0:05 Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Rabbi auzubika min hamazati sayatin wubika ayah durun. Rbisrohli sodri waassirli amri wahlul uqdatan lisani yafqohu qauli. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin. Segala puja-puji milik Allah subhanahu wa taala yang atas rahmat, karunia, kasih sayangnya seperti biasa siang hari ini kita belajar bareng lagi di Umanisti Sabil Lulungan TKI yang insyaallah ini menjadi sebuah wadah yang terus-menerus kita menjadi tempat bertumbuh dan kita belajar bersama. Dan mudah-mudahan ini juga menambah tidak hanya menambah wawasan, tapi di beberapa tahun ini kita sudah rutin ya. kita di setiap ee Selasa yang mudah-mudahan juga ini menjadi wahana untuk terus meng-update dan
0:51 terima kasih ee beberapa waktu lalu guru-guru pertanyaannya keren-keren. Ini kita masuk ke topik kedua ya di minggu di bulan ini. Jadi tanggal 1 kemarin udah tanggal 8 hari ini dan minggu depan seperti biasa kita tanya jawab lagi. Nah, sebelum kita mulai ke topik berikutnya mungkin ada e opening speech dari Ibu Ami. Mangga Ibu di-unmute dulu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee selamat siang sampurasun ee Kang Abu ee Ibu-ibu
1:36 guru yang hadir hari ini juga sahabat-sahabat yang sudah on ya di Zoom ee dari Yayasan Humanisi, dari Rumah Belajar Sabilungan dari TK Amanah UMI Padang gitu. Walaupun ini ee berulang-ulang, tapi tetap saya ingin selalu ee menyampaikan dan ee rasa syukur saya ee rasa syukur kami ee dan terima kasih kami kepada semua ee para sahabat-sahabat Yasam Humanisti Rumah R belajar Sulungan dan TK Padang. karena sampai saat ini kita semua dalam keadaan
2:23 baik, keadaan sehat dan masih menjalankan ee tugas kita semua untuk ee mencerdaskan ee anak-anak bangsa. Wah, teman-teman Ibu Bapak, maaf mungkin Bu Ami. Nah, ini sudah mulai lagi. Mangga, Ibu lanjut. Punten sinyalnya punten jelek. Jadi saya kebetulan lagi ada di sekolah jadi ternyata sinyal guru-guru juga naik turun. Jadi itu aja Kang Abu. Hatur nuhun pisan Kang Abu. Kang Abu ternyata sudah ee memberikan pencerahan kepada ee guru-guru dan kami-kami ini hampir menginjak ee 4 tahun berjalan.
3:08 Nah, semoga semuanya sudah makin gampang menyerap ee apa yang disampaikan Kak Abu dan makin ee komit dan konsisten untuk ee mempraktikkan ee khususnya dalam mendidik anak-anak ee kita. Gitu aja, Kang Abu. Hatur nuhun, Has Dayana. Hatur nuhun kepada semuanya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Nuhun, Ibu. Kita tepuk tangan dulu buat Bu Ami. Iya, ya. Enggak kerasnya kita udah 4 tahun loh ya. Enggak kerasa ya. Aduh, mudah-mudahan 4 tahun bersama belajar ada sesuatu ya. E, khususnya buat ibu-ibu guru nih. Wah, tapi keren sih ibu-ibu guru di sini pertanyaan-pertanyaannya selalu relate dan ee asik. Oke, sebelum kita mulai
3:55 seperti biasa kita boleh santai, rileks dulu ya supaya kita hadir utuh di sini saat ini, supaya kita juga fokus dan ee pembelajaran menyenangkan itu adalah pembelajaran yang bahagia. Jadi, yuk kita santai rileks sebentar. Kita hening dulu sesaat. Mari kita santai, duduk aja, diam, enggak ngapa-ngapain. Dan mari menikmati momen kita. Hening, hening, dipersilakan. [Musik]
4:48 Hadirkan diri kita utuh hanya di sini saat ini yang tidak terlalu sibuk dengan pikiran kita ke masa depan maupun masa lalu. Hadir utuh di sini saat ini. Rileks. [Musik] Hanya perhatikan nafas keluar dan masuk. Hanya bersaksi. Hanya nikmati apa yang terjadi. Tidak perlu menilai, tidak perlu menganalisa. [Musik] Dan izinkan dirinya untuk istirahat sejenak, jiwanya untuk istirahat sejenak. hanya untuk hadir utuh di sini saat ini.
5:38 Situasi apapun, kondisi apapun, mari kita hadir untuk tidak terjebak dalam memori masa lalu dan ilusi masa depan. [Musik] Wahai para jiwa, istirahatlah sejenak. Istirahatlah dari kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan apapun yang memberatkan, istirahatlah sejenak. Izinkan dirinya untuk hadir di sini saat ini.
6:24 Lepaskan semua yang masih digenggam, dipegang. Lepaskan. [Musik] Saat pikiran membawa ke masa depan, saksikan dan kembalikan nafas. Dan saat pikiran membawa ke masa lalu, saksikan dan kembali ke nafas. Biarkan nafasnya lebih panjang. [Musik] Lebih lambat.
7:12 Karena nafas yang lebih panjang dan lebih lambat, kita sedang memberikan sinyal ke tubuh kita bahwa aku lagi baik-baik saja. Syukuri setiap tarikan nafas dan buangan nafas dan berterima kasihlah kepada dirinya. [Musik] Terima kasih [Musik] bersyukur [Musik] mengalir santai, senyum dan pasrah
7:58 hadir utuh di sini saat ini. Tenang aja. [Musik] Nikmati saat-saat ini. Kita istirahat sejenak. Kita rehat sejenak. [Musik] dan tidak tergesa-gesa, santai dan
8:44 rileks. [Musik] Boleh kita mengusap wajah kita penuh dengan syukur dan boleh membuka mata perlahan-lahan. [Musik] Terima kasih, Ibu dan Bapak. Semoga lebih tenang, lebih santai, lebih rileks untuk kita belajar di siang hari ini. Kita tahu siang-siang ini kan agak PR ya kita belajar. Tetapi mudah-mudahan apapun distraksi ee siang hari ini kita bisa belajar dengan lebih baik dan bisa lebih hadir untuh di sini saat ini. Oke, Teman-teman kita sudah belajar kemarin
9:31 kita lagi berbicara tentang diri kita yang banyak merekam, diri kita yang banyak menggagas gitu ya. Kita tuh perekam ulung, kita tuh penggagas yang suka mengada-ngada bahkan terlalu banyak mengada-ngada. gitu. Dan yang paling terpenting lagi, yang diperlukan lagi ya kita juga perlu meneliti, menelaah, menyelidiki apa sih yang sebetulnya kita gagas. Karena kita tuh sok-sok ngide, tapi kadang-kadang ide-idenya itu yang ngebuat kita jadi overthinking. Ya kadang-kadang kita tuh mengada-ngada sesuatu yang ngebuat kita akhirnya jadi sedih gitu, jadi marah. Itu gara-gara diada-adain aja sih, gitu. Kumpulan rekaman-rekaman yang kita padu padankan menjadi prasangka. yang kita padu
10:18 padankan menjadi apa ya ekspektasi gitu. Dan pada akhirnya semua hal yang kita enggak suka kadang-kadang memang ya dibuat-buat sendiri sih gitu ya. Dan kalau kita tidak banyak menyadari gagasan-gagasan kita ee kalau kata orang Sunda tuh karep ya, keinginan, ekspektasi ya kita akan terjebak hanya berputar-putar di wilayah gagasan-gagasan itu terus gitu. Ya, ingat kita tuh ahli banget dalam ngarang aja. Pokoknya ngelihat sedikit, oh karangannya bisa panjang banget ya. Ngelihat selewat, wah itu mengada-ngadanya bisa panjang banget gitu. Nah, saya ingin kembali dulu ke pembelajaran kita ya. Kita lagi ada di
11:03 modul yang namanya Iceberg Model for System Thinking. Ya, beten ya ini bahasanya agak-agak gimana banget gitu tapi kita permudah. Tapi yang jelas kita bisa mendapatkan manfaat pemahaman dan pengertiannya gitu. Oke, Teman-teman kita sudah bahas panjang lebar kemarin di pertemuan kemarin kita bicara dalam konteks yang namanya iceberg model system thinking. Saya ulangi sedikit supaya nanti kita bisa lebih ngerti ternyata apa yang tampak di permukaan itu tidak semudah atau tidak segampang atau ya kita perlu berhati-hatilah dalam konteks melihat apapun konteksnya. intinya adalah hati-hati dengan apa yang kita lihat di
11:49 area-area yang namanya permukaan gitu ya. Di permukaan ini dalam konteks ini disebut event gitu. Karena kenapa? Sebuah event, sebuah perilaku permukaan itu pasti ada pattern sama trennya. Di sini kita bicara dalam konteks yang namanya perilaku gitu ya. Jadi kalau kita ngelihat orangnya seperti itu, coba jangan langsung menilai dulu gitu. Kenapa? Karena dia seperti itu pasti ada yang mendasarinya. Ini kalau saya pakai bahasa lebah ya, Teman-teman. Selalu diulang-ulang dulu, gitu. Bahwa yang terjadi pada apa yang terlihat itu sekitar 1%.
12:36 Yang tidak terlihatnya itu 99%. Ya, jadi hati-hati jangan sampai yang 1% itu menimbulkan keputusan. Keputusan sesaat dengan konsekuensi seumur hidup gitu. Itu hati-hati tuh ya. Kadang kita mengambil keputusan terlalu cepat, jangan lupa ngambil keputusannya terlalu cepat, tapi konsekuensinya bisa panjang loh. Makanya tidak cepat menilai, tidak cepat reaktif, tapi kita selalu berhati-hati. Saya rasa itu yang perlu kita latih dalam keseharian kita. Karena apapun yang terjadi pada diri kita sekarang itu kebanyakan adalah reaktif penilaian jangka pendek dengan konsekuensi seumur
13:21 hidup. Nah, itu saya pakai bahasa lebai ya. Supaya kita kalau mau ngambil keputusan tuh rada mikir sebentar, diam sebentar untuk menyadari bahwa boleh jadi kita mengambil dengan emosi sesaat tapi sakitnya bisa lama gitu. Nah, daripada sakitnya lama mending menunda keputusan untuk membuat kita lebih sehat itu ya. ini digaris bawahi jangan lupa. Oke. Jadi kalau saya boleh kasih gambaran ya teman-teman. Misalkan kita ketemu orang yang langsung kelihatan ini namanya event permukaan.
14:07 Oke. Saya sering nanya sih gini, kalau kita lagi ngaca yang kelihatan sama yang enggak kelihatan lebih banyak mana sih? Gitu. Nih kalau lagi enggak sadar jawabannya suka cepat ya kelihatanlah. Tapi jangan lupa, yang tidak terlihat itu akan jauh lebih banyak daripada yang terlihat. Makanya kalau saya pinjam dalam perspektif Quran yang terlihat itu disebut zahir lahiriah. Tapi jangan lupa ada bagian kita yang enggak usah jauh-jauh. Otak enggak kita lihat, syaraf enggak kita lihat, lambung enggak kita lihat, paru-paru tidak kita lihat, 50 triliun sel enggak kita lihat. Wah, banyak banget loh yang kita enggak
14:52 lihat gitu. Makanya dalam perspektif Quran yang tidak terlihat itu disebut yang namanya wilayah yang namanya batin. Kita bisa melihat tubuh biologisnya, tapi kita tidak pernah melihat bagaimana dia berpikir dalam konteks tubuh psikologisnya. Maka dalam tabel tadi di iceberg level, the iceberg system thinking yang terlihat itu adalah permukaan. Yuk, teman-teman jangan jadi manusia permukaan. Karena kalau kita ngelihat permukaannya aja, wah kita enggak pernah ngelihat nih kalau ini 1% yang 99%-nya tuh enggak kelihatan gitu. Maka kalau kita pengin merubah, anggap
15:39 aja ya permukaan ini kita sebut kalau di pohon itu buah aja. Memang sih yang kita tunggu buah, yang kita ambil langsung buahnya. Tapi untuk mencapai menjadi buah enggak bisa. Kalau enggak dia enggak punya akar tuh enggak mungkin ya. Sehingga nanti kita ngerti bahwa buah yang baik itu datang dari akar yang oke. Memperbaiki buah enggak bisa kalau enggak diberesin dari akarnya gitu. Nah, akarnya ini kita sebut yang namanya mental models. Dan setiap orang mental models-nya beda-beda. Nih, tolong ingat ini baik-baik
16:24 ya. Akarnya itu adalah di mental models. Jadi, maaf ya, kalau kita mau berubah tapi tidak merubah mental model kita, udahlah jangan harap. Ini kita sudah 4 tahun belajar nih. Yang dirubahnya buahnya terus, tapi mental modelsnya enggak dilatih, enggak bisa. Makanya tiap pertemuan gini kan sebetulnya menambah pengetahuan, tetapi belum tentu merubah mental models. Dan mental models itu dirubah lewat apa? Enggak bisa kalau enggak latihan. Kenapa? Karena mental models ini isinya apa? Paradigma atau yang disebut dengan yang namanya mindset. Kalau 4 tahun ini mindsetnya selalu sama, enggak akan ada perubahan aja. Tapi saya ngelihat dari perkembangan pertanyaannya guru-guru, wah keren banget sih. Terasa gitu perubahan mental models-nya,
17:11 terasa perubahan mindsetnya gitu ya. Karena dalam konteks yang namanya mental mods akarnya itu terjadi dalam wilayah apa? Keyakinan. Nah, keyakinan ada di sini. nilai. Oke. Asumsi. Wah, ada di sini semua. POV lah kalau kata anak-anak sekarang. Dan sistem kebudayaan di mana kita lahir itu juga menopang yang namanya mental model kita gitu. Maka kita lahir di mana, orang tua kita siapa, lingkungan kita siapa, mental modelnya beda. So, saat kita ngerti tidak menjadi manusia permukaan, tapi manusia yang mendalam,
17:58 ya. Jadi, kalau ngelihat tubuh eh tubuh kalau ngelihat orang gitu ya di permukaan itu kayak ngelihat ee permukaan danau lah gitu. Tapi jangan lupa esensinya tuh adalah dasarnya sebetulnya. Makanh, makanya belajarlah kedalaman karena permukaan itu bisa bias menipu dalam tanda petik gitu ya. Nah, Teman-teman jangan lupa si mental model ini membentuk pola. Ini kalau orang yang suka ngejahit pasti ngerti tuh faktor-faktor sistemik yang memunculkan pola. Karena yang paling bikin, yang paling susah itu bikin pola sebenarnya. Kalau polanya udah jadi tinggal ngulang
18:44 sebenarnya, maka pola yang terjadi kejadianlah terjadi yang namanya kejadian berulang. Akhirnya jadi habits gitu. habits jadilah yang tertampak. Jadi itulah kenapa ada mental models, system structure, pembentukan pola, pattern pola itu sendiri yang akhirnya menjadi event. Jadilah tampakan-tampakan kita seperti yang kita lihat sekarang. Jadi, Teman-teman, kalau kita ngelihat orang seperti itu, ingat loh ya, panjang loh ceritanya. Maka jangan buru-buru pengin merubah orang. Anyway, enggak bisa sih. Jangan berharap buru-buru orang itu berubah. Enggak bisa. Kenapa? Wah, dia mundurnya jauh loh. Dia
19:30 ngerubah habits-nya dulu, ngerubah polanya dulu, ngerubah mental modelnya. Panjang gitu ceritanya, gitu ya. Nah, jadi saya balikin dulu nih supaya kita lebih ngerti bahwasannya segala bentuk yang terlihat yang namanya event itu pasti datang dari 99% di bawahnya ya. Nah, event ini akan menarik realitas gitu. Jadi kalau mentalnya miskin, event-nya miskin misalnya gitu. mentalnya kaya, event-nya kaya. Meskipun nanti kita ngerti ya, miskin kaya itu bukan hanya urusan materi gitu. Intinya
20:20 mentalnya sempit, hidupnya sempit gitu. Jadi apapun yang terjadi pada diri kita sekarang itu ditentukan oleh akar mentalnya. Jadi kalau kita enggak ngerubah mental, enggak ngerubah hidup aja udah dah gitu ini. Nah, makanya semua tradisi agama, coba deh kita renungkan ya. Semua para nabi dan rasul dia tidak membawa event tapi dia merubah mental model gitu. Inilah yang disebut Nabi Muhammad hadir untuk memperbaiki akhlak gitu ya. Nah, jadi kalau kita bicara dalam konteks yang namanya mental models, sekali lagi, what belief stimulate that behavior? Kalau kita percaya kepada sesuatu, itu
21:07 yang akan mempengaruhi mental model kita, gitu. Jadi, kalau kita sekali lagi ya, kalau kita tidak memperbaiki mental model, kita akan tidak memperbaiki event. Maka event itu ekspresi dari mental model ya. Saya pakai bahasa ekspresi ya. Mental modelmu menentukan kualitas dirimu karena itu ekspresi. Nah, makanya orang kadang-kadang ngerubah fisiknya dalam tanda petik, ngerubah tampilan fisiknya pakai barang bermerek semua, tapi mental modelnya enggak berubah. Enggak happy aja hidupnya. Udah pasti.
21:52 Kenapa? Dia cuman ngerubah event, dia cuman ngerubah tampilan, dia cuman ngerubah permukaan, tapi bawahnya akarnya enggak enggak diganti gitu. Makanya buahnya tetap asem gitu misalnya ya, Teman-teman ya. Mudah-mudahan kita mulai mengerti ini, gitu. Sehingga mau enggak mau, suka enggak suka start dari konteks yang namanya si mental model itu. Nah, pembelajaran kita setiap pembelajaran itu adalah dalam tanda petik ngacak-ngacak mental model lama gitu, Teman-teman. Maka tipikal satu manusia itu namanya reaktif. Orang yang reaktif itu pasti dikontrol
22:38 oleh faktor eksternal gitu. Tapi tipikal duanya manusia sistem satu itu reaktif itu namanya responsif. Kalau responsif pasti ada keberhati-hatian di situ. Ada hati-hati aja mau memilih hati-hati. Kalau pinjam statement-nya Rumi itu sebelum kamu ngomong coba perhatikan apakah itu baik, apakah itu perlu, apakah itu bermanfaat. Kan kalau langsung respon eh kalau langsung reaktif dengan ee kebiasaan ya boro-boro mikir tiga. Pokoknya enggak suka sikat, enggak suka marah, enggak suka bikin status gitu. Nah, itu reaktif. Orang yang reaktif itu kayak
23:24 binatang ternak gitu. Dia ngikutin aja tuh sama yang menernaknya. Ke sini ngikut, ke sana ngikut. Udah aja. Makanya orang yang reaktif itu dia diperbudak oleh faktor eksternal. Jadi budak gitu. Yang namanya jadi budak ya enggak bebas, enggak merdeka gitu ya. Nah, jadi balik lagi tuh. Yuk kita mulai sadari. Apalagi tadi Bu Ami sudah bilang kita 4 tahun nih. 4 tahun ini mental model apa aja yang berubah, pembentuk pola apa aja yang berubah, pola apa yang berubah, event kejadian realitasnya, perubahannya seperti apa. Yang hanya yang tahu tuh cuman kita loh.
24:10 Dan perkembangan setiap kita enggak ada yang sama gitu ya, Teman-teman ya. Ini ini perlu banget nih. Nah, kemarin kita sudah bahas nih. Jadi ini tolong diingat baik-baik di-save nih ya. Jadi ada empat poin gitu. Nanti kita dalamin satu-satu. Tapi yang jelas setiap kita ngelihat apapun mau di sosial media mau ketemu langsung ingat aku cuman baru ngelihat permukaannya. Entar entar tahan dulu nih. Jangan langsung menilai. Jangan reaktif. Entar dulu. Kenapa dia bisa senyebelin itu? Oh. Oh, ternyata pola asuhnya gitu. Oh, ternyata dia fatherless gitu. Oh, ternyata mental. Ah, ya udah. Alih-alih
24:56 kita menilai membenci, kita jadi ngerti gitu. Alih-alih kita menilai untuk merendahkan kita jadi mengerti. Makanya kalau kita lebih banyak hidup dengan pengertian, nah akan menimbulkan tingkat emosi yang baik gitu, Teman-teman, ya. Nah, satu. Nah, sekarang kita mau bicara dalam konteks. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita itu akan terjadi aksi yang menimbulkan reaksi. Ini enggak bisa lepas aja udah. di mana aksi itu datang dari mana? Keputusan.
25:44 Dan pengambilan keputusan ini enggak mudah memang, tapi langkah-langkahnya kita sudah enggak ingat. Pokoknya langsung diputuskan aja. Nah, kemarin kita sudah bahas keputusan itu datang dari software yang namanya jiwa. Katakanlah begitu. di mana si jiwa ini adalah hasil dari rekaman seumur hidup. Dan sifat jiwa itu tukang menggagas, mengada-ngada, memberikan ide. Jadi, keputusan itu akan terjadi dari gagasan-gagasan yang datang dari rekaman-rekaman yang kita punya. Rekaman tiap kita beda-beda, jangan lupa. Jadi, gagasannya pasti beda, gitu.
26:32 Nah, orang yang tidak punya waktu untuk menyelidiki gagasannya jeda, dia akan menggunakan pola lama terus, gitu. Nah, kalau pakai bahasa orang yang menyelidiki atau jeda terhadap gagasannya, itulah yang disebut iqra. Karena si gagasan ini oh enggak bisa enggak dia akan ada terus tuh. Ingat ya, kemarin gagasan atau rekaman yang paling besar dalam hidup itu namanya harta. Udah aja, gengsi, kekuasaan. Nah, ini kalau di apa ya? Kalau di dalam tanda petik lah ya, diganggulah gitu. Wah, udah tuh.
27:19 Makanya melekat paling tinggi itu rata-rata ketiga poin ini. Makanya jadinya kemelekatan ya. Bukan berarti jangan cari harta bukan. Tapi jangan melekat dan jangan diperbudak oleh harta. Itu poinnya. Karena ingat setiap rekaman ke dalam jiwa kita itu benda hidup makhluk. Dan dia akan seeking for attention. Dia akan minta atensi terus. Dia akan minta makan terus dan dia akan mencari validasi terus gitu. Ya, yang paling kencang tuh harta, gengsi, dan kekuasaan. Makanya ini susah lepas selama atau sebelum kita bisa melepaskan kemelekatan, oh dia akan mengganggu terus gitu. Makanya begitu dapat hartanya R.000, R10
28:06 juta misalnya, dia menggagas, "Duh, kalau R juta kayaknya enak deh." Nah, mulai itu R jutanya jadi enggak kerasa syukur. Kenapa? Ada gagasan kalau lebih itu kayaknya lebih oke. Jadi enggak happy tuh. Kenapa menggagas? Ngelihat kanan kiri. Ih itu kayaknya lebih oke deh. Pengin lebih oke deh. Pengin. Jadi akhirnya tidak menikmati yang ada. Sibuk nyari yang enggak ada gitu. Datang dari mana? Gagasan loh. Siapa yang menggagas? Ya kita lah gitu. Jadi kalau nanti kita ngerti bahwa sumber ketidakbahagiaan datang dari mana? Bukan dari orang lain. Kamunya terlalu menggagas sesuatu yang enggak jelas gitu. Quote and quote ya.
28:55 Nah, sekarang kan berarti yang perlu untuk kita sadari adalah gagasan-gagasan apa sih yang kejadian dalam waktu 1 bulan ini? Dan itu datang dari mana? permainan pikiran, perasaan, dan emosi. Teman-teman jangan lupa ya, saya selalu mau ngulang-ulang. Pikiran kita sehari itu punya 70.000 loh. Sehari loh 70.000 dan 75%-nya negative thinking dan 90%-nya sama lagi mikirnya itu-itu lagi. Coba kebayang enggak? 75% negative thinking mikirnya itu-itu lagi di 70.000 Ibu pikiran yang dipikirin, aduh ngeluh
29:42 terus hidupnya. Coba gimana? Tapi penginnya berubah hidupnya gitu. Pengin lebih baik doa ya Allah lebih baik. Tapi ngeluh terus gitu dalam keseharian. Ini jadi pola loh, jadi pattern. Dan kalau enggak disadari diulang lagi, diulang lagi, diulang lagi, diulang lagi gitu kebayang enggak? Sehingga bukan kita menggunakan pikiran malah kita dipakai pikiran. Jadi yang kemarin saya cerita ya, kalau ada dua orang berantem pukul-pukulan, mereka enggak pukul-pukulan kok. Gagasan yang menggunakan A dan gagasan yang menggunakan B dia digunakan oleh gagasannya, oleh nafsunya, keinginannya untuk saling berantem. Jadi yang berantem tuh gagasannya sebenarnya
30:30 cuman pinjam kita gitu. Gagasan pinjam mulut untuk teriak. Berarti kalau orang berteriak dia kan enggak ngerasa didengar, berarti dia pengin didengar. Ya, dapat ya. Sehingga hati-hati nih sama gagasan nih. Karena gagasan itu hasil dari mana? Dari rekaman. Jadi setiap ada gagasan yang muncul coba ditelaah, diteliti, inquir bahasanya, diselidiki, diikro. Kalau yang kira-kira enggak penting-penting amat ya enggak usah diokein gitu. Nah, makanya orang yang tidak menyelidiki gagasannya, waduh itu susah bertumbuh tuh
31:18 karena dia akan menggunakan pola yang lama terus. Ya, dapat ya, Teman-teman ya. Jadi nanti ini kaitannya ke mana? Pikiran, perasaan, dan emotion. Enggak bisa enggak enggak bisa lepas dari ini aja udah ya. Dan ini waduh berkecamuk terus loh. Terutama berkecamuk dari mana? Dipancing oleh dengar lihat. Dengar lihat dengar lihat. Maka apa yang kamu dengar dan apa yang kamu lihat itu mempengaruhi rekamanmu. Maka teman-temanmu, lingkunganmu mempengaruhi rekamanmu. Ya, kalau di sosial media, siapa yang kamu follow di TikTok? itu menentukan rekaman kamu loh gitu
32:05 ya. Jadi kan ada satu anekdot ya kasih kamu kasih saya lima teman kamu aku akan tahu kamu perilakunya kayak apa gitu. Karena ccle membentuk pola. Jangan lupa ccle bisa membentuk mental model gitu ya. itu perlu direnungkan dan itu perlu dianalisa gitu. Nah, sekarang berarti kita start dulu dari konteks yang namanya emosi nih. Karena emosi mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi pikiran, pikiran mempengaruhi keputusan. Ingat, kalau udah jadi keputusan udah berlaku hukum karmanya, udah berlaku
32:50 hukum konsekuensinya. Jadi kalau bisa sebelum diputuskan pikirin masak-masak siap-siap enggak dengan konsekuensinya gitu. Nah 98% orang ngomong dulu enggak tahu enggak enggak enggak menyadari konsekuensinya. Jadi ya udah hajar dulu tapi enggak sadar sama konsekuensi. Nah, itu tidak mengambil keputusan dengan sadar namanya. Itu namanya mabuk gitu. Ah, udah pokoknya gini deh gitu. Nah, tadi tuh keputusan jangka pendek tapi bisa menderita seumur hidup jangka panjang. Jadi jangan terjebak dengan keputusan yang enak sesaat tapi menderita selama-lamanya gitu. Misalnya ini lebainya gitu aja. Nah, ini saking perlu kita hati-hati
33:36 dalam mengambil keputusan karena kenapa? Tidak ada yang akan mengambil konsekuensi terhadap keputusan kita kecuali diri sendiri. Enggak bisa diwakilkan sama orang lain. Enggak bisa. Ingat ya, hidup itu enggak bisa diwakilkan. Nah, berarti kita perlu tahu mekanisme yang terjadi pada emosi kita. Nah, saya pinjam nih peta emosi, Teman-teman. Wah, ini lihat keos banget gitu. Jadi ada happy, ada surprise, ada buruk, ada ketakutan, angry. Ini eh apa namanya ya istilahnya ee banyak distorsi lah gitu ya, kira-kira sedih.
34:28 Nah, kalau kita mulai menyadari kinerja emosi kita, tahu emosi kita, jadi kan kenapa sih ilmu tertinggi dalam hidup itu mengenal diri gitu ya? Ilmu tertinggi itu tahu gimana engineering kita. Oh, ternyata basic emotion itu kalau enggak bahagia, happy, surprise, eh apa namanya? Terkejut, terjadi keburukan, ketakutan, marah, jiji, dan sedih. Wah, nanti ini anak-anaknya banyak banget nih. Tapi basic point-nya cuman ada 1 2 3 4 5 6 7. Ada tujuh aja. Ini
35:13 basicnya ada di sini aja. Gampangannya begitu. meskipun ini kalau dibedah panjang kali lebar kali tinggi, wah lebih banyak lagilah gitu intinya ya. Nah, sekarang kita renungkan begini teman-teman ya. Kita renungkan begini. Basic desain melakukan sesuatu itu kata kuncinya adalah bahagia, happy, atau sedih. Dah, itu aja. Ini basicnya cuman ada dua aja. Makanya nanti yang satu suka, yang satu benci, gitu. Nah, orang yang menggagas dalam keadaan
35:59 aneh-aneh ya, kepikiran aneh-aneh itu rata-rata datang kalau dia lagi enggak happy. Ini pasti gagasannya destruktif gitu. Jadi kalau kita jarang bahagia, nah udah mengada-ngadanya tingkat dewa gitu kira-kira. Tapi ada satu common issue, ada satu kebiasaan yang sama bagi setiap orang. Orang tuh sebentar happy, sebentar sedih. Udah gitu aja. Ini mau di level ke mau di level giman pun gitu. Kalau enggak dilatih gitulah bahasa gampangnya. Mulur mungkret. Kalau kata Suryomentaram
36:46 artinya apa? Ya, sebentar happy, sebentar enggak. Nah, sekarang coba sadarin deh. Sehari-hari kita gampang happy atau gampang sedih? Udah itu aja. Berarti kalau kecenderungan ke gampang sedih, nah gagasannya banyak yang destruktif. Pasti mengada-ngadanya ya tadi yang saya bilang tingkat dewa gitu. Nah, yang menarik happy itu di antara semua emosi yang membuat gagasan itu konstruktif cuman satu dibanding tujuh gitu, Teman-teman. Jadi memang untuk bahagia tuh enggak mudah sih gitu. Enggak mudah loh jadi bahagia tuh enggak mudah. Jadi kalau sekarang makan pecelele difoto cetrek, posting bahagia itu
37:35 sederhana bukan itu mah senang. Beda loh ya. Beda antara senang dan bahagia tuh beda. Nanti kita ngerti. Apalagi nanti bahagia itu nanti urusannya sama konteks yang namanya komunitas. Karena kebahagiaan itu dalam konteks yang namanya kebersamaan. Jadi kita menciptakan kebahagiaan bersama gitu. Ini untuk satu pengetahuan ya. Negara-negara Nordik Finlandia itu disebut sebagai negara yang paling bahagia sekarang. Indonesia itu ranking 80 lah gitu. Lucu sih memang religius tapi tingkat kebahagiaannya enggak terlalu oke gitu. Nah, apa coba pertanyaan yang ditanyakan kepada orang-orang Finland sebagai
38:20 negara yang bahagia? Pertanyaan yang sederhana adalah kalau kamu ketinggalan barang di stasiun kereta atau di mall, deg-degan enggak? Jawaban mereka enggak. Kenapa? Karena tahu bahwa ketinggalan barang enggak akan ada yang ngambil. Kenapa? Karena masyarakatnya ngerti bahwa memegang barang book orang lain itu bukan hak aku. Jadi, aku enggak akan ngambil. Jadi, mau ketinggalan barang di mana pun buat dia enggak takut. Kenapa? Semua orangnya tidak akan usil sama barang orang lain. Nah, itu indikator kebahagiaan bersama gitu. Nah, sok saya tanya sekarang ketinggalan handphone di pasar. Ah, ya udah. Terus yang nemunya apa coba? Ih, rezeki anak saleh. Nah,
39:05 diambil lagi gitu. Rezeki anak saleh gitu. Gimana ya? Itu menarik tuh. Gitu. Jadi memang enggak terbiasa dengan hal-hal privasi yang enggak dilatih gitu ya. Paham ya? Pertanyaan yang di negara-negara bahagia tuh. Pertanyaan berikutnya, kalau kamu sakit, negara ngerasa care enggak sama kamu? Iya. Happy. Berarti kalau anak kamu pulang jam 11.00 malam, deg-degan enggak? Enggak tuh. Kenapa? Ya tahu kok. Salah satunya sama saling mengamankan gitu. Nah, jadi sekarang pertanyaannya adalah
39:51 bahagia tuh enggak mudah sih sebenarnya karena bisa bicara dalam konteks yang namanya kolektif gitu. Maka perlu yang namanya simulasi ya. sama nih ya ibu-ibu di sekolah, ibu guru di sekolah. Apalagi perbanyaklah simulasi untuk murid-murid itu mengalami langsung karena mereka enggak akan berubah karena sering dikasih ceramah gitu misalnya. Oh, spanduk segede-gede dilarang buang sampah di sini tetap aja dibuang. Ada tulisan kebersihan sebagian dari iman tetap aja dibuang. Kenapa? Karena enggak terlatih masalahnya masyarakat kita itu lebih terlatih diceramahin daripada terlatih untuk dilakukan gitu
40:39 gitu ya. Nah, makanya contoh itu jauh lebih berteriak daripada kata-kata. Nah, kata-kata kaitannya sama vibrasi gitu yang kemarin kita bahas. Dan kalau kita bicara di sini, ingat ya sekali lagi, happy 1 dibanding 7 berarti menggagas hal-hal yang super dewa jadi destruktif itu kemungkinannya lebih besar daripada menggagas hal-hal yang konstruktif gitu. Gitu ya, Teman-teman. Makanya penemu enggak banyak sih ya. ee yang banyak pemakai, yang banyak followers, yang banyak usernya, bukan inventornya gitu ya. Gimana orang ee gagasan-gagasannya
41:27 banyak yang destruktif kok gitu. Misalnya kalau ngomongin pikirannya ke masa lalu itu jadi memori, ke masa depan itu jadi ilusi, ke masa lalu banyak kecewa, ke masa depan jadi overthinking. Ini yang sering saya tanya sih. Orang yang ke masa depan, ke masa lalunya sering banget. Masa lalu kecewa overthinking, kecewa overthinking. Pertanyaannya, kamu bahagianya kapan sih overthinking sama kecewa mulu tiap hari? Gitu lah. Berarti kan kalau mental modelnya enggak diberesin gimana coba? Dan mental model yang tidak diberesin, mental model yang tidak dilatih enggak akan berubah. Jadi enggak bisa lewat ceramah, enggak bisa. Perlu yang namanya simulasi. diajarin, diberikan contoh. Kenapa diajarin dan
42:14 diberikan contoh? Itu yang akan membentuk program mental model gitu intinya. Oke ya, Teman-teman ya. Mudah-mudahan dapat nih, mudah-mudahan mulai diertiin, mudah-mudahan mekanisnya mekanismenya mulai oke gitu. Nah, nanti kita akan bahas satu-satu nih supaya at least oh kalau misalnya aku lagi excited ternyata bukan gimana-gimana ya hati-hati juga gitu. Excited itu enggak di wilayah happy. Excited yang berlebihan itu juga enggak bagus gitu. Makanya nanti di sini ada suka dan benci. Kalau kita melakukan karena suka itu
42:59 enggak objektif. Kalau kita melakukan karena benci juga enggak objektif. Nah, nanti kita belajar di titik tengah gitu. Nah, di sini titik sadarlah bahasa gampangnya ya, Teman-teman ya. Makanya kenapa sih prinsip yang penting yang perlu untuk kita kedepankan adalah kolaborasi gitu. Karena nanti ujung-ujungnya antara suka sama benci aja. Contoh nih ya, ada dua orang, si A sama si B debat. Ya, ini yang paling gampang yang lagi happening terdebat agama aja. Si A pengikutnya 500, si B pengikutnya 500, agamanya beda. Debat agama. Pulang mau 3
43:45 hari 3 malam debat yang 500 tetap jadi A, yang 500 tetap jadi B juga sih. Udah enggak ada perubahan. Kenapa? karena dia tidak melihat objektif, karena dia berdasarkan suka dan benci gitu. Nanti urusannya dukung-dukungan gitu. Nah, yang bahaya kalau udah urusan suka yang didukungnya salah pun dia akan nyari pembenaran-pembenaran untuk membenarkan. Ah, udahlah enggak apa-apa. Kenapa? Dasarnya suka, bukan netralitas, bukan objektif gitu. tidak seapa adanya, tidak ontologis gitu bahasanya, ya. Nah, jadi kalau sekarang kita bicara kenapa di Quran misalnya 57 ayat 23,
44:31 kalau kamu kehilangan sesuatu jangan terlalu sedih. Kalau kamu dapat sesuatu jangan terlalu happy. Di tengah-tengah aja. Jadi belajar jadi B aja tuh perlu loh. Udah biasa aja. Jangan happy. Terlalu happy. Kenapa? Nanti begitu hilang sakit loh jatuhnya. Apalagi jangan sedih, terlalu sedih, susah naiknya juga gitu. Nah, saat kita ada di titik tengah, saat kita ada di titik sadar, saat kita ada di titik objektif, kita tidak terjebak oleh suka dan benci. Enak kan? Kalau di objektif itu ngalir gitu bahasanya. Jadi enggak fanatik gitu ya. dan belajar jadi biasa aja tuh enggak bisa untuk urusan gengsi. Oh,
45:16 gengsi itu pengin dikasih makan terus. Susah loh kalau orang enggak latihan untuk tidak kepo, dia susah jadi orang yang tidak kepo. Oh, bawaannya pengin kepo mulu gitu. Usil sama urusan privasi orang. Karena kenapa? Dilatih masalahnya. Dia ngelihat ibu bapaknya gitu. Oh, ibu bapaknya juga kepo kok gitu ya. Anaknya otomatis kepok lah. Tapi si ibu bapaknya ngelihat anaknya kepo. Aneh. Kamu jangan kepok lah. Ibu bapak yang ngasih program saya kepo kok gitu. Gimana coba? Berharap anaknya enggak kepo tapi tiap hari dipertontonkan kekepoan orang tuanya. Kan enggak make sense ya gitu.
46:03 Nah, jadi nanti ngerti juga ya bahwa ujung-ujungnya peliharalah dirimu dan keluargamu. Ujung-ujungnya kan Kediri juga. Udahlah sekarang kalau kita ngomongin Indonesia emas ya okelah, tapi udah enggak usah ngomongin Indonesia lah, ngomongin diri aja dulu gitu. Karena kita berusaha pengin merubah yang gede gitu tapi circumstance eh apa atmosfer lah bahasanya gitu ya. Yang terdekat yang paling kecil enggak diapa-apain nih. Enggak bisa gitu. Oke ya teman-teman ya. Jadi mudah-mudahan di tahapan ini kita mulai lebih paham, mulai lebih ngerti. Oh, ternyata kaitan kita adalah konteksnya adalah dari emosi. Nah, nanti ini di pertemuan minggu ketiga kita akan bahas detail
46:48 karena kan minggu depan kita tanya jawab ya. Nah, ini kita nonton dulu sebentar karena kita akan ngerti gimana sih mekanisme yang terjadi pada diri kita supaya at least nanti kita ngerti, oh ternyata mekanisme yang terjadi pada diriku tuh kayak gitu toh, gitu ya. supaya nanti kita lebih ngerti lagi. Kalau kita ngerti bagaimana mekanisme itu terjadi, kita akan lebih mengerti dan lebih mudah untuk kita bisa memahami. Oke, enjoy. Kita lihat, cek pelan-pelan yuk. When we hear the word emotion, most of
47:33 us think of love, hate, happiness, or fear. Those strong feelings we experience throughout life. Our emotions are the driving force behind our behaviors. Helpful and unhelpful. Just where do our emotions come from? Our brain is wired to look for threats or rewards. If one is detected, the feeling region of the brain alerts us through the release of chemical messages. Emotions are the effect of these chemical messages traveling from our brain through the body. When our brain detects a potential threat, our brain releases the stress hormones, adrenaline and cortisol, which prepare us for a fight or flight response.
48:18 When we detect or experience something rewarding, such as someone doing something nice for you, our brain releases dopamine, oxytocin, or serotonin. These are the chemicals that make us feel good and motivate us to continue on the task or behavior. In these instances, the feeling region of the brain kicks in before the thinking part. Sometimes the reactions of the feeling brain are so strong that it dominates our behaviors and we're unable to think rationally in the moment. Our emotions hijack our brain. While many of our emotional responses happen subconsciously, our thinking can influence our emotions and sometimes this can be unhelpful. Just thinking about something threatening can trigger
49:04 an emotional response. This is where we can manage our emotions with conscious thinking. Our emotions play a powerful role in the way we experience the world. Understanding and regulating our emotions through our thoughts and behaviors can help us take greater control of our brain and achieve our goals. Oke, jadi video tadi mau menggambarkan bahwa kita ini pabrik kimia. Kita enggak bisa lepas dari chemistry atau proses kimia di dalam tubuh kita. dan emosi datang dari situ. Jadi, Teman-teman paham ya, kenapa tubuh, psikologi, pikiran, perasaan, emosi,
49:50 semuanya nyambung. Enggak bisa enggak. Tidak menjaga tubuh, tidak memperbaiki emosi. Emosi enggak baik, perasaan enggak oke, pikiran enggak oke, keputusan enggak oke. Jadi, jangan lupa nih kita banyak belajar kesadaran tapi makan enggak dijaga misalnya, olahraga enggak pernah misalnya, tetap tuh itu akan mempengaruhi juga. Kenapa? Karena konteks yang namanya tubuh biologis itu nanti akan konteksnya lebih kepada bagaimana penyatuan antara emosi, perasaan, pikiran, tubuh biologis, psikologis, IQ, EQ SQ gitu. Coba kita renungkan, berapa banyak penyesalan yang dilakukan ketika kita dibajak oleh yang namanya emosi. Marah dulu, mukul dulu, bikin status dulu,
50:36 bereaksi dulu, daripada mikir gitu. Oh, banyak pasti. Kenapa? Karena kecenderungan nalar kritis kita itu di-hijack oleh emosi masalahnya. Dan yang menarik adalah otak kita enggak bisa bedain mana kejadian asli atau ketika kita terjebak dalam memori masa depan, sori memori masa lalu dan ilusi masa depan. Otak otak kita enggak enggak enggak tahu gitu. Jadi kalau sekarang tiba-tiba mikirin 5 tahun yang penuh kesedihan, keluar kortisol pasti. Haduh, lemas tiba-tiba enggak ngapa-ngapain, capek, burn out, enggak ada motivasi, enggak ada energi. Kenapa? Karena kitanya
51:22 enggak enggak pernah mengendalikan dengan sadar di mana kamar pikiran kita gitu. Ke masa depan. Aduh, nanti kalau ini gimana ya nanti? Aduh, kalau gini oh ke depan aja. Jadi hidupnya tuh selalu ada di masa depan, di masa kini. Makanya yang kemarin kita bahas ketika kita sadar kita jarang happy. Ketika kita sadar kita sering dibajak oleh suka dan benci. Dan ketika kita mulai menyadari bisa hadir utuh di sini saat ini, untuk hadir utuh di sini saat ini, itu adalah ciri-ciri orang yang bahagia, gitu. Jelas ya, Teman-teman, Ibu, Bapak ya. Jadi jangan remehkan proses kimia yang terjadi dalam tubuh kita, gitu.
52:11 Kenapa? Mau enggak mau kita tuh urusannya cuman hormonal lah gitu intinya ya. Nah, saya kasih contoh nih supaya gampang. Kalau kita bicara ada empat yang sangat ya saya rasa ini perlu untuk kita sadari aja. itu namanya adalah dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin. Jadi dopamin itu kayak kita kecanduan itu ada dopamin. Jadi ini sekali lagi ya, over enggak bagus, kurang juga enggak bagus gitu ya. Nanti kita akan bahas ini satu-satu. Tapi yang jelas
52:57 kalau kita mulai menyadari hidup ini adalah tubuh biologis ini ada konteksnya adalah dalam hormonal ya balancing itu adalah sesuatu hal yang perlu untuk kita latih gitu ya. Jadi nanti dopamin itu bicara tentang activate keinginan belajar, keinginan menemukan hal yang menyenangkan, memberi motivasi untuk mengejar tujuan itu tuh dopaminnya perlu ada. Nah, oksitosin urusannya untuk apa? Bonding, hubungan gitu ya. Dan ini sering disebut sebagai love hormon. Makanya orang yang lagi jatuh cinta jadi bego gitu. Kenapa? Karena oksitosinnya badai gitu. Critical thinking-nya enggak ada di situ.
53:43 Dia lagi dapat tsunami oksitosin gitu. Wah, jadi semuanya kelihatan oke gitu. Semuanya kelihatan asik gitu. Kenapa ya lagi dihijack aja sih sama oksitosin gitu ya. Serotonin membuat perasaan signifikan penting dalam kehidupan sosial mempengaruhi mood, mempengaruhi semua konteks, terutama ritme tidur gitu misalnya. Nah, serotonin juga perlu tuh endorfin lah dan seterusnya. Nah, makanya ini nih saya langsung ke kekurangan misalnya ya. Kekurangan dopamin apa sih? Sulit fokus, cepat cemas, mood swing, itu pasti dopaminnya less. Tuh, kekurangan oksitosin apa? Motivasi
54:30 rendah, tidak terhubung dengan orang lain baik gitu misalnya. Insomnia, feel lonely. Ah, itu oksitosin lagi enggak balance. Serotonin juga sama gitu. Tapi rata-rata tuh cemas dan panik tuh mirip-mirip sih. Sensitif, enggak PD gitu. Endorfinnya kurang, impulsif tuh. Temannya beli tas ikut beli. Enggak tahu butuh, enggak tahu enggak, pokoknya beli aja dulu gitu. Jadi dikontrol banget sama faktor eksternal gitu.
55:18 ya. Nah, salah satunya salah satunya yang bisa kita lakukan kalau kita bicara dalam konteks ini adalah bagaimana kita melatih gitu intinya. Nah, kita akan ngerti sih latihan-latihannya tuh seperti apa dan kita akan paham latihan-latihannya seperti bagaimana. Nanti ini kita akan bahas satu-satu, tapi at least kita ngerti dulu bahwa pada dasarnya tubuh kita ini atau hidup kita ini secara biologis pada dasarnya adalah konteks yang terjadi dalam wilayah yang namanya
56:03 perubahan hormonal dalam diri gitu. Jelas ya, Teman-teman, Ibu, Bapak ya. Nah, sekarang ini nanti tabel ini nanti boleh di nanti saya bisa kirim ya. Tapi nanti ini kita akan bahas kok lebih dalam. Nanti kita akan bahas gitu. Nah, sekarang ini cara cepat aja ya. Karena kenapa? konteks yang kita lakukan atau konteks yang kita akan alami. Setidaknya setidaknya kalau kita tidak terlalu banyak tidak bahagia, gagasan-gagasannya pasti akan konstruktif gitu. Intinya ginilah, kalau lagi happy, gagasannya oke, gitu.
56:50 Kalau lagi enggak happy, gagasannya enggak oke. Udah gitu aja. Nah, ini indikator parameter cepat ya. Nanti teman-teman tolong dirasain aja supaya hari ini at least ngerti. Oh, ternyata kira-kira parameter indikatornya kurang lebih seperti itu nih ya. Kita langsung ke ciri-cirinya. Ciri orang yang tidak bahagia berarti ciri orang-orang yang memiliki potensi, gagasannya, ngarangnya, mengada-ngadanya, konstruktif gitu ya. Ini ciri-cirinya. Nah, jadi nanti sama masing-masing dikasih angka, dikasih skala 1 sampai 10 gitu
57:37 kira-kira gue banget, aku banget. Nah, berarti itu 9 gitu kira-kira enggak sih? Ah, itu dua atau tiga lah gitu. Enggak banget. Satu banget banget banget gue banget. Iya 10 gitu. Nah, nanti kira-kira nilai lima ke atasnya lebih banyak. Nah, itu perlu lumayan hati-hati sih gitu. Tapi mudah-mudahan enggak lah. Tapi ini indikator parameter ya supaya kita ngerti bahwa kalau mulai ciri-ciri ini ada, tolong waspada gitu ya. Pertama, ciri orang yang tidak bahagia adalah banyak meremehkan orang lain. Ah, udah aja. Orang yang enggak happy udah pasti dikit-dikit, alah udahlah baru ngelihat
58:23 sedikit aja. Ah, enggak nih kayaknya underestimate gitu ya. Hati-hati nih saat kita underestimate, saat kita melakukan atau ya dalam artian kebiasaan untuk mengunderestimate itu juga sesuatu yang perlu untuk kita waspadai ya, Teman-teman ya. Jadi waspada kalau udah mulai underestimate. Nah, berarti aku lagi ada di wilayah enggak happy. Gitu intinya. Itu nomor satu. Oke. Jadi, cek and receck dalam keseharian apakah aku
59:10 banyak underestimate atau enggak. Ah, itu nomor satu ya. Kasih skala ya, Teman-teman ya. Nanti skalanya bisa dipakai untuk ngecek untuk masing-masing gitu. Oke. Yang kedua itu disebut dengan konteks yang namanya suka ngegosip gitu ya. Jangan jangan remehkan kebiasaan ngegosip ya teman-teman, Ibu Bapak. Kenapa? Kenapa? Karena kalau orang suka ngegosip, kalau orang senang ngegosip, itu adalah indikator parameter bahwa orang lain jauh lebih penting daripada dirinya. Jadi kalau orang lain jauh lebih penting dari dirinya itu udah pasti dia lupa
59:58 untuk punya waktu buat dirinya sendiri gitu. Itu aja gitu. Nah, jadi ee hati-hati aja ya. Wah, padahal ngegosip tuh menyenangkan biasanya ya. Ngegosip tuh enak banget gitu bahasanya. Tapi please be careful, hati-hati. Karena semakin kita terjebak di situ, semakin kita akan jauh dari yang namanya kebahagiaan. semakin kita akan ada di wilayah konstruktif gitu intinya ya. Jadi tolong disadari tentang
1:00:43 bergosip pria hati-hati gitu. Oke. Nah, ini yang berikutnya nih. Kalau misalkan ya, Teman-teman ya. Yang ketiga, siapa sih orang yang enggak happy? Siapa sih orang yang akan berpotensi untuk jadi konstruktif? Itu adalah orang-orang yang all about me, semuanya tentang aku, gitu. Jadi, pokoknya urusannya, urusannya tuh inti-intinya aja ya. Inti-intinya aja. intinya adalah semua tuh adalah kalau apapun yang diomongin sama temannya misalkan
1:01:30 ee kamu tahu enggak ini gini gini gini gini nyelanya pasti gini ee kalau aku nah mulai tuh tuh pasti tuh ada kalau aku kalau aku kalau aku pokoknya urusannya aku aja terus gitu gitu ya teman-teman ya ini juga tolong hati-hati bahwa konteksnya nya ya kembali gitu. Kalau akunya selalu ada dalam conversation, kalau akunya selalu dikedepankan dalam conversation itu please be careful. Oke, itu yang nomor tiga. Jadi, jadi kalau misalnya ee kamu gini-gini, kalau aku sih dah orangnya ngomong lagi, "Kalau aku sih udah aja pokoknya kalau akunya cek di teman kalau lagi ngobrol
1:02:18 banyak keluar kata aku untuk mengedepankan dirinya, nah itu salah satu yang dia perlu ee validasi sih salah satunya. Oke. Nah, berikutnya yang nomor empat memaklumkan keberhasilan orang lain. Nah, udah nih. Kalau misalkan orang sudah memaklumkan keberhasilan orang lain, misal ya wajarlah dia tuh sukses, orang bapaknya jenderal. Nah, udah tuh wajarlah dia sukses orang bapaknya e terkenal gitu misalnya. Jadi dia nyari pemakluman dengan konteks di mana mewajarkan dengan konteks di mana ya itu tadi
1:03:04 yang akhirnya ngebuat bahwa ya dia wajar anaknya siapa kalau aku kan enggak gitu gitu ya. Jadi wajar kalau aku enggak sukses kan karena aku. Nah misalnya gitu ya teman-teman ini untuk sederhana gitu ya. Itu nomor empat. Nomor lima maksa. Wah, udah aja. Pokoknya harus maksa aja, intimidasi gitu. Berarti dia tidak punya empati kan. Karena yang yang mau dilakukan adalah ya balik lagi maunya aku harus kejadian gitu. Nanti kalau di levelnya Hawkins itu level bangga tuh salah satunya misalnya dan itu di frekuensinya kalau di Hawkins di bawah 200 kan. Enam.
1:03:52 Udahlah ya, ini tadi sudah diulang-ulang sih. Ini lebih didetailkan lagi. Banyak cari perhatian dan validasi, insecure gitu. Jadi kalau mau apa-apa tuh ee ini oke enggak? Ini oke enggak gitu. Uh, satu ngomong enggak oke. Ah, udah aja. Itu bisa berantakan tuh. Dan itu biasanya pengin diterima sama semuanya dah. Satu aja bilang enggak oke. Wah, udah tuh enggak PD. Bilang oke, satu enggak. Yang kepikiran satu tuh gitu ya. Nah, berikutnya ini yang sudah kita ulang-ulang tentang ciri-ciri orang takwa ya. Orang yang
1:04:38 enggak happy adalah orang yang susah berderma. Oh, udah aja. Kalau susah berderma pelit. Nah, itu indikator bahwa dia nge-happy aja. Makanya kenapa yang selalu saya enggak bosan ulang-ulang ciri orang takwa nomor satu, berhentilah jadi orang yang pelit. Karena orang yang pelit adalah orang yang kehappy, gitu. Karena kalau dia pelit berarti dia memegang, berarti dia tidak mengindahkan hukum terima kasih, berarti hukum perputarannya nah enggak berjalan dengan baik. ya. Jadi hati-hati sama berderma
1:05:25 atau ee sulit berderma gitu. Hati-hati. Yang nomor delan orang yang enggak bahagia adalah orang yang fokusnya pada masalah terus. Pokoknya urusannya ngelihat apa-apa masalah terus. Jadi masalahnya satu titik, solusinya banyak. yang dipikirin masalahnya dan dia kalau ada apa-apa langsung kenapa sih harus aku ya yang gini gitu. Kenapa enggak dia aja misalnya gitu tuh hati-hati ya. Nah, maka balik lagi konteksnya adalah orang yang fokus pada masalah itu adalah orang yang potensi menggagas
1:06:11 mengada-ngadanya ke wilayah yang konstruktif. yang suka berfoya-foya sudah jelas ngebeli sesuatu yang enggak penting, head on, apalagi demi untuk mendapatkan penghargaan. Hati-hati juga tuh. Nah, ini indikator yang terakhir sih kayaknya juga harus dicek ya. Terlalu aktif di media sosial itu kalau di Insta Story itu story-nya kayak strip-strip yang udah kayak semut gitu. Banyak banget. Tiap dikit story, tiap dikit story. Kayaknya tuh orang lain tuh harus tahu banget keseharian kita gitu. itu hati-hati sih. Kenapa? Karena dia seeking for attention gitu. Menganggap bahwa dengan itu perhatiannya akan ditambah. Padahal orang yang ngelihatnya juga harus diketahui ya. Orang yang ngelihat status
1:06:59 kita juga enggak peduli-peduli amat by the way gitu teman-teman ya. Nah, jadi mudah-mudahan ini nanti dicek sendiri-sendiri aja. Tapi at least mulai menyadari bahwa once kita enggak happy, kalau bisa diam dulu gitu. Dan once kita nge-happy, sadari bahwa mengada-ngadanya coba di di ditelaah gitu ya. Karena mengada-ngada itu yang enggak bisa lepas ke mana-mana sih. Itu intinya. Nah, so teman-teman, Ibu dan Bapak, at least hari ini kita nambah lagi satu chapter ya. Jadi saya resumekan dulu mental model
1:07:44 sudah ceklis aman ya. Kita ngerti tentang underlying structure itu adalah yang membentuk pola polanya dan kejadian. Ah ini kalau dalam bahasa di Quran itu event itu adalah zahir yang tidak terlihat itu ini yang di bawah tuh namanya gaib gitu. Jadi kita tuh lebih banyak gaibnya sih sebenarnya. Oke. Nah nanti kita kaitkan. Kenapa di ayat Al-Qur'an awal-awal yukminuna bil gaib baru dirikanlah salat gitu. Karena nanti kita ngerti bahwa oh ternyata kalau kita mulai mengerti kegaiban kita yang enggak kelihatan dan kita care terhadap yang enggak kelihatan, ternyata perilaku dan keputusan itu lebih banyak dari faktor yang enggak kelihatan daripada yang kelihatan. Dan saat kita meregulasi yang
1:08:30 enggak kelihatan, kita akan memperbaiki dari akarnya, gitu ya. Sip. Ya, jadi kalau gitu saya rasa itu dulu, Teman-teman, ee untuk siang hari ini. Ee nanti rekamannya seperti biasa pasti saya kirim untuk diulang-ulang. Ee jangan lupa minggu depan karena minggu ketiga, minggu depan kita akan tanya jawab. Jadi silakan persiapkan pertanyaan apapun yang berkaitan langsung ataupun tidak. apa yang sudah pernah kita bahas boleh karena ee sesi tanya jawab adalah sesi bebas untuk kita berdialog. Saya rasa sementara itu dulu. Hatur nuhun. Mudah-mudahan ada
1:09:15 manfaatnya dan jangan lupa diulang-ulang dan boleh nanti langsung dikasih pertanyaan dan saya tunggu pertanyaan-pertanyaan dari guru-guru. Insyaallah minggu depan kita akan diskusi dan tanya jawab. Hari ini enggak boleh nanya ya. Hari ini saatnya ngunyah dulu, icip-icip. Nah, minggu depan kita bebas untuk tanya jawab.