NATAL: LAHIR DI KANDANG atau RUMAH? Dekonstruksi Modern Gambaran Kelahiran Yesus Kristus

Ringkasan Singkat

Video ini membahas perdebatan mengenai tempat kelahiran Yesus Kristus, apakah di kandang atau di rumah, dengan mempertimbangkan konteks sejarah, teologis, dan budaya Yahudi. Dr. Rita Wahyu Wulandari menantang pandangan teolog modern yang menolak kelahiran Yesus di kandang, dengan menekankan pentingnya memahami tradisi dan hukum Yahudi dalam menyambut tamu.

  • Tempat kelahiran Yesus: kandang domba di Migdal Eder atau rumah keluarga Yusuf?
  • Pentingnya memahami konteks budaya dan teologis dalam menafsirkan Alkitab.
  • Tradisi dan hukum Yahudi dalam menyambut tamu (Gemilut Hasadim).
  • Tanggal Natal: 25 Desember dan kaitannya dengan hari raya Yahudi.

Intro

Malaikat datang membawa kabar baik tentang kelahiran Kristus di kota Daud, yang akan ditemukan terbaring di palungan. Kemuliaan bagi Allah di tempat tertinggi dan damai sejahtera bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Dr. Rita Wahyu Wulandari memulai pembahasan tentang tempat kelahiran Yesus Kristus, apakah di kandang atau di rumah, pada tanggal 14 Desember 2025, yang bertepatan dengan hari pertama Hanukah dan diperkirakan sebagai 25 Desember pada tahun 5 sebelum Masehi.

Kandang atau Rumah?

Dr. Rita tidak memberikan jawaban tunggal, melainkan mengajak pendengar untuk berpikir lebih dalam. Dalam kelas filsafat, kebenaran yang lebih dalam lebih penting daripada sekadar benar atau salah. Pertanyaan krusialnya adalah, jika Yesus lahir di rumah, mengapa Injil tidak mencatat nama pemilik rumah, sementara makam Yusuf Arimatea disebutkan dengan jelas?

Teolog Amerika dan Penolakan Natal

Dr. Rita membahas pendapat Kenneth E. Bailey dan Wave Naneli, dua teolog Amerika yang menolak Yesus lahir di kandang dan menolak Natal 25 Desember. Bailey mengklaim meneliti Yesus melalui kacamata Timur Tengah, sementara Naneli mengklaim bahwa kandang domba Migdal Eder adalah mitos. Dr. Rita berbeda mazhab dengan mereka dan berpegang pada pendapat para bapak gereja tentang kelahiran Yesus pada 25 Desember.

Injil Lukas dan Palungan

Dr. Rita membahas Lukas 2:7, yang menyebutkan bahwa Yesus dibaringkan di palungan karena tidak ada tempat di rumah penginapan. Kata "penginapan" (luma) ditolak oleh teolog modern, tetapi Heronimus menerjemahkannya sebagai "diversorium" (tempat singgah penginapan). Keberadaan palungan menjadi pertanyaan penting: mungkinkah ada palungan di rumah keluarga?

Gembala dan Mikdal Eder

Para gembala yang menerima kabar dari malaikat tidak bertanya di rumah siapa bayi itu dilahirkan, karena mereka adalah gembala di kawasan Mikdal Eder, tempat domba-domba yang akan dipersembahkan di Bait Allah ditempatkan. Ini berarti mereka kembali ke markas, bukan rumah seseorang.

Konteks Sastra dan Teologis

Injil Lukas ditulis untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Juru Selamat bagi semua orang. Lukas 2:7-18 adalah klimaks dari cerita kelahiran, dengan kontras antara kesederhanaan kelahiran Yesus dan kemuliaan surgawi pengumumannya.

Filsafat Ibrani dan Gematria

Dr. Rita menjelaskan bahwa Perjanjian Baru ditulis oleh orang Yahudi yang berpikir secara filsafat Ibrani. Kota Betlehem (rumah roti) memiliki nilai gematria 490, yang berkaitan dengan pengampunan dosa. Yesus menjadi antidot bagi makanan beracun di Taman Eden.

Gembala dan Makna Teologis

Para gembala dipandang sebagai orang sederhana yang pertama menerima pengumuman kelahiran Mesias. Mereka membawa resonansi orang benar seperti Habel dan leluhur Israel. Kelahiran Yesus di Betlehem menggenapi nubuat Perjanjian Lama.

Penolakan Teolog Modern

Teolog modern menolak Yesus lahir di kandang karena dianggap hina. Mereka mengharmonisasikannya dengan bela rasa kemanusiaan dan menganggapnya sebagai mitos. Mereka berpendapat bahwa Yesus lahir di rumah keluarga.

Pendapat Kenneth Bailey

Bailey mengklaim menghabiskan puluhan tahun di Timur Tengah dan menganalisis Perjanjian Baru melalui lensa budaya Timur Tengah. Ia berpendapat bahwa kata "luma" seharusnya diterjemahkan sebagai ruang tamu keluarga, bukan penginapan. Namun, Dr. Rita menantang pandangan ini dengan mempertanyakan mengapa seorang ibu hamil besar ditempatkan di kandang rumah keluarga.

Pendapat Wave Naneli

Naneli mengkritik narasi modern yang mengaitkan kelahiran Yesus dengan Migdal Eder dan menganggapnya sebagai mitos. Ia mengklaim menganalisis dari sumber-sumber Yahudi kuno, tetapi Dr. Rita menunjukkan bahwa ia mengabaikan tradisi lisan (Torah Sef Alpe) yang sudah ada sejak sebelum Masehi.

Tata Krama Yahudi dan Tantangan

Dr. Rita menekankan bahwa menempatkan seorang wanita hamil besar di kandang domba adalah penghinaan bagi orang Yahudi. Ia menantang mereka yang percaya Yesus lahir di rumah keluarga untuk menyebutkan nama pemilik rumah tersebut.

Kandang sebagai Tempat Sakral

Dr. Rita berpendapat bahwa Yesus tidak lahir di kandang hina, tetapi di tempat sakral. Ia memberikan contoh Daud yang menitipkan tabut perjanjian di rumah Obet Edom, yang namanya dicatat dalam Alkitab.

Mikdal Eder dan Nubuat

Kelahiran Yesus di Mikdal Eder sudah dituliskan di Alkitab (Mika 4:8). Para rabi dalam Targum Yonathan menafsirkan Mikdal Eder sebagai tempat kelahiran Mesias. Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai "Anak Domba Allah" karena Ia lahir di kawasan khusus persembahan korban.

Bait Allah dan Ruang Publik

Dr. Rita menjelaskan bahwa kandang domba di Migdal Eder adalah bagian integral dari Bait Allah (Heikhal), bukan milik pribadi. Yesus menyebut Bait Allah sebagai rumah Bapa-Nya.

Simbolisme Teologis dan Perbedaan Tafsir

Dr. Rita mengajak pendengar untuk memandang perbedaan penafsiran dengan bijak. Ia tetap berpegang pada ajaran para bapak gereja, tetapi mengakui bahwa Bailey dan Naneli menawarkan penafsiran alternatif.

Kata "Luma" dan Septuaginta

Dr. Rita menjelaskan bahwa polemik mengenai kata "luma" (ruang tamu atau penginapan) sudah ada sejak abad ke-19. Para rabi Yahudi yang menerjemahkan Septuaginta pernah menerjemahkan "luma" dengan "malon" (tempat penginapan).

Kesimpulan

Dr. Rita tidak memberikan jawaban tunggal, tetapi mengajak pendengar untuk menentukan sendiri. Ia berpegang pada pendapat klasik bahwa Yesus lahir di kandang domba di kawasan Mikdal Eder pada 25 Desember.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan tentang kandang atau rumah bukan soal arsitektur, melainkan soal makna. Di mana pun Yesus dilahirkan, surga merendahkan diri untuk menebus manusia. Yang terpenting adalah menyadari bahwa tempat kelahiran menjadi ruang perjumpaan antara manusia dengan Allah.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:10 Di padang gembala, di malam yang hangi datang seorang malaikat bawa berita. Jangan takut ada berita kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu selamat. Yang itu Kristus di kota Daud.

1:04 Danilahnya bagimu. Kami akan menjumpai seorang bayi yang terbus dengan kain lampi dan terbaring di palungan. Kuliahan hatimu di tempat maha tinggi damai sejahtera di antara

1:51 manusia yang berkenan padanya hari ini lahir bagimu selamat yang itu Kristus di kota Daud

2:43 danilah bagiMu kami akan menjumpai seorang bayi yang terbus dengan kain lambi dan terbaring di palungan. Kemuliaan hatimu. Tuhan maha tinggi damai sejahtera dii di antara

3:30 manusia yang terkenan kepada-Nya. Shalom. Selamat malam. Hari ini Minggu tanggal 14 Desember 2025 bertepatan dengan hari yang pertama, hari raya Hanukah 25 Kisleev kalender Yahudi. Dan ini sebenarnya bertepatan dengan 25 Desember pada tahun 5 sebelum Masehi. Jadi gampangnya hari ini adalah hari ulang tahunnya Tuhan Yesus. Mari kita mulai. BMHF veuah Godesh H Elohim Ehad

4:15 Di dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus Allah yang esa. Amin. Bahasan kita malam ini adalah kandang atau rumah dekonstruksi modern gambaran kelahiran Yesus Kristus. Apakah Tuhan Yesus lirik di kandang atau di rumah? Nah, kita itu biasanya diperhadapkan dengan dua macam jawaban. Saya sejak sekolah dulu, sejak SMP, SMA, kuliah itu kalau ujian itu dikasih multiple choice. Saya itu biasanya marah. Buat saya ujian yang pakai multiple choice itu buat saya anar. Kenapa anargi? Karena jawabannya sudah ditentuin. Kalau jawaban A yang betul, saya enggak boleh milih yang B. Padahal

5:03 saya bisa milih B dengan suatu catatan. Kenapa saya pilih B? dengan catatan seperti ini. Saya enggak mau pilih A. Tetapi karena kita itu selalu dibiasakan dengan A atau B. B atau A buat saya itu anarki. Di anarky of the dius of N. Karena ini adalah kelas filsafat, maka saya tidak akan memberikan jawaban A atau B, tapi saya akan membawa Anda ke dalam suatu kedalaman berpikir. Jadi, jangan tanyakan ke saya, Yesus Kristus lahir di kandang atau di rumah? Kalau saya bilang di kandang, terus yang ono bilang, yang betul di rumah. Nah, sebenarnya bahasan ini sudah saya bahas di Circle Indonesia tahun lalu. Dan ketika saya

5:49 lebih cenderung yang di kandang, terus kemudian ada yang mengajukan buku-buku yang mereka anggap betul dan mereka membuat satu konten konten tandingan. Nah, itu enggak asyik buat saya. Sesuatu yang berbeda itu mari kita bicarakan bukan untuk dipertentangkan. Buat saya A atau B itu anarki. Jadi kalau ada pertanyaan, apakah Yesus lahir di kandang atau di rumah? Pertanyaan ini walaupun tampaknya sederhana, seolah kita hanya perlu menjawab A atau B, tapi karena kita itu ada di kelas filsafat, maka saya sering mengutip pemikiran dari Nilsborn. Siapa Nilsbor? Dia seorang fisikawan, fisika quantum. Kalau fisika klasik itu ilmu pasti.

6:36 Tetapi kalau fisika kuantum itu adalah ilmu yang tidak pasti. Bisa bermacam-macam jawabannya, bisa relatif jawabannya. Nah, Nilsbor itu mengatakan lawannya kebenaran itu bukan yang salah. Kalau cuman sekedar salah dan benar itu ujiannya anak SMP. Tapi kalau kita sudah masuk di kelas filsafat, lawannya kebenaran adalah kebenaran yang lebih dalam. Jadi lawannya kebenaran bukan yang salah. Kalau cuman salah atau benar itu anak SD, anak SMP. Tapi kalau sudah belajar tentang filsafat, lawannya kebenaran adalah kebenaran yang lebih dalam. Kebenaran yang dangkal itu mudah dibantah, tapi kebenaran yang mendalam

7:23 seringki memiliki pasangannya sendiri yang membuat kita mampu berpikir yang lebih luas dan mendalam mengenai kebenaran itu. Maka ketika kita bicara mengenai tempat kelahiran Tuhan Yesus, kita sedang berhadapan bukan sekedar melihat suatu peristiwa geografis, tetapi kita juga mendalami misteri teologisnya. Satu pertanyaan krusial daripada pilihan kandang atau rumah seperti ujiannya anak SMP. Mari kita masuk ke dalam suatu kedewasaan berpikir dan kita harus merenung lebih dalam. Seandainya di rumah pertanyaannya mengapa Injil tidak mencatat nama si pemilik rumah?

8:09 Sementara makam di mana Tuhan Yesus diletakkan jasadnya itu justru disebut jelas, yaitu milik Yusuf Arimatea. Apakah mungkin seandainya Tuhan Yesus itu lahir di rumah dan pemilik rumahnya enggak disebut? Masa sih pemilik rumah itu adalah anonim padahal kuburnya disebut dengan detail yang jelas. Mungkinkah pemilik rumah tempat Tuhan Yesus dilahirkan itu anonim? Nah, ini saya kasih challenge kepada Anda. Mungkin di antara Anda ada yang berpendapat, "Kasihan deh kalau Tuhan Yesus itu lahir di kandang. Kayaknya di rumah dong," gitu kan. Oke, kalau di rumah saya mau challenge Anda semua.

8:54 Kenapa sih kok anonim? Kenapa Injil tidak menyebutkan nama dari si pemilik rumah itu? Nah, di sinilah kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekedar lokasi, rumah atau kandang, kandang atau rumah. Terus kita berdebat di situ, cuman ributin soal lokasi. Dan ini bukan hanya sekedar memaksa menelan mentah-mentah pendapat dua teolog Amerika yang menolak Tuhan Yesus dilahirkan di kandang. Karena pendapat dua teolog Amerika ini yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk menentukan Yesus itu tidak lahir di kandang tapi lahir di rumah. Yang pertama adalah tulisan dari Kennet E. Bali bukunya yang berjudul Jesus Through the Middle

9:41 Eastern Ice. Benar enggak sih penelitiannya ini? Judulnya memang bombastis sih. Dia meneliti Yesus melalui kacamata orang Timur Tengah. Tapi apakah betul seperti klaimnya gitu ataukah ini cuman overclaim? Jadi kita enggak boleh cuman melihat judul wow ini meneliti dari kacamata orang Timur Tengah loh. Pasti benar loh. Belum tentu juga. Makanya kita akan melihat bersama-sama. Kenet E. Bale menulis buku ini tahun 2008 dan juga Wave Nanley pada tahun 2012 dia menulis suatu artikel bahwa Mikdal Eder kandang domba tempat Tuhan Yesus dilahirkan itu yang dipercaya secara

10:28 klasik oleh gereja-gereja itu dianggap sebagai mitos klaimnya ini karena dia sudah mengelilingi Israel dan itu salah. Nah, dua teolog ini Kennet Bale dan Wave Nanelini dua-duanya juga menolak Natal 25 Desember. Nah, ketika tahun lalu saya membuka kelas di Circle Indonesia mengenai kelahiran Yesus dan juga Natal 25 Desember saya diajukan buku ini. Bu, pendapat Ibu salah yang betul ini. Cannot a bal. Saya bilang saya sama Balai dan Naneli itu beda mazab ya. Beda masa. Saya percaya Yesus Kristus itu lahir 25 Desember. Mereka enggak percaya. Mereka nganggap 25 Desember itu

11:13 kelahiran Dewa Matahari. Nah, padahal klaim kelahiran Dewa Matahari itu baru keluar dari mulutnya Paul Ernest Jablonski pada abad ke-18. Dan ini enggak ada dasar sejarahnya, enggak ada. Cuman klaim aja karena dia benci sama Katolik Roma. Jadi apapun yang Katolik Roma itu rayakan dia enggak setuju gitu. Just that. Dan dia mengklaim bahwa 25 Desember itu hari raya Dewa Matahari. Padahal Hipolitus, siapa itu Hipolitus? Hipolitus itu muridnya Irenus. Siapa Irenus? Irenayus muridnya Polyarpus. Siapa Polarpus? Polikarpus muridnya Rasul Yohanes.

11:58 Hipolitus pada abad kedua itu sudah menyebut jelas Yesus Kristus lahir 8 hari sebelum kalender Januari berarti 25 Desember. Dan itu sudah dituliskannya 70 tahun sebelum Kaisar Aurelius menentukan kelahiran Dewa Matahari Soul infti itu tahun 274 Masehi. Berarti Hipolitus sudah menyatakan lebih dahulu dan ada dokumen dari apostol Rum Didas tahun 189 Masehi sudah menyebutkan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Kislef kalender Yahudi. 25 Kislef kalender

12:43 Yahudi itu adalah sama dengan 25 Desember. Jadi kalau saya diajukan dengan pendapatnya B ya enggak apple to Apple mazhabnya beda. Dia enggak percaya 25 Desember. Saya percaya 25 Desember karena saya berpegang pada pendapat dari para bapak gereja bukan pada fitnahannya Paul Ernest Jablon sih yang baru muncul abad 18 dan disuarakan sampai hari ini. Termasuk pendeta-pendeta yang enggak tahu sejarah, yang buta sejarah. Khotbah juga bahwa itu adalah hari lahir Dewa Matahari kemakan juga. Nah, saya dan Bailey itu beda mazhab. Saya tidak akan bicara mengenai A atau B, tapi kita akan betul-betul memahami

13:29 apa sih yang menjadi latar belakang dari Bailey ini yang dia menolak Yesus Kristus lahir di kandang tapi lahir di rumah keluarga dan dia juga menolak 25 Desember dan juga Wave Nanley di sini yang dia menulis artikel dengan klaim bahwa dia sudah melakukan penelitian di tanah suci Israel dan dia juga menolak bahwa Yesus Kristus lahir 25 Desember dan dia mengatakan kandang domba migdal edder itu mitos. Tapi ada juga beberapa teolog yang soft ya. Ini yang saya pilihkan dua ini yang keras. Kenet Bali ini keras, Wave Nanel ini keras menolak 25 Desember dan menolak Yesus Kristus lahir di kandang.

14:15 Tapi juga ada yang lebih soft sih sebenarnya pendapat Kenet Bali ini bukan pendapat baru. Dia sebenarnya berdasarkan dari pendapat Yohim Yeremia dia memberikan suatu alternatif kayaknya ya kayaknya Yesus itu enggak lahir di kandang deh. Tapi tidak sekeras balai. Memang pendapat dari Yeremia di sini dipakai oleh Bali untuk menulis pendapatnya di situ. Dan buku ini kemudian jadi viral di antara orang-orang yang menolak Yesus Kristus lahir di kandang dan juga Yesus Kristus lahir pada 25 Desember. Dan kemudian masih ada buku-buku lain yang lebih soft juga yaitu bukunya Raymond Ibrown dan juga Yosep Flim ini juga memberikan satu

15:03 alternatif. Kemungkinan Yesus tidak lahir di kandang. Ya enggak apa-apa. Kita boleh berpendapat beda. People can believe what they want to believe. Kita akan membaca tempat kelahiran Yesus Kristus di dalam Injil Lukas. Nah, ini ayat ini biasanya menjadi perdebatan di antara teolog rasik dan juga para teolog modern. Lukas 2 ayat 7. Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan kain lampin dan dibaringkannya dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka rumah penginapan. Nah, yang diterjemahkan rumah penginapan ini yang biasanya ditolak oleh para teolog modern berasal dari bahasa Yunani

15:51 kata luma itu kata lumati di sini kata luma yang diterjemahkan oleh LAI sebagai rumah penginapan itu tidak diterima oleh banyak teolog modern termasuk teolog Amerika atau teolog-teolog Indonesia yang berkiblat pada teolog-teolog Amerika tadi. Tetapi kalau kita melihat bagaimana Heronimus menerjemahkan Perjanjian Baru pada abad keempat, ya abad keempat itu enggak terlalu jauh dari zamannya para rasul. Kata-kata lumati tadi diterjemahkan dengan diversorium bahasa Latin yang artinya apa? tempat singgah penginapan atau guest house

16:37 bukan rumah pribadi. Nah, ini dalam artian yang sama dengan in atau tempat penginapan. Berarti tadi Bailey, Naneli dilawan ini semua ya enggak apa-apa ya. Namanya juga pendapat. Dan yang penting untuk ayat ini yaitu mengenai adanya palungan. Seandainya Yesus Kristus itu lahir di rumahnya keluarga, kok ada palungan. Mungkinkak palungan itu di dalam rumah atau memang Yesus ditempatkan di kandang milik rumah itu? Mungkin enggak sih kalau Yesus Kristus tuh lahir di rumahnya saudaranya Yusuf terus ditaruh di bagian kandang di bagian rumahnya?

17:22 Mungkin enggak sih? Nah, mari kita berpikir secara jernih dari pemikiran teolog-teolog modern Amerika ini. Dan satu yang penting juga ada Ortodox Jewish Bible. Berarti ini adalah terjemahan dari orang-orang Yahudi yang percaya karena mereka menerjemahkan Perjanjian Baru dari perspektif keyahudian mereka. Dan kata kata luma tadi diterjemahkan dengan malon. Malon itu hotel atau penginapan. in di sini ini adalah terjemahan dari orang Yahudi sendiri. Tadi baile tadi kan katanya meneliti dari kacamata Timur Tengah. Tapi ini orang Yahudi menerjemahkan kata lumati

18:08 dengan Malon. Dan ini juga Elias Hatter. Elias Hatter itu adalah seorang linguis yang dia menerjemahkan seluruh perjanjian baru yang pertama kalinya pada abad ke-16 dia pun menerjemahkan kata luma tadi dengan malon. Kita baca fatelet bena habekor fatehu fatas kihu faavus kilohem maqomalom. Malom di sini itu artinya penginapan. Jadi kata lumah di sini diterjemahkan oleh orang-orang Yahudi baik dari OJB Ortodoks Jewish Bible maupun oleh Elias Hatter. Elias Hatter ini seorang Yahudi.

18:55 Dia menerjemahkan juga dengan Malon pada abad ke-16. Kita lihat di sini kita baca baik-baik. Kenapa saya harus membacakan ini secara lengkap? supaya Anda memiliki latar belakang yang lengkap. Kenapa kita harus mempelajari ini? Yesus lahir di kandang atau di rumahnya saudara? Ayat 8. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.

19:40 Hari ini telah lahir bagimu juru selamat, yaitu Kristus lahir di kota Daud." Dan inilah tandanya, ya dikasih tanda sama si malaikat tadi. Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaling dalam palungan tempat makanan ternak. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu, sejumlah besar bala tentara surga memuji Allah, katanya, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadanya." Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke surga, gembala-gembala itu berkata kepada yang lain, "Marilah kita ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi

20:27 di sana." Nah, berarti ini mereka sudah melewati Betlehem. Jadi, mereka gembala di Betlehem yang sedang menggembalakan dombanya sampai agak jauh dari Betlehem. Jadi kemudian mereka yuk balik ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita. Lalu mereka cepat-cepat berangkat menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi yang sedang berbaring dalam palungan tempat makanan ternak. Ya. Nah, ini menarik. Kalau memang Yesus Kristus itu lahir di rumah saudaranya Yusuf yang ada di Betlehem, mestinya para gembala ini akan bertanya kepada malaikat, "Di kandang rumah siapakah bayi itu dilahirkan?" Karena tentu saja ada banyak rumah di Betlehem dong. Tetapi di

21:14 sini para gembala itu enggak pakai nanya, enggak minta sherlock. Sherlocknya di mana, malaikat? supaya kita enggak kesasar langsung menuju ke tempat yang dituju dong. Nah, para gembala tadi enggak pakai tanya rumah siapa, enggak minta Sherlock. Ya, kenapa sih mereka enggak perlu bertanya di rumah siapakah? Karena mereka bukan gembala biasa. Mereka adalah para gembala di kawasan Mikdal Eder. Seperti yang dicatat di dalam Mika 4 ayat 8, Mika 5 ayat 1, memang di Migdal Eder di situ dijadikan suatu tempat untuk pemasuk domba-domba yang akan dipersembahkan di Bait Allah. Jadi kalau

22:00 malaikat tadi mengatakan bahwa ada bayi dibungkus dengan kain lampin ditaruh di palungan, ini mereka enggak usah tanya kandangnya rumah siapa? Karena ini artinya apa? Bagi para gembala-gembala khusus di Mqdal Eder ini mereka mengartikannya bahwa mereka harus kembali ke markas bukan rumah seseorang. Sebagaimana dugaan dari Bailey tadi dan Wave Nanley para teolog Amerika tadi. Sebab mereka adalah gembala kandang domba khusus di Mikdal Eder di Betlehem Efrata yang memasuk korban di Bait Allah. Jadi ini bukan kandang rumah tanggaan ya. Ayat 17. Dan ketika mereka

22:47 melihatnya, mereka memberitahukan apa yang dikatakan kepada mereka tentang anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Nah, jadi Lukas 2 ayat 7 sampai 18 ini menjadi suatu bagian sentral dari narasi kelahiran Yesus Kristus. dan perikop ini menceritakan detik-detik kelahirannya di Bethlehem. Dan peristiwa yang sederhana ini, namun diikuti oleh pengumuman surgawi yang spektakuler kepada para gembala. Konteksnya dapat dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu konteks sastranya di dalam Injil Lukas juga konteks historis dan teologisnya.

23:32 Nanti kita akan bahas mengenai itu semua. Secara konteks sastra di dalam struktur Injil Lukas. Injil Lukas secara keseluruhan Lukas menulis untuk membuktikan bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat bagi semua orang. Baik untuk orang Yahudi maupun non Yahudi bangsa-bangsa lain yang menekankan belas kasihan perhatian kepada orang miskin yang terpinggirkan, serta sukacita dan keselamatan yang telah tiba. Jadi Lukas pasal 2 itu menarisikan kelahiran secara keseluruhan berfokus pada kelahiran Tuhan Yesus dan masa kanak-kanaknya. Kemudian ayat 1 sampai 6 ini memberikan latar belakang sejarah tentang sensus kenapa Yusuf dan Maria itu pergi ke

24:18 Betlehem. Dan posisi Lukas 2 ayat 7 sampai 18 ini merupakan klimaks dari cerita kelahiran. Awalnya itu kedatangan Yusuf dan Maria ke Betlehem dan kemudian persalinan Maria. Kemudian dilanjutkan dengan reaksi Maria terhadap peristiwa ini dan penamaan Yesus Kristus bayi itu dinamai Yesus dan juga penyunatannya nanti di ayat 21. Jadi di sini ada suatu kontras yang disengaja. Lukas sengaja membuat kontras yang tajam antara kesederhanaan dan kerendah hatian bagi sang Mesias. kelahiran Yesus yang dibungkus dengan kain lampin, dibaringkan di palungan dengan kemuliaan dan kemegahan surgawi dari pengumumannya

25:04 itu. Dan inilah tema dari Lukas yang menceritakan bahwa Mesias datang bukan dengan kuasa duniawi, tetapi dalam kerendahan hati. Walaupun Perjanjian Baru itu ditulis di dalam bahasa Yunani, tetapi Anda harus ingat bahwa yang nulis ini bukan orang Yunani, tetapi orang Yahudi yang berpikir secara filsafat Ibrani. Dan di dalam filsafat Ibrani itu ada filsafat leterisme. Ada Gematria, Notarikon, dan Temura. Dan di sini saya akan membicarakan nilai Gematria. Kenapa Yesus Kristus harus lahir di Betlehem? Karena kota Bethlehem, Betlehem yang artinya rumah roti. Kenapa sang Mesias

25:50 ini harus lahir di rumah roti atau rumah makanan? Dan dia adalah Mesias pemberes dosa. Karena memang manusia itu jatuh ke dalam dosa gara-gara makanan. makanan yang sudah terkontaminasi dengan racun yang sudah diberikan oleh si ular di Taman Iden, maka racun ini harus ada antidot-nya. Antidotnya dari mana? Dari sang Mesias yang lahir di Bait Lehem, lahir di rumah roti. Dan Tuhan Yesus sendiri juga menyatakan dirinya, "Akulah roti hidup anoki lehemim." Jadi artinya Yesus menjadi antidot bagi makanan beracun sejak di Taman Iden yang

26:37 menjangkiti seluruh keturunan dari Adam. Dan Betlehem itu enggak sembarangan. Secara gematria. Di sini ada aksara bet, yod, taf, lamet, ket, dan mem. Itu kalau dijumlahkan bet nilainya 2, yod nilainya 10, tv nilainya 400. Lehem, Lamet, Ket, dan Mem. Jadi semuanya ini kalau digabungkan jumlahnya itu jumlahnya 490. Dan jumlah 490 ini bukan sembarangan. Jadi, Tuhan Yesus enggak bisa lahir di sembarangan tempat. Tuhan Yesus harus lahir di Betlehem. Rumah roti yang secara gematria berjumlah 490.

27:24 Karena angka tujuh adalah angka pengampunan yang Tuhan sudah melakukan dekrit kepada kain pada kejadian 4 ayat 15. Sekali-kali tidak siapapun yang membunuh kamu kain, dia akan dibalaskan tujuh kali lipat. Dan ini merujuk kepada pengampunan yang diberikan Tuhan kepada Kain. Tetapi kemudian Lamek, siapa Lamek? anaknya Kain. Dia mengatakan setelah dia membunuh satu orang yang membuat dia hatinya gusar, dia ngomong kepada dua istrinya, "Aku telah membunuh orang yang membuat aku jengkel. Kalau kain dibalaskan tujuh kali lipat, kepadaku dibalaskan 70 kali lipat." Dan dari sini di Perjanjian Baru, Petrus

28:10 pernah bertanya kepada Tuhan Yesus, "Berapa kalikah aku boleh mengampuni saudaraku?" "Dujuh kaliah sudah banyak loh Tuhan. Tapi Tuhan Yesus ingat pada dekritnya yang dahulu dia sudah sampaikan kepada Kain dan juga dia tidak membantah apa yang dikatakan Lamek. Jadi pengampunan adalah 7 kali 70 tujuh kali lipat di sini. Makanya Yesus Kristus harus lahir di Betlehem yang menandakan secara gematria bahwa Betlehem mula dari sang Mesias itu muncul dan di sinilah awal dari pengampunan dosa. Jadi angka 7 kita sudah belajar pada sejarah manusia. Angka 7 itu angka pengampunan. 70 * 7 berarti pengampunan yang sempurna.

