0:00 [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat Nusantara, apa kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apapun, dan berkelimpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Harga naik, rakyat susah. Inikah momen Satrio Piningit bangkit? Hai, Bro. Pernah enggak kamu duduk di warung kopi lihat ibu-ibu ngitung uang receh buat beli beras? Pernah enggak kamu lihat bapak-bapak petani ngelus padi yang baru panen tapi matanya kosong karena tahu harganya enggak bakal naik?
0:48 Gue pernah dan rasanya sakit. Dulu uang Rp50.000 cukup buat belanja seminggu. beras, sayur, telur, minyak goreng. Sekarang Rp200.000 aja belum cukup. Belum listrik, belum air, belum ongkos anak sekolah. Kita kerja keras, bangun pagi, pulang malam, capek, keringat bercucuran. Tapi tetap aja hidup enggak maju, kayak lari di tempat. Makin cepat, makin enggak ke mana-mana. Di desa, petani udah kerja dari subuh sampai magrib. Panen padi, jagung, kacang.
1:33 Tapi hasilnya pupuk naik, benih naik, ongkos angkut naik. Tapi harga beras tetap 5-6.000 per kilo. Dia kerja sepanjang musim cuma buat cukup makan dan bayar utang. Bukan buat nabung, bukan buat kirim anak kuliah, cuma buat bertahan hidup. Di kota, ibu-ibu jualan gorengan dari jam 5. pagi. Anak-anaknya sekolah, tapi sering ditagih SPP. Kalau enggak bayar, katanya nanti kartu pelajar dibekuin. Padahal dia kerja keras, tapi tetap aja dianggap kurang. Anak muda lulus kuliah, lamar kerja 100
2:18 tempat, ditolak semua. Ada yang kerja jadi ojek online 12 jam sehari baru cukup buat bensin sama makan. Mau nikah enggak berani. Mau punya rumah tidur aja masih ngekos. Mereka enggak malas mereka lelah. Lelah lihat sistem yang enggak adil. Lelah lihat orang yang enggak kerja tapi kaya. Lelah lihat mimpi mereka dikubur oleh realita. Nah, di tengah semua ini entah kenapa nama Satrio Piningit mulai muncul lagi. Bukan karena kita pengin penyelamat dari langit, tapi karena kita lelah dan butuh
3:04 harapan. Kamu tahu enggak dulu di zaman Jawa kuno ada raja yang namanya Raja Jayabaya, raja kerajaan Kediri abad ke-12. Dia bukan cuma raja biasa, dia juga dianggap nabi karena bisa meramal masa depan. Nah, dalam kitab Jayabaya dia bilang akan datang zaman edan. Zaman di mana yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Zaman di mana uang lebih dihormati daripada manusia. Waduh, kedengarannya kayak zaman sekarang ya. Tapi ini bukan candaan. Ini adalah ramalan yang sedang terjadi di depan mata kita.
3:49 Zaman di mana kejujuran dianggap bodoh dan kebohongan dianggap cerdas. Zaman di mana yang korupsi dihormati dan yang jujur dikucilkan. Dia juga bilang di tengah zaman gelap itu akan muncul seorang satria tersembunyi. Satrio piningit, bukan raja, bukan pejabat, bukan artis, tapi orang biasa yang punya hati bersih, berani, dan adil. Dan dalam Serat Musarar karya Ranggawarsita disebutkan, Rojo iku dadi panutane rakyat. Yen ora adil negarane bakal runtuh. >> Raja itu panutan rakyat. Kalau enggak
4:35 adil, negaranya akan hancur. Ini bukan ancaman, ini peringatan. Dan jika kita lihat sekarang ada pejabat yang hidup mewah, sementara rakyatnya enggak bisa bayar obat. Ada proyek besar yang makan duit negara miliaran tapi mangkrak. Ada anak-anak yang putus sekolah karena enggak mampu. Ada sebuah kata bijak dari Seratul Langreh. Sing elik marang bebendu bakal ingangs-mangs. >> Siapa yang waspada terhadap bencana akan selamat di segala masa. Apakah kita sedang mengabaikan tanda-tanda ini? Gue enggak mau nyerang siapa-siapa. Y,
5:20 tapi jujur aja kadang kita ngerasa kayak diputar-putar sama sistem. Pemerintah bilang ekonomi tumbuh 5%. Tapi kok kita enggak ngerasain? Yang ngerasain mungkin yang punya saham di perusahaan besar. Kita yang ngerasain cuma harga naik, listrik naik, ongkir naik. Pendidikan dulu sekolah negeri gratis. Sekarang ada SPP, ada sumbangan, ada dana pembangunan. Anak desa harus jalan 10 km ke sekolah. Kalau hujan ya basah. Kalau listrik mati ya enggak bisa belajar online.
6:07 Guru honorer digaji Rp300.000 sebulan. Harus ngajar di tiga sekolah buat bisa makan. Sementara menteri digaji puluhan juta, dikasih mobil, rumah, jet pribadi. Adil enggak? Kesehatan BPJS sering ditolak. Rumah sakit bilang harus bayar DP dulu. Padahal orang sakit butuh cepat. Ada yang meninggal di ambulans karena enggak bisa bayar. Dan yang paling bikin miris, koruptor besar dihukum 2 tahun. Pencuri ayam dihukum 3 tahun. Aktivis dikriminalisasi, jurnalis diintimidasi.
6:53 Sementara cukung bebas malah jadi penasihat. Ini bukan lagi soal hukum, ini soal keadilan yang mati. Dalam serat Petruk Dadi Ratu atau ajaran Petrungkulan disebutkan >> wong gede yen ora adil dadi bol tumekaning des. >> Orang besar kalau gak adil jadi bencana bagi desa. Ada pepatah Jawa yang bilang >> tumindak yen dienggo adat bakal gawe kerusakan. Perilaku buruk kalau dijadikan kebiasaan akan menimbulkan kerusakan dan kita sudah terlalu lama membiarkan ketidakadilan menjadi kebiasaan. Tapi gue percaya kritik bukan untuk membenci tapi untuk membangun.
7:40 Seperti kata Bung Karno, "Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kucangkan dunia. Kita butuh semangat itu lagi. Semangat yang bukan hanya marah, tapi bergerak. Mari kita selami lebih dalam kitab Jayabaya, sebuah naskah kuno yang dipercaya sebagai wahyu ilahi yang diturunkan kepada Raja Jayabaya pada abad ke-12 Masehi. Kitab ini bukan sekadar amalan, tapi cermin dari kehidupan manusia sepanjang zaman. Dalam kitab Jayabaya Pararaton disebutkan, >> "Naliko jaman edan wis dumuko, wong wadon dadi wong lanang, wong lanang dadi
8:27 wong wadon. Wong jujur dikiro wong bodo, wong bodoh dikiro wong pinter. Wong kang mlarat dadi wong sugih, wong kang sugih dadi wong melarat." Ketika zaman edan telah tiba, perempuan menjadi seperti laki-laki, laki-laki seperti perempuan. Orang jujur dianggap bodoh. Orang bodoh dianggap pintar. Orang miskin menjadi kaya, orang kaya menjadi miskin. Apa yang digambarkan di sini bukan hanya soal gender, tapi kekacauan nilai. Di zaman sekarang kita lihat kebenaran dikubur oleh narasi media. Kejujuran dianggap lemah. Kekayaan dihormati meski didapat dari korupsi.
9:14 Kemiskinan dihina sebagai tanda kemalasan. Padahal dalam serat kalida karya Ranggawarsita, sang pujangga menyatakan, "Wahwah, jaman iki karusakan katon ing sakabehing papan. Wong kang mlarat dianggep olo, wong kang sugih dianggep luhur. Nanging opo sejatine luhur iku? Luhur iku saka budi, dudu saka bond. Wah, zaman ini kerusakan tampak di mana-mana. Orang miskin dianggap hina, orang kaya dihormati. Tapi apa sebenarnya kemuliaan itu? Kemuliaan berasal dari budi, bukan dari harta.
10:01 Dalam tradisi Jawa, Satrio Piningit bukan sekadar tokoh legendaris. Ia adalah simbol harapan akhir zaman. Sosok yang akan muncul saat dunia runtuh oleh ketidakadilan. Dalam serat praniti wakia disebutkan, "Satrio piningit jenengipun katingal nanging asmanipun amerta. Lahir saka wong cilik nanging batinipun agung ora nganggo mahkota nanging karanipun dados ratu." Satrio piningit namanya tersembunyi namun jasmaninya abadi. Lahir dari orang kecil namun batinnya mulia. tidak memakai mahkota, namun karyanya menjadikannya raja.
10:46 Dia bukan lahir dari keluarga bangsawan. Dia tidak punya pasukan, tidak punya media, tidak punya uang, tapi dia punya keberanian, keadilan, dan cinta sejati kepada rakyat. Dalam serat Jayabaya dinyatakan satrio piningit kang bakal ngeluar bumi Jawa sako cengkraman para wong aji kang durjo. Mboten nganggo bedang nanging nganggo kalbu kang murni. Satrio piningit yang akan membebaskan bumi Jawa dari cengkeraman para orang berkuasa yang jahat. Tidak menggunakan pedang melainkan hati yang murni. Perhatikan, dia tidak menggunakan
11:32 kekerasan tapi kebenaran. Dia tidak mengandalkan senjata tapi kejujuran. Dia tidak butuh pasukan, tapi rakyat yang tersadar. [Musik] Dalam Serat Sabdo Palon yang merupakan naskah spiritual Jawa kuno disebutkan bahwa sebelum Satrio Piningit muncul akan ada tanda-tanda alam dan sosial. Sakurunge Satrio Piningit muncul, bumi bakal guncang. Segara mundak banyu mili ing pucuking gunung. Wong pod mlarat nanging wong aji sugih. Wong lali marang adat nanging eling marang duit. Sebelum satrio piningit muncul bumi akan berguncang.
12:18 Laut naik air mengalir di puncak gunung. Orang miskin makin miskin tapi orang berkuasa makin kaya. Manusia lupa pada adat tapi ingat pada uang. Apakah kita tidak melihat ini sekarang? Banjir di mana-mana, gunung meletus, cuaca ekstrem, harga kebutuhan pokok naik, sementara upah tidak naik. Anak-anak muda lupa budaya, tapi hafal harga iPhone. Petani jual tanah karena enggak bisa bayar pupuk. Sementara pengembang beli lahan murah lalu jual mahal. Dalam Serat Dharma Gandul disebutkan, >> "Wong cilik nangis ing wayah wengi, wong agung lagu ing wayah siang.
13:04 Nanging satri sejati bakal tangi s tengah-tengah wong cilik kang ora laku nanging nangis bareng." Orang kecil menangis di malam hari, orang besar tertawa di siang hari. Tapi satatria sejati akan bangkit dari tengah-tengah orang kecil yang tidak tertawa tapi menangis bersama mereka. Inilah yang membedakan Satrio Piningit. Dia bukan penyelamat dari atas tapi dari bawah. Dia bukan datang dari istana tapi dari sawah, dari pasar, dari kampung. Dia bukan tokoh yang diusung media, tapi yang dipilih oleh hati rakyat. Mari kita bicara soal harapan. Dulu banyak rakyat kecil percaya kalau
13:49 kita kerja keras pasti ada jalan. Kita percaya bahwa kejujuran akan dihargai bahwa pendidikan bisa mengangkat derajat. Tapi kemudian ada satu peristiwa yang mengguncang kepercayaan itu. Kasus ijazah palsu mantan presiden ketujuh. I kita semua tahu ceritanya. Seorang presiden yang diangkat sebagai simbol perubahan yang diidolakan rakyat karena latar belakangnya dari rakyat kecil yang digambarkan sebagai pejuang anti korupsi. Tapi kemudian muncul dugaan ijazahnya tidak asli. Transkripnya hilang. Kampusnya tidak menyimpan arsip. Fotokopi ijazahnya penuh tanda tanya. Dan yang paling menyakitkan,
14:36 tidak ada proses hukum, tidak ada penyelidikan serius, media diam, Komisi Yudisial tutup mulut, KPK tidak bergerak. Sementara guru honorer dihukum karena ijazah tidak lengkap. Mahasiswa didu karena salah upload berkas. Pegawai negeri dipecat karena ijazah tidak terdaftar. Tapi ketika yang bersangkutan adalah penguasa, semuanya jadi masalah teknis, diselesaikan secara internal, tidak perlu dipermasalahkan. Rakyat pun bertanya, "Kalau kejujuran hanya penting untuk rakyat kecil, lalu buat apa kita jujur?" Seorang ibu di Solo bercerita, "Anak saya kerja keras 4 tahun kuliah,
15:23 ngutang sana sini, bayar uang kuliah tiap semester. Tapi waktu lamar kerja ditolak karena IPK-nya 3,2. Padahal si mantan presiden ijazahnya aja dipertanyakan, tapi bisa jadi presiden." Apa artinya kerja keras? Seorang petani di Klaten berkata, "Saya jual tanah buat biayai anak kuliah. Sekarang dia lulus tapi nganggur. Sementara yang ijazahnya dipertanyakan bisa jadi pemimpin negara. Saya jadi bingung apa yang salah dengan negeri ini. Inilah patahnya harapan. Bukan karena kemiskinan, tapi karena ketidakadilan yang sistemik.
16:12 Dalam serat bratauda dinyatakan ora ono siji wae kang biso nyelametake jagad kejobo wong-wong kang tangi bareng satrio piningit iku ora mung siji nanging ing atin tidak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkan dunia kecuali orang-orang yang bangkit bersama satrio piningit bukan hanya satu tapi 1000 dalam hati Maka Satrio Piningit mungkin bukan satu orang, tapi jutaan hati yang tersadar. Dia adalah guru honorer yang tetap ngajar meski digaji kecil. Dia adalah petani yang menolak jual tanah untuk proyek ilegal. Dia adalah jurnalis yang tetap menulis
16:57 meski diancam. Dia adalah anak muda yang memilih jujur meski dianggap ketinggalan zaman. Dalam serat wedatama, Ranggawarsita berkata, "Wong kang ngerti bebrayan iku wong kang siap ngakoni bebo ora gole kamulan nanging ngabdi marang sesami." Orang yang paham kehidupan bersama adalah orang yang siap menghadapi bahaya, tidak mencari kemuliaan, tapi mengabdi kepada sesama. Inilah jiwa satri piningit. Pengabdian, bukan ambisi. Jadi, apakah ini momen Satrio Piningit bangkit? Ya, tapi bukan karena dia akan datang dari gunung,
17:44 tapi karena kita semua bisa menjadi dia. Kita tidak perlu mahkota. Kita tidak perlu kekuasaan. Kita hanya perlu hati yang bersih, keberanian, dan cinta kepada kebenaran. Dalam serat wedatama, Rangga Warsita menutup dengan nasihat, >> "Ojo dumeh kanggo ojo sumelang yen melarat. Sing penting urip iku kudu adil ngabdi marang sesami lan tansah eling marang Gusti. Jangan sombong karena kaya, jangan takut karena miskin. Yang penting hidup harus adil, mengabdi kepada sesama dan selalu ingat kepada Tuhan. Maka Satrio Piningit bukan masa depan.
18:30 Dia adalah pilihan kita hari ini. Di pasar, di sawah, di kantor, di kampus, kita semua bisa menjadi dia. Karena keadilan tidak datang dari langit. Dia tumbuh dari tanah yang kita pupuk bersama. Bayangkan seorang anak kecil di pedalaman. Ia bangun jam pagi, jalan kaki 10 km ke sekolah. Sepatunya bolong, bajunya lusuh, tapi bukunya bersih. Ia bawa bekal nasi dengan sambal, kadang tanpa lauk. Ia belajar dengan tekun. Gurunya bilang, "Kamu bisa jadi apa saja, asal kamu percaya." Tapi 20 tahun kemudian, ia lulus kuliah,
19:18 lamar kerja 100 tempat, ditolak semua. Alasannya tidak punya koneksi. Ia kembali ke desa menjadi petani. Anaknya nanti akan mengalami hal yang sama. Tapi suatu hari ia membaca kitab Jayabaya. Ia membaca tentang Satrio Piningit. Dan ia tersenyum karena ia tahu Satrio Piningit bukan orang yang akan datang. Dia adalah orang-orang seperti dia yang tetap berjuang, yang tetap percaya, yang tetap jujur di tengah zaman edan. Maka ia mengajarkan anaknya, jangan takut jujur,
20:06 jangan takut miskin, yang penting jangan jadi orang jahat. Dan di sanalah Satrio Piningit lahir kembali, bukan dalam kemewahan. Tapi dalam kejujuran seorang ayah, dalam doa seorang ibu, dalam mimpi seorang anak. Jadi, Bro, kalau kamu merasa lelah, ingat kamu bukan sendiri. Dan mungkin kamu adalah bagian dari Satrio Piningit yang sedang bangkit. Karena keadilan tidak butuh mahkota. Dia butuh hati. Sing bener kudu ditindakake sanajan sepi pamrih, sepi ing wengkoning bumi. Yang
20:51 benar harus dilakukan meski sepi tanpa imbalan sepi di tengah bumi serat wedatama. Satrio piningit bukan legenda. Dia adalah kita. Dia adalah harapan. Dia adalah kebenaran yang tidak pernah mati. [Musik] Sampai di sini dulu, sahabat. Untuk pertemuan kali ini, SN berharap semoga dapat menghibur waktu luang bagi sahabat semua. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Segala kesalahan, kekurangan, atau bahkan berlebihan dalam penyampaian. Akhir kata, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
21:37 Salam sejahtera penuh cinta dari kami semua.