0:09 [musik] Bayangkan sebuah buku yang sudah berusia lebih dari 5 abad. Tebalnya ratusan halaman penuh dengan tulisan rapi yang tidak seorang pun di dunia ini bisa baca. Di antara teksnya ada gambar-gambar tumbuhan yang tidak pernah tumbuh di bumi. Perempuan telanjang mandi dalam tabung yang aneh hingga diagram bintang yang tidak sesuai dengan langit kita. Selama lebih dari 100 tahun, para kriptografer, ilmuan, bahkan mesin kecerdasan buatan sudah dikerahkan. Namun semua hasilnya sama, yaitu nihil. Pertanyaannya, apakah ini sebuah karya jenius yang sengaja ditulis dalam bahasa yang hilang? Ataukah
0:55 sebenarnya kita sedang ditipu oleh penulis paling licik dalam sejarah umat manusia? Bersama kamar film, mari kita memahami voinik manuskrip. [musik] Setiap misteri besar dalam sejarah biasanya dimulai dari sebuah momen sederhana. Begitu pula dengan foinik manuskrip. Tidak ada yang tahu siapa penulis naskah ini, untuk apa ia ditulis, atau bahkan bahasa [musik] apa yang digunakan. Namun semuanya kembali ke permukaan pada tahun 1912 [musik]
1:40 ketika seorang pedagang buku langka bernama Wilfri Finik menemukan naskah ini di sebuah vila tua dekat Roma, [musik] Italia. Dari situlah buku ini menjadi enigma dunia. Dan untuk memahami konteks penemuan ini, kita perlu terlebih dahulu mengenal sang penemu yaitu Wilfrid Michael [musik] Fonix yang lahir pada tahun 1865 di Silva, Lituania yang ketika itu masih berada di bawah kekuasaan kekaisaran Rusia. Voinik jelas bukan sosok yang hidup tenang sejak [musik] muda. Dalam sebuah catatan biografi yang ditulis oleh Imund David di The New York Review dengan judul Secret Knowledge or A Hoa dijelaskan bahwa seorang apoteker terlatih yang kemudian beralih menjadi aktivis revolusioner. Tapi karena aktivitas politiknya ia ditangkap dipenjara dan
2:26 kemudian melarikan diri ke Inggris pada tahun 1890-an. [musik] Setibanya di London hidupnya berubah. Ia meninggalkan dunia politik dan membangun reputasi baru sebagai pedagang [musik] buku langka. Beneger Air Book and Manuscript Library Yel University dalam arsip resminya menuliskan bahwa Fenix dikenal sebagai sosok dengan insting tajam untuk menemukan manuskrip unik, terutama karya-karya yang memiliki potensi membuka wawasan baru dalam dunia akademik. Minat itulah yang membawanya ke Italia pada tahun 1912. Pada tahun itu, Vionic membeli sejumlah manuskrip dari villa Mond Dragon, sebuah villa di Fraskati dekat Roma. Villa ini dikelola oleh Ordo Suit dan berfungsi sebagai seminari sekaligus tempat penyimpanan koleksi buku berharga. Di antara manuskrip-manuskrip tersebut, [musik]
3:12 Fenix menemukan sebuah naskah setebal lebih dari 240 halaman. Ditulis dengan aksara yang sama sekali tidak dikenalnya. Selain itu, naskah ini dihiasi gambar tanaman aneh, diagram astronomi, hingga ilustrasi perempuan telanjang yang seolah berendam dalam cairan misterius. Gary Kennedy dan [musik] Rob Churchill dalam bukunya yang berjudul The Fionic Manuscript: The Mysterious Code that Has Devine Interpretation for Centuris, menuliskan bahwa Fionic menulis dalam buku catatannya bahwa jika suatu hari naskah ini berhasil dipecahkan maka ia berpotensi mengubah sejarah pemikiran manusia. Namun sebelum sampai pada titik ketika Vionic menemukan dan merenungkan nilainya, manuskrip ini sendiri telah memiliki riwayat yang panjang jejak perjalanannya yang terbentang [musik] ratusan tahun sebelum 1912 menyimpan
3:57 lapisan misteri yang tidak kalah penting dari isi teksnya. Sebab naskah ini ternyata sudah berkelana selama berabad-abad meninggalkan jejak samar dalam arsip [musik] dan korespondensi. Salah satu bukti tertua muncul pada abad ke-17. Seorang [musik] alkemis asal Praha bernama George Bares mencatat keberadaan naskah misterius yang [musik] ia miliki. Dalam surat bertanggal 1666, Baretch menyinggung kebingungannya terhadap manuskrip yang penuh simbol aneh dan tidak bisa ia pahami. Atas kebingungannya itu, kemudian Baret memutuskan untuk menghubungi seorang cendikiawan jesuit [musik] yang terkenal pada masa itu, yakni Atanasius Chriser yang mengajar di Coligo Romano di Roma. Kriser sendiri dikenal luas sebagai seorang sarjana serba bisa. Seorang polimatik yang menulis banyak karya
4:43 tentang Mesir kuno, linguistik hingga ilmu alam. Berage berharap bahwa Krisa dengan reputasinya yang pernah mencoba menerjemahkan hieroglyf Mesir bisa membantu memecahkan teka-teki naskah ini. [musik] Namun, tidak ada bukti kuat bahwa benar-benar berhasil memahami teks veonik. Setelah meninggalnya George Barres, naskah tersebut diyakini berpindah tangan kepada Yohannes Marcus Marcy, rektor Universitas Charles di Praha. Pada tahun 1666, Marcy mengirim manuskrip itu kepada [musik] Kriser dengan sebuah surat pengantar. Dalam surat tersebut, Marcy menulis bahwa naskah ini mungkin karya Roger Bucken, seorang filsuf dan ilmuwan Inggris abad ke-13. Bukti pengiriman surat tersebut sekarang tersimpan dan diarsipkan di bibliotika Apostolika Vatikan. Dari titik inilah jejak naskah sempat
5:29 menghilang selama lebih dari 2 abad. Beberapa peneliti berhipotesis bahwa manuskrip sempat disimpan dalam koleksi pribadi Juuit sebelum akhirnya masuk ke villa Mon Dragon, sebuah seminari Katolik di Italia. Lompatan besar terjadi ketika manuskrip itu muncul kembali di permukaan sejarah pada awal abad ke-20, sebuah era [musik] di mana Eropa sedang berada di ambang modernitas tahun 1912. Seperti telah diceritakan di awal, B Wilfred Viionic, seorang pedagang buku langka asal Polandia menemukan manuskrip tersebut di Villa Mondragon. Penemuan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks intelektual Eropa saat itu. Di mana kebangkitan studi filologi, arkeologi, dan minat terhadap teks-teks kuno telah menjangkit [musik] di intelektual Eropa. Selain itu, momen penemuan ini juga bertepatan dengan meningkatnya semangat di kek-teks
6:15 kuno di Eropa. Minat publik pada hieroglif Mesir misalnya sedang tinggi [musik] setelah keberhasilan Jin Franquis Champolon menerjemahkan Roseta Stun pada abad [musik] ke-19. Dalam konteks ini, manuskrip yang ditemukan Vionix segera diperlakukan sebagai tantangan intelektual besar. Dan yang dikenal memiliki jaringan luas di kalangan kolektor dan akademisi langsung menyadari nilai potensial manuskrip itu dan kemudian membawa manuskrip tersebut ke London dan New York. memperkenalkannya kepada para pakar bahasa dan kriptografi. [musik]
7:02 Namun di balik ingar-bingar penemuan dan perhatian besar yang menyertainya, apa yang benar-benar membuat manuskrip ini bertahan sebagai misteri hingga hari ini justru terletak pada isinya. Karena semakin lama kita menatap halaman-halaman di dalamnya, semakin kita sadar bahwa problem utama bukan hanya siapa yang menulisnya, melainkan apa yang sebenarnya tertulis di sana. Sebab buku setebal sekitar 240 halaman perkamen ini membuat teks yang tidak bisa dibaca yang disertai ilustrasi-ilustrasi yang aneh terkadang indah, namun seringkiali tidak masuk akal. Para peneliti diel Benike Rare Book and Manuscript Library tempat manuskrip ini disimpan hari ini bahkan menegaskan bahwa struktur dan komposisi manuskrip menunjukkan sebuah karya yang terencana bukan sekadar coretan acak. Dan ketika kita membuka halaman-halamannya lebih jauh, misteri
7:48 itu semakin menebal. Sebab ilustrasi-ilustrasi yang memenuhi manuskrip ini justru menghadirkan pertanyaan baru. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh para pembuatnya? Dan salah satu bagian paling menonjol yang langsung menarik perhatian adalah kumpulan gambar botani. Terdapat ratusan ilustrasi tumbuhan yang seolah-olah digambarkan dengan detail ilmiah lengkap dengan akar, batang, bunga, dan biji. Namun masalahnya hampir semua tanaman tersebut tidak bisa diidentifikasi. Beberapa terlihat mirip dengan tumbuhan nyata, tetapi sisanya tampak sebagai hasil gabungan dari beberapa spesies yang [musik] berbeda. Ahli botani modern yang mempelajarinya seperti yang dicatat Gary Kennedy dan Rob Churchill dalam bukunya berjudul The Fionic Manuscript The Mysterious Code That has Devfied Interpretation for Centuries berulang kali menekankan bahwa gambar-gambar
8:35 botani ini bukanlah sekadar tiruan buruk melainkan tampaknya memiliki sistem sendiri. Artinya ilustrasi itu mungkin memang merepresentasikan pengetahuan herbal dari dunia yang tidak kita kenal atau justru imajinasi pengarang yang penuh dengan teka-teki. Selain tumbuhan, terdapat juga ilustrasi astronomi yang memenuhi bagian lain dari manuskrip. Beberapa halaman memperlihatkan diagram melingkar menyerupai roda zodiak atau kalender astrologi. Ada juga gambar matahari, bulan, serta bintang-bintang. Dalam sebuah analisis yang dirangkum oleh William Friedman dalam NSA Technical Journal, di sana dinyatakan bahwa ilustrasi astronomi ini menunjukkan pola berpikir sistematis meskipun [musik] sulit dipastikan apakah ia lebih dekat ke astrologi, astronomi, atau gabungan keduanya. Beberapa peneliti bahkan menduga bagian ini
9:21 merepresentasikan pengetahuan kosmologis abad pertengahan yang bercampur dengan simbol-simbol esoteris. Namun hingga kini makna sebenarnya tetap gelap dan yang takkala menarik adalah bagian farmakologis dan biologis. Ada ilustrasi menyerupai wadah kaca, tabung, dan peralatan yang tampak seperti bejana kimia. Banyak halaman juga menampilkan figur manusia telanjang. Kebanyakan perempuan yang sedang berendam dalam cairan berwarna hijau atau biru terhubung dengan jaringan pipa yang kompleks. Sebagian peneliti menyebut bagian ini sebagai balneologis, yaitu terkait penyembuhan dengan air sejenis pa atau terapi rendam yang populer pada abad pertengahan. BBC News dalam artikelnya berjudul Artificial Intelligent Helps di Ancian Manuskrip bahkan menyebut bagian ilustrasi manusia dan air ini sebagai salah satu bagian
10:07 paling membingungkan karena seakan-akan memadukan pengetahuan medis, astrologi, [musik] dan ritual simbolik sekaligus. Namun yang paling mengundang frustasi adalah bagian teksnya. Naskah ini ditulis dalam askra yang sama sekali tidak dikenal. Tidak ada sistem tulisan di dunia, baik alfabet Latin, Arab, Ibrani, maupun aksara Asia [musik] yang cocok dengan huruf-huruf dalam manuskrip ini. Meski begitu, teksnya memiliki pola statistik yang konsisten. Analisis komputer menunjukkan bahwa kata-kata dalam manuskrip muncul dengan distribusi yang mirip dengan bahasa alami, [musik] bukan sekadar acakan. Inilah yang membuatnya banyak ahli yakin bahwa naskah ini benar-benar ditulis dengan suatu sistem linguistik. Meskipun kita belum mengetahui bahasa apa itu. Dan justru di sinilah letak daya tarik utamanya. sebuah teks yang tampak
10:52 seperti bahasa manusia tetapi tetap menolak untuk dipahami. Misteri inilah yang kemudian membungkus perjalanan naskah sejak pertama kali diperlihatkan kepada dunia. [musik] Sejak pertama kali muncul di hadapan publik pada tahun 1912, [musik] Vionik Manuskrip langsung menimbulkan pertanyaan mendasar. Apakah naskah ini sungguh ditulis dalam bahasa rahasia atau sekadar tipuan yang dirancang untuk membingungkan? Wifrick Vionic sang penemu percaya bahwa manuskrip itu berharga dan memuat pengetahuan medis atau ilmiah kuno. Namun tidak semua
11:39 sependapat. Sejumlah sarjana awal justru meragukan keaslian teksnya. Salah satu tokoh yang ikut menilai naskah ini adalah John Matthew Manley, seorang profesor bahasa Inggris di University of Chicago. Dalam tulisannya di The American Mathematical Monthly di tahun 1921, ia menyatakan bahwa pola kata dalam naskah terlalu konsisten untuk dianggap acak sehingga kemungkinan besar bukan tipuan belaka. Menurutnya, jika benar ini adalah sebuah [musik] sandi, maka sistemnya sangat canggih dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Perdebatan itu menar fase awal dari upaya penerjemah. Sementara sebagian percaya naskah ini hanyalah karya penipu abad pertengahan untuk mencari keuntungan. Sebagian lain melihatnya sebagai pintu masuk menuju bahasa yang hilang atau sistem pengetahuan rahasia. Pertentangan inilah [musik] yang membuat naskah itu semakin menarik karena setiap argumen
12:25 yang muncul justru memperdalam kabut misterinya. Dan misteri manuskrip tidak berhenti di lingkaran akademis. Pada masa perang dunia ketika para cryptografer sibuk memecahkan sandi militer Jerman dan Jepang. Sebagian dari mereka juga meluangkan waktu untuk mencoba menyingkap rahasia naskah Vionik. Salah satu nama yang paling berpengaruh adalah William Friedman, kepala unit kriptography Angkatan Darat Amerika Serikat. [musik] Friedman adalah sosok legendaris dalam sejarah intelijen. Dikenal sebagai orang yang berhasil memecahkan sistem kode Jepang Purple sebelum pecahnya perang Pasifik. Namun di balik kesuksesan militernya, Friedman dan timnya menghabiskan puluhan tahun untuk menganalisis naskah Vionik. Dalam laporan yang kemudian dipublikasikan di NSA Technical Journal pada tahun 1967, Friedman menyimpulkan
13:12 sesuatu yang mengejutkan. Bahwa teks memang menunjukkan struktur linguistik seperti bahasa alami, tetapi tidak ada bukti bahwa ia bisa dipetakan ke bahasa yang kita kenal. Dengan kata lain, naskah itu bukan tipuan sederhana, namun juga bukan sandi militer konvensional yang bisa dipecahkan dengan metode kriptografi saat itu. Kesimpulan ini untuk sementara menutup pintu bagi upaya pemecahan [musik] lebih lanjut. Namun teka-teki itu kembali terbuka ketika dunia memasuki era baru. [musik] Seiring masuknya teknologi komputer pada akhir abad ke-20, metode analisis menjadi lebih canggih. Ahli linguistik dan kriptografi mencoba menganalisis frekuensi huruf dan pola sintaksis. Jackes Guy, seorang ahli linguistik komputer yang menulis pada Cryptoia mengatakan bahwa struktur teks Fionic [musik] memiliki kesamaan dengan bahasa
13:59 alami meskipun bahasa itu belum dikenal. Selain Jacob Sky, [musik] Marcelo Montemuro, seorang fisikawan teoritis dalam jurnalnya yang berjudul [musik] Keywords and Cocurrence Patterns in Vionic Manuscript and Information Theoretic Analysis berargumen [musik] bahwa pola distribusi kata dalam manuskrip sangat mirip dengan bahasa alami yang digunakan manusia. Hal ini menimbulkan dogan bahwa Fionic manuskrip bisa saja merekam sebuah bahasa yang kini sudah punah atau bahkan sebuah kode dari bahasa alami yang telah mengalami transformasi. Bagi sebagian ahli, teori ini cukup meyakinkan karena manuskrip tampak terlalu sistematis untuk sekadar omong kosong atau tipuan. Namun, teori yang berlawanan juga berkembang bahwa manuskrip hanyalah tipuan canggih. Bahkan sejak awal skeptisme muncul. Gordon Drag seorang peneliti dari Kell
14:44 University dalam artikelnya diterbitkan di Cryptologia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknik Carden Grill, sebuah metode kuno untuk membuat teks acak seseorang di abad pertengahan bisa menghasilkan tulisan yang menyerupai bahasa alami. Rock berpendapat bahwa manuskrip [musik] mungkin saja dibuat untuk tujuan ekonomi. Sebuah artefak palsu untuk dijual dengan harga tinggi kepada para kolektor kaya pada masa itu. Argumen ini diperkuat dengan catatan sejarah tentang keberadaan tipuan intelektual di abad pertengahan dan renaisance [musik] ketika banyak sarjana rela membayar mahal demi akses ke pengetahuan rahasia. Namun teori tipuan ini juga menghadapi kritik keras. Jika benar sekadar hoa mengapa teks begitu panjang dan konsisten dalam gaya serta strukturnya? Bagi sebagian ahli terlalu banyak upaya
15:29 yang diperlukan untuk sebuah tipuan. Di titik inilah para ahli linguistik mencoba mengambil jalan yang berbeda. Bukan sekadar menghitung pola [musik] statistik, melainkan membaca teks lewat petunjuk visual yang menyertainya. Dan pada awal abad ke-21, salah satu klaim paling populer datang dari Stephen Be, seorang profesor linguistic the University of Bed Forsare. Pada tahun 2014, ia mengajukan teori bahwa beberapa kata dalam manuskrip bisa diidentifikasi melalui konteks ilustrasi. Misalnya kata yang muncul di dekat gambar tumbuhan bisa jadi merujuk pada nama tanaman tertentu atau teks di dekat ilustrasi bintang bisa menunjuk pada nama astronomi. Dalam artikelnya Bex menegaskan bahwa pendekatan ini serupa dengan bagaimana Jan Francois Champolon berhasil membaca hieroglyp Mesir melalui Roseta Stun. Ia bahkan mengklaim mampu
16:16 membaca kata-kata seperti Taurus atau nama tanaman seperti koriander. [musik] Namun klaim ini dengan cepat dikritik. Banyak akademisi menilai bahwa tafsir Be sangat subjektif. bergantung pada dugaan pribadi, bukan pada sistem linguistik yang bisa diuji ulang. Meski demikian, karya Bex tetap penting karena ia membangkitkan kembali minat akademis terhadap kemungkinan adanya makna nyata di balik teks. Selain BEs, sejumlah [musik] penulis independen dan amatir juga mengklaim berhasil menerjemahkan NASA ini. Pada tahun 2017, Nicholas Gibs, seorang sejarawan medis menulis di The [musik] Times Literary Supplement bahwa manuskrip hanyalah buku panduan pengobatan wanita abad pertengahan yang ditulis dengan singkatan latin. Ia menegaskan bahwa seluruh naskah bisa dijelaskan sebagai kumpulan resep herbal. Namun para pakar segera membatah
17:01 klaim ini. Lisa Virgin Davis, direktur Medval Academy of America dalam salah satu tulisannya di The Guardian menyebut interpretasi gips [musik] tidak dapat diuji dan tidak konsisten dengan bukti linguistik. Kritik ini menegaskan bahwa banyak klaim penerjemahan lebih mendekati spekulasi daripada temuan ilmiah. Namun di luar perdebatan antar individu, perkembangan teknologi membuka babak baru. Pada 2019, tim peneliti dari University of Alberta menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis pola teks dengan melatih algoritma pembelajaran mesin pada berbagai bahasa kuno. Mereka menyimpulkan bahwa manuskrip mungkin ditulis dalam bahasa Ibrani kuno lalu disandikan dengan [musik] anagram. University of Alberta dalam satu artikelnya yang terbit pada tahun 2018 mengklaim bahwa sistem AI mereka mengidentifikasi sekitar 80%
17:49 kata-kata yang sesuai dengan kosakata Ibrani. Namun, Kendati terdengar menjanjikan hasil ini belum diterima secara luas. Para ahli berargumen bahwa algoritma bisa saja menghasilkan [musik] kecocokan palsu atau dengan kata lain menemukan pola yang sebenarnya tidak ada. Deretan klaim ini menunjukkan satu hal, Funic manuskrip terus memancing rasa penasaran lintas disiplin dan generasi. dari akademisi linguistik hingga algoritma kecerdasan buatan, setiap upaya berakhir dengan kesimpulan yang masih menggantung. Gere Kennedy dan Rob Charchill dalam bukunya yang berjudul The Viionic Manuscript, The Mysterious Code that Has Divat Interpretation for Centuris menyebut fenomena ini sebagai [musik] sindrome Vionic, sebuah kecenderungan bagi siapa saja yang mendekatinya untuk percaya bahwa mereka sudah dekat dengan kebenaran. Padahal misteri itu tetap
18:35 tidak terpecahkan. Dengan kata lain, klaim penerjemahan bukan hanya bagian dari sejarah naskah, tetapi juga cermin dari ambisi manusia yang tidak pernah berhenti mencoba memahami yang tidak terjelaskan. [musik]