Kemunduran Pola Pikir Orang Orang Muslim - Felix Siauw Ft. Koi (Sepulang Sekolah)

Paper Clap www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang pentingnya berpikir kritis dalam beragama dan bagaimana pola pikir instan serta kurangnya literasi dapat menyebabkan kesalahpahaman terhadap ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Beberapa poin utama yang dibahas meliputi:

  • Ayat Al-Qur'an tidak secara eksplisit menyebutkan dinosaurus bukan berarti dinosaurus tidak ada.
  • Pentingnya memahami Al-Qur'an secara mendalam dan tidak hanya menjadikannya sebagai ensiklopedia atau buku sains.
  • Sejarah pertentangan antara sains dan agama, yang awalnya terjadi dalam agama Kristen, kini seolah-olah terjadi dalam agama Islam.
  • Rendahnya tingkat literasi di Indonesia menyebabkan orang mudah menghakimi dan malas berpikir kritis.
  • Pentingnya memiliki referensi yang kuat dan tidak hanya mengandalkan asumsi atau informasi yang tidak valid.

Dinosaurus dalam Al-Qur'an dan Pola Pikir Instan

Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara spesifik menyebutkan dinosaurus, tetapi bukan berarti dinosaurus tidak ada. Pola pikir "jika tidak disebutkan dalam Al-Qur'an berarti tidak ada" adalah contoh logical fallacy dan pola pikir instan yang banyak terjadi di masyarakat Indonesia. Pola pikir ini bertolak belakang dengan ajaran agama yang seharusnya mendorong manusia untuk berpikir dan mencari ilmu.

Al-Qur'an Bukan Ensiklopedia

Al-Qur'an diturunkan pada tahun 610 Masehi, jauh sebelum penemuan fosil dinosaurus pertama pada tahun 1600-an. Al-Qur'an memberikan ruang untuk penelitian dan penemuan ilmiah, tetapi tidak seharusnya dijadikan sebagai ensiklopedia atau buku sains. Menjadikan Al-Qur'an sebagai kitab sains dapat menurunkan derajatnya karena kitab sains bisa benar atau salah, sedangkan Al-Qur'an tidak mungkin salah.

Sejarah Sains dan Agama

Pada masa keemasan Islam, sains justru berkembang pesat di kalangan ilmuwan Muslim. Pertentangan antara sains dan agama sebenarnya lebih dulu terjadi dalam agama Kristen, di mana para ilmuwan dipersekusi karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Sekarang, pertentangan ini seolah-olah terjadi dalam agama Islam, yang sebenarnya tidak sesuai dengan sejarah. Agama seharusnya cocok bagi orang yang berpikir, bukan malah menghambat pemikiran.

Iqra dan Darurat Literasi

Makna iqra seharusnya tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan. Namun, masalahnya adalah tingkat literasi di Indonesia sangat rendah, sehingga banyak orang bahkan tidak bisa memahami apa yang mereka baca. Al-Qur'an sering dijadikan referensi tanpa dipahami maknanya, sehingga fungsinya terdegradasi menjadi sekadar ensiklopedia.

Alam Semesta yang Luas dan Pemahaman Al-Qur'an

Al-Qur'an menyebutkan tentang "alamin" (alam-alam), yang menunjukkan bahwa ada banyak alam semesta selain alam yang kita kenal. Hal ini membuka ruang untuk kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi. Namun, banyak orang menjadikan Al-Qur'an sebagai patokan baca dan langsung menarik kesimpulan tanpa memahami maknanya secara mendalam.

Agama dan Kebodohan

Orang yang agamis seringkali dianggap bodoh atau tidak mau berpikir. Hal ini disebabkan karena mereka cenderung menghakimi (judging) dan mengambil kesimpulan instan tanpa riset atau data yang cukup. Akar masalahnya adalah ketidakmampuan untuk berpikir panjang dan menganalisis informasi dari berbagai sumber.

Siklus Kemajuan dan Kemunduran Umat Islam

Umat Islam pernah mencapai puncak kejayaan karena mereka memahami fakta dan dalil. Namun, pada masa Golden Age, mereka menjadi malas berpikir dan menyelesaikan masalah. Di sisi lain, orang-orang Barat justru mulai berpikir karena meninggalkan agama (Renaissance). Hal ini menyebabkan umat Islam ketinggalan dan cenderung menghakimi segala sesuatu yang baru tanpa berpikir kritis.

Tugas Rasulullah dan Kompatibilitas dengan Agama

Tugas Rasulullah adalah meningkatkan tingkat berpikir agar orang kompatibel dengan agama. Jika orang tidak berpikir, mereka akan menjadi kasar dan menggunakan agama sebagai pembenaran atas tindakan mereka. Image Islam di mata orang non-Muslim seringkali negatif karena perilaku orang-orang yang tidak berpikir dan mudah menghakimi.

Sudut Pandang dan Overklaim

Seringkali, umat Islam terjebak dalam sudut pandang yang sempit dan mudah menyalahkan orang Barat atas segala sesuatu. Di sisi lain, mereka juga sering melakukan overklaim terhadap tokoh-tokoh atau peristiwa sejarah. Hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan berpikir kritis dan malas mencari tahu informasi yang valid.

Referensi dan Konspirasi

Ketika ada informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka, banyak orang Islam yang langsung menolak tanpa mencari referensi atau data yang valid. Mereka lebih memilih untuk percaya pada teori konspirasi atau informasi yang tidak jelas sumbernya. Padahal, dalam sains, segala sesuatu harus didukung oleh penelitian dan jurnal ilmiah.

Berpikir Logis vs. Empiris

Banyak orang tidak bisa membedakan antara berpikir logis dan berpikir empiris. Mereka lebih memilih penjelasan yang terdengar logis, meskipun tidak didukung oleh data atau fakta. Hal ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang metode ilmiah dan pentingnya bukti empiris.

Literasi dan Kriminalitas

Tingkat literasi yang rendah berkorelasi dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Aturan dibuat untuk orang-orang yang paling bodoh, yang tidak bisa berpikir sendiri. Di Indonesia, tingkat baca buku sangat rendah, dan banyak orang lebih memilih bermain game atau bersosial media daripada mencari ilmu pengetahuan.

Agama Sebagai Tameng

Agama seringkali dijadikan sebagai tameng untuk tidak mau mengerti sesuatu atau untuk mengambil kesimpulan instan. Padahal, ulama memberikan banyak ruang untuk perkara-perkara sains dan menyerahkannya kepada orang yang lebih tahu. Orang-orang yang hanya membaca sekilas dan langsung menentukan sikap tanpa dalil adalah contoh orang yang tidak mau berpikir.

Peneliti Terkejut dan Kesimpulan yang Salah

Banyak orang menyimpulkan bahwa mereka tidak perlu belajar sains karena ada cerita tentang peneliti yang terkejut menemukan ilmu yang dipelajarinya ada di Al-Qur'an. Padahal, bahasa di Al-Qur'an tidak seharfiah itu dan membutuhkan pemahaman yang mendalam. Sains dapat menjadi jembatan untuk memahami Al-Qur'an sepenuhnya.

Realitas vs. Referensi

Seringkali, orang-orang muslim yang salah memahami Al-Qur'an membalikkan logika, dari referensi ke realitas, bukan dari realitas ke referensi. Mereka menafsirkan Al-Qur'an dan memproyeksikannya ke realitas, sehingga menghasilkan kesimpulan yang ngawur. Seharusnya, realitas yang ada di dunia ini dicari referensinya di dalam Al-Qur'an, bukan sebaliknya.

Teori Evolusi dan Ilmuwan Muslim

Teori evolusi seringkali disalahpahami sebagai manusia berasal dari monyet. Padahal, evolusi adalah seleksi alam yang prosesnya panjang. Ada ilmuwan-ilmuwan muslim yang mempelajari tentang evolusi dan menemukan bahwa teori ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka percaya bahwa evolusi adalah kehendak Allah.

Homo Sapiens dan Nabi Adam

Menurut Profesor Ali Akbar, Nabi Adam adalah Homo Sapiens Sapiens pertama yang turun ke bumi. Jadi, Nabi Adam hidup berdampingan dengan manusia purba. Setelah Nabi Adam turun, manusia mulai memiliki peradaban dan bertani.

Jemaah Menilai Ustaz

Orang yang tidak mau berpikir seringkali tidak mau menerima orang yang lebih berilmu daripada dia. Mereka bahkan bisa menilai ustaznya benar atau tidak benar. Jika mereka sudah bisa menentukan mana ustaz yang benar, seharusnya mereka sudah menjadi lebih daripada ustaznya.

Menghindari Menghakimi

Penting untuk menghindari menghakimi orang lain, terutama ustaz. Lebih baik mengatakan "tidak cocok" daripada mengatakan "tidak benar". Motivator mungkin lebih aman karena tidak bisa dihukumi dengan dalil.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Nah, yang pengin di saya tanya pertama adalah Heeh. sebenarnya dinosaurus tuh di Al-Qur'an tuh gimana sih letaknya tuh? Di di mana? Aku sampai sekarang tuh masih nyari ayat-ayat Quran tentang dinosaurus. Oke. Iya, iya iya iya. Jadi enggak ada kan sebenarnya ayat-ayat tentang dinosaurus. Nah, tapi bukan berarti dinosaurus enggak ada. Karena kalau jadi gini ya, ini benar kata e kata lu pola pikir ini penting banget. Heeh. Salah satu pola pikir orang Indonesia itu adalah instant gratification. Semuanya itu penginnya instan. hasilnya tuh pengin instan. Termasuk kesimpulan juga harus instan. Contoh ya, kalau Felix enggak temenan sama koi, berarti Felix musuhan. Itu itu cara berpikir kesimpulan instan jam itu conclusion. Padahal kita kan bukan hanya musuhan, musuhan [tertawa] iya kan kita kan saling berkontrol.

0:45 Kalau Anda tahu chat-chat saya sama doi, wah kacau. Iya kan? Itu [tertawa] jump to conclusion-nya terlalu cepat. Benar. Karena mereka pengin instan segala-gala macamnya. Nah, contohnya lagi misalnya kalau e kalau tidak memaki e seseorang berarti dukung seseorang. Enggak gitu juga. Oke. Nah. Nah, sama kayak tadi kalau Al-Qur'an tidak mention tentang dino berarti dino enggak ada. Ini cara berpikir kayak apa nih? Ini namanya logical policy kan gitu kan ya. Atau segala sesuatu yang misalnya dimention di dalam Al-Qur'an ee belum tentu juga cuma itu doang. Nah, makanya di dalam Al-Qur'an e sebenarnya ya bukan di dalam Al-Qur'an sebenarnya di dalam pola pikir Islami sebenarnya hal-hal kayak gini juga dimention. ada pola-pola pikir. Contoh misal misalnya ya ada di dalam Islam namanya mafhum mukhalafah atau pemahaman berkebalikan misalnya. Ada tuh

1:31 e tapi enggak semua bisa dipakai kaidah ini. Enggak semua. Ada yang kemudian ee ada kaidahnya misalnya begini ketika kita berbicara dalam Al-Qur'an kalau dikitnya aja enggak boleh apalagi banyaknya. Misalnya contoh ee jangan mengatakan pada orang tua ah apalagi mengatakan pada orang tua yang lain misalnya ya kayak misalnya tit gitu ya. Itu enggak boleh misal dasar an misalnya itu enggak boleh. Nah, itu antum ya maksudnya antum ya? Anjing. Nah, betul. Antum hancur. Iya. Apalagi hancur enggak boleh. Nah, jadi artinya artinya itu adalah yang dikit apalagi yang banyak enggak boleh. Ini ini pola pikir nih. Nah, jadi pola pikir semacam ini menurutku adalah justru pola pikir yang bertolak belakang daripada pola pikir yang diajarkan di dalam agama. Tapi sekarang malah banyaknya pola pikir itu yang dipakai, T. Betul. Karena seolah-olah enggak dijelasin dalam Al-Qur'an berarti enggak

2:17 ada. Lah kalau kita bicara bahwa semua bahwa semua yang tidak dijelasin dalam Al-Qur'an atas enggak ada, ada berapa banyak yang harus kita tidak adakan? Benar itu, T? Heeh. Ee ini kalau saya ngelihatnya gini, Tad. Heeh. Mereka kan ah pembelaan orang-orang itu gua bilang, "Saya enggak percaya dinosaurus karena tidak disebutkan di Al-Qur'an." Betul. Tadi jawabannya. Iya. Kalau kalau mereka mau apa ya? lebih jauh mau nyari tahu. He mereka bisa ngebandingin Al-Qur'an itu kan turun tahun 600 600 6, maaf eh 610 kalau enggak salah kanan itu kan 610 Masehi. Fosil dinosaurus pertama yang ditemukan itu tahun 1600-an. Iya. Jauh banget ya. Jauh nih. Ini Al-Qur'an 600-an, dinosaurus 1600-an. Yang bikin nama dinosaurus kan bukan Al-Qur'an ya penelitian nemuin.

3:02 Betul. Dan enggak mungkin juga namanya dinosaurus di dalam Al-Qur'an. Iya. Ne. Di dinosaurus kan ada ayat-ayat yang menyebutkan tentang kehidupan sebelum manusia kan salah. Ada kan pad sebenarnya sudah berhubungan nih sains dan ininya sains dan Al-Qur'annya. Betul. Setidaknya Al-Qur'an memberikan ruang memberikan ruang untuk itu ya. Harusnya kan di situ kan kita bisa meneliti lebih jauh kan kalau memang kita mau tahu kan. Tapi ini kan malah kok enggak ada di dinosaurus di Al-Qur'an. untuk kalau dinosaurus disebut di Al-Qur'an malah kita jadi mempertanyakan Al-Qur'an nanti. Dan harusnya tidak dinosaurus kalau disebut dalam Al-Qur'an karena harusnya bahasanya ya harusnya di usah [tertawa] kan enggak ada no. Iya itu kan. Nah tapi dari situ aja kan jadi kayak Al-Qur'an ini jadi apa ya fungsinya kayak ensiklopedia. Heeh. Orang oh enggak ada dinosaurus berarti enggak ada bukan bukan dicari korelasinya. Heeh keren banget itu. Itu benar banget.

3:48 Karena aku teringat begini, waktu dulu aku ketika ketika ngobrol sama orang flat Earth, lu bahas Flat Earth juga ya baru-baru ini ya? Ee enggak sih flatnya enggak, cuma heh em ngebahas sesuatu yang lain tapi orang itu percaya flat earth. Oh akhirnya lu bahas. Tidak tidak dibahas flat earth ya. Oke. Aku pernah ngobrol sama orang flat earth, aku dikafirin gara-gara menurut dia aku tidak percaya pada ayat yang dia pikir bahwa ayat itu adalah pertanda bahwa bumi datar. Pasti ini ya yang dihamparkan isi bumiak. Betul. Heeh. Begitu kan. Wajal ard firas. Jadi Allah menjadikan bumi itu seperti viras, seperti tempat tidur kan gitu kan ya. Nah aku bilang pada dia juga sama bro. Kalau lu mengatakan seperti itu berarti lu menurunkan derajat Al-Qur'an dari petunjuk manusia.

4:34 Kitab petunjuk manusia menjadi kitab sains. Kalau kitab sains bisa dua kemungkinannya, benar atau salah. Sedangkan Quran kan enggak mungkin salah. Karena yang dulu ustaz bilang kalau apa kalau sains tuh what and eh what and e what and how. What and how. Kalau Quran Quran. Betul. Heeh. Nanti itu masalahnya tuh. Nah dari situ kan kalau saya sih selalu ngerasanya Quran dan sains tuh harusnya beriringan. Benar. Benar. Bisa bisa menjelaskan memperkuat satu sama lain. Cuma kan kalau di orang kita sekarang entah kenapa sains tuh ciptaan orang kafir yang diciptakan buat menjatuhkan umat Islam selalu gitu kan. Menarik banget. Karena gini ya, eh kita coba lihat lagi ya. Eh sebenarnya Antum bilang tadi itu sudah tidak dapat dibantah. Karena secara sejarah justru yang menjadi pengampu daripada sains di

5:20 masa keemasannya itu adalah orang-orang muslim. Itu artinya pernah terjadi pada satu masa tidak ada problem antara Quran dan sains. Baghdad. Betul. Bahkan yang menjadi orang-orang yang menjadi ee pemuncak sains adalah orang-orang muslim yang tidak bisa kita ragukan keimanannya, kan gitu kan ya. Nah, itu itu yang terjadi artinya sekarang justru ah historis sebenarnya enggak ada sejarahnya. Eh, itu yang itu yang bikin saya emosi. Saya tuh ng-recall ke belakang dulu kan di Baghdad kita punya House of Wisdom itu kan Baitul Hikmah. Heeh. Itu kan pusat sains dunia loh di dikas sama. Dan sebenarnya lu pernah bahas lu pernah bahas enggak sih tentang ee pertentangan antara sains dan agama di masanya orang-orang Kristen? Lu pernah bahas enggak sih? Mau bahas. Makanya kemarin ngontak Risco tuh sempat Oh gitu. Mau diskusi itu sama Ris. Mungkin ada satu fakta yang perlu lu tahu. Jadi dulu

6:06 ee salah satu mercu suar dunia dalam bidang sains itu Alexandria. Ya, Alexandria itu adalah mercara sains. Mereka tuh bikin ada yang terkenal namanya Library of Alexandria dan itu ada banyak versi sih. Ada yang bilang ada satu tempat khusus, ada yang bilang ada berbagai macam e yang namanya museum ee dari kata muse dan segala macam itu. Tapi setidaknya dunia e sepakat bahwasanya ada yang namanya Perpustakaan Alexandria ee dibuat oleh orang-orang pada saat itu adalah ee orang-orang Yunani ya dari ee peninggalan Macedonia. Mereka buat kemudian banyak sekali ee mercu suar pengetahuan dan pada saat itu muncul yang namanya agama Kristen. Nah, ketika muncul agama Kristen dan antum tahu apa yang terjadi? Yang terjadi adalah orang-orang Kristen itu mengkonfrontasikan ini. Ini kita bukan bahas tentang masalah agama ya, kita bahas sejarah ya.

6:51 Waktu itu orang-orang Kristen mengkonfrontasikan antara sains dan kemudian agama. Dan mereka bilang bahwasanya yang percaya sains itu problematik dengan agama. Berarti kita sudah tahu kan asalnya dari mana? Dan antum tahu ada ada ini ada ee ada korban salah satu korban yang sangat terkenal namanya Hifatiah. Hifatiah ini seorang perempuan ahli matematik, ahli e astronom juga. Dia menelidiki tentang segala macam dan akhirnya dihajar pakai ayat e pakai ayat Bibel bahwasanya cewek tidak boleh ngajar. Akhirnya lu tahu apa yang terjadi sama dia? Apa? Dia dimutilasi gara-gara dianggap sebagai ee apa ya? Penyimpangan agama. Jadi kalau zaman sekarang dipersekusi tapi atas nama agama, maka orang-orang pada dasasar itu [tertawa] kenapa lu ketawa? Enggak sih sedih. Enggak apa-apa. Lanjut

7:38 dulu, Ustaz. N lanjut dulu. Nah, jadi ketika ketika kemudian ee dia itu kemudian dipersekusi di atas das seperti itu, akhirnya muncul bahwasanya orang-orang saintis itu markasnya di library. Sedangkan orang-orang agama markasnya di tempat ibadah. I kan dulu dulu Kristen dan sains kan. Kenapa sekarang terasa seperti itu di kita? Ya itu yang bikin saya tadi agak ketawa tuh itu kenapa ng-recall di kita sekarang ya? Nah, berarti dulu yang punya sejarah justru adalah ee agama Kristen pada saat itu. Sekarang jadi agama Islam. Itu problemnya. Maka selalu bilang agama itu cocok bagi orang yang mikir. Kalau orang enggak mikir, Bro, dia enggak usah beragama. Dia pasti ngawur. Dia pasti bikin masalah. Ketika dia beragama, masalah pakai dalil. [tertawa] Iya, benar. Iya, iya, iya.

8:24 Itu makanya kemarin ketika itiba I di antara semua materi yang disampaikan yang paling ngena ke saya itu pas ini, Tad. Dimarahin ya lu itu. Iya. [tertawa] Doi kan marah-marah nih di panggung ya. Doi marah-marah nih di panggung. Gua ngerasa dimarahin kayaknya marah ke gua deh gitu. Itu bagus bagusnya kalau aku lagi marah-marah bisa dipotong nanti mungkin dijadiin trailer kayak Hitler marah-marah itu. Iya marahnya benar-benar kerasa gitu. Ih kayaknya marah ke gua deh. Padahal enggak kan yang nonton kan ratusan itu tetap. Cuma paling ngena ke saya Ustaz Wimar. Oke. Ketika dia menyampaikan makna iqra. Oke. Wah itu masalah di orang kita banget kan. Iqra tuh sebenarnya kan seharusnya enggak cuma dibaca tapi juga dipahami lalu diamalkan. Ya kan itu kan. Betul. Karena karena kalau baca itu cukup pakai kata tala tilawah. Iya.

9:09 Heeh. Tapi kalau iqra harus lebih. Nah, kan tapi kan itu kan ah masalahnya di kita adalah I kita di poin bacanya a tuh enggak loh. Gimana mau dipahami, gimana mau diamalkan. Lu lihat zaman sekarang enggak sih ada orang bikin ee bikin semacam kayak apa ya? Potongan film. Heeh. Film ini bercerita tentang apa-apa dan segala macam. Dalam film ini dikasih tahu e judulnya dan segala macam. Tahun berapa lu lihat komen judulnya apa? Sering [tertawa] banget. Iya kan? He mak kesal banget kan dia Indonesia benar-benar darurat literasi itu kacau sih. Aduh itu iya kan ee kan kalau Ustaz Wimar bilang kita harus bisa memahami ini. Terus saya bilang, "Wah, tapi kalau orang kita itu bahkan di poin bacanya aja belum loh. Gimana mau dipahami atau diamalkan atau

9:54 ketika sudah baca malah itu yang dijadiin pegangan tapi tidak dipahami untuk bisa ditarik ke mana-mana." Bahkan kalau dalam taksonomi Blom kan bukan hanya baca ya, tapi remember. Remember. Iya, benar. Eh, mengingat apa yang dibaca. Iya, itu juga enggak kayak baca aja enggak apalagi lu ngingat gitu kan. Nah, sebenarnya kan ee paham itu kan menurut saya tingkatnya di atas ingat ya. Karena kalau kita sudah paham, kita udah enggak perlu ingat, kita bisa tahu, bisa recall ke mana pun kan. Iya, benar. Heeh. Nah, kalau I kalau orang kita tuh kan dibacanya juga enggak. Akhirnya ya itu tadi Al-Qur'an dijadiin referensi tapi bukan untuk dimengerti. Dinosaurus mana? Enggak ada. Padahal yang bikin kata dinosaurus juga kan peneliti. Iya betul. Padahal kalau kalau mau bicara lebih lanjut kan ada ininya ada ayat-ayat tentang kehidupan sebelum manusia kan. Betul. Bahkan ada yang menarik, Bro. Ee

10:40 suarai aku potong ya. Ada yang menarik gini. Ee pernah ada seorang ulama ee dia ditanya mungkin enggak ada ekstraterestrial ada ITI. Ini pernah kita bahas bertiga, Maris alien gitu kan ya. Betul. Kita pernah bahas. Tapi kita coba untuk nyampaiin secara mudah. ee di dalam Alquran itu dikatakan misalnya contoh ya di dalam suratul Fatihah ee alhamdulillahiabbil alamin bahwasanya segala puji bagi Allah pencipta atau pemilik ee seluruh alam itu bukan alam doang tapi ada alamin artinya adalah alamnya banyak dari itu aja kita bisa katakan bahwa bukan hanya ada satu alam yang kita tahu tapi ada banyak alam bisa jadi alam j alam dinosaurus [tertawa] kan terserah kita kan ya dan kita bilang kita enggak tahu alam mana aja. Tapi semua alam itu adalah Allah yang pemilik.

11:26 I tapi ngomong lupa kan lupa iya jadi lupa. Heeh. Ee i itu kan jadinya kan orang-orang tuh menjadikan Al-Qur'an sebagai patokan baca. Iya. Heeh. Oh enggak ada dinosaurus langsung nanti ngartiin apaagi gitu. Jadi fungsinya jadi kayak ensiklopediar malah terdegradasi ya makna Al-Qur'annya ya. Akhirnya jadi kitab sains. Iya. Betul. Jadi cuma untuk tahu aja bukan untuk dipahami. Heeh. Padahal kan kalau mau belajar Al-Qur'an lebih dalam kan banyak ayat-ayat di Quran yang ngajarin kita e apa yang nyuruh kita untuk nyari ilmu. Ratusan, ratusan ayat di dalam Al-Qur'an nyuruh kita untuk mikir. Iya untuk eh untuk mikir. Heeh. Kayak analisi. Anal 43. Posisi posisi di tengah. [tertawa] Di tengah posisi di tengah ya. Sampai hafal itu. Itu kan nyuruh manusia untuk

12:11 belajar kan. Iya. Iya. Heeh. Benar. Akhirnya kayak image-nya di sini. Akhirnya orang yang agamis malah jadi orang yang cenderung bodoh, Tad. Image-nya sekarang benar enggak sih? Ee bukan, bukan bodoh sih, tidak mau berpikir mungkin atau jauh dari ilmu pengetahuan. Enggak mau berpikir dan kemudian jauh daripada ilmu pengetahuan itu memang ee sinonimnya ya bodoh sih. Iya sih sih. Iya. Lebih kepada gini menurutku judging. Ah iya benar. Jajing. Daning itu adalah efek daripada orang enggak mau mikir. Lihat ya. juga orang enggak mau mikir yang sudah kita bahas awal ya, Felix ternyata dia tidak ngomong jelek tentang seseorang. Oh berarti dia pendukung nih. [tertawa] Itu jajing. Benar. Jam toklas kanjing. Artinya kalau ada orang enggak mau mikir, dia enggak mau ngumpulin data, dia enggak mau belajar,

12:56 dia jaj aja. Ee, oh contoh yang sering dibahas tuh. Kenapa nilai lu jelek? Itu dosanya enggak suka sama gue. Iya benar. Kenapa kenapa lu e kenapa lu di rumah dimarahin terus? Ya memang bapak gua begitu. Padahal dianya yang parah. Iya kan itu kan ya. Nah itu itu adalah judging. Nah orang kita tuh judging gitu. Ah sebenarnya kan judging itu berarti kan mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan. Iya. Heeh. Itu adalah akar dari karena mereka tidak bisa berpikir panjang. Mereka tidak bisa riset dengan banyak sumber tapi akhirnya narik ke kesimpulan yang harusnya bisa lebih berkualitas lah. Mereka kan enggak kan. Ya. Contoh kalau kita balik tadi enggak ada dinosaurus berarti udah enggak ada. Atau contoh-contoh lain banyaklah kasusnya. He. Nah. Ini dari mana awalnya, Tat? Ya, bisa

13:42 kita dari kalau umat Islam tuh penguasa sains tadi ya, pusat sains di kita semua sampai akhirnya kondisinya jadi begini, terutama di Indonesia sih. Iya. I iya iya. Betul. Aku belajar tuh gini, aku pernah baca gini, dulu orang-orang muslim tuh benar-benar bisa memecahkan seluruh masalah-masalah hidup mereka karena mereka paham fakta dan mereka paham dalil. Nah, pada satu masa ya kita tahulah ya ee masa-masa sulit menciptakan generasi hebat. I masa generasi hebat menciptakan masa-masa yang muda. Masa-masa muda menciptakan generasi malas dan generasi malas menciptakan masa-masa sulit. Dan berulang kembalilah kemudian cerita kita siklus. Siklus. Nah, berarti kapan malasnya orang-orang muslim untuk berpikir itu ketika mereka berada di pick performance-nya mereka yaitu ketika Golden Age nah setelah Golden Age itu ya

14:27 apalagi kemungkinan dari paling atas selain turun kan gitu kan ya. Maka pada saat itu mereka sudah malas mikir dan malas menyelesaikan permasalahan-permasalahan. He. Di sisi lain pada saat itu ee dilalah atau sialnya kita pada saat itu adalah orang-orang Barat justru mulai untuk berpikir karena mereka ninggalin agama ya. Karena agama bagi mereka menghambat untuk berpikir tuh mereka ninggalin agama renaisans. Ketika Renaisans mereka bikin banyak perkara-perkara baru yang berlandaskan dari ilmu yang mereka dapat dari muslim. Muslimnya sudah malas. Mereka bikin banyak hal muslimnya bingung ini nyikapinnya gimana. Jajing. Ada TV. TV haram. Kenapa semua yang diproduksi orang kafir haram? itu itu kesimpulannya atau kalau enggak gitu jajing lagi semuanya boleh yang penting ada manfaat akhirnya ada ekstrem kiri ada ekstrem kanan dan itu berlanjut

15:13 sampai ke Indonesia balik lagi sebenarnya berpikir maka kalau kita bahas tentang Rasulullah Rasulullah tuh tugasnya apa naikin tingkat berpikir agar orang tuh kompatibel dengan agama karena kalau orang tuh enggak kompatibel dengan agama Bro mereka sebelum beragama kasar setelah beragama lebih kasar wah itu yang terjadi di sini loh ya memang sebelum beragama enggak mikir e sebelum setelah beragama Mah enggak mikirnya pakai dalil. Itu problemnya tuh. Iya. Heeh. Karena kan ya harus diakui image Islam di kita sekarang kan apalagi di orang-orang nonmuslim ya. Kalau saya Islam tuh menyeramkan. Islam tuh kasar. Islam tuh keras. Islam tuh tukang main hakim sendiri. Akhirnya jadi gitu kan. Betul. Jajing enggak mau untuk berpikir panjang. Heeh. He. Bahkan nih sejujurnya ya sebelum gua ketemu Ustaz Felix ya, gua tuh belum nemu ustaz yang cocok sama sekali karena enggak bisa diajak diskusi sains.

15:59 Kalau diskusi sejarah pun selalu pada akhirnya ee orang Barat tuh sengaja menjatuhkan kita. Nah, di luar itu benar atau tidaknya menurut saya itu membuat orang kita menjadi malas akhir ya di luar itu ee bener atau tidak yang sengaja dijatuhkan ya. Contohnya saya pernah cerita ke Ustaz sih ee saya pernah bahas Khairuddin Barbarosa. Oke. Khairuddin One Piece. Iya, Barbarosa. Heeh. Iya. Nah, itu kan sebenarnya kan kalau di sudut pandang orang barat dia bajak laut, dia jahat. Kenapa dia jahat? Ya, masalah point of view aja. Karena orang barat musuhnya dia kan. Itu kan langsung dihantemnya di situ. Oh, enggak, ini orang barat sengaja menjatuhkan dia, gitu-gitu kan. Akhirnya kan kita jadi ya jadi malas lah. Jadi malas untuk mencari tahu lebih tentang dia. Padahal betul ya. Masalah sudut pandang. Kenapa dia jahat ini? Karena orang Barat musuhnya

16:46 dia. Nah, kalau mau ngelawan ini harusnya kita pakai sudut pandang juga. pakai sudut pandang kita bikin karya-karya yang menampilkan Kiruddin Barbarosa dari sudut pandang lain. Misalnya kayak kalau di Barat dibikin kapten Barbosanya apa namanya? Pirat of Caribbean itu kan iya dibilang itu itu jahat banget kan di situ ya kalau emang kita mau melawan itu harusnya kita mikir kita tampilkan dengan yang lain tapi kan ini enggak kan cuma kar-kar oh itu sengaja tuh buat ngejatuhin buat ngejatuhin tapi ya udah terus selesai akhirnya malah bikin kita jadi jajing malas mikir tidak meng-counter apa-apa ngerasa jadi korban betul dan kadang-kadang di di tempat yang lain atau di masalah-masalah yang lain kita overklaim itu aduh zombi adalah muslim feih adalah muslim itu saya pernah baz Zombie. Saya diserang, Tad. [tertawa]

17:31 Saya diserang lu. Kayaknya memang bakal diserang lu, ya. Iya. Saya kan cuma ngasih tahu referensi saya. Emang saya ngangkatnya tuh di zombie itu awal dari film. Kenapa dari film? Karena zombie benar-benar tersebar. Ya itu karena film yang pertamanya. I baru di situ saya jelasin kenapa film ini bisa ada. Karena mereka terinspirasi dari para budak di Haiti betul. Yang dipaksa kerja sampai udah kayak orang mati mau mati tapi masih kerja. Betul. Dan ada ramuan-ramuannya juga. Ang kayuan-ramuan dukun sana yang bikin mere tetap bisa kerja walaupun sebenarnya secara fisik secara mata tuh udah ini i saya nerangin itu orang kayak nonton baru nonton di ini ya baru nonton di awalnya karena bilangnya zombie itu pertama kali terkenal dari film gini he orang-orang yang pro sama zombie pahlawan Islam mereka bilangnya ah ini dibilangnya ini soto banget nih channel ini channel review film lah jangan

18:17 review film kan penjelasannya banyak di belakang kenapa yang filmnya doang yang diambil dan dan itu salah satu paranya lagi ya bahwasanya setelah mereka mau untuk judging overclaim Mereka nyerang. Mereka nyerang dan mereka tidak mendengarkan pendapat lain. T dan nyerangnya juga enggak apik. Nyerangnya @ homem gitu maksudnya. Jadi nyerangnya orangnya, nyerangnya enggak berhubungan dengan apa yang dibahas dan. Iya. Akhirnya nyerang ke kitanya. Kayak kemarin saya ini, Tad, yang lurusin ee minyak. Iya. Apa? Fosil T-Rex jadi minyak. Itu ya udah salah kan? Kan minyak kan dari plankton dan ganggang laut yang mengendap miliaran tahun kan. Ini fosil Tre-rex. Ahudah saya menjelaskan itulah ada yang ngebantah. Heeh. Terus saya bilang, "Mas, ada jurnalnya enggak?" Karena gini, kalau menurut saya konspirasi kalau geopolitik kalau segala macam itu masih ada masih

19:03 ada kemungkinan masih bisa kemungkinannya banyak. Karena kan kita enggak tahu apa yang terjadi di belakang sana segala macam kan kemungkinannya masih ada makanya masih sekian persen masih saya ini masih saya fenomena sosial tapi kalau sudah sains itu kan ada jurnalnya untuk menjadi teori itu kan banyak penelitian-penelitian yang terus dibukukan kan kalau kita mau membantah sains mau enggak mau kita juga harus ada penelitiannya harus ada riset harus ada jurnalnya dong harus ada datanya nah jadi ketika ada orang bilang enggak emang benar minyak itu kayak air enggak akan habis gitu [musik] ya kan kita cuma nanya ada datanya enggak mas nyari enggak nemu Iya. Marah-marah terus ya. Tuh cari sendiri aja lah. [tertawa] Lah kan el yang percaya. Iya. Kenapa? Jadi el yang nyuruh orang nyari. Betul. Itu masalahnya tuh kita kita yang eh dia yang bikin masalah kita yang suruh tabayun. Iya benar benar benar. Bahkan kayak kayak orang itu aja enggak bisa

19:49 membedakan mana berpikir logis mana berpikir empiris. Kan kan dia bilang oh lebih logis penjelasan si Mbak ini daripada lu yang jelasin minyak gini-gini. Ya kalau emang pakai logis doang emang logis. Cuma kan ini sains lu tetap ada. Kok ada mbak-mbak yang bilang minyak enggak habis-habis itu? Itu saya bikin video ngebantin Ustaz. Iya. Saya jelasin enggak minyak tuh asal dia aja udah dengan dia bilang minyak dari fosil T-Rex saya kan udah salah. Iya. Iya salah lu sih memang salah lu sih lu [tertawa] cewek lu bantah cewek bro salah lu. Soalnya itu viral tad dan di TikTok banyak yang iya-iya aja. Iya sih aneh sih. Aku kenalin. Hah masa minyak tidak terbatas. Heeh. Nah maksudnya kan dari situ kan lu referensinya apa nih gitu kan. Nah, itu tuh yang setuju sama dia. Banyak yang malah jadi galak sendiri loh. Kita cuma nanya referensi kalau emang ada.

20:35 Karena kita enggak tahu kan mungkin di luar sana ada penelitian yang sudah membuktikan itu dan kita enggak tahu. I ya kita kan butuh selalu butuh update ilmu kan. Kita cuma nanya itu tapi malah dihantem-hantemin. Akhirnya malah ribut tuh sama follower-follower yang lain tuh. Ya kita sih ya mengamati aja udah ya. Cuma kayak kok jadi begini ya. Dan selalu itu Tad orang Islam Tad. Iya betul. Oh gitu. Karena memang e selain mungkin karena mayoritas ya, cum iya mayoritas. Dan yang kedua pendidikan. Kita harus lihat tingkat pendidikan. Karena gini ya ee pertama orang-orang yang bisa problematika itu semua tergantung literasi. Kan kita punya banyak data ya bahwasanya ada orang yang ee apa ya kriminal bergantung dengan literasi. Kalau literasinya meningkat, angka kriminalnya menurun kan gitu kan ya. Karena makanya kan orang-orang bilang gini ee rules ataupun aturan itu adalah

21:20 dibuat untuk orang-orang yang paling yang paling bodoh di antara manusia. Artinya harus bisa mengakomodasi yang orang yang paling bodoh kan gitu kan ya harusnya kan gitu karena kalau yang di atas mungkin bisa berpikir sendiri kan kalau tidak tidak perlu ditulis rules-nya mereka ah ini emang enggak boleh enggak boleh enggak boleh cuma butuh ditulis untuk orang-orang yang tidak mengerti yang dalam tanda kutip paling bodoh tadi betul nah artinya kalau kita melihat dari sisi itu kebetulan tanpa kita memandang agama ya Indonesia ini literasi memang rendah sekali coba antum bayangin baca buku aja tingkat baca buku itu berapa 0,001% kalau enggak salah ya alias ee Satu buku enggak nyampai per setahun. Iya. [tertawa] Dan sebenarnya kan sekarang kan untuk mengakses pengetahuan tidak butuh buku loh. Enaknya kita pakai HP juga bisa. Tapi kan sudah tergantung apa yang kita cari di sini kan pada tapi mereka main game di HP.

22:06 Main game atau kebanyakan sosm joget segala macam. Betul. Betul. Heeh. Itu problemnya. Iya. Pada akhirnya bukan cuma apa ya bukan cuma di buku tapi memang minat ke ilmu pengetahuannya tuh memang minim banget. I dan aku melihat memang ee jadi gini agama itu menurutku ya baru akhir-akhir ini aja. Heh. Faktanya ee baru setelah I baru setelah setelah Golden Age aja sebenarnya ya dijadiin sebagai sebuah tameng atas orang tuh enggak mau ngerti sesuatu yang tadi aku bilang untuk bisa jump to conclusion tu pakai conclusion tuh pakai agama gitu. Jalan pintasnya pakai agama. Jalan pintas pakai agama karena seolah-olah agama cuma jadi sekedar kayak dalil yang enggak bisa diperdebatkan. Iya. Padahal kalau mau tidak bisa diperdebatkan, lu belajar dong agama benar-benar dan lu jadi tahu bahwasanya ulama itu ngasih banyak sekali ruang pada perkara-perkara sains.

22:51 I gitu maksudnya. Dan mereka enggak banyak bahas. Artinya mereka bilang, "Kita serahkan pada orang yang lebih tahu. Kita serahkan pada orang yang lebih tahu." Tapi orang-orang yang kayak gini, dia cuma mau baca sekilas-sekilas menentukan sikap, lalu kemudian langsung membelanya mati-matian tanpa ada dalil sedikit pun. Itu masalahnya tuh. Sama ini, Ted. Ee, kita kan selalu suka dengar enggak sih cerita-cerita gini? Peneliti terkejut karena ilmu yang dia pelajari bertahun-tahun ternyata ada di Al-Qur'an gitu-gitu. Betul. Nah, menurut saya banyak orang kita yang dapat cerita gitu jadi menyimpulkannya, oh berarti gua gak usah belajar sains nih. Di Alquran ada. Masalnya kan bahasa di Al-Qur'an kan tidak se apa ya? Tidak seharfiah itu kan. Benar. Dan dan sebenarnya tidak boleh juga untuk begitu. Tidak boleh harfiah. Itu seperti yang ustaz bilang itu kenapa kelebihan Al-Qur'an dia tidak pernah menyebut tahun. Betul. Dia ngomongnya umum.

23:38 Perkara-perkara memang harus umum. Heeh. Nah, makanya kan untuk mengerti Al-Qur'an sepenuhnya kita harus mempelajari itu. Ada ilmunya dan kita butuh sains buat tangga ke situ juga sebagai jembatan kan. He. Nah, cuma kayaknya orang kita ngelihatnya karena peneliti ini mempelajari misalnya mempelajari virus 15 tahun ternyata dia terkejut ada di Al-Qur'an. Akhirnya banyak yang menyimpulkan karena Jajing balik lagi, "Oh, berarti enggak usah belajar sains nih Al-Qur'an aja." Tapi pemahaman dia di Al-Qur'an sebenarnya tidak se setajam itu, tidak setinggi itu. Akhirnya dia cuma nyari, "Mana dinosaurus? Enggak ada." "Oh, berarti enggak ada. Ah, bumi dihamparkan." Oh, berarti bumi datar. Jadi begitu. Betul. Tapi gua ambil contoh ya. Coba lihat ya. Ini dari segi logika ya. Kita kan baca One Piece. Eh, paham aku. Dan ketika dan ketika kita terus kemudian ditanya, "Kenapa sih lu suka baca One Piece?" Kita ngomong, "Ternyata kejadian-kejadian Indonesia tuh salah

24:24 satu tergambar loh di One Piece." Banyak referensi sejarahnya. Betul yang masuk ke dalam One Piece ya. Kita bilang gitu. Ada juga orang nonton Naruto, "Eh, presiden Indonesia kok pas banget ya sama Naruto benar kan?" Apalik kemarin Agus Agus Agus itu ternyata Gusgus Agus ada tuh anak guaru yang tiga. [tertawa] Yang satu mata ditutup, satu enggak punya tangan, satu gondrong. Betul tayuya ya. E semuanya tayuya. Nah, arnya kalau kita lihat gini itu berarti kan pas ya. Iya, ada realitas kita kemudian eh cocok ya ternyata dengan referensi. Tapi yang sekarang di oleh orang-orang muslim yang salah tadi mohon maaf ya ini dibalik bro bukan bukan dari dari realitas ke referensi. dari referensi referensi ke realitas nafsirin proyeksi ke realitas akhirnya jadi lebih ngawur ngeramalin masa depan based on Naruto. Jadi gitu-gitu ya atau dia kemudian

25:11 bikin teori sains dari Al-Qur'an. Ah iya itu kan parah tanpa mempelajari sains ya. Tanpa mempelajari sainsnya. Kalau sains, oh ternyata ada dalam Al-Qur'an okelah masih bagus ya. Tapi kalau dari Al-Qur'an diproyeskan ke teori sains, berarti ini jadi teori sains dong dari jadi buku sains dong. Balik lagi itu beda karena Al-Qur'an eh sence ya eh Alquran why science what and how. Betul. Betul. Jadi kayak apa ya itu kan one way ya ini realitas. Oh ternyata benar ada referensinya bukan dibalik gitu kan [tertawa] ya dibalik kacau banget jadinya. Contoh misalnya kalau kita balik ya di dalam Naruto tuh ada yang namanya Danzo. Kayaknya kalau kenyataan Danzo itu adalah orang ini. Ih jadi jadi baik kayak gitu Ted. Iya akhirnya malah jadi dipakai alat ngeramal kan. Betul. Jadi, meramal ensiklopedi atau buku sains.

25:57 Iya. Heeh. Itu eh contoh lagi deh. Ini tek waktu saya menjelaskan teori evolusi. Heeh. Saya ngerasa saya sadar ini pasti bakal banyak diujat nih gua nih. Tapi tetap harus dibahas karena orang kita sudah salah pemahaman. Karena evolusi tidak pernah mengajarkan manusia dari monyet kan. Itu udah beda. Itu sudah pernah. Darwin tidak pernah mengatakan manusia dari monyet. Iya. Tidak. Iya. Tidak pernah. Itu prosesnya panjang. Sebenarnya evolusi itu kan seleksi alam kan. Seleksi alam. Terus mereka akhirnya lolos lolos lolos. berubah-ruber begitu. Nah, terus saya kan mencari referensi ininya ilmuwan-ilmuwan muslim mempelajari tentang ini. Salah satunya ada tadi yang ee Profesor Ali Akbar yang UI yang dia Quranologik itu. Betul. Terus sama ini dr. Adnan Ibrahim. He. Keturunan Palestina ya. Itu Atnan Ibrahim tuh bilang

26:43 ee dia 99% percaya dengan evolusi ya. Karena menurut dia di Al-Qur'an dan semua yang terjadi based on keislaman semua itu selalu berproses. Iya. Heeh. Enggak pernah macan. Jadi macan enggak pernah gitu. Heeh. Dia ngambil contoh janin aja deh. Kan kita lahir enggak langsung langsung bayi terus jadi langsung jadi manusia kan pasti ada ininya pasti ada prosesnya kan. Nah tapi dia 99% percaya. Apa 1% yang tidak dia percaya? 1%-nya adalah ketika sains bilang ini seleksi alam. Jadi semua tuh kebetulan. Ya menurut dia enggak. Itu adalah kehendak Allah. Betul. Melibatkan Allah. Itu melibatkan Allah. Cuma kita juga pernah bahas sama Risco. Emang kalau di sains ketika sudah mentok, ketika mereka sudah enggak tahu ini jawabannya apa sih? Oh ini kebetulan atau ini, "Oh, ini alien gitu."

27:29 Mau harus apalagi masa Allah. Nah, itu menurut Dr. Ibrahim 1% itu adalah kehendak Allah. Itu yang menurut dia berbeda dari sains. Iya. Heeh. Itu kan kalau orang mau belajar lebih jauh kalau oh gua orang Islam, gua enggak bisa kayak ini. Lu kan tinggal cari peneliti Islam yang menerangkan itu kan. Dan kalau iya kan harusnya begitu cuma kan enggak di sini saya lihat baca komen-komen tuh banyak misalnya yang di ini aja yang di minyak kemarin tuh banyak gua gak perc sain soalnya sains ngajarin manusia dari monyet ini kan contoh orang komen enggak belajar nih tapi galak tapi tapi ngegas di mana-mana tapi ngegas kalau dijelasin enggak akan enggak akan ah emang iya ya enggak enggak akan ada yang gitu kita jelasin dengan baik-baik pun mereka karena egoo heeh atau itu yang Ali e Ali Akbar kan dia quranik quranik

28:14 arkeologis kalau pokoknya ada Quranik lah nama metodenya. Iya. Kalau beliau tuh itu ee Nabi Adam adalah homo sapians sapians pertama yang turun. Heeh. Jadi ini sudah ada manusia purba, manusia purb manusia purba ada Nabi Adam. Iya. Betul. Heeh. Jadi emang sempat hidup berdampingan nih semuanya. Dibedakannya dari apa? Setelah Homo Siensans-sapiens muncul, setelah Nabi Adam turun itu manusia yang tadinya hidup di gua [tertawa] berburu terus ngasa-ngasa ini itu jadi punya peradaban. Mereka mulai bertani. Betul. He. Itu kan kita punya saintis-sentis muslim yang penelitiannya yang statementnya bisa kita jadikan referensi. Iya. Punya basic referensi. Punya basic. Ee dia muslim, dia ngangkat ilmunya juga nariknya dari Al-Qur'an, tapi sainsnya juga tinggi karena ahli di situnya. Itu kan bisa kita jadi referensi sebagai umat Islam.

28:59 Cuma kan kayaknya umat Islam kita sangat malas ke situ ya. Anggap gua lebih milih ngejas lah yang lebih gampang gitu kan. Karena enggak mau mikir, Bro. Dan kalau aku lihat gini ya, e pertama-tama kita harus tahu dulu bahwasanya orang yang enggak mau mikir ini sesnya banyak, hasilnya banyak. Dan salah satu hasilnya adalah dia bahkan tidak mau menerima orang yang lebih berilmu daripada dia. Lu lihat enggak sih orang zaman sekarang? Orang zaman sekarang tuh ya seorang jemah bisa nilai ustaznya benar atau tidak benar. Ustaznya tidak benar nih. Tunggu. H dia bagian dari jemaah ustaznya. Dia jemah ustaznya. Terus dia oh ini enggak benar nih ustaz. Ini enggak benar. yang benar ustaz ini. Lalu kita mikir, kalau kalian sudah bisa nentuin mana ustaz yang benar, mana ustaz yang enggak benar, harusnya kalian bukan jemah dong. Harusnya kalian sudah jadi lebih daripada ustaznya dong. Iya. Udah jadi gurunya ustaz dong. Nah,

29:46 sekarang kan gitu kan ya. Contoh misalnya kalaupun kita bilang bahwa ada seorang peneliti muslim loh, lalu kemudian dia juga ee pakar di arkeologi, dia juga pakar di dalam Al-Qur'an dan dia bilang begini, dia bilang enggak itu berarti bertentangan Al-Qur'an. Dia lebih memilih untuk begitu. Iya. Itu itu banyak yang gitu t padahal dia enggak belajar. Sedangkan ini peneliti ini belajar di dua-duanya. Dia bikin teori. Terus harusnya lu kalau mau bikin teori lu peneliti juga lu ilmunya. Benar. Benar. Itu masalahnya tuh. Ini enggak. Heh. Kita kan ngebayangin orang ee wah ini kafir nih peneliti ini. Kita ngebayanginnya dia kan ngetiknya sambil baring. Sedangkan si arkeolog Edi dia udah udah mungkin kita ngegali apa kita enggak tahu dia udah tahun. Betul. Heeh. Tapi galakan yang ini, Tad. Nah, makanya ketika ketika ada orang-orang kayak gini. Nah, itu ses

30:31 daripada enggak mau mikir tadi dan instan tadi semuanya harus instan udah ngapain dia mikir ya udah tinggal judge aja lah gitu maksudnya. Tapi makanya itu saya apa ya, saya sangat menghindari bilang misalnya, "Ustadz, ini enggak benar, enggak benar, enggak benar." Kecuali kalau emang ada benar-benar yang iya sesuatu ee sesuatu yang bukan ustaznya, tapi perbuatannya. Perbuatannya atau statementnya. Saya sih lebih ke enggak cocok. Saya bilangnya, "Ah, enggak, gua cocoknya sama Ustaz Felix. Kalau mah ini masih belum cocok." Dia bilang gitu aja. Sudah cocok, udah dapat orang ternyata bukan ustaz, motivator ini doi tu. [tertawa] itu banyak banget loh yang bilang Ustaz Felix kalau ada video apa ngeklip Ustaz Felix ngomong apa kayak kemarin tuh yang rame banyak tuh komen-komen Felix bukan apa Felixio bukan ustaz dia motivator sumpah itu banyak banget oke ini motivatorku nih bukan ustazku motivator lebih bagus kayaknya karena

31:16 motivator tidak bisa dihukumi dengan dalil [tertawa] iya lagi i lagi harusnya lebih aman takut salah dalil ya enggak perlu bukan aku enggak bisa dihukum dalil gitu kan ya ulang masuk bukan aku motivator dan enggak Ada motivator suak [tertawa] ada motivator yang buruk. Tetangga gua nih banyak bangetnya. Iya memang kalau mau tahu tet misalnya gua nge ini nih e storyin Ustaz Felix kemarin pas itiba ya langsung di DM lu ya. Iya di DM gitu ke acara-acara itu. Asik lu pada [tertawa] masih mending gua gua datang mau belajar gitu kan. Iya padahal lu tadinya mau datang ke JKT kan. Iya lagi kalau tahu JKT gua datang ke JKT deh [tertawa] Pal Nabilanya aja kayak Itiba ya. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube