KAMU SELALU KETEMU COWOK YANG SALAH? INI JAWABANNYA! - RELATE #everestmedia

Ringkasan Singkat

Podcast ini membahas strategi dan tips untuk wanita, khususnya wanita karir, dalam mencari pasangan yang tepat dan menghindari hubungan yang merugikan. Coach Jose berbagi pengalamannya dalam membimbing klien-kliennya, serta memberikan panduan praktis mengenai cara meningkatkan harga diri, mengenali nilai-nilai penting dalam diri dan pasangan, serta berkomunikasi secara efektif dalam hubungan romantis.

  • Pentingnya harga diri (self-esteem) dalam memilih pasangan.
  • Strategi "Diva Roadmap" (Discover, Validate, Advance) untuk menemukan pasangan yang tepat.
  • Tiga komponen penting dalam hubungan yang bahagia: compatibility, adaptability, dan polarity.

Pembukaan

Samanta Elsenar membuka podcast Relate bersama Coach Jose, seorang ahli dalam membantu wanita menemukan pasangan yang tepat dan menghindari "red flag". Mereka membahas kesibukan Coach Jose dalam mentoring, pelatihan, dan pengembangan aplikasi "True Love" yang menyediakan materi pembelajaran tentang hubungan. Coach Jose menjelaskan bahwa banyak wanita karir yang merasa kesulitan dalam mencari jodoh karena tidak tahu caranya atau terlalu fokus pada karir mereka.

Masalah Umum Wanita Karir dalam Percintaan

Coach Jose menjelaskan bahwa banyak kliennya adalah wanita karir yang merasa kosong dan kesepian meskipun sukses dalam karir. Mereka seringkali terjebak dalam pemikiran bahwa cinta itu menyakitkan dan lebih memilih fokus pada pekerjaan yang memberikan kepuasan yang lebih mudah. Pengalaman buruk di masa lalu membuat mereka sulit membuka diri untuk hubungan baru. Coach Jose menekankan pentingnya bertanggung jawab atas pilihan dan perasaan sendiri, bukan menyalahkan pihak luar atau takdir.

KPI dalam Romansa dan Pentingnya Komunikasi

Coach Jose menjelaskan bahwa romansa juga memiliki KPI (Key Performance Indicators) yang dapat dikendalikan. Wanita karir seringkali kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangan karena mereka membedakan ranah personal dan profesional. Mereka cenderung berharap pasangan mengerti keinginan mereka tanpa mengkomunikasikannya secara jelas. Coach Jose memberikan contoh bagaimana wanita seringkali menyampaikan ekspektasi dengan cara yang sama seperti memberikan instruksi kepada bawahan di tempat kerja, yang tidak efektif dalam hubungan romantis.

Mitos dan Kriteria dalam Memilih Pasangan

Coach Jose mengungkapkan mitos umum di kalangan wanita bahwa mereka tidak memiliki kendali atas perasaan cinta. Akibatnya, mereka seringkali merasa menjadi korban dalam hubungan. Banyak wanita juga tidak memiliki kriteria yang jelas dalam memilih pasangan. Coach Jose menekankan pentingnya mengetahui apa yang diinginkan dan fokus mencari orang yang sesuai dengan kriteria tersebut, bukan hanya mencari perhatian dari siapa saja.

Metode Coaching dan Peningkatan Harga Diri

Coach Jose menjelaskan metode coaching yang digunakannya untuk membantu klien memperjelas tujuan mereka, memahami kondisi saat ini, dan mengidentifikasi keyakinan yang menghalangi mereka. Ia menekankan pentingnya meningkatkan harga diri (self-esteem) sebagai dasar untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab dalam hubungan. Intervensi yang diberikan meliputi latihan-latihan sederhana seperti afirmasi positif dan apresiasi diri.

Diva Roadmap: Discover, Validate, Advance

Coach Jose memperkenalkan "Diva Roadmap" sebagai strategi untuk menemukan pasangan yang tepat, yang terdiri dari tiga tahap: Discover (mengenal), Validate (memvalidasi kualitas), dan Advance (melangkah lebih jauh). Pada tahap Discover, fokusnya adalah mencari kesamaan. Pada tahap Validate, fokusnya adalah mencari perbedaan dan melihat apakah perbedaan tersebut dapat ditoleransi. Coach Jose mengungkapkan bahwa rata-rata wanita perlu bertemu dengan 50-150 pria pada tahap Discover sebelum menemukan seseorang yang cocok untuk dilanjutkan ke tahap Validate.

Durasi Ideal dan Tiga Komponen Hubungan Bahagia

Coach Jose menjelaskan bahwa idealnya, tahap Validate berlangsung selama 3-6 bulan sebelum memutuskan untuk berpacaran. Ia juga memperkenalkan tiga komponen penting dalam hubungan yang bahagia: compatibility (kesamaan nilai), adaptability (kemampuan beradaptasi), dan polarity (perbedaan energi maskulin dan feminin). Coach Jose menekankan pentingnya mengenali nilai-nilai inti diri sendiri dan mencari pasangan yang memiliki nilai-nilai yang compatible.

