#Eps12 l Menyelaraskan Kehendak Tuhan dan Kehendak Manusia

Ringkasan Singkat

Video ini membahas konsep "menghendaki" dan "dikehendaki" dalam perspektif Islam, menekankan pentingnya keseimbangan antara usaha manusia dan kehendak Allah. Berikut poin-poin utamanya:

  • Manusia harus memiliki kehendak dan berusaha, tetapi juga harus berserah diri pada kehendak Allah.
  • Petunjuk dan hidayah dari Allah selalu tersedia, tetapi seringkali terhalang oleh keinginan atau penolakan diri sendiri.
  • Al-Qur'an harus dipahami tidak hanya sebagai teks tertulis, tetapi juga dihayati dalam hati dan direfleksikan dalam alam semesta.

Pembukaan: Menghendaki dan Dikehendaki

Video dimulai dengan membahas ayat-ayat Al-Qur'an tentang hikmah dan hidayah yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki. Muncul pertanyaan apakah hidayah itu hanya ditunggu atau ada usaha dari manusia. Dijelaskan bahwa ada paradoks: di satu sisi, manusia harus memurnikan niat dan melepaskan semua keinginan, tetapi di sisi lain, tidak boleh apatis dan harus tetap memiliki kehendak. Titik tengahnya adalah "bersedia" menerima kehendak Allah.

Keseimbangan Kehendak Manusia dan Kehendak Allah

Surat Ar-Rum ayat 15 menjelaskan bahwa manusia memerlukan Allah, tetapi Allah tidak memerlukan apa pun. Surat At-Takwir ayat 27-30 menyatakan bahwa manusia berkehendak menempuh jalan lurus, tetapi tidak dapat melakukannya kecuali jika dikehendaki Allah. Oleh karena itu, manusia harus memasrahkan kehendak, keinginan, dan harapan kepada Allah, tetapi tetap memiliki kehendak di awal. Kewajiban Allah akan datang ketika manusia memenuhi persyaratan sesuai dengan ilmu dan hukum Allah.

Niat dan Kehendak yang Ikhlas

Kehendak berkaitan erat dengan niat yang ikhlas. Manusia harus memiliki kehendak, tetapi tidak boleh memiliki keinginan yang berlebihan. Di duniawi, manusia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, tetapi di ranah spiritual, harus melepaskan semua harapan dan menyerahkan diri pada kehendak Tuhan. Petunjuk dari Tuhan sudah diberikan sejak awal, tetapi seringkali terhalang oleh ketidakmauan atau keinginan yang berlebihan.

Al-Qur'an: Teks, Hati, dan Semesta

Al-Qur'an diturunkan secara bertahap agar manusia dapat memahaminya perlahan-lahan dan sistematis. Surat Ibrahim ayat 1 menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci. Al-Qur'an harus dipahami tidak hanya sebagai teks tertulis (mushaf), tetapi juga dihayati dalam hati dan direfleksikan dalam alam semesta. Ketiganya harus terhubung dan sinkron. Jika lautan menjadi tinta dan pohon menjadi pena, kalimat-kalimat Allah tetap tidak akan habis tertuliskan. Membenarkan firman Allah (sodqallahulazim) harus dibuktikan dalam hati dan kenyataan.

Penutup: Menjaga Titik Tengah

Video ditutup dengan menekankan pentingnya menjaga titik tengah antara menghendaki dan dikehendaki. Manusia harus berusaha dan berkehendak, tetapi juga berserah diri pada kehendak Allah. Jangan hanya menunggu, tetapi juga jangan terlalu menginginkan. Pertengahan adalah kunci untuk mencapai keseimbangan dan menerima apa pun yang Allah kehendaki.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Jadi, kamulah yang berkehendak, tapi kamu enggak bisa menempuh jalan tuh jika tidak dikehendaki Allah. Jadi, ada kehendak Allah mengkehendak kita, gitu. Nah, di sinilah kita harus memasrahkan kehendak kita, keinginan kita, harapan kita supaya yang terjadi hanyalah kehendak Allah. Oke. Tetapi di awal kita harus punya kehendak dulu, gitu. Hm. Akan menjadi kewajiban Allah ketika si orang ini memenuhi itu ah sesuai ilmu dan oke sistem atau hukum dari Allah gitu. Oke. Kalau saya enggak sesuai dengan aturan Tuhan ya saya enggak dikehendaki. [Musik] Asalamualaikum. Selamat di Ngaji Bareng dari lisan menuju kesadaran. Kita

