0:06 Asalamualaikum. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Ee saya beberapa kali terlibat dalam diskusi yang cukup hangat dengan kalangan ee orang-orang buddhis dan saya pernah melontarkan dalam satu momen bahwa saya tuh sebenarnya punya kritik yang keras terhadap sistem teologi buddhis khususnya dalam hal ini adalah karma pala. ee bahwa seandainya pun saya mempercaya karma pala, saya pikir saya tidak akan tercerahkan. Karena dasar dan akar dari sistem kepercayaan karma pala itu adalah spekulasi mistik. Sama seperti ajaran-ajaran Abrahamik di mana ya mereka tentu saja nampaknya sangat berbeda, tetapi dalam hal mereka itu berasal dari akar totemisme yang sama kemudian berbeda gara-gara konsep-konsep yang dibesarkan oleh kebudayaan yang
0:52 berbeda, maka saya bisa menerima pendapat dan gagasan itu, gitu. Nah, kenapa bisa seperti itu? Saya ingin sampaikan begini, Baraya. Apa yang dimaksud dengan karma pala? Yang dimaksud dengan karma pala itu adalah kepercayaan bahwa setiap tindakan kita, setiap kehendak kita yang mewujud itu akan berdampak pada buahnya, pada hasilnya langsung ataupun tidak langsung. Dan itu terjadi secara alamiah dengan atau tanpa adanya campur tangan Tuhan. Bahkan seandainya Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ikut campur untuk urusan karma pala. Begitu kurang lebihnya. Ee karma pala sendiri berasal dari dua kata. karma yang artinya adalah ee perbuatan. Dan secara spesifik orang-orang buddhis kemudian mengistilahkan perbuatan yang memiliki
1:39 atau didasarkan pada niat. Sedangkan yang dimaksud dengan pala itu adalah buah. Makanya kalau baraya misalkan di Maluku menemukan buah yang namanya buah pala itu bukan kebetulan. Tapi memang buah pala diambil dari kata pala. Termasuk juga orang-orang Islam mengatakan nanti kamu akan dapat pahala. Kata pahala pun sebenarnya berasal dari kata pala yang artinya adalah buah dan karma pala berarti adalah buah dari perbuatan. Tetapi seperti yang saya sampaikan tadi, ini pernyataan ini hasil dari spekulasi mistik dan kelanjutan dari totemisme di zaman yang sangat lampau. Di mana premis paling dasarnya itu adalah bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dengan atau tanpa adanya Tuhan, dia harus menjadi adil.
2:25 Karena dia harus menjadi adil, maka setiap perbuatan yang kita lakukan itu akan berdampak dan berkonsekuensi terhadap kehidupan kita sendiri. Dan itu adalah hasil dari apa yang kita perbuat. Jadi kalau kita melakukan kejahatan, maka kita akan dijahatin langsung ataupun tidak langsung oleh pihak yang kita jahatin atau oleh pihak yang sama sekali tidak berhubungan dengan kita ee dalam kehidupan yang sekarang maupun kehidupan yang berikutnya berikutnya dan sebagainya. Kan begitu. Tapi bagaimana kalau yang dimaksud dengan keadilan itu ternyata tidak pernah ada? Bahwa kalaupun ada dia seharusnya tidak terikat pada nilai-nilai eksklusif antropocentrism. Bagaimana kalau memang seperti itu? Bahwa ketika ada dunia, dunia itu tidak harus berbuat adil. Dan
3:11 ketika ada Tuhan, maka Tuhan itu tidak harus berbuat adil. Dan karena Tuhan dan dunia seandainya pun dia ada tidak harus berbuat adil, maka tidak ada seharusnya yang namanya karma pala. itu kan sebenarnya adalah hasil spekulasi mistik kita tentang sesuatu yang terjadi di muka bumi dan didasarkan pada nilai-nilai moral keharusan bahwa alam semesta itu harus adil gitu. Saya merasa bahwa keadilan itu tidak pernah ada dalam pemikiran saya. adil itu adalah bahwa seseorang merasa telah mengeluarkan effort yang besar atau seseorang telah melakukan sesuatu dan dia berharap bahwa sesuatu itu pasti akan berdampak pada dirinya sendiri. Dan ketika dia gagal ee mewujudkannya, maka dia menganggap bahwa itu adalah sesuatu
3:56 yang tidak adil. Bahwa misalkan saya sudah melakukan sesuatu yang baik, maka saya harus mendapatkan imbalan yang baik juga. Begitu. itu pertukaran transaksi moral semacam itu. Makanya sepanjang sejarah keadilan itu hanya dituntut oleh pihak yang kalah. Karena pihak yang menang tidak pernah menuntut keadilan. Kan begitu ya. Jadi ee keadilan itu sebenarnya muncul, konsep itu muncul dari keharusan kita yang memaksa bahwa alam semesta itu harus adil. Padahal konsep adil sendiri itu bukan konsep alam semesta, tetapi adalah konsep manusia secara pribadi atau secara kelompok atau secara sosial yang menginginkan adanya nilai-nilai moral. Jadi, nilai moral ada setelah manusia dan manusia ada setelah adanya alam semesta. Jadi, bagaimana
4:42 nilai-nilai moral ini bisa mengatur alam semesta? Ini kan sebenarnya adalah kronologi yang tidak tepat dan kausalitas yang sama sekali tidak nyambung. Dan karena itu maka saya sering dan lagi-lagi mengatakan karma pala itu sebenarnya adalah kepercayaan yang kurang lebih sama seperti ee orang-orang Abrahamik di mana kalau misalkan orang-orang Abrahamik ada sebuah peristiwa kemudian peristiwa itu melibatkan manusia kemudian manusia itu harus mendapatkan imbalan kebaikan begitu kan. ee ketika dia tidak dapat mendapatkan imbalan kebaikan, maka nanti di akhirat dia akan mendapatkan imbalan itu. Atau misalkan ada orang jahat, orang jahat itu seharusnya mendapatkan ee rangkaian tindakan atau rangkaian kejadian yang membuat dirinya itu merasa
5:29 tersiksa atau terhina atau dipermalukan karena dia melakukan kejahatan. Ketika dia tidak melakukan itu, maka di kehidupan akhirat dia pasti akan mendapatkan itu yang kemudian kita konsepkan sebagai surga dan neraka. Nah, sedangkan dalam konsep ajaran Hindu dan Buddha dalam karma pala adalah kalau misalkan kita melakukan kejahatan, maka kita akan mendapatkan imbalannya kejahatan itu di kehidupan yang sesudahnya. Dan begituun kehidupan akan berlangsung terus-terusan selama karma kita itu masih bersisa. Begitu kan ya? Walaupun ada beberapa ee detail-detail kecil termasuk dalam karmaala soal Hindu dan Buddha itu berbeda, tetapi garis besarnya adalah seperti itu. Nah, ee kalau begitu bagaimana kalau misalkan saya mengajukan sebuah argumentasi faktual
6:15 bahwa sebenarnya dunia itu bekerja bukan dalam ranah keadilan di mana orang baik akan mendapatkan kebaikan, orang jahat akan mendapatkan kejahatan, tetapi yang terjadi itu adalah pihak yang kuat akan mendapatkan kenyamanan dan pihak yang lemah itu akan dikalahkan. Jadi sebenarnya yang disebut benar dan salah itu tergantung pada kekuatan dan kelemahan. Jadi kalau misalkan baraya memiliki kekuatan finansial yang besar, baraya memiliki kekuatan intelektual yang besar, baraya memiliki koneksi yang sangat besar, maka bahkan kejahatan-kejahatan baraya itu bisa saja ditutup-tutupi karena kekuatan baraya untuk bisa menutupi itu. Sedangkan kalau misalkan baraya orang baik tetapi tidak memiliki kekuatan, Baraya bisa saja tetap difitnah, diejek,
7:01 dijelek-jelekkan, dipersekusi, dan baraya akan menjadi orang yang kalah dan menuntut kebenaran dan menuntut keadilan dan berharap bahwa di kehidupan selanjutnya Baraya akan mendapatkan imbalannya. Begitu kan? Nah, jadi sebenarnya konsep keadilan itu adalah pemaksaan moral manusia, komplainan manusia. Karena mereka berusaha menyanggah fakta di dunia bahwa yang menang itu adalah yang kuat. Sedangkan manusia yang bermoral berharap yang benarlah yang akan menang. Nah, gap antara kedua ini inilah yang pada akhirnya menghasilkan prinsip keadilan. Dan prinsip keadilanlah yang kemudian menjadi dasar baik bagi kalangan Abrahamik untuk memunculkan konsep surga dan neraka maupun untuk orang-orang yang
7:48 lebih esoterism di Hindu dan Buddha untuk memunculkan karma pala. Maka dalam hal inilah kita harus mengakui bahwa keadilan itu utopia. Keadilan itu ya hanya ada dalam benak manusia dalam segi yang paling ideal. Pada faktanya adalah manusia tuh tidak mau benar-benar menjadi adil dan tidak mau benar-benar menerima keadilan. Dan mereka akan mentolelir ketidakadilan itu selama mereka sendiri yang tidak menjadi korbannya. Jadi kalau misalkan dalam bab gagasan atau contoh-contoh yang sangat sederhana, em Baraya merasa diperlakukan tidak adil kalau baraya belajar habis-habisan untuk misalkan masuk jadi polisi, tetapi kemudian baraya digeser dan dikalahkan
8:36 oleh orang yang sama sekali tidak bekerja habis-habisan dan tidak belajar habis-habisan untuk masuk polisi pakai jalur orang dalam. Nah, di situ ada muncul ketidakadilan. Nah, kemudian baraya berharap, "Wah, semoga aja dia tuh dapat hidupnya enggak berkah, rezekinya enggak berkah, dan sebagainya." Itu tuntutan dari orang yang tidak berkeadilan. Tapi maksudnya, apakah alam semesta bermoral? Apakah alam semesta itu beragama? Apakah Tuhan dalam konsep yang kita bayangkan juga bermoral dengan pesan pemikiran antroposentrism yang ada dalam benak kita gitu kan. Enggak mungkin juga Tuhan dan alam semesta itu harus ngikutin nilai-nilai moral yang disesuaikan dengan ee antroposentrisme gitu kan. Enggak mungkin juga gitu. Nah, tetapi pada faktanya itulah yang kita akui dan
9:23 karena itulah maka setiap kali kita menemukan fakta ada orang yang begitu jahat tapi dia memiliki kekuatan yang sangat besar. Kemudian dia mati dengan cara yang sangat menyenangkan dan hidup juga dengan cara yang sangat menyenangkan. Kita berharap banget bahwa di kehidupan berikutnya entah itu melalui karma pala, reinkarnasi atau surga dan neraka, dia akan mendapatkan imbalan kejahatannya. Dan begituun kita berharap bahwa setiap proses yang kita jalani habis-habisan dengan kejujuran, dengan kebaikan, kemudian ternyata hasilnya buruk, maka kita akan menganggap bahwa yang yang penting mah berkah. nanti kita akan mendapatkan imbalannya pada kehidupan berikutnya dan dan lain sebagainya. Mungkin enggak sih sebenarnya seperti itu? Dan karena itu maka kita tuh harus
10:08 melihat bahwa segala bencana alam itu memang bukan bencana alam, itu adalah sebuah mekanisme, mekanisme alamiah yang biasa aja. Karena konsep bencana pun itu sebenarnya adalah pemikiran manusia tentang ee dampak dari kejahatan atau kebaikan yang dialami oleh manusia. Jadi misal gini, ada sebuah peristiwa alam, gempa bumi. Gempa bumi itu adalah bagian yang sangat alamiah dalam siklus bumi. Dan dia biasa-biasa aja. Dia siklus batuan memang memaksa untuk menjadi seperti itu. Perputaran bumi memaksa dia untuk seperti itu. Dan bumi itu sama sekali baik-baik saja dengan kondisi itu, dengan kejadian itu. Nah, tapi kita
10:55 menganggap bahwa itu tuh bencana. Kenapa kita menganggap itu tuh bencana? Karena kita yang menjadi korbannya manusia dengan kacamata POV antroposentrisme manusia menganggap bahwa itu merugikan manusia dan karena itu jelek. Tapi karena itu adalah takdir ilahi atau itu adalah kehendak dari alam maka kita sebutnya adalah bencana gitu. Padahal kan sebenarnya enggak. Jadi di dunia modern bahkan ketika ada seorang laki-laki misalkan punya keluarga. Nah, ada bencana alam. Satu warga desa meninggal semua, tapi satu keluarga dari ayah ini baik-baik saja, terselamatkan. Kemudian dia bersyukur pada Tuhan, "Wah,
11:41 ini berarti kita masih dilindungi oleh Tuhan." Masalahnya adalah berarti Tuhan tidak melindungi keluarga yang lain. Berarti ada ketidakadilan Tuhan di sini gitu ya. Kan sebenarnya enggak gitu juga sebenarnya ya. itu terjadi secara alamiah saja dan bumi tidak berkehendak untuk memusnahkan manusia yang begini dan begitu dan tidak berkehendak juga untuk menyelamatkan manusia yang begini-begini dan tidak ada kausalitas yang bisa kita ukur dan kita ketahui bersama bahwa ketika ada bencana ini, itu disebabkan oleh ee dosa dari orang-orang ini sehingga orang ini diselamatkan sedangkan yang lain tidak. Kan tidak ada kausalitas yang dikaitkan dengan itu gitu kan. Demikian pun misalkan dengan kisah-kisah e masa lalu tentang Sodom dan Gomora misalkan eh bahwa ada satu bangsa yang terbiasa
12:27 untuk melakukan aktivitas seksual yang dianggap menyimpang kemudian oleh Tuhan dibalik ee buminya bagi mereka sehingga mereka terkubur dan bangsanya hancur total. Misalkan seperti itu ya mungkin memang benar-benar terkena bencana alam versi manusia tetapi apakah a bencana itu disebabkan oleh aktivitas seksual yang menyimpang atau b sebenarnya alam tidak berpikir soal itu sama sekali. Alam memang harus melakukan bencana alam itu karena itu adalah siklus yang alamiah begitu. Nah, itu sebenarnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang ya kita anggap itu adalah pertanyaan yang ateistik gitu atau pertanyaan yang sama sekali ee tidak menyinggung masalah ee spiritual, masalah magis ee di luar sana. Dan kemudian banyak orang juga yang mungkin akan menduga bahwa guru
13:13 gembul sekarang sedang mengkritik kalangan agama dalam konteks ee sudut pandang sebagai orang ateis. Benarkah seperti itu? Ee sebenarnya enggak juga baraya. Jadi sebenarnya apa yang saya uraikan barusan itu adalah serangan terhadap dua kubu sekaligus, dua pihak sekaligus. Jadi dalam uraian saya, saya itu menyerang kaum beragama dan menyerang logika kaum beriman dan menyerang kaum ateis sekaligus. Bukan untuk cari bermusuhan, bukan untuk cari keributan, tapi ini sepenuhnya adalah untuk mengasah wawasan dan kemampuan intelektualitas kita dalam berdiskusi dan berdialektika, dalam membebaskan kemampuan kita dalam berpikir kritis. Begitu. Jadi kalau misalkan Baraya mau menjawab, silakan saya harap baraya jawab. Nah, tapi balik lagi emang ini serangan terhadap pemikiran ateisnya
13:59 dari mana? Jadi ini jelas dan gamblang baraya. Jadi saya tuh ingin menghujat pemikiran ee orang-orang ateis di mana mereka itu tidak percaya pada Tuhan. Mereka tentu saja tidak beragama tetapi mereka percaya pada prinsip keadilan. Kan prinsip keadilan itu adalah prinsip yang dibawa oleh agama yang secara empiris tidak mungkin bisa kita temukan, tidak mungkin bisa kita buktikan dan secara rasional sama sekali tidak mungkin ada. Jadi, bagaimana ceritanya keadilan itu masih diterima sama orang-orang ateis sedangkan agama tidak. Jadi, misalkan begini ya, kan saya jelaskan tadi bahwa keadilan itu tidak ada. Keadilan itu sepenuhnya adalah cara pikir manusia berharap bahwa setiap hal yang baik akan berdampak baik, setiap
14:45 hal yang buruk akan berdampak buruk. Entah itu manusia, entah itu alam, entah itu Tuhan yang mengaturnya, tapi hukum alamnya memang harus seperti itu. Jadi artinya ini adalah ee imajinasi besar manusia berharap agar nilai norma dan moral yang mereka anut itu harus dianut juga oleh bumi dan alam semesta. Begitu kan? Nah, jadi sekarang bagaimana caranya orang-orang ateis itu berpikir bahwa yang menyebabkan kehadiran surga dan neraka dan yang menyebabkan istilah karma pala itu sebenarnya adalah konsep keadilan. Nah, konsep keadilannya justru malah mereka terima dan kemudian mereka jadikan sebagai landasan hukum. Hukum itu kan sebenarnya adalah sebuah tata aturan untuk menegakkan keadilan. Nah, kalau keadilannya tidak ada, maka
15:31 seharusnya hukum pun tidak ada. Kalau hukumnya tidak ada, maka hierarki manusia tidak akan ada. Kalau hierarki manusia tidak akan ada, maka peradaban manusia tuh tidak akan pernah ada. Jadi, sebenarnya konsep keadilan inilah yang menyebabkan manusia berperadaban seperti yang kita kenal sekarang yang akhirnya bisa melawan alam semesta dan mengontrol alam semesta. Nah, tapi balik lagi karena keadilan sendiri sebenarnya adalah konsep yang tidak berarti, tidak bermakna, dan tidak terbukti sama sekali. Lalu bagaimana ceritanya orang-orang ateis itu membangun hukum mereka, membangun hierarki mereka, mengejek agama mereka dan lain sebagainya. Padahal mereka sama-sama berpijak pada sebuah wawasan utopia bahwa alam semesta itu harus adil dan keadilan itu harus ada dan karena itu
16:16 harus ditegakkan dan karena itu harus menciptakan hukum dan karena itu harus membuat hierarki dan pemerintahan dan kemasyarakatan dan kemudian menghasilkan peradaban. Kenapa orang-orang ateis masih menerima itu? Apakah ini standar ganda di mana mereka mengabaikan agama dan Tuhan yang katanya mistik, yang katanya tidak bisa diterima oleh nalar dan sebagainya, tapi mereka menerima keadilan dan kemudian bahkan menciptakan hukum-hukum, menciptakan kesadaran komunal, menciptakan doktrin-doktrin tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadilan. Padahal keadilan sendiri tidak pernah ada dan keadilan sendirilah itu yang menciptakan agama-agama besar. Nah, jadi sekali lagi em video ini itu adalah dalam tanda kutip ya tantangan untuk dua kalangan sekaligus yang bertentangan. Kalangan orang beriman dan
17:02 kalangan orang ateis. Silakan jadikan sebagai bahan renungan dan bisa menjadi bahan diskusi yang seru. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.