Eps 907 | SOUND HOREG : BUKTI KEGAGALAN BUDAYA JAWA?

guru gembul www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas fenomena sound horeg di Jawa Timur dari sudut pandang psikologi, antropologi, dan sains. Dijelaskan bahwa popularitas sound horeg berkaitan dengan tingkat stres, perasaan teralienasi, dan emosi yang labil pada masyarakat Jawa. Selain itu, tradisi Jawa Timur yang menyukai suara keras dan keramaian juga menjadi faktor pendorong. Hilangnya empati akibat stres menjadi alasan mengapa sound horeg tetap eksis meski menuai kontroversi.

  • Popularitas sound horeg di Jawa Timur berkaitan dengan stres, perasaan teralienasi, dan emosi yang labil.
  • Tradisi Jawa Timur yang menyukai suara keras dan keramaian menjadi faktor pendorong.
  • Hilangnya empati akibat stres menyebabkan sound horeg tetap eksis meski menuai kontroversi.

Pendahuluan

Fenomena sound horeg di Jawa Timur sangat populer, bahkan mencapai 13.000 pengusaha sound dengan orderan 15-20 kali per bulan dengan tarif Rp20-50 juta. Meskipun banyak yang menghujat karena dianggap mengganggu, sound horeg justru semakin menjalar ke daerah lain. Video ini akan membahas alasan di balik fenomena ini dari sudut pandang psikologi, antropologi, dan sains.

Stres dan Kebutuhan akan Suara Keras

Orang Jawa banyak yang mengalami stres dan tekanan, terutama sejak pandemi COVID-19. Musik yang keras menjadi pelarian bagi mereka yang stres dan kesulitan mencari penghidupan. Musik yang keras memberikan semacam anestesi dan delusi untuk mengabaikan realita. Semakin besar stres yang dialami, semakin besar pula kebutuhan akan suara yang hingar-bingar.

Alienasi dan Kebutuhan akan Persatuan

Rasa teralienasi dan tersisihkan dari masyarakat juga menjadi faktor pendorong popularitas sound horeg. Orang Jawa merasa bahwa hubungan sosial yang ada di sekitar mereka terasa palsu dan tidak bermakna. Sound horeg menjadi sarana untuk merasa bersatu, datang ke tempat yang sama, memperhatikan hal yang sama, dan mendengar hal yang sama, sehingga menciptakan euforia.

Emosi Labil dan Penyaluran Emosi

Musik berhubungan erat dengan emosi. Sound horeg menjadi alat untuk menyalurkan dan menstabilkan emosi yang labil. Suara yang keras membangkitkan semangat dan memberikan energi bagi mereka yang emosinya tidak stabil.

Tradisi Jawa Timur yang Menyukai Suara Keras

Tradisi Jawa Timur, terutama di kawasan selatan, memang menyukai suara-suara kencang dan keramaian, seperti terlihat pada pertunjukan jatilan dan bantengan. Orang Jawa Timur yang hidup di wilayah datar dan tersebar merasa sendirian dan membutuhkan penegasan bahwa mereka tidak terpencil. Pusat-pusat kekuasaan di Jawa Timur yang tidak seefektif di Jawa Tengah pada zaman dulu juga menjadi faktor pendorong kebutuhan akan suara yang lebih keras.

Sound Horeg dan Dugem: Fenomena Global

Fenomena sound dengan suara besar dan keramaian sebenarnya ada di seluruh dunia, salah satunya adalah dugem. Dugem adalah sound horeg versi internasional yang dikumpulkan di satu tempat dan diisolasi karena masyarakat kota yang heterogen. Baik sound horeg maupun dugem dilatarbelakangi oleh faktor yang sama, yaitu stres dan tekanan.

Hilangnya Empati dan Dampak Sound Horeg

Stres, alienasi, dan emosi yang labil menyebabkan hilangnya empati. Orang yang kehilangan empati tidak peduli dengan penderitaan orang lain dan hanya fokus pada kesenangan diri sendiri. Inilah yang menyebabkan sound horeg tetap eksis meskipun mengganggu banyak orang. Masyarakat yang menyukai sound horeg sebenarnya membutuhkan pertolongan karena mereka sedang sakit dan butuh pengobatan.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Assalamualaikum Bes. Selamat datang kembali di Gur Gembul Channel. Seandainya ada orang yang mengatakan bahwa orang Jawa memang suka sound, maka itu sebenarnya bukan sekedar stereotype atau pembingkaian, tetapi itu memang didasarkan pada data-data di lapangan. Kita misalkan menyebut saja bahwa di satu kabupaten Malang saja dan kota itu ada 1200 pengusaha sonh dan dari 12.00 200 pengusaha Soundfor itu, 500 di antaranya itu mampu menciptakan karnaval skala yang besar. Dan mereka itu masih mendapatkan orderan sekitar 20 kali dalam 1 bulan saja setiap perusahaannya. Dan kalau kita melihat secara lebih luas

0:46 lagi di Jawa Timur itu ada 13.000 pengusaha Soundh dengan berbagai kapasitas kemampuan mereka. Nah, jadi sekali lagi ya, kalau kita ada mendengar orang-orang mengatakan orang Jawa suka dengan soundig, itu jangan tersinggung. Karena pada faktanya adalah 13.000 pengusaha soundig itu masih dapat orderan 15 sampai 20 kali dalam 1 bulan. Dan angka yang mereka patok untuk manggil mereka itu ada di kisaran Rp20 sampai Rp50 juta. Jadi masyarakat manakah yang mau membayar Rp50 juta sebulan 20 kali untuk acara Sound Horeg?

1:32 itu tentu saja berarti mereka tuh suka, mereka tuh mencintai itu. Jadi kalau misalkan di Indonesia sekarang dihujat ramai-ramai di media sosial sampai dokter-dokter berbicara tentang betapa bahayanya sound horeg kemudian agamawan muncul belakangan dengan fatwa haramnya dan lain sebagainya. Shorig bukan hanya bertahan tapi bahkan menjalar ke mana-mana. Sekarang di Jogja, di sekitaran Jawa Tengah itu sudah mulai banyak. Bahkan di Jakarta tuh sudah ada satu dua di antaranya dalam waktu dekat itu sudah akan menjadi lebih besar lagi. Mungkin juga nyebrang pulau. Jadi bayangkan baraya di tahun 2014 Sonh hanya ada di Malang. Di tahun 2023, Sonh

2:18 ada di seluruh Jawa Timur dan pada akhirnya sekarang 2025 sudah ada di Jakarta, Jabodabek dan wilayah-wilayah sekitar itu. Kenapa bisa seperti ini? Kenapa ini dihujat, ditentang tetapi malah menjadi semakin populer? Simak videonya sampai tuntas. Kita akan menjelaskan secara lebih detail dalam konteks penjelasan psikologi, antropologi, dan sains. Yuk, kita mulai. Premis pertama yang saya tawarkan kepada Baraya adalah bahwa orang Jawa itu banyak yang stres, banyak yang tertekan dan itulah yang menyebabkan mereka suka

3:05 dengan sonhungannya harus mengingat bahwa sonh itu menjadi sangat populer di e di Jawa Timur itu sejak COVID-19. Setelah itu reda, kemudian orang-orang Jawa Timur tiba-tiba begitu suka dengan suara-suara musik yang menggelegar. Nah, satu hal yang di sini yang harus dicermati adalah bahwa orang-orang yang stres, orang yang tertekan, orang yang depresi, orang yang merasa kesulitan untuk mencari penghidupan, itu adalah orang-orang yang pada akhirnya berusaha untuk mencari pelarian menggunakan suara-suara yang keras. Musik itu menenangkan jiwa. Musik itu merilekskan otak. Musik itu mengurangi emosi negatif

3:51 dalam diri kita. Tetapi ketika negatifme dalam diri kita menjadi terlalu besar, ketika stres menjadi terlalu besar, maka musik yang dibutuhkan pun menjadi semakin besar, suaranya menjadi semakin keras dan itu adalah khas gitu. Jadi kalau misalkan baraya mengetahui kenapa ada orang yang suka dengan musik yang begitu kerasnya, ada kemungkinan tidak selalu tapi ada kemungkinan bahwa orang itu mungkin sedang stres karena kesulitan untuk mendapatkan penghidupan. Jadi ketika baraya mendengarkan musik, musik itu kan sebenarnya memblok ee pikiran-pikiran negatif dalam benak kita. Musik yang keras itu membuat menciptakan semacam delusi dalam otak kita untuk bisa menerima sesuatu yang

4:38 masih imajinasi dan palsu dan mengabaikan sesuatu yang menjadi realita. Begitu kan? Nah, itulah fungsi dari soundheg. Sonh itu memberikan semacam anestesi. Butuh perda rasa sakit. Jadi coba aja misalkan ya semakin baraya stres, semakin baraya bisa menikmati musik-musik, irama-irama yang berhubungan dengan rasa stres atau penyebab stres baraya. Dan semakin stresnya itu menguat, baraya itu membutuhkan suara yang lebih hingar-bingar daripada sekedar musik yang berirama. Itu hal yang pertama. Kemudian yang kedua, yang menyebabkan orang-orang Jawa itu banyak sekali yang suka dengan sonhoreng itu adalah karena rasa teralienasi. rasa tersisihkan, rasa

5:25 dijauhi oleh masyarakat. Jadi, orang yang merasa jauh atau dibuang dari masyarakat, mereka memang cenderung melawan terhadap norma dan etika masyarakat. Lihat misalkan ketika ada preman, dia sadar dia dibenci oleh masyarakat, dia sadar tidak disukai oleh masyarakat, maka apa yang dia lakukan? Dia pakaiannya menjadi mencolok, rambutnya merah, kuning, hijau, tatonya belepotan di muka, penampilan bajunya juga aneh-aneh dan sebagainya. Begitu kan? itu sebenarnya adalah reaksi wajar dari orang yang merasa disisihkan atau teralienasi atau dipisahkan dari masyarakat. Nah, orang-orang Jawa dalam hal ini yang suka dengan Shoreg, mereka tuh merasa bahwa mereka tuh punya tetangga. Mereka tuh ada di lingkungan sekitar banyak rumah, banyak warung,

6:12 banyak bertegur sapa. Tapi semuanya kepalsuan. Orang yang bertegur sapa itu mukanya muka batu gitu. Cuman eh gitu doang gitu. Tapi enggak ada maknanya, enggak ada ikatan batin di dalamnya. Dan orang-orang Jawa itu merasakan seperti itu. Mereka adalah makhluk komunal, mereka bisa bersosial. Tetapi kok sekarang kerjaan masing-masing orang tuh jadi sendiri-sendiri gitu. Seperti tidak ada marwahnya, seperti tidak ada koneksi satu jiwa dengan jiwa yang lain, begitu. Nah, akhirnya mereka membutuhkan apa? Soundh horeg. Sohoregsinya apa? fungsinya adalah bahwa pada waktu itu mereka merasa bersatu. Mereka datang ke tempat yang sama, memperhatikan hal yang sama, mendengar hal yang sama dan

6:58 itu akhirnya menciptakan euforia gitu. Ini bukan hanya berlaku untuk sound hor-umpulan yang besar. Jadi, misalkan nonton di stadion, nonton bola itu lebih enak daripada nonton sendiri gitu. Begitu kan? Bahkan yang sendiri-sendiri pun pengin nobar sama teman-teman. Karena apa? Karena ketika kita bersama-sama kemudian tertuju pada perhatian yang sama, kita mendengarkan hal yang sama, merayakan sesuatu yang sama, atau bersedih hati, kecewa karena hal yang sama, itu tuh mengikatkan emosi kita, batin kita. Jadi, orang-orang yang senang dengan sound itu adalah orang yang mungkin saja teralienasi atau merasa demikian sehingga dia membutuhkan pelipur lara dan butuh penegasan bahwa dia dirinya itu tidak sendirian. Makanya dia hidup bersama dan nonton sound oeg

7:45 ramai-ramai. Itu adalah faktor kedua. Faktor ketiga adalah emosi yang labil, emosi yang kacau. Dalam banyak sekali jurnal-jurnal dan penelitian itu disebutkan bahwa musik itu sangat positif terhadap emosi atau berhubungan erat dengan emosi. Jadi, baraya yang lagi patah hati misalkan mendengarkan lagu tentang patah hati, baraya itu bisa nangis-nangis ee walaupun liriknya jelek. katakanlah baraya yang sedang bersemangat kemudian mendengar suara ee suara musik yang bersemangat, baraya juga akan ikut menjadi seperti itu gitu. Jadi ee ini sebenarnya adalah alat untuk menyalurkan emosi sekaligus juga untuk menstabilkan emosi. Nah, jadi sound horeg

8:31 emosinya labil, dia membutuhkan suara-suara berirama yang juga memang keras gitu untuk bisa membentur dalam hatinya, dalam jiwanya. untuk membangunkannya dan kemudian menjadi lebih bersemangat gitu. Begitu. Itu adalah tiga hal. Jadi, karena stres, karena merasa teralienasi, dan karena emosinya memang labil. Nah, tapi muncul pertanyaan berikutnya. Kalau memang tiga faktor itu yang menyebabkan orang-orang Jawa itu menikmati sound horeg, lalu kenapa hanya di Jawa? Kenapa tidak di seluruh dunia? Bukankah yang stres ada di seluruh dunia, yang teralianasi ada di seluruh dunia, yang emosinya labil juga ada di seluruh dunia. Kenapa hanya ada di Jawa Timur? Iya, harus ditekankan Mbak Raya bahwa

9:16 bukan hanya di Jawa Timur sekarang merambah ke mana-mana yang menunjukkan bahwa orang stres memang ada di mana-mana, kan begitu ya. Tapi kalau misalkan Mbak Raya ee mau mendapatkan penjelasan yang lebih spesifik, alasannya sebenarnya adalah karena memang tradisi Jawa Timur khususnya di kawasan selatan itu juga tradisi yang memang menyukai suara-suara kencang dan ee suka sekali dengan keramaian gitu. Jadi misalkan baraya silakan aja nonton jatilan gitu atau ee bantengan gitu, lihat aja itu kencang suaranya ramai-ramai kemudian ada tak tak apa segala rupanya itu kencang semuanya. Jadi orang Jawa, orang Jawa dalam hal ini itu memang suka dengan yang kencang-kencang. Jadi ketika mereka

10:04 akhirnya menciptakan fenomena baru yang namanya sonhig ya karena sejak awal tradisi mereka itu ada kaitannya dengan itu, ada korelasinya dengan itu. Emcul lagi pertanyaan kan sama-sama Jawa, kenapa Jawa Timur begitu sedangkan Jawa Tengah tidak seperti itu misalkan begitu ya. Ee jawabannya sebenarnya lebih ringkasnya begini baraya. Jadi orang Jawa Tengah dan Jawa Timur itu adalah orang yang tidak seperti di Jawa Barat. Selatan gitu ya. Karena yang wilayahnya pegunungan. Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur itu adalah ee hidup di wilayah yang datar dan mereka itu tidak punya pusat konsentrasi populasi. Jadi populasinya itu nyebar di mana-mana tapi dikit-dikit. Ini di zaman dulu ya. Dikit

10:49 di sini sawah hutan, dikit di sini sawah hutan. Tapi banyak jumlahnya tuh gitu. Banyak banget. Karena ee kemampuan Pulau Jawa untuk bisa menampung populasi yang besar itu memang sangat-sangat tinggi gitu. Jadi di mana-mana ada tapi kecil-kecil gitu. Nah, ini menyebabkan apa? Ini menyebabkan mereka tuh merasa sendirian. Kadang-kadang ramai, kadang-kadang sendiri. Nah, ketika sendirian itu mereka tuh butuh sebuah penegasan, validasi bahwa mereka tuh tidak sendirian. Makanya pusat-pusat keramaian, suara-suara yang hingar-bingar itu bisa menenangkan mereka bahwa oh mereka tuh tidak terpencil gitu, mereka tuh ada bersama yang lain gitu. Nah, tapi kenapa di Jawa Tengah tidak ada seperti itu? Karena di Jawa Tengah itu em pusat-pusat populasi itu biasanya dikuasai oleh pemerintahan

11:34 yang relatif ee lebih efektif ya. Kayak ada kesultanan-kesultanan gitu ya, kemudian ada wilayah-wilayah santri di utara gitu dan lain sebagainya itu lebih efektif. Nah, kalau misalkan di Jawa Timur itu ee pusat-pusat kekuasaannya itu tidak seefektif di Jawa Tengah di zaman dulu gitu ya. Di zaman dulu ya memang Majapahit ada di Jawa Timur gitu, Kediri, Singosari di Jawa Timur ya. Tapi setelah itu kan pas zaman misalkan pas zaman Belanda gitu, pas zaman VOC itu tidak seperti itu. Nah, jadi orang-orang Jawa Timur pada akhirnya membutuhkan suara yang lebih keras dalam tradisi-tradisi mereka untuk menegaskan bahwa mereka itu tidak sendirian atau tidak terpencil begitu. Nah, tapi itu kan sebenarnya tidak menjelaskan alasan yang sesungguhnya. Kenapa hanya muncul di Jawa Timur? Katakanlah kenapa hanya

12:20 muncul di Jawa Timur, kenapa tidak di semuanya? Bukankah alienasi orang stres dan emosi yang labil itu ada di seluruh dunia? Ya, sebenarnya di seluruh dunia juga soundig itu ada baraya dan sudah berusia ratusan tahun, ribuan tahun. Bahkan di setiap kebudayaan itu ada pergelaran masing-masing dengan cara yang kurang lebih sama menggunakan suara yang besar dan ramai-ramaian itu ada. Nah, cuman itu bentuknya beda. Misalkan beginilah, sonh yang ada di seluruh dunia itu apa? Dugem. dugem itu dalam skala suara yang paling kencang itu sekitar 120 desibel dan itu kurang lebih juga sama seperti sonh jadi

13:07 kencang banget jadi orang-orang yang dugem itu mengalami masalah yang sama dan dugem ada di seluruh dunia jadi bisa dibilang bahwa sonh itu sebenarnya adalah dugem versi lokal atau dugem itu sebenarnya adalah sonh versi internasional sama aja ada tariannya kemudian an ada musik yang hingar-bingar, ada DJ-nya, ada Edisound-nya dan lain sebagainya tuh ada kan yang seperti itu. Nah, cuman yang dugem-dugem itu karena mereka muncul di kota-kota besar di seluruh dunia, mereka itu punya pakem. Kota itu sangat heterogen. Yang suka dengan musik dan yang tidak suka dengan musik itu hidup berdampingan. Yang suka dengan keramaian dan suka dengan keheningan itu

13:53 hidup di berdampingan. Namanya juga masyarakat kota yang heterogen. Karena itu maka sonh ala internasional alias dugem itu dikumpulkan di satu tempat, diisolasi, kemudian dibuat peredamnya sedemikian sehingga tetangganya sendiri tidak mendengar. Biar apa? Biar yang mabok, yang gila, yang lagi pesta apa segala rupa ngumpul di satu tempat. Yang tidak seperti itu ya ada di tempat yang lain. Begitu. Makanya harus ditegaskan ya, bahwa sonh dengan dugem itu sebenarnya dilatari oleh faktor yang sama, stres, tertekan, dan lain-lain. Nah, saya dugem tapi enggak stres ya enggak selalu gitu ya. Mungkin aja untuk menjalin komunikasi gitu ya, untuk bikin relasi, untuk mengaitkan koneksi

14:38 dan sebagainya ya bisa aja. Tapi pada umumnya orang yang kecanduan dugem itu sebenarnya adalah orang yang stres. Ini diakui sendiri oleh seorang pakar terkemuka. yaitu Conor McGregor. Nah, Kanor McGregor itu dulu waktu masih puncak kejayaannya ketika dia bisa ngalahin musuh dengan mudahnya itu, waktu mentalnya masih kuat, dia berkata bahwa saya enggak ikut dugem karena dugem itu hanya untuk orang yang berjiwa lemah. Dia katakan seperti itu. Ketika dia dikalahkan oleh Habib dan mengubah semua tampilannya, mengubah semua performanya sampai sekarang, dia akhirnya jadi dugem, mabuk-mabukan, suka parti. yang menegaskan apa ya? Jiwa yang lemah. Intinya beginilah baraya. Orang yang bersenang-senang, orang yang mencari kesenangan artinya

15:25 dia tidak senang, tidak sedang senang. Dan orang yang mencari kesenangan dengan biaya yang mahal atau dengan praktik yang ekstrem, berarti dia sedang hidup dalam penderitaan. Kan orang yang senang enggak usah bersenang-senang, kan? Orang yang mencari kesenangan misalkan dugem atau sonh itu artinya dia memang tidak sedang senang. Itu rumusan sederhananya kan begitu Baraya. Nah, tapi balik lagi em Sonhore di Jawa Timur itu sampai menggelegar dan adanya di tempat umum. Sedangkan dugem kan terbatas di lingkungan-lingkungan kecil. Kenapa bisa seperti itu? Ya alasannya, alasan mendasarnya gini sih, Baraya. Kalau baraya mengalami satu di antara tiga hal atau bahkan tiga-tiganya seperti yang tadi saya jelaskan, emosi yang labil, kemudian rasa teraliinasi, kemudian

16:10 stres tingkat tinggi dan sebagainya, maka dampaknya sebenarnya bukan sonh atau dugem. Itu adalah manifestasinya saja. Akibat dari setiga hal itu, itu adalah hilang atau berkurangnya empati. Empati itu adalah rasa merasakan penderitaan orang lain atau kemampuan untuk merasakan perasaan positif orang lain. Itu empati. Jadi kalau misalkan barayan rakdir teman kemudian si temannya itu senang banget dan baraya tiba-tiba ikut senang kan. Nah itu empati. Baraya ngelihat ada fakir miskin yang hidup kesulitan dan baraya pun asal ngerasain itu. Nah itu empati itu. Empati itu adalah anugerah Tuhan kepada manusia agar manusia itu bisa bersosialisasi dengan kawannya dengan baik. Begitu. empati itu. Nah, tetapi

16:55 empati itu akan turun drastis atau bahkan hilang sama sekali karena beberapa faktor. Ada faktor genetis, ada faktor apa, tapi yang digaris bawahi di sini adalah stres. Ada beberapa penelitian yang menjelaskan saya saya menemukan ada dua atau tiga jurnal nanti ditampilkan ada dua atau tiga jurnal dan ada beberapa buku yang menjelaskan bahwa stres dan tekanan itu menyebabkan kita kehilangan empati. Karena rumusnya begini baraya ini mekanisme kerja dalam otak kita gitu ya. Ketika kita lagi stres, lagi tertekan, lagi butuh harapan untuk menyambung kehidupan, maka dalam otak kita tuh muncul dua opsi. Pertama, apakah kita mau mempertahankan diri kita? Dua, atau kita menciptakan koneksi sosial.

17:40 Pilih yang mana? Dalam kondisi stres, ya. Kalau dalam kondisi tidak stres, berkomunikasi secara sosial adalah bagian dari upaya mempertahankan hidup. Tetapi kalau misalkan dalam kondisi kita tuh harus milih. Kalau misalkan baraya harus milih antara mempertahankan hidup atau menciptakan koneksi sosial, baraya milih yang mana? Tentu saja mempertahankan hidup. Jadi apa? Koneksi sosialnya dikorbankan. Salah satu inti dari koneksi sosial itu adalah empati. Nah, empati itu akan dihilangkan. Jadi, soundeganggu dan nangis. Enggak peduli itu ada orang jantungan di situ. Enggak peduli. Saya enggak peduli sama orang tua rentah di situ yang butuh istirahat. Saya enggak peduli. Yang penting saya senang. Nah, itu orang-orang yang stres tuh

18:26 begitu baraya. Sekali lagi ya, orang sound itu kan kontroversial. Di satu sisi banyak orang berbondong-bondong untuk membeli tiketnya atau untuk nonton pertunjukannya. Di sisi lain ada banyak emak-emak, ada bayi, ada orang sakit dan sebagainya. dan ada orang yang intoper yang tidak suka dengan itu. Nah, tapi kalau misalkan empatinya sudah hilang, gua enggak peduli sama urusan orang. Mau mati karena jantungan juga enggak apa-apa. Yang penting saya bisa dapat pelepasan dari emosi saya. Begitu kan? Nah, jadi sound hor bukan gara-gara dia stres, gara-gara dia teraliinasi dan sebagainya, tapi yang jelas tiga hal tadi itu memunculkan kehilangan empati dan itulah yang akhirnya memunculkan sound horeg. Jadi, baraya enggak usah

19:12 menghujat sonh selama masyarakat menyukai itu berarti masyarakat itu butuh pertolongan. Mereka sedang sakit, mereka butuh pengobatan. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Share

Ringkasan Video YouTube