0:46 menyalami lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang ternyata Quran ini sangat indah, mudah dan bagaimana kita menjadikan benar-benar pedoman. Bukan hanya dibunyikan, bukan hanya dikhatamkan dalam perspektif selesai 30 juz, tetapi khatam adalah baca, pelajari, pahami, amalkan, dan siarkan. Yang ujungnya adalah petunjuk. Quran selalu mengatakan petunjuk itu ada kaitannya dengan hikmah atau sering disebut dengan hidayah. Dan ada ayat yang mengatakan Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Nah, mungkin dalam bahasa yang sering terjadi di keseharian ada orang yang bilang bahwa aku belum mendapatkan hikmah atau hidayah. Karena hikmah dan hidayah ditunggu karena itu sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Pertanyaannya, apa sih dikehendaki dan

1:32 menghendaki? Apakah usaha kita atau Allah yang memberikan kita akan selami? Gimana nih, Mas, menghendaki dan dikehendaki nih? Ya, makanya itu yang perlu dibahas ya. Betul. Ee Allah apa menghendaki mengampuni orang-orang yang dikehendaki dan tidak mengampuni yang tidak dikehendaki. I Allah memberi petunjuk kepada siapa yang kehendaki dan tidak Allah menyesatkan macam-macam gitu kan. Allah apalagi dan sebagainya gitu. Jadi kadang-kadang ada kata-kata ya gimana kalau saya enggak dikehendaki gitu. Hm. Padahal sebenarnya gini, Kang Abu, ini agak paradoks ya. Di satu sisi kita itu ee di Quran ini harus mukhlisin lahudin h

2:19 harus bisa memurnikan niat untuk melepaskan semua keinginan, melepaskan semua ke apa namanya? Kepentingan termasuk kehendak kita gitu. Hm. Karena semua keinginan, kehendak, kepentingan ini personal interest yang membuat kenyataan itu tidak terjadi. Oke. Jadi, step pertama harus memasrahkan semua keinginan kita gitu. Enggak termasuk kehendak kita. Tapi di sisi lain, kita juga enggak bisa aku bodo amat gitu. Hmm. Iya kan? Nah, itu juga peduli apatis. Iya. Hm. Karena tidak menginginkan, tidak menghendaki, tidak mementingkan, itu juga keinginan juga gitu. Benar enggak sih? Saya enggak mau ini, itu kemauan enggak? Betul ya kan?

3:05 Jadi dua sisi tuh enggak mau itu kemauan, tidak mau adalah kemauan juga gitu. Jadi dua-duanya harus di lepaskan gitu. Oke. Harus ada di titik tengah yang sering kita bahas di tiga fakir atau meditasi itu adalah di titik pusto gitu. Hm. Di titik di mana ini paradoks nih. Satu menginginkan enggak boleh, satu tidak menginginkan juga enggak boleh gitu. Lalu titik tengahnya di mana? Titik tengah itu namanya bersedia Bu gitu. Hm. Jadi Allah. Nah, kita bahas ya di titik tengah ya. Wusto ini kan wusto itu ya. Coba kita buka surat 35 ayat 15 tuh. Oh, I see. Oke. Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah dan Allah dialah yang maha kaya tidak memerlukan sesuatu dan maha terpuji. Nah. Wahai manusia,

3:52 kamulah yang berkehendak kepada Allah." Gitu. Hm. Allah tuh enggak enggak punya kepentingan gitu. H. Tetapi ya kan di satu sisi kamu yang berkehendak, di sisi lain coba kita buka 81 ayat 27 sama sampai 30 ya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam. He. Yaitu bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Heeh. Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah. Nah, itu Tuhan seluruh alam. Nah, itu. Hm. Jadi, kamulah yang berkehendak tapi kamu enggak bisa menempuh jalan tuh jika tidak dikehendaki Allah. Jadi, ada kehendak Allah kehendak kita gitu. Hm. Nah, di sinilah kita harus memasrahkan

4:38 kehendak kita, keinginan kita, harapan kita supaya yang terjadi hanyalah kehendak Allah. Oke. Tetapi di awal kita harus punya kehendak dulu, gitu. Hm. Makanya kata-kata tuh mayasyaun. Mayasya itu artinya berkehendak. Hm. Kalau aktif gitu. Oke. Kalau pasif namanya mayusyaun gitu. Hmm. Pasif tuh artinya ya udahlah gitu loh. Nah, jadi dua-duanya nih gitu ya kan. Hm. Jadi, nah kita bahas satu ayat lagi yuk. Surah 2 272 gitu. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Nah, itu dia. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tapi Allah

5:24 memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki. Pertanyaannya gini, jadi kewajiban memberi petunjuk kewajiban siapa? Allah. Hah? Enggak tuh ada orang yang bukanlah kewajibanmu, bukan kewajiban. Iya. Berarti bukan kewajiban saya. Heh. Bukan kewajiban Kang Abu. Heeh. Heh. Allah juga enggak ber enggak enggak punya kewajiban nih. I kalau kalau orangnya tidak memenuhi persyaratan sesuai ilmu Allah gitu. Oke, balik lagi ke situ ya. I. Iya. Jadi misalnya gini misalnya gini, Kang Abu mau ke Singapura. Syarat ke Singapura apa? Harus punya pasport, punya tiket, punya hotel gitu kan. Heh. Tidak dicekal gitu. Nah, kalau Kang Abu sudah memenuhi semua persyaratan ini, Heh. Ya kan? Heh. Kira-kira Kang Abu ke imigrasi dia wajib ngasih akses enggak? Iya. I ya karena

6:10 sudah ngikutin semuanya. Nah, jadi kewajiban siapa ngasih ngasih akses itu? Ee kewajiban si dia kan sama Kang Abu sudah apa sudah memenuhi semuanya. Nah, gitu. I. Jadi akan menjadi kewajiban Allah ketika si orang ini memenuhi itu ah sesuai ilmu dan oke sistem atau hukum dari Allah gitu. Oke. Berarti jadilah dia orang yang dikehendaki Allah. Hmm. Gitu. Oke, mungkin kalau kalau bahasa sekarang tanda bintang terms and condition dilakukan kali ya. Semua kan pakai sistem hukum. I see. Kalau saya enggak sesuai dengan aturan Tuhan ya saya enggak dikehendaki gitu. Hm. Aturan Tuhan adanya di sini dan di sini gitu. He he. Nah, kalau saya sesuai aturan Tuhan mungkin enggak saya enggak

6:56 dikehendaki? Enggak mungkin. Enggak mungkin. Tapi untuk bisa menjalankan aturan Tuhan harus ada kehendak dari siapa dulu? Dari kita dulu. Kayak gitu. Jadi itu auto gitu ya, Mas ya. I begitu udah pas auto aja pas. Ah di titik tengah wus tek langsung pasti pasti terjadi. Enggak mungkin itu ini semua memenuhi syarat tapi kayaknya gua enggak suka sama muka lu aja gitu kan. Enggak mungkin gara-gara gitu doang. Iya. Iya. I jadi ada preferensi gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Ada preferensi tahu. Ada ada selera. Ada ada. Iya. Gua suka aja gua salah. Kenapa enggak tahu gitu enggak boleh enggak bisa gitu. Iya. I. Jadi artinya kita tuh harus tahu dulu ee apa sih kehendak Allah itu. Hm. Supaya kita bisa dikehendaki. Karena pada dasarnya tidak ada yang tidak

