DRONE EMPRIT: PRABOWO SATUKAN MUSUH BEBUYUTAN MELAWAN JOKOWI

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang amnesti dan abolisi yang diberikan Presiden Prabowo kepada Tom Lembong dan Hasto, yang dilihat dari perspektif politik dan hukum. Analisis media sosial menunjukkan bahwa keputusan ini menciptakan rekonsiliasi antara kelompok yang berseberangan dengan Jokowi, namun juga menimbulkan kekhawatiran terkait pemberantasan korupsi.

  • Amnesti dan abolisi menciptakan rekonsiliasi politik.
  • Publik lebih melihat dari kacamata politik daripada hukum.
  • Muncul kekhawatiran terhadap pemberantasan korupsi.

Pendahuluan

Diskusi dimulai dengan membahas bagaimana amnesti dan abolisi telah berulang kali terjadi sejak zaman Presiden Soekarno hingga Jokowi, namun pemberian amnesti dan abolisi kepada terdakwa korupsi kali ini terasa tidak menyenangkan. Hal ini memicu pertanyaan apakah masyarakat Indonesia "sakit" dalam menyikapi isu korupsi.

Analisis Klaster Media Sosial

Analisis jaringan sosial menunjukkan adanya satu klaster besar yang natural dan reaktif terhadap isu ini. Reaksi publik cenderung positif terhadap Prabowo atas pemberian amnesti dan abolisi. Isu ini juga memicu kemarahan terhadap Jokowi dan penegak hukum di eranya, menunjukkan adanya upaya Prabowo untuk mereduksi politik orbital yang mengasosiasikannya dengan Jokowi.

Motif Stabilitas dan Rekonsiliasi

Prabowo, dengan latar belakang militer, mengutamakan stabilitas negara. Keputusan memberikan amnesti dan abolisi dilihat sebagai upaya rekonsiliasi dan persatuan, mengikuti trilogi pembangunan di era Orde Baru namun dalam konteks libertarian. Istana melihat negara saat ini terfragmentasi dan kelompok Tom Lembong dianggap berpotensi menciptakan destabilisasi.

Tom Lembong dan Hasto Sebagai Korban Kriminalisasi

Tom Lembong dan Hasto dilihat sebagai korban kriminalisasi. Percakapan di media sosial didominasi oleh kelompok Tom Lembong. Dulu ada dua klaster yang berseberangan (cebong dan kampret), kini bersatu dengan narasi yang sama: kriminalisasi lawan politik.

Strategi Politik Prabowo

Prabowo berhasil menghimpun dua kelompok yang berseberangan dengan Jokowi melalui amnesti dan abolisi. Ini adalah langkah politik yang cerdas untuk memberikan tekanan pada Jokowi. Di masa lalu, lawan politik dikunci dengan label PKI, sekarang dengan label koruptor.

Paradoks dalam Keputusan Amnesti dan Abolisi

Mahfud MD menyatakan bahwa langkah Prabowo strategis dalam penegakan keadilan, namun ada paradoks karena keputusan ini mengintersep putusan hakim. Amnesti dan abolisi menjadi manifestasi bahwa penguasa menggunakan politik untuk mengubah status hukum seseorang. Dari sisi politik, ini adalah rekonsiliasi yang dibutuhkan Prabowo untuk mencapai visi misinya.

Oposisi dan Pengalaman Prabowo

Prabowo, yang lama menjadi oposisi, paham betul karakter oposisi. Pola politik akomodatif yang dilakukannya bertujuan agar pertumbuhan dan pemerataan bisa berjalan. Ia merangkul lawan politiknya, termasuk kelompok Anies dan Ganjar, yang terepresentasikan dalam kasus Tom Lembong dan Hasto.

Manfaat Politik Amnesti dan Abolisi

Amnesti dan abolisi meningkatkan sentimen positif terhadap Prabowo, mengurangi tekanan publik, dan membangun citra sebagai pemersatu. Ini adalah upaya untuk mengucilkan Jokowi dan membantah politik orbital yang selama ini melekat pada Prabowo.

Respon Publik terhadap Tom Lembong

Tom Lembong disambut sebagai orang yang dizalimi dan pahlawan. Secara kognitif, publik meyakini Tom Lembong adalah korban kriminalisasi oleh penguasa masa lalu. Emosi yang muncul adalah kemarahan terhadap penguasa sebelumnya (Jokowi), antisipasi, kegembiraan, dan kejutan.

Kemarahan dan Antisipasi Publik

Kemarahan muncul karena isu korupsi Tom Lembong dianggap sebagai isu politik, bukan hukum. Antisipasi muncul karena abolisi diputuskan saat banding akan dilakukan, dengan rencana pemanggilan Jokowi sebagai saksi. Muncul tafsiran bahwa abolisi bertujuan menghindari sosok penting agar tidak masuk sidang.

Tafsiran Abolisi dan Dampaknya pada Pemberantasan Korupsi

Abolisi justru menghambat proses pengungkapan korupsi. Muncul pertanyaan apakah Prabowo punya komitmen kuat memberantas korupsi atau hanya "omon-omon" saja. Publik menunggu langkah Prabowo selanjutnya.

Disgas dan Fear di Kalangan Netizen

Fear (ketakutan) muncul karena abolisi dianggap sebagai upaya agar Jokowi tidak masuk sidang Tom Lembong. Disgas (jijik) muncul sebagai sarkasme terhadap politik.

Perbedaan Sudut Pandang Politik dan Hukum

Ada dua sudut pandang yang tidak bisa disatukan: politik dan hukum. Publik lebih memilih menggunakan kacamata politik untuk memahami amnesti dan abolisi. Opini mempengaruhi politik, namun jika opini mempengaruhi hukum, maka rusaklah tatanan.

Kasus Tom Lembong Bukan Sidang Korupsi Murni

Kasus Tom Lembong dihiasi narasi penzaliman lawan politik oleh penguasa. Kasus ini didatangi oleh tokoh-tokoh seperti Rocky Gerung dan Refly Harun, yang pro pada terdakwa. Ini menunjukkan bahwa kasus ini bukan kasus korupsi murni.

Politik Mengotori Hukum

Politik mengotori sisi hukum dalam kasus ini. Publik mendukung positif Prabowo dalam rekonsiliasi ini, namun ini menjadi kalimat yang buruk karena seolah-olah demi rekonsiliasi nasional, sah-sah saja melakukan intervensi politik terhadap putusan hukum.

Kejaksaan Agung dan KPK

Muncul anggapan bahwa Kejaksaan Agung masih bisa didikte oleh penguasa. Namun, di zaman Prabowo, ada penguatan kejaksaan. Publik melihat Prabowo ingin mengoptimalkan lagi Kejaksaan Agung.

Pola Komunikasi Prabowo

Tim Prabowo memantau media sosial dan bekerja berdasarkan pola amati, analisa, aksi. Prabowo tidak butuh influencer untuk melakukan kontra narasi, cukup dengan membuat kebijakan dan mensosialisasikannya.

Pergeseran Polarisasi Politik

Polarisasi politik yang tajam di era Jokowi kini menurun. Prabowo bisa hadir di kongres PSI dan bertemu Puan Maharani di acara koperasi merah putih. Ini menunjukkan upaya Prabowo untuk menghilangkan atau mereduksi politik orbital.

Rekonsiliasi dan Reduksi Politik Orbital

Dua klaster yang sebelumnya berhadap-hadapan kini bersatu dalam isu kriminalisasi tokoh oleh penguasa sebelumnya. Prabowo mencoba menghilangkan politik orbital yang mengasosiasikannya dengan Jokowi. Ia ingin dikenal sebagai macan Asia, bukan kucing Solo.

Respon Publik terhadap Amnesti Hasto

Respon publik terhadap amnesti Hasto mirip dengan Tom Lembong, namun tanpa fear. Kemarahan lebih mendominasi di kubu Hasto. Isu ini terkait residu Pilpres dan kriminalisasi oleh penguasa selanjutnya.

Tidak Ada Dukungan dari Kalangan Pro-Jokowi

Tidak ada gelagat dari kalangan pro-Jokowi yang membangun kontra naratif. Hanya Partai Sosmed yang menyatakan bahwa Hasto dan Tom Lembong tetap bersalah. Partai Sosmed, yang berasosiasi dengan Prabowo-Gibran, mencoba menundukkan kembali Hasto dan Tom Lembong.

Partai Sosmed dan Jejak Digital

Partai Sosmed, yang dulu haters Prabowo, kini mendukungnya. Publik bisa melihat jejak digital mereka. Kalangan yang berasosiasi dengan Jokowi terkucil dalam isu ini.

Pengalihan Isu

Amnesti dan abolisi menenggelamkan banyak isu lain. Jika ingin menenggelamkan isu ini, perlu ada pengalihan isu. Isu yang potensial adalah ijazah Jokowi.

Rekonsiliasi dan Isu Ijazah Jokowi

Jokowi dan timnya harus ekstra hati-hati karena ada rekonsiliasi antara pendukung Hasto dan Tom Lembong. Isu ijazah Jokowi semakin menguat, bahkan survei yang menyatakan sebaliknya justru membuat pendukung isu ijazah palsu semakin militan.

Komedian dan Penerimaan Isu

Masuknya komedian dalam isu ini menunjukkan bahwa isu tersebut sudah mulai diterima publik. Politik dijadikan bahan tertawaan, menunjukkan bahwa publik menertawakan diri sendiri dan menerima bahwa Jokowi salah.

Isu Pemakzulan Gibran Tidak Naik

Isu pemakzulan Gibran tidak naik. Program "Lapor Mas Wapres" juga tidak laku, menunjukkan bahwa program tersebut tidak optimal dan tidak didukung.

Pola Hubungan Presiden dan Wapres

Pola hubungan antara Presiden dan Wapres bisa dilihat dari isu pemakzulan Gibran dan ijazah palsu Jokowi. Prabowo tidak memberikan statement lagi terkait isu ijazah Jokowi.

Merangkul Kanan dan Kiri

Prabowo merangkul kanan dan kiri, namun bukan Prabowo dan anti-Prabowo, melainkan Jokowi dan anti-Jokowi. Baru kali ini ada pemerintahan yang oposisinya bukan kepada presidennya, melainkan presiden sebelumnya.

Manfaat Rekonsiliasi

Rekonsiliasi mengurangi tekanan publik terhadap pemerintah Prabowo dan membangun pencitraan Prabowo sebagai sosok pemersatu. Kekuatan politik semakin merapat di Prabowo, diharapkan pertumbuhan dan pemerataan bisa berjalan dengan baik.

PR Besar: Kasus Korupsi

PR besar selanjutnya adalah kasus korupsi. Amnesti dan abolisi menjadi preseden buruk bagi pemberantasan korupsi, meskipun ada faedah bagi perpolitikan nasional.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Kalau begitu di udara terjadi peleburan, terjadi penggabungan kekuatan yang kontra Jokowi dong. >> Betul. >> Wih. >> Ini makanya yang menarik tuh di situ. >> Oh, jadi menarik. >> Heeh. Dan yang menariknya kenapa? Siapa yang buat, Bang? >> Siapa >> yang memutuskan pemberian abolisi dan amnesti itu? Siapa, Bang? >> Prabowo. >> Nah, itu buat saya itu canggih, Bang. Ini ada yang kita sebut sebagai social network analisis. kluster ini, kluster yang besar ini, ini seperti ee biasa kami katakan ini pertama dia tidak teratur, terus kedua dia itu bisa dibilang lengkap secara unsur percakapannya, >> tidak teratur arti apa? >> Natural. >> Natural. Natural dalam pengertian

0:47 >> natur tidak ada yang mengorkestrasi, >> tidak ada serdadu bayaran. >> Tidak ada serdadu bayaran karena ini reaktif ya. Betul-betul reaktif. Dan reaktifnya adalah yang menarik adalah ini. Ini rata-rata hijau, Bang. >> Hm. Apa itu hijau? Artinya positif. Positifnya ke siapa? Positifnya kepada yang memberikan amnesti dan abolisi itu. >> Jadi positifnya kepada Presiden Prabowo. Presiden Prabowo. Isu abolisi Tom Lembong ini disertai dengan >> kemarahan. >> Kemarahan terhadap penguasa masalah terhadap Jokowi lah. >> Terhadap Jokowi sudah gitu. >> Tinggi banget loh itu. >> Itu tinggi banget >> makanya dan marahnya bukan kepada Pak Prabowo. >> Marahnya bukan ke Prabowo. >> Oh iya makanya itu kan menarik. Iya. Marahnya ke Pak Jokowi dan penegak hukum di eranya Pak Pak Jokowi. Baru kali ini

1:32 ada pemerintahan oposisinya itu bukan kepada si presidennya tapi p presiden sebelumnya. >> Iya. I ya. I >> itu, Bang. Dan ini data ini menunjukkan itu dari data media sosial ini terlihat yang disebut dengan Pak Prabowo mencoba menghilangkan atau mereduksi politik orbital itu, Bang. bahwa dulu Pak Prabowo itu itu diangkat oleh Pak Jokowi. Pak Jokowi dan timnya harus ekstra hati-hati karena sekarang ada rekonsiliasi antara pendukungnya Hasto, PDIP dalam hal ini dengan >> pendukungnya Anis Tom Lembong dan sebagainya. >> Iya. Iya. ini sudah mulai satu suara nih. >> He. >> Tinggal dicari lagi isu-isu sampai

2:19 akhirnya Pak Jokowi jadi musuh bersamanya dua kelompok ini. >> H >> dan arah ke situ sudah >> Oh, semakin lancar >> semakin semakin kuat, Bang. Bang, terdakwa korupsi hukuman 4 seteng tahun keluar dari bui disambut gegap gempita. Ini masyarakat kita sakit ya? >> Enggak bisa jadi. Bisa. Iya. >> Kalau di udara bisa enggak kita katakan ini orang kita nih, netizen kita nih sudah sakit semuanya. >> Bisa dibilang bisa iya bisa enggak? >> Bisa iya bisa enggak. Kalau politisi pasti ngomongnya gini. >> Bisa enggak. Nah, bisa jadi serba relatif kayak gini nih.

3:04 >> Betul. >> Sebetulnya kalau menurut saya kalau kita sudah bicara korupsi jelas aja sebetulnya kita harus menyambut gembira atau justru merasa tidak nyaman dengan keputusan yang sudah dikeluarkan oleh Prabowo. >> Iya. Nah, yang menarik itu datanya itu mengatakan bisa iya bisa enggak. >> Bisa iya >> bisa enggak. Heeh. Gitu, Bang. >> Menclam-mencle berarti gitu. >> Ternyata masyarakat kita tuh mencla-mencle. >> Masyarakat mencela-mencle presidennya omon-omon. Nah, kurang lebih seperti itu. Tapi nanti ada yang menarik saya mau tunjukkan. >> Oke. >> Nah, >> asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sobat Madilo sejak zaman Presiden Soekarno sampai Presiden Jokowi sudah berulang kali ada yang namanya amnesti, juga abolisi. Tapi

3:50 sebutannya indah di telinga, gagah perkasa. Kesannya misalnya amnesti bagi pelaku makar, amnesti bagi pelaku pemberontakan. amnesti bagi penjahat politik. Tapi hari ini bunyinya, pilihan katanya, rasanya sangat tidak menyenangkan hati. Amnesti, abolisi bagi terdakwa korupsi. Izinkan saya untuk per detik ini mengatakan kita sakit. Mari kita tinjau seberapa jauh kita sakit di udara hasil pantauan drone emprit bersama tamu saya yaitu Bang Yan, tepatnya Yan Kurniawan. senior analis drone emprit. Bang, ini untuk kedua kali nih. >> Siap. >> Jadi kalau ada istilah pasien ini pasien

4:35 berulang. >> I >> kalau ada napi ini napi kambuhan gitu. Ini Narsum yang sudah dua kali menjadi teman diskusi saya di Madilo >> si >> lanjut Bang >> I. >> Kenapa kemudian >> bank Yan ini jadi serba relatif mengatakan bisa ya bisa tidak? Jadi gini, ee korupsi itu pasti kita semua sepakat bahwa korupsi adalah musuhnya kita semua, musuhnya demokrasi. >> Yang menarik adalah di kasusnya Tom Lembong dan kasusnya Hasto, korupsi itu dilihat sebagai rekayasa politik. >> Itu yang saya enggak suka. Presiden Prabowo yang mengatakan 50 tahun penjara bagi koruptor. >> Iya. Iya.

5:21 >> Kirim keulau terpencil. >> Dima kalau sudah mengembalikan uang negara. Coba dari tiga hal ini mana yang kemudian dibuktikan oleh Presiden Prabowo? Tidak ada. >> Iya. Iya. I >> pantas apa yang ingin dikatakan. >> Iya. Jadi gini, perjalanan isu dari Hasto, isu e Hasto terus perjalanan isu dari Tom Lembong itu diwarnai, Bang dengan percakapan-percakapan perlawanan terhadap penguasa zaman dulu. Itu yang pertama. Terus yang kedua adalah yang menarik ketika Pak Prabowo memutuskan ya untuk ee ada abolisi dan amnesti terhadap kedua tokoh tersebut, percakapan publik itu relatif positif semua kepada Pak Prabowo.

6:07 >> Jadi saya yang sinis terhadap keputusan Presiden Prabowo ini bisa dikatakan minoritas. >> Minoritas. >> Mayoritasnya bagaimana? >> Kita lihat di slide ada. Nah, ini, Bang, ini ada yang kita sebut sebagai social network analisis ya. Data ini menunjukkan ada dua kluster, Bang. Malah bisa dibilang cuma satu kluster karena yang satu ini yang paling atas ini belum membentuk kluster. >> Hm. >> Nah, kluster ini kluster yang besar ini seperti ee biasa kami katakan ini pertama dia tidak teratur. >> Terus kedua dia itu bisa dibilang lengkap secara unsur percakapannya. tidak teratur. Arti apa? >> Natural. >> Natural. Natural dalam pengertian >> natur tidak ada yang mengorkestrasi. >> Jadi ini betul-betul perbincangan di

6:52 ruang maya yang sifatnya alami. >> Alami bisa dibilang begitu. >> Tidak ada serdadu bayaran. >> Tidak ada serdadu bayaran karena ini reaktif ya. Betul-betul reaktif. Dan reaktifnya adalah yang menarik adalah ini. Ini rata-rata hijau, Bang. >> Hm. >> Apa itu hijau? Artinya positif. Positifnya ke siapa? positifnya kepada yang memberikan amnesti dan abolisi itu. >> Jadi positifnya kepada Presiden Prabowo, >> Presiden Prabowo gitu. Dan yang menarik di sini adalah, Bang, di sini ada Pahfud. >> Iya. >> Ya, kita lihat di sini ini tokoh ya, pakar hukum. Di sini ada Not Slimboy, komedian. >> H >> ya, di semi istilahnya disebutnya semi. Terus ini ada media, ada detik.com, ada oposisi cerdas. >> Memang apa yang kemudian dinilai positif

7:38 terhadap Presiden Prabowo? apanya? >> Karena posisi Hasto dan posisi Tom Lembong itu adalah dua kelompok yang berpotensi akan apa namanya membuat instabilitas negara itu kurang bagus. Begitu dengan >> Tongbong dan Hastop berpotensi menciptakan destabilisasi >> dalam hal >> Iya dalam hal isu-isu politik bank gitu. Oke. Lalu dengan amnesi dan abolisi maka >> rekonsiliasi. >> Sebentar ini berulang kali dikatakan rekonsiliasi harmoni politik persatuan NKRI. >> Iya. Iya. Iya. >> Sebetulnya hari ini yang bertikai antara siapa dan >> Abang harus ingat ya. Pak Prabowo itu basicnya adalah TNI. >> Tentara.

8:25 >> Tentara. Tentara itu mengedebatkan betul dengan yang namanya stabilitas. >> H. >> Iya. Terus yang kedua, Abang ingat trilogi pembangunan? >> Iya. Nomor satu memang stabilisasi. Ee pertama itu pertumbuhan ya, kedua itu pemerataan, ketiga itu stabilitas. >> Bisa dibilang Pak Prabowo sekarang melakukan trilogi pembangunan tapi di era libertarian. >> Hm. >> Dulu zamannya Pak Harto di wilayah otoritarian. Makanya dia polanya represif. >> Oke. >> Kalau sekarang enggak. >> Saya ikutin nalarnya nih. >> Nah, >> berarti sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Hukum >> Iya. >> And Pratman. >> Iya. >> Harmoni >> iya. >> Persatuan. Iya. >> Nekonsiliasi. >> Dengan kata lain, istana memang melihat hari ini negara kita terfragmentasi gitu.

9:10 >> Terfragmentasi. >> Yang bikin bisa kacau balau, yang bikin kacau negara ini menjadi terfragmentasi siapa? >> Kalau misalkan adanya kelompok-kelompok yang menciptakan polarisasi, Bang. >> Siapa itu >> yang punya potensi? Adalah kelompoknya Tom Lembong. Karena orang yang bersimpati terhadap Tom Lembong itu banyak, Bang. Dan mereka yang bersimpati terhadap Tom adalah mereka yang berpotensi menciptakan kondisi tidak stabil. >> Tidak stabil. >> Apa yang mereka lakukan? Sehingga justru dikhawatirkan bahkan seperti sudah disimpulkan mereka ini sumber destabilisasi gitu. >> Iya. Jelas-jelas secara hukum di semua media mengatakan ada enggak yang gini niat jahat ada enggak, Bang? >> Kalau kata Pak Mahfud MD

9:56 >> mensrea tidak ada. >> Tapi menurut saya kalau mainrea ada. Tapi okelah saya ini kan tidak sedang bicara saya nih. >> Tapi kata Profesor Masf MD tidak ada ya. >> Iya. Dominasi pemberitaan dan percakapan tidak ada niat jahat di Tom Lembong. >> Artinya posisi Pak Tom Lembong itu posisi yang dizalimi >> itu clear di situ, Bang. >> Dikriminalisasi. >> Dikriminalisasi begitu. >> Tom Lembong. Dan ini wilayahnya bukan wilayah orang melihat bukan lagi kasus korupsi >> bukan kasus hukum. Bukan kasus hukum, tapi kasus penzaliman terhadap lawan politik. >> Siapa yang menzalimi Tom Lembong kalau begitu? >> Penguasa sebelumnya. >> Siapa penguasa sebelumnya? Ada SBY, ada Megawati, >> Pak Jokowi.

10:41 >> Jokowi itu >> kenapa Jokowi menzalimi Tom Lembong? >> Nah, itu dia, Bang. Itu harus diruntut lagi di data-data sebelumnya. Begitu. >> Oke. Itu Lembong tuh. >> Heeh. He. >> Kalau peta terhadap HTO, bagaimana? Kalau terhadap Asto itu jelas sekali itu adalah peta ketika residu Pilpres kemarin ketika PDIP dan Pak Jokowi itu cerai kurang lebih seperti itu. >> Dan publik melihatnya ini, ini adalah residu konflik antara banteng sama celeng. Kurang lebih seperti itu dulu istilahnya kayak gitu kan. bahasa-bahasa di metsos itu kan disederhanakan biar kelihatan gitu >> kiasan-kiasan seperti itu. >> Bantengnya adalah PDIP, celengnya adalah

11:27 >> ya ini kelompok-kelompok yang pada akhirnya fokus pada pemerintahan yang sekarang yang menjadikan pemerintahan sekarang gitu. >> Dengan kata lain, >> netizen pun melihat Hastu sebagai korban kriminalisasi. >> Bisa dibilang seperti itu, Bang. Terutama oleh kelompok-kelompok PDIP ya. baik itu di darat maupun di udara begitu. Nah, >> ringkas kata ringkas cerita Tom dan Hastto adalah korban kriminalisasi. >> Iya, korban kriminalisasi gitu. Nah, yang menarik lagi gini, Abang lihat ini kan saya ada dua ee kata kunci saya ambil >> yaitu Tom Lembong >> dan Hasto. >> Oke >> ya. Dominasi itu warna kuning orange. >> Artinya secara percakapan banyak diinisiasi oleh kelompoknya Pom Lembong. >> H

12:14 >> Hasto enggak gitu. Sebelum kita lanjut ya, saya jadi penasaran >> Bang Yan bisa mengatakan ini kelompok Tom Lembong memang memang mereka punya ciri apa, karakteristik apa sehingga ini loh kelompoknya Tom Lembong. >> Iya. Jadi gini, Bang. Di ini kan dari kata kunci Bang. Kata kunci Tom Lembong sama kata kuncinya Hasto. Itu kita bedain tuh warna biru >> sama warna kuning. Ya, Bang. Kalau Abang lihat tuh diteliti tuh >> yang biru itu Hasto. >> Hasto. >> Sementara yang kuning Tom Lembong. >> Tom Lembong. Oke. >> Kalau zaman dulu ada Pak sama warnanya berbeda. >> Iya. I. >> Nah, yang menarik dulu zaman kontestasi itu ada dua klaster. >> H. >> Iya. Itu jelas itu orang bilang dulu cebong, kampret dan sebagainya. >> Yang sekarang enggak. >> Sekarang enggak ada

13:02 >> bersatu. Mereka ini >> mereka bersatu. Terus kedua adalah mereka punya narasi yang sama. Apa narasinya? Ini bukan isu korupsi, tapi ini isu kriminalisasi. Kriminalis terhadap siapa? Terhadap lawan politiknya. >> Kalau begitu di udara terjadi peleburan, terjadi penggabungan kekuatan yang kontra Jokowi dong. >> Betul. >> Wih, >> ini makanya yang menarik tuh di situ. >> Oh, jadi menarik. >> Heeh. Dan yang menariknya kenapa? Siapa yang buat, Bang? >> Siapa >> yang memutuskan pemberian abolisi dan amnesti itu? Siapa, Bang? Prabow. >> Nah, itu itu dia, Bang, yang >> jadi ini enggak enggak terjangkau oleh kepala saya ini. Ini enggak terjangkau oleh kepala saya ini.

13:47 >> Jadi, lewat keputusan >> amnesti dan abolisi ini, >> maka Presiden Prabowo berhasil menghimpun dua kelompok yang berseberangan terhadap Jokowi. >> Iya, betul. >> Dari sisi politik, saya bisa melihat faedah dari amnes dalam polisi. >> Iya. Iya. Iya. Itu dia, Bang. Dan itu buat saya itu canggih, Bang. >> Secara opini itu canggih. >> Iya. Iya. >> Ee ini musuh bebuyutan, Bang. >> Dulunya musuh >> di dua periode gitu. >> Kalau jadi gini, kalau teman-teman yang biasa metsos tuh tahu antara maudi sama khusul khatimah sama-sama perempuan itu biasanya ribut itu >> di isu ini enggak rangkulan. Mereka sama-sama bilang ini yang namanya kriminalisasi.

14:33 >> Oh, tapi negatifnya begini. Berarti sesungguhnya amnesti dan abolisi itu tidak sungguh-sungguh diberikan dalam pengertian untuk kepentingan penegakan hukum. >> Iya. >> Untuk terealisasinya keadilan. >> Tapi justru untuk kepentingan politik. >> Iya. >> Yaitu menyatukan dua kubu >> guna kemudian >> memberikan tekanan >> i >> terhadap >> Jokowi CS. >> Iya. Iya. Karena bisa dibilang gini, Bang. Kalau Abang ingat ya, dulu zaman Orde Baru cara kita mengunci lawan adalah dengan label PKI. >> Iya. >> Kalau zaman sekarang dilabelnya dengan koruptor. >> Hm. >> Itu, Bang. >> Sempat juga ada teroris. >> Nah, sempat juga ada teroris, ada

15:20 radikal teroris gitu. Nah, salah satunya itu koruptor >> sekarang sekarang. Nah, itu Bang. Makanya ini sebetulnya ini juga jadi pembelajaran kita semua. ee ada statement-nya Pak Mahfud ee ceritanya Pak Mahfud itu menarik itu. Jadi ee saya kasih unjuk ya, Bang. Izin biar >> saya enggak salah juga ngomongnya. Nah, ini >> ya. Presiden Prabowo mengambil langkah strategis, Pak Mahfud bilang gitu, dalam penegakan keadilan dan memberi amnesti kepada Astor dan abolusi kepada Tom Lembong. Ke depan tidak boleh ada lagi yang menggunakan politik itu untuk merekayasa hukum ya kan. Ini yang ngomong pakar hukum. Ya. >> Ya. Tapi menurut saya ada paradoks di sini. >> Ada paradoksnya >> begini. >> Suka tidak suka

16:07 >> status Tom Lembong dan status Hasto itu sudah diputus >> status hukumnya yaitu mereka >> dihukum bersalah dihukum 4eng tahun 3 seteng tahun. >> Bersalah. Iya iya iya. >> Kalau kita mau konsekuen bahwa tidak boleh lagi menggunakan politik untuk merkayasa hukum >> maka sepatutnya tidak boleh ada keputusan yang mengintersep putusan hakim. Iya, iya, iya, iya. Betul. >> Keputusan Presiden kan keputusan politik. >> Berarti sesungguhnya menurut saya ini keputusan presiden itu sungguh-sungguh merupakan interception. >> Iya. >> Menginterupsi >> iya. >> Putusan hukum. >> Iya. Iya. I. >> Sehingga sama saja. >> Iya. Iya. Hari ini pun amnesti dan abolisi sesungguhnya merupakan manifestasi >> bahwa penguasa saat ini juga menggunakan

16:53 politik untuk mungkin bukan rekayasa hukum tapi akhirnya mengubah status hukum seseorang. >> Iya iya iya iya. >> Nah, apa istimewanya? >> Yang istimewa >> sama saja berarti >> kalau dari segi hukum memang ini yang disebut dengan ee hukum itu mengalami makna peoratif. makna Bang penurunan >> h >> yang dulu itu atau orang mencoba sekarang hukum itu mencari keadilan hukum sekarang menjadi alat penguasa gitu untuk menentukan Anda benar atau salah itu penguasa. >> Tapi dari sisi politik ini ada sisi bagusnya. Kenapa bagusnya? Ini yang disebut dengan rekonsiliasi, Bang. Gitu. Karena balik lagi nih ini nih ee pemerintahan Pak Prabowo ini kan banyak

17:38 hal-hal yang baru, Bang. H >> yang bukan urusan lagi debat, tapi urusannya urusan aksi, makan bergizi gratis, sekolah rakyat danantara gitu. Kalau kita capai debat, Bang, itu enggak selesai-selesai itu yang ada gagal. Ini butuh aksi yang cepat ya dan ini butuh betul-betul kesamaan visi misi begitu. >> Nah, artinya apa? Pak Prabowo tuh butuh dukungan ya, Abang. Yang paling gampang ini lagi. Pak Prabowo itu, Bang, mau jadi calon presiden, mau jadi presiden itu sejak kapan, Bang? >> W sejak lama. >> Sudah lama. >> Belasan tahun. >> Sudah belasan tahun. Atau kita balik, Pak Prabowo menjadi oposisi sejak kapan, Bang? Dari dulu juga sudah jadi oposisi ketika

18:23 kalah. Artinya apa? Beliau tuh sudah paham itu i karakter pola pikir oposisi itu seperti apa. >> Dan bayangin, Bang, beliau itu punya cita-cita, Bang. konsepnya dia Indonesia tuh mau kayak apa. >> H >> gitu. Dan ini sekarang momen beliau untuk ee mengimplementasikan itu. >> Memang di kepalanya Presiden Prabowo yang disebut sebagai oposisi itu siapa? >> Dulu waktu kalah dengan Jokowi dua kali ya >> sama SBY juga dulu kalah gitu kan. >> Ketika maju kan pasti timnya Prabowo itu sudah menyiapkan konsep. >> Hm. kan maju menjadi presiden kan enggak tiba-tiba maju, Bang. Enggak cuma ada tim, tapi ada konsep yang mereka bawa begitu. Nah, konsepnya ini bisa dibilang

19:10 baru terimplementasi sekarang. Itu yang pertama. Terus yang kedua, posisi kalah itu kan menjadikan ee mereka oposisi dan mereka pengalaman sekali jadi oposisi bank, gitu. Nah, ketika mereka jadi yang berkuasa sekarang, mereka sudah tahu kok karakter oposisi itu mau ke mana gitu. Makanya sepertinya pola politik akomodatif yang dilakukan oleh Pak Prabowo itu adalah pola yang tepat agar pertumbuhan dan pemerataan ini bisa berjalan. >> Sekali lagi, Bangan, supaya saya tidak salah paham, >> politik akomodatif berarti merangkul, ya. >> Siapa yang dirangkul? yang dilangkul adalah orang-orang atau bisa dibilang lawan politiknya >> yaitu siapa?

19:56 >> Kalau sekarang ukuran yang paling gampang adalah yang kemarin kalapres >> kemarin kalapres ada kelompoknya Anis. >> Ada kelompoknya Anis terus kelompoknya Ganjar PDIP dan ini terepresentasi sekarang itu di Tom Lembong dan di Hasto. >> Iya. >> Hasto. Manfaatnya apa? Setelah dua kelompok itu menyatu dan tampaknya terpantik oleh amnesti abolisi ini, manfaatnya apa bagi Presiden Prabowo? >> Kalau basis percakapan pastinya sentimen positif terhadap Pak Prabowo itu meningkat. Kalau meningkat berarti kan gini, Bang. Di politik itu ada dua hal. >> H >> tekanan publik, dorongan citra. H

20:42 >> ya dengan isu ini tekanan publik ya ke Pak Prabowo itu mengendur. Padahal ada juga isu-isu yang tidak populis yang sekarang lagi dijalankan. Terus kedua dorongan citra pada akhirnya nanti Pak Prabowo ingin dilihat sebagai apa timnya ingin Pak Prabowo itu nanti akan dikenang sebagai apa dan basic dari ee orang yang punya latar belakang TNI adalah persatuan dan kesatuan NKRI harga mati. Kurang lebih seperti itu. >> Dengan kata lain, amnesti abolisi dari Presiden Prabowo ini >> diharapkan nantinya akan membangun citra Prabowo adalah sosok pemersatu gitu. >> Pemersatu gitu. Dan pengalaman kemarin, Bang, polarisasi yang begitu besar gitu. Tidak hanya di wilayah Metros sampai di wilayah realita kita. Saya sama Abang bisa unfriend loh. >> H

21:29 >> zaman abang ingat enggak diitu? Iya kan? >> Itu kan di wilayah aksi. Bang, >> bisa enggak kalimat saya teruskan begini? Hm. >> Presiden Prabowo lewat amnesti dan abolisi berhasil mempersatukan dua kelompok >> yang mana dua kelompok itu sama-sama berseberangan dengan Jokowi. >> Iya, betul. >> Berarti pada saat yang sama ada upaya untuk mengucilkan Jokowi. >> Bisa jadi bisa jadi. Bisa jadi. Makanya kan politik kan tergantung bagaimana kita melihatnya gitu. Yang menarik gini, kalau Abang ingat dulu tanda kutip yang mengorbitkan Pak Prabowo siapa? Jadi kan ada politik orbital itu, Bang. He. >> Pak Jokowi dulu yang menempelkan tanda bintang jadi bintang empat kepada Pak

22:14 Prabowo. >> Hm. >> Abang ingat waktu itu >> Iya. >> Iya. Kan >> dipulihkan martabat sebagai tentara. Iya. Kurang lebih seperti itu. Dan saya yakin Pak Perowo enggak akan lupa. >> Hm. >> Begitu. Tipikal dari tentara kan gitu. Loyalis sisi positif dari tentara gitu. >> Jadi bagi publik, bagi siapapun yang masih punya >> ilusi >> bahwa terjadi pecah kongsi antara Prabowo dengan Jokowi, >> silakan hisap jempol saja. Gigit. >> Kurang lebih seperti itu. Jadi ibarat kata Pak Probow sekarang itu lagi coba mengakomodasi semua kelompok yang lagi berseberangan, yang berkonflik begitu. Dan pada akhirnya nanti kita akan lihat,

22:59 Bang, bagaimana nanti ee hasil dari abolisi dan amnesti ini. Saya yakin dalam seminggu terakhir ini sentimen positif naik ya. Tapi selanjutnya nanti ada isu-isu lain >> gitu. Apa isu lainnya? Salah satu yang seksi adalah terkait >> ketunggul kar yang ingin diganti. >> Mau diganti. >> Tahu dari mana? Dari sini juga, Bang. Coba, >> coboba. Ah, sebelum sebelum ke sana. Sebentar. Saya mau tanya dulu nih. >> He. >> Waktu Tom Lembang keluar dari Cipinang, >> Hm. >> Itu kan senyumnya lebar. >> Iya. >> Masa yang menyambut Tom Lembong juga ee bertepuk riuh. Saya tidak tahu Hasto. Bahkan saya terus terang Hastel di mana sekarang saya tidak tahu juga. >> Iya. Iya. Iya. >> Yang ingin saya katakan kalau di udara publik menyambut Tom Lembong seperti apa sih?

23:46 >> Tom Lembong sebagai orang yang dizalimi dan dia pahlawan. Lalu apa perasaan masyarakat? >> Perasaan masyarakat e ketika abolisi diputuskan kepada Tom Lembong itu respon positif. Kurang lebih masyarakat >> bergembira. >> Ada gambarannya. >> Jadi gini Bang ini kita lihat di emosi >> ini kita bicara perasaan nih ya bicara sentimen publik nih ya. Nah, ini Bang ini >> Tom Lembong begini Bang Yan ya >> secara kognitif secara pemikiran >> publik meyakini bahwa Tom Lembong adalah korban kriminalisasi >> oleh penguasa masa lalu. He h >> itu isi pikirannya. Kalau isi hatinya ini. >> Iya kurang lebih gini. Ini emosinya. >> Jadi kita lihat di sini ini ada tiga yang paling besar. Empatlah ya.

24:31 >> Pertama itu kemarahan, kedua antisipasi, ketiga joy, keempat itu surprise gitu. Silakan kupas, Pak. >> Nah, pertama itu kemarahan. Kemarahan itu dengan adanya abolusi dan amnesi ini menunjukkan bahwa isu korupsi Tom Lembong itu bukan isu hukum, >> bukan isu Tom Lembong korupsi, tapi ini isu politik di mana penguasa zaman dulu itu melakukan penzaliman terhadap Tom Lembong. Kenapa marah? Ada kalimat bajingan. ke siapa? >> Ke penguasa sebelumnya dan penegak hukum. >> Jadi masyarakat ini ee masyarakat di ee >> di medsos >> ya netizen ini

25:18 >> isu abolisi Tom Lembong ini disertai dengan >> kemarahan >> kemarahan terhadap penguasa masa lalu terhadap Jokowi >> terhadap Jokowi sudah gitu >> tinggi banget loh itu. >> Itu tinggi banget9 >> makanya dan marahnya bukan kepada Pak Prabowo. >> Marahnya bukan ke Prabowo. >> Oh iya makanya itu kan menarik. Iya. Marahnya ke Pak Jokowi dan penegak hukum di eranya Pak Jokowi. >> Kalau misalnya Prabowo memang konsisten ingin dianggap sebagai sosok pemersatu, >> bukankah kemudian Prabowo punya keharusan untuk meredakan amarah manusia sebanyak itu? >> Nah, itu kan itu kan sisi politik, Bang. Dalam artian kita lihat karena di dalam politik itu pasti ada ee apa namanya? Ditimbang-timbang nih. H >> gitu. Pasti ada sisi lain dari Pak

26:05 Prabowo kenapa ee ee beliau memutuskan yang namanya melakukan usulan abolisi dan amnesi itu >> atau jangan-jangan malah amarah publik terhadap Jokowi itu sesuatu yang menguntungkan bagi Prabowo. >> Bisa jadi karena gini ada pola yang sudah melekat di Pak Prabowo selama ini. >> Beliau itu bukan macan Asia. >> Hmm. kucing solo kata kata kata netizen itu. Makanya dengan ini kan sekaligus menunjukkan bahwa beliau tuh bukan kucing Solo. >> Begitu. Jadi pola-pola politik orbital yang selama ini dihembuskan terbantahkan oleh ini >> itu angger amarah ya. >> Iya ya. Itu amarah. >> Yang kedua, antisipasi. >> Antisipasi itu munculnya itu di tanggal 31 malam pada saat ada berita Pak Prabowo mengusulkan abolusi dan amnesti

26:50 >> ke DPR. >> Iya. itu langsung tuh publik itu yang saya bilang reaktif tapi reaktifnya antisipasi benar kagak. >> Terus kedua ada apa nih di balik ini? Kurang lebih seperti dan itu tinggi Bang itu terutama itu di wilayahnya e Tom Lembong. >> Terutama Tom Lembong. >> He terutama Tom Lembong. >> Oh ini ini ini sentimen atau emosi >> ini emosi bukan sentimen. Nah ini Tom Lembong. >> Ini terkait Tom Lembong. >> Ini terkait Tom Lembong gitu ya. Kenapa begitu? Karena gini, Bang. Yang menarik dari apa namanya? Perjalanan sidangnya Pak Tom Lembong ini kan mau ada banding >> dan ketika banding nanti rencananya itu mau dipanggil salah satu saksinya adalah Pak Jokowi. >> Hm. >> Itu masalahnya gitu. Jadi publik melihat

27:36 gini, ini beneran abolisi bertujuan untuk rekonsiliasi atau semata-mata untuk ya menghindari sosok penting agar tidak masuk di >> sidang. >> Lalu ke mana gerangan semestinya saya? >> Eh, saya enggak tahu. Jadi, percakapan publik kurang lebih seperti itu. Jadi, ada antisipasinya. >> Berarti tafsirannya satu ini memang untuk kep >> rekonsiliasi. Yang yang kedua adalah ini kan ketika abolisi kan berarti sudah selesai, Bang. >> Iya. Artinya kan sidang nanti yang katanya banding itu kan mau panggil Pak Jokowi untuk hadir sebagai saksi >> dan itu yang dicut oleh >> Prabo. Heeh. Oleh oleh Prabowo lewat abolisi. Ya, tafsiran orang kan macam-macam. Tapi itulah yang bikin

28:23 tingginya antisipasi. Kalau kita mengacu pada tafsiran yang kedua, >> maka saya punya dong alasan untuk kemudian menganggap bahwa abolisi bagi Tom Lembong ini justru menjadi batu sandungan bahkan jalan buntu bagi pengungkapan kasus korupsi terkait Tom Lembong. >> Kalau Tom Lembong mengatakan saya menerima perintah segala macam, itu juga diucapkan oleh Pak >> berarti upaya menerobos ke sana kan dihentikan oleh abolisi. >> Betul. Betul. Betul. Makanya orang yang berpikir bahwa abolisi dan amnesti pada isu korupsi itu sebetulnya adalah merugikan. >> Ya, dari sisi hukum. Salah satu alasannya itu, Bang.

29:10 >> Saya ini bukan orang politik, Bang. Ya. >> Bidang psikologi forensik saya ini lebih mendekatkan saya ke dunia hukum. >> Iya. Iya. Iya, iya. I. >> Saya kok srek tuh dengan tafsiran yang kedua itu, >> Abang. Serek dengan tafsiran yang kedua. >> Iya. abisi justru menghambat proses pengungkapan korupsi. >> Iya iya iya iya iya. >> Jadi izinkan saya untuk bertanya kembali. >> Iya >> presiden kita sekarang ini memang punya komitmen kuat untuk memberantas korupsi atau memang presiden omon-omon saja? >> Jadi ee kalau kita compare ya pada isu misalkan isunya Reza Khalid. >> Hm. >> Reza Khalid itu bisa dibilang mafia yang licin. Betul. >> Luar biasa. >> Luar biasa. Enggak suka enggak suka adalah di zamannya Pak Prabowo lah dia jadi tersangka. Itu clear itu ya. Ya,

29:57 pakai analisa komparasi aja itu sudah kelihatan. Betul. Tinggal nanti sebetulnya dari kubunya Pak Prabowo ketika bisa membedakan ini loh isu korupsi, ini loh isu kriminalisasi lawan politik, dia bisa membedakan kasih unjuk ke masyarakat, apresiasi masyarakat terhadap Pak Prabowo itu clear. Jelas. terjadi. Tapi kalau isu Riza Khalid juga awang-awang, omon-omon, bisa jadi publik akan menilai bahwa memang hukum itu tanda kutip sudah direkayasa, Bang. Demi kepentingan politik aja. >> Lagi-lagi >> pemberantasan korupsi itu dibatasi hanya pada level tertentu saja. >> Iya. Begitu. >> Tidak sungguh-sungguh radikal, tidak

30:42 sungguh-sungguh sampai ke titik yang paling akarnya. >> Iya, betul betul. Dan ee publik itu menunggu. Betul. segala langkah yang dilakukan oleh Pak Prabowo karena ini menarik gitu. >> I saya penasaran gini, Bang Yan, >> walaupun kecil ada disgas. Disgas itu jijikan ya, >> enek gitu ya. K. >> Kemudian juga ada fear. >> Bisa tidak Bang Yan memberikan pemaknaan maksud fear itu apa sih? Takut. >> Jadi >> dan maksud disgas itu apa sih? >> Jadi maksud fear di sini adalah yang tadi saya sebutkan jangan-jangan abolisi dan amnesti terutama abolisi ya kan. Ini kata kuncinya Tom Lembong. >> Ini adalah bagian dari upaya agar Pak Jokowi itu tidak masuk di sidangnya Pak Tom Lembong. >> Itu yang ketakutannya di situ. Heeh.

31:28 Ketakutannya di situ. >> Kalau disas. >> Heeh. Terus sori ada lagi yang namanya Oh, disgas yang Abang Teb tanyakan tadi terkait diskus ini. >> Sekotor itukah politik? >> Oh, >> gitu, Bang. Gitu. Tapi saya lihat itu sebetulnya itu bahasa-bahasa ini aja, sarkas aja >> gitu. Karena saya cek profiling-nya itu ya dia memang biasa juga ngomong politik itu bukan dari publik-publik murni gitu. Maksudnya publik murni gini, publik kesarian yang jarang bicara terkait dengan politik. Tapi kalau publik yang tiap hari >> mengkonsumsi berita politik ya dia seharusnya mah biasa aja gitu. Sebelum Bang Yan hadir di ruang Madilok ini, saya sudah kedatangan dua tamu. >> Iya.

32:14 >> Yang satu latar belakangnya adalah pekerja politik praktis, anggota parpol. >> Iya. Siap. >> Wah, dia 100% itu menganggap bahwa amnesti dan apolisi Prabowo itu adalah keputusan yang tepat. >> Ya, bisa dipahami karena dia juga dari anggota parpol, pendukung pemerintahan Prabowo. >> Penduk. Iya. Iya. >> Di lain kesempatan saya diskusi dengan mantan petinggi Kementerian Hukum. >> Iya. >> Ses Dijen. >> Iya. dari kacamata hukum, dari kacamata ilmu pemasyarakatan yang dia ee punya, dia sebut bahwa amnesti dan abolis ini adalah keputusan yang tidak objektif, anomali, dan tidak konsisten. Yang ingin saya katakan ada dua sudut pandang yang memang tidak bisa disatukan sama sekali antara politik dengan hukum. Nah, kalau

33:00 kemudian saya menyimak penjelasan dari Bang Yan, maka memang tampaknya saat ini publik lebih memilih untuk menggunakan kacamata politik untuk memahami amnesti dan abolisi, >> bukan kacamata hukum. >> Iya, >> betul, Bang. Karena gini, bicara politik itu erat kali dengan logika opini, Bang. >> H >> bukan logika hukum. Itu yang harus dipahami. Karena di mana ada opini, di situ politik hidup, Bang. itu clear tuh sebetulnya di situ >> sebetulnya saya bisa terima kalau opini mempengaruhi politik tapi kalau opini mempengaruhi hukum >> menurut saya rusak >> makanya itu dia, Bang ke depannya adalah perlu perbaikan bahwa harus dipisahkan betul >> ketika ee pembicaraan politik sudah

33:45 menjadi produk hukum itu clear tuh harus kita sepakati bersama >> ini kan enggak >> problemnya kan di situ. Nah, makanya jangan salahkan publik melihat bahwa isu-isu terkait dengan Tom Lembong, terkait Hasto, ini bukan sidang sidang korupsi, Bang. Gitu. >> H >> sidang korupsi. Contoh Tom Lembong. Ee Rocky Gerung datang, Refle Harun datang, >> Anis Basedan datang. >> Kalau Anis wajarlah orang politik ya. Kalau saya ngelihat Rocky Gerung sama Refli Harun kan lebih >> pada ke orang-orang yang mengkritis gitu ya. >> Bang Yan enggak ada niat datang. >> Saya enggak diundang, Bang. Eh enggak perlu diundang. Saya lihatnya di meos saja. Kurang lebih seperti itu. Yang menarik adalah

34:32 >> kalau di kasus korupsi murni orang-orang kayak gitu hadir enggak, Bang? >> Enggaklah. Enggak lah. Enggak mungkinlah gitu. >> Ini kan sedang ada pertarungan melawan koruptoranya malah malah datang kan >> memberikan dukungan. >> Iya. Enggak cuma datang kasih statement malah. >> Iya. Yang yang pro pada terdakwa pada terdakwa gitu, Bang. Artinya sebetulnya itu sudah clear gitu bahwa kasus korupsi Tom Lembong itu dihiasi oleh narasi narasi terkait dengan kasus penziman lawan politik oleh penguasa >> gitu, Bang. Makanya harus harus mulai dirubah nih kata korupsi. Saya sepakat dengan ee Cuita Novel Baswedan. Dia bilang ini harus benar-benar nih dicek gitu. Harus kita harus menempatkan

35:18 korupsi itu sebagai benar-benar musuhnya demokrasi. >> Begitu. >> Kalau Nov Basweden nota Bene mantan penyiri KPK >> juga mantan personil polri ya. >> Melihat masalah amnesti dan abolisi ini lebih sebagai apa ya? >> Sebagai orang hukum Bang. Clear itu memang tanda kutip abolisi dan amnesti pada isu Tom Lembong dan Haso ini ini dikotori. Betul. >> Iya. >> Gitu. politik itu mengotori sisi hukum. >> Betul. Saya saya >> tapi dari sisi rek apa rekonsiliasi gitu. Ini clear, Bang. Publik semua ini yang tadi saya saya kasih unjuk, Bang. Mendukung positif semua terhadap Pak Prabo. >> Itu itu menjadi kalimat yang menurut saya maaf ya amat sangat buruk. >> Dan itu datanya kayak gitu, Bang.

36:04 >> Kenapa saya bilang sangat buruk? kita ini sekarang dihadapkan pada sebuah teori. Jadi seolah teori he >> demi terciptanya rekonsiliasi nasional >> H >> maka sah-sah saja >> melakukan cawai-cawa politik terhadap putusan hukum. >> Enggak beres. Ini kita bicara hukum sebagai panglima atau politik sebagai panglima? >> Betul. Betul. Betul. Tapi mohon maaf betul kalau dicek datanya isu kasus Tom Lembong. He >> sama Hasto. >> Apakah murni >> isu korupsi apa isu bagaimana penguasa itu menzalimi atau mengkotakan lawan politiknya? >> H >> itu, Bang. Problemnya di situ,

36:51 kan? Sebab akibatnya gitu. Jadi kita enggak bisa langsung bicara abolisi dan amnesinya. Tapi latar belakangnya kasus ini juga >> muatan politisnya tinggi banget. >> Secara tidak langsung jangan-jangan di kepala netizen juga ada anggapan bahwa Kejaksaan Agung masih bisa didikte oleh penguasa. >> Jelas Kejaksaan Agung dan KPK. >> Kejaksaan Agung. >> Iya. Di zaman Pak Joko itu didikte, Bang. Gitu didikte, Bang. >> Walaupun saya buru-buru harus mengoreksi pernyataan saya berusa. Kenapa? >> Iya. Kejasaan agung kan belakang ini kan spektakuler, Bang. >> Iya. Kalau >> lima mafia ee hak mafia di peradilan. >> Iya iya. >> Apalagi ee ee Chromebook.

37:36 >> Iya iya iya iya. >> Banyak sekali. >> Iya iya iya iya. >> Apa manfaatnya ya bagi Kejaksaan Agung kemudian untuk mau dipegang kepalanya oleh penguasa sebelumnya untuk mengkriminalisasi Tom Lembong dan Hasto. >> Jadi gini, Bang. Kalau ini kan balik lagi basic argumen saya itu selalu dari percakapan ee publik >> terus pemberitaan. Karena itu yang kami pantau. >> Yang menarik adalah kalau Abang ingat dulu bagaimana KPK itu di demo besar-besaran itu karena apa? Ya kurang lebih itu karena ada intervensi pemerintah di situ. >> Di pemerintahan siapa? Pak Jokowi kelir di situ >> ya. Terus kedua lihat Bang di zaman ee Pak Prabowo sekarang ada penguatan

38:22 kejaksaan sampai TNI jaga kejaksaan. >> Iya. I >> ya kan kalau Abang ingat tuh kita pakai percakapan publik aja. Publik melihat ini sesuatu yang menarik. >> Kenapa? Oh sepertinya Pak Parabowo itu ingin mengoptimalkan lagi Kejaksaan Agung karena wilayah jaksa itu kan wilayah penuntutan kan. He >> kan logika publik kan seperti itu >> gitu. Terus KPK ini kita enggak tahu nih apakah masih di wilayah hirup puknya mendukung Jokowi kita enggak tahu. >> Makanya Bang hati-hati betul dan saya jadi tambah yakin ya bahwa sebetulnya timnya Pak Prabowo itu betul-betul mendengar suara publik di media sosial >> dan bekerja. untuk itu

39:07 >> dia memantau. Jadi gini, polanya itu adalah polanya itu amati, analisa, aksi. >> Hm. >> Amati. Coba Abang cek ee mungkin ya atau nanti saya butuh komen-komen dari pemirsa itu. >> Anda enggak influencer Prabowo relatif sedikit enggak seperti zamannya Pak Jokowi. Artinya gini, Pak Prabowo enggak butuh untuk apa namanya dia lakukan kontra narasi apa enggak. dia bikin kebijakan, dia sosialisasikan cukup clear di situ. >> H >> ya, dia lebih pada melihat atau mengamati. Setelah itu dia lakukan yang namanya analisa. Analisa itu nanti oke dari beberapa kejadian ini kurang lebih saya putuskan apa?

39:53 >> H yang ketiga apa? Amati, analisa, >> aksi. >> Aksi. >> Nah, aksinya ini contohnya ini >> kalau disebut ini tim Prabowo itu siapa sebetulnya? istana lembaga negara >> saya tahu. Saya enggak tahu. Jujur saya enggak tahu. Cuma dari pola yang muncul di media sosial itu menarik dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. He >> ya. Di zaman Pak Jokowi itu kita mengenal Abang mengenal polarisasi itu dulu dari kapan? >> Wuh tajam pada era Jokowi. >> Era Jokowi clear itu. Kita mengenal bahasa polarisasi. Iksi polarisasi itu di zaman pajak guru sekarang. Coba Abang lihat tetap ada tapi sering apa enggak? Menurun, Bang. Jauh menurun H >> gitu. Yang ada apa? Pak Prabowo bisa di hari yang sama itu

40:40 hadir di kongres PSI sorenya itu dia ketemu Mbak Puan di acara koperasi merah putih. >> Iya. I >> iya, Bang. >> PSI, PDIP. >> Iya, begitu, Bang. Itu kan menarik itu Pak Prabowo sebetulnya >> gitu. Makanya balik lagi, Bang. Ini sebetulnya menurut saya ini percakapan publik yang sejarah, Bang. Pertama itu ini dua kluster yang sebelumnya berhadap-hadapan sekarang nyatu di isu yang sama, yaitu isu kriminalisasi tokoh yang dilakukan oleh penguasa sebelumnya. Itu yang pertama. Makanya kata rekonsiliasi bisa dibilang betul, Bang. >> Relevan, >> relevan >> gitu. Terus yang kedua ini sepertinya saya menduga ya, Bang. Karena balik lagi saya bukan orang dalam, enggak tahu duduk masalah sebetulnya. >> He.

41:27 >> Tapi kalau dari data media sosial ini terlihat yang disebut dengan Pak Prabowo mencoba menghilangkan atau mereduksi politik orbital itu, Bang. Bahwa dulu Pak Prabowo itu itu diangkat oleh Pak Jokowi. >> Jangan terus-menerus sebut saya ini sebagai >> ee kurang lebih gini eh saya nih macan Asia. >> Hm. Dan beliau arahnya kan sudah gitu, Bang. >> Hm. >> Kemarin dengan kejadian dengan Trump itu terlepas produk dan kontrak itu menunjukkan kelihaan Pak Prabowo di dunia internasional. Ya, begitu bangganya kita melihat tentara kita ada di Prancis kemarin, >> di India kemarin. Begitu. Itu kan nunjukin bahwa level-level Pak Prabowo tuh levelnya internasional, bukan kucing Solo. >> Iya. Tapi kalau kemudian kita geser

42:13 sedikit bicara tentang tarif impor kita kena itu. Nah, itu nanti itu itu nah itu kan pro kontra itu itu pembicaraan selanjutnya. Tapi begitu Bang. >> Iya. Bang Yan barusan sudah memperlihatkan sentimen atau emosi netizen terkait dengan abolisi Tom Lembong. Bisa tidak kita bergeser ke bagaimana respon publik suasana batin masyarakat terkait dengan amnestinya Hasto. >> Haston ini ya, Bang. >> Hm. Kurang lebih >> mirip >> didominasi. Mirip, Bang. Cuma tidak ada ee tadi tuh, Bang. Fir-nya sedikit. >> Iya. >> Karena enggak ada yang tadi. >> Heeh. >> Di sidangnya ee Tom Lembong. >> He. >> Itu ada jadi ada potensi Pak Joko itu dipaksa hadir. >> Oke. Oke. Oke.

42:59 >> Di Hu itu enggak ada. >> He >> gitu. Makanya lebih curiga kelompoknya melembong ya, kelompok di medsosnya, Bang ya dengan abolisi apa dengan keputusan Pak Prabowo menetapkan abolisi ini. >> H >> gitu. Kalau di gubunya ee Hasto itu lebih didominasi pada sisi kemarahan gitu. >> Ee ada bacaan saya begini. >> Hm. orang mengait-ngaitkan apa yang dilakukan oleh Tom Lembong itu jangan-jangan merupakan perintah dari Jokowi. >> Jadi dalam relasi antara menteri dengan Presiden ya pertaliannya begitu. >> Ada tidak terbaca netizen juga membangun sebuah asosiasi. >> Oh ini ada Hasto, ini ada Megawati >> lebih ke arah ini, Bang. Residu Pilpres

43:44 sebetulnya begitu. Lebih ke arah ke situ resido pilpres. Dan yang menarik ini sisi kemarahannya adalah sisi kemarahan bahwa ee balik lagi, Bang, bahasa dikriminalisasi begitu ya oleh atau rekayasa hukum oleh penguasa selanjutnya itu ketal betul dibanding dengan isunya korupsi. >> Padahal izin Bang, ini ada bicara Harun Masiko sebetulnya. Nah, ketika Harun Masiko, semua orang bilang bahwa emang Harun Masiko itu korupsi >> walaupun belum ada keputusannya, >> tapi opini yang terbentuk tuh ya Harun Mas bersalah. >> Kalau enggak bersalah ngapain kabur gitu kurang lebih. Tapi beda dengan di Hasto >> gitu. Di situ ada perlawanan, di situ ada demo gitu. Dan yang menarik antara

44:32 kelompok Hasto dan kelompok Tom Lembong. Tom Lembong kuat di udara kemungkinan e Hasto ini kuatnya di darat. >> Hm. I, >> Bang. Kita bisa kembali ke gambar yang hijau tadi. >> Yang ingin saya tanya begini. Ee pada masa pemerintahan Joko Widodo selama 10 tahun he >> ee saya melihat kan mereka sangat solid ya di udara ya, sangat solid gitu. Seradu sibernya tuh luar biasa. I >> sampai kemudian saya juga akrab dengan istilah saya yakin juga sobat jadi ingat istilah buzer >> dan segala macam segala macam bazer Rp dan seterusnya. >> Ini tidak ada. >> Ini enggak ada >> gelagat misalnya dari kalangan pro Jokowi di udara yang membangun kantor naratif tidak ada. >> Iya. Yang setiya cuma Partai Sosmet aja.

45:17 >> Apa yang dia katakan? >> Iya. Partai SOSM itu dia menyatakan bahwa eh jangan senang dulu ya Anda tuh tetap bersalah loh. >> H >> gitu. Kenapa bersalah? Karena Pak Jokowi menetapkan abolisi dan amnesi itu setelah putus eh Pak Jokowi, Pak Prabowo menetapkan abolisi dan amnesti itu setelah ada putusan kalian berdua ya putusan hakim kalian berdua >> bersalahan >> gitu Bang kurang lebih >> Partai Sosmen ini berasosiasi dengan Jokowi >> ke ke Gibran dan Prabowo >> H >> gitu >> apa maksud mereka sebetulnya lewat lewat kalimat seperti itu >> kemungkinan ini yang disebut narasinya dari pihaknya Pak Jokowi >> ya. Apa maknanya apa atau pesan apa

46:03 sesungguhnya yang mereka katakan? >> Jadi mereka eksplisit bilang hati-hati loh ini abolisi amnesti diberikan setelah ada putusan hakim polis Hastom Lembong bersalah. >> Lalu >> lalu gini Bang dia sepertinya ingin mencoba menundukkan kembali bahwa Hasto dan Tom Lembong itu adalah bersalah. >> Hmm. Karena kebaikannya Pak Prabowo >> ya diputihkan. Tapi Anda bersalah loh. Track recordnya adalah Anda bersalah. >> Begitu. Beda dengan ee dari ini, Bang. Yang banyak ini. >> Iya. I >> kalau banyak ini clear itu. Ini bukan bicara bersalah atau benar. Kita dikriminalisasi. >> Jadi kita enggak boleh naif-naif juga terhadap putusan yang sudah keluar dari pengadilan gitu ya.

46:49 >> I dari partai sosmet gitu. Tapi memang ya balik lagi, Bang, yang namanya influencer politik itu selalu ada kepentingan di belakangnya pastilah. >> Nah, dan kita harus cek betul kepentingan di belakangnya itu. Itu sebetulnya realitas sebetulnya, Bang. >> Gitu. Jadi bahasa kasarnya gini, jangan langsung percaya, baca aja dulu terus setelah A lihat polanya kayak gitu. He >> ini kan partai SOSM kurang lebih itu tidak hanya posting terkait abolisida amnisti, dia juga tanda kutip lagi menyerang di kongresnya PDIP kemarin di Bali. >> Sekali lagi siapa Partai Sosemen ini mereka yang ber katakanlah berasosiasi dengan >> sekarang berasosiasi ke kelompok Prabowo Gibran. >> Prabowo Gibran.

47:37 >> Ukurannya apa? Waktu Pilpres kemarin Partai Sosm salah satu influencer yang mendukung >> Prabowo Gibran. >> Sebelum ada duit Prabowo Gibran, partai sosmetnya di mana? >> Di Jokowi. >> Jadi saya bayangkan >> partai Sosmen ini oke dia berasosiasi dengan Prabo Gibran, tapi akarnya dia ada di >> ada Jokowi. Iya gitu. Dan yang menarik dulu haters-nya Pak Jokowi. >> Hm. >> Eh haters-nya Pak Prabowo. >> Oh iya gitu. Tu jadi orang tinggal ambil aja itu sejarah digitalnya. >> Anda dulu ngomong gini, sekarang enggak. Mirip-mirip PSI lah. >> Ah, oke. Mirim-mirip PSI. >> Iya, Abang banyak itu postingan-postingan PSI. Iya, kan? >> Partai Solidaritas Indonesia. >> Nah, gitu. Inf-inflam PSI dulu kan

48:22 begitu menghujatnya Pak Prabowo. >> Sekarang mengeluk-elukan begitu ya. publik tinggal narik aja gitu apa jejak digitalnya yang dulu menghujat Pak Prabowo itu di ditunjukin gitu. >> Ini yang merah siapa ini, Bang? Ada di bawah merah itu >> enggak? Itu saya belum cek itu kemungkinan besar e pembicaraan biasa aja. Kenapa? Karena dia enggak terlalu menarik perhatian begitu. >> Kalau kita mulai melihat ini sebutannya apa? Diagram atau apa ya? >> Kalau kita melihat gambar ini >> berarti di udara sana >> kalangan yang sebutlah berasosiasi dengan Jokowi itu terkucil ya. terkucil, Bang. Sori ini izin, Bang. Ini dengan data 31 dan 1 >> 31 Juli dan 1 Agustus. >> Jadi ini kan yang kami sebut dengan pola reaktif. >> He

49:09 >> gitu. Nah, kemungkinan besar nanti ada akan ada narasi tandingan di hari-hari berikutnya. >> Begitu, Bang. Kurang lebih kan pasti ee orang akan ngebaca dulu lihat seperti apa isu-isu yang muncul, terus kontarasinya seperti apa, pengalihan isunya seperti apa, dan sebagainya. >> Perbandingan sangat ekstrem ya, Bang ya. >> Ini kan besar sekali nih yang di tengah hijau ini besar sekali. Sementara yang terkucil adalah partai Sosm itu he. >> Dengan kondisi seperti ini pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus, >> bisa tidak kita berandai-andai meramal, oh ini bisa saja loh nanti akan berbalik situasinya. Memungkinkan enggak? Enggak. Kayaknya enggak. >> Enggak mungkin. >> Kayaknya enggak. >> Dengan strategi sosial media paling canggih sekali itu enggak mungkin.

49:55 >> Iya. Kayaknya enggak. Kayaknya enggak. Kecuali pengalihan isu. >> Kecuali pengalihan isu. >> Iya. Jadi ada isu yang lebih menarik publik sampai isu ini nih >> tenggelam. Ini kan izin, Bang. Ini menenggelamkan banyak isu. >> Misalnya >> isu FPI dengan PWI yang lagi bentrok di Pemalang sama Depok. >> Heeh. >> Isu diplomat muda, Bang, yang meninggal itu. Ini kebanting, Bang, sama ini >> kebanting oleh amnesia polisi. >> Amnesia polisi ini. Nah, caranya adalah ya harus dibanting isu ini ya. disebutnya adalah pengalian isu. >> Nah, saya jadi tergelitik ingin tahu nih. >> Anggaplah ini sebagai isu yang menempati peringkat pertama ya. >> Iya. Iya. >> Peringkat dua, peringkat tiga apa isu yang menjadi perbincangan netizen? >> Jadi isu yang kedua ketiga itu kurang

50:41 lebih terkait dengan tadi Bang yang apa Arya Daru itu. >> Oke. Masalah diplomat ini >> gitu. Terus selanjutnya isu masih ijazah Jokowi gitu. Karena ijazah Jokowi yang menarik itu >> ada yang namanya loyal hater, Bang. terhadap terhadap Pak Jokowi dan fokusnya di situ aja gitu ya. Nah, sekarang nih ada yang mulai terbentuk antara statement dari UGM dengan UGM itu di >> ee benturkan kurang lebih seperti itu. Abang kan dari UGM mungkin Abang juga merasakan itu. >> Iya, betul >> gitu kan seperti itu. >> Ini all UGM finals. >> Iya gitu. Terus ada lagi isu kesarian yang sebetulnya itu itu dari publik murni kalau dikumpulkan tinggi yaitu MBG. >> H

51:30 >> gitu, Bang. MBG. Terus ee apa namanya? Isu-isu terkait dengan ee danantara itu walaupun enggak enggak banyak tapi lumayan stabil itu >> ya. Lumayan stabil. Nah, yang menarik lagi adalah isu ini, Bang. FPI dengan PWI karena apa? Ini isu bentrok, Bang di tingkat grassroot gitu. Dan zamannya Pak Jokowi FPI itu lekat betul. Kalau Abang masih ingat MCA, Muslim Cyber Army gitu. Armenya FPA itu gede, Bang, >> gitu. Tapi relatif enggak ada di isu FPI dan PWI. kemungkinan besar pada menahan diri karena ini sama-sama dari dari

52:17 Islam Grace gitu. >> Sama-sama dari istilahnya itu dari sunah wal jamaah gitu. >> Oke. Oke. Oke. >> Nah, alhamdulillah ada isu ini juga, Bang. >> Gitu. Kenapa? Karena ketertarikan orang terhadap konflik tersebut itu juga teralihkan. >> Pikiran nakal saya ini sedang bertanya-tanya nih. >> Isu apa ya yang bisa saya mainkan untuk menenggelamkan ini? >> Iya, Bang. Kalau dari urutan tadi sepertinya yang paling potensial memang masih terkait ijazah konon ijazah Pak Jokowi. >> Iya iya iya iya. Jadi gini, Pak Jokowi dan timnya harus ekstra hati-hati karena sekarang ada rekonsiliasi antara pendukungnya Hasto, PDIP dalam hal ini dengan

53:03 >> pendukungnya Anis Tom Lembong dan sebagainya. >> Iya. Iya. ini sudah mulai satu suara nih. >> He. >> Tinggal dicari lagi isu-isu sampai akhirnya Pak Jokowi jadi musuh bersamanya dua kelompok ini. >> H >> dan arah ke situ sudah >> Oh, semakin lancar >> semakin semakin kuat. Bang, >> saya jadi berpikir nih. >> Nah, >> isu tentang pemakzulan Gibran enggak masuk dalam r >> belum enggak gitu. Lebih ke arah isu ijazah palsunya Pak Jokowi >> gitu. Abang tahu enggak waktu LSI Denny ZA menerbitkan survei bahwa sekitar 70% orang tidak percaya bahwa ejazah tersebut palsu. Bagaimana komentar di medsos? >> Apakah terpengaruh? Enggak, Bang. >> Enggak terpengaruh.

53:49 >> Tambah berbalik lagi cara melakukan kontranarasi. Saya enggak tahu apakah itu bagian kontran nararasi atau enggak karena disuarakan oleh pendukungnya Pak Jokowi. Taruhlah data itu. Betul, Bang. itu semakin militan orang yang percaya bahwa ijas palsu palsu >> gitu. Makanya kan balik lagi hati-hati dengan pola medsos. Metsos itu keyakinan dulu, Bang. >> Realita belakangan. >> Iya. Iya. Iya. >> Begitu artinya apa? Dengan adanya hasil survei ini bikin orang yang yakin itu tambah semangat untuk mempengaruhi publik bahwa beneran loh ijazahnya palsu. >> Makin menggumpal makin sulit. >> Iya. Bayangin, Bang. Lembaga resmi, institusi resmi sudah menyatakan ini asli, enggak ada urusan. Heeh.

54:37 >> Karena apa? Bukti data fakta yang juga dilontarkan oleh Rosuryo, Bang Rismon, Tifa juga terus bertambah. Begitu orang pendukung-pendukungnya juga bertambah. >> Artinya gini, Pak Joko itu masih terjebak pada isu tersebut. Ditambah lagi ini hati-hati, Bang. rekonsiliasi dan abolisi ini. Ini semakin menunjukkan bahwa sebetulnya publik yang selama ini tidak fokus pada isu ee ijazah palsu Jokowi mengatakan bahwa dua kasus ini benar-benar kriminalisasi hukum, Bang. Eh, kriminalisasi apa? Kriminalisasi lawan politiknya begitu, Bang. Ini buktinya Abang. Kalau cek di situ ada ee Uni Lubis, Uni Lubis juga ngomong di

55:23 sini ya. Terus >> mantan pemimpin redaksi ya. >> I ee yang sekarang di IDN >> gitu ya. Beliau bahasanya informatif memang ini loh nanti akan ada rekonsiliasi tapi ditarik percakapan Uni Lubis oleh kelompok-kelompoknya pendukungnya baik ee Hasto maupun Pam Lembong begitu. Terus ini sudah mulai Bang ada yang namanya komedian. Hati-hati, Bang, dengan komedian karena itu gerakan moral. He. >> Kalau komedian sudah mulai masuk, ya dulu ada Aco, sekarang ada si ini Bang, siapa? Semi gitu. Ini >> dia unik, hati-hati kalau komedian sudah masuk. >> Ya udah. Karena gini, Bang. Politik dijadikan kita ketawa gitu dengan menunjukkan bahwa apa yang dilakukan betul >> gitu. Bahwa itulah kejadiannya. Kita

56:09 menertawakan diri sendiri kan. Basic dari komedian kan begitu gitu. Artinya apa? isu tersebut sudah mulai diterima bahwa emang Anda salah gitu. Dan bayangkan ketika itu mengendap, Bang gitu. >> Saya tidak berpretensi apapun dengan pertanyaan berikut ini. >> Apa tuh? >> Pertanyaan saya begini, kenapa isu tentang pemakzulan Gibran tidak naik? >> Saya kalau berdasar basis data balik lagi ya gitu. fokus kepada Jokowi, ijazah palsu Jokowi. Terus kedua, sekarang orang lagi euforia lah dengan kata abolisi dan amnesti. Kita lihat nanti minggu depan apakah ada orang yang mengarahkan itu menjadi pemakjulan kibran. Kita enggak tahu gitu, Bang. Kita enggak tahu gitu.

56:57 >> Cuma yang menarik, Abang cek gini deh. >> Abang masih ingat lapor Mas Wapres? >> Iya. Abang dengar sekarang >> saya dua tiga kali tuh kirim pengaduan ke situ. Enggak digubris. >> Enggak digubris. Oke. Abang dengar kata lapor Mas Wapres kapan? >> Udah terakhir. Sudah lama sekali. >> Udah lama sekali. >> Sudah lama sekali. >> Artinya apa, Bang? Jalan enggak tuh program? >> Enggak laku. >> Nah, itu dia >> yang bikin enggak laku kira-kira dari masyarakatnya atau memang tidak dikasih ruang? Ini logika-logika liar kita aja. Dalam ar >> kalau saya mengatakan begini nih, Bang. Tapi ini enggak mewakili orang lain yang ikut melakukan pengaduan ke Gibran. Saya tiga kali kirim lewat WhatsApp. Kemudian sehingga saya juga satu kali atau dua kali lewat email enggak digubris. >> Emang enggak beres kantor. Itu perkiraan saya gitu.

57:43 >> Cuma emang bisa ngegombal aja gitu. >> Artinya kan bisa dibilang tidak optimal. >> Iya. Iya. >> Artinya kalau tidak optimal artinya tidak didukung. >> Tidak didukung. >> Iya kan? Kurang lebih gitu, Bang. Ya walaupun bisa jadi asumsi kita salah tapi dengan pola sebab akibat itu ketahuan. kita bisa bernalar bernalar seperti itu. Jadi sebetulnya kita sudah bisa melihat nih pola hubungan antara Presiden dengan Wapres. >> Bagaimana isu terkait pemakjulan Gibran, isu terkait dengan ijazah palsu Pak Jokowi. Isu ijazah palsu Pak Jokowi misalkan statement Pak Prabowo kapan? Sudah lama, Bang. Terkait itu bisa beliau enggak kasih statement lagi. >> Tapi kan Presiden Prabowo bersilaturahim. >> Iya. Jokowi >> kan enggak salah, Bang. Orang bersilaturahim itu. Iya.

58:31 >> Karena di saat yang sama silaturahim di rumah Pak Jokowi, silaturahim juga di waktu acara koperasi merah putih itu ada Bak Puan kalau enggak salah ada Bambang Pacul Segala juga semua. >> Artinya kan begitu pola merangkulnya Pak Prabowo itu terlihat gitu walaupun nanti tinggal mana yang diinjak, mana yang enggak kayak gitu Bang. Mana yang dikasih hukuman dulu mana enggak gitu. basisnya memang sepertinya itu basis akomodatif dan data SNA ini menunjukkan sekarang seperti itu. Jadi gini, kalau kita rentang tarik data lebih panjang lagi, Bang, >> itu sebetulnya ada dua kluster. >> Pertama itu klusternya PSI yang senang Pak Prabowo itu hadir waktu kongres PSI >> di Solo. >> Di Solo. Terus kedua, bagaimana Pak Prabowo itu memuji baik itu logo yang

59:17 baru, hubungannya dengan Grace Natal gitu, Bang. Terus ee bagaimana foto-foto Pak Prabowo dengan Pak Joko itu beredar begitu. He >> ini data du hari ini menunjukkan dua hal yang berbeda. H >> artinya apa? Pak Prabowo itu di satu sisi dia tanda kutip merangkul yang kanan, di satu sisi merangkul yang kiri. >> Nah, kanan kirinya sekarang siapa? >> Yang menarik adalah bukan Prabowo dan anti Prabowo, tapi Jokowi dan anti Jokowi. Menarik kan? Gitu. Kenapa menurut saya menarik? Karena baru kali ini ada pemerintahan oposisinya itu bukan kepada si presidennya tapi p presiden sebelumnya. >> Iya. Iya. I >> itu, Bang. Dan ini data ini menunjukkan itu.

1:00:02 >> Dan tapi Prabowo tidak mengambil posisi untuk menjadikan penguasa sebelumnya sebagai pihak yang berseberangan dengan dia. >> Iya itu Bang. H >> itu yang menarik dan ya itulah menurut saya politik >> politik ketika hidup di wilayah persepsi gitu dan persepsi itu bisa ke mana aja jatuhnya dan hari ini suka enggak suka yang Abang bilang tadi itu ada rekonsiliasi clear itu lihat dari klaser ini. Terus kedua >> kebetulan rekonsiliasinya adalah sesama haters-nya >> Pak Jokowi. >> Heeh. He. >> Dan dua kelompok ini ini memuji Pak Prabowo. >> Ada dua manfaat yang tadi Bang Yan katakan ketika dua kubu ini bersatu. Satu, >> Iya. >> Mengurangi pressure terhadap pemerintah. Prabowo. >> Iya. Tekanan publik.

1:00:47 >> Tekanan publik. Yang kedua membangun pencitraan tentang Prabowo ingin dikenal sebagai apa. >> Iya. Iya. Gitu. Itu baik sengaja atau tidak sengaja, Bang. Karena dalam komunikasi politik itu pasti bagian yang harus kita lakukan. >> Okelah. anggaplah sekarang sudah terbangun berhasil nih bahwa Prabowo dikenang sebagai sosok presiden satu >> rekonsiliator >> dan juga berhasil mengurangi tekanan-tekanan yang dihadapi. >> Iya. >> Lalu manfaatnya apa? >> Manfaatnya secara politik, Bang itu tambah jadi gini, kekuatan politik tambah merapat di Pabo. >> Dengan kekuatan politik yang semakin merapat, >> simpel Bang. pertumbuhan pemerataan itu harapannya bisa berjalan dengan baik gitu. Karena gini, Bang, di

1:01:33 wilayah kabinet itu kan berbagai macam partai gitu. Bohong kalau mereka karena Pak Prabowo. Enggak. Pasti ada kepentingan partainya di belakang. >> Ketika semakin solid, ada satu visi misi, harapannya ini kan berjalan bagus. He. >> Makanya sebetulnya ini positif, >> tapi memang balik lagi PR besarnya adalah apakah kasus korupsi. Nah, itu >> itu >> itu itu akan jadi PR selanjutnya. >> Dan biasa dalam politik itu selalu ada yang namanya konsekuensi. Konsekuensi itu harus diselesaikan pada periode-periode >> selanjutnya, kerja politik selanjutnya. Begitu, Bang. Dari perbincangan ini saya mulai teryakinkan akan faedah amnesti dan abolisi bagi perpolitikan nasional. >> Iya. >> Tapi pada saat yang sama saya tidak bisa

1:02:20 tutupi bahwa amnesti dan abolisi saya khawatirkan menjadi presiden buruk bagi pemberantasan korupsi di tanah air. Jan Kurniawan, senior analis drone emprit, terima kasih untuk kalinya sudah hadir di ruang diskusi sama-sama, Bang. Siap. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube