Eps 915 | BUKAN FERRY IRWANDI YANG MENUDING OKNUM TNI SEBAGAI AKTOR KERUSUHAN AGUSTUS: INI PETANYA

guru gembul www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas serangkaian peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 Agustus 2025, yang melibatkan dugaan provokasi dan kerusuhan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk oknum TNI, polisi, dan warga sipil. Video ini juga membahas tentang adanya upaya untuk memaksakan darurat militer dan perdebatan di antara para pejabat terkait hal tersebut. Guru Gembul mengajak penonton untuk menunda kesimpulan dan menganalisis lebih dalam mengenai pihak-pihak yang terlibat dan kepentingan mereka masing-masing.

  • Dugaan keterlibatan oknum TNI dan polisi dalam provokasi dan kerusuhan.
  • Adanya upaya untuk memaksakan darurat militer dan perdebatan di antara para pejabat.
  • Identifikasi tujuh kelompok yang terlibat dengan kepentingan yang berbeda-beda.
  • Pemetaan lima lapis struktur yang terlibat dalam kerusuhan, mulai dari perencana hingga pelaksana.

Pembentukan Grup WA Provokatif dan Pencarian "Pak Kopral"

Pada tanggal 30 Agustus 2025, sebuah grup WA beranggotakan 1000 orang dibentuk di Kendal dengan tujuan mengajak anggotanya melakukan tindakan kekerasan dan pengrusakan terhadap fasilitas DPRD. Anggota grup ini direkrut dari kalangan remaja berusia 13-17 tahun. Orang yang diduga membentuk grup ini adalah "Pak Kopral," Kepala Angkatan Laut Suratmin berusia 48 tahun. Polisi menyelidiki dan menemukan bahwa orang tersebut telah membuat tiga grup WA serupa di Kendal, Pati, dan Jakarta, semuanya bertujuan untuk melakukan pengerusakan fasilitas pemerintahan. Namun, ketika polisi mendatangi alamat yang terlacak dari nomor handphone, mereka tidak menemukan orang bernama Suratmin, menimbulkan dua kemungkinan: Suratmin memang ada dan lihai dalam bersembunyi, atau TNI Angkatan Laut difitnah.

Penangkapan Intel TNI dan Pengakuan Warga Sipil

Pada tanggal yang sama, dua orang intel TNI ditangkap oleh Brimob. Satu orang membawa modem, dan yang lainnya diduga berupaya membakar fasilitas kepolisian. Kedua intel tersebut mengaku bertugas memetakan situasi, bukan memprovokasi. Kejanggalan muncul karena polisi mempublikasikan penangkapan tersebut beserta KTA mereka, padahal biasanya ada koordinasi jika memang benar intel yang sedang bertugas. Selain itu, seorang warga sipil bernama Mugianto ditangkap karena melakukan pengerusakan fasilitas umum. Ia mengaku disuruh oleh Bayu, yang ternyata adalah putra seorang perwira TNI bernama Peltu Purwanto. Namun, ada kemungkinan Mugianto berbohong untuk melindungi pihak yang sebenarnya menyuruhnya.

Keterlibatan Istri Perwira TNI dan Upaya Pemaksaan Darurat Militer

Seorang wanita bernama Ibu Setiawati diduga mengumpulkan demonstran dan membayar mereka untuk melakukan pengerusakan. Awalnya, ia disebut sebagai istri seorang perwira TNI, tetapi kemudian informasi ini dibantah dan ia disebut sebagai janda yang berdagang. Bersamaan dengan kejadian-kejadian ini, Menhan Syafri Syamsudin memaksa Prabowo Subianto untuk memberlakukan darurat militer dan meminta Kapolri Listio Sigit untuk mengundurkan diri. Upaya ini ditahan oleh Sufmi Dasco, yang berpendapat bahwa darurat militer akan memperburuk situasi dan mendelegitimasi pemerintahan Prabowo. Berita tentang perdebatan ini hanya ditemukan di media Tempo, menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran informasi dan kemungkinan adanya agenda tersembunyi.

Peran Ojol dan Identifikasi Tujuh Elemen yang Terlibat

Diskusi dengan berbagai pihak, termasuk tentara, buzzer pemerintah, dan buzzer oposisi, tidak memberikan kejelasan mengenai siapa yang mendorong kerusuhan. Informasi dari mamang ojol di Jakarta mengungkapkan bahwa mereka pernah melihat sekelompok remaja dari Tangerang membawa molotov saat demonstrasi. Ojol juga berperan dalam menyelamatkan demonstran yang terluka. Guru Gembul menegaskan bahwa demonstrasi murni terpisah dari para perusuh yang jelas terorganisir dan didanai. Ia mengidentifikasi tujuh elemen yang terlibat: demonstran asli, pembenci pemerintah, penjahat (mafia, koruptor, oligarki), ideolog, politisi, TNI dan Polri, serta preman dan kaum marginal.

Pemetaan Lima Lapis Struktur Kerusuhan

Guru Gembul memetakan struktur kerusuhan menjadi lima lapis: perencana demo (kelompok yang baik hati, aktivis, ormas), perencana kerusuhan (elit pejabat, perwira, oligarki, mafia, koruptor), donatur (mafia, oligarki, pemain dari luar, koruptor, pejabat publik nakal), pembantu kerusuhan (penyebar ajakan di media sosial), dan pelaksana (polisi, TNI, kelompok marah dan putus asa, kelompok profesional). Ia menekankan bahwa situasi ini adalah "fog of war" di mana kebenaran sulit ditemukan. Guru Gembul mengajak penonton untuk tetap tenang dan fokus pada tujuan membersihkan Indonesia dari koruptor dan orang-orang yang menyalahgunakan jabatan, serta tidak mudah terprovokasi.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Assalamualaikum Bes. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. 30 Agustus tahun 2025 di Kendal dibentuklah grup WA yang terdiri dari 1000 orang yang masuk ke sana dengan atau tanpa dikehendaki oleh pemiliknya. Apa tujuan dari grup WA itu? Adalah ajakan untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengrusakan terhadap fasilitas-fasilitas DPRD di Kota Kendal. Satu hal yang sangat mengerikan pada waktu itu dan anggotanya siapa? yang direkrut itu adalah anak-anak remaja antara 13 sampai 17 tahun saja. Nah, siapa yang kemudian akhirnya diketahui sebagai orang yang membentuk grup itu? Itu atas nama Pak Kopral, Kepala Angkatan Laut Suratmin yang berusia 48 tahun dengan nomor

0:46 handphone sebagai berikut 0859592 sekiansekian. polisi langsung ee bergerak dan menyelidiki siapa orang yang dimaksud itu. Dan ternyata diketahui bahwa orang yang dimaksud itu sudah bikin tiga grup sekaligus dalam waktu 1 hari dengan anggota grup WA yang cukup banyak. Dilakukannya itu satu di Kendal, dua di Pati, 3 di Jakarta. Tiga-tiganya sama untuk melakukan pengerusakan terhadap fasilitas-fasilitas pemerintahan dan atau parlemen di Indonesia. Pak Suratmin kemudian dicari, dilacak berdasarkan nomor handphone-nya, dilacak ketahuan ada rumahnya, ada RTRW-nya dan lain sebagainya. Tapi luar biasanya adalah

1:32 ketika didatangin ke rumah yang dimaksud, ternyata tidak ada yang namanya surat min di situ. Bahkan warga-warga di sana tidak pernah tahu bahwa di sana itu ada TNI angkatan laut. Jadi, ada dua kemungkinan di sini. Nama surat min memang benar-benar ada dan pada waktu itu memang benar-benar melakukan provokasi tetapi memiliki kelihaian yang luar biasa sehingga ketika dicari oleh polisi tidak pernah ditemukan. Yang kedua adalah TNI Angkatan Laut dalam hal ini difitnah, diframing seakan-akan bikin kerusuhan padahal namanya, alamatnya, orangnya tidak pernah benar-benar faktual. Jadi itu dusta belaka. Silakan baraya berpikir mana yang benar di antara dua versi itu. Tapi saya punya lebih banyak cerita lagi belakangnya. Masih di

2:18 tanggal yang sama, tanggal 30 Agustus itu ada dua orang, setidaknya ada dua orang Intel TNI yang ditangkap oleh Brimop. Yang pertama bawa modem, yang keduanya ketahuan sedang berupaya untuk membakar fasilitas dari kepolisian. Nah, ee dua orang ini kemudian mengaku sebagai e intel TNI dan setelah ditangkap kemudian diomong-omongin mereka mengatakan, "Ya, kami memang intel tapi kami datang di sini bukan untuk memprovokasi, bukan untuk melakukan pengerusakan. Kami di sini justru untuk memetakan kondisi, situasi dan kondisi. Kami kan intel gitu ya dan sebagainya. Hal yang cukup mengejutkan adalah bahwa polisi yang biasanya segan terhadap TNI ini justru

3:03 malah mempublikasikannya, memviralkan termasuk juga nomor KTA-nya ee kartu tanda anggota ee TNI-nya. Yang jadi masalah yang menjadi cukup janggal dalam hal ini juga adalah yang pertama adalah emang kalau Intel dia melakukan aksi spionase bawa kta gitu. Iya, itu sih cukup janggal untuk saya gitu ya. Itu yang pertama. Kemudian yang keduanya itu adalah polisi. Kenapa tidak bisa mengkoordinasi? Tidak bisa berkoordinasi maksudnya kalau itu memang benar-benar intel kemudian dia sedang memetakan lah. Harusnya kan ada koordinasi dengan polisi biar enggak salah tangkap seperti ini kemudian dipublikasikan, diviralkan. Ini aneh gitu. Ini bagi saya benar-benar aneh. Jadi baraya begini ya. TNI, polisi,

3:50 pejabat itu takut banget sama yang viral-viral. Kita tahu itu. Mereka tidak takut pada apapun kecuali kalau diviralkan. Nah, tapi dalam hal ini kenapa mereka justru malah memviralkan sesuatu yang justru menjadi aib mereka gitu? Bagaimana menurut Baya? Saya saya berharap Baraya menunda dulu kesimpulannya karena ini penting. Menunda kesimpulan itu benar-benar penting. Saya punya beberapa cerita lagi. Ada warga sipil namanya Pak Mugianto. Pak Mugianto itu ketangkap oleh polisi ketika dia melakukan pengerusakan pada sejumlah fasilitas umum. Dia ditanya, diinterogasi, "Siapa yang nyuruh?" Yang nyuruhnya itu namanya adalah Bayu berusia 24 tahun. Mau tahu nomornya? Nomor HP-nya? Bayu yang berusia 24 tahun itu ternyata adalah putra dari seorang perwira TNI yang

4:37 namanya adalah Pak Peltu Purwanto. Begitu. Nah, balik lagi apakah Pak Sugianto ini sebenarnya memang disuruh oleh Pak Purwanto atau ketika dia ditanya dia bikin operasi bendera palsu di mana dia disuruh oleh seseorang tetapi mengeku sebagai seseorang yang lain untuk mengecoh untuk membuat bosnya justru tidak ketahuan. Bisa juga seperti itu. Oke, lanjut. Ada cerita lagi, ada cerita dari Ibu Setiawati. Ibu Setiawati ini dia mengumpulkan demonstran bahkan dia rela membayar satu orang demonstran dia bayar Rp62.500 dibagikan kepada orang-orang itu untuk melakukan pengerusakan, penjarahan, pembakaran terhadap fasilitas-fasilitas

5:23 tertentu yang dia sudah tuduh. Dia juga sebelumnya sudah melakukan upaya provokasi ini dengan imbing-imbing Rp50.000 terhadap para demonstran yang tersulut emosinya. Dia juga adalah seorang istri dari perwira TNI. Kemudian ketika dilacak, dicari-cari, pas ditanya ternyata beda lagi ceritanya. Ternyata orang yang dimaksud katanya bukan istri dari seorang anggota TNI, justru malah dia itu adalah janda dan dia sedang dagang. Nah, jadi ada begitu banyak cerita-cerita yang cukup membingungkan dalam hal ini. Apakah TNI memang biang dari kerusuhan ini ataukah dia diplot di framing oleh pihak yang lain yang menghendaki agar TNI itu dilemahkan?

6:09 Nah, luar biasanya adalah ini juga ada cerita plot twist. di balik plot twist lagi bersamaan dengan tanggal-tanggal yang tadi saya sebutkan, Pak Syafri Syamsudin, Menhan kita itu tiba-tiba maksa kepada Pak Prabowo Subianto untuk segera melaksanakan darurat militer di Indonesia. Bahkan sudah proposalnya itu sudah diajukan ke meja Pak Prabowo. Dan bukan hanya itu, Pak Menhan juga memaksa Pak Listio Sigit, Kapolri Indonesia itu untuk segera mundur dan mempertanggungjawabkan keamanan di Indonesia yang tidak bisa dia selesaikan. Jadi ada amarah di antara para pejabat-pejabat publik kita itu dan ee darurat militer itu sempat dipaksakan sampai akhirnya ditahan oleh

6:56 Pak Dasco. Nah, Pak Sufmiasco itu itu berdebat cukup hebat dengan Pak eh Syafri Syamsuddin apakah Indonesia harus melaksanakan darurat militer atau tidak. Pak Dasko itu mengatakan kalau Indonesia menerapkan darurat militer maka kemarahan rakyat Indonesia akan menjadi semakin besar dan itu akan diarahkan kepada Pak Prabowo dan itu akan mendelegitimasi pemerintahan Pak Prabowo dan itu dampaknya akan menjadi sangat-sangat buruk sehingga Pak Dasco langsung memutuskan, "Pak Menhan jangan buru-buru titik sampai sini gitu ya. Selesai jangan macam-macam gitu ya. Ada perdebatan hebat di antara mereka begitu. Jadi apakah Baraya sudah menyimpulkan bahwa pelakunya adalah TNI? Nah, sayang sekali. Luar biasanya adalah

7:41 berita tentang perdebatan antara Pak Dasko dengan Pak Syafri itu hanya bisa saya temukan di satu media saja yaitu tempo. Tidak ada media yang lain yang memberitakan itu. Bahkan berita-berita yang lain justru menyangkal itu, gitu. Nah, jadi dalam hal ini A kemungkinannya adalah TNI memang benar-benar berniat untuk melakukan darurat militer atau B. Sebenarnya TNI difitnah salah satunya adalah oleh tempo. Tempo dalam hal ini kita ketahui sebagai media di Indonesia yang selalu mengkritik pemerintah dan memiliki afiliasi yang sangat kuat dengan media-media di dunia internasional. media-media globalis yang memperjuangkan hak asasi manusia, liberalisme dan lain sebagainya. Baraya

8:26 tentu saja sudah tahu reputasi tempo itu seperti apa. Nah, tapi balik lagi apakah tempo yang salah ataukah dia yang menyebar fitnah, menyebar framing atau memang sebenarnya dialah satu-satunya media yang tidak sanggup dibayar oleh em pemerintah di Indonesia, oleh elit-elit politik di Indonesia sehingga dialah yang memberitakan kebenaran satu-satunya di Indonesia. Kita kembali pada para perusuh tadi. Siapa sesungguhnya yang mendorongnya? Ee saya berdiskusi dengan banyak pihak dalam hal ini, dengan Bapak tentara dan perwakilannya, kemudian dengan para bazer pemerintah, dengan para bazer oposisi dan sebagainya. Dan itu bisa dibilang A1 lah ya. Saya berdiskusi dengan banyak dan luar biasanya adalah kebanyakan di antara mereka juga nampaknya tidak tahu apa yang sebenarnya

9:12 terjadi gitu. Makanya saya langsung balik lagi ke informan saya. eh mamang-mamang Ojol di Jakarta. Nah, mamang-mamang Ojol itu itu menceritakan bahwa mereka itu pernah demo satu waktu dan dia dan teman-teman ojolnya pernah memergoki ada sekelompok remaja usia 17 sampai 25-an usia nanggung seperti itu yang didatangkan dari Tangerang bawa molotov. Tapi karena pada waktu itu Ojol tidak berani untuk melakukan ya karena takut bahaya lah ya. Jadi mereka hanya menyaksikan saja bahwa memang ada orang-orang yang melakukan itu dan ojol itu fokus pada penyelamatan. Jadi pada waktu itu kan ada yang demo, ada yang lemas, ada yang pingsan, ada yang ditimpuk gas air mata dan sebagainya dan ambulans susah masuk itu ternyata para

9:58 ojol ojol-ojol itulah yang berkontribusi untuk menyelamatkan mereka dan kemudian membawa ke tempat yang lebih aman bahkan membawanya ke ambulans gitu. Itu teman-teman. Ojol itu saya ucapkan terima kasih. Tapi di antara kekacauan ini lagi-lagi ada satu yang bisa kita tegaskan bahwa demonstrasi itu demonstrasi tetapi dia sepenuhnya terpisah dengan para perusuh. Siapa perusuh ini? Perusuhnya jelas sistematis, jelas kuat, jelas hebat, jelas ada yang mengkoordinasikannya dan ada yang mengkomandonya. Bahkan ada yang membiayainya. Siapa itu? Saya saya menunda sekali lagi ya. Saya mengajak baraya untuk menunda kesimpulan karena itu bukan bagian paling pentingnya. Bagian yang paling pentingnya itu adalah bagaimana caranya agar keosnya tidak terjadi berkelanjutan

10:45 dan agar Indonesia itu menjadi baik-baik saja. Saya telah memetakan dalam hal ini ada tujuh elemen dari semua ini yang terlibat dan kadang-kadang bekerja sama tetapi satu sama lain sebenarnya mereka memiliki kepentingan yang sangat-sangat berbeda. Dan inilah yang menjadi pemicu kenapa orang-orang yang ada di sini pihak-pihak itu tidak tahu apa-apa gitu. Karena mereka tuh saling menunggangi satu sama lain sehingga satu pihak tidak tahu apakah saya juga ditunggangi atau saya sedang menunggangi gitu. Tapi ee ada tujuh kelompok yang saya maksud ini. Nomor satu adalah para demonstran asli. Ini terdiri dari aliansi masyarakat yang begini dan begitu, aktivis, kemudian mahasiswa, kemudian buruh, kemudian ojol yang kemarin. Itu adalah kelompok yang

11:31 murni untuk demonstrasi. Mereka tidak ingin merusak, mereka tidak ingin mengacau. Mereka hanya ingin menuntut keadilan. Mereka hanya ingin marah pada DPR dan pemerintah dan mereka hanya ingin Indonesia menjadi lebih baik. Itu adalah kelompok demonstran yang pertama. Kemudian kelompok yang kedua itu adalah kelompok pembenci pemerintah. Kelompok pembenci pemerintah itu adalah di antaranya mereka yang sudah nyoblos Pak Prabowo tapi dikecewakan dengan ee peristiwa akhir-akhir ini atau yang kemarin itu kalah dalam pemilu dan kemudian marah-marah. mereka sebagian kecil di antara mereka membangun sebuah koalisi dan memanfaatkan momentum untuk marah-marah besar terhadap pemerintah. Itu kelompok yang kedua. Kemudian kelompok yang ketiga ini kelompok para penjahat ada mafia, ada koruptor, ada oligarki di dalam dan di luar negeri. Dan tujuan mereka itu memang benar-benar

12:18 menciptakan Indonesia untuk menjadi keos. Nah, kenapa seperti itu? Nah, ini juga ternyata di sini tuh terdiri dari banyak kepentingan. Misalkan para koruptor, para koruptor itu menghendaki Indonesia keos agar mereka bisa memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari perburuan para koruptor yang sekarang memang agak lebih gencar daripada yang sebelumnya. Kemudian para oligark-oligark dari internasional itu ada yang pengin menjatuhkan saham di Indonesia sehingga mereka bisa memborongnya. Kemarin kan saya posting gitu ya, ada macam-macamlah. Nah, jadi ada begitu banyak orang-orang jahat yang ada di sini dan mereka punya kepentingan yang berbeda-beda tapi mereka memanfaatkan satu momentum yang sama. keos dan mereka sangat berkepentingan kalau Indonesia itu keos. Kemudian ada kelompok yang keempat. Kelompok yang keempat itu adalah para ideolog. Para ideolog itu adalah kelompok sayap kanan

13:05 ya begitu ya. Kelompok sayap kiri yang ingin agar Indonesia itu lebih maju, lebih mandiri, lebih berdikari, lebih liberal, lebih humanis, dan lain sebagainya. Jadi mereka komplain terhadap pemerintahan Pak Brabroy yang dianggap represif, dianggap tidak sesuai dengan kepentingan rakyat dan sebagainya. Tapi mereka itu ideologinya adalah ideologi tertentu juga gitu dari luar. Nah, dalam hal ini tempo bisa kita masukkan ke dalam salah satu kategori itu di mana dia itu memang kita mengetahui bersama lah ya ee dia memperjuangkan kebebasan, dia memperjuangkan ee liberalisme yang ya yang seperti itu dan ada dugaan juga dia berafiliasi dengan kelompok tertentu. Tapi intinya niatnya dalam hal ini kelompok yang ini tu sebenarnya adalah kelompok yang baik. kelompok baik versi dia karena dia punya ideologi tertentu gitu. Nah, itu adalah kelompok yang

13:50 keempat. Kemudian kelompok yang kelima itu ada para politisi. Nah, para politisi ini ada politisi yang mencoba untuk mengamankan diri mereka sendiri dan ada yang mengamankan Pak Prabowo. Yang mengamankan diri sendiri itu di antaranya adalah dari PAN, dari Nasdem gitu. Jadi ketika Pak Ahmad Syahroni ee e dimarahin, ketika Eko Patrio dimarahin, dia langsung putus cut saya cuci tangan gitu ya. Pokoknya orang-orang kayak gitu sudah kami pecat dan kami sudah tidak ikut bersalah lagi yang kayak gitulah ya. Ada ada politisi-politisi yang seperti itu, ada politisi yang mengamankan diri dengan mendekati kepada Pak Probo dan sebagainya. Kemudian ada kelompok juga kelompok TNI dan Polri pihak-pihak yang mencoba mengamankan Indonesia. Tapi mereka juga sebenarnya disusupi oleh kelompok-kelompok yang tidak jelas atau ada di antara ee

14:38 faksi-faksi di antara mereka itu yang memang menginginkan keos. kita tidak tahu, tapi yang jelas ada seperti itu. Dan ini tuh harus kita garis bawahi begini, Baraya. Kayak dululah peristiwa G30S yang menangkap jenderal-jenderal itu semuanya tanpa kecuali itu tentara. Tapi apakah peristiwa G30S itu adalah projjectnya tentara? Ya belum tentu juga gitu. Nah, inilah yang akhirnya kalau misalkan saya mengatakan bahwa dalam hal ini mungkin ada kemungkinan besar itu adalah tentara. Bukan berarti seluruh tentara menginginkan itu, tapi ada faksi-faksi di antara tentara itu yang memiliki kepentingan-kepentingan. Bisa aja kepentingannya berkelindan dengan kelompok-kelompok yang tadi saya sebutkan. Dan kemudian ada juga kelompok ee ketujuh. Nah, kelompok ketujuh ini adalah preman, kaum gelandangan, kaum ya

15:23 kaum marginal yang mungkin dikelompokkan oleh kelompok-kelompok Anarko dan sebagainya untuk melakukan pengerusakan. Jadi yang melakukan serangan dan sebagainya itu di antaranya mungkin dari faksi TNI dan atau dari faksi polisi dan yang ini juga dari kalangan preman karena banyak juga kejadian termasuk juga mamang-mamang ojol yang tadi itu yang mereka tahu bahwa ada pihak seperti orang-orang gelandangan, anak tunawisma dan sebagainya yang digerakkan untuk dapat 62.500 00 sekali ngelempar molotov dan sebagainya itu memang ada laporannya seperti itu. Nah, dari pihak-pihak yang itu tuh kemudian saya petakkan ini tuh menjadi beberapa seharusnya saya bikin peta di sini ya. Tapi ini saya memperjelas kepada Baraya aja cara kerjanya. Bukan siapa orangnya tapi cara

16:08 kerjanya ya. Kalau siapa orangnya saya akan simpan demi kebaikan bersama. Cara kerjanya adalah sebagai berikut. Mereka terdiri dari lima lapis. Lima lapis yang dimaksud itu yang pertama itu adalah perencana demo. Perencana demo itu terdiri dari kelompok orang yang baik hati, yang punya ideologi, kemudian kelompok orang yang tidak terlalu bernalar, tetapi mereka sangat-sangat dikecewakan oleh pemerintah, oleh DPR, oleh TNI, polisi, dan sebagainya. Mereka berdemonstrasi. Kemudian dari aktivis demokrasi ee dari dalam dan luar negeri, dari ya dari NGO dan lain-lain itu juga ada. dari ormas-ormas itu juga ada, tapi tujuannya adalah demo, bukan rusuh ya. Tujuannya itu demo. Yang bermasalah itu adalah dari kelompok kedua sampai

16:54 kelompok kelima. Nah, kelompok kedua itu siapa? Perencana kerusuhan. perencana kerusuhan itu di antaranya adalah sekelompok elit pejabat dan atau perwira yang benci penguasa saat ini. Saya enggak sebut tapi benci sama penguasa saat ini. Ada di antara elit-elit politik di Indonesia, elit perwira di Indonesia, ada yang benci banget. Kemudian ada kalangan oligarki ee mafia dan koruptor yang dikejar-kejar sama Pak Prabowo itu juga turut merencanakan kerusuhan ini. Ee ya mungkin Pak Riza Khalid termasuk di dalamnya karena Pak Riza Halid kemarin kan sempat mengancam kalau saya diapa-apakan, kalau keluarga saya diapa-apakan maka saya akan hancurkan begini dan begitu gitu kan. Pak Riza Khalid pernah mengancam seperti itu. Jadi wajar kalau misalkan saya masukkan

17:41 ke dalam daftar sebagai salah satu perencana bagi kerusuhan ini. Nah, kemudian ada kelompok yang ketiga. Kelompok yang ketiga itu adalah donatur. Donatur itu banyak di antara mereka yang juga adalah perencana. Jadi kelompok misalkan ee mafia-mafia, oligarki-oligarki, kalau Indonesia keos, mereka untung. Nah, jadi mereka bukan hanya merencanakan, tapi mereka juga mendanai. Makanya mereka bisa mendatangkan sekelompok ee orang nanggung gitu ya, bawa molotov ke Jakarta dan sebagainya. Itu kan pakai biaya. Nah, biayanya dari siapa? Dari donatur-donatur ini. Di antaranya yang tadi saya sebutkan pemain dari luar termasuk dengan NGO-nya, kemudian para koruptor, e kemudian para pejabat publik yang nakal eh yang kesal dengan pejabat yang lain dan lain sebagainya. Kemudian

18:26 ada yang membantu kerusuhan. Yang membantu kerusuhan ini biasanya adalah yang menyebarkan di media sosial ajakan untuk begini dan begitu. Nah, kemarin yang dihajar dalam tanda kutip sama Kang Feri Irwandi ya mungkin ini termasuk yang membantu yang membantu untuk mengkeoskan Indonesia gitu ya, bikin postingan-postingan dan jumlahnya banyak banget. Saya tuh sering sekarang itu komen di video-video pendek gitu, short video di YouTube itu kan banyak saya sengaja komen di situ karena banyak di antara mereka tuh yang mengajak pada kebencian bukannya meredakan emosi gitu tapi malah menyebarkan kebencian dan sebagainya. Ingat barayo semua, tujuan kita untuk demonstrasi kemarin itu bukan untuk bikin Indonesia keos, bukan bikin Indonesia kacau, bukan untuk menziarah

19:11 pribadi ee harta pribadi orang lain, bukan. Tapi untuk menghajar para koruptor, orang-orang jahat dengan misalkan undang-undang perampasan aset atau misalkan transparansi anggaran dan sebagainya. Itu tujuan kita tuh itu jangan sampai belok. Tapi ada dari pembantu-pembantu yang mencoba merusuhkan Indonesia itu justru membelokkan wacana. Ya, itu tadi yang akhirnya awalnya nih barangkan ya. Awalnya kekesalan kita pada DPR kemudian pindah kepada pembubaran DPR kemudian pindah lagi pada serangan kepada polisi, kemudian serangan lagi kepada TNI, kemudian nanti pada Perboo dan sebagainya. Jadi ini yang agak membuat kita tuh bingung sebenarnya. Jadi intinya sekali lagi jangan jangan pernah baraya, jangan pernah pindah fokus. Fokus kita itu adalah transparansi anggaran. fokus kita itu adalah em

19:59 miskinkan para koruptor. Kemudian hak suara kita itu lebih didengar oleh para elit. Kemudian adalah anggaran itu disusutkan untuk para pejabat-pejabat yang enggak benar itu dan yang semua pejabatlah itu disusutkan dan sebagainya. Itu agenda kita itu bukan hal-hal yang lain. Jadi jangan dikecoh. Tapi kelompok yang empat ini adalah kelompok yang membantu untuk bikin rusuh. Itu jumlahnya gila, banyak banget. Dan kemudian yang kelima itu adalah kelompok pelaksana. Nah, pelaksana yang di lapangan dalam hal ini di antaranya adalah saya mohon maaf ya, saya sebutkan aja ee polisi, polisi sering melakukan provokasi. Polisi sering melakukan provokasi terhadap para demonstran sehingga terjadi kekerasan. Setidaknya yang di Bandung itu ee saya pernah diskusi dan itu sudah jelas. Kemudian dari oknum

20:45 polisi ada yang melakukan itu. Dari oknum TNI juga nampaknya ada yang seperti itu. Pelaksana ya. Kemudian ada kelompok-kelompok yang marah dan putus asa, tapi mereka nala rendah seperti yang menggerebeg rumah para selebriti itu dan sebagainya gitu ya. Itu adalah kelompok yang dikendalikan, diprovokasi dan mereka semua kemarin juga sudah melakukan e sudah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka diprovokasi gitu ya. Itu sudah jelas. Dan kemudian ada ee kelompok-kelompok yang ee profesional tapi kita tidak tahu siapa mereka. Apakah anteek asing atau antek dari negara kita sendiri kita tidak tahu. Tapi yang jelas mereka adalah kelompok profesional. Nah, jadi sekali lagi yang ingin saya tekankan kepada Baraya adalah ini adalah fog of war. Zaman di mana kita semuanya tertutup kabut sehingga tidak ada yang benar dan tidak yang

21:30 salah. Maka saya ngajak semua baraya untuk tenang untuk cooling down. Sekarang udah stay, udah santui, tapi ingat ya, tapi sekarang tuh udah santai, udah agak reda. Tapi hati-hati banget karena mereka masih punya kekuasaan, mereka masih punya power. sehingga mereka bisa aja bergerak lagi. Jadi tetap fokus pada tujuan kita untuk membersihkan Indonesia dari para tikus-tikus jahat, dari para koruptor, dari orang-orang yang memanfaatkan jabatannya. Fokus kita tuh ke situ. Soal kemarahan kita dilampiaskan kepada begini dan begitu dan sebagainya mohon jangan mudah diprovokasi. Oke baraya itu saja. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube