Susilo Bambang Yudhoyono Soal Dwifungsi ABRI, Perang Dunia III, Gaza-Israel | Endgame Lyceum Vol. 12

Ringkasan Singkat

Video ini membahas berbagai isu geopolitik global dan peran Indonesia dalam menghadapinya. Beberapa poin utama yang dibahas meliputi:

  • Perlunya meninjau kembali tatanan dunia yang sudah usang.
  • Pentingnya multilateralisme dan kerja sama regional.
  • Keseimbangan antara kepentingan nasional dan nilai-nilai universal dalam diplomasi.
  • Potensi terjadinya Perang Dunia III dan cara menghindarinya.
  • Dampak rivalitas Tiongkok-AS terhadap stabilitas global.
  • Peran pemuda dan perempuan dalam membangun perdamaian.

Intro

Gita Wirjawan membuka sesi dengan menyampaikan tren global pasca-Perang Dunia II, dari bipolar menjadi unipolar, lalu multipolar dengan meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Ia menanyakan pandangan SBY mengenai akar masalah ini dan bagaimana Indonesia harus bersikap.

Era Koreksi Sejarah Geopolitik

SBY menjelaskan bahwa koreksi sejarah selalu terjadi dari masa ke masa. Tatanan dunia yang berlaku selama 80 tahun memiliki kebaikan dan keburukan yang perlu ditinjau kembali. Ia mengkritik hak veto di PBB sebagai biang keladi masalah dan menyerukan reformasi PBB. SBY menekankan pentingnya memikirkan kembali tatanan dunia yang lebih adil dan inklusif, serta peran Indonesia dalam mencari solusi.

Ilusi Perdamaian

Gita menyoroti paradoks multilateralisme yang semakin sulit di era multipolar. Ia membandingkan anggaran pertahanan global yang sangat besar dengan anggaran PBB yang kecil. SBY setuju bahwa multilateralisme menurun dan unilateralisme meningkat. Ia menekankan pentingnya kerja sama multilateral dan regional meskipun ada semangat "setiap negara untuk dirinya sendiri". SBY juga menyoroti pentingnya sumber daya yang memadai bagi organisasi multilateral agar berfungsi dengan baik dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.

Pragmatis, Realis, atau Idealis

Gita bertanya apakah diplomasi saat ini lebih didorong oleh kepentingan daripada nilai. SBY menjelaskan dua aliran dalam hubungan antar bangsa: realis dan idealis. Kaum realis mengutamakan kepentingan negara, sementara kaum idealis juga mempertimbangkan nilai-nilai universal. SBY menekankan pentingnya keseimbangan antara kepentingan nasional dan nilai-nilai, serta kekhawatiran akan hilangnya nilai-nilai dalam semangat "G-zero".

Cikal-bakal Perang Dunia III

Gita menanyakan probabilitas terjadinya perang global. SBY menyebutkan novel yang menggambarkan kemungkinan perang besar di Asia Pasifik dan Perang Dunia III. Ia juga menyebutkan buku Kevin Rudd yang menyatakan Perang Dunia III dapat dicegah. SBY menekankan pentingnya multilateralisme dan forum bersama untuk mencegah tindakan sepihak, serta mengurangi ketegangan dan potensi miskalkulasi.

Nasib Umat Manusia di Tangan 3 Orang Ini

Gita menanyakan peran Indonesia dalam menyikapi keseimbangan dunia yang dipengaruhi oleh Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Donald Trump. SBY menjelaskan bahwa kompetisi untuk menjadi pemimpin dunia sejati sedang terjadi. Ia menganalisis ambisi, riwayat, dan kekuatan masing-masing pemimpin, serta pentingnya pertemuan antara ketiga pemimpin untuk mencegah Perang Dunia III.

Tarif Trump

Gita menanyakan mengenai langkah-langkah Donald Trump yang berkorelasi dengan prinsip resiprositas dan pengenaan tarif yang signifikan. SBY menekankan pentingnya memahami cara berpikir Donald Trump dan pola pikirnya dalam melihat dunia. Ia juga membahas pendekatan yang perlu dilakukan Indonesia dalam menghadapi kebijakan tarif Trump, termasuk negosiasi langsung dan sikap bersama ASEAN.

Dampak Isolasionis Trump

Gita menanyakan dampak kebijakan isolasionis Donald Trump dan cara menyikapinya. SBY menjelaskan bahwa sikap isolasionis Amerika Serikat sudah terjadi beberapa kali dalam sejarah. Ia menekankan bahwa Amerika Serikat juga memiliki kepentingan nasional dalam menjaga stabilitas global dan bahwa mengurangi biaya untuk kebersamaan di dunia dapat melukai sekutu dan kepentingan Amerika Serikat sendiri.

Keterlibatan Militer di Ruang Sosial-Politik

Gita menanyakan apakah sikap Donald Trump dalam mobilisasi marinir untuk mengamankan kerusuhan di Los Angeles adalah bijaksana. SBY menjelaskan bahwa lazimnya gangguan keamanan ditangani oleh polisi, lalu National Guard. Ia menjelaskan perbedaan antara militer yang dilatih untuk perang dan polisi yang menegakkan hukum. SBY juga menjelaskan sejarah dwifungsi ABRI di Indonesia dan reformasi ABRI yang dipimpinnya untuk mengembalikan TNI pada fungsi pertahanan.

Dampak Rivalitas Tiongkok-AS

Gita menanyakan bagaimana Indonesia bisa aman dalam rivalitas Tiongkok-AS. SBY menjelaskan bahwa rivalitas ini tidak akan hilang karena Amerika Serikat merasa terganggu oleh Tiongkok. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersamaan tiga negara (Jepang, Tiongkok, Korea Selatan) dan menghubungi ASEAN. SBY juga menekankan pentingnya kerja sama multilateral dan regional, serta peran ASEAN dalam mendorong Amerika Serikat dan Tiongkok untuk menjadi bagian dari solusi.

BRICS: “Xi Jinping pasti happy”

Gita menanyakan apakah partisipasi Indonesia di BRICS bisa dianggap sebagai durian runtuh untuk Tiongkok. SBY menjelaskan bahwa Xi Jinping pasti senang karena dianggap lebih murah hati dan bisa dipercaya daripada Trump. Ia juga membahas dampak perang tarif terhadap konsumen Amerika Serikat dan pentingnya rezim perdagangan yang adil.

SBY pesimis tentang Perang Ukraina

Gita menanyakan durasi konflik Ukraina dan harapan untuk berakhir dalam waktu dekat. SBY pesimis terhadap segera berakhirnya perang karena jalan pikiran Putin dan kepentingan NATO. Ia menjelaskan bahwa konsep untuk mengakhiri perang sangat tidak jelas dan kompromi sulit dibangun.

Resolusi Gaza jalan buntu?

Gita menanyakan prospek solusi dua negara di Gaza dan korelasinya dengan reformasi di Saudi Arabia. SBY menjelaskan bahwa keduanya lebih berorientasi pada asumsi. Ia menekankan bahwa selama Hamas dan Fattah tidak akur, tidak mungkin ada solusi dua negara. SBY juga menjelaskan bahwa modernisasi Saudi Arabia tidak di tangan siapapun kecuali bangsa Arab sendiri.

Normalisasi diplomasi Indonesia-Israel

Gita menanyakan apakah normalisasi hubungan diplomasi Indonesia-Israel hanya bisa terjadi apabila solusi dua negara sudah tercapai. SBY menjelaskan bahwa selama Palestina belum menjadi negara merdeka dan berdaulat, mustahil bagi Indonesia untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Ia juga menceritakan pengalamannya mengirim utusan khusus untuk bicara dengan Perdana Menteri Israel saat perang Lebanon-Israel.

Kilas balik SBY ke Stanford

Gita menanyakan kesan dan pesan SBY mengenai pidato kunci di Stanford. SBY menjelaskan bahwa idenya adalah membangun kebersamaan dan menyelamatkan dunia dari krisis lingkungan. Ia senang bisa datang ke sana menyampaikan pandangannya dan berharap kerja sama ASEAN urusan keberlanjutan bisa berjalan dengan baik.

Sengketa teritorial Laut Cina Selatan

Gita menanyakan optimisme SBY terkait dengan kerangka code of conduct untuk menyelesaikan permasalahan Laut Cina Selatan. SBY menjelaskan bahwa sengketa teritori antara Tiongkok dengan negara-negara lain menjadi agenda yang sangat penting untuk klaim wilayah. Ia menekankan pentingnya ASEAN tetap bersuara dan mengingatkan code of conduct serta solusi yang damai.

Disparitas pendidikan Asia Tenggara

Gita menanyakan apakah prinsip subsidiaritas di Piagam ASEAN perlu dikaji ulang untuk kepentingan pendidikan. SBY menjelaskan bahwa di New ASEAN Charter memang ada Principle of Non-Interference, tetapi juga ada kewajiban semua negara ASEAN untuk menghormati demokrasi, hak asasi manusia, supremasi hukum. Ia menekankan pentingnya memasukkan pendidikan dalam komunitas sosial budaya ASEAN dan meningkatkan standar kompetensi pendidikan di semua negara ASEAN.

SBY kembali ke sanggar seni

Gita menanyakan pesan-pesan dari lukisan SBY dan kaitannya dengan pesan untuk generasi muda. SBY menjelaskan bahwa ia kembali ke sanggar seni dan bekerja sama dengan ISI Solo, ISI Jogja, ITB, dan IKJ Jakarta untuk projek seni lukis. Lukisan ini didedikasikan untuk kedamaian, masa depan yang lebih baik, dan harapan. SBY juga menjelaskan pesan moral dari lukisannya yang menggambarkan kehancuran di Gaza dan pentingnya menghentikan perang.

Biodiversitas

Seorang penanya menanyakan apa yang bisa dilakukan rakyat biasa agar hak veto dicabut dan sistem ekonomi global bisa direset supaya global currency-nya bisa dipack terhadap biodiversitas. SBY menjelaskan bahwa selama hak veto masih tetap dimiliki oleh lima negara, tidak akan ada solusi. Ia juga menekankan pentingnya keadilan dalam masalah iklim dan kolaborasi antara negara maju dan berkembang.

Partisipasi perempuan dalam perdamaian

Seorang penanya menanyakan bagaimana SBY melihat partisipasi perempuan dalam membangun perdamaian. SBY setuju bahwa kaum perempuan paling menderita dalam konflik kekerasan. Ia menekankan pentingnya melibatkan kaum perempuan dalam menjaga kerukunan dan mencegah terjadinya konflik baru.

Diplomasi sains

Seorang penanya menanyakan bagaimana Indonesia bisa dikenal sebagai negara penghasil ilmu pengetahuan. SBY menjelaskan bahwa mindset kita pernah menjadi bangsa jajahan itu dulunya kuat sekali tapi sebetulnya sekarang sudah berkurang. Ia menekankan pentingnya tukar-menukar mahasiswa dan pelajar antar negara, menghargai ilmuwan, dan menyerahkan urusan sains kepada ahlinya.

Pemuda: Dilibatkan dari sekarang atau di masa depan?

Seorang penanya menanyakan bagaimana memastikan memori institusional itu ada di generasi muda. SBY menjelaskan bahwa tidak ada aturan yang kaku dan segala sesuatu dilihat dari senioritas. Ia menekankan pentingnya melihat konteksnya dan percaya bahwa generasi muda pada saatnya akan lebih baik memimpin negara kita ini.

Komitmen moral atau ilusi kepedulian?

Seorang penanya menanyakan apakah ekspresi emosi melalui sosial media merupakan bentuk tanggung jawab moral yang cukup. SBY menjelaskan bahwa ada penyakit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu politik identitas, politik uang, dan politik pascakebenaran. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan dan tanggung jawab orang tua dalam membentengi pikiran manusia untuk melihat sesuatu dengan benar.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

1:43 GITA WIRJAWAN: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, selamat sore, Bapak, Ibu, teman-teman sekalian. Terima kasih atas kehadirannya di acara Brown Bag Session bersama Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Pak SBY, terima kasih atas kesediaan Bapak dan kehadiran Bapak mungkin di awal sesi ini saya ingin bertanya tapi sebelum bertanya saya ingin menyampaikan tren global yang dirasakan oleh masyarakat luas di seluruh dunia. Kalau kita kilas balik semenjak Perang Dunia II, itu terjadi tatanan dunia yang sifatnya bisa dibilang bipolar

2:32 yang dikuasai oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat, namun menjelang akhir tahun 80-an atau awal tahun 90-an, tatanan dunia tersebut berubah menjadi unipolar, dan maju ke awal tahun 2000-an, tatanan dunia tersebut berubah menjadi sangat multipolar. Akhir-akhir ini, sikap dari kekuatan-kekuatan besar termasuk atau terutama Amerika Serikat ini semakin mengintensifikasi keruncingan atau perceraian antara dua kekuatan besar,

3:18 yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat, sehingga multipolaritas yang kita rasakan ini semakin kental dengan kegalauan atau kekacauan yang seringkali disebut kekacauan geopolitik global. Saya ingin bertanya ke Bapak, pandangan Bapak ini gimana. Apa yang menjadi muara atas apa yang kita rasakan akhir-akhir ini dan menurut Bapak apa yang kita harus sikapi agar ini bisa terobati ke depan? - Bung Gita, kalau kita kembali ke perjalanan sejarah sebenarnya dari masa ke masa selalu ada koreksi sejarah, katakanlah begitu.

4:11 Kalau Anda membaca buku Paul Kennedy, The Rise and Fall of the Great Powers, itu juga menggambarkan cerita yang sama. Eropa sendiri sebagai pusat peradaban awal dulu, itu dominasi juga silih berganti. Ada kalanya Inggris menjadi tumpuan relasi kuasa di Eropa, Prancis pernah pada saat Napoleon, Jerman pernah pada perang dunia II, dan seterusnya. Dan ternyata hal begini masih terjadi bahkan setelah Perang Dunia II, yang kita sebetulnya menikmati 80 tahun tatanan dunia

5:03 yang dihasilkan oleh Bretton Woods Institute ataupun prakarsa-prakarsa ketika Perang Dunia II berakhir. Ada periode masa perang dingin, kemudian perang dingin berakhir. Ada tanda-tanda musim semi bagi dunia, tapi kemudian bergeser lagi. ada peristiwa Krimea tahun 2014 dan bahkan sekarang menurut saya cukup tanpa preseden dari sejumlah isu kekacauan global, sesuatu yang tak terpikirkan terjadi memang sekarang ini

5:49 tanpa saya berpanjang lebar pun kita, teman-teman, sahabat saya juga mengikuti. Pemikiran saya seperti ini, kebanyakan kalau saya ikuti talk show di berbagai media internasional, yang disalahkan siapa yang merusak tatanan dunia ini termasuk perangkat yang ada, PBB, WTO, WHO, dan seterusnya. Dan solusinya, patuhi kembali aturan ini, konvensi ini, tatanan ini, begitu. Saya ingin melihat dari sisi yang berbeda,

6:35 tidak harus disebut thinking outside the box tetapi dari perspektif yang saya bangun, penglihatan saya, jangan-jangan sejarah ini, atau Tuhan Yang Maha Kuasa meminta manusia berpikir kembali, bangsa-bangsa, para pemimpin dunia dari kalangan manapun. Jangan-jangan tatanan yang berlaku selama 80 tahun, ada kebaikan, jelas, tapi ada kekurangan, keburukan, jelas, ini perlu ditinjau kembali. Urusan meninjau tatanan dunia ini kan berkali-kali. Tatanan dunia baru, tatanan dunia baru, dan seterusnya.

7:22 Kemarin kita sama-sama di Stanford, di California, ada politisi senior Amerika Serikat mengatakan, penataan ulang dunia. Kurang lebih sama, saya pada posisi saatnya dunia berpikir kembali. dengan tulus, jernih, gunakan akal sehat, apakah memang kita harus mempertahankan mati-matian aturan yang berlaku selama ini, tatanan yang ada selama ini? Atau barangkali dituntun oleh sejarah akan lahir tatanan baru yang lebih cocok. Kritik saya, termasuk waktu masih menjadi presiden

8:11 kita sama-sama di pemerintahan, biang keladi dari semua masalah ini, peperangan, geopolitik yang begini karena adanya hak veto. Kalau sudah menyangkut negara yang melakukan apa saja dan dia punya kekuatan veto, tidak bisa dihentikan, tidak bisa dikasih penalti, karena akan diveto di tingkat Dewan Keamanan PBB. Tetapi ikhtiar untuk reformasi PBB, untuk menata kembali penggunaan hak veto selalu kandas. Demikian juga yang lain, apakah betul-betul sudah adil

8:57 hubungan antarbangsa ini, apakah kepentingan global yang paling penting seperti memerangi krisis iklim, memberantas kemiskinan global, yang menjadi teriakan semua bangsa, mayoritas bangsa di dunia, ada enggak dalam pikiran mereka atau sebaliknya, mereka tidak peduli, yang penting mereka terus berlomba untuk kompetisi sebuah kekuasaan berlomba-lomba menjadi pemimpin global yang baru, dan sebagainya. Paling tidak, intinya adalah, jangan-jangan memang ada tatanan yang sudah usang,

9:44 yang perlu diperbaharui, tapi dengan cara yang baik. Kekhawatiran saya adalah, "Oke, kita bikin lagi tatanan dunia yang baru, kita bikin aturan, tapi siapa yang menulis aturannya dalam hal ini?" Jangan sampai kembali yang menetapkan tatanan dunia baru kita nanti ya negara-negara yang selama ini kita kritik sebagai memonopoli kekuasaan pada tingkat dunia. Kesimpulannya, kalau saya melihat, kalau memang masih bisa kita perbaiki kerusakan penyimpangan tatanan yang berlaku selama ini dan semua sepakat ini masih bagus masih valid, baik.

10:31 Tetapi kalau ada unek-unek yang dirasakan puluhan tahun barangkali, "Ini nggak adil dunia." "Yang kuat yang benar." Hukum rimba. "Yang kuat menang, yang lemah kalah." Berarti ini kan tidak mungkin kita mempertahankan iklim kebersamaan antar bangsa seperti ini Mungkin muncul pikiran-pikiran baru yang lebih adil dan siapa tahu, meskipun kita tidak tahu akhir dari semuanya ini. Yang terakhir, perang tarif, tapi geopolitik juga sudah panas, peperangan masih belum berakhir di Ukraina, di Gaza, di Afrika.

11:20 Kemudian kembali muncul ketegangan baru, India-Pakistan, Cina Selatan, Tiongkok dengan Taiwan dan sebagainya. Saya melihat ini sesuatu yang kita belum tahu persis apa yang akan terjadi 5 tahun dari sekarang 10 tahun dari sekarang. Jadi, saya melihatnya di situ. Mari kita lihat apa yang akan terjadi dan apa yang bisa disumbangkan oleh kita semua. Indonesia tidak boleh tertinggal kereta. Kita harus jadi bagian dari solusi, tapi juga ikut memikirkan masa depan dunia yang sama-sama kita cintai. - Saya ingin menjemput poin Bapak mengenai kepentingan kita untuk melakukan multilateralisasi, untuk menyelesaikan banyak masalah.

12:09 Observasi saya dan teman-teman adalah multilateralisme itu sangat indah di masa yang mana tatanan dunia itu sifatnya lebih unipolar. Di mana begitu itu bergeser menjadi multipolar, semakin sulit dunia melakukan multilateralisasi. Ini agak-agak paradoksal dalam batas intuisi. Saya ingin suntik ini dengan data, kalau kita lihat anggaran pertahanan di seluruh dunia setiap tahun itu kurang lebih 2,7 triliun dolar. sedangkan institusi multilateral yang sangat dimuliakan anggaplah PBB,

12:59 itu hanya diberikan anggaran kurang lebih 6 sampai 7 miliar dolar. Harapan apa untuk kita semua untuk bisa menyaksikan keindahan multilateralisme kalau institusi multilateral yang diberikan mandat untuk mendamaikan dunia menyelesaikan masalah- masalah, itu tidak diberkahi dengan anggaran yang memadai, melihat anggaran yang diberikan atau anggaran pertahanan di seluruh dunia itu jauh lebih besar. Gimana, Bapak, harapan untuk multilateralisasi ke depan? - Ini juga isu yang menarik dan 2 bulan yang lalu saya diundang oleh

13:49 pihak di Tokyo, Jepang. Ada konferensi besar internasional, saya diminta untuk menjadi pembicara utama di situ. Topik utamanya memang urusan multilateralisme dan hampir semua sepakat multilateralisme itu menurun, tetapi unilateralisme itu meningkat. Makin banyak orang yang memiliki nasionalisme yang ultra barangkali, bukan sekadar Amerika First tapi juga hampir setiap negara, katanya, yang disebut dengan G-zero. Setiap negara adalah untuk dirinya sendiri.

14:36 Artinya kolaborasi kebersamaan rancangan di antara bangsa-bangsa untuk menghadapi begitu banyak agenda global ini seakan-akan dianggap tidak perlu dan berbahaya. Kalau memang seperti ini, siapa yang menjamin tidak akan ada apa-apa nanti di Asia Timur dan Asia Tenggara? Kalau negara kuat negara besar demi kepentingannya sendiri, bisa melakukan sesuatu secara sepihak. Demikian juga di kawasan yang lain, Timur Tengah, Eropa, misalnya. Jadi, nomor satu, sebelum masuk ke isu sumber daya

15:21 yang diperlukan bagi organisasi multilateral agar bisa berfungsi dengan baik, mari kita sepakat dulu, apakah benar, apakah kita menyambut setiap negara boleh melakukan tindakan secara sepihak? Lagi-lagi kritik saya, negara pemegang hak veto atau oke semua tahu bahwa setiap negara ingin meletakkan kepentingan nasional di atas segalanya. Kita tahu. Kalau saya dulu sebagai presiden, dalam pikiran saya ya "Indonesia first" tanpa meninggalkan kewajiban internasional kita. itu pikiran. Saya pribadi berpendapat multilateralisme,

16:10 kerja sama multilateral, kerja sama regional tetap diperlukan meskipun ada semangat baru, "setiap negara untuk dirinya," tadi. Yang disampaikan Bung Gita itu juga benar, bagaimana mungkin multilateralisme itu punya wibawa, punya kekuatan, dapat melakukan banyak hal, kalau sumber dayanya tidak ada. Saya waktu menjadi prajurit berpangkat Brigadir Jenderal, pernah bertugas di Bosnia, menjadi kepala pengamat militer PBB di Bosnia. Menjalankan misi menjaga perdamaian. Itu ada harganya, ada biayanya.

16:58 Bagaimana kalau makin susut kemampuan PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional itu dijamin, ya tidak mungkin itu dilaksanakan. Jadi menurut saya, ayolah duduk bersama, terutama negara-negara besar. Kalau tidak, ya wassalam, artinya semua piranti tatanan dunia yang kita bangun setelah Perang Dunia II berakhir tidak akan berfungsi. Kalau tidak ada fungsinya lagi dan digantikan oleh tindakan yang unilateral tadi,

17:43 saya sungguh cemas bahwa perdamaian dan keamanan internasional yang itu menjadi ruh The United Nation Charter yang digarap di San Fransisco pada medio 1945 dulu. Itu saya setuju, lihat kembali dua isu relevansi multilateralisme yang menurut saya masih sangat penting, yang kedua, bagaimana membikin multilateralisme berjalan dengan baik, berfungsi dengan baik. - Bapak, itu diplomasi untuk durasi yang cukup lama, disetir oleh nilai hidup atau berbasis nilai.

18:29 Akhir-akhir ini kita melihat diplomasi atau hubungan internasional itu disetir oleh kepentingan, dan ini bisa dikorelasikan dengan kecenderungan di banyak negara-negara atau kekuatan-kekuatan besar yang lebih memprioritaskan dirinya sendiri atau nasionalisme, yang diproyeksikan keluar. Apakah ini kecenderungan yang akan berkesinambungan atau akan terobati agar kita lebih bisa balik ke unsur-unsur nilai atau diplomasi berbasis nilai? Gimana, Bapak? - Saya juga kerap berpikir meskipun sekarang ini saya lebih menghabiskan waktu saya sebagai pelukis, sekali-sekali masuk dunia musik, dunia sastra,

19:18 tetapi tetap di malam hari ketika saya melihat perkembangan dunia melalui media massa dunia, saya juga kepikiran. Tidak mungkin saya sekarang, salah satu warga dunia, tidak peduli dengan apa yang sedang berlangsung sekarang ini. Nah, kita tahu semua ada dua aliran mudahnya dalam melihat hubungan antar bangsa. Yang pertama kaum realis, yang kedua kaum idealis. Realis itu yang penting negaranya dapat yang paling banyak, kemudian kalau tidak bisa diselesaikan secara damai,

20:05 kalau dia punya kekuatan militer, itu yang digunakan, dan omong kosonglah dunia akan damai apabila kita bekerja sama dengan baik, karena menurut mereka, kepentingan di atas segalanya. Lebih pragmatis memang, lebih transaksional sekali-sekali. dan itulah ciri-ciri melihat hubungan antar bangsa dari sisi realisme, dari sisi yang realis-pragmatis. Tapi sebaliknya kaum idealis mengatakan, "Oke, semua setuju bahwa kepentingan nasional harus diletakkan di atas kepentingan yang lain, terutama yang disebut kepentingan survival,

20:50 dan kepentingan vital bangsa-bangsa. Tetapi tidakkah kita punya norma, punya nilai, apa iya kita bersahabat mesra dengan sebuah negara yang negara itu rakyatnya tertindas, tidak mendapatkan keadilan, hidupnya susah, dan akhirnya seperti berbeda dengan bangsa-bangsa yang lain. Tidakkah kita juga melihat nilai-nilai. Dengan semangat, kita tetap menjalin persahabatan dan kemitraan dengan negara yang lain, tetapi sama-sama membangun kesepakatan, konsensus baru,

21:35 bahwa ketika kita bicara tentang hubungan bilateral, misalnya, itu bukan hanya turunan dari kepentingan nasional. Keduanya. Tapi kita juga mesti memiliki idealisme nilai-nilai yang kira-kira tidak bertentangan. Nah, itu. Saya melihat memang pragmatisme baru. Saya pernah memimpin Indonesia 10 tahun, sebelumnya sebagai menteri 5 tahun, di militer 30 tahun. Saya belajar banyak dalam transformasi hidup saya, bagaimanapun memang dua aspek itu tidak boleh kita tinggalkan,

22:27 tinggal di mana kita meletakkan keseimbangan. Di satu sisi, kita punya yang disebut kepentingan nasional, di sisi lain ada nilai-nilai yang tidak boleh kita buang. Sepertinya sekarang dengan semangat G-zero tadi, saya khawatir kalau entah dengan sengaja atau mungkin tidak disadari, kita tidak lagi menganggap pentingnya nilai-nilai. Sebagai contoh, saya cinta demokrasi. Demokrasi bukan sistem yang sempurna, di sana sini banyak kelemahan dan kekurangannya,

23:13 tetapi dibandingkan sistem yang lain, menurut pendapat saya demokrasi dalam arti kekuatan rakyat yang menggerakkan kehidupan bernegara, itu lebih bagus. Tentu ada varian demokrasi, tidak harus sama satu model untuk semua, tidak. Nah, ini menurut saya salah satu norma atau nilai-nilai yang tidak bisa begitu ditinggalkan. Itu saya, mungkin pemimpin yang lain punya pemikiran- Saya juga realis. Tidak mungkin kalau saya terlalu idealis memimpin Indonesia,

24:00 ekonomi bisa tumbuh 6% Alhamdulillah demokrasi kita terjaga, hubungan internasional kita kuat, dan seterusnya. Dan tantangan pemimpin yang akan datang akan makin besar, terkait dengan yang tadi tapi harapan saya adalah pemimpin-pemimpin Indonesia, sekarang Presiden Prabowo, pemimpin -pemimpin mendatang, kalau harapan saya secara pribadi, kepentingan nasional di atas segalanya tanpa meninggalkan kewajiban internasional kita. Pragmatisme, realisme intra sangat penting tanpa membuang jauh-jauh yang namanya idealisme.

25:43 - Dalam kalkulasi Bapak, prospek atau probabilitas terjadinya pertikaian, konflik, atau peperangan yang skalanya global, itu seberapa besar? Anggaplah perang dunia III. Dan kalau itu terkalkulasi, apa yang harus kita sikapi ke depan? - Ini menarik. Saya tuh suka membaca, termasuk membaca novel, apalagi novel itu yang tidak meninggalkan akal sehat dan sesuatu yang ilmiah, bukan fiksi murni.

26:30 Di antara buku novel yang saya baca, kebetulan ditulis oleh seorang admiral, Laksamana bintang 4 yang mengerti tentang pertahanan, yang mengerti bagaimana sebuah peperangan bisa terjadi. Dialognya bagus, realistik. Satu, menggambarkan bahwa sangat mungkin akan terjadi perang besar di Asia. Asia Pasifik pemicunya bisa Asia Timur, ada Korea Utara-Korea Selatan, hubungannya dengan Jepang. Tiongkok sendiri. Ada Asia Tenggara. Pertikaian teritori di antara Tiongkok dengan beberapa negara,

27:20 sebagian besar negara ASEAN. Jadi, digambarkan sangat mungkin terjadi. Itu disebut-sebut tahun 2030, mudah-mudahan tidak terjadi. satu lagi, jiwanya sama tapi diangkat ke tingkat global. Bahwa World War III sangat mungkin terjadi, dengan skenario, dengan penggambaran, dengan analisis yang masuk akal. Tapi yang saya suka dari dua buku yang saya baca itu, ada ruang, ada jalan untuk menghindari, untuk mencegah hal itu terjadi.

28:10 Dan saya punya sahabat namanya Kevin Rudd, saya kira Pak Gita juga bersahabat, itu menulis buku yang intinya kurang lebih Perang Dunia III dapat dicegah. Saya suka topik itu, karena saya juga seorang yang optimis sebetulnya, meskipun optimisme yang saya anut- artinya sangat mungkin dicegah, itulah gunanya multilateralisme. itulah gunanya forum-forum yang dibangun secara bersama mencegah tindakan sepihak. Kalau tidak, saya melihat tayangan di televisi di sekitar Asia Timur, Asia Tenggara,

28:56 armada perang saling berhadap-hadapan, pesawat tempur juga bisa setiap saat terjadi kontak tembak. Saya khawatir. 30 tahun saya sebagai prajurit. Saya jenderal. yang paling dicemaskan kalau sudah ada permusuhan yang tinggi, disertai gelar kekuatan, entah di darat, di laut, maupun di udara, yang disebut dengan miskalkulasi. Miskalkulasi itu, pengambil keputusan, bisa presiden, negara sistem presidensial, bisa perdana menteri kalau sistem parlementer, salah hitung ngambil keputusan, "Ya, kita perang."

29:44 Nomor satu. Yang kedua, kalau tidak ada miskalkulasi pada tingkat atas, namanya kapal perang berhadapan dengan kapal perang, pesawat tempur berhadapan dengan pesawat tempur, artileri di darat, sebelah sana ada artileri lawan. Kalau ada insiden tak terduga, tiba-tiba menembak tanpa perintah dari atasan, itu juga akan menyulut, hampir pasti, perang yang lebih besar, perang terbuka. Terjadinya perang dunia kesatu dulu kalau kita ingat , terjadi di Sarajevo, pangeran Ferdinand terbunuh di situ. Akhirnya terjadilah Perang Dunia I yang luar biasa

30:30 banyaknya korban yang terjadi. Jadi, melihat apa yang terjadi sekarang ini, saya masih tetap cemas, dan kecemasan ini sebetulnya harus dikurangi oleh yang sedang mengemban amanah, para pemimpin dunia, saya hanya seorang mantan, meskipun secara moral saya masih tetap peduli. Kurangilah, supaya tidak terjadi yang digambarkan perang di Asia, maupun perang pada tingkat dunia tadi. Kira-kira itu semangatnya dan saya membeli argumentasi Kevin Rudd, bahwa perang ini bisa dicegah dan dihindari.

31:16 - Pak SBY, keseimbangan atau tidak adanya keseimbangan dunia, bisa dibilang dipengaruhi oleh tiga pemimpin besar, Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Donald Trump. Tentunya kita di Indonesia sebagai demokrasi terbesar nomor 3, populasi terbesar nomor 4, dan kalau dibungkus lebih besar lagi dalam konteks Asia Tenggara dengan 700 juta manusia, populasi tetap terbesar nomor 4. Bagaimana menyikapi, Apa peran yang bisa dimainkan oleh Indonesia? Mungkin secara umum apa peran yang bisa dimainkan oleh negara-negara berkembang yang semakin besar tapi di luar kumpulan tiga negara tersebut, yaitu Tiongkok Rusia, dan Amerika Serikat?

32:06 - Ini poin yang bagus. Pertanyaan Bung Gita yang bukan hanya baik tapi relevan dan mudah-mudahan banyak orang juga punya pikiran yang sama dengan Bung Gita. Kebetulan waktu saya berkunjung ke Tokyo untuk sejumlah acara yang penting di sana, saya didatangi oleh beberapa media mainstream. Yang saya ingat Asahi Shimbun, kemudian Nikkei. Pertanyaan mereka, rupanya mereka mengetahui saya mengeluarkan pernyataan di acara kuliah di Universitas Paramadina. Saya mengatakan, "Ada tiga orang kuat di dunia yang

32:57 mesti kita lihat sepak terjangnya ke depan ini. Donald Trump, Xi Jinping, dan Vladimir Putin." Rupanya mereka penasaran, "Pak Presiden, maksud Anda apa?" "Mengapa kok Anda menganggap tiga orang kuat itu akan berpengaruh besar di dunia kita sekarang dan ke depan?" Alasan saya sangat sederhana. dari relasi kuasa, dari geopolitik yang sekarang itu sudah betul-betul menjadi geopolitik persaingan dan konfrontasi,

33:45 bukan lagi geopolitik kerjasama. Dan yang kedua saya lihat karakter dari masing-masing, cara berpikir dari masing-masing. Saya mengatakan benturan kepentingan yang akan datang ini tidak lepas dari keinginan tiga orang kuat itu. 10 tahun saya bersahabat dengan Putin. 3 tahun saya juga bersahabat dan bersama -sama dengan Xi Jinping. Saya tidak punya riwayat untuk bersama- sama Presiden Donald Trump, karena kantor saya dulu George W Bush dari Republikan, dengan Barrack Obama dari Demokrat. Nah, yang ingin saya sampaikan adalah

34:32 sepertinya kompetisi untuk menjadi pemimpin dunia sejati itu sedang terjadi. Tiga-tiganya punya ambisi. Ambisi yang positif, tidak selalu ambisi itu negatif. Tidak ada yang melarang apakah Trump, Putin, dan Xi Jinping ingin menjadi pemimpin dunia. Yang kedua juga riwayatnya. Mungkin Trump merasa selama ini, apalagi setelah Perang Dunia II, ada tiga orang kuat dulu, kan. Roosevelt dan digantikan Truman, Stalin dari Rusia, dan Churchill. Selama 80 tahun boleh dikatakan Amerika menjadi adi kuasa.

35:20 Psikologi itu masih kuat bahwa "Kami adalah negara terbesar di dunia." "Amerika adalah pemimpin sejati dunia." Sehingga ketika Tiongkok bangkit, ingat cerita Thucydides, klasik, sekian abad sebelum masehi, negara besar, negara kuat, ketika ada yang mulai menyaingi, tidak senang. Dan solusinya kebanyakan perang. Hingga tingkat tertentu, mungkin perasaan bangsa Amerika, "Waduh, ini Tiongkok kok jadi menyaingi, mungkin malah melampaui."

36:05 Trump tentu ingin menunjukkan bukan hanya "Make Amerika great again," tapi menjadi Amerika memang di atas segalanya. Xie Jinping barangkali sekian puluh tahun merasa masih terus mengembangkan diri, meskipun negara kuat, rakyatnya dianggap masih bagian dari negara berkembang, ternyata dekade-dekade terakhir setelah Mao Zedong, Deng Xiaoping, Jiang Zemin, Hu Jintao, sampai sekarang Xi Jinping, memang kenaikan Tiongkok itu luar biasa. Sudah menghitung bahwa, "Saya juga bisa menjadi pemimpin global." Putin saya tahu dia juga punya obsesi yang luar biasa.

36:52 Saya mengetahui Putin sangat kecewa ketika perang dingin dianggap kalah, Uni Soviet bubar, pakta Warsawa bubar, dia merasa Rusia sangat dipermalukan. Dan menganggap tidak adil. Jadi kalau seorang Putin ingin mengembalikan supremasi Rusia sebagai juga super power, itu punya akar, punya punya logikanya. Itu dari segi kepribadian ketiga tokoh itu. Yang kedua, kenapa mereka bisa banyak berbuat? Kita lihat dia punya kekuatan. Pertama, yang sering saya sampaikan tadi. Tiga negara itu, di samping Prancis dan Inggris, memiliki hak veto.

37:43 PBB itu yang menentukan bukan sekjen PBB. Ada istilah sekretaris jenderal, dulu Ban Ki-moon, sahabat dekat saya. Kofi Annan juga sahabat dekat saya. Sekarang Antonio Guterres, itu lebih sebagai sekretaris. Jenderalnya? Para Dewan Keamanan PBB yang itu ada lima negara pemegang hak veto, 10 bukan pemegang hak veto. Dia bisa berbuat apa saja. Mustahil urusan Ukraina selesai kalau semua usulan oleh Putin diveto. Nggak jalan. Oke, Timur Tengah, memang Israel dan Iran tidak punya hak veto, tapi ingat, Israel sangat dekat sama Amerika Serikat.

38:29 kalau ada resolusi, rancangan apapun yang bertentangan dengan kepentingan Amerika ataupun Israel, Amerika pasti menggunakan hak vetonya. Tiongkok, urusan dengan Taiwan, apalagi menganggap Taiwan adalah bagian dari Tiongkok daratan. Nanti kalau terjadi sesuatu, mudah-mudahan tidak, itu juga tidak bisa dihentikan. Karena apapun akan diveto oleh Tiongkok. Kemudian ekonomi mereka termasuk besar tiga-tiganya. Sekarang dua teratas ya AS-Tiongkok. Militernya luar biasa, kemudian pengaruh politik, secara geopolitik juga luar biasa.

39:17 Teknologi, bahkan beberapa teknologi, Tiongkok sudah melampaui Barat, melampaui Amerika Serikat. Jadi, mereka punya ambisi, punya obsesi, dia punya sejarah masa lalu, dia punya sumber daya, punya kekuatan, apapun bisa terjadi, dan kita tidak tahu sejauh mana mereka bisa paling tidak meskipun tidak bersahabat dekat, tahu sama tahu lah. Tahu batasnya di mana. Jangan melewati batas. Saya tuh punya mimpi, dulu kan pernah ketemu Stalin, Churchill, dan Truman di Potsdam, dekat Berlin, saya pernah ke sana.

40:03 Saya lihat indah sekali ini. Tiga orang pemimpin waktu itu ketemu, meskipun setelah itu ada nggak akurnya juga. Bayangkan kalau dalam waktu dekat Xie Jinping, Putin, dan Trump bertemu di suatu tempat, mungkin di Bali, siapa tahu, duduk bersama sambil memikirkan bagaimanapun Perang Dunia III jangan terjadi. "Oke, kita saling bersaing gak apa-apa." Kita kalau itu terjadi indah sekali. Ini seloroh saya, tapi juga harapan saya, tiga orang kuat itu bisa melakukan banyak hal, mereka bisa menyelamatkan dunia. Sebaliknya, dia juga bisa bikin repot dunia kita.

40:53 - Bapak kita sudah membahas hal-hal utama, saya mau coba bawa Bapak keliling dunia dan kita fokus ke beberapa titik geografi yang pertama mungkin Amerika Serikat. Akhir-akhir ini semenjak Liberation Day, Donald Trump mendeklarasikan langkah-langkah yang berkorelasi dengan prinsip resiprositas. Aksi beliau dan pemerintahannya untuk mengenakan tarif yang signifikan ini gimana penyikapannya? Kalau saya lihat Tiongkok bersikeras melakukan timbal balik.

41:40 Asia Tenggara tidak sebersikeras seperti Tiongkok. Pertanyaan saya dua, apakah langkah yang diambil oleh Indonesia dan Asia Tenggara untuk tidak melakukan resiproitas itu benar dan kedua, gimana ini, berhadapan dengan orang yang namanya Donald Trump? - Pertanyaannya bagus, jawabnya yang tidak mudah. Tapi menarik, begini Bung Gita, Saya juga siswa sejarah, termasuk sejarah militer. Peperangan itu entah Perang Dunia I, Perang Dunia II atau perang-perang besar yang lain,

42:27 itu saling mempelajari tabiat, karakter, cara berpikir orang nomor satunya. Saling diintai, apa sih kelebihan kekurangan pemimpin itu, orang kuat itu, jenderal itu. Dengan demikian dicarikan strategi untuk mengalahkannya, untuk melumpuhkannya. Saya tidak suka berbicara asal-asalan, tetapi saya ingin mengetahui sebetulnya siapa Donald Trump? Bagaimana cara berpikir beliau? Pola pikirnya melihat dunia. Apa yang dimaksud dengan "Make America Great Again?"

43:14 America First. Itu penting. Kalau kita gagal memahami jalan pikiran Donald Trump, sangat mungkin solusi untuk mengatasi kita dikenakan tarif yang lumayan tinggi itu ada kesepakatan yang bagus ada deal yang bagus. Mustahil kalau kita tidak tahu siapa Donald Trump. Yang kedua, kalau saya jadi presiden dulu, presiden itu lembaga. Rujukan saya konstitusi, saya bekerja dalam sistem. Memang saya mengambil keputusan, tapi saya melibatkan semua pembantu presiden, menteri, penasehat, sehingga pada saatnya sudah bulat, sekali saya putuskan sekali saya ambil kebijakan, tidak berubah.

44:02 Adakah itu terjadi di Washington DC? Apakah semua terlibat? Apakah Donald Trump sendiri yang membuat setiap keputusan? Kita antara tahu dan tidak tahu. Selama 3-4 bulan saya dua kali datang ke Amerika Serikat, yang pertama, 6 minggu, yang kemarin 2 minggu lebih. Saya juga mendengar percakapan rakyat di Amerika Serikat tentang apa yang terjadi di pemerintahan yang bersangkutan. Kalau saya boleh, cara pandang Amerika, Donald Trump ini ada yang saya suka,

44:49 dia ingin segera berakhir peperangan di Ukraina dan peperangan di Gaza. Poin yang baik. Belum ada pemimpin yang ingin sekali segera berakhir tragedi kemanusiaan di Gaza misalnya dan di Ukraina. kemudian Trump, "Ini kalau begini kok enggak adil?" Amerika dikerjain, Amerika suruh keluar uang banyak, Amerika begini begitu tapi mereka kadang-kadang nggak ada yang pro Amerika. Nanti dalam voting di PBB malah anti-Amerika. Kok enak di mereka susah di kita? Misalnya. Soal imigrasi atau imigran, ini gimana? Kita sendiri kurang pekerjaan mereka datang, overstay,

45:36 kadang-kadang gak ada izin di sini, kemudian ada kriminal yang dilakukan oleh para imigran. Saya tidak menjustifikasi, itu bukan pendapat saya, tapi saya mencoba mengerti cara berpikir Donald Trump. Dalam konteks itu menurut saya sah saja Amerika misalkan menertibkan imigran yang ada di tanah Amerika itu. Bisa saja menata kerja sama perdagangan yang lebih adil menurut jalan pikiran Trump itu kan sah saja. Cuma, ini pendapat pribadi saya,

46:22 jalan yang mesti ditempuh, pendekatan yang perlu dilakukan mungkin juga cara, bagaimana sebuah hubungan antar bangsa dijaga dengan baik itu penting. Sehingga kok tiba-tiba hanya beberapa hari yang disebut dengan the day of liberations disampaikan seperti itu, dan seolah-olah dunia harus tunduk dan mengikuti, menurut saya keterlaluan. Tetapi saya ngerti gelombang pro dan kontra juga tinggi. Mungkin diam-diam Trump juga sedang melakukan koreksi atas apa yang dilakukan kemarin. Tidak mudah bagi pemimpin seperti Donald Trump

47:13 mau menunda hingga 2 bulan eksekusi dari tarif yang telah ditetapkan dan kemudian membuka kembali pintu negosiasi. Saya melihat televisi hari ini ada berita baik katanya juru runding Amerika dan Tiongkok akhirnya bersepakat ABCD, meskipun detailnya belum terbuka, saya juga belum tahu. Artinya kalau itu terjadi mungkin pada saatnya akan ada kesepakatan. Ada kesepakatan. Donald Trump juga punya konstituen, dia juga ingin survive untuk 4 tahun mendatang. Kalau gelombang pertentangan penolakan bukan hanya dari kaum Demokrat

48:01 tapi dari rakyat Amerika yang juga republikannya tinggi, risikonya terlalu tinggi bagi yang bersangkutan. Mungkin dia melihat kembali "Oh, ini oke, ini kok sepertinya nggak pas." Kita tidak tahu, tetapi yang jelas memang ada tanda-tanda ada pelunakan, paling tidak mereda, yang dilakukan Trump dalam konteks ofensif penjatuhan tarif termasuk tarif resiprokal terhadap mitra-mitra dagangnya sebagian bahkan sekutunya, yang 80 tahun bersama-sama dalam satu kepentingan. Kalau ditanya, lantas pendekatannya seperti apa? ini memang boleh dikatakan banyak pilihan,

48:52 tetapi yang dilakukan Indonesia, dan saya kemarin memberikan saya mengeluarkan tweet, saya ini jarang sekali mengeluarkan tweet. Nanti kalau terlalu banyak bicara kok enggak bagus. Presiden kita hanya satu, mataharinya hanya satu, yang lain paling tinggi bulan lah. Saya manusia biasa, saya pelukis, saya menikmati yang saya lakukan sekarang, tapi tweet saya, saya anggap tepat. Di satu sisi ada negosiasi langsung antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat. Saya tidak tahu seberapa efektif, kalau semua ada di tangan Donald Trump

49:39 bahkan menteri-menterinya pun bagaimana bisa memberikan konsensi, memberikan persetujuan dalam negosiasi itu. Ini yang harus kita ketahui. Saya kira para menteri yang kemarin bernegosiasi, Pak Erlangga Hartarto, dan lain-lain perlu juga menjelaskan kepada publik supaya kita tidak meraba-raba, tidak menerka-nerka gimana sebetulnya, berhasil tidak? Atau seperti apa yang akan terjadi? Di satu sisi, negosiasi langsung, tapi di sisi lain, Presiden Prabowo juga ikut berbincang-bincang dengan semua pemimpin ASEAN gimana sikap bersama. Donald Trump akan mengatakan, "Nggak ada urusannya sama ASEAN."

50:27 "Saya ingin Indonesia sama Kamboja. Amerika sama Vietnam, Amerika sama Kamboja, Amerika sama Indonesia. Itu saja." Bisa begitu, tetapi ingat, sejak tahun 2003 ASEAN itu sudah menjadi komunitas. Tiga elemennya, komunitas di bidang politik dan keamanan, komunitas di bidang budaya dan sosial, komunitas di bidang ekonomi. Jadi patut kalau ada kebersamaan ASEAN, paling tidak bagaimana bagusnya, jangan sampai antara negara ASEAN ikut-ikutan mengenakan tarif, itu lebih runyam lagi, sudah jatuh ketimpa tangga.

51:12 Artinya yang dilakukan oleh Indonesia kemarin menurut saya baik, saya tidak mengatakan keliru, tinggal setelah dijalankan pendekatan ganda mengirimkan tim negosiasi dan berbincang- bincang dengan negara ASEAN, hasilnya seperti apa? Ketika hasilnya nihil, harus disegera dilakukan evaluasi memikirkan opsi yang lain. Memang begitu dinamika hubungan internasional. Negosiasi itu juga bukan sekali beraksi langsung dapat kesepakatan,

51:57 itu rumit kompleks melelahkan, tapi kita harus melakukan itu karena itu menyangkut kepentingan ekonomi kita. - Kalau kita lihat dalam batas akal sehat, logika, atau intuisi, Donald Trump itu adalah seorang pengusaha. Seorang pengusaha itu nalurinya adalah mengurangi biaya, memaksimalkan omset. Dalam konteks postur kebijakan, Amerika Serikat, ini sudah sangat kelihatan kecenderungan isolationis untuk mengisolisir diri mengurangi komitmen, keterkaitan, keterlibatan Amerika Serikat di tempat-tempat lain. Yang paling nyata nih di Eropa, bungkusannya NATO,

52:45 anggaran dikurangin dan segalanya. Kalau dari sisi bisnis, masuk akal, tapi yang mungkin dianggap remeh itu adalah biaya yang terkait dengan hilangnya persahabatan yang jauh lebih besar daripada biaya yang dihematkan. Postur kebijakan yang bisa dibilang isolationis yang dikedepankan oleh Donald Trump ini dampaknya gimana dan gimana kita harus menyikapi supaya syukur-syukur bisa mengobati? - Kalau kita kembali ke sejarah sebenarnya sikap isolasionisnya Amerika itu kan

53:32 terjadi beberapa kali. kalau kita lihat perang dunia kedua Amerika tuh masuk belakangan, untuk terjun dalam peperangan, baik dalam mandala Pasifik maupun Eropa. kalau Pearl Harbor tidak diserang dulu mungkin Amerika belum tentu melibatkan diri di perang Asia Pasifik, jadi ada benih-benih seperti itu. Cuma, sejarah juga yang menunjukkan perang dunia pertama, perang dunia kedua, perang dingin Amerika tidak mengisolasikan dirinya, bahkan memimpin, menjadi tumpuan aliansi misalkan NATO,

54:19 sehingga rasanya tidak bisa semudah itu tiba-tiba balik kanan dia menjauh dari kebersamaan itu dan gak ikut-ikutan. karena itu sudah menjadi pemahaman bangsa Amerika bukan hanya pemimpin Amerika. Mungkin sudah menjadi nilai, mungkin sudah menjadi bagian dari kepentingan vital Amerika Serikat dalam hubungan antarbangsa. Kalau menurut saya tidak semudah itu. Kemudian benar yang disampaikan Bung Gita, Lantas gimana ini, kalau diukur Amerika mengurangi biaya untuk membiayai kebersamaan di dunia ini demi ekonomi dalam negerinya,

55:06 kalau cara berpikirnya dilihat dari untung rugi, pantas tidak mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa ada pengembalian yang baik. kembalinya investasi, cara berpikir pengusaha. Kalau saya bukan hanya akan melukai sekutu- sekutunya, sahabatnya, partnernya, tapi satu hal, tidakkah Amerika juga punya kepentingan nasional, misalkan urusan pembiayaan atau burden sharing untuk pembiayaan menjaga stabilitas di Asia Timur.

55:57 Seolah-olah, "Korea Selatan harus keluar lebih banyak lagi, ini kan untuk kepentingan kamu." Jepang juga keluar lebih banyak lagi. Pertanyaan saya adalah apakah betul Amerika tidak punya kepentingan sebagai kekuatan di Pasifik, bahwa yang berpengaruh nanti jangan Tiongkok, jangan Rusia. Dengan kepentingan nasional itu ada biayanya. Kalau ada orang, "Ngapain sih, Pak, kok bikin tentara, nanti latihan perang, membeli senjata, biayanya kan tinggi, mengapa tidak kita semua gunakan untuk ekonomi, untuk ini, untuk itu?"

56:42 Saya bilang begini, tentara untuk apa? Biar negaranya aman. Terus? Supaya kita enggak diserang negara lain. Terus? Supaya kedaulatan kita terjaga. Itu ada biayanya, ada sejumlah triliun rupiah untuk itu. Dengan alasan yang sama, menurut pandangan saya, secara logis cara berpikir Amerika Serikat ini juga ada kepentingan mereka. Di Timur Tengah juga begitu, di Eropa juga begitu. Boleh kalau NATO, itu kan Eropa. "Kalian terlalu sedikit membelanjakan anggaran pendapatan negara untuk

57:29 persenjataan, tingkatkan." Boleh saja, tapi tidak berarti Amerika, "Sudahlah, ini bukan urusan Amerika." Amerika punya kepentingan, tidak mungkin Amerika oleh Amerika oleh Eropa oleh Amerika direlakan, Amerika tidak dominan lagi di sana. Jadi melihatnya harus utuh seperti itu, ya mudah-mudahan pada akhirnya semuanya itu berjalan sesuai dengan logika dan akal sehat, dan mengapa perlu ada pengeluaran di suatu tempat, karena tentu ada tujuannya, kira-kira itu, tapi yang jelas Bung Gita benar.

58:18 Ini kalau saya ikuti, saya ini kan suka musik, saya sejak SMP-SMA main musik sama main bass gitar, sekali-sekali masih menciptakan lagu. Banyak sekali saya lihat lagu-lagu tentang Kanada setelah mau dijadikan negara bagian yang ke-51. Banyak sekali, bagus-bagus, irama country, dan saya suka mendengarkan itu. Jadi ini ya satir tapi banyak. Ada yang mengharukan dalam Munich Conference, saya nonton di televisi. Itu tentang dunia, rupanya mereka merasa Amerika sudah beda dengan cara berpikir itu CEO-nya atau pemimpin konferensi itu

59:09 pada pidato penutupan menangis. Saya kira kita dengan Amerika Serikat masih menganut nilai yang sama, tetapi ternyata, terus enggak bisa ngomong lagi, nangis dia. Itu luka yang tercipta. Mudah-mudahan kalau bangsa Amerika sadar, jangan menambah luka lagi. Kemudian ya dibangunlah kebersamaan yang baik, ini bukan urusan kita, tetapi kalau saya ditanya sebagai salah satu mantan pemimpin dunia logikanya seperti itu. - Bapak, ini mungkin pertanyaan terakhir terkait dengan Amerika Serikat sebelum kita melakukan coffee break untuk bisa mencicipi

59:55 hidangan snack dari Cikeas. Beberapa hari yang lalu terjadi kerusuhan di Los Angeles terkait dengan penangkapan imigran-imigran yang tidak terdokumentasi oleh ICE. Setelah itu, untuk menstabilisasi situasi dan kondisi, Donald Trump melakukan hal atau hal-hal yang agak sedikit di luar batas termasuk mobilisasi marinir untuk mengamankan suasana di lapangan, dan ini sudah agak-agak merambat ke kota-kota lain di Amerika Serikat.

1:00:43 Pertanyaan saya adalah apakah sikap atau langkah Donald Trump itu yang paling bijaksana, dan ini saya mau coba bungkus dan kaitkan dengan sejarah kita, di mana peran TNI itu cukup proaktif dalam hal-hal yang banyak, dalam sehari-hari, Dwi fungsi, menurut Bapak itu gimana batas yang wajar yang tidak boleh dilewati oleh orang seperti Donald Trump? - Ini dua isu sangat-sangat penting, sensitif, tetapi meskipun sensitif tidak berarti saya tidak ingin menyampaikan pandangan saya

1:01:30 setelah yang berikut ini. Memulainya ini harus pas pendekatannya, ini urusan kekuasaan. Siapa sih yang punya otoritas, punya wewenang punya kekuasaan untuk mengerahkan tentara yang disebut National Guard, pada hakikatnya tentara. Tentara Amerika. Siapa yang juga punya kekuasaan untuk mengerahkan marinir?

1:02:17 Sekitar satu batalyon marinir, US Marine Corps. atau kalau kita tarik, debatnya menjadi, apakah benar presiden seperti itu? Apakah itu tidak bertentangan dengan sistem yang berlaku di Amerika sendiri dan seterusnya. Sehingga bukan hanya urusan siapa yang punya kewenangan, ini tentang konsep kekuasaan, tetapi bagaimana pemegang kekuasaan itu menggunakan kekuasaannya kalau praktik kekuasaan itu keliru dan membawa ketidakbaikan

1:03:09 atau ketidakadilan, namanya penyelewengan kekuasaan. Ini sudah mulai ada debat di Amerika Serikat. Pemahaman saya sebenarnya, saya mungkin salah tetapi yang paling suka Bung Gita ini kebetulan terjadinya kerusuhan di Los Angeles ketika saya baru saja meninggalkan California, padahal cukup lama, sama dulu waktu ada kebakaran hutan di California saya juga di sana, diundang oleh dua universitas yang berbeda kemarin Stanford, kalau dulu Sacramento, pas saya pulang kebakaran.

1:03:54 Jadi Tuhan masih sayang karena pas gegeran ini saya sudah kembali ke tanah air. Tapi poin saya begini, memang lazimnya kalau ada gangguan misalkan huru hara kerusuhan masyarakat, unjuk rasa yang beringas, itu masih menjadi domain penegak hukum, polisi lah. Kalau lebih dari itu dan sangat berbahaya dampaknya luas itu paling-paling yang diturunkan national guard wilayah tentara kalo kita. jarang sekali, mungkin juga belum ada presidennya, saya tidak tahu,

1:04:41 militer aktif, unit perang, tentara, AU, marinir diturunkan untuk menangani kerusuhan massa, karena beda. Marinir dilatih, dididik, diperlengkapi bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk perang. Beda, kan? Artinya apa? Bisa salah. Apa boleh marinir misalkan diturunkan, ini belum turun marinirnya saya dengar ditempatkan di suatu tempat dekat Los Angeles. Apa boleh misalkan langsung menahan seperti polisi menahan orang karena melanggar pasal ini.

1:05:29 Bisa apa tidak bisa? Kemudian cara menanganinya gimana, pas apa tidak pas? Ini juga persoalan, tetapi yang penting karena ini persoalan Amerika sendiri ya saat yang baik sebetulnya untuk sama-sama mengembalikan Amerika sistemnya seperti apa, konstitusinya seperti apa, undang-undangnya seperti apa, praktik yang berlaku seperti apa, sehingga tidak debat kusir ramai di talk show tetapi nanti tidak ada perbaikan atas semua itu. Jadi dianggap ini Presiden Trump mem-bypass, biasanya diusulkan oleh walikota,

1:06:15 gubernur. Gubernur bisa berhubungan dengan pemerintah federal dan saya tahu Walikota Los Angeles dengan Gubernur California tidak setuju dengan intervensi datangnya tentara dan marinir. Kalau Indonesia dulu ya, Indonesia sebelum reformasi. Saya juga tidak tiba- tiba jadi jenderal. Saya pernah jadi letnan, jadi kapten, jadi kolonel. Dulu namanya ABRI, bertanggung jawab menghadapi gangguan kamtibmas. Kerusuhan, kalau kota dibakar, memberangus ini bukan hanya polisi sebagai agen penegak hukum, tapi satuan teritorial

1:07:04 militer juga diturunkan. Tetapi dulu karena itu sistem yang berlaku, kebijakan pemerintah yang sah dan memang era itu militer juga berurusan dengan urusan sosial kamtibmas dan keamanan tentara dilatih dulu. Saya dulu letnan, kapten dilatih bagaimana menghadapi unjuk rasa, jangan menggunakan peluru tajam, tidak boleh ada yang tertembak apalagi tewas, mereka harus dicegah, kalau mau membakar gedung pengunjuk rasanya beringas segera disisihkan supaya tidak jadi membakar. Militer dilatih unttuk mengerjakan hal semacam itu. Jelas.

1:07:56 Jadi tidak was-was, gitu ya. Kalau saya dengar percakapan di CNN atau di TV-TV yang lain, mereka tidak dipersiapkan untuk itu, tapi karena Donald Trump merasa, "Saya presiden, saya memiliki kekuasaan, kenapa tidak?" Memang sistem presidensial termasuk Indonesia, sebelum ada reformasi apalagi, presiden itu memiliki kekuasaan sangat besar, yang boleh dikatakan bisa berbuat apa saja. Oleh karena itu perlu dibatasi, ada istilah kekuasaan presiden tidak tak terbatas. Saya waktu menjadi presiden, kekuasaan presiden sudah banyak yang dilucuti

1:08:45 setelah empat kali perubahan dan perbaikan undang-undang tidak sekuat presiden-presiden sebelum saya dulu, tetapi ini cara untuk menjaga jangan sampai kekuasaan presiden terlalu jauh, absolut, sehingga merusak keadilan, merusak kerangka bernegara. Itu kalau masa lalu ABRI, TNI dikaitkan dengan menghadapi kerusuhan sebagaimana yang sekarang sedang terjadi di Los Angeles. Kalau yang ditanyakan dwifungsi, ini begini. Ini isu yang sensitif, tetapi saya barangkali memiliki hak,

1:09:36 memiliki otoritas bisa menjelaskan sekarang ini karena saya juga bagian dari masa itu. Tetapi pada akhirnya saya yang memimpin reformasi ABRI, selama 2 tahun memimpin sejumlah Jenderal, Laksamana, Marsekal, bagaimana yang benar ABRI, sekarang TNI dan Polri itu menjalankan tugas sesuai dengan konstitusi dalam kehidupan bernegara. Sangat fundamental. Dwifungsi ABRI itu sebetulnya kan punya akar sejarah jadi setiap orang harus mengerti mengapa tentara dulu berdwifungsi ria.

1:10:27 Lahirnya TNI itu tidak tiba-tiba menjadi tentara profesional, tidak. TNI dulunya laskar rakyat, tentara pejuang. Kemudian Tentara Rakyat, baru kemudian lambat laun menjadi tentara profesional. Dulu juga militer Indonesia itu bagian kekuatan politik, jadi kalau ingat, yang mudah diingat ketika Presiden Soekarno memutuskan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 ketika ada kemacetan, kalau sekarang MPR-DPR lah. Konstituante tidak bisa menghasilkan Undang-Undang Dasar yang baru,

1:11:12 akhirnya Bung Karno, "Sudah, kita kembali saja ke Undang-Undang Dasar 1945." karena undang-undang sementara RIS, tidak cocok. Itu terjadi dengan dukungan kuat dari angkatan darat. Tentara Indonesia, Jenderal AH Nasution dan Bung Karno senang karena tentara pada pihak untuk pengambilan keputusan politik yang sangat penting itu. Kemudian pernah juga dalam masa akhir Presiden Soekarno kan ada ide untuk membentuk angkatan kelima. Ada angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, kepolisian

1:11:57 mau dibentuk satu lagi angkatan kelima dan dipersenjatai. Utamanya dulu dari kalangan buruh dan tani. Itu tentara juga mengatakan, "Oh, ini berbahaya, Bapak Presiden." "Ini kalau ada angkatan kelima lantas apa tugas dan tanggung jawabnya?" Artinya, bicara karena menganggap itu penting Era dulu juga anggota TNI sejumlah 100 orang ditunjuk menjadi anggota DPR RI tanpa pemilu. Selebihnya Golkar, PPP, dan PDI. Plus TNI, itu praktik masa lalu di era dwifungsi ABRI.

1:12:52 Berdasarkan sistem kebijakan dan doktrin yang dianut waktu itu. jadi bisa dimengerti ada dwifungsi ABRI, tiba-tiba ada perubahan besar, ada krisis 1998 yang meniscayakan tatanan politik masa lalu dilakukan perubahan yang mendasar, termasuk apa betul TNI itu menyandang dua peran, peran pertahanan dan peran politik. Di situ akhirnya sejarah pula yang membuktikan, kebetulan saya berpangkat Letnan Jenderal

1:13:39 Kepala Staf Sosial Politik, mendapatkan mandat dari Panglima ABRI, Jenderal Wiranto untuk memimpin tim reformasi. Saya bekerja 2 tahun sebagai pelaku utama, yang intinya berhenti dari dwifungsi ABRI. Tentara berhenti dari fungsi sosial politik tidak boleh lagi ada anggota DPR dari tentara yang ditunjuk, mencederai demokrasi, kemudian tidak ada lagi fungsi kekaryaan. Dulu banyak sekali bupati, walikota, gubernur dari tentara. Memang dipilih oleh DPRD tapi hakikatnya ditunjuk.

1:14:25 Oke, menteri banyak sekali, duta besar banyak sekali, Sekjen, Dirjen, di kementerian- kementerian sipil, banyak sekali. Meskipun mereka itu bukan tidak cakap, dia mengerti kepemimpinan, mengerti manajemen, cinta tanah air, punya pengalaman memimpin, lumayan, tapi lambat laun menganggap ini tidak adil, bagaimana yang dominan hanya satu kekuatan militer sementara bagian terbesar ada di pinggir-pinggir. Itulah yang ada perasaan yang kuat, ini sudah nggak benar dwfungsi ABRI.

1:15:11 Inilah yang menekan agar ABRI segera melakukan perubahan secepat mungkin, seradikal mungkin, itu kisah nyata. Setelah itu datang, saya mendapat amanah, saya tertolong oleh apa yang saya lakukan sebelumnya. Jadi begini, Mungkin belum banyak beredar berita ini. Dulu tahun-tahun terakhir sebelum pemerintahan Orde Baru berakhir, Sejumlah perwira itu gelisah, boleh dikatakan melakukan kritik dan otokritik, merasa dwifungsi ABRI ini kebablasan, terlalu jauh.

1:16:02 dan tidak baik, tidak adil. Itulah kami dengan sejumlah teman- teman, ada Jenderal Agus Wijoyo, Jenderal Agus Wirahadi Kusuma, beberapa tempat Jenderal Saurip Kadi itu bersama-sama saya, yang saya pimpin, untuk memikirkan, dan saya masih ingat, Danrem Jogja masih kolonel, saya sudah mengingatkan, dwifungsi ABRI nggak seperti ini sebetulnya. Marah atasan saya, kok saya kolonel berani bicara seperti itu. Waktu saya Pangdam di Sumbaksel, saya pidato di Seskoad, yang intinya ini perlu perubahan seperti ini, nggak bisa lagi tentara harus mendominasi, menguasai semua hal.

1:16:48 Lagi-lagi saya mengambil risiko yang tinggi dan ada yang tidak senang, tentu, tetapi justru apa yang saya lakukan itulah, ketika perubahan besar terjadi, saya mendapatkan tugas. Sepertinya saya tidak mulai dari nol. Karena ini ada dalam hati nurani saya. Singkat kata selama 2 tahun bisa kita lakukan, dan tidak sedikit tantangannya. Beberapa senior marah pada saya, "Eh kamu ngerti nggak sejarah ABRI? Jangan berani-berani kamu mengutak- utik doktrin dwifungsi ABRI." Senior-senior saya, dengan segala hormat, dengan bahasa yang sangat santun,

1:17:35 beliau saya persuasi bahwa perkembangan zaman begini, ada kelebihan dwifungsi ABRI dan akhirnya sebagian beliau, "Ya, sudah kalau begitu tapi yang penting hati-hati, jangan sembarangan." Sebagian, sebagian tetap tidak setuju. Dan tidak setuju hak beliau, saya hormati. Di antara yang aktif juga ada yang, "Kan nggak salah dwfungsinya, yang salah implementasinya," ada yang begitu. tapi ada juga yang seperti saya, memang kebablasan, terlalu jauh, dan tidak begitu, kita harus kembali ke tugas pokok TNI sebagai kekuatan pertahanan, misalnya. Ada juga teman saya, secepat- cepatnya yang radikal. Kalau radikal itu saya khawatir terjadi instabilitas di kalangan TNI sendiri.

1:18:25 Jadi saya pilih, tujuan kita jelas, berhenti dari dwifungsi ABRI. Berhenti dari fungsi kekaryaan, fungsi sosial politik, bisnis ABRI yang tidak jelas, sistem hukum yang juga harus diperbaiki. Itu roh dari reformasi. Berjalan. Saya bersyukur sebagai konseptor utama reformasi, setelah itu jadi Menkopolkam, jadi masih bisa mengontrol jangan kembali lagi, jangan menyimpang. Bersyukur lagi 10 tahun memimpin Indonesia, sehingga dua agenda yang belum tuntas, masalah sistem hukum dan bisnis bisa kita rampungkan saat saya menjabat sebagai Presiden RI.

1:19:16 Ini menurut saya jangan diobrak- abrik, jangan dirusak, jangan kembali lagi. Ketika kemarin ada isu perubahan undang-undang TNI, saya tidak bicara apapun meskipun banyak wartawan, "Pak SBY, tolong, Bapak kan pelaku reformasi." Saya hemat bicara, saya tidak ingin salah, saya ingin tahu dulu ini arahnya ke mana, perubahan Undang-Undang TNI, usul siapa, DPR atau pemerintah? Pokok-pokok perubahannya seperti apa? Saya harus jelas kalau ngomong, sekali ngomong tidak salah.

1:20:04 Akhirnya saya dilapori oleh tim, kebetulan meskipun saya tidak aktif dalam partai politik lagi, Saya tidak terlibat politik praktis, tetapi tentu ada konsultasi ke saya. Saya lihat drafnya, kalau draf seperti ini, 80% saya tenang saya senang karena tidak ada satu pun jalan menuju ke dwifungsi ABRI lagi. Tidak ada jalan ke fungsi sospol dan kekaryaan lagi. Memang ada sejumlah pasal, "Ini hati-hati," saya bilang, Ini bisa pasal karet, ini bisa pasal abu-abu yang kalau diiyakan, berbahaya.

1:20:55 Saya sampaikan posisi fraksi Anda, fraksi kita harus jelas. Saya pelaku sejarah, jangan mencoreng nama saya. Saya memiliki hubungan yang baik dengan presiden kita Bapak Prabowo, saling tukar menukar pesan, saya sampaikan pesan kepada beliau bahwa saya pelajari 80% ini aman, dan tidak akan kembali ke dwifungsi ABRI. Cuma ada sesuatu yang menurut saya rawan. Alhamdulillah pikiran Pak Prabowo akhirnya sama dan mengerti pandangan saya. Artinya itu pun saya peduli.

1:21:42 Saya melakukan sesuatu tanpa melampaui kewenangan saya. Saya ini siapa? Tidak mungkin- saya dulu pernah presiden. Ya dulu. Saya jenderal aktif. Ya dulu. Saya pelaku reformasi. Ya dulu. Sekarang barangkali zaman berubah, mungkin, tetapi akal sehat saya, sebetulnya menurut saya jiwa esensi dari reformasi ABRI, reformasi TNI dan Polri itu masih tetap valid, tetap relevan dan harus kita jaga. Itulah sebetulnya sesuatu yang sensitif tetapi perlu menjadi perhatian kita.

1:22:29 Mengapa unjuk rasanya luar biasa? Saya lihat mungkin penjelasannya kurang. Penjelasan dari DPR kepada rakyat, penjelasan dari pemerintah kepada rakyat sehingga digoreng kesana kemari. Saya memilih diam, salah kalau saya ikut bicara. Tetapi itu Pak kita kalau ditanyakan tadi Los Angeles lari ke TNI dalam penindakan huru hara, dan lari ke dwifungsi ABRI. - Wow, luar biasa, Bapak, sangat luas. Kalau berkenan kita break dulu untuk ngopi dan hidangan bakso.

1:23:32 Pak SBY, tadi kita sudah bahas mengenai Amerika Serikat akhir-akhir ini kita melihat hal yang nyata bahwasanya Tiongkok itu sudah sangat semakin kuat secara perekonomian, secara geopolitik, secara militer. Ekonomi Tiongkok itu kurang lebih 20 triliun dolar. Amerika Serikat kurang lebih 30 triliun dolar, tapi yang sangat terlihat di Tiongkok ini adalah begitu cepatnya mereka bisa mencapai apa yang bisa dibilang supremasi teknologi dalam beberapa sektor. Ini membuahkan kegelisahan di kekuatan pertama yaitu Amerika Serikat.

1:24:21 Bapak tadi mereferensikan Thucydides Trap di mana ada kekuatan baru yang punya prospek melampaui kekuatan lama. Ini yang seringki disebut fenomena decoupling, fenomena derisking. Bacaan Bapak gimana dalam konteks rivalitas atau kompetisi, atau persaingan, antara Tiongkok dengan Amerika untuk kita nih ke depan bisa aman-aman aja? - Rivalitas di antara kedua negara itu, Tiongkok dan Amerika Serikat, dalam pandangan saya tidak akan hilang.

1:25:11 Sudahlah kita hentikan kompetisi, kita jauhi persaingan yang tidak sehat, dan sebagainya. Saya meragukan hal itu terjadi, karena tadi itu, secara psikologis oleh Amerika Serikat, Tiongkok ini mengganggu, menantang, apalagi yang disebut dengan merebut kepemimpinan global yang akan dipertahankan habis- habisan oleh Amerika Serikat. Cara berpikir itu bagi saya bisa sama ngerti, tapi sebaliknya, Tiongkok juga merasa perjalanan kehidupan negara itu, bangsa itu

1:26:04 sekarang pada satu titik yang memiliki level medan persaingan yang sama dengan Amerika Serikat. Baru saja disebut, teknologi, kita masih ingat tahun 60-an, 70-an ada teori yang disebut The Flying Geese di Asia. Jadi, angsa terbang, menunjukkan mana yang paling depan, mana yang agak ke belakang, mana yang di belakang dalam hal teknologi, dalam hal kemajuan dari bangsa itu. tentu Jepang di depan, di belakangnya ada Korea. Tiongkok waktu itu dipersepsikan ada yang di depan,

1:26:51 ada yang di tengah, ada yang di belakang. dalam perkembangannya sekarang bahkan jauh di depan. bahkan melampaui kemampuan teknologi Amerika Serikat ataupun negara-negara Barat. Itu sebuah realitas. Kemudian dengan sistem politik yang dianut oleh Tiongkok dengan pilihan tidak lagi menjalankan ajaran komunisme sosialisme secara hitam putih seperti dulu, mereka juga sudah masuk ke dunia ekonomi pasar, sebenarnya juga sudah menikmati kapitalisme tapi dengan sebutan, orang Barat mengatakan state capitalism,

1:27:39 mendiang Deng Xiaoping dan pengganti-penggantinya mengatakan ekonomi pasar sosial. Saya tidak peduli dengan terminologi, pasar sosial tidak mudah disatukan, tetapi itulah yang dijalankan Tiongkok. Mengapa saya ceritakan? Tiongkok saat ini merasa sama suksesnya, sama kuatnya, sama besarnya dengan Amerika Serikat. Dia nggak mau dibully, dia nggak mau seolah-olah direndahkan, seolah-olah tidak akan menjadi bangsa besar yang sukses. Sepertinya ketika ditekan oleh Amerika Serikat urusan tarif ini,

1:28:26 dia sudah kalkulasikan semua hubungan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Seberapa besar dampaknya, kalau itu terganggu seberapa besar pengaruhnya terhadap semua ekspor Tiongkok ke seluruh dunia. Saya kira tidak terlalu besar sehingga kalau Xie Jinping menunjukkan sikap yang melawan, menantang dengan percaya diri yang tinggi, itu memang sudah dikalkulasikan seluruhnya. Artinya kalau misalkan ada apa-apa menyangkut stabilitas dan keamanan hubungan perdagangan

1:29:13 bilateral Tiongkok dan Amerika Serikat, tidak akan sangat menggoncangkan, dan masih ada substitusi dengan agresivitas Tiongkok menjalin perdagangan dengan semua negara di dunia bahkan tembus ke Eropa dan seterusnya. Itulah mestinya Amerika harus melakukan kalibrasi atas perkembangan terkini, dan melihat kemajuan Tiongkok dengan kacamata yang objektif. Tidak berarti Amerika akan menyerah, tidak berarti Amerika ngasih jalan karpet merah bagi kebangkitan Tiongkok,

1:29:58 tetapi paling tidak salah hitung, tidak meremehkan, tidak miskalkulasi terkait hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Dari itu semua menurut saya kalau ditanya lantas bagaimana bagusnya? Saya harus realistik, saya tidak ingin menaburkan sesuatu yang menyenang- nyenangkan. Rivalitas akan keras, dan makin keras. Kemudian tidak mudah mengakurkan banyak hal. Mungkin ada sepakatan taktis di antara keduanya, tapi percayalah tidak mudah ada aliansi strategis.

1:30:47 Dasarnya sudah ada kekurangpercayaan. Tidak mudah untuk berbalik dari rasa dari pikiran yang sangat tidak percaya menjadi kawan dekat, hubungannya menjadi mesra. Oleh karena itu yang bisa dilakukan oleh dunia, yang bisa dilakukan oleh negara-negara di kawasan, saya juga bicara hal ini di Tokyo saat ketemu dengan beberapa diplomat dan pemikir Jepang terkemuka. Pandangan saya, cobalah jaga kebersamaan tiga negara "Jepang, China, Korea Selatan."

1:31:36 Tolonglah. Jepang contohnya hubungilah ASEAN. Karena terus terang di mata ASEAN yang lebih dekat yang murah hari memberikan tawaran pinjaman misalnya adalah Tiongkok, bukan negara yang lain. Kalau itu terjadi, terjadi keseimbangan kekuatan baru. Hati-hati membaca istilah ini bukan dalam pengertian kekuatan politik, tetapi lebih pada equilibrium. Ada negara besar seperti Tiongkok, ada Jepang, Korea, mungkin ada Australia, ada ASEAN. Saya akan bicara nanti kalau Pak Gita mengangkat isu ASEAN tentang hal ini. Dengan demikian jadikan urusan ini urusan bersama.

1:32:25 Isolasionisme bukan pilihan baik, bukan hanya untuk Amerika tapi untuk yang lain-lain dan saya mendukung tetap terjadinya kerja sama multilateral, kerja sama regional. Kita tuh punya wadah, ASEAN +3. Waktu saya menjadi presiden, sejalan dengan perubahan piagam ASEAN, saya juga ikut mendorong perubahan itu, sudah lagi East Asia Summit dan saya mengusulkan kalau memang ASEAN plus. plusnya itu pastikan mewakili negara- negara besar. Contohnya, kalau Rusia diundang, ya Amerika diundang.

1:33:14 Jadi betul-betul kekuatan besar, kekuatan menengah ada di situ. Ini penting, dengan demikian terjadi dynamic equilibrium. Ini salah satu cara untuk terjadinya konflik terbuka yang besar apalagi perang terbuka di kawasan. Sehingga tidak seolah-olah yang menentukan Asia ini Tiongkok meskipun Tiongkok negara besar. Saya ini punya falsafah, seperti kemarin 10 tahun memimpin Indonesia. Saya dengan teman-teman pemimpin ASEAN, meskipun kita negara terbesar di Asia Tenggara,

1:34:02 kita anggota G20 tetapi bicara saya sebagai kakak dengan pemimpin-pemimpin ASEAN itu, sedemikian rupa mereka tidak merasa Indonesia ngebosin, jadi bos atau mendikte, tidak. Tidak mudah misalkan Rusia dengan negara-negara satelitnya Amerika dengan negara- negara satelitnya, mungkin Tiongkok dengan negara-negara yang lain. Kalau itu dibangun dalam konteks Asia yang lebih besar, saya kira akan bagus. Itu paling-paling yang bisa kita lakukan, memang bisa kita bersuara, "Hei meskipun Anda Amerika Serikat

1:34:49 dan Tiongkok bersaing seperti ini, mungkin bermusuhan, tidakkah tergerak hatinya untuk bersama dalam agenda bersama memerangi krisis iklim, mengurangi kemiskinan dan ketaksetaraan global. Mengapa tidak? jadi ada wilayah-wilayah yang memang mereka dalam garis konfrontasi tapi juga ada masalah-masalah yang mereka bisa duduk bersama. Seperti sekarang kalau kembali ke manuver Donald Trump, pergi dari kebersamaan di WHO misalnya, di Paris Climate Agreement, contoh yang lain,

1:35:38 dan lain-lain. Sekarang justru naik panggung, Tiongkok dan Xie Jinping. Jadi melihat hubungan kedua negara itu harapan kita dan saya terus mengatakan, meskipun sekarang saya tidak lagi di dalam sistem, bukan lagi presiden menjabat, saya mengatakan, "Tolong, Amerika Serikat dan Tiongkok, di kawasan Asia Pasifik, Asia, itu menjadi bagian dari solusi baik untuk memelihara keamanan dan stabilitas kawasan,

1:36:24 juga untuk meningkatkan ekonomi regional. Jadi Asia ini cukup luas masih bisa menampung kehadiran Tiongkok sebagai negara besar dan Amerika Serikat sebagai kekuatan Pasifik de facto. Amerika harus menyadari, mengakui kebangkitan Tiongkok seperti negara ASEAN, memang berkembang dengan bagus. Tidak ada masalah, sepanjang kebangkitan Tiongkok itu membawa kebaikan bagi kita, menjaga perdamaian kawasan, berbagi soal ekonomi dan hal-hal yang lain. Yang begitu menurut saya harus terus disuarakan,

1:37:11 ASEAN juga punya misi untuk tetap relevan dan juga terus bersuara. Jadi, kesimpulan jawaban saya, Pak Gita, ada sesuatu yang memang akan keras di antara keduanya tapi ada kemungkinan, ada ruang untuk mereka bisa bekerja sama dengan dorongan, dengan ajakan, dengan persuasi dari negara-negara lain, dalam hal ini saya menggarisbawahi peran ASEAN yang harus lebih muncul, jangan malu-malu, jangan ragu-ragu, karena ini terbukti asosiasi yang menurut saya

1:37:57 masih tetap solid dan masih bertahan. - Pak SBY, kita belum tahu ujung dari evolusi negosiasi antara Tiongkok dengan Amerika Serikat semenjak Liberation Day, tapi apapun hasilnya, yang jelas di mata orang awam, Tiongkok ini menunjukkan keberanian untuk melakukan resipokasi. Kalau menurut saya resipokasi tersebut berkaitan dengan beberapa hal, satu, keyakinan Tiongkok yang memiliki daya saing yang sangat tinggi. kedua, mereka sudah mengkalkulasi bahwasanya ketergantungan terhadap Amerika Serikat itu bisa dikompensasi dengan pasar-pasar lainnya.

1:38:47 Ini berkaitan dengan partisipasi Indonesia di BRICS yang diumumkan tanggal 6 Januari tahun 2025, Apakah ini bisa dianggap sebagai durian runtuh untuk Tiongkok berkaitan dengan sikap Amerika Serikat yang agak-agak terlalu sembrono? - Iya, menarik sekali. Xie Jinping pasti senang, sekarang Xie Jinping dianggap lebih murah hati dari Trump, kawan yang bisa dipercaya, merasa kita bisa percaya Tiongkok,

1:39:32 kita bisa percaya Beijing, kita bisa percaya Xie Jinping. Kemudian Xie Jinping juga memanfaatkan situasi ini, menghubungi banyak negara, mengajak ayolah kita bekerja sama melawan perubahan iklim, menyelamatkan perdagangan internasional yang fair jangan sembarangan ngasih tarif, hal yang sangat baik yang diucapkan oleh Xie Jinping, dan ini ketika yang lain sedang tidak senang terhadap Donald Trump, pasti menyambut dengan suka cita. Jadi, tanpa disadari oleh bangsa Amerika, apa yang dilakukan Presiden Trump ada harya yang dibayar,

1:40:18 yang jelas yang tadi itu, di mata mereka, di mata banyak negara, Tiongkok ini solusi, Tiongkok ini kawan yang setia, Tiongkok itu bisa dipegang. Kita bisa lebih percaya Tiongkok daripada Amerika Serikat, misalnya. Yang berikutnya lagi Pak Gita, ini kan yang rugi Amerika Serikat karena justru konsumer Amerika Serikat menikmati produk yang mereka inginkan harganya terjangkau dan itu diproduksi oleh Tiongkok. Saya suka ke Walmart, orang,"Ah, nggak mungkin SBY ke Walmart, biasanya ke yang branded." Tidak, saya sampai sekarang mesti ke Walmart

1:41:08 karena barangnya oke kualitasnya kalau dulu ada K Mart, JC Penney lebih tinggi, sekarang Walmart itu pada tingkat itu, murah. Dari mana berasal? Kebanyakan dari Tiongkok, Sehingga Warren Buffet mengatakan, "Salah kalau kita merenggang dari Tiongkok karena memang nyatanya konsumer Amerika Serikat suka barang-barang dengan kualitas dan harga seperti itu." Saya mengikuti berita tadi malam, survei di Amerika Serikat memang inflasi naik kecil sekali, seolah-olah Trump benar.

1:41:53 Siapa bilang akan terjadi lonjakan harga yang memukul konsumer akhir dari Tiongkok akibat perang tarif ini?

…

Share

Ringkasan Video YouTube