0:00 Semakin banyak yang kita tahu, semakin kita merasa kita tidak tahu apa-apa. Y, you should try to put yourself in a room where you are the least smart or the least capable because it means that you are the person growing the most in that room. Wow. Bilal, you ask really good questions. Thank you. Cuuse I'm learning about myself. Kita lagi effort sekali dengan sesuatu. Kalau hasilnya optimal ya itu wajar. Tapi kalau hasilnya luar biasa, effort kita rendah, aku malah gak happy gitu karena rasanya jadi kayak we didn't earn it. Ya, masuk ya, masuk ya. Karena udah ter kaku nih kan kaku kan. Benar tadi tuh aku kayak loading. Bentar bentar ini tuh joke ya. I I dan gue tuh selalu percaya bahwa pada
0:47 saat kita sekolah kita tuh belajar cara untuk belajar. Kita belajar cara untuk berpikir, kita belajar cara untuk menganalisa dan mencari solusi, mengupas sebuah isu, mengupas sebuah titik permasalahan dan habis itu gimana caranya kita merespon dengan cara yang terstruktur dan logis dan apapun itulah kritis. Buat teman-teman di luar sana yang punya krisis identitas atau crisis of the soul ya intinya. Jadi kalian tuh misalnya mempertanyakan ke diri sendiri, oh passion gue tuh apa sih? Am I doing the right thing? What a privilege it is. Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara berkelas. Hari ini aku happy sekali karena kita kedatangan tamu berkelas.
1:33 Ada Maudi Ayunda. Hai Bilal. Halo semuanya. Akhirnya kesuar berkelas. Senang sekali. Ini orang sebenarnya sudah aku incharge sejak setahun yang lalu sejak kita bangun suara berkelas. Iya. Salah satu achievement aku mungkin bisa mengajak mod ngobrol di podcast suara berkelas. So happy to be here. Thank you for having me. Kita juga harus terima kasih kepada Aludita yang sudah menghubungkan. Terima kasih aku dengan Kak Modi. Mungkin aku mau masuk dari sisi ngomongin tentang privilege Modi boleh. Karena semua orang belakangan ini ngebahas tentang hm privilege yang terkesan sangat berbanding terbalik dengan orang di luar sana yang mungkin harus merintis dari nol. Hm. privilege di sini konsep privileg as a whole gitu ya.
2:18 Yes. Mungkin privilegex di sini orang ngelihat dari sisi beauty atau punya kemampuan finansial gitu ya. He. Tapi aku melihat privilix ini sebenarnya bisa jadi beban untuk kita yang orang sudah memasang ekspektasi. Kalau lu punya ini berarti lu harus sukses. Lu punya privileg ini lu tidak boleh gagal gitu. He. Bagaimana semua orang mau di Ainda melihat privileg? H iya. Ini ini ini sesuatu yang menarik sih sebenarnya karena konsep privilege itu cukup luas. Tentunya yang paling obvious adalah privilege secara ekonomi dan finansial. Em itu yang mungkin sering dijadi pembahasan orang banyak in general pada saat kita membahas privilege. Tapi benar kata kamu
3:04 bilang there's beauty privilege. He. There is even as simple as the country you're born in gitu. That's a form of privilege. Mungkin the type of parent you have yang mungkin itu agak-agak di luar eh lingkup ekonomi finansial gitu. kayak apakah kita memiliki pembimbing-pembimbing yang mungkin punya stylistik-stylistik tertentu itu menurut aku juga a huge amount of privilege gitu. Kayak misalnya seseorang yang em duduk dengan orang tuanya setiap malam dan e punya discourse intelektual misalnya gitu. That's also incredible
3:51 privilege gitu yang e di luar dari scope-scope yang biasanya dibahas gitu. Jadi privilege itu menurut aku sebenarnya layered sekali dan ada banyak bentuknya dan semua orang punya privilegya masing-masing. Tapi tentu ada juga yang secara objectively starting point orang-orang itu beda-beda dengan resources masing-masing gitu. So, I'm not someone who likes to say that or likes to be defensive around the topic of privilege. Karena aku merasa I I did feel like I grew up with some amount of privilege gitu di beberapa dimensi khususnya. And I think it's important to be aware of those privileges karena gimana
4:37 caranya? Di sisi lain kita harus mengakui lalu try to optimize and live a life yang apa ya? True to what we were given by God or by the universe. Dan kita harus berusaha sebaik mungkin aja dengan apa yang kita miliki untuk bisa mungkin berdampak positif dan bisa maju bisa independen juga. Em dan itu sih dan akhirnya mungkin bisa eh create more spillover effects from what you have started with dan akhirnya bisa dibagi lagi atau di di-share lagi
5:22 ke komunitas atau ke dunia gitu. Em, so you're right, there is a sense of responsibility juga sih menurut aku bahwa kita harus aware kita tuh punya privilege di dimensi apa aja, kita punya lack of privilege dimensi apa aja and that becomes kind of like your portfolio of resources that you start with. Dari situ kita bisa tahu yang mana nih yang kita apa we can use to grow and and achieve our dreams and make impact yang mana yang mungkin kita harus fulfill in other in other ways gitu karena privilege is complex gitu. Maybe I'll start with that kalau bila ada follow up questions. Iya. Tapi tadi aku sempat mendengar
6:09 kata-kata selfwareness ya di sana ketika mau mau di menjelaskan tadi sebenarnya bagi yang belum paham self awareness dan mau disendiri melihat self awarenesser itu seperti apa kalau bisa kita gali self awareness tuh sebenarnya perjalanan mengenal diri sih h aku enggak suka bilang bahwa aku tuh udah self aware karena aku merasa bahwa aku tuh masih dalam proses self discovery terus yap y yap tapi ee Em intinya adalah selfawareness adalah kesadaran diri dan kita punya aspirasi untuk mencapai poin kesadaran diri yang paling optimal. Kita paling mengenal diri kita sepenuhnya dan juga bisa melihat perjalanan kita tuh secara objektif. He.
6:56 Karena aku rasa it's very easy. Kalau misalnya orang bilang, "Ah, lu sukses karena lo privilege to be very defensive." Ah, enggak, gue juga kerja keras kok. Ah, enggak. Tapi pause and step out and look at yourself from a third person point of view, ya memang ada privileges yang banyak juga di berbagai dimensi gitu. Dan jadi stepping out and seeing who you are holistically almost from like a third person point of view tuh menurut gue penting sih dalam proses benar-benar bisa mengenal diri he emm sepenuhnya gitu. Eh, dan refleksi internal itu yang selalu gue coba lakuin sih. H karena self awareness kayaknya proses
7:41 juga enggak sih? Bilang enggak tahu sih. Menurut gue, I don't know if I will be 100% selfaware, but itu yang akan gue selalu usahakan. Heeh. Aku bahkan di fase titik terendah atau lagi problem dengan pekerjaan atau kesehatan aku, aku sempat nulis tulisan yang di mana what a privilege to be tired from work you are back the universe for. Kayak selama ini aku udah kerja keras untuk dapatin kerjaan yang aku lakuin hari ini. Kalau lelah itu privil sebenarnya. I kalau diputar cara pikirnya privil enggak sekedar apapun yang kita sudah punya dari lahir kan. Iya. Tapi apapun yang kita sudah doakan, kita kerja keras untuk menyapai ke sana. Benar. Walaupun itu capek, melelahkan, tapi itu kita privilege udah menjalani hari
8:28 dengan posisi-kondisi itu gitu. Aku juga ada quote. Oke. Tapi ini bukan quote aku. Tapi aku baru ter-ter ini membaca quote ini terus kayak, "Ih, kena banget." Emm, buat teman-teman di luar sana yang punya krisis identitas atau crisis of the soul, ya intinya. Jadi, kalian tuh misalnya mempertanyakan ke diri sendiri, oh passion gue tuh apa sih? Am I doing the right thing? What a privilege it is to be able to think or ask about questions about your soul because it means that other things in your life has relatively been taken care of. Dalam arti mungkin kita cukup sehat untuk bisa memikirkan our internal soul. Jadi kita udah enggak harus mikirin ourys belum
9:13 udah cukup tidak harus mikirin our physical health misalnya. Jadi apa ya? Kalau sekarang kan banyak yang ngomong kayak eh isu krisis identitas atau kegalauan atau the soul being sick is something that everyone is experiencing one way or another. Karena orang mencari jati diri, mempertanyakan diri mereka sendiri. But it turns out that jangan-jangan that's a privilege ya. We've already got to a place that now we can worry about what our soul wants. Wow. Wow. Ya kan kayak itu setuju. He itu tuh beautiful too in way. Y aku senang banget kata-kata ketika kita berpikir bahwa kita masih punya waktu
9:59 untuk berpikir tentang kita harus seperti apa, ke depannya harus seperti apa. Itu berarti kita masih sehat punya kesehatan fisik mungkin untuk karena orang sakit ya. Kalau orang sakit dia cuma ingin satu sembuh. Iuh. Betul. Orang sakit cuma pengin sehat. Orang sehat punya 1000 keinginan dan kita masih sehat. Betul. Hm. He luar biasa. Emang kalau ngobrol Bodi ada aja itu [Musik] aku mau menggali sisi yang semua orang mungkin sudah tahu kalau mau di ini. H S1-nya di Oxford, S2 di Sanford dan punya privilege untuk bertemu dengan orang-orang luar biasa di negara lain, which is orang-orang berkelas atau high performance people ya. H sebenarnya dengan pernah di lingkungan keren seperti itu, H
10:44 apa insek yang menarik untuk bisa di-share ke kita yang mungkin kita belum punya akses untuk di lingkungan itu gitu? Mm mungkin ee satu yang aku notice gitu ya di sosok-sosok high performers di sekitar aku adalah mereka itu memiliki curiosity yang sangat amat besar. rasa ingin tahu dan bukan hanya curiosity sebenarnya, tapi humility around curiosity. Wow. Yes. Mm. Jadi, mm mungkin sosok-sosok ini kecenderungannya
11:29 sulit sekali untuk merasa puas atau cukup pintar. Hmm. dalam perjalanan mereka. And that's like a genuine feeling. Jadi, curiosity-nya tuh bukan cuman rasa ingin tahu, tapi kayak it's like a hunger and a desire for for growth gitu. Em, kayak ada quote gitu. Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak semakin banyak yang kita tahu, semakin kita merasa kita tidak tahu apa-apa. Yap. Dan kayaknya tuh quote itu menggambarkan satu budaya atau satu approach yang mungkin gue gue sering melihat gitu di
12:16 di beberapa komunitas-komunitas ini gitu. He. Emm just this curiosity and this acceptance that we are so limited as human beings and all we can do is try to learn as much as we can in our lifetime gitu. Jadi emm itu itu satu. Terus mungkin ada satu lagi sih emm it's this sense of it's this sense of having two time horizons. Jadi di satu sisi bisa memiliki visi jangka panjang. Jadi time horizon-nya sangat-sangat panjang. Punya vision tapi di sisi lain bisa mengeksekusi secara short term. Oke. Oke.
