0:00 dengan kita kerja keras, kita nabung. Bukankah we are in control of our future? Partially kita harus menghilangkan ilusi kontrol itu. Sumber stres itu adalah kita punya ilusi, kita punya kendali penuh. Nah, saya pikir yang sehat dari stoikisme tuh e menyadarkan kita, kamu mungkin punya certain level of control, tapi itu enggak pernah 100%. Menurut filsafat STA ya, hal yang bisa dikendalikan karena sesedikit itu yaitu cuman pikiran kita, tindakan kita, [musik] perkataan kita. Henry Manampiring adalah penulis mega bestseller yang bikin filsafat kuno relevan di kehidupan sehari-hari. Lewat bukunya filosofi teras, dia ngenalin stoikisme dengan bahasa sederhana dan kena banget buat generasi kita yang lelah, overthinking, dan gampang cemas.
0:45 Bukan motivator, bukan ustaz, dan bukan life coach. Tapi tulisannya bikin banyak orang belajar nerima hidup apa adanya tanpa nyerah. Yang paling ekstrem yang saya pernah dapat ya itu e ada seseorang yang bilang dia sudah merencanakan orang tuanya. Wow. Dan habis itu dia ngomong di publik loh. Dia ngomong di publik. Di publik di acara temu pembaca dan dia berdiri dan dia ngomong gitu. Terus dia bilang dia baca buku ini dia urung. Eh akhirnya dia sekarang masih terapi. Kita bicara founding father negara wakil presiden. Mantan wakil presiden pertama. Heeh. Heeh. Heeh. itu bisa enggak mampu beli sepatu punya sepatu. Dan gua yakin kalau dia mau minta dalam tanda kutip sama pengusaha cukong orang kaya, aduh
1:30 mau 100 pasang sepatu dia bisa dapat. Tapi dari perspektif soikisme wah inilah orang paling bahagia. Karena sampai akhir hayatnya integritas dia tidak dia kompromikan. Guys, gua butuh bantuan lo biar channel ini terus berkembang, terus ada buat sharing hal-hal positif, inspirational talk, dan juga insight, yakni dengan subscribe. Karena dengan lo subscribe, berarti lo ngedukung channel ini terus ada dan berkembang. Simpel banget dan juga gratis. So, please hit that subscribe button. Thank you, Mas. Welcome back to Room for Improvement. Senang banget balik lagi ke sini. Senang banget. Ini salah satu narasumber
2:16 yang paling banyak dirquest untuk kembali lagi di room for improvement. Oh, gitu. Saya tahu. Oh, iya. Karena bukunya juga banyak soalnya. Jadi, dan banyak banget yang mesti kita gali. Kalau kemarin kita ee ngebahas soal 50 to sekarang kita akan ngebahas ee buku Mega Besteller dari Henry Manampir yakni filosofi teras. Dan em gua enggak mau pengin jadi late bloomers ya kan gua pengin tetap relevan. Ee jadi makanya gua pengin ngebahas ini dari sudut pandang bahwa filosofi teras 8 tahun dan cetakan terakhir terbaru dari buku filosofi Teras Byhan di Manampiring sudah cetakan ke-93. Iya. Ini gila sih. Lu sudah nyetak buku ini. Kompas Gram Media sudah nyetak buku ini 93 kali. Apa yang lo pernah dengar dari
3:01 pembaca lo soal filosofi teras ini? Mereka menemukan apa? Mereka ngedapatin apa dari buku ini? Yang paling banyak itu mereka mengelola emosi menjadi lebih baik. Itu banyak banget dari hal-hal sepele ya. Mereka bilang mereka dulu sering anxious, mereka dulu sering cemas, khawatir, itu terbantu sesudah mempraktikkan ee konsep-konsep di buku ini sampai pada cerita-cerita yang cukup apa ya? cukup saya bilang cukup dramatis. Jadi ada cerita ibu kehilangan anaknya, keguguran anaknya dan dia emm merasa tertolong. Tapi cerita yang paling ekstrem yang saya pernah dapat ya itu ee ada seseorang yang bilang dia sudah merencanakan mau orang tuanya.
3:47 Wow. Dan habis itu mau bu diri. I itu dia ngomong di publik loh. Dia ngomong di publik. Di publik di acara temu pembaca dan dia berdiri dan dia ngomong gitu. Dia bilang, "Saya waktu itu sudah merencanakan mau membunuh orang tua saya dan sesudah itu saya mau bunuh diri." Oh my God. Iya. Saya sampai tertegun karena enggak tahu mau ngomong apa. Ini tahun sori tahun berapa di mana ini peristiwanya? Tahun ini ee tahun ini di sebuah kota di Jawa deh. Saya bilang gitu gitu. Oke. Ee terus dia bilang dia baca buku ini dia urung ee akhirnya dia sekarang masih terapi. Jadi memang aplikasi buku ini bisa dari hal-hal yang mundin ya. Saya bilang mundin itu maksudnya stres kantor, relationship sehari-hari. peristiwa-peristiwa segelap dan signifikan. Jadi buat saya yang paling bahagia itu justru mendengar dia, dia
4:32 sedang menjalani terapi sekarang dan waktu kesempatan apa salaman satu-satu ya saya bilang gitu, "Please stay well gitu, terusin dengan e terapi konseling kamu." Oke. Aku pengin mulai dulu dari survei nasional. Soal survei khawatir nasional ini em ada 3.634 responden yang ditanyai soal kekhawatiran mereka dan menarik banget karena 63% ketika ditanyakan mengenai tingkat kekhawatiran tentang hidup secara keseluruhan saat ini, 63% mengaku mereka lumayan khawatir atau sangat khawatir terkait dengan hidup mereka secara umum. Dari survei ini, dari pemaparan ini, Mas Henri, apa yang lu temuin? 63% orang Indonesia merasa khawatir. Iya, itu juga mengagetkan karena dulu
5:19 saya pikir kan katanya kita bangsa paling woles dan paling bahagia. Paling bahagia, paling religius, paling woles gitu kan kita pikirkan. Tapi pada saat ada yang menanyakan dan ada ruang aman buat menjawab karena kan survei ini anonim jadi lebih bisa jujur itu ternyata lebih banyak yang bilang ada kekhawatiran gitu. He. Saya pikir ini bukan bukan fenomena baru. Semua manusia di segala zaman pasti ada hal-hal yang mengkhawatirkan. Tapi mungkin akhir- intensitasnya mungkin nambah karena ketidakpastian. Iya kan? Zaman dulu tuh pekerjaan ee karir kayaknya lebih jelas zaman orang tua kita kan ya. Kamu jadi PNS, jadi dokter TNI gitu. Tapi sekarang ekonomi juga enggak jelas.
6:05 orang lebih khawatir. Ee kemudian buku ini lahir sebelum COVID. Siapa yang pernah dalam seumur hidup kita, generasi kita pernah merasakan itu? Kan? Jadi banyak hal-hal yang enggak disangka-sangka mengguncang kestabilan kita dan akhir-akhir ini ya kita tahu sekarang bencana di Sumatera juga ya. Dan akhirnya 63% orang merasa khawatir akan hidup mereka secara umum. Itu relevan banget bahkan sampai dengan hari ini. Ya, betul. Betul. Betul. Oke. Oke, Mas. Ee dari berbagai aspek kehidupan finansial asmara karir, terus mungkin juga ee kejombloan [tertawa] dan banyak banget faktor yang lain. Mana yang menurut Mas paling notable, orang khawatir?
6:51 Ee kayaknya enggak bisa digeneralisir karena tergantung fase hidup. Oke. Jadi kalau kita nanyanya ke mahasiswa yang masih sekolah, ya stresnya masih tugas sekolah, saya lulus apa enggak, bisa bayar SPP atau enggak gitu. Kalau baru first jobber atau baru lulus, pekerjaan karir tentunya jadi sumber stres kan. Itu kalau dibaca buat yang udah orang tua punya anak stresnya ganti lagi gitu. Mereka sekolah, nyari sekolah di mana? Bullying lah, duitnya di mana. Heeh. Faktor pendidikan, narkoba gitu. Heeh. Jadi di setiap tahap kehidupan tuh pasti ada stres yang unik untuk fase hidup itu. Oke. Gimana cara kita mengatasinya, Mas? Kalau misalnya aku sebelum em sebelum kerja stres pada kuliah, aku setelah
7:36 kerja stres pada karirku, aku akan menikah stres pada pernikahanku. Setelah aku punya anak, aku stres bagaimana anakku? Ya. Ya. Itulah seluruh buku filosofi teras sebenarnya tentang itu. Ee tapi satu yang mungkin paling mudah untuk diterangkan di forum podcast tuh mempraktikkan dikotomi kendali itu loh. He gitu. Menyadari bahwa dalam hidup itu akhirnya ada hal-hal yang harus diterima di luar kendali kita ya. Dan ada sedikit hal yang di bawah kendali kita. Oke. Nah, kadang-kadang orang itu tidak menyadari itu sehingga mereka terlalu banyak memusingkan hal luar kendali tanpa punya kemampuan mengubah itu. Hm. Gitu. Misalkan emm apakah saya akan bertemu jodoh saya gitu kan. Itu kan ada
8:23 variabel yang di luar kendali dia gitu. Tetapi kalau dia terus-terus memusingkan itu kan enggak sehat. Energinya tuh jatuh ke hal-hal yang saya enggak bisa kendalikan. Padahal lebih baik itu dialokasikan ke apa yang bisa saya lakukan sehingga meningkatkan probabilitas saya ketemu jodoh gitu. Mungkin saya circelnya itu-itu aja, ketemu orangnya itu-itu aja, nongkrongnya itu-itu aja. Ya, kapan ketemu orang baru? Oh, mungkin saya harus improve diri sesederhana mungkin. Mungkin penampilan saya, packaging saya kali ya. Iya. Ini aspek marketing gitu kan. Apa sih yang membuat saya punya daya jual dalam tanda kutip yang lebih baik? Nah, lebih baik tuh energi dialokasikan ke situ daripada musingin kapan jodohku datang, tapi kita enggak ngapa-ngapain gitu. H tunggu, aku tertarik dengan
9:10 dikotomi kendali tadi. Emm, artinya ada hal yang bisa kita kendalikan, ada hal yang tidak bisa kita kendalikan. Apa contoh hal yang bisa kita kendalikan versus hal yang tidak bisa kita kendalikan, Mas? Bukan hanya contoh, saya bisa memberikan menurut filsafat Stoa ya, hal yang bisa dikendalikan karena sesedikit itu yaitu cuman pikiran kita, tindakan kita, perkataan kita. Udah tiga hal itu yang bisa kita kendalikan. Kalau diperhatikan kesehatan enggak masuk kan kekayaan. Kesehatan itu oleh mereka jodoh iya. Apalagi jodoh bahkan reputasi, karir, sesuatu yang enggak bisa kita kendalikan. Iya. Oleh mereka dianggap itu di luar kendali. Oke, kita coba bedah satu-satu ya. tadi kamu bilang yang kita bisa kendalikan adalah perkataan, pikiran, pikiran dan tindakan kita. Dan tindakan kita itu yang bisa kita
9:56 kontrol. Sekarang aku pengin nyoba dulu soal em relationship, jodoh. Kenapa itu di luar kendali kita? Kan kita bisa memilih untuk jodoh yang cocok, yang ee sesuai dengan keinginan kita. Betul. Nah, ini definisi di luar kendali tuh artinya bukannya kita sama sekali enggak punya influence, Heeh. Tetapi the apa ya? the complete outcome atau hasil akhirnya itu kita harus ikhlaskan bahwa enggak bisa dibawa kendali kita. Saya ambil contoh relationship deh gitu. Ee orang pacaran misalkan gitu. Betul kita bisa milih naksir milih, tetapi apakah relationship ini akan bertahan itu ada faktor orang yang lainnya kan. Oh gitu. Dan itu kan luar kendali kita.
10:42 Begitu dia melibatkan orang lain aja sudah pasti itu ada variabel orang itu ee di luar kendali. He. Jadi curhat yang aneh itu adalah misalkan saya sudah jadi orang yang baik pada dia, sudah setia tapi dia tetap meninggalkan saya gitu. Itu sebenarnya agak Jaka Sembung tuh. [tertawa] Enggak nyambung, enggak nyambung gitu. Karena seolah-olah jika saya sudah melakukan ini maka dia wajib he mengembalikan itu. Itu kan enggak seperti itu gitu. Yang bisa kamu kendalikan cuma ya kamunya sebagai partner melakukan yang terbaik. Heeh. Tetapi selalu sediakan ruang bahwa pada akhirnya kamu enggak bisa orang partner kamu tidak di bawah kendali kamu. Oke. Walaupun kita sudah berbuat baik, dia mau membalasnya kita dengan apapun
11:28 itu di luar kendali kita. Ya, ini juga menarik karena soal relationship ini menarik banget ya. Emm, ternyata tingkat kekhawatiran kaum jomblo mengenai kejombloan mereka sama dengan kekhawatiran mereka yang sudah berpasangan mengenai hubungan mereka, yakni sekitar 30%. Jomblo khawatir 30%, yang sudah punya pasangan juga 30% khawatir soal hubungan mereka. Ini pesan bagus buat para jomblo. Kalau mereka pikir bahwa segala masalahku akan selesai ketika saya sudah punya pasangan, enggak gitu. Jangan pikir, iya kan, kamu jomblo, kamu ada stresnya, nanti sudah punya pacar tetap ada stres baru. Menikah, kamu pikir selesai segala kekhawatiran, nanti ada lagi kekhawatiran baru gitu. Justru malah bisa nambah stres. E iya bisa jadi ya kan. Oke, itu tadi soal
12:15 relationship em di luar kendali kita. Aku pengin sekarang e ngebahas soal kekayaan. Kekayaan di luar kendali kita. Kita bekerja keras. Ya, memang kalau misalnya kita investasi ada naik turun, tapi dengan kita kerja keras, kita nabung, bukankah we are in control of our future? Partially, itu pesan yang mereka mau bilang. dan kita harus menghilangkan ilusi kontrol itu. Sumber stres itu adalah kita punya ilusi, kita punya kendali penuh. Nah, saya pikir yang sehat dari stoikisme tuh e adalah menyadarkan kita, kamu mungkin punya certain level of control, tapi itu enggak pernah 100%. Kita bicara kekayaan, gitu kan. Wah, kita pikir kita sudah menjalankan
13:01 ee strategi investasi yang terbaik gitu kan, financial planning ya. Tapi kayak kamu bilang tiba-tiba market turun lah gitu kan. Dulu ee saya ingat beli saham blue chip apa bank bank pemerintah aman ya. Kita tahu sekarang kayak apa yang pegang portfolio yang punya saham pemerintah kan. I enggak ada yang guaranteed. Belum lama saya baca berita ada reksadana pendapatan tetap boncos karena company yang mereka invest itu ternyata gagal bayar. Padahal udah dianggap kategorinya sudah dianggap yang paling aman. Heeh. Ee ya belum lagi kita enggak tahu ya, kadang-kadang kejadian internasional bisa mempengaruhi kan sebuah perang di negara lain kita enggak ada urusan He. Tapi berdampak pada ee ekonomi. Jadi
13:47 yes kekayaan bisa diperjuangkan. Kita bisa berikhtiar sebaik-baiknya serasional mungkin. Tapi selalu ada ruang semesta itu ee belok aja gitu. Iya. Apa yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan harapan. Ya, di buku ini eh Mas juga ngejelasin bahwa ada satu orang dari Cyprus yang pergi e untuk mengantar Iya. Foundernya iya kan mengantar apa warna kain itu mahal banget karena dari dari siput laut dan ternyata di tengah perjalanan kapalnya tenggelam dan dia kehilangan kekayaan itu in a blink of an. Betul. Itu kisah foundernya ee pendiri dari Stoikisme itu namanya Zeno. Dia awalnya merchant, dia awalnya pedagang. H. I. Jadi latar belakang dia menarik dan dia emm bisa membangun filsafat ini
14:35 gara-gara kena musibah. Oh. Ya. Itu dia membawa barang dagangannya ee pakai kapal. Kapalnya karam, ludes dong. Pewarna tekstil kena laut. Ya udah hilang. Dan dia terdampar di Athena di kota itu. Karena dia enggak bisa langsung pulang, dia jadinya belajar. H dia dia belajar filsafat dan sesudah lulus dia mendirikan alirannya sendiri yang kita kenal sekarang dengan stoikisme atau filosofi teras. Tapi justru berarti di balik bencana, di balik penderitaan, di balik kepahitan yang begitu mendalam bisa muncul hikmah yang orang enggak nyaka-nyaka. Ya Mas. Betul. Betul. Dan ada kutipan bagus dari Zeno sendiri belakangan. Dia berkata bahwa dia bilang perjalanan dia yang paling membawa kemakmuran adalah ketika
15:21 dia karam. Bagus ya. Jadi ada sesuatu paradoks di situ gitu. Karam kan identik dengan penderitaan dan musibah. Tapi kadang-kadang kita perlu waktu untuk melihat ini semesta nih lagi mau menyiapkan apa gitu. Tuhan tuh mau menyiapkan apa. He. Kalau dia tidak pernah mengalami karam itu h kita tidak ada kenal filsafah stoikisme tidak ada filosofi teras mungkin. Oke, oke, oke. Kita geser ke pekerjaan sekarang ini. Ternyata bagi mereka yang memiliki pekerjaan atau bisnis, kekhawatiran terhadap pekerjaan atau bisnis dialami oleh sekitar sepertiga. Hampir sama 33 responden khawatir soal pekerjaan dan juga bisnis mereka. Emm, apa yang paling dikhawatirkan soal pekerjaan? Kehilangan pekerjaanah atau wah macam-macam. Kalau misalkan waktunya
16:08 lagi kayak sekarang ini pasti kehilangan pekerjaan kan. Ada fenomena job huging lah. Iya. I gitu. Orang bertahan walaupun enggak betah. Ee tapi dalam keadaan ekonomi stabil orang khawatir tentang kenaikan karir ya kan. Saya bisa kenaikan ee uang gaji bagaimana. Heeh. Ee jadi itu selalu konstan ada. Kalau bisnis tentunya beda lagi ya. Tentunya bisnis ada lagi ee ee masalahnya sendiri. Nah, itu juga menarik dari perspektif dikotomi kendali adalah naif kalau kita mengira bahwa karir saya sepenuhnya di bawah kendali saya. Hm. Gitu. Oh, pokoknya kalau saya kerja keras, jujur, atau mungkin menjilat atasan, maka karir saya akan lancar gitu kan. He.
16:54 Buat orang yang sudah kerja beberapa tahun pasti menyadari bahwa ternyata nasib karir itu tidak sepenuhnya di bawah kendali kita. Betul. Iya. Kita pikir kita sudah kerja di perusahaan bagus eh perusahaan yang kolaps karena ada perubahan kebijakan atau perubahan tren. Heeh. Kita sudah punya bos yang enak banget gitu kan atau culture yang baik banget eh companynya diakuisisi oleh perusahaan lain terus kulturnya berubah. Biasanya teman-teman di startup tahu benar nih fenomena ini atau media sekarang orang yang kerja di media tiba-tiba medianya tutup atau layof. Iya karena satu dan lain hal. Iya. Jadi, the illusion of safety itu sangat berbahaya dan itu yang menjadi sumber eh nanti eh mental health gitu. Karena tiba-tiba dunia tergoncang gitu. Kita pikir kita baik-baik saja nih
17:41 industri kita. Eh, tahunya overnight. Nah, kalau selama ini kita selalu dimanjakan dengan ilusi bahwa everything is under our control tapi ternyata tidak under our control, apa yang harus kita lakuin? Kita mesti punya bekal apa, Mas? Ini ada sebuah tips dari stoikisme yang terdengar aneh tetapi biasakan berpikir negatif. Oh ya lucu ya. Padahal biasanya be positive have a positive thinking aja posing. That's what I love about this philosophy. Karena agak apa? Tidak sesuai dengan convention gitu. Ajaran itu aneh tapi kalau dipikir-pikir sangat rasional. He. Emm. Kita biasanya dibiasakan dengan lu berpikir yang baik-baik aja ya kan? berpikirlah yang positif gitu.
18:27 Kalau lu berpikir yang negatif nanti lu kayak ngedoain Heeh. itu terjadi. Pernah dengar kayak gitu enggak? Wah, itu kalau para filsuf itu enggak setuju gitu. Setuju. Para filsuf berpendapatnya justru malah berpikirlah negatif. Why? Iya. Iya. Namanya eh premeditativeo malorum. Bahasa kerennya itu kayak ini kayak mantranya Harry Potter karena bahasa Latin. Tapi itu sebenarnya simply artinya premeditate evil atau eh berantisipasilah hal yang negatif. H. He. Karena hidup tidak peduli dengan rencana kita. Orang STIK realistis banget gitu. Mereka tidak negative thinker, mereka tidak optimis thinker. Mereka simply realis. Segala rencana el itu semesta atau Tuhan itu kan tidak wajib mengabulkan ya. Heeh. He gitu. Hanya karena kamu punya rencana
19:12 bukan berarti yes akan dikabulkan. Nah, kalau kamu tidak pernah bersiap bahwa rencanamu tidak berjalan semestinya, tidak ada persiapan, kamu akan habis loh, gitu. Tapi artinya apakah stoikisme mendiscourage kita untuk being ambitious? Karena kita selama ini bekerja, kita ambisius, gue udah nata mimpi gue, by the age of 40 gua akan punya aset seperti ini. By the age of 50 gua akan punya pekerja seperti ini dan lain sebagainya. Apakah stoikisme mendiscourage ambisi? Enggak. Sama sekali enggak. Berambisilah eh setinggi mungkin kan ambisi dibawa kendali kita. H. Jadi itu enggak apa-apa. Tapi orang yang bijaksana itu berambisi sambil
19:58 berantisipasi. Nah, ambisi disertai antisipasi bahwa things may not go as I wanted. Heeh. Heeh. Jadi misalkan saya berambisi punya uang segini, oke fine. Tapi pernah mikirin enggak what if kamu kehilangan pekerjaan di PHK tiba-tiba? Pernah berpikir enggak bahwa bisa aja kamu sakit keras atau kamu kena kecelakaan? Heeh. Heeh. Maka orang yang ambisi dan rasional itu akan menyiapkan asuransi mungkin. Heeh. Heeh. Iya kan? Oh. Saya akan menyiapkan asuransi kesehatan karena saya enggak bisa menjamin bahwa sehat terus gitu. Saya punya apa itu namanya dana cadangan ya apa? dana darurat gitu. What if ee tiba-tiba di PHK saya harus mampu hidup apalagi kalau dia punya keluarga. Heeh. Heeh.
20:44 Gitu. Nah, itu kan realistis kan. Berambisi iya, tapi menyiapkan kalau hal-hal buruk terjadi juga ada gitu. Iya. Dan mungkin juga manage your expectation juga ya, Mas. Betul. Betul. Jadi em saya mau dalam 2 tahun dipromote jadi manajer. Bagus. pertahankan ambisi dan rencana itu. Tapi what if? What if tiba-tiba ada pergantian manajemen, tiba-tiba ada perubahan kebijakan dan tiba-tiba kamu disalib oleh yang lain misalkan kamu harus ready gitu. Kamu orang tuh kadang-kadang memilih hidup dalam kehaluan yang positif karena itu nyaman. Tetapi nanti pada saat jadi gini, ada kutipan dari Seneka, seorang filsuf yang
21:30 bagus, saya pakai kutipan dia aja deh. Dia bilang begini, "Musibah selalu terasa lebih berat kepada mereka yang tidak pernah mengantisipasinya." Hmm. Itu very simple, kan? Very simple truth. Musibah terasa berat buat mereka yang tidak pernah mengantisipasinya. Iya, gitu. musibah yang sama. Kalau menimpa orang yang sudah menyiapkan ini mungkin bisa kejadian seperti ini deh. Ketika kejadian beneran dia enggak kaget karena dia lebih siap. Karena dia lebih siap tuh kan udah saya pikirin gitu. Iya. I ya. Ya. Tapi kalau orang ini ee positive thinking yang toxic. Heeh. Saya enggak bilang semua positive thinking jelek ya. Tapi ada pos positive thinking menurut saya sudah toxic karena enggak mau mikirin hal yang jelek. Nah, ketika musibah kejadian di orang ini hancur itu syoknya syok banget.
22:16 Oke. Oke. Terakhir sebelum kita beralih ke subtopik berikutnya adalah soal kesehatan nih. Ee nih relate banget sama aku karena aku ngerasa ya aku check up tiap tahun, aku makan sehat, aku enggak ngerokok, aku mungkin sekarang juga udah lama banget enggak minum gitu kan. Aku perhatikan tidurku, aku perhatikan olahragaku. So, my health is actually under my control. Kenapa justru malah kesehatan sebenarnya adalah hal di luar kontrol kita? Iya, ini menurut saya topik kesehatan ini adalah topik yang paling kontroversial soal dikotomi kendali. Okelah, kekayaan orang bisa ngerti kan ee kondisi ekonomi, makro dan lain-lain. Tapi ketika menyentuh topik kesehatan tuh jadi sensitif gitu. Karena beberapa orang enggak bisa, saya udah
23:03 mati-matian jaga kesehatan gitu. Iya. Iya. Dan saya pikir enggak ada yang lebih apa ya, lebih jelas menyampaikan poin itu selain COVID sih, selain pandemi. H iya kan pandemi itu kan enggak enggak pandang bulu loh. He gitu. Semua orang pada saat itu mau yang sehat, mau yang enggak sehat gitu bisa takluk gitu oleh virus baru ini. Atau kalau kita ngerti tentang kanker aja. Hm. Kan banyak kita sering dengar kan bahwa kanker itu banyak faktor. Banyak faktor. Betul. Kebiasaan hidup yang tidak sehat akan menambah probabilita. Tapi orang yang sudah jaga kesehatan pun tuh enggak enggak luput tuh gitu. Sampai ada yang bilang kanser tuh kayak lotre gitu. Kadang-kadang enggak
23:48 apa ya enggak enggak bisa diprediksi, enggak bisa dicegah 100% ya. I jadi lagi-lagi pesannya dari filosofi teras tuh bukannya terus hiduplah serampangan karena tahu kesehatan luar kendali. Enggak gitu. Kamu kan rasional, kamu dikasih tahu ilmu kesehatan. Kamu dapat berbagai studi yang menunjukkan kalau kamu melakukan hal ini, resiko kamu bertambah. Kalau kamu melakukan hal-hal ini, olahraga, makan yang sehat, dan tidur teratur, Heeh. ee secara statistik kamu harusnya lebih besar kemungkinan sehat atau panjang umurlah gitu. I tetaplah pegang itu karena itu petunjuklah dari Tuhan atau semesta supaya kamu rasional. H, jangan jumawa gitu loh. Jangan jumawa bahwa kalau saya sudah melakukan ini semua maka saya tidak akan sakit sama sekali.
24:36 Eh, look around, it doesn't work that way gitu. Oke. So, ada hal yang kita bisa kendalikan, ada hal yang tidak bisa kita kendalikan dan kebanyakan justru malah tidak bisa kita kendalikan. Dan let's prepare for the worst. Punya ekspektasi yang termane. Betul. mungkin prepare untuk negative ev atau i backup planency plan gitu. Tadi Masri bilang jodoh adalah di luar kendali kita. Sementara yang bisa kita kendalikan adalah pikiran kita, aktivitas atau kelakuan kita dan perkataan kita kan. Then atas kendali yang bisa kita lakukan yang sangat sempit ini, tiga hal ini, untuk jodoh kita harus ngapain, Mas Hendri? Ini mungkin aku mewakili mereka yang saat ini jomblo sampai tua atau belum
25:22 juga mendapatkan jodoh atau memang mereka memilih untuk sendiri. [tertawa] Ini sebenarnya berhubungan sama buku saya yang lain. Belajar marketing, belajar hidup. Saya saya banyak bicara topik itu gitu ya. Meningkatkan ee apa nilai jual kamu gitu dalam konteks relationship. Ya, ada banyak hal sih. Eh, saya percaya tanpa bermaksud merendahkan ya, tapi bahwa kita kan seperti brand gitu. Rori is a brand, Henry Manampiring is a brand. Kalau kamu jomblo, kamu juga sebenarnya sebuah brand yang sedang mencari pembeli lah ya. Ini enggak enak banget kata-katanya. Cuma mencari tutupnya, botol mencari tutupnya. Iya, gitu kan. Dan dan kita saling lah saling mempromosikan diri. Nah, berarti kan sebelum mempromosikan diri balik dulu kita punya produk yang bagus enggak
26:10 sih? Kita punya sesuatu yang ditawarkan enggak gitu. Kalau misalkan emm kamu enggak punya kualitas untuk ditawarkan tapi ngotot, saya minta jodoh seperti bintang film Korea. Cakep, cantik keren pintar. Ini fair enggak sih gitu? He. Eh, jadi melangkah ke pasar perjodohan tuh saya pikir juga start from improving yourself. Orang selama ini selal terjebak aku harus mencari pasanganku. Aku pengin cari pacar. Aku pengin cari jodoh. Aku pengin cari calon suami atau istri. Ternyata langkah pertama bukan itu ya. Langkah pertama adalah memperbaiki diri kita dulu. Iya. Saya pikir malah introspeksi. Kalau kamu enggak tahu siapa diri kamu, kamu enggak akan tahu orang seperti apa
26:55 yang cocok untuk kamu. Iya enggak sih? I see gitu kan. Ee saya pokoknya pengin orang yang misalkan yang pintar gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Kamu tahu enggak sih kenapa kamu pengin orang yang pintar gitu? Mungkin yang kamu butuhkan orang yang penyabar atau religius gitu, tapi kamu enggak karena karena kamu enggak kenal apa yang kamu butuhkan. Jadi nanti milih pasangan itu tergantung tren, tergantung selebriti, tergantung apa kata video gitu. Tapi buat orang yang aku sudah meningkatkan diri, aku ngerasa aku udah misalnya sekarang lebih cantik, aku lebih cakep, aku udah olahraga, aku udah lebih smart, aku juga udah lebih pintar. Tapi jodoh itu kenapa enggak datang-datang juga gitu loh pun kalau misalnya udah datang karena
27:42 sebuah kejadian atau hal faktor lain, akhirnya enggak jadi untuk nikah, enggak jadi untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Dan kita harus ngapain? kita sudah memperbaiki diri tapi kok tidak datang-datang itu jodoh? Iya itu [tertawa] ini sebenarnya banyak dibahas di buku marketing hidup. Jadi persis seperti masalah yang dihadapi brand sebenarnya gitu. Ada brand produknya bagus i kan pernah enggak ketemu barang yang bagus tapi kayaknya enggak laku gitu. Iya kan sering kan? Tapi ini udah bagus banget nih barang. Kenapa ya kurang laku? Atau film ini film bagus banget kenapa enggak enggak enggak ngetop kan. Nah itu kan bisa dianalisa dan bisa dikembalikan ke dikotomi kendali sebenarnya. H sebenarnya apa sih yang dibawa kendali kita yang bisa meningkatkan ee kemungkinan dia ketemu pembelinya? Ee
28:29 sebagai contoh kadang-kadang saya punya teman yang curhat kok gua enggak ini ya kayak enggak susah banget ya ketemu jodoh. Terus gua suka punya pertanyaan begini rutinitas rutinitas lo itu kayak gimana sih dari Senin sampai Minggu? H ya gua kerja doang gitu [tertawa] ya kan ya. Gua sibuk sama kerja gitu Senin sampai Jumat. Nah, gimana lu expect lu akan ketemu J kalau? Iya. Terus weekend ngapain? Gua capek gua tidur. Berarti kan CCL tuh itu lagi, itu lagi itu lagi kan. Ya kalau di sini enggak ketemu jodohnya gimana ada prospek yang lain gitu. Tapi apakah kita harus aktif mencari jodoh? Misalnya datang ke sebuah pesta datang e atau kita download Tinder or whatever bumble atau ya udah kita berharap aja aku percaya. Pasti suatu
29:15 saat mungkin pas aku lagi buang sampah, pas aku lagi nyapu, pas aku lagi ke warung, siapa tahu aku ketemu jodohku. Saya adalah penganut. Mungkin karena saya 25 tahun kerja di corporate ya. Saya adalah penganut you have to fight for it. You have to fight for it. Oke. I jadi enggak bisa tuh ah mager nanti Tuhanlah yang akan nge-drop nih jedret gitu kan di depan gue gitu. Iya seperti bantuan buat pengungsi gitu kan dilempar dari atas gitu. Saya pikir enggak [tertawa] yang ada rusak ya, Mas? Yang ada rusak jodohnya gitu. Enggak sih? Kan jodoh di tangan Tuhan. Tapi menurut saya kita yang harus nyari tangan Tuhan gitu loh. [tertawa] Kalau perlu kita yang Tuhan mana tangannya? Sini jodohnya gitu. Nice. Ee jadi kalau kamu pasif menurut saya
30:00 juga kamu enggak membuktikan bahwa kamu ee layak menerima mendapatkan orang ini. Berusaha dong. Oke, Mas. Salah satu hal yang juga tidak bisa kita kontrol adalah omongan orang. Tapi kenapa omongan orang justru membuat kita sangat khawatir, Mas Hendri? Wah. Ya, ini apalagi di fenomena media sosial, fenomena media sosial juga ya. Ee saya pikir pertama karena faktor budaya ya. Masyarakat kita kan masyarakat kolektif dibandingkan dengan masyarakat Barat yang katanya individualis. Bukannya mereka enggak peduli omongan orang, tetapi di masyarakat yang kolektif kayak gini makin makin terasa gitu. He. Jadi memang dari budayanya kita seperti itu dan ee
30:47 kita memusingkan apa perkataan orang karena itu dianggap menentukan apa bisa rezeki kita gitu kan ee nasib kita gitu. Kalau diomongin jelek bagaimana? Heeh. Heeh. Ee itu sebenarnya tidak tidak apa-apa. tetapi mulai menjadi enggak sehat ketika kita mau berusaha 100% memastikan orang itu harus ngomongin hanya yang baik-baik tentang kita. Nah, itu udah enggak enggak enggak realistis tuh. Tapi gini, kayak misalnya keputusan hidup kita apalagi dari generasi sebelum kita ya, baby boomer ataupun generasi X, kalau kamu enggak nikah sebelum usia 30, nanti apa kata saudara-saudara? Nanti apa kata tetangga? Nanti kalau misalnya kamu
31:32 enggak resepsi, kamu enggak ngundang ini, enggak ngundang itu, apa nanti kata orang-orang terhadap mama, terhadap papa? Terus kalau misalnya kamu nanti enggak berhasil, enggak punya pekerjaan, tetap apa kata orang-orang? seolah-olah apa kata orang-orang mendikte nasib kita gitu loh. Iya. Dan dan itu terpulang ke kita masing-masing sih. Mau mau diturutin terus atau pada akhirnya you you draw a line gitu. Gua hanya bisa sampai sini sih ngikutin kata orang karena tidak akan ada habisnya gitu. Ee kita pikir kita udah kita sudah nikah sesuai ekspektasi masyarakat. Emang sudah selesai masalah? Belum. Belum. Nanti kok belum punya anak? Heeh. nambah lagi kata orang gitu kan. Ya udah deh ini nih saya punya anak gitu
32:17 kan kok cowok [tertawa] kok enggak cewek gitu kan. Mana penerus marga atau kok enggak dua-duanya salah lagi. Anak udah gedean dikit kenapa enggak disekolahin di sini? Kenapa enggak disekolahin di situ? Enggak ada habis-habisnya. Eventually kalau hidupmu hanya dijalani untuk memenuhi ekspektasi orang lain, kamu akan sangat lelah sih. Kamu akan sangat lelah. Dan kalau kita balikin ke relationship ya gitu, eh saya pikir mm menurut saya kamu harus siap untuk bahagia sendiri dulu gitu. Can you be enough for yourself? Eh repotnya kalau orang itu punya ekspektasi saya tidak akan komplit kalau tidak ada pasangan. He
33:03 menurut saya ini kurang sehat gitu. Karena dia selalu menunggu-nunggu saya baru bahagia kalau ada orang lain gitu harusnya. Ya. Iya. Kalau ada orang lain menurut saya orang tuh harus siap bahagia sendiri bahwa nanti dia ketemu jodoh atau pasangannya great gitu kan. Tetapi kalau dia bisa hidup sendiri dan bahagia itu kan emm apa ya tanpa harus menunggu pasangan dia tetap bisa happy gitu loh. Dan saya punya teman-teman yang memang sampai di usia 40-an itu mereka sendiri dan saya lihat sebagian dari mereka bisa happy. He he. Karena harusnya hidup seperti itu sih. He gitu. Eh some people meet their partners, some people don't. And hidup enggak enggak terus nilai mereka sebagai manusia lebih
33:50 rendah kan hanya karena being single itu loh. Ya. Saya mau fight untuk teman-teman tuh please jangan berpikir dirimu less hanya karena kamu sendiri gitu loh. He he. There are so much thing you can do. You can be a volunteer. You can do good to other people. Dan orang masih berpikir bahwa ih kasihan banget sih makan di restoran sendiri. Ih kasihan banget sih lari di GBK sendiri. Olahraga sendiri. nih udah nikah aja masih nonton sendiri, makan sendiri, olahraga sendiri, enggak apa-apa. Saya enggak peduli sama apa kata orang. Heeh. Oke. Oke. Jangan jadikan orang lain sebagai faktor penentu kebahagiaan kamu sendiri ya, Mas. Iya. You should be complete by yourself dulu before you meet someone. Menurut saya sih gitu. Oke. Selain omongan orang, dengan adanya
34:35 fenomena sosial media adalah kita menjadi insecure dengan kekayaan orang, ya [tertawa] kan? Apalagi dengan budaya flexing, aduh. Apalagi dengan orang sedikit-sedikit ee cerita keberhasilan gitu. Oke, rumah pertama gue di usia 23 tahun, rumah pertama gue di usia 27 tahun. Seolah-olah hidup itu balapan. Gue juga enggak ngerti, gua enggak paham kenapa orang-orang itu bikin konten di usia 27 tahun sudah punya rumah. Lu tuh pengin mengkomunikasikan apa gitu loh atau pengin kenapa harus pamer, kenapa harus mengatakan itu? Apakah itu motivasi atau enggak? Tapi kan orang menerimanya bisa berbeda-beda. Orang bisa menerimanya sebagai pressure dan akhirnya insecurity dan dia depresi. Bagaimana seharusnya kita menyikapi kekayaan orang lain, Mas Hendri? Ya, ya itu yang yang pertama kekayaan
35:23 orang lain itu di di luar kendali kamu kan gitu. Jadi let them be gitu. be be happy for them. Eh, appreciate kalau mereka mencapai itu. Eh, tapi juga lebih rasional juga karena kadang-kadang apa yang diflekingkan itu pencitraan kan tidak seperti yang digambarkan. Iya kan kita sudah sering dapat berita bahwa astaga influencer itu ternyata cuman di depannya aja gitu kan. Ternyata di belakangnya banyak utang lah, banyak masalah gitu. Dan kita juga enggak tahu rumah di usia 27, tapi ternyata beberapa tahun kemudian kredit macet kita juga enggak pernah tahu. Enggak pernah tahu atau sebenarnya sumbangan orang tua dia enggak berkata yang sejujurnya gitu. Jadi paling berbahaya itu membenchmark diri dengan media sosial aja gitu. Karena tidak semua yang tampil di media sosial itu the truth kan gitu. Banyak
36:10 yang terkurasi. Siapa sih kita yang mau posting di media sosial lagi nelongso lagi sial? Kan enggak. Kita tampilkan yang baik-baik aja. Jadi hidup yang dilihat di media sosial tuh tidak realistis. Oke. Ee yang kedua ya terima bahwa kondisi hidup orang itu berbeda-beda, starting point-nya berbeda-beda, privileg-nya berbeda-beda, gitu. Ee dan mungkin ini nasihat lama ya, bahwa kalau kita capek, kalau kita mendongak terus ngelihat ke mereka yang di atas terus itu pegal banget loh. He he. Iya kan? Yang sehat itu leher tuh jangan cuman ke atas gitu. leher tuh kadang-kadang ngelihat ke bawah karena mungkin ada banyak orang yang iri dengan kamu sekarang. Kamu kan iri sama orang lain, tapi mungkin ada jutaan orang lain yang
36:55 mimpinya itu adalah to be where you are gitu. He heeh heeh. Ee ee sekedar punya apa yang kamu punya sekarang itu buat mereka udah udah sebuah blessing dan kita lupa itu. Hm h karena kita ngedongak terus pegal. Tapi kalau enggak pamer kekayaan, enggak bisa masuk ke dalam suatu komunitas, enggak bisa masuk dalam suatu grup sosial. Enggak dipandang. Gimana tuh, Mas? Kamu [tertawa] mau ee hanya hidup di komunitas yang menghargai kamu dari kamu punya iPhone terbaru, iPhone yang orange atau enggak, tasmu, sepatu larimu yang termahal? Is that the kind of people you want to hang out with? Saya sih enggak mau ya gitu. Karena berarti tiket masuk nilai saya sebagai manusia hanya dilihat dari
37:41 apa yang saya pakai. Saya sih enggak mau amit-amit sih gitu. Saya hanya mau nongkrong dengan teman-teman yang terima saya apa adanya bukan dari brand yang saya pakai. Exactly. Why gitu. Iya. Ya, benar banget sih. Tapi ya memang harus diakui banyak banget em orang-orang yang ketika bergaul dia hanya mau ee bergaul em ketika orang itu punya sesuatu. ketika mereka enggak punya sesuatu yang orang lain punya, entah itu mobil mewah, tas mewah, maupun maybe iPhone atau mungkin mungkin AirMX dan lain sebagainya. Em, akhirnya mereka merasa diri mereka kurang dan gimana caranya? Entah itu dengan pinjol, entah itu dengan utang, entah itu dengan em segala macam cara minta suami ya kan biar bisa masuk ke
38:28 komunitas itu. Korupsi. Korupsi. Exactly. Korupsi akar segala korupsi kan merasa enggak cukup. itu sedih banget sih kalau kayak gitu. Iya. Bahkan yang saya enggak nyangka tuh bahkan menimpa komunitas olahraga loh. Saya pikir dulu naif ya. Komunitas olahraga itu cuma mencari sehat. Sampai teman saya bilang, "Wah, Bro, enggak sesimpel itu." Kalau lu main sepeda, lu dilihatin dari atas bawah gitu kan. Helm kacamata baju harga sepedanya. Ee lu jangan berharap bisa ikutan goes kalau enggak memenuhi kriteria. Hah? Serius lah. Lari coba. lari itu gua pikir adalah olahraga yang paling egaliter. Lari loh modal badan doang badan. Ternyata enggak sesederhana itu, Ferguso ya. Ternyata dicek gitu sepatu larinya karena nanti ada yang motret nanti kalau
39:13 difoto ih merek sepatunya enggak yang lagiin kesannya lari kita lebih enggak sehat gitu. Ya ampun, hidup ribet amat ya. Ribet [tertawa] amat. Artinya kalau misalnya kita ke kelompok lari atau kelompok sepeda yang terlalu melihat physical attributes itu bukan kelompok yang tepat buat kita ya Mas. Menurut saya gitu, tapi saya serahkan kepada penonton podcast ini gitu. Kalau that's the kind of life you want, ya silakan. Oke. Oke. Emm, sekarang hal yang tidak bisa dikendalikan adalah di mana kita dilahirkan. Hm. Banget. Kita enggak bisa memilih kita dilahirkan di Swiss gitu kan. Kita ya udah happen to be jadi WNI gitu dan kenapa saya terlahir WNI? Iya. Kenapa [tertawa] kita terlahir WNI? Itu kan yang menjadi permasalahan dan keluhan. Tapi em
40:01 kita enggak mau berpasrah. Enggak dong. Dengan kita lahir WNI kita enggak punya pilihan. Kita enggak mau berpasrah. Kita berjuang dan menuntut misalnya pemerintah atau mereka yang punya kuasa, pelayan-pelayan rakyat untuk benar-benar Heeh. Em bekerja untuk rakyat. Iya dong. Tidak zalim, tidak korupsi gitu. Heeh. Em, apakah memang stoisme itu mengajarkan oke for some part ini enggak bisa kita hindari, ini enggak bisa kita kontrol, tapi we can fight for apa yang itu menjadi hak kita, Mas? Harus. Harus. Karena orang suka mensalah artikan stoikisme tuh sebagai mengajarkan apatis gitu. Alah, ini kan di luar kendali. Pemerintah kan di luar kendali. Pasrah aja lah. Goput, apatis, diam
40:48 ajaalah gitu. Jadi banyak yang mensalah tafsirkan stoikisme itu sebagai apatisme. Dan itu saya sangat tidak setuju karena itu berarti tidak paham betul ajarannya. Orang dibilang masih ada hal yang dibawa kendali kok. Iya kan? Di dalam alam demokrasi itu yang kayak Rori bilang, "There are things that you can do." H gitu. Sebagian memilih turun ke jalan demo. Tapi enggak hanya itu satu-satunya. I sesederhana aktif bersuara sepanjang kita masih bisa bersuara. Heeh. ee itu adalah bentuk melakukan apa yang dibawa kendali kita, kan. Dan saya senang dengan bencana Sumatera ini banyak himbauan. Tolong dong teman-teman minimal kalau enggak bisa donasi bantu menyuarakan kondisi kami. I iya kan? Lihat kampung kami seperti ini,
41:34 listrik enggak nyala-nyala. Please tolong bantu menyuarakan. Itu udah sesuatu yang bisa kamu lakukan. Hm. Sesederhana itu bisa gitu. Tapi capek ya jadi Wni ya? Lumayan capek. [tertawa] Eh, kayak bertarung tiap hari gitu. Iya. Paling paling saran saya buat yang lelah tuh adalah ee cinta pada negeri itu tidak sama dengan cinta pada rezim. Ee orang seringki apa mencampuradukan itu gitu. Heeh. Heeh. Menurut saya cinta pada negeri ini buat saya tetap pilihan tapi itu adalah hal yang yang terus-menerus gitu. Saya cinta Indonesia, tapi ya pemerintah silih
42:19 berganti kan. Iya, betul. Betul. Tapi gini sih, aku ee dapat kemarin ee quote menarik dari sosial media juga yang bilang jadi dia curhat ee dia mengkritik pemerintah, terus ada ya pendapat bilang kalau enggak suka pemerintah sekarang ya udah keluar Indonesia aja. Terus dia Iya, exactly. dengan dengan cerdas dia menjawab, "Lah yang ngehe adalah orang lain. Kenapa gue yang harus cabut?" Ibaratnya kayak lo udah tinggal lama di sebuah RT, ketua RT-nya ngehe, kenapa lo yang harus pergi dari rumah itu? Iya, benar, benar, benar. Gua baca itu analogi yang bagus. Analogi yang sangat bagus tuh. Iya. Iya. Kenapa yang kan apa yang waras yang ngalah lah. Kalau kelamaan yang waras yang ngalah, dunia ini isinya orang gila semua dong, gitu.
43:04 Jadi kita-kita yang waras itu yang justru harus harus fight terus, jangan kitanya yang keluar. Oke. Ini aku juga menarik banget di sini. Kami juga menulis bahwa stoisisme mengajarkan bahwa kebagian sejati hanya bisa datang dari hal-hal yang ada di bawah kendali kita. Dengan kata lain, kebagian sejati hanya bisa datang dari dalam. Then what is happiness according to stoicisme, Mas? Gimana kita me make sense of it? Kita mempraktikkannya gitu. Iya. Jadi kebahagiaan dari perspektif stoikisme itu agak beda dengan kebahagiaan yang kita biasanya mengerti. Ee bahagia itu kan biasanya identik dengan oh kita rasa senang gitu kan terpenuhi segala macam kita bisa healing jalan-jalan kita bisa healing. Iya kadang seringkiali berkaitan sama materi. Nah kalau mereka
43:50 memang lebih ke kualitas diri gitu. Jadi buat mereka itu kamu miskin gitu ya, kamu mungkin enggak punya kekuasaan tetapi kamu hidup dengan rasional dan karaktermu itu terpuji. Itu buat mereka orang inilah bahagia gitu. Hmm. He. Jadi gampangnya gini deh buat mereka tuh mereka enggak silau dengan orang yang rumahnya mentereng, mobilnya banyak, tapi hasil korupsi itu buat mereka bukan bukan bahagia gitu karena didapat dengan cara yang tidak halal gitu. Heeh. Heeh. Tapi kalau saya teringat kisah Bung Hatta, saya selalu ee menyukai sosok Bung Hatta ya sebagai tokoh kesederhanaan. Heeh. Itu kan tahu enggak sih yang cerita dia dengan sepatu belly Bung Hatta dan
44:36 sepatu bellynya tahu enggak? Aku pernah baca, tapi aku lupa. Aduh, itu mengharukan banget. Jadi, Bung Hatta sampai akhir hidupnya itu tidak mampu membeli sepasang sepatu belly dan itu terkenal karena kalau enggak salah dia menyimpan potongan iklan sepatu belly yang dia damba-dambakan. Oh wow. Kita bicara founding father negara, wakil presiden, mantan wakil presiden pertama. Heeh. Heeh. Heeh. Itu bisa enggak mampu beli sepatu, punya sepatu. Dan gua yakin kalau dia mau minta dalam tanda kutip sama pengusaha, cukong, orang kaya, aduh mau 100 pasang sepatu dia bisa dapat. Tapi karena integritas dia enggak mau. Dia hanya mau beli sepatu itu dengan uangnya sendiri dan sampai akhirata dia enggak mampu. He. Bagi orang dunia kebanyakan, ih kasihan
45:22 banget gitu kan enggak bisa punya sepatu. Tapi dari perspektif stoikisme, wah inilah orang paling bahagia. Karena sampai akhir hayatnya integritas dia tidak dia kompromikan. Enggak apa-apa dia enggak punya sepatu. Tapi inilah orang yang bahagia sejati. Karena dia dalam kendalinya loh. Karena untuk menjadi tidak korupsi itu dibawa kendali. Dibawa kendali dong harusnya. Itu kan pilihan. Heeh. Heeh. Gitu ya. Udah harta kekayaan it doesn't matter that much. Tapi di Indonesia banyak arti kebagiaan itu yang digantikan oleh ketakutan karena kekurangan materi, Mas Handri. Kalau aku enggak korupsi, gimana gajiku cuman segini? Aku enggak bisa em
46:11 menyekolahkan anakku yang layak. Aku enggak bisa membahagiakan istriku. Jabatanku yang aku take homepay-nya cuman R juta. Masa aku akan melayani masyarakat terus. Justru aku masuk profesi ini, aku pengin balik modal. Kan mentalitasnya begitu, Mas [tertawa] Hendri. Ya. Ya. Ya. Udah. Kalau kalau memang dia selamanya mengkaitkan kesuksesan dia sebagai manusia dari materi, ya selamanya materi itu akan mengendalikan dia. Dan ada yang namanya hedonic threadmal itu kan yang kamu enggak akan pernah selesai gitu. Ketika kamu cuman punya uang R1 juta, kamu pikir R juta akan membahagiakan kan? Heeh. Heeh. Ketika kamu nyampai R10 juta, kamu pengin lagi. Iya. Ternyata enggak cukup ya kok orang lain dapat 100 minta naik R juta. Udah nyampai Rp100 juta R miliar terus sampai
46:58 triliunan gitu. Karena karena cantolannya itu tidak seperti threadmal tidak ada tidak ada habisnya gitis kita harus gimana jadinya? Wah inilah pertanyaan 2000 tahun [tertawa] ee eh filosofis. Nah, itu kalau kalau saya harus merujuk kepada stoikisme ya, karakter sih. Pada akhirnya kamu balik ke ee what kind of person, be a good person dulu gitu. Dan dan bukan harta kekayaan. Ada sih beberapa poin dalam stoikisme, tapi mungkin nih engak panjang lagi kalau kalau dijelasin ya. Tapi mereka ngejelasin misalkan empat karakter dasar aja mereka bilang he coba menjadi orang yang punya wisdom.
47:43 Hmm. H gitu ya kan. Jadi bukan kekayaan tapi kamu punya enggak wisdom dalam memilih dalam mempertimbangkan sesuatu. Nah ini makanya pentingnya baca buku kali ya. He kalau kamu tidak literasi kamu susah untuk menjadi wis gitu. Banyak kok politisi yang enggak baca buku. Nah dan bangga lagi saya enggak baca buku. Waduh [tertawa] repot nih. Jadi wisdom cultivate wisdom. He. Kemudian cultivate courage. Courage itu sifat terpuji dalam dalam filsafat klasik. Berani itu bukan berani nonton film horor atau menghadapi setan ya, tapi ee berani untuk pilihan-pilihan yang baik. Heh, gitu. Berani untuk enggak ikut arus yang enggak benar. Berani mungkin untuk tidak ikut korupsi. Berani untuk bilang aku cukup. Berani untuk bilang aku cukup. Berani
48:29 untuk bilang saya enggak melakukan ini, Papa, Mama, karena saya belum siap. Misalkan dipaksa menikah, tapi sudah tahu, sadar diri. Misalkan enggak siap, maaf. Tapi saya enggak apa enggak akan melakukan ini gitu. hanya untuk memenuhi kepentingan orang. Yang karakter basic ketiga itu ee adalah keugaharian. Pernah dengar enggak? Belum. Nah, itu harus dicek. Itu kata Indonesia yang bagus. Ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ugahar itu moderation atau temperance sebenarnya. Menahan diri. Oke. Kesederhanaan. Padahal inilah ilmu yang sebenarnya diajarkan oleh nenek moyang kita. Iya kan? Iya. Iya. I sederhana itu basically menahan nafsu lah. Tidak menuruti nafsu berlebihan. He termasuk kepemilikan, harta benda, ee
49:15 popularitas. Berarti ini kayak ilmu kemelekatan gitu ya, atau attachment. Iya. Jangan jangan terlalu melekat gitu. Termasuk fisikal tuh puasa itu latihan ugari sebenarnya. Hm. Kalau secara fisik ya gitu. Dan yang keempat itu keadilan. Keadilan itu relasi kita pada orang lain dan itu bisa hal sederhana. Ini saya suka contoh yang paling basic. Makan di restoran fast food. Beresinlah piring dan trimu kembalikan. Ya. Iya. Itu tuh bentuk keadilan udah. Iya kan? Itu susah banget di Indonesia. Sesimpel itu menyadari bahwa kita bisa loh ngebantu ee pelayan restoran meringankan mereka tuh itu bisa gitu. Tapi selalu kita berpikir kita buang sampangan, ah nanti paling juga ada yang ngangkut kita enggak
50:01 mengembalikan piring kita lah. Apa nanti pekerjaan waiter-waiter ini begitu kan. Kalau mikirnya kayak begitu, Mas ya. Itu mindset itu yang susah atau sesederhana lampu merah sabar jangan robos. Itu tuh adil loh. Kalau kamu lampu merah berhenti itu kan kamu memberikan keadilan bagi yang berhak yang lampunya hijau. Member menghormati pengguna jalan yang lain. Ngelawan arah. Hm. Itu sudah berlaku tidak adil. Kita kadang-kadang berpikir hal yang muluk-muluk ya. Padahal sesederhana itu untuk membangun karakter sehari-hari gitu. Oke. Oke. Em, ini kita ada di segmen Rapid Fire Question. Aku akan jawab. Aku akan tanya cepat. Mas Hendri tolong jawab juga cepat. Nanti kita bisa elaborate at some point. Boleh. Yang pertama, stoik atau overthinking?
50:46 Mana yang lebih capek? Yang lebih capek overthinking lah. Overthinking lebih capek. Iyalah. Kenapa? Karena segala sesuatu dipikirin termasuk hal-hal yang enggak bisa dikendalikan. Kalau ST kan jelas langsung udah ya ikhlaskan ee yang enggak bisa dikendalikan mendingan fokus pada ikhtiar. Saya suka mefresh soikisme itu ilmu ikhtiar dan ikhlas. Hmm. Ada yang diikhtiarkan habis-habisan, tapi ada porsi yang diikhlaskan gitu ya. Yang diikhtiarkan habis-habisan adalah yang bisa kita kendalikan. Betul. Yang diikhlaskan, yang enggak bisa kita kenal. Iya. Biar enggak overthinking. Emosi yang paling susah kamu kendalikan sampai sekarang, Mas Henri? Saya pribadi nih, saya lumayan sensi orangnya. [tertawa]
51:31 Jadi lebih ke mudah tersinggung. Nah, itu kok saya gitu. Sama kok kayaknya kita sama. Iya. [tertawa] Anxiety, cemas, khawatir okelah gitu. Tapi urusan sensi itu something yang saya masih harus berkon. Oke. Oke. Egonya tinggi ya. Jangan-jangan Tauros juga kayak gue. Aduh saya enggak percaya zodiak. Saya kan Leo. Jadi saya enggak boleh percaya zodiak karena Leo tidak percaya zodiak. Ee [tertawa] mungkin lebih konon itu orang introvert. I I don't know. Orang introvert cenderung lebih sensi katanya. I ya. Oke. Media sosial toxic atau cuman tergantung cara pakainya, Mas? Wow. Emm in general. Saya bilang in general dulu dia cenderung toxic in general. Tetapi there are things we can
52:17 do untuk me-manage itu supaya bisa positif. Tapi kita juga harus fairly speaking gerakan 17+8 sama-sama nyumbang untuk Sumatera. Ketika kita lihat banyak kekurangan comppang-camping penanganannya itu kan juga efek positif dari sosial media. Ya, betul. Betul. Makanya dia bisa menjadi power of positif tetap. Iya. Iya. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya ya. I. Oke. Kalau Marcus Aurelius hidup hari ini, ini tokoh eisme ya, lebih cocok jadi content creator atau live coach. Kalau dia hidup sekarang enggak dua-duanya jadi apa dia? Dia jadi penulis karena dia orangnya introvert banget. Mentang-mentang lu penulis kali bukan karena dia orangnya asli introvert banget. Dia kan kaisar buat pendengar podcast yang enggak tahu. Dia kan kaisar. Kaisar Romawi. Dia enggak mau jadi
53:04 kaisar loh. Oh. Dia tuh aslinya enggak mau. Dia tuh dia tuh maunya itu hidup introvert jadi filsuf aja. Saking enggak maunya dia jadi kaisar, pada saat dia diminta jadi kaisar itu dia memutuskan co-emperor dia diangkat saya berdua aja sama saudaranya power sharing. H. Jadi dia segitu tidak ambisiusnya. Jadi saya pikir dia enggak akan jadi content creator atau jadi apa tadi? Influencer. Influencer saya rasa enggak sih atau motivator life coach gitu. Saya pikir enggak sih. Dia mungkin akan jadi dosen filsafat. Dosen filsafat. [tertawa] Oke. Oke. Atau penulis filosofi terap [tertawa] bisa. Satu kebiasaan kecil stoik yang paling ngaruh di hidup kamu, Mas. Mendebat diri sendiri. Hmm. Heeh. Why so?
53:50 Karena orang stoik itu percaya emosi itu muncul tidak pernah ditimbulkan oleh pihak eksternal. Jadi kalau kita dibilang saya cemas karena kata-kata orang tua saya, kata netizen atau kata pemerintah, no no no. Kata mereka, "Kamu tuh emosi, stres itu karena pikiranmu sendiri terhadap hal-hal itu." Hm. H. Gitu. Jadi, misalkan macet lah. Saya pakai contoh paling populer. Macet marah-marah. Kita bilang, "Saya marah-marah karena macet." Enggak. Kata mereka, "Kamu tuh marah-marah karena kamu punya opini tentang macet yang tidak rasional." Hm. Gitu. Misalkan harusnya kota ini enggak macet gitu atau ee harusnya ee macet menimpa orang lain, bukan saya gitu. Heeh. Heeh. ee itu enggak rasional gitu. Jadi mendebat diri
54:36 sendiri. Pada saat saya sudah mulai kesal, marah atau sebal, orang stoik bilang, "Bisa enggak mendebat diri sendiri dulu?" Heeh. Heeh. Heeh. Apa yang bikin kamu kesal, marah, atau khawatir? Rasional enggak? Di di luar kendali enggak? Heeh. Gitu. Macet di luar kendali. Terus kamu mau mau marah-marah emang seperti kata seseorang, kita kan enggak punya tongkat Nabi Musa. Ya, gitu. Jadi enggak enggak bisa gitu kan membelah lautan mobil terus lu mau ngapain marah-marah. Itu kan internal. He. Jadi ee saya suka stoikisme tuh karena menuntut akuntabilitas terhadap emosi sendiri. He. Jadi sebelum marah-marah orang lain mendingan mendebat diri sendiri dulu. Oke gitu. Wow. Oke. Kita ada di segmen terakhir sekarang setelah hampir e setelah 8
55:23 tahun lah ya em menulis buku ini dan menerbitkannya gitu. So, emm apa yang justru malah pelajaran paling kena yang kamu dapetin, Mas, dari filosofi teras yang setelah 8 tahun berlalu justru mana kamu dapatin sekarang? Yang baru saya dapatin sekarang ya, sesudah 8 tahun buku ini tetap populer ee saya kagum bahwa sebuah konsep yang umurnya sudah 2.500 tahun ya, jadi jarak kita terpisah waktu begitu lama Heeh. itu masih relevan sampai sekarang. He itu saya kagum banget. Heeh. Heeh. Dan ada dimensi kedua yaitu bahwa pemikiran yang lahir jaraknya ribuan kilometer dari sini itu bisa relevan buat orang di Indonesia.
56:09 He. Jadi ada dua dimensi nih ya. Terpisah waktu begitu jauh dan terpisah jarak. Dan budaya begitu jauh. Artinya apa? Artinya sebenarnya manusia deep down kita enggak jauh berbeda kan. Hm. He dari zaman dulu masalah manusia itu sama sama aja walaupun sekarang ada AI, ada apa kek smartphone, internet gitu kan. Heeh. Itu ternyata kecemasan, kekhawatiran, kesedihan kemarahan. H h kita bergelut dengan hal-hal yang sama walaupun ada perbedaan teknologi. Itu satu. Yang kedua, ini adalah pemikiran orang Yunani. Kurang beda apa coba? Iya kan? secara bahasa budaya. Loh, kok masih relevan?
56:56 Berarti kan manusia itu hakikatnya di terdalam itu sama. Perbedaan warna kulit, perbedaan kepercayaan agama itu tuh menurut saya tidak sampai dalam banget gitu. Jadi kalau sampai ada permusuhan, kebencian karena suku agama ras itu buat saya tidak rasional gitu. Hmm. Gitu. Kenapa kita membenci? Karena berbeda bahasa, budaya, suku. We share the same humanity kok. I dan filosofi teras menurut saya membuktikan itu. Terakhir, Mas, apa yang pengin e Masin sampaiin ke mereka yang saat ini sedang khawatir, sedang gelisah soal pekerjaan, soal jodoh, soal relationship, soal uang. Heeh. ataupun misalnya soal nilai diri mereka
57:42 sendiri. Apa yang pengin kamu sampaikan? Yang saya mau sampaikan buat teman-teman yang anxious, khawatir, cemas, stres tentang semua itu ya, relationship, pekerjaan karir ekonomi pemerintah apapun itu. He emm enggak apa-apa itu manusiawi. Tetapi jangan berlama-lama bertahan di level ngomel stres mengeluh. Heeh. Alihkan energi kamu secepatnya ke what are you going to do? Hmm. Gitu. Karena apa yang akan kamu lakukan itu masih di bawah kendali kamu. Hm. Jadi, move on dari berkeluk kesah bikin plan. What can I do now tentang my relationship? Heeh. Ya kan? What can I do tentang karir?
58:29 What can I do tentang kamu menjadi citizen warga negara? Karena apapun yang kamu keluhkan itu pasti ada elemen yang bisa kamu lakukan. itu loh. Dan itu saya mengajak itu supaya keluar dari zona overthinking menjadi zona doing masuk ke zona yang under control. Oke. Nah, masing-masing harus pikirkan sendiri. Mas, thank you banget buat waktunya ya, Mas ya. Terima kasih Rori ngundang saya lagi. Saya happy selalu ngobrol dius hari ini sini sore ini Mas Hendri akan ujian katanya sekarang lagi S2 untuk ilmu filsafat juga. Jadi cocok nih penulis soal filsafat tapi ternyata juga sedang kuliah filsafat. Wow. Terima kasih secara keilmuan berarti match ya. Thank you Mas. Thank you. Thank you banget. Always a pleasure. I'll see you in the next video.
59:18 [musik]