0:00 Burnout-nya adalah ekspektasi dari lingkungannya, orang tua, keluarga. Jadi, orang Indonesia itu penuh dengan ekspektasi, Mas Bilal. I sehingga burn out-nya dia itu bukan karena pekerjaan, bukan karena kuliah, tapi karena ekspektasi yang dikasih sama lingkungannya. Nah, ini yang membuat aku tuh belajar ketika kemarin oh budaya di luar, misalnya di ee Eropa gitu ya, di Inggris, orang sana tuh ekspektasi itu enggak diberikan sejak anak kecil. Jadi berarti nyetir mobil kita tuh gak lihat jalan ke depan atau lihat spion kita tuh ngelihat mobil lain gitu loh. Dan itu capek, itu lelah dan itu adalah salah satu fase kehidupan manusia di [musik] 20 sampai 30. Dan kesalahan terbesar yang aku juga lakukan di usia itu adalah aku terlalu sibuk mendengar validasi orang lain. Aku berusaha untuk diterima terus, Mas Bilal. Gimana orang itu punya harapan ketika bekerja, Mas Bilal? Karena banyak banget ketika bekerja kita tuh kehilangan hara hidup sehingga kita
0:46 enggak tahu lagi harapan kita ke depan apa sih selain gajian. Ya, ya, ya. Terus kemudian karena interaksi yang tidak terlalu baik, akhirnya banyak pekerja yang kehilangan efikasi diri. Apa itu? Kepercayaan diri. Kamu tuh enggak bisa ngerubah yang sudah berjalan loh. Yang kamu bisa lakukan adalah kamu jadi aktornya. Ini bukan tanggung jawab mereka untuk memulihkan kamu, bahkan bukan tanggung jawab konselormu, bukan tanggung jawab psikologmu gitu. Ini adalah tanggung jawabmu karena kamu orang dewasa. Oke, sebelum kita mulai episode hari ini, aku cuma mau bilang, ternyata mayoritas dari penonton suara berkelas itu belum subscribe Suara Berkelas. Jadi, izinkan aku untuk reminder teman-teman di sini yang baru sadar selama ini belum subscribe. Subscribe itu gratis. Dan dengan kalian subscribe, maka kita bisa membangun akun ini
1:33 bareng-bareng. So, selamat menonton episode hari ini. Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas. Hari ini aku happy sekali karena kita kedatangan tamu berkelas, orang yang bakal membantu kamu untuk kenal dirimu sendiri. Ada ke analisa Widiing Room. Halo Bilal. Alhamdulillah akhirnya suara berkelas ya. Iya senang banget. Ini satu kehormatan karena aku sering banget dengerin podcastnya. Wah masyaallah. Makasih Kak Analisa. Coba jelaskan siapa analisa Widiing Room dengan bahasa yang mudah dipahami. Analisa itu seorang ibu yang sedang jugling dengan berbagai perannya karena dia dikenal sebagai psikolog yang membantu orang ketika hilang arah hidup. Walaupun dia juga manusia biasa yang belajar mencari arah hidupnya dalam
2:19 setiap peran. Mencari arah hidup [tertawa] di setiap peran. Emang sekarang berapa peran kira-kira yang ada di kepala Indonesia? Nah, itu dia tuh. Aku lagi ngitung nih ee Mas Bilal. Jadi peran aku pertama tentu dedicated sebagai fulltime mother. That's why bio aku di IG itu yang aku tulis pertama jadi istri pastinya. H leader karena aku juga build like a company gitu tentang konsultan psikologi. Dikenal sebagai trainer, psikolog dan juga lagi jadi konsultan di beberapa perusahaan. Hm. Kreator kehitung enggak ya? Mungkin kehitung. Kehitung. [tertawa] Karena sebenarnya bikin kontennya tidak se ee ini serajin Bilal nih. [tertawa] Iya, kehitung sih.
3:05 Jadi istri, jadi ibu, jadi pengusaha, trainer, psikolog, klinis juga. He. Konsultan jadi kreator ya. Banyak peran yang harus dimainkan gitu. He tapi untuk bisa mengganti baju pakai baju peran ini, peran ini, peran ini, itu transisinya seperti apa? 24 jam sehari gitu. Iya. transisinya tuh kayak begitu cepat ya, Mas Bilal ya. Karena aku ngerasa kayak aku tahu longterm goalsku apa dan day by daynya ya hanya aku jalani sebaik mungkin dalam setiap waktu itu gitu. Jadi somehow ada momen di mana aku ngerasa capek ya akuin aku capek nih tidur bentar semangatnya udah datang lagi gitu. Terus ketika kerja enggak kerasa tuh capeknya. Tapi begitu diam, oh iya ya ternyata aku harus jumping
3:51 kerjaan berikutnya. Sering-sering ini aja sih zoom out dari peran itu. Kemudian untuk masuk ke peran berikutnya dengan cepat. Itu yang kayaknya ritme hidupku sehari-hari kalau orang dekat sama aku. Hm. Kalau di zoom out aku sering notice orang-orang itu tuh selalu pakai kacamata linear kali ya. Iya iya benar benar. kuliah ini, kerja ini peranku juga sebagai ibu atau sebagai istri yang akan dekat dengan pekerjaan kita mungkin ya. Tapi kalau kita zoom out sebenarnya banyak dari kita yang menjalani hari ini itu enggak linear ya. Kita harus punya kemampuan untuk langsung switch ke pemikiran lain, penyerapan lain. Nah, gimana masuk ke dunia sekarang tuh serba banyak sekali distraksinya agar seorang Kak Analisa
4:38 itu tetap bisa konsisten dan masih sehat sampai hari ini gitu. Masyaallah ya. Satu tentunya juga karena Allah ngasih aku kesempatan dan kemampuan. tinggal kemauannya aja nih gimana aku menjaga motivasi itu gitu. Tapi kalau ditarik ke belakang tuh Mas Bilal sebenarnya aku tuh dari dulu emang kayak selalu ada di titik di mana P hidup tuh sudah terbiasa cepat. Jadi waktu sekolah tuh kayak aku adalah anak yang ex school semua diikutin gitu. Jadi terbiasa sibuk. H terus habis itu waktu emm kuliah sama juga gitu. Jadi justru malah tim aku tuh ngerasa kalau Mbak N tuh lagi off kerjaan atau mungkin lagi slow nih P di kantor itu tuh mereka kayak ngerasa aku tuh justru malah kehilangan energiku di situ. Dan itu sudah diali
5:23 pasangan support sistem terbaik kan sekarang kalau sudah menikah punya anak tuh adalah suami gitu ya. Suamiku juga udah tahu banget gitu. Jadi akhirnya kalau ditanya gimana ya tentu dengan support orang-orang terbaik kita dan aku percaya bahwa melakukan yang sebaik mungkin itu adalah bagian dari cara aku menghargai support mereka gitu. Hmm. Mungkin aku bakal menanyakan dengan sedikit antagonis karena banyak teman-teman yang aku kenal terutama perempuan ya yang takut berkarir setelah menikah. Karena yang pertama dia takut, ah aku takut kalau suamiku tidak sesupport itu, gitu. Iya. Iya. Dan ada juga teman-temanku yang udah berkarir terpaksa resign karena ada feeling guilty gitu. Kayak aku enggak
6:08 bisa jadi ibu yang sempurna, enggak bisa jadi ibu yang selalu ada di samping anak dan suamiku gitu ya. Tapi ada juga orang yang mungkin confidence aja gitu di-support dan dia tetap jalan di fase dia ingin berkembang terus. Nah, kalau dikontekskan ke analisa apakah dari dulu sampai sekarang itu masih konsisten atau ada pernah di fase feeling guilty tadi gitu dan kalau ada gimana cara balik ke TRK lagi? Rasa bersalah tuh selalu ada ya Mas bilang aku tuh kayak tiap hari bahkan tadi sebelum kita syuting ini di podcast ini gitu ya aku tuh di jalan guilty banget. Jadi guilty itu sesuatu yang tidak pernah terlepas dari seorang ibu pekerja. Bagi aku sebagai ibu pekerja, merasa bersalah itu adalah alarm terbaikku sebagai ibu untuk bisa tahu
6:56 aku tuh butuh belajar apaagi nih jadi ibu karena enggak ada panduan jelasnya terus kayak enggak ada pakemnya dan aku merasa walaupun aku psikolog gitu tapi aku juga punya titik yang di mana aku tuh kayak kayaknya aku salah deh, kayaknya aku kurang ini deh. justru malah itu yang membuatku jadi emm belajar terus gitu. Jadi rasa bersalah tuh selalu ada. Cuma kembali lagi ke gimana support sistem terbaik kita. [mendengus] Dan untuk para perempuan yang hari ini punya ketakutan untuk bisa berkarya atau untuk melakukan sesuatu setelah dia punya peran banyak gitu ya. Mungkin ada yang salah nih. Yang salah itu bukan diri kita, tapi bagaimana kita menemukan orang yang mungkin visinya
7:42 sama sejalan yang dia bisa memahami kita gitu. Hmm. Menarik karena kakak menceritakan apa adanya gitu kayak even aku dulu sempat cusioning ini kita ke psikolog gitu. Nah, psikolog ini ke siapa gitu kan. [tertawa] I kayak psikolog itu ke siapa? Menarikmenarik ya. Kayak tadi kakak cerita tentang ada fase di mana feeling guilty itu normal. Justru di fase kita feeling guilty justru di situlah titik untuk atau kita punya button untuk ya udah ini belajar hal baru gini apa yang aku harus aku bisa improve gitu ya. He. Nah, kalau masuk ke dunia psikolog klinis gitu ya dan aku benar enggak paham dunia itu gitu. gimana cara menjelaskannya ke teman-teman di sini bahwa ini yang dikerjakan analisa, ini yang disol oleh analisa, dan kalau teman-teman yang mungkin sedang di fase itu mungkin
8:28 solusinya ke psikolog klinis atau seperti apa yang aku enggak tahu. Oke, jadi psikolog itu larinya ke mana? Kalau di luar psikolog punya psikolog, tapi aku sesimpel gini deh, orang-orang terdekatku itu akan melihatku kongruen. Apa itu kongruen? Ya, menjadi diriku apa adanya. J. Jadi somehow kalau misalnya aku lagi kayak capek, aku lagi stres, aku lagi ngerasa bersalah, orang terdekatku misalnya tim aku nih, aku mengekspresikan itu. Jadi kalau di psikologi Mas Bilal ini tuh ada satu apa ya konsep bahwa intinya yang paling penting dalam kehidupan kita tuh adalah awareness atau kesadaran diri. Di dalam otak kita tuh ada satu bagian yang sebenarnya menjadi alarm untuk ngasih tahu setiap emosi yang datang. Nah, alarm itu kalau kita enggak
9:14 paham bahwa button-nya ini tuh harus dipencet, alarm itu nyala terus. Hm. Ketika emosi yang muatan negatifnya itu kuat, misalnya kita lagi takut nih atau aku lagi ngerasa bersalah nih, alarm itu tuh nyala. Kalau dia nyala, maka akan membuat kayak nervous sistem tubuh kita atau bahasa gampangnya itu kita jadi enggak enak gitu rasanya. Mungkin kita lagi jadi uring-uringan, bahasa jawanya kemurungsung, terus kita jadi kayak gampang marah, gampang kesenggol gitu. Frejal banget deh gitu kan. Nah, pada saat kita memencet tombolnya, button-nya tadi ternyata as simple as kita cerita, eh setelah sadar aware gitu ya, kita cerita nih ke orang lain, kayaknya aku
9:59 lagi kesal deh. Kayaknya aku lagi marah deh, kayaknya aku lagi ini deh. Nah, yang enggak banyak orang tahu psikolog tuh seolah-olah bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Iya makanya. Iya, kan? atau tabu banget kalau seorang psikolog tuh stres atau seorang psikolog tuh juga punya emosi yang mungkin e muatannya enggak selalu positif gitu. Dan ternyata semakin kita berusaha menutupi itu, aku pernah ada di titik itu dan itu pendewasaan ya Mas Bilal ya. 10 tahun yang lalu aku berusaha untuk no aku oke kok baik-baik aja. I sampai akhirnya itu capek loh. Terus pendewasaannya justru ketika pegang klien it's ok that you are not ok gitu. Tapi waktu di umur 25an, 26 tuh aku berusaha untuk hmm aku kan psikolog baru lulus gitu. Jadi kayak ada-ada pengin menjadi orang lain. Justru itu
10:45 yang membuat kita jadi akhirnya semakin alarm tadi itu enggak mati yang ada kita justru cemas terus. Dan itu yang melelahkan sebenarnya dalam kehidupan kami sebagai profesional. Hmm. Apa yang paling sering orang keluhkan gitu ketika bertemu dengan Kak Analisa? Kalau misalnya dari 100 pertanyaan umum. He top two deh. [tertawa] Iya iya ya. Top two pertanyaan yang sering kok orang Indonesia rata-rata gini ya keluhannya ini ya. Apakah dunia kerja, apakah keluarga, suami, pasangan biasanya apa kira-kira? Top tu yang pertama adalah burn out level. Jadi kita tuh familiar banget dengan Kak aku lagi burn out banget deh. Itu macam-macam nih sumbernya tergantung umurnya. Tapi mostly kalau yang datang ke aku nih rata-rata umur 20 30-an gitu ya.
11:31 Burnout-nya adalah ekspektasi dari lingkungannya. orang tua, keluarga. Jadi, orang Indonesia itu penuh dengan ekspektasi, Mas Bilal. I sehingga burnout-nya dia itu bukan karena pekerjaan, bukan karena kuliah, tapi karena ekspektasi yang dikasih sama lingkungannya. Nah, ini yang membuat aku tuh belajar ketika kemarin oh budaya di luar, misalnya di ee Eropa gitu ya, di Inggris, orang sana tuh ekspektasi itu enggak diberikan sejak anak kecil. Jadi ibaratnya dari mulai pendidikan deh, kadang-kadang aku merasakan anakku sekolah di sistem pendidikan yang tidak ada ranking, yang tidak ada ujian nasional, anak tuh tidak di aspek apapun. Hm. Sedangkan kita normanya itu adalah norma ekspektasi yang sudah dibentuk dari kurikulum SD kelas 1. Wow, good point. Akhirnya banyak kasus-kasus yang aku tangani adalah
12:17 orang-orang Indonesia ini lelah dengan ekspektasi yang dibuat oleh lingkungannya yang membuat dia burn out. Burn out ini kan artinya stres akumulatif yang enggak bisa ditanggulangi lagi. Kalau stres enggak bisa terhindarkan, capek, istirahat, selesai. Tapi kalau burn out ini stres terus gitu ya, gimana sumbernya adalah ekspektasi orang tua. Emang orang tuanya mau dicutof jadi orang tua kita? Kan enggak mungkin. Itu yang pertama. Top two-nya adalah finansial dong. Jadi banyak banget sumber-sumber masalah finansial yang akhirnya berujung kepada stres kehidupan, kelilit pinjol itu banyak banget. Akhirnya membuat masalah rumah tangga, pekerjaannya hilang ya karena faktor ekonomi gitu. Aku melihat dua ini kayaknya Mas Bilal yang lagi banyak aku tangani baik di setting individual maupun organisasi.
13:02 Wow. Wow. Itu bagus tuh. Aku suka sekali ketika tadi kakak bilang tentang ternyata yang jadi beban rata-rata masyarakat kita yaitu ekspektasi yang ditanamkan oleh lingkungannya dan dia tanamkan ke dirinya sendiri gitu. Betul. Sesimpel tadi aku buka obrolan kita dengan aku kuliah jurusan ini gitu. Aku harus kerja di sini dengan gaji segini dan kalau aku enggak bisa dapatin itu, maka dia ng-define dirinya tuh gagal kan. Iya betul. Loopingnya kestres. Loopingnya kestres. Padahal sebenarnya itu adalah pencarian identitas kita yang gagal. di usia sekolah dasar which is itu kayak ya Allah anak kelas 1 SD kanon katanya enggak ada ujian tes masuk SD baca tulis tapi sekolah masih banyak yang menerapkan itu nih ibu-ibu ya jadi kayak aku wondering gitu makanya
13:48 ya semoga sistem pendidikan kita semakin baik semoga orang tua juga semakin sadar untuk tidak memenuhi ekspektasi orang tua-orang tua lainnya gitu ya supaya anak kita bisa tumbuh bahagia dan itu yang membuat dia bisa menemukan potensi terbaiknya sebenarnya hmm even simpel di keluarga deh. Misal kamu anak pertama, kamu harus menjadi contoh yang baik, bla bla bla. Dan kalau misalnya anak pertama itu di usia segini belum punya apa-apa, standarnya belum punya apa-apa tergantung apakah materi dan lain-lain atau tidak bisa jadi apa-apa, tidak bisa jadi contoh, maka dia akan ngerasa dirinya gagal juga kan. He itu Pak umum terjadi di masyarakat kita. Betul. Even aku pernah di fase aku anak pertama aku harus ngprovide A B C DG sampai ketika aku merasa enggak ng-provide apapun dan aku event ke
14:34 diriku aja aku enggak jarang mau traktir diriku sendiri aku ngerasa kayak kehilangan identitas enggak sih jadinya iya makanya kita merasa bersalah dan yang kita butuhkan yaitu kembali ke diri kita sendiri betul selama belajar di luar tadi sempat di Inggris juga apakah ada budaya dari sana yang dari sisi pendidikan atau finansial yang sebenarnya oke nih kalau diterapkan di sini yang mungkin bisa meminimalisir hal-hal yang kita enggak ingin terjadi gitu di dan lain-lain. Apa yang Kakak Analisa tuh bisa share ke kita? Banyak banget. Banyak banget Mas Bilal. Karena aku merasa ee ketika di Inggris kemarin aku memilih kota yang tidak
15:19 secrowed ee kota London. He. Jadi aku memang sengaja memilih kota Sheffield di mana kota itu kalau ibaratnya di Indonesia ini Jogja, kalau London itu Jakarta. Selain mahal, crowded banget. Dan aku merasa mendapatkan satu katanya balancing ya. Walaupun balancing itu it's not only about 50-50, tapi kayak harmonis lah. Aku merasa hidup aku tuh benar-benar aku bisa punya satu manajemen waktu dan energi yang aku bisa terapkan dengan baik dan di mana ketika di Indonesia tuh tidak akan mungkin. Contoh misalnya pada saat di sana aku bisa punya time managemen yang bagus nih. Aku bisa memprediksi aku akan ke sana enggak ada macet terus aku bisa ke situ karena aku akan Nah, itu hal-hal itu yang membuat akhirnya aku bisa lebih mindful di peran-peran yang aku jalani saat itu.
16:05 Nah, kalau di sini gitu ya ritme hidupnya tuh pnya cepat banget sehingga aku yang selalu nih enggak tahu kenapa energi aku tuh it takes ini ada dua hal yang positif negatif ya. Aku tu dari dulu selalu all out my middle. Enggak tahu itu positif apa negatif, tapi kayak menjadi sesuatu yang membuatku tuh penginnya aku pengin ini, aku pengin ini, aku pengin ini. Dan aku sadar banget Mas Bilal itu adalah bagian yang kalau orang bilang blind spot 10 tahun yang lalu itu blind spotku. He. Sehingga aku tidak menjadi diriku somehow capek. Makanya pendewasaan dalam 10 tahun menjadi ibu kurang lebih ini adalah bagian yang aku harus jadi otentik dulu untuk bisa melahirkan dan membesarkan anakku yang otentik juga. I dan akhirnya pada saat di sana aku
16:51 melihat ternyata oke loh kalau kamu menjalani satu satu dan aku melihat orang-orang di sana itu peaceful banget. Contoh misalnya pada saat dia lagi di supermarket gitu ya ketemu sama orang luar yang asli sana. Kebetulan Sheffield itu Yokshare. Jadi kayak budayanya sangat-sangat eh hangat. Thank you love gitu. Kita enggak boleh baper sih. Tapi kayak se sewelcome itu mereka. Nah, sedangkan kalau di sini boro-boro ya, kita dibukain pintu atau kita ngebukain pintu orang bodo amat karena hidupnya udah kayak PC cepat banget. Aduh buru-buru mau ke sini buru mau ke situ. Itu sih kayaknya yang membuatku akhirnya merasa mungkin aku harus belajar untuk lebih mindful supaya aku bisa lebih appreciate dengan orang-orang yang aku temui. As simple as kita lagi di supermarket, kita bisa tetap baik sama orang yang kita enggak kenal. Hm. kita punya kepentingan bisnis yang
17:38 kita tetap bisa menjadi baik tanpa ada embel-embel lain. Itu yang kayaknya aku berkesan kemarin. Tadi aku kepikir satu hal ternyata konteksnya burn out yang umumnya dirasakan oleh pekerja-pekerja di Indonesia itu enggak sesu enggak enggak cuma di konteks di dalam dunia kerjanya doang. Iya betul. Bisa jadi kayak berdih levelnya di 1 sampai 100 mungkin di 60 karena dia harus himpit-himitan di tasi umum 3 jam macet. Ya, benar. Nah, itu level bernya. Yes betul. Dan itu dilakukan hampir setiap hari kayak lima kali dalam seminggu. Iya, iya benar. Oh, itu tuh kayak apa ya? Kayak sesuatu yang kalau kita bicara soal balancing banyak diperdebatkan. Karena secara komposisi waktu aja untuk di Indonesia kita berapa
18:25 persen hidup kita habis untuk bekerja dan perjalanan menuju kantor? Enggak mungkin 50% pasti lebih. Sisanya buat istirahat. Terus bubble kita sebagai personal role tentang kesehatan, proses pertumbuhan diri, family role, social role kita itu udah enggak ada space-nya lagi gitu. Jadi kalau kita bicara soal kelelahan orang Indonesia bekerja ya justru 90% adalah diakibatkan dari proses dinamika di luar jobd dan outcome dia bekerja gitu. Itu yang lagi aku banyak bahas nih, Mas Bilal. Makanya psikologi klinisnya ini banyak aku pakai pendekatannya di banyak kantor-kantor, organisasi seperti itu. Izinkan aku masuk ke dunianya psikologi klinis tentang dunia kantor deh.
19:10 He. Atau tarik satu penelitian yang Kak Analisa lakukan. He dan kakak lempar ke meja ini untuk kita pelajari. Apa yang paling sederhana? Yang paling sederhana disertasi aku terakhir kemarin tentang leadership dan juga willbing. Aku tuh penasaran banget, Mas Bilal, karena aku sering banyak bahas leadership. Aku ketemu para leaders terus banyak banget ya namanya leaders kan pasti punya hal-hal yang enggak dilihat oleh dirinya tapi dilihat oleh stafnya. Mbak bos aku tuh toxic banget gitu misalnya kan sering ya gitu. Terus kemudian aku berpikir emang harus jadi bos yang kayak apa sih biar tim kita tuh happy? Emang kalau timnya happy terus bisnisnya bakalan growth? Aku bertanya-tanya gitu, kenapa untuk satu orang leader ini tuh baik? Kenapa untuk orang ini leader itu dikatakan tidak baik, killer, toxic gitu.
19:57 Nah, akhirnya di dalam penelitianku itu aku membuat satu pertanyaan baru bahwa jangan-jangan ada yang memediasi nih atau ada yang mempengaruhi antara kualitas leader atau style of leadership-nya dengan kesejahteraan psikologis atau will being orang bekerja. Nah, ternyata ada satu hal yang jarang terlihat, yaitu modal psikologis atau psychological capital-nya. Apa sih itu? Gimana orang itu punya harapan ketika bekerja, Mas Bilal? Karena banyak banget ketika bekerja kita tuh kehilangan hara hidup sehingga kita enggak tahu lagi harapan kita ke depan apa sih selain gajian. I ya. Ya. [tertawa] [terkesiap] Terus kemudian karena interaksi yang tidak terlalu baik, akhirnya banyak pekerja yang kehilangan efikasi diri. Apa itu? Kepercayaan diri. Contoh ketika
20:42 leader memberikan statement yang membuat orang PD-nya hilang. Ketika leader memberikan pekerjaan dan kemudian orang ini jadi enggak punya keyakinan. Bahasa psikologinya tuh efikasi diri, keyakinan sama kemampuan dia. Terus kemudian yang ketiga, modal psikologisnya adalah resiliensi atau daya juang. Karena akhirnya kehilangan harapan membuat dia tidak mau berjuang lebih. Ya udahlah gue gaji segini, mau all out juga gaji sama. ngapain sih harus seheboh itu bekerja gitu. Dan yang terakhir optimisme. Sampai akhirnya mereka berpikir tinggal nunggu masa pensiun. He. Padahal akhirnya ketika orang bekerja kan enggak cuma itu doang kan. Nah, benar nih hasilnya menunjukkan bahwa mediasi itu atau si psychological capital inilah yang menjadi faktor yang
21:28 membuat si leader ini bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis atau happiness-nya si karyawan. Itu gampangnya. Itu penelitian yang kemarin menurut aku tuh cukup relate dengan situasi yang aku temui bahwa belum tentu leader yang baik yang bisa mengakomodir kesejahteraan psikologis pegawainya. Karena kita punya satu budaya kolektivism, sungkan, rikuh, enggak enakan. Jadi ketika yang di bawah ngerasa overwelm, dia enggak berani speak up ke atas. Dan itu relate banget sama banyak hal yang aku temui di program-program pengembangan manusia yang aku handle sekarang, Mas Bilal. Banyak leader yang enggak enakan ketika memberikan nilai jelek ketika timnya enggak perform. Jadi, collectivism ini somehow itu bagus. kita gotong-royong kekeluargaan,
22:16 tapi jadi ada sesuatu bias yang membuat leadership itu tidak benar-benar bisa berperan sebagai leader. Itu yang penelitian yang belakangan lagi aku cukup banyak ee geluti dan kerjakan. Psikologinya ada, tapi lebih banyak ke organisasi dan bisnis. Iya. He wah itu poin menarik karena aku sering ketemu dengan teman-temanku yang leader, terus mereka bilang, "Aku cuma nge-chat satu WhatsApp doang ke timku gitu." Terus mereka udah stres seharian. Cuma [tertawa] the way aku mungkin di kantor kata mereka kayak kayak killer banget gitu. Padahal aku cuma menyampaikan satu visi yang baik untuk kita bersama. Tapi kadang mereka persifnya kayak wah nih lagi seram nih, lagi mood buruk banget gitu. He. Sehingga terjadilah persepsi wah nih
23:02 atasan lagi marah hari ini gitu. Bos aku hari ini lagi enggak enggak baik-baik aja. Padahal cuma satu kalimat doang sehingga ada gap gitu. Ada gap dan mungkin bentuk storyting atau visinya tuh enggak nyampai ke ke mereka gitu. Benar. Benar banget. Satu si enggak enakan juga ya. Yang atas mungkin enggak enakan langsung ke bawah. Yang bawah juga enggak enakan untuk speak up gitu. Jadi ada gap yang kalau dalam jangka panjang bisa berbahaya ya. Betul. Dan itu tuh yang lagi banyak ee aku bahas yaitu terkait dengan harapan itu pengaruhnya banyak yang faktor yang melatar belakangi. Misalnya tadi timnya Mas Bilal nih atau tim orang lain ketika leader itu memberikan statement A kenapa hanya dia? Coba ditanya yang lainnya sama enggak? Jadi setiap orang itu punya unsin baggage atau bagasi yang enggak kelihatan tas ransel yang udah berat
23:48 yang dia bawa dari personal isu dia. Hm. Mungkin dia enggak terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya straight to the point pada saat atasannya straight to the point. Seolah itu digeneralisir menjadi sesuatu yang bos aku galak banget sih gitu. Itu faktornya apa? Pola asuh dia, pengalaman dia sebelumnya dan lain sebagainya. Atau dia mungkin punya isu-isu lain yang butuh selalu diterima enggak bisa dengan penolakan gitu. Jadi akhirnya sebenarnya stimulus itu selalu netral dalam interaksi apapun terutama di dunia kerja karena bagaimana respon kita dipengaruhi oleh bagasi yang enggak kelihatan tadi. Nah, aku tuh sebagai psikolog banyak membantu individu dan organisasi membongkar bagasi itu yang tidak disadari oleh orang itu dan tidak
24:34 disadari oleh organisasi. terus kita bikinin programnya itu yang sekarang lagi banyak karena produktivitas bisnis ya sumber terbesarnya atau kapital terbesarnya adalah orang manusia gitu dan itu psikologi banget kan Mas bilang wah ini semakin luas sih spektrumnya karena [tertawa] sebenarnya aku mau menanyakan juga tentang POV masa lalu dan trauma kan h tapi dari masuk ke personal BG saya udah udah muncul pertanyaan baru yaitu let's say di tim adalah lima orang pasti kan punya personal bagis masing-masing I ada dengan orang tuanya dengan pasangannya. Jadi ada luka luka luka luka dan kadang way kita mau menjelaskan sesuatu tuh kadang enggak sadar terkena tuh luka satunya gitu benar
25:20 kayak enggak sengaja jarum aku tuh kesentil balon mereka gitu dan meledak ya. Yes. Nah kalau aku bilang dengan pernyataan itu tuh gimana ke analisa melihat situasi itu gitu. Itu harus dari dua pihak ya. Yang pertama dari individu itu sendiri ketika dia kerja dia harus bisa melihat siapa dong atasannya ini saya kerja di kantor apa culture-nya gimana jadi jangan sampai personal baggage kita yang kita bawa tuh enggak kita sadari enggak kita kelola dengan baik karena kalau misalnya enggak kita kelola dengan baik kita mengatasnamakan isu itu jadi sebuah alasan kita excuse untuk tidak profesional Mas Bilal. Hm. Misalnya nih ya seorang trauma dia trauma banget dengan bentakan. Seolah bentakan itu tuh menjadi sebuah yang membuat dia tidak produktif lagi. Terus
26:05 ketika bosnya ngebentak dia, dia excuse, "Gimana saya mau produktif kalau bos saya bentak-bentak terus misalnya gitu ya." Tapi kan kita membawa profesionalitas nih. Bagasi kamu dikeluarin dulu dong. Kamu harus profesional dong. Kamu harus bisa mengelola. Caranya gimana? Mungkin dia olahraga, mungkin dia curhat ke psikolog, mungkin dia punya hobi lain. Itu yang perlu dikelola oleh si individu itu, gitu, Mas Bilal. Nah, sebagai atasan juga perlu memahami bahwa setiap orang punya bagasi yang masing-masing. Jadi, kalau kita sebagai leader punya kemampuan untuk mapping itu pendekatan yang lebih connection-nya lebih dapat itu lebih optimal. Tapi kan kadang leader juga capek ya, dia punya banyak tugas. Iya. Nah, [menghela napas] itu salinglah ketemu di tengah lah. Itu namanya kolaborasi gitu. Kalau enggak ya ego. Kembali lagi tergantung yang mana nih
26:52 yang punya legitimasi lebih tentunya atasan dong. Makanya yang paling susah itu followership daripada leadership. Menjadi follower yang baik untuk leadernya. Menjadi follower yang baik itu tidak mudah. Tidak mudah. Kita enggak punya bergaining, kita punya ego, kita punya kepentingan. Mungkin kalau dia nothingting tulus, makanya banyak yang udahlah resign aja deh. Gitu. Padahal bisa jadi resign ketemu sama atasan yang mungkin akan menyerang bagasi kita juga kalau kita enggak pintar mengelolainya. Jadi, the things is about diri kita, bukan orang lain. Makanya kompleks ya ngomongin dunia kerja itu banyak irisannya dengan clinical issue kita sebenarnya. Itu yang menarik. Oh, itu menarik karena ketika aku masih kuliah dulu, aku juga set hassle kan
27:37 kayak kerja di salah satu restoran gitu, part time job. He. Terus aku mikir, ini atasanku kok aneh banget ya? kok keras banget gitu. Sehingga aku mikir, ah apa opsinya cari sahas lain gitu. Aku resign cari sahas lain. Tipenya beda. Tapi yang menyerang aku yaitu mereka susah untuk komunikasi dan oh ternyata benar ternyata aku punya personal bagiku sendiri aku butuh komunikasi yang jelas untuk bisa jalan bareng gitu. Kadang mereka diam-diuman gitu jadi enggak enggak enggak enggak bisa banyak belajar dari mereka sih. Engak bisa. Oh dan akhirnya Mas Bill memutuskan untuk Iya. Itu ceritain cari has selainnya. Ternyata emang karena kita punya persona bagis masing-masing. Aku belum tahu itu. Iya iya iya. Gua kirain wah ini lingkungan toksis. Siapa tahu [tertawa] kitanya toksik gitu kan. Tapi proses pendewasaan enggak sih? Iya. I karena ee ya umur kita bertambah.
28:24 Semakin banyak kita ketemu dinamika manusia pada saat itu mungkin kita ngerasa kayaknya udahlah aku resign aja gitu. Tapi akhirnya opsinya cuma resign gitu. Dan kalau kita punya opsi lain silakan. Nah, banyak orang yang enggak punya opsi Mas Bilal. Nah, jadi akhirnya dia terjebak pada situasi itu ya. Jawabannya apa? Ya, berdamai sama situasinya. Wow, itu bagus ya. Aku sempat nulis qu waktu itu. Aku bilang kayak gimana tuh? Aku sampai hari ini enggak mau ngejak orang lain karena aku enggak tahu obsidia. Iya, betul. Kadang kita ngerasa kayak kok mau sih kayak digituin banget sama kantornya, sama atasannya. Kita enggak pernah tahu sampai kita ada di kaki orang itu. Mungkin dia bukan cuma sandwich generation kita, mungkin dia Big Mac. Benar. Banyak banget tanggungannya gitu. atau mungkin dia udah kayak mencoba tapi kemudian dia berusaha untuk ya kita
29:10 enggak pernah tahu ada di situ. Bahkan sampai dia resign pun aku yakin ya mungkin dia punya opsi lain, mungkin dia punya value-value dan integritas yang enggak mau beririsan sama ee apa yang dia hadapi di kantor gitu. Jadi masing-masing kita harus pahami lagi. Yang penting aware tadi Mas Bilal. Hm. He. Kita enggak bisa manage kalau kita enggak notice itu. Makanya psikologi itu sebenarnya kesadaran diri aja supaya button-nya enggak nyala mulu, supaya alarmnya enggak nyala mulu dan buttonnya kita sadar untuk kita matiin. Hmm. Hai warga berkelas, buat kamu yang punya jasa konsultasi atau mau buat jasa konsultasi tapi masih ribut banget, chat-chatin satu persatu. Aku relate banget karena aku pernah di posisi itu ya. capek, pusing,
29:56 harus cari hasil transfer, digosting, schedule terus. Ini yang bikin aku enggak fokus dengan pekerjaan utamaku, gitu. Tenang, kalau kamu lagi di fase itu juga sekarang, aku punya solusi simpel yang bisa bantu kamu beresin masalah ini. Yes, link appointment. Kamu tinggal bikin halaman booking, atur jadwal kosong, durasi sesi, harga, sampai detail layanannya. Calon klien tuh tinggal pilih hij awalnya bayar dan semuanya langsung tercatat rapi. Jadi kamu tuh enggak perlu lagi jadi admin dadakan setiap harinya. So kalau kamu punya jasa konsultasi mentoring kelas private atau sesi 101 appointment di Linkit itu bisa bikin proses booking kamu jauh lebih profesional. Simpel dan enggak bikin kamu pusing. Tunggu apaagi?
30:42 Langsung cobain. Sekarang aku masih mau menggali sisi ngomongin tentang personal baggage-nya. He. Karena banyak dari kita yang tanpa sadar per hari ini tuh masih hidup dengan alarm yang sangat bising gitu. Kayak setiap hari kita lupa menekan tombol untuk off dulu sebentar tapi enggak bisa tuh setiap hari dengan p yang cepat tinggal di ibu kota misalnya kayak cepat cepat cepat cepat cepat. Nah, ada satu tulisan yang aku suka dari Kak Analisa, yaitu tentang tanpa kita sadari bahwa kita itu membawa trauma kita kan di fase dewasa. Kakak menulis trauma masa kecil itu bukan salah kita tapi memulihkannya adalah tanggung jawab kita sepenuhnya. Nah, gimana caranya teman-teman yang menonton ini itu bisa tumbuh dengan emotional bags atau self sabotage yang
31:30 bikin mereka lebih dewasa agar enggak terus pakai topi victim gitu. Iya. Menarik ya, Mas Bilal. Karena aku tuh merasa pekerjaanku sebagai psikolog yang aku suka adalah aku membantu orang untuk berproses dalam hal yang enggak bisa dirubah, yaitu masa lalunya. Karena datang ke psikolog dengan traumanya. Dan yang menarik adalah aku sendiri yang terbiasa rungsing dengan aku pengin ini, aku pengin itu. Saat masuk ruangan konseling, aku tuh betul-betul melepaskan semua pikiranku itu dan aku fokus ke klienku. He. Jadi itu yang membuatku sangat enjoy banget membantu orang-orang yang tadi ada selfotage dia tentang masa lalunya dan lain sebagainya. Kebanyakan mereka yang menjadikan dirinya sebagai korban
32:15 adalah mereka yang gagal menginterpretasi kejadian itu. Jadi apa sih maksudnya? Misalnya nih ya, pada saat dia trauma, pada saat dia merasa dia adalah korban, dia punya kesulitan untuk dapat perspektif yang apa ya, perspektif yang ee positif gitu. Seolah-olah ini adalah salahnya orang tua, seolah-olah ini adalah salahnya orang lain gitu. karena dia enggak sadar sebenarnya apa yang menjadi ee apa namanya yang dia hadapi di situ. Nah, biasanya yang aku lakukan adalah kita harus mengajak orang ini untuk sadar dulu. Kamu tuh enggak bisa ngerubah yang sudah berjalan loh. Yang kamu bisa lakukan adalah kamu jadi
33:01 aktornya. Ini bukan tanggung jawab mereka untuk memulihkan kamu, bahkan bukan tanggung jawab konselormu, bukan tanggung jawab psikologmu gitu. Ini adalah tanggung jawabmu karena kamu orang dewasa. He. Jadi yang membedakan kita sama anak kecil adalah bagaimana kita bertanggung jawab atas semua hidup kita ke depannya. Misalnya anak kecil itu jatuh, dia nyalahin meja, terus kemudian apakah dia enggak mau lewat meja itu lagi? Padahal dia harus melewati meja itu. Mungkin anak kecil bisa, tapi manusia dewasa enggak akan bisa. Dan trauma itu tuh kayak gini nih, Mas Bilal. Kalau kita bahas trauma ya, kita lagi jalan nabrak meja, lutut kita berdarah. Pada saat lutut kita berdarah, masa kecil kita membuat kita untuk tidak mau mengobati itu. Karena apa? Tadi anak cowok kamu
33:49 harus kuat, ayo main bola lagi. H. Luka yang udah berdarah-darah tadi ditutup nih tanpa disadari. Terus akhirnya dia lari lagi menjalani kehidupan sampai dewasa. Dia jatuh lagi di tempat yang sama. Luka yang ditutup tadi masih berdarah-darah. Ini orang trauma ya. Kemudian ketika kita buka nih, dia sadar, "Ini loh luka kamu ini loh. Kamu tuh dulu sedih banget karena kamu nangis, kamu dapat abuse dari orang tua kamu, dibuka pelan-pelan tuh." Itu kayak contohnya kita jatuh, fisik kita berdarah, dibuka, ditutup puluhan tahun jatuh lagi. Itu kan sakit banget kan. Iya. Nah, saat trauma itu disadari itu memang enggak enak, Mas Bilal. Tapi kalau kamu enggak menyadarinya, kamu enggak akan bisa jadi aktor yang akan mengubah luka itu. Siapa yang mau
34:36 ngasih obat merah kalau kamu enggak sadar luka kamu tuh udah busuk? Siapa yang mau ngebuka em apa sih ya kain kasa kamu kalau kamu tutup itu terus gitu? Jadi bukan tugas orang lain yang ngasih obat merah dan kain kasa yang dibuka, tapi tugas kita. Gimana caranya? Enggak harus dengan kata maaf atau memaafkan gitu. Caranya adalah kamu lihat apa yang kamu rasain dulu. He kamu tuh marahnya kenapa? Mana bagian yang bisa kamu kendalikan? Mana yang enggak. Kalau pernah dengar stoikism gitu ya aku tuh percaya banget gitu. Itu sebenarnya konsep psikologi yang sudah banyak banget kita dengarin. Oke lukanya udah enggak bisa hilang. Mungkin luka itu akan meninggalkan bekas. Tapi at least kita tahu ketika kita mau jalan di meja itu kita lebih berhati-hati.
35:22 At least kita jadi tahu bahwa luka yang tadi itu sudah pernah ee terbentur di meja itu tetap meninggalkan bekas. Orang tua kita mungkin abuse, dia enggak bisa ngerubah cara bicaranya. Misalnya kita trauma dengan cara bicara orang tua. Tapi paling enggak ketika kita menemui orang tua kita, kita akan siap menyiapkan diri kita. Bukan berarti kemudian orang tua kita akan maafin mama ya, maafin papa ya, tapi dengan menjadi orang yang baik terhadap orang tuanya dan berusaha untuk tidak menjadi sosok orang tua seperti orang tua yang terdahulu, reparenting itu adalah bagian dari cara kita memulihkan dan menjadi aktor bukan korban. Itu contohnya. Wah, reparenting. Kayak semua orang yang punya trauma itu pasti ketika let's say let's say dia
36:07 punya trauma dengan orang tuanya gitu ya. He. Dan ketika dia menikah pasti dia ada pikiran untuk aku enggak mau mengulangi hal yang sama ya. Iya. Apalagi di zaman sekarang ketika podcast di manap pun buku-buku saya improvement tentang parenting juga tersebar luas gitu ya. Itu bikin kita aware dan kita menekan menekan tombol off tadi bahwa waktunya kita restart ke cara kita parenting. Makanya tadi disebut dengan reparenting gitu ya. Bagaimana kalau konteksnya orang itu yang trauma dengan finansial? Heeh. Menarik. apa yang Kak Analisa bisa share karena aku tahu Kak Analisa pernah juga colab dengan Kak Prita kan di pas COVID itu kan di mana momen orang mau belajar lebih dalam tentang finansial, bagaimana menghadapi trauma-trauma finansial itu. Even sesimpel kita lihat
36:54 orang-orang sekitar kita yang kayak pelit sama dirinya sendiri, mencemaskan tentang masa depan dari POV bahwa aduh bisa enggak ya sekolahin anak, bisa enggak gini gini gini gimana. Apalagi ini didukung dengan benar lingkungan atau situasi masyarakat kita yang wah rupiah lagi melemah segala macam itu gimana? Iya. Kalau trauma finansial tentunya kalau dari sudut pandang finansial sendiri kalau aku pernah dengar Mbak Prita bilang itu tuh karena gagal dalam perencanaan dan dalam proses ee mengelola keuangannya. Tapi kalau dari psikologi aku tuh percaya banget yang salah dalam pola pikir kita ketika kita trauma tentang finansial itu adalah ada kegagalan berpikir kita tentang identitas diri kita yang sebelumnya. H gampangnya gini. Kenapa dia menjadi pelit sama dirinya? karena ada
37:42 kekecewaan di masa sebelumnya yang dia gagal untuk bisa memproses kekecewaan itu yang berkaitan sama identitas diri. Hm. Mungkin kita enggak pernah tahu nih ditarik lagi ke belakang. Bisa jadi ketika dia itu punya identitas diri yang mungkin di umur tertentu nih ya, misalnya di umur 21 tahun itu kan masuk ke dewasa awal. Ditarik lagi ke belakang. Kenapa dia pelit banget? Oh, waktu masa remaja dia pernah ada momen di mana mungkin dia melihat ketika orang tuanya dulu ider boros banget sampai akhirnya dia jadi harus jadi tulang punggung keluarga karena orang tuanya bangkrut di masa tuanya sehingga dia berusaha untuk irit banget atau sebaliknya karena orang tuanya dulu mengajarkan sangat irit banget terus
38:27 kemudian di pada saat dia di usia tertentu dia justru kayak aku enggak mau nih kayak orang tuaku. Nah, itu contoh trauma yang mungkin dia tidak sadari sehingga akhirnya membuat pola pengelolaan keuangan itu menjadi tidak mindful, enggak consius nih, setiap dia ngeluarin duit itu adalah sesuatu yang menunjukkan identitas diri dia. Atau misalnya aku pernah lihat juga nih, ini kenapa ya hitungan ee kalkulator dia tuh rusak ketika dia bantu orang lain. Dia sadar betul itu tuh di luar pos dia buat bantu orang lain, tapi dia terlalu apa ya, push diri dia untuk bantu orang lain. Ternyata membantu orang lain itu adalah bagian dari cara dia memuaskan dia, fulfill dia ketika dia dibilang orang baik oleh sekitar. Hm. Karena ditarik lagi Mas Bilal. Dia pernah trauma karena dia pernah dibully, enggak punya teman. Jadi dia pengin berusaha nunjukin terus identitas diri
39:13 dia dengan uang itu. Jadi uang dijadikan alat senjata yang membuat dia punya ego. Siapa diri dia dalam keluarga. Kenapa sih suaminya enggak melibatkan istri ketika mengolah keuangan? karena mungkin dia dibesarkan oleh trauma-trauma yang enggak dia sadari. Nah, itu tuh polanya seperti itu, Mas Bilal. Jadi, trauma ini menarik ya, enggak cuma bicara soal dunia kerja, tapi juga finansial, tapi juga kehidupan personal yang intinya kita harus menyadari dulu. Itu kunci awalnya. Hmm. Dan teman-teman di sini mungkin masih di konteks bahwa aduh ini masih teori banget nih cara menyadarinya gitu. He. Ada enggak cara simpel alah seorang psikolog gitu ya untuk pelan-pelan menyadari nih apa lukanya dan
39:59 setelah mereka menyadari setidaknya mereka tuh bisa melepas topi egonya dulu, topi gengsinya dulu, atau mau kembali ke jadinya yang mungkin sangat vulnerable itu gitu. Cara paling gampang adalah mengartikulasikannya. Ngobrol, cerita, ngobrol sama diri kita sendiri. H sesimpel kayak naming ya bahasanya kayak dikasih nama nih aku lagi kesal banget nih aku lagi marah banget nih terus habis itu ditanya kenapa kita kayak ngobrol sama diri sendiri jadi itu salah satu cara kita menyadari yang paling gampang ngobrol kalau kamu enggak bisa ngobrol sama diri sendiri kamu ngobrol sama orang lain karena ibaratnya hidup tuh kita lagi berjalan, kita lagi nyetir mobil Mas Bilal i kamu lihat jalan ke depan kamu dengerin omongan orang eh mungkin ada yang bilang kamu pelit banget sih itu kata orang.
40:46 Tapi kita punya kaca spion dong, itu diri kita. Enggak kok. Gue enggak pelit. Ini secara sadar aku tuh ada hitungannya karena aku sedang merencanakan masa depanku. Wow. Itu kan kayak perlu kita seimbangkan gitu kan. Suara mana yang perlu kita dengar itu bagian dari cara kita bertumbuh dan dewasa gitu. Jadi cara paling gampang kalau ditanya non teoritisnya adalah ngobrol. Ngobrol sama diri sendiri, ngobrol sama orang lain. Dan pekerjaan kita sebagai psikolog. Kita kan menyadarkan orang nih dalam sesi konseling kita cuma ngobrol kayak kita ngobrol podcast ini tapi lebih terapeutik gitu. Mungkin cara yang simpel sekali, tapi menurut aku tuh ngena ya karena aku jarang pakai kaca spion ketika misalnya aku mendengar dari poov orang, wah dia mah orangnya sombong, dia enggak banyak ngobrol, dia orangnya suka menutup diri dan segala macam gitu.
41:32 Padahal kalau aku pakai kaca spionku ya inilah aku dan aku tahu prioritasku ke mana gitu. Aku enggak mau ngabiskan waktu untuk banyak nongkrong, banyak ketemu dengan ABC DFG karena ada hal lain yang aku kerjakan dan butuh konsernku dan prioritasku sendiri gitu. Aku lupa pakai capion itu gitu. [tertawa] Sama kok. Kadang-kadang kita juga disibukkan. Tapi makanya menyelaraskan itu supaya kita enggak nabrak, Mas Bilal. Kalau orang nyetir lihat spion terus kan nabrak. Orang lihat jalan depan terus ngelihat spion nabrak juga gitu. Benar. Benar. Jadi kita perlu aware dan teori kehidupan tidak ada yang pasti tapi kita paling tahu diri kita kapan harus lihat spion, kapan harus lihat jalan depan. Mm. Di usia 20-an kayak sekarang ya, bahkan masuki 30-an juga
42:18 kita malas memakai kaca spion itu karena kita ingin disukai dan mencari validasi di orang sekitar kita gitu. Betul banget. Dan mereka juga pernah menulis hal ini tentang di era sosial media sangat mudah untuk kita tuh mengejar validasi dari orang sekitar kita atau orang-orang asing di sosial media. He. Kalau aku masuk ke kepalanya ke analisa, gimana caranya kita berani lebih tegas dan membatasi akses-akses ke hal enggak penting ini, ke distraksi-distraksi yang bikin kita tuh semakin jauh sama diri kita sendiri, semakin attacks kita sama yang namanya validasi, punya nilai-nilai yang kita pegang, Mas, gitu. Jadi, nilai-nilai itu tuh aku yakin banget dibentuk oleh pengalaman hidup yang panjang. Misalnya nih ya,
43:05 nilai hidup aku adalah joy, happiness. Jadi, selama nilai itu tidak sesuai dengan apa yang kata kaca spion atau kaca depan itu bilang, ya kita ikutin aja di situ. Terus kemudian diingat lagi gitu bahwa apa sih alasan kita untuk ngejalanin ini semua? Prioritas mana sih yang lagi kita kejar? Nah, masalahnya di umur 20-an itu teman-teman aku ingat banget di umur 20-an dulu mungkin distraksinya tidak sebanyak sekarang ya. Misalnya sekarang ada aplikasi yang memperlihatkan seseorang itu lagi diangkat menjadi manajer. Nah, kalau dulu kan enggak ada gitu. Aku tahu teman aku jadi manajer kalau dia cerita sama aku. Kalau enggak aku enggak tahu gitu. Sehingga akhirnya kita sibuk mencari validasi seolah pencapaian orang lain itu mengalahkan pencapaian kita.
43:51 Jadi berarti nyetir mobil kita tuh enggak lihat jalan ke depan atau lihat spion kita tuh lihat mobil lain gitu loh. Iya. I iya kan? Dan itu capek, itu lelah dan itu adalah salah satu fase kehidupan manusia di 20 sampai 30. Dan kesalahan terbesar yang aku juga lakukan di usia itu adalah aku terlalu sibuk mendengar validasi orang lain. Aku berusaha untuk diterima terus, Mas Bilal. Dan aku meneng-topeng yang mungkin banyak sekali. Sampai akhirnya aku sadar kayak makanya aku bilang kalau aku bisa bilang sama teman-teman di 20-an, "Udah deh perlu dengerin orang lain tapi kasih porsi yang pas karena kalau enggak kamu akan lelah ngabisin energimu ke sana." Padahal energinya bisa dibuat untuk bikin podcast, suara berkelas. Iya. dibikin bisnis gitu. Hmm. Tapi kan di usia 20 30-an kita
44:37 sangat takut, terutama yang belum nikah ya, itu sangat takut dengan kesepian. Iya setuju. Sehingga kita tuh selalu cemas dan apabila kita mungkin kita tidak menyinggung teman kita ya, tapi ketika kita tegas dan prioritas, kita takut sekali menyinggung dia gitu. em, ayo dong ngopi, kita nongkrong segala macam. Aduh, aku mau ngerjain projek ini. Ah, sombong. Nah, itu tuh batasan yang harusnya kita kasih. Tapi karena dianggap sombong dan takut ditinggalkan dan enggak punya teman lagi, maka kita akan berpikir jauh aku. Entah kalau ditinggalin akan kesepian gitu. Mindset apa yang bikin kita, aku teman-teman di sini untuk pivot ke lebih
45:23 tegas sama keputusan yang kita ambil sama bagaimana kacamata psikologi melihat kesepian itu sendiri di era sekarang. Iya, kesepian akan selalu ada dalam setiap fase manusia apalagi sekarang di era yang sangat apa ya media sosial tuh menjadi salah satu cara kita untuk terlihat, terkoneksi sama banyak orang. Kumpul posting yuk. Seolah kalau kita itu enggak ada di dalam postingan itu kita ketinggalan dan itu salah satu yang membuat orang semakin sadar dengan kesepian. Mas Bilal which itu sebenarnya dulu biasa aja teman kita nongkrong kita enggak diajakin misalnya tapi karena enggak ada mesos ya udah terserah deh orang aku memang waktu itu enggak ada di situ gitu. Nah, akhirnya kesepian ini menjadi sebuah hal yang dipermasalahkan di usia tertentu, terutama teman-teman yang sekarang di 20
46:09 sampai 30. Karena peralihan ya nanti semakin tua tuh kita semakin kesepian loh. Kita akan semakin menemui orang-orang yang ini aku belajar banget nih, belum ada 40 sih, tapi aku belajar bahwa semakin kita umurnya bertambah, semakin kita menuju ke usia yang jauh lebih ee matang, kita tuh akan selalu akan ada di titik teman kita jadi lebih dikit, lebih dikit gitu. Dan enggak apa-apa, tapi kita harus sadar bahwa kesepiannya ini tuh jangan sampai berlebihan yang membuat kita menjadi tadi pola pikir korban. Aku memang selalu kesepian, aku memang enggak punya teman. Sampai akhirnya kita kehilangan energi. Ya, kita kadang harus mengupayakan itu. Mencari energi-energi itu supaya itu bisa menjadi penunjang
46:55 kita untuk mengerjakan peran kita sebagai manusia yang lain, gitu. Hmm. H. Aku lagi berusaha nih, Mas. Kayak, "Aduh, kenapa sih hidup aku kerja mulu gitu kan." [tertawa] Terus akhirnya aku yang iya ya. Di grup teman aku tuh teman yang beneran cuma itu doang yang udah dari 20 tahun lalu kita temenan dan ternyata aku lebih nyaman untuk bersama mereka aja. Walaupun di hari-hari lain merasa kesepian, tapi at least aku tahu aku cuma mau ketemu sama orang ini daripada aku maksain ketemu orang yang aku enggak pengin ketemu. Kan capek banget. energi kita udah habis untuk kerjaan, untuk ini, untuk itu. Nah, di umur 20 tuh aku masih mikirin banget, ih dia sombong banget nih. Ih, dia untouchable nih, unapproachable gitu. Tapi akhirnya sekarang kayak orang-orang yang dulu mungkin mengira aku seperti itu, mereka akan sadar juga karena kita di umur yang
47:41 sama. Oh, ternyata ana enggak sombong kok. Ternyata aku juga sudah melewati, tapi ana mungkin lebih cepat melewatinya karena dia punya peran yang lebih cepat dibandingkan aku. Karena aku nikah lebih muda, anakku lebih lahir duluan daripada anak dia, gitu loh. Jadi pada saat itu prioritas hidup kita berbeda, fase hidup kita enggak sama gitu. Akhirnya semua orang akan tersadar. Benar-benar itu paling [tertawa] menarik karena sebelum aku masuk ke, aku sudah masuk ke dunia kreatif ya, L si di 2017 18 gitu, tapi belum inu serius jadi bisnis seperti sekarang gitu. He. Nah, pada di fase itu, di momen itu aku ngej temanku yang mungkin lebih maju atau punya bisnis yang lebih cepat dibandingkan aku. Wah, ini kok orang serius banget ya? Kok dia enggak bisa diapproach si enggak bisa diapproach. Aku ajak ngopi aja susah. Padahal dia teman dekatku
48:27 segala macam. Pas di sekarang, wih, iya benar juga ya. Ternyata aku di titik dia ya. Iya. [tertawa] Itu emang fasilnya dan kadang jawaban atau yang menampar kita tuh emang harus pengalaman kita sendiri dulu gitu. Betul. Betul. Dan aku selalu percaya bahwa akhirnya tuh kita enggak perlu memaksa orang lain untuk baik sama kita di dalam pertemanan ya. Karena yang baik akan baik dengan sendirinya tanpa kita minta dan semakin tua kita akan semakin merasa kualitas pertemanan itu di situ gitu. Justru kesepian itu adalah pada saat teman kita banyak tapi kita enggak nyaman sama mereka. Kalau aku di titik ini akan merasa seperti itu, Mas. Bilang h kesepian itu adalah ketika aku punya banyak followers, subscribers, tapi ketika aku sedih aku bingung mau telepon siapa. Wow. Itu kesepian. Iya. I tapi kalau kamu enggak punya followers
49:12 ini buat teman-teman yang sekarang mengejar e followers ya enggak munafik. Memang kita sebagai kreator ya, Mas Bilal pasti juga itu berpengaruh terhadap aspek-aspek pekerjaan dan finansial kita. Tapi kalau bicara soal kehidupan, sebenarnya kita tuh sebagai manusia kebutuhan dasarnya adalah kita tuh diterima. Hm. Kita punya orang yang bisa mendukung kita. Nah, kesepian definisiku hari ini adalah ketika kita punya banyak teman tapi kita sedih, kita bingung mau cerita sama siapa. Ketika kita butuh bersandar, kita enggak tahu mau ngubungin teman yang mana. Tapi lebih baik kamu enggak punya followers, enggak punya subscribers. Tapi kalau kamu sedih, kad selalu orang yang dengan sangat sinis memberikan sarkasme dia untuk menasehhatimu. Tapi itu yang kamu rindukan.
49:58 I benar. Akan ada orang yang konyol untuk kamu dengerin banyolannya ketika kamu lagi stres, butuh dengerin yang receh-receh, itu teman yang kamu akan hubungi kalau kamu lagi butuh rileks. Nah, aku sekarang di fase itu, Mas Bilal. Wow. [tertawa] Iya. Iya. Dan itu teman-teman SMP. Jadi kayak 2001 aku ketemu mereka. Bayangin 26 tahun kita berteman. Aku juga kangen dengan teman-temanku yang ketika merintis atau kita ng-develop sesuatu itu ada perdebatan gitu kayak enggak benar Bil gini yang benar bla bla bla. Nah pada fase itu aku mikir wah nih ini kita berdebat nih ya. H pas momen itu terlewati ternyata itu yang dikangenin itu yang dirindukan karena memang itu tujuannya kan untuk growing bareng gitu. Benar. Harus ada perdebatan, harus ada hard conversation ya. Iya. I.
50:44 Dan teman debat itu kadang juga teman yang paling jujur tentang h diri dia yang kadang di dalam dunia kerja dan profesional Mas Bilal pasti akan melihat orang-orang apalagi kalau kita leader ya hanya orang-orang yang mau bicara hal baik tentang kita. Audiens yang mau memberikan pujian sama kita, klien yang selalu mengapresiasi performa kita. Tapi dalam hidup kita butuh loh orang yang jujur, yang mendebat kalau kita salah gitu. [terkesiap] Dan itulah makna dari tidak kesepian sesungguhnya orang-orang yang genuin melihat kita genuin juga itu menarik loh. Iya. Aku sempat dengar sempat dengar juga podcastnya Simon Sinek sama Terver Noah dia bilang, "H gimana tuh kayak lu punya banyak followers segala macam,
51:31 tapi kalau misalnya lu mau bragging susah kan nelepon siapa gitu." Iya. Misalnya kamu punya 100 orang teman yang kamu anggap teman gitu. Tapi kalau misalnya mau bragging paling yang kita ingat satu atau dua orang yang di mana ketika kita braging atau kita memamerkan pencapaian ke orang itu kita orang itu enggak insecure dan kita juga enggak ngerasa dia bakal jealous enggak sih? Betul karena itu udah teman yang kuat banget. Makanya tadi di level les 100 orang kalau mau cerita susahnya kita, versi buruknya kita mungkin di tiga empat orang. Tapi ya untuk memamerkan tadi kayak aku menang over ini aku gini gini gini itu lebih kecil biasanya. Betul. Dan akhirnya itu akan terseleksi dengan natural gitu, Mas Bilal. Iya. Enggak sih? Kayak dia akan bahagia atas kebahagiaan kita sebagai
52:17 temannya. Itu adalah teman yang menurut aku perlu dipertahankan. Jadi kalau kita ada perdebatan yang membuat dia hampir hilang, perjuangkan orang-orang itu sih. Orang yang mau bahagia ketika kita bahagia, yang secure sama dirinya meskipun dia mungkin tidak sesukses kita. Iya. Iya. Yang seseure itu gitu. Dan itu terjadi pada pasangan hidup juga. Kalau aku lihat banyak pernikahan yang gagal bukan karena satu baik dan satu buruk, tapi satu merasa secure dan tidak secure. H. Sehingga akhirnya pada saat ada satu yang bahagia, tujuannya bukan bahagia dia, tapi bahagia berdua. Ini jadi ngomongin pernikahan lagi ya. Karena kan entar aku tanyain situ sih. Menikah tu kan hubungan relasi pertemanan juga kan. Aku merasa suamiku adalah teman seumur hidupku yang semakin tua temanku makin dikit ya akhirnya lo
53:04 lagi gitu. Makanya aku sempat questioning sih tentang misalnya ada pasangan nih. Iya ini agak random tapi aku mau nanyain langsung. Oke. Enggak apa-apa. Ada pasangan yang di mana ini terkesan udah siap ini sudah siap gitu. Tapi kadang wanitanya agak dominan. Heeh. Sehingga perselingkuhan sering terjadi kan kayak si laki ini lari ke tempat lain gitu ya. Iya. Benar. Benar. Itu apa yang salah perah nih udah secure loh. Ini udah secure ni terlihat secure juga. Apakah ini justru lebih insecure? Makanya dia cari ke orang lain yang mungkin dia merasa aman atau biasanya gimana? Aku melihat perselingkuhan itu diawali atas insecurity yang berselingkuh. Oh ya. Jadi sebenarnya insecurity-nya itu macam-macam nih. Mungkin dia mendapatkan identitas dia atau siapa dia yang lebih
53:52 baik versinya ketika dia dengan orang yang dia selingkuhi tadi. Hm. Dan kebanyakan belum tentu selingkuhannya ini lebih baik versinya daripada pasangannya. Faktanya ya yang dia cintai itu bukan orang itu. Yang dia cintai adalah versi dia yang dia inginkan ketika dia bersama perselingkuhannya. Wow good point. Mungkin ketika dia bersama pasangan yang dominan tadi dia merasa tidak dihormati, dia merasa kalah. Dia merasa ketinggalan. Terus akhirnya dia ketemu sama orang yang membuat dia seperti bercermin melihat diri dia yang lebih oke. Yang dia cintai itu bukan pasangan selingkuhannya, tapi diri dia. Iya. Diri dia ketika dengan pasangan itu. Ya, betul. Karena ya kita tuh enggak sadar aja gitu. Kenapa akhirnya dia bersingkul lagi, bersingkulan itu kayak satu yang berulang kan. Karena yang nagih itu adalah ketika kita
54:39 melihat versi terbaik kita yang lebih, yang lebih, yang lebih. Makanya kalau sekali selingkuh biasanya enggak cuma sekali aja, kebanyakan gitu. Makanya jangan coba-coba gitu. [tertawa] Ikut panas nih kalau dengarnya. Jangan coba-coba ya. Karena orang penasarannya coba gitu coba coba. yang dia cintai itu diri dia versi yang dia inginkan dan itu enggak pernah puas kan. Iya. Ya, ya. Itu yang saya menarik sih karena selama ini aku penasaran kan kenapa ketika ada isu-isu perselingkuhan ya, terutama di dunia entertainment kali ya, kenapa yang si wanita ini sama pria ini malah wanita ini yang kayak speknya keren dan segala macam sudah ready justru yang pria ini berselingkuh dan banyak yang kedapatan juga selingkuhannya justru ya tidak selevel dengan si istrinya itu kan. Betul. Dan tahu enggak apa hubungannya walaupun ini kita ngomen pernikahan Mas
55:25 Bilal, hubungannya adalah sebenarnya yang berselingkuh itu sedang kehilangan arah hidupnya. Oke, sesuai sama pertanyaan berikutnya. Yes. Aku udah kayak cenayang ya. Sudah tahu apa yang kamu tulis. Iya. Luar [tertawa] biasa sih. Luar biasa. [terkesiap] Iya. Ya. Jadi itu orang yang sedang berselingkuh itu kalau aku temui di ruangan konseling itu atau di cerita-cerita kehidupan personal, teman, dia sedang kehilangan arah hidup, Mas. Hm. He. Sehingga dia enggak tahu, dia berusaha mencari versi yang dia inginkan. Kalau dia sudah tahu arah hidupnya, dia akan secure dengan pasangannya yang dia punya. Akhirnya dia berusaha untuk mengkomunikasikan. Namanya pernikahan tuh tidak mulus ya. Aku berapa tahun, berapa? 14 tahun aku hampir menikah dengan pasanganku. Dan banyak orang yang bertanya-tanya, "Kok bisa sih e suami
56:11 kamu tuh secure?" kamu kan aku week days di Jakarta ketemu ee pejabat director itu terus aku tanya suamiku pernah cemburu enggak gitu dia seekure itu karena dia sudah tahu arah hidup dia. Tapi kebanyakan ya semoga ya Allah menjaga kita gitu ya karena Allah baik gitu semoga dijaga. Tapi aku banyak yang aku temukan ini pasangannya oke banget loh. Kenapa ya kok sampai berselingkuh? Ya karena orang yang berselingkuh tuh sedang kehilangan arah hidupnya sehingga dia mencari versi yang dia inginkan melalui hubungan dengan orang lain dan itu biasanya akan sulit untuk berhenti. Mas Bilal mencari teman yang baik versi dia ya. Iya. Tadi tadi konteksnya ini kan berteman nih, berteman seumur hidup ya berteman. Tapi dia ngerasa bahwa
56:57 dalam pertemanan mungkin tidak selalu baik atau berjalan mulus. Benar. Dia cari teman baru. Dia lupa bahwa teman ini emang teman. Iya benar. Yang mungkin lebih banyak dengerin gitu. Makanya aku pun juga belajar untuk oke harus ingat-ingat bahwa sebaik-baik versi kita di luar sana, kita harus menjadi versi terbaik di rumah untuk orang yang paling pengin didengerin, yaitu pasangan dan anak kita. Itu yang PR nih. Makanya work life harmony dipertanyakan terus ketika Ibu bekerja. Hmm. Work life harmony [tertawa] ketika Ibu bekerja itu per tahun terakhir apa nih transisi atau pelajaran hidupnya? Heeh. pelajaran hidupnya adalah aku lelah ketika aku punya KPI dari peran-peranku di rumah.
57:44 Oke. Capek enggak sih aku punya KPI itu apa ya? Performance indicator. Aku punya patokan aku akan jadi istri yang begini. Padahal suamiku tidak menuntut tapi aku yang membuat ekspektasi itu gitu. Sendiri kayak tadi feeling juga tiba-tiba ya. Iya anak aku seolah-olah harus begini gitu. Nah, 14 tahun ini membuatku belajar bahwa kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk diterima oleh mereka. Nah, mereka akan mencintai kamu apa adanya gitu. Yang kamu butuhkan adalah jadilah dirimu yang bertumbuh, yang selalu belajar dari setiap kekuranganmu gitu. Itu kayaknya 14 tahun ini, Mas Bill. Hmm. Kadang-kadang tersentil dengan omongan anak Alfa ya, Asbun kayak, "Mommy, you don't need to be a perfect mom." Wis
58:29 itu pernah diate sama anakku gitu gara-gara aku apa gitu ya. Terus dia state itu gitu kayak what? Iya juga ya. Karena dia melihat ibunya yang selalu perfeksionis mungkin. He he. Ibunya yang menuntut dia untuk perfect mungkin tapi enggak sadar gitu. Tadi ke analisa membahas tentang orang-orang yang insecure tadi bisa jadi karena enggak tahu arah hidupnya, kehilangan arah hidup gitu. Tapi aku mau pindah konteksnya ke teman-teman yang mungkin bukan yang suka selingkuh atau enggak execute juga, tapi sedang ngerasa bahwa hari ini enggak baik-baik aja. Mereka ng-define dirinya ke analisa kayak aku lagi kehilangan diriku sendiri deh. Aku kayaknya sedang di lautan yang sangat teromang-ambing gitu ya. He.
59:14 Cara simpel untuk bisa terkonnect lagi dengan diri kita sendiri. Oke. Jadi tiga hal yang bisa kita lakukan kalau kita lagi kehilangan arah hidup. Yang pertama adalah cari lagi sebenarnya tujuan hidup kita tuh apa. Ibaratnya kalau kita lagi enggak ada di dunia ini, kita tuh mau dikenal sebagai apa sih kalau udah ketemu jawabannya? Yang kedua, cari pendukung kita untuk bisa jadi orang yang kita mau. Suruh mereka buat nulis tiga hal terbaik dalam hidup kita tuh apa. Dan kita kirimin ke dia. Ini ada studinya nih, Mas Bilal. He. Jadi, orang-orang depresi itu dikumpulin untuk bisa membuat dia bangkit lagi adalah ketika dia mendapatkan tiga hal terbaik dari tiga orang terbaik dalam hidupnya dan dia mengirimkan pesan yang sama. Cobain ini. Terus yang ketiga, just do
1:00:01 it. Lakuin aja action plan kamu sesimpel misalnya kamu lagi keilangan arah hidup, tetap kuliah, tetap bikin podcast, tetap bergerak, jangan stay di tempat karena kamu akan rungsing dengan pikiranmu kalau kamu hanya diam dan seolah-olah kamu adalah orang yang paling kehilangan arah hidup itu gitu. He. Sampai akhirnya ketika kamu melewatinya, oh ternyata kamu sedang hidup dalam hidupmu, cuma pemu tidak secepat biasanya. I ya. Setidaknya ada output meski kita lagi di fase enggak baik-baik aja gitu. Karena kalau enggak ba kalau kita terus bergantung pada mood, maka tidak ada output apapun dan akhirnya kita akan lebih ngerasa tidak baik-baik aja gitu ya. Iya, betul banget. Sebelum kita lanjut obrolan ini, dengerin aku sebentar. Buat kamu yang
1:00:48 punya ilmu kelas atau materi edukasi lainnya, tapi masih bingung gimana sharing atau ngajarnya biar lebih rapi dan enggak semuanya serba manual atau capek karena harus ngulang materi basic berkali-kali setiap ada peserta baru yang mau belajar dan kamu masih bingung gimana cara jualinnya, setengah sih aksesnya lewat apa sih? Belum lagi dari sisi pembeli. Kadang mereka juga bingung akses materinya dari mana, linknya malah tersebar atau harus nunggu dikirim secara manual. Aku punya solusi simpel untuk kamu bisa beresin masalah ini. Karena aku pernah di fase itu fitur e-course di link. Kamu bisa susun materimu jadi lebih rapi dan bisa diakses kapanpun oleh audiensmu, oleh pembelimu. Buat audiens yang masih pemula, mereka bisa mulai dari basic dan yang lebih paham mereka tuh bisa lanjut ke materi berikutnya. Kamu enggak perlu
1:01:33 lagi terus-terusin mengulang hal yang sama dari nol lagi. Dan serunya semuanya bisa langsung terintegrasi di satu tempat. materi diakses pembeli, pembayaran sampai halaman jualannya. Dan kenapa aku pilih Linkit? Karena UI-nya tuh easy to use ya, gampang dilihat dan mudah dipahami daripada platform lain yang pernah aku coba. Jadi, ilmu kamu itu enggak cuma selesai di satu sesi live doang, tapi bisa jadi produk digital yang terus berjalan dan terus bisa dikonsumsi oleh audiens kamu. Karena aku udah pakai fitur ini dan ini memudahkan hidup aku, aku juga mau membantu kamu untuk memudahkan hidup kamu. Langsung aja cobain fiturnya. Sekarang pertanyaan pertama dari Cynthia MLD. Gimana caranya bisa mencintai diri
1:02:19 sendiri lagi karena selama ini itu aku hanya bergantung pada pasanganku? Pertama, kamu harus ngakuin dulu ketika lagi broken heart tuh kan ya kita butuh waktu ya untuk bisa nangis, untuk bisa sedih, untuk bisa ngakuin kalau kita emang kehilangan dia. Karena kalau itu
…