DNA Ungkap Fakta Mengejutkan: Siapa Sebenarnya Orang Indonesia? | Helmy Yahya Bicara

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang peran dan stereotip etnis Tionghoa di Indonesia dari perspektif sejarah dan budaya. Beberapa poin utama yang dibahas meliputi:

  • Sejarah diskriminasi dan stereotip negatif terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
  • Kontribusi etnis Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang seringkali diabaikan.
  • Pentingnya meluruskan sejarah dan menghilangkan stereotip untuk membangun persatuan bangsa.
  • Kekayaan budaya Indonesia yang berasal dari keberagaman etnis, termasuk kontribusi budaya Tionghoa dalam kuliner dan seni.

Pembukaan

Helmy Yahya membuka percakapan dengan Peter dan Udaya tentang isu-isu terkait etnis Tionghoa di Indonesia. Diskusi dimulai dengan membahas stereotip dan diskriminasi yang mungkin timbul karena kecemburuan sosial.

Asal Usul Istilah Pribumi dan Non-Pribumi

Istilah "pribumi" dan "non-pribumi" diciptakan untuk melakukan segregasi. Instruksi presiden (Inpres) dikeluarkan untuk merendahkan kelompok non-pribumi agar kelompok pribumi merasa lebih percaya diri. Secara hukum, penggunaan istilah ini telah dicabut sejak era Presiden Habibie pada tahun 1998, dan pemerintah dilarang menggunakannya. Mengagungkan putra daerah dalam konteks politik dapat mengancam persatuan Indonesia. Pendidikan kebangsaan harus fokus pada memerangi pembodohan, bukan hanya mengatasi kebodohan.

Pengalaman Diskriminasi dan Kebencian Turun Temurun

Pada masa lalu, budaya Tionghoa ditekan, dan banyak orang Tionghoa dipaksa mengganti nama. Meskipun upaya penghapusan identitas ini gagal, diskriminasi tetap ada, bahkan tercermin dalam KTP dengan kode K1 (keturunan). Kebencian terhadap etnis Tionghoa seringkali diwariskan tanpa alasan yang jelas. Etnis Tionghoa sering menjadi "bumper" atau pihak yang berada di tengah dalam berbagai konflik sejarah. Stereotip bahwa semua orang Tionghoa kaya adalah salah. Kesuksesan adalah hak semua orang, tetapi orang yang termarginalkan harus bekerja lebih keras.

Masa Depan Anak-Anak dan Multikulturalisme

Perkawinan campur akan semakin umum di masa depan, sehingga penting untuk merayakan multikulturalisme. Manusia harus kembali kepada kodrat kemanusiaan. Kecemburuan sosial seringkali menjadi pemicu diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.

Peran Etnis Tionghoa dalam Kemerdekaan Indonesia

Etnis Tionghoa memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang seringkali diabaikan dalam sejarah nasional. Tokoh-tokoh seperti dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara mendirikan partai yang inklusif. Gedung Sumpah Pemuda dimiliki oleh orang Tionghoa. Ada anggota etnis Tionghoa dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang awalnya dihilangkan dari catatan sejarah. Lima tokoh Tionghoa diakui sebagai bapak bangsa Indonesia.

Kontribusi Budaya dan Sejarah yang Terlupakan

Lagu Indonesia Raya memiliki sejarah yang melibatkan etnis Tionghoa, termasuk perekaman pertama oleh Yokim Chan pada tahun 1927. Versi keroncong lagu ini diperbanyak dan dikirim ke London. Master rekaman asli lagu Indonesia Raya hilang setelah diserahkan melalui Kusbini. Lagu Indonesia Raya awalnya hanya satu stanza, dan tiga stanza baru dibuat pada tahun 1944. Koran Sin Po, yang dikelola oleh komunitas Tionghoa, mempublikasikan partitur Indonesia pada tahun 1928.

Kontribusi Budaya dan Kuliner

Kontribusi budaya etnis Tionghoa dalam kuliner Indonesia sangat signifikan, seperti pempek, tekwan, laksan di Palembang, dan soto di Jawa. Penyebaran makanan seperti soto ada di setiap pulau di Indonesia. Etnis Tionghoa tersebar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Cina Medan, Cina Bangka, Cina Belitung, dan Cina Benteng.

Sejarah dan Kebudayaan di Yogyakarta

Peter Carry berbagi pengalamannya dalam melestarikan arsip Keraton Yogyakarta dan hubungannya dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ia juga menceritakan tentang sumbangan dari komunitas Tionghoa untuk merayakan jumenengan Sri Sultan pada tahun 1940 dan 1952. Hubungan dekat antara sultan dan kaum Tionghoa di Jogja harus dirayakan.

Pelurusan Sejarah dan Persatuan

Udaya meluruskan sejarah terkait tuduhan pengkhianatan etnis Tionghoa di Yogyakarta pada tahun 1940. Ia menjelaskan bahwa peresmian pengangkatan Sri Sultan ditunda hingga tahun 1952 karena kondisi politik yang tidak memungkinkan. Keberadaan tokoh Tionghoa berdampingan dengan sultan dan para pangeran dalam acara tersebut membuktikan bahwa tidak ada pengkhianatan. Perbedaan adalah kekayaan Indonesia, dan persatuan harus dijaga.

Penutup

Helmy Yahya, Peter Carry, dan Udaya menekankan pentingnya meluruskan sejarah, introspeksi, dan menjaga persatuan. Mereka mengajak generasi muda untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan tidak mudah diadu domba. Keberagaman etnis dan budaya adalah aset terbesar Indonesia.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 I will send you, Pak. Iya. Oke, Pak Peter. Saya kirimkan juga. Ada ini ya, Pak? Ada ada kitnya. Ada kitnya. Jadi, ini cukup kit aja. Ada kit aja. Oh, ada kit. Jadi sama kayak tes e COVID, Pak. Kenapa quote dan quote ada mungkin kecemburuan ya dari saya mohon maaf dari pribumi ke keturunan Tionghoa. Kita masuk pada sebuah blaming kaca, Pak. kegagalan kita lalu menyalahkan orang lain. Oke. Nah, itu masuk pada satu kultur sebetulnya secara enggak sadar. Oke. Stereotyping bahwa kalau orang Tiona atau orang Cina adalah orang kaya, is wrong. Pak, saya mungkin agak lompat dikit.

0:46 Adakah istilah pribumi non pribumi itu berasal dari siapa dan apakah dikotomi ini sesuatu yang menyakitkan, Pak? Jadi sebetulnya kalau secara nasional kata Pri nonpri ini kan memang pernah diciptakan untuk membuat segregasi seg iya dan termasuk yang tadi keluarnya impres itu ya itu itu adalah salah satu cara untuk yang katanya non prix ini direndahkan supaya yang pribumi mempunyai confidence dan kata pri dan nonpri itu sebenarnya secara hukum itu kan sudah dicabut Pak ketika Pak Habibi menjadi presiden He ya 19989. Nah, itu secara resmi. Bahkan ada pasal yang mengatakan, "Barang siapa kalau

1:31 ee pemerintah, orang pemerintah yang menggunakan kata itu, maka secara hukum dia melanggar." Hm. Nah, jadi ya kembali lagi kata pri dan non pri ya yang saya ini kan enggak boleh lagi kita ungkit-ungkit dan itu seetulnya sudah sudah dikotomi sudah selesai dan sekarang kan kita sadar bahwa apa sih pribumi? Lalu kenapa kita mengatakan non pri ya? Dan saya pernah mengingatkan ketika saya menjadi salah satu pembicara ya kebetulan beberapa pesertanya politician. Kalau kita masih mengagungkan atau kita melestarikan kata kalau mau jadi maaf ya dalam waktu itu konteksnya adalah kalau pemilu pilihlah putra daerah. He.

2:18 Maka itu tidak akan ada Indonesia lagi. He. Oke. Kalau saya pribumi orang Betawi misalnya, ibu kota Jakarta, saya kan yang punya kota ini. Berarti saya yang punya negara. Hm. Suatu saat pindah ke Nusantara maka dia enggak jadi pribumi lagi. Nah, konteks ini sangat penting untuk kita wartakan kepada anak bangsa kita, Pak. bahwa menjadi Indonesia kita harus betul-betul s karena kebetulan latar belakang saya sebagai pendidik, saya juga ee konsultan untuk yang ee saudara-saudara kita yang mengambil S3 keluar untuk kita yang interview semuanya. Umumnya banyak yang merasa kecewa pulang ilmu yang dia bawa itu nyaris

3:06 tercampakan tidak terpakai. Bukan karena tidak terpakai, Pak. Kekurang sportif dari orang-orang yang merasa kalau bisa yang lain bodoh. Nah, ee dari konteks pendidikan kebangsaan yang kita harus perangi adalah pembodohan, bukan kebodohan. H kita entaskan kebodohan, tetapi kita perangi pembodohan. Ya. Jadi ini yang menjadikan sebetulnya maaf kalau kita menyedihkan kami orang-orang di pendidikan bahwa kalau ini selamanya dipakai konsumsi untuk politik maka kita akan berakhir bukan 100 tahun ya. Dan kita lihat dari perjalanan ee sejarah

3:51 yang namanya dinasti-dinasti itu kan juga periodenya pendek. Nah, kalau kita bicara tentang kebangsaan kembali lagi adalah harus ditanamkan kepada integrity bahwa integritas kita. Makanya saya sering mengatakan menjadi Indonesia atau memperlakukan kita sebagai orang Indonesia harus seperti salat, seperti gado-gado atau lotek. Kita berwarna-warni dan justru wna-warni inilah memberikan complim which ada bukan jus. He. Pernah waktu tahun-an kami diberang semua budaya 67 itu kan ya orang Tiona harus mengganti nama dan saya termasuk nama saya lahir sebagai Lim Cinpeng, Pak. Jadi udaya

4:36 udaya nimalata dan itu aja saya sudah penggal Pak kalau enggak Bapak manggil nebut nama saya bingung. Udaya nimalata tulisan M dou T. He ya. Jadi sering saya diledekin udayaan malot gitu. Nah. Tujuannya menghapus semua jejak-jejak keceowoan. He. Tetapi toh gagal, Pak. Bahkan KTP ada K1 keturunan. Heeh. Ya. Nah, jadi dari situ sudah menunjukkan bahwa kebangsaan itu kembali pada founding founders kita. Ya, bahkan Soekarno sendiri dalam pidatonya mengatakan Ruslan Abdul Ghani, Ruslan itu kan ee nama bukan bahasa Indonesia. Abdul bukan nama Indonesia. Oke. Arab Gani boleh katakan Indonesia

5:23 tapi menjadi termasuk dia katakan yang namanya Jawa tuh tapi yang dia bahkan menyebut nama Tiongwa ya tapi tetap jiwanya Indonesia. Nah itu saya kembalikan lagi bahwa ee dalam konteks apa yang terjadi dengan nilai-nilai kebangsaan kita ini itu hilang, Pak. H karena memang orang berebut yaitu siapa lebih asli. Nah, kalau bilang begitu, ayah kita sama-sama cari DNA. Saya jadi kepengin ngetes juga nih. In my blood. I will send you, Pak. Iya. Oke, Pak Peter. Saya kirimkan juga. Ada ini ya, Pak? Ada ada kitnya. Ada kitnya. Jadi, jadi cukup kit aja. Ada kit aja. Oh, ada kit. Jadi sama kayak tes e COVID, Pak. Covid.

6:09 Jadi dari saliva atau dari dari ini ya dimasukin lagi ke dalam tub-nya kita kirim 2 bulan kemudian kirim email. Oke, this is dan siap-siap kaget. Enggak usah kaget, Pak. Karena karena memang enggak mungkin kita ini dan oke, saya perlu juga berbicara untuk masa depan anak-anak kita sekarang. I kalau lihat apa yang terjadi dengan ee genset sekarang sekolah di luar, di mana-mana dan akan terjadi perkawinan campur. Iya. Iya. Dan justru misi saya mengatakan bahwa itu adalah the future generation. Oke. Bahwa asal-usul manusia itu kembali kepada kodratnya adalah kemanusiaan. Sehingga multikulturisme itu harus dielebrate Pak.

6:55 Oke. Kalau enggak bingung nanti mereka ini sebetulnya gua orang apa, Pak? Kita mencoba cukup serius ya. Kenapa quote quote ada mungkin kecemburuan ya dari saya mohon maaf dari pribumi ke keturunan Tionghoa ya. Menurut menurut analisa Bapak ee adakah mungkin dulu secara jujur Pak ya ada tiga seperti latar belakangnya. He. Yang pertama tadi adalah kebencian yang diturun-temurunkan tanpa sebab. Oke. Artinya gini, sebetulnya manusia itu kan tidak homogen Pak. Kita itu heterrogen. Oke. Apalagi satu etnis, Pak. Hm. ya. Nah, orang Cowa yang terjadi

7:42 kepada kami dan itulah kenapa saya migrated ke Australia tapi sebelum 98, Pak 97 saya sudah pindah. Karena saya melihat bahwa kalau Anda hidup di sebuah negara yang namanya hak sasi asasi manusia tidak terlindungi. Hm. Ya. Yang hanya bisa melindungi keluarga adalah kita sendiri. Kalau sudah melawan massa enggak akan mungkin. Nah, jadi kalau dalam konteks itu, Pak, kami adalah kelompok yang dari sejarahnya mungkin ini sebuah bukan bukan hanya untuk orang Tiona, dalam peradaban manusia manusia-manusia yang berada di tengah itu menjadi bumper. Hm. The middlem man. Dalam konteks tadi Pak Peter ceritakan masa zaman Belanda,

8:28 orang Cowa ditempatkan kepada skill yang mereka akui yaitu di bisnis arranging people networking. He. Oke. Di bawah dianggapnya penjilat terhadap Belanda oleh Belanda diperesin untuk meres lagi. Hm. Ya. Nah, ee konteks seperti begini lalu dibawa kembali menjadi warisan sejarah. Makanya tadi saya kata kebencian yang kebencian. He. Tapi lepas dari ini kebencian warisan Belanda ya. Ya, sebenarnya kita sudah enggak nyalain Belanda lagi, Pak. Jadi sejarah yang sebetulnya ee ya mungkin nanti satu konklusi dari yang kedua adalah yang tadi buruk rupa cermin dibelah. Hm. Kita masuk pada sebuah blaming culture, Pak. Kegagalan kita lalu menyalahkan orang lain. Oke. Nah, itu masuk pada satu kultur

9:15 sebetulnya secara enggak sadar. Oke. Dan yang ketiga memang dengan diasing-asingkan berarti merasa sepertinya. Nah, itu Pak bahwa loh kenapa sih dan saya salah satu dorongan saya membangun museum Benteng Heritage adalah membuktikan bahwa stereotyping bahwa kalau orang Tiona atau orang Cina adalah orang kaya. That is wrong. He. Saya analogikan begini, Pak. melihat sebuah presentasi antara sama seperti waktu saya bikin seminar di eh Manchester University tentang potensi di Indonesia waktu ada krisis. Saya bilang bola ada 100 99 warnanya hitam yang satu warnanya putih. Anda shuffel. Hm. Kalau semuanya hitam putih kan enggak

10:01 enggak kelihatan. Y. Oke. Jadi loh ini miskin semua orang Indonesia. He. Lalu kemudian dia cek yang putih yang nongol tuh lihat. Oke. Seolah-olah orang Tionghwa itu yang mayoritas menguasai ekonomi. Kalau mau jujur, oke saya berikan contoh seperti saya. Saya keluar dari stereotyping, Pak. Saya pernah jadi pengusaha juga. Saya bikin, saya belajar. Saya makanya saya lebih senang dengan apa yang saya dapatkan dari Indonesia. Pendidikan saya yang lain semua dapatkan sesudah saya ketemu jalan. Betapa kami harus survive, Pak. Oke. Usia 15 tahun saya lepas SMP saya kerja jadi penjaga tokok. H

10:47 struggle ya. Kami apa gotong-gotong kain tekstil di Pasar Baru. Jalan kaki dari Senin ke Pasar Baru hanya untuk bisa ngumpulin Rp50 untuk naik untuk saya belajar kursus bahasa Inggris. He. Nah, jadi pengalaman-pengalaman pahit seperti begitu menunjukkan bahwa sukses orang adalah hak sukses adalah hak setiap orang. Tetapi ee menempatkan diri pada ee one ticket. Jadi refugee spirit. Anda kalau sebagai perantau, Anda sebagai orang yang termarginalkan, Anda sebagai orang yang kalah, harus bekerja lebih keras. Harus bekerja lebih keras, lebih giat, lebih gigi. Betul. Nah, tetapi ini dipoison oleh orang-orang

11:34 yang kebetulan punya motif-motif tertentu ya. Sehingga kalau saya mengatakan adalah sorry itu sayai infity complex create jealousy. Sure. Jadi rasa mindernya itu dan satu yang mungkin perlu saya garis bawahi yang harus kita buang budaya kita secara secara massal yang kita lakukan adalah anak kecil berebut layang-layang, Pak. Dalam setiap ada turmoil apapun juga hancurkan aja lah. Sama kan kalau anak kecil berebut layang-layang biar enggak ada yang menang, enggak ada yang dapat kan disobek-sobek Pak ya. Jadi panjang perjalanan hidup bangsa kita yang harus kita buang adalah rasa percaya diri.

12:19 kita orang Indonesia ya. Jadi miskin kaya itu. Makanya kami saya sebagai budayawan selalu mengatakan kami mengacu pada sebuah kalimat bijak orang Tiona. Kekayaan tidak berakhir tiga turunan. Begituun kemiskinan. Kalau kita percaya dengan Tuhan masa sih kerek-kerek terus gitu balung kiri ya. Nah, itu sebuah ungkapan yang memang harus kita lakukan bahwa meritocrasi, Pak. Ya, thank you. Jadi, semoga ini bisa mengatasin ya karena kita tahu bahwa dalam sejarah banyak sekali tiap kali ada persoalan dan apa saudara-saudara tiang kita itu menjadi sasaran yang sangat funderable karena memang ya

13:04 kami ya itu tadi ada kecemburuan situ kecemburuan sosial yang sebetulnya di karena perbedaan kelas ekonomi. Kalau dibilang perbedaan itu saya bilang di Tangerang tuh Cina benteng Pak tukang becak apa semua. Jadi karena stereotyping itu aja masuk Mensos, Pak. Yang ada tuh yang apa cindo-cindo yang flexing-flexing tuh ya. Ya, saya pikir kritia ya. Jadi hari gini banyak sekali rakyat masih banyak susah flexing-flexing gitu menunjukkan keberhasilan. Ada yang umur sekian sudah punya 1 triliun. Ada anak kecil 10 tahun sudah punya R miliar. Ya, itu sebetulnya itu racun itu semuanya. Makanya mestinya pemerintah tuh saya jadi ketua asosiasi Creator Content

13:50 Indonesia, Pak ee Prof. Peter Carry karena saya pengin betul tuh diatur ya. Ya, saya kan ke China mungkin 2 tahun ini 10 kali Pak. I and the Lord di sana dilarang loh, Pak. Flexing dilarang. Seorang yang ngomong berpendapat tentang hal tertentu kalau dia tidak punya sertifikat. Kenapa tuh, Pak? Betul. Kayak kemarin ada ngomong-ngomong seenaknya Jafi Ahmad punya utang pajak 334 miliar. Dia bilang karena kekayaannya 1T pajaknya 33%. I itu kan pajak penghasilan Pakis. Bukan kekayaan. Bukan kekayaan. Nah, jadi menurut saya bangsa ini kita belajar bahwa di Australia kan di bawah 16 tahun tidak boleh mesos kan, Pak? Percis. Dan sekarang bahkan ee Fabing

14:36 aja dilarang sekarang. Fabing dilarang Singapore sudah ngelarang, Fabing. Kalau ya kalau kita lagi ngomong ya lihat lihat baca ee sibuk dengan HP gitu, itu dianggapnya sangat rut ya. Oke, kita balik lagi, Pal. Emm mungkin kita ada yang bertanya juga apa sih peran ee orang keturunan Tionghoa Indonesia dalam misalnya kemerdekaan Indonesia. Mungkin Pak Peter sebagai historian bisa ada bukti-bukti gitu bahwa perjuangan merebut kemerdekaan ini tidak ansih dilakukan oleh suku tertentu. Ya. Ya. Semua ber sudah jelas. I mean sudah jelas sejak partai di didirikan oleh Dr.

15:24 Cipta Kusumo dan Kia Dewantoro ya. Siapa yang sampun eh kerasan Miki? Inilah orang Indonesia ya. Dan kita bisa lihat ya Sumpah Pemuda. Siapa yang punya gedung Sumpah Pemuda? Orang Tiongha ya. Siapa yang bergabung di dalam er komite persiapan kemerdekaan Indonesia ada empat atau lima anggota Tionghoa ya yang dengan sengaja dibuang oleh Negro Hono Susanto dari sejarah nasional dan di dengan fiktif ada orang Arab atau orang India yang di ditemparkan di sana. Ya, baru saya saya sudah dapat perangkonya baru sekarang secara resmi dibuat yang

16:10 lima orang Tiona ikut dalam BPU PK I ya BPU PKI atau PPKI ya PPKI-nya satu orang Yapcan Bing BPU PK 4 orang jadi lima orang caowa dibilang bapak bapak apa ee bangsa Indonesia itu sudah sekarang dan Franco baru saya dikeluarkan dalam bentuk Franco aja tapi tahun 2019 kebetulan saya jadi presenter di Mones di 65 historian dunia kami membuat petisi Pak bahwa penghapusan tentang partisipasi orang Tiona di dalam kemerdekaan itu yang dihapuskan dengan sengaja dalam buku sejarah harus dihidupkan kembali bukan artinya kami mau dipuji Pak tetapi untuk menghilangkan bahwa kami hanyalah sekelompok opportunis atau orang

16:57 penumpang ya penumpang penumpang gelap i tadi kalau Pak Ben ngomong gedung sumpah pemuda, kebetulan saya ikut yang menegosiasikan gedung Sumpah Pemuda itu secara resmi dihiba pada negara dan itu saya milik siapa, Pak? Itu milik satu keluarga namanya Sikonglian. Oke. Jadi, nah itu waktu dalam webinar saya 2021 ee diserah terimakan ee melalui Pak ee Indonesia yaitu Dr. ee Pak Yunus Satrio disaksikan juga dan 2022 secara resmi diserah terimakan di Museum Sumpah Pemuda oleh keluarganya. Dan tambah satu lagi Pak H

17:42 saya terlibat tapi tentang lagu Indonesia Raya. Iya. E whereatman. Nah. Iya. Ee ada andil. Jadi tahun 1927. Jadi saya sempat interview itu dan saya lacak ke situ gara-gara saya diberikan satu piringan hitam. Saya penggemar kolektor. Saya bukan kolektor tapi saya pencinta sejarah. Jadi saya diberikan piringan hitam tahun 1 lagu Indonesia Raya. saya perbaiki dan saya memang kolek saya senang dengan gramofon fonograf yang tua-tua gitu ya termasuk kamera. Nah, terus saya cari jejaknya ternyata lagu itu pernah direkam oleh seorang Yokim Chan he tahun 1927 yang kemarin ee Luis pakai

18:28 itu bahan dari saya sebetulnya foto-foto itu, Pak ya. Nah, itu dan saya juga sudah koreksikan ke Museum Sumpah Pemuda. Cuma memang ada satu yang perlu kita narasikan tentang ini mumpung belum terlalu jauh, Pak. Bahwa ee ketika e Supratman merekam merekam lagu itu pertama kali dalam bentuk ee keroncong maksudnya biola ya. dia main 1927 sudah direkam itu sekitar bulan November I ya oleh ee waktu itu orang Jerman ininya dia punya technisiya di ee Jalan Gunungsari 30 rumahnya Yokim Chan. Nah, itu ee aslinya itu tidak diperbanyak tapi karena Yokim Chan adalah jadi

19:15 persahabatan W Supratman dengan Yokim Chan. He. E, W Supratman itu pemain biola part timer dari orkestranya Yokimcan. H. Dia main biolanya. Nah, waktu itu ee Pak Yokiman mengusulkan kalau enggak kita bikin yang ee versi keroncong supaya orang Indonesia terbiasa dengan nadanya. H. Nah, yang versi keroncong itu yang diperbanyak dikirim ke London di Inggris. Tapi yang asli yang WR Supratman mainkan. He itu masih dalam bentuk ee masternya. Jadi masternya itu kalau zaman dulu itu kan pakai soft ee pita itu kayak kayak wek sebetulnya Pak

20:02 ee apa lembut sekali. Jadi waktu direkam itu sambil ditiupin dia punya bekas strike-nya itu. Nah itu masih disimpan oleh keluarga Yokimcan. Jadi ketika Jepang masuk tahun 42 itu oleh putrinya yang namanya Ibu Kartika dan sempat saya interview dan rekamannya juga masih ada sekarang itu dia selamatkan dia bawa ke Garut ngungsi. Nah, karena ayahnya bilang ini harus kita selamatkan. tahun 3 Yokim Chan mau merekam ya untuk diperbanyak tapi sudah dilarang oleh waktu itu ee direktur Direktorat Radio Maladi waktu itu Maladi ya karena sudah keluar yang asli eh sudah di eh rearrange oleh eh orang

20:51 Belanda e Silabus ya Slavus tahun '1 yang saya punya itu yang aslinya ya. Nah, sehingga tidak diperbolehkan lagi walaupun dia punya copyright dari W Supratman. Yang saya mau mengatakan adalah bahwa yang disayangkan master yang waktu itu diserahkan tahun '7 penyerahannya, Pak, melalui Kusbini. Kita tahu ya Kus Bini pengarang lagu Bagimu Negeri. Melalui Kus Bini Mali, Pak. Yuk, saya akan ee inikan, ya. Nah, sampai detik ini hilang ke mana itu? Hm. Itu yang asli. Dan yang perlu kita underline adalah saya ikut waktu 2017 saya diundang oleh Pak Aswi Adam untuk diskusi tentang waktu itu launching film Wage mungkin Pak

21:37 ya Wage tapi judulnya Wage ya. Nah Joni apa 28 Oktober Pak 2017 di Jakarta teater saya diundang. He. Lalu kami duduk dengan Ibu Sukmawati, Ibu ee lalu ee dengan Pak Aswi Adam ya, terus Ibu Retno dari KPAI, lalu Aswend ee Budhawan kita yang sudah meninggal ya. Lalu Pak Syid Salim ditanyakan karena kebetulan Pak Aswi tahu saya riset tentang lagu Indonesia Raya itu Pak Udaya ini sebetulnya lagu Indonesia Raya satu stansa atau tiga stansa? H saya bilang kalau film ini mau dilancarkan sebagai Romance history. Oke. Tapi perlu kita garis bawahi bahwa

22:22 lagu asli yang dikarang oleh Supra satu stansa. He. Argumen saya adalah Supratman meninggal 17 Agustus 1938, Pak. Oke. H dan lagu itu di dibuat tiga stansa. Jadi nothing wrong dengan suara dengan bunyi-bunyi itu bagus sekali kan. Yang pertama yang kita pakai ini. Yang kedua adalah tentang ee pujian pertama kan ee yang kedua adalah persatuan Pak. Yang pertama persatuan yang kedua pujian punya yang ketiga adalah keabadian. Tapi itu sebetulnya itu dibuat tahun 44 Pak. Oh. Jadi dia orang lain yang membuatnya menjadi tiga stanza adalah yang persiapan kemerdekaan itu di bawah Jepang. He.

23:07 Nah, saya katakan waktu itu dengan teman-teman historian saya katakan maaf ya kalau hari ini saya ditanyakan tentang apa komentar saya, saya enggak berani. Saya takut nanti seolah-olah saya memboikot debut film itu. H ini mau di launching kok. Bahkan pembukaannya nyanyi tig. Tapi message saya sebagai saya cuma guru sekolah aja. Saya bilang, "Jangan ini menjadikan sebuah pegangan ini loh sejarah." He akhirnya distorsi, Pak, terlalu dini kalau kalau belum 100 tahun lagu kebangsaan kita saja sudah distorsi. Nah, itu yang menurut saya adalah perlu kita luruskan ya. Jadi, jadi ada peran ya. Ya. Nah, peran orang Tionghoa di situ satu adalah merekam, yang kedua mempublikasikan

23:52 tentang partitur Indonesia Raya. Belum pakai Indonesia Raya, Pak. baru Indonesia 1 November 1928 adalah mingguan koran SinP SinPo yang dikelola oleh komunitas Tiongwa di mana WR Supran bekerja sebagai wartawan lepas di situ di sini ya jadi kalau bicara tentang keterlibatan orang Tiongwa good and bad Pak sama dengan etnis apapun juga karena yang permasalahan banyak yang masih mengganggu saya tentang stereotyping orang Tiona diganyang di mana-mana ketika 46. Hm. Itu kan kerusuhan Malang, Tangerang, pembantaian karena berkhianat kepada ee waktu agresi militer katanya. Nah,

24:39 oke. Hal-hal seperti itu sebetulnya tidak milik orang ya. Setiap etnis bahkan dari kalangan-kalangan elit pun ikut. He. Nah, jadi konteks itu yang sebetulnya harus dibuang adalah bahwa please treat us iya secara hetrogen, tidak homogen. Bahwa kami berbeda. Itu siapa, Pak, yang orang Tionghoa Indonesia yang pergi ke Papua untuk berjuang berperang itu? Saya baru baca lagi tuh. Sebetulnya masih banyak, Pak. Cuma kami tidak. Makanya yang saya katakan adalah bahwa misi saya, saya lebih masuk pada budaya, Pak. bahwa melalui kontribusi budaya orang Tion itu bukan baru. Kalau Anda tahu di meja ini apa sih kontribusi orang Tion? Sebutkan makanan di setiap daerah.

25:24 Ah ini Palembang dulu dong. Palembang pempek. Pempek. Tekwan. Tekwan. Laksan. Ah oke ya. Apalagi ya? Jadi ada komponen yang bercampur dengan lokal ya. He. Di Jawa misalnya Soto itu sebenarnya dari Chauto. Kawan saya dia Dr. Ari Budi dari ee apa Malang ya dia yang riset itu orang Jawa caut ya. Cut itu. Makanya kadang-kadang begini Pak kita juga enggak saya akan hati-hati juga nanti dikira apa-apa Cina. Saya bilang ya cuma yang diklaim apanya aja sih yang kurang Cina katanya. No kan perlu juga penyebarannya Pak. Oke. Termasuk kalau makanan soto itu di setiap pulau ada, Pak. Hm.

26:10 Ada soto Makassar. Nah, sedangkan etis lain tidak di semua pulau, Pak. Hanya orang kalau kita mau jujur ada Cina Medan, Cina Bangka, Cina Belitung, Cina Benteng, Cina Palembang. Nah, jadi itu salah satu secara tidak langsung penyebarannya. Oke, ya. Jadi kalau tau itu kedelai ditanam jadi tauge, digiring jadi tahu, di fermentaset jadi tau co. Nah, itu salah satu yang cai adalah sayuran. Nah, jadi saya katakan bahwa kami sudah, makanya kami mengatakan kami tenglang. Kucai itu sayuran. Kucai itu juga sayur bahasa tion. Nah, Anda kalau capcai capcai kalau sudah siap makan, Pak 10 jenis sayuran, ya. Nah, ee maksud saya yang uniknya lagi adalah justru orang suka tanya kok kenapa Hokian

26:55 itu kan semuanya konteksnya dari selatan Pak. H orang Beijing, orang Sangha itu enggak ada pengaruh sedikit sekali pengaruhnya terhadap Indonesia. Karena memang kan kalau sama pengelana dunia tidak ada orang Swiss Pak dari gunung karena landlock ya. Nah, hanya orang-orang yang di pantai yang bisa pindah. That's the logic. That's also why orang Palembang bisa ke mana saja ya. Nah, karena ada di pantai. Nah, jadi itulah konteksnya kenapa hokian ya, yaitu di pantai ya. Jadi, dia enggak usah dia sengaja mau pindah pulau, dia nyari ikan, dia terdampar aja ketiup angin bisa. Ya, itu aja konteksnya. Mungkin Pak Prof bisa menambahkan ya yang sesuatu berasal dari Tiongkok yang melebur ke dalam budaya mungkin makanan

27:43 Indonesia. Iya. Favorit saya Soto ya. Ini sesuatu yang sangat ee menarik, sangat menarik dan ya sebenarnya di semua lini ya kalau kita lihat batik atau kita lihat ee songket atau kita lihat ya ini corak pegang mendung. Iya. Ini baju-baju baju-baju dari C ini baju-baju dari Cirebon ya. Dan ini adalah lambang e salah satu arus dari Tiongh dan di sini adalah burung Hong ya. Burung ya di Palembang juga kan sebetulnya sama itu burung hong. Jadi kita tidak harus melihat terlalu jauh dan saya kira kita

28:28 harus jujur ya kita harus jujur dengan bagaimana kita menulis sejarah ya. kita ee saya sangat merasa tersanjung sebab waktu masih muda sekali saya bisa ada tukar serat dengan Sri Sultan Kesembilan ya saya membuat salah satu er pekerjaan yang diberi amanat kepada saya oleh British Academy untuk membuat edit dari dari semua yang dirampas Inggeris yang tidak berbau sastra ya dari keraton dan saya membuat dua dua jilid eh the archive of Jogja dan saya sampul di dalam salah satu sampul dari sutra er

29:14 kuning yang dijahit oleh isteri saya dan saya memberi salah satu surat kepada Sri Sultan dengan cap dari kolej saya yang kebetulan di atas cap wax yang hijau ya yang sesuai dengan selera ya Jawa Muslim ya ya dan saya layangkan kepada Sri Sultan dan dia bilang secara ya sangat humble ya terlalu tinggi er bahasa Mr. Peter ya dan dia menerima dengan lapang dada dan sangat ee charming ya. Dan saya lihat di di Jogja sebenarnya salah satu kejadian adalah waktu dia naik jumenangan dari dari

30:00 Doro Jatun ya waktu dia Raden Mas Doro Jatun menjadi Sri Sultan keesemb ya bulan Maret 1940 1940 ya dan dia sebenarnya em pada ee saat itu adalah em Naga ya Naga dan punya tahun Naga ya ada kira-kira subscribers atau mungkin tujuh keluarga yang terkemuka dan 70 orang yang memberi sumbangan ya dan mereka memberi sumbangan dari salah satu prasasti untuk merayakan jumenangan dari Sri Sultan kesembilan dan prasasti itu tidak bisa diserahkan kepada Sri Sultan pada waktu itu sebab

30:47 suasana perang politik itu ya politik dan sangat ee ee taki dari zaman prah invasi dari Jepang. Jadi mereka memberi secara resmi pada tahun naga yang berikutnya yang ada 52 52 195 12 tahun persis 12 tahun dan waktu itu kita bisa lihat di em gambar dan foto yang diambil bahwa Sri Sultan sendiri muncul di dalam satu suit yang sangat keren sekali dengan salah topi dan ya dia di em eh difoto dengan Bernie

31:33 Lim punya salah satu e ayah mertua ya eh engineer eh Ingamlon ya. Jadi bagi saya ini satu tanda bahwa seorang sultan dan kaum Tionghoa di Jogja h punya kesepakatan yang sangat dekat sekali ya. Jadi ini bagi saya harus dirayakan seperti eh di Ponegoro punya paman favorit ee anak dari Masayusanawati yang menjadi ahli siasat dan kita tahu itu sebab waktu mereka ditewaskan di dalam bukit barisan antara Kulomprogo dan Baklen pada malam 21-22

32:18 September 1929 mereka di disergap oleh pasukan Minahasa. Mereka di em dipanggil ee siapa dirimu? Dan jawaban kita adalah Kanjeng Gusti. Bohong belaka. Tidak ada Kanjeng Gusti lagi di pihak ee pemberontak berandau. Habiskan mereka ya. dan mereka dihabiskan oleh eh ya orang yang bertombak yang food soldiers dan potong kepala sebab kita bisa kirim ke The Gok di Magelang dan setiap kepala 20 gilden ya dan mereka potong kepala dan mereka

33:05 angkat ke atas dahsyat ajaib mereka adalah kanjeng gusti dan bisa dilihat dari wajah kulit posland dari orang yang keturunan ya dan mereka lihat dengan obor mereka lihat kepala yang baru di dipengkau mereka adalah ee Kanjeng Gusti dan juga tidak bohong mereka adalah Jok Kesumabai dengan dua putra ya jadi ini adalah bagi saya salah satu tanda yang nyata bahwa sebenarnya Ya, Tiongha punya salah satu sumbangan yang luar biasa besar kepada

33:50 kemerdekaan Indonesia dan ini harus dirayakan. Harus jangan mendem jero dan eh kita harus mikel theor. Boleh enggak saya tambahkan yang tadi Pak Peter mengatakan tentang tahun 40 itu, Pak? H karena begini ya ee ini saya meluruskan sebuah sejarah dari bukti kebudaya secara budaya orang Tiona di Jogja itu kan dituduh berkhianat. Oke. 1940 untuk ungkapan selamat kepada Sri Sultan Mangkwono atas pengangkatan menjadi raja ya yang tadi Pak Peter katakan itu 1940. Saat itu tahun raja ee tahun kalau kami orang

34:36 naga yang layak untuk simbol seorang raja adalah naga. Karena tahun 40 itu karena satu hal yaitu politik dan kondisi tidak memungkinkan maka inaugurasinya tidak dilakukan Pak tapi ditunda satu satu round 12 tahun. Jadi 1952 tadi yang diresmikan di mana si Sultan Hamang Gubono berdiri side by side dengan tokoh Tiona yang bernama Ir. Lim Ingwi. He. Dan di deretan lainnya adalah pangeran-pangeran berdiri dengan tokoh-tokoh Tiongwa. Ada empat l tokoh Tiongwa. Iya. 11 pangeran ini untuk menjawab adanya. Ya, saya harus katakan ini dari kultur orang Tionghoa di ini lepas dari soal urusan hak tanya.

35:21 Orang Tiona itu di Jogja dituduh berkhianat kepada ee Sultan Jogja. Maka mereka hanya diperbolehkan tinggal di Jogja dengan syarat tidak punya hak milik sampai saat ini. Oh, itu munculnya Sultan Ground itu ya? Iya. Nah, tapi yang ingin urusan Sultan Groundnya saya enggak masuk dalam konteks itu. Itu urusan hak dan itu urusan hukum. Apakah mentaati? Tetapi yang saya se konteks budaya yang saya pertanyakan tahun 1952 kalau dibilang orang Jawa berkhianat kepada sultan pada kerajaan maukah seorang raja berdiri side by side dengan orang yang berkhianat dalam konteks kaca

36:07 Jawa. Sedangkan kita tahu bahwa agresi militer itu 1947 1949. He. Is it possible seorang raja mau berdiri side by side? H dan tidak ada sepat kata di ke dalam rakyat. Jadi itu secara kultural hanya kami buktikan bahwa silakan pikirkan kalau itu sebuah hoa ya. Nah, itu aja, Pak. Terima kasih. Wow, hampir 1 seteng jam. Terima kasih, Pak Udaya. Terima kasih, Prof. Peter Carry. Semoga ini banyak meluruskan ya. Ya, prinsipnya meluruskan. meluruskan dan juga mengingatkan kembali kita mari introspeksi bahwa perbedaan kita apalagi tidak ada yang pure ini dalam darah kita

36:53 dan I'm against juga Chinese yang yang berperasa bahwa we are truth or no jadi saya buat saya menurut menurut saya inilah kekayaan kita ya untuk kita ya we have to celebrate Prof Peter K bilang we have to celebrate this perbedaan kita only country in the world we The riches ya. We are the richest. Makanya itu yang he kadang-kadang apa sih yang kita enggak punya Pak? Ada 700 etnik group ya. Ya. I hampir 600 bahkan luar biasa language. Iya. Makanya Wow. Luar biasa. I dan persatuan kita masih masih terjagalah ya. Iya. Dan sofa ya yang kita harapkan Pak. Makanya Pak Helmah Anda dengan masih jauh lebih muda daripada kami adalah bagaimana menanamkan

37:39 nation building. Mari kita hand in hand. Jangan mau diadu. Kita sudah jauh tertinggal. Jangan-jangan memang ada orang yang mengadu kita supaya ribut mempersoalkan hal-hal yang kecil. Yang kecil yang diangkat yang nota bene supaya kita tidak bergerak. Betul dengan potensi alam kita ya. He ya mestinya dengan leadership ya. kita bisa terus mengejar ketertinggalan ya. Kita cuma mengharapkan generasi muda yang siapapun kita ketemu hak mereka untuk maju menjadi pimpinnya dan ada panutan yang sangat luar biasa dari leluhur. Thank you eh Mister Prof ya. Terima kasih sudah Mister Prof. Wong ja ya. dan ee Pak Budaya terima kasih

38:26 sekali untuk waktu. Saya enggak pernah podcast. Oh, dengan beliau juga seteng jam. He is a very good storyting. Oh, kalau udah kalau udah Pak apa Prof Peter ngomong itu saya beli w tapi daging semua kat ya. Daging semua ini guru saya pak. Guru semua orang dan kita berhutang kepada wong Londo ya. Anak semua bangsa yalah. Siap. Yang saya pikir lebih Jawa beliau daripada saya. Yalah saya orang Palembang. Terima kasih ya sudah bersama kami dan kita akan jumpa ya. Masih banyak yang bisa kita bicarakan ya. I love history, Pak. Mudah-mudahan Pak ya. Karena memang history itu untuk melangkah ke depan dan jangan melupakan sejarah ya. JZ merah. Jas merah ya. Dan mari kita luruskan

39:13 sejarah kita. Oke siap ya. Banyak betul yang bisa kita luruskan ya. He ya. Jadi semoga tadi Prof. Peter Kie dan juga Pak Udaya sudah banyak sekali memberikan pelurusan-perurusan ya kami ya meluruskan aja gitu ya. Mari kita jaga persatuan ya. Bineka tugalika itulah our greatest aset aset terbesar Indonesia. Kita jumpa lagi dengan topik selanjutnya. Bye bye. Y thank you. Thank you. Thank you. Terima kasih, Pak. Matur nuwun. Matur nuwun.

Share

Ringkasan Video YouTube