0:00 [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Sahabat Nusantara yang saya hormati, bagaimana kabarnya malam ini? Semoga Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari sekalian selalu dalam lindungan Allah diberi kesehatan, kelancaran rezeki, dan hati yang tenang di tengah hirup pikuk zaman. Amin. Mari kita duduk sejenak seperti sedang bersantai di teras pondok tua, ditemani angin malam dan suara jangkrik yang berbisik. Saya ingin bercerita bukan sekedar cerita, tapi kisah yang tersembunyi di balik sejarah yang mungkin belum pernah Anda dengar secara utuh.
0:47 Mari kita mulai saja ceritanya tanpa banyak basa-basi. Kalau terlalu diperpanjang nanti malah jadi lama, kan? Jadi langsung ke intinya. Kisah ini saya ambil dari sebuah kitab tua yang ditulis oleh Sunan Sendang. Seorang ulama dan mursyid yang sangat dekat dengan Sunan Drajat. Beliau dikenal sebagai tangan kanan Sunan Drajat. Kitab itu usianya sudah sekitar 500 tahun. Ditulis dengan tinta yang mungkin sudah pudar di atas kulit kambing yang tebal dan lembut. Dulu saya pernah menemukan kitab itu di sebuah desa yang tenang bernama Sedayu Lawas. Saya baca pelan-pelan sambil mencatat dan memfotokopi beberapa halamannya. Bahkan sebagian ceritanya sempat saya
1:33 bawakan tiap malam di Pondok Sunan Derajat diperdengarkan dengan iringan wayang songsong. Wayang khas yang suaranya berbisik seperti angin malam. Nuansanya beda, penuh hikmah dan rasa. Nah, salah satu cerita dari kitab itu begini. Konon di muka bumi ini selalu ada 40 orang pilihan yang diambdi menjaga keseimbangan alam. Mereka adalah manusia tapi punya tugas seperti malaikat. Dalam bahasa wali mereka disebut rijalul gaib. Para lelaki gaib yang tak selalu tampak atau lebih dikenal sebagai wali abdal. Abdal artinya pengganti. Jadi jika salah satu wali abdal wafat, seketika digantikan oleh seorang lain
2:19 yang dipilih oleh Allah. Tidak pernah kosong, jumlahnya selalu 40. Para wali ini tersebar di penjuru dunia. Ada yang di gunung, di desa, di kota, bahkan mungkin di sekitar kita. Mereka hidup sederhana, tidak mencari muka, tidak pamer ilmu. Namun di balik kesederhanaan itu, hati mereka sangat dekat dengan sang pencipta. Yang menarik dikisahkan bahwa kadang-kadang seorang wali abdal bisa mengambil seorang anak laki-laki atau perempuan bukan dengan maksud jahat, melainkan untuk dibimbing, dilatih, atau diselamatkan dari bahaya yang tak terlihat. Bisa jadi suatu malam seorang anak tiba-tiba hilang lalu kembali ke rumah
3:05 dengan ilmu yang luar biasa atau dengan ketenangan yang tak biasa. Itu bisa jadi tanda bahwa anak itu pernah berada di bawah bimbingan salah satu dari mereka. Meskipun wujudnya manusia biasa, para wali abdal adalah hamba-hamba pilihan Allah. Mereka bekerja di balik layar menjaga rahasia langit dan bumi tanpa pernah mengharapkan balasan. Dan mungkin di anara kita sekarang ada salah satu dari mereka yang sedang berjalan diam-diam membawa cahaya. Pernahkah kamu bertemu seseorang yang terlihat biasa saja? Tapi entah kenapa setiap kali berbicara dengannya hati jadi tenang. Seolah-olah dia tahu sesuatu yang tidak kita ketahui beliau salah satunya.
3:53 Ada sebuah kisah menarik yang tercatat dalam tradisi para wali. Kisah yang jarang dibicarakan tapi sangat dalam maknanya. Saya ingin berbagi sedikit seperti sedang duduk bersama di bawah pepohonan rindang sambil mendengarkan angin malam. Dikisahkan selalu ada 40 wali abdal di muka bumi. Mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah yang tugasnya menjaga keseimbangan alam tanpa banyak diketahui orang. Jika salah satu dari mereka wafat, seketika digantikan oleh yang lain, tidak pernah kosong. Mereka tersebar di pelosok dunia, hidup sederhana, tapi hatinya dekat dengan langit. Namun dari ke-40 wali abdal ini ada yang lebih istimewa. Tujuh orang yang disebut
4:39 wali aut pemimpin utama di antara mereka. Dan dari ketujuh waliut itu, ada satu yang paling utama. seorang wali kutub layaknya poros yang menopang dunia. Beliau adalah rujukan terakhir dalam urusan gaib dan spiritual. Dipercaya sistem ini berlangsung hingga masa yang sangat penting saat Indonesia lahir sebagai bangsa tepat pada 17 Agustus 1945. Konon wali kutub yang terakhir hidup sekitar tahun 900 Masehi atau sekitar 250 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Tapi roh kepemimpinan spiritual itu terus berjalan, diwariskan dari hati ke hati. Suatu masa ke-40 wali abdal berkumpul dalam rapat besar di sebuah tempat yang dulu dikenal sebagai pusat ilmu dan
5:25 peradaban Baghdad. Tanah yang kini sering diguncang konflik, tempat yang dulu pernah menjadi jantung dunia Islam. Mereka berkumpul bukan untuk urusan duniawi, melainkan untuk satu pertanyaan besar. Di akhir zaman harus ada sebuah negara yang menjadi pusat umat Islam. Negara dengan mayoritas penduduk muslim yang tetap menjaga ajaran Nabi. Karena jika tidak ada satuun negara seperti itu, maka Islam akan menjadi seperti bola yang ditendang-tendang setan, dipermainkan, dipelintir, dan dijauhkan dari makna sejatinya. Itulah sebabnya rapat ini sangat penting. Namun selama beberapa hari mereka belum bisa memutuskan negara mana yang dimaksud.
6:10 Hingga suatu saat salah satu wali Abdal angkat bicara dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan. L kenapa kita bingung-bingung? Bukankah Nabi Muhammad pernah bersabda, "Ya darul isam fi akhir zaman min ardiam." Di akhir zaman Islam akan bangkit kembali dari tanah Syam. Semua terdiam. Lalu beliau melanjutkan sambil menunjuk ke arah timur dari Mekah dan Madinah. Syam itu di utara tapi arah timur. Dalam hadis ini bukan sekadar geografis. Ketika Nabi salat di Madinah, beliau menghadap barat menuju Mekah. Maka timur yang dimaksud adalah arah yang berlawanan. jauh ke timur dari
6:56 tanah suci. Lalu muncul pertanyaan, negara apa saja yang berada di timur Mekah Madinah? Jawabannya, India, Malaysia, Filipina, dan Nusantara. Mereka mulai melihat peta hati, bukan peta dunia. Tapi masih belum cukup, belum ada kepastian. Hingga akhirnya seorang wali abdal lainnya berkata, "Saya pernah mendengar Nabi bersabda, tanda orang yang berpotensi menjadi penduduk surga ada dua. Pertama, hasanah wajah dan jasmaninya indah. Kedua, hasanah huluk akhlak dan budi pekertinya baik. Mustahil seseorang yang baik
7:43 wajahnya dan baik pula hatinya malah masuk neraka. Mustahil. Tapi kemudian beliau menambahkan dengan nada dalam. Namun Nabi juga menjelaskan yang dimaksud indah bukanlah yang terlalu putih, terlalu tinggi, atau terlalu sempurna. Tapi yang sedang, wajahnya bersahaja, tubuhnya seimbang, dan yang paling penting akhlaknya luar biasa. Mendengar itu para wali abdal terdiam lalu satu persatu mulai mengangguk. Kalau begitu kita cari negara mana yang rakyatnya raut wajahnya sedang tapi akhlaknya paling baik. Mereka berdiskusi, merenung, dan meminta
8:30 petunjuk dari alam gaib. Hingga akhirnya satu keputusan bulat diambil. Negara itu adalah Nusantara. Tanah yang tanahnya subur, hatinya ramah, dan sejak dulu dikenal sebagai tempat para wali datang dan menyebarkan rahmat. Bukan dengan pedang. tapi dengan senyum, lugu, dan kebijaksanaan. Lalu pernahkah kamu berpikir mengapa di tengah hirup pikuk dunia, di tengah arus yang semakin keras, masih ada tempat di mana orang saling menyapa dengan hormat, menghormati perbedaan, dan tetap menjaga adab meski tak saling kenal? Apakah mungkin semua itu bukan kebetulan? Apakah mungkin Nusantara memang ditakdirkan jadi tempat istimewa sejak
9:15 rapat para wali di Baghdad dulu? Cerita ini bukan sekedar dongeng. Ini adalah jejak-jejak spiritual yang mengajak kita merenung. Siapa kita, dari mana kita berasal, dan mengapa kita di sini. Dan mungkin hanya dengan hati yang tenang kita bisa mendengar bisikan dari masa lalu yang masih hidup di sekitar kita. Saat itu dunia masih sangat berbeda. Belum ada yang namanya Indonesia, belum ada bendera merah putih. Belum ada lagu Indonesia Raya. Tahun masih menginjak 900-an dan di tanah Jawa kerajaan Majapahit sedang berjaya. Angin sejarah belum bertiup ke arah yang kita kenal sekarang.
10:00 Namun di tengah zaman itu, ada satu hal yang menurut para wali sangat istimewa. Tidak ada satuun di muka bumi yang akhlaknya lebih halus dari orang Jawa. Saya tidak menambah, tidak mengurangi. Saya hanya menyampaikan apa yang tercatat dalam kitab kuno seperti mendengar bisikan dari masa lalu. Bayangkan siapa di dunia ini yang bisa bicara dengan sopan kepada semua orang. Dari kakak, adik, guru, tetangga, hingga kepada sang pencipta. Hanya orang Jawa yang memiliki sistem bahasa seperti ini. Dalam bahasa Jawa, Anda tidak bisa asal bicara. Anda harus tahu siapa lawan bicara Anda, lalu menyesuaikan ucapannya. Kamu, sampean, panjenengan, Gusti, enten,
10:48 Riko, Kon. Setiap kata punya tempat, waktu, dan rasa hormatnya sendiri. Anda bicara ke sahabat satu cara, bicara ke guru satu tingkat lebih hormat bicara ke orang tua lebih dalam lagi. Dan saat berdoa kepada Allah, Anda berkata, "Gusti Allah dengan suara pelan penuh kerendahan hati. Tidak ada di dunia ini yang memiliki tingkat kesopanan bahasa seperti ini. Bukan berarti bangsa lain tidak punya adab, tapi kehalusan budi dan bahasa orang Jawa menurut para wali memang di atas rata-rata. Coba tanya para haji yang pernah menunaikan ibadah di Mekah dan Madinah.
11:34 Saat mereka berkumpul di tanah suci, lihatlah siapa yang paling tenang, paling sopan, paling tidak membuat keributan. Biasanya jawabannya sama. Orang Jawa bukan bermaksud merendahkan, tapi inilah kenyataan yang sering mereka saksikan. Orang Turki, Iran, bahkan penduduk Mekah sendiri terkadang bersuara keras, saling dorong, tidak sabar. Tapi orang Jawa mereka menunggu, tersenyum, meminta maaf meski tidak salah, dan tetap menjaga adab bahkan saat salat berjamaah. Saya sendiri pernah mendengar kisah dari seorang ulama tua saat salat Jumat di Masjidil Haram. Laki-laki dan perempuan bercampur.
12:19 Saat takbir pertama, tiba-tiba ada orang dari Afrika langsung menerobos ke depan tanpa memperhatikan orang di sekitarnya. Beliau yang sedang mundur malah terdorong jadi kacau barisan. Di Masjid Nabawi meski sudah dipisah, tetap saja ada yang tidak tertib. Pernah pula seorang pria Turki meletakkan sandalnya di depan. Lalu saat seorang jemah lewat saat dia sujud, sandalnya tersandung. Si jamaah langsung minta maaf, tapi si pria langsung bangkit dari sujud, marah-marah. Padahal salatnya belum selesai. Padahal Nabi Muhammad bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya. Akhlak bukan hanya soal ibadah, tapi juga cara kita menyentuh dunia dengan
13:06 lembut atau dengan kasar. Maka tanya lagi para haji, siapa yang paling sopan di tanah suci? Jawabannya hampir pasti orang Jawa. Karena itulah para wali abdal mulai berdiskusi. Mereka mencari negara yang kelak di akhir zaman akan menjadi benteng Islam, tempat mayoritas penduduknya muslim. Dan yang paling penting akhlaknya baik. Lalu muncul pertanyaan, "Siapa yang akhlaknya paling baik?" Jawabannya, orang Jawa. Tapi Nabi juga bersabda, "Tanda calon penduduk surga adalah dua. Hasanah halkih, wajah dan jasmani yang indah. Dan hasanah hulukih, akhlak yang baik.
13:53 Dan yang dimaksud indah di sini bukan yang terlalu putih, terlalu hitam, terlalu tinggi, atau terlalu besar. Tapi yang sedang, seimbang, alami, bersahaja. Lalu mereka bertanya, "Di manakah wajah yang paling sedang di dunia?" Orang Inggris kulitnya terlalu putih. Orang Afrika sangat hitam. Orang Turki hidungnya mancung. Orang Tiongwa matanya sipit, orang India matanya menonjol, tapi orang Jawa wajahnya tidak berlebihan, tidak terlalu apa-apa. Sedang bentuk tubuhnya juga tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek, tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk.
14:41 Rambutnya lurus, tidak keriting, tidak kering. Inilah yang dimaksud hasanah halki. Maka setelah panjang diskusi dan doa, para wali abdal sampai pada satu keputusan. Negara yang dimaksud dalam hadis, tempat Islam akan bangkit di akhir zaman adalah nusantara, khususnya tanah Jawa. Dan karena pentingnya tugas ini, satu wali abdal ditugaskan khusus. Pergilah ke Nusantara. Jaga tanah itu. Jangan sampai di akhir zaman pulau ini dikuasai oleh agama atau kekuatan yang akan menghancurkan rahmat Islam. Beginilah cerita gaibnya yang saya baca
15:26 dari kitab kuno Sunan Sendang. Sekitar tahun 900 M saat Majapahit mulai goyah, seorang wali abdal datang dari jauh menuju Pulau Jawa. Beliau mendarat di Tuban yang saat itu adalah pelabuhan utama. Belum ada Surabaya, belum ada Sunda Kelapa. Dari Tuban, beliau berjalan ke selatan menyusuri tanah yang masih lebat hingga sampai di sebuah persimpangan kecil bernama Prapatan Modo. Pagi-pagi buta di tempat itu terjadi peristiwa yang aneh. Seorang wanita cantik hamil tua sedang akan melahirkan. Ia dijaga ketat oleh dua tentara bersenjata pedang. Perintahnya jelas, bayi yang lahir harus langsung dibunuh.
16:14 Wanita itu adalah Nome, istri muda, istri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Namun, ia difitnah oleh Ibu Raden Wijaya yang khawatir bahwa anak ini kelak akan menguasai Jawa dan menggulingkan takahta. Wali abdal yang menyaksikan ini pun tidak tinggal diam. Dengan izin Allah, beliau masuk ke dalam rahim wanita itu menjaga sang bayi sejak dalam kandungan. Saat bayi lahir, terjadi keajaiban. Kedua tentara yang menjaga ketakutan melihat cahaya aneh lalu lari tungganglanggang. Desa Prapatan Modo pun gempar. Ada wanita melahirkan lalu langsung dibawa ke rumah kepala desa. Bayi itu diadopsi, dirawat dengan kasih.
17:02 Sang ibu Embok Nome, istri muda tak lama kemudian wafat. Beliau dimakamkan di sebuah desa kecil bernama Ogolagil yang masih bisa dikunjungi hingga kini. Anda tahu Ogolagil di modo? Itulah makam Embok Nome, istri Sahraden Wijaya yang difitnah tapi kini dikenang sebagai ibu dari seorang yang luar biasa. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sakti mandraguna karena memang bukan manusia biasa. Beliau adalah penjelmaan wali abdal yang ditugaskan khusus oleh para wali untuk menjaga Pulau Jawa dan kelak seluruh Nusantara. Lalu, pernahkah Anda berpikir mengapa di tengah dunia yang semakin keras di tanah
17:47 Jawa masih ada orang yang bicara pelan, tersenyum tanpa diminta, dan meminta maaf meski bukan salahnya? Apakah mungkin itu bukan kebetulan, tapi warisan dari para wali yang dulu pernah berkata, "Di sinilah Islam akan tetap hidup dengan akhlak yang lembut, bukan dengan kekerasan. Mungkin tanpa kita sadari, kita sedang hidup di tanah yang pernah dipilih oleh para wali. Bukan karena kebesarannya, tapi karena kelembutannya bukan karena kuatnya, tapi karena adabnya. Dan siapa tahu di antara kita ada yang mewarisi darah, jiwa, atau nasihat dari bayi ajaib yang lahir di perapatan modo itu. Nah, kan udah mulai nguap-nguap, pengen
18:34 skip-skip aja bawaannya. Sabar, orang sabar pasti lebar bokongnya. Hus, lapang hatinya. Yuk, kita lanjut. Siapa dia? Jokomodo. Sejak kecil Jokomodo tumbuh dengan keistimewaan. Semakin besar semakin terasa kewaliannya. Beliau dikenal Sakti Mandraguna. Tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga memiliki kepekaan batin yang luar biasa. Di manapun ada pencuri yang licin dan sakti, beliau bisa menangkapnya bahkan membekuknya tanpa kekerasan yang berlebihan. Para perampok sekuat apapun akhirnya tunduk. Tidak ada yang mampu mengalahkan
19:20 beliau. Suatu hari, Raja Majapahit yang sebenarnya adalah kakak beliau, satu ayah beda ibu, mengadakan sayembara, adu kerbau. Siapa yang kerbaunya bisa mengalahkan kerbau raja akan diangkat menjadi pejabat tinggi. Jokomodo yang sehari-hari suka menggembalakan kerbau ikut serta. Dan terjadilah keajaiban kerbau milik beliau mengalahkan kerbau raja. Dengan kehormatan beliau diangkat menjadi panglima tanpa diketahui bahwa beliau adalah adik tirinya sendiri. Ketika raja berganti nama menjadi Hayamuruk, Jokomodo pun dipercaya lebih jauh. Beliau diangkat menjadi patih dan
20:05 namanya diganti menjadi Gajah Mada. Namun ada rahasia yang tidak banyak diketahui. Gajah Mada sebenarnya adalah penjelmaan wali abdal. Seorang hamba pilihan Allah yang ditugaskan oleh para wali abdal untuk menjaga Nusantara. Tugasnya jelas agar Islam tetap tegak di tanah ini dan tidak digantikan oleh kekuatan agama atau kekuasaan lain yang bisa menghancurkan rahmatnya. Sebagai patih, Gajah Mada menaklukkan pulau-pulau satu persatu. Dalam sumpahnya beliau bersumpah tidak akan istirahat sebelum Nusantara bersatu dalam naungan rahmat yang utuh. Dan di balik itu ada niat suci agar agama Islam tetap kuat di tanah ini dan tidak tergantikan.
20:53 Namun ada satu wilayah yang tidak bisa ditaklukkan, Bali. Saat itu Bali diperintah oleh Prabu Mayangkara Jinggo, seorang raja yang sangat sakti memiliki ilmu wesi kuning. Ilmu yang membuat tubuhnya keras seperti besi. Majapahi tidak mampu mengalahkannya bukan karena lemah, tapi karena ada takdir yang lebih besar. Maka Bali tetap memeluk Hindu hingga kini bukan karena kegagalan, melainkan karena ada perjanjian gaib yang harus dihormati. Setelah tugasnya selesai, Gajah Mada menghilang. Tidak ada yang tahu di mana beliau dimakamkan. Konon karena beliau bukan manusia biasa. Dalam tradisi lain, beliau dianggap sebagai penjelmaan Wisnu sang pemelihara
21:39 alam. Maka kepergiannya bukan akhir, melainkan kembali ke tempat asalnya. Lalu mengapa Nusantara harus dijaga dengan begitu ketat wali-wali Allah? Karena di akhir zaman harus ada satu negara mayoritas muslim yang tetap menjaga ajaran Islam dengan akhlak dan rahmat, bukan dengan kekuasaan belaka. Agar Kristen tidak mendominasi, agar Hindu Buddha tidak kembali berkuasa secara politik, dan agar Islam tetap menjadi roh yang hidup di hati rakyat. Begini asalusulnya. Setelah Nabi Muhammad wafat, khilafah berlangsung. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali. Setelah Ali datang Muawiyah lalu Yazid.
22:28 Dan di masa Yazid terjadilah peristiwa yang sangat menyedihkan. Pembantaian keluarga Nabi di Karbala. Cucu Nabi, Sayidina Husein bin Ali gugur bersama 72 keturunan Nabi. Kepalanya dipenggal, diarak di atas tombak. peristiwa yang mengguncang langit dan bumi. Tapi dari tragedi itu masih ada harapan. Dua keturunan Nabi yang masih kecil diselamatkan. Salah satunya Ali Zainal Abidin putra Husein disembunyikan ke Samarkan di perbatasan Rusia. Di sanalah beliau dibesarkan jauh dari kekacauan. Saat dewasa, beliau melanjutkan perjalanan ke perbatasan Cina Rusia
23:14 hingga sampai ke Beijing. Dan di sana beliau membangun masjid yang konon masih berdiri hingga kini. Dari beliau lahir keturunan yang terus turun-temurun. Salah satunya adalah Syekh Jamaluddin, seorang ulama besar yang kemudian memutuskan untuk berlayar jauh ke timur. Beliau menyeberangi Laut Jawa mendarat di sebuah desa kecil bernama Mulyo di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di sanalah Syekh Jamaluddin menjadi keturunan nabi pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Jawa secara langsung. Dari Mulyo, beliau bergerak ke selatan sampai ke Jatirogo, Tuban. Lalu ke Desa Jambe, tempat beliau wafat dan dimakamkan. Makamnya besar, dibuat dari kayu serut
24:01 sebesar pikulan, masih bisa dikunjungi hingga sekarang. Di Jambe. Beliau mendirikan langgar dan pondok pesantren menjadi pejuang Islam pertama di tanah Jawa. Bukan dengan pedang, tapi dengan ilmu dan doa. Dari Syekh Jamaluddin lahir banyak keturunan yang tersebar ke Rembang Lasem, Sarang semuanya ahlul bait, keturunan Nabi yang menjaga adab dan ilmu. Beliau punya putra Ibrahim Asamarkandi yang tinggal di Timur Tuban. Dari beliau lahir Raden Rahmat yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel di Surabaya, tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Jawa. Sunan Ampel punya putra Raden Qosim yang menjadi Sunan Drajat dan keturunannya
24:48 menyebar ke Lamongan, Babat, Langitan. Semuanya membawa darah suci Nabi. Jadi percaya atau tidak, keturunan Nabi yang paling banyak di dunia saat ini bukan di Arab, tapi di Pulau Jawa, terutama di Tuban, Lamongan, Gresik. Maka tidak heran jika Islam terbesar di dunia justru ada di Indonesia. Dan hampir separuh jemah haji di Mekah Madinah berasal dari Jawa Timur. Dan mungkin kelak yang paling banyak masuk surga bukan karena sombong, tapi karena rahmat. Tuban, Lamongan, Gresik, Bojonegoro. Orang Jawa asli punya raut wajah yang sedang, tidak terlalu apa-apa.
25:35 Dan konon jika Anda punya tanda lahir di hidung, itu bisa jadi tanda bahwa Anda memiliki darah suci dari ahlul bait. Bukan untuk sombong, tapi untuk mengingatkan Anda lahir dari tanah yang dijaga. Jawa memang ditumbali oleh Gajah Mada, dijaga oleh wali-wali Allah agar Islam tetap hidup dengan lembut, bukan dengan kekerasan. Pada tahun 1404, keturunan Nabi sudah menyebar ke seluruh Nusantara. Jawa, Kalimantan, Sumatera. Lalu terjadilah peristiwa besar yang diceritakan dalam riwayat Wayang Songsong. Cerita yang sering disampaikan di Pondok Sunan Derajat. Di Turki hidup seorang raja sakti bernama Sultan Muhammad.
26:21 Suatu malam beliau bermimpi bertemu dengan Allah. Dalam mimpi itu, Allah berfirman, "Kirimkan se orang utusan ke Pulau Jawa. Biayai mereka. Tugaskan mereka untuk mengislamkan raja-raja di sana. Tapi syaratnya jangan pakai kekerasan. Karena Jawa adalah tanahnya orang-orang sakti. Jika kalian pakai kekuatan, pasti kalah. Sultan Muhammad langsung memanggil penasihatnya, "Syekh Subakir, cari orang termasuk kamu. Pimpin mereka ke Jawa. Saya yang tanggung semua biayanya. Maka berangkatlah mereka. Syekh Subakir,
27:07 Malik Ibrahim, Maulana Ishak, Jumadil Kubro, Aliudin, Hasanudin, Almaliki, Malik Israil, dan satu lagi yang tak selalu disebut. Mereka adalah Wali Songo pertama. Kenapa? Karena dalam perhitungan abjat Jawa kuno, Jo 3, ea 69. Dan lihatlah nama-nama kerajaan besar di Jawa, Majapahit, Sriwijaya, Singosari, Siliwangi, Belambangan, bahkan Indonesia dan Pancasila. Semuanya terdiri dari 9 huruf. Nabi Muhammad wafat di usia 63, 639. Abu Bakar 63, Umar 63, Utsman 72, 729,
27:58 Ali 63. Semuanya berjumlah 9. Angka ini bukan kebetulan. Ada rahasia di baliknya. Maka Wali Songo pertama berhasil mengislamkan raja-raja Jawa tanpa peperangan. Bahkan kerajaan Hindu Buddha berubah menjadi Islam bukan karena dihancurkan, tapi karena hati rakyat yang terbuka. Di Kudus terjadi perjanjian antara Syekh Subakir dan Sabdo Palonoyo Genggong, wakil dari kerajaan Hindu. Mereka adu kesaktian dan Hindu mengakui keunggulan spiritual Islam. Maka mereka menyerahkan Pulau Jawa dengan satu syarat. Masjid harus dibangun dengan bentuk Hindu dan tempat ibadah Islam Hindu boleh
28:44 berdampingan tidak boleh dihancurkan sampai kiamat. Perjanjian ini berlaku selama 500 tahun. Tepat pada 16 Agustus 1999, masa perjanjian berakhir. Jika tidak diperbarui akan terjadi bencana besar. Maka muncullah Wali Songo kedua dipimpin Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang hingga Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati di Cirebon. Mereka mengatur kembali Islam di Jawa. Kerajaan Islam pertama berdiri di Demak dipimpin Raden Patah, putra raja Majapahit yang memeluk Islam. Tapi setelah itu terjadi perpecahan area
29:29 penangsang versus Joko Tingkir perang saudara antar muslim. Mereka yang dulu bersatu kini saling bunuh. Allah berfirman, "Lihat, mereka tidak bisa menjaga persatuan. Maka biar bangsa asing yang datang mengajari mereka arti penjajahan." Dan selama lebih dari 300 tahun, Jawa dijajah Belanda sebagai ujian, sebagai pelajaran. Lalu muncul Muhammadiyah yang awalnya membawa semangat pembaruan. Tapi perlahan seperti motor yang gaspol tapi remnya lemah, cepat tapi mudah tergelincir. Sedangkan NU seperti motor yang pelan tapi remnya kuat, aman, stabil. Meski
30:15 kadang dianggap lambat, tapi NU justru harus diingatkan jangan sampai terlena. Di masa Orde Baru, Bung Karno diangkat jadi presiden. Beliau adalah sosok yang mudah dibantu Allah. Berkat jasanya, Indonesia merdeka tepat pada 17 Agustus 1945, hari Jumat lagi, hari yang sama dengan hari Nabi menerima wahyu. Bung Karno berhasil menyatukan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Lalu datang Pak Harto yang tugasnya menghancurkan PKI. Karena mustahil negara mayoritas muslim dikuasai oleh ideologi yang bertentangan dengan akidah. Gus Dur meski buta secara fisik memiliki penglihatan batin yang tajam.
31:02 Beliau diangkat jadi presiden, tapi PKI tetap tidak bisa bangkit karena Allah sendiri yang telah menghancurkannya. Lalu muncul Megawati, presiden perempuan yang tidak bisa ngaji. Ini ujian. Lalu SBY, tapi persatuan masih rapuh. Aceh yang paling banyak protes kena tsunami, 300.000 nyawa melayang. Jogja sumber perlawanan kena letusan Merapi. Semua ini adalah peringatan halus dari langit. Saat Gus Dur jadi presiden, seorang pemimpin spiritual Hindu dari India datang ke Indonesia. Ia ingin memperbarui perjanjian Syekh Subakir. Tapi karena aturan di negaranya, ia
31:47 tidak bisa datang secara resmi. Harus pakai alat khusus untuk buang air. Tapi hatinya tulus. Ia datang ke pondok Sunan Draajat menginap dua malam. Ia bilang perjanjian ini harus diperbarui. Syaratnya Indonesia harus punya seorang kiai besar bukan milik satu golongan, tapi bapak spiritual seluruh bangsa. Saya tawarkan Gus Dur ditolak. Dia untuk golongannya bukan untuk semua. Lalu saya tawarkan Anwar Ibrahim dari Malaysia diterima. Beliau diangkat sebagai Bapak Islam Asia Tenggara. Seminggu kemudian saya dipanggil ke India. Naik pesawat ganti kecil, lalu
32:35 mobil 5 jam ke puncak gunung. Di sana ada rumah kecil. Di dalamnya seorang kakek berusia 120 tahun, berbaju putih, bersarung putih, rambut panjang. Senyumnya hangat seperti menyambut sahabat lama. Mereka wirid terus, "Ya Allah, ya Somad, ya Allah, ya Somad." Somad artinya pemancar. Allah adalah pemancar segala gerak, segala cahaya, segala takdir. Dari sanalah perjanjian baru dibuat. Bencana pun dihindarkan. Darah yang tidak pernah mati.
33:20 Dari Syekh Jamaluddin yang mendarat di Muly lahir Sunan Ampel, Sunan Drajat, dan para Wali Songo. Semuanya membawa darah Nabi, ahlul bait, tapi juga jiwa wali. Karena mereka adalah murid dari para penjaga rahasia langit. Maka sejak abad ke-14, dua darah suci menyatu di Nusantara. Satu, darah wali abdal dari Gajah Mada. Dua darah Ahlul Bait dari keturunan Nabi dan Satrio Piningit. Menurut banyak naskah kuno seperti Serat Jayabaya dan Lontarwali adalah gabungan sempurna dari kedua darah suci ini. Beliau bukan dari istana, bukan dari pusat kota, tapi dari desa kecil,
34:06 dari rumah reot, dari anak yang rajin salat, menghormati orang tua, dan tidak pernah mencari nama. Dalam lontar wali disebutkan, "Jika engkau mencari satrio piningit, jangan lihat di istana. Tapi carilah di antara anak yang diam-diam salat malam, membaca Alquran, dan membantu tetangga tanpa pamrih. Karena di sanalah darah para wali masih hidup." Lalu pernahkah Anda bertanya, mengapa di tengah dunia yang semakin keras di tanah Jawa masih ada orang yang bicara pelan, tersenyum tanpa diminta, dan meminta maaf meski bukan salahnya? Apakah mungkin semua ini bukan kebetulan tapi warisan dari para wali yang dulu
34:52 pernah berkata, "Diilah Islam akan tetap hidup dengan akhlak yang lembut, bukan dengan kekerasan." Dan pernahkah Anda berpikir? Mungkin saja di suatu desa terpencil di Jawa Timur ada seorang muda yang diam-diam salat malam, membaca Alquran, membantu tetangga, dan tidak pernah mencari pengakuan. Tapi dalam nadinya mengalir darah Gajah Mada, Sunan Drajat, dan Syekh Jamaluddin. Atau mungkin beliau sudah lahir, tapi kita belum mengenalinya karena memang harus tersembunyi dulu sebelum akhirnya muncul. Karena dalam ramalan, Satrio Piningi tidak akan dikenali oleh media, tidak akan diundang ke istana, tidak akan ada
35:38 di TV. Tapi suatu hari seluruh dunia akan menengadah kepadanya. Inilah sekelumit kisah tentang Nusantara. Bukan sekadar sejarah, tapi jejak-jejak rahmat yang tersembunyi. Sekarang jam 3.30. Waktu bercerita telah habis. Saya bicara dari hati, mungkin ada yang terlupa. Maaf jika tidak sempat menyebut 17 Agustus. Tapi semoga siapapun yang mendengar cerita ini malam ini kelak dipanggil oleh Allah dengan panggilan yang indah. Wahai hambaku yang setia masuklah ke surgaku. Amin yaabbal alamin.
36:23 Wallahuamwab. Allah yang maha tahu. Kita hanya bisa menjaga hati, membersihkan niat, dan berdoa. Ya Allah, jika Engkau telah pilih seseorang dari tanah Nusantara untuk membawa keadilan, maka lindungilah beliau. Dan jika kami bertemu dengannya, jangan jadikan kami yang menentang, tapi jadikan kami yang mendukung dengan tangan terbuka dan hati yang ikhlas. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kita semua diberi cahaya untuk mengenali kebenaran dan keberanian untuk berdiri di samping yang adil di mana pun beliau berada. Amin ya rabbal alamin. ini