7:42 dikehendaki. Hmm. Tetapi sudahkah kita tahu kehendak Allah tuh gimana gitu. Oke. Untuk bisa memberikan petunjuk gitu. Oke. Anyway, Mas kehendak ini ada kaitan sama niat enggak sih? Iya. Niat. Niatat. Ada niat. Nah, niat yang mukhlis yang ikhlas. Oke. Niat yang ikhlas boleh punya keinginan enggak? Ya kan lepas ya yang Nah, ya. Makanya ini menarik kan kita harus punya kehendak tapi enggak boleh punya keinginan. Ayo, gimana tuh? Kita harus tahu keinginan Allah. Heeh. Tapi di satu sisi kita yang berusaha dulu kan gitu kan. Berusaha. Makanya kalau kamu berjalan Tuhan berlari. Heeh. Kalau kamu berjalan sedepa Tuhan berjalan sehasta gitu. He. Jadi artinya gini, saya suka bilang gini, di titik

8:29 duniawi, di titik duniawi itu kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, Kang Abu. H misalnya kalau mau meditasi atau mau apa ya tempatnya dipakai yang bagus, beli tempat yang bagus, siapin yang bagus, aromaterapi disiapin semua tuh tempatnya apa semua dipersiapkan sebaik-baiknya. Duduk ya harus tegak, senyumnya mah lepas gitu ya. Tapi di titik sampai di situ, ketika sudah sampai ranah spiritual, kita tuh enggak boleh ngelakuin apa-apa gitu. Hm. Oke. Itu semua Tuhan yang melakukan. Oke. Semua kehendak Tuhan aja sudah terjadi. Enggak boleh ada harapan lagi. Oke. Oke. Jadi, ada satu titik di mana ya tongkat estafet ini saya kasih ke Kang Abu. Begitu Kang Abu pegang, sudah saya lepas gitu. Hm. Surrender our will

9:16 to the will of God gitu. Iya. Oke. Melepaskan, memasrahkan keinginan kita kepada kehendak Tuhan. Hm. Tapi waktu itulah ketika Tuhan wajib, bukanlah kewajibanmu menjadikan akan mendapat petunjuk, tapi Allahlah bagi siapa-siapa yang dikehendaki mau menerima petunjuk. Jadi kalau kita enggak mau itu suatu keinginan juga kan. Coba kita buka ya. 2856 ya. Benar. Benarlah ya. Tapi di satu tapi kayak mancing-mancing dikit kali ya. mancing udah aja gitu ya. Sungguh engkau Muhammad tidak akan ya enggak ada ini Muhammadnya tanda gurung ya. Sungguh engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi. He. Tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dia kehendaki dan dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima

10:02 petunjuk. Mau gitu. Jadi kalau orangnya bilangnya di mulutnya mau, hatinya enggak mau, Tuhan tahu loh. Hmm. Cuma begitu sudah sampai di sini, petunjuk itu kan sudah diberi sebelum. Hm. diminta. Oke, berarti sebenarnya petunjuk itu sudah Tuhan kasih. Semua tuh dari Tuhan kasih berlimpahan. Bukan baru diminta dikasih baru ada atau dicicil gitu. Hm. Cicil. Kalau diminta 10 kasih 10. Minta 100 kasih 100. Itu yang dicicil. Enggak. Dikasih berkelimpahan. Hm. Cuman ada hal-hal yang menahan. Hmm. Yang menahan tuh dua. Hm. Satu, kamu tidak mau menerimanya. Hm. Yang yang kedua kamu mau

10:49 menerimanya. Dua-duanya tuh nahan. Ini menarik ya. Agak paradoks nih. Iya iya iya iya. Kalau kamu udah wah gua pengin mau ada enggak bisa juga. Enggak bisa. Benar benar ya. Dua, dua tengah ini titik tengahnya namanya bersedia gitu. Udahlah aku bersedia aja. Apapun yang Tuhan hendak alirkan. Kadang yang dialirkan bukan apa yang kita mau. Iya. Benar enggak, Mas? Ya udah pas gitu. Iya. Tapi ngomong-ngomong tadi bicara bahwa petunjuk sudah diberikan sejak awal. Tapi ada satu cerita bahwa Quran tuh turunnya per apa? Per cerita turun ayat. Turun ayat itu gimana, Mas? A kita buka, ya. Surah 17 106 kan ada cerita gitu ya. Betul. Sesuai dengan turunnya. Diturunin lagi, diturunin lagi gitu.

11:36 Dan Al-Qur'an itu kami turunkan berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan kami menurunkannya secara bertahap. Iya, bertahap. Kenapa? Kenapa enggak sekali aja? Hm. Enggak gitu. Coba kita buka ya lagi surat 30 25 ayat 32. Berapa? 25 32. Oke. I ini 33 nanya nih ya. Kenapa enggak langsung gitu? He. Dan orang-orang kafir berkata, "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?" He. Demikianlah agar kami memperteguh hatimu dengannya dan kami membacakannya secara tartil, berangsur-angsur, perlahan, dan benar. Tartil itu artinya urut, oke? Runtut gitu. Bukan tartil tuh bukan tajwid nih. Bukan tartila ya. Oke. Tartil tuh urut runtut ya kan? Terperinci gitu. Urut runtut gitu. Dan mereka orang-orang

12:23 kafir itu tidak datang kepadamu membawa suatu yang aneh, melainkan kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. Heeh. Kak Abu, kalau kita bangun rumah mungkin enggak kita bangun gentengnya dulu? Enggak mungkin. Harus apa dulu? Pondasi. Nah, yang kuat kan? Hm. Pondasi itu namanya tauhid gitu. Hmm. Setelah bangun pondasi kuat baru kita bisa bangun temboknya gitu. Iya. Setelah tembok jadi baru bisa bangun tasnya. Lalu kamar-kamar kan harus bertat berurut dari yang paling basic dulu. Makanya 13 tahun Nabi Muhammad di Makkah dia cuma ngajarin tauhid gitu. Ada ayat-ayat Makiah tuh ngajarin tauhid aja. Udah dia enggak ngomongin masalah jual beli, muamalah, apa, enggak ada. Dia hanya ber ngajarin foundation gitu basic-nya. Itu

13:10 namanya berangsur-angsur, bertahap, urut, dan runtut gitu. Hm. Sistematis gitu. Hm. Itu namanya tartilnya. Surat 11 ayat 1 tuh. Alif lam ro. Inilah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah yang maha bijaksana, maha teliti. Heeh. Agar kamu tidak menyembah selain Allah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira darinya untukmu. Iya. Terus lanjut ayat 4. Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepadanya, niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. He. Dan dia akan memberikan karunianya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling,

13:56 maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar atau kiamat. Kepada Allahlah kamu kembali. Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Jadi awalnya itu yang nomor dua itu awalnya adalah tidak menyembah selain Allah itu tauhid. Tauhid. Hm. He. Jadi basicnya adalah itu tauhid diajarin dulu sampai basic baru nanti kemudian dibahas yang nomor tiganya yaitu bertobat kembali sampai akhirnya berbuat baik dikasih kenikmatan atau kemudahan terus-menerus dalam hidup karena energinya makin besar kan. Hm. Lalu terakhirnya untuk jalan untuk kembali gitu atau jalan langsung nanti kita bahas itu gitu. Oke, jalan langsung. Dan mungkin sedikit Mas dispang itu kan dapat dan konteksnya kadang-kadang simbolis gitu, Mas. Ini kan banyak perumpamaan simbol gitu. Iya

14:42 kan? Tanda kan. Dan mungkin ayat juga perlu kita perlu kita spill bahwa ayat itu bukan hanya huruf tulisan kan gitu poinnya. Tapi apa yang dirasakan yang Mas Oni pernah bilang juga bahwa ee ufuk atau semesta atau alam dan juga diri gitu. Nah, simbol-simbol itu juga kan sebagai tanda. Betul enggak, Mas? Betul. Betul. Makanya saya suka bilang Quran tuh segitiga. Hmm. Ada Quran yang di buku, ada Quran yang di hati. Makanya Nabi Muhammad kan bilangnya gini, alif lam mim. Zalikal kitabu kitab ini loh, gitu. Hmm. Ini kan bukan jarinya kan enggak begini kan. Kamu nunjuk dong ini gitu. Makanya yang di sini gitu. I makanya kita tuh ahli kitab nih loh. Kitab ini di sini gitu. Kitab ini sama kitab ini mesti nyambung. Oke. Karena

15:29 mau baca kitab ini alirannya dari sini gitu. Ai. Jadi kalau ini dialirin baca ini nyambung. Nah, buktinya di mana? Buktinya di semesta gitu. Oke. Nah, kitab yang itu juga kitab kan. Hm. He. Nyambung enggak? Nyambung. Tiga-tiganya nyambung gitu. Oke. Kalau salah satu aja enggak nyambung ya enggak nyambung gitu. Enggak sinkron ya. Sinkronitasnya di situ ya. Sinkron. Baca ginian doang enggak enggak pakai ini enggak bisa gitu. IC tiga gitu IC. Nah, makanya ini disebut sebagai kitab yang tidak terbatas. Hmm. Jadi, tetap tidak kalau kalau nyetak kitab ini segini itu pakai tinta dua botol juga habis gitu. Tapi kalau yang tiga nyambung itu lautan itu ya kita buka yuk ayatnya dua ayat ya

16:15 189. Iya. Benarbenar ini supaya kita agak luas memahami Quran tuh bukan yang buku gitu loh, Mas. Iya. Bukan hanya yang buku. Bukan hanya yang buku gitu. Katakanlah, "Seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai penulisan kalimat-kalimat Tuhanku." "Kipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula." Heeh. 3127. Oke. "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah keringnya." Niscaya tidak akan habis-habisnya dituliskan kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa, maha bijaksana. Heeh. Jadi ada ayat, ada kalimat itu sama ya. Jadi artinya ini kan semua kan kalimat-kalimat Tuhan. Makanya sodqallahulazim tuh kalau udah

17:01 tiga-tiganya nyambung. Benar. Bukan hanya baru bunyi ya. Bukan. Benar Mas. Sodqallahulazim tu maha benar Allah dengan segala firmannya. Jadi ini harus disodqahkan. Enggak sedekah itu kan minggu lalu kita bahas bahwa Iya membuktikan membenarkan kebenarannya ada di mana? Iya iya iya. Di hati dan di kenyataan dong gitu. Benar. Terbuktilah ya. Terbukti. Iya. Sodqah. Ha sih. Maka kenapa bersaksi kali ya, Mas ya? Heeh. Bersaksi. Disaksikan ya. Wah, menarik. Oke, Mas. Ini bakal seru, Mas. Nanti kita bahas mana Quran mushaf, mana Quran sejati. Tapi poinnya adalah kita mulai menyadari bahwa dikehendaki atau menghendaki. Jangan lupa bahwa semua datang dari bagaimana ada effort mau atau tidak. Jadi bukan hanya menunggu, tapi tetap menjaga titik tengah. Karena

17:47 pertengahan itu yang membawa kita dalam tidak menginginkan dan juga tidak mau dan tidak mau dua-duanya adalah keinginan. Tetaplah ada di titik tengah. Terima kasih. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube