Kerusuhan Tragis 1998: Dari Pemerkosaan, Pembakaran, Penjarahan, Hingga Jatuhnya Soeharto - Part 2

Doczon www.youtube.com

Brief Summary

This video recounts the tragic events of the May 1998 riots in Indonesia, focusing on the violence, especially against the Chinese Indonesian community, and the mass rapes that occurred. It details the widespread destruction, loss of life, and the eventual downfall of President Soeharto's regime. The video also touches on the aftermath, including the lack of justice for victims and the ongoing efforts to remember and learn from these events.

  • The riots were triggered by economic hardship and political tension, leading to widespread looting, arson, and violence.
  • Chinese Indonesians were specifically targeted, with many experiencing property destruction, sexual assault, and murder.
  • The government's response was initially slow and ineffective, leading to accusations of negligence or complicity.
  • The riots ultimately contributed to the end of Soeharto's 32-year rule, paving the way for democratic reforms.
  • The legacy of the May 1998 riots includes ongoing demands for justice, efforts to promote inter-ethnic harmony, and a renewed focus on human rights.

The Unfolding Tragedy of May 13, 1998

On May 13, 1998, Jakarta was in mourning after the shooting of Trisakti University students. Amidst the grief, anger was brewing, fueled by conversations in markets and terminals about the shootings. By noon, thousands gathered in the streets, driven by anger, and peaceful protests turned into riots. Unidentified groups infiltrated the crowds, setting fire to warehouses, shopping centers, and shops, particularly in areas like Glodok and Mangga Dua, which were largely owned by Chinese Indonesians. The chaos escalated quickly, with streets engulfed in flames and smoke.

Escalation and Inaction

As the afternoon progressed, the situation became uncontrollable, with security forces either retreating or disappearing. Many witnesses reported that soldiers stood by and watched the looting without intervening, while a few officers tried to protect citizens. Jakarta was essentially left to burn, with cars overturned and set ablaze, and shops looted. Some Chinese shop owners desperately put up signs indicating they were pribumi (native Indonesian) or pro-reform in hopes of avoiding being targeted, but the mob was indiscriminate, targeting anyone suspected of being non-pribumi. The night was filled with panic, blackouts, and the sounds of explosions, as terrified Chinese Indonesians barricaded themselves in their homes or fled the city.

May 14: The Peak of Horror

May 14, 1998, marked the peak of the riots, with thousands of people, mostly young men and urban poor, flooding the streets to vent their anger and loot. Major shopping centers and small shops were attacked, including Yogya Plaza in East Jakarta, which was set on fire with many people still inside. People inside the mall desperately sought escape, with some jumping from upper floors and others trapped and burned alive. The fire at Plaza Yogya resulted in the deaths of an estimated 288 to 488 people, mostly women and children.

Spreading Unrest

The violence quickly spread from Jakarta to other cities like Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi. In Tangerang, Chinese-owned shops and settlements were attacked, while in Bekasi and Depok, shops were looted and vehicles were burned. Even Bogor saw looting in its city center. The riots extended beyond Java to cities like Solo, Surabaya, Palembang, Lampung, and Medan, each experiencing similar patterns of destruction and violence, with Chinese Indonesians often targeted.

The Darkest Secret: Sexual Violence

Amidst the chaos, a wave of mass rapes occurred, becoming the darkest aspect of the May 1998 riots. Volunteer groups documented at least 85 cases of sexual violence, including rape, torture, and sexual assault, with Chinese Indonesian women being the primary victims. The actual number is believed to be much higher, with many victims remaining silent due to fear and trauma. These acts of sexual violence were systematic and planned, occurring in various riot locations. Victims were often dragged from their homes and shops, stripped, raped, tortured, and subjected to racial slurs. The brutality included the use of sharp objects to torture the victims' genitals.

Aftermath and Government Response

Initially, the government doubted the reports of mass rapes, citing a lack of evidence. However, activists persisted, and President Habibie eventually formed the National Commission on Violence Against Women in October 1998, and the state officially apologized to the rape victims. By May 15, 1998, the situation in Jakarta began to stabilize, with military patrols increasing and a de facto curfew in place. The number of casualties was tallied by volunteers and hospitals, and tragic stories emerged.

The Fall of Soeharto

The May 1998 riots shook the foundations of the New Order regime. President Soeharto, who had ruled for 32 years, faced increasing pressure to step down. After returning from Cairo on May 15, he attempted to salvage his regime by proposing a Reform Committee, but many independent figures refused to join unless Soeharto resigned first. On May 18, thousands of students occupied the MPR building, and MPR Speaker Harmoko called for Soeharto's resignation. On May 19, Soeharto met with Islamic leaders, who conveyed the public's desire for him to step down. The final blow came when 14 ministers threatened to resign, leading to Soeharto's resignation on May 21, 1998.

Legacy and Remembrance

The May 1998 tragedy left a complex legacy for Indonesia, marked by democratic reforms but also unresolved questions of justice. Families of victims continue to demand investigations and trials for those responsible for human rights violations. Cases like the Trisakti shootings and the mass rapes remain unresolved due to a lack of evidence and victims' reluctance to testify. Despite the lack of legal resolution, the events of 1998 are commemorated annually, with communities and pro-democracy groups holding events to remember the victims and advocate for justice. For Chinese Indonesians, the tragedy marked a turning point, leading to greater political engagement and a stronger assertion of their identity as integral members of the nation.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transcript

Full transcript of “Kerusuhan Tragis 1998: Dari Pemerkosaan, Pembakaran, Penjarahan, Hingga Jatuhnya Soeharto - Part 2”. Click a timestamp to open the video at that moment. Need another video? Use the YouTube transcript generator.

0:00 [Musik] Pagi hari di tanggal 13 Mei 1998, Jakarta masih diselimuti duka akibat penembakan mahasiswa Trisakti sehari sebelumnya. Bunga-bunga ditaburkan di depan kampus dengan wajah-wajah muram yang menunduk di sepanjang jalan. Namun di balik kesedihan itu, Amara sudah menunggu untuk meledak. Di ganggang kecil, pasar dan terminal, orang-orang berbicara mengenai mahasiswa yang ditembak. Suara-suara itu menggumpal dengan pelan untuk kemudian segera berubah menjadi

0:47 arus besar yang mustahil untuk dibendung. Menjelang siang, ribuan orang mulai berkumpul di jalanan Jakarta. Mereka datang tanpa koordinasi dan tanpa pemimpin. Amarah menjadi satu-satunya kompas yang menggerakkan arah mereka untuk kemudian dalam waktu singkat demo damai berubah menjadi kerusuhan. Sekelompok massa yang tidak dikenal menyusup dan memicu kekacauan. Mereka membakar gudang-gudang, pusat perbelanjaan, serta pertokoan. Di Glodok dan Mangga I. Kawasan pertokoan yang banyak dimiliki warga keturunan Tionghoa terdengar kaca berjatuhan serta teriakan kacau.

1:33 Sekelompok pemuda berteriak sambil melemparkan kursi, meja, atau barang apapun ke dalam api di tengah jalan. Toko yang telah kosong di jarah lalu dibakar sehingga kemudian jilatan api menjalar dari satu ruko ke ruko lain dengan sangat cepat. Lalu dalam segera jalanan ibu kota mencekam dalam api dan asap hitam yang mengerikan. Menjelang sore hari, situasi semakin tidak terkendali. Di beberapa titik, aparat keamanan terlihat mundur atau bahkan menghilang sama sekali. Banyak kesaksian menyatakan bahwa sejumlah tentara hanya berdiam diri menyaksikan penjarahan tanpa bertindak.

2:20 Sementara di lokasi lain segelintir petugas berupaya melindungi warga dari amukan massa. Namun secara umum Jakarta seolah dibiarkan untuk terbakar. Mobil-mobil dibalik dan dibakar di tepi jalan. Ruko dan supermarket dijara habis-habisan. Berkung-karung beras, elektronik hingga pakaian diangkut masa yang beringas. Di sebuah sudut kota terdengar tangisan pemilik toko memohon ampun. Sementara sekelompok orang merusak papan nama tokonya. Beberapa pemilik toko Tionghua putus asa menempel kertas berbentuk milik pribumi atau pro reformasi di etalase dengan harapan tokonya bisa luput dari sasaran.

3:07 Namun sayangnya masa telah terlanjur gelap mata sehingga siapapun yang dicurigai sebagai non pribumi menjadi target perusahaan. Malam itu Jakarta benar-benar dilanda kepanikan. Listrik padam di banyak daerah, menyisakan gelap gulita dan hanya diterangi nyala api dari bangunan yang terbakar. Suasana letupan dan ledakan gas dari kios-kios yang terbakar terdengar bersahutan. Warga keturunan Tionghua yang ketakutan mengurung diri di rumah masing-masing. Sebagian dari mereka mencoba menyelamatkan diri. Keluarga-keluarga bergegas meninggalkan kota menuju bandara atau menumpang di rumah kerabat

3:52 pribumi. Telepon berdering di pos-pos polisi dan pemadam kebakaran. Namun bantuan nyaris tidak tampak. aparat seolah menghilang meninggalkan warga dalam mimpi buruk nyata yang sangat mengerikan. Dan bagian yang paling buruk dari petaka ini bahwa ia hanyalah permulaan. Hari Kamis, 14 Mei 1998, kerusuhan memasuki puncak kengeriannya. Pagi itu Jakarta benar-benar kacau. Masa dalam jumlah ribuan orang yang kebanyakan adalah pemuda dan warga urban miskin tumpah ke jalan-jalan, melampiaskan kemarahan, sekaligus

4:39 memanfaatkan situasi untuk menjara. Mereka menyerbu pusat-pusat perbelanjaan besar maupun pertokohan kecil. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran antara lain Yogyakarta di Jakarta Timur, Mall Citra, Pertokoan Glodok dan sekitarnya di Jakarta Kota Pasar Senen, Jatinegara hingga kawasan elit di Peluit dan Sunter. Supermarket dan swalayan seperti Hero, Superindo, Makro, Goro, Ramayana, Borobudur, dan lain-lain diserbu oleh massa, dirusak, lalu dibakar. Bahkan gedung-gedung perkantoran dan bank pun tidak luput dari perusahaan. Yang paling mengenaskan adalah insiden

5:25 kebakaran Plaza Yokya atau Kalender Jakarta Timur. Pada 14 Mei siang, mall empat lantai itu diserbu ribuan penjara. Lalu entah bagaimana api tersulut dan gedung terbakar hebat dengan banyak orang masih di dalamnya. Orang-orang yang masih berada di dalam mall panik mencari jalan keluar. Teriakan histeris terdengar dari jendela lantai atas. Ada yang melompat demi menyelamatkan diri dan ada yang terjebak dan terbakar hidup-hidup menciptakan bau daging hangus yang bercampur dengan asap hitam yang menutup langit sore itu. Kobaran api di Plaza Yogya baru padam keesokan harinya hanya untuk menyisakan

6:11 pemandangan yang mengerikan. Di dalam puing yang telah hangus itu ditemukan ratusan jenazah hangus yang tidak bisa dikenali. Pembakaran Plaza Lender tercatat sebagai peristiwa dengan korban jiwa terbanyak selama kerusuhan. Diperkirakan menewaskan antara 288 hingga 488 orang yang terbakar hidup-hidup yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak yang terjebak di dalam gedung. Mereka terbakar atau terinjak-injak dalam kepanikan. Mayat-mayat hangus itu kemudian berjejer di halaman. ditutup kain seadanya sehingga menebarkan aroma kematian yang menusuk hidung.

6:59 Keganasan peristiwa 13 hingga 14 Mei 1998 di Jakarta dengan cepat menyebar seperti api di sulut angin. Kerusuhan segera menyeruak ke kota Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Beberapa daerah yang menjadi penyangga ibu kota. Di Tangerang. Pusat pertokoan dan pemukiman Tionghua diserang gerombolan tidak dikenal. Pasar tradisional dibakar dan rumah-rumah dirusak. Di Bekasi dan Depok terjadi penjarahan toko-toko sewalayan dan pembakaran kendaraan. Bogor pun tidak luput. Sejumlah toko di pusat kota di jarah masa yang berteriak-teriak anti pemerintah. Dari Pulau Jawa hingga Sumatera,

7:44 gelombang kerusuhan terus melanda. Di Solo atau Surakarta, Amokmasa pecah pada 14 hingga 15 Mei 1998 bersamaan dengan di Jakarta. Solo memiliki populasi Tionghua cukup banyak dan pernah terjadi kerusuhan Sara di masa lampau. Pada Mei 1998, massa merusak pusat perbelanjaan, toko emas dan pertokoan di Pasar Gede Solo yang sebagian besar milik warga Tionghua. Kendati demikian, beberapa tokoh lokal menilai bahwa sentimen anti Tionghoa di Solo tidak setajam di ibu kota. Banyak warga Solo, baik orang lokal maupun keturunan Tionghua, bahu-membahu

8:29 berupaya melindungi lingkungan mereka. Namun tetap saja puluhan bangunan di Solo, ludes dijilat oleh api dan korban jiwa berjatuhan. Kerusuhan yang brutal juga meletus di Surabaya, Jawa Timur, terutama pada 14 hingga 15 Mei. Masa merusak pusat perbelanjaan dan membakar kendaraan di kota pelabuhan itu. Di beberapa titik, aparat keamanan di Surabaya berhasil menghalau masa sehingga kerusuhan terkendali lebih cepat. Sementara itu di Palembang, Sumatera Selatan, dan Lampung di ujung selatan Sumatera terjadi pula insiden penyerangan terhadap komunitas Tionghua. Meski skalanya lebih kecil,

9:17 tokoh-tokoh milik warga keturunan di Palembang dirusak. Beberapa wanita di Palembang dilaporkan mengalami serangan seksual di tengah kerusuhan. Di Medan, Sumatera Utara, kerusuhan anti Tionghua bahkan sudah berlangsung pada 4 hingga 8 Mei. Didorong ketidakpuasan ekonomi dan sosial. Rentetan kerusuhan di Medan menewaskan belasan orang dan menghancurkan ratusan bangunan sebelum akhirnya reda pada 8 Mei. Dari Medan hingga Surabaya, pola kerusuhan serupa terjadi. Kemarahan massa disalurkan dengan menjarah dan membakar dan minoritas Tionghua menjadi kambing hitam.

10:02 Laporan resmi mencatat bahwa selain Jakarta, kota yang mengalami kerusuhan parah adalah Medan, Jakarta, dan Surakarta dengan insiden lebih kecil di Tangerang, Palembang, Lampung, Surabaya, hingga Bali. Namun betapun gemuruh kerusuhan ini serentak mengguncang fondasi negeri. Di seluruh penjuru negeri, lebih dari 1000 nyawa melayang dalam periode singkat Mei 1998. Di antara kengerian penjarahan dan kobaran api, tragedi lain yang jauh lebih sunyi namun begitu kejam menimpa banyak perempuan. Pemerkosaan massal menjadi sisi tergelap dari kerusuhan Mei 1998

10:49 yang menghancurkan hidup para korban dan meninggalkan trauma yang menyakitkan. Tim relawan dan investigasi mencatat setidaknya terdapat 85 kasus kekerasan seksual terjadi selama kerusuhan. Kasus-kasus ini mencakup 52 korban pemerkosaan, 14 korban pemerkosaan disertai penganiayaan brutal, 10 korban penyerangan seksual, dan 9 korban pelecehan seksual. Para korban didominasi perempuan etnis Tionghua dari berbagai kalangan. Mulai dari remaja belia hingga ibu rumah tangga. Angka sesungguhnya diduga jauh lebih besar. Komnas Perempuan menerima laporan total 168 perempuan yang mengaku

11:35 mengalami kekerasan seksual pada Mei 1998. Dan banyak korban lain yang memilih untuk bungkam karena takut dan trauma. Kekerasan seksual ini terjadi secara sistematis dan terencana di berbagai lokasi kerusuhan mulai dari Jakarta, Tangerang, Palembang, Solo, Surabaya, Lampung hingga Medan. Kekerasan ini menunjukkan pola yang mirip bahwa para perempuan keturunan Tionghua menjadi sasaran kelompok lelaki beringas yang memanfaatkan kekacauan di ganggang gelap maupun di rumah-rumah yang disatroni. Tubuh-tubuh perempuan tidak berdosa itu menjadi pelampiasan kebiadaban.

12:21 Tubuh-tubuh itu diseret dari rumah dan toko, ditelanjangi, diperkosa secara bergiliran, disiksa, dan diintimidasi. Para pelaku seringkiali berteriak menghina korban dengan makian rasial. Tidak jarang mereka menyebut Cina dengan nada merendahkan saat melakukan aksi bejatnya. Sejumlah kesaksian menggambarkan adegan mengerikan itu bahwa perempuan-perempuan itu diperkosa beramai-ramai lalu ditinggalkan di jalanan dalam keadaan babak belur dan telanjang. Bahkan ada korban yang diperkosa di depan keluarganya sendiri sebelum para pelaku menghabisi anggota keluarga tersebut. Kekerasan ini berlangsung sangat cepat,

13:07 brutal, dan seolah terorganisir di tengah kekacauan massa. Salah satu ciri yang mencolok adalah kebiadaban yang luar biasa dalam metode penyiksaan. Berdasarkan laporan tim gabungan pencari fakta atau TGPF, banyak korban tidak hanya diperkosa, tetapi juga disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam atau cara-cara yang sangat keji. Hasil investigasi menemukan bahwa sebanyak 85 korban mengalami pemerkosaan anal, oral, dan mutilasi alat kelamin. sebuah bentuk kekerasan yang bahkan belum diatur secara khusus dalam KUHP Indonesia waktu itu.

13:53 Fakta-fakta ini menggambarkan betapa sadisnya perilaku para pelaku melampaui kebiadaban yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh hewan paling buas sekalipun. Sebagian korban diperkosa hingga tewas. Sebagian lainnya dibiarkan hidup namun menderita luka parah dan trauma jiwa seumur hidup. Tragedi pemerkosaan massal inilah yang kemudian hari oleh banyak aktivis disebut sebagai kejahatan kemanusiaan yang terlupakan. Sunyi dan tertutupnya kasus-kasus ini membuatnya nyaris luput dari ingatan publik. Padahal bagi para korban, neraka itu sangatlah nyata dan akan selamanya membekas dalam hidup.

14:38 Awalnya pemerintah meragukan kebenaran laporan pemerkosaan massal. dengan alasan kurang bukti. Namun, para aktivis dan saksi bersikukuh dengan temuan mereka. Belakangan, Presiden Habibi membentuk Komnas Anti Kekerasan terhadap perempuan pada Oktober 1998 sebagai respon atas tragedi ini. Dan untuk pertama kalinya, negara secara resmi meminta maaf kepada korban pemerkosaan. Pada hari Jumat, 15 Mei 1998, situasi di Jakarta berangsur terkendali. Meski suasana masih mencekam, Presiden Soeharto tiba kembali di Jakarta dari Mesir pada hari itu dan

15:24 langsung mengadakan pertemuan dengan petinggi militer. Ia membantah pernah berniat mundur seperti ucapan yang dikutip koran sehari sebelumnya. Patroli militer mulai gencar dilakukan di jalan-jalan dan jam malam diberlakukan secara de facto karena warga sipil memilih berdiam di dalam rumah. Toko-toko tutup jalanan lengang dari aktivitas normal hanya berisi kendaraan militer sesekali lewat. Sementara itu, warga Tionghua yang tidak mengungsi banyak yang bersembunyi. Sementara warga lain sibuk menimbun bahan makanan karena takut kerusuhan berkepanjangan. Jumlah korban yang tewas dan luka mulai didata oleh relawan dan rumah sakit. Kesaksian-kesaksian tragis mulai

16:11 bermunculan memperlihatkan betapa mengerikannya kerusuhan kemarin. secara berangsur pada 16 Mei 1998, keadaan di Jakarta relatif terkendali oleh pihak keamanan. Meski ketegangan belum hilang, warga asing pun banyak dievakuasi oleh kedutaan masing-masing pada 16 Mei sehingga menambah kesan darurat. Jakarta praktis lumpuh total dalam hari-hari itu. Sekolah, kantor, dan pusat perbelanjaan semuanya tutup dan kehidupan ekonomi berhenti sejenak. Kerusuhan massal yang melanda Indonesia pada Mei 1998

16:59 akhirnya menggoyahkan pilar-pilar kekuasaan Orde Baru. Presiden Soeharto yang selama 32 tahun memerintah dengan tangan besi dalam hitungan hari kehilangan dukungan politik serta kepercayaan publik. Setelah kembali dari Kairo pada 15 Mei 1998 dan mendapati Jakarta rusuh parah, Presiden Soeharto mulanya mencoba mengambil langkah-langkah penyelamatan rezim. Pada Sabtu, 16 Mei 1998, Soeharto memanggil sejumlah penasihat dan loyalisnya. Ia sempat mewacanakan pembentukan Komite Reformasi, sebuah badan yang rencananya melibatkan berbagai tokoh masyarakat untuk meredakan situasi. Namun banyak tokoh independen menolak

17:46 untuk bergabung karena syarat utama reformasi bagi mereka adalah Soeharto mundur terlebih dahulu. Pada Senin, 8 Mei 1998, tekanan terhadap Soeharto makin meningkat. Hari itu terjadi sebuah peristiwa dramatis. Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas berhasil menduduki gedung MPR di Senayan. Sejak pagi, gelombang mahasiswa tidak terbendung memasuki kompleks parlemen. Aparat yang berjaga memutuskan untuk berkompromi dan tidak menggunakan kekerasan demi menghindari Trisakti kedua. Dan akhirnya mahasiswa membanjiri gedung MPR bahkan memanjat hingga ke atap

18:31 gedung. Mereka mengibarkan bendera merah putih dan spanduk Soeharto mundur di atas gedung parlemen. Pemandangan ini disiarkan luas di televisi yang kemudian menjadi simbol bahwa kekuasaan rakyat telah merebut gedung wakil rakyat secara damai. Di hari yang sama, Ketua MPR Harmoko yang biasanya dikenal sangat loyal pada Soeharto menggelar konferensi pers menggejutkan. Atas nama pimpinan Dewan, Harmoko menyarankan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri demi persatuan dan keselamatan bangsa. Ucapan Harmoko ini segera menjadi berita utama. Demikian itu karena Harmoko adalah pejabat tinggi Orde Baru dan

19:17 sebelumnya tidak pernah menyimpang dari garis Soeharto. Saat seorang anak emas Orde Baru sampai meminta Presiden mundur, itu pertanda Soeharto kian terisolasi. Pernyataan Harmoko juga memberi semacam restu bagi gerakan mahasiswa dan masyarakat bahwa tuntutan mereka agar Soeharto turun didukung lembaga resmi. Tentu saja Soeharto marah besar mendengar langkah Harmoko. Pada Selasa, 19 Mei 1998, Soeharto memanggil tokoh Islam terkemuka ke istana. Antara lain Nurholis Majid, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan K. H. Alyafi untuk berdialog tentang situasi terakhir.

20:03 Dalam pertemuan sekitar 2,5 jam itu, para tokoh menyampaikan bahwa rakyat dan mahasiswa menghendaki Soeharto untuk lengser. Soharto dilaporkan mendengar, namun tidak langsung menyatakan sikap. Sementara di lapangan, ribuan mahasiswa masih menduduki gedung MPR pada 19 Mei dan aksi solidaritas terus terjadi di daerah-daerah. Di Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung, mahasiswa dan rakyat menggelar doa bersama untuk para korban dan mendesak perubahan pemimpin nasional. Titik kritis selanjutnya adalah mulai bergugurannya dukungan dari para menteri kabinet.

20:48 Pada tanggal 19 Mei malam, 14 menteri dilaporkan menyatakan niat mundur dari kabinet pembangunan 7 jika Soeharto tidak segera mengambil langkah Arif. Mundurnya para menteri ini menandakan pemerintahan Soeharto praktis lumpuh karena kabinet sudah tidak solid lagi. Para menteri itu khawatir dengan situasi yang kian kacau dan tidak ingin tercatat di sejarah sebagai bagian dari pemerintahan yang telah menembaki rakyat. Pada Rabu, 20 Mei 1998, masa mahasiswa berencana menggelar demonstrasi terbesar di lapangan Monas Jakarta yang diinisiasi Amin Rais. Namun menjelang dini hari, Amin Rais membatalkan rencana aksi di Monas karena

21:34 situasi sedang genting. Ia mengkhawatirkan pertumpahan darah jika masa terlalu besar. Keputusan ini mungkin karena di belakang layar negosiasi politik sedang berlangsung bahwa Soeharto akan mundur esok harinya. Benar saja, pada 21 Mei 1998 tibalah hari bersejarah bagi Indonesia. Pagi itu pukul 09.00 waktu Indonesia Barat, televisi nasional menyiarkan secara langsung dari Istana Merdeka. Presiden Soeharto didampingi Wakil Presiden BJ Habibi dan beberapa pejabat tampil di hadapan kamera. Wajah Soeharto tampak letih dan tegang. Lalu dengan

22:21 suara bergetar namun tegas, ia membacakan pernyataan singkat yang intinya ia telah memutuskan untuk berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Pernyataan itu disambut Habibi yang berdiri di sebelahnya dengan membaca sumpah sebagai presiden baru. Dan tepat sekitar pukul 09.05 WIB, Soeharto resmi mengundurkan diri dari kursi Presiden Republik Indonesia. Selanjutnya, Presiden Habibi dilantik menjadi presiden ketiga menggantikan Soeharto. Dan setelah itu Soeharto meninggalkan istana. Pengumuman pengunduran diri dari Soeharto segera disambut gemuruh sorak-sorai dan tangis haru di gedung DPR dan berbagai tempat di Indonesia.

23:07 Ribuan mahasiswa yang masih bercokol di DPR mendengar berita tersebut lewat radio dan TV langsung berteriak kegirangan, berpelukan, dan menyanyikan lagu Halo-Ho Bandung serta lagu nasional lainnya. Yuforia segera meliputi mereka bahwa pada akhirnya perjuangan panjang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Banyak mahasiswa menangis teringat rekan-rekan mereka yang telah gugur dan mempersembahkan momen itu untuk mereka. Sementara itu di jalan-jalan kota Jakarta, warga keluar rumah memberikan dukungan moral. Ada yang memukul kentongan, ada yang berkonvo kendaraan sambil meneriakkan reformasi. Masyarakat seolah tidak percaya bahwa Soeharto yang dulu dianggap tidak

23:53 tergoyahkan akhirnya bisa dilengserkan. Tragedi Mei 1998 meninggalkan warisan komplek bagi Indonesia. Di satu sisi, ia melahirkan perubahan yang positif, yaitu jatuhnya rezim otoriter serta lahirnya demokrasi. Kendati demikian, di sisi lain banyak pertanyaan keadilan yang belum bisa terjawab. Hingga lebih dari 20 tahun kemudian, keluarga korban Trisakti, Semanggi, dan Kerusuhan 98 terus menuntut pemerintah mengusut tuntas dan mengadili pelaku pelanggaran HAM berat di masa lalu. Misalnya, berkas penyelidikan Komnas HAM soal tragedi Trisakti Semanggi pernah

24:38 bolak-balik ditolak Kejaksaan Agung dengan alasan kurang bukti sehingga kasus menjadi stagnan. Begitu pula kasus pemerkosaan masal 98. Tidak satuun pelaku yang diadili karena kesulitan pembuktian serta korban enggan bersaksi karena trauma dan rasa takut. Ini membuat rasa keadilan belum sepenuhnya terpenuhi. Banyak aktivis HAM khawatir bahwa tanpa penyelesaian hukum, luka sejarah ini bisa berulang di masa depan. Kendati demikian, tragedi 98 tidak pernah dilupakan. Setiap tahun komunitas korban dan kelompok pro demokrasi mengadakan peringatan pada tanggal-tanggal kunci 12 Mei untuk tragedi Trisakti, 13 hingga 15

25:26 Mei untuk kerusahan Mei, dan 21 Mei untuk hari reformasi. Tagar menolak lupa sering muncul di media sosial menjelang bulan Mei sebagai pengingat generasi muda untuk tidak melupakan sejarah kelam ini. Sementara itu, bagi etnis Tionghoa Indonesia, tragedi 98 menjadi titik perubahan identitas. Jika dulu mereka cenderung apolitis demi keamanan, maka pasca reformasi banyak yang justru tampil aktif dalam politik dan masyarakat untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bagian tidak terpisahkan dari bangsa. Ada pula fenomena rekonsiliasi kecil di beberapa komunitas. Misalnya komunitas di Jakarta yang warganya terdiri dari masyarakat lokal dan Tionghua,

26:12 bersama-sama membentuk kelompok keamanan lingkungan agar tidak terprovokasi pihak luar. Intinya adalah kesadaran akan pentingnya harmoni antar etnis meningkat setelah menyadari betapa buruk akibat dari konflik SARA. Yeah.

Share

More video summaries