28:58 Jadi, Perjanjian Baru bisa dibaca sebagai filsafat Ibrani karena yang nulis adalah orang-orang Yahudi. Nah, di sini kalau Anda masih ingat kita sudah belajar tentang ini pada sejarah manusia. Nah, kemudian ada palungan. Satu pesan khusus yang diberikan oleh para malaikat bahwa bayi itu tidak ditaruh di mana-mana, tidak ditaruh di kasur, tidak ditaruh di sofa, tetapi ditaruh di palungan tempat makanan dari ternak itu. Karena tidak ada tempat bagi mereka penginapan. Nah, kata penginapan ini kemudian hendak diubah oleh para teolog modern sebagai bagian rumah yaitu ruang tamu. Dan tentu saja bagian yang terpenting

29:45 pada Lukas pasal 2 yaitu adanya para gembala. Dalam budaya Yahudi pada abad pertama, para gembala sering dipandang sebagai orang yang sederhana dan faktanya mereka memang orang-orang yang pertama menerima pengumuman kelahiran sang Mesias. yang sangat revolusioner ini. Jadi ini menegaskan bahwa Lukas menuliskan Injilnya pertamatama adalah untuk orang-orang sederhana di dalam lapisan masyarakat. Faktanya bahwa gembala ini membawa suatu resonasi orang-orang benar. Ada Habel di bagian generasi manusia awal yang persembahannya itu dipandang baik oleh Tuhan. Nah, jadi para gembala ini

30:30 membawa resonansi orang benar dan bahkan seluruh leluhur dari Israel semuanya adalah gembala. You name it. Siapa? Mulai dari Abraham, Ishak, Yakub, Musa juga gembala dan semuanya para gembala termasuk Raja Daud sendiri. Dia berawal dari gembala. Maka kabar sukacita ini diberikan kepada para gembala karena itu membawa resonansi sosok Habel sejak generasi awal mula manusia. Jadi gembala memang resonansi orang benar sejak perjanjian lama. Tuhan Yesus sendiri menyebut Habel adalah orang benar. Matius 23 ayat 35. Semua leluhur Israel adalah para gembala. Abraham, Isak, Yakub, Daud. Dan keterlibatan gembala

31:17 ini merujuk kepada nama Habel yang membawa resonansinya di Perjanjian Baru bahwa memang lahir di Pamlungan itu adalah sang anak domba yang menghapus dosa dunia. Dan malaikat Tuhan ini Malah atau Angelos memberikan suatu tanda bahwa memang Allah turut campur secara langsung di dalam sejarah keselamatan ini. Kemudian kita masuk pada konteks teologi dan makna. Penggenapan nubuat kelahiran Betlehem menggenapi nubuat perjanjian lama tentang asal-usul sang Mesias. Mika 5 ayat 1. Identitas Tuhan Yesus merujuk pada pengumuman malaikat itu sangat jelas bahwa dia adalah sang

32:04 juru selamat. Dia adalah Kristus atau Mesias dan dia adalah Tuhan. Dan semuanya ini disebut di dalam satu ayat yaitu ayat 11. Dan ini semua menjadi suatu tanda bahwa bayi itu dibungkus dengan kain lampin dibaringkan di palungan. Dan ini membawa suatu kabar sejahtera sehingga kemuliaan bagi Allah di tempat bagi yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadanya. Menyatakan bahwa kelahiran Tuhan Yesus adalah tindakan Allah untuk mendatangkan damai sejahtera atau rekonsiliasi antara manusia dengan Allah dan juga sesama

32:49 manusia. Lalu apa respon? Nah, ini responnya itu merujuk kepada iman. Iman para gembala yang merupakan suatu model respon iman yang benar. Mereka mendengar, mereka percaya, mereka bertindak yaitu pergi melihat dan kemudian mereka bersaksi. Jadi mereka enggak diam-diam, mereka bersaksi. Mereka memberitakan. Ini menjadi suatu tanda bahwa para gembala ini menjadi penginjil yang pertama memberitakan kabar baik tentang kelahiran sang Mesias. Jadi Lukas 2 ayat 7 sampai 18 ini adalah suatu narasi yang dengan sengaja menggabungkan realitas manusiawi yang keras, kelahirannya di kandang dan realitas ilahi yang mulia.

33:35 pengumuman dari malaikat dan konteks yang menunjukkan bahwa Injil Lukas ini ingin menekankan bahwa Yesus sang Mesias, dia adalah Tuhan yang ilahi. Datang ke dalam dunia dalam kerendah hatian yang paling dalam untuk menjadi sang juru selamat bagi semua orang. Dimulai dari mereka yang terpinggirkan, mereka yang sederhana. Dan kabar baik ini menjadi sumber sukacita dan sejahtera yang besar. Jadi inilah fondasi dari Injil bagi orang-orang miskin yang menjadi ciri khas dari tulisan Lukas. Nah, sekarang kita akan mempelajari bagaimana teolog-teolog modern menolak Yesus lahir di kandang domba dan mereka juga anti Natal 25 Desember.

34:23 Gagasan mereka, kandang itu hina, bukan tempat yang layak. Sehingga mereka perlu mengharmonisasikannya dengan suatu bela rasa kemanusiaan. Bahwa Yesus Kristus itu semestinya lahir di sebuah rumah yang ramah dong. Nah, kemudian di antara mereka juga melakukan pendapat menyalah-nyalahkan anggapan mitos pada yang dipahami oleh Kristen tradisional yang berasal dari pengajaran para bapak gereja dengan suatu pemikiran alternatif. Yesus Kristus lahir di rumahnya keluarga. Nah, maka kita akan mendalami bagaimana dua teolog Amerika yaitu Kenneth Baly

35:10 dan juga Wave Nanelli yang keduanya berpendapat mengenai peristiwa Natal yang berbeda dengan kepercayaan Kristen yang tradisional. Mereka sampai pada kesimpulan yang serupa bahwa gambaran tradisional tentang Yesus lahir di sebuah kandang atau lumbung kayu yang terpisah dari rumah adalah produk budaya barat. Mereka mengatakan demikian. Dan kepercayaan Kristen tradisional ini mereka nyatakan tidak akurat dengan suatu realitas kehidupan di desa-desa di Betlehem pada abad pertama. Nah, ini kan klaim mereka ya. Enggak apa-apa kita baca dulu, kita dalami dulu pemikiran mereka. Namun mereka tidak menyangkal bahwa Yesus

35:55 Kristus itu dibaringkan di palungan, yaitu tempat makanan hewan. Tempat palungan itu memang berada di kandang domba. Dan inilah yang sedang mereka perdebatkan. Jadi, mereka melihat bahwa Yesus itu harusnya lahir di rumah keluarga dong. Tapi mereka enggak bisa untuk denai bahwa Yesus diletakkan di tempat makanan hewan yaitu palungan. Nah, ini adalah buku yang ditulis oleh Kenet Ebale pada tahun 2008 yang di sini klaimnya Bale ini dia katanya menghabiskan puluhan tahun hidup mengajar di Timur Tengah yaitu Lebanon dan Yerusalem. Pendekatannya adalah menganalisis

36:42 Perjanjian Baru melalui lensa budaya Timur Tengah. Balik ini adalah seorang teolog Amerika yang dengan tegas mendukung pandangan bahwa Yesus Kristus lahir di rumah keluarganya Yusuf. Nah, ini menurut klaimnya bahwa dia sudah puluhan tahun tinggal di Israel. Yang kita cermati di sini adalah kata-kata Luma tadi Lukas 2 ayat 7. Dia mengatakan itu seharusnya tidak diterjemahkan sebagai penginapan. Tapi kata luma itu bermakna guest room atau ruang tamu keluarga. Dan kemudian ada kata patni. Patni ini artinya palungan yang biasanya ditaruh di bagian bawah rumah. Jadi di

37:29 bagian bawah itu ada kandang, di bagian atas itu ada rumah dan itu patninya ada di bawah. Dan di sini Kennet Bale mengatakan bahwa kalau memang Lukas itu mengatakan kedua orang tua Yesus itu mencari penginapan seharusnya tidak ditulis dengan kata luma, tetapi harus dituliskan dengan padokeon. Karena kata padokeon itu benar-benar dalam artian penginapan sebagaimana dituliskan dalam Lukas pasal 10 ayat 34 dalam kisah perumpamaan mengenai orang Samaria yang baik hati. Nah, dia kan naruh si korban yang dia tolong itu ditaruh di rumah penginapan kan. Rumah penginapan itu ditulis dalam bahasa

38:16 Yunani Padokeon. itu baru penginapan menurut Belli. Tapi kalau kata luma itu harus dalam artian ruang tamu keluarga. Balai berpendapat bahwa para pembaca Yunani ini mengabaikan detail arsitektur Timur Tengah sehingga tafsir Barat yang kemudian salah memahami kata penginapan tadi. Maria dan Yusuf disambut oleh keluarganya. Yusuf dong. Masa enggak punya keluarga. Kita aja kalau keluar kota kan biasanya tidur di rumah keluarga kan. Tapi coba Anda pahami kalau keluarga yang sudah lama enggak ketemu terus nginp di rumah saudara, Anda dikasih ruang yang mana kira-kira? Nah, ya. Maka Beli di sini memandang bahwa kata kata luma ini adalah

39:03 kamar-kamar tamu yang ada di rumah itu. Sehingga Maria melahirkan di ruang bawah dekat palungan. Nah, ini kan jadi kontradiksi ya. Kalau memang di rumah keluarga kok kemudian ada ibu yang sedang hamil besar kok ditaruh di kandang dari rumah itu. Nah, kalau dipikirkan hari ini secara sehat, mungkin enggak sih ada orang hamil besar datang ke rumah keluarganya enggak dikasih kamar terus disuruh pergi ke kandang terus bayinya ditaruh di palungan? Mungkin enggak sih secara orang Timur loh orang Yahudi itu sama kayak kita karena sama-sama orang Asia. Kita tuh kalau terima tamu itu kan selalu ngasih tempat yang terbaik. Bahkan kalau ada anak kita misalnya tidur di situ, eh sinyo, kamu pindah

39:50 dulu. Ada saudara datang. Atau bahkan kita sendiri yang berkorban untuk tidur di lantai atau tidur di tiker atau tidur di sofa gitu kan supaya tamu kita nyaman. Nah, di sini kalau memang Tuhan Yesus itu ditaruh di palungan, berarti kan Tuhan Yesus ditaruh di tempat terburuk di rumah itu kan. Nah, dan ini menjadi problem halakannya orang Yahudi. Nah, Balai tadi itu kan mengklaim bahwa dia sudah tinggal puluhan tahun di Israel katanya kan. Tapi kalau Yesus Kristus itu lahir di rumahnya saudaranya Yusuf dan kemudian saudaranya Yusuf membiarkan bayi yang dilahirkan oleh saudaranya tadi ditaruh di tempat makanan ternak.

40:39 Masuk akal enggak sih? Enggak masuk akal ini buat orang-orang Yahudi dan ini bertentangan dengan halakah atau tata kramanya orang Yahudi dalam menyambut tamu. Ya, walaupun Balai mengklaim menulis bukunya sesuai adat Yahudi, tapi sebenarnya Balai tidak mempelajari halakahnya orang Yahudi ketika menyambut tamu. Seorang Yahudi tidak akan melemparkan tamunya. Apalagi yang sedang hamil besar dilamparkan ke kandang, naruh anaknya di palungan, taruh di kasur dong. Atau paling enggak di sofa kek, di kursi kek. Ini benar-benar jadi teolog enggak bisa

41:24 menghapus itu kata palungan itu. Mereka enggak bisa menghapus. Mereka hanya mengklaim, enggak bisa. Seharusnya Yesus Kristus harus lahir di rumah saudaranya Yusuf. Tapi mereka enggak bisa hapus kata patni di sini. Justru kata ini menjadi suatu kunci karena orang Yahudi tidak akan naruh tamunya. Apalagi seorang perempuan hamil besar mau bersalin dilemparkan ke kandang. Balik lagi ke pendapatnya Bale ya. Struktur rumah jelata. Bal menjelaskan bahwa rumah keluarga miskin di desa-desa seperti Betlehem seringki memiliki struktur dua tingkat. Tingkat atas tempat tinggal keluarga, tingkat bawah ruang tamu bagian depan. Kemudian tempat

42:10 di mana hewan peliharaan seperti keledai dan domba dibawa masuk pada malam hari demi keamanan dan kehangatan. Dan palungan ini menurut Bali terintegrasi dengan ruang bawah. Seringkiali terdapat suatu ceruk atau di mana dinding yang berfungsi sebagai palungan. Jadi, palungan adalah bagian yang terintegrasi dari ruang hidup keluarga, bukan di sebuah bangunan yang terpisah. Nah, tidak ada tempat di penginapan. Kata Yunani yang diterjemahkan tadi kan kata luma. Bukanlah kata yang tepat untuk diterjemahkan sebagai penginapan komersial. Penginapan komersial menurut Bale itu harus menggunakan padogeon

42:56 seperti yang dituliskan dalam Lukas 10 ayat 34. Jadi ini rekonstruksi balai mengatakan bahwa Yusuf dan Maria datang ke Betlehem kemungkinan di rumah keluarga besar Yusuf yang memang keturunan Daud. Karena ruang-ruang tamu itu kata Luma sudah penuh dengan sanak keluarga yang lain yang lebih dahulu datang. Maka terpaksa deh yang datang telat ini ditaruh di bagian bawah dari rumah itu di mana hewan-hewan juga ditempatkan. Dan di sanalah Maria melahirkan dan membaringkan bayi Yesus di palungan yang sudah ada di ruangan itu. Jadi kesimpulannya balai teolog Amerika ini. Yesus Kristus lahir di dalam lingkungan

43:41 keluarga namun dalam kondisi yang sangat sederhana karena rumah itu sudah penuh sesak. Nah, kalau saya melihat dari kacamata orang Timur ya, kita kan sama-sama orang Timur. Orang Yahudi juga orang Timur dan halakanya itu lebih ketat daripada orang Indonesia tentunya. Nah, ini enggak masuk akal. Bagaimana tamu keluarga perempuan hamil dilemparkan ke kandang. Jadi penafsir Amerika ini enggak paham tata krama Yahudi ya kan. Kalaupun sudah ada keluarga yang lain yang sudah terlanjur datang lebih dahulu, bisa enggak sih ngomong? Tolongin deh yang satu kamar ini gabung ke kamar itu. Ini ada ibu yang sedang hamil besar tinggal di kamar ini ya. atau anaknya sendiri

44:28 disuruh pindah atau dia sendiri memilih tidur di lantai dan dia memberikan kenyamanan pada keluarganya ini. Jadi di sini Balai menolak gambaran tradisional dari gereja mula-mula yang diazarkan oleh para bapak gereja yang menyatakan seolah-olah Yesus Kristus itu lahir di kandang hina, kesendirian, terisolir. Enggak mungkin menurut Balai. Tapi Anda boleh saja mengikuti pendapat dari balai ini ya. Karena pendapat balai ini menjadi satu sumber modern yang paling kuat untuk menegaskan bahwa Yesus Kristus lahir di rumahnya keluarganya Yusuf. Jadi pandangan Bale ini yang walaupun

45:14 mengklaim menulis bukunya berdasarkan wawasan Yahudi Timur Tengah, tapi bolehlah saya katakan sebenarnya ada problem tata krama yang tidak dipahami oleh Balai di sini. Karena tata krama orang Yahudi dalam menyambut tamu itu sangat ketat. Kalau mereka itu menyambut tamu itu seperti menyambut malaikat. Nah, tadi balai. Sekarang yang kedua adalah pendapat dari Wave Naneli pada tahun 2012 ketika dia mengkritisi film mengenai Yesus Kristus The Chosen. Wave Nanally seorang pengajar teologia dari Evangelis University Missouri Amerika dia menulis satu artikel Modern Midras the myth of Mid Dial edder. Jadi

46:02 kelahiran Yesus di kandang domba itu mitos. dan dia mengemukakan suatu argumen yang cukup kritis terhadap narasi modern tentang kelahiran Yesus, yaitu narasi yang mengaitkan lokasi kelahirannya dengan Migdal Eder, menara kawanan domba dan mengemungkakan beberapa detail tambahan yang tidak terdapat di dalam Injil. Naneli menyebutkan bahwa adanya New Birth Narratif yang menunjukkan bahwa sejak tahun 2012 setelah keluarnya film serial The Chosen dan buku-buku populer tentang latar lahir Yesus terjadi perkembangan sebuah versi yang sangat detail tentang lokasi dan kondisi lahirnya Yesus yang jauh melampaui apa yang tertulis di dalam kitab-kitab

46:48 Injil. Naneli di sini menganggap bahwa ada satu mitos. Migdal Eder adalah lokasi kawanan domba korban bait suci. Dan ide imam atau gembala khusus ada di sekitar Betlehem memelihara kawanan domba yang akan digunakan sebagai korban di bait suci. Bahwa bayi Yesus dilahirkan dekat Mikdal Eder sebagai domba yang sempurna. Dibungkus kain yang sama seperti domba-domba korban yang lainnya. Naneli di sini menegaskan bahwa klaim-klaim itu cuman mitos. Nah, banyak orang Indonesia yang juga termakan klaim ini. Mitos lu, mitos. Jadi artinya wah mitos ya rupanya mitos ya. Kemakan oleh pendapatnya Nanle di sini. Analisis Nanle ini juga

47:34 mengklaim bahwa dia menganalisis dari sumber-sumber Yahudi kuno yang digunakan untuk penelitiannya. Naneli mengklaim bahwa dia telah memeriksa tiga jenis sumber yang sering dikutip, yaitu Targum Jonathan Kejadian 35 ayat 21 yang menyebutkan adanya Migdal Eder yang di mana di Migdal Eder itu nanti ya ada penghiburan bagi Israel akan muncul di Migdal Eder ini. Dia menganggap ini mitos dan dia juga menunjukkan bahwa naskah ini bukan berasal dari abad pertama Masehi. Biasa orang-orang kalau dikasih sumber-sumber Talmud itu biasanya mereka, "Wah, ini bukan tulisan abad pertama Masehi, ini ditulis kemudian." Tapi mereka juga lupa bahwa sebenarnya

48:22 ada yang namanya tradisi lisan. Torah Sef Alpe. Orang-orang Yahudi itu mempercayai dua macam Torah. Yang pertama adalah Torah Sefiktaf, yaitu Torah yang tertulis. Torah yang ditulis oleh Musa. Kemudian ada Torah Chef Alpe yang kita sering menerjemahkan itu sebagai tradisi lisan. Dan tradisi lisan itu sebenarnya sudah ada sejak pembuangan di Babel sampai kembalinya mereka di Babel. Maka Talmud yang sangat terkenal itu adalah Talmud Babilonia. Dan itu adalah ajaran-ajaran para rabi yang memang kemudian pada sekitar abad kedua dan abad keempat itu kemudian dibukukan. Dan orang-orang Kristen yang enggak tahu

49:08 sejarah ini mengklaim langsung, "Wah, itu tamu-tamu itu kan baru ditulis pada abad kedua sampai abad keempat." Ya, memang iya ditulisnya ya dikumpulkannya pada abad kedua sampai abad keempat. Tetapi bukan berarti Torah Chef Alpe baru muncul abad kedua. Nah, ini ada kesalahan berpikir dari teolog-teolog modern itu yang selalu mengklaim Talmud itu lebih muda dari tradisi Kristen sendiri. Ya enggaklah. Buktinya banyak sekali Tuhan Yesus juga mengutip ajaran-ajaran lisan ya, you name it. Ada banyak sekali. Kalau Anda masuk ke kelas saya, saya sering memberikan banyak sekali referensi-referensi pengajaran Tuhan Yesus yang sebenarnya berasal dari tradisi lisan atau Torah Chef Alpe.

49:54 Torah Chef Alpe sudah ada sejak sebelum Masehi. Kalau kemudian dibukukan, dikumpulkan menjadi satu, itu bukan berarti tradisi lisannya baru terjadi kemudian. Ya enggak dong. Sebelum Masehi, Torah, Syek Alpe itu sudah ada. Nah, ini yang coba didenai oleh banyak sekali teolog-teolog modern. Dan mengenai Torah Syekh Alpe yang dicatat di dalam Misna Syekh Khalim 7 ayat 4 yang bicara mengenai hewan-hewan yang ditemukan di Migdal Eder itu akan dipersembahkan di Bait Allah. Nah, menurut Nanel ini juga dia mengklaim itu mitos. Jadi segala apapun yang dituliskan di dalam kitabnya orang-orang Yahudi itu dianggap mitos oleh teolog-teolog modern ini. Dan juga

50:41 Tarmud Bavakama 80A yang interpretisinya itu dipandang oleh Naneli sebagai mitos juga. Hewan lost and found dia menyebutnya itu hanya mitos. Semuanya mitos. Jadi jangan mencampuradukkan Torah Chef Alpe dengan Perjanjian Baru karena semuanya itu mitos. termasuk Mikdal Editos. Dan Naneli di sini memberikan suatu kesimpulan bahwa narasi yang dikaitkan dengan Migdal Eder adalah mitos modern. Benarkah klaim dari Nan Lee dan Bailey tadi? Jadi seandainya Maria dan Yusuf ini gara-gara semua kamar itu sudah penuh kemudian mereka ditaruh di ruang bawah

51:28 campur dengan ternak. yang dikatakan oleh Bailey dan Naneli sebagai ruang serba guna yang tidak terpisah dari rumah itu. Tapi sebenarnya ada problem tata krama yang tidak dipahami oleh Wave Nanley. Buat orang Yahudi menaruh seorang yang hamil besar yang mau melahirkan ditaruh di kandang domba itu sadis banget lagi. Bahkan itu penghinaan. Dan mereka juga ada yang mengatakan bahwa orang yang melahirkan itu mengeluarkan lelehan, Bu. Jadi mereka itu najis. Coba saya tanya, perempuan-perempuan yang menikah atau yang belum menikah setiap bulan itu kan ada datang bulan.

52:14 Nah, apakah para suami itu kalau istrinya itu datang bulan akan melemparkannya ke kandang? Saya tanya kan enggak juga. Kan sama-sama lelehan. Lelehan itu menjadi najis kalau ada interaksi seksual. Kalau tidak ada interaksi seksual ya enggak najis. Jadi perempuan yang sedang hate tetap bisa tinggal di rumah dong. Nah, karena ini ada yang menyangga juga bahwa Maria itu enggak bisa tinggal di kamar. Karena Maria itu mengeluarkan lelehan ketika melahirkan. Dan lelehan menurut orang Yahudi itu najis, Bu. Ya ampun, emangnya ada orang Yahudi yang melemparkan istrinya ke kandang ketika

53:00 dia ha atau melemparkan istrinya ke kandang ketika melahirkan kan ya enggak. Jadi kita itu kalau melihat suatu narasi di Alkitab itu kita harus berpikir jernih juga dan kita juga harus mengerti mengenai halakannya orang Yahudi dalam menyambut tamu. Dan halakannya orang Yahudi ini rupa-rupanya tidak dipelajari oleh Weve Naneli dan Kennet Ebale di sini. Karena kenapa? Ya, karena mereka orang-orang Amerika yang enggak belajar mengenai keyahudian. Walaupun mereka mengklaim tinggal di Israel bahkan puluhan tahun. Bahkan Naneli juga mengatakan dia berkeliling seluruh Israel untuk meneliti. Ya, meneliti di bagian mana? Israel hari ini itu tidak

53:48 seperti Israel zaman dahulu, ya kan? Dan ini juga harus dipandang bahwa ada suatu tata krama. Tata kramanya orang Yahudi ketika menyambut tamu itu seperti menyambut malaikat. Ya, nanti Anda bisa Google ini di internet Anda bagaimana Bailey dan Nanel ini menganggap bahwa yang diajarkan oleh Bapak Gereja yang dipercayai oleh Kristen-kristen mainstream ini semuanya mitos. Dan orang-orang Kristen hari ini sebagian juga ikut termakan dan bahkan sarjana-sarjana teologi juga membelinya. Ketika Yesus lahir di rumah keluarga dan dia ditaruh di bagian kandang, itu tidak akan mungkin terjadi pada

54:34 keluarga Yahudi. Seorang tuan rumah Yahudi, dia pasti akan memberikan kamarnya yang terbaik meskipun sudah ditempati anggota keluarga yang lainnya. Tuan rumah itu akan meminta anggota keluarga yang sehat dan kuat untuk pindah ke kandang. Mereka yang pindah ke kandang. bukan perempuan yang hendak melahirkan atau yang hamir besar ini tinggal di kandang enggak begitu kan? Atau bahkan si tuan rumah sendiri akan merelakan kamar tidurnya pribadinya itu kepada seorang ibu yang datang malam-malam dalam keadaan hamil besar dan hendak bersalin. Kerelaan berkorban menyambut tamu itu namanya hak nasad orim yang sangat

55:20 dijunjung tinggi oleh orang-orang Yahudi. Dan hal ini merupakan tindakan cinta kasih atau hospitality. Bahasa Ibraninya adalah gemilut hasadim. Yang paling penting dan ini dicatat di dalam kitab tradisinya orang Yahudi dalam Kidusin 39B ayat 3. Orang Yahudi itu harus menjadi tuan rumah yang baik, maka pastilah dia akan memberikan kama terbaiknya bagi Yusuf dan Maria meski harus menggeser anggota keluarga yang lain. menyambut dan menjamu tamu diibaratkan seperti menjamu malaikat seperti ketika bapak Abraham menjamu tiga tamu agungnya kejadian pasal 18 dan ini menjadi suatu tatanan

56:08 yang ketat dan tatanan yang ketat ini tidak dipahami oleh dua teolog Amerika tadi. Menyambut tamu itu juga melibatkan menyediakan tempat tinggal, memberi makan dengan sikap perilaku yang ramah dan bersahabat. Dan kebiasaan ini menjadi bagian dari halakahnya orang Yahudi atau peraturan jalan hidupnya orang Yahudi atau menjadi hukumnya orang Yahudi itu sendiri. Jadi pendapatnya Bailey dan Naneli tadi yang mengatakan Yesus Kristus lahir di rumah keluarga tapi ditaruh di palungan itu bertentangan dengan gemilut hasadim atau hak nasab orkhimnya orang Yahudi.

56:55 Dan di sini saya juga menulis mengenai halakannya orang Yahudi. Dalam menyambut tamu, Anda nanti bisa membaca di www.sarapanPagi.org. di sarapan bagi nanti Anda bisa baca pelan-pelan apa sih tata kramanya orang Yahudi dalam menyambut tamu? Masa sih tamunya itu dilemparkan di kandang gara-gara dengan alasan kamar-kamar yang lain penuh itu enggak mungkin. Demikian juga ada teolog Inggris juga membahas tentang ini. Juga ada teolog Indonesia, Profesor Joas juga membahas tentang itu. Nah, untuk itu saya akan memberikan challenge kepada Anda yang berpendapat bahwa Yesus Kristus lahir di rumah keluarganya Yusuf. Seperti pendapat dari Bell dan Nanali. Bahkan

57:41 sebagian orang-orang Kristen di Indonesia ini sudah mengimani tafsir dari Beli dan Naneli ini. Sehingga saya dibuatkan khusus konten pendapat mengenai Yesus Kristus lahir di kandang itu mitu mitos. Nah, saya kasih challenge deh. Oke, kalian-kalian yang percaya bahwa Yesus Kristus lahir di rumah keluarganya Yusuf, saya kasih challenge. Challenge-nya begini. Siapakah pemilik rumah itu? Mungkinkah pemilik rumah itu no name? Jadi pandangan teolog Amerika, Yesus Kristus lahir di rumah keluarga Yusuf itu sebenarnya sangat prematur sebagai dasar kebenaran satu-satunya, bukan kemutlakan kebenaran. Pandangan

58:28 mereka hanya sebatas novum pemikiran. Sebagai seorang scholar teologi harus ada novum dong. Nah, ini novum ini, gitu kan. Atau ini sebenarnya sekedar alternatif penafsiran ya. namanya tafsir. Tafsir ya boleh dong tafsir ya tafsir gitu. Dan sebenarnya para teolog modern ini terpaku pada pemikiran sempit mengenai kandang hina. Yesus Kristus itu sebenarnya tidak lahir di kandang hina, tapi tempat sakral. Sehingga karena mereka itu menganggap Yesus Kristus lahir di kandang hina, sehingga mereka menolak tempat yang mereka anggap sebagai hina ini. Kemudian mereka memberikan suatu pemikiran baru

59:14 mereka, kayaknya Yesus lahir di rumah keluarga deh. Sayangnya penafsiran mereka ini terbentur pada pertanyaan, siapa pemilik rumah kelahiran Yesus Kristus ini? Ini adalah peristiwa sejarah yang sangat besar bagi dunia. Mustahil dong Alkitab itu lupa menulis pemilik rumah tempat kelahiran Yesus. Kalau kita ingat pada perjanjian lama satu peristiwa di mana Daud pernah menitipkan tabut perjanjian kepada seorang Filistin yaitu Obet Edom. Rumah itu, rumahnya Obet Edom ini dipilih oleh Daud untuk menitipkan tabut Tuhan.

59:59 Dan di sini nama pemilik rumah itu disebut cuman dititipi tabut perjanjian itu nama pemilik rumahnya itu disebut di dalam 2 Samuel 6 ayat 11. 3 bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obet Edom orang Gad itu. Dan Tuhan memberkati Obet Edom dan seisi rumahnya. Wow. Ditulis nama pemilik rumahnya. Masa rumah tempat Tuhan Yesus dilahirkan enggak ditulis namanya? Maka saya kasih challenge. Oke, Anda mengimani Naneli dan Bailey. Oke, silakan. Tapi saya mau kasih challenge siapa pemilik rumahnya? Kenapa enggak disebut ini cuma dititipi

1:00:45 benda mati? Yaitu tabut perjanjian namanya ditulis. Masa Yesus Kristus nama pemilik rumahnya enggak ditulis. Nah, nama pemilik makam tempat jasad Yesus setelah mati di kayu salb itu juga dituliskan yaitu siapa? Yusuf Arimatea. Bukan nonamime. Jelas ini ditulis di dalam Injil Matius 27 ayat 50 sampai 60. Markus 15 ayat 42 sampai 46. Lukas 23 ayat 50 sampai 53. Yohanes 19 bahkan empat Injil semuanya menulis nama yang sama yaitu Yusuf Arimatia seorang anggota Sanhedrin. Dalam hukum Yahudi, kepemilikan tanah

1:01:32 dan kubur adalah hal yang legal, dicatat, diwariskan, dan memiliki konsekuensi ritus kesucian. Maka enggak mungkin rumah tempat kelahiran Tuhan Yesus itu nama pemilik rumahnya itu enggak ditulis. Dan karena itulah Alkitab selalu menulis nama-nama pemilik dari rumah. Seandainya rumah itu dimiliki oleh seseorang menjadi suatu tempat yang sangat bersejarah. Contohnya siapa? obet Edom tadi dan juga makam yang dimiliki oleh Yusuf Arimatea. Jadi orang-orang Indonesia, para penganut dan mengimani tafsir teolog made in Amerika yaitu Bailey dan Nanley

1:02:17 perlu mempertimbangkan ini. Mengapa tidak disebut pemilik rumahnya, pemilik kandang itu? Karena kandang di Betlehem yang dikabarkan kepada para gembala tadi itu bukan kandang milik pribadi, bukan kandang rumah tanggaan, tetapi kandang ini adalah suatu tempat publik yang sakral. Kata Evus tadi atau patni itu bisa bermakna kandang juga bisa bermakna sebagai palungan. Dan Lukas 2 ayat 7 berkata bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki, membungkusnya dengan kain lampin, membaringkannya di palungan karena tidak ada tempat bagi mereka rumah penginapan, kata Luma.

1:03:04 Namun dalam tradisi Yahudi, Betlehem Efrata bukan sembarangan wilayah pedesaan, melainkan wilayah penggembalaan khusus yang diatur oleh imam-imam di Yerusalem dalam pengawasan imam-imam di Yerusalem untuk menyediakan domba-domba korban di Bait Allah. Jadi, dari apa yang sudah kita pelajari, saya akan memberikan kepada Anda kebebasan. Yesus Kristus lahir di kandang atau di rumah. Dan itulah yang menjadi kebenaran tentang kelahiran sang Mesias. Bahwa di sini kelahirannya di Mikdal Eder sudah dituliskan di Alkitab. Jadi bukan di kitab tradisinya orang Yahudi yang dikatakan oleh Naneli tadi sebagai

1:03:51 mitos. Mitos. Mitos. Mitos. Tetapi di sini ada di dalam protokanonik Mika 4 ayat 8. Dan engkau hai menara kawanan domba. yaitu migdal edel bahasa Ibraninya ya di sini sayangnya di situ diterjemahkan kenapa enggak ditulis Migdal Eder saja hai Bukit Putri Sion kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu kerajaan atas putri Yerusalem Veata Migdal Eder ovel batsionde uvaa hamemsala harisona mamlehet levat yerusalem Jelas di sini ada Veata Mqdal Eder dan para rabi dalam targum Yonathan Genesis

1:04:39 Raba 35 ayat 21 menafsirkan bahwa migdal Eder ini menara kawanan domba sebagai tempat kelahiran sang Mesias yang tadi diklaim oleh Naneli sebagai mitos. Dia harus bilang mitos untuk membenarkan pendapatnya sendiri. Dan ada rabi Yahudi juga namanya Ramban Nahmanides mengatakan bahwa migdal Eder yang terletak di perbatasan Betlehem dan Yerusalem adalah wilayah khusus bagi kawanan domba korban. Para gembala di daerah itu bukan gembala biasa, melainkan gembala Bait Allah. Mereka menjaga domba-domba yang akan dipersembahkan di Mesba di Yerusalem. Jadi kalau Tuhan Yesus lahir di kawasan khusus persembahan korban, bukan di

1:05:26 kandang sembarangan, bukan di kandang rumah tanggaan atau kandang miliknya saudaranya Yusuf. Dengan kata lain di sini ini menegaskan dari apa yang sudah diklaim oleh seorang yang bernama Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis ketika berjumpa dengan Yesus di hadapan calon-calon muridnya yang nantinya murid-murid Yohanes Pembaptis ini akan menjadi muridnya Tuhan Yesus, dia mengatakan, "Inilah anak domba Allah yang menghapus dosa dunia." Yohanes 1 ayat 29. Karena Yohanes membaptis tahu betul karena dia adalah putra dari Elisabeth dan Zakaria yang mereka menyaksikan kehamilan Maria sejak kedatangannya di

1:06:14 Hebron. Dan mereka tentu tahu bahwa Yesus Kristus lahir di kawasan Migdal Eder. Maka dengan menunjuk langsung ke hidungnya Yesus enggak usah pakai ditafsirkan. Yohanes Pembaptis ini mengatakan bahwa inilah anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kenapa dia mengatakan ini? Karena Yesus lahir tidak di sembarang kandang domba, tetapi di kandang domba yang sakral, bukan kandang hina, ya. Yaitu di kawasan Migdal Eden di mana korban-korban akan disiapkan untuk dipersembahkan di Bait Allah. Maka Yesus Kristus sebagai penggenap dari semua korban-korban yang dipersembahkan di Bait Allah harus lahir di tempat yang

1:07:02 sama. Dan mengapa malaikat tidak menyebutkan pemilik kandang? Karena kandang itu bukan milik pribadi siapapun, melainkan sebuah kandang yang integral dengan Bait Allah. Ini adalah ruang sakral publik di Yerusalem. Maka kandang yang ada di Betlehem itu menjadi bagian integral dari Bait Allah yang ada di Yerusalem. Kandang tempat Yesus Kristus lahir adalah bagian dari sistem publik ritual milik komunitas imam atau para gembala yang kudus yang ditugaskan untuk Bait Allah. Itulah sebabnya para malaikat hanya berkata, "Kamu akan menemukan seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di palungan. Lukas

1:07:48 2 ayat 12. Dan para malaikat tidak menyebut di rumah A atau di rumah si B karena tempat kelahiran Yesus bukanlah sebuah rumah milik keluarga, tetapi ruang sakral publik, sebuah groto, sebuah gua kandang yang terdapat palungannya di area penggembalaan kudus di Mikdal Eder. Bait Allah disebut dalam bahasa Ibrani bait Hiqdas atau bait suci atau bait ha Elohim atau bait Allah. Dan kadang disebut dengan bait ya artinya rumah dan kadang juga disebut sebagai heikhal. Heikhal itu artinya istana. Jadi bait Allah itu artinya istana. Dan Tuhan

1:08:33 Yesus sendiri menyebut Bait Allah adalah rumah Bapakku. Anda ingat ketika Tuhan Yesus itu pernah hilang 3 hari di Bait Allah, kemudian ketika orang tuanya menegur kepada Yesus ini, kemudian Tuhan Yesus menjawabnya apa? Bukankah aku harus tinggal di rumah Bapakku? Dan dia menyebut bahwa heal ini, yaitu Bait Allah ini adalah rumah Bapakku. Sehingga sangat masuk akal, Bapak di surga tidak memilih rumah familinya Yusuf, tetapi memilih bagian tempat dari rumahnya sendiri, yaitu kawasan kandang domba di Mddal Eder di Betlehem Efrata. Jadi, Betlehem Efrata kawasan Migdal

1:09:19 Eder adalah bagian integral dari Heal. Hehal itu artinya istana. Dan Tuhan Yesus menyebut bahwa bait suci itu adalah rumah Bapakku. Lukas 2 ayat 49. Maka Yesus Kristus lahir di bagian dari Heihal yaitu Migdal Eder kawasan suci tempat sakral publik. Itu bukan kandang hina, bukan kandang hina rumah tanggaan. Dan Yesus Kristus sebagai sang putra Bapa monogenes tidak lahir di sembarangan rumah family-nya Yusuf. Kandang domba di Migdal Eder adalah bagian integral dari Bait Allah yaitu Heikhal yang artinya istana di

1:10:04 Yerusalem. Jadi ada perlu kita pahami juga ada ritual komunal property bagi Bait Allah. Dan di sini mendapatkan suatu simbolisme teologis yang dalam. Kubur Yesus adalah kubur seorang kaya. Dipinjamkan sesuai nubuat. Yesaya 53 ayat 9. Kuburnya dijadikan di antara orang fasik dan matinya ia ada di antara orang kaya. Menunjukkan bahwa penggenapan nubuat dan legitimasi hukum. Kandang tempat kelahiran Yesus tidak disebut pemiliknya karena itu adalah ruang publik. karena ia tidak memiliki apa-apa. Luka 9 ayat 58. Dan karena kelahirannya adalah peristiwa

1:10:50 kosmik dan bukan privat, maka kandang domba di Migdal Eder bukan kandang hina. Tempat itu adalah tanah suci untuk korban. Dan kepemilikan kandang domba yang ada di Migdal Eder itu bukan kepemilikan personal, melainkan ritual komunal properti bagi bait Allah. Dan jika kita memakai kacamata simbolik eksegesis pardes ya, eksegesis pesat remes derat shot. Kalau Anda sering ke kelas saya, Anda akan terbiasa dengan istilah ini. Pesat, remes, deras, dan sot pardes. Maka secara pesat memang ada kandang domba di Betlehem. Dan secara remes,

1:11:37 secara simbolisme, kata remes itu sama dengan rumus bahasa Indonesia. Remes, rumus berarti simbol. Ada simbol bahwa tempat penggembalaan di Bait Allah ini migdal Eder menjadi satu simbol bahwa itu adalah suatu tipologi yang kemudian antitaip-nya digenapi oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sebagai penggenap dari semua korban yang akan dipersembahkan di Bait Allah dan Yesus Kristus adalah penggenapnya. Kemudian secara deras bayi yang dibungkus dengan kain lampin seperti domba persembahan. Karena domba itu harus tidak bercacat, maka setiap domba yang baru dilahirkan harus dibungkus dengan kain lampin supaya dia tidak ada luka. Karena begitu ada luka

1:12:24 dia sudah tidak layak lagi untuk dipersembahkan di Bait Allah. Kemudian secara short makna esoteris, anak domba yang lahir di altar bumi yaitu Bait Allah yang hidup. Walaupun perjanjian baru itu ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi bisa dibaca dalam perspektif filsafat Ibraninya. Dan saya ajak Anda untuk memandang dengan bijak perbedaan penafsiran. Saya secara pribadi memang tetap berpegang pada apa yang sudah diajarkan oleh para Bapak gereja yang dipahami oleh gereja-gereja mainstream, gereja-gereja yang umum. Walaupun memang ada perbedaan penafsiran yang

1:13:11 ditampilkan oleh dua teolog Amerika yaitu B dan Nanle yang sebenarnya bukan menyangkal narasi Alkitab ya. Sebenarnya mereka bukan menyangkal narasi Alkitab. Mereka sebenarnya hanya menawarkan penafsiran yang mereka klaim sebagai yang lebih kontekstual yaitu klaim penelitian yang mereka katakan sebagai penelitian yang lebih memahami budaya dan arkeologi abad pertama. Tapi saya tadi sudah memberikan kelemahannya bahwa mereka tidak memahami halakahnya orang Yahudi mengenai Gemilut Hasadim, tata krama dalam menerima tamu. Walaupun mereka berargumen bahwa palungan itu berada di dalam ruang bawah atau bagian depan sebuah rumah keluarga, tapi itu

1:13:57 bukan sebagai kandang yang terpisah. Pendapat Bile dan Naneli ini kita pandang sebagai suatu alternatif. penafsiran tapi bukan mutlak kebenaran. Beberapa polikus di YouTube menertawakan saya ya. Bahkan mereka membuat suatu konten-konten pada pemahaman Yesus Kristus yang lahir di Mikdal Eder itu mitos. Karena mereka mempercayai alternatif penafsiran yang ditampilkan oleh Belly dan Naneli ini. Jawaban saya kepada mereka ya ngapain sih bertebat? Mung saya sama Belly dan Nan itu mazhabnya beda kok. Mereka enggak percaya 25 Desember. Saya natalan 25 Desember. Kan beda itu mazhabnya kan.

1:14:43 Jadi enggak usah diambil hatilah wong memang beda mazhabnya gitu kan. Mazhab boleh beda, tafsiran boleh beda. Ketika kita menghadapi penafsiran yang berbeda ya enggak apa-apa. Namanya juga tafsir. Tafsir ya tafsir. Jangan terlalu kagetan terhadap perbedaan tafsir. Tafsir-tafsir yang berasal dari barat itu enggak semuanya benar. Ya, boleh sih Anda percaya pada tafsir mereka, tapi bukan berarti pengajaran dari para bapak gereja yang sudah dipahami selama hampir 2000 tahun itu harus disalah-salahkan, harus dimitos-mitoskan, harus ditertawakan sebagai mitos. Ya, enggak begitu. Marilah kita membiasakan diri menghadapi perbedaan tafsir. Jadi saya memandang apa yang diajarkan oleh Naneli

1:15:30 dan Bailey ini sebatas perbedaan tafsir. Saya sangat memegang satu prinsip yaitu shif impanim latora. Batora itu memiliki 70 wajah. Alkitab bisa ditafsirkan dalam berbagai macam cara tapi setiap tafsir bukan berarti itu suatu kemutlakan. Ketika Anda memaksa bahwa Beli dan Nalilah yang benar itu anarki. Ya, boleh Anda memegang penafsiran mereka, tapi bukan berarti penafsiran para bapak gereja harus ditertawakan dan harus dimitos-mitoskan, harus dipandang sebagai mitos. Kalau Anda sering masuk ke kelas saya, Anda juga akan sangat paham mengenai perbedaan pendapat ini yang di dalam filsafat Ibrani disebut dengan shifim

1:16:16 panim latora. 70 wajah Taah. Alkitab bisa diterjemahkan dalam berbagai sisi. Jika itu untuk pemikiran yang baik dan itu demi kerajaan surga, kenapa tidak? Dan demikianlah orang-orang Kristen. Nah, orang-orang Kristen itu bedanya itu apa? Mereka terbiasa dengan satu tafsir dan orang-orang Yahudi dalam filsafat mereka itu terbiasa dengan banyak-banyak tafsir dan pilihlah salah satu yang menurutmu paling benar. Karena bagaimanapun setiap kita belajar itu kita dapat memahaminya bahwa mereka meneliti Alkitab itu dengan hati yang baik, dengan itikat yang baik, perbedaan demi surga. Jadi perbedaan-perbedaan ini dapat kita pahami sebagai perbedaan demi

1:17:04 surga. Makalet lesam syamaim. Jadi walaupun saya berbeda pendapat dengan Bailey dan Nanel, tetapi saya tetap memandang perbedaan pendapat mereka itu makaletam syamayim. Perbedaan pendapat demi kerajaan surga. Seandainya Anda pun berbeda pendapat dengan saya boleh. Karena perbedaan pendapat kita demi kerajaan surga. Itulah ungkapan Syifim panim latora. Nah, itulah pentingnya kita belajar bersama-sama untuk besi menajamkan besi. Nah, ini ada bagus dari pengajaran dari Rabi Hilel. Eo healetamai soal hilelama

1:17:52 shamaimet gora adat. Pada zamannya Tuhan Yesus itu dulu ada dua sekolah kerabian yang besar. Yang satu adalah Bait Hilel dan Bait Syamai. Dua lulusan dari Bait Syamai dan Bait Hilel itu sering sekali berbeda pendapat. Ya enggak apa-apa dan itu baik. Berdebat boleh, bertukar pendapat boleh, beda pendapat pun boleh. Karena dua-duanya mahaloket lesyem syamaim. Mereka semuanya mempelajari Alkitab demi kerajaan surga. Tapi bedakan dengan teolog-teolog Kristen hari ini. Kalau sudah nganggap ini yang benar, aja langsung yang bilang yang lain salah, yang lain bidat, yang

1:18:39 lain sesat. Mereka tidak terbiasa untuk menghormati perbedaan tafsir. Karena tradisi Kristen itu kebenaran dogmatis itu ya satu, satu ya satu gitu. Enggak boleh beda gitu. Makanya di sini di kelas filsafat Ibrani saya selalu menampilkan bahwa selalu ada perbedaan tafsir dan tidak usah terlalu marah dengan tafsir yang berbeda. Kenapa dahulu itu atau sampai hari ini Kristen itu maunya satu tafsir saja? Karena ini adalah satu kebudayaan yang turun-temurun gara-gara dulu adanya inkuisisi oleh gereja baik dilakukan oleh Katolik dan Protestan. Dan sampai hari ini makanya orang Kristen itu kalau ada tafsir yang berbeda itu langsung

1:19:24 naik darah gitu, tanduknya langsung keluar. Kalau enggak sama dengan aku, kamu sesat. Padahal kita harus memandang bahwa perbedaan tafsir itu mehaloket lesyem semayem. Baiklah, kita memandang bijak perbedaan tafsir karena kita dapat melihat benefit dari pemikiran satu dengan yang lainnya. Karena bagaimanapun Naneli dan Bailey tadi mencoba untuk kritis. Berpikir secara kritis itu benar, baik. Baik untuk kita supaya kita enggak gampang apa? Enggak gampang iya-ya saja. Maka belajarlah dari banyak guru, membaca dari banyak buku. Kalau kita membaca banyak buku dan belajar dari banyak guru, maka bukan pendapat satu orang

1:20:09 yang kita pegang. kita dapat memilah-milah dari pendapat yang baik yang sesuai dengan pemikiran kita. Makalamay, maka kita pun juga perlu berlatih untuk dapat menerima perbedaan tafsir. Mengenai kata kata luma. Benar enggak sih kata kata luma itu harus diterjemahkan dengan ruang tamu? Ini katanya belly tadi kan katanya sudah mempelajari dari sisi timur tengahnya kan. Padahal kata-kata luma di dalam Perjanjian Lama pernah diterjemahkan oleh para rabi Yahudi. Perhatikan para rabi Yahudi, bukan teolog Kristen Amerika ya. Dan ini sudah terjadi sejak abad ketiga sebelum Masehi. Kata Yunani,

1:20:58 kata luma pernah diterjemahkan oleh para rabi Yahudi yang menerjemahkan Septuaginta dengan Malon. Dan ini ada di dalam bukunya Alfredem, The Life and Time of Jesus the Messiah pada abad ke-19. Nah, sebenarnya beda pendapat mengenai kata luma ini sebenarnya sudah ada sejak abad keesemb. Jadi bukan dari pemikirannya si Belly yang baru nulis buku tahun 2008. Ini sebenarnya sudah dibahas oleh Alfred Edershame pada abad ke-19 tepatnya tahun 1883. Dia mengatakan bahwa kata-kata luma itu bisa bermakna in karena pernah kata ini,

1:21:46 kata malon itu diterjemahkan sebagai kata luma oleh para rabi Yahudi untuk Keluaran 4 ayat 24. Jadi padokeon tidak harus digunakan untuk Lukas 2 ayat 7. Lukas 2 ayat 7 bisa diartikan sebagai kata luma dalam artian malon. Karena malon dengan kata luma itu equal. Menurut Eksodus 4 ayat 24. Ini ada di dalam bukunya Alfred Edersham pada abad ke-19 ya. Keluaran 2 ayat 24 kita baca. Nah, Anda kan selalu minta buktinya kan. Tetapi di tengah jalan di suatu tempat bermalam, perhatikan tempat bermalam

1:22:31 bahasa Ibraninya yaitu Malon. Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. Fayehi faderek Bamalon fayi fegeshu, Adonai Fay Fagesh, Hamito. Nah, kata Bamalon di sini ya, bahasa Ibrani Bamalon tempat penginapan. itu diterjemahkan dengan kata luma. Jadi kata luma polemik mengenai diterjemahkan sebagai ruang tamu ataukah penginapan itu sudah dibahas oleh Ervt Edersim sejak abad ke-19. Jadi bukan mutlak pemikiran dari Bailey dan Nanlegg enggak ya. ini sudah lama bukan hal baru

1:23:17 lagi. Jadi jangan kagetan ketika Nanle dan Baile itu berpendapat demikian. Betul-betul ini yang menerjemahkan orang Yahudi loh, bukan orang Amerika. Wong benua Amerika aja belum ditemukan. Iya kan? Dan ini sudah ada sejak abad ketiga sebelum Masehi. Dan Septuaginta itu dibawa oleh para rasul untuk menginjil.

…

Share

Ringkasan Video YouTube