GJ 148 | APA SALAH SAYA PA PRABOWO? SAMPAI HARUS DIPERLAKUKAN BEGINI

Ringkasan Singkat

Video ini adalah kritik terbuka dari Guru Gembul kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai berbagai kebijakan dan tindakan yang dianggap merugikan rakyat Indonesia. Beberapa poin utama yang disoroti:

  • Ekonomi yang memburuk dan maraknya korupsi.
  • Kebijakan yang mengutamakan kepentingan kekuasaan daripada kesejahteraan rakyat.
  • Kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap salah sasaran.
  • Penyalahgunaan kekuasaan dan masuknya militer ke ranah sipil.
  • Keputusan kontroversial seperti bergabung dengan Board of Peace.

Pembukaan

Guru Gembul menyampaikan keluh kesahnya kepada Prabowo Subianto sebagai presiden, mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang dianggap merusak harapan dan cita-cita rakyat Indonesia. Ia menyoroti kondisi ekonomi yang tidak membaik, maraknya berita buruk tentang pemerintahan yang bobrok, kejahatan, mafia, dan korupsi. Selain itu, banyak PHK, kesulitan mencari pekerjaan, kriminalisasi, penangkapan aktivis, persekusi, dan ancaman. Kerusakan alam Indonesia juga disinggung, seperti penebangan pohon dan penghancuran hutan demi kepentingan elit.

Kritik Terhadap Gaya Kepemimpinan Prabowo

Guru Gembul mengkritik Prabowo yang dianggap berkuasa lewat cara yang melanggar konstitusi dan menghalalkan segala cara. Ia menilai bahwa korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini dilakukan secara terang-terangan. Tindakan ini dianggap memberikan contoh buruk dan membuat kejahatan, korupsi, dan rekayasa hukum menjadi hal yang lumrah. Prabowo dinilai lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada memikirkan rakyat, dan retorika tentang rakyat hanya ada dalam pidato.

Koalisi Besar dan Pembagian Jabatan

Setelah menjabat, Prabowo mengumpulkan semua partai politik dalam satu koalisi besar, merangkul oposisi dan kritikus, serta memberikan jatah jabatan kepada orang-orang dari berbagai partai politik. Hal ini membuat birokrasi menjadi gemuk karena dipenuhi oleh orang-orang yang tidak berkompeten, namun diberi jabatan demi melanggengkan kekuasaan Prabowo. Jabatan menteri, wakil menteri, dirjen, dan komisaris dibagi-bagi, yang dinilai bertentangan dengan kepentingan rakyat.

Militerisasi dan Wewenang Tentara

Guru Gembul mengkritik pemberian wewenang, status, dan jabatan kepada tentara di luar fungsinya, seperti penempatan tentara di Danantara, MBG, dan Koperasi Merah Putih. Ia mempertanyakan apakah ini adalah neo Orde Baru atau militerisasi, di mana militer berjuang untuk kepentingan pemerintah daripada pertahanan nasional dan rakyat Indonesia. Ia juga menyoroti dugaan bahwa media-media sekarang disetir oleh tentara.

Harapan kepada DPR dan Kritik yang Tidak Didengar

Guru Gembul berharap DPR memanggil Prabowo untuk berdiskusi, meskipun DPR juga dianggap sebagai anak buahnya. Ia meminta agar Prabowo tidak terlalu terang-terangan menjadi diktator dan otoriter, serta melibatkan DPR dalam pengambilan keputusan. Ia menilai masalah di Indonesia semakin kritis sejak Prabowo berkuasa, dan sedikit sekali cerita positif yang didengar selain dari pemerintah. Ia juga mengkritik laporan-laporan yang diterima Prabowo yang tidak sesuai dengan kenyataan yang dirasakan rakyat.

Kritik Terhadap Kebijakan Sawit dan MBG

Guru Gembul mengkritik kebijakan sawit Prabowo yang dianggap menyamakan sawit dengan hutan, padahal sawit merusak tanah, ekosistem, sumber daya air, dan atmosfer, serta hanya menguntungkan segelintir elit. Ia juga mengkritik program MBG yang dianggap salah sasaran, karena jatah untuk fakir miskin, pendidikan, dan kesehatan diambil untuk diberikan kepada 90% orang yang mampu, termasuk anak-anak anggota DPR dan orang-orang kaya. Daerah-daerah juga terkena efisiensi dan menaikkan pajak, sehingga rakyat semakin menderita.

