Ringkasan Singkat
Video ini membahas berbagai bahasa daerah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, menyoroti ciri khas, wilayah penggunaan, dan sejarah perkembangannya. Video ini memberikan gambaran tentang kekayaan linguistik Indonesia dan bagaimana faktor geografis, sejarah, serta budaya memengaruhi perkembangan bahasa-bahasa tersebut.
- Bahasa-bahasa daerah di Indonesia sangat beragam dan memiliki ciri khas unik.
- Faktor geografis, sejarah, dan budaya memengaruhi perkembangan bahasa-bahasa tersebut.
- Beberapa bahasa memiliki aksara sendiri, tingkatan bahasa, atau banyak serapan dari bahasa lain.
- Penyebaran bahasa seringkali terkait dengan perdagangan, migrasi, dan pengaruh kerajaan atau kesultanan.
Bahasa Aceh memiliki beberapa cabang seperti Gayo, Alas, dan Kelut, yang digunakan di Provinsi Aceh. Bahasa ini memiliki ciri khas berupa banyak serapan dari bahasa Arab dan Melayu karena sejarah Islam yang kuat di Aceh. Bahasa Gayo dan Alas cukup berbeda dari bahasa Aceh inti, tetapi masih termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Aceh berkembang di Kesultanan Aceh Darussalam dan menjadi bahasa penting dalam perdagangan pada abad ke-16 hingga 17.
Bahasa Batak memiliki cabang seperti Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak, yang digunakan di Sumatera Utara. Ciri khasnya adalah memiliki aksara sendiri yang disebut surat Batak, struktur kata yang agak kaku, dan banyak bunyi "ng" dan "m". Bahasa ini awalnya digunakan oleh suku terisolasi di pegunungan Sumatera Utara, kemudian berkembang melalui perdagangan dan misi Kristen pada abad ke-19.
Bahasa Minangkabau digunakan di Sumatera Barat, Riau, dan Malaysia (Negeri Sembilan). Ciri khasnya adalah penggunaan bunyi "o" di akhir kata, seperti "ambo" untuk "aku", serta penggunaan pepatah petitih dalam percakapan. Tradisi merantau masyarakat Minangkabau menyebabkan bahasa ini menyebar luas hingga ke Malaysia.
Bahasa Melayu memiliki banyak cabang seperti Melayu Riau, Jambi, Palembang, dan Betawi. Bahasa ini digunakan di Sumatera bagian timur, pesisir Kalimantan, Jakarta, dan Kepulauan Riau. Ciri khasnya adalah banyak variasi, tetapi intinya sederhana dan fleksibel. Bahasa Indonesia modern berasal dari cabang Melayu Riau-Johor. Bahasa Melayu telah menjadi lingua franca di Asia Tenggara sejak abad ke-7 di Sriwijaya.
Bahasa Kerinci digunakan di Kabupaten Kerinci dan Jambi dekat Gunung Kerinci. Ciri khasnya adalah struktur yang berbeda jauh dari Melayu Jambi meskipun lokasinya berdekatan. Bahasa ini juga memiliki vokal dan konsonan yang jarang ditemukan dalam bahasa Melayu. Bahasa Kerinci terisolasi di pegunungan, sehingga berkembang secara mandiri.
Bahasa Lampung digunakan di Provinsi Lampung dan memiliki cabang seperti Lampung Api dan Lampung Nyo. Ciri khasnya adalah banyak akhiran vokal terbuka dan memiliki aksara Lampung. Bahasa ini dulunya menjadi bahasa kerajaan-kerajaan kecil di ujung selatan Sumatera dan pengaruhnya sampai ke Banten Selatan.
Bahasa Rejang digunakan di Bengkulu bagian utara. Ciri khasnya adalah memiliki aksara sendiri bernama Kaganga. Meskipun dekat dengan bahasa Melayu, struktur dan kosakatanya sangat berbeda. Bahasa Rejang diduga merupakan salah satu bahasa Austronesia tertua di Sumatera bagian barat.
Bahasa Sunda digunakan di Jawa Barat, Banten bagian selatan, dan sebagian Jakarta. Ciri khasnya adalah memiliki tingkatan bahasa, yaitu lemas (halus), sedang, dan kasar. Bahasa ini berasal dari kerajaan Sunda dan menyebar melalui migrasi dan perdagangan.
Bahasa Jawa memiliki cabang seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Ngapak, Cirebon, dan Osing. Bahasa ini digunakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Barat. Ciri khasnya adalah memiliki tingkatan bahasa seperti ngoko, krama, dan krama inggil, serta kaya akan metafora dan ungkapan. Bahasa Jawa berkembang di kerajaan-kerajaan besar seperti Mataram, Majapahit, dan Kediri, dan merupakan bahasa dengan jumlah penutur terbesar di Indonesia.
Bahasa Madura digunakan di Pulau Madura dan pesisir utara Jawa Timur. Ciri khasnya adalah bunyi yang tegas, banyak hentakan, dan kosakata khas seperti "engki". Meskipun dekat secara geografis dengan Jawa, struktur bahasanya berbeda jauh, tetapi banyak penutur bilingual Jawa-Madura di Jawa.
Bahasa Bali digunakan di Pulau Bali. Ciri khasnya adalah memiliki sistem tingkatan bahasa seperti Jawa dan Sunda, yaitu bahasa halus, madya, dan kasar. Banyak kosakata serapan dari bahasa Sanskerta dan Kawi. Bahasa ini berakar dari bahasa Jawa Kuno era Majapahit, dan tradisi sastra serta keagamaan Hindu membuat bahasa Bali tetap kuat hingga sekarang.
Bahasa Sasak digunakan di Pulau Lombok dan NTB. Ciri khasnya adalah memiliki lima tingkatan bahasa, mirip dengan Jawa dan Bali, tetapi dengan intonasi unik dan banyak pengaruh Bali dan Melayu. Bahasa Sasak berasal dari suku Sasak dan berkembang melalui interaksi dengan kerajaan-kerajaan Bali dan Makassar di masa lalu.
Bahasa Samawa (Sumbawa) digunakan di Pulau Sumbawa bagian barat dan NTB. Ciri khasnya adalah fonetik yang tegas, kosakata unik, dan masih serumpun dengan bahasa Bima. Bahasa ini berkembang dari kerajaan Samawa dan memiliki kontak dengan pedagang Bugis dan Makassar.
Bahasa Bima (Bojo) digunakan di Pulau Sumbawa bagian timur dan NTB. Ciri khasnya adalah bunyi "em" yang khas di awal kata, seperti "embolo" yang berarti teman, serta banyak pengaruh Makassar dan Melayu.
Bahasa Manggarai digunakan di Flores bagian barat dan NTT. Ciri khasnya adalah intonasi yang naik turun, kosakata khas yang berbeda dari bahasa lain, dan struktur bahasa yang sederhana. Bahasa ini dipengaruhi oleh Portugis pada abad ke-16 melalui misi Katolik, tetapi tetap mempertahankan struktur lokal.
Bahasa Tetun digunakan di Pulau Timor di NTT dan Timor Leste. Ciri khasnya adalah banyak kosakata Portugis, seperti "obrigado" yang berarti terima kasih, dan digunakan sebagai bahasa resmi di Timor Leste.
Bahasa Kupang Malai (Melayu Kupang) digunakan di Kota Kupang dan sekitarnya. Ciri khasnya adalah versi lokal bahasa Melayu dengan campuran kosakata dari Melayu, Portugis, Belanda, dan bahasa Timor. Bahasa ini muncul sebagai bahasa pasar (trade language) di Kupang yang multietnis.
Bahasa Banjar digunakan di Kalimantan Selatan. Ciri khasnya adalah intonasi yang naik di akhir kalimat dan kosakata serapan dari Melayu, Jawa, dan Dayak. Bahasa ini berkembang di Kesultanan Banjar pada abad ke-16 dan menjadi bahasa perdagangan di Kalimantan.
Bahasa Dayak memiliki banyak cabang seperti Ngaju, Iban, Manyan, dan lain-lain, yang digunakan di seluruh pedalaman Kalimantan. Ciri khasnya adalah sangat beragam dengan ratusan variasi. Umumnya memiliki bunyi "ng" dan konsonan rangkap. Bahasa Dayak merupakan payung untuk bahasa suku pedalaman di Kalimantan dan bertahan kuat karena isolasi geografis.
Bahasa Kutai digunakan di Kalimantan Timur, terutama di Tenggarong dan Kutai Kartanegara. Ciri khasnya adalah mirip Melayu dengan logat khas Kalimantan dan kosakata yang unik.
Bahasa Bugis digunakan di Sulawesi Selatan, seperti di Bone, Wajo, dan Soppeng. Ciri khasnya adalah banyak bunyi "ng" dan "k" di akhir kata dan memiliki aksara Lontara. Suku Bugis terkenal sebagai pelaut ulung, sehingga bahasanya menyebar sampai Kalimantan, Sumatera, Malaysia, bahkan Filipina.
Bahasa Makassar digunakan di Sulawesi Selatan, terutama di Makassar, Goa, dan Takalar. Ciri khasnya adalah banyak bunyi "eng" di awal kata seperti "ngapa" dan strukturnya mirip Bugis tetapi kosakatanya berbeda. Bahasa ini digunakan di Kesultanan Gowa-Tallo yang merupakan pusat perdagangan besar pada abad ke-16 dan 17.
Bahasa Toraja digunakan di Tana Toraja dan Toraja Utara di Sulawesi Selatan. Ciri khasnya adalah memiliki bunyi yang tegas dan kosakata unik terkait budaya pemakaman dan ritual adat. Bahasa ini berakar dari bahasa-bahasa pegunungan Sulawesi dan berkembang mandiri karena letaknya yang terisolasi.
Bahasa Mandar digunakan di Sulawesi Barat, terutama di Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Ciri khasnya adalah intonasi khas yang naik di akhir kalimat dan campuran pengaruh Bugis dan Makassar. Masyarakat Mandar terkenal sebagai pelaut dan nelayan, dan bahasanya digunakan di jalur perdagangan laut barat Sulawesi.
Bahasa Minahasa digunakan di Manado, Tomohon, dan Minahasa. Ciri khasnya adalah memiliki beberapa subdialek seperti Tontemboan, Tondano, dan banyak kosakata serapan Belanda. Bahasa ini dipengaruhi kolonialisme Belanda sejak abad ke-17, dan bahasa sehari-hari di kota bercampur dengan Melayu Manado.
Bahasa Bolang Mongondow digunakan di Bolang Mongondow di Sulawesi Utara. Ciri khasnya adalah fonetik yang mirip Gorontalo tetapi memiliki kosakata sendiri.
Bahasa Sangir Talaud digunakan di Kepulauan Sangihe dan Talaud antara Sulawesi dan Filipina. Ciri khasnya adalah bahasanya dekat dengan bahasa Filipina (Visayan) dan logatnya cepat dan energik. Bahasa ini banyak terpengaruh oleh bahasa Filipina dan Melayu Manado.
Bahasa Gorontalo digunakan di Provinsi Gorontalo. Ciri khasnya adalah memiliki bunyi "eng" dan "em" yang kuat dan kosakata khas seperti "moito" yang berarti makan.
Bahasa Tolaki digunakan di Sulawesi Tenggara, yaitu di Kendari dan Konawe. Ciri khasnya adalah memiliki bunyi vokal "o" yang dominan dan banyak kata yang berakhiran "o" atau "e".
Bahasa Muna Buton digunakan di Pulau Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara. Ciri khasnya adalah memiliki dua varian utama, yaitu Muna dan Wolio (Buton). Wolio dulunya menjadi bahasa istana Kesultanan Buton dan banyak dipengaruhi Arab dan Melayu karena Kesultanan Buton merupakan pusat perdagangan dan dakwah Islam di timur Indonesia.
Bahasa Ambon Malai digunakan di Pulau Ambon dan Maluku Tengah. Ciri khasnya adalah dialek Melayu dengan logat khas dan kosakata dari Portugis, Belanda, dan bahasa Maluku lokal. Contohnya adalah "beta" yang berarti saya dan "ale" yang berarti kamu.
Bahasa Ternate digunakan di Pulau Ternate di Maluku Utara. Ciri khasnya adalah tidak serumpun dengan Melayu, tetapi strukturnya unik dan banyak kosakata serapan Arab dan Melayu.
Bahasa Tidore digunakan di Pulau Tidore di Maluku Utara. Ciri khasnya adalah mirip Ternate tetapi memiliki kosakata dan pelafalan sendiri.
Bahasa Kei digunakan di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Ciri khasnya adalah termasuk bahasa Austronesia Timur dan memiliki banyak kata untuk konsep laut dan perikanan.
Bahasa Dani digunakan di Provinsi Papua Pegunungan, terutama di Lembah Baliem. Ciri khasnya adalah banyak kata pendek dan konsonan kuat, dan bahasanya berbeda total dari Austronesia.
Bahasa Mee (Ekagi) digunakan di Papua Tengah, yaitu di Paniai dan Dogiai. Ciri khasnya adalah banyak bunyi vokal panjang dan kosakata khas untuk budaya pegunungan Papua.
Bahasa Biak digunakan di Biak dan Numfor di Papua Barat. Ciri khasnya adalah bahasanya Austronesia tetapi khas Papua dan banyak kata yang berhubungan dengan laut dan navigasi. Suku Biak terkenal sebagai pelaut dan perantau, sehingga bahasanya menyebar ke pesisir Papua dan Maluku.
Bahasa Asmat digunakan di Papua Selatan. Ciri khasnya adalah bahasanya non-Austronesia dan struktur katanya kompleks. Kosakatanya terkait seni ukir dan kehidupan sungai. Bahasa ini digunakan oleh suku Asmat yang terkenal dengan seni ukir kayunya dan jarang ditulis.
Bahasa Sentani digunakan di wilayah Danau Sentani di Papua. Ciri khasnya adalah bunyi vokalnya dominan, strukturnya sederhana, dan memiliki beberapa dialek.
Bahasa Waropen digunakan di pesisir Teluk Cenderawasih di Papua. Ciri khasnya adalah Austronesia Timur dan dekat dengan Biak, serta memiliki banyak istilah kelautan dalam bahasanya.
Transkrip
YouTube Transcript Generator
0:00 Bahasa Aceh. Bahasa Aceh ini ada cabangnya. Ada bahasa Aceh, bahasa Gayo, bahasa Alas, dan bahasa Kelut. Ini wilayah utama yang pakai bahasa ini kebanyakan di Provinsi Aceh. Ciri khas dari bahasa ini tuh banyak serapan Arab dan juga Melayu karena sejarah Islam di Aceh itu kuat banget. Sedangkan Gayo dan Alas ini bedanya cukup jauh dari bahasa Aceh yang inti, tapi masih satu rumpun bahasa Austronesia. Dan bahasa Aceh ini berkembang di Kesultanan Aceh Darussalam yang jadi bahasa penting di perdagangan abad ke-16 hingga 17. Bahasa Batak. Bahasa Batak ini ada cabangnya. Ada Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak. Wilayah utamanya yang pakai bahasa Batak ini kebanyakan di Sumatera Utara. Ciri khasnya itu punya aksara sendiri atau namanya surat Batak. Struktur katanya agak kaku dan banyak
0:45 bunyi ng dan m. Dan bahasa ini dipakai di wilayah pegunungan Sumatera Utara. Awalnya ini bahasa suku terisolasi lalu berkembang lewat perdagangan dan juga misi Kristen di abad ke-19. Bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau ini wilayah utama yang pakai bahasa ini itu di Sumatera Barat dan juga tersebar ke Riau dan juga Malaysia di negeri 9. Ciri khasnya mereka ini banyak memakai bunyi O di akhir kata. Contohnya kayak ambo untuk artinya aku dan pepatah petitih dalam percakapan. Minangkabo ini punya tradisi merantau jadi bikin bahasanya nyebar luas sampai ke Malaysia. Bahasa Melayu. Bahasa Melayu ini punya cabangnya seperti Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Palembang, Betawi, dan lain-lain. Wilayah utama yang pakai bahasa Melayu itu kebanyakan di Sumatera bagian timur, pesisir Kalimantan, terkadang di Jakarta, dan juga Kepulauan
1:31 Riau. Ini ciri khasnya banyak variasi, tapi intinya sederhana dan juga fleksibel. Dan bahasa Indonesia modern berasal dari cabang Melayu Riau Johor. Dan bahasa Melayu ini udah jadi lingua franca Asia Tenggara sejak abad ke-et7uh di Sriwijaya. Bahasa Kerinci. Bahasa ini kebanyakan di wilayah Kabupaten Kerinci dan juga Jambi dekatnya Gunung Kerinci. Ciri khasnya mereka ini unik karena walaupun letaknya di Jambi strukturnya beda jauh dari Melayu Jambi. Mereka ini juga ada vokal dan juga konsonan yang jarang di bahasa Melayu. Bahasa ini terisolasi di pegunungan, jadi bahasanya berkembang sendiri. Bahasa Lampung. Bahasa Lampung ini wilayah utama yang pakai bahasa ini yaitu di Provinsi Lampung. Ada cabangnya bahasa ini. Ada Lampung Api dan juga Lampung. Ciri khasnya, mereka ini banyak akhirannya vokal terbuka dan punya
2:17 aksara Lampung. Bahasa ini dulu jadi bahasa kerajaan-kerajaan kecil di ujung selatan Sumatera dan pengaruhnya sampai ke Banten Selatan. Bahasa Rejang. Bahasa Rejang ini wilayah utamanya yang pakai bahasa ini itu di Bengkulu bagian utara. Ciri khasnya mereka ini punya aksara sendiri yang bernama Kaganga. Walaupun letaknya dekat bahasa Melayu, struktur dan kosakatanya itu beda jauh. Dan ini diduga salah satu bahasa Austronesia tertua di Sumatera bagian barat. Bahasa Sunda. Bahasa Sunda ini wilayah utamanya ada di Jawa Barat, Banten bagian selatan, dan juga Jakarta di sebagian tempat. Ciri khasnya bahasa Sunda ini punya tingkatan bahasa, lemas, sedang, dan juga kasar. Bahasa ini berasal dari kerajaan Sunda lalu nyebar lewat migrasi dan perdagangan. Bahasa Jawa. Bahasa Jawa ini ada
3:03 cabangnya. Ada cabang Jawa Tengah, Jawa Timur, Ngapak, Cirebon, dan juga Osing. Wilayah utamanya itu ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan sebagian di Jawa Barat. Ciri khasnya mereka ini punya tingkatan bahasa kayak ngoko, krama, krama inggil. Mereka ini juga kaya metafora dan juga ungkapan. Dan bahasa Jawa ini berkembang di kerajaan-kerajaan besar seperti Mataram, Majapahit, Kediri dan jumlah yang pakai bahasa ini itu terbesar di Indonesia. Bahasa Madura. Bahasa Madura ini kebanyakan dipakai di wilayah seperti pulau Madura dan juga pesisir utara Jawa Timur. Ciri khasnya itu mereka ini bunyinya kayak teges dan banyak hentakan dan kosakatanya khas seperti engki. Walaupun ini dekat geografisnya dengan Jawa, struktur bahasanya beda jauh tapi banyak penutur bilingual Jawa Madura di
3:49 Jawa. Bahasa Bali. Bahasa Bali ini kebanyakan dipakai di pulau Bali. Ciri khasnya mereka ini punya kayak sistem tingkatan bahasa seperti Jawa dan juga Sunda. Bahasa halus, madya dan juga kasar. Dan banyak kosakata serapan kayak sanskrta dan juga Kawi. Ini awalnya bahasa ini berakar dari bahasa Jawa kuno era Majapahit dan tradisi sastra dan keagamaan Hindu membuat bahasa Bali tetap kuat sampai sekarang. Bahasa Sasak. Bahasa Sasa kebanyakan dipakai di Pulau Lombok dan juga NTB. Ciri khasnya mereka ini punya lima tingkatan bahasa. Jadi hampir mirip Jawa dan juga Bali. Tapi intonasinya unik dan banyak pengaruh Bali dan Melayu dalam bahasa ini. Dan bahasa Sasak ini berasal dari suku Sasak dan berkembang lewat interaksi dengan kerajaan-kerajaan Bali dan juga Makassar di masa lalu. Bahasa
4:34 samawa. Bahasa samawa atau bahasa Sumbawa. Bahasa ini biasanya dipakai di Pulau Sumbawa bagian barat dan juga NTB. Ciri khasnya ini fonetiknya tegas, kosakatanya juga unik dan masih serumpun dengan bahasa Bima. Bahasa ini berkembang dari kerajaan samawa dan punya kontak dengan pedagang Bugis dan juga Makassar. Bahasa Bima, bahasa Bima atau bojo ini biasanya dipakai di Pulau Sumbawa bagian timur dan juga di NTB juga dipakai. Ciri khasnya mereka ini bunyi em yang khas di awal kata. Jadi kayak embolo yang artinya teman dan banyak pengaruh Makassar dan juga Melayu dalam bahasa ini. Bahasa Manggarai yang biasanya pakai bahasa ini itu ada di Flores bagian barat dan juga NTT. Ciri khasnya mereka ini bahasanya intonasinya naik turun dan kosakatanya khas yang beda
5:20 dari bahasa entit lain dan juga struktur bahasanya juga sederhana. Bahasa ini dipengaruhi oleh Portugis pas abad ke-16 lewat misi Katolik, tapi tetap mempertahankan struktur lokal. Bahasa tetun. Bahasa tetun ini biasanya dipakai di wilayah pulau timur di NTT dan juga Timor Leste. Ciri khasnya ini banyak kosakata Portugis kayak contohnya obrigado yang artinya terima kasih dan ini dipakai sebagai bahasa resmi di Timor Leste. Kupang Malai. Kupang Malai atau Melayu Kupang ini bahasa yang di mana dipakai di kota Kupang dan juga sekitarnya. Ciri khasnya mereka ini versi lokalnya bahasa Melayu dan campuran kosakata dari Melayu, Portugis, Belanda, dan bahasa Timur. Ini muncul sebagai bahasa pasar atau treat language di Kupang yang multietnis. Bahasa Banjar. Bahasa Banjar ini
6:07 biasanya dipakai di wilayah Kalimantan Selatan. Ciri khasnya ini intonasinya naik di akhir kalimat dan juga kosakatanya serapan dari Melayu, Jawa dan juga Dayak. Ini berkembang di Kesultanan Banjar di abad ke-16 dan menjadi bahasa perdagangan di Kalimantan. Bahasa Dayak. Bahasa Dayak ini punya cabang. Jadi dari cabang Ngaju, Iban, Manyan, Odanum, Kanayan, Tunjung, Benuak dan lain-lain itu cabang bahasanya Dayak. Dan wilayah utamanya ini seluruh Kalimantan pedalaman pakai bahasa ini. Dan ciri khasnya itu sangat beragam dan juga ratusan variasi dari bahasa ini. Umumnya mereka ini punya bunyi ng dan konsonan rangkap. Jadi, bahasa Dayak ini payung untuk bahasa suku pedalaman di Kalimantan dan ini bertahan kuat karena isolasi geografis. Bahasa Kutai. Bahasa Kutai ini dipakai
6:53 di wilayah utamanya di Kalimantan Timur, terutama di Tenggarong dan juga Kutai Kartanegara. Ciri khasnya ini mirip Melayu dengan logat khas Kalimantan dan juga kosakatanya unik. Bahasa Bugis. Bahasa Bugis ini biasanya dipakai di Sulawesi Selatan. Ada di Bone, Wajo, Sopeng, Sidrap, Pari-pari. Ciri khasnya ini banyak bunyi Ng dan K di akhir kata dan punya aksara lontara. Dan suku Bugis ini terkenal sebagai pelaut ulung dan bikin bahasanya menyebar sampai Kalimantan, Sumatera, Malaysia, bahkan sampai Filipina juga ada. Bahasa Makassar. Bahasa Makassar ini biasanya dipakai di Sulawesi Selatan, terutama di Makassar, Goa, Takalar, Jeneponto. Ciri khasnya mereka ini banyak bunyi eng di awal kata kayak Ngapa, Ngale dan strukturnya mirip Bugis tapi kosakatanya
7:39 beda. Dan ini digunakan Kesultanan Goatalo yang merupakan pusat perdagangan besar di abad ke-16 dan juga 17. Bahasa Toraja. Wilayah utama yang pakai bahasa ini itu di tanah Toraja dan Toraja Utara di Sulawesi Selatan. Ciri khasnya mereka ini punya bunyi yang tegas dan kosakatanya unik terkait budaya pemakaman, dan ritual adab. Dan ini berakar dari bahasa-bahasa pegunungan Sulawesi dan berkembang mandiri karena letaknya yang terisolasi. Bahasa Mandar. Wilayah utama yang pakai bahasa ini di Sulawesi Barat, terutama di Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Ciri khasnya, intonasi khasnya naik di akhir kalimat dari campuran pengaruh Bugis dan juga Makassar. Dan masyarakat Mandar ini terkenal sebagai pelaut dan nelayan dan bahasanya dipakai di jalur perdagangan laut barat Sulawesi.
8:25 Bahasa Minahasa. Bahasa Minahasa ini wilayah utama yang pakai bahasa ini itu di Manado, Tomohon, Minahasa. Dan ciri khasnya mereka ini punya beberapa subdialek dari ton temboan, tono, Tom Bulu, Ton Sea, dan banyak kosakata serapan Belanda. Ini bahasanya dipengaruhi kolonialisme Belanda sejak abad ke-17 dan bahasa sehari-hari di kota itu bercampur dengan Melayu Monado. Bolang Mondo. Bolang Mondo ini bahasa yang dipakai di wilayah utama seperti Bolang Mengondo di Sulawesi Utara. Ciri khasnya fonetiknya itu mirip Gorontalo tapi punya kosakata sendiri. Bahasa Sangirta Laut. Bahasa Sangir Talaut itu biasanya dipakai di Kepulauan Sangihe dan Talaut antara Sulawesi dan juga Filipina. Ini ciri khasnya bahasanya dekat dengan bahasa Filipina yaitu Visayan dan logatnya cepat dan
9:10 juga energik. Bahasa ini banyak terpengaruh oleh bahasa Filipina dan Melayu Manado. Bahasa Gorontalo. Bahasa Gorontalo ini wilayah utamanya yang pakai bahasa ini di Provinsi Gorontalo. Ciri khasnya punya bunyi eng dan em yang kuat banget dan kosakata khasnya seperti moito yang artinya makan. Bahasa tolaki. Bahasa tolaki ini bahasa yang biasanya dipakai di Sulawesi Tenggara yang dikendari dan juga Konawe. Ciri khasnya punya bunyi vokal O yang dominan dan banyak kata yang berakhiran O atau E. Bahasa Muna Buton. Bahasa Muna Buton ini biasanya dipakai di pulau Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara. Ciri khasnya mereka ini punya dua varian utama yaitu Muna dan Wolio Buton. Wolio ini dulu jadi bahasa istana Kesultanan Buton dan bahasa Wolio banyak dipengaruhi Arab dan Melayu karena
9:57 Kesultanan Buton pusat perdagangan dan dakwah Islam di timur Indonesia. Bahasa Ambon Malai. Bahasa Ambon Malai yaitu wilayah yang pakai bahasa ini di Pulau Ambon dan juga Maluku Tengah. Ciri khasnya dialeknya itu Melayu dengan logat khas dan kosakata dari Portugis, Belanda dan bahasa Maluku lokal. Contohnya kayak beta yaitu artinya saya dan ale artinya kamu. Bahasa Ternate. Bahasa Ternate ini dipakai di pulau Ternate dan juga Maluku Utara. Ciri khasnya enggak serumpun dengan Melayu, tapi strukturnya unik dan banyak kosakata serapan Arab dan Melayu. Bahasa Tidore. Bahasa Tidore ini yang pakai bahasa ini di Pulau Tidore di Maluku Utara. Ciri khasnya mirip Ternate tapi punya kosakata dan pelafalan sendiri.
10:42 Bahasa K. Bahasa Ke ini dipakai di Kepulauan Ke Maluku Tenggara. Ciri khasnya termasuk bahasa Austronesia Timur dan punya banyak kata untuk konsep laut dan perikanan. Bahasa dani. Bahasa Dani atau bahasa yang sering dipakai di Provinsi Papua Pegunungan. Wilayah utama yang pakai bahasa ini di Lembah Bali di Provinsi Papua pegunungan. Ciri khasnya banyak kata pendek dan konsonan kuat dan bahasanya berbeda total dari Austronesia. Bahasa mi IKAGI. Bahasa mi ikagi yang pakai bahasa ini kebanyakan di Papua Tengah, di Paniai dan Dogiai. Ciri khasnya banyak bunyi vokal panjang dan kosakatanya khas untuk budaya pegunungan Papua. Bahasa biak, bahasa biak ini wilayah utamanya di Biak dan numfor di Papua Barat. Ciri khasnya ini bahasanya
11:28 Austronesia tapi khas Papua dan banyak kata yang berhubungan dengan laut dan navigasi. Ini karena suku Biak terkenal sebagai pelaut dan perantau. Akhirnya bahasanya menyebar ke pesisir Papua dan Maluku. Bahasa asmat. Bahasa asmat ini wilayah utamanya di Papua Selatan. Ciri khasnya bahasanya ini non Austronesia dan struktur katanya kompleks. Dan kosakatanya ini terkait seni ukir dan kehidupan sungai. Ini biasanya dipakai oleh suku Asmat yang terkenal dengan seni ukir kayunya dan bahasanya jarang ditulis. Bahasa Sentani. Bahasa Sentani ini dipakai di wilayah Danau Sentani di Papua dan ciri khasnya bunyi vokalnya dominan, strukturnya sederhana, dan punya beberapa dialek. Bahasa Warpen. Bahasa Warolpen ini dipakai di pesisir Teluk Cendrawasi di Papua. Ciri khasnya ini Austronesia
12:15 Timur dan dekat dengan Biak dan punya banyak istilah kelautan dalam bahasanya. Kita di sini akan menjadi channel edukasi pertama yang mencapai 10 juta subscriber dan juga ajak teman-teman kalian buat belajar yang gampang dipahami dan juga asik.