#Eps5 l Metodologi 6M l #1 MEMBACA

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang cara yang benar dalam membaca Al-Qur'an, menekankan bahwa membaca Al-Qur'an seharusnya tidak hanya sekadar membaca tulisan, tetapi lebih kepada bagaimana kita memasrahkan diri agar dibacakan dan memahami maknanya melalui hati. Metode 6M diperkenalkan sebagai panduan untuk membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan, mensyiarkan, dan melestarikan Al-Qur'an.

  • Membaca Al-Qur'an seharusnya dengan memasrahkan diri agar dibacakan di hati, bukan hanya membaca tulisan.
  • Tilawah berarti mengikuti bacaan yang dibacakan di hati dan mengamalkannya dalam perbuatan.
  • Tujuan membaca Al-Qur'an adalah untuk meningkatkan kesadaran dan ketakwaan.
  • Metode 6M: Membaca, Mempelajari, Memahami, Mengamalkan, Mensyiarkan, Melestarikan.

Pendahuluan: Memahami Al-Qur'an dengan Mudah

Sesi ini dibuka dengan membahas tentang Al-Qur'an sebagai petunjuk yang mudah dipahami, bahkan melalui bahasa lisan. Pertanyaan muncul mengenai ayat pertama yang diturunkan, yaitu "Iqra" (bacalah). Ilmu yang luar biasa didapatkan dari guru, Pak Arif, tentang metodologi 6M. Pembahasan akan dimulai secara bertahap dari "Iqra".

Makna "Iqra": Bukan Sekadar Membaca Tulisan

Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, "Iqra," beliau menjawab tidak bisa membaca. Namun, ini bukan berarti Nabi tidak bisa membaca tulisan. Surat Al-Alaq ayat 1-5 menjelaskan bahwa membaca di sini adalah membaca dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Al-Qalam (pena) diartikan sebagai perkataan Tuhan. Iqra bukan hanya membaca tulisan, tetapi membaca tanda-tanda dalam hati. Ayat-ayat Al-Qur'an ada di kitab, di hati, dan di semesta, ketiganya harus terhubung dan bisa diiqrakan.

Dibacakan, Bukan Membaca: Kunci Mempelajari Al-Qur'an

Kunci mempelajari Al-Qur'an bukanlah membaca, melainkan dibacakan. Surat Al-Qiyamah (75:16-19) menjelaskan bahwa Allah akan mengumpulkan Al-Qur'an di dada dan membacakannya. Jadi, membaca Al-Qur'an adalah mengikuti bacaan yang dibacakan di hati. Ketika membuka Al-Qur'an, niatnya adalah memasrahkan diri untuk dialiri kecerdasan dan dibacakan langsung oleh sumber Al-Qur'an. Setelah dibacakan, barulah kita mengikutinya.

Tilawah: Mengikuti Bacaan dan Penjelasan

Tilawah bukan sekadar membaca, tetapi mengikuti bacaan dan penjelasannya. Al-Qur'an adalah ahsanal tafsir (sebaik-baik penafsiran), sehingga kita tidak perlu menafsirkan sendiri. Syaratnya adalah memasrahkan akal (pusat kesadaran yang terdiri dari otak, pikiran, hati, nurani) kepada Tuhan agar dibukakan, diarahkan, dan dihubungkan. Proses ini terjadi secara langsung.

Hakikat Tilawah: Mengikuti dengan Perbuatan

Surat Al-Baqarah (2:121) menjelaskan bahwa orang-orang yang telah diberi kitab membacanya sebagaimana mestinya (haqqa tilawatihi). Hak tilawah adalah mengikuti bacaan yang diturunkan ke hati dan mengikutinya dengan perbuatan (action). Tilawah yang benar adalah yang sampai pada tindakan nyata. Surat Al-Muzzammil (73:4) menjelaskan bahwa Al-Qur'an akan dibacakan kepada kita sehingga kita tidak akan lupa karena sudah menjadi kesadaran dalam diri. Tujuan membaca Al-Qur'an adalah meningkatkan kesadaran (takwa) yang diiringi dengan perbuatan.

Hubungan Membaca Al-Qur'an dan Salat

Surat Al-Ankabut (29:45) menghubungkan antara membaca Al-Qur'an dan mendirikan salat. Al-Qur'an mudah dipelajari jika kita salat saat membacanya, karena terhubung dengan Tuhan. Membaca Al-Qur'an harus dengan sikap hati yang memasrahkan diri kepada Tuhan agar bisa dibuka (Al-Fatihah), diarahkan (iftitah), dan terhubung (salat). Tanpa salat, kita hanya membaca dan mengartikan dengan pikiran sendiri, tanpa terhubung dengan hati.

Bahasa Ajam: Bahasa yang Tidak Tertulis

Usluma adalah membaca tulisan, sedangkan iqra adalah membaca yang tidak tertulis (tersirat). Jika membaca tulisan Al-Qur'an tanpa terhubung dengan kesadaran yang lebih tinggi, kita tidak akan mengerti maknanya dan akan selalu lupa. Surat Fatir (35:29) menjelaskan bahwa orang yang membaca kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki adalah orang yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi. Ayat dijelaskan dengan ayat lain (ayat bil ayat), sehingga kita tidak perlu menambahkan opini atau tafsiran.

Rohul Kudus dan Muslimin: Syarat Memahami Al-Qur'an

Surat An-Nahl (16:102) menjelaskan bahwa Rohul Kudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an dengan benar untuk meneguhkan hati orang yang beriman dan menjadi petunjuk bagi orang yang berserah diri (muslimin). Rohul Kudus adalah fasilitas kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang sudah sampai di kesadaran roh (AKU 2). Muslimin adalah orang yang berserah diri, menyerahkan seluruh akalnya kepada Tuhan agar dibuka, diarahkan, dan dihubungkan. Bahasa ajam adalah bahasa yang tidak tertulis, seperti tanda-tanda alam yang bisa dimengerti tanpa kata-kata.

Kesimpulan dan Pengantar Metodologi 6M

Pembahasan tentang bagaimana mempergunakan akal akan dilanjutkan di episode berikutnya. Metodologi 6M dari guru, Pak Arif, diperkenalkan: Membaca, Mempelajari, Memahami, Mengamalkan, Mensyiarkan, Melestarikan. Banyak masyarakat masih berada pada tahap membaca, belum sampai pada tahap mempelajari, memahami, dan seterusnya. Ini akan dibahas lebih lanjut di episode mendatang.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 kita itu buka Quran untuk memasrahkan seluruh hati diri kecerdasan kita untuk dialiri kecerdasan dan dibacakan langsung sama yang sumber Quran ini gitu. Oke. Begitu itu dibacakan baru kita mengikutinya. Oke. Baca harus dipahamin. Pahamin dilaksanakan. Hm. Dilaksanakan dengan cara berbuat baik gitu loh. Tujuan dari membaca Quran ini adalah kesadaran yang bertambah. H yaitu takwa. [Musik] Asalamualaikum. Selamat datang di Ngaji Bareng dari lisan menuju kesadaran. Kita menyalami lagi Quran untuk mempelajari, untuk bagaimana kita memahami dengan cara-cara yang mudah. Dan seperti biasa

0:47 kita di sini hanya sebagai footnote tambahan kecil untuk pengetahuan-pengetahuan yang menjadi puzzle-puzzle yang mudah-mudahan menambah khasah dari apapun konteks yang nanti dialirkan dan yang paling penting kita terus belajar dan sesama murid yang terus mau bertubuh. Kita sudah bicara tentang Quran itu mudah. Kita sudah bicara tentang Quran itu sebagai petunjuk bukan hanya dibunyikan gitu. Dan kemudahan-kemudahannya salah satunya adalah menggunakan bahasa lisan. Bahkan kita sudah bicara tentang arabian itu ternyata bukan hanya dalam lisan Arab tetapi yang diurai. Nah, yang jadi pertanyaan ayat yang pertama konon katanya iqra. Nah, iqra ini adalah baca dan ee kita tuh dapat ilmu yang sangat luar biasa dari Pak Arif ini guru kita itu metodologi 6M namanya. Nah, kita akan mulai pelan-pelan dimulai dari iqra

1:33 dulu. Gimana, Mas? Iqra nih, Mas membaca. Iya. Makasih, Kang Abu. Iya. Jadi, kita belajar sama-sama ya. Ketika Nabi Muhammad pertama kali mendapat ayat Quran tuh iqra gitu. Iqra itu artinya baca kan. Hm. Cuman waktu itu Nabi Muhammad bilang, "Aku enggak bisa baca gitu. Aku enggak bisa baca." Ayo kita buka yuk dulu yuk. Surah 96. Oke. 96 ayat 1 ya. Sampai 5. Oke. Kan ee Nabi Muhammad kan sudah kita bahas bukan enggak bisa baca tulisan kan. Jadi waktu enggak bisa maana biqori enggak bisa baca tuh apa gitu ya. Oke. Jadi di surat Al-Aq nih yang ee ayat pertama, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan." Heeh. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Heeh. Bacalah dan Tuhanmulah yang

2:21 maha mulia. Heeh. Yang mengajar manusia dengan pena dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Heeh. Jadi di sini dikatakan bahwa alqalam itu bukan pena tapi dengan perkataan ya. Sebenarnya alqalam itu perkataan. Jadi dengan perkataan Tuhanlah kita belajar dan Tuhan mengajarkan iqra di sini sebenarnya ee bukan baca tulisan gitu karena kan enggak ada tulisan ya. Enggak ada tulisan, enggak ada huruf lautun wala harfun gitu. Enggak ada tulisan, enggak ada huruf. Semua tuh kan pakai tanda ke dalam hatimu kan katanya di hati gitu. Jadi ketika sebenarnya yang terjadi adalah ketika itu ketika Nabi Muhammad sampai di kesaran aku dua atau aku satu, maka aku satu dan aku dua itu kan mengalirkan h sesuatu melalui tanda atau ayat yang menjelaskan ayatum bainat

3:08 ke dalam hati yang harus sebenarnya kita baca gitu. Oke. Tapi berarti bukan baca tulisan tapi baca Anda, gitu ya. Kan kita sudah belajar juga bahwa ee kalau kita baca Quran ada segitiga itu kan. Jadi di sini ada ayat itu ada tiga. Ada ayat di buku di kitab, ada ayat di hati, ada ayat di semesta, gitu. Oke. Nah, tiga-tiganya ini harus nyambung gitu dan harus bisa diiqrakan. Jadi, ee baca Quran dengan cara iqra itu artinya sebenarnya sebenarnya enggak ada perintah membaca, Kang Abu. Hm. Ini kunci nih, baca tulisan gitu. Iya. Oke. Enggak juga baca tulisan. Oke. Enggak juga membaca. Hm. Tetapi kunci di dalam mempelajari Quran adalah tidak membaca tetapi dibacakan. I

3:55 see. Nah. Yes. Jadi kita itu tidak sedang membaca tulisan tetapi kita tadi kan kemarin waktu di episode sebelumnya kan kita bilang bahwa kuncinya adalah pasrah berserah kan. Kuncinya adalah muslim kan untuk belajar Quran ini. Ee muslim artinya pasrah dan beserah. Menyerahkan seluruh ee akal kita. Kapan kita bahas tentang akal ya? Untuk berapat dibuka kemudian diarahkan, kemudian dihubungkan. He. Begitu sudah terbuka lewat Alfatihah, makanya membuka ini pakai alfatihah diarahkan namanya iftitah lalu dihubungkan namanya salat, maka salat hakikat ya. He. Maka ketika itu Tuhan akan

4:40 mengalirkan kesadaran untuk kita bisa membaca ini gitu. IC bukan dengan cara membaca tetapi dibacakan. Nah, ya kita buka ayatnya ya. 29. Pertama bahwa itu adalah membaca iqra dan di coba kita buka 29 mungkin sebelum 2945 ya. Di surah 75 oh 16 ayat 16 sampai 19. Oke, surat Alqiyamah ya, 75 dari 16 nih. Jangan engkau gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Heeh. Sesungguhnya kami yang akan mengumpulkannya di dadamu dan membacakannya. Nah, ini kunci nih. Ah, si jadi baca Quran itu bukanlah kita membaca, tetapi kita dibacakan di hati.

5:26 Oke. Petunjuknya tuh dibacakan di hati. Hm. kita itu hanya mengikuti bacaan yang dibacakan di hati gitu. Oke. Jadi kalau kita buka Quran niatnya membaca dan pengin memahami supaya kita ngerti itu arahnya sudah salah. Oke. Kita itu buka Quran untuk memasrahkan seluruh hati diri kecerdasan kita untuk dialiri kecerdasan dan dibacakan langsung sama yang sumber Quran ini gitu. Hm. Si aku satu. Oke. Begitu itu dibacakan baru kita mengikutinya. itu adabnya gitu. Hm. Jadi bukan buka buku baca, bukan buka buku memasrahkan hati diri, keberadaan untuk dibuka, diarahkan, dihubungkan, baru kita dibacakan di hati. Kita hanya mengikuti

6:12 apa yang dibacakan di hati kita, gitu. Oke. Oke. Ini agak berbeda ya sama mainstream. Mainstam. I fix ini beda banget. Tapi ayat Qurannya bilangnya begitu. Iya iya iya iya i. Nah, terus 18. Oke. Apabila kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu. Heeh. Kemudian sesungguhnya kami yang akan menjelaskannya. Jadi udah udah Quran itu dibaca kami itu di situ ada Allah, ada Jibril segala macam ya. Jadi Jibril itu kecerdasan di aku dua untuk membuat kita diuraikan Al-Qur'an itu. Maka setelah itu setelah dibacakan kita mengikuti bacaan lalu akan dijelaskan langsung gitu. Hm. Hm. Metodenya gitu. Oke. Jadi ini namanya tilawah. Tilawah itu tidak membaca. Hm. He. Tetapi mengikuti bacaan. Oke. Oke.

7:00 Dan penjelasannya. H. Makanya Quran itu ahsanal tafsir. Jangan kita menafsirkan Quran sendiri karena itu akan dijelaskan sama Tuhan langsung. Hm. Hm. Tapi kita gitu dialirkan. Syaratnya harus tiga. Eh, empat. Satu, memasrahkan seluruh akal. Hm. Akal itu artinya pusat kesadaran yang terdiri dari otak, pikiran, hati, nurani semua dipasrahin keberadaan kita pada Tuhan untuk dapatlah Tuhan membuka akal kita lalu menghubungkan eh mengarahkan akal kita kepada sumbernya yaitu Tuhan, tidak mengarah ke mana-mana dan menghubungkan antara akal kita yaitu hati dan Tuhan lewat kecerdasan namanya Jabarul itu atau Jibril. Lalu kemudian

7:46 Tuhan akan menjelaskannya. Hm. menguraikannya. Hm. Membuat kita jadi jelas, jadi paham gitu. Oke. Dan proses ini langsung sih sebenarnya. He. Ini kita buka ya, surah Albaqarah ayat 121. Hm. Oke. Tilawah itu ya. Heeh. Sekarang kan tilawah kayak jadi musabaqah tilawatil Quran gitu ya. Iya. Bagus-bagusan baca, bagus-bagusan bunyi kan bukan untuk paham. Iya. Iya. Benar-benar orang-orang yang telah kami beri kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya. Mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barang siapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi. Orang-orang yang telah yang telah kami beri kitab. Siapa tuh? Ahli kitab tuh kan ya kita yang

8:33 sudah ada di dalamnya. Semua iya di dalam kitab ini. H. Jadi ahli kitab yang telah diberi kitab. Kan kemarin kita bahas di surat 68 ayat 36. Iya. bahwa dan 37 bahwa kita itu orang-orang yang telah diberi kitab sama Tuhan, ahli kitab. Mereka membaca sebagaimana mestinya tuh maksudnya tilawatihi di sini itu haqq tilawah hak yang hak gitu ya. The truth. Cara baca yang benar. Hak tilawah tuh tilawah yang paling benar adalah tilawah itu artinya mengikuti bacaan. Hm. Tilawah tuh bahasa Arab yang nanti boleh ditanya sama teman-teman yang ahli bahasa Arab. Arti dari tilawah tuh mengikuti sebenarnya. Hm. mengikuti bacaan tuh ada dua. Dibacakan di hati kan di 26 192 sampai 194 ya. Iya.

9:20 Diturunkan ke hati. Hm. Lalu diikuti bacaan itu. Kemudian dijelaskan. Itu pertama mengikuti bacaan. Mengikuti bacaan yang kedua adalah begitu kita jelas diikuti dengan perbuatan gitu. I see. Jadi mengawah tuh action juga. Hm. Jadi mengikuti apa yang dibacakan, ditunjukkan, dan diikuti pula dengan action gitu. Kalau hanya tilawah membaca bagus-bagusan, itu bukan tilawah namanya. Oke. Harus sampai action gitu. Iya iya iya iya. Baru Quran itu jelas. Oke. Karena ada bukunya kan segitiga ya. Iya. Iya. Dibacakan di hati sehingga kita paham. Setelah itu kita lakukan melalui ayat-ayat di semesta gitu, lewat

10:05 action gitu. He baru Quran itu bisa jelas. Dan ketika dibacakan dengan cara seperti ini, maka kita akan dibacakan Quran dan tidak akan lupa. Hmm. Nah, kita buka ya 87 ayat 6 dan 7 ya. Nih. Kami akan membacakan Al-Qur'an kepadamu sehingga engkau tidak akan tidak akan lupa kecuali jika Allah menghendaki. I sungguh Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Jadi kita akan dibacakan sampai kita tidak akan lupa. Kenapa tidak akan lupa? Karena apa yang dibacakan itu sudah menjadi kesadaran di dalam diri kita. Dan by the way tujuan dari membaca Quran ini adalah kesadaran yang bertambah. H yaitu takwa.

10:51 H takwa itu by definition adalah orang yang kesadarannya meningkat. Oke. Lalu di diiringi dengan perbuatan. Jadi ayatnya itu sudah dibaca, habis itu dipahami, habis itu dilaksanakan pasti enggak lupa gitu. Hm. Dan nanti kalau lebih advance lagi yang melakukan juga bukan kita, gitu. Kita hanya menyaksikan. Iya. Oke. Jadi ayat-ayat ini kita alami ya. Kalau ayat ini kita alami, kita enggak akan lupa. Hm. Nah, itu cara baca yang benar. Tapi ada juga membaca secara usluma itu ya. Iya. Nah, coba kita buka tadi 29 ayat 45. Justru bukan baca tapi dibacakan tadi ya poinnya. Dibacakan. Ikan. Wah, ini nice siik. Oke. Bacalah kitab Al-Qur'an yang telah

11:38 diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan ketahuilah mengingat Allah salat itu lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Nah, kalau kita buka 29 ayat 45. Hm. Di sini kata-katanya, "Bacalah Quran dan dirikanlah salat." Betul. Hubungannya apa baca Quran dan dirikanlah salat? Hmm. Karena Quran itu bisa dipelajari dengan mudah kalau ketika baca kita salat gitu. Terhubung ya. Terhubung. Hm. Kalau enggak terhubung siapa yang mau jelasin gitu. Oke. Makanya Quran itu harus dibaca dengan sikap hati yang sudah memasrahkan seluruh hati pikiran kepada Tuhan untuk

12:24 bisa dibuka Alfatihah, diarahkan iftitah dan terhubung yaitu salat. H tanpa membaca Quran dengan salat maka kita tuh hanya membaca ini dan mengartikannya dengan pikiran kita gitu. Oke. Hatinya tuh enggak terhubung dengan Tuhan gitu. Hm. Hm. Dan ee kalau ketika sudah terhubung dan membaca Quran baru Quran dibacakan, kita paham ini di sini bacanya juga kata-katanya beda kan. Usluma ya. Usluma. Iya. Usluma itu membaca tulisan. Oke. Kalau iqra itu membaca yang tidak tertulis, tersurat-sirat lah ya. Tersat tersirat. Jadi kalau membaca tulisan ini, baca Quran nih, hati, pikiran, dirinya enggak terhubung dengan kesadaran lebih tinggi

13:09 atau higher self atau aku dua atau aku satu ini enggak bakal ngerti sampai kapanpun juga gitu. Hm. Oke. Enggak bakal ngerti ee maknanya dan akan selalu lupa. Hm. Berapa banyak Kang Abu punya pengajian yang hari ini diajarin 2 bulan lagi lupa lagi, lupa lagi gitu. Ayat yang mana itu ya gitu. Enggak pernah ingat. Heeh. Heeh. Ya, enggak pernah dijalanin. Iya. Iya. I. Oke. Baca harus dipahamin. Pahamin. Dilaksanakan. Hm. Dilaksanakan dengan cara berbuat baik gitu loh. Oke. Nah, coba ya. 35 ayat 29. Oke. 35 Fatir 29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah Al-Qur'an dan

13:56 melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan mereka itu mengharapkan perdagangan atau perniagaan yang tidak akan rugi. Nah, selalu membaca kitab Allah tadi kan kitab Allah enggak cuman ee yatslu ini kan husluma juga nih ya bukan iqra kan membaca kitab Allah tertulis ya kan. Lalu selalu dan mendirikan salat itu satu kesatuan, satu package. Betul. Jadi enggak bisa kita baca di sini salat ini bukan salat ritual itu yang lima waktu ya. Enggak mungkin lagi salat ritual baca Quran gitu kan. Iya. I di masa salat tuh terhubung dengan Tuhan gitu. Oke. Dan terhubung dengan Tuhan itu lalu kemudian di diikuti atau tilawatihi dengan action.

14:43 Hm. H menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan secara diam-diam atau terang-terangan itu adalah perniagaan yang tidak kenal merugi. Ya 3530-nya agar Allah menyempurnakan balasan h dan menambahkan karunia Allah maha pengampun lagi maha mensyukuri mensyukuri gitu loh. Dan 3531-nya dan kami telah wahyukan kepadamu Al-Qur'an dengan benar membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Nah, nanti kita bahas deh kitab-kitab sebelumnya tuh maksudnya bukan bukan Injil Taurat itu bukan dan mengetahui yang benar-benar Allah maha melihat dan menyaksikan. Artinya waktu kita membaca tuh Allah menyaksikan gitu. Oke. Karena ee tadi ya Al-Qur'an ada di buku dan di sini di

15:31 hati gitu. Nah, di hati itu bahasanya bahasa ajam kan? Hm. Bukan bahasa bahasa ajam kan? Bahasa yang enggak ada suara, enggak ada kata-katanya. Betul. Betul. Bahasa asing kalau di Quran tuh ya. Padahal bukan asing itu. Iya. Maksudnya sesuatu yang bukan bahasa dalam konteks language gitu. Rasa kali ya. Coba kita buka ya. 17 125 120. Oh ya. Oke. Oh 102. Heeh. 102. Sori bahasa A 101 deh. Dari 101 ya. Oke. Sampai 103. Dan apabila kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkannya, mereka berkata, "Sesungguhnya engkau hanya mengada-ngada saja. Sebenarnya

16:18 kebanyakan mereka tidak mengetahui." Nah, jadi nanti pembahasan kita tuh ayat di ayat itu ini ya. Jadi misalnya ada satu ayat dijelasin sama ayat lain. Heeh. Ada ayat dijelasin ayat lain, ada ayat dijelasin ayat lain sehingga ayat ini saling menjelaskan. Self explanatory bahasa Inggrisnya itu menjelaskan dirinya sendiri. I jadi kita enggak perlu ada tambahan opini tafsiran, tambah-tambahin, dikurung-kurungin segala macam tuh ya. Ada kata-kata ditambahi habis semua itu ayat. Ayat dijelasin dengan ayat. Nah, ayat dijelasin dengan ayat ini adalah yang saya maksud segitiga itu. Hm. He. Bisa ayat Quran ini dijelasin oleh ayat Quran yang lain. Bisa ayat Quran ini dijelaskan di hati kita dibacakan. Jadi petunjuknya di hati. Bisa ayat ini

17:03 dibacain petunjuknya ada di semesta, gitu. Oke. Itu namanya ayat bil ayat. Jadi ayat diletakkan di ee setelah itu ada ayat yang menjelaskan. H ya. Lanjut. Kang Abu. Katakanlah Rohul Kudus menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran untuk meneguhkan hati orang yang telah beriman. Heeh. Dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Betul. Jadi, Rohul Kudus itu atau di sini Jabarul gitu ya, Jibril gitu ya, menurunkan Al-Quran dengan benar. Jadi, Rohul Kudus itu bukan sosok ya. Hm. Tapi kecerdasan, fasilitas kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang sudah sampai di sadaran roh gitu atau di AKU 2. Hm. He. Dia pasti dapat fasilitas

17:49 yang namanya Rul Kudus atau Jabarul. Nah, ini akan menjabarkan ee penjelasan tentang Quran ini dan itu hanya untuk orang-orang yang muslimin ya. Muslimin bukan beragam berlabel Islam. Muslimin adalah orang yang berserah diri. Apa yang diserahkan? Sekali lagi seluruh akalnya, pikiran, hati, nurani diserahkan kepada Tuhan. Lalu untuk dapat dibuka, h diarahkan, dihubungkan untuk kemudian dialirkan, gitu. Oke. Oleh si energi yang lebih besar gitu. Nah, 103-nya tuh coba. Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata, "Sesungguhnya Al-Qur'an itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya." Heeh. Bahasa

18:34 yang bahasa orang yang mereka tuduhkan kepadanya adalah bahasa ajam. Heeh. Padahal ini Al-Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang jelas. Iya. Jadi sebenarnya ee ajam itu artinya bukan asing, bukan artinya waktu itu Nabi Muhammad pakai bahasa yang lain Arab tahu diajarin bahasa Inggris gitu. Enggak, tapi bahasa yang enggak pernah ada dan enggak akan pernah ada gitu. Hm. Kayak misalnya gini, ada langit mendung itu ayat kan berarti hari mau hujar. Ada tulisannya enggak? Oke. Kan cuma langit mendung aja. Udah aja ya. Tapi semua orang tahu gitu. Kalau langit mendung berarti hari mau hujan itu maksudnya bahasa ajam. Hm. Kan enggak ada tulisannya, enggak ada kata-katanya. Enggak ada suaranya juga. Sikut, "Al ini

19:21 mau hujan kan?" Enggak ada. Iya. Iya, iya. Iya. Itu namanya ayat gitu. He. Yang harus diterjemahkan bahwa oh bentar lagi hari mau hujan. Itu namanya bahasa ajam yang semua orang ngerti. Nah, ini nih. Ini banyak petunjuk ini yang tahu-tahu ada tandanya, "Oh, ini gini nih maksudnya gitu." Nah, itu jadi kita tuh ee harus dibacakan dan I ee karena ini bahasanya bahasa ajam gitu ya dan ee harus memasrahkan hati akal gitu ya. Nah, nih mungkin kita perlu bahas Kang Abu di episode berikutnya nih ya. Maksudnya mempergunakan akal tuh apa? Oke. Oke. Karena kan Quran selalu bicara bahwa tatafakarun takilun, tatafakarun takilun

20:08 gitu ya. Betul. Betul. Oke, Mas. Ini untuk baca juga menarik gitu ya. Tapi at least at least paling seenggaknya ada mau baca buku aja dulu gitu ya Mas ya. Baca kitabnya aja dulu gitu ya. At least gitu ya. mau membuka dan kalau kita tadi bicara dalam tentang konteks ternyata ya bukan hanya baca tapi dibacakan itu tilawah keren banget sih jadi konteksnya lebih kepada ya tadi dibuka dan nanti dibacakan dan kita bisa apa ya mengikuti bacaannya dan saya rasa ini perlu pendalaman yang lebih dalam lagi. Dan mungkin 5 M-nya eh 6 M-nya kita spill dulu kali ya Mas ya. He. Rumus dari guru kita tuh ini simpel tapi dahsyat gitu. membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan, mensyiarkan, melestarikan.

20:54 Nah, ini 6M ini sangat fenomenal lah ya dalam konteks ternyata banyak masyarakat itu masih hanya dalam konteks kebanyakan itu membaca, belum masuk kepada mempelajari, memahami dan seterusnya. Nah, kita akan buka pelan-pelan, kita akan selami pelan-pelan di episode-episode yang akan datang. Terima kasih. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube