0:00 Indonesia akan hancur, dan hanya Satrio Piningit yang mampu menyelamatkannya? Konon, seorang raja di abad 12 menulis ramalan yang melampaui zaman. Ia meramalkan mobil dan kereta, juga kemerosotan moral masyarakat modern. Ialah Prabu Joyoboyo. Benarkah dia Nostradamusnya Indonesia? Dan bagaimana cara kita mengenali satrio piningit, atau sang terpilih, bila ia muncul sebentar lagi? Oke, teman-teman, kita masih di Indonesia. Dan saat Raja Jayabhaya menggenggam kuasa, Genghis Khan, pendiri kekaisaran Mongol, lahir sebagai Temujin di Mongolia saat ini Yuk!
0:48 Munculnya zaman Kaliyuga atau masa kehancuran, menggegerkan seisi pulau Jawa. Peperangan berkobar di mana-mana, hingga alam semesta menyerukan datangnya sang penyelamat: Wisnu! Kekacauan ini digambarkan oleh Kakawin Hariwangsa, yang ditulis di Jawa pada abad 12. Sepertinya, di akhir pemerintahan raja ke-3 Panjalu, yakni Sri Bameswara, terjadi banyak pemberontakan akibat perebutan tahta, ditambah serangan dari Kerajaan Janggala, musuh bebuyutan mereka. Di situasi inilah, Raja Jayabhaya tampil layaknya Wisnu yang memberantas kejahatan dan mengembalikan Jawa pada stabilitas. Prasasti Hantang (1135) menegaskan bahwa Kerajaan Panjalu akhirnya bangkit dan menang atas musuh-musuhnya.
1:34 Bahkan, wilayah Hantang yang membawahi 12 dusun, diberi anugerah sima karena semasa peperangan, mereka tetap setia menjunjung panji-panji sang raja. Kakawin Bharatayuda (1157) menggambarkan, sang raja menggelar upacara persembahan di medan perang, di mana hiasan rambut musuh menggantikan bunga, dan istana mereka dibakar laksana api pemujaan. Para musuh pun gemetar, dan sang raja dijuluki Bhatara Jayabhaya. Raja Jayabhaya adalah raja Panjalu alias Kadhiri yang masyur, meski hanya meninggalkan 3 prasasti, yakni Prasasti Hantang (1135 M), Prasasti Talan (1136 M), dan Prasasti Jepun (1144 M). Namun jujur ya, mungkin bukan karena keperwiraan ini, Raja Jayabhaya dikenang hingga sekarang. Hayo… siapa yang lebih familiar dengan tokoh Prabu Joyoboyo si jago ramal?
2:22 Yang konon meramalkan perkembangan teknologi, juga munculnya Satrio Piningit, alias tokoh pamungkas, yang dinanti-nantikan karena diyakini mampu membawa kejayaan bagi nusantara. - Wah, benarkah itu? Makanya, yuk kita cari tahu, ramalan Joyoboyo itu valid gak? Apa Joyoboyo dan Jayabhaya itu sama? Dan di mana sebenarnya satrio piningit berada? - Ayo. Siapa tahu satrio piningitnya muncul tiba-tiba. \ - Langsung saya pilih jadi presiden! Hehehe. Tapi tahu nggak, di internet, banyak banget yang membahas Raja Jayabhaya. Namun dicampur aduk dengan berbagai mitos dan legenda. - Iya kalau gado-gado, dicampur enak… - Kalau ini bikin bingung! Padahal, dalam menyusun sejarah penting banget metode kritik sumber kita terapkan,
3:07 seperti yang pernah kami ulas pada tautan di atas atau di deskripsi. Coba perhatikan peringkat sumber ini: mitos dan legenda, juga sastra dari zaman kemudian, masuk dalam geng sumber sekunder. Sumber ini lemah, bahkan harus kita tolak. Untungnya Raja Jayabhaya didukung sumber primer, berupa prasasti dan karya tulis sezaman. Tapi Raja Jayabhaya, ya, bukan Prabu Joyoboyo si jago ramal, apalagi Joyboy. Apa kata sumber primer tentang Raja Jayabhaya? Ini dia! JAYABHAYA, RAJA SENIMAN & EDITOR NASKAH? Dengan takzim Mpu Panuluh membacakan kakawin di hadapan Raja Jayabhaya. Meski ini debutnya sebagai rakawi, atau penulis kakawin, Mpu Panuluh disembur habis-habisan karena sang raja menganggap naskahnya jelek.
3:54 Kejadian yang tertuang dalam Kakawin Hariwangsa (abad 12) ini, menyiratkan sesuatu: Raja Jayabhaya sangat kritis mengenai sastra. - Lebih sadis dibanding dosen penguji skripsi ya Jayabhaya hidup di masa ketika seni sastra sedang subur-suburnya. Dan kakawin adalah karya sastra bermetrum yang ditulis di atas lontar serta memiliki tujuan spiritual bagi penulisnya. Di masa itu hidup dua rakawi masyur, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, yang menulis Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Bharatayuddha. Dari dua kakawin ini kita tahu, Raja Jayabhaya adalah pembimbing para rakawi. Bahkan Mpu Panuluh mengaku dididik langsung oleh sang raja. Kakawin Hariwangsa berkisah tentang perkawinan Krisna dan Rukmini. Sedang Kakawin Bharatayuddha tentang perang besar Pandawa melawan Kurawa,
4:43 dan merupakan kolaborasi Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Paruh awal naskah ini digarap oleh Mpu Sedah sesuai order sang raja. Namun belakangan Mpu Sedah dipecat, dan diganti oleh Mpu Panuluh. - Wah ada apa nih, kok main pecat-pecatan? Gak jelas sih. Mpu Panuluh sendiri mengaku gaya tulisan Mpu Sedah sangat indah, sayang keindahan itu diakhiri kepahitan. Nah, kata “kepahitan” inilah yang memicu dugaan sejarawan tentang adanya skandal. Konon, ketika memeriksa naskah, sang raja menemukan gambaran istri tokoh Salya sangat mirip dengan permaisurinya. Alhasil, Mpu Sedah dituduh mata keranjang dan dihukum mati. Namun itu hanya dugaan tanpa dasar ya, karena sumber sejarahnya tidak ada. Nah, selain mendidik dan mendukung para rakawi,
5:31 Kakawin Bharatayuddha (1157) juga mencatat, Raja Jayabhaya jago mencipta tembang dan melagukannya. Malah tembang ciptaan sang raja populer di kalangan rakyat. - Wah, ini raja apa artis? Dua-duanya boleh. Dan saya duga inilah penyebab nama Jayabhaya masih dikenang masyarakat Jawa hingga di luar masa klasik. Apalagi, ada fakta lain yang gak kalah mengejutkan, karena Raja Jayabhaya juga punya… …PENASEHAT SPIRITUAL BERALIRAN BHAIRAWA? Saat Jawa di ambang kehancuran, Dewa Wisnu memutuskan turun ke dunia menjadi Raja Jayabhaya. Ia diiringi Rsi Agastya, yakni manifestasi Dewa Siwa sebagai guru semesta. Demikianlah yang ditulis Mpu Panuluh tentang Raja Jayabhaya
6:16 dalam Kakawin Hariwangsa (abad 12). Ini menyiratkan Raja Jayabhaya memiliki Purohita, atau penasehat spiritual di istana. Jabatan itu disebut pangajyan sri maharaja, atau pengajar sri Maharaja. Menurut Prasasti Hantang (1135) dan Prasasti Talan (1136), sang pengajar menjalankan aliran Bhairawa, dan ini menjadi catatan tertua tentang bhairawa di Jawa Kuno. - Wah, berarti Jayabhaya kayak Kertanagara, penganut Tantra Bhairawa, makan daging, mabuk, nge-seks. Wah, beda lho antara Tantra, Bhairawa, dan Pancamakarapuja, jangan dicampur aduk. Nanti dicek ya penjelasannya pada tautan di atas atau di deskripsi. Kemungkinan Raja Jayabhaya adalah Waisnawa, atau pemuja Dewa Wisnu, seperti leluhurnya, Raja Airlangga.
7:03 Buktinya? Ia dipuji sebagai titisan Wisnu oleh para rakawi. Gelarnya juga menyandang kata madhusudanawatara. Menurut kitab Padma Purana (abad 3-4 M), madhusudana adalah gelar Dewa Wisnu. Begitu kuat, ya, toleransi di Kediri Kuno? Raja Airlangga memuja Wisnu, tapi gurunya, Mpu Baraddah, menganut Buddha Mahayana. Raja Jayabhaya, yang juga waisnawa, malah didampingi guru penganut Siwa Bhairawa. Dan, selain toleran pada aliran Bhairawa, Raja Jayabhaya juga… PEMERSATU JANGGALA-PANJALU YANG BERAKHIR TRAGIS Ketika Maharaja Airlangga (990 - 1049 M) memutuskan membelah kemaharajaannya menjadi Janggala dan Panjalu, Jawa di abad 11 pun memasuki masa ter-epik dalam sejarah. Peperangan berkecamuk silih berganti
7:50 selama lebih dari 1 abad, karena dua kerajaan ini berebut hegemoni atas Jawa. Awalnya, Janggala berkibar. Sementara raja pertama Panjalu, Sri Samarawijaya (1042-1051), hanya mampu berkuasa 9 tahun, dengan akhir yang gak jelas, kemungkinan tewas dalam peperangan. Raja Panjalu berikutnya, Sri Jitendrakara (1051-1112), ternyata sanggup memporak-porandakan istana Janggala hingga penghuninya buyar menyelamatkan diri. Ia memerintah cukup lama, sekitar 61 tahun, bahkan lebih lama dari Hayam Wuruk (1350-1389), yang hanya berkuasa 39 tahun di Majapahit. Lalu, pada 1112 M, menyeruak nama Sri Bameswara sebagai raja Panjalu. Seperti pendahulunya, akhir hidup sang raja masih misterius,
8:36 dan mungkin tragis. Apalagi Prasasti Pandlegan I yang terbit pada 1117 M masih bercerita tentang perang. - Kok semua gak jelas nasibnya? Nah, pada tahun 1135 M, Prasasti Hantang mengabarkan bahwa tahta Panjalu telah dikuasai Raja Jayabhaya (1135-1159). - Wah ini dia, siap-siap diramal - Satrio Piningitnya tahu-tahu muncul! Dalam prasasti ini, ada semboyan yang sangat terkenal. “Panjalu Jayati”, yang berarti “Panjalu menang!” Semboyan ini bahkan masih diingat di zaman Singhasari-Majapahit dengan istilah “panjaluwisaya”, yang artinya kurang lebih sama. Dari sini sejarawan menduga, Jayabhaya sang raja Panjalu, berhasil mengalahkan Janggala, juga menyatukan dua kerajaan ini.
9:23 Bagi saya, yang pasti, Jayabhaya mampu membawa stabilitas bagi Jawa hingga memungkinkan kesusastraan berkembang. Ini mirip banget dengan Raja Airlangga, yang berhasil mengembalikan kedamaian di tanah Jawa usai dihantam Mahapralaya. Namun, yang membedakan adalah akhir kekuasaannya. Berakhirnya pemerintahan Airlangga tercatat jelas dalam Prasasti Gandhakuti (1042 M) dan Prasasti Sumengka (1059 M). Namun, ujung kekuasaan Jayabhaya masih misteri. Saya duga terjadi pemberontakan yang menyebabkan raja ini mangkat. - Katanya Joyoboyo bisa meramal sampai Indonesia modern, kok kalah? Eh, dari tadi kita ngomongin Raja Jayabhaya, lho, bukan Joyoboyo si jago ngeramal. - Lho kan sama aja, Mas Asisi?
10:08 Siapa bilang??? Terus ikuti ya teman-teman, kita akan bedah apakah Joyoboyo si jago ngeramal sama dengan Prabu Jayabhaya dalam prasasti? Apakah ramalan Joyoboyo valid? Dan siapakah satrio piningit yang akan menyelamatkan bangsa ini? Namun sebelumnya jangan lupa untuk SUBSCRIBE, LIKE, dan SHARE LINK video ini. Jangan re-upload ya! Klik juga link di atas atau fitur Super Thanks bila Anda ingin mendukung dalam hal pendanaan, untuk mengembangkan kanal yang akan memperkaya perspektif Anda. Saat Jawa memasuki zaman baru, dan masyarakatnya berganti keyakinan serta bahasa, ingatan akan peradaban Masa Klasik pun tergerus. Namun nama Jayabhaya tidak hilang ditelan perubahan. Tomi Pires dalam Suma Oriental (1512) mencatat, rakyat Jawa di awal abad 16 masih mengingat nama Jayabhaya.
10:55 Namun ya hanya sebatas nama, sebagai raja yang pernah berkuasa di Kediri. Lho, cuma nama toh? Katanya pintar meramal? Harus dibedakan, ya, antara Sri Maharaja Jayabhaya, tokoh historis dalam prasasti, dengan Prabu Joyoboyo si jago ngeramal. Karena sosok Prabu Joyoboyo si jago ngeramal, sudah bercampur dengan banyak mitos, Misalnya… JOYOBOYO KETURUNAN PANDAWA? Prabu Joyoboyo adalah sosok hasil kreasi para pujangga Jawa Baru, dalam naskah-naskah babad mereka. Misalnya, Babad Tanah Jawi (1722 M) menggambarkan Joyoboyo sebagai keturunan Pandawa. Ayahnya bernama Gendroyono, dan anaknya bernama Joyowijoyo. Bohong! Prasasti mana yang bilang seperti itu?
11:41 Jelas tidak ada. Tapi wajar saja, toh Babad Tanah Jawi ditulis 6 abad setelah era Raja Jayabhaya, jadi jelas itu sumber yang lemah untuk sejarah kerajaan Kadhiri. Siap! Lanjut, Mas! Babad lain yang menceritakan Joyoboyo adalah Babad Kadhiri (1832 M). Agak lain dengan Babad Tanah Jawi, di sini Joyoboyo bukanlah keturunan siapa-siapa. Dia Bethoro Wisnu, yang menjelma menjadi manusia. Anaknya bernama Ratu Pagedhongan. Negaranya bernama Daha, dan keratonnya disebut Mamenang, artinya selalu menang, siapa pun lawannya. Mungkin karena prasasti Jawa Kuno saat itu belum diterjemahkan Belanda, babad ini tidak mengenal nama Panjalu. Sebentar, Mas? Lalu pujangganya tahu Joyoboyo dari mana? Ini menariknya!
12:27 Ternyata… PUJANGGA BABAD KADHIRI DI-PRANK ORANG KESURUPAN Mas Ngabehi Purbowijoyo, pejabat di Kediri pada tahun 1832, ditugasi pemerintah Hindia Belanda menyusun kitab sejarah Kediri. Purbowijoyo pun meminta bantuan Ki Dermokondo, seorang dalang wayang klithik. Berhubung keduanya gak ngerti metodologi sejarah, mereka pun sepakat… pakai saja cara supranatural. Roh Buto Locoyo dipanggil untuk merasuki seorang penabuh gamelan, dan racauannya ditulis sebagai Babad Kadhiri. Racauan itu menyebut, Prabu Joyoboyo dicintai seorang raksasa bernama Nyai. Naasnya, sudahlah cintanya bertepuk sebelah tangan, raksasa ini tewas dikeroyok warga desa. Prabu Joyoboyo pun iba dan ia meminta sebuah monumen dibangun untuk mengenang raksasa itu.
13:16 Konon, itulah kisah di balik pembuatan arca Totok Kerot, yang pernah kami telisik pada tautan di atas atau di deskripsi. Menurut Babad Kadhiri, setelah berkuasa cukup lama, Prabu Joyoboyo moksa, dan keratonnya pun berpindah ke Medang. Katanya lagi, Prabu Joyoboyo meninggalkan 4 candi, yakni candi di dusun Prundung, Reco Kapal di dusun Bogem, Candi Tegowangi, dan Candi Surowono. Padahal Candi Tegowangi dan Surowono itu asli peninggalan Majapahit, dan pernah kami telisik pada tautan di atas atau di deskripsi. Wkwkwk. Kena prank orang kesurupan! Yang penting kini kita bisa membedakan antara Maharaja Jayabhaya yang historis, dengan Prabu Joyoboyo yang ahistoris,
14:02 atau tidak sesuai catatan sejarah. Tanpa menafikan, bahwa sosok Prabu Joyoboyo sangat lekat di benak masyarakat karena ramalan-ramalannya, yang dikenal dengan… JONGKO JOYOBOYO: KITAB RAMALAN TERHEBAT, NOSTRADAMUS LEWAT? Ramalan Joyoboyo tersusun dari berbagai kitab anonim, yang diklaim, ditulis oleh Prabu Joyoboyo. Isinya berupa kronologi berbagai zaman dalam sejarah dan masa depan. Agar selamat dari perubahan zaman, kita diminta untuk “eling lan waspodo”, atau selalu ingat kepada Tuhan dan berkesadaran. Menurut Babad Kadhiri, ramalan-ramalan itu bernama Serat Joyoboyo dan terdiri dari 3 kitab. Yang pertama dipegang Syekh Subakir. Yang kedua disimpan Prabu Joyoboyo.
14:47 Dan yang ketiga dimiliki Prabu Banjaransari, penguasa terakhir Jenggolo yang pindah ke Galuh. Meski Babad Kadhiri adalah racauan hasil kesurupan yang gak valid, dan tokoh-tokohnya kebanyakan fiktif, cerita ini paling enggak memberi kita gambaran. Bahwa pujangga Jawa Baru pun kebingungan, saking banyaknya versi kitab ramalan Joyoboyo. Menurut legenda, kitab ramalan Joyoboyo tertua disusun oleh Empu Salukat dan dilanjutkan Sunan Giri II. Namun legenda ini tidak berdasar. Menurut J.J. Ras (1926 - 2003), yang terawal dari kitab ramalan Joyoboyo adalah Serat Jayabaya yang diduga karangan Pangeran Adilangu. Meski sebenarnya kitab ini anonim, dan tidak lebih tua dari abad 18 M. Pendapat lain menyebut ramalan Joyoboyo yang ori adalah Kitab Asrar,
15:34 yang konon disusun tahun 1613 M, Meski ini juga tidak ada buktinya. Kitab Asrar sendiri ngakunya ditulis pada zaman Prabu Jayabhaya, tapi yang diceritakan tetap Joyoboyo versi Babad Tanah Jawi. Anehnya, Kitab Asrar sudah bercerita soal penjajahan Belanda dan uang Inggris. Ini petunjuk bahwa kitab ini sebenarnya ditulis setelah abad 19, saat Jawa sempat dijajah Inggris. Belakangan muncul Serat Jongko Joyoboyo, yang bahkan berisi ramalan jaman edan dan modernitas. Mas Asisi, Apa aja sih isi ramalan Joyoboyo? “Kreto mlaku tampo jaran”, alias mobil. “Tanah Jowo kalungan wesi”, alias rel kereta api. Pinterrr. Sebagian besar ramalan Joyoboyo berisi tentang dekadensi masyarakat modern.
16:22 Tanpa mengurangi rasa hormat bagi mereka yang meyakininya, saya duga, itu semua bukan ramalan sungguhan, melainkan rekaman zaman dari kemerosotan moral yang terjadi pada masa kolonial, antara abad 19 hingga 20. Kita perlu paham, di masa kolonial, ada banyak faksi kekuatan yang bermain, mulai dari priyayi, agamawan, hingga kaum kolonialis. Dan di tengah perang kepentingan itu, rakyatlah yang menjadi korban. Mereka terhisap asetnya, kemerdekaannya, hingga mentalnya. Di sisi lain, orang Jawa terkejut oleh derasnya gaya hidup bebas dan modernitas yang dibawa bangsa Eropa. Ada mobil, rel kereta api, hubungan sejenis, candu, dan lain sebagainya.
17:08 Ini semua membuat sang pujangga prihatin, hingga lahirlah kritik sosial yang dibungkus dalam ramalan-ramalan Joyoboyo, meskipun ia sendiri tidak begitu tahu tentang Raja Jayabhaya dan sekadar mencomot apa yang dibakukan Babad Tanah Jawi tentang Joyoboyo. Jadi, seolah-olah Jayabhaya di abad 12 mampu meramal melampaui zaman… Padahal sebenarnya sang pujangga tadi sedang melihat modernitas itu terhampar di depan hidungnya. Jika terbit di zaman sekarang, mungkin kita akan menyebutnya fiksi sejarah. Aslinya itu cerita fiktif atau rekaan, tapi dibuat dengan meminjam tokoh atau peristiwa sejarah sungguhan. Owalah, kayak Gadis Kretek! Juga film Titanic! Dalam hal ini, Raja Jayabhaya dimodif menjadi Prabu Joyoboyo si jago ngramal.
17:56 Tapi, gak hanya mengecam keadaan, pujangga Jongko Joyoboyo juga dengan cerdas menabur harapan, akan datangnya satrio piningit Sebagai Ratu Adil, satrio piningit akan mengembalikan kegemilangan nusantara. Sayangnya, tidak ada kesepakatan di antara kitab-kitab yang diklaim sebagai ramalan Joyoboyo, tentang ciri-ciri satrio piningit. Serat Jongko Joyoboyo (abad 20 M) misalnya, mencatat bahwa satrio piningit akan turun di lereng timur Gunung Lawu, membawa trisula Weda, dan ditemani Sabdo Palon. Trisula Weda, menyiratkan kebangkitan kepercayaan lama. Kitab ini sezaman dengan Serat Darmogandul, yang juga mengangkat Sabdo Palon, tokoh yang mengkritik para penyebar Islam, serta pernah kami ulas pada tautan atas di deskripsi.
18:42 Sebaliknya, Kitab Asrar yang gak jauh dari masa penulisan Serat Jongko Joyoboyo, justru mengunggul-unggulkan bangsa Arab. Kitab ini menyebut satrio piningit nanti akan lahir di kota Mekah, dan beristana dua, di Mekah dan di Jawa. Semua kitab ini diperkirakan ditulis pada abaad 19 hingga 20 M. Kok saya jadi curiga. Apa jangan-jangan keberadaan begitu banyak versi Ramalan Joyoboyo, menyiratkan adanya perang ideologi di antara para pujangganya? Jadi, masih percaya ramalan? Terlepas dari valid-tidaknya ramalan Joyoboyo, kepercayaan akan satrio piningit sesungguhnya berakar dalam di kesadaran masyarakat Jawa. Kakawin Hariwangsa, yang ditulis Mpu Panuluh di abad 12,
19:28 menyebut bahwa setiap kali Jawa dilanda kekacauan, Dewa Wisnu turun ke bumi dalam berbagai wujud untuk mengembalikan keseimbangan. Saya duga, inilah dasar dari keyakinan akan adanya satrio piningit dan Ratu Adil, yang lestari dalam pertunjukan wayang. Hingga, ujung-ujungnya digunakan para pujangga Jongko Joyoboyo. Mungkin mereka hendak memberi harapan bagi masyarakat Jawa, yang pada masa kolonial, hancur oleh perubahan zaman. Mereka sadar, harapan mampu menguatkan siapa pun yang tertindas dan terpuruk. Karena di mana ada harapan, di situ ada keberanian untuk mencari jalan keluar. Maka, sejatinya, satrio piningit adalah kita semua, Anda dan saya, yang berani untuk bertindak.
20:14 Bekerja, bersyukur, berbuat baik, namun tidak diam saat melihat ketidakadilan. Mari kita terus berharap akan masa depan yang lebih baik, dan mewujudkannya dengan tindakan nyata.