13:03 Dan bisa mikirin next step-nya apa nih yang menjadi prioritas, yang menjadi penting untuk gue lakukan hari ini, detik ini, menit ini. Apakah itu membuat pitch deck ini, apakah itu menyelesaikan tugas A ini, gitu. And that happening at the same time as having kind of like a longterm direction and vision. Dan kedua hal itu tuh penting menurut gue karena banyak orang yang executor. Hm. Mungkin short term executor cuman entah karena waktu entah karena apa gitu ya kurang bisa melihat vision yang lebih besarnya apa yang ingin dicapai atau mungkin ada orang yang sangat grandios kayak
13:48 ya you want that big thing. Tapi pada saat harus execute on a smaller scale dan konsisten dan terus terus terus terus terus itu em itu itu lebih sulit. Jadi pada saat em bisa melakukan dua hal ini dengan efektif dan em dan konsisten dua-duanya itu menurut gue combo yang berkelas. Ibo. Combo yang berkelas ya. Ya. Gimana obrolan kami tadi? Seru ya. Bagi kamu yang mau nonton offline podcast suara berkelas, kita ada special event khusus untuk teman-teman berkelas yang serius mau join. Penasaran bisa klik link di deskripsi. Sampai jumpa. Aku tidak pernah mengawinkan City dengan humility loh.
14:34 Dan tadi aku baru oh iya juga ya. Selama ini aku ketemu sama orang-orang yang mungkin memang levelnya sangat berkelas itu sudah pasti ada curiosity-nya. Tapi kita lupa menggali tentang humility-nya. Karena kalau dia punya humility, dia pasti curius. Benar. Curious doang belum tentu punya intellectual humility gitu kan. Iya. I kalau dia punya humility iya dia pasti akan bertanya terus dan kualitas orang kan bisa dilihat dari pertanyaannya dan itu memang sangat relevan. Wow. Iya juga ya. Itu itu tiba-tiba dapat atau emang udah udah udah punya selama ini gitu. I talk about curiosity a lot. Cuman kayaknya enggak tahu hari ini ngobrol sama Bilal kayak pengin memberikan warna ekstra lagi sih bahwa eh tapi sebenarnya
15:20 curiosity-nya tuh lebih dalam dari itu sih. Bahwa oke ternyata humility-nya tuh juga sesuatu yang penting kayak bahwa kita bisa salah. Yes. Bahwa e kita itu dan pada saat kita sadar bahwa kita bisa salah, kita jadi sangat adaptif dan kita bisa sangat terbuka terhadap pemikiran orang lain dan perspektif orang lain. Dan gitu sih kayaknya curiosity doang tuh ternyata iya harus harus ditemani dengan Iya. Humility. Humility. I I like that. Seali. Hm. He. Dan yang aku juga kaget tadi tiba-tiba ngomongin tentang long term game ya. Aku per hari ini mungkin karena aku pernah baca buku grow mindset ya. Hm. Itu aku sejak baca buku itu lebih tepan
16:07 5 tahun yang lalu kalau enggak salah itu aku selalu ngelihat dalam konteks karier even berkarya dalam konteks jangka panjang terus. Hm. Dan kalau ketemu sama orang yang punya masa jangka panjang juga akan seru gitu kolaborasinya. Iya. Kalau mau di sendiri selama ini itu pernah punya partner jangka panjang dalam konteks bekerja iya komunitas event pertemanan ya bisa di-share ke kita ya. Emm mungkin enggak tahu sih banyak orang yang tahu apa enggak, tapi ee ccle aku tuh terbilang kecil. Hm. Tapi konsisten e dalam arti enggak
16:52 terlalu banyak yang keluar masuk. Oke. Oke. Jadi inner circle aku tuh itu-itu aja. Emm teman-teman aku juga itu-itu aja. Ada yang dari SMA, ada yang dari kuliah em S2 juga temannya. itu- ituu aja atau sosok teman-teman profesional juga yang dekat tuh biasanya itu-itu aja. E ya maksudnya begitu mereka cross the threshold kita benar-benar jadi teman. Nah biasanya itu kemaintain terus. Em tim aku juga some of them I've worked with more than 10 years. Em aku punya venture atau company namanya From This Island. Itu aku juga bekerja sama dengan teman aku yang aku kebetulan kenal dari SMA. Em dan kita berteman
17:40 sangat-sangat dekat sampai akhirnya memutuskan untuk berbisnis bareng. He. Jadi kalau ditanya punya enggak sih ee sosok-sosok di sekitar aku yang membantu aku untuk berpikir jangka panjang bisa dibilang iya gitu. Karena di inner circle aku karena these are people who's been with me for a while. Mereka juga membantu aku menjadi accountability body h em terhadap impian-impian aku gitu. Em atau impian-impian kita bersama. I. So, it really really helps actually. That's a really good question. Karena aku baru mikir kayak iya juga ya sebenarnya karena inner circle aku itu ya small tapi cukup konstan
18:27 it helps keep me accountable it helps you know to remind me of of who I am ya karena kadang-kadang kita keluar dari rumah kita terekspose dengan banyak hal apalagi sekarang ada media sosial kita tuh kadang-kadang gampang distracted gitu sure distracted Dalam arti kita mungkin jadi mengevaluasi apa gue menjadi orang yang seperti ini aja ya, apa gue ikut jalur yang ini aja ya. Eh, ada opportunity ini nih apa ini aja ya. Jadi enggak kebayang sih, everyone is always overwhelmed with optionality. Eh, tapi pada saat kita balik ke lingkup inner circle atau even suami aku atau co-founder aku, ada orang-orang yang mungkin yang membantu mengingatkan dan
19:13 grounding lagi. Remember who you are. Yeah, Bilal, you ask questions. Thank you. Cuuse I'm learning about myself in this in this thing. It's like therapy. Iya. Tadi pada anak-anak biasanya kalau datang ke sini lu jadi psikolog aja, Kak. Asli K like. Iya iya iya. Tapi aku nanya gitu karena aku pun ngerasain hal yang sama gitu. Kalau ditarik balik versi aku 10 tahun yang terakhir, aku masih di circle yang sama dengan temanku. Oh ya. Dan kita punya jalur yang sangat berbeda. Jalur kita sangat berbeda. Kita berbeda kota, berbeda negara. Dan aku jujur dalam hati teram aku
19:58 pengin mereka growing. Dan mereka juga selalu kalau aku dia happy sekali lihat Brawing punya podcast gitu-gitu kayak dan itu sudah kita jalani lebih dari 10 tahun. itu itu unik dan em dan kita jangan take for granted gitu sih Bilal ya kan em bahwa ada sosok-sosok yang sudah lama melihat perjalanan kita itu tuh kedalaman hubungan dan kedalaman understanding-nya tuh beda sih bed sekali benar benar mungkin ada orang yang baru kenal Maudi ketika Maudi punya followers R juta. Mungkin ada orang yang kenal Bilal ketika punya followers R00.000 R right dia punya POV sangat berbeda. Tapi kalau teman kita yang pernah lihat fase kita di sini, di sini di sini even belum ada Instagram gitu
20:44 yap itu sangat berbeda. Itu berbeda. Heeh. Wah sangat relate ternyata ya. Heeh. Hmm. Kita masuk ke versi maudi yang mungkin juga jarang terlihat di sosial media atau di balik di layar kali ya. Di depan layar ya. Hm. Selama ini mungkin orang melihat kamu punya kepercayaan diri yang sangat-sangat positif ya, aura energinya juga. Terus kamu memang termasuk orang yang banyak dikagumi oleh anak-anak muda di luar sana gitu. Tapi kalau aku masuk ke modi Ayunda sendiri, he pernah enggak ngerasain fase inferior atau dikelingi oleh orang-orang yang tadi high performance people? kamu merasa bahwa aduh aku tidak pantas, aku tidak worse di lingkungan ini. Gitu. Dan
21:31 kalau pernah gimana cara paling simpel untuk dealing dengan fase itu? Ini lucu sih. Ini pertanyaan yang lucu. Karena aku tuh cukup em sering merasa seperti itu. Merasa out of place. H eh atau mungkin merasa like an imposter. Ya, itu kan nama sebuah syndrome gitu. Sy imposter syndrome gitu. di saat kita merasa inferior atau out of place atau kita enggak kita enggak belong here gitu. Emm karena core-nya aku sebenarnya anaknya enggak pedean dan ini adalah deskripsi yang selalu digunakan keluarga besar aku ataupun ibu aku sendiri bahwa mod kamu itu waktu
22:16 kecil pemalu total. Kalau ada keluarga datang, kamu pasti mojok baca buku. Atau kalau mama suruh naik panggung, kamu pasti malu. Pasti adik kamu yang lebih berani, gitu. Jadi, first of all, actually gua tuh tipenya yang first thing, first instinct adalah untuk merasa insecure mungkin atau enggak terlalu percaya diri. So, it's an interesting question. Iya. Em ee dan apalagi mungkin ya karena kesempatan-kesempatan yang tadi ee gue dapetin entah sekolah di tempat-tempat yang cukup baik gitu ya, selalu disikelilingi sama orang-orang yang gue tuh merasa selalu ngelihat ke atas
23:02 gitu kayak oh my gosh kok lu pintar banget ya atau kayak kok lu ini banget ya gitu. Itu tuh sering banget sih bilal to be honest. Jadi imposter syndrome tuh something yang just had to deal with. H in my life. Yang paling pertama kali ngerasa begitu banget tuh pada saat S1 sebenarnya. Oke. Karena di situ ada culture shock. He. Terus em tiba-tiba masuk ke university seperti Oxford yang ee untuk jurusan gue pada saat itu kelas-kelasnya tuh sangat kecil. ee kelasnya tuh bisa satu profesor, dua atau tiga murid karena bentuknya itu diskusi sebenarnya bukan lecture. Jadi lecture-nya tuh ada lecture yang besar. Oke. Tapi terus ada kayak sesi-sesi profesor
23:47 he yang smaller group dan habis itu kita ngomongin ESA yang kita tulis untuk minggu itu. Kadang-kadang based on a book the professor wrote. Oke. Jadi e eh situasinya tuh terasa sangat high stakes dan sangat mem ada perbandingan antara kita dan juga classmate kita yang cuma satu atau dua orang itu. kita harus berbicara di secara secara aktif di kelas tersebut. And it's just the most it was the most like scary growth situation I've ever been in. He. Em karena gua tidak terbiasa juga dengan format kelas seperti itu. So, the feeling of always feeling, "Oh my gosh, I can't do this."
24:34 Like I I'm not confident. Itu tuh sering terjadi. Dan ada satu hal yang pada saat itu menjadi turning point yang sampai sekarang gue gunakan gitu. It's this feeling or this shift in mindset bahwa you should try to put yourself in a room. where you are the least smart or the least capable because it means that you are the person growing the most in that room. Wow. Karena berarti kita yang absorbing, kita yang menyerap, kita yang belajar paling banyak. Iya. Dan kita yang paling deltanya itu delta pertumbuhannya itu paling besar gitu logikanya. Heeh.
25:19 Jadi yang tadinya itu mungkin ya mindset gua adalah oke gue datang ke kelas ini gimana caranya gua harus perform. Hm. Itu jadi berubah jadi kayak enggak enggak enggak gue cukup ke kelas ini. Gue pengen belajar dan gua harus come in with curiosity dan gua harus menyerap. Yes. Mungkin memang benar orang-orang ini lebih jago, lebih pintar. He. Tapi berarti betapa beruntungnya kamu mau di that's humility. Maybe maybe the humility actually helped gitu dari sisi oh ya udah jadi it's not about performance it's not about being the best atau being number one but it's about the learning experience and knowing that
26:05 you get to absorb as much. Nah, dari situ sih baru eh jadi turning point gue menjadi lebih nyaman dan akhirnya jadi lebih improve dan mungkin ujung-ujungnya ya akhirnya jadi merasa lebih peer to peer gitu sama pece gue pada saat itu gitu karena enggak terlalu stuck in my own insecurity dan lain-lain. sampai sekarang masih sering terjadi he perasaan-perasaan kayak gitu dan I always remind myself of of that same thing gitu. H termasuk waktu kemarin em eh gue ke Geneva buat ada namanya yang Global Leaders Summit itu komunitas yang baru saja gue tuh on boarded to that community.
26:52 Itu adalah sebuah komunitas dari World Economic Forum. He. Wah, isinya angkatan gue Bilal itu eh prime minister, ministers atau kayak e very very successful entrepreneurs dari seluruh dunia. Em umurnya juga 30 sampai 40. Jadi gua termasuk yang paling muda karena gue 30. He. So, imagine aja gua di situ juga I felt like a fish out of water, but then I forced myself to, you know, shift the mindset again kayak gitu. And then, and then it really helps. Ya, ya. Aku tadi kepikiran juga kalau memang kita ditempatkan mungkin ini privileg dari sisi lingkungan kali ya karena kita tahu kita sekolah atau kita
27:37 sedang di tempat itu even kita ngerasa inferior kita punya rasa takut tapi dengan punya coursity dan humility tadi kita dituntut untuk kita belajar sendiri even mungkin sekolah atau kuliah sudah selesai kita punya kedip untuk belajar sendiri karena kita tahu kita di lingkungan yang mungkin lebih pintar dibanding di dibandingkan kita gitu. Iya. Dan kalau kita pakai POV inferior terus susah untuk bisa absorb ilmu yang didapat. Susah susah susah. Karena karena berarti mindset kita tuh stuck di performance. Yes. Bukan, bukan di bukan di learning gitu. Itu yang harus gue ubah banget waktu itu. He he. Heeh. Sama tadi aku kepikiran bahwa itu juga mindset yang dipakai oleh orang yang kalau ngelihat sesuatu itu selalu dalam konteks berkompetisi gitu. Kayak semua orang itu siapa yang paling
28:24 cepat, siapa yang paling pintar. Jadi kita ingin berkompetisi dan itu biasanya kalau kita merasa gagal dikit itu udah yang paling rugi kita yang paling kita yang paling buruk di dunia ini gitu karena semua orang melihat mindset kompetisi gitu bukan mindset their own game. Dia enggak enggak applying dari game gitu. Jadi kayak mindsetnya tuh bisa dibilang juga outcomes versus proses. Pada saat kita berkompetisi, kita tuh outcome focused. Oh yes. Yes. Gitu. Tapi pada saat kita tidak berkompetisi dan kita hanya belajar, kita jadi proses fokus. H dan ngejalanin prosesnya aja asal itu memuaskan bisa membuat kita happy dan punya sense of achievement. Entah apapun itu hasilnya. Iya. Ya mungkin
29:10 tadi kamu menginspirasi aku untuk itu juga menginspirasi aku untuk aku tulis ke buku aku berikutnya kali ya. Outcome focus versus proses fokus. tadi mau di mention tentang yang global leaders kayak pertemuan World Economic Forum kan. He. Itu apakah pertemuan yang baru dibikin di tahun ini atau memang diajak kolaborasi oleh mereka atau gimana? Karena menurut aku waktu aku masih kuliah, aku paling senang kalau dilibarkan di kegiatan seperti itu. Walaupun kita akan terkesan sangat inferior karena orang-orang lainnya mungkin menteri daerah lain. Dan seberapa penting gitu kalau kita terutama teman-teman yang nonton ini untuk bergabung di komunitas organisasi-organisasi besar itu terutama untuk 20-an gitu. Hm.
29:55 Iya. Jadi eh si yang Global Leaders ini adalah sebuah komunitas yang dibangun sama World Economy Forum dan setiap tahun tuh ada cohort-nya sekitar 100-an orang yang terpilih oke dari ee seluruh dunia dan kita menjadi bagian dari komunitas ini selama 3 tahun. Hm. Ee diberikan akses ke perkumpulannya, diskusinya forum-forumnya summitnya gitu. Em dan objektifnya adalah untuk eh memfasilitasi cross cultural cross country collaboration among I guess young leaders around the world between the ages of 30 and 40. E jadi konteksnya
30:42 gue eh baru aja diterima menjadi cohort 2025. Oh co fashion. Oh iya, thank you. Em dan dari situlah akhirnya ikutan summit yang kemarin ini yang yang global leaders ini ketemu dengan kohort-kohort lain ini yang very impressive inspiring friends gitu. Emm dan tahu enggak sih? Sumpah. Pokoknya seminggu sebelum gua terbang, gue di-email sama salah satu penyelenggaranya dan gue diajak untuk jadi speaker di sesi gue sendiri. Hm. Sesinya adalah meet the leader. Dan di sesi itu gue diajak untuk speak on authenticity and and influence gitu.
31:30 karena background gue dan mungkin karena pekerjaan gue mereka merasa em gue punya perspektif yang unik gitu dalam topik ini. Wah, itu gua udah mulai penuh rasa e takut dengan deg-degan. I'm like, "What what am I gonna say in front of all these people?" Terus gitulah udah udah mulai tuh pemikiran-pemikiran itu. Emm. Nah, tapi intinya gua harus ke sana gua ee cerita, gua sharing, gue juga merasa gua mendapat kesempatan untuk cerita tentang Indonesia. And that's a wonderful thing for me. Dan gua pulang dari situ gua merasa, "Wow, like I really challenged myself and I did it." He.
32:15 Dan ada sense of achievement gitu. Bukan karena outcome-nya gimana, tapi lebih kayak I did something that I was scared of. And maybe I haven't been scared in a while. And I think that's what's really important about I guess being part of of these types of communities. You get to do things that you're scared of. And that's I think when the most growth happens. Pada saat kita melakukan hal yang sangat kita takuti dan kita enggak yakin kita mampu, kita tuh lagi tumbuh banget di situ. Itu satu. Jadi, gua sangat merasa terchallenge. Yang kedua, di saat bertemu dengan sosok-sosok ini yang sangat-sangat inspiratif, they also all have like a
33:01 love for impact. Semuanya tuh punya punya itu sih, punya aspirasi untuk berbuat lebih beyond themselves. H this type of energy itu menular menurut gue bilang. Hmm. Makanya gua tuh agak-agak percaya sih, you are the five people around me. Mungkin bukan five ya, 5, 10, 30, I don't know. Tapi memang kita adalah akumulasi manusia-manusia, interaksi-interaksi yang di sekitar kita. Jadi kenapa sih kita mungkin harus kadang-kadang men-challenge kita untuk menjadi bagian dari komunitas-komunitas apapun itu ya ee tergantung oleh impian masing-masing orang, tapi komunitas itu atau energi budaya itu
33:47 menular. H. Jadi, gua pulang-pulang juga punya semangat yang lebih, punya ee motivasi yang lebih untuk berbuat atau berkarya. yang lebih impactful impactful lagi karena ketemu eh teman-teman yang sangat inspiratif gitu. So, in your 20s di saat kalian benar-benar masih mencari jati diri, alangkah pentingnya karena kan itu kan proses penyerapan ya. Umur 20-an tuh kita apa ya penyerapan mode on lah itu kita tuh kayak sponge dan kita menyerap. He. Jadi lebih penting lagi gitu eh being part of communities, mungkin organisasi apapun itu ee di mana kita disekelilingi
34:34 eh orang-orang yang punya budaya ataupun traits personality yang kita juga ingin ingin miliki mungkin ya. Heeh. Whatever that is. Aku jadi ingat sesuatu tadi karena biasanya aku kalau ngelakuin project atau misalnya lagi ngelakuin sesuatu yang aku passionate sekali. He. Ketika itu sudah selesai, aku bukan happy karena itu berhasil atau achievement-nya itu luar biasa. Iya. Tapi aku happy ketika ingat momenya aku sacrifice gitu. Kayak momen yang aku berupaya sekali untuk kadang belajarnya, menulisnya, mempersiapkan materinya. itu yang aku rindukan gitu. itu yang yang senang sekali dilakukan oleh anak 20-an seharusnya i si proses berupayanya itu ya yang
35:21 berkesan ya proses fokus tadi kalau kata ya kayak proses itu sangat-sangat berkesan atau paling simpelnya gini kalau misalnya kita lagi effort sekali dengan sesuatu kalau hasilnya optimal ya itu wajar tapi kalau hasilnya luar bias effort kita rendah aku malah enggak happy gitu karena rasanya jadi kayak we didn't earn it kayak ada sedikit kayak eh kurang Kok kayak ada yang kurang ya? Kayak aku dapat sesuatu tapi kok effort aku kayak biasa aja gitu kayak itu feelnya sangat berbeda biasanya. Hm. Dan tadi aku juga benar lagi jadi ingat fase ma yang ketika masih di Oxford di awal awal-awal 20-an juga itu kan kita harus jadi sponge yang harus menyerap semua orang gitu ya. Iya. He. Karena kalau menyerap ee tanaman-tanaman
36:07 lalu kan Spongebob ya. Masuk ya masuk ya. Karena udah terlalu kaku nih kan. dari tadi tuh aku kayak loading. Bentar bentar ini tuh joke ya. Iya iya teman-teman udah expect serius nih. Tapi it's ok. Itu be bridging pertanyaan berikutnya. Lucu lucu. Aku suka. Em kalau dilihat dari sisi pertemanan itu biasanya akan ada yang diacrifice di hidup ini ya. Karena tadi aku lihat inner cycle-nya juga pas mengecil atau teman-teman di sekitarnya juga memang orang-orang yang sangat konsisten lagi kayak playing long game with long people gitu. Sebenarnya yang selama ini dilakukan oleh Maudi dengan punya privileg ini sebenarnya apa yang discrifice oleh Maudi yang mungkin tidak terlihat? Apakah jam tidur mungkin
36:52 mungkin harus diet setiap hari? Apa yang sebenarnya kamu sacrifice sehingga kamu happy dengan kamu sekarang gitu? Mm kalau misalnya kita ngomongin kayak masa kecil yang aku sacrifice mungkin times of play ya. Hm. Times of socializing and playfulness. Karena film pertama gue kan 9 tahun waktu itu. 9 tahun. 9 tahun. E sebenarnya sih mungkin itu habis itu enggak terlalu aktif juga sih, tapi mungkin mulai umur 13 14 tahun di saat gua lagi bikin album terus main film sang pemimp eh habis itu perahu kertas nyanyi dan
37:39 lain-lain. Ee terus sambil sekolah juga yang pada saat itu ya gue juga suka banget sekolah dan ee pengin maksimal banget juga tentu ada pengormadan. He pengorbanan gitu. Jadi em gue sangat jarang sekali dulu tuh main sama teman-teman di luar sekolah. I gua tuh selalu even dulu SMA tuh selalu dicap kayak enggak usah nanya maudi pasti dia enggak bisa. Oh gitu. Heeh. Tapi what what ended up happening is like of course I lost a sense of play and like freedom yang mungkin di masa-masa itu gue juga sebenarnya memerlukanlah masa-masa ease and playfulness and no pressure. H
38:28 itu tuh perlu ruang itu gitu. I karena ternyata kalau udah makin gak ada lagi i kan maksudnya room of play itu in childhood itu benar-benar unik banget. Karena begitu kita udah dewasa isinya tanggung jawab, isinya pekerjaan. Tanggung jawab tu maksudnya tanggung jawab ke orang lain ee pekerjaan dan lain-lain. Itu tuh time of play udah enggak ada. Sekarang aja kalau bengong tuh adanya mau mikir gitu. Hm. H. Tapi jadinya di masa-masa where I could have had that for longer, I had less of that gitu. Jadi, eh my timeline of pressure started early gitu when I was like maybe 13 gitu. Jadi itu em to this day gua
39:14 ngerasa it's still it's still a big loss gitu. kayak em waktu prom night gue cuman datang bentar doang, habis itu harus pulang karena besoknya udah ada kerjaan gitu. Jadi kayak kok enggak ada beberapa core memories mungkin yang gue jadinya enggak enggak fully ngejalanin gitu. Wow. Makanya aku kalau ketemu orang misalnya kalau dia lagi di pick performance aku pasti menanyakan sisi apa yang disercrifice, apa yang mungkin hilang dari dia atau apa yang harus dia korbankan untuk mencapai ke sana. Karena tidak ada orang yang mungkin kalau di teori diboners theory tidak ada yang bisa benar-benar imbang semuanya gitu ya. Heeh. Heeh. sama em for the longest time mungkin karena
40:02 karena udah ngejalanin itu semua terus kayak bekerja dari kecil juga em terus mungkin punya sorotan publik walaupun enggak sebesar sekarang ya kalau masih merintis kan following-nya masih sedikit yang tahu juga masih sedikit tapi jadi kayak dari dulu tuh udah ada rasa tanggung jawab bahwa apa yang aku lakukan tuh ada implikasi lebih besar dari diri aku. H. Jadi freedom to make mistakes itu I haven't felt that way since I was maybe 12. Wow. Rasanya. And that's that to me is huge. I don't feel like I had the freedom to make mistakes. Kayak everything feels higher stakes aja gitu. Karena kayak em karena sorotannya itu eh berbeda.
40:48 Paham. Emm. Ya. So, so ya. Freedom, freedom and play itu yang itu yang dua hal yang gua rasa dikorbankan. Freedom and play. Kalau freedom memang sudah harus dikobarkan oleh orang-orang yang di dunia kreatif ya. Itu emang hal yang sangat umum. Iya. Heeh. Kalau play tadi itu aku tidak relate karena memang harus dari kecil untuk aku enggak bisa mengatakan itu bekerja kali ya, tapi itu bisa dikatakan memang itu play tapi play di role yang berbeda. Play di role yang mungkin bisa dimonetize ya makanya main film tetap tetap kerja jatuh. Tapi mindsetnya anak kecil tuh sudah mindset kerja berarti bukan, bukan mindset dia. Wah, happy nih. Oh, enggak kerja sih.
41:36 Maksudnya bukan kerja yang wah gimana gitu. Cuman it's definitely work karena everything is contract based. Everything is you cannot miss it. Whether it's fun or not. Ya, pasti ada funnya. Tapi kan ada capeknya ya. Kalau misalnya dulu tuh zaman nyanyi di Dahsyat H atau nyanyi di inbox itu nyanyi dulu ke sekolah pulangnya les habis itu recording L misalnya kayak gitu kan kayak pasti ada capeknya tapi you cannot do anything about it eh maksudnya ya itu udah pilihan gitu masuk itu pilihan dan tadi juga ada kontraknya jadi kita sebagai orang yang profesional juga kan iya jadi eh professionalism itu udah harus ada sih kalau enggak kan jadi kayak kalau play itu you can choose not to He. Tapi memang ya it's a form of
42:22 responsibility gitu. Aku sering menanyakan ini ke teman-teman yang datang ke berkelas kali ya. apa tuh fase tadi seorang maudi dari kecil sampai sekarang pasti ada menemukan dan kebentur dengan fase kesepian ya terutama sempat kuliah di luar dan di fase kuliah di luar itu mungkin orang em tidak melihat dari kacamata bahwa ini orang terkenal ini orang yang punya nama besar tapi mereka melihat bahwa ini POV-nya mahasiswa sehingga kita kalau berteman dengan orang H itu memang natural aja gitu kayak terakhir kemarin aku ngobrol sama Jerom Jerom bilang aku mobil takut banget kalau misalnya fase-fase ketemu sama orang entar traksional malah malah diajak kepentingannya gitu dan itu hal yang wajar dilaksakan oleh orang-orang
43:07 yang ngerti-ngerti memang di industri ini gitu. Iya. Iah. Boleh ceritain enggak fase sempat kesepian dan apa yang kamu lakukan dan bagaimana kemudian dealing dengan kesendirian itu? Hm. Jarang ngerasain gitu juga ya. Mmm aku juga cukup merasa sih hal tersebut gitu. Em mungkin makanya teman-teman aku sekarang juga mostly adalah teman-teman dari SD, SMP, SMA. Karena bukannya aku merasa bahwa setiap pertemuan tuh pasti transaksional, tapi kita tuh kayak ada feeling in the back of our head. Ini tuh kita purely nyambung atau sebenarnya memang karena kita lagi pengin punya outcome yang mutually beneficial ya. kayaknya aku enggak tahu itu karena kita
43:54 udah dewasa atau juga karena the nature of the business and the industry juga karena kumpulan pengalaman pengalaman masa lalu juga mungkin karena kumpulan ee masa lalu jadi kayak membangun hubungan ee baru jauh lebih mudah kayaknya dulu gitu yang lebih purest lebih pure dan ee dan lebih organik sekarang tuh memang sifatnya suka suka bingung gitu Bet. Emm. Sor. Tadi pertanyaan kamu apa? Bilal aku jadi keseruan sendiri. Kesepian itu gimana cara dealingnya? Kesendiriannya itu gimana cara seorang mau di dealing sehingga kamu happy sama kamu sendiri gitu. Mm. Emm. Untungnya aku tuh orangnya memang
44:42 introvert. Oke. Jadi cenderung survive atau nyaman dalam kesendirian. Ee jadi kalau misalnya selama masa kuliah atau masa apapun itu di saat teman aku tuh cuma segelintir, aku tuh kayak totally fine ngobrol sama satu orang itu terus. Hm. atau kayak ngobrol sama si lima orang itu terus gitu. Itu tuh cukup cukup bisa mengisi aku gitu. Karena aku lebih suka obrolan yang deep dengan orang yang aku enggak harus ajarin ulang konteks hidup aku. Oke oke oke. Kan kalau kan kalau kita kenal orang baru jadinya harus mulai dari i superficial. Wah berkali-kali ketemu berjam-jam baru akhirnya
45:28 mereka tahu konteks penuh. Akhirnya bisa kita ajak lebih dalam. He. Nah, aku tuh cukup nyaman dengan kayak udah dengan orang-orang sekitar aku, even my team dan lain-lain. Em apa namanya? Thankfully mungkin itu kali ya. Jadi fase kesepian yang literal kesepian tuh mm enggak terlalu pernah aku alamin karena I can survive with very few people around me. I itu sangat rel. Jadi kamu gitu juga bilang ya kan kayak malah kadang-kadang sendirian doang literal sendirian gue juga masih oke gitu ya asal enggak yang berkepanjangan selamanya ya tapi aku bisa bilang sih dan ini sering aku
46:14 bilang di podcast aku juga dan di beberapa postingan aku aku bilang bahwa kalau kamu merasa kesepian ya berarti kamu bukan teman yang baik untuk dirimu sendiri gitu karena I like that iya karena aku can you be alone with yourself gitu kan maksudnya jadi kayak aku misalnya misalnya aku lagi di coffee shop tuh sendiri gitu ya, makan atau sambil kerja laptop. Kan kalau cowok lagi makan kan kasihan kayak kayak kita ingin samperin ini saya bantu gitu ya. Heeh. Heeh. Heeh. Dan aku tuh emang biasanya sendiri seperti itu gitu. Misalnya aku kayak lagi nulis atau lagi baca buku atau apapun itu sendiri tapi setelah aku lihat orang lain yang cowoknya cowok itu sendiri ya juga kasihan gitu lihat cowok lain. Dan ternyata itu itu aku juga sebenarnya itu cerminan aku gitu. Nah, tapi aku happy ketika sendiri karena kita ngelihat dari luar kan wah nih kasihan ya. Padahal kita happy
47:00 tahu enggak dulu e waktu aku kuliah satu aku tuh pernah mau ke kafe sendiri terus teman aku bilang, "Wait, you're going alone? You're eating alone." Kayak, "Are are you sure?" Pokoknya dia kayak merasa itu sesuatu yang tidak akan nyaman gitu buat dia. Tapi buat aku tuh kayak ya kenapa gitu? Kayak buat aku kesendirian itu seru. Dan kadang-kadang, enggak tahu kamu gini juga atau enggak, kadang-kadang aku ngajak teman aku untuk sendiri bersama-sama. Oke oke oke. Jadi kayak sendiri bersama-sama ya. Sendiri bersama-sama dalam arti main aja yuk ke rumah atau aku main ke rumah dia hanya untuk mengerjakan aktivitas sendirian tapi dengan keberadaan
47:47 orang tersebut gitu di sekitar kita. Oke. Di radius tertentu. Oke. Jadi kita hadir di situ tapi kita sendirian dalam aktivitas kita gitu. Hm. Jadi cuman coexisting. Oke. Oke. Itu aja kadang-kadang indah. Bilal. Menarik. Menarik. Tadi aku aku salah nangkap. Aku salah framing. Framing aku sendiri bersama-sama. Aku ajak ketemu nih coffee shop. Dia unjuk di ujung aku di sini. Itu kayak spy ya, kayak mata-mata gitu ya. Kayak kita mau pecahin kasus gitu ya. Entar kita via WA gitu ngobrol ya. Oke. Kalau itu emang agak aneh ya. Aku aku salah nangkap gitu. Untung dijelasin ya. Untung untung dijelasin. Oke ya. Itu itu adalah obrolan jam . malam orang introvert ya teman-teman ya. Iya. Jadi sangat relate dengan kesendirian dan kita tidak melihat kesepian itu mungkin em
48:33 kalau bahasa anak sekarang solitude ya kayak solitude kayak emang dia sangat senang bukan loneliness tapi solitud solitud karena jak biasanya gitu ya. H aku masuk ke pertanyaan yang mungkin sangat simpel tapi mendalam. Hm. What's next dari semua perjalanan seorang mau di karir di kehidupan? H sebenarnya apa yang ingin dicapai berikutnya dan sekarang apakah lagi naik gunung atau memang dari bawah sekali untuk menuju ke puncak tertentu gitu. Apa yang mungkin bisa di-share ke kita? What's next? Mm mungkin selama ini aku tuh banyak sekali
49:20 aktif di sisi kreatifnya sebagai kreator atau pekerja seninya gitu. Ee bernyanyi, membuat musik, ee akting gitu ya sebagai aktris gitu. Mungkin sebenarnya pelan-pelan aku juga ingin belajar tentang sisi behind the scenes nya. Jadi kalau dalam konteks film atau dalam konteks musik sebenarnya kalau musik udah sih eh masuk ke producing gitu. Oke. Atau em kayak misalnya brand skincare aku from this island itu sebenarnya adalah bentuk aku ee membangun atau berkontribusi ke ekosistem beauty
50:07 gitu ya dengan narasi tentang kecantikan Indonesia atau tentang ekstrak-ekstrak Indonesia. He. Karena I also want to build lasting impact and some type of legacy gitu. He. Em. Jadi itu sih kayak menggabungkan tentunya tetap akan ada pekerjaan seni gue sebagai pekerja seni tapi slowly also contributing in the narratives in the storyting as a from producers point of view di film dan musik. And then also in the ecosystem broadly em pebisnis atau seseorang di
50:53 pihak swasta yang can influence an ecosystem dalam konteks ini mungkin ekosistem kecantikan, ekosistem em apa namanya ya? eh ekosistem beauty and cosmetics gitu ya untuk lebih mengangkat cerita-cerita atau heritage Indonesia gitu. Emm itu sih mungkin jadi moving and then also having thinking about more like longer term impact. Jadi impact bukan legusi yang besar gimana tapi lebih lasting impact-nya dengan seperti apa ya gitu. He. Em dan tentunya itu adalah learning curve yang sangat amat besar gitu untuk
51:39 actually operating as a business person juga. H eh and mindset yang juga sangat berbeda. Jadi gua lagi banyak belajar juga sih em on that front. He mm ya maybe for now that's what's next. He. Kamu bertanya secara karir atau personal? sebagai maudi sih itu mungkin kayak dari sisi karir ya. He. Secara personal. Secara personal. Hmm. Secara personal I'm trying to get to a stage where I am giving myself more grace and more patience. Karena umur 20-an tuh rasanya kayak sprint banget.
52:26 malah mungkin dari belasan ee dalam untuk konteks gue gitu kayaknya tuh lari aja terus gitu ngejar entah apa. And now that I'm th I just need to make sure that yang selama ini dikejar itu masih sesuatu yang ingin dikejar. H jadi I am also going through an audit period di mana gue pengen make sure bahwa gue masih selaras. He. Tapi tidak harus selalu sprint dan tidak harus sprint. Justru harus pause dulu. Karena jangan sampai ternyata kita mengejar sesuatu yang kalau kita post tuh sebenarnya gua enggak udah udah bukan itu lagi ya yang gue cari atau yang gue pengin gitu. Just
53:13 making sure that realignment itu ada. Hm. Mungkin itu dari personal dari berbagai dimensi hidup ya. Hm. He tadi katanya juga setiap hari belajar sampai hari ini belajar terus ya. He. Sehari berapa menit baca buku atau enggak? Enggak selalu sih. Enggak setiap hari. Emp hari tapi definitely seminggu gua pasti beberapa malam before bed gua di bad side table gua tuh ada a few books that I'm reading. He he gitu. tiga buku yang mengubah seorang maia terutama untuk teman-teman yang menonton ini yang mungkin fase 20-an. Mm
53:59 kalau zaman di zaman S1 gua kan belajarnya philosophy, politics and economics. He. Eh specializing di political philosophy juga. Jadi ada salah satu buku yang gua baca itu The Origins of Inequality by John Stuart Mill. It's actually a relatively thin book. Enggak tahu kenapa buku itu tuh membuat gue sangat-sangat berpikir panjang tentang ee kemanusiaan, human history, humanities journey dan membuat gue secara kritis mempertanyakan mungkin hal-hal yang sifatnya adalah di dunia ini tuh social
54:45 construct. H yang mana yang sebenarnya core atau human nature gitu. Itu itu salah satu topik yang dulu tuh as a you know 18 19 year old tuh kayak ye iya you know and and knowing that oh ternyata ada loh banyak hal-hal itu yang kita inherit dan kita harus assesment lagi nih sebenarnya hal-hal yang inherit ini yang diinherit ini kita harus mau bergelut dengan perspektif-perspektif tersebut dan lalu kita terima atau kita reject gitu. Em dan enggak tahu kenapa buku itu tuh menjadi trigger waktu itu. Gua
55:30 sangat-sangat tergerak dengan that book karena ya itu eh it's not it's not a factual book but it is one that takes us down an exercise of what the origins of inequality is. Jadi, John Swartmill ini going through his own intellectual exercise dan kita diajak ke perjalanan tersebut and it really it left an impact. I don't know. I haven I should reread it again to see if it will make an impact now. Cuman kayaknya waktu itu mungkin I was 19 when I read it and it changed my ini man's search of meaning Frankle. Yang
56:17 kedua, Man Search for Meaning. Iya, man Search for Meaning kayaknya gitu deh. Mungkin nanti bisa dicross check ya kalau ada salah dikit. Victor Frankel. Y also very very interesting talking about what drives a person gitu. And he thinks that what we're all doing is searching for meaning. H dalam kehidupan. It's not pleasure. It's not pride or superiority. Kan ada banyak tuh ya kayak lini-lini filosofinya gitu. Kayak what what we
57:03 believe is something that human beings search for. And he I just kind of like his perspective dan eh juga grounding it in his experience waktu berada di concentration camp. He y eh ya concentrication camp. Jewish Constitution Camp gitu. Jadi, it's it's both grounded in kind of like these really really extreme experiences, tapi terus ada kayak psychology, philosophical debrief atau analysis of that experience itu gua suka banget. He. Emm, yang ketiga mungkin mungkin yang terbaru ya, yang gua juga lumayan suka.
57:48 I really like let the let them theory. Wow. Why? Aku udah baca dan Wow. Oke. Luar biasa ya. Ini ini yang ini mungkin yang lebih kayak recently lah. Yang dua itu I've read for a while now by Melobbins gitu. But it's I just think like the frankness and her style of walking us through why letting go and letting people be is such a powerful tool itu tuh oke banget karena kita semua udah sering lah dengar kayak let them let go itu tuh udah sering gitu tapi reasoning-nya kan untuk bisa kena di hati kita
58:33 I think she did quite a good job of in the book. And it's a good reminder I think untuk fase hidup gue sekarang ini sih. H without saying too much but which is kind of like let learning how to let things be, let them be gitu. Hm. Kenapa kamu kayaknya punya respon terhadap buku ini? Iya. Yap. Jadi aku bisa simpulkan buku kedua dan ketiga juga masuk top tiga aku. Really? Iya. Mure for meaning, fitur Frank, Tet them theory. Sekarang masih di top list yang aku baca dan itu sangat relate dengan kehidupan aku. Tapi buku pertama aku benar-benar belum
59:19 pernah baca. Yang inquality tadi dari Josmile aku belum pernah baca dan aku yakin juga Maudi pasti kalau baca sekarang feel-nya sangat berbeda ya. Iya makanya poov yang orang berbeda gitu ya. Makanya aku kayaknya mau baca ulang karena I don't know why for a 19 year old pada saat itu tuh kayak banget tapi maybe I'll have a different perspective now gitu. H he he. Tapi I would say that that kind of changed my perspective then gitu. Kayak itu tuh lumayan turning point. Kalau yang buku kedua message for meaning juga di fase aku baca itu memang aku lagi di fase menderita dengan diri aku sendiri kayak H. Dan aku belajar bahwa penderitaan juga bagian dari kehidupan ya. Yes. Yes. I think Frank mentioned that
1:00:08 you can get meaning from one a particular work or calling in life to you can get it from a connection that you have with other people. mungkin your your wife, husband, children, family, apapun itu. Terus yang terakhir from suffering, worthwi suffering. So even in suffering, as long as there's some meaning that you can get out of it, that can make life feel worthwhile gitu. Dia kalau enggak salah ada tiga itu. I don't know if it's a perfect quotation for him. I don't think it is. Tapi kalau enggak salah dia ngomongin tiga itu. And and the suffering one is really interesting. H hm. Dan dalam konteks penderitaan itu juga menurut aku even di penjara, even di camp yang
1:00:54 sangat ribet itu dia tahu 2 tahun lagi dia harus punya project apa, dia alasan dia keluar itu seperti apa. Dan itu yang kita alami sekarang. Harusnya kalau kita di fase yang lagi despirit sekali, H kita tahu fase ini itu sebenarnya kita fase kita yang mungkin 2 tahun lagi sedang menunggu kita gitu kan. Nah, siapa yang sedang menunggu kita itu ya kita harus menuju ke sana walaupun sangat-sangat berat. Heeh. Heeh. He talks a lot about hope. Oh ya, hope iya kan? Oh ya, hope as the thing that adds meaning to your suffering. Ah emang ya it's it's a good book. Dan lihat dia makai aku senyum-senyum karena memang selama ini aku selalu mencoba untuk mengontrol opini orang gitu tentang aku, tentang orang di
1:01:39 sekitar aku. Tapi dengan mengupayakan ya udahlah biarin aja mereka seperti itu. Bukan mengabaikan tapi kita lebih care atau self care yang terbaik itu menurut aku dengan ya udah let them. Iya. Ah, I love that. Ya, teman-teman berkelas sebelum kita lanjut podcast ini, aku cuma mau bilang info spesial khusus untuk kamu. Mulai hari ini, kamu sudah bisa join membership resmi Suara berkelas. Kamu bisa dapetin exclusif summarise dari episode-episode favorit aku di Suara Berkelas. Dan setiap bulannya bakal ada akses eksklusif buat kamu melihat behind the scene podcast suara berkelas seperti obrolan aku dengan narasumber of the record dan hal menarik lainnya yang
1:02:25 bakal aku share khusus untuk membership ini. Jadi kalau kamu merasa podcast suara berkelas mengubah cara pandang kamu melihat dunia, feel free untuk join membership suara berkelas atau klik link di deskripsi. Sampai jumpa dan jadilah bagian dari perjuangan dan perkembangan suara berkelas. Maudi. Tiga pertanyaan dari teman-teman. Suara berkelas. Asik. Pertanyaan pertama dari Chris Crispy. Chris Crispy. Ya, Chris Crispy. Do you think bringing your skills and experience from abroad will be useful in Indonesia for now? Dan apa yang bisa kamu sharing ke anak-anak 20-an tentang pengalaman dan skills kamu? Mmm, mungkin pertanyaannya skills apa dulu
1:03:12 kali ya? Karena karena kalau mm karena kalau gua pikir-pikir sebenarnya yang paling valuable itu kan ee ada beberapa hal. Satu, cara berpikirnya. H mungkin yang kita acquire adalah cara berpikir dan cara mencari solusi terhadap sebuah problem gitu. Jadi lebih kayak structured thinking, problem solving. Hal yang sebenarnya sangat bisa diapply. apapun itu masalahnya. Y em yang bahaya adalah pada saat kita mungkin membawa sebuah teori dalam konteks yang berbeda terus kita ke kita apply ke Indonesia yang konteksnya
1:03:58 tuh beda karena there's no one size fits all solution gitu. Jadi jangan tentunya jangan teori di yang dibawa tapi pemikiran ands of thinking and ways of solving a problem or ways of looking at a problem. Em dan yang kedua itu sih kayak knowing knowing how to dig knowing how to dig deep and knowing how to use the curiosity and critical thinking approach to look into any issue. Itu yang gua rasa eh juga penting dan sangat-sangat bisa diapply gitu.
1:04:46 E and then I guess hard skills juga yang objectively bisa cukup berguna di konteks manapun. Kayak di dunia bisnis you know principles of accounting and finance there are just quite literally certain things yang universally applicable. Jadi satu hard skills yang emang applicable em dan yang kedua lebih ke ways of thinking. Em dan kenapa itu applicable? Karena it can function in a variety of context gitu. Makanya kalau misalnya gua ditanya kayak eh Maudi, kalau belajar filsafat
1:05:32 atau political philosophy waktu di S1 enggak kepakai dong. I itu kan ada ya kayak atau kayak apapun itu jurusan kita ya selama S1 kok jadi enggak kepakai sekarang jadi penyanyi atau sekarang jadi pebisnis apa hubungannya gitu. Em dan gue tuh selalu percaya bahwa pada saat kita sekolah kita tuh belajar cara untuk belajar. Hm. Kita belajar cara untuk berpikir, kita belajar cara untuk menganalisa dan mencari solusi, mengupas sebuah isu, mengupas sebuah titik permasalahan dan habis itu gimana caranya kita merespon dengan cara yang terstruktur dan logis dan apapun itulah kritis. Siap. Wah, dan itu besar. itu sebenarnya yang kita dapatkan dari S1 atau dari
1:06:18 pendidikan idealnya gitu supaya ruang aplikasinya luas. Mau nanti masalahnya baru kita bisa menggunakan otak yang sama atau tools tool kit-tool kit yang sama gitu. Enggak tahu sih ini ee Kris crispy apakah ini harapan yang kamu eh jawaban yang kamu harapkan karena justru menurut aku hard skills-nya tuh malah ee bukan itu sih yang jadi emphasis buat aku gitu. Hm. Heeh. Kalau secara e applicability itu ya. Cris crispy ya. Cris crispy. Thank you for your crispy question. Oke, kita ke pertanyaan kedua dari Aldw Yss.
1:07:05 A DW Yss AL DW SSS. Aku enggak tahu nama panjangnya apa, tapi itu mungkin ya. Hmm. All do mungkin ya. Kak, solusi buat yang mau improve jadi lebih baik tapi di lingkungan aku yang sama sekali tidak mendukung, terutama dari sisi keluarga. Mohon sarannya, Kak Modi. Terima kasih. Wow. Itu kayaknya sebenarnya kalau ada kamu di depan aku, aku akan bertanya banyak dulu karena banyak konteks yang aku missing ya. Em dimaksud dengan keluarga kurang mendukung itu misalnya seperti apa dan lain-lain. Ee tapi mungkin kalau kita ngomong general gimana ya, Bilal? He. Mm.
1:07:50 ya sebisa mungkin mungkin memang mencari atau memposisikan diri kamu ee di ranah atau spaces-spaces lain emm yang kamu bisa temukan ee di luar dari lingkungan kamu sekarang gitu. em supaya budaya-budaya tumbuh itu mungkin bisa menular he ke diri kamu gitu atau di luar itu mungkin kamu bisa create that own space gitu em dan mengajak teman-teman sefakultas atau apa untuk bikin kayak forum diskusi atau bikin inisiatif tertentu. I just feel like ya surrounding yourself with likemed
1:08:36 people itu sangat-sangat membantu kamu tumbuh because it feels natural. Benar. Jadi it's a social context dan bukan sesuatu di mana kamu tuh kayak aduh gua harus tumbuh nih, gua harus kayak improve myself gitu. The improvement happens as a sub outcome of hanging out and being around people who inspire you and who make you w to grow gitu. Jadi ee satu itu sih cari cari tempat-tempat seperti itu. Ee yang kedua I believe in the power of just action and just doing things. H as as something that propels growth. Jadi kalau ada sesuatu yang kamu udah
1:09:22 lama pengin lakukan, apapun itu, coba lakuin aja. Ambil aja kelas itu. Ambil ikut aja organisasi itu. Datang aja ke meeting pertama. you know, and and it's like these small little things yang sebenarnya tadinya kamu ragu, kamu agak berat ngejalaninnya, tapi kamu you do it anyway, that's really confidence building. H. Dan itu tuh akan menggulir ke hal-hal lain yang tiba-tiba kamu ngerasa, "Eh, gua udah improve banget ya in the last year." Just by saying yes to things, just by doing things that you were scared of doing. He. Just by saying yes to action and no for action. Yes. Just by saying yes to action. Oke, kita ke pertanyaan ketiga.
1:10:10 Pertanyaan terakhir dari followers kita. Fatia_ptr. Bagaimana cara Kak Maudi mengendalikan emosi yang selama ini lingkungan tidak support Kak Maudi? Hm. mengendalikan emosi ya. Mengendalikan emosi ya. Hm. Mungkin yang menarik di sini adalah step awal dari mengendalikan emosi adalah tidak mengendalikan emosi. Bentar ini kalau ada bentar kalau ada kliper langsung pakai musik. La la la. Dalam arti
1:10:55 emosi itu kan perasaan. Kita harus berikan ruang dulu untuk perasaan itu. Oke. Berikan ruang itu bukan berarti kita terus sudah bereaksi ya, tapi kita berikan ruang untuk kita mengenal perasaan itu dulu. Karena adalah masa-masa di mana aku merasa sangat marah atau punya ketidaksukaan terhadap sesuatu, ketidakpuasan terhadap sesuatu. Dan kadang-kadang pada saat aku memberikan ruang, kenapa ya aku sesedih ini, semarah ini, apakah ini adalah akumulasi terhadap sesuatu yang sudah aku alamin? Apakah ini tuh sebenarnya sesuatu yang lebih dalam hubungan aku dengan orang siapa? Apakah ada ketidakselarasan dalam hidup aku yang sebegitu besarnya sampai kok aku
1:11:43 emosinya meluap-luap melebihi apa yang menurut aku tuh proporsional gitu. Dan kita baru bisa mengenal emosi kita. Kalau kita biarkan emosi itu ada, H biarkan dia hadir sepenuhnya dulu tanpa kita apa-apain, tapi kita baca, kita terima aja. Jadi mungkin itu yang menarik caranya adalah membiarkan dia ada. H I'm very angry. I can feel how angry I am. Baru dari situ kamu olah lagi. Kenapa ya kira-kira? Almost like having the internal dialogue and being curious with yourself. H kenapa kira-kira gua merasakan sekuat ini? H dari situ biasanya
1:12:29 emm analisa kita tuh terbagi antara oke perasaan yang ada dan bisa gue convert jadi action dan perasaan yang gua akan work internally. Misalnya entah go to therapy atau ngobrol sama teman. Tapi ini sesuatu yang sebenarnya ee halin nih, kayak something else emm yang mungkin enggak sepenuhnya valid dalam konteks ini, tapi valid on ager scale. Eh, dari situ barulah kamu bisa berpikir action plan-nya apa, reaksi kamu terhadap perasaan itu akan seperti apa. Karena perasaan itu selalu boleh hadir
1:13:14 dan ada. He. Tapi aksi dari perasaan itu yang ada benar salahnya. Wah, bagus itu. Bagus ya. Quable ya. Quable. Iya. Kable sekali. Emang emosi itu emang ada dia ada di sana. Tapi aksi dan selalu boleh selalu valid. Tapi aksi yang kita ambilnya itu yang sebenarnya mm there is such a thing as benar, salah, dan optimal tidak optimal tuh dari aksinya. Hm. Mmm. Jadi, listen to your own emotions. Olah dulu. Bagi mana yang kayaknya actionable, mana yang kamu harus, oh ini ada something nih yang harus kamu figure out dulu, kamu healing dulu, apapun itu baru kamu keluarin misalnya action plan aksinya dari emosi itu apa sebenarnya
1:14:00 setelah udah agak lebih clear? H luar biasa. Dalam sekali dan aku jarang dengar itu. Terima kasih Maudi, terima kasih Fatia sudah bertanya. Thank you Fatia. Terakhir dari aku agak no dong tapi it's ok. Takut. The worst advice yang pernah Oh mau di Ayunda dengar. Oh. Aduh jujurnya ini susah lagi. The worst advice. Aku boleh berpikir sebentar ya 1 menit. Boleh. The worst advice. Damn.
1:14:45 Oke. Oke. Boleh. Boleh. Silakan. Eh, bahwa passion is something that you find. Sebenarnya bukan advice, tapi ini tuh kayaknya sesuatu yang udah kita anggap sebagai sebuah kebenaran gitu. bahwa ee passion atau panggilan dalam hidup itu sesuatu yang kita temukan, harus kita gali dia. Kita hadir sudah dengan passion itu dalam hidup ini dan kita hanya perlu menggali he itu apa dan kita hanya perlu menemukan itu apa. Pada saat aku mempercayai perspektif tersebut, aku tuh jadi frustrasi karena kok enggak nemu-nemu passion ini apa sih? Dan ternyata passion tuh aku juga ngerasa
1:15:31 berubah-berubah. Kayak dulu tuh aku tuh suka banget kayak eh apa namanya? Main teater musik. Tapi kok begitu dalam konteks pekerjaan gitu ya rasanya enggak sepassionate itu. Misal misal ada lah e naik turun naik turunnya. Jadi ternyata oh ternyata passion tuh berubah-berubah ya gitu. So I really have changed my mind about that. I think passion is something that you can build h from from action. Jadi bisa banget kita tuh sebagai manusia mungkin kita enggak ada passion inside us calling very very deep. By the way, kalau ada yang begitu juga totally fine. Tapi it doesn't apply to everyone. Emm dan ada mungkin orang-orang yang
1:16:17 ya mereka memilih untuk melakukan hal-hal yang they're good at aja tapi lama-lama menjadi passion. H pada saat ee mereka membentuk itu, membentuk karir mereka sedemikian rupa sampai akhirnya I I'm really invested in this and I'm really passionate about this space because I've learned more about it and I also have the capacity to change and influence space. Dan itu kan baru bisa dijalanin setelah orang itu ngejalanin apa namanya ee proses itu beberapa tahun mungkin, beberapa lama mungkin. And why this is important is because I think aku tuh cuman takut anak-anak teman-teman di luar sana itu jadi
1:17:03 misalnya cepat pindah kerja karena mereka ngerasa this is not my passion. He e cepat pindah kerja sih no problem ya, tergantung. Tapi misalnya 3 bulan, ah udah ah not enggak passionate nih gitu. Ada yang seminggu sekarang. Really? Iya seminggu langsung kerja. Iya. Atau seminggu gitu. Kalau kita filosofinya itu adalah passion tuh sesuatu yang dibangun, kita tuh jadi enggak semudah itu bilang bahwa ini passion atau bukan. He. Karena membangun itu perlu waktu. Testing itu perlu waktu. Is this where I meant to be? Apakah passion gue tuh bisa dibangun di space ini? H it's something that I've I've learned throughout the way karena dulu-dulu gue selalu kayak kok gua belum nemu-nemu sih? Jadi frustrasi sendiri
1:17:50 gitu. And I feel so much more empowered that now I feel like passion tuh butuh waktu dan passion tuh sesuatu yang dibangun. Wow. Bukan dicari. Bagus sekali. Terima kasih mi atas waktunya. Aku senang sekali ngobrol 1 jam lebih bareng Maodi. Dan karena ini adalah bagian dari manifestasi aku, aku ingin kasih buku pertama aku, judul inspirasi. Ini adalah buku yang aku tulis 7 tahun lalu ketika masih kuliah. Dan aku biasanya akan mengirim atau memberikan buku itu kepada orang-orang yang percaya pada mimpi, pada manifestasi. Dan aku harap ini adalah kenang-kenangan yang berarti bagi ma Ayunda. Terima kasih. Bilal. Terima kasih. H akan aku baca ini. Hebat banget kamu nulis waktu kuliah. Yap.
1:18:36 Wow. Dan baru publish 3 tahun lalu. Oh oke. Jadi kamu nulis pada saat kuliah terus kamu jal jurnal kuliah gitu. He mengedit ulang dan proof read ulang. Aku janji pada diriku sendiri selain skripsi setelah lulus aku ada buku pegangan aku gitu. Pegangan hidup. Ini skripsi tapi ini pegangan hidup. Dan ini biasanya even waktu itu aku juga sempat kasih ke Mbak Adi Lestari, Mbak Radit dan segala macam. Karena menurut aku bagian dari manifestasi aku ngobrol sama orang-orang keren seperti kalian. Terima kasih. Thank you for coming to sore berkelas. Sehat terus. Terima kasih semuanya.