Film Horor 2025 Paling Mencekam‼️| Pengantin Iblis Full Movie

Ringkasan Singkat

Video ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang menghadapi serangkaian kejadian aneh dan tragis setelah salah satu anggota keluarga, Ranti, diduga melakukan perjanjian dengan iblis untuk menyembuhkan putrinya, Nina. Kejadian-kejadian tersebut meliputi kematian misterius, perubahan perilaku yang drastis, dan teror supranatural yang menghantui keluarga tersebut.

  • Ranti melakukan perjanjian dengan iblis untuk kesembuhan Nina.
  • Keluarga mengalami serangkaian kejadian aneh dan kematian misterius.
  • Gita berusaha mengungkap kebenaran di balik perubahan Ranti dan menyelamatkan keluarganya.

Pembukaan

Bagian awal video menampilkan serangkaian suara dan musik yang menciptakan suasana misterius dan mencekam. Suara-suara ini berfungsi untuk membangun ketegangan dan memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi.

Berita Tragis

Sebuah berita pagi melaporkan tentang seorang wanita berinisial MT yang melakukan bunuh diri setelah membunuh ketiga anaknya. Berita ini memberikan konteks tentang tema utama video, yaitu tragedi keluarga dan tindakan ekstrem yang dilakukan oleh seorang ibu.

Kehidupan Sehari-hari dan Konflik Keluarga

Ranti, seorang wanita yang bekerja di pasar, terlibat dalam percakapan dengan tetangga dan rekan kerjanya. Terlihat bahwa Ranti memiliki hubungan yang kurang baik dengan iparnya, Siti, dan sering merasa terbebani dengan tugas-tugasnya. Suaminya, Bowo, bekerja sebagai pelaut dan sering meninggalkan rumah. Ibu mereka, Asih, seringkali bersikap keras dan menuntut.

Masalah Ekonomi dan Perjudian

Bayu, adik Bowo, diketahui sering berjudi sabung ayam. Istrinya, Gita, bekerja keras untuk mencari nafkah, namun Bayu tidak memberikan kontribusi yang berarti. Hal ini menyebabkan ketegangan dalam keluarga dan menambah beban Ranti.

Tanggung Jawab dan Tuntutan Keluarga

Asih, ibu Bowo dan Bayu, mengkritik Gita karena tidak menyiapkan sarapan. Asih menekankan pentingnya tugas seorang istri dan ibu untuk selalu mengurus suami dan rumah, meskipun sibuk bekerja. Hal ini menunjukkan adanya tekanan tradisional terhadap peran wanita dalam keluarga.

Kecelakaan Tragis

Nina, putri Ranti, mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke sekolah. Ranti merasa bersalah karena lebih memilih mengantar pesanan ayam daripada menjemput Nina. Nina mengalami luka parah dan harus dirawat di rumah sakit.

Keputusan Sulit dan Perjanjian dengan Iblis

Kondisi Nina semakin kritis dan membutuhkan biaya operasi yang besar. Ranti merasa putus asa karena tidak memiliki cukup uang dan Bowo tidak bisa dihubungi. Dalam keputusasaan, Ranti bertemu dengan seorang wanita misterius yang menawarkan bantuan dengan syarat yang mengerikan: perjanjian dengan iblis.

Ritual dan Konsekuensi

Ranti mengikuti ritual yang diperintahkan oleh wanita misterius tersebut. Setelah ritual, Nina secara ajaib sembuh. Namun, kesembuhan Nina membawa konsekuensi yang mengerikan: serangkaian kejadian aneh dan kematian misterius mulai menghantui keluarga tersebut.

Perubahan Perilaku dan Kecurigaan

Setelah Nina sembuh, Ranti mulai menunjukkan perilaku yang aneh. Dia sering menyendiri, berbicara sendiri, dan terlihat ketakutan. Gita mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Ranti dan berusaha mencari tahu kebenaran.

Kematian Misterius dan Teror

Siti, ipar Ranti, meninggal secara misterius. Sebelum kematiannya, Siti sempat merekam video Ranti yang menunjukkan perilaku anehnya. Bayu, suami Siti, juga meninggal secara tragis. Kejadian-kejadian ini semakin memperkuat kecurigaan Gita terhadap Ranti.

Pengungkapan Kebenaran

Gita menyadari bahwa Ranti telah melakukan perjanjian dengan iblis untuk menyembuhkan Nina. Iblis tersebut kini menyatu dengan Ranti dan membalas dendam kepada siapa pun yang menyakitinya. Gita berusaha menyelamatkan keluarganya dari teror iblis tersebut.

Konfrontasi dan Pengorbanan

Gita dan Bowo berusaha untuk membantu Ranti dan menghentikan teror iblis. Mereka menghadapi berbagai rintangan dan bahaya. Nina, yang menyadari bahwa dirinya adalah penyebab semua kejadian ini, menawarkan diri untuk kembali sakit agar ibunya bisa kembali seperti dulu.

Akhir yang Tragis

Dalam upaya terakhir untuk menyelamatkan keluarganya, Ranti berusaha mengakhiri perjanjian dengan iblis tersebut. Namun, iblis tersebut terlalu kuat dan Ranti harus membuat pengorbanan yang besar. Pada akhirnya, Ranti berhasil mengalahkan iblis tersebut, tetapi dengan harga yang sangat mahal. Nina kembali sakit dan kehilangan kemampuan untuk berjalan. Meskipun demikian, keluarga tersebut tetap bersatu dan saling mendukung.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:08 [Musik] Seik lagu [Musik] ngramyang eling awang-awang

0:57 [Musik] ing angin su milih kombakbul haune grend grekat jaring [Musik] rasa ragan nyurasa [Musik] komo titising

1:43 rasa muncrat datan kehendak ya

2:33 [Musik] FM Grand Rian inspiratif dan terpercaya. Berita pagi ini, wanita berinisial MT 30 tahun ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri. MT sebelumnya ditangkap polisi karena diduga menggorok leher ketiga anaknya. T 4 tahun, CT 2 tahun, dan GT valita yang berusia 6 bulan hingga tewas mengerikan.

3:26 I Mbak Mbak beli ayam potong dua ekor ya. Oh iya Bu. Dua ekor ya. Mm. Ini aja udah dua ekor langsung 80 ya. Kembalinya 20. Makasih ya. Makasih.

4:17 Asalamualaikum Pak Ranti. Waalaikumsalam Pak. Saya mau ambil pesanan yang kemarin. Oh, udah. Ah sebentar. Kamu lihat ada plastik di sini enggak yang pesanannya Pak Haji? Mana aku tahu Mbak Ranti yang ngurusin semua pesanan. Iya, tapi aku tadi naruh di sini yang ada tulisannya Pak Haji plastik warna merah. Enggak kamu kasih ke orang lain kan? Baranti langsung nuduh aku. Ya mana tahu itu ayamnya ke mana. Lagian enggak ngomong dulu ke aku. Ngomong titip kek apa kek. Haji. Tunggu sebentar

5:02 ya, Pak. Ayahnya kita mutilasi dulu. Soalnya kemarin pas mau dipotong dianya enggak mau. Mbak kita bisa aja. Iya iya iya. Saya tunggu. Mbak Siti sehat. Sehat, Pak. Nak. Sudah masuk berapa bulan ya sekarang? 7 bulan. Alhamdulillah. Hebat Mbak Siti. Bahkan sedang hamil pun masih tet rajin ke pasar. Keren. Mantu Ibu Dian. Yah. Mau gimana, Pak? Ih, kalau diam aja disangka mau enaknya tiduran aku bantu. Salah dikit aja. Wah,

5:48 dimusuhin aku. Ini tuh siapa yang musuhin ya, Ti? Kan lagi aku kerjain. Eh, tapi tetap aja nadamu tuh enggak ngenakin loh, Mbak. Enggak ngenak bagian mana, ya? Aku mana tahu ada ayam di situ. Sekarang gini deh, posisinya gantian. Enak enggak digituin, Mbak Gita? Pesan dari saya nih, kalau hidup dengan dua ipar jangan berat sebelah. Ya, sesekali emang biasa. Kadang-kadang mereka tidak akur, Pak Haji.

6:35 [Musik] Ah. Bapak nanti berangkat jam berapa? Nunggu Nina pulang sekolah enggak? Bukan, bukan Bapak yang ngatur jadwal kapalnya. Bapak pulangnya kapan? Bapak lu belum berangkat kok udah ditanya kapan pulang? Ya habis n kan sudah dia ditinggal sama bapak. Terus kan ada ibu ya, ada Eyang,

7:22 ada tante kita, Pak Lik, Bu Lik. Rame ya. Tapi kan enggak ada Bapak. [Musik] Istrimu itu loh subuh-subuh udah cari duit, Bay. Kamu baru bangun kan. Aku baru pulang tadi malam, Mas. Semalam ke mana? Kerja. Nyari ada duit lah. Kerja opo?

8:08 Adu ayam kan tahu, Mas. Ye. Aduh ayam kok dibilang kerja, Bay. Ini si Rocky itu investasi, Mas. Dia kalau menang bisa sampai R juta, Mas. Waktu itu kan aku pernah bawa. Enggak ngerti. Oh, Bayu. Ada apa sih ribut-ribut? Tahu, Bu. Mas Bowo belum ada sarapan. Teko, teko, T. Kotek anak ayam turun berkotek tek kotek kotek kotek anak ayam turun berkotek anak ayam turunlah enam pergi satu mati

8:57 Semua. Loh, kok mati semua sih, Eyang? Mati semua karena ibunya lupa menyiapkan sarapan. Bu, jangan bersuara. Ini udah dibeliin di pasar loh. Tadi tuh ramai banget. Kan enggak mungkin kita tinggalin. Maaf loh, Bu. Tapi kan aku enggak mungkin ya maksain bikin sarapan sebelum kerja kan lagi hamil, Bu. Lagian K pikir Mbak Ranti udah nyiapin sarapan.

9:45 Ibu mau sarapannya pakai apa? Tadi Ranti udah beli telur, tempe orek, capcay. Mau yang mana, Bu? Yang mana aja. Belinya di pasar. Rasanya pasti sama. Ya udah, Bu, kalau gitu mulai besok kita aja yang masak, ya. Ambil piring dulu. Ini bukan soal siapa yang masak, tapi persoalan tugasnya sebagai istri dan ibu. Iya, Bu. Kita ngerti. Tapi kan ini makanannya udah ada. Ya udah, kita makan aja, ya, Bu. Kamu tuh enggak ngerti, Kit. Kamu belum kawin. Nanti kalau kamu udah menikah baru kamu paham. Jangan sampai kamu seperti itu. Itu bukan ajaran ibu. Tugas

10:31 seorang istri adalah jangan sampai lupa ada suami dan rumah. Ya, Ibu, bagian kerjaan kita tuh udah terlalu banyak ya, Kit. Habis jualan ayam di pasar aja kita masih harus bikin ayam ungkep. Sesibuk-sibuk kalian, tapi tetap saja harus bisa mengatur waktu dan mengurus rumah. Hm. Muah. Cantik anak ibu. Belajar yang benar. Iya. Dah, Ibu. Dadah. Amit ya, Mbak. Hati-hati.

11:19 Anaknya mandiri ya, Bu. Walaupun cacat dari lahir. Kenapa kita yang ngantar Nina ke sekolah? Eh, aku soalnya harus antar Mas Bowo, Bu. Tapi nanti yang jemput ibunya kan. Gita lagi, Bu. Karena kan aku habis ngantar Mas Bowo, aku harus ngantar ayam ungkap ke pasar. Takutnya nanti aku lama, Ninanya nunggunya kelamaan juga, Bu. [Musik]

12:09 Bu, bawa berangkat ya, Bu. Bowo. Berapa lama kamu di sana? Kalau lancar paling sebulan. Hati-hati ya. Iya, buat Ibu Asih. Berangkat, Bu. Titip rumah, Pay. I sehat-sehat ya, eh, Mas. Iya, Mas. Segini aja, Mas. Siti kan mau lahiran. Ya, makasih Mas. Makasih, Mas. I sama-sama berangkat. Hati-hati, Mas. Hati sini biar tak bawa.

12:55 Tadi Bayu minjam setengahnya. Siti kan mau lahiran lagi. Enggak ada uang mereka ke siang. Tabunganmu masih ada kan? Masih. lumayanlah dari jualan ayam ungkap walaupun ibu kamu enggak pernah suka kalau aku jualan tambahan. Aku tuh kenapa ya? Selalu aja salah di mata ibu kamu, Mas. Maksud ibu enggak gitu mungkin ya? Enggak cuma ibu aja, Siti juga. Padahal aku udah berusaha banyak buat keluarga kamu, jualan juga. Tetap aja

13:41 harus beresin rumah dan tetap juga ada yang salah. Tapi giliran Bayu enggak ngapa-ngapain, enggak pernah tuh dimarahin sedikit pun. Terus kamu maunya apa? Mau pindah? Ya, aku enggak tahu, Mas. Kalau mau pindah juga mau ke mana. Loh, ya makanya justru aku lebih tenang kalau kamu sama Nina itu di rumah. Ada yang jaga Nina. Kalau kamu lagi di luar ada yang nengokin Nina itu loh. Ya, tapi kalau aku lagi disalahin sama keluarga kamu ya kamu bela aku lah, Mas. Enggak diam aja kayak tadi. Sakit loh, Mas. Dibilang ibu yang enggak bertanggung jawab. Udah, udah, udah. Yeah.

