0:00 9 Agustus 1965. Inilah Lee Kanu. Ia baru saja mengetahui bahwa Singapura wilayah yang ia pimpin dikeluarkan dari Malaysia. Sekarang ia harus menyampaikan kabar itu kepada rakyatnya secara langsung di televisi nasional. Singapore from Malaysia. It will be a moment of anguish. I mean for me is a moment of anguish because all my life. Tapi ia tidak sanggup melanjutkan. Suaranya bergetar. Ia berhenti. Ia menangis.
0:47 Mengapa ini terjadi? Karena Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia dengan mayoritas Melayu Muslim takut pada Singapura. Takut karena pulau itu berpenduduk mayoritas Tionghoa. Takut karena suatu hari pelabuhannya bisa lebih bersinar daripada pelabuhan mereka sendiri. Maka Malaysia mengusir Singapura demi kenyamanan politiknya. Bagi Lee, ini adalah bencana. Separuh pasokan air Singapura berasal dari Malaysia. 90% kebutuhan pangan diimpor lewat jembatan penghubung. Tanpa Malaysia Singapura tamat. Hanya sebidang tanah kecil tanpa lahan pertanian, tanpa minyak, tanpa mineral, tanpa industri. Saat itu Singapura hanyalah pelabuhan
1:32 kumuh yang sesak. 75% keluarga tinggal di gubuk atau rumah liar tanpa toilet maupun air mengalir. Mereka memasak dengan arang, berbagi pipa air kotor, dan mengantre toilet umum. Lebih dari separuh penduduknya buta huruf. Kerusuhan etnis antara Melayu dan Tionghoa pecah di jalanan. Meninggalkan mayat bergelimpangan di selokan. Inilah negara yang harus dipimpin Lee. Sebuah negara yang lebih mirip negara gagal yang hanya menunggu waktu untuk runtuh daripada sebuah bangsa yang berdaulat. Namun tanpa ia sadari air mata itu bukanlah akhir. Itu adalah awal dari salah satu kebangkitan terbesar dalam sejarah. Karena pria yang menangis di televisi
2:18 hari itu menolak untuk menyerah. 10 years from nowar. Dari pelabuhan kecil tak berarti ini, Lee Kanu akan memulai perjuangan melawan korupsi, memindahkan rakyat miskin dari kawasan kumuh ke rumah layak, dan membuka pulau itu bagi investasi asing. Ia akan merancang birokrasi yang begitu ketat hingga meludah di jalan atau mengunyah permen karet saja bisa membuat seseorang masuk penjara. Dengan kedisiplinan dan aturan yang ketat, dia berhasil membangun salah satu negara terkaya di dunia. begitu makmur dan rapi hingga sering dijadikan contoh tentang
3:03 cara membangun negara. Ia akan membangun sebuah kota yang lebih kaya bukan hanya daripada Kuala Lumpur, tapi juga daripada Malaysia itu sendiri. Lebih bersih daripada London, lebih aman daripada New York. Pada puncak kekuasaannya, Leuanu begitu dihormati dunia, begitu ditakuti hingga ia berani mendenda Amerika Serikat karena memata-matainya. court an American CIA agent trying to subvert our intelligence special branch officer man was caught locked up and I told the American government we keep quiet you take this man away million to the Singapore government for economic development danika membayar Ia bahkan berani
3:51 menyebut Australia sebagai sampah kulit putih Asia karena hanya bergantung pada ekspor bahan mentah dan Australia mendengarkan karena hari itu Lee menemukan satu hal. Singapura mungkin tidak punya sumber daya alam tapi rakyatnya adalah sumber daya itu. Inilah Li Kananyu, pria yang membangun Singapura. Selama 6 minggu setelah pidatonya di televisi nasional, Lee Kanu menghilang. Ia mengurung diri di Changi Cottage. Ia tidak bisa makan. Ia tidak bisa tidur. Dokter memberinya obat penenang. Bahkan parlemen dibiarkan menggantung, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, bahkan
4:36 dalam keputusasaan, ia menulis kepada Perdana Menteri Inggris, Harold Wilson, "Jangan khawatir tentang Singapura. Rekan-rekan saya dan saya adalah orang-orang waras. Kami tetap rasional bahkan di saat putus asa. Kami akan menimbang semua kemungkinan konsekuensi sebelum mengambil langkah apapun. Setelah 6 minggu pemulihan, beginilah kondisi politik yang dihadapi Lee. Sebuah pelabuhan kecil tanpa tentara, tanpa pangan, tanpa sumber daya alam. Dikelilingi negara-negara tetangga yang jauh lebih besar dan berpotensi bermusuhan. Diplomasi menjadi langkah pertama. Dunia harus mengakui Singapura sebelum negara itu lenyap. Dalam waktu sebulan, Lee berhasil membawa negerinya masuk ke perserikatan bangsa-bangsa dan
5:24 memperoleh pengakuan internasional. Namun kawasan di sekitar Singapura berbahaya. Pada Maret 1965, dua marinir Indonesia meledakkan bom di McDonald House Singapura, menewaskan tiga warga sipil, dan melukai 33 orang. Serangan itu bagian dari konfrontasi kampanye kekerasan Presiden Soekarno melawan Federasi baru Malaysia yang sempat memasukkan Singapura di dalamnya. Singapura menangkap para pelaku, mengadilinya, dan menjatuhkan hukuman mati. Di Singapura mereka dianggap teroris, tetapi di Indonesia mereka dipandang sebagai prajurit yang taat menjalankan perintah, pahlawan. Eksekusi itu memicu kemarahan nasionalis di Jakarta. Mahasiswa menyerbu kedutaan
6:10 Singapura. Maka Lee yang sangat membutuhkan stabilitas dengan sang raksasa tetangga terbang langsung ke Jakarta. Di makam kedua marinir itu, ia menunduk dan menaburkan bunga. Ia bukan datang untuk meminta maaf. Ini memalukan, tetapi perlu. Singapura butuh Indonesia sebagai mitra, bukan musuh. Tahun 1967, Lee ikut mendirikan ASEAN bersama Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Singapura tidak lagi sendirian. Kini ia bekerja sama dengan tetangga-tetangganya. Secara militer pulau itu masih tanpa pasukan. Inggris bersiap-siap pergi. Indonesia dan Malaysia suatu hari bisa kembali menjadi ancaman. Karena itu pada
6:56 1967 Lee menciptakan wajib militer. Setiap pemuda wajib mengabdi. Untuk pelatihan diam-diam ia menjalin kerja sama dengan Israel. Negara kecil seperti Singapura yang dikaguminya karena berhasil mengalahkan tetangga Arabnya yang jauh lebih besar dengan tentara kecil yang disiplin. Para penasihat Israel menyusun doktrin angkatan bersenjata Singapura yang baru. Pada 1971.000 pasukan siap berdiri. Aturan le tegas. Jika kamu tidak bisa membela diri tidak ada orang lain yang akan melakukannya. Kini Singapura sudah diakui dunia, menjalin hubungan dengan tetangga dan mampu membela diri. Saatnya Lee menoleh
7:44 ke dalam negeri dan ancaman terbesar di sini bukan sekadar kemiskinan, melainkan ras, Tionghoa, Melayu, India. Kelompok-kelompok ini kerap bentrok dengan kekerasan. Lee menyatakan bahwa semua ras setara, tetapi negara yang akan menetapkan batasannya. Ia menjadikan empat bahasa sebagai resmi, Tionghoa, Melayu, Tamil, dan Inggris. Setiap anak boleh belajar bahasa ibu mereka, tetapi mereka juga wajib belajar bahasa Inggris, bahasa pemersatu. Agama pun diawasi ketat. Segala upaya menyebarkan keyakinan yang bisa menimbulkan perpecahan dilarang keras. Namun, perekonomian tetap terpuruk. Untuk memperbaikinya, Lee mendatangkan
8:29 ekonom Belanda, Albert Winemius. Nasihatnya lugas, lupakan ideologi, lupakan nasionalisme. Kalau Singapura ingin berhasil, jadikan negeri ini tujuan yang menarik bagi perusahaan asing. Pertahankan pajak tetap rendah, berantas korupsi, jaga stabilitas. Bersihkan pulau ini sepenuhnya tanpa sampah, tanpa kerusuhan, tanpa kawasan kumuh. Bangun pabrik, latih tenaga kerja. Jika semua itu dilakukan, perusahaan multinasional pasti akan datang. Lee mendengarkan dengan masuknya modal asing, pabrik-pabrik berdiri, raksasa Amerika dan Jepang berdatangan. Texas Instruments Hulet Packard, General Electric. Galangan kapal yang ditinggalkan Inggris diubah menjadi
9:15 pusat perkapalan. Lee mengalirkan sumber daya untuk melahirkan Singapore Airlines dan Neptune Orient Lines. Sistem pendidikan segera diarahkan ulang untuk menghasilkan insinyur, teknisi, dan pekerja yang bisa melayani perusahaan-perusahaan itu. Dengan keuntungan dari investasi ini, Lee mengubah kehidupan sehari-hari. 3/4at warga Singapura masih tinggal di Gubuk dan kawasan kumu. Maka ia mempercepat kerja Housing Development Board HB perumahan publik nasional. Ratusan ribu orang dipindahkan setiap tahun ke apartemen beton dengan air mengalir dan listrik. Memberi setiap keluarga ikatan nyata dengan negara. Untuk membiayainya, ia memaksa pekerja menyetor sekitar 20%
10:02 gaji mereka ke central Provident Fund Cp. Secara resmi ini untuk dana pensiun. Nyatanya ia menjadi wadah raksasa modal nasional yang digunakan untuk membangun perumahan, infrastruktur, dan investasi. Tapi perhatikan, Lee tidak pernah mengalihkan dana itu untuk subsidi kesejahteraan. Tidak ada tunjangan. Setiap warga harus berdiri di atas kakinya sendiri. Agar seluruh mekanisme ini efisien, Lee menggandakan gaji menteri dan pegawai negeri untuk memperkuat komitmen mereka. lalu mengerahkan Corrup Practices Investigation Buro CPEB. Siapapun yang tertangkap menerima suap langsung di penjara. Ketika Menteri Pembangunan Nasional Tehang Wan, ia
10:48 kedapatan menerima suap sebesar juta dolar yang nilainya saat ini setara dengan sekitar R miliar dari dua perusahaan swasta. CPIB segera bergerak. Sebelum diadili, Teh menelan pil dannya. Reaksi Lee dingin. Ia telah berbuat salah. Ia menerima suap. Saya tidak bisa menyelamatkannya. Tidak ada yang kebal hukum. Bahkan seorang menteri setia pun bisa dikorbankan. Karena jika satu pengecualian dibiarkan maka semua orang akan melakukannya. Akhirnya Lee meluncurkan kampanye kota taman. Ia memerintahkan penanaman pohon di sepanjang jalan raya, pembersihan sungai dari limbah, dan pembangunan taman di jantung kota. Kebersihan dan penghijauan
11:35 dijadikan propaganda. Sebuah sinyal kepada dunia bahwa Singapura bukan lagi daerah kumu. Menjelang awal 1970-an, hanya dalam beberapa tahun, Singapura sudah punya bendera, punya tentara, punya ekonomi, dan punya mesin propaganda yang terus menggemahkan satu pesan Singapura sedang bangkit. Pada 1970-an, Leanu beralih ke ekspansi. Pabrik saja tidak cukup. Ia membangun bandara Changi dibuka pada 1981. Seketika masuk daftar bandara terbaik di dunia. Pelabuhan Singapura A tumbuh menjadi salah satu tersibuk di dunia.
12:20 Persimpangan antara ekspor Asia dan pasar barat. Singapore Airlines diluncurkan pada 1972 berubah menjadi simbol global kemewahan dan efisiensi. Elektronik pelayaran keuangan dan teknologi asing mengalir deras ke Singapura. Mula-mula untuk berekspansi lalu menjadikan pulau itu pintu gerbang menuju seluruh ASEAN. Namun pertumbuhan saja tidak cukup tanpa ketertiban. Permen karet dilarang. Pengedar narkoba dihukum gantung, buang sampah sembarangan, meludah, menyeberang jalan sembarangan, denda ribuan dolar. Lawan politik dibankrutkan lewat gugatan atau ditahan tanpa pengadilan. Per
13:07 dikontrol, disensor. Filosofi Lee brutal. Kami yang memutuskan apa yang benar, tak peduli apa yang dipikirkan rakyat. Kebijakan luar negerinya sama kerasnya. Pada 1970-an, CIA Amerika berusaha menyusup ke Dinas Intelligence Singapura. Lee mengekspos mereka secara terbuka, mempermalukan Washington, lalu mendenda Amerika Serikat 100 juta dolar yang nilainya saat ini setara dengan sekitar R triliun dan Amerika membayar. Ia menyebut Australia sebagai sampah kulit putih Asia karena hanya hidup dari ekspor bahan mentah. Ia menepis India sebagai bangsa dengan kejayaan yang tak pernah terwujud dan ia memperingatkan Afrika,
13:53 korupsi akan menghancurkanmu. Pada saat yang sama, ia menyeimbangkan timur dan barat. Singapura menjadi tuan rumah kapal perang Amerika di pelabuhannya, tetapi juga membuka diri kepada Tiongkok. Ketika Deng Shopping meluncurkan reformasi pada 1978 untuk membuka Tiongkok ke dunia, ia menjadikan Singapura sebagai model yang harus ditiru. Negara terpadat di dunia kini belajar dari salah satu yang terkecil di dalam negeri Lim Rkayasa masyarakat itu sendiri. Kuota perumahan memaksa Tionghoa, Melayu, dan India tinggal berdampingan. Bahasa Inggris dijadikan bahasa pemersatu. Kampanye Stop at Two mencegah keluarga punya lebih dari dua anak. Hingga Lee
14:38 menyadari itu justru mendorong penuaan populasi terlalu cepat. Pria berambut panjang dilarang bekerja di sektor publik. Perempuan didorong masuk sekolah dan dunia kerja. Ia bahkan menyarankan bahwa hanya perempuan pintar yang sebaiknya bereproduksi. Sementara yang miskin sebaiknya mensterilkan diri. Lee tidak sekadar membuat kebijakan. Ia sedang menciptakan orang Singapura. Namun ketegasannya bukan kebetulan. Ia tumbuh bersama seorang ayah penjudi yang menghamburkan uang keluarga. Ibunya bukan ayahnya yang menjaga keluarga tetap utuh. Pada 1942, ia menyaksikan Imperium Britania Raya runtuh hanya dalam 70 hari di Singapura di tangan tentara Jepang. Guncangan itu
15:26 tak pernah hilang darinya. Dalam 70 hari Imperium Britania Raya tamat. Saat itu saya memutuskan tidak akan ada yang bisa menekan Singapura lagi. Di bawah pendudukan Jepang, ia nyaris menjadi korban pembantaian Sukching ketika puluhan ribu pria Tionghoa dikumpulkan dan dieksekusi. Ia selamat hanya karena keberuntungan. disuruh mengambil pakaiannya lalu dibebaskan oleh penjaga lain. Demi bertahan hidup, ia belajar bahasa Jepang, menambahkannya ke dalam bahasa Inggris, Melayu, dan Tionghoa yang ia kuasai. Ia bahkan mencoba berjualan lem di masa perang sebelum akhirnya menjadi murid terbaik di generasinya. Luka-luka ini mengajarkannya, "Jangan pernah
16:11 bergantung pada siapun. Jangan percaya pada kebetulan. Semua orang harus berdiri di atas kakinya sendiri dan hasilnya membuktikan kebenarannya. Menjelang tahun 2000, PDB per kapita Singapura 24.000 sudah menyamai Kanada 24.000 dan Prancis 22.000. Pada 2024 angkanya mencapai 90.000 per orang. lebih tinggi daripada Amerika Serikat 85.000 dan jauh di atas tetangganya Malaysia 12.000 serta Indonesia 5.000. Dalam pendidikan, Singapura menempati peringkat teratas tesa OECD, mengalahkan Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan
16:57 dalam matematika, sains, dan membaca. Sebuah negara tanpa sumber daya alam berubah menjadi pusat intelektual dan finansial dunia. Namun biayanya adalah kebebasan dan pembelaan Lee terhadap hal ini sederhana dan keras. Di tahun-tahun terakhirnya Lee berjalan melewati Garden City yang ia ciptakan. Waktu membuatnya rapuh memasuki 2010-an kesehatannya menurun dan pada Maret 2015 ia wafat pada usia 91 tahun. Di pemakamannya hampir 2 juta warga Singapura berbaris di tengah hujan untuk
17:43 mengucapkan selamat tinggal kepada diktator yang telah memberi mereka harapan. Inilah Lianu, pria yang membangun Singapura.