0:00 Izinkan saya untuk ee share screen ini dan mungkin sedikit agak lebih mundur dari sekedar UKMPPG. Sebab saya yakin UKMPPG ini niatannya hanya satu, bagaimana melakukan perubahan yang fundamental pada proses pembelajaran di kelas. Karena itu, Bapak dan Ibu, izinkan saya sejenak untuk ini. Jadi, arsitektur dan konstruksi cara bernalar kita pada pagi ini adalah kira-kira begini. Inilah potret kita di Indonesia yang kelak sebenarnya sekolah yang bisa mengatasi ini musuh abadi kita itu adalah kemiskinan, kebodohan. Artinya tidak literate maksudnya ya. Sebab tak ada manusia yang bodoh pada dasarnya,
0:45 tapi tidak literate. Keadilan dan keterbelakangan, ketertinggalan, peradaban itulah musuh abadi kita. Bapak dan Ibu jangan tersinggung dan jangan marah kalau musuh abadi ini dikaitkan dengan suasana kelas. Jadi kita memang harus berterima bahwa kebodohan, ketidakliteratean, kemiskinan, keadilan, ketertinggalan, peradaban bermula dari ruang kelas. Itu kata siapa? Bukan kata saya. itu kata Kennedy. Nah, jadi kita tidak boleh marah kalau dikait-kaitkan soal kemiskinan ini dengan ruang kelas kita. Walaupun penyebabnya bukan hanya ruang kelas kita, banyak faktor lain. Tapi tidak usahlah kita urusi faktor lain. Sebab kita bukan politisi. Kita sejatinya adalah guru. Kalau sejatinya guru, mau roboh langit, hari ini kita
1:32 harus mengajar dengan baik. Enggak ada urusannya dengan yang lain. Jadi, kita benahi aja dulu ruang kelas biar yang lain ngurusin soal politik, soal politik anggaran, politik pendidikan, konsistensi kebijakan, kontinuitas kebijakan, biar diurusi orang lain aja. Itu kita urus dulu soal ruang kelas kita ini. Nah, karena itu kenapa paradigma pembangunan negara membangun bangsa itu dimulai dari membangun cara berpikir. Saya berani mengatakan pada pagi hari ini, barang siapa bangsa yang membangun bangsanya dengan pendekatan ekonomi pasti gagal. Tapi kalau dibangun dengan membangun cara berpikir, ada kemungkinan berhasil. Itulah yang kita singgung-singgung dengan HOTS. Maka tidak salah orang ketika mengaitkan kemiskinan, ketertinggalan, peradaban, kebodohan
2:19 dengan ruang kelas. Karena memang pendekatan ekonomi, pendekatan politik akan pasti gagal membangun satu bangsa. Dia hanya berhasil kalau pendekatannya membangun sumber daya manusianya. Begitu sumber daya manusia dibangun, dipikirkan soal sehat. Nah, begitu dipikirkan kesehatan, obat-obatan dijaga. Tumbuh-tumbuhan jangan dipestisida. Seluruh makanan yang beredar dikendalikan. Itu konsep sehat. Diberikan konsep sehat kembali kepada strengthening source of wellbeing. Bagaimana mengendorse bahwa manusia ini punya daya tahan tubuh. Buktinya corona tidak bisa mengobati, tidak ada yang bisa mengobati corona. Rezim obat-obatan itu tumbang semuanya oleh corona. Berarti kita kembali pada source of wellbeing. Karena itu berarti membangun
3:06 bangsa itu selalu dimulai dari cara berpikir, dari kualitas SDM-nya. Lepas itu baru dibicarakan soal penegakan hukum karena akan ada orang-orang yang akan konsisten menegakkan hukum itu. Kenapa? Karena kualitas manusianya baik. Setelah itu baru kita bicara ekonomi. Itulah urut-urutannya sebenarnya. Jadi jangan marah kalau dikait-kaitkan. Nah, persoalannya sekarang Bapak yang berdiri di ruang kelas ini bisa tidak mengeksplorasi cara berpikir anak-anak? Itulah sebetulnya tujuan dari UKMPPG ini. Kalau bisa tolong pastikan barang siapa yang mau berdiri di depan kelas bisa mengeksplorasi cara berpikir anak. Karena itu tadi saya terus terang saja tertarik dengan Pak Direktur, bagaimana kita bisa memastikan seorang guru ini
3:52 terjadi pergeseran yang luar biasa tentang kemampuan guru di era COVID ini. Bisa buat RPP daring, bisa buat RPP luring, bisa buat RPP blended, bisa buat RPP tatap muka. Dulu hanya RPP tatap muka. Tidak cukup hanya itu. Taiwan itu benar berarti guru itu harus programmer. Kenapa? dia bisa bikin video, dia bisa edit video, dia bisa memasukkan kompetensi apa yang seharusnya divideokan. Tidak tidak hanya sekedar divideokan. Jadi Taiwan benar bahwa guru itu sebagai programmer dia juga mengerti tentang artificial intelligence supaya tidak mengolah-ngolah yang rutin. Guru juga harus bisa bahasa Inggris. Berani seperti itu. Mudah-mudahan nanti Pak Direktur berani buat kriteria guru seperti itu di Indonesia kelak. Nah, sekarang Kennedy yang mengatakan begitu
4:40 terjadi ketertinggalan peradaban, begitu terjadi kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, itu dia bertanya, "What's wrong in our classroom?" Jadi bermula dari ruang kelas itu, itu sebabnya Bapak dan Ibu saya katakan biarlah kita urusi saja dulu ruang kelas kita. Soal yang lain nanti kita urusi. Kalau kita sudah benar, semua guru benar di Indonesia ini, mudah-mudahan Allah akan memberi rahmat karena guru sudah berjuang di jalan yang benar. Yakinlah Tuhan pasti bersama Allah itu bersama orang-orang yang berjuang di jalan Allah itu sudah enggak perlu ditawar lagi. Hanya itu mungkin bisa mulai Indonesia ini bangkit. Tag line di Universitas Negeri Medan itu ada mari membangun negeri dari sekolah, dari ruang kelas. Nah, Bapak dan Ibu sekarang mengapa kita begitu peduli soal
5:27 warisan termahal dari pendidikan? Warisan termahal dari pendidikan itu adalah high order thinking skill. Tidak ada yang lain yang termahal. Sebab cara ilmu yang sekarang bisa tertinggal 15 tahun yang akan datang. Meski diajarkan sekarang komputer belum tentu dipakai 15 yang tahun datang. Tapi cara berpikir sampai 1 detik sebelum masuk, sebelum meninggal cara berpikir masih dipakai. Nah, karena itulah warisan termahal. Oleh sebab itu pada pertemuan kita yang lalu Pak Profesor Muklas itu menyampaikan ini gini yang menjadi masalah kita itu bila anak-anak dikondisikan pada mengingat, memahami, mengaplikasi. Bila dikondisikan pada low
6:14 order thinking ini, inilah masalah terbesar kita. Sebab sebab tidak ada 1% pun tak sampai anak-anak Indonesia yang naik di high order thinking skill. Bahkan 50% 40% anak Indonesia below level one. Cara berpikir itu 1 2 3 4 5 6. yang low itu 1 2 3 ini. Nah, di sini anak-anak Indonesia bahkan di bawah level 1 itu level 1 kan cuma mengidentifikasi informasi bahkan di bawah itu 50%. Berarti anak-anak kita itu mengidentifikasi informasi pun gagal. Dan semua pekerjaan yang low order ini
7:01 akan dipindahkan ke pekerjaan mesin, komputer. Nah, ini tidak tidak dikerjakan manusia lagi. Pertanyaannya adalah mengapa kita harus mutar-mutar di sini? Itulah dia. Jadi, kita ingin memastikan apakah guru-guru kita ke depan bisa mengeksplorasi, bisa meng-endorse cara berpikir yang tingkat tinggi itu nanti terhadap anak. Karena itulah yang dibutuhkan di masa depan. Begitu kita bicara masa depan anak-anak Indonesia, kita bicara cara berpikir anak-anak Indonesia pada level yang high order thinking ini. Pada level yang high order thinking ini, di sinilah kita bicaranya itu ppg itu di sini bicaranya UKM, PPG mau buat yang seperti ini. Sebab inilah pekerjaan manusia, human work hanya pada level ini. Oleh
7:47 karena itu, Bapak dan Ibu, warisan termahal ini harus kita mulai dari sekarang. Nah, persoalannya adalah menetapkan kompetensi anak sebagai tugas pertama dari guru pada level high order tidak mudah. Tugas pertama guru kan pilih mana yang harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia. Itu pertanyaan pertama bagi guru. Apakah Anda mampu memilih kompetensi apa yang kelak dimiliki anak Indonesia? Sikap apa? Cara berpikir apa? Literasi apa? yang harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia kelak. Itulah tugas pertama oleh guru. Kalau dibuat bisa tidak merumuskan high order thinking ini dalam bentuk materi itu dia dalam bentuk
8:35 proses, dalam bentuk penilaian. Inilah tugas pertama guru kelak rumuskan high order thinking skill itu dalam bentuk materi, dalam bentuk proses, dalam bentuk penilaian. Begitu guru berhasil di situ, langkah pertama pembangunan Republik Indonesia telah dimulai. Begitu sampai di situ, begitu guru-guru kita sampai pada level itu. Nah, Bapak dan Ibu, gurunya mengatakan, "Welcome to the future." Jadi, selamat datang di masa depan. Itu gurunya berarti guru sedang mengajarkan masa depan anak, bukan mengajarkan mata pelajaran. Guru sedang menginjeksi anak-anak dengan masa depan. Jangan menjelaskan matematik kalau tidak
9:20 ada gunanya untuk masa depan. Oleh karena itu, gurunya mengatakan seperti ini. Gurunya saya dulu ketika masih sama Pak Nuh itu jadilah seperti prosesor pada sebuah komputer. Meski dia kecil tapi dia yang mengendalikan semua komputer itu adalah prosesor. Jadi guru itu adalah prosesor dalam sebuah komputer. Jadilah mesin pada semua mobil. Dia kecil tapi dia bisa membawa mobil itu ke mana-mana. Dia jumlah gurunya cuman Rp3 juta tapi bisa membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik. Jadilah seperti prinsip Pareto ini. Gurunya mungkin enggak sampai 20% tapi bisa mengubah nasib 80% orang Indonesia. Excellence is not in act but a habit. Jadi bagaimana excellence ini menjadi
10:06 habitnya guru? Itulah urusan kita masa depan. Nah, pertanyaan pemantik kita pagi ini adalah bila negeri ini hanya ingin hanya punya mampu memperbaiki satu saja dari sekian banyak komponen memperbaiki nasib bangsa. Bila negeri ini hanya mampu untuk satu komponen saja, apa yang harus dilakukannya? Memperbaiki guru. Titik. Jadi orang mengatakan, "Hanya satu, Pak, yang bisa kita perbaiki sudah dana kita hanya bisa memperbaiki satu dulu, ya. Guru dulu, gitu. Karena kalau memperbaiki yang sekarang sudah menjadi masalah ini tidak mudah mengubah orang yang sudah umur 50 tahun. Paya mengubahnya itu. Yang mudah dirubah itu anak SD cara berpikirnya bisa dirubah. Kalau umurnya sudah 50 tahun saya
10:51 ngomong kayak gini dia bilang itu, "Ah, lebai Bapak ini ngomong kosong gitu gimana?" Pasti begitu. Jadi jangan berpikir mengubah nasib orang yang sudah umurnya 50 tahun. Berdoa saja mereka itu pensiun dengan sehat-sehat. Nanti Allah Subhanahu wa taala yang memanggili satu-satu. Jadi sekarang kita kalau hanya satu komponen yang mau diperbaiki negeri ini, perbaikilah guru. Tapi kalau ditanya, "Oh, kita punya dua dua hal atau membiayai dua hal, apa yang harus kita perbaiki?" Kurikulum dan guru. Kurikulum dan guru. Dari sinilah mulainya sebuah negeri. Kenapa kurikulum? Banyak yang kita pelajari ini yang keliru. Jangan salah, Bapak dan Ibu. Yang keliru kita pelajari. Yes. Kita pelajari yang keliru. Mempelajari seharusnya tidak dipelajari dan tidak
11:36 mempelajari yang seharusnya dipelajari. Bagaimana mungkin kita bisa berhasil? Makanya kurikulum ini kita set up ulang dulu. Kita di K13 kita buang 30% materi itu. Kita masukkan materi baru. Karena itulah yang dibutuhkan. Materi-materi yang sifatnya rutin pada level berpikir 1 2 3 tadi pindah ke komputer kok. Ngapain dikerjakan? Lah kalau begitu dipindahkan ke komputer bukan lebih canggih manusia. Kalau disuruh mengerjakan akar 125 kur 0,125 dibagi dengan akar dari 5. Sudah pening orang mengerjakan ini. Kalau komputer detik bisa dikerjakannya. Begitu dipindahkan ke komputer, hal-hal yang rutin itu jauh lebih canggih dari manusia. Jadi ngapain kita muar-mutar di situ? Berarti apa
12:22 yang diperlukan? Letakkan komputer ini di Jakarta untuk mengamati orang demo. Dia enggak bisa menyimpulkan apa-apa meski dalam keadaan hidup. Berarti apa yang enggak bisa dikerjakan komputer ini? Modeling, sintesis, analisis, evaluasi, itu create, enggak bisa dikerjakan komputer ini. Berarti yang mahal sekarang itu adalah modeling. Mestinya modeling itu yang diajarkan di sekolah karena itu yang dibutuhkan. Misalnya seperti itu, Bapak dan Ibu yang saya hormati. Bila yang diperlukan itu adalah adalah hanya satu atau dua tadi, kurikulum dan guru. Nah, sayangnya guru ini lihat dia dipengaruhi kesejahteraan. Kesejahteraan ini dipengaruhi ketersediaan anggaran. Ketersediaan anggaran ini kebijakan anggaran. Kebijakan itu tergantung pada politik
13:08 anggaran. Memang ini tidak mungkin pula bisa diurus oleh guru. Ini tidak bisa diurus oleh guru soal ini. Karena itu memang akan diurus yang lain. Tapi nah jangan sampai guru ini dua kali rugi. Rugi pertama kesejahteraannya misalnya tidak terlalu memadai. Rugi kedua sudah kesejahteraannya tidak terlalu memadai. Mengajar murid pun tidak serius. Dua kali rugi jadinya. Kalaupun kesejahteraan tidak baik, mengajar murid baik masih ada harapan. Kalaupun tak di dunia, di akhirat kelak. Kalau dua-duanya tidak dikerjakan dengan baik, kesejahteraan rendah. Mengajar pun tak bagus, dua kali ruginya. Kan logika seperti itu yang dipakai oleh guru. Walaupun bagi orang lain itu tidak masuk akal, katanya. Nah, oleh karena itu
13:56 sekarang tapi guru tidak hanya dipengaruhi oleh kesejahteraan, tapi mindset, value, pola pembinaan, pendidikan ppg, UKM ppg dia mempengaruhi. Nah, ingat baik-baik bahwa meningkatkan kesejahteraan secara terus-menerus hanya bisa menaikkan kinerja guru pada level 70%. Mau dibuat kesejahteraan guru gajinya R juta 1 hari pun dia hanya bisa pada level 70%. Apa yang bisa meningkatkan kinerja guru itu menjadi level 100%? Nih, mindset nilainya. Kalau guru menganggap value-nya guru bahwa mengajar ini adalah bagian dari ibadah. naik sampai 100%. Kalau gaji dia hanya pada posisi 70%. Jadi tidak usah
14:41 bermimpi terus-terusan dengan meningkatkan gaji terus-terusan maka kinerja guru 100% tidak. Tidak akan. Itu teorinya sudah jelas. Berulang-ulang diri Stepen Robin segala macam berulang-ulang diriset ya seperti ini kondisinya. yang bisa mengantarkan orang pada level kinerja 100% itu adalah mindset value-nya, nilainya. Bagaimana dia menempatkan pekerjaan itu. Oh, pekerjaan sebagai ibadah. Oh, itu baru bisa. Nah, Bapak dan Ibu, kenapa ingin saya sampaikan pada pagi hari ini? Supaya kita tidak terjebak bahwa jangan dikira urusan guru ini hanya urusan kesejahteraan. Kesejahteraan yes. Karena kalau naik di 70% saja sudah syukur oleh kesejahteraan gitu. Nah, kurikulum kalau ada biaya kita yang pertama kita lakukan
15:28 harmonisasi vertikal dan horizontal. Urusan mengajari itu apa, mengapa, bagaimana? Itu urusan mengajar ini urusan sikap. Kalau sikap kita baik, jujur sudah cukup. Katanya pendidikan Finlandia luar biasa. Siapa bilang karena modelnya luar biasa? Tidak sama aja. Di Indonesia kita punya model Finlandia itu. Tapi kenapa dengan model itu mereka berhasil? Hanya satu kata kuncinya, mereka jujur melakukan sistem itu. Titik. Gurunya jujur untuk menilai, tidak menambah-nambah nilai muridnya, guru ee kepala dinasnya jujur untuk menentukan kepala sekolah. Itu yang membuat mereka bangkit. Kejujuran bukan soal model.
16:14 Nah, belajar itu soal sikap, soal pengetahuan, soal keterampilan. Nah, harmonisasi yang saya maksud itu antara TK sampai perguruan tinggi sampai PT. Harmonisasi yang saya maksud itu antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Janganlah anak SD dijejali dengan pengetahuan, kecepatan. Itu merusak struktur otaknya. Jejalilah dengan sikap yang baik, bisa mengatakan terima kasih. Kalau salah bisa minta maaf, peduli sama kawannya, latihan dia bertanggung jawab di kelas dan seterusnya. itu maksud saya harmonisasi itu selama itu tidak kita kerjakan mau mau berharap apa dengan harmonisasi itu otomatis kita akan mengintegrasikan life skill pada kurikulum yang orientasinya masa depan berarti harus dilakukan restrukturisasi
17:01 kurikulum dalam bentuk kompetensi proisi, proses penilaian proses sekarang berkembang bahkan proses menilai guru kita sekarang pakai video segala macam. Itu sebabnya saya bilang tadi memang idealnya guru programmer di bidangnya. Nah, Bapak dan Ibu, ini pertanyaan pemantik bahwa fokuslah kita pada dua hal di negeri ini. Fokuslah pada guru dan fokuslah pada kurikulum. Jangan mengatakan sekali-sekali cukup fokus pada guru. Kalau yang dipelajari salah, gimana caranya? Kokinya sehebat apapun kalau yang di masa itu bukan bahan yang bagus bisa enggak? Bisa. Jadi kurikulum harus mendapat perhatian sebab di sana ada harmonisasi vertikal, ada light skill. Oleh karena itu, dua ini kita fokus
17:46 Bapak dan Ibu. Inilah ee pemantik kita pada pagi hari ini bahwa mindset yang bisa mengubah kesejahteraan pada posisi 70, mindset pada posisi 100. Nah, terkait dengan yang mau kita diskusikan itulah yang menentukan kata Peter Drcker. You cannot manage what you don't measure. Anda tidak bisa mengelola sesuatu yang tidak bisa Anda ukur. Makanya perlu UKMPPG itu UKMPG mengukur. Bagaimana mengelola sesuatu yang tidak bisa diukur? Anda tidak bisa mengelola guru tak kalau tak bisa diukur. Selanjutnya, you cannot improve what you cannot measure, what you cannot manage. Jadi, Anda tidak bisa meningkatkan sesuatu yang tidak
18:32 bisa dikelola. Bagaimana cara meningkatkan kualitas guru? Orang gurunya enggak bisa dikelola. Bagaimana cara meningkatkan kualitas guru, orang enggak bisa diukur, enggak terukur? Nah, oleh karena itu Bapak dan Ibu, saya kira Peter Draker betullah kutipan kita pagi pada pagi hari ini. Nah, arsitekturnya begini. Yang mau diukur di guru itu adalah tiga mestinya sikap, keterampilan, dan ee pengetahuan. Karena yang mau diukur di murid itu juga ya sama aja. Yang mau diukur di murid mestinya itu jug lah. Kalau itu akan diukur di guru ya itu juga diukur di murid mestinya. Nah. Nah, strukturnya kira-kira kira-kira kesulitan kita kan tidak mudah. Seperti yang kata Pak Direktur tadi, urusan
19:18 sikap ini misalnya kalau mau diintegrasikan sikap pada video pembelajaran, video yang hanya durasinya cuma 30 menit, lalu uzi kinerja bisa memastikan oh bahwa dia profesional dengan durasi 30 menit. Itu kan tidak mudah. Nah, itu tadi solusinya apa? Masukkan dulu indikator apa yang harus dimasukkan pada video oleh guru. Guru tahu persis akan menunjukkan indikator apa pada video itu supaya betul-betul kelihatan. Sebab apa mahalnya arsitektur yang tiga ini. Coba coba kita lihat mahalnya arsitektur yang tiga ini. Kalau inilah sikap ini namanya keterampilan. Keterampilan ini bekerja dipandu oleh
20:04 sikap nanti. Ini namanya pengetahuan. Lihat irisannya. Keterampilan ini bisa bekerja jika dipandu oleh sikap. Buat bom itu keterampilan. Tapi kata sikap tak usah kau buat bom. Itu mati orang gara-gara bom. Menipu itu. Menipu pajak itu keterampilan di sana bekerja dan pengetahuan. Tapi kata sikap jangan kerjakan itu merugikan negara. Jadi bila keterampilan dan pengetahuan ini bekerja tanpa dipandu sikap, ini dua-dua bentuk ini bisa bisa jadi monster. Orang yang luar biasa pengetahuan, keterampilannya bisa jadi monster kalau sikapnya buruk. Nah, karena itulah konstruksinya ini perlu kita rekonstruksi ulang pada diri siswa dan pada diri guru. Nah, sebab apa? Yang namanya pengetahuan bekerja dipandu oleh sikap. yang namanya
20:51 pengetahuan dan keterampilan itu saling memandu. Mereka itu saling memandu. Itu pengetahuannya harus dirubah berarti karena skillnya Quran. Tidak ada skill yang tidak diawali oleh pengetahuan. Tidak ada. Tapi bila yang dua ini tinggi, sikapnya rendah, itu yang bisa merusak orang. Dan tiga-tiga ini sikap pengetahuan dipandu oleh nilai tadi. Ah, nilai ini bisa dipengaruhi kearifan, bisa dipengaruhi agama, bisa macam-macam value-nya orang di tengah-tengah ini value-nya bekerja ini bekerja untuk mereka bertiga ini. Nah, konstruksinya seperti ini kita rekonstruksi ulang dan inilah yang harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia di 2045 itu. Kalau itu tangguh mau bersaing dengan siapapun. Karena berbeda cita-cita
21:37 Indonesia dengan cita-cita negara lain. Cita-cita Indonesia bahagia di dunia dan di akhirat. Senang-senang di dunia dan masuk surga. Itu cita-citanya. Nah, kalau misalnya tidak seperti ini konstruksinya tidak bisa. Nah, sekarang kita masuk dengan rasional UKMPPG-nya. Karena itu tadi urutannya, kita ingin memastikan, mengukur. Jadi, you cannot manage what you cannot measure. Tidak mungkin mengelola sesuatu yang tidak bisa diukur. You cannot improve what you cannot manage. Tidak mungkin meningkatkan sesuatu yang tidak bisa dikelola. Gimana cara mengelola guru? Ya, diukur urut-urutannya begitu. Gimana cara meningkatkan kualitas guru? Ya, dikelola dengan baik. bagaimana cara mengelola ya diukur. Nah, kan kira seperti itu. Itulah makanya kita buat UKMPPG itu. Tapi basisnya UKMPPG ini
22:25 adalah standar kompetensi guru profil lulusan PPG yang mau diukur kinerjanya. Nah, gimana guru profesional itu? Sudah pastilah materi aja, karakter, tapi bisa menginspirasi dan menjadi teladan. Dan ada kata-kata mempesona atau mesona. Gimana? Begitu tampil dia mempesona. Apapun dibilangnya diikuti oleh siswa. Karena sudah mempesona dia. Dia tidak ganteng-ganteng amat, tidak cantik-cantik amat. Tetapi bicaranya itu loh orang tertarik karena apa yang diucapkan dan dilakukan. Itu kata kunc bukan hanya yang diucapkan dan dilakukannya. Begitu dia bisa tampil mempesona dan betul-betul tampak ikhlas
23:10 di hadapan siswanya, dia sudah sudahlah sudah bisa mempengaruhi siswa terus-terusan. Karena muridnya bilang, "Bapak ini memang ibu ini yang luar biasa. Baiknya itu yang enggak enggak tahan kita." Itu sudah membuat murid. Jadi untuk bisa mempesona itu bisa menginspirasi itu memang tanpa ikhlas, tapi dia bisa betul-betul menjadi teladan. Nah, kalau begini profilnya memang tidak mudah mengukurnya. Kita berusaha terus. Dan profil ini sudah di di disarikan dari kompetensi abad 21 dimasukkan ke profil ini. Sudah juga mempertimbangkan Sen Dikti, Undang-Undang Guru, Dosen. Di sana ada sikap, ada pengetahuan, ada keterampilan. Sudah dinalar masuk ke sini. Lihat rumusannya ini sudah mempertimbangkan itu. Sudah juga mempertimbangkan
23:56 undang-undang guru dan dosen itu ada pedagogi menyatu di sini. di bawah ini menyatu di sini ada pedagogi, ada profesional, ada kepribadian, ada sosial. sudah juga di di dinalar dari KKNI bahwa guru ini level 7 lahirlah rumusan yang seperti ini. Bila kita sarikan dari empat komponen ini, 1 2 3 4 ini lahir rumusan yang seperti di bawah ini. Guru profesional yang menguasai materi aja tapi menginspirasi. The highest level teacher in Australia is lead. Tapi the highest level teacher in the world is inspires. Bagaimana bisa menginspirasi? Itulah guru tertinggi. Di bawahnya living example, teladan. Guru teladan di
24:43 bawahnya itu can explain, bisa menjelaskan sesuatu. Di bawahnya just tell hanya cerita-cerita. Jadi kalau dibuat level guru ya seperti itulah dia. Makanya dirumuskanlah seperti ini. Nah kalau ini rumusannya sekarang lalu KMPPG berpikir apa yang diuji. Diuji itu sebenarnya tiga saja. Pengetahuan guru dan keterampilan dan sikap guru. Ya kan? Teladan itu kan dilihat dari sikapnya dari perilaku. Mempesona itu mulai dari memilih kata-kata, sorot mata yang ikhlas tampilan yang sederhana tapi good looking dan seterusnya. itu bisa mempesona. Ikhlas itu memang dilatih sedemikian rupa. Bila guru tidak ikhlas, enggak bisa tadi sampai 100%. Ikhlas inil yang membawa guru bisa 100%.
25:29 Kesejahteraan membawa guru pada level 70%. Kan enggak mau kita guru Indonesia mutar-mutar di 70% walaupun ditambah, ditambah, ditambah terus kesejahteraannya. Karena enggak bisa. Tapi rasa ikhlas dia bisa bawa ke 100%. Bapak dan Ibu, saya kira konstruksi seperti ini tidak mudah untuk diukur. Makanya tim ini bekerja terus. Gimana cara ngukurnya? Meski tidak terukur 100% apalagi dalam suasana COVID ini ya paling tidak mendekatilah mendekati sedikit-sedikit pun bolehlah. Nah, sekarang kita lihat arsitektur kompetensi siswa supaya jelas. Begitu gurunya diharap seperti itu, mestinya kita ngukurnya dari hilirnya. Untuk apa guru profesional kalau enggak bicaranya dihilir? Itu makanya saya bilang saya tertarik dengan eh jurus
26:17 kedua dari Stepen Arkovi memulai sesuatu dari ujung dari akhir. I kan begin with the end in mind. Jadi mulailah dari ujung di ujungnya pekerjaan profesional guru itu rupanya apa? buat anak menjadi pembelajar yang sukses. Cara berpikir tadi kan mahal warisan itu kan berpikir jika dia pembelajar yang sukses, jika datang revolusi industri 4,0 nanti akan pindah ke 5,0 dan 6 dan seterusnya mau 10,0 juga revolusi industri ini. Kalau kita melahirkan orang-orang pembelajar yang sukses, apa urusannya dengan revolusi industri 5,0? Toh dia akan cepat menyesuaikan diri dengan belajar. Jadi urusan guru di di di hilir itu kan
27:03 pembelajar yang sukses, individu yang percaya diri. Apa urusannya dengan revolusi industri? Mau berubah pun zaman, mau pilpres pakai komputer, mau pilkada segala macam. Jika pembelajar yang sukses, individu yang percaya diri, enggak usah, enggak ada masalah. Tetap dia saya menjadi bangsa Indonesia. Saya percaya bahwa saya diberikan oleh Allah itu kemampuan, potensi percaya diri sebagai orang Indonesia. Apa urusannya kalau semua orang sudah bertanggung jawab di republik ini? Seluruh profesor yang bertanggung jawab, seluruh gubernur yang bertanggung jawab, seluruh kepala keluarga, seluruh istri yang bertanggung jawab. Apa yang tidak selesai di negeri ini kalau semua orang bertanggung jawab? Karena bertanggung jawab itu sudah jelas urusannya apa. Jadi, bagaimana memelihara tanggung jawab dan tanggung
27:49 jawab memelihara sudah mengerti? Enggak ada urusannya. Apa urusannya mau 5,0 revolusi industri kalau semua orang berpikir apa yang terbaik yang bisa saya berikan kepada negeri ini. Kontributor yang efektif terhadap peradaban bangsanya, terhadap keluarganya, terhadap kelompoknya, terhadap komunitasnya. Selalu berpikir apa yang bisa saya berikan? Kalau itu cara berpikirnya terus-terusan, enggak ada masalah lagi di negeri ini. Kelak nanti kalau kita sudah menghasilkan guru-guru hebat ini nanti bisa membuat anak-anak seperti ini, perubahan tak ada urusannya. Dan inilah pikiran guru setiap hari guru profesional itu. Itu yang dipikirkan cuma memikirkan empat hal itu dia maka dia berpikir untuk mengubah pembelajarannya secara
28:34 fundamental. Tapi modal dia harus ini mempesona dan panggilan jiwa. mengerti, memilih apa yang harus dimiliki oleh siswa, apa kompetensinya, tahu advance material, tahu merancang pembelajaran berbasis tipe mengerti active learning yang mendidik, assessment yang otentik, modal dia semua itu. Tapi ada modal yang amat sangat penting, yaitu bagaimana dengan kesadaran tingkat tinggi, proses mental yang tingkat tinggi secara terus-menerus melakukan refleksi dan belajar terus-menerus mencari yang terbaru. Itu namanya continal development. Mahal. Yang satu ini mahal. Pelatihan yang dibuat itu bisa mengubah guru. Tapi yang dahsyat itu adalah pelatihan oleh diri sendiri. Karena itu gimana guru ini punya kesadaran itu?
29:21 Karena konstruksinya sudah kita buat sedemikian rupa. Ada CP1 yang akan menjiwai seluruh CPCP ini. Dijualai oleh CP1 itu. Jadi kira-kira konstruksinya begini. Ada konstruksinya tadi seperti itu. Nah, nih lihat ini kok nih panggilan jiwa. sudah saya bilang tadi. Nah, ada CP1 ini. Begitu dia menjiwai CP2 tadi, bagaimana memilih kompetensi yang di harus dimiliki oleh siswa, bagaimana memilih materi dan merancang prosesnya. Sesulit apapun yang tiga ini karena dijiwai oleh CP1 ikhlas tadi itu kemurah hatian sepenuh hatian panggilan jiwa tadi. Sesulit apapun yang tiga ini dikerjakan oleh gurunya. Tetapi, tetapi bila tidak dijiwai oleh CP1 ini, sedikit
30:06 saja tantangan dengan proses sudah langsung dikaitkan dengan gaji. Gaji kita pun enggaknya pas-pasan juganya. Ngapa pula lebih serius? Dua kali ruginya tadi. Gaji rendah dan amal pun rendah juga. Dampaknya rendah. Enggak ada yang mau diharap lagi. Kalau gaji rendah tapi bekerja keras, guru ini masih ada yang mau diharap. Anak-anak mungkin akan mendapat kebaikan keturunan. Kalaupun tidak, ya di akhiratlah. Masih ada seperti itu. Nah, sekarang bagaimana CP1 ini menjiwai? Ini konstruksinya seperti itu. Karena itu memang mengukurnya coba Bapak dan Ibu kita ukur juga CP1 ini kita ukur. Nah, apapun kesulitannya pada saat pelaksanaan pembelajaran bagaimana rumitnya pun menghadapi siswa itu dia tetap sabar dan tekun. Dia tetap ikhlas. Dia tidak langsung marah-marah.
30:54 Begitu juga penilaian. Begitu juga untuk mencari informasi baru, merefleksi diri, melatih diri sendiri terus tekun dia. Kenapa? Karena dijiwai oleh CP1 tadi. Nah, ini yang mau diukur di UKM PPPG Bapak dan Ibu. Kita bayangkan kerumitan yang luar biasa untuk mengukur ini dan itulah kita terus ketemu, terus merancang baik-baik saya kira. Nah, inovasi sudah dilakukan. Tetapi betapaapun inovasi ini dilakukan kalau UKM PPG-nya tidak bisa mengukur inovasi ini, balik lagi ke yang dibilang Peter Drager tadi. You cannot manage what you cannot measure. Tetap balik ke situ juga. Mau inovasi apapun dilakukan di PPG, tahu-tahu kita tidak bisa mengukur apakah inovasi itu
31:41 terinternalisasi pada sikap, terbentuk pada pengetahuan, wujud dalam keterampilan. Kalau enggak juga bisa seperti itu, enggak ada gunanya juga inovasi ini semuanya blended learning, pendekatan prosesnya terus dibuat menjadi advance material. Beyond dari materi itu dimiliki oleh guru-guru materi sehebat itu materi yang mau diajarkan lima, gurunya punya 20. gampang memberikannya. Bayangkan gurunya punya lima mau memberi enam. Dari mana satu lagi? Makanya muridnya nyontek nipu. Gara-gara yang dikasih gurunya lima, disuruh pula enam. Gurunya ngasih 4,42 dulu batas lulus UN-nya 5,5. 1,3 dari mana ya? Nyontek muridnya. Orang yang dikasih gurunya 4,2. Kira-kira logik sederhananya begitu. lalu di
32:28 diinovasi bahwa pembelajaran itu harus sebuah sistem yang terproses dengan siklus yang baik. Ada pendahuluan, ada koneksi, ada penerapan, ada refleksi, ada pengembangan. Seperti ini inovasinya. Diinovasi juga PPG-nya bahwa dia menggunakan tipek luar biasa. Dulu menjadi guru matematik itu menguasai matematik, terkagum-kagum muridnya, tapi sekarang tidak bisa. Jadi mengajar itu adalah interaksi tiga hal. dia ini materinya, ini pedagoginya, ini teknologinya. Jadi kalau saya guru matematika menguasai matematik, tidak menguasai teknologi yang dipengaruhinya, enggak bisa jadi guru yang baik saya dan tidak menguasai pedagoginya. Jadi guru hebat itu adalah interaksi ketiganya. Itu juga dilakukan di PPG. Soalannya
33:13 bagaimana cara mengukur bahwa guru memang mengerti menerapkan tipek itu. Dan yang terakhir integrasi HOTs dalam materi penetapan kompetensi dalam menerjemahkan high order thinking pada materi dalam menerjemahkannya pada perancangan proses, menerjemahkannya pada sistem penilaian sehingga bisa dipastikan sekian persen anak Indonesia itu memiliki cara berpikir yang hot. Betapapun di level SD sudah mengerti dia menilainya. Nah, itulah saya kira kalau UKMPG-nya tidak mampu mengukur mau inovasi apapun yang terjadi hampir tidak bisa kita pastikan bahwa dimilih. Nah, legal formal. Saya kira legal formal ini bahwa memang sudah ada iktikad baik bahwa ini kita bicara pendidikan profesi
33:59 guru itu. Nah, ini kan yang dipertanyakan orang masa iya guru itu profesi ya. Kalau dokter, betullah. Karena ada anggapan begini, selama guru tidak dibuat menjadi profesi yang bergengsi, tidak akan bisa bangkit. Karena ada asumsi seperti itu. Maka kita kan harus bisa mengatakan guru ini profesi apa tidak. Sama dengan dokter. Orang menganggap guru ini kerjanya menjelaskan. Kan itu tadi. Makanya semua orang bisa merasa jadi guru sejarah. Karena menurut dia kalau sudah dijerakkan sejarah Amerika tahun berapa merdeka terus pindah ke sejarah Indonesia pindah ke peperangan Diponegoro peperangan Tuku Umar sudah dianggap guru sejarah bukan bukan itu guru sejarah kalau itu kita putar kaset aja sudah cukup ngapain
34:46 lebih enak dengarnya dari TV tapi guru sejarah profesi atau tidak yes profesi. Dari mana kita bisa memastikan lihat lihat ya biar saya pastikan bahwa guru sejarah profesi. Kalau tugas guru sejarah menjelaskan lalu dibilang profesi memang keliru. Tetapi coba dibariskan dulu orang 100 orang anak muda atau murid lalu ditugaskan guru sejarah. Coba pilih yang mana yang nasionalismenya baik. Dari 100 itu coba ambil nasionalismenya baik yang mana. Guru sejarah pasti bisa memilihnya. Lalu orang bertanya, "Kok Bapak bisa guru sejarahnya jauh?" Ya, saya guru sejarah. Makanya saya bisa menetapkan yang mana nasionalismenya bagus. Ya, itu dia. Kenapa? Karena jurusan guru-guru sejarah urusannya nasionalisme. Bagaimana
35:32 mewariskan kejujuran, ketangguhan di Ponegoro pada anak-anak Indonesia dan tumbuh berkembang pada diri anak-anak Indonesia. Yang tahu itu guru sejarah. Dokter merasa profesi kan enggak berani orang mengoperasi. sama dengan ini nanti kalau bisa seperti itu guru ya profesi. Jadi banyak orang menganggap bahwa guru ini bukan profesi dan tak bisa dijelaskan bahwa ini profesi. Tidak ini memang profesi karena urusannya tadi itu. Itu siapa yang tahu matematik? Banyak di Indonesia. Tapi pertanya siapa yang bisa menggunakan matematik untuk mendidik orang? Guru matematik. Makanya guru matematik itu profesi. Dia bisa menggunakan matematik untuk mendidik orang. alatnya matematik. Dia bisa punya masa depan orang gara-gara matematik. Itu
36:19 namanya guru matematik. Makanya dia sebagai profesi. Jadi langkah pertama waktu itu dibuat dulu guru sebagai profesi. Makanya kita bisa sekarang bicara seperti yang hari ini karena dia profesi. Nah, dasar hukumnya kan begini. Ada lulusan SLTA masuk di S1. Asal mula persoalan kita itu di sini, Bapak dan Ibu. Di sini harusnya guru itu adalah siswa terbaik. Guru seperti di negara-negara orang. Di Indonesia siapa saja bisa daftar di LPTK? Dulu LPTK-nya cuma 40, 50, 81, sekarang menjadi 1.000. Gara-gara apa? Gara-gara ada tunjangan profesi guru.
37:05 Maka para kapitalis, para pemilik modal mendirikan LPTK ramai-ramai. Asal mula kesalahan kita ya di situ. Mestinya kan guru kan yang dibutuhkan Rp40.000 ditamatkan R00.000.000. Nah, untuk apa? Untuk apa? Di situ asal mula. Jadi, gimana cara memperbaikinya ini? Ya, kalau di Jendikti suatu saat bisa membatasi ini. Gimana caranya buat seleksi? Seleksi yang menetapkan calon guru itu adalah siswa terbaik. Otomatis tutup itu LPTKL-PTK yang tidak yang enggak becus itu tutup sendiri karena memang enggak akan ada memilih dia. Itulah guru adalah siswa terbaik. Kepala sekolah itu adalah guru terbaik.
37:50 Pengawas itu PS pengawas sekolah itu adalah kepala sekolah terbaik. Kadis di Kadis Pendidikan itu adalah pengawas terbaik. Bila Kadis adalah pernah pengawas terbaik, pernah kepala sekolah terbaik, pernah guru terbaik, pernah siswa terbaik, ya bisa dia mengatur sekolah, bisa memanage sekolah kan kira-kira kan ini yang perlu mendapat perhatian kita kelak ke depan. Kalau sekarang belum bisa ya ke depan nanti. Jangan asal-asal masuk di LPTK lagi ke depan. Nah, dari S1 itu masuklah PPG. Rumit kalau cuma di sini mau dijagai. Tapi syukurlah sekarang kita menggunakan ini menjadi benteng terakhir. Benteng terakhir untuk menjagai kualitas guru. Tapi jangan jebol lagi. Kenapa? Di PPG
38:35 ini ada kata kunci UKM PPG. Jangan jebol lagi yang ini. Kalau enggak kita enggak bisa berharap apa-apa lagi ke depan. Nah, jadi UKMPPG itulah yang bisa memastikan guru profesional. Nah, dia ada uji pengetahuan dan ada uji kinerja. Nah, inilah yang mau kita jagai Bapak dan Ibu UKMPPG ini. Nah, UKMPPG-nya kira-kira begini. 4 Desember ditetapkan jadi guru. Profesi sebagai guru. Nah, undang-undang guru keluar 2005. 2007 sertifikasi 2008 dibayar tunjangan profesi TPG dulu 2.000 peminat Unimet Rp15.000 dan begitu dibayar tunjangan tunjangan profesi 2009 peminat Unimet 55.000.
39:21 number one in in Indonesia 15.000 naik ke 55.000 per minatnya. Gara-gara apa? Gara-gara dibayarkan TPG. Coba lihat dulu. Walaupun TPD tadi hanya bisa menaikkan ke 70% itu pun sudah langsung berminat orang jadi guru. Jadi yang mengubah orang ramai-ramai mendirikan LPTK adalah TPG ini. TPG. Jadi TPG ini membawa manfaat sekaligus juga membawa kelemahan. Sama dengan corona. Corona ini membawa penyakit orang meninggal, tapi juga membawa dampak positif, manfaat. Jadi, guru-guru Indonesia bikin RPP daring, luring, BDR, belajar dari rumah, enggak lagi hanya mengandalkan tatap muka. Andai kata Corona ini pergi karena merasa tugasnya sudah selesai, Indonesia sudah akan tetap menerapkan
40:07 pembelajaran daring. Jadi, makin efektif dibantu, tatap muka, dibantu dengan daring. Luar biasa nanti jadinya dampaknya. Nah, PP74 dibayar 2008 TPG. Inilah awal mulanya LPTK bangkit implementasi 2017 tapi apa kesimpulannya? Belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan pembelajaran yang secara fundamental. Betap pun tujangan profesi dibayar. Teruji kan Bapak dan Ibu bahwa dia hanya posisi penelitiannya gtk hanya mengatakan hanya 10% guru ini harus kita apresiasi yang betul-betul berubah menjadi guru profesional karena tunjangan profesi 10% saja. Berarti 90% belum melakukan pertobatan profesi. Pertobatan profesi itu memang perlu.
40:52 Bukan hanya pertobatan pertobatan dari perbuatan jahat, tapi pertobatan bidang profesi ini dibutuhkan bagi guru-guru Indonesia. Nah, kalau seperti ini keadaannya hanya 10% apa yang bisa kita harap? Kenapa? Itu akhirnya tetap berarti persoalan kita persoalan komitmen. Iya, persoalan kompetensi mismatch. Bayangkan distribusi pola pembinaan TPG tidak berbasis kinerja. Ah, ini masalah. Sejak dulu waktu saya kepala badan, saya mengusulkan bahwa TPG ini TPG itu berbasis kinerja. Bila kinerjanya 0,8 enggak sampai 100% atau 80% maka kali tundangan profesi 4 juta dia terima 3,2 juta gitu loh. Bisa diukur
41:39 enggak kinerja guru? Bisa, bisa. Nah, apa ini tidak menyalahi undang-undang? Tidak. Undang-undang PP-nya mengatakan bahwa tunjangan profesi dibayar setara dengan gaji pokok. Setara itu bisa indeksnya 0,8, bisa setara 0,9 bisa setara 1,0 80% 90% 100%. Bila ada guru yang kinerjanya tapi harus transparan cara mengukurnya, guru pun bisa mengukur diri sendiri juga. Nanti akibatnya kalau enggak transparan klaim. Bila guru misalnya punya tunjangan 3,2 karena kinerjanya 80% dia akan bertanya pada guru yang kinerjanya 100%. Bagaimana Bapak bisa kok kinerjanya
42:24 100%? Oh, lihat ada namanya ee apa namanya? Guru berbagi di gtk. Di sana ada itu caranya. Si guru ini akan belajar ke guru berbaginya di GTK karena dia pengin juga tunjangannya 100% supaya dia tidak kena marah istrinya. Istrinya marah di rumah kok kenapa Pak Anu itu tunjangannya R juta kok Bapak tunjangannya 3,2. Makanya jangan main catur aja kata istrinya lah. Karena itu dia mau belajar. Bagaimana cara men-drive guru belajar? Inilah cara yang educated. tunjangan profesi guru berbasis kinerja ini amat educated, sangat mendidik, sangat mendidik orang. Nah, sekarang kita memang benahi semuanya. Begitu
43:10 gurunya profesional tadi saya mengatakan dia pola pembinaan juga amat sangat menentukan. Nah, sekarang kita bicara di sertifikasi guru PLPG, PPG belum berbasis kompetensi. Nah, ini masalahnya standar kurikulum PPG proses menata ulang benteng terakhir ini kita tata sistem penilaiannya. Sistem penilaian ini yang menunjukkan UKMPG-nya. Makanya ditata terus seobjektif mungkin video ini gimana. Dengan video bisa enggak melihat guru yang profesional? Maka kita tata dan yang ditata itu UKMPPG-nya diperbaiki secara terus-menerus. Apa yang diperbaiki? Penyelarasan antara indikator kompetensi dengan guru profesional. Harmonisasi isi dengan proses BPG. perbaikan validitas reliabilitas tes sampai poin B seri yang
43:56 dicari ekspansi dan diversifikasi output kasih rapor berdasarkan PPG itu. Nah, Bapak dan Ibu ini konstruksi UKM ppg itu makanya kita yakini bisa mengubah ee kualitas guru di Indonesia tentu dengan penguatan dari berbagai em peraturan dan lain sebagainya. Karakteristiknya ada 7 CPL PPG, ada uji pengetahuan dan a ada und kinerja. Ini kita buat computerized base atau CBT computer based test dan ini uji kinerja. Bapak dan Ibu, kita berkumpul hari ini untuk uji kinerja ini. Nanti secara teknis akan dijelasin oleh Bapak-bapak yang lain. Saya kira itu pengantar dari saya, Bu Yanti. Ee sekedar saja mohon
44:43 maaf kalau ada hal-hal yang tidak pas. Saya kembali ke Bu Yanti. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.