0:00 [Musik] Familiarize yourself with critics. Karena ketika dikasih tahu dikit, dikritik dikit langsung, "Ah, ah ini wah itu repot tuh. Susah tuh berkembangnya." Itu yang pertama. Biasanya pejabat yang kayak gitu sih. Aduh, jangan kebanyakan ngelihat a day in my life orang-orang yang kayaknya di kantor bikin kopi, habis itu ngetik-ngetik. Jangan kebanyakan ngelihat itu. Karena sebenarnya apa yang terjadi di dunia nyata itu enggak sesimpel itu. Gimana rasanya jadi menteri kalau dulu
0:46 jadi tenaga pendidik suka ngasih nilai ke mahasiswa, kalau sekarang yang nilai publik? Betul. Rasanya gimana? Rasanya deg-degan karena saya terbiasa dibilang bodoh, Mbak. Hm. Gitu. Jadi enggak ada yang saya enggak pernah sejak luar kampus itu merasa saya pintar dan akhirnya saya menjadi lebih tahan akan untuk tetap dibilang bodoh. Dan itu membuat saya enggak cepat sakit hati. Kunci enggak cepat patah semangat. Enggak cepat patah semangat. Kita coba kerja nyata langsung di matana. Pak Menteri, bolehkah salah satu yang beruntung di sini setelah kita interview nanti dapat kesempatan bekerja langsung bersama Anda, Pak Menteri? Sangat boleh karena yang lain seminggu saya 1 bulan. Wis.
1:34 [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar, Mbak? Kabar baik, alhamdulillah. Apa kabar, Dedek-dedek? Baik. Apa kabar semuanya? Sehat-sehat? Selalu senang datang ke kampus ya, Mas Kun? Selalu senang. Selalu senang ketemu sama darah-darah muda yang punya semangat yang luar biasa pasti nular ke kita juga. Luar biasa. Selalu senang. Mau kilas balik? Heeh. Saya tahu Kunto Aji itu dulu kuliahnya akuntansi. Betul kan? Betul. Betul. Ada yang anak akuntansi enggak di sini?
2:19 Eh, enggak ada. Ada beberapa. Ada beberapa. Ini lulus Akademi Akuntansi Jogja. Dari 2008 mulai karir. 2014 rilis lagu pertama. Yes. Akuntansi. Kepakai enggak sih akuntansinya sekarang? Alhamdulillah kepakai dikit buat ngisi SPT, Mbak. Ah, oke oke oke. Dan dan aku dengar kan memang sebetulnya punya niatan bahkan mau sekolah lagi bahkan setelah sukses di industri ini setelah melakukan banyak hal tetap merasa ingin kuliah lagi. Iya pengin banget karena mungkin sekarang kita bisa belajar sendiri dengan adanya AI dan segala macam. tapi merasakan belajar di bangku kuliah dengan ee pelajaran yang yang lebih terstruktur bertemu dengan teman-teman yang satu frekuensi
3:05 sama-sama mau belajar itu pasti lebih terarah dan lebih lebih ee apa ya menghasilkan mindset yang berbeda gitu menurut aku. Jadi tetap merasa penting penting penting kulihat penting. Aku sempat, kita sempat riset. Jadi, Timatan sempat riset apa aja sih yang sempat dikatakan oleh Maskun soal pendidikan ini. Ada yang menarik nih, kita mau lihat pada saat hari pendidikan dunia ini lebih luas dari ruang kelas. Ini kalau enggak salah lirik ya? Iya, lirik lagu pengingat. Kayak gimana sih? Dunia ini lebih luas dari ruang kelas itu ee artinya adalah setelah kita belajar di kelas, apa yang kita dapatkan itu di dunia luarnya itu kadang juga berbeda jauh gitu, Mbak. Jadi ya ada orang yang bilang eh book smart, ada yang straight smart dan segala macam. Nah, kita sebagai orang-orang yang punya pendidikan yang cukup tinggi juga jangan
3:51 hanya berhenti di situ, tapi juga di lapangan juga harus tetap belajar, belajar, belajar. Kunto aja kita kasih tepuk tangan dong. Makasih, Mas Kun nanti gabung lagi ya. Siap. Nanti gabung lagi. Karena sekarang aku mau bertanya justru ke teman-teman dedek-dedek yang hadir di sini. Hari ini spesifik kita bicara isu yang menurutku relevan tentunya buat teman-teman, tetapi juga relevan untuk orang secara umum. Kuliah kerja kenyataan. Kuliah bergelut dengan ee mata perkuliahan, dengan dosen, dengan ujian. Kerja. Sekarang kalau lihat Linkin tuh semuanya open to work. Lihat enggak sih hijau semua? Susah cari kerja hari ini, adik.
4:37 Kita bahas juga yang satunya kenyataan. Seringki kenyataan tidak seindah dari apapun yang kita bayangkan. Kita bahas itu kuliah kerja kenyataan. Tiga hal. Saya mau memulai dengan memantik pertanyaan. Siapa nanti yang mau jawab aku turun. Kalau bisa sukses tanpa ijazah masih mau kuliah atau enggak? Untuk apa kuliah? bisa sukses, enggak perlu ijazah, enggak perlu ngelewatin 4 tahun, enggak perlu bayar mahal. Kuliah tuh mahal tahu. Kalau kenyataannya bisa sukses, bisa kaya raya, bisa berpengaruh, bisa berdampak, enggak harus ngelewatin 4 tahun kuliah. Jujur, masih perlu ijazah atau enggak? Siapa yang mau? Siapa yang mau? Masih perlu ijazah atau enggak, adik? Boleh berdiri.
5:24 Kamu bawa bunga buat siapa? Hah? Coba. Beneran loh kamu bawa bunga langsung minta. Eh, beneran aku nunjuk karena tadi bunganya ditutup pintas. Itu buat siapa coba? Buat kakak. Hah? Buat kakak. Beneran? Dag-degan. Ya Allah. Namanya namanya siapa, Adik? Aku aja yang pegang mic-nya. Kamu pegang bunga aja. Aku aja yang pegang. Mohon izin memperkenalkan diri teman-teman semuanya. Nama saya Nanjung Jayauya. Saya dari Cigombong. Kamu mahasiswa apa? Saya kebetulan lagi gevier, Kak. Lagi apa? Gavier. Karena keterima di semua jenjang. Eh, enggak di keterima di semua sistem penerimaan.
6:12 Kamu baru lulus SMA? Iya. Jadi gapier enggak apa-apa. Keren Gier. Iya. Asal asal GPI-nya diisi dengan hal-hal yang produktif, positif termasuk bawa bunga untuk ngasih aku itu positif banget, Adik. Positif. Alhamdulillah, Kak. Karena saya setiap kali bertemu dengan idola pasti saya membeli membeli bunga ini maksudnya. Oh, gitu. Karena menurut saya bunga ini ada pesannya, Kak. Iya. Eh, beneran loh nulis pesan loh. Kamu tangannya jangan gemeter gitu. Aku pegangin. Tetaplah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang ingin menghancurkan. Cie, makasih adik. Itu kamu kok ada ini akun apa? Kamu minta fallback enggak sih, Kak? Maksudnya
6:58 ngasihnya bukan nama, ngasihnya nama akun. Itu akun TikTok apa itu? Akun. Akun semua akun. Oh, semua akun. Ya udah nanti aku lihat dulu ya layak difollowback atau enggak. Tapi ya Allah iniam. Eh izin menjawab, Kak. Ya, izin menjawab ini buat aku. Beneran. Makasih banyak ya. Kasihan kamu gapier beli bunga segala atau kamu metik di taman nih. Enggak, Kak. Enggak. Maksudnya emang saya ee seringkiali kayak ngojekin kakak biar biar bisa beliin sesuatulah gitu. Iya. Sweet banget. Hebat banget. Saya mudah-mudahan tahun depan coba lagi keterima IPB. Insyaallah. Enggak, Kak. Saya enggak ke di IPB. Eh, lu kamu lagi di IPB. Ya udah, Bo. Pak, tuh ada Pak Rektornya.
7:43 Udah gua kasih kode juga. Aduh, udah bilang aja mau di IPB. Ah, teman-teman semuanya, kebetulan saya depan banget ini bersama motivator saya yaitu Mbak Nana. Saya pengin ke hukum banget. Oh, Fakultas Hukum. Oh, iya. I tadi Pak Rektor bilang enggak ada enggak ada fakultas hukum justru di situ. Oke. Iya. Tapi kalaupun keterima IPB enggak fakultas hukum mauah IPB susah tahu masuk IPB. Iya. Susah. Susah banget kayaknya. Iya. Oke. Kalau kalau enggak perlu ijazah bisa sukses masih mau enggak? Menurut saya harus bukan kuliah itu bukan tentang bagaimana bagaimana kita kaya ya teman-teman, tapi tentang bagaimana kita bisa ee eh maaf Kak. Deg-degan bentar ya. Awalnya sudah meyakinkan banget ya.
8:30 Enggak apa-apa yang penting meyakinkan. Oke. Menurut saya bukan tentang bagaimana ee kita ukuran harta kita bagaimana, ukuran jabatan kita bagaimana. Karena lihat Anda sendiri, lihat kalian sendiri ee banyak yang mungkin tidak kuliah tapi menduduki punya jabatan, punya punya punya kedudukanlah, tapi tidak mencerminkan menurut saya. Gitu, Kak. Sebut nama. Sebut. Enggak. Enggak. Jangan. Oh, ya udah. Oke. Mohon maaf, kebiasaan gua harus frontal. Ya udah. Oke. Ya udah. Kasih tepuk tangan dong. Saya tidak seberani. Najwaiha. Thank you, Adik. Saya tidak seberani Najwa Sihab soalnya.
9:15 Oh, iya. Aku cuma sok berani aja sebetulnya ini. Kasih tepuk tangan. Terima kasih bunganya adik. Kak mau foto dulu boleh? Apa? Mau foto dulu boleh? Boleh enggak foto? Ya udah yuk yuk. Kasihan udah bela-belain beli bunga. Kamu kamu yang pegang apa aku yang pegang? Heeh. Gini ya. Gini Kak. Gini Kak. Gaya orang Bogor. Gaya orang Bogor, Kak. Gaya orang Bogor. Hah? Gaya orang Bogor kayak gitu. Emang iya? Iya. Emang iya. Garang aja lu. Kayak orang Cigombong. Gaya orang Cigombong. Berarti Cigombong. Ya udah kamu jangan mengatas. Kamu jangan kayak wakil rakyat. Sok atas nama rakyat kan suka gitu kan? Gini, Kak. Gini, Kak. Gini.
10:09 Makasih ya, Kak. Sama-sama, Ad. Makasih. Oke, aku mau ke sebelah sini. Kalau bisa sukses tanpa ijazah, jujur masih mau kuliah atau enggak? Siapa yang mau? Siapa yang mau? Silakan. Boleh dikasih, boleh berdiri. Adik namanya siapa? Nama aku Aisyah. Aisyah. Aisyah kuliah sekolah? Kuliah di sekolah bisnis IPB University. Ye. Baru masuk. Kamu semester berapa? Aku semest aku semester benar. Semester 3. Jadi baru setahun ya. Oke. Kalau sekarang bisa sukses nih. Iya. tiba-tiba sukses sekarang enggak perlu ngelanjutin sekolah di IPB. Jujur
10:55 mau lanjut kuliah atau enggak. Sebenarnya menurut aku kuliah itu tetap perlu sih menar karena nanti kan misal kita punya anak, punya itu perlu ada jejak gitu kayak ee ada teori-teori yang tidak bisa didapatkan di kehidupan sehari-hari tapi juga teoretikal di kampus dan juga menurut saya di kampus itu networking itu perlu, relasi itu perlu. Jadi asalkan seimbang gitu baris. Oke. Jadi bukan cuma ilmu yang didapat di kelas, tapi di ruang kelas. Itu yang kamu kejar ya. Iya. Itu yang kamu kejar. Kasih tepuk tangan dong Aisyah. Senang banget. Mau foto. Mau foto kamu mana kameranya? Mana? Kamu udah siap bel Mbak Nana? Aku waktu MPKM 61 kan Mbak Nana datang ya.
11:41 Aku pita merah di sana duduknya enggak kelihatan. Oh. E boleh tolong foto? Kalau sekarang kan mudah bareng kita. Iya, Bu. Belum. [Tepuk tangan] Ah, senang banget. Tunggu aku. G kamu jangan nangis. Kita baru mulai nih. Oh, iya. Gimana ini caranya? Entar nangis nangisnya di akhir aja sama Kunto Aji. Sekarang yuk kita perpelukan lagi yuk. Banana. Oh my god. Oh my god. 1 2 3 mungkin boleh gaya gini ini gaya bisnis kenapa harus gaya-gaya ini gaya bisnis kak Oh beneran gaya bisnis ini
12:27 benar SB kita boleh pelukan enggak boleh lagi peluk lagi. Oke. Oke. Mari kita mulai kuliah, kerja, dan kenyataan. Sudah ada empat kursi, sudah ada empat narasumber dari berbagai latar belakang yang kita akan tanya apa pentingnya kuliah hari gini. Lulus kuliah juga jadi sarjana nganggur kok. Apa yang harus kita lakukan sehingga ketika kita menjalani masa kuliah kita siap dan skill apa yang perlu kita kembangkan. Saya mau mengundang tamu pertama siapa dia? Kita lihat video yang ini. Ernest Prakasa, Sarjana Hubungan
13:13 Internasional Universitas Pajajaran ini memulai karir sebagai karyawan kantoran dan akhirnya dikenal sebagai komika. Salah satu pendiri dari komunitas stand up Indo ini kerap melakukan beragam turut komedi tunggal. Di antaranya Meremelek dan Susah Sinyal. Penggemar Bakmi Bangka ini juga merambah dunia film lalui akting dan kemudian menjadi penulis sekaligus sutradara. di antaranya lewat film ngenes dan cek toko sebelah. Nah, ini dia segudang prestasi Ernest. Di antaranya Piala Citra penulis skenario asli terbaik pada 2017 dan penulis skenario terbaik FFI 2020. Itinta musik R&B dan hip hop ini juga mendirikan dua perusahaan. Haha. Corp dan Imaginary. Sejumlah karya film
13:59 fenomena lahir dari Imaginari kayak jatuh cinta seperti film-film. Dan salah satu filmaris agak lain. Kuliahnya jurusan HI terus jadi komika dan sinees. Ernest juga tetap peduli sama isu sosial. Cerita Ernest masih berlanjut. Kalau kamu gimana nih mau merangkai ceritamu? [Musik] Tepuk tangan paling meriah untuk Ernest Prakasa. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]
14:47 Tepuk tangan dong K Ernest. Halo. [Musik] Ihh, rame rame ya, Kak. Apa kabar? Makasih banget sudah mau datang ke Mantanajua seru-seruan sama IPB University. Sama terima kasih sudah diundang. Senang banget bisa ada di sini. Halo. Sampai ujung-ujung sana tuh kok. Hai. Ni harga tiketnya beda apa gimana sih? Enggak. Ini nasib aja. Siapa cepat dia dapat. Siapa yang registrasi? Kirain ini harga tribun biasa. Harga tribun lebih murah biasanya. Enggak enggak kita enggak enggak berbayar enggak berbayar. Enggak enggak kah apa balik ke kampus keingat masa lalu enggak? Waktu di UNPAT kan saya di Universitas Padjajaran Bandung e Jatinangor lebih tepatnya ya.
15:32 Jatinangor. Hubungan internasional. Itu spesifik milih itu enggak sengaja milih, terjebak atau kenapa? Jadi ketika ya jadi bongkar umur enggak apa-ap lah ya. Ketika saya lulus SMA tahun 99 itu kan kalau ingat zaman reformasi '98 tuh kan wah seru gitu. Politik itu yang tidak pernah kita bahas tiba-tiba jadi sesuatu yang politik tuh seru ya gitu. Jadi pengin belajar Visip waktu itu setelah melihat-lihat berbagai jurusan yang ada di VISIP karena aku kebetulan suka belajar bahasa asing, ya udah deh hubungan internasional aja gitu ceritanya. Oh ceritanya gitu. Iya dan ketika itu A boleh kasih tepuk tangan. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Mahasiswa tipe apakah Prakasa dulu? Mahasiswa rajin, mahasiswa nongkrong,
16:18 mahasiswa apa? IPK berapa? Gaya gua udah kayak nanya aman. Kalau IPK aman. IPK 3,25. Wih, 3,25 aman. Zaman itu 3,25 tinggi loh. Aman. Aman ya. Ee aku termasuk setelah dulu enggak dipikirin ketika kuliahnya, tapi sekarang setelah looking back gitu ya, anak-anak. Kayaknya salah satu yang penting ketika kuliah itu bukan cuman ketika kita di kelas, enggak sih, tapi apa yang kita lakukan ketika kita lagi enggak ada pelajaran gitu. Ngapain emang enggak ada pelajaran? Kok tatapannya curiga gitu sih? Selalu harus curiga kayak saya melakukan hal-hal yang buruk gitu. Enggak, enggak. Ee saya dulu waktu kuliah sambil kerja di radio, Teman-teman. Sambil belajar jadi penyiar radio. Ee terus les bahasa juga gitu. Kayaknya belajar kuliah tuh selain belajar di di
17:04 dalam kelas kita belajar akademik, di luar kelas kita belajar hidup gitu. Kuliah itu belajar hidup ya. Iya dong. Karena umur-umur segitu tu menurutku umur-umur pertama kali kita benar-benar melangkah apalagi yang merantau ya. Di sini ada yang dari luar kota banyak. Kalau IPB dari seluruh Indonesia. momen-momen di mana untuk pertama kalinya mungkin keluar dari rumah. Kenapa momen pertama kali keluar dari rumah belajar mandiri ee belajar nahan lapar di kos itu pelajaran-pelajaran hidup gitu yang enggak akan terjadi kalau kita masih tinggal sama orang tua. Jadi menurutku nih umur-umur yang sangat krusial buat kita belajar tentang hidup gitu. Kok Arnas kasih tepuk tangan dong. Makasih teman-teman. Thank you. Silakan duduk Koh karena saya mau manggil tamu saya yang kedua. Siapa dia? Ini cuplikan videonya.
17:51 Kenalan dulu yuk sama Bagus Mulyadi, pria kelahiran 1 Maret 1983 yang saat ini bekerja sebagai asisten profesor tetap bidang teknik kimia dan lingkungan di Universitas Nottingham, UK. Tapi siapa sangka masa remaja dari profesor muda satu ini ternyata juga enggak mulus-mulus amat. Nilai rapornya selalu oke, sering dipanggil guru karena bandel. Bahkan saat kuliah S1 Teknik Mesin di ITB, ia lulus 5 tahun dengan IPK yang di bawah rata-rata saat itu. Tapi justru dari situ jalan berbelok. Demi menambah nilai tawar, Bagus nekad melanjutkan S2 dan S3 di National Taiwan University sambil kerja untuk biaya hidup dan kuliahnya. Dari perjuangan itulah lahir kecintaannya pada dunia
18:37 riset lintas disiplin. Bagus lalu mendapat kesempatan jadi peneliti di Prancis dan London lalu mengantarkannya ke posisi sekarang. Pria yang dulu punya mimpi jadi anak band dan pelukis ini juga kerap berbagi pandangan dan pikirannya lewat kanal YouTube miliknya Chronicles. Obrolannya daging banget. Salah satunya ngebahas soal potensi Indonesia sebagai laboratorium dunia baru. Wah, keren ya. Dari yang dulunya bagus sempat bercita-cita jadi pelukis dan anak band, sekarang malah jadi ilmuwan dunia. [Musik] Kita sambut Bagus Mulyadi. [Musik]
19:31 Mas Bagus. Thank you. Thank you sudah datang. Boleh kita ngobrol di sini dulu. Ini kalau enggak salah benar kan jauh-jauh dari Nottingham untuk ke IPB. Benar enggak ya? Khusus buat ini. Yes. Kapan sampai di Indonesia? Kapan? Sampai 2 hari yang lalu. 2 hari yang lalu. Ini benar-benar spesial banget loh jauh-jauh dari UK untuk ke IPB. Banyak yang belum tahu. Saya dosen di sini sebenarnya sempat ngajar. Udah ngajar atau baru? Saya junk profesor di IPB. Cuma banyak-b ee ngajarnya apa? MIPA matematik. Oh oke. Dan pernah langsung itu Pak Rektornya nganggung-nganggung tuh. kan mengajar di Nottingham. Ee yang saya tahu mahasiswanya tuh dari berbagai negara. Kalau melihat dan
20:17 mengajar mereka apa yang rasanya beda dengan mahasiswa Indonesia? Earian. Apa tuh? Sangat-sangat egalitarian. Jadi siapa yang lebih egaliter? Nomor satu enggak ada yang manggil saya Prof. Doktor langsung nama depan. Kalau di sini kan kurang ajar. gitu. Bedanya di situ sih. Tapi kalau soal kecemerlangan kognitif orang Indonesia enggak kalah gitu ya. Iya. Enggak kalah bisa lebih bahkan eh apa apa misalnya apa apa yang ee karena kerap kali tuh kita justru malah minder gitu. Kerap kali merasa kalau ketemu sama orang studen-studen luar gitu merasa enggak cukup mampu. Kadang kendala bahasa enggak cukup engresnya tuhres jaksel yang patah-patah gitu. Iya. Enggak ya? Sebetulnya enggak. Jangan jangan minder ya.
21:03 Yang lebih kurang dari orang kita tuh kepercayaan diri. Hm. Iya. Karena kemampuan bicara, presentasi, retorika itu agak kurang penekanan di sini. Tapi dari otak enggak kalah. Enggak kalah ya. Enggak kalah. Apalagi mahasiswa IPB University. Apalagi IPB yang seleksinya luar biasa. Oke, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi. Silakan duduk. Ee enggak boleh panggil profesor, enggak boleh supaya egaliter. Silakan duduk. Bagus. Siap. Kurang ajar banget gua. Kalau yang ini enggak mungkin gua panggil nama doang. Siapa dia? Kita lihat videonya. Udah familiar belum sama sosok satu ini? Prof. Brian Yuliarto, PhD, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia. Dirinya resmi dilantik Presiden pada 19 Februari 2025.
21:49 Sebelum jadi menteri, Prof. Brian sudah wara-wiri di dunia pendidikan. Enggak percaya? Nih, kita jabarin satu persatu. Menteri yang tercatat menghasilkan 410 publikasi di Google Schooler ini menempuh pendidikan S1 di ITB, lanjut S2 dan S3 di University of Tokyo. [Musik] Karir Prof. Brian juga enggak jauh-jauh dari dunia pendidikan karena ia pernah menjadi dosen, peneliti, dekan fakultas, bahkan wakil rektor di kampus almamaternya ITB. Saking teknya sama bidang yang ia jalani, enggak heran deretan penghargaan pernah ia raih seperti Habibi Price 2024, top one researcher Nano Science and Nanotechnology Indonesia, the world's
22:35 top 2% scientist at Scientific Index, dan segudang prestasi lainnya. Genzi Auto bertanya dalam hati, "Kapan rebahannya, Prof?" [Musik] Kita kasih tepuk tangan untuk Pak Menteri Prof. Brian Yuliarto. [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Sekali lagi dong untuk Prof Rian. [Tepuk tangan] Asalamualaikum. Apa kabar, Prof? Baik, alhamdulillah. Terima kasih sudah nyempetin. Aku tahu sibuk banget dari pagi Wara-Wiri ke sana kemari tapi menyempatkan diri untuk menyapa langsung adik-adik di IPB University.
23:21 Betul. Senang sekali. Saya paling senang kalau diundang ke kampus ketemu mahasiswa. He. Karena mahasiswa ini bensinnya masa depan Indonesia. C. Dan saya yakin nih nanti 10 15 tahun lagi ada yang menggantikan saya sebagai menteri. Sekarang kalau ke kampus dipanggilnya masih Pak Dosen, Prof. atau Pak Menteri? Ee saya terbiasa dipanggil, saya selalu diminta panggil saya Pak Brian aja ya. Jadi biasanya saya kalau ada yang manggil Prof atau menteri atau siapa, saya bilang panggil saya Pak Brian aja lebih egaliter. WS Pak Brian. Pak Brian, gimana rasanya jadi menteri kalau dulu kan jadi dosen, jadi tenaga pendidik
24:08 suka ngasih nilai ke mahasiswa. Kalau sekarang yang nilai publik. Betul. Rasanya gimana? Rasanya deg-degan. Yang nilai dua dari presiden dan dari publik juga. Iya, betul. banyak sekali ee apa dosen-dosen yang komplain, mahasiswa-mahasiswa komplain, rektor-rektor komplain, semua komplain ke Mendikti Sint. Tapi saya senang karena tentu saya bisa berinteraksi langsung ya dengan teman-teman dan saya selalu menghargai teman-teman saya, dosen, rektor, pimpinan perguruan tinggi mereka senantiasa memberikan effort terbaik untuk menghasilkan lulusan-lulusan terbaik. Jadi komplain enggak apa-apa? Komplain enggak apa-apa dong. Benar ya. Aku soalnya akan banyak komplain nih hari ini. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Saya sudah siap-siap komplain nih pasti Mbak
24:54 Najwa. Enggak. Kita mencari solusi sama-sama. Kasih tepuk tangan dong untuk Pak Brian. Silakan duduk dulu Pak Brian karena saya memanggil narasumber saya yang ini. Siapa dia? Kita lihat videonya. [Musik] pemain dan produser film, pengusaha, penyanyi, penulis lagu, brand ambasador, aktivis sosial, dan dosen. Ini bukan daftar cita-cita loh ya, tapi ini adalah sederet aktivitas yang diampu oleh seorang Priletu Coner. Wah, enggak kebayang deh ya jadwal daily rutinnya kayak apa. Cewek kelahiran 15 Oktober 1996 ini menempuh S1-nya bidang ilmu komunikasi di London School of Public Relation. Lulus tepat waktu di tahun 2021 dengan nilai Sumba Kumlot. Dan saat ini Pril
25:41 tengah mengenyam pendidikan S2 di kampus yang sama. Sampai sekarang meski luar biasa sibuk di dunia hiburan dan bisnis, Pril kayaknya enggak bisa jauh-jauh dari dunia pendidikan deh. Cewek yang suka banget sama film The Judge ini beberapa kali menjadi dosen praktisi di sejumlah kampus seperti UGM dan Universitas Udayana. Saat ini pun Prily masih menjadi dosen di LSPR kampus almamaternya sendiri. Bagi Prily, ilmu di pendidikan tinggi itu enggak semata-mata belajar di ruang kelas, tapi juga belajar bertanggung jawab, melatih disiplin, dan mengembangkan kerangka berpikir. Kita kasih tepuk tangan Pril Latu. [Musik]
26:35 Sekali lagi dong untuk Prily. Ye, [Musik] apa kabar? Halo. Baik. Sudah sembuh kan? Udah sedikit. Ud alhamdulillah. Berapa lama di rumah sakit kemarin? 4 hari. 4 hari. Tapi sekarang udah udah segar ya. Udah segar ya? Udah, udah segar ya. Semangat ketemu sama semuanya di sini. Alhamdulillah. energinya memberikan energi yang positif banget hari ini. Terima kasih semuanya selalu senang datang ke kampus dan ee tadi tuh kita nunjukin kan Pril tuh aktivitasnya sehari bisa beragam macam-macam. Ini tadi pagi juga aku dengar baru pulang subuh habis syuting. Iya. Jadi subuh pulang tapi jam 12.00 ada take voiceover brand dulu terus ke sini langsung ke sini tidurnya di mobil. Aduh thank you sudah bela-belain datang ke sini karena berbagi.
27:21 Benong sama-sama. Apa enaknya jadi dosen? Enakan jadi dosen atau jadi mahasiswa? Jadi dosen. Kamu tipe dosen yang kayak gimana sih? Aku kayaknya tipe dosen yang aku enggak pernah marah yang pastinya. Masa sih? Bener. Nah, terus terus aku senang cerita. Jadi kalau di kelas itu udah memaparkan teori sama mata kuliahnya biasanya aku kasih case stud yang beneran aku alami. Oke. Terus habis itu karena aku pengin ngelihat perspektif mahasiswa kalau dia ada di posisi ini apa yang dia rasakan, apa yang dia lakukan, bagaimana mengimplementasikan teorinya. Jadi seru sih cerita-cerita di kelas gitu. Royal enggak ngasih nilai? Kenapa? Royal ngasih nilai atau pelit? Royal. royal banget aku. Aku enggak pelit nilai karena menurut aku yang penting mereka
28:07 usaha dan kelihatan emang mau belajar karena nilai itu enggak bisa jadi patokan ya tapi prosesnya yang harus dilihat gitu. Aduh bijak banget dosen muda kita. Kasih tepuk tangan dong sambil kita duduk PR sambil ngomong-ngomong. Jadi tadi aku memulai dengan bertanya ke teman-teman kalau kalau bisa sukses tanpa ijazah masih mau atau enggak? Emm mari kita bicara lebih dalam. Apa sih arti sarjana hari ini? Di saat dunia berubah sedemikian cepat, di saat teknologi menguasai seluruh aspek dalam kehidupan kita. Jadi sarjana apa sih artinya? Apa nilainya? Kita lihat dulu yang ini. Yes. [Musik]
29:49 Kalaupun ada yang bilang gelar sajana enggak penting, yang jelas kesempatan untuk bisa jadi maha atas siswa, mahasiswa itu kesempatan yang masih luar biasa terbatas. Tadi ada angka-angkanya masih privile. Buat kalian yang bisa duduk di sini menyandang gelar mahasiswa itu krem del the krem angkanya masih terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk kita. Tapi apa makna gelar sarjana? Saya boleh ke paling ujung dulu enggak? Kok Ernes, masih relevan tidak sih gelar sarjana hari-hari ini? Ini yang lain ada loh. Kenapa ke saya? Enggak apa-apa. Aku mulai dari ujung pengin tahu sebenarnya tergantung mungkin tergantung bidangnya ya anak-ana ya. Kalau aku kan di industri kreatif mungkin nanti mirip-mirip Pril juga. Sori teman-teman grogi nih pertama kali saya talk show ditontonin sapi ya. Jadi
30:36 agak kayak lagi kayak kayak lagi mimpi demam enggak sih? tuh di belakang juga ada gitu kayak sor distracted. Kalau di industri kreatif, Teman-teman, ee mungkin penting tidaknya sebuah gelar menjadi lebih tidak penting quote unquote dibanding bidang-bidang yang saintifik ee atau mungkin kedokteran, teknik mesin, fisika, dan lain sebagainya. Kalau di industri kreatif itu mungkin lebih fleksibel karena skill-skill yang kita cari juga seringkiali skill-skill yang mungkin tidak bisa dipelajari di ee lingkungan akademik gitu. Jadi kalau aku biasanya mencari ee apa namanya? ee
31:22 merekrut tenaga kerja apakah harus S1 atau enggak biasanya itu enggak aku wajibkan biasanya gitu. yang lebih dilihat di situ adalah ketika ketemu mungkin gini kali ya ee hal-hal kecil, hal-hal yang sifatnya seperti percaya enggak kalau kita interview kerja nih ketika kamu pertama kali datang, pembawaannya, gesturnya, senyumnya itu tuh pengaruh banget tahu. Iya enggak sih, Pril? Benar. Benar. Kalau masuk udah cemberut kita biasanya kayak aduh kenapa nih vibes-nya vibes-nya gitu. Iya. Enggak pede gitu. Jadi e kalau aku karena di industri kami lebih kepada kemampuan dia eh knowledge dia tentang bidang yang memang dicari baik itu melalui pelajari melalui kampus maupun pelajari melalui praktik dan hal-hal yang sifatnya soft skill, kemampuan
32:07 berkomunikasi itu penting sekali. Tapi kalau misalnya diundang interview kerja itu kan sebelum sampai ke tahap itu melewati seleksi yang luar biasa panjang. Jadi kesempatan untuk muncul di wawancara itu sudah harus dilihat ijazahnya lulusan dari mana, IPK-nya dan sebagainya. Jadi ada proses seleksi gitu kan. Oke, ini penting banget. Terima kasih pertanyaan itu penting banget. Nah, yang sering kali ya nerima CV nih diattach di email udah body emailnya kosong aja. Heeh. Itu kebiasaan dedek-dedek zaman sekarang tuh. Iya. Enggak sih? Kayaknya kita zaman dulu enggak gitu ya. Heeh. Teman-teman kalau bikin lamaran pekerjaan CV memang penting. Of course itu yang paling penting. Jangan lupa body email juga penting karena di situlah kita bisa lihat cara teman-teman berkomunikasi. Enggak usah panjang lebar, enggak usah menjilat. Just very be very clear. Halo,
32:54 saya ini kasih alas nih. Ini yang penting banget. Kasih alasan kenapa kamu tertarik sama lowongan itu. Itu buat kami penting. Kenapa kamu tertarik sama company ini? Kenapa kamu tertarik sama pekerjaan ini? Itu penting banget, Teman-teman, untuk menarik minat orang yang baca lamaran dari kamu. Menurutku gitu. Itu akan jadi seleksi awal gitu ya. Saya mau ke Pak Menteri dulu. Pak Menteri tadi kan ee ada data-data dipaparkan memang mahal pendidikan di Indonesia itu masih mahal walaupun mungkin comparatively mungkin nanti Mas Bagus bisa cerita di Inggris bahkan jauh lebih mahal di negara-negara lain jauh lebih mahal tapi untuk standar Indonesia untuk kuliah itu memang masih mahal. Itu kenapa Pak Brian? ee ya memang kan pendidikan tinggi ya apalagi yang
33:40 berkualitas itu tentu butuh biaya dan ee kalau dibandingkan dengan ee biaya kenaikan itu pasti terjadi karena semua sektor juga naik setiap tahun. Meskipun begitu tidak sedikit sebenarnya beasiswa yang digelontorkan ya. Pemerintah belanja beasiswa kita memberikan beasiswa itu 14,7 triliun setiap tahun untuk pendidikan tinggi. Ee belum lagi saya yakin ee teman-teman kampus itu kontribusinya juga banyak, alumni-alumni juga banyak yang bantu. Begitu. Jadi ee memang biaya itu tinggi karena untuk kualitas tinggi tentu kita tidak bisa menghilangkan beberapa parameter penting. Tetapi sebenarnya percayalah
34:27 semua itu sebenarnya basi. Karena kita lihat banyak sekali adik-adik kita yang memiliki keterbatasan. Dia bisa dapat beasiswa, dia bisa dapat keringanan, ada lagi beasiswa kerja dan lain-lain begitu. Jadi sebenarnya ee ketika keinginan itu kuat, saya yakin pasti ada jalan. Dan makna selembar kertas ijazah sarjana ketika banyak yang bilang itu dipandang sebelah mata, bagaimana sih seharusnya memaknai pendidikan tinggi itu dari kacamata ee Anda, Pak Brian? Kalau saya melihat pendidikan tinggi ini kan satu proses ya untuk capacity growth. Jadi tentu sejak dulu banyak yang tidak lulus, tidak punya ijazah, tapi dia berhasil. Ada Steve Jobs, Bill Gates
35:13 gitu ya. ee itu kan beberapa orang artinya ee ada selalu ada orang-orang hebat yang ee dia memang tumbuh ee tanpa melalui universitas misalnya, tetapi secara umum kebanyakan pendidikan tinggi ini kan ingin menghasilkan lulusan yang memiliki kapasitas tertentu, Mbak Najwa. Jadi saya lihat itulah yang sebenarnya ingin dibentuk sehingga ketika seseorang itu lulus SMA dia mengalami capacity growth dari sisi keilmuan yang diambil dari sisi kematangan, termasuk tadi bagaimana dia bisa mengkomunikasikan gagasan, ide dan seterusnya. Itu yang sebenarnya kita inginkan. sehingga kalau saya melihat sih ee betul bahwa ijazah
35:59 itu bukan sebenarnya bukan hanya selembar kertas, tapi di balik itu ada kapasitas yang terbangun yang dibentuk melalui pendidikan tinggi. Saya yakin ya ee adik-adik di sini pasti mengalami capacity growth dan itu Mbak kenapa misalnya ee mata kuliah-mata kuliah itu kan sebenarnya sekarang sudah bisa dilihat secara online ya kan di mata kuliah di tempatnya Mas Bagus kita semua bisa. Tetapi kenapa kita enggak belajar aja lewat online? Karena environment di pendidikan tinggi itu hal yang berbeda dengan materi kuliah gitu. He. Nah, itulah yang sebenarnya terbangun di kampus yang kemudian membuat setiap insan lulusan pendidikan tinggi dia
36:44 memiliki kapasitas yang baik yang siap untuk membangun masyarakat. Begitu. Saya mau ke Mas Bagus. Mas Bagus kalau autokritik Anda kan juga dari dunia pendidikan. Kalau Anda otok kritik ketika gelar sarjana dipandang sebelah mata, ketika ijazah dianggap hanya selembar kertas, apa sih yang sebenarnya hilang dari makna pendidikan tinggi di kita tuh? Pengertian sejarah itu sendiri tentang apa itu sarjana. Bahasa Inggris sarjana itu bacalaurea. Bachelor. 800900 tahun yang lalu di Oxford, di Paris. Untuk mendapatkan bachelor degree, sarjana, Anda harus lewat jenjang pendidikan yang namanya liberal arts. Liberal arts dari kata dasar liberty bebas. Itu artinya orang yang mau belajar bukan
37:34 untuk dapat kerja, tapi untuk menjadi free spirit. Makanya diajari di situ pertama kali bukan matematik, fisika, biologi, tapi retorik caranya ngomong, logik caranya mikir, dan grammar caranya berbahasa. Sebenarnya dia bisa berpikir maka pasti bisa dapat kerja. Tapi tujuannya buat bukan buat dapat kerja. Untuk dapat kerja itu pendidikan vokasi sebenarnya karena dari kata dasar vokare yang artinya panggilan. Panggilan profesi sebenarnya seperti itu. Pada dasarnya bacalaureate holders, pemegang gelar sarjana itu adalah pilar-pilar demokrasi sebenarnya.
