadi di kertas Bapak Ibu itu ada yang bentuknya daftar ya, ada yang bentuknya keterangan dan saya bahas yang bentuk keterangan terlebih dahulu. Di sini adalah saya mau membahas tentang fase pembentukan habits dulu. Secara konsep dasar kalau di dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, kalimat Nabi adalah ahabbul a'mali ilallah. Ya, ee adwamuha wainqa.
31:01 Ya, saya terjemahkan di sini. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bisa dijadikan habit meskipun atomik ya. Yang paling bisa di jadikan habit meskipun atomik. Jadi kalau bahasa terjemahan biasanya adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinue, yang paling konsisten meskipun sedikit Bapak Ibu ya. Meskipun kecil itu yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala ya. Kenapa? Karena itu lebih kontinue, lebih langgeng ya. Dan kita ingin membentuk
31:48 tindakan-tindakan anak yang bertanggung jawab dan ee punya kepedulian dengan konsep ini. Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling bisa dijadikan habit meskipun atomik. Begitu juga kalau dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam aakum wahum abin wahum abr perintahkan anakmu untuk salat ketika usianya sudah 7 tahun. Dan kata Syekh Sulaiman Aruhaili hafidahullahu taala, Bapak Ibu, perintah ini harus dilakukan oleh orang tua setiap kali waktu salat datang. Ada azan berkumandang. Kita harus memberikan prom. Prom itu
32:34 perintah namanya. Nak sudah azan. Ayo segera siap-siap ke masjid misalkan. Ayo segera siap-siap salat. Misalkan melihat anaknya masih main maka bisa berikan jeda waktu. Boleh lanjutin main dulu. Nanti setelah 2 menit ya ee HP ini berdering. Nanti kita siap-siap salat ya. Boleh seperti itu, Bapak, Ibu. Kasih jedak waktu. Karena seringkiali jedak waktu ini membuat orang bergerak. Misalkan ibu-ibu pengin bapak-bapak membelikan gas, perintahnya, promnya bisa ada dua, Bapak, Ibu. Ibu-ibu bisa mengatakan, "Pak, gasnya habis. Tolong sekarang berangkat beli gas." Berangkatnya kapan, Pak?
33:20 Nanti. Coba promnya diganti Bapak Ibu. Masyafal ya. Kita masih membahas tentang hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk mengajarkan konsistensi salat, Bapak, Ibu. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam tadi menyatakan, "Perintahkan anakmu salat ketika umur 7." Kata Syekh Sulaiman Aruha hafidahullahu taala adalah perintah ini harus dilakukan setiap kali waktu salat datang. Enggak boleh hanya sekali. Hari ini ee ada lima waktu salat, maka kita harus memberikan promnya lima kali, Bapak, Ibu. Kalau anaknya belum punya kesadaran sendiri, kalau anaknya belum punya kesadaran sendiri, prom yang harus
34:05 kita berikan adalah lima kali. Nak sudah azan 2 menit lagi kita persiapan salat. Sebagaimana tadi contohnya, "Pak, tolong belikan gas sekarang." Belum tentu langsung berangkat, Pak. Ya, Ibu-ibu mungkin berpengalaman dalam hal itu. Coba promnya diganti begini. Pak, gasnya sudah habis. Minta tolong 3 menit lagi bisa enggak belikan gas? Gimana Pak? Kapan berangkatnya, Pak? Kalau saya yang diperintahkan biasanya sebelum 3 menit berangkat. Tapi kalau promnya yang depan tadi, Pak, gasnya habis ya. Ya, gasnya habis. tolong
34:51 belikan gas sekarang. Belum tentu saya 3 menit sudah berangkat, Bu. Apalagi saya sedang bekerja begitu. Belum tentu berangkat. Tapi kalau dikasih jeda waktu 3 menit bisa jadi baru 1 menit saya berangkat. Itu adalah sebuah konsep mempengaruhi Bapak Ibu. Jadi Ibu-ibu perlu belajar konsep-konsep ini. Bapak-bapak juga perlu untuk mempengaruhi anak-anaknya. Anak-anak juga sama suruh berhenti main saat ini gak mau. Kalau anak saya lagi mainan HP meskipun mainan HP-nya saya batasi ya terkadang 5 menit atau 7 menit biasanya kita 5 menit hanya 5 menit lihatnya ya boleh 5 menit gitu ya. Kalau dia sudah ee
35:39 menikmati itu, Bapak, Ibu ya sudah habis, maka saya enggak mengatakan, "Ya sudah, sudah habis sudah gitu. Saya kasih bonus, ya sudah, ayah kasih bonus 1 menit lagi ya. Nih alarmnya kita setting ya. Jadi harus alarm Bapak Ibu terkadang untuk anak-anak itu bukan suara kita, bukan dengan ukuran kita, tapi kita harus pakai ukuran yang baku. Saya setuju, anak setuju. Maka harus pakai HP-nya dinyalakan alarmnya 1 menit, 2 menit, 3 menit. Ketika nanti berdering, sudah ya begitu. Nah, itu akan lebih bisa diterima sama anak-anak kita daripada kita minta untuk dihentikan saat ini atau dilakukan saat ini. Ya, makanya dalam Islam pun setelah azan untuk iqamatnya dikasih jedah.