Kekuasaan Prabowo dan Harapan Akan Amanah

Guru Gembul mengakui bahwa Prabowo memiliki kekuasaan yang sangat besar, dengan DPR, partai-partai, dan tentara yang tunduk padanya. Ia berharap Prabowo menggunakan kekuasaannya untuk memberantas mafia dan koruptor, bukan malah menyengsarakan rakyat. Ia juga mengingatkan Prabowo untuk amanah dan tidak melakukan blunder seperti kasus Board of Peace, di mana Indonesia bergabung dengan negara-negara yang suka bikin onar dan anti perdamaian, serta menyetor 17 triliun rupiah tanpa hasil yang jelas.

Kesimpulan

Guru Gembul berharap Prabowo menggunakan kekuasaannya untuk memberantas mafia dan koruptor, bukan malah menyengsarakan rakyat. Ia mengakhiri video dengan salam dan harapan agar kritiknya didengar.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Assalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Pak Prabowo Subianto, saya ingin menyampaikan keluh kesah kepada Bapak sebagai presiden di Indonesia. Entah ini didengar atau tidak. Tetapi saya ingin mengajukan pertanyaan simpel di awal. Apa salah kami rakyat Indonesia sampai Pak Prabo itu tega untuk melakukan hal-hal keji kepada kami sampai bikin kebijakan-kebijakan yang merusak harapan-harapan dan cita-cita kami? Jadi, Pak Prabowo Subianto, sejak Bapak berkuasa itu ekonomi Indonesia itu tidak membaik, bahkan cenderung memburuk. Kemudian berita-berita juga menjadi semakin rusak. Informasi-informasi yang beredar itu adalah informasi-informasi yang buruk terkait dengan pemerintahan yang bobrok, terkait dengan kejahatan, terkait dengan mafia, terkait dengan korupsi yang merajal lela. Dan di sisi

0:46 itu kami juga melihat teman-teman kami di PHK dan susah dapat lapangan pekerjaan. Dan kemudian kami juga melihat banyak di antara teman-teman kami yang jadi korban kriminalisasi dan lain sebagainya gitu. Ada aktivis-aktivis yang ditangkap, ada aktivis yang dipersekusi, ada yang diancam dan itu semua dibalut dengan cerita tentang alam Indonesia yang semakin lama semakin rusak. Bahwa pohon-pohon ditebang, hutan-hutan dihancurkan demi sawit, demi segelintir elit yang dapat kekuasaan. Kok kenapa, Pak Prabu? Apa salah kami sampai kami tuh harus dapat musibah sebesar itu, Pak Prabowo? Kan Bapak itu jadi presiden itu lewat jalur labrak konstitusi. Bapak tuh sebenarnya jadi presiden itu karena

1:33 menghalalkan segala cara. Dan itu tuh diperlihatkan secara terang benderang. Jadi maksudnya sebelum Bapak tuh korupsi tuh sembunyi-sembunyi. Sebelum Bapak tuh penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan itu sembunyi-sembunyi, tidak diketahui oleh publik dan ditutup-tutupi. Nah, ini mah dibuka terang-terangan gitu. Diperlihatkan kepada orang dan ya secara terbuka diakui bahwa ya memang seperti ini kalian semua jadi jangan jadi kayak anak kecil ya kalau mau pilih aja ya. Kan Bapak tuh jadi ketika melakukan sesuatu yang tidak baik itu terang-terangan dan itu bisa aja kan akhirnya membuat orang-orang berpikir bahwa ya memang kejahatan di Indonesia, korupsi di Indonesia, penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia dan e rekayasa

2:19 hukum di Indonesia itu semuanya adalah hal yang lumrah, hal yang biasa-biasa aja. Enggak usah ditutup-tutupi lagi, enggak usah malu orang presidennya sendiri melakukan hal yang seperti itu, gitu. Iya kan? Kan? Jadi, Bapak tuh memberi contoh kepada orang bahwa untuk melabrak konstitusi itu terang-terangan juga enggak jadi masalah gitu. Dan itu tuh enggak selesai di situ saja. Setelah Pak Prabowo itu jadi presiden, Bapak tuh lebih banyak sibuk untuk mempertahankan kekuasaan daripada berpikir tentang rakyat. Berpikir tentang rakyatnya itu hanya retorika aja dalam berbagai pidato, tetapi dalam tindakan, dalam kebijakan-kebijakan itu semuanya benar-benar menyesuaikan dengan kepentingan-kepentingan kekuasaan. Misalkan Pak Prabo setelah menjabat sebagai presiden langsung mengumpulkan semua partai-partai politik dalam satu

3:06 koalisi besar. Yang dulunya oposisi dirangkul, yang dulunya kritikus dirangkul semuanya. Jadi semuanya adalah anak buah bapak. Dan setelah itu apa? orang-orang yang di dari berbagai partai politik dan kepentingan itu dikasih jatah satu-satu sedemikian sehingga birokrasi di Indonesia itu jadi gemuk luar biasa karena dipenuhi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak berkompeten tapi dikasih jabatan demi memberikan keleluasaan Bapak memiliki kekuasaan kan gitu. Nah, dikasih menteri, dikasih wakil menteri, dikasih Dirjen ini dan sebagainya sampai-sampai kementerian kita juga akhirnya jadi gemuk. Kemudian jabatan sebagai komisaris dibagi-bagi. Kemudian jabatan fungsional juga

3:51 dibagi-bagi. Semuanya yang seperti itu. Ya kan? Katanya demi rakyat, Pak. Tapi kena kenapa demi kekuasaan, demi tidak ada oposisi, demi tidak ada yang mengkritisi, semuanya tuh dibagi-bagi aja semuanya ke sana gitu ya. Dan dan bukan hanya itu, untuk bisa membentengi kekuasaan Bapak juga Pak Prabu Subianto itu tentara itu dikasih wewenang, dikasih status, dikasih jabatan di luar fungsinya. Coba bayangkan danantara dikasihin ke tentara, MBG dikasihin ke tentara, Koperasi Merah Putih dikasih ke tentara, bikin langsung undang-undangnya di mana tentara bisa masuk ke ranah-ranah sipil. semuanya aja dikasih ke tentara dan bahkan konon katanya

4:38 media-media juga sekarang disetir sama tentara. Jadi, udah mah jabatan-jabatan publik diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, kemudian tentara juga dimasukkan ke dalam wilayah-wilayah ee sipil gitu. Apakah ini tuh sebenarnya neo Orde Baru gitu atau lebih buruk daripada itu? Apakah ini militerasi? Di mana militer Indonesia sekarang bukan berjuang untuk pertahanan nasional, bukan berjuang untuk mempertahkan rakyat Indonesia, tapi berjuang untuk kepentingan-kepentingan pemerintah di bawah pemerintahan Bapak. Apakah seperti itu? Bukankah di Indonesia itu banyak wilayah-wilayah yang rawan? Bukankah di Indonesia itu banyak sekali masalah-masalah yang harus diselesaikan oleh tentara? Tapi kenapa tentara justru malah masuk ngurusin MBG? Tentara masuk urusan Danantara. Kenapa seperti itu,

5:25 Pak? Saya tuh gemes ngelihatnya itu, Pak. Jadi, saya saya mohon maaf ya. Tapi saya juga saking Bapak itu sekarang berkuasanya tuh penuh gitu, saya tuh melihat Bapak tuh enggak pernah ngobrol sama DPR gitu. Ee ngomongin board of peace, ngomongin apa juga enggak pernah. Makanya saya tuh berharap kalau Bapak benar-benar antik kritik, kalau Bapak benar-benar ee tidak menerima saran, kalau benar-benar kata-kata semacam ini juga tidak didengar sama Bapak karena mungkin disaring sama Pak Tedy. Kalau memang seperti itu ya saya mah berharap kepada siapapun pejabat yang ada di sini khususnya DPR panggil Pak Prabowo. Panggil. Jadi ya saya berharap Pak Prabowo itu segera dipanggil oleh DPR untuk ngobrol ya. Walaupun DPR-nya juga sebenarnya anak buahnya dia semuanya

6:11 juga, tapi setidaknya jangan terlalu terang-terangan gitu loh, Pak. Jangan terlalu terang-terangan untuk menjadi diktator dan otoriter gitu. Jadi libatkan DPR, ngobrol banyak terkait dengan begini dan begitu gitu. Karena masalah di Indonesia itu semakin ke sini tuh semakin kritis. Sejak Bapak berkuasa tuh kita tuh semakin sedikit mendapatkan cerita-cerita positif selain dari Bapak sendiri yang sukan dari pemerintah halu gitu. soal MBG katanya menjadi eh percontohan negara-negara yang lain, katanya lebih baik daripada Eropa, katanya lebih baik dari Jepang dan sebagainya. Saya enggak tahu itu laporannya siapa. Tadi Bapak, Bapak dapat laporan tuh yang seperti itu, tapi yang kami rasakan tuh sama sekali tidak seperti itu. Makanya ngobrol, Pak. Kalaupun tidak dengan kami, kalaupun tidak ya ya setidaknya dengan DPR dan

6:56 kalau bapaknya enggak mau ngobrol ya DPR-nya yang manggil, gitu. Makanya saya berharap Bapak tuh segera dipanggil sama DPR gitu ya untuk membicarakan hal-hal yang seperti ini. Karena semakin Bapak itu antikritik, semakin Bapak itu tidak bisa disentuh sama saran dan sebagainya, semakin jauh Bapak itu dari kebijaksanaan dan kita bisa melihat itu, bisa mengetahui itu. Kebijakan-kebijakan yang Bapak keluarkan itu banyak yang ngacau. Saya mohon maaf ya, dalam perspektif saya itu dalam ee paradigma saya itu, itu tuh ngacau. misalkan sawit gitu. Kami tuh enggak anti sawit, kami itu enggak anti sawit. Kami itu enggak anti tambang. Kami itu anti terhadap sawit yang berlebihan, tambang yang berlebihan. Tapi kita mulai dulu dari sawit. Bapak itu sampai demi kebijakan Bapak, demi bisnis Bapak mungkin itu

7:43 sampai menyamakan sawit dengan pohon dengan hutan dalam tanda kutip. Saya ingin menjelaskan perbedaannya, Pak. Jadi gini ya. Sawit itu merusak tanah, merusak ekosistem, merusak sumber daya air, merusak atmosfer dan lain sebagainya. Tapi untuk mendukung dan memberikan keuntungan kepada sekelompok elit pemilik dari kebun sawit itu. Benar kan? Jadi semuanya dirusak, ekonomi masyarakat dirusak, air dirusak, ekosistem dirusak. Keuntungannya buat siapa? buat elit tertentu saja yang menguasai kebun sawit. Bapak mungkin salah satu di antaranya. Sedangkan kalau hutan itu, hutan itu

8:28 udaranya buat makhluk hidup semuanya. Mau manusia, mau kodok, mau ikan itu dikasih. Hutan itu menjaga kelestarian air dan itu tuh untuk semuanya. Hutan itu memberikan kepada kita kebaikan, perlindungan dari perubahan iklim, dari perubahan cuaca. Hutan itu memberikan kepada kita rumah bagi hewan-hewan, bagi habitat yang layak dan sebagainya. Nah, sekarang bandingkan sawit yang Bapak punya itu, itu merusak semuanya, tapi hanya memberikan keuntungan untuk elit. Sedangkan hutan itu memberikan keuntungan untuk semua lapisan masyarakat, semua manusia dan semua makhluk hidup yang lain. Nah,

9:13 sekarang sama Bapak disamakan kemudian si hutan itu digundulin diubah jadi sawit. Yang menguntungkan segelintir orang tapi menyengsarakan lebih banyak orang. Nah, kalau kita kritik itu, Pak, tolong didengarkan. Bapak, Ibu selama ini mendapatkan berita-berita tentang sawit itu bahwa sawit itu bagus, bahwa sawit itu apa gitu. Enggak mau dengar banget dari kita tuh. Jadi, jadi kitanya yang stres gitu karena berusaha untuk memberikan masukan kepada Bapak, tapi sama sekali enggak enggak enggak sampai gitu. Itu itu masalah sawit. Kemudian masalah MBG itu demi kekuasaan Bapak, MBG itu di MBG itu kan sebenarnya adalah jatah fakir miskin, jatah pendidikan, jatah kesehatan. itu semuanya diambil sekian triliun, dimasukkan ke dalam makan bergizi gratis yang diserahkan

10:00 kepada 90% orang yang mampu. Anggota DPR yang anak-anaknya bersekolah itu dapat MBG. Orang-orang yang paling kaya di Indonesia yang tinggalnya di PIK bahkan yang sembilan naga itu kalau anaknya bersekolah mereka tuh punya jatah MBG. Kemudian Pak Presiden sendiri menteri-menterinya jajarannya orang-orang paling kaya dan berkuasa di Indonesia. Kalau anak-anaknya bersekolah punya jatah MBG. Jadi 90% diberikan kepada orang yang mampu. Padahal MBG itu sebenarnya adalah jatah untuk fakir miskin, jatah untuk kesehatan orang yang tidak mampu dan sebagainya. Bahkan gara-gara MBG itu daerah-daerah kena efisiensi diambil uangnya. Sehingga apa? Daerah-daerah itu menaikkan pajak sampai

10:48 ratusan persen. Akhirnya apa? rakyat menjerit kena pajak terlilit sama yang seperti itu gara-gara daerah kekurangan dana. Dan daerah kekurangan dana gara-gara MBG, pendidikan dikorbankan, kesehatan dikorbankan, kesejahteraan rakyat dikorbankan demi MBG. MBG-nya buat apa? Untuk segelintir orang-orang yang super berkuasa. Coba lihat orang-orang yang ngurus MBG dari elit-elitnya itu siapa? Teman-teman, Pak Prabu semua. tentara, polisi dan sebagainya jenderal-jenderal purnawirawan yang seperti itu dan demi untuk memberikan pasukan-masukan kepada mereka itu. Mau libur panjang tetap dikasih MBG, mau puasa tetap dikasih MBG, ada lebaran tetap dikasih MBG.

11:34 Semua aja dikasihkan gitu. Hanya agar si uangnya itu ngalir terus ke situ gitu. Padahal coba pemilik dapurnya itu siapa? Orang-orang kaya juga. Bapak kemarin bilang bahwa MBG itu memberikan ee 1 juta lapangan pekerjaan baru, 1 juta lapangan untuk orang-orang yang sudah kaya dan berkuasa gitu ya. Silakan aja cek siapa yang punya dapur-dapur itu. Emang orang-orang fakir miskin, orang-orang yang tukang jualan balon di depan itu, itu bisa bikin dapur MBG gitu kan enggak bisa. Itu hanya untuk orang-orang kaya saja. Dan itu dan dan itu bikin guru-guru kita tuh dikorbankan. Saya tuh punya banyak teman-teman guru tuh yang dikorbankan gara-gara MBG itu ngurus-ngurus MBG apa segala rupa. Di

12:19 kelas juga akhirnya ngajarnya enggak benar. Ditambah lagi kecemburuan karena MBG-nya langsung dapat jatah PNS. Sedangkan guru-guru yang sudah mengorbankan waktu dan tenaga selama belasan tahun, selama puluhan tahun, hanya sekedar untuk dapat sertifikasi, hanya sekedar untuk dapat ee kepastian status, itu enggak dapat kalah sama ini. Nah, itu tuh kan harus dikritik, Pak. Jadi, Bapak tuh sekarang tuh kan udah sangat berkuasa. Udah sangat berkuasa. Di tangan Bapak tuh, di tangan Bapak tuh itu punya buku kematian, punya Dead Note gitu kan. DPR udah Bapak miliki, partai-partai udah tunduk patuh sama Bapak, tentara juga semuanya ada di bawah Bapak gitu kan. Semuanya di bawah Pak Prabu semuanya semuanya. Nah, karena

13:05 itu Bapak tuh punya jatah buku kematian. Jadi Bapak bisa nulis siapa aja di situ koruptor ini mati mati ini mati mati bisa. Kalau mau tuh bisa tapi kok enggak gitu. Dengan kekuasaan yang seluas itu dengan kehebatan Bapak untuk antikritik dan sebagainya kok bisa gitu kok bisa enggak itu kasihin aja ke dan sebagainya gitu. Ya, sekali lagi, Pak. Bapak tuh sudah punya kekuasaan sebegitu besarnya ya. Tapi tolong ya amanah gitu. Jangan blunder kayak kemarin of peace. Bapak katanya mengakunya demi kampanye, demi mengamankan suara dari orang-orang ormas-ormas Islam sampai Bapak tuh mau memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kemudian gabung ke musuh-musuhnya Palestina. Dihancurkanlah Palestina, dihancurkanlah Iran dan sebagainya. Jadi

13:52 negara-negara yang gengsternya, negara-negara yang suka bikin onar, suka bikin perang, yang anti perdamaian, itu Bapak masa malah gabung ke situ gitu. Kemudian minta-minta, "Udah perdamaian kasihin ke saya, udah perdamaian itu kasih ke saya." Enggak akan dapat, Pak. Atau Bapak berpikir bahwa itu teh demi tarif ee perang tarif gitu agar kita tidak kena tarif yang gede. Akhirnya kena juga, Pak. Jadi, jadi buat apa buat office masuk ke situ teh apa gitu. Dan sekarang baru kepikiran, oh jangan-jangan kita memang harus keluar. Baru kepikiran kayak gitu gitu ya. Setelah kita setor 17 triliun rupiah. Kenapa baru kepikiran? Ya karena enggak ngobrol. Bapak waktu masuk ke Board of Peace itu ngobrol enggak sama DPR? Enggak kan? Ya

14:37 enggak. Emang enggak karena merasanya ya semuanya udah jadi ini saya gitu ya. Makanya DPR panggil panggil Pak Prabowo. Dia tuh sudah punya dead note. Dia tuh sudah punya segala kekuasaan. dia sudah punya instrumen untuk mengendalikan semua pihak. Coba kalau misalkan kekuatan yang sebesar itu digunakan untuk memberantas mafia dan koruptor, alih-alih justru malah digunakan untuk menyengsarakan rakyat. Didengar enggak, ya? Terima kasih karena sudah menyimak. Saya Guru Gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube