#Eps1 | Al-Quran Dibaca Untuk Dipahami Lalu Menjadi Petunjuk

Ringkasan Singkat

Video ini adalah perbincangan antara dua orang yang berbagi pengalaman mereka dalam belajar dan memahami Al-Quran. Mereka membahas bagaimana metode pembelajaran yang mereka temui mengubah cara pandang mereka terhadap Al-Quran, dari sekadar bacaan menjadi pedoman hidup yang dapat dipahami dan diamalkan. Beberapa poin penting yang dibahas meliputi:

  • Perubahan paradigma dari menghafal Al-Quran untuk mendapatkan pahala menjadi memahami dan mengamalkannya sebagai petunjuk.
  • Pentingnya berpikir kritis dan terbuka terhadap berbagai interpretasi Al-Quran.
  • Pengalaman pribadi dengan guru dan metode pembelajaran yang memudahkan pemahaman Al-Quran.
  • Konsep "Umi" yang berarti bebas dari konsep dan dogma yang menghalangi pemahaman Al-Quran.

Pembukaan: Pertemuan dengan Al-Quran

Kang Abu dan Mas Soni memulai program "Ngaji Bareng" dengan membahas awal mula mereka tertarik untuk belajar Al-Quran. Mas Soni menceritakan pengalamannya mengalami amnesia dan perjalanannya ke Mekkah, di mana ia mendapat petunjuk untuk mencari guru yang akan membimbingnya memahami Al-Quran. Kang Abu, di sisi lain, merasa bosan dengan pengajian yang hanya berisi dongeng dan tidak masuk akal, hingga akhirnya bertemu dengan guru yang mampu menghubungkan ayat-ayat Al-Quran secara logis.

Perjumpaan dengan Guru dan Metode Pembelajaran

Mas Soni bertemu dengan Pak Arif Mulyadi yang memiliki metode pembelajaran Al-Quran yang mudah dan berbeda. Kang Abu bertemu dengan Kang Ipay yang membuatnya tertarik karena kemampuannya menghubungkan ayat-ayat Al-Quran. Keduanya sepakat bahwa metode pembelajaran yang mereka temui mengubah cara pandang mereka terhadap Al-Quran, dari sekadar bacaan menjadi pedoman hidup. Mereka menekankan pentingnya memahami isi Al-Quran agar dapat diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari.

Perubahan Mindset dan Pengalaman Pribadi

Kang Abu dan Mas Soni berbagi pengalaman mereka tentang bagaimana pemahaman Al-Quran mengubah mindset mereka. Kang Abu yang dulu menganggap Al-Quran hanya untuk orang Islam, kini menyadari bahwa banyak ajaran di dalamnya yang universal. Mas Soni yang dulu membaca Al-Quran hanya untuk mendapatkan pahala, kini lebih fokus untuk memahami dan mengamalkannya. Mereka juga membahas tentang pentingnya belajar bahasa Al-Quran, namun dengan metode yang memudahkan pemahaman tanpa harus menghabiskan waktu bertahun-tahun.

Kisah Tukang Pisang dan Esensi Petunjuk

Kang Abu menceritakan kisah Pak Arif Mulyadi yang belajar Al-Quran dari seorang tukang pisang. Tukang pisang tersebut menekankan bahwa Al-Quran adalah petunjuk, sehingga harus dipahami agar dapat menunjuki kita. Mas Soni menambahkan bahwa membaca Al-Quran hanya untuk mendapatkan pahala tidak ada dasarnya dalam Al-Quran. Tujuan utama membaca Al-Quran adalah untuk mendapatkan petunjuk dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dogma, Kekeringan, dan Pemahaman yang Mendalam

Kang Abu dan Mas Soni membahas tentang bagaimana mereka menjadi "korban" dogma dan doktrin yang membuat mereka merasa kering setelah membaca Al-Quran. Mereka menekankan pentingnya validasi dan landasan dalam belajar Al-Quran. Kang Abu merasa nyaman dengan metode yang menekankan pemahaman dan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Mas Soni menambahkan bahwa pemahaman yang mendalam membuat mereka yakin dan tidak hanya sekadar ikut-ikutan.

RA Kartini dan Pentingnya Terjemahan Al-Quran

Kang Abu menceritakan tentang RA Kartini yang tercengang setelah mengetahui isi Al-Quran dari Kiai Saleh Darat. Kiai Saleh kemudian menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa atas saran RA Kartini, sehingga orang-orang mulai memahami artinya. Mas Soni menambahkan bahwa mengucapkan "Sadaqallahulazim" setelah membaca Al-Quran seharusnya dilakukan setelah mengalami kebenaran Al-Quran dalam kehidupan, bukan hanya sekadar membaca.

Al-Quran di Dada dan Konsep "Umi"

Mas Soni menjelaskan bahwa Al-Quran seharusnya ada di dalam dada, bukan hanya sekadar buku. Ia mengaitkannya dengan perkataan Nabi Muhammad tentang "hadza siratim mustaqim" yang menunjuk pada sesuatu yang belum berbentuk buku. Kang Abu menambahkan bahwa syarat untuk memahami Al-Quran adalah open mind, open heart, dan open belief. Mereka juga membahas konsep "Umi" yang berarti bebas dari konsep dan dogma yang menghalangi pemahaman Al-Quran.

Berpikir Kritis dan Menggugurkan Dogma

Kang Abu dan Mas Soni sepakat bahwa pembelajaran Al-Quran seharusnya mengajak untuk berpikir kritis dan berdialektika. Mereka menekankan pentingnya menggugurkan dogma, doktrin, dan dongeng yang menghalangi pemahaman. Kang Abu menambahkan bahwa melepaskan diri dari dogma bukanlah hal yang mudah jika tidak mau berpikir. Mas Soni menutup perbincangan dengan mengucapkan terima kasih dan menekankan bahwa mereka adalah sesama murid yang saling belajar.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Nabi Muhammad dulu mengatakan hadza siratim mustaqim gitu atau tilka ayatu kitabum mubin gitu. Itu kan kata-katanya ini adalah ini adalah itu adalah ini kan nunjuk sesuatuah nunjuk sesuatu dan bukunya waktu itu belum ada. Benar kan adanya baru 12 tahun setelah dia wafat dibukukan zaman Khalifah Utsman. Ini berarti barangnya belum ada nih. Dia nunjuknya ke mana? Benar Pak kan ke sini gitu. [Musik] Asalamualaikum. Selamat datang di Ngaji Bareng dari lisan menuju kesadaran. Ini program baru dan sangat bahagia sekali untuk memulai program ini karena ini akan kembali ke 2012 di mana pertama kali saya ketemu Mas Soni itu

0:46 dipertemukan oleh Quran. Nah, jadi ini kita lagi mengulang memori nih pembelajaran kita 13 tahun yang lalu ya, Mas. Iya. Jadi 13 tahun yang lalu ee saya dipertemukan sama Mas Soni di sebuah pembelajaran karena pada saat itu lagi pengin beneran banget ngerti Quran itu seperti apa sih dan dalam pembelajaran itu ketemulah Mas Soni. Nah, jadi di program ini, di pembelajaran ngaji bareng ini, kita akan review dari apapun yang kita hasil dari pembelajaran sehingga kita bisa berbagi dari metode, dari tata cara, dari pemahaman. Intinya kita terus bertambah dan bertumbuh untuk saling menambah ilmu dan yang paling terpenting adalah selalu meng-update pemahaman-pemahaman. Nah, Mas ini kan kita waktu awal belajar Quran kok mau

1:32 belajar Quran ngapain sih Mas waktu itu, Mas? Jadi itu aku tuh tahun 2008 itu ya aku pernah ngalamin peristiwa amnesia lah gitu ya. Kayak pernah diceritain ya. Iya pernah diceritain gitu ya. Terus kemudian waktu amnesia itu kemudian saya mm memverifikasi pengalaman saya waktu amnesia itu dengan ke Makkah gitu. H lalu ke Makkah lalu kemudian saya naik ke gua Hiro. Saya meditasi cukup lama 8 jam gitu ya. Lalu kemudian setelah itu saya balik dari Gua Hiro ke Masjidil Haram. Lalu di situ saya ee berkontlasi dan ada satu orang gitu yang saya lagi buka Quran kebetulan gitu. Lalu ada orang yang ngasih tahu saya bahwa akan ada guru yang akan datang gitu untuk

2:19 ngajarin saya. Oke. Itu kira-kira bulan apa itu ee Mei gitu ya. Ya, ini Mei kan ya? Mei. Lalu kemudian ee enggak berapa lama itu kira-kira bulan Juli, Agustus itu di Agustus gitu saya ketemu saya diajak pengajian ke pengajian di daerah ee waktu itu di antara jeda itu saya ngelihat beberapa guru. Jangan-jangan nih gurunya jangan-jangan guru bukan. Heeh. He. Sampai akhirnya saya ketemu seseorang e bulan Agustus September itu namanya Pak Arif Mulyadi gitu. He. He. Pak Arif Mulyadi itu lagi ngasih pemahaman di daerah tanah kusir gitu. Oke. Itu pertama kali saya ketemu beliau gitu. Nah, Pak Arif ini metodenya

3:05 kok ee mudah gitu dan kok beda banget gitu sama yang lain-lain gitu. Jadi akhirnya kemudian saya datang ke rumahnya di daerah Bogor situ dan ee mulailah kita ee saya menjadi muridnya beliaulah gitu untuk kemudian gimana cara belajar Quran. Nah, itu kira-kira saya ketemu beliau lagi dari itu berarti Agustus. Saya ketemu beliau lagi tuh di bulan Desember awal lama tuh saya kan waktu itu masih kerja ya, Kang Abu ya. Jadi ada bisnis trip ada ke mana ke mana gitu. Jadi enggak sempat di Desember itu saya ketemu lagi di rumahnya Pak Arif. Jadi saya ketemuan yang kedua tuh. Lalu kemudian akhir tahun saya liburan gitu. Lalu awal2 2009 saya ketemu lagi sama Pak Arif

3:51 sekali lagi dan di pertengahan Januari itu saya sudah ngisi pengajian cepat banget. Cepat banget gitu. Oke. Jadi dan pengajian tuh by accident. Jadi waktu itu ee saya ngundang orang untuk ngisi pengajian orangnya enggak datang gitu. Lalu saya bicara. Waktu saya bicara itu loh, kok saya bisa bicara Quran sesuatu yang sebelumnya saya enggak pernah baca gitu. H nih what's happen gitu loh. Kok bisa gitu. Oke. Jadi ternyata pada waktu itu bisa langsung apa namanya ngasih ngisi pengajian dan akhirnya saya makin lama makin belajar sama Pak Arif dan teman-teman saya ketemu akhirnya sama Cak Nur sama ee banyak deh Kang Iip segala macam tuh ya. Kang IP almarhum IP almarhum macam-macam yang kebetulan jadi satu circle gitu di pemahan Pak Arif

4:39 Mulyadi ini. Nah, Kang Abu muncul gitu ya, ada Kang Adipura gitu ya. Terus akhirnya kita akhirnya jadi satu tim untuk ee membuat pemahaman Quran lebih mudah dengan cara yang ternyata ada di Quran semua gitu. Oh, itu menarik sih. Iya. banyak sekali dogma doktrin mindset saya tuh berubah total gitu. Oh, ternyata ee orang yang dijanjikan di Makkah itu adalah Pak Arif Mulyadi yang benar-benar bisa membuka saya untuk membaca Quran dengan cara yang sangat sangat mudah. Wah, keren sih gitu. Benar. Benar. Kak kamu sendiri gimana? Nah, sama sih, Mas. Jadi kan ee paling malas ikut pengajian lah ya. Si mama tuh suruh ikut pengajian. setiap ngaji itu

5:25 kayak yang ya balik lagi ya ee dongeng gitu loh, Mas. Didongengin lah, didongengin dan kadang-kadang kan enggak make sense, enggak masuk akal ya. Kadang-kadang aku cuma nemenin mama gitu ya, ya udah gitu. Nah, di satu saat sudah mulai bosan jadi udah malai-malas. Tapi waktu itu ada di satu momen aku ingat banget itu di Hegar Manah. He. Jadi kalau orang Bandung tuh pasti tahu Hegar mana 10 lah itu ee apa ya induk semangnya pengajian itu itu pokoknya pengajian besar di Bandung di Hegarmana 10. Mama bilang antar pengajian dong dan yang ini gurunya seru lah. Ya udahlah ya gitu tipikal lah paling gitu kan. Nah begitu pengajian aku enggak mau masuk Mas. Nah pada saat itu yang ngisi Kang ipay almarhum IPar. Zulfikar Lantoresano. Itu namanya memang unik sih. Nah.

6:11 Habis gitu aku duduk di luar aja sambil ah udahlah santai gitu ya ngopi gitu. Tapi begitu aku dengerin nah ini agak beda nih. He karena lucu Mas. Dia bisa menyampaikan satu ayat dikaitkan ke ayat berikutnya dikaitkan ke ayat berikutnya dikaitkan lagi. Dan setiap pertanyaan itu ada ayat, ada ayat, ada ayat, ada ayat. Nah, dari luar nih aku mulai rada masuk masitu. Wah, ini menarik nih. Karena yang membuat aku menarik sebetulnya bukan kajiannya, bukan ayatnya. Yang membuat aku menarik pertama adalah kok dia bisa tahu ayatnya di sini langsung aku pesulap, Mas. Ya, jadi ini triknya apa nih gitu. Langsung mikirnya ke situ. Ini triknya apa gitu. Kok dia bisa tahu si ayat ke sini loncat

6:57 ke sini dia enggak lihat catetan, dia enggak buka. Tapi begitu nanya relate-relate. Nah, di situ Mas pertama kali begitu langsung ada pertanyaan aku langsung angkat tangan tuh. Heeh. Pertanyaan aku nomor satu, satu, Mas, gimana caranya kayak gitu? Gitu. Jadi enggak nanya materi, tapi gimana caranya kayak gitu? Nah, dari situ mulai tuh He. Mulai ngerti yang selama ini mungkin baca Quran hanya bunyi gitu ya, baca Quran tuh cuman dihafal. Dan sejujurnya hampir usia berapa tuh 20 something, 25 something itu ya, aku tidak bisa menjadikan Quran sebagai pedoman karena enggak ngerti sama sekali isinya gitu. nya kan bahasanya meskipun khataman sering gitu ya kita punya acara simaan yang bisa khatam dalam sehari ramai-ramai dan seterusnya tapi kering gitu Mas. Nah setelah ngerti dari Kang

7:42 IPA ini mulai dipelajari ya ampun ternyata baru ngerti bahwa Quran dimudahkan dengan bahas bahwa Quran itu ternyata berkaitan satu sama lain dan intinya aku yang paling mind blowing adalah Quran adalah pedoman bagi manusia gitu. Wah iya benar itu tuh aku kan aku dulu mindsetnya dari pelajaran EB tanas zaman aku EB Tanas ya kitab suci umat Islam Quran, Injil Tripitaka Quran mindsetnya bahwa ah Quran tuh untuk orang Islam gitu tapi begitu buka Qurannya sendiri nah ternyata banyak hal yang beneran aku baru tahu selama pegang Quran t di situ yang mungkin juga kalau bicara tentang riset sampai hari ini itu yang mengawali kenapa nih ya kok Quran banyak dibunyikan tapi tidak terimplementasikan karena ya itu tadi Betul. Kita cuman diajarin hanya bunyi

8:29 hafal, tapi enggak ngerti bunyinya apa dan bahasanya bahasanya susah dan melalui metodologi ini jadi ya memudahkan dan akhirnya ya belajar sampai akhirnya aku tuh mulai 2010 berarti aku ketemu 2 tahun setelah itu baru ketemu Mas Sononi di 2012 sudah ingat banget. Iya 2012 2012 something lah gitu masih syuting di RCTI. di RCTI itu masih sama Mas syuting balik gitu kan waktu itu sampai pokoknya waktu belajar ke rumah Mas datang-datang jam 0.00 pulang jam . gitu. Wah itu seru banget dan nagih gitu ya kayak haus banget. Ternyata ayat ini juga punya spektrum yang luas. Ayat ini punya pemahaman yang luas dan akhirnya ya itu tadi bahwa ternyata satu demi ayat demi ayat demi ayat bisa terangkai. Nah itu makanya dari sekitar 2010 kalau masaani

9:16 beberapa bulan gitu ya. Aku mungkin baru 2013, 2014 tuh baru bisa nyampein lah ya gitu. Maksudnya ternyata ada yang ada komunitas-komunitas yang juga perlu pemahaman ini yang lebih dalam gitu, Mas. Nah, akhirnya ya udah di situ beneran mencintai Quran bukan hanya sebagai buku, bukan hanya sebagai bacaan, tapi this is guidance gitu. Akhirnya kan 2013-214 aku bikin buku hukum langit namanya. Oh, oke. Nah, buku hukum langit itu perjalanan dari aku dari enggak ngerti sampai lumayan belajar sampai ngerti dan itu membuat opening lah gitu ya. Bahwa ternyata ternyata semua orang tuh bisa menyelami Quran gitu, Mas. Iya, bisa. Itu yang menarik Masik karena kan selama ini dogma doktrinnya gitu ya harus ini dulu, harus ini dulu. Meskipun nanti kita tahu juga kita saling melengkapi gitu. Dan

10:03 terutama buat aku obstacle yang paling besar adalah bahasa kan. Bahasa ya. Itu mikir gini, Mas. Kalau belajar bahasa dulu perlu 5 6 7 tahun misalnya 10 tahun terus ya enggak ngerti isinya dan seterusnya. Nah, ternyata metodologi yang diajarkan oleh Pak Arif Mulyadi ini yang disebut ayat bil ayat ini ternyata wah ini at least selama kita belajar juga mendalami juga tapi yang menurut aku adalah kita bisa simultan paham ngerjain gitu. He paham ngerjain kan. He yang pemahaman aku ya bahwa Quran itu kan outputnya jadi perilaku gitu loh Mas. Dan gimana akan jadi perilaku kalau enggak ngerti gitu. Nah, di situ jadi quot and qu kecanduan gitu, kecanduan ayat gitu. Ketemu Mas Soni punya perspektif yang berbeda, ketemu Cak Nur

10:49 punya perspektif yang beda. Aku pernah sebentar mondok di Babuamnya Cak Fauzani misalnya kan. Wah, Fauzani ya kiai besarlah ya. I yang secara struktur bahasa apa. Wah. Jadi ternyata selama ini pengetahuan tentang Quran yang dari kecil dikasih tahu bahwa ini pedoman enggak ada apa-apanya karena boro-boro menyelami isinya, boro-boro mau menjadikan pedoman yang sesungguhnya, orang pemaknaannya aja enggak paham gitu. Nah, di situ meluaskan paradigma bahwa ternyata Quran tidak didesain untuk dihafal aja. Misalnya sebenarnya enggak ada perintah mengal enggak ada perintah sih memang sih ya, cuman yang kita tahu kan itu ya Mas ya suruh dihafalin gitu. Amkan dikhatamkan enggak ada perintah khatam juga ada perintah khatam juga ternyata gitu ya kalau kita mau ngelihat merujuk ke ayat-ayatnya dan ternyata ya itu tadi oh

11:37 beneran di konteks ini ternyata aku bisa lebih menyadari bahwa oh konteks di mana pedoman tuh benar-benar bisa dipahami dengan bahasa yang mudah, pemahaman yang sederhana dan lebih mengedepankan action dan perilaku gitu. Itu sih Mas. Iya betul betul. Itu yang menarik sih di awal-awal aku belajar ini gitu ya. Sampai akhirnya kan ya sudah berapa tahun nih? 14 tahun lah ya. Iya. I. Dan saya pernah ngobrol juga Pak Arif itu kan saya tanya juga Bapak belajarnya dari mana gitu. H. Dia belajarnya dari tukang pisang. Tukang pisang selalu tuh tukang pisang yang enggak ngerti bukan kiai, bukan ustaz gitu ya. Tukang pisang yang datang ke rumahnya dan akhirnya diajarin pakai lidi gitu di tanah gitu. Iya. Iya. Dan ee tukang pisang ini ngerti semua gitu. Betul. ee apa namanya

12:24 ee tentang Quran gitu. Terus Pak Aris juga nanya kayak pertanyaan Kang Abu juga, "Kamu belajarnya dari mana gitu." Terus ee benar ya pakai ya ini semua ada di Quran gitu. Iya iya iya. Lalu Pak tukang pisang ini bilang ee coba kamu beli Quran gitu. Hm. Terus Pak Arif beli Quran yang bahasa Arab doang itu yang cuma isinya Arab doang. Iya. Heeh. Terus ini Qurannya si tukang bisang bilang itu teh bukan Quran. He. Coba kamu baca ngerti apa enggak? Katanya Quran petunjuk. Kalau dibaca enggak bisa menunjuki kita kan bukan bukan petunjuk. Berarti akhirnya si tukang pisang ini beliin Pak Arif Quran. Oke. Yang ada terjemahannya dan dari situ, "Nah, ini baru Quran karena kamu baca kamu ngerti gitu." Oke. Kalau kamu baca sesuatu yang enggak kamu ngerti ya

13:11 gimana mau menunjuki kita gitu. Padahal kita enggak bisa paham, enggak bisa pelajari gitu. Betul. dan apa namanya? E akhirnya ee ya maaf itu saya dulu ya kita enggak usah cerita orang lain di Indonesia di mana saya aja gitu. Diajarin dulu kan saya pernah sekolah Islam juga itu Quran itu harus dibaca untuk dapat pahala gitu. Benar. Benar. Lalu dihafalkan gitu. Padahal membaca untuk dapat pahala tuh enggak ada di Quran. Benar. Baca Quran tuh niatnya motivasinya dapat tutupjuk bukan dapat pahala gitu. Benar. Benar. dan untuk di pahami gitu untuk bisa dilaksanakan gitu ya lalu disiarkan untuk jadi way of life gitu lah kalau dari bacanya aja ngerti bahasanya gimana mau jadi petunjuk gitu

13:59 betul dan dihatamkan berkali-kali gitu Kang lucu deh saya pernah di tempat tinggal saya dulu di di daerah Jaten situ ya saya ee di masjid itu ada setiap hari ada orang tua gitu yang tiap hari baca Quran terus di situ lalu kemudian kan dari pagi sampai malam gitu. Terus saya tanya, "Bapak apa saya pensiunan gitu? Saya ini mau niat setelah saya pensiun saya mau khatamin Quran sebanyak-banyaknya gitu." H. Terus saya nanya, "Udah berapa kali khatam?" "5 kali itu." 500 kali khatam, Kang Bu. Gila. Terus saya nanya, "Ya, ini isinya apa?" Dia enggak ngerti, Kang Abu. Nah, oke. Jadi, udah 500 kali khatam Quran tuh isi Quran itu apa? Enggak ngerti gitu ya. Ini kan buat dibaca supaya kita dapat pahala. Hm. Loh. Hm. Bukankah ini

14:47 petunjuk gitu ya untuk dilaksanakan gitu ya? Loh, kalau Pak Arif dulu malah ngomongnya pahala dari mana kalau cuman baca gitu kan. Pahala itu adalah pahala kan karma ya, konsekuensi dari action kan. Konsekuensi. Betul. Dari perbuatan. Kalau hanya sekedar dibaca enggak dilaksanakan ya pahalanya apa gitu. Benar gitu kira-kira gitu. Benar. Tapi kan ya itu tadi Mas, aku juga kan korban dogma doktrin loh ya. Ya, saya rasa enggak usah ngomongin orang lain lah. Sempat sempat meyakini bahwa begitu baca tuh dapat tapi itu kering gitu loh, Mas. Kering tuh dalam artian ini kalau dibaca terus terus apa sih gitu. Iya. Gimana ini jadi petunjuk sementara ya itu tadi itu sangat mengganggu pikiranku bertahun-tahun sebelum ketemu ee Kang IP

15:35 gitu ya. Karena ya balik lagi ya waktu itu beneran beneran yang main blowing buat buat buat aku tuh adalah ya kalau ada orang ngomong enggak ada cross check-nya, enggak ngerti isinya ya kan orang bisa ngomong sebebas-bebasnya dalam tanda petik kita juga perlu hati-hati lah gitu kira-kira ada validasi dan ada ya dalam tanda petik kita belajar juga perlu ada landasan lah misalkan begitu gitu. Nah, itu tadi, Mas. Benar yang tadi aku mengalami juga sih ketika pahala lah karena aduh habis baca tuh memang memang apa namanya ada rasa gimana gitu. Eforia lah ya gitu ya kira-kira. Tapi ya itu tadi kekeringan dan enggak dapat banget deh gitu ya. Ini tuh apa sih maksudnya? Kan sebenarnya baca sendiri terjemahannya misalnya, Mas pusing ini. Tiba-tiba tuh dari awal

16:20 Albaqarah awal ngomongin takwa, ngomongin iman, terus ngomongin orang munafik, tiba-tiba cerita Musa, tiba-tiba cerita Ibrahim. Ini gimana sih gitu? Gimana pengin pahamnya gitu. Dan nah yang ya mungkin ini subjektif banget dan saya gitu ya untuk konteks ini sangat nyaman dengan metode karena kata kuncinya bukan pada bagaimana hafal dan membunyikan, tapi jadi way of life itu beneran gitu, Mas. Iya, beneran bahwa ngerti dikerjain. Ngerti dikerjain dan untuk basic ketika mengerjakan tahu dalilnya kan sesuatu hal yang pada saat itu ya wah ini yakin akhirnya gitu loh, Mas. He yakin bukan katanya, bukan pokoknya, ada loh di kitabnya gitu. Dan

17:08 habis itu ketika banyak ngobrol ya ya sor itu sih aku harus ngomong banyak karena faktanya begitu ya. Kayak yasinan gitu kayak ee baca Alkahfi gitu itu membunyikan. Tapi begitu ngomongin esensi lah itu kan di Yasin ada yang tiap yasinan kita baca tapi orang enggak ngerti isinya gitu. Isinya. Betul. Nah di situ mulai. Oh, oke. Jadi itu sebenarnya konsernnya RA Kartini juga waktu itu waktu dia belajar sama gurunya namanya Kiai Saleh Darat. Betul. Waktu itu Kiai Saleh itu ngajarin tentang tafsir dan ee menunjukkan ke RA Kartini ee apa namanya? Ee bahwa Quran tuh isinya kayak gini loh. Lalu Er Kartini tuh tercengang gitu ya. Wow, ternyata Quran tuh indah banget. Indah sekali

17:53 gitu. Tapi kok enggak ada orang menterjemahkan? Karena pada saat itu menterjemahkan Quran tuh enggak boleh ke? Betul kan? Orang katanya memang boleh dibaca tapi enggak enggak tahu artinya enggak tahu enggak boleh tahu artinya. Ituul jangan-jangan tuh taktik Belanda lagi supaya enggak kebuka. Iya. Lalu kemudian ee kita ee kemudian Kak Salleh ee atas saran era ini dia menterjemahkan Quran dalam bahasa Jawa gitu. Hm. Nah, mulai di situ ee orang mulai ngerti artinya dan sebagainya. Jadi, sebenarnya kalau kita bisa paham Quran itu ini benar-benar way of life nih. Tuh. Dan dulu Pak Aris kok bilang itu sadaqallahulazim setelah baca Quran maha

18:39 benar tahu dari mana gitu. I kanya apa artinya? Wallahualam bisa tahu isinya. tahu isinya. Dan maha benar Allah tuh benar itu kalau sudah terbukti menjadi kenyataan gitu. Benar, Mas. Pengalaman gitu. Benar. Baru kita bilang sodqallahulazim gitu. Bukan dari baru baca sudah sodqallahulazim kan kita enggak tahu. Betul. Belum. Jadi berimannya tuh baru sekedar hal-hal yang belum diketahui, dipahami gitu. Memang itu penting ya di awal, tapi harus jadi pemahaman dan jadi pengalaman gitu. Dialamin semua apa-apa yang ada di kitab ini. Betul. Dan dan dari pemahaman ini aku menyadari bahwa buku ini tuh informasi, kitab ini tuh informasi gitu. Nah, informasi ini ketika kita

19:24 mengamali, mengamalkan dan melakukan jadi terkonfirmasi. Jadi konfirmasinya bukan bunyi, tapi ngalamin ngalamin. Betul gitu sih, Mas. Pengalaman gitu. Dan ya, Kang Abu saya, teman-teman udah udah membuktikannya overtime kan secara waktu. Jadi kalau di surat Quran tu 38 ayat 88, kamu akan mendapat kebenaran Quran ini beberapa waktu lagi setelah bukan setelah membaca tapi setelah beberapa saat. Beberapa saat lagi setelah mengalami gitu. Mengalami betul mengalaminya gitu. Jadi ah kita bersyukur banget dalam hidup ini tuh kita dikasih diberi diadirkan guru-guru yang ada teman-teman kayak gini yang benar-benar bisa apa namanya saling ee belajar gitu ya. Dan satu tageline yang

20:10 paling saya suka di pemaham metode ini adalah enggak ada guru murid. That's it. Pak Aris bilang kita enggak ada guru, enggak ada murid gitu. Sama-sama belajar. Padahal beliau tuh kalau saya sudah guru banget gitu. Tapi dia melarang kita manggil guru gitu. Benar. Benar. Dan itulah yang kita terapkan juga di sekarang kan itu kira-kira gitu. Ben kita belajar bareng terus. Belajar bareng aja terus gitu. Yang paling sangat mind blowing saat itu ya Mas ya. menyadari satu di 2949 tuh kalau ada kata-kata balua ayat baina fisudur visur noh itu Mas heh benar buset kok visur ya kok di dalam ya jadi ini apa jadi mana gitu itu yang wah itu yang beneran bikin enggak bisa tidur lumayan lama yang selama ini yang selama ini kan dogma tuh ini ininya gitu loh

20:58 secara bukunya gitu tapi ternyata belakangan ngerti bahwa kitab suci yang suci bukan bukunya tetapi ada sesuatu yang disucikan buat input gitu. Betul. Wah, itu menarik sih, Mas. Dan ini benar-benar ngerubah dogma banget ya. Sebagai contoh misalnya gini, mm dulu kalau baca Quran penginnya dapat pahala. Mau puasa gitu ramai-ramai baca Quran pengin dapat pahala karena pahala berlipat gitu. Sebenarnya di Quran enggak ada kata-kata dapat pahala, dapat petunjuk. petunjuk dan kalau bawa misalnya dulu kita bacanya cepat-cepat gitu karena satu huruf satu pala gitu. Lalu kemudian dengan ada ini petunjuk kita baca perlahan-lahan sesuai dengan ilmu Allah di Quran itu perlahan-lahan karena kita mau dapat petunjuk mau paham

21:43 gitu. Betul. Lalu kemudian kita enggak enggak baca Quran untuk ngfalin gitu karena perintahnya ngfalin enggak ada kan. Tapi kita pengin paham, pengin melaksanakan, pengin mensyiarkan, pengin mengalami gitu ya. Jadi mindsetnya misalnya sebagai contoh tadi K bilang Al-Qur'an ini adalah kitab suci. Hm. Dulu kan mindsetnya kalau pegang Quran harus wudu dulu. Betul. I kan betul. Lahuran saya kan di handphone sekarang. Saya tiap pegang handphone saya wudu gitu kan lucu gitu kan. Nah sebenarnya yang dimaksud mensucikan itu kan bukan fisiknya tapi hatinya. Dan di situ Yuzakiim itu menumbuhkan lebih cocok menumbuhkan. Betul. di surat 56 ayat 7779 itu ee tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang ingin menumbuhkan kesadarannya gitu. Betul gitu. Jadi,

22:30 jadi kalau enggak enggak akan tersentuh oleh kitab ini. Tersentuh tuh tersentuh hatinya kan. Benar. Benar. Jadi wah manusia tuh berubah total. Wah ada sadis kayak tadi Kangu bilang Quran itu di dada. Eh, saya berpikir Nabi Muhammad dulu mengatakan hadiratim mustaqim gitu atau tilka ayatu kitabum mubin gitu atau dikatakan dalalikal kitabu laiba fih itu kan kata-katanya ini adalah ini adalah itu adalah ini kan nunjuk sesuatuah nunjuk sesuatu dan bukunya waktu itu belum ada benar kan adanya baru 12 tahun setelah dia wafat dibukukan zaman Khalifah Utsman ini berarti barangnya belum ada nih dia nunjuknya ke Mana? Benar, Pak. Kan ke sini gitu. Benar. Jadi kira-kira ngomongnya hadza siratim

23:17 mustaqim. Ini loh di sini loh. Benar. Itu benar. Jadi, jadi ini nih yang harus dibuka dulu nih sebelum kita ini itu artinya hati, pikiran, persepsi, dogma, doktrin itu dibuka gitu. Betul. Kalau tertutup kan di Albaqarah ayat 1 sampai 11-belasan-an itu 17 itu dibilang ini orang pendapat petunjuk cirinya gini lalu disambut orang yang kafir itu cirinya gini. nih. Jadi syarat untuk bisa ini nih harus open mind and open heart. Betul. Terbuka hati dan pikirannya gitu. Dan open belief satu lagi, Mas. Iya. Karena kalau terkunci dengan itu dogma kan konteksnya dibelief tuh. Makanya ini buat buat rasul yang umi. Hm. Tuh juga buat umat yang umi gitu. H.

24:04 Jadi di surat 7 ayat 157, 158 atau di surat 3 ayat 20 itu ee Quran itu diturunkan dibacakan oleh rasul yang umi. Betul. Untuk umat yang umi. Umi itu bukan buta huruf. Iya. Nanti dibuka lagi. Kita belum buka-buka ayat ya. Tapi ini baru ini baru dulu nih. 2 ayat 78. Itu artinya Umi itu arnya buta kitab. Jadi kita tuh harus bebas konsep tuh, jangan terjebak dogma dan doktrin kalau mau pelajarin ini dengan benar gitu. Karena itu menutup gitu. Heeh. Harus umi gitu sikapnya. Betul. Nah, itulah yang kita diajarin dulu kan. Dan yang aku senang apa coba, Mas? Pembelajaran ini selalu ngajak mikir, Mas. Nah, benar.

24:51 Jadi, Arif tuh enggak pernah ngasih jawaban tapi beneran pikir gitu. yang akhirnya ya aku sendiri aku terlatih untuk selalu mau menggunakan kritikal gitu. Oh ini ke sini, ini ke sini. Enggak ada jawaban-jawaban gampang yang gini. Udahlah lu mikir dong kan Pak Arif gitu ya bahasanya tuh seru banget ya. Oh gitulah kira-kira itu kalau ingat Pak Arim tuh almarhum udah deh. Nah jadi maksudnya ee udah kita masuk ke pemahaman, kita dilatih berpikir, kita dilatih kritis, dilatih berdialektika ya akhirnya apa? Menggugurkan dogma, doktrin, dongeng. dogma, doktrin, dongeng. Dan balik lagi, Mas, untuk melepaskan itu semua kan hal yang enggak mudah kalau enggak mau berpikir gitu. Iya. Dan akhirnya juga ngerti banget kenapa Quran itu tatafakarun, takilun gitu ya untuk orang yang mau berpikir

25:37 dan mentadaburi itu kan merenungkan gitu ya bahwa konteksnya ya kalau kita tidak menggunakan logik tuh gimana gitu. Tadabur ya. Betul. Iya kan? Dan sementara kan selama ini enggak usah dipikirin ikutin aja. Nah, itu juga kan agak kontr lah and pada saat itu waktu awal-awal gitu. Tapi ya balik ya semua ke bagaimana pertumbuhan kesadaran masing-masing sih itu ya Mas. Aku terima kasih banget Mas. Sama-sama saya terima kasih banget. Ini sebenarnya ya kalau mau ngobrolin dari awal pembicaraan awal Mas Soni ini kayak the javu in our past life in this life karena karena sebenarnya program ini yang pengin beneran di awal untuk ada gitu tapi ternyata ya balik lagi ya semua keberadaan juga kan apa yang terjadi juga ya seiring dengan pertumbuhan dan

26:22 jatuh temponya lah gitu. So, thank you Soni. Ini introduction yang sangat membuat kita eh back to missing memories ya, memori-memori yang sangat indah awal-awal belajar gitu. Dan teman-teman seperti apa yang sering kita ulang-ulang juga bahwa kita di sini sesama murid kita tidak mau mengajarkan, kita bukan paling benar juga dan yang paling penting adalah semoga apa obrolan kita dalam konteks apapun menambah puzzle. Kita tidak berbicara benar atau salah, tetapi sama-sama menjadi teman bertumbuh. Jadi selamat menikmati ngaji bareng di episode-episode yang akan datang. Terima kasih. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube