0:29 [Musik]
1:15 Naon anu [Musik] kaalaman jalan hirup praklakonan Rahayu panuntun indung ngadekun lembur paku [Musik] Enak libur. Enak keur libur.
2:02 Waduh. Ieu ngarana saha? Iqbal. Kelas sabaraha sakolahna? Opat ieu kasir sekolah kelasha? ya i truk tong nyo teu aturan ke budak sakola naon lamun ti peuting teu meunang ulin leuwih ti jam kecuali malam libur lamun malam belajar kudu cicing di imam juara juara pendukung persip lain aduh Ana main bolana di mana? Di lapangan. Lapangan keong. Hah? Di mana? Omblok. Omblok. Di mana? Dekat omblok.
2:49 Dekat omblok. Dekat omblok. Waduh. Bolana aya? Aya mana? Hah? Jelek pak. Muli bolana nu alus. Boga duit. Teu boga duit. Teu buka duit. Waduh. Karunya bapakna gawe naon? Naon angkot [Tepuk tangan] bangunan jujur dibagi dengan mi bola mana maneh nu gede ah bola gede tah ieu bola belikeun
3:34 bola pakana nu alus Bola bola belitar. Bola belar. Bola nu halus bolik. Kumaha? Anu badag. Oh badag badag. I budak awew kunaon ngilu-ngiluhan tik lu kene menang bobogohanus mandi encan. Si Egi di Bogor tadi kayak kamari kapanggih Pak di mana? Di Pambuan jeung si Egi. He liur keneh angger. Heeh. Nya sok main bolana
4:22 [Musik] wis. Siap. Ikutan anak kecil. Oh. Oh. Siap. Wah. Ini siap nih. Awas ya. Jangan yang lain ini ya. Ini sudah ada yang punyanya. [Musik]
5:09 Selamat datang Provinsi Jawa [Musik] Barat. Kami ucapkan selamat datang Gubernur Jomar Bapak H. Deni selamat datang dalam rangka kegiatan bikis anggota Gitra se Jawa Barat. kebahagiaan bagi kami semua di sini atas kehadiran Bapak Gubernur Jawa Barat untuk memberikan arahan akang siap saya bangga sama akang terus Kanguan berjuang kami ucapkan selamat datang Gubernur Bapak SH MM
5:55 acara anggota sejawa Barat, Bapak H. Deni Mulani, SH, M.M. [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Sampurasun. Yang saya hormati, saya banggakan orang tua kita semua, Ketua Partai Gerindra Provinsi Jawa Barat beserta
6:40 Ibu, saya ucap tepuk tangan semuanya. Saya ucapkan terima kasih atas keberhasilannya menambah jumlah orang yang bisa membawa Jawa Barat istimewa melalui visi pembangunan berkarakter sehingga Kabupaten Tasik hari ini sudah menjadi miliknya Partai Gerinda. Saya sih menganggap bupati dan wakil bupatinya adalah dua-duanya gerindra. Yang pertama bahwa Jawa Barat hari ini menjadi episentrum politik nasional dan itu bukan kata saya tapi kata para pengamat. Kenapa menjadi sentrum? Karena
7:27 ada tindakan-tindakan out of the box yang itu tidak ada dalam nalar birokrasi dan nalar politik. Kenapa? Karena saya mengembangkan politik itu basic saya ideologi bukan popularity. Jadi kalau orang mengatakan bahwa saya mengembangkan politik populis, saya iya saya adalah orang yang mengembangkan politik ideologi, memiliki basic populis dan memiliki basic ekologi. Kenapa? Kalau halnya berpolitik mengembangkan politik, pikiran-pikiran yang populis tanpa ideologi, berarti tidak ada arah politik. sekedar mendapat elektoral dari setiap tampilan, tetapi
8:13 juga mengembangkan politik ideologi tanpa membangun narasi-narasi yang populis yang berdasarkan nurani juga akan berbenturan dengan rakyat yang lagi buta ideologi. Tidak ada perkembangan di dunia ini yang mengalami perubahan dalam sebuah negara kecuali merubah desain strategi. Saya paham bahwa Tiongkok itu mengalami perubahan besar karena seorang tokoh yang begitu diidolakan di Tiongkok dan dia adalah tokoh parti komunis. Kemudian dia merubah gaya berpikirnya dari perbincangan-perbincangan ideologi komunis dalam sebuah lingkungan di Tiongkok. Kemudian dia rubah hasil
8:59 perjalanan dia berkeliling belajar di negara-negara kapitalis menjadi ideologi kapitalisme berbasis komunisme dan akhirnya melakukan lompatan atau lonjakan. Kita bicara tentang Jawa Barat. Apa sih yang terjadi dalam diri Jawa Barat itu? Saya pelajari lama. Jawa Barat itu sebuah provinsi di mana masyarakatnya itu terbagi-bagi dalam wilayah ideologi. Itu pertama. Yang kedua, masyarakatnya terbagi-bagi dalam wilayah episentrum kebudayaan. Yang ketiga, masyarakatnya juga sudah tumbuh menjadi masyarakat urban flural di mana tidak lagi ada
9:47 hegemuni satu suku. itu yang terjadi. Karena itu yang terjadi kemudian maka tidak mungkin berpolitik di Jawa Barat kalau tidak mengembangkan pikiran ideologi baru. Dan pikiran ideologi baru itu didasarkan pada narasi-narasi rohaniah yang itu dijalani lewat perjalanan spiritualitas. Ini penting. Karena itu dijalani perjalanan sialitas, maka saya memiliki sebuah keyakinan bahwa etintas kebudayaan masyarakat Jawa Barat itu adalah menginginkan sosok pemimpin yang mampu menjawab seluruh tantangan dan
10:33 perubahannya. Dan dia lepas dari sekat-sekat berpikir mazhab politik. Dan dia lepas dari diri hanya ingin sekedar populer. Dia lepas dari diri hanya sekedar ingin mendapatkan elektoral pragmatis. Maka dia harus berani melawan sekat-sekat itu dengan dua pertaruhan. Satu, mampu berlayar pada gelombang besar. Yang kedua, tenggelam dalam gelombang besar itu. Dan seorang politisi ideologis dia harus berani untuk melawan gelombang besar. Persoalan sampai ke tujuan atau tenggelam. itu adalah sebuah resiko. Sampai ke tujuan adalah sebuah keberkahan dan kemuliaan. Tenggelam pun adalah sebuah kemuliaan. Politik ini enggak ada dalam pikiran [Musik]
11:20 kita. Siapa yang berani mengembangkan politik itu? Ya, Pak Parbowo. Maka yang saya tampilkan hari ini sesungguhnya saya menerjemahkan pikiran itu dalam tataran teknis. Kenapa? Karena negara hari ini ada wilayah otonom, ada kebijakan umum, ada kebijakan yang bersifat spesial, ada kebijakan negara dalam pikiran besar dalam diri Pak Prabu Subianto. Maka saya seorang gubernur itu harus secara senyap menerjemahkan pikiran itu dalam perspektif pembangunan yang berkesinambungan. persoalan jumlah manusia yang berlebihan. Sekolah yang tidak lagi membuat iklim anak-anak betah di sekolahnya. Kenapa anak-anak tidak betah
12:05 di sekolahnya? Sekolahnya enggak ada toiletnya. Sekolahnya murabo. Gurunya tidak memiliki kualifikasi. Hubungan guru dengan murid diametral, tidak holistik. Tidak lagi hubungan guru dan murid seperti kita alami dulu ke guru punya rasa hormat, murid-muridnya punya rasa segan, gurunya penuh cinta dan rasa sayang. Kegelisahan guru-guru hari ini adalah guru honorer gelisah dengan nasibnya. Materialisme pendidikan sangat luar biasa. Pendidikan diukur hanya jumlah 20% dari anggaran. Akhirnya perencanaan pendidikan mengejar target 20%. Isinya tidak dipertimbangkan, tidak ada cinta. Maka hari ini saya mengkritik para tokoh. Kenapa barak militer Anda
12:51 ributkan 10 triliun korupsi dinas pendidikan Anda diam 1000 bahasa? Ini perspektif. Karena untuk itu rasa cinta pada sebuah kebijakan itu harus masuk. Maka saya memahami Pak Prabowo dengan mengembangkan sekolah-sekolah taruna nusantara itu pendidikan penuh cinta. di mana pemimpin hadir dalam sistemnya, pemimpin hadir dalam tindakannya, terbentuklah anak-anak yang hebat. Saya kan kemarin ke sana dan saya dari dulu saya tahu lulusan Taruna Nusantara bagus-bagus loh. Bagi saya Taruna Nusantara tidak boleh hanya ada di Cimahi, tapi di seluruh sekolah di Jawa Barat harus memiliki Taruna Nusantara. Kenapa? Tantangan kita besar,
13:37 Pak. ideologi dari dulu pertanyaan saya adalah ketika orang ngomong tentang ideologi Pancasila, mana sekolah-sekolah yang membentuk nasionalisme? Enggak ada. Enggak ada. Untuk itu ya sekarang sekolah harus dibangun dengan nalar nasionalisme. Karena apa? Karena gempuran ideologisasi baru dalam sebuah generasi yang tanpa asas. Dalam sebuah generasi yang hilang terhadap sejarah masa lalunya, dalam sebuah generasi yang hilang terhadap ikatan biologis masa lalunya, apalagi ikatan ideologis, maka harus ada ekosistem pendidikan yang menyadarkan mereka bahwa kamu adalah anak Indonesia. Maka Indonesia dalam
14:23 perspektif negara, maka saya sebagai orang Jawa Barat adalah kamu adalah anak Sunda, anak Jawa Barat. Identitas Siliwangi. Semangatmu adalah mau. Dan dari situlah kamu harus menjadi mau-mau baru dan mau-mau yang siap ke depan menjadi raja di negeri ini. Ini ini perspektifnya. Karena ini perspektifnya maka pemimpin harus berani mengambil tindakan. Tindakannya apa? Ketika orang tawuran, apakah kita hanya akan terus membiarkan? Ketika orang saling bunuh di jalanan, apakah hanya KUH pidana yang bisa menyelesaikan? Ketika anak-anak kita sudah kehilangan arah, apakah negara
15:10 tidak akan hadir untuk menyelesaikan? Apa problemnya, Kang Dedi? Problemnya adalah saya punya data analisis yang kuat bahwa kekacauan, identitas, ekosistem pendidikan, kegalauan itu terjadi berbanding terbalik dengan tahun 0-an. Hari ini anak-anak yang kehilangan arah, hari ini anak-anak yang tawuran, hari ini anak-anak yang mengkonsumsi Mobile Legends sampai jam .00 pagi, rata-rata ekonominya menengah ke bawah. Kalau saya katakan orang tuanya miskin, dulu anak-anak yatim itu menjadi anak-anak yang berbeda. Hari ini justru
15:57 anak-anak yatim terjerbab dalam ibu. Tadi malam saya dikejar-kejar seorang anak yatim piatu. Dia menangis dalam ribuan orang. Saya yatim piatu, tolong bawa saya ke barat. Ini perspektif kan perspektif apakah kita akan membiarkan kelas menengah ke bawah. Kelas menengah ke bawah itu problemnya apa? Satu, jajan anaknya tidak pernah berhenti setiap hari. Dua, ketika outing class dia memaksakan diri. Ketiga, ketika studi tour mereka memaksakan diri. Empat ketika perpisahan memaksakan diri. Dari memaksakan diri itu mereka cari uang ke mana? Pinjaman dengan bunga
16:44 tinggi. Ada Osifa, ada NBK, ada Bank Emok, ada Bank Keliling, ada Pinjor. Garis di Jambar saya punya analisis di setiap RT ada komunitas ibu-ibu sekitar 10 orang. Dia adalah kaki tangan dari peredaran uang gelap itu dengan bunga tinggi. Kemudian muncul lagi pemerintah, masuk lagi pemerintah lewat bansos PKH. Duit PKH dipakai bayar bank N. Muncul lagi misalnya teman-teman DPR mengakomodir lewat bantuan ekonomi, pinjaman modal, uangnya akan selalu habis. Kenapa? bukan kurang modal, bukan kurang stimulus, bukan negara tidak memperhatikan sudah berapa triliun negara mengedarkan uang untuk
17:32 menengah ke bawah. Problemnya satu, mereka sudah tidak punya etos. Problemnya satu, mereka sudah tidak ingin lagi bekerja dengan baik. Problemnya satu, mereka hanya ingin menikmati. Problemnya satu, uang dikonsumsi bukan menjadi modal kerja. Untuk itu diperlukan apa? Perubahan mindset. uang bisa diedarkan, melahirkan pertumbuhan manakala mindset manusia sudah berubah, maka ekosistemnya harus dirubah. Maka saya lagi melakukan revolusi sebenarnya mencoba menurunkan angka ketergantungan ini, membangun manusia yang kesadaran, mengurangi beban ekonomi. Maka perspektifnya kalau ingin membangun kesejahteran rakyat, lakukan empat hal. Satu, bebaskan mereka dari
18:19 beban biaya pendidikan. Dua, bebaskan mereka dari beban biaya pengobatan. Tiga, bebaskan mereka dari beban biaya listrik sebenarnya kalau mau dibebasin. Kemudian yang keempat, bebaskan mereka untuk mendapat jaminan hari tua yang memadai. Negara akan mati. Nah, saya tidak mungkin melakukan itu. Maka saya mencoba untuk menjaga kepemimpinan Bapak di Jawa Barat ini adalah dengan menjaga ini. Ini harus digerakkan. Kenapa? Riset mengatakan penduduk Jawa Barat itu sudah lebih dari 50 juta. Jawa Barat diselesaikan berbagai problemnya. maka beban keberhasilan
19:06 Indonesia itu sangat dikurangi. Tapi kalau Jawa Barat bermasalah, maka Indonesia mendapat beban masalah yang sangat tinggi. Menyelesaikan problem Indonesia harus dimulai dari menyelesaikan di Jawa Barat itu. Nah, ketika Jawa Barat kemudian yang berikutnya adalah maka setelah ini maka saya harus memasukkan lagi pendidikan. Pendidikan di mana? Anak-anak kita harus ngerti dong bagaimana bersikap, bagaimana bertindak di tengah-tengah gempuran orang terhadap ketakutan militerisme. Tapi semua orang itu ingin bergaya militer. Kita ini enggak adil, untuk itu
19:53 agar tidak menjadi militer-militeran, maka saya geser pendidikannya. Pendidikan di barak militer menjadi trending topik. Dan saya mengambil identitas bahwa saya katakan itu namanya sekolah kebangsaan. Sekolah kebangsaan tuh ngajarin apa? Sekolah kebangsaan itu adalah ngajarin pelatih-pelatih orang enggak ngerti. Yang ngajar di militer itu bukan militer tempur. Yang ngajar di militer itu adalah pelatih, pendidik yang secara emosi dan kejiwaan dia sudah sangat terlatih menghadapi berbagai situasi. Karena kategorinya tetap pelatih, maka sikapnya kebapakan. Karena sikap kebapakan, anak-anak ini kehilangan bapaknya. Saya katakan anak-anak Jawa
20:40 Barat banyak yang yatim meskipun bapaknya ada. Yatimnya apa? Tidak ada lagi yang membangunkan dia ketika jam .00 pagi. Itulah ayah. Tidak ada lagi yang menegur. Itulah ayah. Tidak ada lagi yang berani menjewer kupingnya. Itulah kaya. Bahkan dulu zaman saya mungkin berani memukul dengan Sapuliti. Negeri ini. Anak-anak kita hari ini kehilangan figur ayah. Ayah yang punya prinsip dalam hidupnya. Ayah yang menghamparkan harapan. Ayah yang punya ketegasan. Ayah yang tumbuh menjadi seorang maskulin. Tetapi hatinya feminin. Enggak ada.
21:28 Maka berdasarkan analisis para psikolog dan grafolog yang saya libatkan hampir 800 orang, kesimpulan mereka cuma satu. Di barak militer itu mereka mendapatkan sentuhan seorang ayah. Di barak militer itu mereka mendapatkan belaian seorang ayah. Di barak militer itu mereka mendengar suara yang tegas dari seorang ayah. Di barak militer itu ada ayah yang membetulkan tali sepatunya. Di barak militer itu ada ayah yang membetulkan kancing bajunya. Di barak militer itu ada ayah yang membetulkan kerahnya. Di barak militer itu ada ayah yang membetulkan pecinya. Di barak militer itu mereka mendapatkan idola baru. Ayah
22:13 yang hadir dalam kehidupannya. Maka hari ini anak-anak yang lulusan barak militer mereka berpesan ingin berkumpul lagi, ingin bertemu dengan ayahnya. Kenapa? Di antara mereka sudah banyak yang tidak bertemu ayahnya. Korban perceraian. Ibunya di Taiwan, ayahnya kawin lagi. Ini problem yang terjadi di masyarakat Jawa Barat. Dan ini tidak bisa diselesaikan dengan hanya membagikan uang bos, uang PIP, tapi harus ada sentuhan psikologi, sosiologi dari pemimpin yang menghadirkan anak-anak di tengah-tengah mereka, yang menghadirkan ayahnya, yang menghadirkan ibunya. Maka keberadaan pemimpin itu dia hadir sebagai pengganti ayah dan ibunya.
23:01 [Musik]