14:34 [Musik] ini Pak. Terima kasih barang. S [Musik] [Tepuk tangan]

15:43 [Musik] barunya nanti gimana ya? Ah, Ibu begini yang kamu bilang. jadi ibu yang baik. Maaf ya, maaf

16:34 mana? Mbakin aku, Mbak. Tinggal ditabrak. Aku yang telata, aku yang lalai. Maafin aku Mbak. Dok, bagaimana kondisi anak saya, Dok? Kondisi anak Ibu saat ini dalam fase kritis. Benturan yang dialaminya cukup berat. Kami akan melakukan tindakan operasi kraniotomi dan berusaha semaksimal mungkin. Dok, tolong Dok, tolong lakukan apapun untuk anak saya, Dok. Tolong selamatin anak saya, Dok. Saya harap Ibu bersabar, ya. Sabar ya Win. Mbak, Mbak, Mbak, Mbak Gina.

17:24 [Musik] Pastinya belum makan ya, Nduk? Ini

18:10 makanlah. Bayarnya belakangan gak apa-apa kalau sudah sembuh. Kalau sembuh loh ya pasti sembuh toh yo. Saya paham perasaanmu. Ndak mudah memang menunggu harapan baik di tempat ini. Tapi kamu harus yakin anakmu bakal sembuh. Ibu tahu dari mana kalau anak saya yang sakit? Saya bisa mendengar doa orang-orang di tempat ini.

18:58 Bercanda. Tapi sebagai ibu, kamu enggak boleh putus asa. Kasihan dong anakmu. Kamu harus percaya pasti akan ada jalan keluar. Tapi kata dokter kemungkinannya kecil loh. Bantuan itu kan enggak harus dari dokter aja toh, Nduk. Kalau ada jalan yang lain mau coba. itu kalau kamu percaya loh

19:52 [Musik] Mbak itu siapa, Mbak? [Musik] Loh Ti si Jita di mana? Masih di pasar. Boro-boro Mas. Aku di pasar sendirian tadi. Mana pesanan lagi banyak. Kita lagi nemenin Mbak Ranti ke rumah sakit. Katanya kondisi Nina semakin

20:37 kritis. Gusti Mbak Ranti itu udah salah, Bu. Coba aja kalau Mbak Ranti dengerin omongan Ibu. Ibu enggak habis pikir kenapa dia lebih milih ngantar pesanan daripada jemput anaknya ke sekolah? Kamu udah bisa ngubungin kakakmu? Ya enggak bisa loh, Bu. Kan di laut enggak ada sinyal, Bu. Iya kan kata dokter. Pindahkan operasi di kepala Nina harus segera dilakukan. Aku cuma punya uang R juta

21:23 ditambah dengan mobil kalau itu pun bisa dijual dengan cepat. Tapi biayanya sangat besar, Bu. Aku bingung. Sampai sekarang Mas Bowo pun belum bisa dihubungi. Tapi Ibu tidak punya tabungan. Ranti. Apa kita jual rumah aja, Bu? Kan kita masih bisa cari tempat yang lebih kecil. Jangan nggit. Kamu kira jual rumah gampang? Hah? Kamu aja yang pindah, Mbak. Maaf, Bu.

22:09 Tapi aku enggak terima. Ini mendesak, Mas. Kebutuhan kita bukan ini doang, Cak. Mikir pakai otak, Mbak. Maaf, aku ngerti situasi, Mbak. Tapi kebutuhan kita ada banyak. Ibu masih harus berobat setiap bulan. Siti masih harus lahiran. Sudah, sudah, sudah bisa tidak kita membicarakan ini secara pelan-pelan? Keputusan seperti ini enggak gampang. Kita tunggu jawaban Mas Bowo biar keputusan sama-sama. Tapi kan Mas Bowonya enggak bisa dihubungin, Bu. Kasihan nih, Nak. Kita tunggu Mas Bowo.

22:55 Anak saya mungkin enggak akan selamat kalau enggak segera ditindak. Tapi kata dokter, masih ada kemungkinan untuk Nina untuk Nina hidup. Ya, tapi kan kemungkinannya kecil, Mbak, cuma 10%. Meskipun kecil, tapi itu kemungkinan Nina hidup. Mbak Siti, nomor yang Anda tidak

23:48 maafin keluarga kami ya, Mbak. Aku juga enggak bisa bantu apa-apa. Semoga Mas Bowo bisa cepat baca pesan kita ya, Mbak.

24:46 [Musik]

25:34 Pas banget kamu datang malam ini. Selasa Kiwon malam anggoro kasih, malam penuh kasih sayang. Percaya sama saya. Begitu kamu melangsungkan perjanjian nikah, anakmu pasti sembuh. Segala sesuatu yang berhubungan denganmu akan menjadi tanggung jawabnya. dan hidupmu

26:22 akan jauh lebih mudah. H h [Musik]

27:57 [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] melu aku ratri hangkaroban ing kebetsih iki ratri hangkaroban Ing kebek seiki sun arso hanyumarakke

28:42 sunaro anyumarake ragansun sakuhi ring siringsun ring sir ingsun penganten Yo mingsun penganten niro

29:28 [Musik] Angenarpo [Musik] sik le laku atmo ngramyang [Musik] Eling hawang

30:15 [Musik] kiring angin sumilih ombakombok [Musik] Huning kredek krekat saringan rasa rah kang nyurasa

31:03 Kom dit sing rasa muncrat datan kehendahan [Musik] Setelah malam ini kamu tetap harus melakukan beberapa hal untuk mempertahankan kondisi anakmu. Kamu harus menyiapkan

31:51 kepala dan hati ayam pejantan seperti ini. tanam benda-benda ini di sekitar rumah setiap minggu sebagai bentuk persembahan bagi dia. Lakukan mulai malam ini. Halo John.

32:39 Rocky. Ti. H. Ti. Kamu lihat Rocky enggak? Aku cari Rocky kok enggak ketemu-ketemu ya? Aku tahu Ri di mana ayam-ayam kamu juga. Kamu yang tiap hari ngurusin Rocki. Bayu Siti. Iya Bu. Rocky kok malah ribut-ribut? Bukannya siap-siap pergi. Emang Ibu jadi mau ke rumah sakit? Iya dong. Ibu kan

33:26 belum nengok Nina. Nanti aja ya, Bu. Aku dari tadi pagi pusing, Bu. Aku mau bawa Rocky tanding tapi enggak ketemu di mana-mana, Bu. Bu, nanti aja ya kita ke rumah sakitnya. Lagian aku kan masih banyak kerjaan, terus semuanya juga aku yang ngurus. Kan di sana masih ada kita sama Mbak Ranti ya.

34:12 Eyang, Eyang, Nina udah sembuh. Eyang gak percaya nih. Tuh. Eyang, Eyang kaget aja. Nina udah sembuh, tapi Eang senang sekali. Kok bisa kakeknya ikutan sempuh? Kata ibu, ini namanya mukjizat bule. Gimana kalau kita makan-makan buat ngerayain kesembuhannya Nina ya? Ayo, Bu, Mas. Mbak, ayo, ayo, ayo, ayo. Ayo.

34:59 Oke. Ayo, Nina. Hari ini kamu bantuin tante di dapur. Ayo. Oke, Tante. Mana ada sih, Mas, tiba-tiba dapat mukjizat kayak gitu. Ini pasti Mbak Ranti main dukun. Enggak tahu juga sih, tapi bersyukur aja lah. Rumah enggak jadi dijual suka ya? Lapar. Yuk, meranti. Mbak,

35:53 Mbak kok gelap-gelapan sih? Tolong berhenti ngaget-ngagetin aja. Ini udah ditungguin loh buat potong tumpeng. Kita tunggu ya di meja makan. [Musik]

36:47 [Tepuk tangan] Kenapa sih, Mbak? Semuanya harus ditutup-tutupin kayak gini. Siang kau. Kenapa sih harus gelap-gelapan? Kan sumpek.

37:39 Baranti belum jemput. Nah, Ibu mana? Masih tidur. Tanya diam aja. Eh Hulai.

38:32 Kenapa? Yuk yuk. Anak ayam enam bagi satu tinggal lima anak ayam turunlah lima satu tiga empat tekeng

39:19 ayam turun berkoteng T tek tek koteng anak ayam turun koteng anak ayam turun tigeng koneng anak kite. Hm. Kamu enggak ngerasa aneh apa setelah Nina balik dari rumah sakit, Mbakmu itu loh sukanya gelap-gelapan. Heh, tadi siang

40:04 aku tuh sempat lihat Mbak Ranti. Mbak Ranti tuh ada dua, di dalam rumah sama di luar rumah bareng anaknya. Ya, mbaknya salah lihat kali. Karena bisa orang jadi dua. Ih, emang kamu enggak ngerasa curiga apa sama Mbak Ranti? Curiga apa sih, Mbak? Udah deh, langsung ngomong yang aneh-aneh. Tuh tuh. Ngapain coba malam-malam mandi? Ih, aneh. Aduh, Mbak. Masa orang mandi malam aja dijadiin masalah?

40:49 Udah deh, fokus sama ayamnya aja. [Musik]

41:48 Siti bikin yang minum dong. lapar ya. Makasih Ih,

42:34 [Musik] [Tepuk tangan] H

43:20 [Musik] H Ketahuan kan? Hm.

44:15 Cari tontonan menarik nih buat orang-orang pasar. Eh, Mbak Ranti habis mandi ya, Mbak? K betul. [Musik]

45:07 itu loh mandi malam-malam Haji Ji. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sanannya, Pak. Oh, iya. Terima kasih. Terima kasih. Orang-orang itu yang paling senang kalau sudah dapat bahan untuk diobrolin. Masa cuma karena mandi malam sambil ketawa-ketawa terus jadi sujan macam-macam.

45:53 [Musik] Baranti sakit apaan sih? [Musik] Iya, aku yang sebarin videonya. Kenapa? Hah? Mbak ngapain bawa pisau? Mau bunuh aku depan banyak orang. [Tertawa] Emang aneh tahu enggak? Baranti Mbak

46:41 ngaku ya ada yang Mbak sembunyiin kan. Aku mau ngerekam buat bukti aja kok biar semua orang lain itu percaya. Kalau Mbak Ranti itu aneh. Kamu keterlaluan perempuan enggak tahu diri kamu, Siti. [Musik] Jangan itu, Mbak Nanti. Sekarang mau apa? Mau bunuh aku. Berani, Mbak. Coba enggak berani. Beranti. Udah, Mbah. Mbak Mbak Udah, Mbak. Udah. Taruh pisunya, Mbak. Udah, udah, udah, udah, udah. Tenang, D, Mbak. [Musik]

48:18 Ti, ti bikin ini dong. Lapar.

49:12 Bak ranti apaan sih? Bikin kaget. Mbak, Mbak Mbak ngapain Mbak? [Tertawa]

50:01 Minya udah cabang [Musik] Mas Bayu, Mas. Mas bangun, Mas. Itu loh si Mbak Ranti.

51:02 [Tepuk tangan] Ah [Tepuk tangan] [Musik] Mbak Ranti bangun, Mbak. Pasar baru pulang, Mas. H. Mas, tolong bangunin Mbak Sitinya dong, biar enggak kesiangan ke pasar. I iya, iya.

51:50 Ti, bangun ti kerja ti si Ti. Kenapa sih, Mas? Loh, Mbak Siti ke mana? Tahu. Ah, tidur capek B. Kamu tahu Siti ke mana? Ke rumah keluarganya. Mungkin aja, Bu. Ngambek kali dia

52:38 gara-gara urusan video tuh sama Mbak Ranti kemarin. Seharusnya Mbak Ranti tah Bu nyari-nyari Siti. Ranti. Ada masalah apa kamu dengan Siti? Kata orang-orang di pasar kalian ribut. Malu kan? Mbak Siti yang bikin Baranti malu. Ya udah Bu, aku sama Baranti ke pasar dulu, ya. Sekalian ngantar ngina. Nanti sekalian kita cari Bas Citynya. Siapa tahu udah ke pasar duluan. Sudah, sudah. Tidak usah dibicarakan ke siapa-siapa kalau Siti hilang. Biar kita cari sendiri nanti jadi omongan.

53:24 Yuk. Siti, Siti Si aduh aduh aduh aduh aduh aduh ah.

54:13 Hah. Nina tunggu sebentar ya. Kita uman dulu. Iya Tante.

55:09 [Musik]

56:01 [Tepuk tangan] Nina mau ikut ibu mandi. Nina. [Tepuk tangan] Nina. Eh, Nina. Kamu kenapa, Nina? Malam ini boleh tidur sama tante Gita enggak? I ayo selesai. [Musik]

57:44 Kamu yang membuat dia mati. Sejak pernikahanmu, iblis itu menyatu denganmu, masuk ke rumahmu dan dia membelamu karena kamu adalah pengantin iblis. Setiap ada manusia yang menyakiti, iblis itu akan membela dan membalas. Bukankah suamimu juga akan melakukan hal yang sama saat kamu tersakiti?

58:32 Tapi saya enggak mau ada keluarga saya yang meninggal lagi, Bu. Saya tidak bisa bantu apapun lagi. Pernikahan itu seumur hidup ranti dan kamu sudah memilih melakukan perjanjian dengan dia. Aku [Musik]

59:17 kenapa ya? Selalu aja salah di mata ibu kamu Mas. Ya, tapi kalau aku lagi disalahin sama keluarga kamu, ya kamu bela aku lah, Mas. Enggak cuma diam aja kayak tadi. Enggak enak loh dibilang ibu yang enggak bertanggung jawab. H [Musik] ayam tarung tiga air ya. Bersih 3 menit. Ayam siap? Siap. Ayo, ayo, ayo, ayo.

