Runtuhnya Tokopedia E-Commerce Kebanggaan Indonesia!

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang potensi keruntuhan Tokopedia setelah bergabung dengan TikTok, menyoroti masalah-masalah yang dihadapi penjual dan pembeli. Poin-poin utama meliputi:

  • Integrasi sistem yang kacau antara Tokopedia dan TikTok Seller Center.
  • Kenaikan biaya transaksi dan ongkos kirim yang membebani penjual.
  • PHK massal di Tokopedia.
  • Perubahan perilaku konsumen dan kualitas layanan setelah integrasi.
  • Kekhawatiran tentang monopoli pasar dan nasib UMKM lokal.

Pendahuluan

Video dimulai dengan membahas rumor tentang Tokopedia yang akan bubar setelah bergabung dengan TikTok. Narasumber, K Indra, yang memiliki pengalaman dalam penjualan di marketplace, akan membahas seluk-beluk keruntuhan Tokopedia dari sudut pandang penjual. Said, sebagai pembeli setia Tokopedia di masa lalu, juga akan memberikan pandangannya.

Latar Belakang Tokopedia

Tokopedia adalah e-commerce rintisan nasional yang bertujuan untuk mendemokratisasi UMKM di Indonesia. UMKM merupakan penyumbang pemasukan terbesar di Indonesia, sehingga model bisnis Tokopedia sangat cocok untuk pasar Indonesia. Namun, sejak dibeli oleh TikTok pada tahun 2023, Tokopedia mulai mengalami perubahan yang mengarah pada keruntuhan. TikTok terkesan lebih diperhatikan daripada Tokopedia.

Masalah Integrasi Sistem

Integrasi Tokopedia ke TikTok Seller Center mengharuskan semua penjual untuk bergabung ke sistem TikTok. Sistem chat di TikTok Seller Center dinilai sangat buruk karena chat hanya bisa diakses oleh orang yang pertama kali menghandle, sehingga menghambat komunikasi tim dan memperlambat respons. Fitur pencarian chat juga kacau, sehingga sulit mencari riwayat percakapan.

Biaya Transaksi dan Ongkos Kirim

Biaya transaksi di Tokopedia terus membengkak sejak tahun 2022, sementara penjualan justru menurun. Kebijakan free ongkir yang baru juga memberatkan penjual karena dikenakan biaya 6% dengan maksimum Rp40.000. Penjual yang sudah bergabung ke TikTok Seller Center tidak bisa mematikan opsi free ongkir, sehingga harus membayar biaya tambahan 4% atau maksimum Rp40.000. Biaya layanan juga bervariasi, mulai dari 3-4% hingga lebih dari 10%, sehingga margin keuntungan penjual semakin tipis.

PHK Massal di Tokopedia

Tokopedia terus melakukan PHK, dan pada bulan Juli diperkirakan akan ada PHK lagi sekitar 2.500 orang. Hal ini disebabkan karena integrasi marketplace membuat banyak posisi menjadi tidak diperlukan. UMKM juga kebingungan dan mencari alternatif lain seperti Shopee, TikTok Shop, atau membuat website sendiri.

Dampak pada UMKM dan Perilaku Konsumen

Hanya penjual dengan modal besar atau budget promosi yang cukup besar yang bisa bertahan di Tokopedia. Produk baru yang tidak diiklankan sulit ditemukan di pencarian. TikTok juga melarang penjualan barang bekas, sehingga menghilangkan opsi bagi penjual barang personal. Setelah integrasi dengan TikTok, segmen market Tokopedia berubah, dengan pembeli yang kurang memahami produk dan sering mengajukan komplain tidak jelas.

Pengalaman Retur yang Merugikan Penjual

Sistem retur di TikTok sangat merugikan penjual karena pembeli bisa dengan mudah mengajukan retur bahkan setelah barang dibuka. Penjual tidak memiliki opsi untuk menolak retur, sehingga dipaksa menerima pengembalian barang yang sudah tidak layak jual. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi celah bagi tindakan kejahatan.

Alternatif dan Masa Depan Tokopedia

Beberapa alternatif bagi penjual adalah membuka website sendiri atau kembali ke toko fisik. Pembeli akan memilih berdasarkan kemudahan dan biaya. Affiliate content creator juga dirugikan karena pertanyaan dari pembeli di TikTok cenderung random dan tidak berbobot. TikTok sendiri akan tetap besar karena pasar yang besar di Cina, tetapi nasib Tokopedia tidak jelas.

Potensi Monopoli dan Integrasi Kacau

Pemerintah perlu mengatur agar tidak terjadi monopoli pasar karena pemilik Shopee dan TikTok kurang lebih sama. Integrasi Tokopedia ke TikTok dinilai sangat kacau, baik dari segi chat maupun sistem. Integrasi ini seperti memindahkan platform yang beres ke platform yang tidak beres.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Tokopedia bubar apa? [Musik] Iya. Selamat datang teman-teman di Ngisengse. Kali ini aku bakal bahas tentang Tokopedia yang katanya mau bubar. Karena seperti yang lagi ramai di akhir-akhir ini, ini lagi ada pembahasan tentang Tokopedia yang akhir-akhir ini mulai runtuh karena sejak bergabungnya dengan TikTok. Nah, kali ini aku ditemenin sama K Indra bakal ngobrolin dan ngulitin tentang seluk-beluk kehancuran atau mulai keruntuhannya Tokopedia kali ini. Yang pasti saya bukan orang Tokopedia. Jadi, dari sudut pandangnya saya sebagai orang yang memang banyak mengurusin ee penjualan-penjualan yang ada di marketplace ya. Jadi banyak ngurusin penjualan-penjualan marketplace terutama

0:45 di Tokopedia. Nanti kita akan ngomong apa sih sebenarnya yang terjadi dengan dengan Tokopedia ini dan apa yang kita rasakan sebagai orang yang berjualan di situ. Mungkin kalau dari Said bisa menyampaikan apa yang dirasa Said dari sisi pembeli mungkin ya. Kamu sering beli di Top ya dulu ya. Saya dulu itu pembeli setianya topet. Kenapa saya dulu pembeli setianya topet? Karena bagi saya ketika saya belanja di topet topet itu merupakan marketplace yang paling aman buat saya. Betul ya. Di satu sisi karena kita beli barang itu ada asuransi proteksi ee kalau ada problem kita komplainnya juga enak dua sisi gitu kan. Tapi seiring perubahan ini, saya tidak merasa itu sekarang menjadi hal yang aman buat saya. Baik saya belanja maupun apalagi sebagai penjual. Nah, nah itu sekarang kita mau bahas itu. Kita mulai dari sebelum yang kalian belum tahu ya tentang Tokopedia. Tokopedia ini kan sebenarnya e-commerce rintisan nasional

1:32 ya, rintisan negara Indonesia. Unicorn dari Indonesia. Unicor dekaorn sekarang. Sebenarnya dekaor sekarang jadi kuda lumping. Kuda dek bukan dekakorn. Oh, masih de masih deakon apa jadi kuda lumping. Kuda, kuda lumpingnya nanti masih tetap dekar lah ya. Karena kan soalnya dibeli sama si TikTok kan ya. Nah, awalnya memang ee spiritnya dari Tokopedia ini itu adalah untuk mendemokratisasi UMKM karena Indonesia seperti yang kalian tahu itu ee rata-rata itu usaha atau pendapatannya kebanyakan dari sektor nonformal atau sepert UMKM lah ya. Karena kita kalau bicara sebenarnya bisnis besar itu banyak di Indonesia ya, corporate banyak, perusahaan pemerintah juga banyak. Tapi kalau kalian mau lihat berapa banyak jumlah UMKM-nya, besar mungkin bisa 60 70% bahkan 80% mungkin penyumbang pemasukan terbesar itu berada

2:18 di UMKM. Nah, makanya spirit dari Tokopedia ini sangat cocok buat ee model bisnisnya di Indonesia ini. Maka dari itu dulunya si tapi sekarang mulai tahun 2023 kemarin setelah dibeli TikTok ada sesuatu yang berubah dari Tokopedia. Justru Tokopedianya kesannya itu mulai runtuh karena TikTok-nya kayak lebih diperhatikan daripada Tokopedia. Kayaknya kalau menurut saya sih mungkin mulai dari setengah tahun lah ya, setengah tahun, setengah tahun lebih lah ya. He mungkin kayaknya 1 tahun terakhir ini sudah mulai terasa ada ada yang berubah di situ. Jadi termasuk mungkin promo-promo. Kalau kalian tahu itu juga promo-promo udah banyak banget yang hilang. Promo banyak yang hilang. Dari sisi penjual itu juga ee ada beberapa peraturan-peraturan yang dibikin oleh mereka itu yang istilahnya mulai berubah juga. He apalagi sejak ee diminta

3:04 integrasi seingat saya itu kayaknya mulai dari Januari kemarin. Iya betul. Itu diminta untuk integrasi. Bahkan ada beberapa penjual-penjual sebelumnya kita kayaknya mungkin terima infonya sebelum sebelum Januari sih kayaknya 2024. Iya. He. Mendekati akhir 2024 kita sudah terima notifikasi dari mereka untuk diminta bergabung. Cuma waktu itu memang kita belum bergabung karena saya pikir waktu itu ee ini hanya anjuran ya untuk mempermudah di seller centernya istilahnya bisa memilih mau pakai seller center-nya si TikTok atau Tokopedia atau tetap Tokopedia tapi ternyata kan pada akhirnya eh berader info yang sekarang lagi canter itu bahwa tanggal 9 Juni adalah batas akhir integrasinya seller center ya. Jadi semua penjual yang ada di Tokopedia itu harus bergabung ke sistem seller atau sistem merchan-nya si TikTok. Iya. yang di mana menurut saya itu sebenarnya kalau dibilang apakah rumit pakai itu tidak

3:51 rumit karena saya soalnya sudah terbiasa memakai berbagai macam eh marketplace ya tetapi hal yang saya tidak suka di situ adalah bagaimana caranya sistemnya si TikTok ini bekerja karena dulunya kalau Tokopedia kan kita tahu bahwa untuk retur produk itu ada komunikasi dua arah ya betul jadi enggak serta-merta kamu beli barang terus kamu amnesia kapan belinya kamu bisa seenaknya langsung balikin kan atau misalnya baru beli ee mungkin 5 jam lah ya udah kirim kan belum batal cancel bang cancel kan enggak bisa dulu seperti itu. Itu kan harus ada persetujuan dari penjual dan penjual juga istilahnya juga bisa komunikasi dengan pembelinya ya ada apa kenapa kok mau dibatalkan gitu loh kan sekarang kan gak bisa seperti itu. Dan yang paling saya enggak suka dengan sistem yang sekarang ada di TikTok seller itu chatnya itu chat marketplace yang paling suampah yang pernah saya

4:36 temui. Kenapa tuh kok kenapa bisa sampah? Jadi kalau kalau dulu kita pakai Tokopedia chatnya itu ya misalnya kita ada chat masuk dari dari orang mau beli mau masuk chat ke kita ya semua tim yang bekerja di internal kita kan bisa nambah banyak orang ya kalau kalau kita di seller ya jadi kita bisa nambah misalnya ada mungkin 3 EMP sampai 5 admin masuk gitu ya semua itu bisa ngelihat chat yang ada di sana dan bisa tahu mana chat yang sudah di-replay, mana chat yang sudah dibuka dan mana chat yang e masih harus difollow up kan. Heeh. dengan kita pindah sekarang ke TikTok ini itu chat itu siapa yang sudah menghandle chat itu chat itu cuma nyentol ke orang itu. Jadi yang lain ketika buka enggak bisa ngelihat chat itu semua. Oke. Nah, kalau si orang ini pas kebetulan dia lagi enggak waktunya ngurus chat itu, akhirnya yang lain enggak bisa buka chatnya. Jadi ada chat-chat yang akhirnya dulunya kita bisa semuanya bisa cek mana chat yang sudah di-replay, mana yang belum tuh semuanya bisa dibuka semua orang dan bisa di-replay siapapun kapanpun. Sekarang itu enggak bisa. Dan

5:23 saya enggak tahu ini mau mau sampai kapan seperti ini karena jujur aja ini yang akhirnya membuat orang kadang-kadang diplay itu jadi lambat atau bahkan enggak ke-play itu ya karena itu. Ditambah lagi dengan kegoblokannya AI-nya si TikTok. TikTok. Begitu sudah di-handle sama dia, dianggap chat itu sudah terjawab selesai dan kadang-kadang kita buka atau bahkan kadang-kadang dibuka tim-tim ee yang harusnya menjawab chat itu ya. He. Di aplikasi HP ini itu chatnya tidak ada sama sekali. Tapi kalau dibuka di desktop itu chatnya banyak lah. Aduh. berarti masih jadi ini yang menurut saya sistem yang benar-benar kacau yang dipaksakan masuk ke seller centers yang akhirnya membuat orang yang jualan juga jadi bingung atau bahkan banyak orang yang kadang beli barang nanya barang itu merasa dicuekin atau enggak dijawab itu bukan karena kita enggak jawab tapi karena memang notifikasi chatnya itu tidak ada sama sekali di HP dan waktu

6:10 kita buka di desktop itu baru kelihatan dan itu pun kalau yang sudah di-handle oleh orang lain Heeh. itu chatnya tidak muncul di situ. Sedangkan di TikTok enggak kayak gitu di Tokopedia enggak gitu. Searching chatnya. Kalau dulu kita searching chat kan gampang ya. Misalnya kita searching nama barang, keluarlah chatnya siapa aja yang pernah bertanya tentang produk itu. Atau misalnya kita searching nama orang ini enggak diarching orangnya pun enggak muncul chatnya. Waduh kan gila itu namanya kalau sebuah marketplace seperti itu cara bekerja chatnya. Ya fitur search-nya berarti pasti belum optimal juga berarti. Entah searchnya search-nya kacau. Entah caranya dia untuk history chat kacau atau gimana saya juga enggak tahu. Pokoknya menurut saya tuh ini sistem yang paling kocar-kacir yang ada. Tapi kalau kalau kalau di marketplace lain kan kayak si orange Heeh. itu kan kurang lebih mirip seperti di Tokopedia dulu ya. Jadi kita semua tim bisa ngelihat chatnya dan semua orang bisa

6:55 me-replay kapanpun dan semua orang bisa lihat history chat yang ada. Nah, tapi itu jadi halal-halal aja karena mereka jadi pemegang saham mayoritasnya dari Tokopedia sekarang kan K I karena pemilih I kan suka tidak suka sistem yang ada harus bergabung ke sana. Nah, ini kita bakal bahas dari segi masalah yang di sini nih. Karena oke, jadi kita mungkin mulai dari masalah pertama dulu, masalah pertamanya. Masalah pertama itu adalah ketika TikTok Shop itu tidak memiliki izin di Indonesia dan diblokir oleh pemerintah, terus kenapa beberapa bulan kemudian mereka dibolehkan untuk membeli Tokopedia? Nah, itu yang kita enggak tahu apakah offering itu apakah itu offering itu benar-benar mungkin menarik sekali sehingga akhirnya diizinkan atau mungkin dari pihak Tokopedia juga ngerasa bahwa e offering

7:40 dari si TikTok ini cukupcukup menarik. Iya. Sehingga akhirnya dijual. Yang namanya orang bisnis kan pasti seperti itulah ya. Itu tapi negara itu bisa intervensi enggak sih? Karena awalnya kan mereka sudah melanggar. Kayaknya gak bisa kalau karena soalnya itu masalah bisnis kan itu perusahaan swasta bukan perusahaan negara. Bisa. Oke. Apapun yang dilakukan oleh mereka itu ter tertutup dalam lingkupnya mereka. Kecuali pemegang sahamnya yang tidak setuju. Tapi kan bisa jadi mungkin pemegang sahamnya setuju. Waduh. Dan jangan lupa Tokopedia pun sebelum bergabung dengan TikTok itu sebenarnya kan sudah ada investor lain dalam sana. Iya. Betul. Bisa jadi ada investor lain yang memang ee kapitalnya lebih besar itu merasa bahwa ee lebih baik dia jual mungkin menguntungkan pada saat itu atau mungkin dia sudah bisa menebak masa depannya si Tokopedia bakal berakhir seperti hari ini. I kan. Iya. Ya enggak ada yang tahu kan? Gak ada yang tahu. Jadi mungkin bagi mereka itu selama

8:25 masih bisa menguntungkan akhirnya dilepas dijuallah ke TikTok. Dari situlah masalah dimulai. Di situlah dimulai keruntuhan dan masalah lebih dalam lagi mengenai si Tokopedia ini. Dan untuk gambaran dari 2022 sampai tahun ini itu untuk biaya transaksi dari Tokopedia itu juga terus membengkak. Ya, kalau membengkak hampir semua marketplace pasti membengkak. Tapi yang jadi masalah besarnya penjualannya pun juga turun dari waktu ke waktu. Nah, itu jadi masalah satu juga. Bahkan saya yang dulu itu tidak pernah paling anti belanja di Markplace Orange. Sekarang mau saya jadi pelanggan setianya sekarang. Itu salah satu masalahnya. Karena ee dari 2022 itu aku masih ingat zaman waktu itu per transaksi masih 1.000 kalau enggak salah. Itu mau enggak mau iya persentasenya masih kecil lah waktu

9:10 itu. Seingat saya itu juga persentasenya kayaknya 0 kom sampai 1. Iya free. Setelah itu kalau kamu bergabung di di apa di penjualan itu sempat waktu itu kalau enggak salah itu dari mulai dari 1,5 2% terus gitu ya. Dulu masih power merchan. Sekarang ini terakhir beberapa kategori produk kan ada yang mulai dari 3% ya kayaknya 3% atau 4% sampai 10% sekian. Betul. Iya kan? Terus sekarang ini berubah lagi gongnya itu ya setelah bergabung ini semua di 10 Juni ini I itu sudah berubah lagi ada lagi penambahan lagi. Penambahannya itu bisa sampai di 10% dengar-dengar ya K lebih untuk lebih bisa lebih. Jadi untuk yang ongkir itu gimana? Ko katanya ongkir sendiri dulu katanya bisa dinyalain. Oke. Jadi kalau kita bicara free onkir ada kebijakan yang enggak masuk akal loh. Ok. Betul. Jadi ini free ongkir ini sebenarnya kan ee itu opsi ya sebenarnya bagi orang

9:57 yang jualan ya mau memberikan free ongkir apa enggak dan itu juga opsi buat pembeli mau beli dari toko itu apa enggak kalau enggak ada free ongkirnya benar enggak? Betul. Nah sekarang ini dengan aturan yang baru keluar saya sempat baca sebenarnya saya juga bingung dengan aturan yang keluar ini ya. Jadi ada aturan baru keluar dari si Tokopedia itu yang menyatakan bahwa di Tokopedianya 10 Juni itu akan diberlakukan tarif 6% untuk free ongkirnya. Kita bicara free ongkir dulu lah ya. Karena kalau biaya layanan yang untuk barangnya itu tidak ada perubahan setahu saya tetap sama aja. Tapi yang jadi masalah besar ini di di ongkirnya ini. I jadi yang di ongkir ini itu dikenakan biaya 6% maksimumnya jadi Rp40.000. Sedangkan dulunya itu free ongkir 4% maksimumnya Rp10.000 terus naik jadi Rp20.000 sekarang dari Rp40.000 naik jadi 6%. Ya. Oke ya. Dan yang paling menarik di situ itu opsinya di situ ditulis bahwa penjual itu bisa memilih kalau tidak mau ee free

10:44 onkir-nya bisa dimatikan. Heeh. Berarti bagus dong. Sama seperti kemarin ya. Oke kan. Tapi itu khusus untuk orang yang masih berjualan di platformnya si Tokopedia berarti kan tapi tidak tidak bergabung dalam sistem seller centernya si TikTok. Oke. Tapi kan kenyataannya seller centernya si TikTok ini memaksa bahwa semua penjual itu harus bergabung keikt maksimum tanggal 9 Juni. Heeh. Berarti aturan ini tidak berlaku, kan? Iya. Aturannya seharusnya secara aturan sekali. Tapi di TikTok ini mengeluarkan aturan terpisah lagi bahwa kalau kalian penjual di Tokopedia itu sudah bergabung ke TikTok Seller Center dan sudah diintegrasi tokonya, He. Maka kalian akan kena dua biaya, yaitu biaya layanan sama ada satu lagi biaya dinamis. Jadi intinya biaya dinamis itu biaya ongkos kirim free termasuk voucher-voucher dan

11:29 lain-in kanannya itu dipaksakan ke penjual kalian harus membayar 4% atau maksimum Rp40.000 tipu dan tidak bisa memilih untuk itu. Berarti kan dengan kebijakan kayak gitu mereka seng dengan sengaja untuk bikin orang-orang yang dulunya punya toko di Tokopedia mending mau kalau mau gabung ke TikTok itu bikin akun baru gitu atau gimana? Enggak juga karena itu berlaku untuk semua penjual. Itu kan membebankan juga kalau yang dulunya dari Tokopedia. Nah, makanya itu kan 4% kelihatannya kecil tapi itu tidak kecil untuk jualan produk-produk yang di mana marginalnya mungkin kecil sekali ya. Apalagi TikTok setahu aku ya yang beli banyaknya di bawah R00.000. Nah, yang dan dan lagi pula kan di TikTok itu kebanyakan jualnya kan barang-barang murah. Iya. Nah, kalau barang murah itu berarti sudah kelihatan mata kan 4% kalau kamu itu sudah kelihatan free

12:14 ongkirnya 4% maksimum Rp40.000 belum dengan biaya layanannya dia. Biaya layanan itu sekarang bisa dari 3 atau 4% sampai 10% atau bahkan ada beberapa seingat saya kategorinya di atas 10%. Waduh. Terus nyari marginnya gimana itu? Jadi bayangin ya itu udah sebesar itu biaya costnya itu masih harus ditanggung oleh semua penjual gitu loh. Waduh. Jadi kalian bisa bayangin itu barang mau jadi harga berapa yang dijual di sana dan apakah itu masih bisa menjadi sebuah jalan keluar atau mungkin menjadi opsi ya kita enggak tahu. Yang bisa kita lakukan adalah kita wait and see dan lihat apa yang terjadi berikutnya. Terus juga kalau ngomongin ee Tokopedianya sendiri itu dari beberapa berita yang aku dapetin juga PHK juga terus-terusan terjadi di Tokopedia sendiri. Setahu saya kayaknya bulan Juli ini akan ada lagi PHK sekitar 2.500 orang K. Betul ya

13:00 informasinya ya. Betul. Betul betul. Jadi total untuk tim e-commerce TikTok Shop dan Tokopedia cuma ada 2.500. Aslinya 5.000 kok. Berarti separuh kan 50% separuh diambil. Ada alasannya kenapa bisa seperti itu menurut saya ya. Karena soalnya kalau sudah diintegrasi marketplace-nya sudah jadi satu ya berarti kan enggak perlu banyak banyak orang yang harus itu. Betul. Sudah satu sistem kan. Sudah satu rumah nih gitu. Dan juga masalah selanjutnya itu ada dari segi UMKM. Akhirnya UMKM UMKM ini mau lari ke mana jadinya? AR antara ke Shopee atau ke TikTok Shop atau malah mereka bikin website sendiri? Nah, ini jadi kebimbangan beberapa UMKM-UKM juga kan. Pada intinya kalau kalian sudah pakai namanya marketplace-nya atau platformnya orang ya kalian pasti akan keluar biaya. Tinggal kalian sanggup apa enggak

13:46 membayar biaya itu dan kembali lagi apakah barang yang dijual itu dengan harga misalnya kalian tambahkan biaya-biaya itu masih bisa jalan apa enggak? Ya, kembali lagi kita kan enggak tahu itu nanti tergantung dari opsi setiap penjual masing-masing. Oke. Tapi yang pasti satu hal yang kalian perlu tahu bahwa yang bisa bertahan di situ berarti hanya orang-orang yang punya kapital besar atau mereka memang yang punya budget promosi cukup besar. Besar. Betul. Karena kalau enggak dipromosiin enggak bakal muncul di mana-mana. Betul. Dan itu pun juga saya sudah pernah ee kejadian. Jadi, contoh misalnya ada produk baru saya masukin di di Tokopedia ini baru baru sebulan 2 bulan yang lalu. Produk baru itu diarching orang tertentu enggak muncul. Oh, iya. karena mereka sudah mulai mempersonalisasi iklannya sesuai profile orangnya. Masalahnya barang itu diarching secara global di marketplace-nya tuh tidak muncul di orang tertentu. Kok bisa? Nah, saya

14:32 enggak tahu makanya algoritmanya Tokopedia mau seperti apa kan. Heeh. Soalnya tapi begitu diiklankan barang itu muncul semua di mana-mana. Waduh. Soalnya tadi barusan ada notifikasi dari TikTokku gitu, ada update dan aku baca update-nya personalifikasi ee iklan. Jadi iklannya menyesuaikan personal personalisasi kita. Kalau kita komputer ya mungkin banyaknya komputer. Oke. Kalau iklan seperti itu saya setuju. Itu namanya kan personalized ads ya berarti ya. Tapi yang yang jadi masalah besar itu ketika orang tidak membayar biaya iklannya produk itu diarching tidak muncul. Itu kan berarti orang dipaksa untuk harus keluar uang lagi gitu loh. Sedangkan kita membayar biaya ee layanan juga tidak murah. Ditambah lagi dengan ongkos free ongkir itu juga lumayan tinggi biayanya gitu loh. Iya. Iya. masuk akal. Itu yang akhirnya itu yang menjadi tidak tidak fair dan merugikan

15:18 orang berjualan i dan akhirnya juga ujung-ujungnya ke nasib banyak orang kan nasib pekerja-pekerja di Indonesia. Saya tahu itu karena apa? Karena ada produk kita yang produk baru keluar itu kita searching itu muncul tapi ada orang customer yang komplain waktu dia nyari barang itu dia mau beli itu enggak ada dicari sama dia enggak muncul barangnya. Setelah kita komplainkan ke pihak Tokopedianya Tokopedianya ngabarin bahwa itu barang ada tidak ada masalah sama sekali. Tapi enggak ada tapi disarin juga tetap enggak muncul. Begitu diiklankan loh cekrek muncul. Orangnya bisa beli barangnya. Waduh muncul dia. Kalau searching harus harus keluarin duit yang jualan ini tanya gitu loh. Apa yang dilakukan di situ gitu loh. Iya iya. Terus dengar-dengar TikTok juga akhirnya enggak boleh jualan barang bekas kan katanya. Nah satu hal lagi itu

16:04 juga TikTok itu juga ada aturan main bahwa di TikTok tidak bisa jualan barang bekas. Ini juga jadi masalah buat orang-orang yang mungkin menjual barang personalnya. Nah, dulunya kan kalau kita di Tokopedia kita bisa jual ya barang personal, barang bekasnya kita jual di situ. Sekarang di TikTok enggak bisa. Nah, yang jadi pertanyaan, apakah Tokopedia ini akan terus berjalan? Heeh. Atau dengan rencana seperti ini memang planning Tokopedia ini mau dimatikan. Kalau Tokopedia dimatikan berarti ya berarti penjual barang bekas hilang. Nah, juga satu-satunya cara mungkin pindah ke Shopee kayaknya mungkin ya. Iya, betul. Dan juga kalau aku lihat-lihat akhir-akhir ini tiba-tiba Tokopedia dan TikTok itu juga kebanjiran produk-produk langsung dari China. Nah, kalau itu saya belum tahu pasti apakah memang terjadi seperti itu lagi atau enggak. Tapi satu hal yang pasti yang saya rasakan begitu digabung ke TikTok

16:50 dan barang itu sudah masuk ke TikTok, segmen marketnya wah sudah hancur. Kalau Tokopedia ya seperti awal saya ngomong ya, Tokopedia orang kalau beli barang, beli barang memang kalau butuh beli beli dia ngerti produk dia gunakan itu barang nanti kalau misalnya memang ada problem komplain komplain. Bedalah kalau kalian memang sudah biasa jualan kalian tahu ya bahwa segmen marketnya kalau di Tokopedia itu rata-rata mereka kalau beli produk itu ngerti barang. Nanti kalau komplain ya komplain mengikuti aturan M yang ada. Begitu digabung ke TikTok langsung muncul orang-orang yang beli barang lupa kapan belinya yang brand road road terus baru beli tanyanya sudah dibeli sudah nyampai sana baru tanya barangnya kok enggak gini loh lah yang dibeli apa yang ditanya apa iya itu jadi segmen marketnya langsung terlihat beda dan ini akhirnya membuat orang-orang yang berjualan produk-produk mungkin kayak ee kita yang berhubungan dengan produk teknologi komputer apa

17:36 segala itu juga jadi satu kekhawatiran ya heeh terus dengan apalagi kalau barang yang ini loh yang apa yang barang-barang yang istilahnya barang yang sudah disegle Iya diing hanya karena beli terus habis dibongkar loh kok gak cocok ya beli kokeda ya lagi dan retur semudah itu gitu loh dan returnya si Tokopedia ini gilanya lagi si TikTok ini returnya itu saya sudah ngalamin sendiri di timnya kita barang itu diretur orang minta retur barang itu karena merasa salah beli barang dia yang salah beli barang sudah dibuka sama dia kan retur itu. Heeh. Dia sudah ng-retur barang itu. Kita kan ngomong bahwa barang itu sudah dibuka enggak bisa enggak bisa kembalikan. ini kita sudah kirim barang sesuai dengan pesanannya dia. Iya. Begitu dia memberikan opsi kedua untuk retur, di situ cuma ada pilihan terima. W tidak ada tolak dan tidak ada diskusi. Ini kan gila. Ini

18:21 namanya memaksa orang jualan satu arah, rugi. Merugikan penjualnya, menguntungkan pembelinya. Nah, tinggal kita tunggu aja kalau itu ternyata pada akhirnya dijadikan sarang untuk orang gay melakukan tindak kejahatan lagi atau apapun itu ya kita tinggal lihat bagaimana jadinya. Berarti kalau menurut Koindra ini nanti ke depannya menurut Koindra aja ya. Maksudnya lebih baik apakah setiap e perusahaan yang marginnya besar atau keuntungannya besar itu lebih worth it buka website sendiri untuk berjualan atau mereka mulai kembali ke konvensional lagi punya toko lagi secara fisik dan jualan. Tergantung customer mau seperti apa. Kalau customernya tidak ada masalah dengan biaya tinggi ya online pasti akan terus berjalan kan. Orang kan mencari kemudahan karena orang terbiasa dimudahkan berapapun biaya yang dibayar bagi mereka tidak ada masalah. Tapi

19:06 mungkin bagi orang tertund di mana dia merasa bahwa oh ternyata costnya sudah berbeda jauh ya harganya kalau di offline ternyata jauh lebih tinggi ya. Bisa jadi mereka akhirnya akan kembali lagi ke toko offline. Itu kalau kita dari sisi offline ya. Tapi ada lagi opsi yang berikutnya yang di mana mereka sudah tahu toko-toko tertentu itu yang mereka sudah kenal toko-toko itu. Mereka akhirnya mungkin kalau toko itu sudah punya website ya mereka akan beli lokal dari website-nya mereka dengan harga yang lebih murah dengan prinsip pengiriman yang sama. He tinggal ee dari pihak penjualnya ya ada asuransi lah penjualan kan ya. Iya betul. Itu memang yang harus dilakukan sekarang karena seperti kalian tahu sekarang barang banyak sekali yang hilang juga kan di pengiriman-pengiriman. Bahkan barusan ini kita juga ada kasus customer kita ngirim barang servisan masuk hilang barangnya di kurir. Waduh jangan disebut ya. Saya enggak perlu nyebutlah kalau itu ya. Tapi kasus seperti itu juga sekarang banyak. Jadi ya kembali lagi ee

19:52 di satu sisi kan orang sekarang kenapa beli dari online? Karena merasa semudah itu mengembalikan barang. He semudah itu komplain. Nah, kalau orang-orang saya rasa orang-orang yang mungkin merasa seperti ini ya akan terus berbelanja di online kan. Karena bagi mereka istilahnya merasa di bel salah beli merasa diuntungkan juga ee beli buat nyoba-nyoba. Iya merasa diuntungkan kan. Tapi kalau orang yang benar-benar mungkin serius mau beli barang ya tinggal tergantung. Kalau memang dia merasa bahwa itu juga bahwa buat dia menguntungkan, dia akan tetap beli online. Tapi kalau dia ngerasa bahwa oh saya bisa dapat harga lebih murah kok kalau beli offline dan lagi pula tokonya sekota, iya. Saya enggak usah capek-capek ke situ. Iya kan? mungkin harus nyetir atau apa segala lebih dekat tinggal kirim Gojek atau apapun itu ataupun misalnya instan kiriman instan kan bisa kan iya ya mereka mungkin akan beli dari tokonya direct dengan harga lebih terjangkau. Nah oke dan kalau ngomongin tadi yang dirugikan enggak

20:38 cuma UMKM kok ternyata ada affiliate content creator namanya sebuah pekerjaan yang sekarang muncul karena mengafiliasikan produk-produk di e-commerce. Nah itu juga gini itu kalau yang orang dulu kalau kita dulu ee kita kan dulu juga sering live ya di Tokopedia ya. Kembali lagi kalau kamu live di Tokopedia, pertanyaan itu pertanyaan yang berbobot. Berbobot tanya produk, spesifikasi ini kalau digunakan gini atau apa. Begitu sekarang dipindah masuk ke TikTok, pertanyaannya apa? Enggak tahu semacam-sebat. Ini barang apaan sih? Oh, pantas admin random. Random sekali gitu loh. Makanya admin kita sampai jadi kurus. Bahkan terkesan sudah tinggal tulang tulang bungkus kulit kayaknya sebentar

21:23 lagi karena stres itu ngurusin itu kayak gitu-gitu. Jadi yang dulunya kalau orang ngasih pertanyaan berbobot dan jelas karang begitu kita pindah platform atau masuk ke platform tertentu itu pertanyaannya langsung benar-benar random dan bahkan enggak jelas. Tiba-tiba ada orang komen-komen enggak jelas pada saat lagi live atau apa kayak gitu. Jadi apa ya dan mungkin bahkan mungkin kalau dulu itu di TikTok kan identiknya itu ee marketplace buat cowok ya karena di situ banyak orang-orang termasuk saya juga salah satunya kan juga suka belanja di sana dulu kita beli elektronik, beli barang-barang HN apa segala di sana kan. Iya. Tapi dengan itu digabung masuk ke TikTok sekarang saya enggak tahu apakah market TikTok ini orang yang high end apakah masih masih akan masuk ke TikTok. Kalau saya pribadi saya bukan tidak suka dengan TikTok tapi saya tidak senang di TikTok itu beberapa live-nya itu terkadang juga absurd sih ya Iya. Betul.

22:11 bikin kita akhirnya jadi malas kadang-kadang melihatnya. Iya, karena barrier entry-nya sudah terlalu rendah terutama karena I karena itu segmen marketnya itu jomplang gitu loh. Awalnya sosial media buat cari uang sekarang malah jualan itu kan dua hal yang berbeda juga kan. Iya. Jadi ya itu mungkin live yang yang jualan sesuatu yang lain ya yang lebih lebih intimate. Nah, kita kan enggak tahu itu kan lebih muda di situ kan. Betul. Nah, saya enggak bisa ngomong lebih lanjut lah. Itu bahaya soalnya kalau kita nyerempet-nyerepet curang. Kalau itu berarti kalau menurut K Indra nih ini kan kalau kayak gini kan ini masalahnya udah jauh lebih rumit daripada masalah-masalah mungkin ee beberapa e-commerce yang dulunya sempat ada dan mulai tutup juga kan. Apakah Tokopedia ini juga Tokopedia dan TikTok ini juga bakal masuk ke kuburan yang bareng sama

22:59 dan lain-lain tidak? Kalau TikTok pasti tidak. Karena karena di Cina TikTok itu besar sekali. Dan saya barusan beberapa bulan lalu dari sana saya ketemu dengan orang-orang pabrik di sana. Mereka semua menyarankan, "Kalau kamu mau sukses, kamu harus masuk di TikTok." Heeh. Berarti TikTok itu marketnya besar sekali di sana, kan? He. Tapi yang saya tidak jelasin itu Tokopedia bagaimana nasibnya. Itu yang kita enggak tahu bagaimana ke depannya. Berarti kan dengan digabung ini sampai tanggal 9 ya katanya nanti ya. Karena kan sekarang kan digabung, kamu masih bisa memilih mau jual di TikTok aja atau mau jual di TikTok dengan Tokopedia atau mau jualan di Tokopedia aja kan masih bisa memilih. Tapi kan sistem marketplace-nya sudah jadi satu, seller centernya sudah jadi satu. Ini iya kita enggak tahu kapan tiba-tiba link ini hilang. Nah itu masalahnya. Nah itu masalahnya. Ini kan semudah tinggal kamu ngilangkan aja set opsi untuk delete di Tokopedia udah hilang kamu. Berarti

23:45 tinggal di TikTok opsinya kan. Jadi ya yang bisa mengatur ini hanya tinggal pemerintah. Kalau ini terjadi yang terjadi adalah pasti monopoli market. Kenapa bisa monopoli market? Kalian jangan lupa karena pemiliknya Shopee. Karena pemiliknya Shopee dengan pemiliknya TikTok itu kurang lebih lah. Kurang lebih sama masih. Jadi ya itu kurang lebih ee permasalahan dari Tokopedia yang benar-benar lagi ada di ujung tanduk. Jadi buat teman-teman yang mungkin juga pelaku kayak K Indra ya. orang-orang yang jual berjualan ataupun mungkin pembeli mungkin merasa jadi khawatir karena ee ee saya enggak tahu kalau pembeli mungkin enggak terlalu khawatir lah ya karena kayaknya mungkin sistem retur-nya si TikTok sekarang juga jadi kayak si Shopee kan jadi jadi istilahnya retur ya kayak tadi saya bilang mau retur begitu

24:30 di-reject sama yang jualan kamu apply retur lagi sudah langsung pilihannya tinggal terima tapi aku enggak tahu apakah kayak yang Shopee TikTok itu untuk masalah asuransi aman atau enggak soalnya setahu kita itu Tokopedia paling beres soalnya setahu gini setahu saya Tokopedia Jadi kalau kamu beli barang itu ada asuransinya. Iya. Di TikTok itu asuransi tidak berlaku. Tidak ada asuransinya. Dan bahkan pun sekarang terakhir-terakhirnya saya lagi banyak lihat juga di sosial media itu banyak sekali orang yang mengelukan bahwa sejak ini mulai diintegrasi dengan TikTok banyak sekali orang yang barangnya hilang atau asuransinya diklaim itu itu banyak yang enggak dianggap asuransinya dianggap tidak ada gitu loh. Ini saya juga belum tahu bagaimana kelanjutannya karena so far sampai hari ini sih beberapa produk kita yang hilang-hilang di pengiriman itu asuransinya masih berjalan gitu loh. Tapi sudah banyak sekali orang yang mengeluhkan bahwa asuransi itu seakan-akan kayak ini asuransinya dibayar terus buat apa gitu loh. Karena baik sisi penjual ataupun

25:17 pembelinya ada yang tidak tidak diuntungkan gitu loh. Nah, itu yang yang aku takutin dari teman-teman yang mungkin mungkin sama hobinya kayak kita yang beli alat-alat elektronik, asuransi itu penting sekali gitu. As bayangin ya, saya dulu kalau beli FLIR itu harganya Rp2 juta. Itu beli online. Sekarang saya jadi khawatir sekali kalau mau beli online. Nah, itu itu yang jadi anak-anak yang IT-IT sudah alpress enggak ada. Dulu saya masih beli kamera itu juga dari online. Terus saya beli HP saya itu juga dari online dulu. Sekarang saya jadi khawatir jujur kalau beli online itu karena banyaknya kasus barang-barang hilang yang di mana klaim asuransinya juga enggak bisa diproses gitu loh. Nah, itulah ee mungkin kekhawatiran aku yang mungkin harapannya ke depannya bisa dijawab sama salah satu dari semua iklan ya kita enggak tahu nanti kita enggak lihat nanti bagaimana pemerintah juga regulasinya untuk itu seperti apa. Kita lihat semoga ke depan itu juga ee apa ya

26:02 marketplace ini bisa bisa tertata dan lebih lebih apa ya ee lebih beres lah ya. Di satu sisi juga pembeli memang harus diuntungkan. Heeh. Tapi jangan lupa juga penjual ini juga paling enggak juga di didukunglah kalau sekarang penjual harus merugi terus yang menanggung ruginya lama-lama kan kalau udah rugi tutup ya enggak jualan dia lama-lama. Satu perusahaan platformnya punya negara ee punyanya anak bangsa sudah dirugikan karena itu enggak bisa. Apalagi dengan sekarang kita bisa bilang sekarang hampir semua platform yang jualan sudah enggak ada platform lokal. Iya. Enggak ada. Makanya lah kalau platform lu yang masukus dengan menerapkan peraturan seperti ini di mana penjual ini dianggap hanya sebagai sapi pera battle royal akhirnya ini jadinya ya. kuat-kuatan. Banyak barang palsunya, barang-barang penipuan juga ya kan? Betul. Enggak tahulah gimana ke depan kita lihat juga nanti bagaimana. Jadi itu sekian tentang e tentang Tokopedia

26:49 kali ini yang kita bahas. Jadi mungkin teman-teman bisa tulis di kolom komentar keluhan kalian yang mungkin jadi pelaku atau pembeli. Betul. Orang-orang pembeli, penjual ataupun juga mungkin kalau kalian masih penasaran, kalian juga bisa cari setahu saya itu di Instagramnya si Tokopedia sama TikTok. Saya lupa apa alamatnya. Nanti mungkin bisa dituliskan di deskripsi. Kalian coba lihat nanti. Itu juga banyak sekali orang mengelukan kasus ini di situ sekarang. Oh, gitu. Integrasi ini. Jadi intinya bagi saya integrasi Tokopedia ke TikTok ini merupakan integrasi kacau balau. Kacau balau tanpa baik dari segi chatnya kacau balau, baik dari segi sistemnya juga kacau balau. Sangat tidak amat matang berarti persiapannya untuk integrasinya ya. Jadi gitu bukan tidak amat matang dari sesuatu platform yang memang beres dipindah ke platform yang tidak beres. Sesimpel itu. Beres. Betul. Jadi sekian bahasan kita tentang Tokopedia yang katanya mau bubar. Jadi

27:37 sekian konten kali ini. Jangan lupa like, comment, dan subscribe. Bantu share video ini ke teman kamu yang penasaran tentang Tokopedia Runtuh. Kita ada di semua sosial media di Arxid Media dan untuk website kita ada di arcs.co.id. Dan untuk link Discord linknya ada di deskripsi. Saya Said, saya Indra. Sampai jumpa di video berikutnya. Dadah.

Share

Ringkasan Video YouTube