38:21 H untuk membuat masyarakat yang bisa menjadi landasan open society supaya negara bisa terus berdiri secara demokratik. Jadi tuju kampus tujuannya melahirkan pemikir bebas, gagasan-gagasan liar yang seharusnya bisa di bisa dicultivate menjadi orang yang punya ee apa namanya? Dasar untuk kemudian nanti kalau mau cari kerja begitu. Tapi tujuan jangka pendeknya bukan kuliah bukan untuk dapat kerja. Kuliah itu untuk menciptakan lapangan kerja. bukan untuk dapat kerja, cat menciptakan lapangan kerja, bukan jadi pekerjanya. H dan saya bersyukur ya, sudah ada yang nonton episode dengan Pak Rektor belum, Chronicles? H gitu ya, bahwa di IPB itu sangat dipentingkan hubungan antara lulusan dengan entrepreneurial world. Jadi di
39:08 IPB itu lulus bukan untuk dapat kerja, lulus untuk menciptakan lapangan kerja. That's a very different thing. H menciptakan lapangan kerja. Pril menjadi dosen sebelumnya em sudah melakukan banyak sekali aktivitas tetapi tetap merasa ini penting. Jadi kenapa itu penting menurut Pril? Kenapa menurut aku penting? Karena aku senang banget ee challenge mahasiswaku kayak kamu ke kelas itu untuk apa sih? Untuk mendapatkan nilai bagus atau untuk mendapatkan selembaran kertas itu? Karena menurut aku tujuan mahasiswa untuk kuliah oke yang penting dapat ijazah bisa ditaruh di CV dan aku bisa melamar kerja. Itu harusnya enggak kayak gitu ya. Harusnya aku kuliah karena aku
39:53 ingin menjadi manusia yang pintar seperti yang sudah diucapkan gitu bahwa kita kuliah itu ya agar mempunyai pemikiran yang bebas, mempunyai pemikiran yang kritis. Kalau misalnya ditanya makna sarjana itu sendiri menurut aku itu adalah simbol pencapaian intelektual dan ketekunan. Karena aku pas kuliah ngerasain kayak gimana jadi mahasiswa, jadi dosen juga melihat bagaimana perkembangan mahasiswa. Di perguruan tinggi itu kita kan dilatih untuk tekun, dilatih untuk disiplin, kita dilatih untuk berpikir kritis, berorganisasi. Nah, itu yang biasanya enggak ditemukan kalau kita enggak berkuliah. Jadi, sebenarnya aku selalu bilang ee kumlout atau nilai itu enggak boleh jadi di atas segala-galanya. itu hanyalah simbol kamu sudah melakukan
40:39 pembelajaran dan proses belajar dengan baik. Tapi tujuan kamu ingin belajar karena kamu ingin menjadi manusia yang pintar agar kamu bisa menjadi manusia yang kritis dan menciptakan lapangan kerja lah yang harus menjadi tujuan kita mendapatkan selembaran kertas sarjana itu, gitu menurut. Oke, kita kasih tepuk tangan dong buat semuanya. Terima kasih. Yang jelas proses kita belajar di kampus sekarang itu berbeda dengan bahkan ee tidak usah jauh-jauh 5 10 tahun yang lalu, bahkan 2 tahun yang lalu ketika chat GPT belum sepopuler ini itu rasanya cara kita belajar, cara kita mencerna dan mengolah informasi itu berbeda jauh. Saya mau ke Pak Brian. Pak Brian dengan tantangan teknologi saat ini, bagaimana sih perkembangan teknologi ini akan bisa di di navigasi
41:26 oleh oleh negara begitu sehingga betul-betul jadi teman belajar bukan malah justru membuat kita malas belajar. Iya. Jadi ee memang ee perkembangan teknologi dari masa ke masa itu kan hal yang biasa dan itu selalu terjadi. Selalu terjadi disrupsi berulang-ulang. Dulu komputer masuk dulu kemudian apa mulai dari mesin uap masuk sekarang ee apa gitu ya. Sebentar lagi kuantum komputasi. Jadi itu sesuatu yang ee harusnya kita terbiasa dan karena itulah karena kampus tempat berkumpulnya orang-orang pintar yang cukup banyak begitu ya. Saya selalu sampaikan ke teman-teman rektor, kampus itu adalah
42:13 entitas di mana berkumpul orang-orang pintar paling banyak di wilayah itu. Nah, harusnya inilah tantangan bagi kampus untuk senantiasa mengantisipasi. Karena orang-orang di kampus itu kan dosen-dosennya itu pasti dia melakukan penelitian-penelitian, dia pasti membaca ee tren teknologi dan itulah karenanya kita harus mengantisipasi. Jadi memang ee betul Mbak Naju kalau kampus itu harus siap apa menjawab perubahan-perubahan perkembangan teknologi memang di situ tempatnya kampus melakukan ee apa penyiapan-penyiapan teknologi baru. Begitu. H saya mau ke Brili ee karena ketika AI bisa memberikan jawaban secara instan begitu, bagaimana memastikan mahasiswa kita bisa tetap melatih daya
42:59 kritis, masih bisa tetap ingin punya keingintahuan begitu dan bisa menjaga etika berpikir. Hal-hal yang rasa-rasanya hilang dengan memasukkan kalimat di chat GPT dan keluarlah semua jawaban itu tanpa perlu panjang-panjang berdiskusi atau membaca banyak referensi. Nah, sebenarnya menjadi pengajar tuh juga harus adaptif ya. Kita enggak bisa melarang mahasiswa awas ya jangan pakai AI, jangan pakai chat GPT gitu. Karena kadang juga kalau kita meriksa sekilas enggak ada bedanya kadang. Nah, tapi cara ee kita memberikan soal atau ee nyuruh mereka untuk melakukan sesuatu penelitian itu aku ingatkan ke mereka ada yang AI enggak punya intuisi dan pengalaman pribadi yang sangat bisa
43:44 menarik gitu kalau misalnya dituliskan di esi. Karena kalau misalnya eh coba analisa, aku kan ngajar marketing misalnya, coba analisa marketing e ini di saat lagi pandemi misalnya, kalau misalnya di chat GPT pasti semua data-datanya ada karena kan bisa dicari di Google, di manapun. Tapi intuisi sebagai seorang marketer itulah yang akan aku cari gitu. Sebagai seorang marketer kalau kamu kalau kamu menghadapi sebuah krisis, apa yang akan kamu hadapi gitu. intuisinya itu kan unikness di dalam sebuah esai itu yang akan aku cari gitu. Terus ee pastikan ee mahasiswa itu juga menuliskan pengalaman personal mereka. Jadi si-nya itu rasanya tuh dekat. Jadi ada bedanya gitu. Kalau misalnya ditulis AI mungkin rapi, template, kata-katanya baik, tapi kalau
44:31 ditulis sama manusia ada intuisi, emosi, dan pengalaman pribadi yang berharga. Dan itu bisa dikenali oleh dosen yang cukup sensitif untuk bisa membaca itu. Bisa. bisa dari pemilihan kalimat. Ee kan mahasiswa juga punya karakteristik saat menulis ya. Kalau chat GPT ya seperti itu dia rapi, sangat tersusun, terstruktur tapi justru yang dicari adalah imperfection di dalam esi-nya. Bagaimana ESI itu bisa jadi unik dan berbeda sama yang lain gitu. Koh Ernes, aku tahu kamu punya pandangan yang cukup berbeda begitu sama AI. Boleh dibagi? Iya. Di dunia kami AI ini adalah sebuah isu yang sangat ee tricky anak-anak. Karena kita yakin betul AI ini adalah sebuah sebenarnya instrumen alat bantu enggak sih sebenarnya mempermudah kerja kita
45:16 sebagai manusia. Tapi pada saat itu sudah mulai masuk ke ranah seni, nah di sinilah letak etikanya itu menjadi dipertanyakan. Karena kan pada dasarnya yang dilakukan oleh AI misalnya teman-teman pengin gambar gitu, gambar kucing di genteng. Kemudian AI dengan komputerisasinya dia akan mencari seluruh gambar kucing dan gambar genteng yang dia bisa temukan di internet yang adalah milik siapa? Milik orang kan sebenarnya. Dia pakai tanpa izin. Dia pakai apakah pakai izin? Tidak. Tentunya dia merge jadi satu. Somehow keluarlah dengan komputasinya ini kucing digenteng. Ketika kita ngomongin seni ini menjadi problematik dari segi etika karena itu gambar siapa yang kita ambil itu dari segi etika. Tapi yang penting juga yang tadi sempat disebut juga
46:01 adalah bagaimana unsur-unsur manusiawi ini seni itu kan sesuatu yang otentik ya. Kita tuh harus bisa ngasih fingerprint kita di situ gitu loh. Kalau kita misalnya bisa enggak bikin skenario film atau novel dibantu sama AI bisa. Tapi suara kita, subjektivitas kita, seluruh pengalaman kita, jiwa kita yang kita tuangkan di situnya mana gitu. Nah, ini yang jadi aku rasa menjadi perlu untuk diingat bahwa ketika teman-teman terbiasa menggunakan AI sebagai alat bantu khususnya di bidang yang berkaitan dengan seni, hati-hati jadi tumpul, hati-hati jadi kebiasaan, hati-hati kita jadi tidak terbiasa mengeluarkan apa isi hati kita ke dalam karya kita. Karena sudah terbiasa alah capek ya mikir udahlah prom aja lah gitu. Sebenarnya
46:47 slipery slope-nya gitu sih. He. Bagaimana Mas Bagus? Seberapa besar sih pengaruh AI ke daya pikir mahasiswa-mahasiswa kita? Setiap kali ada revolusi di bidang industri, penemuan mesin uap, listrik, internet, sekarang AI, selalu ada yang termarginalkan. Selalu. Industri pertama revolusinya itu menghasilkan kaum buruh. Dan sampai sekarang David Beckham pun masih merasa dirinya kaum buruh biarpun dia sudah kaya. AI pun demikian. Bahkan akan lebih parah akan tercipta dua kelas. Kelas yang terjajah secara pemikiran dan kelas yang bisa mengeksploitasi itu. Sekarang ada menteri yang digantiin AI ya. Menteri Iya. Anti korupsi.
47:33 Anti korupsi digantiin AI. Emang lebih cocok mesin sih ya kalau itu ya. Itu itu konsekuensinya. Kalau kita tidak bisa lagi berpikir kritis, kognitif di outsource ke AI. Itu permasalahannya. Tapi AI betul seperti kenapa dia dipanggil Ko, saya enggak. Itu itu udah udah ini udah trademarknya K Ernes. Iya. Karena Mas Bagus ada brewoknya, jadi agak-agak ini ada tadi Mbak Prili betul bilang ya, AI belum punya intuisi, AI juga tidak punya perspektif. Maksudnya begini, kalau kita mau tanya apa sih artinya kapitalisme? Apa sih artinya sosialisme?
48:19 Keluar semua referensinya. Tapi kalau ditanya apa arti kapitalisme bagi seorang yang lahir di pulau ee Rote gitu ya, tanpa orang tua? ya mengalami kekerasan seksual misalnya, apa yang dia pikirkan tentang kapitalisme itu sendiri? E enggak bisa jawab itu. Perspektif itu pun yang mahal di dunia seni itu tidak tergantikan. Saya bisa gambar kucing eh bisa gambar lebih bagus tapi perspektif yang membedakan karya seni itu. Dan yang kedua adalah trust, Mbak Nana. Trust. Dan itu skill yang paling penting yang perlu dimiliki oleh mahasiswa lulusan yang tidak mau tergantikan oleh AI. Eh, Pak Brian em AI Indonesia kita yang
49:07 jelas konsumen terbesar itu ada data kalau enggak salah yang pakai CGPT Amerika terus Indonesia. Nanti data-datanya kita tunjukkan. Jadi secara pengguna kita banyak nih, tapi bagaimana memastikan kita enggak melulu menjadi hanya pengguna saja seperti halnya berbagai hal lain yang rasanya selalu kita hadapi. Begitu. hanya jadi konsumen-konsumen tanpa kemudian punya punya daya untuk juga bisa jadi pemain di era ee industri yang maju seperti ini. Iya, tadi Mas Bagus juga sudah menyampaikan orang-orang yang kemudian dia menjadi ee termarginalkan dalam arti tidak bisa memanfaatkan AI tetapi justru menjadi tidak lebih berdaya menjadi tidak berdaya karena AI. Ada orang yang bisa memanfaatkan dengan baik. Karena
49:54 kalau saya melihat gampangnya begini. Ei ini seperti kalkulator sebenarnya dia alat bantu, tetapi kapasitas untuk melakukan perhitungan secara keseluruhan itu tetap adanya di manusia-manusia. Jadi itulah yang sebenarnya ee di kampus-kampus kita dorong karena AI ini mau enggak mau dia akan maju terus, Mbak. Jadi kalau kita menghindari AI juga enggak bisa karena ini akan maju terus. Nah, yang penting kita bangun di adik-adik mahasiswa di dunia kampus itu adalah bagaimana kapasitas kita untuk melakukan analitik, kajian ee apa riset-riset mendalam itu tetap dimiliki. Tadi apa K Eres juga bilang AI membantunya karena dia mempercepat
50:39 tetapi substance dia enggak bisa dibantu. Kemampuan analisis manusia berpikir itu yang tidak bisa tergantikan. Begitu. Saya mau tunjukkan ini ada satu kumpulan data riset soal ya AI banyak manfaatnya tapi juga ada bagaimana impactnya, tantangannya dan sebagainya. Kita lihat dulu yang ini. [Musik]
52:02 itu berbagai tantangan, potensi dan tantangan. Saya boleh boleh enggak sih saya minta Mas ee Bagus untuk bagaimana caranya kita menggunakan AI yang pas, bagaimana caranya kita prompting chat GPT sehingga yang kita dapatkan itu bukan hanya jabat jawaban template atau justru malah bisa membantu kita meningkatkan daya kritis. Oke, boleh enggak di aku sudah siapin itu, Mas? Oh. Aku udah siapin laptop biar langsung diajarin promptingnya caranya gimana. Kita kan maunya kuliah kerja kenyataan ya kan. Jadi kita langsung prompting yang pas itu justru bisa membantu dan kekhawatirannya kan bikin kita malas nih. Jadi gimana tuh yang pasnya supaya daya kritis kita juga enggak enggak enggak terkuras? Saya mau kuliah sesingkat-singkatnya
52:49 tentang bidang saya teknik dulu ya. Lalu saya kasih ilustrasi. Jadi semuanya kedengaran ya. Di sini ada departemen teknik kan? Oke, saya dosen teknik. Ketika teman-teman buka keran air ya, keluar cairan air, kerannya dibuka makin besar aliran air makin acak turbulen. Konsep yang baru. Oke. Cara air mengalir itu dipengaruhi oleh dua parameter, inersia dan viskositas. Diksi baru. Susah ya. Ya, inersia itu kecenderungan untuk tetap bergerak. Viskositas adalah hambatan untuk bergerak. Lebih besar inersia bikin cairan makin acak tapi cepat sampai. Paham?
53:37 Lebih itu yang jujur yang teriak enggak. Tapi tanpa viskositas pipa akan bocor karena alirannya acak. Hm. He. Lalu sekarang para lulusan teknik hidup di dalam dunia yang bercampur aduk dengan lulusan sosum segala macam, dia mau tahu kontribusi dia tentang dunia itu apa? Dia hidup di antara pasar bebas, kapitalisme, sosialisme, segala macam. Tadi saya bilang perspektif itu mahal. Di dalam dunia nyata dia bersih tegang dengan identitas individual atau identitas kolektif. Anak teknik enggak pernah terpengaruh dengan itu. Jadi kalau saya tanya AI misalnya, siapa siapa itu Bagus Mulyadi?
54:24 Jeng jeng jeng. Enggak ada yang tahu pasti AI. Oke. Akademisi peneliti asal Indonesia saat ini menjabat benar. Berikut tentang dirinya, jengjeng. Oke. Tapi kalau saya tanya begini, argue that inersia pertanyaannya aja aku enggak paham ini. Argumentasikan bahwa inersia dan viskositas itu interesting prompt. Enak kan dipuji sama AI? Yes. Tapi AI muji mulu. Ngerasa enggak
55:11 sih? Itu ada settingnya loh. Bisa di-setting juga supaya enggak ngikutu apa kata kita. Tapi itu topik lain. Silakan. Maaf-maaf, Prof. Dalam dalam 4 menit saya mau kasih gambaran betapa powerfulnya AI. Oke. Karena yang diberikan adalah argumentasi, bukan definisi, bukan data, tapi argumentasi. Di situ dia bilang bahwa inersia itu layaknya individual liberty dan dia bilang bahwa viskositas itu layaknya collective identity. Anak teknik yang belajar mekanika fluida tahu dia bisa menawarkan titik optimum antara kebebasan individu dengan identitas kolektif. Dan dia bilang di sini, kalau viskositas atau collective identity itu
55:56 terlalu besar dibandingkan respek akan identitas individual, negara menjadi tiran. Kalau sebaliknya, negara menjadi kacau. Bayangkan teman-teman, bagaimanakah mungkin anak teknik punya perspektif tentang hal sedalam itu? Itu poinnya AI. Gimana caranya bikin ini pada zaman Google sebelum AI? No way. Harus duduk di laboratorium atau di perpustakaan berlama-lama. Tapi sekarang argumentasi itu didemokratisasi lewat AI. Jadi, jadi kuncinya kuncinya adalah merumuskan pertanyaan yang bisa memancing lebih dalam pemikiran. Yes. And to test your idea. Karena kan
56:42 saya enggak prompt. Betul enggak viskositas itu collective identity. Itu bukan kata saya. itu kata AI, dia yang cek logiknya. Otomatis kita bisa jadikan teman bicara untuk ngetes logik saya, gitu. Oke. Oke, kita kasih tepuk tangan dong untuk untuk Mas Bagus. Karena saya ingat teman-teman, saya waktu itu sempat juga wawancara Jensen Huang, CEO Nvidia dan saya bertanya soal-soal AI spesifiknya. Kemudian yang dia bilang adalah yang penting tahu mengajukan pertanyaan yang pas, prompting-nya yang pas. Dan untuk bisa mengajukan pertanyaan, asking questions tuh susah loh. Untuk bisa bertanya, kamu harus ada konteks. Konteksnya harus beragam, harus tahu sejarah, harus tahu berbagai isu.
57:28 Tergantung apa yang mau ditanya. Semakin dalam pengetahuan kamu, semakin kamu bisa bertanya yang detail dan jawabannya akan semakin memancing rasa ingin tahu. Jadi, lagi-lagi memang AI sebagai tools alat. Dulu ada kalkulator, sekarang ada AI, tapi bagaimana kita mengoperasikan itu, itu kemudian yang akan jadi pembeda, yang akan jadi kunci. Oke, saya mau tunjukkan yang ini. Emm, kuliah kerja kenyataan. Kenyataannya hari gini susah banget dapat kerjaan. Ya Allah, itu kenyataan hari-hari ini. Jadi, mari kita lihat yang ini. nyatain [Musik]
59:08 Saya mau ke Pak Menteri. Pak Menteri, tidak semua kampus seperti IPB yang bisa bukan bukan mencetak pekerja, tapi mencetak orang yang membuka peluang kerja. Tapi kenyataan tidak semua punya privil untuk bisa kuliah di IPB dan tidak semua kampus punya paradigma seperti itu. E yang kita lihat justru lulusan perguruan tinggi tidak punya skill dan tidak punya cukup keterampilan untuk bisa langsung em pertama untuk bisa diterima kerja dan kedua ketika kerja pun bisa produktif. Jadi apa tantangannya? Ee jadi gini ya Mbak Najwa. Jadi saya pikir ee memang ini salah satu ee tantangan ya buat universitas, buat
59:55 kita-kita, saya dan teman-teman para pimpinan perguruan tinggi untuk bagaimana terus-menerus melakukan ee peningkatan e kapasitas dari lulusan karena memang dunia kerja berubah cepat begitu ya. Tapi kemudian juga bagaimana kita bisa menyiapkan lulusan dengan baik dengan seluruh skill yang harus dimiliki. Nah, ee itu jelas ee kita akan terus melakukan ee perbaikan, evaluasi, dan perubahan kurikulum juga sangat fleksibel. Saat ini kita juga berbagai pendekatan dibuat apa ee multidisiplin begitu ya. Jadi cross disiplin itu sekarang sudah memungkinkan. Kemarin kita juga punya ee program magang begitu ya, menyiapkan adik-adik kita yang akan lulus menjadi lebih siap bekerja. Tetapi
1:00:42 di luar itu sebenarnya ada juga parameter lain yaitu bagaimana kita menaikkan kapasitas industri yang ada di Indonesia. Setiap apapun lulusan kita, kalau kapasitas daya tampung chambernya tidak ee cukup besar, itu kan kita enggak bisa juga suplly begitu. Dan kenyataannya tidak sedikit lulusan-lulusan kita yang e berhasil di luar negeri diterima di kampus luar negeri. Artinya secara kapasitas ada sebagian juga adik-adik kita lulusan yang memang cukup baik kapasitas lulusannya sehingga dia bisa diterima di ee multinasional dan sebagainya. Nah, karenanya saat ini kita juga melakukan program bagaimana kampus itu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di beberapa negara
1:01:28 ee Mbak Najua ya. Jadi di beberapa negara itu kampus-kampus itu adalah entitas yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi lebih dari itu mereka kita berharap berbagai program untuk menciptakan tadi lapangan kerja, industri-industri, melahirkan industri-industri baru itu muncul di kampus. Karena sekali lagi kampus itu entitas yang cukup banyak orang-orang pintar ada di dalamnya. Nah, karenanya kita sekarang minta ee kampus itu dia lebih progresif keluar. dia punya ide, gagasan kita temukan dengan industri lain begitu ya. Sehingga dia kampus itu pada akhirnya menjadi ee entitas pertumbuhan ekonomi baru. Sebagaimana di Oxford, MIT itu lahirnya industri-industri baru di Jepang gitu
1:02:15 ya, di Korea, Hongkong, di China itu semuanya lahir dari kampus Mbak Najwa. Jadi ee selain kita lakukan perbaikan kurikulum, kapasitas, tetapi juga tentunya kita mendorong kampus memiliki peran untuk melahirkan ee entitas pertumbuhan ekonomi. Itu sih, Mbak Pak Menteri kan belum lama ini diumumkan bahwa pemerintah menyiapkan program magang nasional untuk seluruh lulusan ee PTN ya, Pak. Ee perguruan tinggi PTN dan PTS. PTN PTS juga ya. Jadi untuk lulusan perguruan tinggi magang 6 bulan dapat gajinya UMP. Boleh di-share ke kami skemanya, apakah sudah ada lebih detail skemanya? Iya. Jadi, ini juga salah satu ee cara pemerintah merespon kondisi ini. Kita ingin menyiapkan lebih baik lagi lulusan
1:03:02 adik-adik yang fresh graduate while waiting sambil menunggu mereka di permanen eh position, mereka bisa program magang 6 bulan begitu ya. nanti ee dari Kementerian Tenaga Kerja yang akan membuka ee apa platformnya lewat website semuanya nanti silakan mendaftar yang lulusan yang bisa apa memasukkan adalah yang 1 tahun ee lulus begitu yang baru satu lulusan terakhir 1 tahun. Kemudian mereka bisa tinggal pilih, Mbak. Jadi sekarang ee teman-teman kita dari Menko Perekonomian, dari Ketenagakerja, dari Kadin itu sedang mendata mana yang punya posisi-posisi. Mereka nanti masukkan posisi-posisi itu. Ee misalnya ada di Aceh ee bidang pekerjaan ee industri pembuatan ee apa
1:03:51 ee kelapa misalnya dibutuhkannya tiga orang gajinya segini dia bekerja mulai bekerja segini sampai segini. Nanti adik-adik silakan memasukkan memilih mana yang mau diisi, mau ee magang di mana, bidangnya apa, itu ada semua. Nanti ee di ada seleksi tentunya kalau lebih dari kapasitas akan seleksi nanti. Kemudian yang lulus bisa mulai bekerja dan ini 20 20.000 sebenarnya bisa menambah. Kalau ternyata Rp2.000 ternyata bagus ee responnya baik nambah jadi R0.000.000 kalau ternyata bagus juga kita tambah lagi Rp60.000 Pak Menko bilang bisa sampai Rp100.000 begitu. Oh, targetnya bahkan bisa sampai Rp100.000. Ini jadi untuk sebetulnya niatan pemerintah untuk b sambil dapat
1:04:38 kerja permanen atau untuk nambah pengalaman kerja. Motivasi utamanya apa, Pak Menteri? Kita sebenarnya ingin melihat juga bagaimana adik-adik kita dia ketika dia lulus kadang-kadang kan enggak terlalu siap kan. Makanya ada program management training, technical training. Nah, itu kira-kira seperti ini. Jadi, mereka bisa belajar dulu, tapi kan kalau belajar enggak dikasih gaji biasanya apalagi sudah lulus kan mereka biasanya butuh, ada keluarganya yang menunggu dan sebagainya. Jadi ini doble dan bahkan nanti ketika misalnya Pertamina dia ada training di Pertamina dia lihat ini bagus, bahkan bukannya enggak mungkin Pertamina akan merekrut dia begitu. Oke. Eh, K Ernes. E, iya.
1:05:23 Em, apa sih skill yang rasanya paling dibutuhkan saat ini di industri ee kreatif yang mungkin tidak didapatkan pada saat masih kuliah yang harus disiapkan dari sekarang kalau memang nanti lulus bisa dapat kerja? Em, tentunya banyak. Tapi kalau aku boleh inti sarikan ya, Teman-teman. Ee kita ini orang Indonesia punya satu mungkin nanti ee Koh Bagus ya biar biar biar sama biar sama Koh Bagus dan Ciori ya itu nanti mungkin nanti Bagus bisa kasih ini valid atau enggak. Tapi salah satu yang aku perhatikan bedanya kultur kita Asia Asia
1:06:09 in general General atau Asia Tenggara dibandingkan kulturat, Eropa, Amerika adalah assertiveness atau enggak ada bahasa Indonesianya bahkan assertiven itu ya dibilang lugas juga agak beda ya. Assertif itu sebuah sifat di mana kita bisa ngomong apa adanya. Kita itu budayanya terlalu sopan santun tapi in a way kadang-kadang sopan santunnya toxic. Maksudnya gini, ketika kita menyampaikan kritik, seringkiali itu dianggap sebagai sesuatu yang nyerang, sesuatu yang bikin tersinggung. Padahal seringki itu bukan it's not about us secara personal. Saat aku misalnya ngomong ee ke timku misalnya ee ini ini oke, tapi kayaknya kamu harus
1:06:54 giniin lagi. Aku enggak lagi ngatain dia bodoh. Aku lagi ngomentarin kerjaannya. Ngerti enggak? Nah, ini adalah salah satu hal yang ee kualitas yang langka di kita di Indonesia. Terutama buat teman-teman yang baru lulus yang belum terbiasa ee kultur-kultur di mana teman-teman tiba-tiba ditegur, dikasih kritik. Ini enggak gini. Harusnya gini. Memiliki mindset yang mikir kalau it's not about us. Ini bukan soal serangan personal. Kritik itu sehat. Kritik itu kayak jamu. Ya, pahit tapi berkhasiat kok. Gitu. Jadi biasakan familiarize yourself with critics. Karena ketika dikasih tahu dikit, dikritik dikit langsung wah ah wah itu repot tuh. Susah tuh berkembangnya. Itu yang pertama.
1:07:39 Biasanya pejabat yang kayak gitu sih. Aduh. Eh kayaknya ya enggak kalau kalau ngritik pejabat tuh sukanya harusnya zaman orde baru dulu. Kritik membangun gitu. Jadi pokoknya kalau kalau kritiknya enggak ngasih solusi itu katanya bukan kritik. Sementara dia digaji untuk nyari solusi, kita kedit juga harus ngasih solusi gimana ya? Lanjut, Ko. Mohon maaf. Iya, enggak apa-apa. Sama satu lagi adalah tentang komunikasi, Teman-teman. Gini, tidak semua orang jago ngomong. Betul. Tidak semua orang punya kemampuan verbal yang baik. Itu aku setuju sekali. Tapi semua orang harus bisa berkomunikasi dengan baik. Berkomunikasi dengan baik apa sih? Menyampaikan maksud kita dengan jelas. Nah, kadang-kadang ini ada kaitannya juga dengan ruang lingkup pergaulan. Jadi yang aku mau kasih saran kalau
1:08:25 teman-teman masih masih muda dan masih kuliah ini adalah sebuah salah satu yang aku pelajarin teman-teman ya. Aku kan kuliah di Pajajaran kampus negeri. Aku ee Cina Jaksel pula gitu yang mungkin background-nya beda banget di sana sangat minoritas lah. Ada orang Cina di UNPAT apalagi Visip. Kalau di ekonomi mungkin lumayan. Kalau di Visip jarang banget gitu ada Cina di sana gitu langk lah gitu. Jadi sana saya menikmati sekali menjadi minoritas. Kenapa? karena terjun di sebuah ruang lingkup yang majemuk dan oh gini ya orang-orang tuh gitu. Itu salah satu hal yang paling berharga yang saya pelajari ketika kuliah. Nah, kalau teman-teman sekarang berada di sebuah lingkungan yang cukup homogen di circle terdekatnya, coba keluar sedikit. Bisakah ke UKM atau komunitas atau cari freelance atau
1:09:12 magang selama kuliah? Karena semakin banyak kita bergaul, semakin banyak kita mengerti orang, itu semakin meningkatkan cara kita berkomunikasi dengan baik. Menurutku gitu sih. Oke, Mas Bagus. Saya tahu Anda bilang bahwa sesungguhnya M-nya tuh seharusnya jadi sarjana mencetak lapangan kerja. Tapi kenyataannya hari-hari ini orang tua keluarin biaya untuk anaknya kuliah dengan harapan pada saat kuliah dapat IPK tinggi, bisa masuk pekerjaan yang cukup bagus, bisa bisa kemudian ee bayarin bantu adiknya ee kuliah dan sebagainya. Jadi ekspektasi kuliah sarjana dapat kerja tuh masih tinggi. Iya. Ya. Dan kenyataannya sekarang itu enggak
1:09:58 menjamin. Jadi, jadi kita 4 tahun kuliah dan enggak bisa dapat kerja. Jadi untuk apa ya? Anda di sini dan saya yang makan bangku kuliah bahkan bangku kuliah kampus negeri itu privilege tadi kata pertamanya itu benar. Tapi Bapak Ibu kita yang mungkin dari kaum yang kurang beruntung secara ekonomi itu enggak tahu bahwa kuliah itu tempat orang berpikir mencetak orang yang bisa menjadi pilar demokrasi. Dia enggak berpikir begitu. Dia berpikir ini adalah satu-satunya tiket saya untuk memperbaiki keturunan gitu. Di dalam dunia-dunia Barat enggak juga sih, Anglo Angloamerican World pendidikan itu adalah komoditas ekonomi. Jadi kalau saya masuk ke gerbang Nottingham University ditulis di situ lulusan
1:10:45 Nottingham 3 tahun pertama rata-rata gajinya berapa. Oke. Jadi orang tuanya lewat dia lihat. Nah, kalau saya taruh duit di kan uang sekolahnya mahal, Mbak di UK. Kira-kira balik modal atau enggak? Fair itu artinya universitas punya akuntabilitas langsung kepada pasar gitu. Hitung-hitungannya hitung-hitungan balik modal atau enggak? Indonesia itu kan besar sekali dengan ketimpangan yang sangat jauh. Beda dengan di UK. Kita tidak mungkin bebaskan dengan pasar sebegitu aja. Makanya Pak Bry punya tugas yang sangat sulit gitu loh. Saya enggak ngiri sama posisinya. Jadi universitasnya ada 4.000 4.500 ya, Pak Brian? Iya. 4.500 itu udah yang masuk kemenak atau belum? Saya belum tahu juga.
1:11:31 Sudah masuk menak kan. He. Total Cina itu universitasnya cuma 2.000-an mungkin hampir 3.000 pendiduknya lima kali lipat dari kita gitu ya. Jadi kualitasnya timpang timpang gitu ya. Kalau di IPB oke teman-teman bisa itu. Nah, itulah yang harus dijembatani gitu loh. Karena akuntabilitas universitas di Indonesia tidak boleh langsung kepada pasar. Dia masih menjadi hak berkewarganegaraan. Begitulah. Nah, adanya ketidakcocokan antara ekspektasi lulusannya dengan dunia kerja kenyataannya itu adalah PR bersama. Saya cuman bisa bilang bahwa saya hidup di zaman yang jauh lebih mudah daripada teman-teman di sini. Waktu saya masuk kuliah, saya masih bisa memprediksi 3 4 tahun ketika saya lulus.
1:12:18 Saya lulusnya 5 tahun karena kebanyakan main Counter Strike tu. Jadi ketika saya lulus kira-kira dunia tuh seperti apa? Saya masih bisa prediksi, Teman-teman. Dunia besok seperti apapun belum tentu bisa diprediksi. Itu permasalahannya. Dan teman-teman akan menginvestasikan bukan hanya waktu tapi uang. Uang Bapak kadang-kadang minjam gitu ya. Nah, Teman-teman harus setelah lulus bisa bertanya, bukannya bisa berpikir atau tahu segala sesuatunya. Karena dunia hampir pasti tidak akan seperti yang teman-teman bisa bayangkan. Yang teknis terakhir saya mau bagikan yang bisa teman-teman e pelajari itu seperti ini. Kalau saya di bidang teknik tahun pertama di sini ada TPB ya. Oke,
1:13:06 belajar matematik, fisika, biologi sama persis kayak SMA. Tahun kedua anak teknik mulai belajar mekanika fluida. Apa itu mekanika fluida? Anak sipil belajar hidrologi gitu kan. Mekanika fluida adalah fisika, kimia dijadikan satu dengan matematik. Iya kan? Tahun ketiga dia akan gabungkan mekanika fluida itu dengan hidrologi namanya mata kuliahnya tata kota gitu loh atau ground water transport atau anak-anak sipil arsitek belajar tentang konstruksi. Jadi, setiap jenjang pendidikan Anda dilatih untuk berpikir secara interdisipliner
1:13:51 sehingga kalau teman-teman lulus, Anda terbiasa menggabungkan ilmu-ilmu tanpa harus ada dosennya. Kenyataan dunia kerja sekarang adalah orang yang diharapkan untuk membuat bisnis tentang pencetakan organ tubuh menggunakan 3D printing misalnya ya dengan bahan sintetik untuk prostetik atau untuk jantung buatan. Pertanyaannya dibalik sekarang waktu S1 dia harus belajar apa supaya bisa dapat kerja di situ? Enggak mungkin hanya belajar satu disiplin ilmu. Enggak mungkin. Maka itulah universitas sekarang dituntut untuk makin interdisipliner gitu loh. Tadi memang dari kementerian kata berdampak itu implisit di dalamnya
1:14:37 interdisipliner di situ. Maka itu h karenanya yes kurikulumnya harus berubah relevan dan yang paling penting yang bisa disiapkan kita apa? Jadi mahasiswa tuh harus menyiapkan apa sih, Pril? Kalau misalnya kampusnya memang ya itu harus multidisipliner, harus bisa belajar banyak hal, apa yang harus dipersiapkan, skill yang harus dimiliki itu apa sehingga bisa relevan ketika dunianya tidak bisa diprediksi? Aku setuju banget ya tadi sama Mas Bagus sebelumnya kurikulum itu juga harus adaptif. Selain mahasiswanya harus adaptif, kurikulumnya juga harus adaptif sama apa sih yang dibutuhkan sama dunia profesional gitu. Tenaga kerja seperti apa. Dan kalau misalnya ditanya apa yang harus dibutuhkan sama mahasiswa? adaptif dan apa yang diomongin sama K Ernest sangat setuju banget. Makanya
1:15:22 tadi pas K Eres ngomong aku kayak oh my God setuju banget setuju banget gitu ya. Di dunia kerja itu kita enggak bisa mengharapkan gentle parenting ya teman-teman. Jadi enggak soalnya zaman sekarang kan semua tuh harus serba gentle gitu ya. Berbicara harus gentle apa. Jadi kadang tuh aku ngerasa mahasiswa tuh kadang anti kritik gitu enggak bisa enggak bisa dikritik dan kalau misalnya dikritik ngerasa ee itu adalah serangan personal. Padahal kita mengkritik kerjaan dia. Nah, jadi harus adaptif terus juga dan harus tahu setiap industri itu, setiap lapangan kerja itu
…