1:00:02 [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan]

1:00:49 Sit siik Sit, sit, sit, dek. As masuk jancuk. Sit Siti [Musik] sit Siti sit

1:01:36 Siti Dik se si opo sih ayammu mati bay hancuk [Musik] H

1:02:29 [Musik] Siti Mana ibumu? Masti mas kenapa kamu bonus ini sama anakmu? Sudah mas lihat ini. Ini baju kamu kan? H ini baju kamu kan? Makan tu baju kamu. Kenapa kamu putus? Sudah masang dulu, Mas. Kenapa? Sudah. Sudah tenang dulu, Mas. Sudah, udah.

1:03:16 Ayo Mbak. Bye. Sebaiknya Siti dikubur di halaman belakang. supaya enggak ada yang tahu supaya enggak ada yang tahu. Ibu tega bukan begitu. Kamu tidak ingin kan Siti jadi omongan tetangga? Biar kejadian ini menjadi milik keluarga kita.

1:04:23 Emang bener ibu yang bikin bule meninggal? Kok ibu tega? Ibu Ibu Mbak, Mbak tenang aja. Aku yang ngurusin ya, Mbak. Nina. [Musik] Ranti Ranti

1:05:11 Ranti, Ranti. Eh [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Huh huh.

1:05:59 K. Ruh.

1:06:51 [Tepuk tangan] Ah. Ah.

1:07:41 Mbak Ranti, Mbak. Eh, Mbak, ada apa, Mbak? Kenapa, Mbak? Berhenti. Peranti ada apa, Mbak? Kenapa Mas Bayu bisa mati, Mbak? Mbak Ranti, Mbak. Mbak buka pintunya, Mbak. Kenapa, Mbak? Ada di sana. Kenapa Mas Bayu bisa mati, Mbak? Jawab Mbak. Apa yang Mbak sembunyiin dari aku? Zatin ke aku kalau bukan Mbak yang bikin mereka mati.

1:08:30 Mbak, kenapa mbak? Ak cuka di antara mereka semua cuma kamu git cuma kamu yang paling sayang di keluarga ini. Syukur tolong jangan buat Mbak marahin. Allah

1:09:26 [Musik] begitup Oh, jangan bikin marah. Hari ini kamu tidak usah ke pasar dulu, Nina juga tidak usah sekolah dulu. Kita tidak tahu apa yang terjadi, apa semua ada hubungannya dengan Ranti. Ibu yakin

1:10:13 kamu coba minta tolong sama Pak Haji? Mungkin lusa kakakmu datang. Kita tunggu saja si Bowo. Bu, kita butuh cari bantuan. Tapi kalau sampai orang lain tahu bagaimana? Ibu masih mikirin kata-kata orang. Kita tinggal berempat, Bu. Nanti kalau di antara kita ada yang kenapa-napa gimana?

1:11:01 [Musik]

1:11:50 Nina sini. Jangan di sana. Ah. [Musik] Mbak Ranti. Waalaikumsalam. Tumben Pak. ke sini.

1:12:36 Silakan masuk. Bagita, tolong disiapkan air putih. Iya. Istri saya itu nanyain terus pengin pesan ayam. Kata Mbak Gita, Mbak Ranti sedang tidak enak badan. Iya. Sakit kepala. Boleh saya bacain doa? Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahir

1:13:26 dajal. Allahum akin ya Allah. [Musik] Semoga Mbak Ranti cepat sembuh kembali bekerja. Jangan lupa salat minta perlindungan dari Allah. Ya, Pak Haji juga jangan lupa minta perlindungannya.

1:14:17 Bismillahirrahmanirrahim. Amin. Amin. Allahu Akbar. Astagfirullah. Yah. Nanti kalau enggak tenang, kalian semua berdoa saja. Semua bisa kita atasi dengan kekuatan doa kita.

1:15:03 Saya pamit dulu. Asalamualaikum. Waalaikumsalam, Pak Haji. Jangan ikut campur. Kenapa Git? Enggak apa-apa, Bu. [Musik]

1:16:05 Pakajikan bilang enggak kenapa-napa, Bu. Pimarantinya makin aneh, Mas. Aku ngelihat sendiri ada Baranti pas Mas Bayu meninggal. Pas Siti suka ngomong Baranti itu aneh, suka ketawa-ketawa sendiri. Terus Mbak Sitinya mati, mayatnya juga enggak wajar. Ini kamu nuduh mbakmu. Enggak mungkin Ranti tega. Jangan sembarangan nuduh, Git. Pak, ibu emang berubah. Nina takut sama ibu. Semenjak Nina sembuh, Nina juga ngerasa ibu aneh.

1:16:52 Apa gara-gara Nina? Enggak, enggak, Nina. Enggak salah, ya. ini akuran Bukan. Aku enggak akan tanya apapun. Kita bicara ya.

1:17:44 [Musik] Kamu enggak boleh masuk. Betul kan, Wo? Ranti aneh. Masa suaminya sendiri tidak boleh masuk kamar. Ibu cuman khawatir keluarga kita kenapa-napa. Ibu lihat kondisi Ranti enggak?

1:18:32 Justru Bowo khawatir kalau Ranti yang kenapa-napa. Udahlah, Bu. Biar nanti Bowok yang pikirin gimana caranya. [Musik]

1:19:17 Ah. R nanti

1:20:06 [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]

1:21:15 Kok lampunya enggak nyala, Yang? Ini kasih ke ibumu.

1:22:01 Nina nina Bong Nina malah mau bukain bapak jahat masuk ibu kan sayang sama ibu

1:22:51 ina sayang sama ibu Ibu kenapa kayak gini, N? Kangen Ibu yang dulu. Jangan nangis, anak cantik enggak boleh nangis. [Tepuk tangan] Ini kan masih ibu. Bukain ya sayang. Tolong bukain ya. Tolong, tolong tolong.

1:23:52 Ibu sini Nina. [Musik] Harusnya ibu yang diikat. Nina emang sayang sama Eyang. Eyang kan selalu jahat sama ibu. Nina tutup pintu. Nina tutup. Waktu di rumah sakit aku ingat Mbak Ranti pernah ngomong sama ibu-ibu di sana. Mas tukang jual nasi. Aku enggak ngenalin siapa. Apa mungkin ada hubungannya ya? Kita coba cari ibu itu, Mas. mungkin dia tahu sesuatu.

1:24:38 [Musik] H [Musik] di sini

1:25:24 attack anak ayam turu berte Anak yang tinggal lah. Tinggal berapa ya yang belum mati? Kok ibu enggak makan? Enggak ada empinya. Hm. Kan Nina tahu Ibu suka kemping. Nina ambilin Bu.

1:26:13 Aman. Air tinggal empat wala mati. semua kita semua. Iya, Bu. Ini listrik di rumah dari pagi belum nyala. Cepat pulang. Oh, iya. Ibu dan Nina khawatir sama Ranti.

1:27:00 Ibu El Eyang nya [Musik]

1:27:55 Ibu kenapa? [Musik] Ibu ibu Nina Nina kamu pergi ke belakang cari Nina. Ibu ibu ibu Nina Nina Nina. [Tepuk tangan] [Musik]

1:29:05 Mbak mbak mbak mbak [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan]

1:29:51 [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Nina di mana nak? Nina.

1:30:40 Di mana, Nak? [Musik]

1:31:43 Sadar Pak. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] bukan istrimu lagi. Mut

1:32:51 Bapak Pak Bapak [Musik] tidak benci sama ibu. Lihat anakmu, Mbak. Ibu enggak sayang sama Nina. Ibu enggak sayang sama kita semua. Ibu jahat. Nina mau ibu yang dulu anak

1:33:41 sadar Mbak Nina lebih baik sakit lagi dan gak punya kaki. Ambil aja kaki Nina. Nenek mau ibu yang dulu. Anak ayam turun ibu anak turun Nina. Mohon ibu kembali. Ina enggak mau ibu kayak gini. Nina sayang sama ibu.

1:34:27 Nina gak mau lihat ibu kayak gini. Nina mau ibu yang dulu yang sayang sama kita semua. Nina enggak mau hidup tanpa ibu. Nina pengin terus sama ibu. Maafin Nina, Bu. Nina rela sakit lagi dan gak bisa jalan sama ibu kembali.

1:35:27 Bawa pergi Nina enggak di sini. Enggak enggak enggak, Mbak enggak selamat. Enggak mau selamatin enggak enggak mau. Enggak mau. Bisa enggak? Bisa mah enggak bisa enggak bisa enggak bisa, Mbak. Enggak mau, Mbak. Mohon sama kamu. Enggak, enggak, enggak mau. Enggak ningalin, enggak mau. Enggak, enggak, enggak enggak enggak. [Musik]

1:36:19 Jangan jangan. [Musik] Jangan nangis Mina. Ibu sayang Manina.

1:37:06 Maafin ibu ya sayang. Mbak jangan mbak maafin mbak rantingin mbak. Jangan mbak ibu ibu dia lari dia lari. [Tepuk tangan] [Musik]

1:37:53 Hei [Musik]

1:38:44 Tante Gita. Nina. Nina, kamu kenapa? Heh, kamu kenapa? Kaki Nina enggak bisa gerak.

1:39:51 [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube