0:00 [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat Nusantara. Kita jumpa lagi. Apa kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat semua dan berkelimpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin, Bro. Kamu pernah lihat petani nangis karena panennya gagal atau ibu-ibu ngos-ngosan jualan gorengan cuma buat bayar listrik? Sementara di berita, pejabat sibuk pamer proyek, influencer liburan ke Eropa, dan harga sembakaotu terus naik. Rasanya
0:46 enggak adil banget ya. Nah, dari dulu leluhur kita udah bilang kalau zaman udah edan gini bakal muncul sosok yang beda. Bukan dari istana, bukan dari keluarga kaya. Tapi dari rakyat biasa namanya Satrio Piningit. Tapi nih pertanyaannya, apakah dia masih cuma ramalan atau justru dia udah ada di antara kita? Mungkin guru yang tetap ngajar meski gajinya telat, petani yang ngotot menanam meski tanah kering, kamu yang tetap jujur di tengah godaan korupsi. Kalau kamu merasa ini penting, klik like biar lebih banyak orang yang tahu. Dan kalau kamu mau terus ditemani obrolan
1:33 yang dari hati ke hati, subscribe ya. Kita masih panjang perjalanannya. Karena bisa jadi cerita ini bukan cuma soal masa depan, tapi soal kita semua. Di sebuah desa terpencil di lereng Gunung Selamat, di tengah udara pagi yang dingin dan kabut yang menyelimuti sawah-sawah kering, duduklah seorang petani bernama Pak Jumadi. Ia bukan tokoh penting, tidak pernah tampil di TV, tidak pernah ditulis di berita utama. Ia hanya rakyat kecil, satu dari jutaan wajah yang tak terlihat, namun menjadi tulang punggung bangsa. Tapi hari ini hatinya remuk. Sawah yang dulu hijau dan penuh harapan kini retak-retak. Musim hujan terlambat datang.
2:19 Pupuk mahal. Bibit berkualitas hanya bisa dibeli oleh petani yang punya modal. Utangnya ke koperasi desa sudah mencapai Rp15 juta. Istrinya sakit demam tinggi tapi tidak bisa ke puskesmas karena ongkos transportasi Rp200.000 terasa seperti gunung. Anaknya yang duduk di kelas 6 SD mungkin tidak bisa melanjutkan ke SMP. Biaya seragam buku dan uang gedung terlalu besar. Pak Jumadi bukan koruptor, bukan penjahat. Ia hanya rakyat kecil yang bekerja keras dari subuh sampai magrib, dari tanam sampai panen, dari panen sampai jual ke tengkulak yang selalu membeli murah dan menjual mahal. Tapi hidupnya terasa
3:07 seperti terus diinjak. Dan yang paling menyakitkan, di TV, ia melihat pejabat naik jet pribadi pebisnis membuka restoran mewah di Jakarta, influencer pamer liburan ke Swiss. Sementara dia tidak bisa beli obat untuk istrinya. Inikah Indonesia yang kita impikan? Inikah arti kemerdekaan? Karena jika kemerdekaan hanya dinikmati oleh segelintir orang, maka sebenarnya kita belum merdeka. Dan di titik inilah dari dalam dada rakyat kecil muncul satu pertanyaan yang tak bisa dibungkam. Kapan datang pemimpin yang benar-benar adil? Pemimpin yang bukan hanya bicara tapi
3:52 berdiri di samping kita atau seperti yang diramalkan leluhur kita sejak ratusan tahun lalu? Apakah ini saatnya Satrio Piningit muncul? Bola kristal Satrio Piningit bukan legenda. Ia adalah jawaban atas zaman edan. Mari kita jujur. Zaman sekarang terasa edan. Yang jujur dianggap bodoh. Yang curang dianggap pintar. Yang kerja keras tetap miskin. Yang tidur di kantor malah naik jabatan. Dan dalam dunia yang terbalik seperti ini, leluhur kita tidak tinggal diam. Mereka menulis ramalan bukan sebagai hiburan, tapi sebagai peringatan dan harapan.
4:39 Salah satu yang paling terkenal adalah Ser Jayabaya, sebuah naskah kuno dari abad ke-17 yang ditulis oleh Rangga Warsita, seorang pujangga besar kerajaan Mataram. Dalam ramalannya ia menyebut, "Satrio piningit, satrio sejati ora katon nanging kenarasake lahir saka penderitaan, ora saka tahta." Perhatikan kata-katanya. Orakaton tidak terlihat. Artinya ia bukan tokoh yang dipromosikan media. Tidak ada di iklan kampanye, tidak pamer di Instagram. Lahir saka penderitaan.
5:25 Ia bukan anak pejabat, bukan cucu pengusaha, tapi anak dari rakyat yang pernah kelaparan, pernah di PHK. pernah menangis di kamar kos karena gaji tidak cukup. Ia bukan lahir dari kekuasaan. Ia lahir dari rasa keadilan yang terluka. Dan dalam serat pranitiwak disebutkan ketika negara dirobek-robek oleh korupsi dan rakyat menangis tanpa suara, maka dari reruntuhan itulah akan muncul sang pemimpin yang tidak pernah meminta. Nah, Bro, apakah kita tidak sedang hidup
6:13 di zaman seperti itu? Rakyat menangis tapi tidak berbunyi. Anak-anak bunuh diri karena tekanan. Petani bunuh diri karena hutang. Nelayan mati di laut karena kapal rusak. Tapi di istana rapat tetap berlangsung. Keputusan diambil dan uang mengalir ke kantong yang sama. Dan di tengah semua ini leluhur kita percaya. Dari reruntuhan itulah satrio piningit akan muncul. Banyak yang mengira ramalan hanya bicara tentang pertempuran atau raja-raja. Padahal kitab-kitab kuno Nusantara sangat pek terhadap isu ekonomi, kesenjangan, dan
6:59 keadilan sosial. Mari kita buka beberapa di antaranya. [Musik] Satu, Serat Kalidda Sunan Kalijaga. Zaman edan dan kehancuran moral. Sunan Kalijaga salah satu wali Songo menulis Rat Kalatida sebagai kritik tajam terhadap zaman yang penuh kepalsuan. Ia menyebut zaman edan di mana nilai-nilai terbalik. Wong tua iku ora katon. Nanging pengaruhe nyata. Satrio piningit ora bakal ngomong aku iki nanging bakal dikenal saka apa kang ditindakake Sunan Kalijaga juga menggambarkan zaman edan zaman edan
7:44 yen ora edan ora ketularan nanging yen wis edan aja nganti keblinger ini sangat relevan dengan 2025 kalau Kalau kamu jujur, kamu dianggap ketinggalan zaman. Kalau kamu tidak korupsi, kamu dibilang tidak punya jaringan. Tapi Sunan Kalijaga mengingatkan, jangan sampai ke Blinger. Jangan ikut rusak hanya karena dunia rusak. Dua serat Wedatama Ranggawarsita. Keadilan adalah inti kepemimpinan. Dalam serat wedatama ranggawarsita menulis manunggaling kawula gusti ora ana panguasa tanpa tanggung jawab
8:33 dan kuasa iku amanah dudu hak artinya pemimpin bukan berkuasa karena dia berhak tapi karena dipercaya rakyat dan jika dia menyalahgunakan kekuasaan mengambil uang rakyat, menindas petani, membiarkan harga sembakau melambung, maka ia telah mengkhianati amanah. Dan dalam konteks ekonomi, Ranggawarsita menekankan kabeh urip kudu dewasa ora ana kang luwih utawa kurang kabeh pada ini adalah seruan untuk ekonomi yang adil.
9:18 bukan komunis, bukan kapitalis ekstrem, tapi ekonomi berkeadilan sosial di mana rakyat kecil bisa hidup bermartabat. Tiga, naskah Sunda, Wangsit Prabu Merdeka ramalan tentang pemimpin dari rakyat. Dalam tradisi Sunda ada naskah kuno bernama Wangsi Prabu Merdeka yang menyebutkan tentang kedatangan seorang pemimpin besar dari kalangan rakyat. Akan datang seorang pemimpin dari tanah Sunda. Bukan dari istana, bukan dari kota besar, tapi dari desa yang sunyi. Ia tidak punya harta, tapi punya hati. Ia tidak punya pasukan,
10:05 tapi punya kebenaran. Ia akan tegakkan keadilan bagi yang tertindas. Naskah ini juga menyebut, "Di saat rakyat kelaparan, para bangsawan makan emas. Di saat petani menangis, pejabat tertawa. Maka Tuhan akan bangkitkan seorang dari debu untuk mengguncang takhta yang bengkok." Sangat jelas ini adalah kritik terhadap ketimpangan ekonomi dan janji bahwa Tuhan tidak diam. Ia akan bangkitkan seorang dari debu dari rakyat kecil untuk memperbaiki yang rusak.
10:53 Empat negara kertagama mpu prapanca. Keadilan adalah fondasi kerajaan. Dalam negara Kertagama karya sastra abad ke-14 oleh MPU Prapanca disebutkan, "Raja iku duduk kanggo kekuasaan, nanging kanggo ngayomi lan lindungi. Dan yatim piatu, miskin lan wong tua kudu pinarak lan pinaringan panguripan. Ini adalah konsep ekonomi sosial yang sangat maju untuk zamannya. Raja bukan sekadar simbol, tapi penanggung jawab kesejahteraan rakyat. Jika hari ini negara tidak mampu melindungi petani, nelayan, atau anak
11:40 miskin, maka menurut negara kertama, negara telah gagal menjalankan fungsinya. Kita tidak bicara tentang masa depan yang jauh. Kita bicara tentang realita 2025 yang sudah terasa oleh jutaan rakyat. Utang negara tembus R8.500 triliun, BPS 2025. Artinya, setiap bayi yang lahir hari ini sudah punya utang Rp31 juta. PPN naik jadi 12%, cukai rokok naik 10% per tahun. Dan rencana pajak sembakau membuat rakyat kecil merasa diperas. Daya beli turun 18% sejak 2023. World Bund
12:26 27,3 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan naik dari 26 juta di 2024. Dan satu dari tiga tenaga kerja adalah pekerja informal, tidak punya jaminan kesehatan, tidak punya pensiun, tidak punya perlindungan hukum. dan leluhur kita. Mereka sudah memprediksi zaman seperti ini. Dalam Serat Centini disebutkan, "Ing zaman kang winates, wong sugih dadi satria, wong miskin dadi kaula, zaman yang winates, sempit tidak adil, di mana kekayaan menentukan status bukan integritas.
13:12 di mana uang bisa membeli keadilan dan kemiskinan dihukum lebih keras. Dan dalam serat musarar disebutkan ketika harta jadi Tuhan dan rakyat jadi korban, maka langit akan gelap dan bumi akan menangis. Apakah kita tidak melihat tanda-tandanya? Bumi menangis, banjir kekeringan bencana alam. langit gelap polusi kabut asap dan hati manusia yang makin keras. Tapi di tengah semua ini tetap ada harapan. Bintang bersinar Satrio Piningit bukan satu orang. Ia adalah gerakan rakyat.
14:00 Banyak yang menunggu Satrio Piningit datang dari gunung, dari langit, dari masa depan. Tapi mungkin Satrio Piningit bukan sosok tunggal. Ia adalah jutaan hati yang memilih untuk tidak menyerah. Ia adalah ibu penjual gorengan yang tetap berjualan meski hujan. Guru honorer yang tetap mengajar meski gaji belum dibayar. Anak muda yang memilih jujur meski dihina. Petani yang tetap menanam meski gagal panen. Nelayan yang tetap melaut meski ombak tinggi. Dalam serat sabda jawi disebutkan, satrio sejati ora golek kawentar nanging kawentar amarga saka
14:45 kaluhuraning budi. Dan dalam Wangsit Jayabaya disebutkan, "Ia tidak akan datang dengan pasukan, tapi dengan ketulusan. Ia tidak akan berteriak, tapi diam-diam mengubah zaman." Maka mungkin Satrio Piningit sudah muncul. Tidak di TV, tidak di parlemen, tapi di pasar, di sawah, di kelas, di kamar kos. Ia adalah kamu yang tetap bangun pagi untuk kerja. Ia adalah kamu yang tetap berdoa meski hidup keras. Ia adalah kamu yang memilih berbuat baik meski dunia
15:30 kejam. Ia akan hadir membawa julukan yang mungkin terdengar merendah, namun mengakhiri penutupan bumi. Perlambang tunjung putih semune Pudaka Kasungsang secara mendalam bermakna. Seorang pemimpin yang masih tersembunyi, berhati suci dan bersih. Inilah pemimpin yang di kalangan masyarakat dikenal sebagai Satrio Piningit yang tidak mencari sorotan, tapi kehadirannya tak bisa dihindari. Ia bukan muncul dengan gemuruh. tapi dengan ketenangan yang mengguncang. Ia tidak mengklaim diri, tapi diakui oleh hati rakyat yang haus akan keadilan. Istilah air di bumi megah dapat diartikan sebagai lambang bahwa pemimpin ini memiliki landasan spiritual yang
16:16 sangat kuat. Seorang yang bertakwa tinggi. Ia bukan pemimpin yang bangga dengan kekuasaan, tapi yang menundukkan kepala dalam doa. Yang berbicara dengan hati bukan retorika. Air yang tenang namun mengalir jauh membawa kehidupan bagi yang kering. Inilah pemimpin yang bijaksana terkait dengan kekuatan spiritual dan kearifan lokal yang akan dikenal luas di dunia. Bukan karena propaganda, tapi karena ketulusan yang menyentuh jiwa. Jangan menghalangi mereka yang menghormatinya. Karena itu akan menghalangi nasib keluarganya. Jangan tertipu pencarian kekuatan palsu.
17:04 Carilah simbol kekuatan sejati. [Musik] Perlambang ini bukan tentang kekuatan fisik, bukan tentang pasukan atau senjata, tapi tentang kekuatan spiritual, kebijaksanaan, dan kebenaran yang menyatu. Trisulaweda adalah simbol dari kesatuan antara cinta kepada rakyat, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, kebenaran dalam menegakkan hukum. Ia menyerang mengatasi masalah tanpa perlu kekuatan lahiriah semata. Ia menang bukan dengan menghancurkan, tapi dengan mengubah hati. Meskipun prosesnya mungkin terasa lama, kemenangannya tidak berdampak pada
17:50 kepentingan orang lain. Tidak ada korban, tidak ada dendam, hanya keadilan yang pulih dan martabat yang kembali. Rakyat bersukaria karena keadilan sejati akhirnya berkuasa. Raja menyembah rakyat dibimbing oleh kekuatan spiritual Trisulaweda. Para pemimpin spiritual, pendeta, ulama, resi juga memiliki peran penting. Seolah-olah diasuh oleh kearifan Sabdo Palon, sosok legendaris yang memilih meninggalkan kerajaan demi menjaga keseimbangan spiritual yang telah melalui masa sulit, namun kini kemasyurannya bersinar. semuanya tampak terang benderang.
18:37 Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang takut. Karena keadilan telah ditegakkan tanpa kekerasan. Karena pemimpin yang muncul bukan untuk memerintah, tapi untuk melayani. Matahari terbit berganti zaman dari kegelapan menuju kemakmuran. Fenomena ini adalah tanda-tanda akhir zaman yang akan segera berganti. Bukan akhir dunia, tapi akhir dari zaman kezaliman. [Musik] Berganti zaman penuh kemakmuran akan datang. Memperkokoh tatanan jagat raya. Bukan kemakmuran untuk segelintir, tapi untuk semua. Ekonomi yang adil, lingkungan yang
19:22 lestari, dan hati yang damai. Semua orang akan menaruh rasa hormat yang tinggi padanya. Bukan karena takut, tapi karena cinta dan penghormatan. Karena ia bukan pemimpin yang memaksa, tapi yang menginspirasi. Meski begitu, tak seorang pun tahu pasti kapan Satrio Piningit itu akan keluar dari masa sunyinya. Tanda-tandanya bisa muncul tahun depan, 2 tahun lagi, besok lusa, atau bahkan hari ini juga. Karena Satrio Piningi tidak lahir dari takhta, tapi dari kesadaran rakyat yang bangkit. Ia bukan datang dari luar, tapi muncul dari dalam. Dari kesadaran kolektif
20:10 bahwa keadilan tidak bisa ditunda, bahwa rakyat tidak boleh terus diam. Global Eropa Afrika, ekonomi keadilan dalam tradisi Nusantara, visi leluhur untuk bangsa yang berdaulat. Jika kita menelusuri lebih dalam, ekonomi berkeadilan bukan ide baru. Ia telah diwariskan dalam bentuk falsafah kehidupan, pemerintahan dan tata kelola sumber daya sejak zaman kerajaan. Satu, konsep pawiatan dan pawarta, pendidikan dan informasi untuk semua. Dalam tradisi Jawa, pawiatan, pendidikan, dan pawarta, informasi bukan hak istimewa. Raja-raja Matara membuka padepokan dan
20:55 pesantren yang terbuka untuk rakyat jelata. Guru-guru spiritual seperti Sunan Kalijaga bahkan mengajarkan nilai-nilai melalui wayang yang bisa diakses semua lapisan masyarakat. Hari ini pendidikan menjadi komoditas, sekolah swasta mahal, PTN penuh kuota. Anak petani harus menabung 10 tahun untuk bisa kuliah. Padahal menurut Serat Wulangreh, Sunan Kalijaga berkata, "Wulang lan ajar iku kanggo kabeh wong ora mung kanggo pria." Ketika pendidikan dikomersialisasi, maka terputuslah rantai keadilan.
21:42 Dan ketika rakyat tidak tahu haknya, maka penindasan akan terus berlangsung. Dua, ekonomi gotongroyong. Sistem ekonomi rakyat yang humanis. Dalam masyarakat tradisional, gotongroyong bukan sekadar budaya, tapi sistem ekonomi alternatif yang sangat efektif. Petani menanam bersama, nelayan melaut bersama, dan hasilnya dibagi sesuai kebutuhan, bukan kekuasaan. Tapi hari ini gotongroyong digantikan oleh kompetisi brutal. Orang tua takut anaknya kalah, anak-anak stres karena nilai, pekerja di PHK karena tidak cukup produktif. Padahal dalam serat wedatama
22:29 Ranggawarsita menulis sing becik kanggo kabeh lui becik tinimbang sing becik kanggo siji. Ketika ekonomi hanya menguntungkan segelintir maka sistem itu tidak berkeadilan. Dan ketika rakyat tidak diajak berbagi, maka Satrio Piningit akan muncul dari desa, bukan dari gedung pencakar langit. Satrio Piningit bukan sekadar tokoh politik. Ia adalah simbol transformasi spiritual bangsa. Ia muncul ketika rakyat mulai elingat dan waspada. Waspadalah. Dalam ajaran Jawa, eling lan waspada
23:15 adalah kunci kesadaran. Eling sadar akan diri. Waspada sadar akan realitas. Ketika rakyat mulai sadar bahwa keadilan bisa ditegakkan, kebaikan bisa menang, kebenaran bisa berbicara, maka di sanalah Satrio Piningit mulai tumbuh. Ia tidak muncul dari kehampaan, tapi dari kolektif suffering yang berubah menjadi kolektif healing. Dari keputusasaan lahir harapan. Dari kemiskinan lahir kekuatan. Ia tidak perlu menjadi presiden. Ia tidak perlu punya pasukan. Ia hanya perlu berdiri tegak di tengah badai.
24:01 Dan ketika jutaan orang seperti itu muncul, maka zaman akan berubah. Jadi, apakah ini saatnya Satrio Piningit muncul? Iya, tapi bukan dalam bentuk yang kita bayangkan. Ia tidak datang dengan kereta kencana. Ia datang dalam bentuk perlawanan diam-diam terhadap kezaliman, dalam bentuk kejujuran yang tidak goyah, dalam bentuk kasih sayang yang tidak pernah padam. Dan mungkin kita semua adalah bagian dari proses kelahirannya. Karena seperti kata kitab Weda Tamaso Majio Tirgamaya
24:46 dari kegelapan bawalah aku kepada cahaya. Cahaya itu tidak datang dari istana ia datang dari hati yang pernah hancur tapi tetap memilih untuk berdiri. Dan di zaman 2025 yang penuh ketidakadilan ini, mungkin kamu adalah salah satu dari cahaya itu. Selamat datang, Satrio Piningit, sang pemimpin impian rakyat Nusantara yang dinanti kehadirannya bukan karena kekuasaan, tapi karena ketulusan, bukan karena kekayaan, tapi karena kemuliaan budi.
25:33 Komentar di bawah. Apa tanda-tanda zaman Eden menurutmu? Siapa satrio piningit versi kamu? Apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan keadilan ekonomi? Karena dari satu hati yang bangkit bisa lahir perubahan untuk seluruh bangsa. Sampai di sini dulu, sahabat. Untuk pertemuan kali ini, SN berharap semoga dapat menghibur waktu luang bagi sahabat semua. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. segala kesalahan, kekurangan, atau bahkan berlebihan dalam penyampaian.
26:18 Akhir kata, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera, penuh cinta dari kami semua. [Musik]