0:00 Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwasanya Astra ini merupakan salah satu raksasa perusahaan multisektor holding yang berdampak signifikan terhadap perekonomian di Indonesia. Dengan beragam bisnis yang dimiliki, Astra ini telah menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat luas melalui produk dan jasa layanan yang dimilikinya. Dalam keseharian hidup, masyarakat Indonesia ini menggunakan sepeda motor, menggunakan mobil, jalan tol, printer, hingga layanan pembiayaan, perbankan serta asuransi milik Astra. Tetapi siapa sangka ternyata terdapat masa lalu yang gelap dalam sejarah Astra dalam perjalanan menjadi salah satu raksasa di Indonesia. Pada video ini kita akan membahas topik tersebut. Kita akan belajar banyak dari topik yang pertama adalah kelahiran Astra. Topik yang kedua
0:46 kita akan membahas perjalanan ekspansi bisnisnya. Topik yang ketiga, kita akan membahas krisis yang terjadi hingga topik yang keempat, runtuhnya Astra sampai harus terjadi perpindahan kepemilikan dari tangan konglomerat lokal menjadi pihak asing. Saya percaya bahwasanya dari setiap kejadian yang tidak mengenakkan dan tidak menyenangkan akan menjadi hal yang positif apabila kita benar-benar mau menerimanya dan belajar dari kesalahan yang kita buat. Bagi Bapak Ibu yang baru join, langsung saja klik subscribe supaya ke depannya kita bisa belajar bersama. Topik yang pertama ini terjadi sejak kelahiran Astra di tahun 1957 sampai di tahun 1970-an. Kita batasi topik ini
1:31 sampai perusahaan Astra ini memiliki bisnis yang cukup mapan, tetapi sebelum memasuki fase ekspansi yang lebih agresif. Setelah kemerdekaan Indonesia, kondisi ekonomi di Indonesia ini masih sangat bergantung pada sektor perdagangan konvensional. Banyak pengusaha lokal termasuk etnis Tionghoa ini melihat peluang dalam sektor impor barang konsumsi yang saat itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Astra dimulai pada tanggal 20 Februari 1957 oleh Bapak William Suryajaya atau nama lain dari Cakian Liong dan saudaranya adalah Ciaaki Kiantie bersama dengan beberapa rekan termasuk Liem Penghong atau Bapak Profesor Hardiman. Nama awal dari perusahaan Astra ini adalah PT Astra Internasional INC dengan bentuk
2:17 perusahaan adalah perdagangan umum. Dari informasi yang beredar yang kita peroleh, modal awal yang digunakan oleh Astra ini sekitar Rp2,5 juta pada saat itu. Nah, ini kan kelihatannya seolah-olah kecil ya. Tetapi kalau kita hitung secara indikatif model tersebut kita konversi ke dalam US Dollar di saat itu, lalu kita sesuaikan nominalnya dengan tingkat inflasi sampai sekarang dan kita kembalikan lagi ke Indonesian rupiah, maka nilainya sekitar Rp9,57 miliar. Mungkin kalau ada pertanyaan, kenapa tidak langsung kita hitung saja pakai pertumbuhan M2 atau pakai inflasi di Indonesia? Karena jawabannya sederhana, datanya cukup terbatas di tahun tersebut, di tahun 1957 ya. Jadi saya hitung pakai pendekatan yang lain seperti yang tadi sudah kita jelaskan. Tapi dari sini kita bisa ketahui
3:02 bahwasanya modal awal bisnis Astra ini sebetulnya bukan nominal yang kecil. Dengan modal bisnis yang dimiliki tersebut digunakan untuk berjualan kopra, berjualan minuman ringan, kornet, dan produk-produk konsumsi rumah tangga lainnya. Astra ini tidak membuka toko retail seperti swalayan, tapi fokus utama bisnis ini adalah mendistribusikan dalam jumlah besar. menyalurkan barang dari produsen ke pasar, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jadi, model bisnisnya ini lebih ke B2B. Dan Bapak William sejak awal ini menekankan pentingnya integritas, kerja keras, dan membangun usaha dengan profesionalisme yang tinggi. Meskipun latar belakang perusahaan Astra ini sebagai perusahaan perdagangan, tetapi Astra tidak ingin hanya sekedar jual beli cepat, melainkan Astra memiliki cita-cita untuk membangun
3:49 industri yang lebih bermanfaat untuk bangsa Indonesia. beberapa nilai keberlanjutan yang bisa kita petik dan kita bisa terapkan bahkan relevan sampai sekarang ya. Astra ini tidak mengambil keuntungan secara instan. Yang kedua, Astra ini mengutamakan hubungan jangka panjang dengan mitra dan pelanggannya. Serta yang ketiga, Astra selalu menjaga kualitas dan nama baik perusahaan. Nilai-nilai positif tersebut membuat reputasi bisnis Astra menjadi semakin kuat dan semakin baik. Hingga pada akhirnya di tahun 1950 sampai awal tahun 1960-an, Astra mulai meraih kepercayaan dari perusahaan luar negeri sebagai distributor produk untuk alat pertanian dari Inggris dan juga produk konsumsi lainnya dari Jepang dan juga dari Eropa. Singkat cerita, bisnis Astra ini terus bertumbuh dan reputasinya menjadi
4:34 semakin kuat hingga tahun 1969, Astra mendapatkan hak distribusi Toyota di Indonesia. Mungkin kalau kita bisa lihat secara garis besarnya tahun 1957 berdiri baru dapat hak distribusi Toyota baru dipercaya sama Toyota itu 1969 12 tahun membangun bisnis ya yang mana hak distribusi dari Toyota ini menjadi titik balik yang sangat penting bagi Astra karena setelah itu Astra mendirikan PT Toyota Astra Motor untuk mendistribusikan kemudian merakit mobil Toyota terutama saat itu adalah mobil Toyota Kijang. Lalu pada tahun 1973, Toyota Kijang ini mulai diinisiasikan untuk dirakit di dalam negeri. Hal ini sekaligus menjadi awal dari industri otomotif lokal di Indonesia.
5:23 Setelah sukses membangun kemitraan strategis dengan Toyota di sekitar tahun 1969, Astra berkembang menjadi pelaku penting di industri otomotif Indonesia. Astra mulai merakit mobil Toyota Kijang secara lokal yang mana produksi pertamanya itu baru terjadi pada tahun 1977. Ternyata hal ini disambut sangat baik oleh konsumen dan masyarakat di Indonesia karena dinilai cocok untuk keluarga dan bisnis kecil yang ada di Indonesia. Di sisi sepeda motor sendiri, Astra mengembangkan PT Federal Motor yang mana ini merupakan cikal bakal dari AHM atau Astra Honda Motor dan mulai merakit motor Honda ini pada tahun 1971 yang mana ini berarti lebih awal ya. Selain mobil Toyota dan motor Honda, Astra juga menjadi distributor dan
6:08 perakit mobil Dahetsu serta Isuzu serta sepeda motor Suzuki melalui jaringan afiliasi bisnisnya. Dengan berbagai kemitraan yang saling menguntungkan ini menjadikan Astra sebagai pemilik portofolio otomotif terlengkap di Indonesia. Dari kendaraan roda dua, kendaraan bisnis ringan, hingga kendaraan penumpang Astra semuanya punya. Pada saat itu, Astra berada pada jalur pertumbuhan yang pesat karena bisnis saat itu masih sangat hijau dan Astra mampu memaksimalkan peluang yang ada. Di sekitaran tahun 1980-an, Astra secara sistematis melebarkan sayap ke sektor industri strategis seperti sektor perdagangan alat berat dan pertambangan. Astra menjadi distributor eksklusif alat berat Komatsarsu dari Jepang. Dengan mengantongi kesepakatan tersebut, ya
6:54 Astra mendirikan United Tractors yang sekarang mungkin Bapak, Ibu serta penonton sudah tahu juga kodenya adalah United Tractor UNTR. ya, anak usaha di sektor alat berat yang mana ini pada akhirnya juga masuk ke ranah kontraktor tambang melalui PT Pama Persada Nusantara. United Tractor melakukan IPO pada tahun 1989 dan menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi Astra Grup. Dengan bisnis yang terus berkembang pesat pada distribusi otomotif serta alat berat ya, Astra menyadari pentingnya pembiayaan bagi para konsumennya. Akhirnya Astra mendirikan ACC atau Astra Credit Companies untuk menjembatani pembiayaan yang dibutuhkan oleh para konsumen. Ya, bisnis pembiayaan ini kemudian berkembang pesat menjadi perbankan, asuransi, dana pensiun. Perkembangan
7:39 dari sektor keuangan ini tidak hanya terbatas pada para konsumennya, tetapi juga untuk operasi internal Astra yang menjadi semakin efisien. Tidak berhenti di situ, Astra tidak puas hanya sekedar merakit dan mendistribusikan. Akhirnya Astra juga membangun manufaktur untuk produk AKIGS Astra, suku cadang, Federal Parts, dan juga Astra Autopars, sistem rem, suspensi, kaca mobil, dan produk turunan lainnya. Langkah integrasi vertikal ini dilakukan untuk mengamankan pasokan sekaligus meningkatkan margin keuntungan bagi Astra Group. Dan seolah tidak habis akal, Astra juga melebarkan sayap ke bisnis perkebunan atau agribisnis serta Astra juga masuk ke bisnis IT. Astra masuk ke industri kelapa sawit melalui Astra Agrolestari yang mengelola
8:26 ribuan hektar lahan di Sumatera dan Kalimantan yang mana awalnya Astra itu mengelola bisnis ini sebagai media diversifikasi bisnis saja. Namun kelak sampai di saat ini juga menjadi salah satu motor laba bagi Astra Group. Sedangkan pada bisnis IT sendiri Astra mendirikan unit IT dan telekomunikasi untuk memperkuat jaringan logistik dan distribusi barang. Pada tahun 1990, Astra ini melakukan IPO yang menarik perhatian besar karena menandakan konglomerasi lokal masuk ke pasar modal secara modern dan transparan. Saat itu Astra Grup ini menjadi salah satu grup usaha terbesar di Indonesia bersama dengan Salim Grup. Ada juga Lipo Grup, Jarum Grup, dan juga Sinarmas Grup. Sebagai informasi tambahan pada dekade tersebut ya di tahun 1980 sampai 1990
9:12 perolehan revenue dari Astra ini mengalami pertumbuhan yang fantastis yaitu sekitar R87 miliar di tahun 1980 menjadi Rp4,3 triliun di tahun 1990. Pada tahun 1990, Astra ini resmi melantai di Bursa Efek Jakarta atau sekarang namanya adalah Bursa Efek Indonesia. Saat itu Astra adalah salah satu emiten terbesar di bursa dan Astra menjadi simbol kebanggaan pengusaha nasional serta swadaya ekonomi Indonesia. Jadi semahyur itu ya saat itu. Astra ini dipimpin oleh Bapak William Suryajaya yang merupakan figur sentral yang dihormati secara luas. Tetapi Astra akan menghadapi badai besar
10:00 yang justru datang dari arah yang tidak terduga. Kita mulai cerita ini dari Bang Suma. Di luar Astra, keluarga Suryajaya ini memiliki Bank Suma yang merupakan bank swasta dengan pertumbuhan yang sangat cepat. Kembali di tahun 1979, Bapak Edward Suryajaya anak dari William Suryajaya ini mendirikan Suma International Bank LTD di Port Villa Vanuatu dengan modal sekitar 25 juta US dar. Edward Suryajaya kemudian mendirikan lembaga keuangan di Hongkong dan Filipin untuk membangun fondasi regional sebelum memasuki pasar di Indonesia. Pada tahun 1988, Bapak Edward Suryajaya ini mengakuisisi Bank Agung Asia yang mana saat itu merupakan bank
10:45 yang sedang bermasalah dan mengubahnya menjadi bank suma. Aset bank tersebut meningkat sekitar Rp200 miliar menjadi Rp874 miliar menjelang akhir tahun 1990. Singkat cerita, Bapak Edward Suryajaya ini memiliki kendali yang sangat besar atas Bank Suma dan sering melewati prosedur bank konvensional serta komite kredit. Akibat pengelolaan bisnis tanpa kehati-hatian, banyak proyek yang bermasalah, terutama pada sektor konstruksi dan juga sektor properti. Saat itu diperkirakan sekitar 1 sampai R1,2 triliun pinjaman ini macet dari Rp1,5 triliun kredit yang disalurkan. NPL-nya berarti besar sekali ya saat itu. Sampai pada akhirnya di 14 Desember
11:33 1992 Bank Indonesia selaku bank sentral ini mencabut izin usaha dari Bank Suma dan resmi dilakukan likuidasi hanya 4 tahun dari dilakukannya akuisisi masuk ke pasar Indonesia. Saat itu aset bank itu hanya tersisa sekitar Rp700an miliar jauh dari total utang kepada nasabahnya sekitar R,45 sampai R,65 triliun. William Suryajaya selaku ayah dari Edward Suryajaya ini pada akhirnya mengambil alih Bank Suma pada Juni 1992 dan menjual 100 juta saham Astra kepada konsorsium pengusaha dengan nilai transaksi di bawah harga pasaran. Singkat ceritanya ya karena Bank Suma membutuhkan likuiditas, membutuhkan uang untuk membayar utangnya ke nasabah. William Suryajaya pada akhirnya kehilangan kendali atas Astra perusahaan
12:19 yang beliau bangun selama 35 tahun lebih. William Suryajaya memilih menyelamatkan reputasi dan kepercayaan publik dengan kehilangan mahkotanya sendiri. Setelah tragedi Bang Suma ini, William Suryajaya tidak lagi menjadi pengendali dari Astra, tetapi mayoritas saham Astra ini masih dipegang oleh konsorsium pengusaha. Termasuk di dalamnya adalah Bapak Prayo Pangestu atau Pak PP atau yang sekarang ini sedang menjadi nama besar di bursa ya, karena emiten-emitnya itu sedang naik daun. Operasi bisnis Astra ini terus berjalan seperti biasa dan tetap bisa melakukan ekspansi dengan agresif. Ini saya garis bawahi lagi, ekspansi dengan agresif ya, bukan ekspansi dengan sehat. Total revenue di tahun 1992 ini sekitar
13:06 Rp4,46 triliun dan menjadi Rp1,62 triliun di tahun 1995. Jadi naik hampir tiga kali dalam 3 sampai 4 tahun itu besar sekali pertumbuhannya. Astra telah tumbuh sangat besar. tetapi juga diikuti dengan surat utang yang dimilikinya. Surat utang ini terutama dalam bentuk US Dollar, investasi jangka panjang, pembelian alat berat, proyek ekspansi yang dilakukan juga dalam pembiayaan utang luar negeri dalam mata uang US Dollar. Pada tahun 1997, krisis moneter di Asia Timur dan Asia Tenggara ini dimulai dari Thailand lalu menyebar dengan cepat. Nilai tukar rupiah unjlock dari Rp2.300
13:54 per1 US D menjadi lebih dari Rp16.000 per1 US Do. Hal ini jelas memukul telak perekonomian dalam negeri di Indonesia. Akibatnya, utang luar negeri Astra sendiri yang tadinya sekitar R sampai Rp4 triliun ini membengkak lebih dari Rp20 triliun. Astra yang memperoleh revenue itu secara mayoritas dalam bentuk rupiah ya sudah sangat jelas tidak sanggup menutupi beban bunga dan pokok pinjaman yang dimiliki. Pada kondisi ekonomi Indonesia yang carut-marut, penjualan mobil dan alat berat ya sudah pasti merosot drastis dan Astra menghentikan kegiatan ekspansi bisnisnya serta banyak anak usaha dari Astra yang mengalami kerugian secara finansial. Secara konsolidasi laba Astra ini turun drastis dan pada tahun 1998
14:41 Astra membukukan kerugian yang sangat besar akibat pelemahan hebat pada kurs Indonesian rupiah terhadap US Dollar. Astra pada akhirnya memasuki program restrukturisasi utang dengan kreditur internasional dan sebagian besar saham Astra sekitar 45%-an ya ditempatkan di bawah pengelolaan BPPN atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional sebagai bagian dari program penyehatan ekonomi nasional. Pemerintah melalui BPPN pada akhirnya menjual saham tersebut dengan skema tender terbuka guna mengembalikan dana publik dan menyelamatkan stabilitas pasar. Mungkin kalau ada pertanyaan kenapa sahamnya harus di lego, harus dijual ya karena membutuhkan likuiditas, membutuhkan uang cepat untuk membayar utangnya. Dan untuk mengatasi hal tersebut salah satu jalannya adalah dengan menjual sahamnya. Tender saham
15:27 Astra dari BPPN ini menarik perhatian berbagai pihak seperti Jarin Cycle and Carage. Ini anak perusahaan dari Jardin Mateson. Lalu ada New Bridge Capital bersama dengan Saratoga yang merupakan afiliasi keluarga Suryajaya. Ada juga Gilbert Global Equity Partners dan Investor besar lainnya. Lalu akhirnya pada 25 Maret tahun 2000, Jardin ini memenangkan tender tersebut dengan membayar 506 juta US dar untuk mengakuisisi 40 sampai 41% saham Astra dari BPPN. Setelah akuisisi awal, Jardin pada akhirnya secara bertahap menambah kepemilikan melalui pasar terbuka. Dan pada tahun 2005 kepemilikan Jardin ini mencapai 50,11% pada saham Astra yang mana menjadikan Astra ini sebagai anak perusahaan dan dikontrol penuh oleh jardin pada
16:13 akhirnya sudah lepas dari tangan konglomerat Indonesia dan pindah ke tangan asing. Hingga kini di tahun 2025 sebesar 50,11% kepemilikan Astra ini berada di tangan Jardin Cycle and Carage, sebuah perusahaan terdaftar di Singapura yang merupakan bagian dari Jardin Mateson Group dengan basis di Hongkong dan Bermuda. Yaitu tadi pembelajaran penting yang kita bisa pelajari bersama melalui rangkaian kejadian di Astra. Mungkin kalau kita bisa rangkum ya, yang pertama fondasi bisnis itu harus dibangun di atas integritas dan reputasi. Pembelajaran kedua adalah jangan bertumbuh dengan utang yang tidak sehat. Yang ketiga, manajemen yang profesional
16:58 itu adalah keharusan bagi sebuah bisnis. Yang keempat, kepemilikan bisa berganti, tapi nilai-nilai perusahaan harus tetap dijaga. Dan mungkin yang terakhir adalah bisnis harus bisa adaptif. Jika sudah siap lakukan diversifikasi, ya lakukanlah itu dengan sehat. Tapi gimana menurut Bapak Ibu kira-kira pesan moral apa yang bisa dipelajari bersama? Coba kita diskusikan di komen. Coba drop di komen. Dan itu tadi akhir dari video ini. Sampai bertemu di video selanjutnya, Bapak, Ibu. Terima kasih dan selamat siang. Yeah.