36:26 Kenapa ya seperti itu, Bapak, Ibu? Biar orang ketika nerima sains pertama azan, oh aku harus siap-siap salat. Iqamatnya setelah beberapa menit berikutnya untuk memberikan jeda orang-orang bersiap-siap, Bapak, Ibu. Karena biasanya orang gak mau langsung saat itu azan langsung salat gitu. Kadang orang gak mau. Ini konsep yang diajarkan di dalam Islam sebenarnya untuk membatasi ataupun untuk mempengaruhi sebuah tindakan. Baik. Ini kalau dari konsepnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Penanaman cinta salat bisa sampai 4 tahun. Nah, kalau di sini Bapak Ibu, Bapak Ibu bisa mencobakan dengan fase penanaman habits. Dulu ada penelitian 21
37:13 hari, namun berkembang lagi katanya bisa sampai 60 hari, kadang sampai 90 hari. Maka ini juga bisa jadi sekarang dilakukan suatu saat nanti bisa jadi dirubah lagi Bapak Ibu. Karena ini konsepnya konsep manusia pakai penelitian ya. Kalau nabi tadi yang penting adalah yang paling bisa dikontik paling bisa dikontinyekan. Ya, itu konsepnya Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak pakai konsep waktu. Meskipun kalau pakai konsep waktu tadi salat 4 tahun ya harus dibiasakan. Nah, sebagaimana penelitian-penelitian dalam kesehatan dulu misalkan susu formula untuk ibu-ibu hamil direkomendasikan. Sekarang ibu-ibu hamil pergi ke Puskesmas gak direkomendasikan
38:01 minum susu formula untuk ibu hamil. Dulu ada empat sehat lima sempurna, sekarang sudah gak ada empat sehat lima sempurna. Itu karena penelitian manusia selalu berubah-rubah kayak gitu. Maka sebagaimana yang ini waktu-waktu dalam penanaman habits tinggal nanti diaplikasikan dalam diri kita dan kita lihat dari sisi fasenya saja Bapak Ibu ya. Konon katanya pembentukan behavior ataupun tindakan itu rumusnya adalah motivasi dikalikan ability dikalikan eh trigger atau dikalikan dengan prom di sini. Jadi rumusnya adalah
38:48 jadi anak-anak melakukan tindakan maka rumusnya adalah M yaitu motivasi dikalikan A yaitu ability yaitu kemampuan dikalikan kalau di sini tadi T atau P. Kalau saya pakai P saja namanya prom. Motivasi kita semua sudah tahu motivasi ya. Kenapa kita salat? Kita semua bisa jawab. Karena salat itu penting. Nanti pertama kali dihisab oleh Allah subhanahu wa taala. Barang siapa salat nanti di akhirat punya cahaya. Barang siapa enggak salat maka di akhirat nanti enggak punya cahaya. Anak-anak belum punya itu, Bapak, Ibu ya. Anak-anak belum punya itu. Kita yang sudah dewasa
39:33 punya itu namanya motivasi dalam sebuah tindakan. Nah, motivasi anak untuk salat berarti masih rendah di sini. Kemudian ability itu juga masih rendah. Kenapa? Karena seseorang ketika membiasakan sesuatu berawal dari susah dulu. Ya, makanya rumusnya tadi seperti ini gambarannya. Ini M-nya di sini. Ini A-nya di sini ya. Ini motivasinya tinggi, ini motivasinya lendrah. Di sini ability-nya adalah susah dilakukan dan semakin berjalan waktu menjadi mudah. Semua kebiasaan kita seperti itu. Dulu awalnya susah sekali, maka lama-lama kalau dibiasakan terus jadi mudah.
40:18 Makanya kata Nabi, adwamuha wainq yang paling bisa dikontin meskipun sedikit. Kenapa? Karena kalau sudah bisa dikontin semakin mudah dilakukan, Bapak Ibu. Nah ketika ketika seorang anak melakukan sebuah tindakan motivasinya rendah, misalkan nol misalkan dan baru pertama kali, maka dia di sini enggak ada tindakan yang bisa dihasilkan, Bapak, Ibu. Maka agar bisa ada tindakan, maka dibuatlah yang namanya trigger di sini. Nah, ini namanya perintah kita. Perintah kita di sini ketika masih low ya, motivasinya masih rendah, masih
41:05 susah, maka kita harus memberikan trigger, nak salat dulu ya. Dan kita enggak boleh berharap besar, Bapak, Ibu, anak-anak tingkat SD melakukan tindakan apa-apa sendiri atau sadar sendiri ya. Harus ada triggernya. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam memerintahkan, perintahkan anak kalau sudah 7 tahun untuk salat. Nabi enggak berharap udah dia di atas fitrahnya nanti dia salat sendiri. Gak kayak gitu, Bapak, Ibu. Harus ada trigger di sini perintah, "Nak, sudah azan ayo salat dulu gitu. Nah, triggernya ini Bapak Ibu nanti akan mengalami beberapa fase sampai di fase mudah ya. Untuk masuk ke fase mudah ini, maka konon katanya ada
41:51 fase penolakan dan melawan ataupun lupa. Jadi nanti kalau Bapak Ibu membiasakan sesuatu untuk anak ya kemudian anaknya di fase-fase pertama menolak, melawan, ataupun lupa, jangan putus harapan Bapak Ibu. Itu sesuatu yang wajar. Apalagi di fase 1 sampai 14 hari ya. Kita saja coba Bapak Ibu saya memberikan memberikan sebuah challenge ataupun tantangan kepada Bapak Ibu. Challenge-nya adalah membiasakan. Membiasakan baca satu halaman Quran setelah salat zuhur.
42:39 Mudah apa susah, Bapak, Ibu? Ini kalau di awal-awal kalau dilihat secara logika mudah sebenarnya, Bapak Ibu. Ini cukup waktu berapa menit, Pak? Baca satu halaman berapa menit, Pak? Ibu-ibu berapa menit baca satu halaman? Belum pernah baca satu halaman diwaktui ya. Anggap saja 2 sampai 5 menit, Bapak, Ibu, ya. Itu cuma satu halan, satu muka saja. Tapi kalau saya meminta biasakan baca satu halaman Quran setelah zuhur, ini susah Bapak Ibu karena kita belum biasa. Bagaimana biar mudah? Ya, caranya biar mudah adalah kita biasakan setelah
43:27 selesai salat zuhur, aku baca dulu Al-Qur'an satu halaman. Promnya gitu. Harus continue terus, gak boleh berubah-rubah terus. Jangan memulai sebuah kebiasaan dengan sesuatu yang tinggi. Setelah salat zuhur, saya mau baca Quran 1 juz. Saya yakin satu du hari dilakukan. Habis itu libur sepanjang masa, Bapak, Ibu, ya. Kenapa? Karena kebiasaan gak bisa dimulai dari sesuatu yang besar. Makanya kata Nabi tadi sallallahu alaihi wasallam adalah wainqala meskipun sedikit, harus mulai dari sedikit. Bahkan kalau kita membahas dari buku Atomic Habits, kebiasaan itu harus dimulai dari sesuatu yang sifatnya di bawah 2 menit. Jadi kita melakukannya harus 2 menit. Itu kalau di awal-awal,
44:14 di bawah 2 menit dulu. Gak boleh yang waktunya panjang karena itu gak akan menyebabkan kontinuitas ya, tidak akan istikamah nanti. Maka mulai dulu Bapak Ibu seperti ini 1 sampai 14 hari maka Bapak Ibu akan merasakan susah. Kadang frustasi ah susahlah padahal cuma 2 sampai 5 menit Bapak Ibu itu pun rasanya susah. Sama dengan anak-anak kita untuk membiasakan sesuatu yang belum mereka biasa itu sesuatu yang susah tidak mudah. Maka kita harus sadari ini ya. Membiasakan apapun nanti untuk anak-anak kita, kita harus sadar di awal-awal pasti susah. Baik. Itu usia 1 sampai 14 hari dari sebuah kebiasaan. Biasanya kalau anak nanti sering lupa, emosinya naik turun.
45:01 Kenapa kok bisa terjadi? Karena ability-nya masih rendah. Artinya kemampuan dia untuk melakukan itu membuat dia susah. Ya, susah untuk dilakukan. Sebagaimana Bapak Ibu meskipun hanya 2 sampai 5 menit susah itu Ustaz ibadah zuhur kok baca Quran satu halaman susah ya. Baik. Maka perlu banyak diingatkan Bapak Ibu ketika kita masuk untuk membiasakan sesuatu kita harus punya target tadi 90 hari. Kebiasaannya dibangun 90 hari. Jadi punya konsep aku mau membiasakan baca Quran satu halaman setelah zuhur selama 90 hari. gitu promnya sama diri kita, Bapak, Ibu. Kalau masih bingung harus ditulis. Itu harus diucapkan atau ditulis dituliskan. Bapak, Ibu, aku
45:49 ingin baca Quran satu halaman setelah zuhur. Jadi, waktunya juga jelas ya. Setelah zuhur, Bapak Ibu boleh ganti zuhurnya dengan waktu yang lainnya. Jam berapa juga boleh. ya, jam sekian atau bakda magrib misalkan setelah zuhur aku ingin baca Quran satu halaman setelah zuhur selama 90 hari. Jadi targetnya 90 hari itu harus ada. Jangan berhenti di setelah salat zuhur saja, tapi setelah salat zuhur selama 90 hari. Nanti kalau anak-anak juga sama biasanya bapak-bapak pengin anaknya apa? Misalkan mencuci
46:36 piring sendiri. sudah biasa atau belum anak-anaknya Bapak Ibu? Kadang-kadang maka kita harus pakai kayak gini juga. Aku ingin ya aku ingin membiasakan anak-anak cuci piring setelah makan selama 90 hari gitu Bapak Ibu. 90 harinya harus ditulis ya. Apapun nanti kegiatannya ini boleh diganti dalam diri kita harus punya konsep kayak gitu. Saya ingin apa? Saya ingin membiasakan anak untuk apa? Setelah apa? Atau di
47:22 waktu apa? Selama 90 hari. Biar prom-nya jelas, Bapak, Ibu. Targeting-nya jelas. Karena kalau gak dikasih 90 hari ini nanti 1 sampai 14 hari Bapak Ibu frustasi. Kenapa? Karena anaknya enggak mau melakukan, Nak. Setelah makan cuci piring 1 sampai 14 hari belum tentu cuci piring. Terkadang juga lupa-lupa sekarang iya, besok enggak. Ya gitu. Kalau ada konsekuensi bagus nak cuci piring setelah makan. Kalau gak cuci piring nanti piringmu gak ada yang digunakan untuk bisa makan. Misalkan ya. Dan ibunya jangan kasihan Bapak Ibu kalau sedang melatih kayak gini jangan pakai konsep kasihan. Karena kalau konsepnya kasihan nanti
48:09 anaknya enggak mandiri-mandiri. Harus ada konsekuensi ditegani gitu Bapak Ibu. Tapi yang dia mampu yang mudah-mudah aja dia melakukan 1 menit, 2 menit bisa gitu. Baik, kita lanjutkan dulu Bapak Ibu. Kalau nanti masih lupa, kadang masih menolak, itu normal. Jangan menyerah. Lanjutkan pembiasaan dengan promnya. Nak, habis makan cuci piring dulu. Udah kayak gitu aja, Nak. Habis makan cuci piring dulu. Harapannya dilakukan. Enggak dilakukan piringnya apalagi kalau terbatas bagus Bapak Ibu. Piring untuk bapak ini, piring untuk ibu ini, piring untuk si anak ini. Jadi kalau enggak nyuci piring gak punya piring untuk makan, Bapak Ibu. Nah.
48:56 Bagus itu, Bu. Iya. Jadi punya konsekuensi ya. Cuman masalahnya kita piringnya banyak ya, Ibu-ibu ya. Ya, di rumah satu tumpuk di lemari gitu kan ya. Ini namanya konsekuensi Bapak Ibu kalau bisa seperti ini bagus. Jadi di raknya itu yang minimalis saja Bapak Ibu. Makanya kok kenapa Nabi sallallahu alaihi wasallam hidup rumahnya minimalis ya. Karena biar ada konsekuensi-konsekuensinya. Baik, jangan berhenti untuk berusaha ya, Bapak, Ibu. 1 sampai 14 hari. Baik. Kemudian fase 15 sampai 30 hari itu adalah fase mulai ingat namanya ya.
49:42 Biasanya anak sudah punya pola, kita pun juga sudah mulai punya pola. Misalkan seperti tadi, baca satu halaman Al-Qur'an setelah zuhur sudah mulai punya pola kita ya. sudah mulai punya pola. Tapi masih perlu diingatkan, Bapak, Ibu. Jadi jangan berharap anaknya bisa sendiri di usia kebiasaan 15 sampai 30 hari. Jangan berhenti untuk ngingetin ya. Jangan menggerutu di belakang aja. Ini kata ustaz ee apa namanya? Suruh ngasih prom ini sudah 30 hari anak saya belum kebiasa-kebiasa. Ya, jangan guru di belakang ibu-ibu disampaikan di depan kasih formnya nak setelah makan cuci piring terlebih dahulu ya. Ini kebiasaan ya. Kemudian nanti dicatat Bapak Ibu.
50:28 Jadi kan misalkan di sini saya kasih ee di sini form untuk ibu-ibu itu sebenarnya nulis sendiri sebenarnya yang mau dibiasakan itu apa ya? Yang mau dibiasakan itu apa? Misalkan di sini tadi cuci piring misalkan maka ditulis Bapak Ibu cuci piring setelah makan. Nah, cuci piring setelah makan ini dibuat seperti ini, Bapak Ibu. Hari pertama diukur. Nah, hari pertama diukur. Ukurannya yang mana? Ukurannya di belakang. Ukurannya di belakang. Ada angka 1 sampai 4. Mana tadi? 1 sampai 4. Nah, ini namanya skor penilaian.
51:14 Satu itu perlu bimbingan intensif. Anaknya jarang melakukan atau anaknya menolak. Kita anggap itu wajar. Maka kita kasih nilai satu dan kita berikan papan penilaian seperti itu untuk anak kita, Bapak, Ibu. Nak kita sedang membiasakan seperti ini di rumah. Kalau bisa semua anggota keluarga, ibunya iya, bapaknya iya, anaknya iya. Atau misalkan mulai dari gosok gigi sebelum tidur misalkan juga bisa kita biasakan kayak gitu. Perlu bimbingan intensif pertama ya gosok gigi sebelum tidur misalkan. Kalau masih perlu bimbingan intensif kita kasih angka satu ya. Kalau sudah mulai tumbuh, kita kasih
52:00 angka dua. Mulai tumbuh artinya belum konsisten. Masih perlu sering diingatkan ya, dia belum konsisten. Nah, untuk yang ketiga adalah berkembang. Ketika diingatkan langsung menjalankan. Diingatkan, menjalankan dan sudah konsisten. Artinya dia sudah mulai berkembang. Nah, kalau skornya empat itu adalah sudah stabil tanpa diingatkan. Dan ini kalau bisa anak itu baca, "Nak, kita sedang membiasakan kegiatan ini. Skormu adalah satu. Kalau kamu jarang melakukan atau menolak, itu skornya satu. Kalau kamu belum konsisten, masih perlu diingatkan oleh ayah sama bunda, kamu artinya dalam fase mulai tumbuh skor kamu dua, ya. Kemudian kalau kamu nanti
52:45 sudah bisa konsisten dengan diingatkan sedikit-sedikit, maka kamu sudah mulai fase 3. Kemudian kalau kamu nanti sudah stabil bisa melakukan sendiri tanpa diingatkan, maka kamu sudah mulai fase keempat ya. Di fase keempat yang paling tinggi. Sampaikan ini sama anak Bapak Ibu biar dia ee suka untuk dinilai. Karena anak-anak itu senang sekali kalau dinilai ya. Dia suka untuk dinilai gitu. Kalau bisa nanti yang ngisi kayak gini anaknya juga bagus ya. Yang ngisi di sini adalah anaknya. Oh, skor saya berapa ya hari ini? Oh, satu ya. Berikutnya berapa? Oh, dua. Oh, masih satu lagi. Kembali satu. Hari keempat berapa lagi? Oh, dia sudah nyuci sendiri
53:31 ternyata empat gitu. Begitu seterusnya Bapak Ibu nanti muncul rata-rata sendiri. Nanti kalau Bapak Ibu butuh apa namanya? Excel-nya saya kirim Excel-nya sudah ya. Tapi silakan diedit-edit sendiri Bapak Ibu ya. Ini kemarin saya ngedit-edit sendiri. Baik. Begitu seterusnya sampai 31 hari ya. Ini saya cuman buat sampai 31 hari. O 4. O berikutnya 2. O satu begitu. Dia nanti akan ngitung sendiri berapa persen selama 31 hari Bapak Ibu ya. Biar anaknya menilai dirinya sendiri. Baik. Nah, kemudian Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, fase yang kedua itu tadi sudah mulai ingat, sudah punya pola, tapi masih perlu diingatkan,
54:19 masih butuh reward eksternal. Kadang masyaallah, Ibu senang banget hari ini kamu sudah nyuci piring sendiri misalkan. Itu namanya reward, Bapak, Ibu. Mengapresiasi dan membicarakan usaha dia. Di fase kedua ini dia belum bisa mandiri tanpa diingatkan. Jadi memang harus diingatkan dulu ya. Seperti mengingatkan salat tadi sampai umur 10 tahun tetap diingatkan terus. Nak sudah azan ayo segera salat. Nak sudah azan ayo segera salat. Harus diingatkan seperti itu. Kemudian fase setengah mandiri Bapak Ibu 31 sampai 60 hari biasanya anak-anak sudah bisa mandiri tapi terkadang kelupaan. Makanya salah satu yang dibiasakan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada kita adalah puasa Ramadan 30
55:06 hari. Itu salah satu proses pembiasaan kita, Bapak, Ibu, sebenarnya. Cuman masalahnya setelah Ramadan selesai, target kita selesai. Sehingga Bapak Ibu harusnya ya nanti from-nya yang ada di sini adalah aku ingin membiasakan di Ramadan untuk misalkan untuk baca Quran misalkan ya 1 hari 1 juz dibagi lima kali dalam sehari.
55:53 Ee berarti kalau 1 juz dibagi 5 kali artinya empat halaman ya atau empat halaman per waktu ya per waktu dan akan aku lakukan rumus ini selama sama berarti 360 hari dikur 30 hari 300 30 hari berikutnya. Nah, promnya harus jelas kayak gitu, Bapak, Ibu untuk diri kita biar konsisten. Aku ingin apa ini tadi?
56:41 membiasakan di Ramadan untuk baca Quran 1 hari 1 juz dibagi lima kali dalam sehari empat halaman per waktu dan akan aku lakukan apa ini saya pun nulis bingung ya lakukan rumus ini. Oke, rumus ini selama 330 hari berikutnya ya. Begitu Bapak Ibu. Ini namanya prom biar kita bisa lebih kontinue sebagaimana kita membiasakan anak-anak kita. Baik. Jadi kita sudah bisa mandiri Bapak Ibu tapi terkadang kelupaan. Kalau gak ada prom ini kelupaannya semakin lama semakin tinggi Bapak Ibu karena musuh kita pun ngasih prom. Musuh kita ngasih prom Bapak Ibu. Siapa
57:27 musuh kita? Dua. Satu di dalam diri kita, yang kedua di luar diri kita. Yang di luar diri kita setan, yang di dalam diri kita hawa nafsu. Ngasih ngasihnya itu adalah penundaan dan pengurangan. Bapak, Ibu, kalau kita sudah punya tekad kayak gini, maka yang diberikan promnya adalah penundaan atau pengurangan. Udahlah, gak usah 1 juz gak apa-apa sekarang setengah juz aja. Itu namanya ngasih prom, Bapak, Ibu. Siapa yang ngasih prom? Jiwa sama setan kita. Ya, itu dia ngasih prom kayak gitu. Makanya kata setan sendiri, "Aku akan datangi mereka dari arah depan, belakang, kanan, kiri sampai engkau dapati kebanyakan mereka enggak bersyukur kepadamu ya Allah." Karena dia ngasih prom terus ya. Kalau kita yang enggak ngasih prom maka kita kalah
58:14 dengan promnya dia, Bapak, Ibu. Ini namanya konsep dalam diri kita. Anak kita juga sama, dia juga punya prom. Musuh-musuhnya dari dalam jiwanya, dari luar jiwanya juga ngasih prom. Entah temannya, entah siapa dia ngasih prom. Maka kita sebagai orang tuanya perlu ngasih prom juga. biar semakin kuat untuk dilakukan gitu. Jadi masih kelupaan kadang sehingga saat lupa perlu diingatkan, kita perlu mengingatkan kita dengan konsep ini tadi ditulis ya kemudian kalau bisa dibaca setiap hari. Makanya kenapa ada zikir pagi, zikir petang sebenarnya Bapak, Ibu itu adalah proses untuk ngasih prom pada jiwa kita biar istikamah ataupun yang semisalnya ya. Kalau bisa dibaca artinya biar paham, oh aku ngasih prom apa sih ini ya? Ngasih konsep apa sih dalam diriku? Karena itu
59:00 sebuah konsep yang diberikan Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk pengingat diri kita. Ya, pengingat diri kita. Banyak konsep-konsepnya di dalam diri tersebut. Bahkan saya ee nulis untuk diri saya sendiri namanya ee afirmasi positif gitu. Mana nih bukunya nih? Di buku ee PPI. Kalau Bapak Ibu mau praktik juga boleh ya. Nah, ini saya beri judul mengobati jiwa dengan zikir setelah salat, zikir pagi, dan zikir petang. Itu harapannya yang baru tertulis itu adalah
59:46 cuman bahasa-bahasa Indonesianya saja, Bapak, Ibu. Itu yang saya baca. Saya sedang mengingatkan apa sih, gitu. Oh, saya sedang berpikir apa? Doa agar terhindar dari kekufuran, kefakiran, azab kubur. Misalkan kita ingin selamat ee keselamatan ampunan dunia dan akhirat. Promnya apa? Itu jadi dikasih from terus Bapak Ibu jiwa kita itu. Karena kalau enggak kita kasih from yang ngasih from tadi jiwa buruk sama setan ya. Makanya untuk jiwa buruk dan setan pun kita punya prom sendiri Bapak Ibu. Jadi promnya doa agar kita selamat dari keburukan jiwa dan setan dan agar kita tidak mencelakakan diri sendiri maupun orang lain. Doanya atau zikir yang diajarkan Nabi adalah ya Allah wahai zat yang mengetahui alam gaib dan alam
1:00:31 nyata, wahai pencipta langit dan pencipta bumi tanpa ada contoh sebelumnya. Wahai Tuhan dan pemilik segala sesuatu. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berada disembah selainmu. Aku berlindung dari keburukan jiwa, keburukan setan, dan bala tentaranya. Aku juga berlindung kepadamu dari menimpakan keburukan pada diriku sendiri atau kepada muslim yang lainnya. Itu namanya prom agar kita tidak mencelakai diri kita sendiri dan mencelakai muslim yang lainnya. Di antaranya yang kadang saya lakukan juga promnya Bapak Ibu misalkan ini doa agar selalu diberi taufik untuk kreatif, inovatif, dan meraih keberkahan. Di antaranya adalah, "Ya Allah, aku memasuki waktu pagi ini dengan persaksian bahwa kekuasaan tertinggi
1:01:17 berada di tanganmu wahai Tuhan semesta alam." Ya, wahai Tuhan semesta alam, bukan di tanganku. Ya Allah, aku mohon kepadamu kebaikan yang ada di hari ini. Ya Allah, aku mohon hari ini aku bisa sukses menggapi tujuanku. Apa tujuannya? Dituliskan Bapak Ibu. Contoh ini yang masih saya biasakan juga adalah bisa baca Quran 1 juz per hari misalkan atau bisa bikin konten parenting berapa misalkan ya. Kemudian aku mendapatkan pertolongan darimu untuk mengalahkan musuhku. Saya sebut musuh saya Bapak Ibu HP. Karena bagi saya itu musuh saya itu kalau sudah pegang HP apalagi di media sosial gak ngerti waktu 1 jam aja enggak terasa. Makanya saya sebut musuhku HP hawa nafsu dan musuh-musuh lainnya gitu.
1:02:03 Aku mendapatkan bimbinganmu untuk menambah ilmu baru dan melakukan amal saleh. Aku mendapatkan kemudahan dalam mencari rezeki yang halal dan aku selalu terbimbing olehmu dalam setiap langkah kehidupan. Aku berlindung kepadamu dari keburukan hari ini dan di waktu setelahnya. Itu namanya ngasih prom pada diri kita dengan zikir pagi dan zikir petang, Bapak, Ibu. Baik. Jadi meskipun sudah 31 sampai 60 hari kita harus ngasih prom targeting kita apa, yang perlu kita biasakan apa, harus sampai waktu yang cukup gitu. Nah, ketika masuk fase keempat namanya fase identitas diri, Bapak, Ibu. Apa itu fase identitas diri? Itu adalah sebuah fase ketika seseorang sudah mengatakan begini, "Ya, aku memang begini dan begini." Contoh,
1:02:49 orang yang masih dalam fase pembentukan identitas diri. itu misalkan saja yang ee membaca tadi Al-Qur'an satu halaman setelah zuhur. Jadi fase pembentukan dia akan mengatakan, "Aku ingin membaca Al-Qur'an satu halaman setelah zuhur selama 90 hari." Itu namanya fase pembentukannya. Nanti kalau sudah masuk fase identitas diri, dia akan mengatakan, "Kebiasaanku," gitu. Kebiasaanku adalah baca Quran satu halaman setelah zuhur. Udah enggak pakai hari lagi, Bapak, Ibu. Karena dia sudah pakai kebiasaan.
1:03:36 Sudah biasa gak pakai batas waktu lagi. Sama seperti orang yang misalkan naudubillah minzalik merokok misalkan. Ketika dia masih fase untuk sembuh, dia mengatakan ketika ditawari, "Mas, ngerokok, Mas." Apa yang dia katakan, Bapak, Ibu? Dia akan mengatakan, "Mohon maaf, saya sedang berusaha untuk berhenti merokok." Namun ketika sudah jadi identitas dirinya, dia akan mengatakan, "Mohon maaf, Mas. Saya bukan perokok." Paham, Bapak Ibu? Ini namanya fase identitas diri. Sama seperti nanti Bapak, Ibu ketika berangkat ke masjid atau Bapak-bapak berangkat ke masjid ee ketika azan, ketika iqamat atau sebelum azan berkumandang. Itu pilihan fase
1:04:21 identitas namanya, Bapak, Ibu. Apakah identitas diri kita? Aku berangkat ke masjid setelah iqamat berkumandang. Artinya setiap kali azan pasti Bapak Ibu akan santai dulu atau Bapak-bapak akan santai dulu. Iqamat berkumandang wakul baru bergegas ke masjid. Itu namanya identitas dirinya adalah iqamat berkumandang. Aku baru berangkat ke masjid. Gitu. Kalau mau berubah dirubah. Ketika azan berkumandang aku siap-siap langsung berangkat ke masjid gitu. Nanti kalau dikembangkan lagi identitas dirinya adalah 10 menit sebelum azan berkumandang jamku akan atau HP-ku akan berdering. Kemudian aku akan bersiap-siap ke masjid. Kalaupun ada waktu darurat harus aku menyelesaikan sesuatu terlebih
1:05:07 dahulu. Aku kasih waktu darurat 5 menit setelah itu sehingga 5 menit sebelum azan saya sudah siap-siap kemudian berangkat ke masjid. Itu namanya fase identitas diri, Bapak, Ibu. Identitas diri kita di mana? Maka itu yang sedang kita bangun. Sama dengan anak kita seperti itu juga. Kita sedang membangun identitas diri apa, maka silakan ditentukan. Kalau bisa sedikit demi sedikit itu bagus ya. Baik. Makanya dalam Islam ada namanya tadaruj, mujahadah, kemudian baru malakah. Malah ini sudah kebiasaan. Nah, kemudian Bapak Ibu di sini ada beberapa catatan untuk orang tua. Di antara catatan untuk orang tua adalah fokus pada konsistensi bukan pada kesempurnaan. Jadi pertama kali Bapak
1:05:54 Ibu ketika kita membiasakan sesuatu selama 90 hari itu adalah yang penting konsisten, jangan sempurna. Anak belajar cuci piring masih kotor-kotong piringnya sudah selesai ya sudah yang penting sudah dicuci itu disyukuri. Jangan pengin optimal karena mereka belum bisa gitu. Kecuali kita mengupgrade. Nah, ee mengupgrade-nya nanti-nanti kalau bisa Bapak Ibu ya. Kalau sudah terbiasa baru di-upgrade bagus. Soalnya kalau belum sempurna, belum menjadi kebiasaan kok di-upgrade atau dikritisi ya, maka dia akan mengatakan, "Aku belum bisa, makanya ibu aja yang nyucikan." gitu. Jadi biarkan dulu, enggak sempurna gak apa-apa. Yang penting konsistensi terlebih dahulu. Jadi, anak-anak yang
1:06:39 penting konsisten. Kemudian yang kedua, apresiasi usaha sekecil apapun Bapak Ibu. Jadi sudah berusaha sekecil apapun kita harus mengapresiasi. Kemudian yang ketiga, bicarakan grafik naik turun sebagai proses belajar. Kan tadi kita nilai hari ini 1, 2, 3, maka naik turunnya itu dijadikan sebagai proses belajar. Kita berusaha untuk membaca Al-Qur'an juga sama. Kita nilai 1, 2, 3, 4, naik turunnya kita anggap sebagai proses belajar. Kita akui inilah aku. Aku manusia biasa bukan malaikat. Malaikat diciptakan oleh Allah untuk continue terus dalam ibadah dan kebaikan. Aku manusia kadang kalah dengan hawa nafsu kadang enggak. Dan ini adalah proses pembentukan diriku sedikit
1:07:26 demi sedikit. Diakui saja gitu. Anak-anak kita juga seperti itu. Kemudian yang keempat doakan agar ke depannya semakin baik. Jadi hari ini belum baik kita katakan gak apa-apa, Nak. Hari ini kamu sudah optimal semoga ke depannya kamu semakin baik. Dan itu yang sering saya lakukan kalau sama anak saya. Karena kalau dikritik hari itu dia enggak mau dan kadang nangis, Bapak, Ibu. Maka promnya saya ganti. Gak apa-apa hari ini salah. Semoga ke depannya semakin baik ya. Gitu. Dan mereka mau Bapak Ibu gak apa-apa hari ini seperti itu, besok lagi jangan. Ya, misalkan dia mau kasih ee ketika diberi jeda seperti itu ya. Tidak mempermasalahkan ee kalimat saya. Tapi kalau saya mengatakan jangan seperti
1:08:12 itu, Nak, itu gak benar, itu salah, nangis, Pak. Ya, maka saya harus merubah promnya. Hari ini dimaafkan, besok lagi diharapkan kebaikannya. Itu namanya prom. Doakan anak agar ke depannya semakin baik. Kenapa saya pakai konsep ini? Saya tiru Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika mengomentari Abdullah bin Umar bin Khattab radhiallahu anhu ketika beliau tidak salat malam. Ketika Abdullah bin Umar bin Khattab radhiallahu anhu gak salat malam. Maka kalimat Nabi sallallahu alaihi wasallam bukan ngasih nasihat, bukan ngasih keutamaan-keutamaannya, tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam hanya mengatakan ya nikm rajuli Abdullah lauana yusoli baili. Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah kalau dia
1:08:58 salat malam. Gak ada perintahnya di situ, Bapak, Ibu. Tapi itu diterima sama hati, diterima sama orang yang dengar itu malah semakin enak. Dan motivasi untuk baik itu tinggi. Ya, itu kita sedang membuat motivasi tinggi. Beda kalau seseorang mengatakan, "Kamu tuh loh ndak salat malam masa ya kaum muslimin atau seorang yang beriman, sahabat kok gak salat malam. Apakah akan bisa dilakukan, Bapak Ibu?" Belum tentu ya. Karena itu konsepnya ee kurang menghormati dan kurang memunculkan motivasi. Ya, jadi sesuatu di sini bukan sesuatu yang diharamkan ya, Bapak Ibu, tapi kita memilih namanya efektivitas kalimat. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam dijuluki sebagai jawamiul
1:09:43 kalim. Kenapa? Karena kalimat-kalimat beliau efektif. Setiap tindakan itu efektif. Setiap kalimat itu efektif. Jadi ee usahakan untuk pakai kalimat doa agar ke depannya semakin baik. yang sekarang enggak baik gak usah dikomentari ya. Kemudian yang kelima, Bapak Ibu tidak boleh membandingkan dengan anak lain. Tidak boleh melabeling. Memang kamu tuh memang seperti ini dibiasakan gak pernah mau. Ini namanya labeling. Gak boleh. Kemudian menghukum juga gak boleh. Kita hanya bisa memberikan prom saja ya. Ayo nak setelah ee makan cuci piring dulu. Ah gitu aja promnya. Jangan pakai labeling. Jangan marah-marah. Jangan memberikan hukuman. Kita lihat saja apakah dia akan melakukan tindakan itu
1:10:29 ataukah tidak. Biasanya kalau sudah sering diminta kayak gitu biasanya mau. Contoh kita ngajak teman kita atau dulu kita belum ngaji, diajak teman kita, "Yuk ngaji yuk." Kita gak mau mikir-mikir. Teman kita mau berangkat ngaji, ngajak lagi, "Yuk ngaji yuk, gitu." Kok temanku ngajak lagi ya? Mulai berpikir gitu. Yang ketiga, keempat, kelima. Kok dia ngajak aku terus? Lama-lama pertahanannya runtuh. Bapak, Ibu yo wis, yuk aku melu mangkat. Kenapa kok seperti itu? Karena kita continue dalam memberikan promnya ya. Continue dalam memberikan promnya. Yuk, ngaji yuk gitu ya. Cuman gitu aja. Dia enggak berharap kita ikut langsung saat itu. Tapi kalau bisa ya ee dan dia berhasil, dia senang sekali. Itu namanya
1:11:14 pentingnya memberikan prom Bapak Ibu untuk menghancurkan benteng yang sedang ee kokoh berdiri itu tinggal di apa namanya? digempur terus dengan prom-prom kita. Baik. Kemudian yang keenam, setiap tindakan harapkan pahala dan keridaan Allah subhanahu wa taala. Setiap kita memberikan prom seperti itu, Bapak, Ibu, harapkan pahala kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya Allah, aku mau memberikan prom untuk anakku, membiasakan kebaikan semoga ini menjadi amal jariahku. Kasih prom kayak gitu sebelum kita melakukan juga. Itu boleh dilakukan sebagaimana konsepnya Ibnul Qayyim rahimahullahu taala dalam muhasabah diri. Ada yang namanya sebelum melakukan sesuatu kita bertanya pada diri kita sendiri. Kenapa kita melakukan hal tersebut? Kalau
1:12:00 melakukannya karena Allah maka lakukan. Kalau melakukannya bukan karena Allah maka ditinggalkan. Itu konsepnya Ibnu Qayyim rahimahullah. Maka kita biar dapat pahala, niatkan untuk dapat pahala dan keridaan Allah Subhanahu wa taala. Kemudian yang ketujuh, targetkan kepedulian anak itu adalah menolong jika diminta. Jadi anak-anak itu Bapak Ibu untuk usia SD itu wajar kalau mau nolong kalau diminta atau kalau ee apa namanya? Mau melakukan kalau kita minta perlu ada prom karena kesadaran dirinya masih rendah. Itu sesuatu yang wajar ya. Maka kita harus ngasih prom. Misalkan guru di kelas ee mau membiasakan anak-anak untuk peduli menghapus papan tulis, maka kasih promnya siapa yang mau menghapus papan
1:12:47 tulis ini? Ya, gak ada yang mau kita hapus hari itu. Besok lagi kasih prom lagi. Siapa yang hari ini mau menghapus papan tulis untuk Pak Guru, semoga Allah merahmati dia misalkan ya. Cek cek satu cek cek satu. Ya. Baik Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, kita lanjutkan lagi tentang kesalahan-kesalahan orang tua ya. Di bagian kiri bawahnya pembahasan tadi ada kesalahan-kesalahan orang tua. Di antaranya adalah yang pertama berganti-ganti target habit setiap minggu padahal belum selesai sampai 90
1:13:33 hari ya. Maka itu bisa menggagalkan penanaman ee konsep diri anak Bapak Ibu. Maka harus kita biasakan sampai selesai. Ya. Kemudian, nah ini kalau ganti-ganti aja bermasalah, apalagi yang enggak punya target sama sekali, Ibu-ibu. Jadi gak punya anaknya mau diajarin apa nih? Wah, gak tahu, Ustaz, ya. Maka yang enggak punya target lebih-lebih lagi, Bapak, Ibu. Jadi, harus punya target saya mau mengajarkan apa untuk anak saya nih gitu. Baik. Kalau bisa Bapak sama Ibu bekerja sama ataupun berunding, berunding dulu. Ini yang mau kita biasakan sama anak
1:14:18 kita gitu. Kemudian yang kedua, ingin anak langsung bisa membiasakan banyak habit ya, langsung bisa semuanya. Ini juga sebuah kesalahan. Yang ketiga, menghukum saat lupa. Saat lupa malah dihukum. Harusnya yang benar diberikan promnya, Bapak, Ibu. kasih promnya adik setelah ini begini adik setelah makan cuci piringnya dulu ya dikasih promnya bukan dimarahi jangan baru jalan 30 hari enggak melakukan kita marah-marah ya itu sesuatu yang tidak tepat kemudian yang keempat Bapak Ibu fokus pada hasil dan lupa pada proses. Nah, ini semuanya suka ini Bapak, Ibu
1:15:04 hasilnya langsung bagus prosesnya gak mau pengin nkone ra pengin kupa pulute. Ngertos Bapak Ibu ya ingin nangkanya tapi gak mau peliket-peliketnya gak bisa harus ada prosesnya. Jadi fokusnya pada hasil lupa proses ini sebuah kesalahan harusnya prosesnya yang penting hasilnya itu karunia Allah Subhanahu wa taala. Kemudian yang kelima, tidak mengingatkan saat motivasi ataupun ability anak masih rendah. Jadi, penginnya kita anak-anak itu bisa sendiri tanpa perintah dari kita. Ini juga sebuah kesalahan. Memang harus ada perintah dari kita, harus ada promnya dari kita. Ya, kalau
1:15:51 kita ingin anak bisa sendiri padahal motivasi masih rendah, ability-nya masih rendah, maka itu sebuah harapan yang bisa dikatakan mustahil untuk digapai. Ya, sebuah harapan yang mustahil. Ini sama seperti kita menginginkan suami kita ataupun istri kita paham isi hati kita tanpa kita bicara. Bapak, Ibu, ada yang kayak gitu, Bapak, Ibu. Ya, jadi ndak ngomong kalau perlu sudah tahu sendiri. Jadi menuntut pasangan seperti dukun ataupun paranormal ya. Dan itu sebuah saya bilang itu sebuah keinginan yang wajar dari seorang manusia tapi mustahil untuk didapatkan.
1:16:36 Bapak Ibu keinginannya wajar itu manusia kayak gitu tapi apakah bisa? Mustahil. Ya, harus ada komunikasi baru bisa. gitu. Baik. Kemudian yang keenam, berharap anak bisa sendiri tanpa diingatkan. Ini juga sesuatu yang salah. Anak harus diingatkan. Salat saja sampai 4 tahun ajarannya Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk diingatkan. Baik. Kemudian yang berikutnya, Bapak Ibu, tips meningkatkan tanggung jawab dan kepedulian anak. Di antaranya yang pertama berikan tanggung jawab kecil di rumah atau di sekolah ya. ada yang kita pilih dari daftar yang saya buat itu, Bapak, Ibu. Itu boleh dipilih, boleh dikritisi. Ya, banyak sekali di sini
1:17:23 merapikan tempat tidur, ya. Apakah mau kita buat ini sebagai habits atau tidak? Kalau sebagai habits kita ajari dulu, kita upgrade skill-nya. Nak, kalau bangun tidur yang dilakukan adalah apa? Apa dan apa ya? Di apa namanya? ditata rapi bantalnya di dilipat selimutnya gitu harus pakai promnya sama terus nanti Bapak Ibu nak bangun tidur tata bantalnya lipat selimutnya dulu saya ngasih prom ini sama anak saya di usia 2 tahun kalau ke masjid promnya saya selalu sama terus adik kalau di masjid diam tenang duduk yang manis saya buat promnya tig nak
1:18:09 adik kalau ke masjid ikut ayah Ya, biasanya enggak pakai kalimat ikut ayah sih. Karena kalau ke masjid diam, tenang, duduk yang manis. Kemudian ketika di masjid dia lari-lari, saya upgrade lagi ilmunya. Adik, di masjid itu berbeda dengan di lapangan. Kalau di masjid jalannya begini, pelan-pelan. Kalau di lapangan depan situ kamu boleh lari-lari ya. Sehingga anak saya tahu area ini masjid, itu lapangan. Oh, kalau di masjid diam, tenang, duduk manis. Ya, itu saya biasakan dulu sampai sekarang sudah enggak perlu prom lagi. Dia sudah ngerti kalau ke masjid harus diam, tenang, duduk manis. Kalau di masjid saya harus jalan tidak lari gitu.
1:18:54 Tapi harus pembiasaan dulu. Prom lama itu Bapak, Ibu ya. Ketika usia 2 tahun atau 3 tahun saya agak lupa. Ketika masih kecil dia. Jadi, prom itu penting dan jangan berubah-rubah terus biar dia hafal promnya gitu. Konsepnya apa? bangun tidur tata bantalnya lipat selimutnya gitu. Misalkan begitu Bapak Ibu gak tahu diajarkan gimana caranya natal gimana cara ngelipat diajarkan. Kemudian menyimpan sepatu dan tas di tempatnya misalkan ini kan sebuah tanggung jawab Bapak Ibu maka kita pilih dulu apakah kita mau mengajarkan itu ataukah kita cancel dulu. Kalau iya maka gimana cara nyimpan sepatu? Gimana neletakin tas? Diajarkan adik kalau
1:19:40 pulang sekolah nempatkan sepatu di sini. Nah, di situ terus jangan rubah rubah. Kemudian tasnya di sini diperti inikan. Begitu. Begitu. Terus nanti kita cek dan kita awasi terus selama 90 hari. Kita lihat apakah dia kontinue atau tidak, apakah dia konsisten atau tidak. Kalau ada tidak konsisten dia lupa kita ingatkan lagi pakai prom. Adik ngeletakin tasnya di sini, ngeletakin yang sepatu di sini dan begini kalau bisa ya begitu Bapak Ibu. Itu namanya prom. Kemudian merapikan mainan setelah digunakan itu juga sama adik setelah main maka mainannya dirapikan gitu dikasih prom terus kayak gitu Bapak Ibu. Kemudian bermain HP di bawah 2 jam
1:20:25 misalkan ya. Ini untuk anak-anak ee bahwasanya main HP itu enggak boleh 2 jam ya. meskipun kalau semakin sedikit atau bahkan tidak main HP sama sekali itu bagus sekali. Tapi kayak-kayaknya suatu hal yang mustahil di zaman ini ya. Jadi kita bolehkan tapi pakai batas waktu gitu. Kemudian misalkan menjaga kebersihan diri Bapak Ibu mandi gosok gigi misalkan ya kita mau biasakan gak ini silakan Bapak Ibu nanti dipilih kira-kira mau yang mana yang kita ajarkan. Kemudian mengajarkan mengerjakan PR ini juga sama kita kasih prom. Iya. Adik sudah hari ini ada PR gak gitu? Oh udah di kalau ada sudah
1:21:11 dikerjakan belum kerjakan dulu nak misalkan atau nanti jam .00 sore kita kerjakan ya gitu kasih waktu yang biasanya seperti apa. Dan sekali lagi jangan berharap tadi bahwasanya anak bisa sendiri tanpa prom kalau belum bisa kita biasakan. Harus ada pembiasaan dulu. membawa perlengkapan ke sekolah tanpa lupa misalkan. Ini juga perlu kita biasakan malam hari sebelum sekolah apa yang harus dilakukan? Dibiasakan. Kemudian misalkan piket kebersihan kelas dan kerapian. Setelah pelajaran selesai mau pulang seluruh kursi ditaruh di atas misalkan. Itu sebuah pembiasaan namanya ya. Nanti akan ee kebawa sampai dewasa.
1:21:56 Kemudian misalkan mengumpulkan tugas tepat waktu, mendengarkan guru saat belajar. Misalkan adik hari ini apakah mendengarkan guru saat belajar atau bicara sendiri dengan temannya misalkan itu dibiasakan. Baik. Ibadah ada salat lima waktu,
…