0:00 Assalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gumbel Channel. Tanggal 10 November kemarin, hari pahlawan ketika saya maiahan dengan teman-teman di Surabaya, Pak Prabowo ee mendeklarasikan 10 pahlawan nasional yang baru. Yang satu di antaranya adalah Pak Harto, mertuanya sendiri. Yang ini menggenapkan ramalan dari Fufu Fafa yang menjelaskan bahwa kalau Pak Prabowo kelak akan jadi presiden, maka dia pasti akan menggelari Pak Harto sebagai pahlawan nasional. Nah, tentu saja ee kebijakan dari Pak Perbau ini menuai banyak sekali kritik dan amarah dari rakyat. Ada yang mengatakan, "Bagaimana ceritanya seorang yang namanya Soeharto yang melakukan pembantaian, yang melakukan kegjian, yang melakukan
0:47 korupsi besar-besaran itu justru dijadikan sebagai pahlawan nasional." Kenapa kita tidak berempati dan bersimpati kepada korban-korban dari kebijakan-kebijakannya yang jahat dan korban dari serangan brutal yang diinisiasinya untuk memuluskan menuju kekuasaan? Kenapa orang semacam itu justru malah menjadi pahlawan nasional? Nah, begitulah kurang lebih kritiknya. Tapi di episode ini saya ingin menjelaskan, saya ingin membungkam semua kritik beraya bahwa bagaimanapun Pak Harto memang layak untuk menjadi pahlawan nasional. Kenapa seperti itu? Bukan karena saya setuju bahwa Pak Harto itu adalah pahlawan, tetapi karena mekanisme dalam menentukan pahlawan nasional itu memang sejak awal
1:34 sangat-sangat jahat, sangat-sangat kelam. Di episode ini saya akan jelaskan kepada Baraya sisi gelap berpengetahuan. Simak videonya sampai tuntas. Yuk, kita bahas. Hal pertama yang harus Baraya pahami terkait dengan sejarah adalah bahwa tidak ada satuun sejarah yang Baraya ketahui sekarang itu yang benar-benar faktual, yang benar-benar sesuai dengan fakta. Sejarah yang disuguhkan kepada masyarakat itu adalah sejarah yang penuh dengan glorifikasi, penuh dengan demonisasi, penuh dengan angelisasi,
2:19 penuh dengan manipulasi dan rekayasa data dan fakta, bahkan dengan interpretasi yang dipaksakan demi kepentingan-kepentingan kontemporer. Jadi berbicara tentang sejarah yang dibahas dalam buku-buku putih yang ditulis dengan narasi pemerintah dan sebagainya itu bukan berhubungan dengan fakta. Jadi ketika Baraya mengatakan bahwa kenapa Pak Harto dijadikan pahlawan kan tidak sesuai dengan fakta sejarah, tidak ada kaitannya dengan fakta baraya. Dalam hal ini yang ada adalah kepentingan sejarah, kepentingan bagaimana sejarah itu dituliskan. Begitu. Nah, jadi apa sebenarnya kepentingan dari sejarah itu? Ada dua hal. Yang pertama itu adalah ideologi
3:06 dan yang kedua adalah politis. Dan dua-duanya itu harus kita pahami sebagai bahwa sejarah itu memang benar-benar membentuk identitas sebuah bangsa. Ingat, sejarah membentuk identitas sebuah bangsa. Dan karena setiap bangsa membutuhkan identitas yang baik, maka sejarah itu penuh dengan glorifikasi, penuh dengan kebaikan-kebaikan, dan apa yang diwartakan di sana hampir tanpa cacat dan kesalahan. Itu rumusnya begitu kan. Nah, jadi kita mulai satu demi satu. Sejarah itu ditulis berdasarkan kepentingan-kepentingan ideologis. Misal begini, Baraya, ketika Indonesia awal mula berdiri, para founding parents kita itu kebingungan tentang bagaimana caranya meyakinkan
3:52 orang bahwa kita harus bersatu dan bagaimana cara mempersatukan bangsa-bangsa di Indonesia yang sejatinya memang memiliki identitas yang berbeda. Jadi orang-orang di Indonesia itu ciri fisiknya berbeda, makanan pokoknya berbeda, budayanya berbeda, bahasanya berbeda, tradisinya berbeda, cara bercocok tanamnya berbeda, cara berpenghasilannya juga berbeda, semuanya berbeda. Dan perbedaan-perbedaan itu kadang kala juga tumpang tindih dengan negara-negara yang lain. Misalkan orang Riau memiliki bahasa yang sama dengan orang Malaysia, sukunya sama dengan Malaysia, agamanya sama dengan Malaysia. Bahkan cara untuk bertahan hidupnya juga sama dengan orang-orang di Malaysia. Tetapi mereka terpisah menjadi dua negara yang berbeda. Sedangkan orang Riau dengan orang Lampung yang memiliki
4:38 karakteristik yang sangat berbeda itu bersatu dalam satu kesatuan nasional. Demikian pun dengan orang Papua dengan orang Papua Nugini mereka memiliki kesamaan yang identik. Mereka ciri fisiknya sama. Ee tata kelola kemasyarakatannya mereka juga identik. Kemudian bagaimana cara mereka mempertahankan hidup juga sama dan lain sebagainya. Tetapi mereka dipisahkan menjadi dua bangsa yang berbeda. Jadi para founding parents kita berpikir bagaimana caranya meyakinkan kepada masyarakat bahwa kita tuh ada dalam satu kesatuan. Begitu kan? Nah, maka dibentuklah sejarah dengan narasi-narasi yang tidak sesuai dengan fakta. Misalkan bahwa dinarasikan Indonesia dijajah 350 tahun. Walaupun itu tidak sesuai dengan fakta, tapi itu harus disebutkan. Karena
5:25 apa? Karena di situlah akhirnya kita bisa meyakini bahwa ada entitas politik yang namanya Indonesia yang sudah ada sejak 350 tahun dan bahwa mereka itu dijajah oleh Belanda. Kan begitu. Kemudian ada narasi yang berikutnya lagi bahwa Gajah Mada itu adalah pahlawan nasional Indonesia. Padahal di benak Gajah Mada tidak pernah terbersit sekalipun nama Indonesia dengan kekuasaan seperti yang dijelaskan di era modern. Gajah Mada hanya berpikir tentang Majapahit yang sepenuhnya sangat berbeda dengan Indonesia. Dan demikian pun misalkan dengan Sultan Iskandar Muda, mereka semua menjadi pahlawan nasional tanpa mereka menginginkan dan mengetahui dan menghendaki bahwa mereka sebenarnya dicatut namanya berdasarkan
6:11 kepentingan ideologi orang-orang yang hidup di masa depan. Kan begitu kan? Maka tokoh-tokoh itu menjadi pahlawan nasional bukan gara-gara mereka memang menjadi pahlawan nasional, tapi didasarkan pada misalkan sebuah buku yang ditulis oleh Pak Ahmad Yamin eh Muhammad Yamin yang menulis 6.000 tahun merah putih gitu yang sebagai penegas bahwa selama ribuan tahun kita memang sudah ada dalam satu kesatuan entitas politik yang namanya Indonesia kan begitu kan. Nah, karena tokoh-tokoh di masa lalu yang sebenarnya bukan pahlawan nasional itu dicatut dan kemudian menjadi pahlawan nasional untuk kita semua. Dan kita semua membutuhkan identitas yang baik untuk meneguhkan
6:57 persatuan dan kesatuan bangsa. Maka pahlawan-pahlawan nasional yang dimaksud tadi itu juga harus dibersihkan dari semua aib dan cacat moral yang mereka miliki. Ee saya ambil contoh misal Baray ambil buku sejarah yang sumber-sumbernya berasal dari naskah-naskah kuno. Kita sebut namanya adalah Sultan Iskandar Muda. Beliau ketika melakukan invasi kepada negara lain, katakanlah Deli, katakanlah Johor, katakanlah Pahang, itu kejam luar biasa baraya melakukan pembantaian baik kepada pihak yang melawannya maupun pihak yang sudah menyerah padanya. Istana-istana dibakar, anak kecil dan perempuan juga ikut menjadi korban dan
7:43 lain sebagainya. Kekerasan itu sebenarnya tercatat. Tetapi ketika dia sudah masuk ke dalam buku sejarah putih kita, maka cerita-cerita itu akan hilang sama sekali. Dan Sultan Iskandar Muda disebut sebagai sultan terbesar Aceh yang membangun bangsanya menjadi begini dan begitu dan lain sebagainya. Jadi hal-hal buruknya menjadi hilang, hal-hal yang baiknya menjadi dominan. Demikian pun dengan kisah Sultan Agung dari Mataram. Sultan Agung dari Mataram itu kejamnya luar biasa, Baraya terhadap orang-orang bawahannya, terhadap rakyatnya sendiri apalagi terhadap orang yang menjadi lawannya itu kejam. Tetapi ya saya mohon maaf, maksud kejam di sini itu adalah di zamannya memang relevannya seperti itu gitu ya. Tetapi dalam
8:30 ide-ide modern kekejaman itu sebenarnya tidak bisa ditolir yang kemudian tiba-tiba menjadi sangat ditolir karena disesuaikan dengan kebutuhan nasionalisme kita. di dunia kontemporer. Begitu. Tokoh yang lain misalkan Tuku Umar. Tuku Umar dari Aceh itu dalam narasi sejarah kita itu sering disebut bahwa dia adalah pahlawan Aceh yang berperang melawan Belanda dan gugur pada tahun sekian-sekian. Eh, strategi yang paling dikenalnya itu adalah berpura-pura berpihak kepada Belanda hanya untuk mengambil logistik dan senjata untuk kemudian diserahkan kepada para pejuang Aceh. Itu narasi yang berkembang dan sejak SD sudah diwartakan seperti itu. Tapi kalau Baraya mengecek kembali sejarahnya yang berasal dari
9:15 naskah-naskah sezaman. Coba Baraja silakan pikirkan kalau Tuku Umar memang benar-benar hanya berpura-pura, bagaimana ceritanya dia sampai ngebakar ratusan kampung para pejuang Aceh? Dan bagaimana ceritanya orang Belanda yang terbiasa skeptis menyerahkan logistik perangnya kepada Tengku Umar? Dan kalau memang dia hanya berpura-pura, bagaimana ceritanya? Ada banyak sekali fatwa-fatwa bahwa Tuku Umar adalah kafir dan halal darahnya. Dan itu keluar dari para ulama Aceh pada waktu itu yang sebenarnya menegaskan bahwa Tuku Umar itu bukan pernah berpura-pura berpihak pada Belanda, tapi memang pernah berpihak pada Belanda yang di akhir masa kehidupannya Tuku Umar itu dituding oleh
10:03 seorang ulama. Kamu tuh kafir dan mati sebagai orang kafir. Tuku Umar menjadi panik karena dia takut masuk neraka dan karena dia masih mencintai agamanya, maka sejak saat itu dia bertobat dan akhirnya berpindah haluan kembali mendukung perjuangan Aceh itu. Jadi sebenarnya bukan dia berpura-pura berpihak pada Belanda, tapi dia memang sebenarnya berpihak pada Belanda sebelum di akhirnya tobat. Nah, narasi yang seperti ini ketika saya sampaikan ini di ruang publik mungkin akan ada banyak orang yang marah. orang-orang Aceh mungkin akan menghardik saya dan sebagainya. Tapi ya Baraya boleh tidak percaya, tapi saya sarankan Baraya untuk mengecek sumber-sumber yang lebih dekat dengan naskah-naskah kuno dalam hal klaim pernyataan ini. Tapi intinya karena pahlawan nasional itu
10:50 ditulis untuk ideologi tertentu yaitu agar persatuan Indonesia menciptakan identitas kebangsaan dan sebagainya dan identitas kebangsaan itu tidak boleh memalukan. Maka cerita-cerita tentang aib-aib pahlawan nasional itu memang sejak awal harus dikebiri. Begitu ceritanya. Jadi kalau pahlawan-pahlawan nasional di masa lalu memang diperlakukan dengan cara seperti itu dalam penulisan sejarah atau historiografi, maka Pak Harto pun akan mendapatkan perlakuan yang sama. Jadi ketika kita melihat Pak Harto, kita melihat dia itu adalah Bapak pembangunan Indonesia, bahwa dia adalah salah satu pejuang Indonesia, bahwa beliau ini menghancurkan gerakan PKI dan
11:36 sebagainya. Tapi hal-hal buruk yang menyertainya itu akan dikhapuskan dalam panggung sejarah. Begitu kurang lebihnya. Demi apa? Demi persatuan nasional, demi identitas kebangsaan yang bersih dari cacat moral. Saya tunjukkan contoh manipulasi yang lain bentuk manipulasi yang lain. Misalkan ibu kita kartini. E ibu kita kartini itu baraya pasti akan mendapatkan narasinya sebagai berikut. bahwa dia adalah pahlawan wanita Indonesia yang berkat bukunya dari gelap terbitlah terang dan dari sekolahnya itu mampu menginspirasi wanita-wanita Indonesia untuk bisa mendapatkan harkat martabat yang setara dengan laki-laki. Jadi, Ibu Kartini
12:22 adalah tokoh emansipasi wanita. Benarkah seperti itu? Iya, Baraya pasti mendengarnya seperti itu. Tapi coba kalau Baraya saya ajukan argumentasi yang lebih masuk akal bahwa sebenarnya Ibu Kartini itu bukan pahlawan nasional Indonesia, tetapi dia adalah pahlawan bagi kerajaan Belanda. Karena itulah maka Belanda sampai sekarang masih menghormatinya dengan ada nama jalan Kartini di sana dan buku dari gelap terbitlah terang itu jauh lebih banyak dipublikasikan di Belanda daripada di Indonesia. Nah, kenapa bisa seperti itu? Jadi cerita panjangnya begini, Baraya. Ee orang Belanda atau pemerintah Belanda itu adalah pemerintah yang dianggap buruk sebagai penjajah khususnya ketika mereka biasa dibandingkan dengan negara Inggris. Di antara ee indikasi bahwa
13:10 Belanda itu menjajah dengan cara yang buruk adalah bahwa tingkat buta huruf di Indonesia itu sangat tinggi ketika masih dijajah sama Belanda. Bahkan tingkat buta hurufnya itu mencapai 92% di akhir penjajahan Belanda di Indonesia. Bandingkan dengan penjajahan Inggris yang lebih dari seperempat warganya itu melek huruf begitu. Nah, jadi Belanda tuh dihujat, dicaci maki dalam sejarah sebagai penjajah yang buruk. Nah, tapi kemudian ada Kartini yang menyelamatkan mukanya di depan orang-orang Eropa. Jadi pada tahun 1901 Vanenter itu bikin sebuah gebrakan yang disebut sebagai trios trias Vanenter. Salah satunya itu adalah bagaimana cara mengedukasi rakyat pribumi agar melek
13:58 huruf, agar berpengetahuan dan berwawasan dan agar bisa menjadi profesional begitu kan. Nah, di zaman itulah Ibu Kartini itu ada. Ibu Kartini dinarasikan sebagai perempuan Jawa yang terus-terusan mengeluh dan punya seorang sahabat namanya adalah Stella Zehandeller. Stella Zehandeller inilah yang konon katanya berkorespondensi tukar-tukaran surat dengan Kartini. Dan dari tukar-tukaran surat itulah akhirnya terbitlah buku dari gelap terbitlah terang. Isinya apa? Keluhan-keluhan Kartini bahwa di Indonesia itu feudalismenya mengerikan, patriarkinya sangat menyiksa, dia sebagai perempuan pribumi tidak benar-benar menikmati kehidupan. Dia terkekang, dia tidak
14:43 bebas, dia tidak bahagia. Dan bukan hanya dia, ibunya juga menderita sama seperti dirinya dan lain sebagainya. Itu kan narasi buku dari Gelap Terbitlah Terang. Ya, kurang lebihnya seperti itu. Tapi sebenarnya buku itu tuh pertama diterbitkannya oleh orang Belanda dan diklaim bahwa itu adalah karya tulis Kartini hanya oleh satu orang yaitu Ibu Stella yang tadi itu. Dan Ibu Stella kemudian menulis dari gelap terbitlah terang itu sebenarnya adalah sindiran bahwa Kartini itu hidup dalam gelapnya feudalisme dan ingin hidup dalam terang benderangnya peradaban Belanda. Jadi dari gelap terbitlah terang. itu maksudnya dari gelapnya Nusantara menjadi terang benderangnya peradaban Belanda. Makanya isinya keluhan tentang
15:30 betapa buruknya menjadi orang pribumi dan betapa irinya Kartini terhadap kehidupan Stella Zehandeller ketika menjadi wanita feminis Belanda. Kan begitu. Nah, ketika buku itu akhirnya terbit di Belanda itu akhirnya benar-benar bisa menampar para pengkritik Belanda. Jadi buku itu menunjukkan tuh lihat kami orang Belanda berhasil mendidik orang-orang pribumi agar bisa menulis dan menginspirasi dan memberikan pencerahan. Bayangkan orang yang hidup di tengah patriarki ekstrem seperti Kartini bisa menulis buku yang penuh dengan ide-ide emansipasi dan feminis seperti ini. Jadi itu sebenarnya adalah karya untuk kepentingan Belanda
16:15 bukan untuk kepentingan Indonesia. Dan kita tidak yakin apakah Kartini benar-benar menuliskan buku itu. Dan kalau Baraya melihat sejarah kehidupan Kartini, Baraya akan menjadi lebih tercengang lagi. Karena pada tahun 19034 eh 1902 sampai 1903, Kartin itu disuguhi dua proposal dalam kehidupannya. Kartini, maukah Anda sekolah ke Belanda mencapai cita-cita dan tujuan hidup Anda menjadi lebih bebas dan hidup sebagai seorang manusia yang tidak dikebiri oleh begitu banyak tata aturan yang membelenggu. Dikasih opsi itu. Opsi kedua, Kartini. Maukah Anda menikah
17:03 dengan seorang bangsawan yang usianya dua kali lipat dari Anda dan Anda hanya akan menjadi istri ketiga? Nah, opsi ini datangnya bersamaan. Lamaran dari bangsawan dan ajakan untuk bersekolah ke Belanda ini waktunya bersamaan. Dan Kartini luar biasanya apa? Tidak pernah berpikir panjang, tidak mempertimbangkan apapun. Dia dengan sangat gembira, dia dengan sukacita memilih untuk jadi istri ketiga, seorang bangsawan yang usianya dua kali lipat lebih darinya. Nah, kalau baraya benar-benar mengamati, bagaimana ceritanya? Ada orangorang yang mengeluh tentang kehidupannya yang menderita di tengah patriarki dan sebagainya bla bla bla bla dalam bukunya yang tebal itu. Tetapi ketika dikasih
17:50 opsi dia malah senang ingin jadi istri ketiga. Jadi apakah buku itu benar-benar ditulis oleh Kartini? Apakah sebenarnya buku itu memang hanya untuk menjelekkan feodalisme Jawa dan ingin menunjukkan betapa terang benderangnya peradaban Belanda dan ingin menegaskan bahwa projek mendidik orang pribumi Belanda itu itu ternyata terbukti benar dengan adanya Kartin itu. Dan karenanya Kartin itu menjadi pahlawan nasional buat Belanda bukan buat Indonesia. Nah, saya mempersilakan Baraya untuk menyanggah pernyataan saya. baraya boleh saja dan saya masih membuka kemungkinan bahwa analisis saya tuh salah. Saya membuka kemungkinan itu. Cuman maksud saya adalah betapa kontroversialnya
18:35 pahlawan-pahlawan nasional yang kita kenal seandainya kita melihat berdasarkan fakta, bukan berdasarkan kepentingan. Tetapi namanya juga sejarah nasional. Sejarah nasional itu harus bersih dari cacat. Makanya sebelum Pak Harto dinobatkan sebagai pahlawan nasional, Pak Menteri itu sudah membersihkan dulu dengan pernyataan bahwa tidak ada pemerkosaan massal di tahun '98, tidak ada genosida dan pembantaian di tahun itu dan sebagainya. Untuk apa? Bukan gara-gara tidak ada fakta yang tervalidasi, tetapi karena penulisan buku sejarah buku putih untuk nasionalisme itu memang harus bersih dari segala kecacatan. Makanya Pak Harto secara faktual melakukan banyak pelanggaran. Yes. Secara faktual
19:21 korup. Yes. Itu benar semuanya. Tapi sejarah nasional tidak pernah mempertimbangkan fakta. Sejarah nasional mempertimbangkan bahwa ini harus menjadi simbol identitas yang baik buat di masa depan. Dan inilah alasan Pak Joko Widodo memaksakan dirinya untuk mengesahkan IKN di masa jabatannya. Kenapa seperti itu? Karena Pak Jokowi yakin bahwa di masa depan betapaapun sekarang dia dihujak, dirujak, kontroversi dan sebagainya, tapi di masa depan dia akan diglorifikasi sebagai Presiden Indonesia, mungkin akan menjadi pahlawan nasional berikutnya. Dan untuk menghargai dan menekankan kebaikan dalam pemerintahannya, maka dia
20:08 harus memiliki legasi. setidak-tidaknya adalah pemindahan ibu kota dimulai dari masa Pak Joko Widodo gitu. Jadi karena apa? Karena di masa depan tokoh yang paling kontroversial sekalipun itu akan dibersihkan, diglorifikasikan. Dan kita lihat tokoh-tokoh sebelum kita memang seperti itu semuanya. Jadi kalau semuanya seperti itu, maka demikian pun dengan Pak Harto. Jadi sekali lagi ini bukan konteks fakta. Ini adalah bagaimana cara sejarah itu ditulis. Itu saja beraya. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.