0:00 Selamat ulang tahun. [musik] Selamat ulang tahun. [tertawa] Yudi. Mau apa lagi kamu hari ini? dari ulang tahunmu. Tentu saja aku mau rayakan ulang tahunmu. [tertawa] Sebenarnya kamu mau apa? Gara-gara kamu aku sudah kehilangan kedua kakiku. Kamu masih mau apa lagi? Hah? Kalau saja bukan gara-gara kamu, si anak kandung yang sudah pulang, semua yang ada di
0:46 rumah ini harusnya jadi milikku, anak angkatnya. Aku mauembunuh kamu. Ah, [tertawa] ayah, ibu. Kakak, apa gunanya teriak-teriak kayak gitu? Hah? Mereka sudah kamu berbuat apa sama mereka? Kamu [tertawa] berbuat apa sama mereka? Teriak-teriak itu ada apa sih? Rumah ini sudah enggak ada air sama listrik. Sudah digadaikan. Cepat bereskan barang dan pergi. Ayah. Ayah. Ibu. Kakak. Hari ini ulang tahun terakhirnya kakak. Aku mau rayakan cuma berdua sama dia. Bukan begitu. Yudi itu mau kamu memang
1:33 benar anak bayi. Kondisi sudah seperti ini pun kamu masih pikir ulang tahun keluarga. Boh, dia bukan keluarga kita. Kalau bukan gara-gara dia, aku enggak bakal dikeluarkan dari sekolah. Dia itu membawa sial. Kalau saja aku enggak tolong dia, sekarang tanganku masih bisa dipakai. Bagas juga enggak bakal putus sama aku dan keluarga kita enggak akan bangkrut. Ayah, Ibu. Bukan kayak gitu. Yudi itu dia yang mau. Cukup kondisi sudah kayak gini. Kamu masih mau fitnah, Yudi? Gimana mungkin aku bisa punya anak kayak kamu? Hah? Ayah, ayah harus percaya sama aku. Semua ini ulah Yudi. Gara-gara dia aku jadi cacat. Kalau kalian enggak percaya, lihat ini. Dia borgol aku. Dia mau kurung aku di sini. Dia mau bunuh aku. Suriah, kamu benar-benar buat ibu kecewa. Kalau dari awal ibu tahu kamu
2:19 bakal kayak gini, ibu gak akan pernah bawa kamu pulang ke rumah. Ibu enggak begitu enggak begitu. Oke, kamu mau tetap di sini buat rayain ulang tahun kamu kan? Ya sudah, kamu tinggal di sini lanjutkan sendiri. Kita pergi. Ayah, ibu, kakak jangan pergi. [tertawa] [tertawa] Hah? Eh, di dalam kue ini sudah ada bom ini. Begitu lin ini padam, nanti akan bom. Oh,
3:05 [tertawa] selamat ulang tahun. Ay sejak kekuatan ramal masa depanku bangkit, aku sudah ubah banyak hal. Tapi kenapa sudah ramal bagian akhirnya berkali-kali? Hasilnya tetap enggak berubah. Mana efek kupu-kupu itu? [tertawa]
3:52 Masuki pusat masalah terus beraksi. Buat lebih banyak perubahan baru bisa ubah akhir cerita. Oh iya, hari ini keluarga itu akan datang jemput aku. Langkah pertama untuk ubah masa depan. Pura-pura lumpuh. Surya tinggal di sini. Benar, Nyonya. Tuan Muda sudah tinggal di sini selama 18 tahun.
4:38 Kalau saja wanita sekejam itu enggak tukar anakku dengan anaknya sendiri. Surya enggak mungkin menderita kayak gini. Kali ini aku sudah ketemu dengan anakku. Aku akan temus semua cinta dia yang selama ini hilang. Ini kenapa bisa jadi kayak gini? Lihat aku cacat kayak gini, kamu pasti jiji kan? Siapa yang lagi ngomong? Surya. Eh, Anda Surya. Aku ibumu. Ibu kandungmu.
5:24 Ibu dia enggak jiji sama aku. Memangnya masa depan yang aku lihat itu palsu? Enggak mungkin. Kemampuanku enggak pernah meleset. Sekarang dia kelihatan tulus sama aku. Tapi begitu aku balik ke rumah itu, si pembohong Yudi bakal mulai berulah lagi dan sikap ibu langsung berubah. Ini suara Surya. Tapi jelas-jelas dia enggak buka mulutnya. Memangnya aku bisa dengar isi pikirannya? Apa dia sudah kenal sama Yudi? Si Yudi itu sampai sewa perempuan hamil buat reputasiku rusak dan ngaku-ngaku anak di kandungannya itu milikku. H. Untung saja aku cerdas dari lahir. Sudah siap-siap dari awal. Yudi itu enggak akan berbuat sejahat itu menjebak orang lain, apalagi jebak
6:11 kakaknya sendiri. Kalau Surya bisa berpikir seburuk itu, kelihatannya selama ini didikannya kurang baik. Makanya [musik] pikirannya jadi sempit kayak begini. Ah, Surya nanti kamu Surya. Dasar enggak punya hati. Dasar enggak punya hati. Anak di perutku ini anakmu. Teganya kamu sama aku kayak gini. Jangan kira karena jadi tuan muda, kamu bisa cuek sama hidup aku dan anak ini. Siapa kamu? Soria. Sekarang kamu malah pura-pura ggak kenal sama aku. Kalau kamu berani cuek sama hidup aku dan anak ini, aku bakal buat reputasimu hancur. Aku kamu salah orang. Aku ini Surya.
6:59 Loh, katanya tingginya yang 1,8 m. Wah, malah jadi lumpuh. Ini semua salah kamu. Malam itu kita mabuk bareng terus kamu ngotot. Enggak biarkan aku masuk rumah. Lumpuh atau enggak, yang penting keluarga kamu kaya. Oh, kamu Sinta. Iya, aku Sinta. Karena kamu masih ingat aku ini siapa. Kali ini aku maafkan kamu. Aku mau lihat gimana Surya hadapi semua ini. Sinta, enggak sangka aku sudah lumpuh begini. Kamu masih enggak tinggalkan aku. Aku terharu banget. Sinta, ayo nanti kita buat akta nikah.
7:46 Asal ada kamu yang layani aku seumur hidup, aku sudah bahagia banget. Aku cuma cari orang buat jadi korban tanggung jawab saja. Siapa yang mau urus orang lumpuh kayak kamu? Aku ini mau jadi calon nyonya dalam keluarga kaya Sinta. Lihat kondisiku sekarang kan aku juga gak mau jadi beban orang lain. Ah, mulai sekarang kita bertiga saja tinggal bareng di rumah kecil ini. Nanti kamu cabut saja semua bunga ini. Terus kita akan tanam sayuran. Nanti juga kita akan menjadi petani dan hidup mandiri. [tertawa] Surya, kamu ini. Kamu gak pantas ikut aku balik ke keluarga Linjaya? Tenang saja, aku enggak akan ikut ibu balik ke keluarga Linjaya. Ada Sinta saja sudah cukup. Sinta, ayo pergi. Kita
8:32 langsung buat akta nikah sekarang. Aku enggak butuh kamu. Pipi ketinggian kamu ya. Masih naksir sama aku. Masih mau tipu aku buat nikah sama kamu. Sinta, kenapa kamu bisa ngomong begitu? Aku kan ayahnya anak itu. Ap lumpuh kayak kamu walau berdiri telanjang di depanmu, kamu bisa apa? Namaku Yuni Lestari, bukan Sinta. Persetan sama kamu. Masih mau tipu aku buat urus kamu. Mimpi saja sana. Yuni. E, Ibu tunggu sebentar. Ah. Ah. Surya, gak disangka kamu pura-pura
9:19 lumpuh bisa semyakinkan itu sampai aku ketipu juga. Aku bukannya pura-pura, tapi beneran pernah lumpuh. Yudi yang buat tangan kakiku patah, aku ggak akan lepaskan dia. Apa? Surya orang ini ayahku. [tertawa] Apa kamu bisa dengar pikiran putraku, sayang? Kamu enggak sakit kan? Kamu yang sakit. Aku enggak bercanda. Oke oke oke. Aku yang sakit saja. Aku bakal langsung balik sekarang. Tapi ada satu hal lagi. Putra kita sakit. Kemungkinan dia kena delusi
10:05 paranoid. Hah? Dia si paranoid surya ayah pulang. Hah? Enggak ngerti deh bagian mana dari dia yang ibu suka. Bisa-bisanya dia jadi orang terkaya di kota Barat. Diperdaya yudi habis-habisan. Ujung-ujungnya buat perusahaan bangkrut. Bukannya kamu yang punya anak kayak aku. Aku yang siaal punya ayah sebodoh ini. Kamu ada apa, Ayah? Tidak apa-apa. Ayahmu cuma terlalu emosional waktu ketemu kamu. Oh [tertawa] memang anak kebanggaan ayah. Hah? Ayah juga ayahku yang terbaik. [tertawa] Kalau bukan gara-gara kamu, mana mungkin aku lumpuh gara-gara orang itu dengan otak sebodoh ini. Kalau bukan karena tes DNA, aku beneran meragukan kamu itu ayah kandungku. Eh, kamu kamu ngapain kamu?
10:53 Anak ini sakit. Ngapain kamu debat sama dia? Aku enggak tahan. Beneran enggak tahan, [tertawa] Surya. Aku mengerti. Kalian baru saja bertemu. Wajar kalau emosinya meluap, tapi kita sudah harus pulang. Iya, iya, iya, iya. Emosinya meluap. Emosinya meluap. Hah, Surya, tenang saja. Mulai sekarang selama ada ibu dan ayah, enggak akan ada yang berani gertak kamu lagi. Tiga kakakmu dan adikmu, Yudi lagi tunggu kamu di rumah. Ayo kita pulang. Yudi saat ini lagi sibuk akting, mau kabur dari rumah segala. Mana sempat dia pikirkan aku kabur dari rumah. Ayo pulang. Ayo kita pulang.
11:41 Surya, mulai sekarang ini rumahmu juga. Kakak dan adikmu semuanya senang kalau kamu pulang. Hah? Lihat yang lari keluar itu kakak ketigamu namanya Weni. Lihat betapa bahagianya dia sampai lari keluar jemput kamu. Ibu [tertawa] ayah Yudi mau kabur dari rumah. Jangan halangi aku. Jangan halangi aku, Kak. Jangan halangi aku. Hah? Ayah, Ibu, kalian sudah pulang? Semalaman aku pikir kayaknya lebih baik aku pergi dari rumah ini. Lagi pula Kakak sudah balik, aku harus balikin rumah ini buat dia. Tebakannya beneran tepat. Ada apa ini? Aku sudah kayak gini, tapi
12:27 mereka masih cuek. saja. Yudi. Kamu selalu jadi bagian dari keluarga ini. Enggak ada yang bisa usir kamu. Iya. Kita sudah hidup bareng hampir 20 tahun. Walau enggak sedarah, kamu tetap adikku selamanya. Iya, Yudi. Kamu jangan pergi. Kalau kamu pergi, kita semua bakal sedih banget. Ayah, Ibu. Kalian bilang sesuatu Yudi, bukannya kita sudah setuju? Kami cuma jemput Surya pulang, bukan buat usir kamu, Ayah. Ibu, semua yang aku punya sekarang sebenarnya punya Kakak. Kalau aku tetap tinggal di sini, cepat atau lambat keluarga ini pasti enggak akan bisa terima aku lagi. Kalau gitu, aku yang pergi.
13:15 Kak, bukan begitu maksudku. Ayah, ibu, Kakak, kalian juga jangan coba-coba tahan aku lagi. Biar aku pergi saja. Pura-pura. Terus saja pura-pura. Siapa yang ngomong suara ini? Kalian juga bisa dengar pikirannya. Dia sudah yakin banget kalau ayah ibu gak bakal biarkan dia pergi. Konor itu juga kosong. Dia cuma pura-pura saja. Aktingnya saja enggak mau totalitas. Benar-benar setengah hati. Kosong. [musik] Eh, Yudi, sudah dong. Ngapain ribut terus?
14:02 Yudi, kamu mau kabur? Baju ganti saja enggak bawa. Padahal di luar bentar lagi turun salju. Hah? Tuhan Cipto, Nyang Susan. Karena rumah ini bukan punyaku. Semua yang kalian kasih ke aku, aku ggak akan ambil lagi. Eh ini. Ini kan mobil favorit kamu. Eh, apa? Jangan-jangan kita salah paham sama Yudi. Eh, eh, Kak, ini hadiah ulang tahun dari Tuan dan Nyonya Linjaya. Kamu harus jaga baik-baik ya. Ini kan dibeli oleh ayah dan ibu. Masa aku tolak? Mobil ini bisa dijual mahal. Mana mungkin aku keberatan. Aku harus berencana dari sekarang. Karena gak lama lagi keluarga Linjaya bakal bangkrut.
14:49 Bangkrut? Nanti [musik] aku jelaskan pada kalian. Eh eh semua barangnya sudah aku kembalikan. Jadi aku pergi sekarang. Cukup. Yudi. Kamu dari kecil dimanja terus. Kalau sekarang pergi bisa-bisa kamu kelaparan aku. Yudi, jangan khawatir. Selama ini kami sudah anggap kamu keluarga sendiri. Kami enggak akan usir kamu. E iya Ayah Ibu. Aku enggak akan berbuat lagi. Masih belum taruh kopernya juga. E iya, Surya. Ayo, aku kasih lihat kamarnya. Ayah, sebenarnya ada apa sih?
15:35 Kenapa kita bisa dengar pikirannya Surya? Kenapa juga dia bisa tahu kalau kopernya Yudi kosong? Dia bilang keluarga kita bakal bangkrut. Aduh, semua ini gara-gara adik kalian. Surya sedang sakit. Sakit? Hah? Dia punya delusi paranoid. Sebelum pulang tadi dia berkhayal. Yudi bakal kabur dari rumah. Jadi wajar saja dia curiga Yudi cuma pura-pura kabur dan gak bawa barang apapun. Tebakannya dua kali benar. Apakah itu delusi paranoid atau bisa lihat masa depan? Hah? Eh, Nak, kamu kan dokter. Apa penyakit adikmu itu bisa dirawat? Dulu sih paranoid kayak gini biasanya muncul karena waktu kecil kurang kasih sayang orang tua. Jadi tumbuh tanpa rasa aman. Hah, ini salahku ya,
16:20 Ayah. Sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan, adik, karena kamu sudah tahu, pasti juga tahu caranya. Penyakit ini sebenarnya masalah psikologis. Asalkan kita bisa tebus cinta yang hilang pada masa kecilnya. Oh, gitu ya. Hah? Kalau gitu nanti kalian harus lebih sabar sama Surya. Bahkan kalau kalian dengar pikirannya aneh-aneh jangan terlalu diambil hati. Oh, iya, Kak. Kenapa sih kita semua bisa dengar pikiran dia? Bisa dengar pikiran orang lain. Biasanya cuma muncul di eksperimen anak kembar. Dalam kasus keluarga kita aku belum pernah lihat sebelumnya. Tapi yang pasti kalau orang lain tahu soal keluarga kita, kita pasti akan [musik] diseret buat eksperimen bedah. Nah, mulai sekarang soal kita bisa dengar pikiran Surya, jangan bocor ke siapapun,
17:06 termasuk Surya atau Yudi. Ayo adik dimakan paha ayamnya. Tiba-tiba baik begini pasti ada maunya. Jangan-jangan ayam ini sudah dikasih obat. Mm. Aku sudah coba ayam ini dan rasanya enak. Terima kasih Surya. Ini kakak pertamamu, Celia. CEO Grup Galaxy. Pantas saja Kakak disebut CEO Ratu Keren Kota Barat. Dia cantik sih, tapi otaknya agak lemot. Enggak cuma ditipu harta dan
17:52 cinta sama cowok brengsek, ginjalnya juga diambil. Apa? Sio, apaan? Aku cuma bos bisnis kecil doang. [tertawa] Bos bisnis kecil kayaknya otaknya emang agak lemot. Otak bodohnya juga turunan dari ayah. Gak bisa salahkan dia juga. [tertawa] Makan ayamnya. Makan ayamnya ya. Hah? Surya ini kakak keduamu. Bella. Dia dokter Surya. Aku gak tahu kamu suka makan apa. Jadi enggak aku ambilkan ya. Tapi kalau nanti ada masalah entah fisik atau emosi, kamu bisa datang padaku. Dokter saja susah rawat diri sendiri.
18:39 Mending khawatirkan diri kamu dulu deh. Kalau nanti tanganmu cedera, gak ada yang bisa tolong kamu. [musik] Sumpitnya patah. Aku ganti dulu. Suryaah. E yang itu. Ah, aku kakak ketigamu. Namaku Weni. Cuma karena kamu gak tahu siapa aku, bukan berarti kamu bisa semena-mena. Kakak ketiga sama kayak aku difitnah nyontek hasil riset. Tapi aku masih mending, cuma kena drop out. Dia masuk daftar hitam seluruh dunia akademik sampai kerja cuci piring pun ditolak. Hm, menyedihkan sekali.
19:25 Kalau nanti kamu diganggu orang bisa datang padaku. Terima kasih, Kak. Eh, jangan marah [tertawa] dia sakit. Suriah, ini adikku yang baik, Yudi. Kak, nanti mohon bimbingannya. Tentu saja si Bagas cowok berengsek yang dekat sama Kakak sulung itu kan kamu yang kenalkan. Gimana dia bisa tahu soal Bagas? Kecelakaan mobil yang buat tangan kakak kedua cedera sampai gak bisa pegang pisau bedah lagi. Itu semua rencana kamu kan? Gimana dia bisa tahu kalau aku ini dokter bedah? Tuduhan laporan pasuk kakak ketiga tentang AI juga gara-gara kamu. Kenapa dia bisa tahu topik penelitianku? Kamu yang buat keluargaku hancur.
20:13 Kalian kan sudah aku perkenalkan. Hari ini tinggal saling kenalan saja. Aku hampir kira dia beneran bisa lihat masa depan. Kalian semua mulai sekarang harus akur sama Surya, ya. Dengar tidak? Tenang saja, Bu. Ayah kan sudah kasih tahu kita mulai sekarang kita harus jaga Surya baik-baik. Kak, kalau nanti ada apa-apa tinggal bilang saja. Aku pasti bakal bantu semampuku. Kalau saja aku enggak tahu dia bakal tuduh aku curi pakaian dalam kakak kedua dan bilang aku orang mesum, mungkin aku sudah percaya. Gawat kakak kedua punya OCD. Fantasi Surya makin lama makin ngawur saja. Mana mungkin Yudi berbuat kayak gitu. Tapi ada hal yang seharusnya kamu enggak
20:59 sentuh. Ngaku saja sekarang. Baru saja kamu masuk ke kamar kakak kedua, habis curi apa? Apa yang aku ambil? Masih enggak mau ngaku. Mau aku jelasin biar kamu ngerti. Dia sudah ambil apa? Dia sudah ambil. Dia sudah mengambil celana dalamo. Aku enggak ke kamar kakak kedua. Apalagi ambil barang yang kamu bilang. Masa? Kalau gitu berani enggak kalau aku cek kamar kamu? Cek saja. Oke. Ayo. Kalian enggak ikut?
21:55 Ada apa, Kak? Panik ya? Takut aku cek. Cek saja. Tapi kalau enggak ditemukan, kalau enggak ditemukan, aku bakal sujud minta maaf. Kamu tahu banget kakak kedua punya OCD, [musik] tapi fitnah aku pakai cara kayak gini. Dasar benar-benar manusia brengsek. Gimana dia tahu aku punya OCD? Oke, Ibu. Apa ibu bilang dia kalau aku punya OCD? Aku sama ayah enggak pernah bilang soal ini. Kalian enggak pernah bilang kah? Gimana dia bisa tahu? Gimana dia bisa tahu yang dibakal Vitad Curi pakaian dalam? Memangnya dia beneran bisa lihat masa depan? Kakak pertama bakal ditipu habis-habisan. Tangan kakak kedua bakal cedera parah. Aku bakal di blacklist. Keluarga kita bakal bangkrut. Masa
22:40 semuanya beneran? Ayo kita masuk lihat sendiri. Surya, kamu pasti enggak nyangka kan celana dalam kakak ada di bawah selimut ini. Aku sudah taruh duluan tadi. Mau ngelek juga percuma. Kakak, asal kamu ngaku sekarang, aku enggak bakal cek lagi. Karena ini pertama kali kamu buat salah, mungkin masih bisa. Silakan saja kalau begitu. Jangan salahkan aku. [tertawa]
23:26 Hah? Ini kok cuma tumpukan baju jelek? Tidak ada. Kayaknya semua ini cuma lucusi surya waktu dia lagi sakit. Pasti ada di dalam kasur. Eh eh pasti ada di bawah tempat tidur. Hah. Ah cukup. Kamu mau buat keributan sampai kapan? Ayah, dia taruh baju jelek di bawah selimut. Pasti ada yang disembunyikan. Bajunya kusut, jadi aku tekan pakai selimut. Apa yang aneh? Gak ada yang aneh. Surya, besok Ibu ajak kamu beli baju baru. Ini semua salah kami yang buat kamu hidup susah selama ini. Kamu sudah cek barangnya, bukannya sekarang. Kamu harus tepati janjimu sebelumnya.
24:12 Kak, maaf aku salah berlutut. Kak, aku salah lihat. Ini cuma salah paham. Ini enggak perlu kan? Ayah, ibu, aku lihat kakak diam-diam sembunyikan sesuatu di kasur. Aku salah paham. Aku cuma takut dia terjerumus ke jalan yang salah. Surya, ini semua salah paham. Adikmu berbuat juga buat kebaikanmu sendiri. Lagi pula dia juga sudah minta maaf sama kamu. Dia sendiri yang minta berlutut dan minta maaf. Cukup laki-laki sejati enggak gampang, Patuh. Gimana bisa berlutut segampang itu? Tapi soal ini memang Yudi yang salah duluan. Di sini ada 1 miliar. Anggap saja permintaan maaf adikmu. Mereka gak tega
24:58 buat dia berlutut. Jadi memang aku ini cuma orang luar. Berlutut. Ayah, aku berlutut. Minta maaf, Kak. Aku salah. Maaf, Surya. Tenang saja, Ibu janji hal kayak gini enggak akan terjadi lagi. Surya, kamu itu anakku. Mulai sekarang enggak ada lagi yang berani tuh kamu seenaknya. Kok ini enggak sama dengan skenario yang aku bayangkan? Bukannya seharusnya kalian bela dia terus kasih aku uang sebagai ganti rugi? Ah [tertawa]
25:46 Surya, Kakak enggak siapkan hadiah kartu ini buat kamu. Pakai saja susuk kamu. Hah? Itu kartu hitam bisa pakai tanpa batas. Kakak saja cuma punya satu. Ini tanda sayang dari kakakmu. Terima saja. Terima kasih, Kakak. Ternyata bisa juga. Surya, gelang ini aku minta khusus dari kuil. Ini bisa bawa keberuntungan. Aku bantu pakai, ya. Itu kan gelang kakak yang sudah dipakai lebih dari 10 tahun. Lagi pula dia cuma punya OCD, biasanya orang lain mendekat saja enggak boleh. Sekarang malah sentuh tangan dia. Terima kasih, Kak. Enggak ada yang bilang bakal kayak gini, ah. Hah, Surya, dariku ini berharga
26:33 sekali. Cewek ini sahabatku yang paling baik, cewek tercantik di kampus kami. Nanti bakal aku kenalkan ke kamu. Terima kasih, Kak. Baiklah, aku lupa siapkan sesuatu buat kamu. Lain kali aku ganti, ya. [tertawa] Bukannya kalian mau siksa aku, kau sekarang malah pada sayang sama aku. Kakak, cepat cek celana dalammu di sini. Ternyata memang cuma salah paham. Ternyata otaknya beneran bermasalah. Padahal aku kira dia beneran bisa lihat masa depan.
27:18 Menurutku justru otakmu yang bermasalah. Bukannya ini justru hasil yang paling baik. Memangnya kamu berharap semua khayalan Surya itu jadi kenyataan? Tapi gimana dia bisa tahu aku punya OCD? Mungkin karena tadi kamu ngambilkan dia makanan, jadi dia bisa tebak. Masuk akal. Cuma itu penjelasan logisnya. Banyak yang sudah terjadi hari ini. Tebakannya benar. Ini terlalu kebetulan kan?
28:18 Bagas, tunggu saja kalian. Masa depan bisa dirubah. Keluarga ini. Biar aku yang jaga. Lihat apa yang akan terjadi setelah ini. Gua punya uang ngapain ke sini? Pergi sana. Kenapa bisa jadi begini? Ah, karena kemarin mikirin penyebab keluarga Linjaya jadi bangkrut, jadi kurang tidur. Oh, Kakak, kamu kenapa? Karena kamu aku mikirin semalaman. Kamu sebenarnya sakit atau tidak? Atau ada
29:05 kekuatan hebat. Aku enggak apa-apa. Aku baik-baik saja. Ibu kamu ini. Ah, Ibu kamu ini. Ini cuma tren kuno musim panas dulu. Dia pengin ganti gaya. [tertawa] Bagus tidak? Bagus atau enggak? Gak tahu. Tapi ini beneran kuno. [tertawa] Aku ngerasa balik ke 20 tahun lalu. E [tertawa] aku akan temani Surya. pergi belanja baju. Menurut kamu aku pakai yang ini atau yang ini? Hmm, aku rasa dua ini enggak bagus.
29:51 Aku rasa ini bagus. Ini yang 18 tahun lalu aku pakai waktu masa pemulihan setelah lahiran dia. Makanya aku bilang ini bagus. Kalau kamu pakai ini, siapa tahu bisa buat Surya ingat masa kecilnya bersama ibunya. Ini kan bisa bantu penyembuhan dia. Hah? Memangnya bisa? Bisa. Coba saja. Ini karena kamu enggak mau aku pakai terlalu bagus kan, Surya. Menurut kamu baju Ibu bagaimana? Bagus kok. Baju itu beneran berguna. Beneran bisa mulai ingat lagi. Benar kan yang aku bilang? Tapi aku enggak sarankan kamu pakai baju itu keluar. Bagus kok.
30:36 Tapi aku enggak sarankan kamu pakai baju itu keluar. [tertawa] Mulut kamu lebih jahat dari mulut aku. Ibu pakai baju ini ke mall, makanya direndahin sama karyawan toko mall. Hai, Kambo lagi sakitnya. Aku pakai yang ini saja. Aku harus buat Surya paham. Dunia ini enggak seburuk yang dia pikirkan. Surya, Ibu hari ini pakai baju ini buat jalan sama kamu. Mall ini semua dalam naungan grup galaksi. Aku sudah minta S ya, kasih tahu semua petugas mall. Hari ini aku akan ke mall di sini. Yang kamu khawatirkan ggak akan terjadi.
31:22 Hari ini akan aku tunjukkan ke kamu kalau pemikiran kamu itu salah. Surya, ayo masuk. Stepen, hari ini kamu kenapa ada waktu datang cari aku enggak temenin pacar kecil kamu? Stepen jangan bercanda deh. Aku sama Surya si sampah itu sudah putus lama dulu sama dia cuma karena dia pintar aja. Alah, pintar dalam pelajaran apa gunanya? Pada akhirnya juga kerja buat orang kaya kan. Benar banget. Sampah kayak dia gak bisa dibandingin sama kamu, Stepen. Hah? Gak nyangka toko kamu ada di mall paling bagus kota Barat. Di sini sewa satu
32:08 tahunnya berapa? Hmm. Aku bilang ya sama kamu, [musik] ini bukan tempat yang ada uang bisa dapatkan dengan mudah. Kamu tahu mall ini punya siapa? Siapa? Keluarga Linjaya. Orang terkaya keluarga Linjaya. Benar sekali. Mall ini di bawah naungan nona Celia dari keluarga Linjaya. Karena ayah aku kerja sama dia, makanya aku bisa buka toko di sini. Hah? Enggak nyangka kamu ada hubungan sama grup Linja ya. Ke depannya harus banyak bantuin aku ya dan ajarin aku banyak hal. Eh, gampanglah, gampanglah itu. Eh, ee tapi eh kayaknya hari ini enggak bisa karena hari ini Nyonya Susan dari Gupling Jaya akan datang inspeksi. Aku harus berada 24 jam di toko ini mempersiapkan penyabutan dia. Mau datang ya?
32:53 Iya. Mukanya Susan kayak apa? Hm. Ini aku juga kurang tahu. Tapi aku dengar hari ini dia datang bersama tuan mudanya. Tuan muda? Iya. Surya. Sinta. Kamu Sinta. Sinta. Surya. Ini Sinta yang kamu bilang itu kan, Ibu? Bukan yang kamu pikirkan. Surya. Kita ini sudah putus lama, masih gak bisa lupain aku ya. Ah, benar juga bisa pacaran sama aku. Cewek secantik aku ini memang harus diingat seumur hidup. Tapi aku ingatin kamu ya, jangan pernah sebut-sebut aku lagi. Nanti pacar aku jadi cemburung.
33:40 Vita, ini yang kamu bilang itu ya, mantan sampah itu Surya, kan? Iya, betul. Seperti anjing yang nempel-nempel terus. Sekarang saja masih ngikutin aku. Pita, waktu di sekolah kamu yang ngejar-ngejar aku kan? Kamu lupa surat cinta yang sudah kamu tulis itu? Diam kamu. Gimana mungkin aku bisa suka sama orang kayak kamu? Ini ibu kamu kan? Pakaian kayak gini kemel mewah. Apa enggak malu? Benar anak sama ibu itu memang sama saja. Come on. Awalnya aku kira cuma otak kamu yang bermasalah. Sekarang kayaknya mulut kamu lebih bermasalah. Kamu bermasalah ke dokter saja. Jangan di sini omong kosong. Kesemua orang sebaik aku bersedia buat sembuhin penyakit kamu. Stepen, dia berani pukul aku.
34:26 Hei, beraninya kamu pukul orang di wilayah aku. Kamu sudah gak mau hidup lagi ya? Kamu sudah gak mau hidup lagi, ya? Dia yang berani rendahin kami duluan. Aku rendahin kalian apa? Yang aku bilang itu memang kenyataan. Orang yang kayak kalian itu memang sampah, enggak pantas ada di sini. Bagus. Bagus banget. Pertama, yang dibilang Vita itu kenyataan. Kedua, kalian tahu enggak ini tempat apa? Ini tokoh punya aku. Ini wilayah aku. Kami mau marahin kalian, ya marah saja. Kami mau pukul kalian, ya pukul saja. Tempat ini bukannya grup galaksi ya yang punya? Sejak kapan jadi wilayah kamu? Ayah, aku petinggi grup galaksi. Tempat ini dikasih oleh grup galaksi untuk kami. Kalau bukan wilayah aku, wilayah siapa lagi? Hah? Aku gak pernah dengar itu keluarga Linjaya buat batas wilayah
35:12 seperti itu. Gak nyangka orang tua kayak kamu tahu grup Linjaya ya. Hari ini Nyonya Susan dari grup Linjaya mau ke sini buat infeksi. Aku enggak mau ada masalah di sini. Begini saja kalian sekarang berlutut minta maaf sama Vita. Masalah ini tentu akan selesai. Bagaimana? Mau kami berlutut minta maaf? Kamu tahu aku siapa tidak? Aku enggak peduli siapa kamu hari ini. Kalian harus Aku Susan yang kalian sebut. [tertawa] Kamu nyan pakai baju sejelek ini. Kamu itu memang rendah. Enggak kenal baju ini, wajar saja kamu. Harusnya tahu baju ini, kan? Baju ini kenapa mirip baju kostum di sebuah channel 20 tahun yang lalu? Yah, baju itu
35:58 masih mau bohong, ya? [tertawa] Aku lihat baju kamu ini palsu kan? Nyonya Susan, gimana mungkin pakai baju model lama keluar jalan-jalan? Benar banget Nyonya Susan, gimana mungkin pakai baju 20 tahun lalu buat keluar jalan-jalan? Aku rasa kamu mau nyamar jadi dia kan? Satpam, tangkap orang ini yang berani nyamar jadi Nyonya Susan. Kalian mau ngapain? Aku Susan dari keluarga Linjaya. Kamu masih mau berbohong ya? Hah? Kalian berdua tangkap mereka biar nanti Nyonya Susan yang beresin saja. Tunggu sebentar. Kalian enggak kenal orang? Tapi kenal kartu ini enggak? Apa? Supreme Black Card. Supreme Black Card. Stepen. Supreme Black Card itu apa?
36:44 Supreme Blackard itu kartu unlimited kredit. Di kota Barat cuma ada satu dan itu ada di tangan Naselia. Kalau kartu itu ada di tangan Naselia di kartu orang ini pasti palsu. Pasti atau palsu? Harusnya kamu bisa bedakan ini, kan? Pergi pergi pergi. Ibu, kamu pergi duluan ya. Takutnya nanti mereka cari masalah lagi. Kalau mereka sudah cek, tahu kartu ini asli, memangnya akan lakukan apa sama kita? Ibu, hati manusia lebih seram dari yang kamu pikirkan. Sebelumnya karena identitas kamu enggak diketahui, sekarang kamu pakai baju kayak gini terus dicurigai mereka. Mau gimanapun, mereka akan susah percaya. Aku akan panggil kakak pertama kamu ke sini. Aku mau lihat gimana mereka bisa gimanain kita.
37:37 Hai, Kak. Proyek K Bagas enggak perlu dilihat sedetail itu kayaknya. Enggak apa-apa, kamu lihat saja dulu. Proyek ini juga bagus. Ah, Yudi, kamu sudah cek ke lokasinya? Tentu saja aku sudah pergi cek, Kak. Tenang saja kalau aku yang kerjain ini. Halo. Apa? Aku segera ke sana. Eh, Kak, kontrak ini belum ditandatangani. Kamu mau ke mana? Ibu dan Surya lagi ada masalah. Aku harus segera ke sana kontrak ini. Tunggu aku kembali bahas ini. Kakak Kakak. Surya dia lagi hanya seekor anjing yang baru masuk ke keluarga Linjaya. Enggak
38:23 harus sekesal ini. Kita buat beberapa trik untuk usir dia keluar. Kabagas. Anak ini licik banget. Aku di rumah selalu dipantau sama dia. Sudah begitu setiap yang aku lakukan kayak dia sudah tahu duluan. Jangan khawatir. Kalau beneran gak bisa, aku cari orang buat. K Bagas. Lupakan saja ya. Oke, kalau gitu proyek aku gimana? Ini semua proyek kosong. Kalau dicek aku bisa ditangkap. Aku gak bisa tunggu lagi. Kalau beneran gak bisa, aku masukkan proyek ini dalam acara pertemuan pendanaan biar mereka panik duluan. Baik, nanti aku cari beberapa orang lagi buat rebutan sama dia. Biar dia keluarin uang lebih banyak buat beli semua sampah ini. [tertawa]
39:13 Gimana, Stepen? Kartu ini palsu kan? Palsu apanya ini? Asli tahu ini beneran kartu asli? Dia beneran Nyonya Susan. Aku sudah remehin Nyonya Susan. Aku sudah remehin Grup Linja. Ya habislah aku. [tertawa] Aduh ini gimana mungkin? Gimana mungkin pakai baju kayak gitu? Kamu tanya aku. Aku tanya siapa? Ada yang aneh, Stepen. Sebelumnya bukannya kamu bilang hari ini Nyonya Susan datang sama tuan muda. Kalau dia Nyunya Susan. Surya itu bukannya jadi tuan muda. Sebelumnya aku pernah ke rumah dia. Sangat jelek. Sekali lihat saja sudah tahu. Lebih enggak mungkin tuan muda orang terkaya. W benar, benar, benar, benar juga. Aku sudah ingat ini. Aku ingat tuan muda namanya bukan Surya. Namanya siapa ya? Aduh. Iya, aku sudah ingat tuan muda
40:00 namanya Yudi. Benar, namanya Yudi. Tapi kartu ini kenapa? Kenapa bisa dari tangan mereka? Ya, enggak peduli dapat dari mana ini. Pastinya enggak mungkin dikasih nona Celia. Pasti ini dicuri mereka. Kali ini kita bantu Nona Celia dapatkan kartu dia lagi sekaligus pencurinya. Aduh, kenapa aku gak kepikiran soal ini? Aku sekarang minta ayahku kasih tahu Nona Celia soal masalah ini. Aku sudah melakukan hal yang baik, aku akan jadi kaya raya. [tertawa] Stepen, kamu jangan lupain aku, ya. Alah, itu pasti. Ayo, gimana kartu ini asli enggak? Kartu ini memang asli. Eh, Satpam, tangkap pembohong ini.
40:47 Habisi dia. Sampah seperti kamu pasti mati hari ini. Pasti mati hari ini. Stepen ya, aku ingetin kamu ya. Berani kamu sentuh aku. Akibatnya akan sangat fatal. [tertawa] Kamu sudah mau mati, masih bisa sombong ya? Pukul sampai mati. Kalau beneran mati, aku yang tanggung jawab. Aku bisa lihat masa depan. Apa kalian masih bisa lukai aku? Stepen, sampah surya ini pasti sudah takut sampai gak berani buka mata. Hah? Kenapa bisa pukulannya enggak kena ke dia? Ayo semuanya pakai tenaga. Kalian pakai tenaga dong. Kalian semua sebenarnya sudah makan apa belum sih?
41:35 Masih mau pukul? Hei, kalian, maju bersamalah. Sebentar lagi Nya Selia akan segera datang. Kalau Nona liia di sini, aku ggak yakin dia bisa kabur di sini. Siapa yang berani sentuhan aku? Nonaia, sebenarnya apa yang terjadi? Kamu masih ingat aku bilang apa ke kamu? Ibu dan adikku hari ini akan ke sini. E tentu saja saya ingat aku sudah kasih tahu anakku buat tunggu di toko 24 jam buat nyambut kedatangan Nyonya Susan dan Tuan Muda. Anak kamu minta mereka berlutut. Kamu tahu tidak? E ini apa? Aku bilang ya kalau ibu dan adikku hari ini terlukai sehelai rambut, aku akan [musik] buat semua keluargamu tanggung jawab. E
42:25 Ibu Suriah, kalian enggak apa-apa kan? Suriah, kalian enggak apa-apa kan? Kami enggak apa-apa. Ternyata ibu jago berantem. Kalau bukan aku yang halangi, mereka akan jadi cacat hari ini. Sudah lama enggak latihan, pukulannya jadi enggak stabil. Bu, kenapa berpakaian seperti ini? Jadi aku hampir enggak ngenalin. Hei, orang tua jelek, ayahku sudah datang. Aku bilang, "Ya, tamat kalian." Ayah kamu sudah datang, putriku juga sudah datang. Putrimu ke sini bisa apa? Biar bisa dipukulin bareng sama kamu. Ayah, kamu cepetan tangkap keluarga pencuri ini. Aku bilang ya, kamu lihat ini. Lihat ini. Mereka enggak cuma curi supreme berkatnya Nona Celia. Mereka berdua juga berani nyamar jadi Nyonya Susan dan tuan muda. Ayah, kenapa kamu
43:13 masih diam saja? Mereka orang miskin dan dia itu eh mereka itu Nyonya Susan dan Tuan Muda. Nona Celia, aku minta maaf. [tertawa] Minta maaf. Maaf dia nyus dia tuan muda. Cepat berlutut dan minta maaf. Anak kurang ajar. Berani banget kalian ini. Eh, Nyonya aku aku enggak tahu apa-apa. Aku aku beneran enggak kenali kamu sebagai Nyonya Susan. Eh eh. Gara-gara kamu ini. Kalau bukan karena kamu, emangnya aku karena minonya Susan. Aku bunuh kamu sekarang, ya. Ah! Ah! Kamu mau ngapain? Sudah tolong aku. Kamu mau ngapain? Boleh enggak mereka aku yang beresin
43:59 saja? Tentu saja. Keluarga Leo remehin pelanggan harus keluar dari mall ini dan dikeluarkan dari Guplin Jaya enggak dipekerjakan selamanya. Habislah kita hancur keluarga Lio. [tertawa] Surya, kamu sudah selamatkan aku. Di hati kamu pasti masih ada aku. Kita berdua bisa mulai lagi dari awal. Ya, aku tolongin kamu karena sebelumnya kamu beliin aku sarapan. Jadi kita infas kamu jangan salah paham. Enggak mungkin. Di hati kamu pasti masih ada aku. Ibu, Kakak, ayo pergi. Surya, ke sini kamu. Selera kamu memang bagus. Baju ini sangat bagus. Ini kan karena ibu memang cantik, jadi pakai baju apapun tetap saja cantik.
44:46 Benar kan, Surya? Ah benar. Ada pepatah yang bilang orang andalkan baju. Ternyata itu memang benar. Pakai baju tadi kelihatan lebih tua 20 tahun. Ibu, kenapa kamu pukul aku? Pantas dipukul. Tadi masih bilang siapa yang berani sentuh anaknya, sekarang malah dia yang pukul aku. Wanita memang susah ditebak. Kekuatan super aku enggak bisa diprediksi. Ibu, dia sakit. Jangan hiraukan dia. Bawa ini. Eh, Ibu tadi kamu bukannya bilang enggak perlu aku yang bawain? Ya, Surya, wanita memang susah ditebak. Oh, katanya dia ada masalah, ternyata keluar jalan-jalan yang kandung ternyata beda ya. Eh, ayo
45:33 Ibu. Kalian enggak apa-apa, kan? Yudi, kenapa kamu ke sini? Kak, kan tadi kamu yang bilang sama aku ibu dan kakak ada masalah. Aku khawatir, jadi ikut ke sini. Ah, Kak Bagas juga ikut datang. Bibi, kamu gak apa-apa kan? Kami enggak apa-apa kok. Oh, ini pasti surya ya. Halo, aku Bagas, pacar kakak pertamamu. Eh eh [tertawa] Kak Bagas, tolong bimbingan ke depannya, ya. Surya bisa berhubungan baik sama Bagas. Kayaknya penyakitnya enggak kambuh. Kamu yang mau hancurkan kakakku dan curi semua uang dia. Bagas sangat kaya. Gimana mungkin mau tipu uang aku? Penyakit halusinasi Surya makin lama semakin parah saja. Asurah
46:18 ini Bagas pelajar yang baru kembali dari Prancis. Dia kembali untuk memulai bisnis dan mendirikan perusahaan teknologi. Kamu dan Yudi harus belajar banyak darinya. Oh, enggak kok. Aku cuma ikut alus saja. Perusahaanmu bergerak di bidang apa? Surya, kamu ngomong apa? Oh, Ibu, aku ngomong bahasa Prancis. Wajar saja kalau kamu enggak ngerti. Tapi Kak Bagas pasti ngerti apa yang aku bilang kan? Hm, tentu saja. Eh, bisakah kamu jawab pertanyaanku tadi? Ah, Kak, jangan terlalu serius. Kami semua juga enggak ngerti. Iya, Surya. Aku sudah pulang lama. Hampir semua yang aku pelajari sudah lupa semuanya. Karena kamu jago bahasa Perancis, ke depannya aku pasti ada kesempatan buat aku belajar sama kamu. As Surya, ternyata kamu bisa bahasa Prancis. Ah, Ibu, aku pernah kerja di restoran
47:04 Prancis, jadi belajar sedikit. [tertawa] Pantas saja Surya tadi kamu bilang apa? Aku cuma tanya perusahaan Kakak ipar bergerak di bidang apa saja. Bukan apa-apa juga cuma buat program AI dan sumber energi alternatif. Kamu cuma pendidikan SD saja. Berani pura-pura jadi orang hebat lulusan luar negeri? Yudi, kamu dan Bagas kerja sama pakai perusahaan bodong. Buat diukaka biar investasi. Aku enggak akan biarkan itu terjadi. Yudi dan Bagas kerja sama. Enggak mungkin. Aku gak percaya. Bagas, proyek yang kamu bilang itu. Oh, maaf, Selia. Proyek kemarin agak mendesak. Aku gak bisa tunggu kamu. Aku tahu Yudi dan Bagas gak mungkin kerja sama buat hancurin aku. Ini cuma halusinasi Surya saja. Mundur selangkah untuk menang. Nanti
47:49 undang kakak ke acara pendanaan. Kalian benar-benar hebat. Surya, kenapa bisa berpikir sejahat itu soal kakak iparnya? [tertawa] Kalian masih ada urusan ya? Aku bawa Surya pergi dulu ya. S du tia, proyek aku itu sudah didaftarkan di acara pendanaan. Kalau kamu mau ikutan, masih ada kesempatan kok. Apa? Begini, Selia. Aku gak ada cara lain lagi. Proyek aku itu direbutin banyak perusahaan. Jadi, aku daftarkan ke acara pendanaan. Benar, Kak. Sebelumnya aku sudah bilang sama kamu soal proyek K Bagas ini memiliki potensi yang sangat besar. Tapi kamu ragu-ragu terus. Kak Bagas tunggu kita kelamaan. Ini sudah sangat bagus. Jadi aku harus ke acara pendanaan. Benar, ini kesempatan terakhir. Jangan
48:36 sampai kita lewatkan lagi, ya. Aku ayo pergi. Kita pergi bersama. Surya, kamu juga ikut kami, ya. Ini ada yang aneh. Dugaan Surya mungkin itu benar. Harus bawa dia untuk pastikan semuanya. Kakak enggak ngerti apa-apa. Dia pergi juga enggak bisa bantu apa-apa. Mending dia pulang masak aja. Benar kan, Kak? Enggak. Surya harus ikut. Kalau Surya enggak pergi, aku juga enggak pergi. Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Ayo ayo Kak Bagas. Mereka semua sudah di sini. Rencana kita akan baik-baik saja, kan? Tenang saja, rencana ini disiapkan memang untuk mereka. Mereka enggak akan lolos. Kamu tunggu hitung uang saja, Bibi. Acaranya akan segera dimulai. Kita
49:22 duduk saja dulu. Acara pendanaan kali ini akan diadakan dalam bentuk kelelang. Setiap proyek cuma boleh punya satu investor. Penawaran paling tinggi yang menang. Kami tidak menjamin nilai atau prospek proyek. Tolong hati-hati dalam berinvestasi. Sebelum acara dimulai, kita ada beberapa proyek kecil. Sebagai pemasaran awal, kami sudah membuat estimasi resiko, dan keuntungannya. Akan diumumkan setelah lelang. Babak ini sepertinya menarik, Kak. Gimana kalau kita taruhan? Taruhan
50:09 siapa yang untung lebih banyak? Eh, Yudi, Surya baru kembali. Dia gimana bisa? Boleh. Ibu, Kakak sudah setuju juga. Baiklah, setiap orang kasih kalian R miliar. Makasih, Bu. Makasih, Bu. Tapi karena ini lomba, harus ada yang menarik dong. E benar, harus ada yang menarik. Baik kalau gitu, kalau aku kalah, aku akan kasih kamu saham 20% grup Galaxy yang dikasih ke Kakak Selia ke aku. Kalau kamu kalah, kamu harus kasih aku kartu semalam yang dikasih Kakak. Oke, oke, enggak masalah. Yudi Surya, kalian mainnya enggak terlalu besar kah? Ibu, ini semuanya memang bukan punya kami. Ini dikasih Kaselia untuk kami. Kalau kami enggak punya kemampuan ke depannya juga akan habis. Hmm. Benar yang dikatakan Yudi. Ibu yang bukan
50:55 punya kita mau gimana jaga juga gak bisa. Ibu, ini kesempatan yang susah. Anggap saja sebagai pelajaran buat mereka. Baiklah, lelang kali ini bisa jadi tes mereka terhadap kemampuan investor mereka. Hari ini aku akan buktikan aku yang cocok jadi penerus galaksi dan kamu Surya cuma jadi kakak yang gak bisa apa-apa. Aku bisa prediksi masa depan. Kamu main ini sama aku, sama saja kasih aku uang. Surya sebenarnya beneran sakit atau memang ada kekuatan? Mungkin bisa dibuktikan melalui lomba kali ini. Ini proyek awal pemasaran kita. Proyek pertama pengalihan 10 toko bintang Milk Tea mulai dengan harga Rp100 juta. Dalam tahun ini, saham termahal MC kelas atas. 10 toko ini mungkin bisa sampai
51:42 jadi Rp150 juta. R juta? Berani sekali dia. Iya dia berani Rp100 juta. Jadi seleranya bagus menurut aku toko ini bagus. R juta. 200 juta sekali. 200 juta dua kali. R juta. R00 juta apa? R00 juta ya. Hebat. Kamu sekali nambah Rp300 juta. Palu sudah mau diketuk. Kayaknya enggak ada yang mau nambah lagi. Yudi seleranya enggak cuma bagus. Karakter dan kepinterannya sangat bagus. R00 juta R miliar. Besar sekali miliar. Dia berani. R miliar sekali. 1 miliar dua kali 1 miliar deal.
52:28 Selamat kepada peserta nomor 17 memenangkan 10 toko bintang milti Yudi. R miliar kamu enggak rugi kak. Aku pernah buat estimasi pasarnya. Harga 10 toko milt ini kurang lebih 1,5 miliar. Awalnya bisa untung R miliar. Sekarang jadinya cuma bisa untung R00 jutaan aja. Hah. Hah? Kak, kamu cuma perlu tambah R juta lagi. Proyek R,5 miliar ini akan jadi punya kamu. Hah? Sayangnya kalau kamu suka buat kamu saja. Sekarang harga pasar memang 1,5 miliar. Tunggu toko bintang Mikti ini ketangkap karena keamanan pangan akan enggak berharga sama sekali. Ketangkap? Toko Milkti ini termasuk milk kelas atas. Gimana mungkin bisa ketangkap? Surya ini dia punya sifat orang yang gak bisa rasakan anggur manis malah bilang anggur asam.
53:27 Kak, kalau aku enggak kasih harga, kamu enggak berani angkat papan, ya? Kak, ini proyek terakhir ya. Jangan-jangan kamu mau langsung aku kalah ya. Selanjutnya kita sampai ke proyek terakhir. Yang aku tunggu memang proyek terakhir ini. Lahan kosong di pinggiran kota. Harga mulai Rp100 juta. Lahan kosong ini ratusan kilo dari kota. Apa gunanya? Heh, kasih aku gratisan. Aku juga enggak mau. Jangan-jangan benar ada yang mau beli ini R juta. Beneran ada orang bodoh yang mau beli. [tertawa] R juta sekali. R juta dua kali. R juta deal. [tertawa] Kak, kamu tahu enggak lelang itu apa? Ini bukan pasar. Pilih yang paling murah. Lahan yang jauh dari kota ratusan kilo. Kamu beli buat apa? Tanam sayur.
54:14 [tertawa] Ketawa saja dulu. Tunggu harga tanah ini jadi ratusan miliar. Sampai sekarang dia masih punya pemikiran yang enggak masuk akal seperti ini. Sifat surya ini benaran enggak bisa jaga Grup Lin Jaya. Selanjutnya kita masuk ke bagian paling seru. Mengungkapkan harga, mari kita lihat harga lahan tadi. Harga paling rendahnya Rp100 juta untuk lahan kosong. Estimasi harganya adalah R10 juta. [tertawa] Dari R juta jadi R10 juta. Rugi 10 kali lipat dong. [tertawa] As Surya enggak apa-apa kok. Kamu pertama kalinya investasi. Gagal itu normal. Kamu bilang apa? R miliar. [tertawa] Peserta nomor 18, ada satu kabar baik untuk Anda. Tadi ada yang menelepon
55:00 bilang mau bayar R miliar untuk kelahan Anda. Eh, apa? 1 miliar. Benar 1 miliar. Pintar sekali dia. Miliar. Gimana mungkin? Peserta nomor 18. Kalau Anda setuju, uang R miliar akan segera masuk ke rekening Anda. Maaf, lahan ini aku enggak jual. Apa? Aku suka sama tanah ini, jadi enggak jual. Anda yakin? Tentu saja. Oh, serius 1 miliar enggak mau dijual. Lahan ini akan tersambar petir hari ini dan menarik para ahli. Di bawah tanah ini ada logam asli yang berharga mencapai ratusan miliar. Logam asli, Ibu? Hm. Lahan ini buat kamu, ya. Kasih ke aku. Kamu jangan remehkan lahan ini tanah ini
55:45 sang spesial. Eh, ibu percaya sama kamu. Asalkan kamu yang kasih. Ibu pasti suka, Kak. Karena lahan ini belum dijual, harganya tetap saja Rp10 juta. Kamu jangan dengan cara gini buat bohongin Ibu. Tenang saja, aku enggak seperti kamu kok. Aku rugi banyak di proyek ini, kan. Kalau kerugianmu lebih kecil dari itu, kamu menang. Baiklah, kamu yang mengatakannya. Sekarang mari kita buka penawaran terbesar hari ini. Di miliar, toko teh susu dimenangkan. oleh tamu nomor 17. Heh heh. Nilai akhirnya [tertawa] nol. Gimana mungkin [tertawa] 1 miliar jadi nol?
56:31 Apa? Gimana mungkin? Kamu bicara omong kosong ya. Tamu nomor 17. Toko teh susu baru saja diekspos karena masalah keamanan pangan. Mereka sudah dibatasi secara nasional. Apa? Apa? Hah? Ah. Mungkin Surya benar lagi dia bisa melihat masa depan. Yudi, pertaruhan ya. Pertaruhan. Jangan lupa ini bagianku. Kak, jangan. Aku salah. Bisa enggak kamu sisakan sedikit? Ibu, Ibu bilang dari awal ini jadi lebih serius. Surya benar. Pertaruhannya pertaruhan. Yudi, kamu harus kirim semua bagian Surya. Ingat itu.
57:16 Baiklah, aku setuju. Jadi, anak kandung sudah kembali. Kamu semua akan kasihkan milikku padanya. Baiklah, kamu yang memaksaku. [musik] Kalau aku enggak bisa memilikinya, akan ku hancurkan. Aku akan bekerja untuk Bagas supaya Linjaya bangkrut. Kalau Surya bisa melihat masa depan, maka semua pikiran yang dibukanya benar. Bagas dan Yudi ingin menjatuhkan Linjaya. Iya. Selanjutnya akan kita mulai konferensi resmi investasi Bagas. Sudah lama enggak ketemu. Eh, Celia, aku perkenalkan ini Linda Huda dari kota Selatan. Dia teman sekolahku saat aku di Sumba. Begini cara menyapa di luar negeri. Jangan
58:02 dipikirkan. Bagas, kamu merendahkan kakakku. Mana mungkin dia marah untuk hal begitu. Keluarga Huda. Kak, kamu tahu enggak keluarga Huda itu seperti keluarga Lingjaya, satu dari empat keluarga hebat diaksah. Asuryah, empat keluarga ini adalah keluarga Shaun dalam sains dan teknologi. Keluarga [musik] Zai di dunia hiburan Linjaya dan Huda di perdagangan. Usaha Huda kebanyakan di luar negeri. Makanya kita jarang bertemu mereka. Kita kebanyakan ada di daerah. Ingin sekali aku tahu asalnya si Linda ini. Halo, saya Selia, pacar Bagas. Jadi, Anda Naseliah yang sering Bagas
58:50 bicarakan. Sering dibicarakan? Kelihatannya kalian sering bertemu. Bukan saja menghapus ragu kemampuanku berbahasa Sumba, tapi juga menyiret Celia ke permainan. Semakin cemburu kamu, semakin ceroboh, kamu menawar. Nona Celia, tolong jangan dipikirkan. Bagas dan aku hanya sering membahas topik akademis. Oh, sayang sekali. Kakakku pasti marah. Mereka bahkan enggak lulus sekolah dasar. Topik apa yang didiskusikan? Mereka berdua mungkin mendiskusikan biologi di ranjang. Bagas menipu. Eh, topik akademis apa yang kalian diskusikan? Dan kamu? Eh, dia adiknya Celia Surya. [tertawa] Surya ya. Kalau aku kasih tahu kamu,
59:36 kamu pasti enggak akan paham. Kami itu selalu bicara dalam bahasa sumbah. Cukup. Dia adik Celia artinya adikku juga. Jaga bicaramu. Lagian. Untuk apa kamu di sini? Bagas. Kamu tahu kalau aku selalu menyukaimu? Keluarga Huda lebih kaya dari mereka. Aku bisa membantumu meraih mimpi. Diamlah. Meski kaya gak ada urusan denganku di hidup ini. Aku cuma mencintai Selia. Bagas sangat baik padaku. Seharusnya aku gak ragu. Bagas, aku pasti memenangkan proyekmu. Akan kutunjukkan siapa yang pantas dengan cintamu. Kalau kamu berani menawar, aku masuk juga. Selia, kamu gak perlu begitu. Bagas, jangan hentikan aku. Proyek ini sangat berarti bagiku. Aku orang yang dulu gak menghargainya. sekarang karena
1:00:23 ada kesempatan enggak akan aku lepaskan. Hah, gila cinta sulit menyelamatkannya. Berikutnya mari kita sambut Tuan Bagas untuk presentasi proyek. [tepuk tangan] Proyek pertama saya, proyek energi. Saya membuat penelitian di Sumba. Penawaran pertama 10 miliar. Energi baru ini di bidang panas. Bagas Menantul Lin Jaya. Proyek ini pasti solid. 10 miliar. 20 miliar. Ibu, kenapa ada masalah di proyek ini? Jangan. Eh, Ibu, kenapa itu proyek Bagas? Gimana
1:01:11 bisa jadi masalah? Hah? Ibu, meskipun kamu enggak percaya Bagas, kamu harus percaya Yudi. Proyek ini diperiksa langsung oleh Yudi. Meski proyeknya bagus, enggak perlu ditawar. Kenapa enggak? Ibu mau tanya, kamu menawar proyek atau karena kamu mau mengalahkan wanita itu? Aku Selia, kamu sudah kehilangan kemampuan mengambil keputusan. Itu fatal dalam pemeriksaan. Di samping itu, aku enggak akan memintamu untuk menyerah pada proyek Surya. Tolong buat tawaran untuk kakakmu. Aku Ibu percaya kamu pasti buat keputusan yang benar, Ibu. Dia enggak tahu apapun. Kenapa dia menanganinya? Kak, tolong bicara ke Ibu. Suriah, tolong aku buat penawaran.
1:01:57 Apa? Eh, baiklah, Surya. Tapi kamu harus janji padaku. Saat kamu menawar, lepaskan perasaan pribadi. Kamu enggak akan menahan cuma karena kamu enggak suka sama Bagas. Eh, aku suka dia. Eh, baiklah. Aku berjanji 40 miliar. Kenapa dia menawar? Enggak masalah selama yang menawar orang Linjaya 40 belum cukup. Aku mau R miliar untuk proyek ini. R miliar. 90. Suryaah, proyek ini. Ibu, jangan khawatir, aku mengerti. Eh, satu hal lagi aku mau bertanya.
1:02:49 Perusahaan Bagas bermasalah. Cepat periksa di ya. Ayah, bukannya kamu biasanya enggak mencampuri hubungan kakak? Kenapa kamu tiba-tiba meremiksa perusahaan Bagas? Hah? Karena ibumu sekarang jadi penakut mengira Bagas seorang penipuh. Beginilah jadinya. Penipuh. Enggak mungkin Bagas dikenalkan Kakak oleh Yudi. Mana mungkin dia penipu. Tuan, kita sudah tiba. Oh. Oh. Apa kita salah tempat? Gimana bisa? Yakin kamu di sini? Kamu yakin, Tuan? Saya mengikuti arah GPS. Ini pasti
1:03:34 benar. Ayah, kamu yakin ini perusahaan Bagas? Cari tahu segalanya tentang Bagas. Aku mau tahu semuanya tentang dia. Ya, Tuan. Kalau dia berani menipu, dia enggak akan ku lepas. Ayo kita pergi. Tujuanmu di sini untuk menipu uang R miliar. Kan aku tawarkan 90 miliar kamu akan naikkan sampai 100 miliar. Enggak mungkin. Bagas enggak mungkin menipuku. 100 miliar. Besar sekali. R miliar. Cuma naik 10 miliar. Tujuannya 100 miliar. Kenapa lelaki ini enggak menawar lagi? Kak tetap menawar. Proyek ini pantas R00 miliar. Bagiku cuma pantas R miliar. Kalau Linda mau, biar saja. Eh, Ibu,
1:04:21 proyek ini nilainya R00 miliar. Kakak, aku percaya penilaian kakakmu. Kakak, kenapa persis R miliar? Ee, Kakak enggak berguna. Selamat, Tonalinda, sebagai pemenang proyek. Selanjutnya proyek kedua saya. Mobil tanpa pengebudi. Penawaran dimulai 20 miliar. Kakak, berapa menurutmu proyek ini? Pantasnya kurasa ini 200 miliar. Kenapa kamu bilang begitu, Ibu? Kita keluarga terus kenapa enggak ada yang membocorkannya? Benar kan, Yudi? Tentu saja kamu yang membocorkan. Kalau bukan kamu, gimana caraku membuat perangkap?
1:05:06 Yudi yang membocorkan. Kalian tawar 200 miliar. Kalau gitu kali ini aku tambahkan lagi 100 miliar. 100 miliar. 110 120 miliar. 150 miliar. 190 miliar. Kak, dia wanita setengah baya tawarkan 200 miliar dan proyeknya milik kita. 200 miliar? Kenapa 200 miliar? Bukannya kamu bilang begitu? Itu kan tadi, ini sekarang nilai proyek itu fluktuasi. Saat ini lebih 2 miliar. Eh, maksudmu? Surya, proyek ini lebih dari 200 miliar.
1:05:53 Tawarannya bisa dinaikkan. Kakak, berapa pantasnya nilai proyek ini? Nanti juga kamu akan tahu. Baiklah. Lamatonalinda memenangkan proyek kedua. Kenapa begini? Kenapa enggak lanjut? Bukannya ada batas bawah 200 miliar? Selanjutnya proyek ketiga saya sistem AI. Ini kerja saya selama hidup penuh keringat. Saya harap melengkapinya bersama yang saya cintai. Mulai penawaran 30 miliar. 30 miliar ada apa? 30 miliar ada apa? Linjaya enggak dapat [musik] satuun proyek dari Bagas. Apa ada masalah? Bagas, aku tahu rencanamu. Kamu gak akan dapat satu sen pun dari Linja.
1:06:40 100 miliar. Aku akan melindungi cintaku sendiri. Kita sudah setuju kan? Adikmu enggak mau menawar? Ibu, proyek Bagas bukan cuma yang ditawar Surya. Mereka sangat berpotensi. Kakak, mereka berharga sekali kalau mereka nyata. Tapi ini aku tentu bisa menilai sendiri. Surya, aku gak paham kamu gak suka pada Bagas. [musik] Aku gak mau mendebat yang lalu. Tapi proyek ini mimpi Bagas. Aku harus memenangkan untuknya 200 miliar. 300 selia 500 miliar 1 triliun. Oh 1 triliun. Hebat sekali. Ska prengsek. Aku gak bawa sebanyak itu,
1:07:28 Celia. Aku biarkan kamu memiliki proyek ini. Tapi ketahuilah, aku enggak menyerah kepadamu. 1 triliun sekali, 1 triliun dua kali, 1 triliun. Tunggu, tunggu. Ah. Ayah, mau apa ayah ke sini? Aku yang minta dia datang. Kak, kamu sudah ditipu. Bagas bukanlah orang yang belajar disumbah. Apa? Bawa dia ke sini.
1:08:17 Apa yang kamu lakukan? Aku pewaris keluarga Huda. Beraninya kamu buat aku begini. Kamu mau mati ya? Aku baru menghubungi keluarga Huda. Pewarisnya adalah Linda. Saat ini berada di Sumpah. Dan kamu adalah Erna. Masih mau berperan kamu. Gimana kamu bisa tahu? Heh. Serahkan dia ke Huda. Kita lihat apa mereka mengenalinya sebagai pewaris mereka. Bawa dia. Bagas. Selamatkan aku. Bagas. Eh, Paman, aku memang gak tahu Linda itu penipu. Sudah lama enggak melihatnya. Jadi aku jadi kamu memang belajar di Sumba. Kamu benar bisa bahasa sumbah Bagas? Selain dua kalimat yang tadi, apa bisa yang lain? Itu dia. Dia sudah mengujiku. Di mana letak salahku? Sepertinya kamu enggak bisa.
1:09:05 Eh, meskipun enggak, memangnya kenapa? Apa harus bergelar memulai perusahaan dan riset teknologi? Anda mendiskriminasiku cuma karena pendidikanku. Gimana soal kerja kerasku bertahun-tahun untuk proyek? Bagas, kamu kira aku enggak bisa melihat proyekmu? Ini yang kamu sebut bekerja keras. Kami sudah mendatangi perusahaanmu. Gak ada apapun selain lahan kosong. Yudi, di mana kamu periksa sebelumnya? Eh, ayah, aku enggak tahu. E, tadinya enggak begitu saat aku pergi. Kenapa kamu bohongin aku? Eh, Sel. Iya, percaya padaku. Aku
1:09:50 benar-benar mencintaimu. Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu pakai identitas palsu untuk menipuku? E, aku yang bermaksud, tapi latar belakangku enggak cukup baik untukmu. Kamu enggak paham seberat apa bagi seorang dari dasar sepertiku untuk naik ke atas, Selia? Aku gak bermaksud mencuri uangmu. Aku mau menggunakannya untuk membangun masa depan kita. Semuanya lakukan untukmu, Selia. Melakukannya untuk Kakak karena itu sebenarnya istrinya. Kak, jangan percaya padanya. Dia menikah dengan Erna sudah lama. Dia cuma mau menipumu. Kakakku akhirnya jadi pintar. Kamu masih saja membodohiku. Selia, aku salah. Aku sudah menipumu. Maafkan aku. Tapi bagiku
1:10:36 cukup. Tolong pergi saja dari sisiku dan aku enggak mau melihatmu lagi. Baik baiklah. Kak, kita enggak bisa melepaskannya begitu saja. Cukup. Aku lelah. Itu sudah berakhir. Ayah, Ibu, kita gak bisa melepaskannya begitu saja. Kakakmu bilang lepaskan saja, gimana lagi? Baiklah, mari kita akhiri masalah ini. Kali ini gimana juga kita yang gagal melihat dengan jelas. Yudi, kamu yang bertanggung jawab atas semua proyek itu. Kamu belum juga menyadari apa yang mencurigakan. Dengan kemampuanmu yang menangani bagianmu, serahkan semuanya. Yudi sudah siap. Kehilangan bagiannya
1:11:22 untuk Surya. Baiklah, serahkan semuanya pada Surya. Hm. Dia melakukannya dengan baik, tapi ini belum berakhir. [musik] E, Bagas enggak sabar bekerja denganmu. Hm. Senjata berbahaya di tanganmu ini. Sudah, aku amankan. Lanjutkan dramamu itu. Aku harap pertunjukannya harus bagus. Eh,
1:12:08 Surya Linjaya, kamu gak bisa lari dari genggamanku. Di mana, Yudi? Eh, dia tadi bersamaku. Ke mana dia secepat itu? Dia merencanakan penculikan dirinya sendiri bersama Bagas. Penculikan. Ibu, ayah selamatkan aku. Semuanya kita ketemu lagi. Langsung saja ke itinya. Hidup Yudi. Kamu rasa berapa pantasnya? Hah? Kenapa mereka enggak panik? Hah? Mungkin mereka terlalu takut. Ibu, ayah selamatkan aku. Aku takut. Aku mau 1 triliun. Kirimkan padaku
1:12:55 sekarang atau kuak dia. Hah? Bagas, apa kamu lupa gimana kamu berlutut dan memohon? Kamu pengecut, memangnya kamu berani menembak? Apa katamu? Katakan lagi. Magas, hati-hati, jangan lepaskan. Ayah, ibu, jangan dengarkan dia. Lihat, dia punya senjata. Suryah, apa yang kita lakukan? Dia punya senjata. Mungkin sebaiknya kita kasih dia uang. Jangan, jangan. Kurasa Surya benar. Bagas enggak berani menembak. Kalau dia putus asa gimana? E, jangan khawatir, lihat aku. Kamu mau ngapain? Berhenti di sana. Ah, bukannya kamu butuh uang. Ini aku ambilkan. Apa R.000 cukup? Ambillah.
1:13:41 Berani mengejekku? Kamu pikir aku enggak mau menembak? Hah? Aku lakukan ini untuk kebaikanmu. Kamu enggak tahu ganjaranmu untuk penculikan? Setidaknya 10 tahun tambah dengan senjata 10 tahun lagi. Minta 1 triliun apa? Kamu cari mati opo? Bagas kamu enggak tahu ya kamu enggak tamat sekolah dasar. Ee jadi enggak heran. Oh, diam loh. Bagas jangan dengarkan dia. Kamu pasti baik saja. Ini cuma pertunjukan. Pertunjukan? Iya, ya. Ya, ya. Iya, pertunjukan. Tunggu. Gimana dia tahu aku enggak tamat sekolah? Dia menyelidikku selama ini. Dia sudah tahu latar belakangku. Cuma Erna dan Yudi yang tahu masa laluku. Erna gak pernah menjualku. Ini pasti.
1:14:29 Pertunjukan akan dimulai. Bagas, gimana kamu bisa menipu kakakku? Kamu kira kami bersaudara akan melepaskanmu? Untuk pculikan ini saja kamu digancar 20 tahun. Aku paham. Akhirnya aku paham. Ini semua jebakan yang disiapkan Linjaya. Hah? Pagas, bicara apa kamu? Mintalah uang. Minta uang sana. Baiklah. Ini bukan bagian dari rencana kita. Ayudi, jangan takut. Dia enggak akan menyakitimu. Rencana kita berhasil. Rencana? Rencana apa? Aku cuma menipu sedikit uang. Kamu coba membunuhku. Aku paham. Kamu kasihkan info pribadiku. Ya kan? Eh, Bagas, apa
1:15:15 yang kamu bicarakan? Masih pura-pura? Aku sudah tahu saat dia mengujiku dalam bahasa Sumba, aku sudah ragu. Rupanya kalian berdua dalangnya ya kan? Hah? Bagas aku gak ada hubungan dengannya. Jangan pukul dia. E jangan pukul wajahnya. Eh ah itu kejam sekali. Apa masalah Yudi sekarang? Bisakah dia memprediksi masa depan? Apa dia tahu Bagas mencoba menyakiti kakak karena Yudi bilang padanya? Aku sudah hubungi polisi. Bagas [musik] kamu gak bisa lari mulai sekarang. Harus percaya pada Surya. Enggak, bukan aku. Bagas. Sekarang kamu pakai kekerasan.
1:16:01 Aksi palsu ini jadi nyata. Tapi bukan itu saja. Eh, hubungi polisi. Kamu benar-benar hubungi polisi. Magas, jangan ceroboh. Ini cuma pertunjukan. Ini cuma pertunjukan. Hah? Pertunjukan. Hah? Kamu kira aku enggak akan menembakmu,? Hah? Aku akan membunuhmu. Ah. Enggak berguna kamu juga. Kalau enggak karenamu, rencanaku pasti berhasil. Kali ini kita selesaikan ini. Biar aku habisi kamu duluan. Jangan. Apa yang terjadi? Apa ini? Mana senjataku? Di sini.
1:16:53 Pak Cipto, terima kasih untuk keluarga Anda. Akhirnya kami menangkap Danu. Danu? Iya, orang yang Anda panggil Bagas. Orang ini terlibat banyak kasus penipuan. Perlu diwaspadai. Kami sudah lama mengejarnya. Siapa sangka kali ini dia jelas sekali melakukan penculikan dan melukai orang. Dengan kejahatannya dia akan dipenjara. Petugas Jun, gimana kedua anak saya? Kasih pernyataan segera keluar. Ibu, ayah, Kakak, Surya, kamu baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Itu cuma senjata air. Pak Cipto, anakmu hebat sekali, pintar dan pemberani. Dia merampas senjata Danu dan melumpuhkannya. Semua dilakukannya. Petugas Jun, itu bukan aku saja. Adikku juga membantu. Oh, iya. dan Yudi.
1:17:41 Walau senjata di kepalanya dia baik-baik saja, tapi waktu interogasi dia mengompol. Ngompol Yudi? Apa wajahmu enggak apa-apa? Apa butuh petugas untuk memeriksanya? Sebenarnya aku punya pertanyaan untukmu. Ee enggak perlu petugas. Nanti saya akan melewatkan Anda. Petugas adikku takut Danu. Kalau ada yang mau ditanyakan, lakukan saja di sini. Sebelumnya danu buat perusahaan palsu. Kenapa kamu enggak kasih tahu dan apa maksudnya saat dia bilang dia berperan denganmu? E itu bukan peran. Itu nyata. Dia memang menculikku. Dia bawa senjata. Dia pergi memang untuk membunuhku. Bagaimana mungkin pura-pura? Lihatlah adik kecilku dipukuli seperti ini. Dia
1:18:28 pastinya sudah diancam Danu dan dia akan dibunuh. Benark Yudi? Benar kan Yudi? E iya iya benar petugas. Dia memaksaku untuk menipu kakakku dan dia bilang mau membunuhku. Anda jangan melepaskannya. Aku cuma bisa mengorbankan pion untuk selamatkan raja dan menyalahkan semuanya pada Bagas. Baiklah, saya mengerti. Jangan khawatir. Walau senjatanya palsu, dia bisa terbunuh. Menggabungkan semua yang dilakukannya, dia memang harus dipenjara. Petugas Jun, maaf menyulitkan Anda. Ini sudah tugasku. Jangan bilang begitu. Aku sibuk. Aku pergi dulu. Baiklah. Walaupun saat ini berbahaya, setidaknya kita sudah menghentikan buang waktu tepat di samping kita. Ayah, Ibu,
1:19:16 maafkan aku. Ini salahku. Ah, enggak apa-apa. Kamu juga korban. Setidaknya kita sudah dapat pelajaran. Tapi kalian bersaudara, gimana hubungan kalian jadi membaik? Akhirnya butuh saudara melawan harimau. Istriku, sepertinya kita berhasil. Hah? Ibu, Ayah, kalian baik-baik saja. Kami baik-baik saja. Hanya Yudi, cedera ringan. Eh, Kakak, wajahku sakit sekali. Tolong bawa aku ke rumah sakit. Baiklah, aku akan membawamu. Bau apa ini, Kakak? Yudi baru saja mengompol.
1:20:02 E apa mengompol? Kakak akuunggung tunggu. Jangan ke sini Asuria kamu sakit juga kamu ikut aku. Aku baik-baik saja. Rekan terkuat Yudi sudah ditangani. Gimana aku bisa dalam masalah? [tertawa] Kamu sakit kamu harus diobati. Oh ibu ayah aku bawa Surya ke rumah sakit. Kalian jaga Yudia. Sekarang ayo pergi. Eh, Kakak, aku belum masuk mobil. Eh, Yudi, mobilnya penuh. Kamu panggil taksi saja. E, enggak, aku bisa masuk. Ini muat kok.
1:20:48 Kakak, kakak, kakak. Ah, Kakak. Eh, kakak aku enggak sakit. Asuryah, sakitnya enggak sejelas itu. Memang enggak tampak sama sekali secara fisik, tapi tampak secara kejiwaan. Kalau enggak diobati bisa jadi serius. Aku juga waras. Waras atau enggak, kita cari tahu sesudah ujian. Baiklah. Baiklah.
1:21:36 Baga aku urus kan? Siapa lagi yang membuntut? Sudah berakhir. Kondisi Surya semakin memburuk. Kakak, seseorang mengikuti kita. Surya, tenanglah. Kamu selamat sekarang. Gak ada sama sekali yang mengejar. Kakak yang kakan benar. Coba percepat dan kamu lihat mobil di belakang mengikuti kita. Baiklah, aku harus ngebut. Benar-benar dibuntuti. Sekarang gimana? Kakak terusa menyetir. Aku mau lihat siapa itu. Ah, aku lupa. Aku sudah pakai tenagaku
1:22:22 hari ini. Sudah sampai batas. Surya, kamu gak apa-apa? Saat ini aku baik-baik saja, enggak tahu nanti. Oh, ya. Kakak coba putar ke kiri. Baiklah. Kalau kamu berani mengikutiku, kubawa kamu ke tempat spesial. Nona, ikuti Surya, kita gak bisa lewat lagi. Berhenti di sini, Surya. Ini selanjutnya gimana, Kakak? Aku pinjam bajumu. Hah?
1:23:14 Kakak, kamu akan menyaksikan sihirku sekarang. Apa sihir? Berani buat masalah denganku? Tunggu saja, biar ku tunjukkan padamu kekuatan jurus petir. Nona, mereka berhenti. Minggir saja, Nona, mereka orang Linjaya. Anda yakin? Jadi, kalau memang iya, dia gak akan menjual sebidang lahan itu. Di samping itu, ini yang Linjaya inginkan. Weni. Apa masalahnya denganmu? Semua ini adalah Surya. Kekuatan supernya. Kekuatan super. [tertawa] Mentalmu terganggu ya karena adikmu sendiri. Lagian enggak ada yang namanya
1:24:00 kekuatan super. Cuma ada sihir tahu. Ini jimat penolak balah kudapatkan dari guru seharga 10 miliar. Ini untukmu 10 miliar untuk secari kertas. Itu jelas bukan kertas sembarangan. Itu jimat penolak balah. Lagi pula itu bukan kertas sembarangan, tapi juga petunjuk dari tanah berharga di luar kota. Berhenti. Aku lelah. Kekakmu itu memang sudah mendorongmu sejauh ini. Nona Kara, bisakah kamu menjaga ucapanmu? Ngomong kosong. Apa itu tadi? Em, maksudmu yang mana? Lupakan saja. Kamu dan kakakku sama-sama membuatku
1:24:46 gila. Apa? Dia juga cari gara-gara denganmu. [tertawa] Aku lelah. Kapan kiamat? Wen hari ini aku akan balaskan dendammu. Tanah gak berguna ini aku beli dengan R juta. Dalam 3 menit petir akan menggelegar di sini. Kamu mau melukaiku? Kalau gitu tempat ini jadi makammu. Kenapa tempat ini familiar? Baiklah. Ini tanah suci yang penyihir tahu katakan. Beraninya mereka membawaku
1:25:33 kemari. Biar aku takuti mereka. Lalu aku rebut tanah ini. Asurya, kamu gak apa-apa? Kakak, jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja. Akan k gunakan petir untuk menyamar sebagai penyihir tahu dan menakuti mereka. Masuklah ke mobil. Jangan pernah keluar. Ingat, jangan keluar. Tetapi badai ini. Eh, jangan khawatir. Aku bawa gelang jimat darimu. Aku akan baik-baik saja. Kamu tahu siapa aku? Aku seseorang yang seharusnya kamu ganggu. Hah? Kenapa kamu mengikuti ucapanku? [tertawa] Takut ya? Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dengar. Aku generasi ke-38
1:26:18 Gunung Agung dari Gunung Lawu. Aku tahu semua mantra tahu. Membaca pikiran cuma salah satu dari yang lain. Kamu berani menantangku? Dengar. Akan kutugaskan teknik petir untuk menghancurkanmu. Jurus petir? Kamu kira aku enggak tahu siapa kamu sebenarnya. Dengarkan Surya. Kamu tahu aku? Bukan cuma namamu. Aku juga tahu. Kamu enggak tahu. Mantra tahu. Itu bukan membaca pikiran, itu kemampuan memprediksi apa yang akan aku ucapkan. Eh, siapa kamu? Siapa kamu? Pria ini enggak menyangkalnya. Sepertinya sama seperti Weni. Dia percaya kekuatan super menarik. Aku akan bermain-main dengannya. Aku generasi ke-38 guru agung yang asli dari Gunung
1:27:04 Lawu. Apa? Heina. Kamu tahu kenapa aku datang menemuimu? Karena kamu membeli tanah ini. Oh, kamu mau juga? Bukannya aku mau juga, tapi tanah ini adalah tanah terkutuk. Di bawah sini tempat kekuatan jahat ditahan. Hanya kalanganku yang bisa mengendalikan mereka. Kekuatan jahat? Apa kamu tahu apa yang ada di bawah sini? Memangnya apa? Kalau kamu gak pelit, akan aku bayar R miliar lagi untuk membelinya. Oh, jadi itu kamu yang mau membeli tanah ini ya? Ups. Aku ketahuan. Kalau aku enggak menjualnya, kamu akan mencurinya. Sudah hampir waktunya. Beraninya berbohong soal Guru Agung. Apakah kamu
…