Mutiara Kalbu - Edisi 02 Ramadhan 1447H

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang keutamaan ilmu dan ulama dalam Islam, khususnya di bulan Ramadan. Beberapa poin penting yang ditekankan adalah:

  • Duduk di majelis ilmu selama satu jam lebih baik daripada memerdekakan seribu budak.
  • Memandang wajah seorang alim (orang berilmu) lebih baik daripada bersedekah seribu kuda.
  • Memberi salam kepada seorang alim lebih baik daripada beribadah seribu tahun.
  • Pentingnya memandang wajah guru atau ulama dengan penuh penghormatan dan kesadaran akan ilmu yang telah mereka berikan.

Pembukaan

Ustadz membuka pengajian Ramadan dengan mengucapkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menyampaikan bahwa agama Islam adalah tuntunan mulia yang membimbing manusia menuju moral yang lebih baik. Pengajian ini akan membahas bab pertama dari kitab Lubabul Hadis, yaitu tentang keutamaan ilmu. Sebelum memulai, Ustadz mengajak untuk mengirimkan Al-Fatihah kepada pengarang kitab agar mendapatkan keberkahan dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Keutamaan Ilmu Menurut Hadis

Ustadz menjelaskan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud. Dalam hadis tersebut, Nabi bersabda bahwa duduknya seseorang di majelis ilmu selama satu jam, meskipun tidak menyentuh pena atau menulis satu huruf pun, lebih baik daripada memerdekakan seribu budak. Hadis lain menyebutkan bahwa mengaji selama satu jam di bulan Ramadan lebih baik daripada ibadah seribu rakaat. Ini menunjukkan betapa luhurnya nilai ilmu di sisi Allah.

Keutamaan Memandang Wajah Alim dan Memberi Salam

Ustadz melanjutkan dengan menjelaskan hadis lain yang menyebutkan bahwa memandang wajah seorang alim (orang berilmu) lebih baik daripada bersedekah seribu kuda yang gagah perkasa di jalan Allah. Selain itu, memberi salam kepada seorang alim lebih baik daripada beribadah selama seribu tahun. Ustadz menekankan bahwa dalam majelis ilmu, memandang wajah orang yang mengajar dengan penuh penghormatan adalah ibadah yang luhur.

Empat Perkara yang Mendatangkan Ganjaran dengan Memandang

Ustadz menjelaskan empat perkara yang jika dipandang akan mendatangkan ganjaran: Al-Qur'an, Ka'bah, wajah orang tua, dan wajah guru atau ulama. Namun, memandang Al-Qur'an bukan hanya sekadar melihat tulisan, tetapi juga membacanya (tadarus). Memandang Ka'bah bukan hanya sekadar melihat, tetapi juga melakukan tawaf, sujud, dan salat. Memandang wajah orang tua yang sudah renta disertai dengan perenungan atas perjuangan mereka. Memandang wajah guru atau ulama disertai dengan kesadaran bahwa merekalah yang telah mengajarkan ilmu dan mengenalkan kita kepada Allah.

Penutup

Ustadz berharap pengajian ini dapat menambah ilmu dan kebaikan bagi para santri, sehingga mereka menjadi manusia yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Beliau menutup pengajian dengan mengucapkan salam.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:12 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu wassalamu ala asrofil iyaai wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Waqolal musonif rahimahullahu taala wa nafaana bihi wabiulumihi fiini. Amin ya rabbal alamin. Anak-anakku sekalian ee santri pondok Ramadan MTs Negeri Gersik. yang sangat saya sayangi. Alhamdulillah kita bertemu kembali dalam pengajian bulan Ramadan tahun 1447

1:00 Hijriah. Selawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dengan beliau kita mendapatkan satu ajaran, satu tuntunan yang mulia yaitu agama Allah, agama Islam sebagai penyelamat kita, sebagai pembimbing kita, sebagai agama yang bisa mengentas kita dari moral yang rusak menjadi manusia yang bermartabat tinggi. ee kita akan mengawali pengajian ini dengan masuk pada bab 1 yaitu fadilah daripada ilmu. Sebelumnya kita awali mari kita kirim fatihah kepada

1:47 beliau yang mengarang kitab ini, yaitu kitab Lubabul Hadis. Semoga dengan barokah beliau kita menjadi manusia yang bermanfaat dunia akhirat. Alfatihah. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin arahmanirrahim. Maiki yaumiddin. Iyaka nabudu iyaka nastainatal mustaqimadina anamta alaihim giril magdubi alaihim. Terima kasih. Bismillahirrahmanirrahim. Albabul awal utawi iki iku bab kang pertama fi fadilatil ilmi wal ulama ing dalem nerangno

2:33 babe fadilahe ilmu lan ulama qolan nabiu shallallahu alaihi wasallam wis dawuh sopo kanjeng nabi sh muga-mugo paring rahmat takzim Allahu sopo gusti Allah alaihi ing atase kanjeng nabi wasallama lan paring keselametan liibni Mas'ud maring Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu rod muga-mugo ngridani sopo Allah anhu saking Ibnu Mas'ud dawuhe Kanjeng Nabi, "Ya Ibnu Mas'ud, he ibnu Mas'ud julusuka saatan fi majelisilmi la tamassu qolaman wala taktubu harfanirul laka min itqi alfi roqobatin.

3:21 Ya Ibn Mas'ud. He Ibnu Mas'ud. julusuka utawi lunggo siro saatan ing dalem sak jam fi majelisil ilmi ing dalem majelise ilmu la tamassu kang ora gepok ora opo tam masu iku ora- ora ngepok kolaman ing polpen jempok wala taktubu lan ora nulis siro Piro harfan ing sak huruf olehmu julus, olehmu lunggo karo ulama, olehmu lunggo ing dalem majelis ilmu

4:07 saatan sak jam mau koirun laka iku luwih bagus laka kanggone sampeyan min itqki alfiqobatin saking tinimb Bang sewu merdekakno sewu budak. Nah, ini keutamaan daripada kita menuntut ilmu. Dalam sebuah hadis yang lain diterangkan bahwa sopo sing ngaji sak jam ndok nggone bulan Ramadan luwih apik daripada ibadah 1000 rakaat. Tapi di dalam hadis ini, dudukmu bersama ulama, dudukmu di dalam majelis ilmu semasa atau selama 1 jam itu lebih baik

4:55 daripada memerdekakan 1000 budak. Betapa luhurnya nilai ilmu di hadapan Allah. Maka betapa tidak beruntungnya ketika kita ada bulan yang suci, ada bulan yang pilihan ini tidak bisa kita isi dengan ee kita berkumpul, kita bermajelis dalam majelis ilmu, ada membaca Al-Qur'an, ada atau ibadah yang lain. Tapi di sini yang dikuatkan adalah kita menuntut ilmu dalam bulan Ramadan. Maka semoga dengan itu kita memperhatikan betapa pentingnya kita

5:41 majelis dalam ilmu. Waadoruka lan utawi ningalane siro ila wajhil alim. maring wajahe wong sing ngerti, maring wajahe kiaimu, maring wajahe gurumu, ustazmu. Koirun laka min alfi farosin. irun iku luwih bagus laka keduwe sampeyan min alfi farosin saking sewu opo sajaran tasodak kang sodqo siro biha kelawan al faros nyawange awakmu nang nggone wajahe gurumu wajahe kiaimu wajahe ustazmu

6:28 ing dalem majelis ilmu itu luwih bagus tinimbang sampeyan sodqoh sewu jaran kuda yang ganteng-ganteng, yang gagah-gagah fisabilillahi sing sodqoh jaran mau kon sedekahno ndone jalane Gusti Allah kanggo peperangan. Teruse hadis wasalamu kalan utawi salam siro alal alimi dateng kiaimu ing atase wong sing alim koirun iku luwih bagus laka kanggone siro min ibadati alfi sanatin

7:14 tinimbang ibadah sewu tahun di sini Ini beberapa yang kita ambil bahwa ketika kita dalam majelis ilmu itu nyawang tok nang nggone wajahe wong sing ngulang, nyawang tok nang nggone wajahe seorang ustaz. Hanya melihat saja itu merupakan ibadah yang luhur. Kita terima di sana ada empat perkara sing disawang tok oleh ganjaran. Nomor siji sampeyan nyawang Al-Qur'an. Sawang to Al-Qur'an. Tapi mungkinkak Al-Qur'an hanya kita pandang hanya sekedar sebagai tulisan hanya sebagai rasmu.

7:59 Al-Qur'an kita pandang sebagai rasmu, tulisan tok mboten tentunya Al-Qur'an kita pandang sambil membaca. Jenenge tadarus. Nomor loro, mau nyawang Ka'bah. Nyawang Ka'bah. Mungkinkah kita melihat Ka'bah wis nangis? Hanya sekedar melihat saja. Bukan. kita tawaf, kita sujud, kita salat di hadapan Ka'bah, maka memunculkan pahala-pahala yang besar. Sing nomor tigo, nyawang wajahe wong tua. Ketika orang tua kita sudah mulai renta, mulai wajahnya ya yang sayu masuk ke usia sekian, opo m sampean nyawang tok bukan

8:45 ya. Selain melihat kita merenung, "Ya Allah, orang tua saya yang sudah mulai menua beliau berjuang sekian panjang itu demi saya anak-anaknya. Sing nomor sekawan wajahe ustaz, wajahe guru, wajahe ulama. Bukan berarti bos wajahe ulama sampeyan sawang, sampeyan pandang dengan tanpa arti." Mboten dalam benak kita, dalam hati kita, dalam kalbu kita ada. Ya Allah, beliaulah yang mengajarkan saya. Ya Allah, beliaulah yang mengajarkan tauhid kepada aku sehingga aku kenal dengan Gusti Allah dari beliau. Ya Allah, dialah yang mengajarkan satu persatu bagaimana caranya saya benar dalam ibadah. Lah dengan demikian maka dengan majelis ilmu

9:33 itu kita menjadi bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik. Anak-anakku sekalian, mudah-mudahan dengan sedikit pengajian pertemuan ini kita menjadi manusia yang bertambah dalam ilmu dan bertambah dalam kebaikan sehingga kita menjadi manusia yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Wallahuam. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. [musik]

Share

Ringkasan Video YouTube