0:05 Bismillah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin hamdan kasiran thiban mubarokan fih kama yuhibbuna waardoh. Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ala nabina Muhammadin wa alihi. Kita bersyukur pada Allah. Selawat serta salam semoga tercurah pada junjungan kita nabi agung nabi yang mulia, Nabi kita Muhammad sallallahu
0:50 alaihi wasallam. Para santri dan pemirsa sekalian yang semoga senantiasa Allah rahmati dan berkah. Sore ini kita akan kembali melihat beberapa perkataan para ulama untuk motivasi kita agar terus semangat dalam thaabul ilmi. Baik. Kita lihat kita sampai pada perkataan alalimu marhi basa. disebutkan oleh Imam Nawawi
1:37 rahimahullah di kitab asli itu ya kalau di terjemahan ini di halaman 33 kemarin kita bahas mukal aini terus kita lihat lagi. Saya lihat perkataan yang persis di buku ini, buku asli.
2:37 I kemarin ada afdul ibadah alfikqhu ya. Kita bahas sampai [Musik] perkataan ini. Perkataan ini tidak disebutkan cuma disebutkan seorang saja. Seorang yang berilmu itu seperti mata air tawar, manfaatnya itu abadi. Seperti mata air tawar, manfaatnya itu abadi. Nah, kemudian masih lagi di sini sebutkan
3:24 alimuji man bihibasa. Seorang yang alim itu seperti pelita. Nah, itu lihat ya. Seorang yang alim itu seperti pelita. Seorang yang alim itu seperti pelita. Siapa yang melewatinya akan mendapatkan manfaat. Ini ada di halaman 25 kalau di kitab asli ya. Halaman 25 dari kitab asli. Terus kita lihat lagi perkataan. Ada yang lainnya lagi mengatakan, "Al ilmu yahusuka waahrusul wahua wafil mali." Ilmu itu menjagamu, sedangkan engkau menjaga harta. Ilmu melindungimu
4:09 sementara engkau melindungi harta benda. Ilmu menjagamu sedangkan engkau menjaga harta. Itu bedanya kalau ilmu itu jaga kita. Kalau kita itu mesti jaga harta kita. Itu keistimewaan ilmu di situ. Ilmu juga melindungi kita. Sementara kita berusaha untuk jaga harta kita biar tidak diambil oleh orang lain. Ada mengatakan [Musik]
4:57 lagi ilmu itu adalah kehidupan dari hati. Ilmu itu adalah kehidupan hati dari kebodohan dan penerang bagi nurani dalam kegelapan. Dengan ilmu seorang itu akan men derajat baik dan orang-orang terpilih memikirkan dia dengan ilmu dia akan memikirkan dan mempelajarinya. Memikirkan dan mempelajarinya adalah lebih baik daripada salat. Insyaallah dengan ilmu seorang akan mencapai derajat orang-orang baik dan terpilih. Memikirkan dan mempelajarinya adalah lebih baik daripada salat. Ya. Sedangkan pemilik ilmu itu akan dihormati dan dimuliakan. Namun kalimat mungkin ini perlu ditinjau lagi. Ada kalau mungkin lebih baik daripada salat sunah ya memikirkan dan mempelajarinya ada lebih baik daripada salat sunah mungkin. Namun kalau salat wajib tidak
5:43 mungkin. Sedangkan pemilik ilmu itu akan dihormati dan dimuliakan. Ada juga yang mengatakan perumpamaan orang alim itu seperti mata air panas. Ia didatangi oleh orang-orang dari jauh. Masyaallah. Orang-orang alim itu didatangi walaupun dari orang-orang yang datang dari jauh ya. Dan diabaikan oleh orang-orang yang dekat. Orang-orang yang dekat mungkin ee sedikitnya mengambil manfaat dan itu mengerita. Ada orang yang punya ilmu yang jauh yang datang, namun yang dekat-dekat itu sulit untuk mengambilnya. Nah, maka dikatakan, "Maka
6:29 telah kami jelas bahwa ketika airnya panas ia menjadi bermanfaat." Lalu tinggallah sekelompok orang yang menyesal. Pakar bahasa mengatakan yang dimaksud dengan alhammah dengan memfathahkan ha mata air panas yang digunakan untuk berobat dengan cara mandi dalam air panas. Nah, Syafi'i mengatakan thabul ilmi nafilah. Menuntut ilmu itu lebih baik daripada salat sunah. Yang melanjutkan lagi, baalidi ilmi. Tidak ada yang lebih baik setelah ibadah-ibadah wajib selain menuntut ilmu. Berarti kalau
7:15 membandingkan antara salat sunah, ibadah sunah dengan thabul ilmi misalnya orang ee butuh untuk belajar, dia butuh energi dibandingkan dengan dia ibadah sunah seperti puasa sunah atau mungkin dia bangun malam karena ada prioritas belajar menuntut ilmu karena maslahatnya untuk orang banyak maka didahulukan untuk mempelajari ilmu. Ia juga pernah mengatakan, "Man ar dunya faai akai." Siapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat maka harus juga dengan ilmu. Ia juga pernah berpesan barang ilmu maka tidak ada kebaikan pada
8:02 dirinya. Sehingga tidak ada antara engkau dan orang tersebut pengetahuan apapun. Pengetahuan ataupun pertemanan. Barang siapa tidak mencintai ilmu dikatakan di sini maka tidak ada kebaikan pada dirinya. Ia juga pernah mengatakan alilmu muruatu muruahu. Ilmu itu adalah harga diri bagi orang yang tidak memiliki harga diri. Ya, ilmu itu bagi orang yang tidak memiliki diri. Kemudian ia juga pernah berkata jika para fuqaha yang mengamalkan ilmu ya itu bukan para wali Allah maka Allah tidak
8:49 mempunyai wali lagi. Yang pantas jadi wali Allah itu adalah orang ber maun minal fuqaha. Tidak ada orang yang lebih wara dibandingkan para fuqaha. Insyaallah para fuqaha berarti orang-orang yang paling Kemudian ia juga pernah menyatakan kalau kita lihat iya di sini tidak disebutkan ya ee tapi merujuk ke kata Imam Syafi'i. Maka kata selanjutnya Imam Syafi'i terus yang berkata. Imam Syafii juga pernah [Musik] mengatakan lamfa ilmuhu. Barang siapa
9:37 yang mempelajari Al-Qur'an maka nilainya menjadi agung. Barang siapa yang fikih yang mempelajari Al-Qur'an nilainya menjadi agung. Namun kalau dia mempelajari fikih, maka dirinya menjadi mul. Barang siapa mendalami bahasa maka tabiatnya menjadi lembut. Itu itu pentingnya belajar bahasa Arab tuh. Barang siapa yang mendalami ilmu berhitung maka ide-idenya menjadi banyak. Barang siapa yang menulis hadis maka hujahnya menjadi kuat. Dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak akan berikan manfaat pada dirinya. Juga dikatakan oleh Albukhari rahimahullah, ia berkata dalam kitab alfaraid dalam sahihnya Uqbah bin Amir radhiallahu anhu berkata, "Taamina, belajarlah kalian sebelum datang orang-orang yang
10:24 menduga-duga." Albukhari memberikan komentar, yaitu orang-orang yang berbicara dengan sangkaan semata. Maksudnya, pelajarilah ilmu dari para ahlinya yang sudah teruji lagi wara sebelum mereka pergi. Lalu datanglah sekelompok orang yang berbicara tentang ilmu dengan hawa nafsu dan sangkaan mereka semata yang tidak ada landasan syarinya antara menuntut ilmu dan beribadah. Nah, itu nanti yang akan beliau jelaskan lagi selanjutnya ee tentang antara menuntut ilmu dan ibadah. Intinya kalau di kalimat-kalimat terakhir ini bagus-bagus yang dikatakan di antaranya tadi yang bisa kita ambil itu eh maun ini perkataan Imam Syafi tidak ada orang yang lebih war daripada fuqaha. Kemudian juga tadi disebutkan juga oleh Imam Syafii tidak ada yang pantas
11:09 menjadi wali Allah selain para fuqaha. Orang berilmu semua itu. Dan juga perlu dicatat tadi thabul ilmi nafilah. Menuntut ilmu itu lebih baik daripada ibadah sunah. Nah, baik para santri dan pemirsa sekalian yang semoga senantiasa di rahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan kali ini pertemuan keesembnya kita akan mengkaji lagi adab guru dan murid. Kali ini Imam Nawawi membawakan pada fasalil ismiq
11:56 failiha. Beliau sebutkan ini tentang mana yang lebih diunggulkan. sibuk dengan ilmu ataukah dengan ibadah seperti salat, puasa yang di mana ibadah ini adalah ibadah qasirah, ibadah yang sifatnya manfaatnya sebatas individu saja. Nah, ini bagaimana manfaatnya untuk pelakunya. Nah, ada ayat-ayat yang sudah disebutkan sebelumnya dan kali ini beliau membawakan firman Allah. Kita lihat di layar. Qul hal yastawilladzina yalamuna walladzina la y'lamun. Azzumar ayat 9. Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
12:43 mengetahui? Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sehingga Imam Nawi Nawawi membawakan firman Allah, innama yaksallah min ibadihi al ulama. Sesungguhnya yang takut kepada Allah, ya yang takut kepada Allah dari golongan hamba-hamba Allah hanyalah para ulama. Artinya makin orang itu berilmu maka dia makin takut kepada Allah. Sedangkan dari hadis ini menunjukkan orang yang berilmu ini membawa manfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri namun pada orang lain. Lain tidak boleh dengki kecuali pada dua hal ya. yaitu di antaranya pada orang yang berilmu yang mengajarkan ilmunya. Juga dalam hadis
13:28 disebutkan, barang siapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah maka Allah akan memahamkannya dalam hal-hal agama. Berarti orang yang paham agama akan memberikan manfaat pada orang lain. Juga dalam hadis apabila seorang anak Adam itu meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara. Di antaranya disebutkan ilmu ilmu yang dimanfaatkan. Kemudian disebutkan juga dalam hadis dan hadis ini sudah kita singgung sebelumnya alimi alal abidiadli adnakum. Keutamaan seorang yang alim dibanding dengan seorang abid al ibadah adalah seperti perumpamaan keutamaanku dibanding orang yang paling rendah derajatnya di antara kalian.
14:14 Kemudian demikian pula dengan hadis faqihun wahid asadu min alfi abidin walaupun hadis ini lemah ya seorang yang paham agama lebih ditakuti oleh setan dibanding 1000 orang yang hanya beribadah dan juga dalam hadis disebutkan ya barang siapa menempuh suatu jalan guna menuntut ilmu juga ada hadadis ila hududa siapa yang mengajak kepada petunjuk juga pada hadis liayyahdiallahu bika rajulan wahidan. Allah memberikan petunjuk kepada seorang karena engkau dan seterusnya. Adapun hadis-hadis lainnya seperti yang telah dikemukakan ya. Juga ada hadis dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu anhuma. Ia berkata, "Rasulullah
15:01 sallallahu alaihi wasallam itu suatu ketika keluar menuju masjid. Ketika itu di dalam masjid ada dua majelis. Di satu majelis orang-orang mendalami agama dan di satu majelis lainnya orang-orang berdoa dan memohon kepada Allah. Ee beliau bersabda, "Kedua majelis itu berada dalam kebaikan. Majelis yang satu berdoa kepada Allah. Sedang majelis lainnya belajar dan mengajari orang yang tidak tahu. Namun merekalah yang lebih baik. Sebab dengan memberikan pengajaran ee pengajaranlah aku diutus." N kemudian beliau duduk bersama mereka. Kemudian alkhatib alhafiz Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit Albagdadi di dalam kitabnya yaitu Alfaqih wal Muttafaqih meriwayatkan banyak hadis dan asar
15:46 dengan sanad-sanadnya yang umum. Di antaranya dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, ia menuturkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah." Para sahabat bertanya, "Apakah taman-taman surga itu?" Beliau menjawab majelis-majelis zikir. Sebab sesungguhnya Allah memiliki kafilah-kafilah malaikat yang mencari majelis-majelis zikir. Ketika mereka mendatangi majelis-majelis itu, mereka akan mengelilinginya. Kemudian menuturkan, "Majalisikri iya majalisul halali wal haram."
16:33 Majelis-majelis zikir itu apa? Nah, ini lihat pengertiannya. Kata AT itu adalah majelis yang membahas halal dan haram. Bagaimana engkau membeli, menjual, salat puasa menikah mentalak berhaji, dan sebagainya. Nah, itulah yang dipelajari dalam majelis zikir. Jadi, majelis zikir kalau diisyaratkan di sini bukan hanya majelis yang memperbanyak zikir-zikir, tetapi majelis yang di situ ada ilmu di dalamnya. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Majelisu fikin khairun min ibadatitina sanah." Majelis fikih itu lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun. Kenapa demikian? Karena majelis fikih,
17:20 majelis ilmu itu membawa manfaat untuk orang banyak. Kemudian dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Yasirul fikhirir miniril ibadah." Memahami ilmu yang sederhana lebih baik daripada banyak beribadah. Nah, para santri coba pahami ini. Kalau ilmu itu lebih baik daripada banyak beribadah. Karena ilmu itu punya manfaat untuk orang banyak, sedangkan ibadah itu punya manfaat kembali pada individu saja. Juga Ibnu Umar katakan ada hadis bunyinya demikian afdol ibadah alfiqhu. Sebaik-baik ibadah adalah pemahaman pada ilmu agama. Ya. Namun ee riwayat-riwayat ini tadi
18:06 beberapa riwayat dari tentang majelis fikih itu lebih baik daripada ibadah 60 tahun tadi ya sampai pada hadis tadi. Ini hadis-hadis yang dif. Kemudian ada perkataan lagi dari Abu Darda radhiallahu anhu. Ia berkata, "Nahnu laimatul fuqaha." Siapalah kami sekiranya tidak ada uraian dari para fuqaha. Kemudian Ali radhiallahu anhu menuturkan,"Jron alqimi alabilillah." "Sorang alim lebih besar pahalanya daripada orang yang berpuasa yang melakukan salat malam lagi berperang di jalan Allah." Maka orang alim itu lebih besar pahalanya karena dia memberikan manfaat pada orang banyak. Sedangkan kalau untuk orang yang berpuasa untuk individu, orang yang
18:52 melakukan salat malam untuk individu juga. Terus dari Abu Dzar dan Abu Hurairah radhiallahu anhuma keduanya mengatakan, saya baca langsung artinya satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada 1000 rakaat salat sunah. Ilmu. Ya, belajar ilmu lebih baik daripada 1000 rakaat salat sunah. Dan satu bab ilmu yang kami ketahui, diamalkan atau tidak adalah lebih kami cintai daripada 100 rakaat salat sunah. Ya, ini satu bab ilmu ya, lebih baik daripada 100 rakaat salat sunah. Keduanya lalu berkata, "Kami mendengar
19:38 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabdalahidanahidan." Apabila kematian menjemput seorang penuntut ilmu, ketika ia sedang menuntut ilmu, maka ia wafat dalam keadaan syahid. Kemudian Abu Hurairah radah anhu berkata, "Aku mengetahui satu bab ilmu tentang perintah dan larangan lebih aku cintai daripada 70 kali berperang di jalan Allah." Nah, ini juga menunjukkan keutamaan belajar nih, belajar agama dibandingkan dengan ee berperang di jalan Allah. Abu Darda juga
20:25 mengatakan ilmiatanirun minqami lailatin. Mengulang-ulang ilmu adalah lebih baik daripada bangun salat untuk semalam. Bangun salat semalam suntuk. Kemudian menyatakan mempelajari satu bab ilmu lalu aku ajarkan kepada seorang muslim adalah lebih aku cintai ketimbang aku memiliki dunia seisinya di jalan Allah. Nah, ini mempelajari satu bab ilmu lalu nantinya diajarkan pada orang lain karena manfaatnya untuk orang banyak. Makanya menuntut ilmu itu lebih utama juga. Kata Yahya bin Katsir, "Dirasatul
21:11 ilmi shatun." Mempelajari ilmu itu seperti salat ya. Padahal cuma belajar saja belum melaksanakan ibadahnya. Kemudian Sufanuri danfi menyatakan tidak ada suatu ibadah setelah ibadah wajib yang lebih baik daripada menuntut ilmu. Kemudan dari Ahmad binatakan kepadanya apakah sesuatu yang paling engkau cintai? Ia menjawab, "Aku duduk pada malam hari sambil menulis atau melakukan salat sunah." Ia melanjutkan ketika engkau menulis suatu permasalahan
21:56 yang dengannya engkau mengetahui urusan agamamu, maka hukumnya adalah wajib. Maka ini dibandingkan tadi dengan ibadah sunah. Maqulul menyatakan, "Maubidallahu bd minal fqi." Tidak ada hamba Allah yang lebih baik daripada pemahaman dalam agama. Nah, mungkin saya cukupkan di situ ya. Ini poin-poin penting yang menunjukkan apa? Menuntut ilmu itu lebih baik daripada berbagai macam ibadah. Bahkan tadi sebagaimana kata Imam Syafi'i menuntut ilmu itu ya ini adalah ibadah yang lebih baik setelah ibadah wajib ya. Setelah ibadah wajib. Maka kalau kita mau dapat banyak pahala, ayo belajar, ayo belajar, ayo belajar. Itu sudah jadi ibadah tersendiri. Baik, pada kesempatan sore ini pertemuan
22:43 ke-10 dari pembahasan adab guru dan murid. Kita lihat lagi perkataan dari Imam Nawawi. Kita memilih antara ibadah ataukah menuntut ilmu. Ya, kita lihat lagi pembahasan ibadah ataukah menuntut [Musik] ilmu. Imam Azzuhri itu menuturkan, "Maidallahu bimlil fikhi." Tidak ada seorang hamba Allah pun yang sebanding dengan pemahaman agama. Jadi kalau kita mau beribadah yang baik ya harus mempelajari ilmu
23:29 fikih, harus pahami agama dengan baik baru ibadah kita itu jadi baik. Said bin almusayib menuturkantis ibadatun bumi wasiak bilik yakni ibadah itu sejatinya bukan dengan salat dan puasa saja. Akan tapi ibadah itu dengan pemahaman dalam agama. Ibadah itu dengan pemahaman dalam agama. Maksudnya ibadah yang lebih agung dan lebih baik itu bukan puasa, akan tapi pemahaman dalam agama. Jadi penting ya kita dahulukan dengan ilmu ya baru
24:17 kemudian kita bisa beribadah dengan benar. Ishq bin Abdullah bin Abu Farwah menuturkan akrabunasi min daratin nubuati ahlul ilmi wa ahlul jihadi [Tepuk tangan] [Musik] ulama waul jihadi jahadu jaatul Dulu manusia yang paling dekat dengan derajat kenabian adalah para ulama dan mujahid. Para ulama menunjukkan orang-orang kepada apa yang dibawa oleh para rasul. Sedangkan para mujahid
25:02 berjuang mempertahankan apa yang dibawa oleh para rasul. Ya, itu bedanya para ulama dan mujahid. Jadi, para ulama itu menunjukkan orang-orang kepada apa yang dibawa oleh para rasul. Sedangkan para mujahid ya berjuang mempertahankan apa yang dibawa oleh para rasul. Jadi dua ini penting para ulama dan mujahid itu bisa beriringan di sini. Kemudian Sufyan bin U berkata, "Manusia yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang-orang yang menjadi penghubung antara Allah dan hamba-hamba Allah,
25:48 yaitu para rasul dan ulama. Manusia yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang-orang yang menjadi penghubung. antara Allah dan hamba-hamba Allah itu para rasul dan [Musik] ulama. Kemudian Sahal atustari. Sahal atustari kalau di buku kami bacanya atustari berkata, "Man majalis majalis ulama. Barang siapa yang ingin melihat majelis para nabi, maka perhatikanlah majelis para ulama lalu kenalilah mereka dari hal itu. Nah, inilah beberapa kutipan dari
26:36 sejumlah sumber dalam hal keutamaan menyibukkan diri dengan ilmu daripada ibadah. Ya, kita disuruh menyibukkan diri dengan ilmu daripada ibadah. Ada juga ungkapan yang serupa dengan yang telah saya sebutkan kata Imam Nawawi, dari sejumlah kelompok ulama salaf yang tidak disebutkan namanya. Kesimpulannya mereka bersepakat bahwa menyibukkan diri dengan ilmu adalah lebih baik daripada menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah sunah seperti puasa, salat, bertasbih, dan ibadah-ibadah sunah badaniah lainnya. Nah, di antara dalil selain dari yang telah disebutkan manfaat ilmu mencakup pemiliknya dan kaum muslimin. Sedangkan ibadah, ibadah itu ya disebutkan manfaatnya khusus untuk pelakunya saja. Jadi kalau ilmu itu manfaatnya untuk
27:21 diri kita sendiri dan juga orang banyak. Sedangkan kalau ibadah manfaatnya untuk pelakunya saja. Nah, itu kenapa menuntut ilmu itu lebih utama daripada ee melakukan ibadah sunah. Selain itu, karena ilmu itu meluruskan sehingga ibadah membutuhkan keberadaannya dan tidak sebaliknya. Terus demikian pula karena para ulama adalah pewaris para nabi dan orang-orang yang hanya beribadah tidak diberikan ee sifat tersebut. Ini pewaris para nabi itu para ulama, orang yang memiliki ilmu. Karenanya seorang yang hanya beribadah itu mengikuti dan mencontoh orang yang alim dalam ibadah ataupun hal-hal lainnya. Maka orang yang ahli ibadah wajib taat kepada orang alim. Namun tidak sebaliknya pun karena ilmu itu manfaat dan jejaknya abadi setelah pemiliknya
28:07 meninggal dunia. Sedangkan ibadah-ibadah sunah terputus manfaatnya dengan kematian pelakunya juga. Karena ilmu adalah sifat Allah. Karena ilmu hukumnya adalah fardu kifayah. E maksudnya ilmu yang tengah kita bicarakan ini lebih baik daripada ibadah sunah. Imam Al Haramain rahimahullah pernah menyatakan dalam kitabnya Alghiyati fardu kifayah lebih baik daripada fardu ain ya. Di mana pelaku ibadah fardu kifayah mampu menutup cela-cela umat dan mengangkat persoalan umat. Sedangkan pelaku ibadah fardu ain hanya untuk dirinya sendiri. Ya, kepada Allah kita memohon bimbingan. Nah, ini ya. Jadi ini beberapa alasan kenapa ee pelaku yaitu
28:55 penuntut ilmu lebih utama daripada pelaku ibadah sunah. Alasan-alasannya tadi yang sudah disebutkan oleh Imam Nawawi. Kemudian kita lihat lagi bait-bait syair tentang keutamaan menuntut ilmu. Ya, di sini beberapa hal beliau sebutkan. Kita sebutkan di antaranya dulu ya. Bait syair ini luas sekali. Akan tapi yang dikemukakan oleh penulis di sini adalah Bait syair Abul Aswad Adwali. Zalim bin Amru ya seorang tabiin
29:41 rahimahullahu ilmu itu adalah perhiasan dan kemuliaan bagi pemiliknya. Maka carilah niscaya engkau akan diberikan berupa rupa ilmu dan adab. Tidak ada kebaikan bagi orang yang memiliki keturunan. Ya, tidak ada kebaikan bagi orang yang memiliki keturunan mulia namun tidak punya adab hingga ia temukan dalam dirinya berhias adab. lainnya lagi belajarlah karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan
30:27 berilmu. Dan orang yang berilmu tidaklah seperti orang yang jahil. Seorang pembesar suatu kaum yang tidak memiliki ilmu itu terlihat kecil apabila berada dalam keramaian. juga kata Imam Nawawi lagi syair lainnya adair lainnya dikatakan orang yang datang kepada kepadamu demi ilmu, ajarkanlah kepadanya ilmu. Manfaatkanlah doa yang engkau peroleh darinya dan hendaklah orang miskin dan kaya yang menuntut ilmu denganmu diperlakukan sama. Syir lainnya
31:14 lagi malakru illa liahlil inhamu alal hudahahillah. Kebanggaan itu hanyalah milik orang-orang yang berilmu. Ya, mereka tunduk kepada petunjuk dan mereka adalah pemberi petunjuk kepada orang yang meminta petunjuk. Nilai setiap orang itu adalah pada apa yang ia tekuni. Sedangkan orang-orang bodoh adalah musuh bagi orang-orang yang berilmu. Syair lainnya lagiul majalis waul
32:03 majlisi. Ya. Pemimpin suatu majelis ada demi pemimpin suatu majelis ada di mana cerdik pandainya berada. Maka jadilah engkau cerdik pandai, engkau akan menjadi pemimpin majelis. Tadi halaman 45. Lalu ada lagi syair lainnya. Ini saya tidak cantumkan dalam PDF ya. Nanti berikutnya suatu kaum yang tidak mempunyai akal mencela usaha mendalami
32:49 agama. Sedangkan hal itu memberikan mudarat apa-apa jika mereka mencelanya. Matahari tidak membahayakan waktu dhha ketika ia terbit. Karena orang yang tidak memiliki penglihatan tidak akan bisa melihat cahayanya. Baik ee para pemirsa sekalian yang semoga Allah rahmati dan berkahi. Pada kesempatan sebelumnya ya kita telah sampai di halaman 45 46 dan kita saat ini membahas di halaman 46. Ee menuntut ilmu itu mengharapkan rida Allah. Menuntut ilmu mengharap rida Allah. Jadi kita ketika menuntut ilmu bukan cari rida manusia ya, tetapi kita mengharapkan
33:35 rida Allah Subhanahu wa taala. Nah, disebutkan di sini kalau di halaman 46 ee disebutkan firman Allah dalam surat Asyura ayat 20. Tapi sebelumnya Imam Nawawi menyebutkan, "Ketahuilah bahwa keutamaan menuntut ilmu yang telah kami sebutkan tadi sesungguhnya berlaku bagi orang yang menuntutnya karena menginginkan rida Allah, bukan karena tujuan duniawi." Jadi, menuntut ilmu jadi manfaat kalau kita mencari rida Allah, bukan tujuan duniawi. Lalu kata beliau, "Barang siapa yang menuntut ilmu karena tujuan duniawi seperti
34:21 harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, popularitas, menjadikan orang-orang condong kepadanya atau untuk membungkam orang-orang yang mendebatnya. Itu tujuan dunia ya dan sebagainya. Maka semua itu adalah tercela. Allah [Musik] berfirman, akhir barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian darinya keuntungan dunia tapi dia tidak
35:09 akan mendapatkan bagian di akhirat. Nah, ini balasan untuk orang yang hanya mengharapkan dunia saja tidak akan mendapatkan bagian di akhirat. Dalam surat Alisra ayat 18ilah ajal jaahu jahanama. Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang yaitu duniawi, maka kami segerakan baginya di dunia apa yang kami kehendaki. Bagi orang yang kami kehendaki. Kemudian kami sediakan baginya di akhirat neraka jahanam. Dia akan masukinya dalam keadaan tercela dan
35:58 terusir. Di sini diterangkan tentang bahayanya orang yang cuma mengharap dunia saja. Kemudian Allah juga berfirman dalam surat Alfajr ayat 14. Innbakail mirsad. Sungguh Rabbmu itu benar-benar mengawasi. Allah juga mengetahui siapa yang niatnya tidak benar. Maka kita perlu meluruskan niat ketika kita belajar dan kita beramal saleh. Juga dalam surat Albayyinah ayat kel umirullah. Pal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati Allah semata-mata karena menjalankan agama. Nah, ayat-ayat dalam hal ini cukup banyak. Yaitu perintah untuk
36:45 kita dalam hal ibadah, dalam hal menuntut ilmu juga butuh niat ikhlas. Coba kita lihat lagi. Imam Nawawi bawakan riwayat dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Ia menuturkan, "Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda." Saya langsung bacakan artinya. Sesungguhnya manusia pertama yang dihakimi pada hari kiamat adalah orang yang mati di medan perang. Ia dihadirkan lalu diperkenalkan dengan
37:31 nikmat-nikmat Allah dan ia mengenalnya. Allah bertanya, "Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab, "Saya berperang di jalanmu, yaitu jalan ammu, ya Allah, hingga saya mati syahid." Allah berfirman, "Kamu dusta, tapi kamu berperang ak agar dikatakan kamu itu pemberani, pahlawan dan julukan itu telah kamu dapatkan." Kemudian ia diperintahkan lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ada seorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an. Ia dihadirkan lalu
38:17 diperkenalkan dengan nikmat-nikmatnya dan ia mengenalnya. Allah bertanya, "Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab, "Saya belajar ilmu dan mengajarkannya serta saya membaca Al-Qur'an di jalanmu." Lantas Allah berfirman, "Kamu bohong. Sesungguhnya kamu belajar agar dikatakan alim dan kamu baca Al-Qur'an agar dijuluki qari dan julukan itu telah kamu terima." Kemudian ia diperintah lalu mukanya diset hingga ia dilemparkan ke dalam neraka. Juga ada orang yang ketiga di sini seorang yang dilapangkan rezekinya oleh Allah dan dianugerahi bermacam-macam harta. Ia dihadirkan lalu diperkenalkan dengan nikmat-nikmatnya
39:03 dan ia mengenalnya. Allah bertanya, "Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" Ia menjawab, "Saya tidak meninggalkan satu jalan pun yang engkau sukai. Di sanalah harta itu diinfakkan, saya berinfak di dalamnya untukmu. Allah berfirman, "Kamu dusta. Sesungguhnya kamu melakukan hal itu agar dikatakan dermawan." Dan itu sudah dikatakan kemudian diperintahkan terhadapnya. Lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam neraka. Maka kita lihat di sini ada tiga orang. Ada orang yang pertama dia ingin disebut pahlawan ya. pemberani ketika berperang ya dan dia itu mati syahid ya niatannya sudah keliru. Kemudian ada
39:50 orang yang ingin mengajarkan Al-Qur'an agar disebut qari ya agar dia itu disebut qari. Kamu belajar agar dikatakan alim dan kamu membaca Al-Qur'an agar dijuluki qari. Ya, kamu membaca Al-Qur'an itu agar dijuluki qari. Nah, niatannya juga sudah keliru di sini. Kemudian ada yang ketiga, ada yang punya harta dia dilapangkan hartanya kemudian dia berinfak supaya disebut sebagai seorang dermawan. Niatannya semuanya itu karena dunia maka amalannya itu jadi sia-sia di sisi Allah. Nah, juga dalam hal belajar di sini tentang masalah niat juga penting. Ada riwayat lagi dibawakan oleh Imam Nawawi. Kami juga meriwayatkan dari Abu Hurairah ia menuturkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Man taama ilman
40:35 mimubiahallahi azzahani. Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya ia lakukan semata-mata mencari wajah Allah, namun ternyata ia menuntutnya untuk mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat. Nah, kalau tujuannya untuk mencari keuntungan dunia, tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya dengan sanad sahih. Satu lagi kami riwayatkan dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasul alaihi wasallam dari Amru bin Syuaib ya dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda manama
41:23 ilman bihi akir bihiun lamar jannah. Barang siapa yang menuntut ilmu yang bermanfaat untuknya di akhirat, namun dengannya ia menginginkan sesuatu dari dunia, maka ia tidak akan mencium wangi surga. Nah, hadis ini diriwayatkan dengan memfatahkan ya yarah ditambah dengan memfatkan roh roh ya yarah mengkasrahkannya pada kata yarah. Kemudian juga diriwayatkan dengan mendomahkannya ditambah dengan mengkasrahkan ra yurah. Berarti ya dalam hal ini ada tiga ee bahasa yang terkenal ya. Artinya di sini intinya kata ini ya orang yang ee menuntut ilmu untuk dapatkan ee menginginkan dunia saja maka
42:10 dia tidak akan mencium bau surga. Nah, ini niat belajar yang keliru dan juga tadi yang kita sebutkan dalam hadis yang panjang ini niat yang keliru dalam amal secara umum. Wallahuam bawab. Kita masih seputar adab guru dan murid. Yang kita lihat lagi adalah pentingnya niat dalam belajar. Nah, kita lihat lagi di sini ada hadis dari Anas dan Hudzaifah. keduanya menuturkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda.
42:55 [Musik] Barang siapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, untuk menyaingi para ulama atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Ka'ab bin Malik. Dan dalam riwayat tersebut, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Allah akan masukkannya ke dalam neraka." Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda "Aduan yaumalamun." Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat nanti adalah orang berilmu yang ilmunya tidak
43:42 memberikan manfaat. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sirarun nasi syirarul ulama." Manusia yang paling buruk adalah seburuk-buruk ulama. Manusia yang paling buruk itu adalah seburuk-buruk ulama. Terus kami meriwayatkan dalam Musnad Adarimi dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, ia menuturkan, saya langsung terjemahkan, "Wahai para pembawa ilmu, beramallah kalian. Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang ia ketahui dan amalnya sesuai dengan ilmunya." Suatu saat nanti akan ada orang-orang yang membawa ilmu, namun tidak melewati kerongkongannya. amalnya bertolak belakang dengan ilmunya. Keadaannya berbeda di kala sendiri dan ketika di keramaian mereka
44:30 duduk di majelis-majelis saling memuji orang saling memuji satu sama lain sampai-sampai ada orang yang marah kepada orang lain yang sering duduk bersamanya ketika orang tersebut duduk dengan orang lain dan meninggalkan majelisnya. Mereka adalah orang-orang yang amal perbuatannya di dalam majelis-majelisnya tersebut tidak akan naik kepada Allah Taala. Terus menuturkan ilman fidunbatan minallahian. Tidaklah seorang hamba semakin bertambah ilmunya lalu semakin bertambah pula kecintaannya kepada dunia melainkan ia akan semakin jauh dari
45:15 Allah. Terus bin Salamah mengatakan, "Manabal hadirillahir bihi." Barang siapa mempelajari hadis karena selain Allah maka hal itu akan mencelakakannya. Asar dalam hal ini cukup banyak. Intinya dari bahasan kita ee pertama yang kita perlu dalami ya, kita perlu luruskanat ketika kita belajar di sini. Lihat jangan sampai belajar untuk mendebat orang bodoh atau untuk menyingi para ulama supaya dikatakan dia yang paling pintar, paling pandai atau dia memalingkan wajah manusia kepadanya supaya orang ngikut dia gitu. Bukan, bukan seperti itu. Namun kita belajar untuk memperbaiki diri kita, untuk memperbaiki orang
46:01 sekitar kita, untuk mengajarkan kebaikan pada orang lain, orang lain jadi baik. Kemudian juga dari tadi kita ambil pelajaran bahwasanya orang yang paling siksa yang paling berat itu adalah orang yang berilmu namun ilmunya tidak manfaat. Artinya dia belajar tapi tidak membawa perubahan pada dirinya. Terus sirarun nasi syirarul ulama. Manusia yang paling buruk adalah seburuk-buruk ulama. Manusia yang paling buruk adalah seburuk-buruk ulama. Jadi ulama yang ulama yang salah jalan, yang beri contoh yang tidak baik, dia adalah seburuk-buruk manusia. Kemudian tadi juga kita dapati pelajaranun tidak seorang itu semakin bertambah ilmu lalu semakin bertambah
46:46 pula kecintaannya pada dunia. K tambah ilmu kau tambah cinta pada dunia melainkan ia akan semakin jauh dari Allah. Terus yang terakhir hadisillah ini peringatan untuk memperbaiki niat. Siapa yang mencari hadis karena selain Allah, maka itu akan mencelakakannya. Kata Imam Nawawi, asar dalam hal ini cukup banyak. Wallahuam bisawab. Ini barangkali yang kita kaji secara singkat dulu untuk sore ini. Pada pertemuan berikutnya kita akan bahas larangan menghina ulama dan anjuran untuk memuliakan mereka. Nah, bahasan yang bagus kali ini tentang larangan menghina ulama dan anjuran untuk memuliakannya. Karena para ulama itu bagian dari syiar Allah. Maka Allah berfirman, kata Imam
47:34 Nawawi, Dan barang siapa mengagungkan syar-syar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati. Lalu dalam surah alhaj ayat 30. Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Terus dalam surat Alhijr ayat 88 dan berendah hatilah engkau terhadap orang-orang beriman. juga dalam surat alzab ayat 58 dan orang-orang yang menyakiti
48:20 orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Dalam Sahih Albukhari dari Abu Hurairah radhiallahu anhu disebutkan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Anallah azza waalla manalian faq." Bahwa Allah azza waalla berfirman hadis qudsi berarti ya, "Barang siapa yang menyakiti waliku maka sungguh aku telah mengizinkannya untuk diperangi." Kemudian Alkhatib Albaghdadi meriwayatkan dari Asyafi'i dan Abu Hanifah radhiallahu anhuma. bahwa keduanya menuturkan takunil ulama auliahi waliun. Sekiranya para fuqaha,
49:07 para ulama itu bukanlah termasuk wali-wali Allah, maka saya tidak mengetahui lagi ya siapakah yang pantas jadi wali ya. Siapakah yang pantas jadi wali selain para ulama gitu. Sementara dalam ucapan Asyafi'i disebutkan alfuqahau alamiluna. Alfuqahau alamiluna. Para fuqaha itu yang mengamalkan ilmunya. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, "Manaki faq rasulullahi sallahu alaihi wasallam." Rasulullah faqallah azza waalla. Siapa yang menyakiti seorang alim yang alim dengan fakih, alim dan fakih, maka sungguh ia telah menyakiti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Barang siapa yang menyakiti Rasulullah sallallahu alaihi
49:53 wasallam, maka sungguh ia telah menyakiti Allah azza wa jalla. Nah. Nah, itu mudah-mudahan sini perkataannya bagus sekali. Ini kesimpulannya kita jangan menyakiti para ulama. Terus dalam asahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam, dalam asahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam disebutkan. Barang siapa yang salat subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminannya. Dalam riwayat yang lainnya [Musik] disebutkan maka jangan sampai kalian membuat Allah membatalkan jaminannya.
50:38 Kemudian al Imam Alhafiz Abul Qim Ibnu rahimahullah mengatakan [Musik] Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbing kita. Ya, semoga Allah itu membimbing
51:26 kita dan engkau ee membimbing kita dan engkau kepada rida Allah dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Bahwa daging ulama itu beracun. Ingat daging ulama itu masmumatun tadi disebut ya masmumatun beracun. Dan kebiasaan Allah adalah menghancurkan tabir orang-orang yang menyerang ulama itu. Sudah hal yang lumrah. Barang siapa yang mencela ulama maka Allah akan membalasnya dengan matinya hati sebelum ia meninggal. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. Kesimpulannya kalau kita tahu ada orang
52:12 berilmu, hati-hati lisan kita jangan menyakitinya ya. Karena termasuk menghormati mereka termasuk menghormati syiar Allah. Itu yang dimaksud oleh Imam Nawawi tadi ya. Itu termasuk menghormati syiar Allah. Kemudian tidak tidak boleh juga menyakiti wali Allah. Dan ulama itu lebih pantas menjadi wali Allah. Dan alfuqaha itu apa? Al-amilun. Kata Imam Syafi'i, para fuqaha itu adalah yang mengamalkan ilmunya. Ya, maka jangan sampai menyakiti ulama. Jaga lisan kita terhadap para ulama. Jangan sampai menyakiti mereka. Dan ini bentuk kita juga memuliakan orang-orang yang berilmu. Wallahuam bawab. Ini mudah-mudahan singkat tapi bawa manfaat bagi kita semuanya. Dan Allah memberkahi ilmu-ilmu kita dengan kita menghormati guru-guru kita dan para ulama juga.
52:59 Syekh shaib al-Arnaud mengesankan hadis ini ya. Jadi hadis ini bisa kita katakan ada pendapat yang katakan diif, ada katakan hasan, ada yang katakan sahih. Yaul ilmi farid muslim menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Hadis ini ya di sini kendati statusnya tidak kuat. Nah, ini kan kendati statusnya tidak kuat. Berarti memang Imam Nawawi katakan di sini tidak kuat. Akan tapi maknanya dapat diterima. Artinya menuntut ilmu itu wajib. Wajibnya wajib ain. Dalam perkara apa? wajib ainnya dalam perkara yang tadi ya sesuatu yang untuk menunaikannya itu wajib. Syarat ini jadi syarat ibadah wajib yang harus kita lakukan. Ibadahnya
53:44 wajib dan ini jadi syarat. Salat itu wajib dan jadi syarat untuk salat adalah wudu. Berarti mempelajari wudu itu adalah suatu kewajiban. Hadis ini kendati statusnya tidak kuat akan tetapi maknanya dapat diterima. Namun sebagian kelompok lainnya meriwayatkan hadis tersebut ee kepada hukum fardu kifayah. Sedangkan dasar hukum wajib dalam Islam dan apapun yang berhubungan dengan akidah. Maka cukuplah dalam hal ini dengan membenarkan setiap hal yang dibawa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan meyakininya dengan keyakinan yang kuat dan selamat dari segala bentuk keraguan. Kemudian tidak menjadi wajib kepada orang-orang yang mempelajari dalil-dalil dal ee dalil-dalil ahli ilmu kalam. Ya, kita tidak wajib mempelajari dalil-dalil ilmu kalam. Inilah prinsip yang benar yang disepakati oleh kalangan
54:29 salaf, kalangan fuqaha, para peneliti ilmu kalam dari kalangan ee para peneliti ilmu kalam dari kalangan sahabat-sahabat kami dan lainnya. Sebab Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak pernah meminta seorang pun dengan sesuatu selain dengan apa yang telah kami sebutkan. Ah, demikian pula dengan Khulafa Rasyidin, sahabat-sahabat lainnya dan generasi pertama setelah mereka. Bahkan bagi orang awam, orang yang mendalami agama dan para fuqaha ya, langkah yang benar adalah dengan menahan diri dari memasuki perkara-perkara detail dikarenakan takut terhadap kekeliruan yang bisa menyerempet ke ranah akidah sehingga sulit bagi mereka untuk mengeluarkannya kembali. Akan tetapi upaya yang benar ada pada mereka dengan mencukupkan pada apa yang telah kami sebutkan, yaitu hanya dengan
55:15 pembenaran yang kuat. Attasdiq dan aljazim. Sejumlah kalangan cerdik pandai ee kalangan cerdik pandai dari rekan-rekan kami dan lain yang lainnya telah menyatakan pernyataan ini. Bahkan Imam kami Imam Syafi'i rahimahullah telah dengan sangat tegas mengharamkan supaya menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Berarti Imam Syafi'i melarang menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Ia dengan sangat tegas mengharamkannya. Memberikan hukuman yang keras bagi siapapun yang melakukannya. Mencela perbuatan tersebut dan menjadikan dosa-buatan itu sebagai dosa besar. Ia berkata, "Allah bertemu dengan seorang hamba dikarenakan setiap dosa selain dari dosa syirik adalah lebih baik daripada Allah bertemu dengan hamba itu dikarenakan satu dosa dari ilmu kalam." Nah, ini kalau kita lihat ini perkataan Imam Syafi'i berarti ya
56:01 lafaz-lafaz yang dia gunakan yang semakna dengan ini sangat banyak dan populer. Di usia senjannya Alghazali rahimahullah menulis sebuah kitab terkenalan yang berjudul Ilham Alawwam Ilmil Kalam. Dan dalamnya ia menulis bahwa semua manusia awam dalam ilmu kalam, dalam bidang ilmu kalam termasuk para fuqaha dan lainnya kecuali orang yang jarang dan tidak biasa di mana masa hampir tidak akan memperoleh seorang pun dari mereka. Wallahuam. Nah, sekiranya ia ragu. Kita berlindung kepada Allah tentang sesuatu dari pokok-pokok akidah yang seharusnya diyakini dan keraguannya itu tidak hilang kecuali dengan mempelajari dalil-dalil yang dipakai oleh para ahli ilmu kalam. Maka itu wajib hukumnya ia pelajari dan menghilangkan keraguan dan memahami pokok akidah tersebut.
56:46 Intinya kalau kita lihat dari pembahasan Imam Nawawi di sini ya, para santri sekalian, para jemaah sekalian, ada peringatan dari ilmu kalam dan kita simpulkan menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Ya, poinnya dua yang kita pelajari surah ini. Telabulia muslim menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dan hadis ini kalau menurut Imam Nawawi berlaku pada ilmu yang fardu ain. Ilmu fardu ain tadi apa? wajib yaitu seorang mukalaf mempelajari sesuatu yang menjadi syarat ibadah wajib yang harus dia lakukan. Kalau dia wajib salat, maka syarat untuk salat apa? Wudu, mandi, kemudian ada tayamum ketika tidak ada air, maka dia wajib untuk mempelajari hal-hal tersebut. Ya, wajib
57:35 allzi illa bihi. Seperti di sini Imam Nawai contohkan kaifatil wudu wasah tata cara wudu dan tata cara salat wajib dia pelajari. Kita telah sampai di pembahasan macam-macam ilmu. Ilmu itu ada dua. Ada ilmu syari dan ilmu ghair syari. Ilmu syari itu ada yang fardu ain. Kata Imam Nawawi, ilmu fardu ain itu ya ilmu yangal wajibu alladziana alaihiu illa bihi. yaitu ilmu yang menjadi syarat ibadah wajib yang harus ia lakukan. Seperti mempelajari tata cara berwudu, tata cara salat dan sebagainya.
58:21 Ya, dalam hadis disbutkan thabul ilmi faridatun ala kulli muslimin. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Baik. Kita lihat di bahasan lanjutannya ini nanti sampai pada pembahasan halal dan haram ya. Sampai di pembahasan ini nantinya ee kewajiban mempelajari halal dan haram. Imam Nawawi katakan lagi, saya ulang di bagian ini. Para ulama berbeda pendapat tentang ayat dan hadis seputar sifat Allah. Apakah boleh ditakwil ataukah tidak? Beberapa kalangan berpendapat boleh ditakwilkan dengan suatu yang layak dengan sifat-sifat tersebut. Dan inilah
59:08 pendapat yang paling masyhur dari dua mazhab ahli ilmu kalam. Sementara kalangan lainnya berpendapat bahwa sifat tersebut tidak boleh ditakwilkan. Akan tetapi ia menahan diri dari berbicara tentang makna-makna sifat-sifat tersebut dan menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada Allah. Bersama dengan itu ia meyakini bahwa Allah bersih dan tidak ada sifat-sifat yang baru baginya. Nah, dikatakan misalnya kita beriman kepada Allah bersemahyam di atas arsy tentang Allah itu bersemayahyam di atas arsy. Maka sini Imam Nawawi katakan, "Sedangkan kita tidak mengetahui makna dan maksud sebenarnya dari bersemayahyam itu. Kendati kita meyakini bahwa Allah
59:54 tidak ada yang menyerupainya dengan sesuatu pun. Ya Allah suci dari sifat-sifat menempati dan sifat-sifat makhluk. Inilah metode salaf atau jemur salaf. Dan hal semacam ini lebih selamat sebab seorang tidak dituntut untuk masuk ke dalam hal tersebut. Nah, ini kalau ini menurut versi Imam Nawawi. Namun kalau menurut ulama yang lainnya kita katakan arsy itu makhluk Allah yang terbesar. harus itu ee makhluk Allah yang paling tinggi dan Allah berada di atas itu. Nah, bila ia meyakini bahwa Allah itu suci dari sifat-sifat makhluk atau dia melakukan tanzi, maka tidak ada perlunya tenggelam dalam persoalan itu dan mengambil resiko pada sesuatu yang tidak mendesak. Bahkan
1:00:39 tidak ada kepentingannya sama sekali. Bila ada kebutuhan untuk mentakwilkannya guna membantah pelaku bidah dan semacamnya ketika itu mereka boleh mentakwilkannya. Sehingga ke dalam pemahaman inilah ungkapan para ulama dalam masalah ini diaplikasikan. Wallahuam. Lalu tidak ada kewajiban mempelajari tata cara wudu, salat dan semacamnya kecuali setelah ibadah tersebut wajib. Nah, ini sekarang masalah mempelajari ibadah lagi. Imam Nawawi katakan sekiranya ia bersabar sampai waktunya masuk di mana ia tidak bisa mempelajarinya dengan sepenuhnya sekaligus melakukannya pada waktu tersebut, maka apakah ia harus mempelajarinya sebelum waktunya tiba? Al-ghazali ragu-ragu dalam masalah ini. Yang benar adalah apa yang ditekankan oleh ulama lahi bahwa ia
1:01:25 wajib mendahulukan belajar. Sebagaimana orang yang rumahnya jauh, wajib bersegera pergi salat Jumat sebelum waktunya tiba. Kemudian jika ibadah wajib sifatnya segera, maka mempelajarinya tata mempelajari tata cara ibadah juga harus disegerakan. Berarti kalau salat itu segera kita laksanakan, mempelajari salat itu harus segera juga. Bila ada kelonggaran seperti haji, maka boleh waktunya ditunda ya. Mulai nanti dia melakukan ibadah haji baru ya kita mempelajarinya. Jadi kita kena kewajiban mempelajari tata cara salat, tata cara wudu ketika
1:02:11 kita ingin melaksanakannya. Nah, sekarang kalau kita sudah balik berarti kita punya kewajiban untuk mempelajarinya. Nah, itu maksud dari Imam Nawawi tadi. Kalau ibadahnya masih bisa ditunda, tarokhi alat tarakhi ya, maka mempelajarinya juga nanti tertunda. Kemudian kemudian yang wajib dari semua itu adalah sesuatu yang biasanya menjadi syarat pelaksanaan ibadah wajib tersebut, bukan yang jarang terjadi. Apabila itu ada, maka wajib ketika itu wajib mempelajarinya. Jadi yang wajib kita pelajari itu adalah yang menjadi syarat pelaksanaan ibadah wajib, bukan yang jarang terjadi. Kalau
1:02:58 yang jarang terjadi ya berarti ketika kita butuhkan untuk mempelajarinya saja baru kita belajar. Dalam pelajari dalil-dalil kiblat, nah salah satu pendapat mengatakan fardu ain, sedangkan pendapat lainnya mengatakan fardu kifayah. Pendapat yang benar adalah fardu kifayah kecuali bila seorang ingin melakukan perjalanan jauh, maka hukumnya menjadi wajib dikarenakan kebutuhan bersama si musafir kepada hal tersebut. Kemudian tidak ada kewajiban mempelajari perkara sunah yang pada dasarnya tidak wajib. Tidak ada kewajiban mempelajari perkara sunah yang pada dasarnya tidak wajib. Imam Alharamain Alghazali dan lainnya berpendapat wajib hukumnya bagi orang
1:03:44 yang hendak melakukan bentuk muamalat mempelajari tata cara dan syarat-syaratnya. Jadi di sini kita bahas ya tidak ada kewajiban mempelajari perkara sunah yang pada dasarnya tidak wajib. Nah, tapi kalau kita butuh seperti muamalat ini maka dia wajib pelajari tata cara dan syarat-syaratnya. Ada pula yang mengatakan tidak wajib akan tapi dipandang haram melakukannya kecuali setelah mengetahui syarat-syaratnya. Ungkapan ini lebih sahih dan ungkapan ini ee adalah dan ungkapan Imam Alharamain dan Ghazali dipahami dengan pendapat ini. Demikian pula halnya dalam salat dalam salat sunah haram melakukannya bagi orang yang tidak mengetahui tata caranya dan tidak dipandang wajib mempelajari tata caranya. Terus yang berikutnya lagi tentang kewajiban
1:04:29 mempelajari halal dan haram. Ia wajib mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. berupa makanan, minuman, pakaian, dan hal lainnya yang biasanya ia butuhkan. Demikian pula hukum pergal istri apabila ia memiliki istri pun demikian dengan hak bila ia mempunyai istri dan sebagainya. Jadi mengetahui mana yang halal dan yang haram juga jadi wajib. Demikian juga kalau orang itu memiliki istri dia wajib mempelajari halal dan haram juga. Berarti kesimpulannya kapan ilmu itu menjadi fardu ain? Kita pelajari ya. Kalau mendesak untuk kita melakukannya, maka perkara mendesak seperti salat,
1:05:15 seperti puasa yang mendesak orang lakukan maka wajib untuk mempelajarinya. Wallahuam bawab. Yeah.