#Eps3 | Mensucikan dan Membuka Hati Adalah Syarat Agar Dapat Membaca

Ringkasan Singkat

Video ini membahas konsep "Umi" dalam Al-Qur'an, yang sering disalahartikan sebagai buta huruf. Dijelaskan bahwa "Umi" lebih bermakna sebagai keadaan murni, tanpa prasangka, dogma, atau doktrin yang menghalangi pemahaman yang benar terhadap Al-Qur'an. Untuk memahami Al-Qur'an, seseorang harus membuka hati dan pikiran, melepaskan konsep-konsep yang sudah tertanam, dan berserah diri kepada Allah.

  • "Umi" bermakna murni, original, atau tidak terikat pada kitab sebelumnya.
  • Membuka hati dengan membaca Al-Fatihah adalah kunci untuk menerima aliran kebenaran.
  • Mengikuti kebanyakan orang (pikiran) dapat menyesatkan dari jalan Allah.
  • Tadabur Al-Qur'an harus menghasilkan perilaku yang lebih baik.

Pembukaan Hati dan Konsep "Umi"

Seringkali, orang yang sudah memiliki persepsi, konsep, dogma, atau doktrin tertentu cenderung menolak nasihat atau kebenaran yang baru. Untuk membuka hati, seseorang perlu melepaskan semua konsep dan menjadi "Umi" atau murni terlebih dahulu. Kecerdasan akan hadir ketika hati sudah terbuka, karena Al-Qur'an turunnya ke hati. Surat Al-Fatihah adalah surat pertama yang dibaca saat membuka Al-Qur'an, yang berarti membuka hati.

Makna "Umi" yang Sebenarnya

"Umi" sering diartikan sebagai tidak bisa membaca, padahal maknanya lebih dalam. "Umi" bisa berarti ibu, original, atau tidak mengetahui kitab sebelumnya. Untuk menurunkan Al-Qur'an ke dalam hati, hati harus murni. Dalam surat 56 ayat 77-79, dijelaskan bahwa Al-Qur'an hanya bisa disentuh oleh hamba-hamba yang disucikan, yaitu mereka yang hatinya bebas dari konsep, dogma, dan doktrin. Selain itu, "disucikan" juga berarti memiliki keinginan untuk terus bertumbuh dan memiliki niat yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua rasul adalah "Umi," yang berarti mereka tidak pernah membaca kitab sebelumnya.

Dalil dalam Al-Qur'an tentang "Umi"

Dalam surat 29 ayat 48-49, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca atau menulis kitab sebelum Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada (kesadaran) orang-orang yang berilmu, yaitu ilmu dari Allah. Hanya orang-orang zalim yang mengingkari ayat-ayat Allah. Kegelapan (kezaliman) terjadi ketika seseorang masih terikat pada "aku" yang berisi persepsi, imajinasi, memori, dogma, dan doktrin. Untuk memahami Al-Qur'an, seseorang harus berada di "aku dua," yaitu bebas dari semua itu dan bersifat "Umi" atau murni.

Implikasi "Umi" dalam Kehidupan

Surat 7 ayat 157 menjelaskan bahwa orang-orang yang mengikuti rasul adalah nabi yang "Umi." Surat 3 ayat 20 menanyakan apakah umatnya juga "Umi." "Umi" berarti berserah diri dan tunduk kepada Allah. Jika seseorang berserah diri, maka dia akan mendapatkan petunjuk. Kewajiban seorang rasul hanyalah menyampaikan, bukan memaksa. Nabi Muhammad disebut "Umi" karena berasal dari keturunan Ibrahim dari jalur Ismail, sementara yang mendapatkan kitab (Taurat dan Injil) adalah dari keturunan Ishak. Surat 2 ayat 78 menjelaskan bahwa di antara mereka ada yang "Umiyun," yaitu tidak memahami kitab.

Syarat Memahami Al-Qur'an

Syarat untuk memahami Al-Qur'an adalah bersifat "Umi," yaitu melepas semua konsep yang sudah diasosiasikan dan dilekatkan pada diri kita. Konsep-konsep ini membuat hati dan pikiran kita tertutup (kafir), sehingga tidak bisa menerima aliran kebenaran. Syarat pertama adalah berserah diri (muslim), bukan hanya label, tetapi sikap. Dengan memasrahkan seluruh hati dan pikiran kepada Allah, seseorang bisa pindah dari "aku tiga" ke "aku dua" dan mendapatkan kecerdasan malaikat. Prosesnya adalah membuka hati dan pikiran, mengarahkan, dan menghubungkan dengan Tuhan.

Al-Qur'an Penuh Perumpamaan

Sejak lahir, kita sudah diceritakan berbagai hal oleh orang tua dan guru, sehingga hati dan pikiran kita tertutup. Al-Qur'an penuh dengan perumpamaan (amsal), sehingga tidak bisa dibaca secara letterlijk. Jika tidak, seseorang bisa tersesat. Untuk mensucikan diri sebelum membuka Al-Qur'an, wudu yang sebenarnya bukanlah urusan fisik, tetapi melepaskan semua konsep dan menjadi "Umi" atau murni. Membuka hati dengan membaca Al-Fatihah adalah kunci untuk menerima aliran kebenaran.

Mayoritas Belum Tentu Benar

Meskipun membaca Al-Fatihah berkali-kali, jika konsep-konsep tidak dilepas, maka hati tidak akan terbuka. Surat 6 ayat 116 menjelaskan bahwa jika mengikuti kebanyakan orang di bumi, maka akan menyesatkan dari jalan Allah. "Orang" dalam Al-Qur'an seringkali merujuk pada sifat, bukan orang itu sendiri. Jika mengikuti pikiran (aku empat), maka akan menyesatkan dari jalan Allah, karena jalan Allah ada di hati.

Memilih Pemahaman yang Benar

Dalam memahami Al-Qur'an, akan ada multiperspektif. Kita harus melepaskan semua persangkaan dan membiarkan Tuhan membimbing langsung. Jangan memblokir diri dengan pikiran bahwa Tuhan tidak mungkin membimbing langsung. Ketika kita memahami Al-Qur'an dengan cara yang benar, maka nilai-nilainya akan universal, yaitu kasih sayang dan perdamaian.

Output dari Tadabur Al-Qur'an

Tadabur Al-Qur'an harus menghasilkan perilaku yang lebih baik. Tuhan membenci orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak melakukannya (surat 61 ayat 2-3). Jangan hanya mengajak orang berbuat kebaikan, tetapi lupakan diri sendiri (surat 2 ayat 44). Jangan mengikuti sesuatu yang tidak diketahui (surat 17 ayat 36). Cara Allah itu mudah, dan Al-Qur'an ini mudah dipahami jika kita membuka hati dan pikiran.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Begitu orang sudah punya persepsi konsep dogma doktrin di aku 3, H maka apapun yang akan orang ngasih nasehat aja kadang-kadang ngasih yang kebenar aja kadang-kadang dia enggak mau terima gitu. Oke. Yang membuat begitu diajarin kita nolak gitu. Nah, yang ini nih harus dilepas dulu. Jadi mungkin mensucikan itu kalau disebut bahwa sebelum buka Quran wudu benar wudu tuh bukan urusan fisik ini kan berarti kan bukan tapi lepasin dulu konsep lepas semua. Iya. Dan menjadi umi dulu, pure dulu baru nanti kecerdasan akan hadir gitu. Karena Quran turunnya ke hati. Berarti yang dibuka apanya dulu? Hatinya dulu. Nah, makanya buka Quran kitab ini surat yang pertama kali baca surat apa? Alfatihah. Artinya apa? Membuka. Membuka apanya?

0:45 Yes. Hati. Ah, gitu. [Musik] Asalamualaikum. Selamat datang di Ngaji Bareng dari lisan menuju kesadaran. Seperti biasa kita akan menyelami Quran untuk belajar bareng. Dan kita juga selalu mendisclaimer bahwa ini sesama murid yang selalu mau belajar, selalu mau bertumbuh, dan semoga pembahasan apapun yang kita akan dialirkan ini menjadi sebuah pengetahuan dan kita bisa aplikasikan. Kita sudah bahas tentang ilmu Allah dan kemarin hook-nya adalah umi. Nah, ini menarik. Banyak yang sering mengatakan atau umi itu adalah tidak bisa membaca. Padahal secara makna yang lebih dalam, umi itu bisa bermakna ibu. Umi itu bisa bermakna original. Umi

1:31 itu bisa bermakna buta kitab atau dalam tanda petik tidak mengetahui kitab sebelumnya. Nah, kita selami ini gimana masak menurunkan ee Al-Qur'an dengan ilmunya ke dalam hati ya. Nah, hati itu harus murni gitu. Hmm. Coba kita buka tuh surat 56. Ayat 77 sampai 79. Oke. Ini yang sering dianggap kayak wudu gitu ya. Iya. Betul. 56 77 ya. 77 sampai 79. Oke. Dan ini sesungguhnya Al-Qur'an yang sangat mulia. Iya. Dalam kitab yang terpelihara ya tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Disucikan itu artinya tiga, Kang Abu. Oke. Pertama adalah hatinya bebas dari konsep dogma doktrin apapun ya. Karena begitu orang sudah punya

2:18 persepsi konsep dogma doktrin di aku tig hm maka apapun yang akan orang ngasih nasehat aja kadang-kadang ngasih yang kebenar aja kadang-kadang dia enggak mau terima gitu. Oke. I kan ini bahaya nih nanti kalau dalam perjalanan kita belajar Quran, kita sudah punya konsep yang sudah melekat gitu, yang sudah diajarin dari kecil atau turun-temurun dari orang tua dan sebagainya tentang agama, tentang keajaran dan sebagainya itu akan membuat kita enggak bisa menerima yang kebenaran yang dialirkan gitu. Oke. Disucikan itu juga berarti adalah ini sebenarnya ditumbuhkan. Jadi kita mempunya ee pengin punya kesadaran untuk bertumbuh terus gitu. Hm. bertumbuh terus dan harus tadi harus punya niat yang benar-benar enggak ada

3:06 niat apapun yang sesuai kehendak Tuhan aja. Nah, Nabi Muhammad itu itu rasul yang umi. Bukan cuma Nabi Muhammad, semua rasul itu umi gitu. Oke. Semua rasul itu umi. Umi itu artinya bukan enggak bisa baca. Karena Nabi Muhammad itu pasti bisa membaca. Dia punya bisnis yang besar sekali. dari umur muda dia sudah jualan ke Syams. Syams itu kalau kira-kira dari Makkah ke Syams itu Jakarta, Surabaya lah berdagang gitu. Jadi dia sudah bisa membaca. Cuman yang disebut umi di situ adalah tidak pernah membaca kitab sebelumnya gitu. Iya. Iya. Ya. Coba kita buka di surat 29 ayat 48 dan 49. Iya benar. Dan kau Muhammad ya balik lagi ya tanda kurung ya. Ya, tanda kurang sebenarnya ini kan ditambahin boleh

3:52 enggak yang tanda kurang enggak usah dibaca kita enggak usah dibaca ya. Jadi supaya pure gitu. I dan engkau tidak pernah membaca suatu kitab sebelum sebelum Al-Qur'an ya. Nah, ini kan supaya enak ya. Dan engkau tidak pernah menulis sesuatu kitab dengan tangan kananmu. Sekiranya engkau pernah membaca dan menulis, niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya. Nah, jadi dia tidak pernah membaca kitab sebelumnya dan tidak pernah menulis. Jadi Quran itu bukan tulisannya Nabi Muhammad. Hm. setelah itu gitu. Oke. Jadi tidak pernah menulis dengan dengan tangnya sendiri kitab ini gitu. Nah, kenapa? Karena nah lanjut ya. 29 ayat 49 itu. Iya. Sebenarnya Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Iya. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari

4:39 ayat-ayat Kam. Nah, karena Quran itu sebenarnya ada di dalam sebenarnya sudur itu diterjemahin di sini sebagai dada, tapi sudur itu artinya kesadaran. Hmm. He. Di dalam kesadaran orang-orang yang dikasih ilmu tadi ilmunya pakai ilmu siapa? Nurun. Ilmu Allah nulunnya kan. Ilmu Allah. Heh. Nah, jadi hanya orang-orang zalim atau orang dalam kegelapan yang mengikari ayat kami. Kegelapan itu salah satu cirinya adalah tadi saya suka bilang bahwa kalau ini ada handphone gitu ya, kalau cahayanya dari sana maka ada yang gelap daerah yang tidak terkena cahaya itu. Jadi si si akunya ini hilangin dulu gitu. Hm. He. Termasuk aku tiga yaitu isinya persepsi, imajinasi, memori, dogma, doktrin tuh itu semua ada di aku tiga gitu. He. Jadi untuk bisa paham Quran

5:25 ini kita harus ke aku dua gitu. He. Bebas dari semua itu gitu. Bersifat umi, pure gitu. Murni gitu. Murni. Dan baru begitu kita murnilah kita bisa dialirkan gitu. Ee coba kita buka tuh surat berapa? ee 7 ayat 157 tuh 7 157 I. Yes. Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul nabi yang umi ee umi. Hm. Ini bukan dalam kurung tidak bisa baca tulis. Nah, ini kanjemin sudah. Iya. Iya. Iya. Ya. Persepsi ya. Balik lagi ya. Iya. Padahal maaf loh yang main ini orang berilmu enggak? Hmm. Tapi bukan pakai ilmu maaf. Iya. Iya. Ya. I ya. Ilmu ya tafsirlah ya atau pendekatan lah. Iya. Kok kayak gitu terjemahinnya gitu. Iya. Iya. Ya, yang namanya mereka dapat tertulis di dalam

6:11 Taurat dan Injil. Heeh. Yang ada pada mereka yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Nah, oke. Sekarang nih ya 7157 surat 3 ayat 20 coba. Hm. Jadi rasulnya umi kan? Iya. Sekarang yang dengerin itu yang umatnya itu umi enggak gitu. Oke. Surah 3 ayat 20. Kemudian jika mereka membatah engkau, katakanlah aku berserah diri kepada Allah dan demikian pula orang-orang yang mengikutiku. Heeh. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang-orang buta huruf. Buta huruf lagi dibilangnya. Betul. Umi. Umi. Benar. Umi itu pure. Iya. Iya. Gitu. Iya. Nah, sudahkah kamu sudahkah kamu masuk Islam? Sudahkah kamu tunduk dan Pak sikap? Kan Islam itu kan sikap bukan, bukan label gitu. Iya. Oke.

6:57 Nah, kalau kamu berserah maka kamu dapat petunjuk gitu. Karena semu di episode sebelumnya menyerahkan seluruh, pikiran, keberadaan kita untuk bisa kita tuh dibuka ya diarahkan dan dihubungkan langsung dengan Tuhan supaya dialirkan oleh petunjuk itu gitu. Dan ini menariknya lagi gini, Mas. Tetapi jika mereka berpaling maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan deadit ya. Karena enggak enggak boleh maksa maksa 50 ayat 45 kan. Ah 50 45 benar. sama 88 21 22 benar bukan pemaksa gitu jadi kita tuh enggak boleh maksa jadi ya udah mau syukur enggak juga udah gitu iya iya iya iya gitu ya kan Nabi Muhammad kenapa disebut umi juga secara historis ya Kang

7:43 Abu ya itu dia itu berasal dari keturunan Ibrahim dari Jalul Ismail gitu hmm sementara yang dapat-dapat kitab itu adalah Ibrahim dari Ishak yes maka dia adalah turunan Ibrahim dari Ismail yang pertama yang dapat kitab Iya Iya, makanya disebut kaum yang umi gitu. Hmm. Gitu. Jadi kaum Arab Makkah itu adalah kaum yang umi. Karena kalau di sini mungkin ada Taurat dan Injil kali ya. Iya kan? Ada Taurat dan Injil tuh dari keturunan Ishak gitu. Coba surah 2 Albaqarah ayat 78. Hmm. Surah 2 ayat 78. Mantap. Dan di antara mereka ada yang buta huruf. Umi ini ya. Balik lagi. Umiyun. Heeh. Tidak memahami kitab. Nah. Jadi Umi itu bukan buta huruf. tidak membaca, tidak memahami, tidak belajar

8:32 kitab-kitab sebelumnya gitu. Oke. Artinya tuh kitab tuh apa sih? Konsep dogma doktrin gitu. Iya. Iya. Iya. Ya. Nah, jadi sebenarnya syarat juga untuk bisa paham Quran adalah bersifat bumi di mana kita tuh melepas semua konsep. Konsep itu ada di aku tiga dan mau enggak mau kita tuh udah di asosiasikan, dilekatkan, dijejelin dengan konsep-konsep ini. Hm. Yang membuat kita tuh enggak bisa paham Quran dengan yang sebenar-benarnya hakikatnya gitu. Yang membuat begitu diajarin kita nolak gitu. Nah, yang ini nih harus dilepas dulu. Oke. Istilahnya tuh dibuka. Karena semua asosiasi konsep dogma doktrin ini membuat hati dan pikiran kita tuh tertutup gitu. Hm. tertutup tuh bahasa

9:19 Arabnya kafir. Nah, kalau orang sudah kafir enggak mungkin dikasih aliran kebenaran. Oke. Oke. Nah, makanya harus dibuka dulu, dilepaskan. Makanya syarat pertama adalah berserah diri. Hm. Muslim. Jadi, kitab ini buat orang muslim benar, tapi bukan muslim label gitu. Iya. I tapi sikap. Sikap. Ya, begitu dia muslim, dia memasrahkan seluruh hati, pikiran, dirinya untuk diserahkan kepada aku satu Tuhan. Dan dia juga bisa kalau bisa dia pindah dari aku tiga ke aku dua. Lalu di situ dia akan dikasih kecerdasan malaikat untuk dialirkan. Tapi pertama ee hati pikirannya tuh dibuka dulu gitu. Gitu. Hm. Dan setelah dibuka baru diarahkan lalu di apa namanya? Ee dihubungkan.

10:07 Nah, begitu dihubungkanlah baru dia bisa dialirkan oleh petunjuk secara langsung gitu enceng. Dan mau enggak mau kan begitu lahir pasti ketutup dulu, Mas. Iya. Diceritain sama orang tua, sama guru ngajinya misalnya. Iya kan? Mau enggak mau kan gitu dulu. Makanya ada cerita kan Nabi Muhammad dibelah dulu dadanya, diangkat dulu semua dibersihin dulu. Oke. Itu kan perumpamaan. Nah, kayaknya kita harus bahas dulu itu sih, Mas, bahwa Quran itu juga penuh perumpamaan. Kayaknya kita harus dalamin nanti ya. Iya. Karena kan enggak letterlek gitu loh, gitu. Bahwa Quran itu juga adalah amsal gitu. Bukan adalah setiap ayat Quran itu amsal. Iya. I betul. Minuli amsalin itu artinya setiap wayatnya perumpamaan gitu. Enggak

10:53 ada yang letterl. Oke. Makanya ada yang baca Quran tersesat kan. Iya. I karena perumpamaan gitu. Betul. Betul. Wah, menarik sih. Nah, jadi kembali ke Umi tadi berarti kan kita recap dulu nih dari beberapa pembahasan kita bahwa Quran ilmu Allah. Ilmu ini akan teralirkan ketika apa yang sudah menjadi tutupan-tutupan itu dilepasin. Dilepas. Betul. Dilepas. Ya, betul. Jadi mungkin mensucikan itu kalau disebut bahwa sebelum buka Quran wudu Heeh. Benarnya benar-benar wudu itu bukan urusan fisik ini kan berarti kan? Bukan. Tapi lepasin dulu konsep semua. Iya. dan menjadi umi dulu, pure dulu, baru nanti kecerdasan akan hadir, gitu. Karena Quran turunnya ke hati, berarti yang dibuka apanya dulu? Hatinya dulu. Nah, makanya buka Quran kitab ini surat yang pertama kali

11:38 baca surat apa? Alfatihah. Artinya apa? Membuka. Membuka apanya? Yes. Paham, Mas? Hati. Ah, gitu. Iya, iya. I karena kalau enggak melalui Alfatihah, hati enggak terbuka, kita tuh enggak dapat aliran gitu. Oke. Nah, gimana buka tuh? Kenapa kebuka? Karena ada sesuatu yang menutupi, kan? Oke. Salah satu yang menutupi apa tadi? Konsep. Ah, ya itu. Hm. Jadi mau baca Alfatihah berkali-kali kalau konsepnya enggak dilepas ya enggak akan ter Alfatihah itu enggak dialangin hanya dibaca gitu. Iya. Tapi yang menarik kalau konsep ini dianut oleh kebanyakan mayoritas dan konsep ini dianggap benar, Mas. Nah, makanya kan ada ayatnya kan 616 itu kan 114 sampai 116. Coba kita buka. Iya. Ini menarik loh. Heeh. Sehingga maksudnya kenapa jadi sulit untuk terbuka pemikoritas begitu. jeriti. Nah, gitu.

12:26 Pantaskah aku mencari hakim selain Allah? Padahal dialah yang menurunkan kitab Al-Qur'an kepadamu secara rinci. Rinci. Heeh. Oke. Orang-orang yang telah kami beri kitab mengetahui benar bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Ya. Dan telah sempurna firman Tuhanmu Al-Qur'an dengan benar dan adil. H tidak ada yang dapat mengubah firmannya dan dia maha mendengar, maha mengetahui. Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, ya niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanya membuat kebohongan. Nah, di sini ada dua ee Bu H kebanyakan orang di bumi sebenarnya kalau disebut orang-orang tuh ya di Quran itu bukan orang loh. Hm.

13:12 Tapi sifat. Hmm. Jadi disebut musyrikin itu bukan orang-orang musyrik. He. Kita melabeli, "Oh, ini orang musyrik." Oke. Tapi sifat oke, sifat itu bisa datang dan pergi ke setiap orang gitu. Sip. Sip. Jadi bukan person-nya orang dalam konteks ini orang musyrik, tapi sifat kemusyrikan. Iya. Jangan pilih orang-orang musyrik sebagai pemimpin. Oke. Almaidah gitu kan ayat 50 gitu. E 50 51. 51 itu bukan orang sebenarnya, tapi sifat. Hmm. Dan itu bisa melekat ke setiap orang meskipun label agamanya Islam. Oke. Dan bukan sesuatu yang permanen, tapi yang berubah, dinamis, gitu. Oke. Nah, di sini dibilang jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, bumi itu bukan bumi ini, tapi aku empat.

13:59 I fysikal, wadah. Pikiran. Iya. Oke. Iya. Jadi, kalau kamu ngikuti pikiranmu, sifat-sifat di pikiranmu, maka itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Karena jalan Allah bukan di pikiran. Hm. Adanya di hati, gitu. Nah, makanya ini jangan pakai konsep di pikiran deh kalau baca Quran. Meskipun nanti kita bahas kok enggak boleh pakai pikiran tapi menggunakan akal. Akal tuh berarti apa gitu kan ya. Oke, Mas. Menarik nih. Nah, berarti kan kita juga sudah memahami. Nah, kan kita tahu juga Mas bahwa intinya dalam konteks pembahasan ini pasti ada multiperspektif gitu, Mas. Yes. I kan multiperspektif. Nanti ada yang bilang A, bilang B, bilang C dan bahwa konteks perbedaan ini kan kata kuncinya adalah pemahaman yang bisa kita lakukan. Nah,

14:46 pertanyaannya ya katakanlah gitu nanti dengar orang A, orang B, orang C berbeda. Kita pilih yang mana sih, Mas? Nah, kita harus lepasin semua dari semua persangkaan itu. Oke. Nah, kita duduk diam dan membiarkan Tuhan yang bimbing langsung gitu. H. Nah, tapi memang perlu cara yang benar. H dan Tuhan itu kan dekat ya. Ya, jadi kita jangan jangan kemudian punya blocking bahwa Tuhan enggak mungkin bimbing aku langsung Quran ini kepada diriku langsung. Begitu ada blocking itu enggak akan terjadi itu. Hm. Tapi kita bisa loh sebenarnya untuk memahami Quran ini. Dan ketika nanti kita paham Quran dengan cara yang seperti itu, maka nilai-nilainya akan universal gitu. Yes. Oke. Univers

15:32 nilai-nilai universal di di keberadaan ini adalah kasih sayang gitu. Hm. H. Jadi kalau nanti output-nya adalah perdamaian, kasih sayang, tidak berselisih, universal, itu berarti benar-benar dibimbing oleh Tuhan yang Maha Kasih, gitu. Oke. Seperti di surat 4 ayat 114. Betul. Jadi, kita harus nanti diiringi juga perbuatan baik dan sebagainya gitu. Jadi, kalau ada konsep persepsi pandangan ya silakan aja. Tapi kita tuh jangan percaya tadi kepada kebanyakan konsep yang mainstream itu belum tentu yang benar ya. Betul. Betul. Mainstream belum tentu benar. Betul. Oke. Nah, yang yang menarik juga kan berarti kan ini output-nya ya, Mas ya. Betul. Karena aku

16:17 pernah ingat di satu ee session sama Cak Nur. Heeh. Ee Cak Nun. Canun sori dibilang gini, kita itu mentadaburi itu siapapun bisa dirasain yang penting dari tadabur itu adalah perilakumu setelah itu lebih baik gitu loh, Mas. Betul. Output-nya tuh lebih baik gitu. Jadi dia bilang ini bukan menafsirkan karena kalau menafsirkan tuh perlu tahu ee apa namanya bahasa itu urusan orang-orang pintar lah. Dia bilang gitu kira-kira. Nah, aku jadi mengingat bahwa ternyata kalau kita bicara konteksnya tafsir dengan rasa dengan output, inti output-nya adalah kebaikan. Inti output-nya kalau kata si Cak Nun nih ee hidupmu lebih apik gitu ya, lebih baik gitu, lebih bijaksana ya. Outputnya berarti di konteks di mana setelah ini

17:03 perilaku kan gitu ya. Ya makanya di Quran kan Tuhan membenci orang yang baca Quran tapi tidak melakukannya. Betul. Kabur indallahi antafalun itu ya. 1 2 dan 3. Oh, iya benar. Coba 61 ayat 2 dan 3. Nah, ini ee Pak Arif nih sering banget nih. Iya. Awas lu ngomong mulu lu. Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan, De. Heeh. Kita ngomong ngaji tapi enggak dikerjain. Gimana mau ngerjain kalau enggak paham? Benar. Gimana enggak paham kalau mempelajari? Enggak mempelajari. Itu kan kata-kata dari guru kita kan. Benar. Betul. Betul. Jadi ee apalagi nyuruh-nyuruh orang ini tapi dia sendiri

17:49 kan ngerjain. Buka Albaqarah surah 2 ayat 44. Kenapa kamu mengerjak apa ngajak orang berbuat kebaikan gitu ya? He kamu sendiri ini menarik sih. Maka apa kamu menyal orang lain mengerjakan kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri padahal kamu membaca kitab tidakkah kamu mengerti? I ya. Jadi, pertama kita baca, kita ngelakuin. Mungkin kita enggak ngelakuin karena kita enggak ngerti. Hm. Kita enggak ngerti karena kita ikut-ikutan. 1736. Ya, coba. Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semua akan dimintai pertanggungjawaban. Berapa banyak kita beragama hidup ini cuma ikut-ikut katanya sori orang-orang tertentu gitu. Iya. I figur otoritas lah

18:35 misalnya. figur otoritas yang kita enggak ngerti dasarnya apaak ngerti ya berdoa aja kita enggak ngerti apa yang didoain betul enggak baca Qurannya bahasa Arab enggak ngerti juga benar lalu begitu ditanya ini apa isinya alam bawab l kita ngerti dan menganggap itu sebagai sebuah kebenaran iya iya benar sih kenapa enggak sih kita explore langsung gitu loh betul betul kan cara yang mudah itu dogma doktrin hati-hatilah ya gitu-gitulah ya jadi artinya itu dan Cara Allah itu cara yang mudah gitu. Al-Quran ini mudah kok gitu. Oke. Tapi ya itu tadi ee mungkin kita next episode kita bahas bahwa Quran mudah karena bukan sesuatu yang susah gitu. Iya. Dan terbukti Mas Soni Agustus belajar ya

19:20 Agustus kan. He. Terus Februarian atau Januarian? Januari. Januari bisa langsung bisa langsung konser lah ya gitu. Konser. Iya. Langsung mentas. Oke Mas. Thank you. Ini sangat menarik ya, Teman-teman, dari pembahasan-pembahasan ini. Sekali lagi ee lihatlah ini sebagai sebuah pengayaan puzzle-puzzle dalam konteks ee apa ya memberikan tambahan lah ya atau footnote lah. Anggap aja ini sebuah footnote tambahan untuk yang simpel-simpel yang mudah-mudahan teman-teman bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda dan kita melihat dan mendalami Quran dengan cara yang mudah. Dan kita akan bahas gimana sih Quran itu mudah di episode yang akan datang. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube