0:10 Di dalam Jejak Sejarah Indonesia, julukan tiga serangka yang disematkan kepada Dos Deker, Cipto Mangun Kusumo, dan Ki Hajar Dewantara telah menjadi penanda penting bagi kebangkitan nasional di Indonesia. Mereka tiga tokoh intelektual yang berani menentang penjajahan Belanda dan mengobarkan semangat nasionalisme di hati rakyat Indonesia yang saat itu sedang dalam kondisi terpuruk karena penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Tiga serangkai hadir dengan memberikan gagasan-gagasan progresif dan menanamkan semangat persatuan kepada rakyat melalui tulisan organisasi hingga aksi nyata. Bagaimana perjuangan tiga serangkai dalam membela tanah air dan apa saja peran, pemikiran dan kontribusi tiga serangkai dalam membentuk fondasi nasionalisme Indonesia. Kali ini kita akan membicarakan sepak terjang tiga serangkai untuk memahami perannya dalam
0:57 kemerdekaan Indonesia. [Musik] Dalam sejarah Indonesia, istilah tiga serangka ini bisa saja merujuk pada tokoh yang memainkan peran besar dalam kesuksesan proklamasi Indonesia. Tetapi tiga serangkai dimaksud di sini adalah tiga tokoh yang mewarnai perjuangan kebangkitan nasional di Indonesia, yakni Does Dekar, Ciptomangun Kusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Ketika tokoh ini muncul dari latar belakang kehidupan yang berbeda, tetapi mereka disatukan dalam visi yang sama yaitu menciptakan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
1:42 Ernest Franquis Eugene West Decker yang lebih dikenal sebagai Theck atau Danu Dirja Setiabudi terlahir di Pasuruan, keresidenan Malang saat Indonesia masih menjadi Hindia Belanda. Berdasarkan catatan riwayat hidup singkat yang ditulis Dekar saat mendaftar di Universitas Jurigs, diketahui kalau Deker lahir pada tanggal 8 Oktober di tahun 1879. Deker merupakan anak dari pria Belanda bernama Agus Henry Edward Dewest Decker yang bekerja sebagai seorang een di bank kelas kakap bernama Netherlands Indiesom Tobeng. Sementara ibunya adalah perempuan bernama Leis Newman yang diketahui lahir di Pekalongan dari pesangan Jerman, Jawa. Hal ini menjadikan Dek berstatus sebagai Indo karena ibunya juga adalah seorang indo atau blasteran. Deker lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Dia
2:28 kemudian tumbuh lalu menempuh pendidikan dasar di Pasuruan. Pendidikan lanjutannya ditempuh di sekolah menengah pertama Habis yang ada di Surabaya. Tetapi Deker tidak lama berada di Habis karena dia segera dipindahkan ke gymnasium Conning Willem 3 School, sekolah setingkat HBS tapi lebih elit yang berada di Batavia. Pendidikan Deker berjalan relatif lancar dan dia lulus tepat waktu. Selepas itu Deker memilih langsung bekerja di perkebunan kopi bernama Sumber Duren yang berada di Malang, Jawa Timur. Selama bekerja di perkebunan inilah D melihat perlakuan semena-mena yang dialami oleh para pekerja kebun dan nuraninya terusik sehingga Dek seringkiali membela mereka yang tertindas. Apa yang dilakukan Deker ini ternyata membuatnya kurang disukai oleh rekan-rekan kerjanya sendiri. Tetapi dia jelas disukai oleh para pekerja kebun yang menjadi bawahannya.
3:14 Masalahnya konflik decker dengan rekan-rekan kerjanya termasuk dengan manajernya membuat dia dimutasi ke perkebunan tebuh Pajrakan yang ada di Keraksaan Probolinggo, Jawa Timur untuk menjadi laboran. Di tempat baru pun konfliknya tidak berubah. Deker kembali bermasalah dengan manajernya karena urusan pembagian irigasi untuk perkebunan tebuk dan padi petani lokal. Sehingga akhirnya Dek dipecat karena dianggap mengganggu perkembangan perusahaan. Setelah pemecatan ini, Dek menganggur cukup lama ketidakpasien masa depan mulai menggoncang hidupnya. Terlebih setelah kematian mendadak ibunya yang membuat Deker memutuskan pergi meninggalkan Hindia Belanda. Tercatat bahwa pada tahun 1899, Deker berangkat ke Afrika Selatan dan bergabung dalam perang Buruk kedua untuk melawan Inggris. Di sana decker bahkan mengambil langkah ekstrem dengan menjadi warga negara Republik Transfal,
4:01 salah satu negara yang terlibat dalam perang Bor. Beberapa bulan kemudian, kedua saudara laki-laki Deker pun menyusulnya. Sehingga kemudian Deker tertangkap oleh pasukan Inggris dan dia dijebloskan ke kem tahanan di Cen atau sekarang telah menjadi Sri Langka. Selama berada di dalam kem tahanan ini, Dek tampaknya menyaksikan pengalaman yang kemudian membentuk pemikirannya. Terlebih setelah Deker mempelajari sastra India yang membuka wawasannya tentang budaya dan pemikiran di luar dunia Barat. Perlahan-lahan Deker pun mulai menyadari ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap rakyatnya hingga menumbuhkan benih-benih nasionalisme dalam dirinya yang akan memotivasi Dek dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah dipulangkan ke India Belanda pada tahun 1902, de akhirnya memulai babak baru dalam hidupnya. Dia
4:46 kini bekerja sebagai agen pengiriman di Cloning Kid paket Fart Manscovic, sebuah perusahaan pelayaran milik negara. Penghasilannya yang cukup tinggi membuat Deker berani untuk menikahi kelala Carlot Deji, putri seorang dokter Jerman yang tinggal di Hindia Belanda pada tahun 1903. Selama masa-masa ini, kemampuan menulis dekar yang luar biasa, terutama dalam melaporkan pengalaman perangnya telah menarik perhatian surat kabar terkemuka di Semarang yang bernama The Lokomotif. Maka kemudian Deker ditawari posisi sebagai reporter yang menjadi titik awal karirnya dalam dunia jurnalistik dan organisasi. Karir barunya ini membuat Deker semakin menyadari ketidakadilan kebijakan kolonial telah merugikan banyak pribumi. Tidak mengherankan ketika decker bergabung dengan staf redaksi Bataviach News Blade pada tahun 1907. Tulisan-tulisannya pun semakin berani
5:33 dan membela kaum Indo dan pribumi. Deker bahkan menulis dua seri artikel yang sangat kritis pada tahun 198 yang diketahui seri pertamanya berjudul Head bankrut the entis Prinip in Netherlands of Indie atau kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda yang mengkritik keras kebijakan politik etis pemerintah kolonial. Sementara seri keduanya berjudul ini atau dalam versi Jerman dikenal dengan judul Hollands Colonialir Hter Gang yang memiliki arti bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya yang isinya merupakan kritikan tajam terhadap kebijakan kolonial. Tulisan-tulisan tersebut pada puncaknya membuat Deker menjadi target pengawasan intelijen penguasa. Namun Deker tidak gentar sedikit pun. Dia semakin menyuarakan keresaannya dengan semangat, terlebih karena memang ada
6:19 dukungan dari rekan-rekannya. Saat itu memang Rumah Dkar yang terletak di dekat sekolah Stofia rutin menjadi tempat berkumpul para tokoh pergerakan seperti Sutomo dan Ciptomangun Kusumo. Mereka kerap berdiskusi dan belajar bersama. Serta dalam perkembangannya, Dek diketahui mengambil peran penting dalam kelahiran Budi Utomo, organisasi yang dianggap sebagai organisasi nasional pertama. Selain itu, Deker yang menaruh perhatian besar pada bidang pendidikan juga turut mendirikan Indis University Ferenging atau IUV pada tanggal 8 Maret di tahun 1910. UV ini merupakan sebuah badan penggalangan dana untuk mendirikan universitas di Hindia Belanda yang anggotanya terdiri atas berbagai kalangan termasuk orang Belanda, orang Indonesia, bangsawan Banten, dan perwakilan organisasi pendidikan Tionghoa THHK. Sementara itu, tokoh tiga
7:05 serangkai lainnya yang sudah lebih dulu dikenal Deker adalah Cipto yang pada saat itu sudah berprofesi sebagai dokter dan sangat aktif dalam pergerakan sosial. Dia dilahirkan pada tanggal 4 Maret di tahun 1886 di Desa Panyangakan, Kabupaten Jepara yang berada dalam wilayah keresidenan Jepara. Cipto adalah putra sulung dari Mangun Kusumo yang diketahui merupakan seorang priai rendahan dalam struktur masyarakat Jawa. Akhirnya memulai karir sebagai guru bahasa Melayu di sekolah Dasar Ambarawa. kemudian menjadi kepala sekolah di Semarang dan akhirnya bekerja di administrasi Dewan Kota Semarang. Sementara itu, Ibu Cipto berasal dari keluarga tuan tanah di Mayong, Jepara. Meskipun keluarga Mangun Kusumo ini tidak termasuk golongan priaay tinggi, tetapi ayah Cipto berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Cipto sendiri menempuh pendidikan awalnya di
7:51 Stoffia. Selama bersekolah di sini, Cipto sudah mulai menunjukkan perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan teman-temannya. Sebagai seorang anak, dia dikenal sebagai pribadi yang jujur, cerdas, dan rajin. Sampai guru-gurunya bahkan menjulukinya dengan sebutan and beg of lerling yang berarti murid berbakat. Sayangnya, di balik kecemerlangan akademisnya, Cipto justru merasa terasing di lingkungan sekolahnya tersebut. Cipto berbeda dengan teman-teman sebaya yang gemar berpesta. Dia lebih senang memilih menghadiri ceramah, membaca buku, dan bermain catur. Penampilannya pun terbilang mencolok dengan surjan lurik dan aroma kemenyan yang khas. Selama berada di Stofia, Cipto banyak menciptakan pidato yang topiknya berisi tentang keresahan dan ketidakpuasannya terhadap lingkungan sekitarnya. Baginya, Sofia seharusnya menjadi tempat untuk menemukan jati diri dan melepaskan diri dari tradisi
8:36 keluarga yang kuat dan menghadapi diskriminasi. Namun beberapa peraturan diofia membuatnya geram. Terutama kewajiban bagi mahasiswa Jawa dan Sumatera yang non Kristen untuk mengenakan pakaian tradisional di lingkungan sekolah. Cipto melihat peraturan ini sebagai cerminan arogansi politik kolonial dan pelestarian feodalisme. Dia mengkritik pembatasan penggunaan pakaian barat yang hanya diperbolehkan bagi pribumi dalam hierarki administrasi kolonial. Menurut Cipto, hal ini tidak menciptakan kesetaraan dan justru merendahkan martabat rakyat yang mengenakan pakaian tradisional. Kritikannya ini kelak akan termat juga dalam tulisan-tulisannya di surat kabar The Lokomotif yang saat itu memang sangat berpengaruh. Cipto mengkritik keras kondisi masyarakat yang menurutnya tidak sehat karena feodalisme dan kolonialisme membuat ruang gerak dan kesempatan rakyat menjadi sangat
9:22 terbatas. Selain itu, Cipto juga menyinggung tentang diskriminasi rasial di mana dalam tulisannya ini Cipto mengecam perbedaan gaji antara orang Eropa dan pribumi untuk pekerjaan yang sama. Bahkan diskriminasi ini menyebar ke berbagai bidang seperti peradilan, pajak, dan kesempatan pendidikan. Bagi Cipto, diskriminasi ini sudah seperti garis batas warna yang menghambat kemajuan bangsa Indonesia di bidang pemerintahan, ekonomi, dan sosial. Tulisan-tulisannya yang tajam itu seringkiali membuat Cipto mendapat teguran dari pemerintah. Namun, Cipto tidak gentar. Di masa mudanya dia memilih untuk keluar dari dinas pemerintah demi mempertahankan kebebasan berpendapat meskipun harus mengembalikan sejumlah besar uang ikatan dinas. Selain melalui tulisannya, Cipto melakukan aksi-aksi provokatif untuk menentang ketidakadilan yang dilihatnya. Pernah suatu kali Cipto memasuki sociitate atau
10:10 klub sosial yang hanya diperuntukkan bagi orang Eropa dengan memakai pakaian tradisional Jawa. Dengan santainya Cipto lalu duduk menjulurkan kaki dan mengabaikan pandangan sinis orang-orang di sekitarnya. Ketika seorang penjaga mencoba mengusirnya, Cipto justru memaki-maki penjaga dan orang-orang di sekitarnya dengan bahasa Belanda yang fasih sehingga membuat orang-orang di perkumpulan itu justru terkejut. Pergerakan Cipto terus berlanjut ketika organisasi Budi Utoma terbentuk, Cipto sangat antusias dan menganggap kalau organisasi ini sebagai tonggak penting bagi kesadaran pribumi. Namun ketika kongres pertama Budi Utomo diselenggarakan terungkap kalau ada perbedaan yang sangat mendalam di antara para anggotanya. Cipto dengan visi yang progresif menginginkan Budi Utomo menjadi organisasi politik yang demokratis dan terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia. Dia menekankan betapa
10:55 pentingnya organisasi ini menjadi pemimpin rakyat. Bukan sekedar mencari dukungan dari para pejabat kolonial. Di sisi lain, Rajiman Widod Ningrat mengusulkan supaya Budi Utomo menjadi gerakan kebudayaan yang berfokus pada kebudayaan Jawa. Perbedaan pandangan dan visi ini akhirnya memicu perdebatan sengit antara Cipto dan Rajiman. Cipto sendiri sebenarnya tidak menolak kebudayaan Jawa, tetapi dia menentang kebudayaan keraton yang feodal. Dia berpendapat bahwa masalah politik yaitu penjajahan dan feodalisme harus diselesaikan terlebih dulu sebelum masalah kebudayaan. Gagasan-gagasan Cipto yang radikal dan visioner ini pada masanya belum mendapat dukungan luas. Sehingga meskipun Cipto terpilih sebagai pengurus, tetapi dia akhirnya mengundurkan diri dari Budi Utomo karena merasa organisasi tersebut tidak mewakili aspirasinya. Kepergian Cipto meninggalkan kekosongan dalam Budi Utomo
11:41 yang kehilangan kekuatan progresifnya. Tokoh tiga serangkai berikutnya adalah Ki Hajar Dewantara. Nama aslinya adalah Raden Masuwardi Suryaningrat. Dia terlahir pada tanggal 2 Mei di tahun 1889 dari keluarga bangsawan Kadipaten Pak Alam. Ayahnya adalah Gusti Pangeran Haryo Suryingrat, anak dari Paku Alam 3. Ini artinya Ki Haajar Dewantara merupakan cucu dari Paku Alam 3, penguasa Kadipaten Pak Alam. Sebagai seorang bangsawan, Ki Hajar memiliki kesempatan menempuh pendidikan yang lebih baik. Diketahui bahwa dia menempatkan pendidikan dasarnya di ILS yang merupakan sekolah dasar khusus untuk anak-anak yang berasal dari Eropa. Lalu Ki Hajar sempat melanjutkan pendidikan kedokterannya di Stofia. Tetapi tidak dapat dia selesaikan karena kondisi kesehatan Ki Hajar yang buruk. Maka arah karirnya pun berubah. Ki Hajar mulai bekerja sebagai penulis dan
12:27 wartawan di beberapa surat kabar. Tercatat kalau dia pernah bekerja untuk surat kabar Studio Utomo, Miden Java, Dek Express, utusan Hindia, kaum muda, cahaya timur, dan pusara. Ki Hajar tergolong sebagai salah satu penulis yang andal pada masanya dengan gaya tulisan yang bersifat komunikatif dan menjebarkan gagasan-gagasannya yang antiolonial. Selain hebat sebagai seorang wartawan muda, Kiajar juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Budi Utomo, dia aktif di seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan mengunggah kesadaran masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama Budi Utomo yang berlangsung di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Kia Hajar Muda juga ikut menjadi anggota
13:13 organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi oleh kaum Indo yang ingin memperjuangkan pemerintah sendiri di Hindia Belanda atas pengaruh DKER. Setelah pergolakan di dalam Budi Utomo, tampaknya Deker melihat kalau organisasi tersebut terbatas pada masalah kebudayaan Jawa. Makanya Deker tidak banyak terlibat di dalamnya. Sebagai seorang Indo, dia selama ini sudah terdiskriminasi oleh orang Belanda murni yang disebut Belanda Totok. Karena sistem pemerintahan kolonial menciptakan hierarki sosial yang membedakan antara Belanda Totok, Indo, dan pribumi. Posisi
13:58 orang Indo dalam pemerintahan sebenarnya hampir tidak ada bedanya dengan pribumi. Bahkan banyak orang Indo yang hidupnya sulit karena politik etis yang memberikan kesempatan lebih besar kepada pribumi yang dibayar lebih rendah. Selain itu, banyak pula orang Indo yang hidup dalam kemiskinan. Belanda Totok memandang rendah kaum Indo seperti yang tercermin dalam buletin Bon van Genisarin atau buletin dari ikatan para dokter yang muncul pada tahun 1912. Buletin tersebut isinya merupakan tulisan orang-orang Belanda Totok yang merendahkan kaum Indo dan meragukan kemampuan mereka menjadi dokter. Berangkat dari keresaan ini, Dek percaya kalau kaum Indo sudah sepatutnya bekerja sama dengan pribumi untuk mengubah nasib mereka. Deker berpendapat kalau Hindia ini bukan hanya milik Belanda Totok, tetapi milik semua orang yang merasa sebagai orang Hindia. Pandangannya
14:45 inilah yang akan menjadi cikalbakal dasar ideologi nasionalisme dari Indis Party. Maka Deker kemudian memanfaatkan keprihatinan orang Indo untuk menyebarkan gagasan pemerintahan sendiri Hindia Belanda oleh orang-orang asli Hindia Belanda, yakni pemerintahan yang inklusif dan melampaui batasan ras serta suku. Gagasan deer ini adalah gagasan yang sangat orisinil pada masa itu. Karena orang-orang di masanya memang lebih fokus pada kelompok ras atau suku masing-masing. Melalui organisasi indisk bond dan insulin, akhirnya Deker mempromosikan visi indie atau Hindia baru yang dipimpin oleh warganya sendiri. Namun, idenya ini hanya mendapat sedikit dukungan dari kalangan Indo yang sebagian besar lebih memilih status Kuo. Meski begitu, Deker tetap melanjutkan idenya dengan mendirikan indis party pada tahun 1912 bersama
15:31 dengan Cipto dan Ki Hajar. Partai ini merupakan partai nasionalis inklusif yang mendapat dukungan luas terutama dari kalangan Indo, Tionghoa, dan pribumi. Sebelum bergabung dengan pendirian indis party, diketahui kalau Cipto sudah membuka praktik dokter di Solo dan berperan penting dalam memberantas wabah pes di Malang pada tahun 1911. Jasanya dihargai dengan bintang emas dari pemerintah kolonial. Selama itu pula Cipto terus aktif di dunia politik dan sempat mendirikan Raden Ajeng Kartini klub yang bertujuan untuk memperbaiki nasib rakyat. Ketika ditawari oleh Dek untuk bergabung dalam indis party, Cipto menyambutnya dengan hangat. Dia melihat Dek dan Ki Hajar sebagai rekan seperjuangan dalam visinya serta menganggap bahwa indispy ini sebagai wadah yang tepat untuk
16:16 memperjuangkan kepentingan seluruh rakyat Hindia Belanda tanpa memandang suku, golongan, dan agama. Maka kemudian di tahun yang sama dengan Indis Party berdiri, Cipto pindah ke Bandung supaya lebih dekat dengan Deker dan dia bergabung dengan redaksi harian di Express dan majalah Head Tar Scrif. Di Bandung, organisasi Indoeropa seperti Indis Bond dan Insulin sudah lama berdiri. Visi mereka adalah memperjuangkan peningkatan status sosial ekonomi kaum Indo dalam kerangka kerja sama dengan Belanda. Pandangan ini sudah jelas bertentangan dengan visi decker yang dalam pidatonya tertanggal 12 Desember 1911 saja sudah menyerukan dengan lantang dan tegas bahwa kaum Indo harus berjuang bersama pribumi sebagai rakyat Hindia untuk memberontak dan merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial. Pidato dekar ini kemudian menginspirasi pembentukan panitia 7 yang
17:03 kemudian resmi mendirikan indis party pada tanggal 6 September 1912. Tiga tokoh penting termasuk deck melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk mendirikan cabang partai dan mengadakan rapat-rapat yang dihadiri oleh berbagai organisasi. Deker melalui pidato-pidatonya yang berapi-api ternyata berhasil menarik banyak pengikut dan pendukung. Indis party sudah berkembang menjadi wadah bagi mereka yang tidak dapat bergabung dengan organisasi lain karena batasan etnis ataupun agama. Maka dalam waktu singkat, indis partti pun memiliki ribuan anggota dan puluhan cabang di seluruh Hindia Belanda, termasuk anggota dari keturunan Tionghoa dan Arab. Dalam perkembangannya ini, indis partti berupaya untuk mewujudkan kerja sama antara Indo dan Pribumi serta seluruh anggotanya, baik dari keturunan Eropa, Tionghoa, maupun
17:49 Arab dengan menyerap cita-cita nasional Hindia, memberantas diskriminasi dan memperjuangkan hak-hak semua orang Hindia. Di tanggal 25 Desember 1912, indis partti yang semakin kuat pun mulai menetapkan anggaran dasar dan pengurus partai dengan deker ditunjuk sebagai ketuanya. Bendera partai ini berwarna hitam dengan jalur tiwarna di sudut kanan yang melambangkan tujuan, semangat, dan kesetiaan terhadap tanah air. Indis partti akhirnya menjadi partai besar pertama yang mengusung gagasan untuk India yang menjadikan Hindia sebagai rumah nasional bagi semua yang mengakuinya sebagai tanah air. Gagasan ini yang dikenal sebagai indis nasionalisme kemudian berkembang menjadi nasionalisme Indonesia melalui perhimpunan Indonesia dan partai nasional Indonesia. Lalu memasuki tahun 1912, pemerintah Hindia Belanda saat itu
18:35 berencana untuk membentuk dewan perwakilan dengan nama Kolonial Rod yang pada akhirnya rencana ini memicu penolakan keras dari kaum nasionalis. Saat itu kaum nasional melihat bahwa nama dan susunan dewan tersebut sebagai penghinaan terhadap pergerakan nasional karena dipastikan akan membela kepentingan penjajah dan mengabaikan rakyat. Maka kaum nasionalis termasuk anggota serikat Islam cabang Bandung menuntut agar Dewan Perwakilan Rakyat memiliki perwakilan yang seimbang. antara penduduk asing dan pribumi. Sebelum masalah ini, Inis parti yang diwakili Dek telah mengajukan permohonan pengakuan badan hukum kepada pemerintah Hindia Belanda tertanggal 25 Desember 1912. Namun, pemerintah justru kemudian menugaskan Dr. GH Haj untuk menyelidiki Deker supaya dapat mengetahui kehidupannya serta arah politiknya.
19:22 Penyelidikan ini membuahkan laporan latar belakang dan kehidupan politik decker yang diserahkan kepada Gubernur Jenderal Indenburg pada tanggal 13 Januari 1913. Setelah melihat laporan pada tanggal 4 Maret 1913, Gubernur Jenderal Indenberg secara resmi menolak permohonan indis party untuk memperoleh status badan hukum dengan mengacu pada pasal 111 Ringerin Reglement atau peraturan pemerintah tahun 1854. Penolakan ini sebenarnya mengejutkan pengurus indispy karena pemerintah sebelumnya sudah berencana untuk menghapus pasal tersebut tetapi kini mereka gunakan lagi demi kepentingannya. Maka setelah penolakan, Dek dan pengurus Iis Parti mencoba mengubah pasal 2 anggaran dasar partai dan mengajukan permohonan kembali. Namun permohonan mereka kembali ditolak pada tanggal 11 Maret 1913 dengan alasan
20:08 bahwa perubahan Pasal tidak mengubah dasar dan jiwa organisasi. Upaya ketiga Dek di tanggal 13 Maret pun gagal. Tetapi saat itu Deker sempat bertanya kepada Indenberg tentang kemungkinan kemerdekaan Hindia Belanda. Tetapi Edenberg menyatakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Deker paham pemerintah tidak akan mendukung langkahnya dalam mengupayakan kemerdekaan Hindia. Maka Partai Indus Party yang sering dicurigai oleh penguasa kolonial karena gagasan radikal para pendirinya harus mati langkah dan tidak dapat berumur panjang. Setelah indispti ini dinyatakan terlarang oleh pemerintah, para pemimpinnya memutuskan untuk membubarkan saja partai ini secara resmi di tanggal 31 Maret 1913. Namun sebelumnya deer telah menyarankan agar para anggota untuk bergabung dengan insulin, organisasi yang diakui pemerintah dan
20:53 mereka bisa meneruskan perjuangan di dalam partai tersebut dengan semangat serta visi indis party. Semenjak kejadian ini, tindakan tegas pemerintah mulai dilakukan sehingga banyak anggota indis party yang merasa takut dengan pemerintah. Tetapi dieksekpres sebagai media propaganda mereka tetap bertahan. Bahkan pada tahun 1914 kartu nama, kertas dan sejenisnya dengan atribut indis party masih diiklankan di D Express. Bahkan tiga serangkai pun terus mengkritik pemerintah melalui Dpress yang berdampak pada dibuangnya mereka ke [Musik] Eropa. Pada bulan November di tahun 1913, tahun yang sama dengan
21:39 dibubarkannya Indis Party, Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaannya dari Prancis. Peran besar-besaran ini juga diadakan di Hindia Belanda dan saat itu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga termasuk dari pribumi untuk perayaan kemerdekaan. Rencana ini memicu reaksi keras dari kalangan nasionalis. Cipto sendiri menganggapnya sebagai penghinaan terhadap rakyat pribumi yang sedang dijajah Belanda. Maka kemudian Cipto bersama Ki Hajar mendirikan komit bumiputra untuk menentang perayaan tersebut. Di dalam komitto yang menjadi ketuanya sudah berencana untuk mengumpulkan dana yang akan mereka gunakan untuk mengirim telegram kepada Ratu Wihel Mina yang isinya merupakan permintaan pencabutan pembatasan kegiatan politik dan pembentukan parlemen. Komit Bumiputra juga kemudian menyebarkan selebaran yang isinya
22:24 menyadarkan rakyat bahwa perayaan kemerdekaan Belanda dengan mengarahkan dana dan tenaga rakyat pribumi adalah penghinaan. Aksi protes ini mencapai puncaknya di tanggal 19 Juli di tahun 1913. Ketika Harian di Express, pimpinan Deker menerbitkan artikel Ki Hajar yang saat itu baru berusia 24 tahun. Artikelnya berjudul Alls I Netherland W yang artinya, "Seandainya aku seorang Belanda." Artikel tersebut berisi kritik pedas terhadap rencana pemerintah Belanda di mana salah satu kutipan terkenalnya berbunyi, "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya." Sejajar dengan jalan pikiran itu bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk
23:10 menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka. Dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu. Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya. Saya terangkan, saya nyatakan bahwa maksud Belanda untuk merayakan hari kemerdekaannya di Indonesia itulah suatu perbuatan yang tidak sopan. Tulisan ini jelas membuat para pejabat Belanda menjadi marah. Beberapa dari mereka bahkan meragukan keaslian artikel tersebut dengan menuga serta menuduh bahwa Deker memanas-manasi Ki Hajar untuk menulis dengan gaya yang provokatif. Keesokan harinya, Cipto
23:57 makin membuat panas situasi dengan menulis artikel di The Express juga yang mendukung Ki Hajar untuk memboikot peraian kemerdekaan Belanda. Akibat tulisan ini, Ki Hajar dan Cipto akhirnya ditangkap atas perintah Gubernur Jenderal Indenberg pada tanggal 30 Juli di tahun 1913. Kejer sendiri akan diasingkan ke Pulau Bangka. Namun kedua rekannya Dek dan Cipto melakukan protes keras hingga akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda pada tanggal 18 Agustus di tahun 1913. Ketika tiga serangka ini berada dalam pengasingan di Belanda, mereka terus melakukan aksi politik melalui propaganda indis party. Mereka bahkan menerbitkan majalah The Indier untuk menyadarkan masyarakat Belanda dan Indonesia di sana tentang kondisi di tanah jajahan. Majalah ini secara jelas dan berani mengkritik berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Akhirnya kehadiran
24:45 mereka di Belanda ini justru berdampak kuat pada organisasi mahasiswa Indonesia di sana yang dikenal dengan indis ferening. Organisasi ini awalnya merupakan perkumpulan sosial tetapi dengan kehadiran Dek, Cipto dan Ki Hajar mulai berkembang mengadopsi konsep-konsep baru tentang kemerdekaan Hindia dari Belanda dan pembentukan negara Hindia yang diperintah oleh rakyatnya sendiri. Pengaruh tiga serangkai pun kian kuat dengan terbitnya jurnal indis pareneg yang dinamai Hindia Putra pada tahun 1916, K. Haajar sendiri mendirikan Indonesi Persu atau kantor berita Indonesia. Sebuah kantor berita yang menjadi istilah Indonesia pertama kali digunakan dalam penggunaan formal. Di mana istilah ini sebelumnya dicetuskan oleh George Winon Elles Richardson Logan di Belanda. Para tokoh tiga serangka ini terus mengalami
25:30 perkembangan juga. Kiia Ajar bahkan mulai merintis cita-citanya untuk memajukan kaum pribumi melalui pendidikan. Dia mempelajari ilmu pendidikan hingga meraih Europe CTA, yakni ijazah pendidikan bergengsi yang kelak menjadi dasar bagi pendirian lembaga pendidikan Taman Siswa. Deker sendiri dalam pengasingannya mengambil program doktor dalam bidang ekonomi di Universitas Jur Swiss. Dia tinggal bersama keluarganya yang lebih memilih berada di Eropa dibandingkan Hindia Belanda. Namun dalam catatan yang ada diketahui kalau gelar doktor yang diperoleh de berhasil diraih secara agak kontroversial. Dan menurut salah satu pengujinya adalah dengan nilai serendah-rendahnya. Ini karena selama di Swiss diduga Dek terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India. Deker kemudian ditangkap di Hongkong dan diadili. Kemudian ditahan di Singapura pada tahun 1918. Setelah 2 tahun
26:17 dipenjara, Dek pulang ke Hindia Belanda menyusul dua rekannya yang lebih dulu pulang ke Hindia Belanda di tahun-tahun sebelumnya. [Musik] Dari toko tiga serangkai yang pulang lebih dulu ke Hindia Belanda adalah Cipto yang diperbolehkan pulang kembali ke Jawa pada tahun 1914 karena alasan kesehatan. Semenjak kepulangannya dia bergabung dengan Insulin, perkumpulan yang berdiri menggantikan indis party. Insulin ini Cipto menjadi anggota pengurus pusat yang aktif melakukan propaganda, terutama di wilayah pesisir utara Jawa. Dalam kegiatan propagandanya, Cipto menggunakan berbagai media seperti majalah Guntur Bergerak, Surat kabar The Bwing, Majapahit, dan Pahlawan. Berkat
27:03 propagandanya ini, jumlah anggota insulin pun meningkat pesat yang awalnya hanya berjumlah 1009 anggota pada tahun 1915, kemudian menjadi 40.000 anggota pada bulan Oktober di tahun 1919. Di bawah pengaruh gagasan cipto pula, akhirnya insulin menjadi partai yang radikal dan pada 9 Juni 1919 resmi berganti nama menjadi National Indis Party atau NIP. Sebelumnya pada tanggal 18 Mei 1918, pemerintah Hindia Belanda sempat membentuk foxrate atau Dewan Rakyat. Pembentukan foxrate ini membuat Gubernur Jenderal Finlim Burg di Rom menunjuk Cipto sebagai salah satu anggota Fox Ride dengan harapan dewan tersebut dapat menampung berbagai pandangan dan menunjuk citra demokratis. Saat itu Cipto melihat Foxrate sebagai kemajuan dan menggunakannya sebagai wadah untuk menyampaikan kritik terhadap
27:49 pemerintah. Namun Cipto tetap kritis dengan menganggap Foxr hanya sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan kolonial. Pada tanggal 25 November di tahun 1919, Cipto berpidato di Foxr untuk mengungkap kasus penipuan rakyat yang melibatkan Sunan dan residen. Dia memaparkan bahwa pinjaman 12 golden dari Sunan harus dibayar dengan kerja paksa di perkebunan yang setara dengan 28 golden. Pidato ini membuatnya kembali bermasalah dan dianggap sebagai ancaman berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. [Musik] Saat itu Ki Hajar sudah kembali ke Indonesia sejak bulan September 1919. Tidak seperti Cipto yang kian radikal dalam dunia politik, Ki Hajar memilih segera terjun ke dunia pendidikan dengan bergabung di sekolah yang dikelola oleh
28:36 saudaranya. Pengalaman mengajar ini menjadi bekal berharga baginya dalam mengembangkan konsep pendidikan yang akan dia terapkan di sekolah yang ingin dia dirikan, yakni Perguruan Nasional Taman Siswa yang resmi berdiri pada tanggal 3 Juli di tahun 1922 di Yogyakarta. saat usianya itu genap 40 tahun. Menurut penanggalan Jawa, Ki Hajar yang memiliki nama asli Raden Masuwardi Suryingrap memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Tidak hanya itu keputusan besarnya, Ki Hajar pun menanggalkan gelar kebangsawannya sebagai wujud keinginannya untuk lebih dekat dengan rakyat. Cita-citanya untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa perlahan terwujud. Kiajar juga menciptakan semboyan pendidikan yang sangat terkenal di Indonesia, yakni Ing Ngarsa Sungtulada, ing madya Mangunkarsa, Tutwuri [Musik]
29:23 Handayani. Sementara itu, Deker yang baru kembali pada tahun 1920 memilih menetap di Batavia dan aktif kembali dalam dunia jurnalistik serta organisasi. Dia aktif sebagai redektur organ informasi insulin yakni The Bweging. Melalui tulisannya, Deker kerap menyindir kalangan prokolonial dan kaum Indo yang dianggapnya masih berpihak pada Belanda. Dia bahkan berupaya mendorong deropanisasi kaum Indo agar mereka menyadari pentingnya berpihak pada pribumi demi masa depan bersama. Dalam upaya lanjutannya, Decker mengkritik keras indis Europeach Fbon atau EV yang merupakan organisasi kaum Indo yang baru terbentuk saat itu. Decker menyampaikan kritiknya melalui seri tulisan berjudul The Tain Goboden yang berarti 10 perintah Tuhan dan Noo Indrik atau Sinyo Hendrick. Di mana
30:09 Deker mengecam organisasi Iev sebagai liga yang konyol dan kekak-kanakan. Pada waktu yang sama, Becker juga menulis pamflet-pamflet terkenal seperti Inn in the yang berarti suatu bangsa tengah terbentuk dan pamflet onsf and head buen lanse capital yang berarti bangsa kita dan modal asing. Saat neer kembali pula ke Hindia Belanda National Indish Party yang berada di bawah pengaruh cito sudah terbentuk sebagai kelanjutan indis party yang dulu dilarang. Tetapi kehadiran NIP ini membuat organisasi insulin terpecah. Anggota insulin terbagi menjadi dua kubu, yakni yang moderat dan berisi kebanyakan Indo, lalu yang progresif dengan isinya kebanyakan pribumi dan menginginkan pemerintahan sendiri. Pertikaian di dalam kubu insulin dan NIP ini akhirnya tidak hanya memecah anggotanya, tapi kemudian dilarang oleh pemerintah untuk tetap berdiri. Pada
30:56 tahun berikutnya, Dekar diketahui terlibat dalam protes dan kerusuhan burutani di perkebunan tembakau, Polanharjo di Klaten. Kejadian ini membuat Dek dituduh penghasut petani dalam pertemuan dengan insulin cabang Surakarta. Tetapi pengadilan di Semarang membebaskannya dari vonis. Masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja tuduhan terhadap Dek. Sebab dia kembali menerima tuduhan menulis hasutan di surat kabar yang dipimpinnya. Karena dia membela penulis komentar yang menyerukan kemerdekaan dan menyingkirkan penguasa kolonial. Tuduhan ini sebenarnya membuat Deker kecewa karena penyelidikan yang dilakukan bukan hanya mempersoalkan tulisan, tetapi juga mentalitas penulisnya yang dituduhkan sebagai hasil hasutan Dek. Beruntung setelah melakukan pembelaan panjang, Decker akhirnya divonis bebas. Sekeluarnya Dekar dari tahanan dan berbagai tuntutan pengadilan, Dekar memilih untuk
31:41 meninggalkan kegiatan jurnalistiknya dan lebih menyibukkan diri dalam penulisan sejumlah buku semi ilmiah serta membangun penangkaran anjing Jerman Shipar. Saat aktif dalam organisasinya, salah satu anjing yang bernama Achim Von Postdem bahkan memenangkan kontes dan menunjukkan kecerdasan dengan menjawab pertanyaan berhitung dan tertulis. Lalu atas dorongan Ki Hajar yang telah mendirikan Taman Siswa, akhirnya Dek pun terjun ke dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah kesatrian Institute atau K di Bandung. Deker menciptakan materi pelajaran sendiri yang diajarkannya dalam bahasa Belanda. Sekolahnya juga kemudian mengembangkan pendidikan bisnis yang memasukkan pelajaran sejarah Indonesia dan dunia yang ditulis oleh Dek. Namun materi pelajaran sejarahnya yang antiolonial dan lebih pro Jepang menyebabkan buku-bukunya disita dan dibakar oleh
32:26 pemerintahan keresidenan Periangan pada tahun 1933. Saat itu memang Jepang sedang memperluas pengaruhnya di Asia Timur dan Dek tampaknya lebih mendukung Jepang. Dampaknya Deker pun dilarang mengajar meskipun dia tetap berada dalam struktur organisasi Kesatrian Institute. Lalu karena dilarang mengajar, Deker berubah haluan dalam mencari nafkah dengan bekerja di kantor kamar dagang Jepang yang ada di Jakarta. Pekerjaan barunya ini membuatnya dekat dengan Muhammad Husni Tamrin, seorang wakil pribumi di Foxrad. Pada saat yang sama, pemerintahan Hindia Belanda yang masih trauma dengan pemberontakan komunis pada tahun 1927 baru mulai berjuang mengatasi masalah ekonomi akibat krisis keuangan di tahun 1929. Tapi tantangannya tidak hanya itu, pemerintah Hindia Belanda juga harus menghadapi perkembangan fasisme ala nazi di kalangan warga Eropa
33:12 dengan munculnya nasional socialtis CBWing atau NSB cabang India. Lantas ketika Jerman menyerbu Denmark, Norwegia, dan akhirnya Belanda pada awal tahun 1940 saat perang Dunia 2 pecah, ribuan orang Jerman di Hindia Belanda pun ditangkap termasuk anggota NSB dan orang Eropa lainnya yang diduga terhubung dengan Nazi. Deker sendiri ikut diawasi oleh pemerintah kolonial, bahkan ikut dipenjara karena dianggap sebagai kolaborator Jepang yang pada bulan September 1940 sudah mulai menyerang Indo, Cina, Prancis. Untuk memberatkan tuduhan penangkapannya, Dek disebut sebagai komunis. sebuah tuduhan yang sering dilontarkan oleh pemerintah Belanda dan kolonial terhadap aktivis pro kemerdekaan Indonesia. [Musik]
34:11 Dekker kemudian diasingkan ke Suriname pada tahun 1941 dan ditempatkan di kem Joden Savane yang berlokasi di pedalaman Sungai Suriname. Kondisi kemnya sangat memprihatinkan sehingga membuat kesehatan Deker yang saat itu sudah memasuki usia 60-an akhirnya menurun dengan drastis. Dekker bahkan sempat kehilangan kemampuan penglihatannya dan kelalahan mental karena terus mendapatkan tekanan. Setelah Perang Dunia 2 berakhir, saynya Deker tidak segera dibebaskan dan baru pada pertengahan tahun 1946 dia dikirim ke Belanda di mana dia bertemu dengan seorang perawat bernama Nelli Albertina Gertzema yang menemaninya kembali ke Indonesia. Mereka tiba di Yogyakarta pada tanggal 2 Januari 1947 setelah melalui perjalanan yang penuh rintangan karena Dekar harus menyamar dan menghindari petugas intelijen pemerintah Hindia Belanda di Pelabuhan Tanjung Priuk. Sekembalinya ke tanah air, Dek
34:58 diajak untuk terlibat dalam pemerintahan Republik Indonesia dengan menjabat sebagai Menteri Negara dalam kabinet Syahrir 3 walau hanya bekerja selama hampir 9 bulan. Lalu Deker ditunjuk sebagai anggota delegasi negosiasi dengan Belanda dan posisi penting lainnya. Selama masa-masa ini, Dek diketahui sempat tinggal satu rumah dengan Soekarno. Tetapi segera setelah Dek dan perempuan bernama Harumi menikah serta karena alasan kesehatannya, akhirnya Dek pindah dan menempati salah satu rumah di Kaliurang. Di rumah inilah kemudian pada tanggal 21 Desember 1948, Deker kembali ditangkap tentara Belanda yang tiba 2 hari sebelumnya di Yogyakarta dalam rangka Operatif KAI atau agresi militer Belanda 2 yang dikenal sebagai operasi gagak. Setelah diinterogasi dalam waktu singkat, Deker pun dikirim ke Jakarta untuk diinterogasi kembali. Tapi karena
35:44 kondisi fisiknya yang terus menurun, Deker akhirnya dibebaskan setelah dibuat berjanji tidak akan melibatkan dirinya dalam kegiatan politik. Deker pun dibawa ke Bandung atas permintaannya sendiri di mana Harumi menyusulnya untuk menempati rumah lama keluarga Dek di Jalan Lembang. Selama di Bandung, Deker memilih terlibat kembali dengan aktivitas di Kesatrian Institute lalu menyibukkan diri dengan mengumpulkan material untuk penulisan autobiografinya yang terbit pada tahun 1950. serta merevisi buku sejarah tulisannya. Deker sendiri wafat pada dini hari di tanggal 28 Agustus 1950 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung. Sementara itu, rekannya Cipto yang sebelumnya masih aktif mengkritik pemerintah memiliki nasib yang tidak jauh berbeda. Sebelum kemerdekaan, pemerintah Hindia Belanda yang menganggapnya sebagai ancaman serius akhirnya membuat Dewan Hindia memberi
36:30 saran kepada Gubernur Jenderal pada tanggal 15 Oktober 1920 untuk mengusir Cipto ke daerah yang tidak berbahasa Jawa. Nyatanya upaya pengusiran itu tidak berhasil menghambat pergerakan Cipto karena di mana pun dia dibuang entah Jawa, Madura, Aceh, Palembang, Jambi, maupun Kalimantan Timur, tetapi Cipto tetap menjadi ancaman bagi pemerintah karena propagandanya. Dewan Hindia berdasarkan surat kepada Gubernur Jenderal kembali mengusulkan Cipto agar dibuang ke Kepulauan Timur. Tetapi akhirnya Cipto hanya dibuang ke Bandung dan dilarang keluar kota. Selama di Bandung ini, Cipto kembali membuka praktik dokter. Dan selama 3 tahun, Cipto mengabdikan diri bersama sepedanya untuk keluar masuk kampung demi mengobati pasien. Cipto kemudian bertemu dengan Soekarno yang membentuk Partai Nasional Indonesia dari organisasi Algimini Study Club. Meskipun Cipto
37:16 tidak terlibat secara formal dalam organisasi serta partai tersebut, tetapi diakui oleh Soekarno dan tokoh muda lainnya bahwa pemikiran Cipto sangat mempengaruhi banyak orang. Pada akhir tahun 1926 dan awal tahun 1927 terjadi pemberontakan komunis yang gagal di beberapa wilayah Indonesia. Pemerintah kolonial menindak keras gerakan ini dengan menangkap dan mengasingkan ribuan orang termasuk Cipto di dalamnya. Namun diketahui pada bulan Juli 1927, Cipto menerima kunjungan dari seorang militer pribumi yang berencana melakukan sabotase dengan meledakkan gudang Mesiu dan dia meminta uang untuk biaya perjalanan ke Jatinegara kepada Cipto. Sebenarnya Cipto tidak setuju dengan rencana sabotase tersebut, tetapi dia tetap memberikan uang sebanyak 10 golden dengan alasan kemanusiaan. Setelah pemberontakan komunis itu gagal dan kasus peledakan gudang Misiu di Bandung
38:02 terbongkar, Cipto akhirnya dipanggil pemerintah untuk menghadap ke pengadilan karena dianggap telah memberikan andil dalam membantu anggota komunis dengan memberikan uang 10 golden dan ditemukannya nama-nama kepala pemberontakan dalam daftar tamu Cipto. Sebagai hukumannya, Cipto pun dibuang ke Banda, Maluku pada tanggal 19 Desember 1927. Selama pengasingannya di Banda, kondisi kesehatan Cipto memburuk. Penyakit asmanya sering kambus hingga membuatnya sangat menderita. Beberapa teman Cipto sudah berusaha membujuk pemerintah kolonial supaya membebaskannya. Tetapi karena pemerintah mengajukan syarat yang memberatkan, yakni Cipto harus menandatangani perjanjian, yang menyatakan bahwa dia akan melepaskan hak politiknya ketika kembali ke Jawa. Makanya Cipto menolak dengan tegas dan menyatakan bahwa dia lebih baik mati di banda daripada harus mengkhianati perjuangannya sendiri. Tapi
38:48 karena kondisi kesehatannya yang terus menurun, Cirto pun akhirnya dipindahkan ke beberapa tempat pengasingan lain seperti Bali dan Makassar. baru pada tahun 1940 dia dipindahkan ke Sukabumi. Sayangnya penyakit asmanya semakin paras sehingga membuat Cipto menghebuskan nafas terakhirnya di usia yang ke-57 tahun pada tanggal 8 Maret 1943 sebelum merasakan kemerdekaan Indonesia. Lain halnya nasib Ki Hajar Dewantara. Dia menjalani kehidupan yang lebih baik dengan mengembangkan taman siswa dan pada tanggal 17 Agustus 1946 diangkat sebagai maha guru di sekolah polisi Republik Indonesia bagian tinggi di Mertoyudan, Magelang. Sebelumnya pada tahun 1945 di masa pemerintahan Presiden Soekarno, Kia. Hajar dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Lalu pada tanggal 19 Desember 1956, Universitas
39:35 Gadjah Mada menganugerahkan gelar Dr. honoris Kausa kepadanya. Jasa-jasanya dalam bidang pendidikan diakui secara luas dan dia ditetapkan sebagai bapak pendidikan nasional. Hari kelahirannya 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Penetapan ini disakkan melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 305 tahun 1959 yang juga menetapkannya sebagai pahlawan nasional Indonesia. Surat keputusan tersebut diterbitkan pada tanggal 28 November 1959. Ki Hajar Dewantara wafat di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959 di padepokan Ki Hajar Dewantara. Jenazahnya disemayamkan di pendapa agung Taman Siswa sebelum dimakamkan di Taman Wijaya Brata pada tanggal 29 April 1959. Upacara pemakamannya saat itu dipimpin oleh Soeharto yang bertindak sebagai
40:21 inspektur upacara. [Musik]