Andai Semua Wanita Yang Punya Luka MENYADARI INI Sekarang! | SUARA BERKELAS #125

Ringkasan Singkat

Podcast ini menghadirkan Cut Vivia Talita, seorang penulis dan teman SMA Bilal, untuk berbagi pengalaman hidupnya selama 10 tahun terakhir. Vivia membahas tentang pentingnya mengenali diri sendiri, menerima emosi, dan memaafkan diri sendiri. Dia juga berbicara tentang pengalamannya mengatasi trauma dan bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan mental dan fisiknya. Selain itu, Vivia memberikan saran tentang cara menghadapi rasa insecure, membangun kepercayaan diri, dan menghadapi orang-orang yang tidak mendukung.

  • Pentingnya mengenali diri sendiri dan menerima kelemahan.
  • Trauma dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik.
  • Cara menghadapi rasa insecure dan membangun kepercayaan diri.
  • Pentingnya memaafkan diri sendiri dan orang lain.

Intro

Podcast Suara Berkelas mengundang Cut Vivia Talita, teman sekelas Bilal semasa SMA. Bilal mengenang Vivia sebagai siswa berprestasi yang selalu mendapat peringkat atas, sementara dirinya selalu berada di peringkat bawah. Setelah 10 tahun tidak bertemu dan jarang berkomunikasi, Bilal ingin mengetahui perubahan dan pelajaran hidup yang bisa dibagikan oleh Vivia.

Kekuatan Sejati

Vivia menyadari bahwa dirinya tidak sekuat yang dibayangkannya selama ini. Kekuatan sejati bukan tentang menyembunyikan emosi dan selalu terlihat tegar, tetapi tentang menerima emosi seperti kesedihan dan tetap bergerak maju. Dia baru menyadari hal ini setelah mengalami banyak hal di tahun 2025 dan berkonsultasi dengan psikolog. Vivia menekankan bahwa tidak apa-apa untuk merasa sedih dan tidak selalu kuat, karena itu adalah bagian dari menjadi manusia biasa.

Logika vs Perasaan

Vivia menjelaskan bahwa manusia memiliki dua tipe dominasi dalam mengambil keputusan: rasional (logika) dan irasional (perasaan). Orang rasional sering dicari untuk solusi logis, sementara orang irasional dicari untuk validasi emosional. Cara mudah untuk mengetahui tipe dominasi seseorang adalah dengan melihat alasan mengapa orang lain sering datang kepada kita. Orang yang logis cenderung menekan perasaannya dan bisa meledak di kemudian hari ketika menghadapi trauma.

Trauma dan Pengaruhnya

Vivia baru menyadari bahwa dirinya memiliki kompleks PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) di tahun 2025. Selama ini, dia menganggap kebiasaan buruknya sebagai hal yang normal, padahal itu adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) dari trauma. Trauma bukanlah sekadar pola pikir, tetapi luka yang tidak terlihat yang memengaruhi cara kerja otak. Informasi yang menyakitkan akan tertahan di amigdala (otak emosi) dan membuat otak emosi lebih aktif, yang bisa menyebabkan masalah fisik dan emosional.

Pentingnya Tidak Menghakimi

Vivia menekankan pentingnya untuk tidak menghakimi orang lain karena kita tidak pernah tahu apa yang mereka hadapi. Dia juga menyadari bahwa tidak ada orang yang 100% baik atau jahat. Meskipun pernah disakiti, Vivia tidak bisa membenci orang lain dan merasa bahwa itu adalah hal yang baik. Dia percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Pesan untuk Orang yang Menyakiti

Vivia berharap orang-orang yang pernah menyakitinya bisa menentukan arah yang positif dan terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Dia menyadari bahwa tidak semua orang harus berjalan bersama kita selamanya. Seseorang hadir dalam hidup kita bisa jadi hanya sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk memberikan pelajaran. Ketika masanya selesai, orang itu akan pergi dan itu tidak apa-apa.

Mengenali Diri Sendiri

Vivia menjelaskan bahwa ada dua cara untuk meningkatkan kepercayaan diri: mengenali diri sendiri sedalam-dalamnya dan memiliki pemahaman bahwa kita tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Dia menggunakan teori Carl Jung tentang MBTI cognitive function untuk memetakan dominasi di otak dan melihat potensi diri. Setiap orang memiliki urutan proses mental yang berbeda, yang memengaruhi cara mereka memandang sesuatu.

Jangan Merasa Lebih Rendah

Vivia menceritakan pengalamannya saat kuliah di SBM ITB dengan beasiswa bidik misi. Dia menyadari bahwa orang-orang yang berprivilese pun memiliki tantangan tersendiri untuk membanggakan keluarganya. Vivia menekankan pentingnya untuk tidak merasa lebih rendah karena orang-orang yang memiliki privilege pun memiliki tantangan yang berbeda.

Kebahagiaan dan Rasa Syukur

Vivia menekankan pentingnya untuk tetap bersyukur dan rendah hati, sebanyak apa pun uang yang kita miliki. Dia menceritakan pengalamannya saat kuliah ketika dia kehabisan uang dan mendapatkan donat dari temannya. Pengalaman itu membuatnya sangat bersyukur dan menginspirasinya untuk membuat donat sendiri.

Menghadapi Trauma

Vivia merasa jauh lebih baik setelah menjalani terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) untuk mengatasi traumanya. Terapi ini membantunya memproses emosi yang tertahan dan mengubah banyak hal dalam hidupnya, termasuk menghilangkan penyakit psikosomatis seperti infeksi saluran kemih dan sariawan yang sudah dideritanya selama 13 tahun.

Pengalaman dengan Ayah

Vivia menceritakan tentang ayahnya yang meninggal karena kanker paru-paru. Dia baru mengetahui bahwa ayahnya merokok sejak usia 8 tahun dan memiliki banyak trauma di masa lalu. Vivia bersyukur karena di tahun-tahun terakhir hidup ayahnya, mereka bisa lebih terbuka dan dekat satu sama lain. Dia juga menyadari bahwa masalah mental dan pola hidup yang kurang baik bisa menjadi pemicu penyakit seperti kanker.

Pentingnya Kesadaran

Bilal menambahkan bahwa momen-momen terakhir dengan orang terdekat bisa membuat kita merasa lebih dekat. Dia menekankan pentingnya untuk tidak menghakimi orang lain yang merokok karena kita tidak tahu apa yang mereka hadapi. Vivia setuju dan mengatakan bahwa penting untuk menyadari bahwa rokok itu berbahaya agar kita tidak ingin anak kita merokok.

Penyesalan dan Memaafkan Diri Sendiri

Vivia menyesal karena dulu terlalu denial dengan perasaannya. Dia berharap bisa lebih memperhatikan orang-orang di sekitarnya, terutama ayahnya. Vivia menyadari bahwa dirinya perlu memaafkan dirinya sendiri karena selama ini terlalu denial dan meninggalkan dirinya sendiri. Dia juga menekankan bahwa privilege bukan hanya soal uang dan relasi, tetapi juga kecerdasan emosional.

Saran untuk Nailul

Menanggapi pertanyaan dari Nailul, Vivia menyarankan untuk menentukan masalah utama terlebih dahulu (finansial atau dukungan orang tua) dan mencari solusi yang sesuai. Jika masalahnya finansial, carilah beasiswa yang cocok. Jika masalahnya dukungan orang tua, cari tahu alasan mengapa mereka tidak mendukung dan coba yakinkan mereka.

Saran untuk Dwi Utari

Menanggapi pertanyaan dari Dwi Utari, Vivia menekankan bahwa kunci untuk survive dan terlihat independen bukanlah dengan berusaha terlihat sempurna, tetapi dengan menurunkan ego serendah-rendahnya dan mengakui kelemahan diri sendiri. Dia juga mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita untuk memikirkan hasil, tetapi untuk berusaha.

Saran untuk Mayira HF

Menanggapi pertanyaan dari Mayira HF, Vivia menyarankan untuk tidak fokus pada orang-orang yang tidak suka dengan kita, tetapi fokus pada mengenali diri sendiri dan mencari orang-orang yang bisa mengapresiasi kita. Dia menceritakan pengalamannya saat lomba public speaking dan menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan diri untuk menggunakan cara orang lain.

Nasihat Terburuk

Vivia mengatakan bahwa nasihat terburuk yang pernah diterimanya adalah "jangan kuliah jauh-jauh, di mana aja sama". Dia tidak setuju dengan nasihat itu karena menurutnya kuliah di luar kota bisa memberikan pengalaman merantau dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda cara berpikir. Namun, dia juga menyadari bahwa nasihat buruk sering kali diberikan dengan niat baik, sesuai dengan kapasitas dan pengalaman orang yang memberikannya.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Ternyata kelemahan itu bukan buat kita tutupin loh, tapi kelemahan itu harus kita sadarin. Karena kalau kita gak menyadari itu, kita bakal lebih mudah untuk menerima judge dari orang lain. Tapi ketika kita mengenali diri kita sendiri, oh aku kelebihannya ini, aku kekurangannya ini, mau apapun yang orang lain bilang, ya memang aku seperti itu kok. Kaget dengan fakta bahwa hidup aku ternyata selama ini enggak normal. Bahwa ternyata kebiasaan buruk aku itu bukan kebiasaan buruk biasa, tapi itu juga yang membuat aku merasa tervalidasi. Oh, ternyata aku selama ini bukan kebiasaan buruknya enggak berhenti, tapi emang aku punya kondisi mental yang serius gitu aku. Makanya dari awal tidak lagi ngejak seseorang. Iya, setuju banget bilang enggak bisa kita nge-judge. Emang kita enggak tahu kan apa yang selama ini orang itu

0:45 hadapin. Hm. Ternyata aku perlu memaafkan diriku sendiri juga. Enggak cuma orang tua, enggak cuma orang-orang yang menyakitin, tapi aku juga harus perlu dimaafkan. Kenapa? Karena aku selama ini terlalu denial sama apa yang aku rasa dan udah waktunya aku memaafkan diriku yang seperti ini yang terlalu banyak meninggalkan diriku sendiri. Ketika aku ketemu sama orang yang egonya tinggi, aku bisa mengalah. Dan menurut aku itu adalah salah satu kekuatanku. Karena di saat aku menetapkan eguku yang rendah itu membuat aku ya udah enggak apa-apa kalau aku enggak berhasil. Tapi tetap harus berusaha. berusaha bukan karena aku pengin diakuin, tapi karena memang Tuhan meminta kita untuk berusaha aja

1:30 tanpa memikirkan hasil. Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas. Hari ini teman-teman spesial sekali karena aku mengajak temanku sendiri satu kelas sear SMA. Ada Cut Vivia Talita. Halo Bilal. Ini menarik sekali ya, karena dulu Vivia besar SMA teman-teman, dia selalu ranking di awal ya dan aku selalu ranking di akhir gitu ya. Sehingga aku ketemu Vivia itu pasti nanya banyak hal. Termasuk ketika aku mau masuk kuliah jurusan hubungan internasional, aku ingat di tahun 2015 aku tanya ke Vivia. Iya. Dan hari ini 10 tahun kemudian di 2026 kita ketemu di suara berelas dengan Bilal yang udah wow banyak banget

2:16 grow-nya di mana keren banget sih aku. Aku benar-benar bangga banget sih Bilal. Thank you, thank you thank you Vi. Banyak orang mungkin enggak perenal enggak kenal kamu dari poov. Kamu sebagai penulis. Heeh. Kamu sebagai mahasiswa yang dulu berprestasi. He. Kamu yang sangat berkembang. Aku mau bertanya dari pertanyaan yang sangat sederhana gitu. Apa tuh? 10 tahun kita enggak ketemu, 10 tahun yang kita jarang komunikasi. Heeh. Apa yang berbeda dan apa yang kamu bisa share tentang kehidupan ini? Wow. Langsung pertanyaan berat ya, Bilal ya. Mm. Yang aku rasain ya 10 tahun terakhir ini ya, aku benar-benar kayak nyadar bahwa ternyata selama ini tuh aku enggak sekuat yang aku bayangin.

3:02 Hm. Aku baru sadar kalau ternyata em dengan kita berpikir bahwa kita kuat terus kita ke mana-mana sendirian, bisa apa-apa bisa ngerjain banyak hal sendirian, terus juga enggak menunjukkan bahwa kita itu sedih segala macam, itu ada tanda kalau kita kuat. Hmm. Tapi 2025 kemarin aku akhirnya sadar kalau ternyata kuat itu bukan saat kita bisa kelihatan enggak bisa kelihatan tenang-tenang aja tanpa nangis tanpa segala macam. Tapi kuat itu justru saat kita bisa nerima emosi-emosi. Nangis sedih, tapi tetap bisa bergerak walaupun sambil menerima itu. Jadi bukan malah membantah perasaan tapi dengan

3:48 menerimanya. Dan itu aku baru sadar baru-baru ini setelah ngalamin banyak hal di 2025 sampai aku juga ke psikolog segala macam. H gitu. Jadi kalau selama ini mungkin Bilal pas SMA ngelihat aku em kayak kuat, jarang enggak enggak kelihatan nangis gitu. Iya. Iya. He padahal mungkin Bilal tahu kayak apa yang terjadi waktu pas SMA juga kan. He. Tapi ternyata ya kuat itu bukan seperti itu. Jadi aku akhirnya menyadari bahwa aku enggak apa-apa untuk sedih, enggak apa-apa untuk enggak se strong itu. He. Karena justru saat kita menunjukkan bahwa kita mampu untuk bersedih, enggak harus terang-terangan ya, enggak enggak

4:34 harus di depan orang, tapi setidaknya kita mau mengakui kalau kita itu ada sesuatu yang bergejolak dalam hati sih. Itu yang aku sadari. Ternyata di usia dewasa itu enggak enggak seperti yang aku bayangin harusnya yang namanya kuat itu. Dan itu tanda bahwa kita emang manusia biasa ya. Iya. It's okay to be vulnerable. It's okay to sad. itu bisa ya mungkin Bilal juga ngalamin hal yang sama pastilah. Iya. Dan aku pernah baca buku Vivia kan yang kamu cerita tentang manusia itu he dihadapkan pada satu masalah yang sama tapi cara dia menanggapi dan menghadapinya berbeda. Ada orang yang mungkin menghadapinya dengan logika, ada orang yang tipe perasaan sekali gitu. Bagaimana bagi teman-teman yang enggak paham ini

5:19 cara mereka menyadari kalau selama ini mereka terlalu perasaan, terlalu logika. Mm aku sempat aku jadi ingat em bukunya Robert Green, The Law of Human Nature. Dia bilang kalau eh manusia itu ada dua macam. He. Ini dalam hal ngambil keputusan ya. Iya. Ee yang satu adalah yang ee tipe rasional, yang satu lagi adalah irasional. Nah, itu sebenarnya kan ee istilah lain dari logika sama perasaan ya kan rasional dan irasional. Nah, jadi seringkiali kalau orang-orang yang rasional ini didatangin sama teman-temannya itu untuk mencari solusi yang rasional. Iya. Sedangkan orang-orang yang irasional yang lebih dominan di perasaan, mereka lebih lebih senang didatangin sama teman-temannya.

6:05 Teman-temannya lebih senang ngedatangin mereka untuk validasi emosional. Kayak misalnya, "Ya ampun yang kuat ya." Hm. Kamu baik-baik aja kan? Ya ampun kamu sabar. Kamu sabar-sabar. aku dukung kamu. Kamu kuat banget selama ini. Nah, itu adalah salah satu bentuk validasi emosional. Jadi, em kalau ditanya gimana cara paling mudah untuk menandai kita tuh sebenarnya tipe yang logis atau yang berperasaan maksudnya dominasinya ya. Karena semua orang pasti ada sisi logika dan perasaan kan. Dominasinya gimana ya? Paling mudah adalah dengan ngelihat orang-orang tuh paling sering datang ke kita gimana. Karena di pengalaman aku dari dulu, teman-teman aku itu paling enggak enggak suka maksudnya paling jarang ya datangin aku untuk dipuk gitu. Tapi mereka selalu datang dengan

6:50 masalah. Iya. Untuk solusi. Untuk solusi gitu. Kenapa? Karena ya mereka tahu termasuk mungkin Bilal. Mungkin Bilal datang ke aku untuk nanya ini, ini, ini kan nanya jurusan ya kan. Nah, jadi teman-teman aku cewek-cewek terutama kan cewek-cewek kan suka cerita. Tapi kalau ke aku, mereka sekalinya ee ee apa curhat yang nangis-nangis tuh aku enggak tahu harus bersikap seperti apa. H kayak aku mau mau mau ngelus-ngelus juga canggung gitu. Rasanya itu enggak nyaman. Bukan karena aku enggak peduli, tapi emang karena ternyata setelah aku pelajarin dari teorinya KL tentang fungsi kognitif yang aku jelasin di buku aku, ternyata memang setiap orang itu punya fungsi kognitif di kepala mereka tuh dominasinya beda-beda. Ada orang yang otaknya itu lebih dominan

7:36 di itu tadi di ee sisi logikanya, ada orang yang lebih dominan di perasaannya dan itu membuat kita semua itu punya potensi yang beda-beda juga. Hm. Gitu. Gimana kalau orang yang gampang meledak emosinya? Karena selama ini dia berpikir bahwa orang datang ke aku cuma berharap solusinya doang gitu. Tapi ada fase di mana dia sadar bahwa aku selama ini tanya solusi ke siapa? Aku ingin bersandar kepada siapa kan. Iya. Sehingga bisa jadi ada orang yang kemudian di fase dewasa he emosinya meledak-meledak terus gitu. Apakah kamu relate dan gimana kamu melihat dan menanggapi itu? Ah, ini menarik. Satu hal yang aku sadari sekarang ini adalah ternyata orang-orang yang logik pakai ternyata orang-orang yang logis yang cenderung lebih dominan logika mereka lebih cenderung untuk meledak di kemudian hari

8:22 ketika mereka punya trauma di masa lalu. Kenapa? Karena selama ini mereka terlalu banyak menekan perasaannya. Mereka merasionalisasi emosi mereka sendiri sampai kemudian di usia dewasa muncul masalah-masalah yang m-trigger trauma mereka. Hm. Ini beda sama orang-orang yang memang perasaannya lebih dominan. Mereka enggak enggak ragu untuk mengeluarkan memproses emosi mereka yang mereka rasakan atau bahkan cerita ke orang atau bahkan ya udah nangis aja gitu di kamar. Itu mereka enggak ragu. Mereka enggak berusaha merasionalisasi itu. Artinya apa? Artinya mereka lebih mudah juga untuk memproses emosi di otak mereka. Enggak enggak tertekan menjadi tumpukan trauma. Hm. He. Sedangkan orang-orang yang rasional, orang-orang yang dominan logika ya

9:08 karena terlalu banyak menumpuk akibatnya emosi-emosi di ee sisi amikdala namanya, sisi otak emosi itu akan menumpuk sehingga ya mereka akan meledak di kemudian hari. Bisa itu ee secara fisik punya penyakit yang sebenarnya itu obatnya harus ke psikiater bukan lagi ke dokter mana-mana atau bahkan ya sekedar em meledak secara emosi bisa juga. atau tiba-tiba ya sadar aja mereka emang butuh bantuan profesional gitu. Nah, itu adalah termasuk aku yang terjadi di aku. Karena aku sadar kalau aku itu termasuk tipe yang lebih dominan logika. Tapi ternyata selama ini aku menekan dan aku bahkan baru tahu kalau aku punya kompleks PTSD di 2025.

9:53 Kamu baru tahu kamu punya kompleks PTSD? Iya, aku enggak tahu kalau selama ini aku adalah korban trauma. Tapi aku mengenal kamu sejak 2013-nya. Iya. Dan aku tahu seberapa keras hidup kamu, seberapa tangguh kamu. Dan sorry for saying harusnya itu dari level yang berat sekali menurut aku ya. Dan aku kalau di posisi kamu aku enggak sanggup ketika aku SMA, Heeh. aku harus menanggung banyak orang-orang di keluargaku gitu ya. Heeh. Tapi kamu enggak sadar itu trauma sehingga kamu baru sadar itu di 2025. Benar. Kamu menganggapnya apa dong kalau bukan trauma? Aku pikir ya memang aku orang yang seperti ini. Aku menganggap em hal yang aku lakukan itu adalah kebiasaan buruk. Karena aku kan punya sebuah kebiasaan buruk yang itu tuh susah sekali aku hentiin dari aku TK.

10:42 Itu aku punya kebiasaan buruk di mana aku menyakiti diri aku sendiri. H emm itu namanya sebenarnya BFRB disorder. Jadi kecenderungan untuk melakukan gerakan terus-menerus. Jadi kayak melakukan gerakan di tubuh terus-menerus. Kalau misalnya ee orang-orang kebanyakan itu sering banget yang aku lihat adalah nyabutin rambut bisa sampai botak kepalanya. Nah, aku punya hal yang semacam itu tapi lebih ekstrem. Bahkan dia ngelakuin itu di fase dia mood-nya lagi bagus. bisa karena itu adalah itu tadi namanya BFRB disorder. Jadi, eh body focus repetitive behavior. Jadi, kecenderungan untuk terus-terusan melakukan gerakan berulang karena rasanyaak bisa itu lebih tenang atau mungkin pas lagi cemas biasanya lebih parah lagi. Makanya ada

11:28 orang-orang yang ini aku sering banget loh nemuin kayak mereka nyabut-nyabutin rambut sampai bisa botak. He sebenarnya mereka pengin berhenti tapi enggak bisa. Nah, itu aku pikir eh BF RB disorder aku ini adalah ya kebiasaan buruk yang setiap tahun aku berusaha untuk jadiin itu sebagai resolusi tahunan untuk berhenti. Tapi enggak pernah bisa. Hmm. Padahal aku menyakiti diriku sendiri. That's why kamu memutuskan 2025 kamu ke enggak langsung. Enggak langsung enggak langsung. Jadi yang membuat aku sadar itu justru saat ada aku bilang fase ya fase yang berat ya. Ada seseorang di hidup aku yang bilang bahwa

12:13 itu enggak normal. Jadi aku cerita pengalaman aku apa yang terjadi dengan santai karena aku menganggap itu hal yang normal. Tapi dia bilang ternyata bahwa itu itu enggak normal. Itu enggak normal. Di situ aku mulai kayak seolah-olah fakta itu berhamburan ke kepalaku dan aku menjadi depresi karena aku selama ini berpikir itu normal. Aku ngelihat di berita kekerasan segala macam itu aku prihatin tapi aku enggak prihatin ke diriku sendiri gitu. Saat aku sadar bahwa itu kamu ngalamin itu juga itu enggak normal. Di situ aku mulai sadar dan mulai depresi, mulai enggak enggak enggak functioning lah. Dan aku baru mulai browsing tentang terapi buat trauma.

12:59 Karena aku akhirnya sadar yang selama ini aku alamin tuh bukan kebiasaan buruk, tapi bentuk coping mechanism dari trauma. Coping mekanism dari trauma. Heeh. Cara aku supaya aku bisa melampiaskan sesuatu di tubuhku. Karena yang namanya trauma, aku baru tahu nih, trauma itu ternyata bukan pola pikir yang selama ini kita kita orang-orang kebanyakan pikir adalah trauma itu pola pikir itu bisa dihilangkan dengan kita berpikir positif. Itu juga yang aku pikir dulu. Tapi ternyata trauma itu enggak seperti itu. Trauma itu ibaratnya kayak em luka yang enggak kelihatan. Karena jadi cara kerjanya itu kayak gini. Kita punya otak. Otak itu dia bakal

13:44 memproses informasi-informasi yang kita terima. Entah itu di kulit, di pancainer yang lain, mata, telinga. Kalau itu sesuatu yang menyakitkan dan otak kita menangkap itu menyakitkan, otak kita bakal menahan informasi tersebut di otak bagian amigdala, di otak yang memproses perasaan. Dia bakal ketahan di situ, terikatlah istilahnya. Sedangkan hal yang normal harusnya akan diproses dari amigdala langsung menuju prefrontal cortex ke otak logika. Jadi dia kayak kayak em apa ya istilahnya ada jalurnya gitu untuk terproses. Nah, orang yang trauma entah itu omongan negatif, entah itu kekerasan fisik semakin parah ya semakin ini juga semakin terikat di situ juga.

14:30 Akhirnya apa? Itu yang bakal bikin e otak emosi kita jadi lebih aktif. Kalau otak emosinya lebih aktif, badan bisa e menegang atau bahkan bisa sampai jadi penyakit. bisa juga jadi gampang emosi. Nah, itulah ternyata trauma itu ternyata bukan soal pola pikir, tapi dia benar-benar luka. Dan kalau aku ibaratin ee dia itu ibaratnya itu kayak gini, ibaratnya kita punya handphone ya, handphone kita kan di dalamnya ada operation system ya kan, ada perangkat lunak. Tapi kalau kena virus bakalan berfungsi enggak? Bakalan error enggak? Error kan? He. Apakah kita bisa ngelihat luka goresannya? Enggak. Enggak. I. Tapi cara kerja otak tuh ternyata seperti itu. Jadi kita enggak bisa em kita tuh enggak bisa meremehkan

15:18 trauma entah itu sekecil apapun apalagi yang besar. Semakin besar traumanya semakin bakal besar juga coping mechanism-nya. Tapi enggak semua orang punya coping mechanism. Enggak, enggak semua orang punya cara yang cara mereka mengeluarkan emosi-emosi itu. Mungkin aku punya tadi, tapi coping mechanism jelek. Hmm. Ya, jadi coping mechanism itu juga sebenarnya enggak selalu buruk. Yang bakalan susah adalah ketika udah jadi disorder. He. Aku udah udah mengalami itu dari TK. Sangat susah buat aku berhenti karena itu udah seperti terekam di dalam otak. Jadi ini ternyata aku aku akhirnya menyadari bahwa selama ini aku bukan

16:03 gagal berhenti dari kebiasaan burukku, tapi selama ini ternyata aku lagi berjuang dengan kesehatan mental yang enggak pernah aku sadari sebelumnya gitu. Ini semakin membuat aku berpikir bahwa banyak orang yang kelihatannya kuat. Heeh. Bahkan teman sendiri yang kelihatannya sehat-sehat aja gitu. enggak pernah tahu kamu pernah mengalami fase itu. Bahkan dari TK iya kita di SMA 1 kelas kita ketemu beberapa kali he. Kita sempat komunikasi terus ketika awal-awal ngonten di 2020. Iya. Sampai kita colab-Colleb pos pertama kali ya pas fiturnya baru keluar ya. Sebelum pas COVID ya kalau enggak salah itu aku bahkan enggak tahu dan kamu terbuka di suara bekal seperti ini. Dan itu menandakan memang Heeh. sedalam itu kadang emosi seseorang

16:50 bahkan orang terdekat kita, kita enggak bisa menyelami ke lautan emosi dia gitu. Fase yang mungkin sangat berat dia alami dan that's why aku berusaha sampai sekarang untuk jangan pernah nge-judge atau menghakimi fase hidup orang lain yang kita anggap bahwa hidup lu enak, hidup lu gampang, segala macam. Kalau kita nyelami lautan kehidupan dia bisa jadi lebih dangkal, lebih dalam dari yang pernah kita bayangkan. Benar. Benar. He. Semakin terang seseorang semakin gelap juga bayangannya. Ya kan? H. Seringkiali kayak gitu karena ya aku setuju banget bila kita enggak bisa nge-judge. Itu makin membuat aku sadar bahwa ya Allah aku enggak bisa membenci orang. Kenapa? Karena menurut aku enggak ada orang yang 100%

17:36 baik atau 100% jahat. He walaupun aku disakitin, oke aku bakal bisa cut off. Tapi sekarang aku jadi enggak bisa juga untuk membenci dia dan aku merasa itu adalah hal yang bagus yang aku sadari belakangan ini. Hmm. Karena bahkan aku sampai mikir kayak gini, bahkan seorang psikopat pun enggak pernah bisa memilih untuk terlahir dengan otak psikopat. H kita mungkin enggak mau berinteraksi sama dia, tapi kita enggak bisa juga menyalahkan dia. Ya kan? He itu juga membuat aku mikir kayak seberapa sakit pun seseorang memperlakukan aku, tapi ya aku enggak merasa perlu untuk membongkar

18:22 keburukannya atau untuk membenci dia. Ya udah kita bisa berpisah baik-baik ya kan? He siapapun itu. Karena aku berpikir ya siapa aku gitu. Apa hak aku yang cuma manusia juga seperti dia untuk menjelekkan seseorang di saat aku tahu bisa aja di akhir hayatnya dia jadi jauh lebih baik daripada aku. Kalau Tuhan aja bisa memberikan kesempatan untuk seseorang berubah sampai akhir hayatnya siapa siapa aku dan apa hak aku untuk menjelekkan dia yang sudah menyakiti aku di saat bisa aja orang lain enggak diperlakukan itu seperti sama dia. Karena bisa aja ya kita memang enggak cocok gitu kan.

19:08 He bisa aja seseorang baik ke kita tapi dia bakalan menjadi feelin bagi orang lain kan. Iya iya iya. Itu juga hal yang baru aku sadari. Aku juga enggak bisa nge-judge lagi Bilal. H sejak itu. He. Di zaman kreators ekonomi kayak sekarang semua orang berlomba-lomba untuk hasilin cuan dari dunia digital. Tapi faktanya enggak semua orang tahu bahwa kita bisa menghasilkan uang dari satu website builder doang. Kita bisa jualan kelas, bikin digital produk, book konsultasi, sampai bikin ebook, bikin tulisan-tulisan atau karya-karya kita dijual langsung dan orang semuanya bisa ke sana untuk langsung check out di sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24 jam kita tidak harus mengontrol website builder tersebut, tapi uang bisa tetap

19:53 masuk dari karya kita. Aku bakal kasih solusinya. Solusinya ada di Link ID atau Linkit dan aku udah pakai Linkit sejak tahun 2022 dan itu memudahkan sekali kalau kita sebagai kreator menghasilkan uang dan semua orang bisa akses karya kamu di sana. Misalnya kamu penulis kayak aku, kamu bisa bikin ebook, even orang-orang bisa konsultasi sama kamu dengan bikin appointment di sana dan mereka bisa menentukan jawalnya menyesuaikan dengan jadwal kita sebagai penulis. Bahkan yang menariknya meskipun kamu belum punya produk digitalmu sendiri, kamu bisa affiliate produk orang di Linkit dan itu luar biasa banget. Banyak kreator-kreator di luar sana enggak punya produk sendiri, tapi bisa hasilin 2 digit, 3 digit per bulan di Linkin. So, bagi teman-teman yang belum bikin Linkit-nya, tunggu apaagi? Langsung bikin sekarang.

20:39 Mungkin banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi enggak mungkin aku tanyakan di sini, di depan kamera. Karena menurut aku sangat-sangat personal kalau aku tanyakan karena terkait sama beberapa orang yang memainkan peran di hidup kamu dalam 10 tahun terakhir kali ya. Iya. Tapi kalau aku bisa membungkus dengan kalimat simpel atau pertanyaan simpelnya yaitu Heeh. Kalau ada orang yang memang selama ini menyakiti kamu atau melukai kamu atau bikin hidup kamu semakin mengumpulkan banyak trauma-trauma gitu, apa pesan yang ingin kamu sampaikan ke orang-orang tersebut? Karena selain kamu bilang tadi aku tidak ingin membenci, tapi apakah kamu ngerasa bahwa itu

21:24 pelajaran atau makna hidup yang bikin kamu lebih kuat karena menghadapi orang-orang seperti itu atau seperti apa? Pasti sih, pasti membuat lebih kuat. Kalau pesan ya pesan ya aku harap apapun jalannya, ke manapun arahnya ya jangan lupa untuk tentuin arah yang emang positif dan terbaik buat diri sendiri dan orang sekitar. He enggak harus kita jalan bersama-sama dengan seseorang. Enggak. Kalau memang udah masanya pelajaran itu selesai, ya selesai. Hm. Karena seringki

22:10 seseorang hadir di hidup kita itu bukan karena seseorang itu emang harus ada di situ, enggak. Tapi bisa jadi itu adalah plot dari Tuhan untuk menghadirkan seseorang di fase itu. Dan kalau udah tiba masanya ya orang itu enggak ada lagi. Karena kita sudah mendapatkan pelajaran satu sama lain. And it's okay. Hmm. It's lucky journey. Dari kota A ke kota B. Mungkin dia hanya bisa mengantar sampai kota Bul dan kita harus melanjutkan ke kota C tanpa memang harus dia bareng kita gitu ya. I. Heeh. kayak gitu. He. Kamu sering sekali ngomongin tentang mengenali diri sendiri, He. Menggali potensi diri, mencintai diri sendiri, termasuk di buku kamu dan

22:56 konten-konten dan karya-karya Vivia. Tapi kita enggak pernah diajarkan Vi di sekolah. Bahkan kita di SMA enggak pernah diajarkan cara mencintai diri sendiri, cara mengenali diri sendiri gitu ya. Tapi kalau kamu diberi kesempatan untuk mengajar di suara berkelas, gimana cara kamu menjelaskan ke murid-murid yang menonton ini? cara mencintai diri sendiri, kemudian elaborasi ke cara menggali potensi diri gitu. Ah, interesting. Karena itu adalah yang aku bahas di bukuku kebetulan. He. Jadi, ee kalau di bukuku ini aku cerita bahwa em menurutku ada dua cara untuk kita bisa lebih percaya diri. Yang pertama, bab pertama banget nih adalah kita harus kenali diri kita sedalam-dalamnya. Kenali diri kita itu bisa itu tentang

23:44 itu kan banyak banget ya. Dan kenali diri ini sebenarnya ada hal yang enggak berhenti seumur hidup kita. Iya. I kan artinya apa? Bahkan aku jelasin juga aku sempat tulis bahwa ya kepercayaan diri itu adalah sesuatu yang naik turun. Jadi kalau saat ini kita lagi enggak percaya diri itu enggak apa-apa karena semua orang pasti seperti itu. I kan. Cuma masalahnya adalah apakah kita mau terus untuk mencari tahu, mengenali diri kita? Kalau di aku, aku memakai teori dari Carl Yang tentang eh MBTI cognitive function, tapi bukan MBTI populer ya, bukan MBTI sebagai personality, enggak. Karena kebanyakan orang itu bilang kalau MBTI itu kan tentang tipe kepribadian. Iya. Tapi aku justru enggak suka kalau

24:29 dibilang kayak gitu karena yang aku pakai bukan MBTI yang ee kalau INTJ maka orangnya logis dan dingin, enggak kayak gitu. Tapi MBTI yang aku pakai adalah yang fungsi kognitif yang memetakkan ee dominasi di otak kita sehingga kita bisa ngelihat oh ini ternyata potensinya ini. H gitu. Karena berbeda ee cara orang memandang sesuatu. Contoh kalau terjadi ee air mati di sebuah rumah. Iya. ya. Nah, ada orang yang dia itu pas pertama kali menyadari bahwa airnya mati, dia bakal mikir kayak gini, "Wah, ini mah harus segera panggil tukang. Aku panggil tukang orangnya dulu." Dia langsung fokus ke result. Hm. Fokus ke targetnya. Apa sih cara paling efisien untuk menyelesaikan ini? Secara

25:15 otomatis otaknya bakal mikir seperti itu. Nah, kekurangan orang-orang ini adalah mereka biasanya perasaannya ke orang lain tuh enggak peka. Jadi, orang lain tuh bakal ngerasa mereka ini aduh enggak peka banget gitu. Kenapa? Karena em fungsi extroverted thinking yang membuat dia jadi orang yang result oriented, yang berfokus pada hasil itu berlawanan sama fungsi kognitif untuk memahami emosi orang. He. Nah, itu adalah teori Carlang tentang fungsi kognitif di otak setiap manusia. Nah, terus di rumah itu misalnya pas airnya mati ada orang kedua yang dia itu pas pertama pas ngelihat air dalam otaknya itu otomatis bukan berpikir result, tapi yang dia pikirin pertama kali justru aduh entar anak-anak enggak bisa mandi.

26:01 Hmm. Aduh entar emm adik aku butuh air buat masak enggak bisa masak. dia memikirkan fungsi keluarganya, fungsi orang-orang lain gitu, perasaan orang lain. Nah, ini biasanya adalah orang-orang yang dominasi otaknya adalah fungsi kognitif yang extroverted feeling. Jadi, perasaan terhadap orang-orang lingkungan sekitar. Jadi, MBTI, fungsi kognitif MBTI ini sebenarnya bukan ngomongin tentang kepribadian, tapi tentang urutan dari urutan dari proses mental kita. H. Jadi, intj, bisa aja baik, tetapi cara dia berpikir cenderung mirip-mirip.

26:48 Hm. Entah itu dipakai buat kejahatan atau kebaikan. Yang jelas cara berpikir mereka seperti ini loh, gitu. Nah, jadi setiap orang itu punya fungsi kognitif yang urutannya beda-beda. Nah, makanya di bukuku aku bilang bahwa cara mengenali diri itu sebenarnya ada banyak. Kita bisa manfaatin teori-teori yang ada entah itu teori MPTI atau teori yang lain. Tapi yang jelas semua teori itu cuma alat. Hm. Mau itu dibilang ee teorinya berlandaskan ilmiah. Tapi kalau memang memang kita enggak menemukan jati diri kita di situ, ya sama aja kan. Jadi carilah sesuatu teori yang memang membuat kita makin mengenalin diri. Makanya dari aku dul dari dulu dari aku zaman-zaman kita SMA itu aku suka banget untuk ngulik-ngulik teori-teori psikologi segala macam. Karena aku

27:33 selalu berusaha untuk mencari jati diriku. Aku sebenarnya kekuatannya apa, kelemahannya apa. Dan ternyata kekurangan itu bukan untuk kita em tutupin. Hm. He. Yang aku sadari adalah ternyata kelemahan itu bukan buat kita tutupin loh, tapi kelemahan itu harus kita sadarin. Karena kalau kita enggak menyadari itu, kita bakal lebih mudah untuk menerima judge dari orang lain, judgemental judgement dari orang lain. Tapi ketika kita mengenali diri kita sendiri, oh aku kelebihannya ini, aku kekurangannya ini, mau apapun yang orang lain bilang, ya memang aku seperti itu kok. Hmm. He. I. Tapi bukan berarti itu bisa dijadikan alasan

28:19 i untuk kita berperilaku semena-mena ke orang. Enggak. Hm. Tapi lebih kayak oh aku memang kekuranganku itu, tapi aku berusaha memperbaiki gitu. Tapi ketika kita enggak sadar ke kelemahan diri kita, kelebihan kita, apa, apa yang orang bilang ke kita bakal kita proyeksikan ke diri kita sendiri dan kita bakal mulai berpikir bahwa itu benar. Akhirnya terjadilah labeling di mana kita malah menirukan apa-apa yang orang bilang tentang kita. Padahal sebenarnya kalau kita tahu apa kelebihan dan kekurangan kita, pakai teori apapun yang kita mampu, yang kita bisa pakai ke diri kita, yang bisa kita pelajari dan ternyata cocok. Oke, dengan begitu kita bisa lebih mudah untuk

29:04 membuat apa ya? Membuat tameng dari segala hal yang negatif di luar sana gitu. Terus yang kedua, tadi kita sudah mengenali diri sendiri. Yang kedua adalah kita harus punya pemahaman bahwa jangan merasa lebih tinggi, tapi juga jangan merasa lebih rendah. Aku waktu pas kuliah itu tuh pas aku kuliah ee aku pernah kan aku kuliahnya di SBM ITB. I di mana Bilal tahulah kalau kalau aku kan kurang mampu kan dari pas zaman sekolah kayak gimana kan. Iya. Jadi pas waktu itu aku ingat pas kita pengumuman SBMPTN Heeh. itu kan diumumkan di sekolah. Iya. Dan orang satu-satunya yang lolos ITB cuma Wivia ya. Iya. Kita sekolah kita di daerah di Aceh dan waktu itu kan langka

29:49 sekali kan murid SMA kita yang lolos ke ITB dan he kamu berhasil. Ya itu bukan lolos kuliah waktu itu. Waktu itu aku lolos bareng sama Johan ya yang dari IPA. Jadi kita tuh lolos e program pemerintah Aceh buat belajar sama dosen-dosen ITB. Jadi sebulan ke Bandung dikirim. Tapi berarti kamu berarti bukan lulus kuliahnya di situ. Bukan lulusnya setahun berikutnya. Gap. Oke. Gapier ya. Heeh. Iya. Aku ingat pas fase di SMA itu Vivia kayaknya murid yang paling sangat berprestasi gitu yang kalau kamu ada pencapaian kamu sering juara bahasa Inggris, kamu sering ikut Olimpiade termasuk ketika kamu lulus ke ITB kan ramai itu viral pada waktu itu ya karena tidak ada murid lain gitu. Dan di situ aku ngelihat bahwa ini orang

30:36 sangat berpotensi. Makasih Bilal. He ya. Jadi waktu aku kuliah itu aku sebenarnya kan kuliahnya pakai bidik misi kan karena aku kurang mampu. Nah aku kuliahnya di fakultas yang paling mahal di ITB bilang fakultas SBM sekolah bisnis dan manajemen. Jadi ee ada suatu hari ketika em kita tuh kayak disuruh sama dosen untuk jualan. Terus katanya kayak gini ee nanti kalau udah ada penjualan Rp250.000 Ibu kasih tahu ke orang tua kalian ini penjualan pertamanya. Karena ini masih pas awal-awal banget nih. Pas awal-awal disuruh jualan kan. Terus ada seorang teman yang nyelet tuh kayak gini. Hah, Rp250.000 bukannya malah bikin tersinggung orang tua. Terus di situ tuh aku kayak langsung deg. Aku kayak tertegun bentar gitu, Bilal. Karena aku

31:22 mikir kayak gini. Hah? Orang tua kamu bakal tersinggung. Aku mikir kayak gitu. Kalau orang tuak aku orang tuaku pasti bakal senang. Hm. H itu adalah hari di mana aku akhirnya menyadari bahwa wow ternyata menjadi orang yang berprivileg itu punya tantangannya tersendiri. Iya. Aku sempat nulis itu di bab kedua bukuku yang jangan jangan merasa lebih tinggi, jangan juga merasa lebih rendah. Jangan merasa lebih rendah karena buktinya orang-orang yang punya privilege pun mereka punya tantangan untuk membuat bangga keluarganya. Hm. aku i dengan dengan ketidak privilation yang aku punya ketika aku bisa beliin tas

32:07 buat adik aku sekolah, bisa beliin baju buat dia tahun ajaran baru, buku-buku itu aja udah membanggakan buat keluargaku. Tapi orang-orang yang berprivilege ini apa? Mereka harus ngapain biar keluarganya bangga, biar orang tuanya bangga? R50 juta berarti, bukan Rp250.000 mungkin juga belum cukup ya kan? Iya kan? Wow, itu itu deep banget. Dan bagi teman-teman yang menonton sampai di menit ini, marilah kita sekarang obrolin hal yang lebih deep dibandingkan yang sebelumnya. Karena kamu sudah ngomongin tentang kebahagiaan, ya. Karena aku pernah menulis juga di salah satu postingan aku, aku bilang bahwa kebahagiaan kebahagiaan itu yaitu ketika ada gap antara kita punya ekspektasi

32:52 sama realita kan. Ah, i dulu aku berpikir ketika aku dapat Rp100 juta pertama Heeh. aku bakal happy karena aku lagi di mindset aku cuma ada uang R juta waktu itu. Jadi aku menuju ke R juta happy gitu eh gap-nya. Tapi pas sudah dapat R juta kan let's say kita mau ngejar 1 M lagi cari kita cari gap lagi. Dan di fase ketika kamu tadi mungkin nganggap Rp250.000 Ibu itu udah bersyukur banget kamu beli tas ke adikmu, kamu beli hal simpel yang di mana even orang-orang yang privil kalau dapat hal-hal sesimpel itu pasti biasa aja gitu. Nah, aku enggak mau seperti itu. Aku mau kita tuh tetap bersyukur, kita tetap humble. Sebanyak apapun uang kita punya, setidaknya uang masuk walaupun itu kecil, kita harus syukuri. Dan aku takut sekali kehilangan rasa syukur

33:39 itu. Iya. Dan itu yang aku maksud dari sisi happiness itu sesuatu yang kontras. Atau simpelnya gini, F, kayak iya. Ada orang yang udah 2 hari enggak makan. Heeh. Tiba-tiba hari ini dapat nasi kotak gitu ya. Pasti dia orangnya lebih happy dibandingkan ada orang yang hari itu beli mobil Ferrari. Iya, benar banget. Padahal di di garasinya tuh ada dua Ferrari lainnya gitu loh. Iya. Ya Allah, aku jadi ingat cerita donat lagi. Iya. Itu gimana? Gimana? Ya ampun. Jadi, pas aku kuliah itu kan ee pas tahun pertama nih, tahun pertama tuh jujur e tahun paling berat sih, karena aku masih beradaptasi, terus juga orang tua masih ngirim tapi kirimnya tuh kayak Rp50.000, Rp300.000 paling banyak. Rp300.000 untuk setahun kali ya? Sebulan setahun berlebihan ya. Nah, jadi ada momen ketika aku tuh kehabisan uang tapi aku juga enggak

34:26 pengin minta sama orang tua karena aku tahu mereka susah kan. Jadi aku nahan lapar nih pagi-pagi. Tapi aku nunggu jam 09.00 pagi karena nunggu nasi berkah di ITB ada gratis gitu. Nasi berkah Jumat enggak sih? Enggak. Nasi berkah tuh kalau di ITB Senin sampai Kamis kalau enggak salah aku h ada lah pokoknya di di GKU Timur di ITB. Jadi aku nungguin terus aku ketemu sama teman aku bilang kayak gini kita ngobrol-ngobrol sih sebenarnya kita ngobrol-ngobrol terus emm aku aku nyeletuk kan bercanda sebenarnya eh lapar ya aku nunggu nasi berkah sih kayak gitu aku bilang. Terus dia kayak oh kamu lapar aku ada donat nih. Kamu mau gitu. Dia nanya kayak gitu, Saski namanya. He. Jadi, habis itu dia ngambil tuh donat dari dalam tas di dalam kelas. Dia kasih ke aku, "Ya Allah, itu rasanya benar-benar kayak ya ampun ini

35:12 pertolongan dari Allah melalui dia yang dia itu enggak sadar kalau dia itu sebenarnya benar-benar lagi nolong aku gitu. Karena aku kan nyampai menyampaikannya kan dengan kayak nada santai kan." H. Jadi aku enggak kayak meles gitu, "Ih, aku lapar banget." Itu enggak. Jadi kayak wow ternyata dia seperhatian ini gitu. Dan dua potong donat yang udah dingin itu kan dua potong donat digoreng. Kalau di kampus kita tuh donat polen namanya. He itu tuh udah dingin tapi rasanya kayak benar-benar hangat bagi aku karena di saat aku kelaparan tiba-tiba dia itu makanya habis itu aku mulai kan bikin-bikin donat yang kemarin aku post di Instagram habis itu donatnya gosong. I. Terus habis itu PO. Eh, tahu-tahu ada

35:58 temanku yang lain ngajakin, "Ayo, kita bikin bareng aja gitu." Karena biar aku fokus marketing kayak gitu. Makanya kita mau buka Bombolofi nanti di Pujasera Blok M Square. Dan ketika ini tayang harusnya udah buka sih. Iya sih, ketika podcast tayang harusnya sudah buka di Serack. Iya. Oke, Vi ini mungkin orang-orang yang masih penasaran ke siapa Vivia ini. Iya. Tapi kalau ditanya ke versi kamu yang sekarang itu kan banyak sekali perkembangan, perbedaan. He, kamu tadi cerita ada luka kecil, luka besar yang sudah kamu hadapi dan kamu lebih kuat. Apakah sekarang kamu masih menghadapi fase-fase trauma tertentu yang bikin kamu ingin terus belajar atau kamu ngerasa sudah sembuh dari berbagai luka-luka tadi? Dan kalau kamu sudah

36:43 sembuh, bagaimana kamu ngelewatin fase itu dan apa yang bisa kamu ceritakan ke kita, termasuk ke teman-teman yang mungkin masih sekuma di hidupnya? Hm. Hah. Kalau ditanya apakah sudah, aku merasa jauh lebih baik. Jauh lebih baik ya. I jauh lebih baik. Ee 2025 itu benar-benar kontras banget sama sama akhir 2025 sampai sekarang. Karena di awal 2025 itu kan aku benar-benar kayak kaget dengan fakta bahwa hidup aku ternyata selama ini enggak normal. Bahwa ternyata em kebiasaan buruk aku itu bukan kebiasaan buruk biasa, tapi itu juga yang membuat aku merasa tervalidasi. Oh, ternyata aku selama ini bukan kebiasaan buruknya enggak berhenti, tapi emang aku punya kondisi mental yang serius gitu. H. Nah, baru kemudian aku kan serius terapi

37:30 nih dan terapi MDR itu benar-benar mengubah banyak hal walaupun terapi MDR. Terapi IMDR, IMDR. IMDR enggak pernah dengar. Jadi itu terapi ee kalau kalau kita cari tahu itu emang terapi nomor satu buat mengatasi trauma, terutama trauma kronis. Hm. He. Cuman kalau di Indonesia belum populer karena untuk dapat sertifikasi ini tuh berat. Oke. Jadi kalau di Indonesia itu belum populer. Cuma ada beberapa orang yang tersertifikasi tingkat Asia. Psikolog. Harus psikolog. Nah, salah satunya adalah psikolog aku yang di Banda Aceh namanya Bu Yulia. Jadi kebetulan kebetulan banget ya Allah. Karena yang lainnya itu semua di Jakarta Bilal. He. Tapi ibu ini kebetulan di Aceh karena memang ee dapat pelatihan dari Jerman waktu kasus tsunami.

38:15 Hmm. buat mengatasi trauma orang-orang Aceh. Nah, jadi ya udah aku terapi itu hampir 20 sesi dan itu termasuk banyak untuk pasien beliau karena apa? Em beliau itu sudah profesional sudah 20 tahunan tapi aku hampir 20 sesi. 20 sesi dalam berapa waktu? Berapa bulan? Oh, enggak setahun ya? Enggak setahun. Jadi ee setidaknya seminggu sekali atau 2 minggu sekali kayak gitu. Emm jadi aku ngerasa banyak banget perubahan. Cuman memang untuk melalui terapi MDR ini terasa berat karena aku ngerasain banyak hal-hal yang aneh selama terapi. Termasuk kamu bayangin ya, kamu bayangin aku bisa mimpi dalam keadaan enggak tidur. Kamu mimpi dalam keadaan enggak tidur, sadar. I itu bukan bukan imajinasi ya,

39:01 bukan. Benar-benar kayak mimpi terus aku tersentak gitu. Oh, kayak di film-film ya. Itu itu adalah hal pertama yang terjadi dalam hidupku. Benar-benar pengalaman pertama. Oke. Bahkan aku ngedengar suara-suara yang itu tuh itu adalah proyeksi dari traumaku. Kalau sebagian orang mungkin bakal takut sih ngalaminnya. Hm. Cuman kalau kata psikologku ya wajar karena trauma aku juga cukup berat gitu ya. Jadi efeknya pun juga bakal terasa. Jadi selama 2 hari setiap habis terapi itu aku biasanya benar-benar kayak shutdown gitu. Karena rasanya, padahal aku enggak ngapa-ngapain nih, tapi setiap 2 hari sampai 3 hari setelah terapi itu rasanya badan capek banget kayak kayak habis lari jauh gitu. Dan itu ternyata adalah cara otak kita

39:48 memproses itu karena otak itu kan sebenarnya juga menguras kalori ya. Iya. Iya. Ya. Nah, jadi ketika diterapi ternyata otak ini berusaha mengurai amikdala. Emosi-emosi yang ketahan amikdala diproses ke perfrontal cortex otak logika. Itu yang membuat capek banget setiap terapi dan tapi lucunya Bilal di tengah-tengah proses terapi aku yang panjang ini, Heeh. banyak hal yang berubah termasuk penyakit-penyakit psikosomatis. Hm. Yang awalnya aku sering infeksi saluran kemi tiba-tiba. Iya. Itu enggak lagi itu aku juga sambil berobat ke psikiater ya karena disarankan sama psikolognya kayak gitu. Jadi aku ke psikiater di RSJ Aceh. He. Terus habis itu juga em saryawanku yang sudah 13 tahun tuh

40:35 enggak lagi sariawan 13 tahun. Heeh. Kamu punya sariawan 13 tahun? Iya. Jadi sebenarnya dari SMA tuh aku juga sering saryawan. Jadi model lain tuh kayak gini. Saryawanku tuh bisa 3 4 l dan itu tuh kalaupun sembuh dia tuh bakal sambil muncul yang baru lagi biasanya. He. Dan aku itu sudah berusaha mencari tahu masalahnya di mana dari awal. Cuman dulu itu kan aku kan enggak punya duit kan buat ee mencari lebih serius gitu. Jadi aku cuma baca-baca doang. Jadi yang kecurigaanku dari dulu itu adalah kurang HB karena aku sempat juga mau dodor darah tapi HB-nya kurang ya. Dan ee masalah tentang terkait darah-darahan ini memang ee termasuk salah satu pemicu sariawan. Heem. Nah, jadi ternyata saryawan pun dalam

41:20 dunia medis itu tuh enggak punya em sebab yang pasti secara medis karena belum diketahui, masih anonim istilahnya. Jadi selama ini kita cuma bisa menduga-duga dan karena aku tahu itu, aku cobalah untuk merincikan apa-apa aja kan yang jadi kemungkinan. He. Dan kemungkinan soal darah udah udah terintriiminasi. Karena pas aku em beberapa tahun terakhir aku ke dokter penyakit mulut juga, dokter gigi penyakit, spesialis penyakit mulut, ternyata darahku normal-normal aja gitu dan enggak ada hubungannya sama darah. Eh, ternyata baru kemudian pas tahun 2025 aku terapi IMDR, eh saryawannya enggak ada lagi. Hm. Hm. Jadi kayak saryawannya itu justru berhenti ketika aku sudah memulai proses

42:06 terapi IMDR, tapi udah agak tengah ketika traumaku yang berat ini udah diproses. Hm. Itu menarik sih karena ternyata kadang kita berpikir sakit kita ini karena ini. Heeh. Padahal kalau kita menyembuhkan sakit yang lain itu kayak connecting the doors-nya bisa menyembuhkan penyakit-penyakit lainnya. Ya, benar. Benar. Dan aku juga baru tahu tuh ternyata ee banyak orang yang ketika mereka sakit terus sudah datang ke banyak dokter yang segala macam dokter spesialis ini, spesialis itu, ujung-ujungnya mereka malah disaranin ke psikiater dan pas di psikiater baru obatnya cocok. Ternyata masalah mereka bukan penyakit fisik, tapi penyakit fisik yang diakibatkan oleh otak mereka

42:52 yang selama ini menahan beban emosional dan enggak sanggup akhirnya muncul sebagai penyakit fisik. Menarik. Aku kirain memang sakit fisik itu solusinya memang pengobatan fisik itu juga mirip-mirip kejadian sama bapak aku sih. Kan bapak aku udah baru 4 bulanan meninggal ya. Hm. aku terus berduka dan aku ikutin kemarin Bilal. Em apa yang terjadi pada beliau? Jadi Bapak aku tuh ee sakit kanker, sakit kanker paru stadium akhir. Pas kita sadar tuh emang udah udah stadium akhir nih. Emm memang bapak aku merokok. Jadi kita secara secara apa ya? Secara enggak sadar memang kita pasti langsung mengaitkannya dengan rokok. Kenapa?

43:38 Karena bapak aku ternyata merokok sejak umur 8 tahun gitu. 8 tahun sampai di usia dia 60-an. Tun 57. 57. Iya. Konsisten ngerokok. Iya. Ini adalah fakta yang aku baru tahu ketika aku terap habis terapi IM MDR nih. Jadi aku selama proses terapi IMDR aku jadi mudah lebih mudah untuk em mengkomunikasikan apa yang aku rasa nih dan aku juga lebih mudah untuk dekat sama bapak aku. Akhirnya entah gimana ceritanya kok bapak aku jadi lebih terbuka. Hm. He. Dan itu pas banget momen-momennya di bulan-bulan terakhir bapakku gitu. Bapakku jadi lebih terbuka. Akhirnya bapakku bilang kalau bapakku lagi udah berapa bulan berhenti merokok. Hm. Itu sebelum masuk masuk rumah sakit ya

44:24 katanya udah berapa bulan berhenti merokok. Aku tanya kan emang dari kapan merokoknya? Dari umur 8 tahun. Dan habis itu aku kan curiga dong. Wah ini kenapa kok bisa umur 8 tahun bisa kayak gitu. Akhirnya aku berusaha untuk ee mengulik apa yang terjadi. Walaupun bapakku mungkin enggak merasa kalau aku tuh lagi mencari tahu kan. He. Bapak aku ternyata cerita ya ternyata bapak aku banyak hal traumatis lah di masa lalu gitu sama orang tua gitu kan yang turun juga jadinya menjadi jadi itulah jadi kayak trauma lintas generasi jadinya. Iya. I kan. Heeh. Jadi, Bapak aku punya trauma yang sangat berat ke orang tua, ke kakek lah, ke kakek termasuk juga ke orang-orang sekitar. Karena ya di umur 8

45:09 tahun akhirnya bapak aku cari pelarian mungkin ya. Jadi aku menganggap bahwa oh di umur 8 tahun itu adalah cara seorang anak kecil mencari cara untuk menenangkan diri. Jadi ketika dapat sesuatu yang bisa jadi koping walaupun itu sebenarnya hal yang enggak bagus, akhirnya keterusan dan ketergantungan kan. Tapi bapak aku sadar kalau itu enggak bagus. Yang bahaya adalah ketika dia enggak sadar ya kan? Iya. Nah, tapi bapak aku sadar tapi susah banget berhenti dari dulu. Akhirnya ee berhenti justru ketika bapakku sudah mulai sakit, bapakku pengin enggak sakit lagi gitu. Terus hal yang lain yang aku dapetin adalah ternyata bapak aku pernah ke psikiater. Hm. Itu saat aku terbuka ke bapak aku, "Pak,

45:55 aku ke psikiater gitu." Bapakku bilang dulu pernah ke psikiater dan dikasih obat tetet gitu yang obatnya itu udah enggak enggak boleh diproduksi lagiah, sudah ditarik dari peredaran karena ternyata obatnya seberat itu. Berat itu ya. Iya. Ternyata aku tercengang lagi nih, ternyata selama ini bapakku punya ee apa? punya masalah mental, tapi bapakku enggak merasa itu. Jadi, bapak aku sangat-sangat denial. H makanya aku mikir kayak betapa bersyukurnya aku karena aku enggak denial sama apa yang aku rasain ketika aku tahu bahwa itu adalah masalah mental. Tapi bapak aku sampai akhir hayatnya masih berpikir apa yang dia alami normal. Masih berpikir bahwa dia layak untuk diperlakukan seperti itu.

46:41 Wajar karena dia nakal. Hm. Kenapa? Karena untuk menerima bahwa selama ini seseorang itu diperlakukan dengan tidak adil padahal dia sudah sudah menganggap bahwa itu normal bagi dia. Ketika dia dikasih fakta bahwa itu enggak normal, kamu harusnya diperlakukan dengan baik, itu akan terlalu berat buat dia karena itu bisa membuat dia jadi depresi. Justru makanya ketika bapak aku bilang normal, Bapak digituin karena nakal. He. Ya udah gitu mau gimana lagi? Makanya bapak aku sampai akhir hayatnya pun ya akhirnya berhenti sih merokok sebelum sakit eh sebelum masuk rumah sakit. Cuma kan sudah terlambat kan

47:26 sudah kena kanker. Jadi aku di sisi lain aku juga menemukan fakta bahwa ternyata penyebab kanker itu masih anonim. Memang sebenarnya banyak pemicunya. Pemicunya adalah racun yang masuk ke dalam tubuh yang kemudian ee menjadi se kanker. Dan itu salah satu penyebabnya adalah ternyata ketika imun tubuh kita itu tuh gagal untuk mencegah itu dan itu disebabkan oleh masalah trauma juga. Wow. ada yang namanya in case cell natural killer. Jadi kalau orang dengan trauma berat, trauma kecil sampai trauma berat itu tuh bisa membuat NK sel-nya itu berkurang drastis dan itulah yang

48:14 membuat penyakit-penyakit termasuk kanker jadi lebih mudah berkembang dengan cepat. Jadi ketika aku sadar bahwa bapak aku ternyata selama ini traumanya seberat itu, tapi dia enggak pernah terapi, enggak pernah berobat serius, cuma pakai obat penenang aja dari psikiater dan itu pun berhenti karena obatnya berhenti juga. Terus habis itu bapak aku dibarengi dengan pola hidup merokok sekian tahun. Gimana mungkin bapak aku bisa itu kan bisa mencegah kanker itu terjadi kan. Heeh. Heeh. He. Kalau memang ternyata ada perpaduan antara masalah mental dengan pola hidup yang kurang baik. Hm. Jadi, aku enggak bisa juga menyalahkan em apa ya istilahnya penyebabnya

49:01 langsung, tapi masalah mental ini juga perlu diperhatikan. Karena ada juga orang yang pola hidupnya jelek tapi entah gimana ya dia sehat-sehat aja gitu. Bisa jadi ada hal lain yang kita enggak pernah perhatiin sebelumnya. Hm. Bisa jadi ada masalah mental yang perlu perlu jadi perhatian kita. Iya. Dan sayangnya orang tua kita mereka hidup di zaman di mana masalah mental itu dianggap enggak ada. Iya. Dan kalau ada pun dianggap gila. Iya. Dianggap gila. Dan sedangkan kita lahir kita tumbuh besar di masa gadget ada informasi bebas. Bahkan kita bisa melihat bahwa bahkan ee sebuah tablet kayak ginian aja itu tuh bisa bisa kena virus, bisa gagal berfungsi dengan baik padahal enggak pernah kelihatan bentuknya. Hmm. Vi, aku minta maaf karena

49:49 aku ingin melanjutkan Heeh. pernyataan kamu terakhir dengan dua poin. Heeh. Poin pertama yaitu kadang momen-momen terakhir kita dengan orang terdekat kita itu bikin kita merasa lebih dekat. Momen terakhir. Heeh. Which is aku pernah bikin pertanyaan ke diriku sendiri. Bayangkan Bill kalau kamu hidup itu sisa 1 tahun lagi, bagaimana kamu akan menjalani hidup? Bagaimana conversation kamu dengan tersayang? Nah, ketika aku mendengar kamu tadi banyak terbuka dengan ayah kamu, ayah kamu juga lebih banyak terbuka dengan anaknya, itu karena memang kita menyadari bahwa kita tidak punya banyak waktu lagi di hidup ini kan. Hm. Bisa jadi.

50:34 Iya. sehingga banyak hal yang tadi terbuka dan iya aku bisa nebak kamu tidak selama ini tidak punya conversation yang dalam sekali dengan ayah kamu kan mungkin sama-sama punya luka luka kita enggak pernah tahu sehingga kayak ada hal yang mungkin kamu juga enggak pernah speak up gitu. Heeh. Dan di fase kamu menyadari bahwa kenapa harus gengsi gitu karena ya ini ayah kita sendiri gitu dan kita enggak banyak waktu lagi untuk ngobrol. That's why tadi kalian saling terbuka dan banyak hal-hal yang kamu bahkan enggak tahu bahwa ayahmu sudah merokok dari umur 8 tahun. Betul. Dan ketika kita menjahitkan anak-anak yang sekarang mungkin merokok, anak siapapun yang merokok itu jangan kita ngejak bahwa ah ngerokok enggak berbahaya. Heeh. Siapa tahu ada fase menghadapi

51:20 fase-fase menghadapi sakit mental atau mental he yang kita enggak pernah tahu. Dan poin kedua yaitu sebenarnya mereka sadar kan mereka sadar rokok itu berbahaya. Iya tapi mereka tetap rokok. Hm. Dan itu lebih baik daripada kita ignorance gitu. Heeh. Atau kita menolak kita avoidance. Iya. Kenapa penting kita sadar? Karena dengan kita sadar, kita enggak mau anak kita ngerokok kan. Iya. Nah, jadi aku yakin ayah kamu walaupun dia ngerokok dan karena dia sadar dia enggak mau anaknya juga ngerokok. Benar. Benar. Dan banyak orang itu enggak susah untuk berhenti karena memang kayak kamu bilang tadi, oh mungkin ini coping mechanism-nya. Heh. Dan aku makanya dari awal tidak lagi ngejak seseorang.

52:05 Iya. Setuju banget, Bilal. He. Enggak bisa kita nge-judge. Emang kita enggak tahu kan apa yang selama ini orang itu hadapin. Hm. Kalau balik ke kamu lagi setelah kita ceritain tentang ayah tadi, apa penyesalan yang paling berat di hidup kamu yang di mana kamu alami sekarang dan kalau ada bagaimana kamu berdamai dengan penyesalan itu. Dan menurut aku hidup ini memang tentang meminimalisir penyesalan ya. Karena kita tahu nanti kita akan meninggal. Karena kita tahu nanti kita akan semakin tua. Jadi di waktu muda coba pakai sebanyak waktu,

52:51 sebanyak mungkin waktu dengan orang terdekat kita. Dan apa fase penyesalan kamu dan kamu enggak ingin ulangi lagi? Fase penyesalan. Ya, aku agak harus mikir untuk ini. Kenapa? Karena seringkiali nih aku ngerasa nyesal, tapi rasa sesal tuh cepat banget hilangnya. Kenapa? Karena akhirnya aku sadar kalau aku tuh enggak bisa berbuat apa-apa untuk rasa sesal itu. Tapi kalau emang ada hal yang bisa aku ubah gitu ya, aku berharapnya aku tuh dulu enggak sedinal itu sama perasaan aku. Hm. Kenapa? Karena mungkin aku bisa lebih bisa apa ya istilahnya lebih bisa memperhatikan orang-orang sekitar aku

53:38 kayak orang tuaku. Ternyata bapak aku selama ini mengalami hal-hal yang berat dalam hidupnya. Tapi orang-orang melihatnya melihat bapakku nakal aja gitu. H mungkin mungkin dari sekian banyak orang yang bapak aku kenal, aku adalah orang yang paling bisa mengerti kenapa dia seperti itu. Dan jujur kamu enggak pernah enggak pernah sori aku potong ya. Jujur kamu enggak pernah membenci beliau atau kamu pernah di fase membenci beliau karena normal seorang anak itu membenci ayahnya. Kan waktu kecil mungkin ayahnya pernah kayak marah. Tapi kalau kita udah dewasa kita tahu kenapa ayah kita marah ke kita gitu. Tapi anak kecil kan enggak tahu sehingga dia bisa aja membenci, "Ah, kenapa ayah seperti ini? Aku akan membalas ayahku ketika gua dewasa gitu." Kamu pernah di fase itu atau kamu emang sudah menyadari itu dari kecil bahwa

54:25 ayah aku seperti ini, mungkin karena dia seperti ini. Enggak sih, pasti ada fase-fase di mana kita marah sama orang tua. He. Termasuk orang sama bapak aku juga kan. Emm. Cuman, nah bedanya nih aku marah, habis itu aku ya udah aku menekan perasaan itu dan akhirnya hari-hariku berjalan seperti biasa. Baru kemudian pas aku terapi aku sadar bahwa selama ini aku bukan enggak marah, bukan enggak sedih, tapi ya selama ini aku menutup dari rasa itu. Makanya aku sempat agak ada yang aku amnesia gitu. Ada kejadian iya aku sempat ada amnesia apa namanya ya amnesia disosiatif. Jadi ketika seseorang punya trauma yang cukup besar, yang cukup ekstrem gitu

55:11 kejadiannya, itu tuh ada bisa aja em otak membuat mekanisme di mana otak itu mematikan memori itu. Hm. Supaya apa? Supaya kita tuh enggak terlalu terbebani dengan itu. Jadi, ada kejadian yang sebenarnya itu harusnya enggak aku lupain, tapi justru aku sadarnya itu aku ingatnya dari temanku. Ternyata aku pernah cerita ke temanku ini loh, Fi, ternyata kamu kan pernah cerita kayak gini. Hm. Jadi, temanku ngomong kayak gitu dan aku baru sadar, oh ternyata ini loh memori yang hilang itu. Ternyata selama ini kayak gini. Oke. Oke. Mungkin memori yang hilang itu ditukar sama memori lain ya. Mungkin iya memori buruk gitu ya atau digantikan dengan memori yang terasa lebih ringan kalau di aku kasusnya. Oke. Tapi ee banyak orang ternyata secara psikologis juga ee ada ada penelitiannya

55:56 bahwa orang yang terlalu banyak menekan perasaan, terlalu banyak merasionalisasi emosinya itu bakal lebih cenderung untuk jadi pelupa. Hm. Kalau di aku kasusnya tadi berganti malah memorinya. Tapi ada orang-orang yang juga lupa gara-gara menekan perasaan kayak gitu. Dan apakah aku pernah marah? ya pernah marah kan sama orang tua. Cuman pada akhirnya emm aku semakin sadar bahwa oh ternyata gimana caranya aku bisa membenci orang tuaku, gimana bisa aku menyalahin mereka kalau pada akhirnya aku punya privilege yang lebih untuk bisa mengerti ini. Hmm. Di saat mereka enggak punya pilihan lain karena mereka enggak tahu sebelumnya kalau cara

56:42 mungkin parenting zaman dulu kan enggak seperti sekarang juga kan. Terus juga em masalah mental juga mereka kan enggak pernah tahu. Tapi aku dengan segala privilege yang aku punya, bagaimana bisa aku membenci orang yang enggak punya hal yang sama gitu. Ya, mau enggak mau akhirnya aku bisa menerima gitu. Setelah aku memproses emosiku, aku jadi lebih bisa menerima juga. Ternyata aku perlu memaafkan diriku sendiri juga. Hm. Enggak cuma orang tua, enggak cuma orang-orang yang menyakitin, tapi aku juga harus perlu dimaafkan. Kenapa? Karena aku selama ini terlalu denial sama apa yang aku rasa dan udah waktunya aku memaafkan diriku

57:28 yang seperti ini yang terlalu banyak meninggalkan diriku sendiri. Itu poin yang bagus. Selama ini orang berpikir privileg itu hanya soal uang, he relasi, barang. He. Tapi kamu menganggap privilege kamu yaitu kecerdasan emosional ya. Iya. He itu adalah privilege yang besar banget sih rasanya. Ada tiga pertanyaan dari teman-teman suara berkelas. Pertanyaan pertama dari Nailul_. banyak nih. Ada 6 und Nailul. ke aku punya tekad untuk kuliah di tahun ini, tapi lingkunganku tidak mendukung sama sekali. Apa yang harus

58:14 aku lakukan? Hmm. Enggak mendukung ini maksudnya mungkin enggak mendukung dalam artian kuliahnya jauh enggak sih tadi? Enggak ya? Enggak dibilang. Dia enggak bilang mungkin dari sisi kurang support dari keluarga kali ya. Maksudnya iya mungkin secara finansial segala macam ya. Kalau memang masalahnya finansial ini paling banyak sih terjadi karena itu juga kan yang terjadi di aku dulu. Cuman yang terjadi di aku adalah mungkin pertama kali nih perlu kita pastiin dulu, kita tentuin dulu masalah utamanya apa. Apakah itu masalah finansial kah, support orang tua kah, karena apa misalnya. Oke, kalau masalahnya finansial kita cari solusi ini. Mulailah kita mencari ee solusi-solusi dari finansial ini. Oke. Beasiswa. Beasiswa ada apa aja? Bidik misilah. atau beasiswa unggulan lah.

59:00 Terus mana yang kita kira-kira kita paling bisa ikutin, paling cocok sama kita? Jadi cara aku ee mencari solusi itu selalu dari pertama tentuin dulu rumusan masalahnya. He. Apakah itu finansial, apakah itu ee support orang tua. Oke, tadi finansial udah. Nah, baru habis itu kita bisa tahu kira-kira solusi apa nih yang bisa dipakai, ada apa aja kita tentuin. Nah, habis itu baru kita cari mana yang kira-kira paling cocok sama diri kita. Oke. Misalnya ee enggak terlalu berprestasi tapi memang kurang mampu, ya sudah pakai bid pakai KIP kuliah. Kalau zaman sekarang kalau dulu bidik misi atau ternyata em oh aku punya prestasi nasional ya udah beasiswa unggulan cobain. Nah setelah kita nentuin baru tuh kita cari tahu riset di Google di

59:45 website-nya baru kita mulai bikin timeline. Oke aku daftar ini, ini tanggal segini segini segini itu untuk finansial. Tapi kalau masalahnya adalah support karena misalnya orang tua enggak ngasih jauh-jauh, sedangkan kita pengin kuliah jauh-jauh. Iya. Nah, perlu kita cari tahu juga nih kira-kira orang tua enggak supportnya karena apa? Hm. Apakah karena oh ternyata kalau jauh-jauh nanti ee enggak percaya sama anaknya, takut anaknya kenapa-napa atau mungkin takut anaknya terlalu bebas. Nah, kalau kita sudah tahu, oh ternyata orang tua kita ee takut kita kenapa-napa di sana, kita bisa coba yakinin. He. Nah, ini juga pernah terjadi nih sama teman kita waktu dulu SMA. Jadi, kan aku bilang kalau aku tuh pengin banget kuliah ke luar Aceh, ke Jawa. Oke. Oke. Nah, terus teman kita Vina

1:00:32 yang yang sebelah namaku yang di UGM. Iya. Dia awalnya orang tuanya enggak ngasih. Tapi aku kan aku kan kayak ee suka cerita sama dia kalau betapa aku penginnya kuliah keluar Aceh. Terus dia jadi kepengin juga kan. Akhirnya dia ikut ikut untuk daftar ke luar Aceh walaupun orang tuanya enggak bolehin dan akhirnya em dia lolos dan akhirnya dapat juga sebenarnya dapat restu juga dari ibunya. Kenapa? karena ee di-support sama keluarga yang lain. Oke. Jadi, seringki orang tua itu kalau enggak ngasih sebenarnya masih bisa kita cari cara untuk ngeyakinya. Tergantung enggak ngasihnya itu karena apa. Kalau memang karena oh takut kalau anak kita enggak mandiri terus kenapa-kenapa di sana. Ya udah gimana kalau kita pas

1:01:19 di kota tujuan coba cari em komunitas-komunitas yang bisa ibunya percaya. Hm. Misal apa? Em komunitas yang dari daerah yang sama kan banyak tuh paguyuban-paguyuban. Nah, ini loh, M. Ee ada paguyuban ini daerah-daerah kita di sini kenalin. Nah, seringkiali kita itu terlalu fokus ke perasaan orang tua. Hm. Terlalu fokus ke keputusan. Kenapa? Ee keputusan di mana kita tuh enggak boleh ngelakuin sesuatu, tapi kita lupa untuk mencari tahu kira-kira apa yang masih bisa kita negosiasiin. Iya. Iya. Karena POV orang tua juga dia sayang kepada anaknya sehingga dia memakai kacamata dia bahwa jauh-jauh bahaya entar kalau kenapa-napa gimana kan. Iya betul. Nah, jadi beda ya antara ee

1:02:05 masalah em finansial kayak yang terjadi di kasusku. Aku boleh ke mana aja tapi enggak bisa di-support secara finansial. Jadi otomatis aku harus mencari itu. Tapi ketika masalahnya bukan finansial melainkan di restu orang tua, yang perlu kita cari tahu adalah kenapa enggak dibolehinnya dan gimana cara kita meyakinkan supaya dibolehin gitu. He he. Alright, kita ke pertanyaan kedua. Pertanyaan kedua dari Dwi Utari. Heeh. Kak Vivia, gimana caranya Kakak bisa survive menjalani hidup dan gimana caranya bisa tetap percaya diri dan kelihatannya independen? Wow. Apakah terlihat seperti aku selalu kuat?

1:02:53 Kelihatannya seperti itu ya? Iya. Kelihatannya kali ya. Kelihatannya gitu ya. Mmm sering jadi bias sih buat kita semua. Kita mungkin ngelihat seseorang itu wah kuat banget. Gimana ya caranya biar aku bisa seperti dia? He. Tapi kita lupa nih untuk merhatiin bahwa hal-hal yang susah itu seringkiali enggak dikasih lihat gitu. Jadi, emm daripada bertanya tentang apa cara tips aku gitu yang bisa jadi itu malah ee membuat kita membandingkan diri sendiri, mungkin bisa dilihat gimana kita sendirinya dulu nih. Kalau di aku, kalau di aku, aku harus jujur kalau sebenarnya ya seperti yang kita sudah bahas tadi kan kita aku sebenarnya ada momen-momen aku enggak se enggak sekuat itu gitu

1:03:40 ternyata. Iya kan? Tapi ternyata kuncinya itu bukan kita harus jadi orang yang kuat gitu. Kuncinya itu bukan bukan saat kita itu harus kelihatan selalu bisa, selalu maksimal dalam hal apapun. Enggak. Justru kuncinya adalah di saat kita mau menurunkan ego serendah-rendahnya. H saat kita itu enggak bisa ngelakuin sesuatu, saat kita enggak bisa merasa puas akan sesuatu, ya enggak apa-apa akui aja itu. H makanya emm aku menyadari bahwa aku adalah salah satu orang dengan ego yang paling rendah kayaknya. Iya. Aku ngerasa seperti itu. Jadi ketika aku ketemu sama orang yang egonya tinggi, aku bisa mengalah. H

1:04:25 dan menurut aku itu adalah salah satu kekuatanku. Karena di saat aku menetapkan egoku yang rendah itu membuat aku ya udah enggak apa-apa kalau aku enggak berhasil. Tapi tetap harus berusaha. Berusaha bukan karena aku pengin diakuin, tapi karena memang Tuhan meminta kita untuk berusaha aja tanpa memikirkan hasil. Hm. Sama kayak contohnya kasus bapak aku kemarin. Jadi kan aku selama 5 bulanan tuh sejak bapak aku diagnosis kanker stadium akhir. Karena bapak aku sebelumnya enggak mau ke rumah sakit kan. Jadi keluarga besar itu tuh sudah menyerah. Jadi nganggapnya ee ngapain dibawa ke Biren ke Banda Aceh itu malah membuat capek gitu. Membuat bapakku capek lebih baik menikmati hari-hari terakhirnya di sini. Wah, berat sih.

1:05:13 Hibiren. Nah, sedangkan aku punya pemikiran yang berbeda dan aku bilang bahwa em aku enggak peduli dengan hasilnya nanti apa, apapun hasilnya aku udah ikhlas. Hm. Karena apa? Karena Tuhan enggak pernah meminta aku untuk memikirkan hasil. Tuhan enggak pernah meminta kita untuk memikirkan takdir. Iya. Tapi yang Tuhan selalu minta ke kita adalah ikhtiar berupaya. Apapun hasilnya nanti serahkan aja ke sana. Makanya aku bilang sama adik-adik aku kayak gitu. Kita bantu bapak-bapak rujuk ke Banda Aceh, habis itu dari Banda Aceh ke Medan. Itu adik loh aku sama adik-adik aku h yang ngurusin karena keluarga juga udah enggak enggak tega juga kan.

1:05:58 Iya. Aku lihat videonya. Nah, itu. Jadi, aku bilang sama adik-adik aku ini kita apapun hasilnya nanti mau Bapak bisa sembuh ataupun ternyata enggak, yang penting kita sudah berusaha. Kita bukan mencari hasil akhir. Karena memang Allah enggak pernah minta kita untuk memikirkan hasil dan takdir, tapi Allah selalu bilang sama kita ikhtiar. Dan itu yang membuat aku enggak menyesal. Ya, itu I love that. Aku aku itu yang tadi aku ingin tekankan bahwa karena kita sudah berupaya Heeh. walaupun hasilnya mungkin tidak sesuai ekspektasi tapi tidak ada penyesalan karena you did your best kan. Dan di hari aku melihat jasad bapakku yang aku bisa lakukan adalah aku mendekat, aku senyum

1:06:46 dan aku ngelus bapakku. Aku bilang, "Alhamdulillah ya, Pak, masih bapak masih Allah kasih nikmat sakit." Hm. Dan hal yang paling aku syukuri justru adalah karena di tahun-tahun terakhir Bapak aku hidup, Bapak aku sempat bertobat dari dari yang awalnya enggak pernah ee apa jarang salat. Terus juga pokoknya jadi lebih baiklah karena Bapakku kan sempat jadi wali nikah. Hm. Dan ketika jadi wali nikah kan harus harus enggak fasik kan. Bapak aku berusaha keras ternyata. Aku awalnya enggak nyangka kalau bapak aku bakal benar bertobat. H dari situ makanya aku sangat bersyukur karena pernikahan aku menjadi jalan buat bapak aku sadar bahwa bapak aku harus

1:07:31 berobat dan ternyata itu bertahan sampai sekarang selama 6 tahun sampai akhirnya bapak aku kembali ke sana. Mm. Dan fase kitok tadi juga. Iya kuid rokok juga. Iya. Makanya aku bersyukur banget dan aku bisa bilang bahwa yang bikin kita kuat itu bukan saat kita berusaha terlihat sempurna. Enggak. Enggak perlu terlihat berusaha terlihat sempurna enggak. Kalau orang di luar sana terlihat sempurna percaya deh sama aku. Sebenarnya aslinya dia banyak masalah juga loh. Pastilah. Pasti. Iya kan? H. Jadi cara pertama untuk jadi kuat adalah ya yakin dengan apa yang kamu mau, yang kamu mau dan kamu bisa dengan potensi-potensimu. Tapi jangan pernah

1:08:16 abaikan kekurangan dan kelemahanmu. Akui bahwa itu ada dan berusaha untuk memperbaiki itu pelan-pelan. Kata kuncinya acknowledge mengakui. Semakin kita mengenari i kelemahan kita dan kelebihan kita, semakin kita punya integritas dan kita enggak gampang digoyahkan oleh bada-badai omongan orang. Iya. Kebencian-kebencian orang. Itu yang membuat kita kuat. I nyambung dengan pertanyaan ketiga. Apa itu? Pertanyaan ketiga dari Mayira HF_. Cara mengurangi rasa insecure dan bisa tetap percaya diri. terutama kita tahu bahwa orang-orang di sekitar kita tidak suka dengan kita. Oh, tidak suka. Wow. Mmm, aku bisa bilang bahwa kita emang enggak bisa

1:09:05 cocok sama semua orang. He. Setiap orang punya ruang mainnya masing-masing. Dan hanya karena emm kita merasa bahwa kita itu perlu punya banyak teman, bukan berarti semua ccle bakal masuk ke kita. Oke. He. Jadi, ada kalanya memang em kita yang seperti ini enggak disukain sama seseorang. Tapi ternyata di luar

…

Share

Ringkasan Video YouTube