Memancing Inisiatif Pria dan Komunikasi yang Efektif

Coach Jose menyarankan agar wanita membiarkan pria menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Tugas wanita dalam PDKT adalah memancing inisiatif pria, mengundang pria untuk menjadi pahlawan, dan menguji apakah pria tersebut layak mendapatkan dirinya. Setelah pria menyatakan perasaannya, wanita perlu menanyakan rencana dan visi pria tersebut untuk masa depan sebelum menerima cintanya. Coach Jose juga menekankan pentingnya menetapkan syarat dan batasan dalam hubungan sejak awal.

Kesepakatan dan Aturan dalam Relasi

Coach Jose meragukan hubungan yang berjalan terlalu mulus di awal tanpa adanya perencanaan dan kesepakatan. Ia menyarankan agar pasangan yang sudah menjalin hubungan untuk melakukan kalibrasi dan menetapkan aturan yang jelas. Coach Jose juga membahas teori bahwa semakin cepat pasangan berkomitmen, semakin lama intensitas relasi dapat bertahan.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 baru yang terakhir polarity eh yang satu maskulin, yang satu feminin. Sehingga ada dinamika karena kalau satu maskulin maskulin biasanya berantem tuh. Iya. Saling keras. Dua-duanya feminin biasanya stuck enggak ke mana-mana. Kamu aja deh terserah deh. Perlu ada dinamika maskulin feminin. Butuh berapa kali kenal sama laki-laki baru sampai akhirnya mereka PDKT-nya okelah gitu. Rata-rata jangan kaget ya. 150 pria. Hah. [Musik] Hai semuanya, jumpa lagi bersama aku Samanta Elsenar di Relate Podcast dan kali ini udah ada tamu spesial yang datang yang bakalan ngajarin kamu kalau kamu perempuan, gimana caranya untuk

0:47 mendapatkan laki-laki yang oke alias bye bye deh cok red flag. Kita sambut dulu Coach Jose. Hai. Hai. Halo, saya lihat ke mana nih ya? Ke mana aja ya? Hai coach, apa kabar? Alhamdulillah baik. Long time no sih ya. Ya, akhirnya di sini lagi ya akhirnya. Terima kasih sudah diundang. Thank you sudah mau datang sudah menyempatkan waktunya hari ini. Senang deh soalnya waktu zaman pandemi kita sempat IG live juga ya. Emang itu pandemi IG live atau zoom? IG live. Kita live. Tapi kayaknya bukan pandemi deh. Live kayaknya masih dalam masa pandemi deh. Masa pemulihan ya? Iya. Terus zoom-nya setelah pandemi. Oh iya iya. Terus kita ee webinar bareng kan. Iya iya iya. I see I si habis itu kita meet

1:34 up. Habis itu udah lost. Kamu ke mana? Masih habis meet up masih ada webinar sekali lagi. Oh iya benar benar benar ada webinar. Betul. Iya habis itu lagi. Kamu ke mana? Aku ke mana? Tiba-tiba kamu punya punya akun punya podcast. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Apa kabar? Alhamdulillah baik. Ee jadi kalau misalkan ditanya kabarnya ya lagi sibuk pasti ya mentoring terus nih mentoring coaching sama bikin produk kurang lebih itu. Nanti Sabtu Minggu kita ada training juga di Swiss Bell ya. Oh training buat trainers atau buat Bukan buat ee customer-customerku. Oh the ladies. Iya buat ladies. Wah seru banget. Terus katanya udah bikin aplikasi juga ya. Kita punya aplikasi namanya True Love. Jadi aplikasi itu tuh

2:20 kayak library pembelajaran, video on demand di mana ketik ee si paradis bisa para ee bisa register VIP berbayar dan dia subscription bulanan. Hm. Dan ketika dia subscription dia nge-unlock semua konten yang ada di situ gitu. Wow. Iya. Ya. Ya. Itu kayaknya perlu deh buat perempuan-perempuan Indonesia. Perlu. Perlu banget. Iya. Kan maksudnya aku tuh banyak banget mendengar perempuan tuh sering banget dikadalin ya dikadalin sama laki-laki yang cuman mau memanfaatkan sesaat doang. Betul. Dan aku enggak tahu sih kalau kliennya coach tuh seperti apa background-nya. Rata-rata emang yang beneran pengin cari jodoh atau yang pengin belajar mau upgrade diri atau kayak gimana tuh? Kebanyakan memang mau cari jodoh tapi

3:06 cluless enggak tahu gimana caranya. Entah enggak tahu cara ngomongnya, enggak tahu cara ngedekatinnya, atau ee mereka ngerasa kok gua kayak terlalu udah asik sama karir gua, sama hidup gua. Tiba-tiba usia sudah kepala empat, kepala lima gitu. Kebanyakan sih yang datang ke kita adalah mereka-mereka yang ee wanita karir. Wanita karir. Tapi mereka sebelumnya tuh punya pengalaman enggak di masa sekolah mereka sebelum mereka berkarir nih ya untuk dekat sama cowok PDKT gitu? Ada. Ada ada yang sudah pacaran, ada bahkan yang datang ke kita dalam kondisi coach aku udah pacaran 8 tahun kita udah nabung bareng. Tiba-tiba dia nikahnya sama yang lain itu banyak. Aduh sedih banget. Terus ada sedih banget ada ada juga yang udah sampai nikah ee udah punya anak terus cowoknya

3:53 ketahuan selingkuh sama cowok ya. itu banyak lagi. Terus mereka berpisah terus ee si sebenarnya sih gini yang sudah senior-senior ya ee 40 ke atas mereka secara kognitif mereka bilang mereka kayaknya udah enggak mau lagi untuk nyari jodoh lagi, nyari pasangan lagi secara kognitif ya secara kognitif. Tapi di alam bawah sadar mereka kayak kok gua kayak kosong, gua kayak sepi, kayaknya gua butuh something. Jadi mereka datang ke gua karena kan gua kan kalau di konten Instagram dan sebagai macam ya itu kan isinya kayak dapatin jodoh banget gitu ya. Iya. He. Sehingga mereka tuh datang gitu. Tapi ketika kita ngobrol masalah utama mereka itu bukan punya pasangan atau enggak punya pasangan. Heeh. Tapi bagaimana mereka handle sama pikiran, sama perasaan mereka sendiri. Kekosongan itu gara-gara

4:39 itu kekosongannya justru dari dalam. Dari dalam. Bukan. Mereka pikir itu bisa terobati dengan punya pasangan, tapi kebanyakan enggak. Nah, biasanya kalau ada yang datang seperti itu apakah diterima jadi klien? kita terima namanya duit ya kita terima yaak. Nah cuman pas di awal sesi yang kita fokusin adalah dalamnya dulu sehingga kalau dalamnya sudah beres nanti kita tanya lagi gimana masih mau enggak? Kalau masih mau hayo dengan bertanggung jawab. Kalau masih enggak mau kalau misalkan akhirnya udah deh gua gua selesai gua enggak butuh jodoh lagi gitu maka ambil dengan bertanggung jawab. Bukan sebagai korban, bukan karena takut ditolak, bukan karena takut disakitin, tapi mereka bertanggung jawab. Iya. Ini ini yang menarik loh. Kata yang dipakai adalah bertanggung jawab. He karena biasanya kan kalau di ruang lingkup psikolog, psikiater berkesadaran bukan tanggung jawab. Kenapa milih

5:25 katanya bertanggung jawab? Karena mereka-mereka yang sudah sadar akhirnya memilih untuk tanggung jawab. Mereka menyadari bahwa apapun yang terjadi di kehidupan mereka itu ada efek dari perilaku mereka sendiri. Kan apapun yang kita dapatkan either itu sesuatu yang kita dapatkan karena kita lakukan atau karena sesuatu yang kita tidak lakukan. He. Nah, kebanyakan orang tuh enggak sadar bahwa apa yang mereka alami itu ada efek dari mereka juga. Kebanyakan tuh langsung nyolahin pihak luar. Iya. Nasib Tuhan, Tuhan kenapa jahat banget sama gua gitu. Bkan tuh langsung ke sana kesimpulannya. Nah, dengan ngambil bertanggung jawab mereka me memposisikan dirinya bukan lagi jadi sebagai korban, tapi sebagai seseorang yang bertanggung jawab sama dirinya, berdaya gitu. Berdaya. Benar-benar karena biasanya kan ya pengalaman buruk mereka biasanya

6:12 kalau yang wanita karir betul itu pasti kayak kompensasi terbesarnya ah cinta tuh bikin gua sakit hati cuma pekerjaan yang bikin gua happy. Betul. Betul. Dapat gaji recognition dapat prestasi kayak cukup gampang lagi. Iya betul. Tapi kalau di link sama cinta tuh kayak susah banget. Eh, itu kenapa mereka tuh apa ya terjebak dengan konsep pemikiran yang seperti itu. Padahal ee ya kita buka-bukaan aja ya, gua juga cerai gitu kan, tapi gua masih mau kok punya punya pengalaman bercinta yang baik, yang sehat gitu tuh masih mau enggak enggak tiba-tiba langsung e switching gitu sibuknya sama sama kerjaan aja terus ya ya iya kalau lagi dalam masa pemulihan iya cuman kayak udah tahu oke batas

6:58 waktu gua untuk pulih tuh sekian lama gua harus pulih nih gitu karena kalau enggak kan jadi Heeh ya mungkin karena di situ berhenti. Iya, betul. Kenapa banyak wanita ngerasa karir lebih mudah? Karena biasanya mereka ngomongnya variabelnya ketebak. Ah, variabelnya bisa dilihat, QI-nya bisa diukur. Betul sekali. Sebenarnya Heeh. Romansa juga ada QPI-nya. Ah, apa tuh KPI-nya? Ada variabel-variabel yang bisa kita kendalikan sebenarnya. Nah, namun kebanyakan wanita terutama wanita karir mereka ngerasa mereka tersesat karena mereka enggak tahu ilmunya aja sebenarnya. Mereka enggak tahu apa yang perlu diperhatiin, apa yang perlu difokusin. Padahal kan kalau di karir juga sama ya, kita kalau misalkan mau punya karir yang bagus,

7:44 kita punya rencana dulu kan. Kita punya blueprint, kita punya goal, kita tahu kenapa goal itu penting buat kita dan juga kita punya ee ekspektasi, antisipasi dan juga apresiasi buat diri kita sendiri. Kita punya tuh semuanya tuh sadar enggak sadar kita lakukan untuk ngejar itu di karir. Heeh. Tapi di romansa kebanyakan wanita tidak melakukan seperti itu karena mereka pikir romansa itu kan aku udah cinta kamu kan kamu udah cinta aku. Harusnya kamu bahagiain aku. Aku harusnya bahagiain kamu. Oh. Masih banyak yang punya pemikiran kayak gitu? Ih banyak banget. E 90% transaksional banget dong. Betul. Betul. Dan lebih ke arah berharap pada sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Kan lu cowok, harusnya lu ngerti kalau gua itu penginnya A. Kan lu cowok, lu tuh harusnya ngerti kalau gua

8:31 tuh penginnya B. Nah, itu yang bikin eh gitu ya. Punya ekspektasi, punya ekspektasi tapi tidak dikomunikasikan. Dan ketika mau mau dikomunikasikan biasanya udah di kondisi mereka sangat mendidih. Akhirnya ngomongnya darar gitu. Iya. Tapi ini lucu banget loh. Maksudnya sebagai wanita karir yang mostly berhasil ya kan klien-klienmu kan seperti itu. Mostly berhasil mereka bisa berkomunikasi baik dengan rekan kerjanya, partner kerjanya, tapi begitu masuk ke ranah personal kayak semua kemampuan komunikasi itu jadi menurun gitu. Betul. Karena itu mereka membedakan, mereka pikir beda. Romansa kan romansa hati. Engak setuju kan? Tapi kebanyakan begitu mikirnya kan

9:17 rumansakan hati enggak usah dikuantifikasi, enggak usah dikualitatifkan, enggak usah dikuantitatif. Iya, itu serius. Serius. Coba-coba kasih contoh pengalaman kalimat yang mereka sampaikan. Salah satu deh. Salah satu ya. Heeh. E bilang, "Coach, kenapa ya cowok enggak ngerti-ngerti kalau aku tuh penginnya ngomongnya diginiin?" Akhirnya yang mereka lakukan diginiin tuh apa? Banyak. Misalkan penginnya diperhatiin, pengin ditelepon lebih sering, tapi mereka enggak ngomong ke pasangan. Enggak ngomong. Yang terjadi adalah ngambek. I yang terjadi adalah nuntut. Tapi umurnya udah 40. Ya begitulah. Tapi di di karirnya mereka manajer level si level. Nah itu kan. Ah itu dia. Dan ada yang bilang gini, "Kachos, aku udah pernah nyobain komunikasi yang apa namanya? Ee

10:04 bukan bondis apa? Assertif." Assertif. Heeh. Aku udah coba. Gimana coba cara ngomongnya? Pas didengerin kalimat persisnya, sepersis kayak dia lagi ngasih instruksi ke bawahannya. Kayak gimana tuh? Coba dong tolong saya ini wanita, perhatiin saya. Saya kan butuhnya ini. Masa kamu enggak ngerti? Hah? Ngomongnya begitu. Sama kayak dia ngomong ke ke karyawannya, "Tolong dong ini kerjaan enggak beres kayak ngasih order." Iya. Iya, iya. Padahal kan ke pasangan tuh kan enggak bisa ngasih order kan. Bukan order. Ketika kita nyampein ekspektasi, si pasangan juga perlu tahu what's in it for me. Iya. Iya. kan pakai pakai sandwich communication. Betul. Pakai sandwich bisa pakai preframe dulu di depannya bisa biar tidak si temboknya enggak terlalu tinggi si silingnya. Iya. Apapun bisa dilakukan tapi dia tidak melakukan

10:49 itu hanya karena emosi yang tidak terkontrol. Dan ada satu lagi mitos yang terjadi di kalangan wanita. Mereka pikir enggak tahu Coach, aku kalau di karir otakku jalan, tapi kalau di romansa kayaknya otaknya ketinggalan di rumah gitu. Padahal relationship juga di ranah personal ya. But otak. Iya. Dan itu butuh otak. Jadi dia pikir kan gimana Kach, aku enggak bisa enggak bisa milih jatuh cinta sama siapa. Perasaan ini suka begitu aja. Aku enggak punya kendali sama perasaanku. Itu yang mereka percaya. Sehingga ya wajar kalau kebanyakan dari mereka merasa jadi korban. Merasa ya. Jadi mereka juga kebanyakan enggak tahu kriteria orang yang mereka suka. Iya kebanyakan ya. H sadly ya. Itulah kenapa saya ada.

11:35 Iya. Ya. Ya. Agak agak kurang relate kalau sama aku. Tapi mungkin di sini banyak yang nonton ngerasa relate juga ya. Bisa jadi karena kalau kalau aku nih personalnya tuh ngerasa aku tahu apa yang aku mau. Jadi aku akan fokus nyari itu. Good. Dan itu yang penting. Bukan cuman nyari siapa aja yang datang. Iya ya. Bukan cuman nyari aduh aku butuh perhatian dari cowok siapa yang bisa. atau bahkan bukan ngejar satu cowok yang dia tahu enggak suka sama dia dan berharap cowok itu sadar dan berharap cowok itu ngerti kalau dia ini wanita terbaik buat dia. Itu banyak. Serius? Serius. Market Indonesia. Hah? Itulah kenapa ada saya. Iya. Ya. Terus cara coaching mereka biasanya gimana tuh? Atau butuh berapa lama sih supaya mereka tuh dapat insight kalau dia tuh berharga

12:22 ya gitu. sehingga enggak perlu deh ngejar-ngejar sampai mampus gitu. Yang kita tahu bukan berarti itu jauh ya, tapi rasa penolakan tuh kan sakit ya. Betul. Maka yang pertama kali biasanya ya kalau metode kita kan metodenya coaching. Eh kalau coaching itu kan bukan telling, bukan ngajar, tapi kami menggali eh belief systemnya seseorang, value systemnya seseorang, sehingga kita bisa tahu belief apa yang menghalangi, belief apa yang mendorong, belief apa yang mempertahankan. Heeh. Heeh. Nah, pertama kita perjelas dulu gold dia apa. Oke. Nah, di situ aja sudah jadi problem pas kita misal awal sesi, so kita ada sesi 90 menit. dari sasi hari ini, gol kamu apa? Em

13:09 banyak yang tahu berapa menit tuh? Tergantung coach-nya. Kalau coachnya masih ee pemula biasanya dia akan berkutat untuk ee menentukan subjek aja itu bisa 20 30 menit karena muter-muter si kliennya dia enggak tahu apa yang dia mau. Tapi kalau coachnya yang udah cukup veteran ee yang master coach atau level aku ya paling itu 10 menit. Karena biasanya aku tanya sebalik aja, kamu enggak maunya apa? Hmm. Karena kalau udah tahu enggak maunya apa, nah itu kan yang kamu enggak mau. Maunya apa? Iya. Nah, setelah maunya apa, habis itu gua ee biasanya nanya kondisi sekarang gimana? Hm. Nanti ketahuan tuh A ke B I ee desire state sama present state. Nah, coaching itu kan adalah tentang ngebantu si klien dari present state ke desire state. I oke. Heeh. Dari desire state-nya ee di kuantifikasikan.

13:55 Misalkan ya, aku pengin lebih bahagia, Coach. Apa maksudnya bahagia? Apa yang kamu lihat ketika kamu bahagia? Apa yang kamu dengar ketika kamu bahagia? Sensory base biasa kita ceknya. He. Karena kalau enggak sensor base enggak jelas tuh. Setelah sensori base-nya jelas, habis itu kita akan tanya apa pentingnya? Hm. Apa pentingnya melakukan hal ini? Kenapa kamu mau itu? Sampai dia benar-benar tahu value dari si desire state. Nah, dari situ kita bisa ketahuan ini benar-benar desire state atau ini hanya sebagai respon dari rasa sakit yang mereka pikir ini adalah obat dari rasa sakit mereka. He. Kalau misalkan dari situ kita ee kalau misalkan dia enggak tahu apa pentingnya biasanya itu biasanya cuma jalan kabur doang, bukan benar-benar apa yang mereka inginkan. Kalau itu jalanan kabur, maka aku akan cek lagi apakah benar ini yang kamu mau. He. Sampai benar-benar tahu subjeknya

14:41 apa, ketahu pentingnya apa. Nah, habis itu baru di kita tanya punya pengalamannya enggak menurut kamu step by stepnya gimana dan lain sebagainya. Sehingga yang kita lakukan bukan telling, yang kita lakukan bukan diagnos, tapi yang kita lakukan adalah si klien sadar sendiri. Oh iya ya, Coach, aku pengin ke sini tapi aku masih begini. Ah, oke. Dia sadar sendiri karena kami kan percakapan pakai positioning kan. Iya. Nah, dari questioning itu nanti eh kita bisa nangkap beberapa belief dan juga beberapa value yang menahan. He. Nanti ketahuan tuh tembok penghalangnya apa dari titik A ke titik B. Nah, habis itu baru ee biasanya ini makanya yang tadi gua bilang di sebelum kita ngobrol 95% klien gua masalahnya self esteem. Eh, ketahuannya di sini initiationnya

15:26 ya. Ketu Heeh. Bukan sok tahu ya, bukan kita self ee bukan kita meramal. Kita enggak bisa baca pikiran kan. kita kita benar-benar cuma ngecek dari apa yang dia katakan karena katakan simbol dari pikiran. Iya. Lalu setelah kita tahu masalahnya apa, kita bilang ee so dari yang dari sesi ini kamu sudah tahu masalah kamu ini. He. Kamu punya pikiran ini, kamu punya belief ini dan lain sebagaimnya. Keputusan kamu apa? Iya. Ini mapping-nya kan. Iya. Keputusannya adalah aku mau berubah coach. Oke. Berarti kita bikin strategi tuh 6 bulan tuh. bulan 1 apa, bulan 2 apa, bulan 3 apa, bulan 4 apa, bulan 5 apa. Nah, ketika mereka sadar mereka enggak punya self esteem, maka kita kasih intervensi untuk selfestim. Bukan dengan terapi, tapi dengan macam banyak teori sih, teori of

16:12 exposure-nya ada. Eh, terus juga lebih ke arah kita ngebangun este itu dari pondasinya. Karena ini dari yang aku pelajari ya, ee kita basicnya nyuruh semantik dari karyanya Prof. Dr. Michael Hallestem itu pondasinya adalah acceptance I menerima. Yang kedua adalah ee penghargaan, menghargai diri dan yang ketiga adalah ketakjuban. Ketakjuban sama diri sendiri. Takjub sama diri. Tapi bukan arti miss gitu ya sama diri sendiri ya. In and out gitu ya. Iya. Tapi bukan artinya jadi narsis bukan, tapi menyadari bahwa betapa sofisticatednya kita nih. Iya. Kita tuh ternyata punya potensi ya gitu kan maksudnya. Iya. Nah, itu intervensinya dulu tuh untuk ngajak si klien punya experience, punya self esteem. Nah,

16:58 setelah mereka ngerti state-nya self esteem seperti apa, rasanya seperti apa, baru kita kasih theory of exposure, kita kasih latihan per hari apa yang perlu mereka lakukan. Sesimpel seperti sambil mereka make up, mereka ngomong, "I'm worthy because I'm worthy." Iya. I benar, benar. Sesimple itu. Atau sesimpel ee mereka habis mencapai sesuatu mereka bilang, "Makasih ya." Sesimpel itu aja. setiap hari nanti lama-lama ee kita tingkatin challenge-nya. Karena kan tugas coach itu men-challenge, bukan bukan telling gitu. Tugas coach adalah men-challenge. Yang di sini sudah bisa nih coba kita uji si self esteem ini dengan skenario yang dulu dia kesulitan. Misalkan dulu dia paling enggak bisa ditolak, dia paling takut kenal sama orang baru. Kita coba coba yuk kenalan sama orang baru gitu. Nanti ketika dia sudah kebal di situ baru di situ kita oke sudah

17:44 self-nya sudah oke. Karena biasanya kan kalau ee salah satu simptom mereka yang enggak punya self esteem kan biasanya either dia jadi minderan iya atau jadi sangat perfeksionis. Benar. Jadi cemas kan? Iya. Ada di dua spektrum itu. Maka gua mencoba membantu mereka ke tengah. Tengah. He. Untuk jadi realistis, untuk jadi strategis dan berpikir jernih dan optimalis. Bukan perfeksionis. Optimalis. Heeh. Di mana kita percaya apun yang sudah kita lakukan adalah yang terbaik pada saat itu. Heeh. He. Jadi kalau sudah lalu ya sudah itu yang terbaik pada saat itu. He. Tapi belum tentu yang terbaik pada saat itu terbaik buat saat sekarang. Iya. Nah, gitu. Ya, itu sih jadi awalnya hingga mereka akhirnya menyadari ada self esteem, ada intervensinya. Lalu prosesnya tuh lama juga ya ternyata ya. Aku proses itu 90

18:30 menit ya. Iya. Berarti kan untuk memperbaiki self este yang tadi Coach bilang itu enggak cuma di satu sesi kan karena kan ada latihan-latihannya. Betul. Nah, pertanyaanku adalah setelah mereka melakukan latihan-latihan ini terus mereka mulai jadi punya selfesim yang lebih positif. I butuh berapa kali kenal sama laki-laki baru sampai akhirnya mereka PDKT-nya okelah gitu. Oh iya kan. Enggak mungkin langsung yang pertama kenalan berkelanjutan kan gitu. Aku selalu menyamakan proses ketemu jodoh itu sama kayak proses marketing. Exactly persis. Oh, gitu ya. Ada funelnya. Iya. Heeh. Ada first impression-nya. Heeh. Ada ada pesan yang ditanam di

19:15 setiap fase. Oke. Ada hook-nya untuk bisa lanjut ke berikutnya dan ada beberapa KPI-nya. Nah, dari situ kita memetakkan proses untuk ketemu PR tepat namanya Diva Roadmap. Hm. dan advance. Discover adalah proses kita kenalan dan ngobrol cheat chat via ataupun maksimal video call. Heeh. He. Validate dimulai ketika sudah mulai ada meet up atau sudah mulai ada dating itu validate. Validate itu fungsinya bukan cuman untuk kenal haha hihi doang, tapi untuk kita tahu apa kualitas dalaman dari si cowok itu. Oke. Terutama adalah value apa yang dihidupi. Dan nanti juga biasanya si klien akan kita ajarin mana yang living value, mana yang hope value gitu. Kita ajarin itu. Jadi untuk bisa

20:02 ngebedain ini living value atau bukan. Terus yang kedua adalah untuk ngecek eh secara belief eh kompatible apa enggak. Nah, divalidasi kalau diiscover fokusnya adalah cari kesamaan. Iya, similarity. Similarity, commonality karena attraction dibangun dari commonality, bonding juga dibangun dari commonality. Commonality sudah dapat ketika divalidasi yang difokuskan adalah perbedaan. Di validate itu. Heeh. Tujuannya untuk tahu apakah aku bisa mentoleransi perbedaan. Oh, betul. Karena kebanyakan kan cuman tapi kan ada juga pasti yang nyari perbedaan ujung-ujungnya buat nolak lagi kan ada. Nah, biasanya kalau kayak gitu ee yang dikit-dikit nolak dikit-dikit ah kurang ganteng, kurang ini, kurang itu, itu biasa kriteria enggak jelas. Maka jangan pernah pakai diva road map sebelum kriterianya jelas. So, jadi setelah mereka udah selesai nih ya sesi

20:48 meningkatkan selfim-nya, mereka masuk ke discover map. Iya, discover. discover dulu kan butuh ketemu berapa cowok diproses ini sampai bisa berkelanjutan masuk ke validate. Ini ini angka ini ya ini angka random ya ini aku bicara keseluruhan discover rata-rata ya ini dari total memberku tapi bukan yang bukan yang klien peganganku sendiri. Iya. He. Kalau klien peganganku sendiri lebih optimiz lebih bagus. Tapi kalau orang rata-rata jangan kaget ya. 150 pria. Hah. sebanyak itu. Iya. 50 sampai 150 range-nya. Kaget enggak loh? Kaget enggak loh? Lu udah ketemu belum? 150 baru satu. Terus berharap langsung dinikahin.

21:36 Kenapa begitu? Karena kan kita cari yang kompatibel bukan cuma cari yang suka. Itu baru dari discover ke validate kan. Oh, enggak. Ini kita bicara ee kalau lu ketemu sampai 150 lu akan ada satu yang nikah sama lu. Satu yang nikah enggak. Tapi kalau dari discover ke validate aja dulu conversion-nya 30%. 30%. Jadi kalau lu ketemu 10 cuma tiga yang kevalidate. Oh saya ketemu flirty-flirty gitu eh enggak dapat nomor handphone-nya gitu. Besoknya ketemu lagi ngobrol. Kayaknya kita cocok deh. Tapi enggak bersambung. Enggak bersambung. I oke. Itulah kenapa butuh self esteem. Tanpa self esteem yah gagal coach. Padahal aku maunya sama dia yah. kayak udah idola gua banget nih opa-opa Korea gitu ya. Betul. Karena mereka yang

22:22 enggak punya self esteam mereka akan menyerahkan hatinya tanpa bounderis kan. Tapi kalau mereka sudah punya selfi mereka sadar bahwa ee kalau ditolak tuh enggak apa-apa itu tidak tidak melukai keberhargaan diri gua. Itu cuma tentang doing gua doang. Yang gagal tuh doing gua doang. Iya. Itu benar. Itu benar. Sehingga ketika mereka punya selfesti, mereka siap dengan itu semua. Dan semua klienku aku kasih tahu kok itu 150 rata-rata. Iya. Rata-rata untuk lu ketemu the one. The one kan yang less than ada. Kalau klien peganganku pribadi itu sekitar ee 30 sampai 50. Wow. Tetap banyak ya. Tetap banyak. Tapi kan mangkas ee per dibagi lima ya. Gua udah ketemu

23:07 berapa orang ya? Banyak wanita berharap ketemu sama satu orang cocok sampai belakang ya. Karena budaya kita kan betul begitu. Betul. Dan dan ini discover itu kan bukan pacaran cuma kenalan. Iya. I sesimpel kayak misalkan gua baru kenal sama lu siapa namanya? Jejen. Jejen. Lu ketemu sama Jejen terus gua ngelihat si Jajen ini potensial. Meskipun cuma ngobrol gitu doang itu tuh udah dihitung satu gitu. Iya. Sesimpel itu aja. Sesimpel itu. Gua pernah nonton satu podcast ya di luar negeri gitu dia bilang kalau di sana tuh rata-rata kita akan ketemu yang nyambung itu sekitar kalau kita ketemu 25 orang. 25 lewat dating apps nih. I. Jadi dia bikin pernah dengar enggak sih lu? Jadi dia bikin eksperimen sendiri gitu. He. Jadi dia ee stay di satu tempat terus dia

23:54 tahu gua maunya kenalannya tuh di seberang jalan kafenya. Iya. Betul. Jadi udah gampang aja gitu. Jadi dia bolak-balik tuh dalam 1 hari ketemu 25 orang diet waktunya cuma 15 atau 20 menit kayak gitu. Pokoknya cepat banget. He terus dia ganti baju. Jadi dia sudah nyiapin 25 baju. Iya pokoknya diset sehari ketemu biar gua benar enggak gua akan ketemu si orang ini gitu yang nyambung ini. Heeh. Ternyata iya sih katanya ketemu karena memang ketemu ketemu pria tepat atau ketemu jodoh itu memang game number pada akhirnya. Oh gitu. Iya. Tapi dengan skill ya. Iya. Iya. Kalau makin jago skill-nya angka itu bisa disusutkan. H itu yang penting tahu fokusnya apa. Intinya fokusnya kalau lagi discover fokus pada kesamaan. He. Lalu habis itu

24:41 kalau itu adalah orang baru yang dikenal maka kan gimana caranya biar interaksi itu berujung pada bertukar kontak. Hm. Kalau itu dari online dating ah dari online dating mah gampang banget. Swipe kanan udah match aja itu dihitung satu discover. Iya itu mah gampang kalau di online dating. Cuman kan gimana caranya memancing orang yang sudah texting di online dating ke meetup. Iya. Karena untuk bisa masuk ke validasi adalah dia perlu meet up dulu tanpa meet up yang pertama ya bukan online ya bukan video call ya bukan first meet harus ketemu fisik ketemu fisik oke nah biasanya kita ada KPI kalau nih cowok sudah masuk kolam discover lebih dari 45 hari dia tidak masuk ke validate coret biar buang-buang waktu jadi sebenarnya perlu berapa hari 45 hari itu maksimal oke di

25:27 bawah itu ada yang seminggu, ada yang du itu boleh seminggu boleh enggak kecepatan enggak enggak kecepatan cepetan. Oh, boleh. Tergantung aja. Kalau 2 bulan sudah pacaran bagus atau kecepatan. Ini kan gini ya, tergantung dari si wanitanya ee paham dulu kriteria dia atau enggak gitu. Kalau dia enggak paham kriterianya, kecepatan atau enggak kan bisa jadi subjektif. Tapi kalau pakai diar road map 2 bulan udah pacaran itu banyak yang enggak enggak banyak yang enggak kelihatan sih. Maksudnya unsur beli kucing dalam karungnya itu gede banget. Oh, jadi idealnya berapa lama untuk pacaran? Kalau di kita validate aja eh maksimal 6 bulan, minimal 3 bulan. Validate only. Validate only. Dan itu belum belum pacaran. Terus gimana orang yang sebulan langsung nikah?

26:15 Ya itulah ya itu dan jadi masalah kan. Ah saya enggak tahu sih. Soalnya ada ketemu sama beberapa orang yang 3 bulan mutusin untuk nikah. Mereka bisa bertahan dalam pernikahannya berpuluh-puluh tahun. Oh, itu ada teori yang berbeda. Ah, karena kan gini apa untuk bisa punya happy relationship di love coach di kita, kita percaya ada tiga komponen yang perlu punya. Pertama itu compatibility, yang kedua adaptability, yang ketiga polarity. Oke. Polarity itu perbedaan tapi bukan perbedaan karakter, tapi lebih ke arah perbedaan energi. Yang satu perlu feminin, yang satu perlu maskulin. Vibes-nya doang. He. Ee kalau compatibility bukan artinya perlu 100% cocok karena kita enggak

27:01 mungkin ketemu sama yang 100% cocok. Tapi at least tiga value teratasnya aku dan si orang ini perlu compatible. Apa tuh tiga value teratasnya? Pertama si cewek perlu kenal dulu dong dia siapa. Oke, ini ngomongin core value-nya dia. Oke. Iya. Core value-nya apa. Terus dia dia butuh cowok dengan core value apa? Hm. Nah, jadi kalau di kita bikin kriteria itu based on value bukan karakter. Iya. Heeh. Heeh. Karena karakter bisa diubah dan karakter bisa topeng kan. Kalau value kalau itu living value biasanya kalau enggak ada sesuatu yang sangat shaking itu enggak berubah biasanya kayak gimana sih? Contoh dua aja value yang ya kayak family atau responsibility. Oke. Bentuknya karena masih banyak tuh yang enggak ngerti juga tentang value itu kan. Value itu bentuknya nomina ee apa kata benda. He. Ee bukan kalimat. Kalau belief kan

27:46 bentuknya kalimat. Iya. Kalau value itu nomina. Jadi dijajarin dan bahkan value itu ada prioritasnya, ada hierarki. Hm. Ada hierarki 1, 2, dan 3. Dan cara kerjanya adalah hierarki teratas ee me mengendalikan hierarki yang di bawah. H. Nah, kita biasanya nge-set si cewek kenal dulu tiga kriteria eh tiga value, core value-nya dia, lalu dia bikin blueprint romansa. Heeh. Blueprintnya dia butuh yang seperti apa? pengin kehidupan romansa kayak apa? Lalu dia berpikir, "Kalau gua pengin punya kehidupan romansa kayak gini, gua butuh cowok dengan value apa?" Hm. Jadi bikin dulu SOW-nya, scop of work, baru cari kandidatnya. Iya, benar sih. Betul. Nah, banyak wanita merasa itu kok sama banget kayak dunia kerja, Coach? Iya, memang sama.

28:33 Heeh. Wanita aja enggak sadar. Heeh. Iya, iya. Iya, benar. Benar. Betul. Dibikin tiga value-nya. Kalau misalkan sudah cocok, nah itu disebut dengan compatibility. Heeh. He. Namun kan ada manusia kan value-nya banyak ya, ratusan ribuan yang kita enggak sadar kita punya value. Pasti ada aja yang enggak cocok. Makanya ada komponen yang kedua namanya adaptibility. Nah, jadi kalau zaman dulu nikah dijodohin langsung dan lain sebagaimnya bisa jadi komponen adaptibility-nya besar. Bisa jadi didorong sama belief-belief yang mengatakan enggak apa-apa kalau misalkan berantem-berantem, enggak apa-apa kalau menderita. Namanya juga pernikahan. Kalau kalau ada brief kayak begitu kan belief perintah bagi tubuh. ketika tubuh sudah diperintah sama belief, ya jalan. H. Jadi kalau bertahan bertahan, bahagia soal yang lain, ya kan?

29:18 Tapi bisa enggak bertahan dan bahagia? Bisa-bisa aja. Makanya tergantung apa yang diinstal di kepalanya mereka. Baru yang terakhir polarity. Ee yang satu maskulin, yang satu feminin. Sehingga ada dinamika. Karena kalau satu maskulin maskulin biasanya berantem tuh. Iya. Saling keras. Dua-duanya feminin biasanya stuck, enggak ke mana-mana. He kamu aja deh terserah deh. Perlu ada dinamika maskulin feminin. Oke. Terlepas gendernya apa ya? Terlepas gendernya apa? Karena feminin maskulin itu enggak terikat gender. Iya. He itu kan terikat otak ya. Nah, oke. Kalau sudah masuk ke tahap validate gitu kan, kapan sih timing yang tepat dan gimana caranya supaya perempuan tuh bisa berani untuk ngomongin hal-hal yang susah? Oh, kadang suka terjebak kan dengan romansa. Aduh, lagi lucu-lucunya nih. Masa ngomongin

30:04 finansial sih gitu. Oke. Masa ngomongin soal planning punya anak sih, gitu. Oke. Untuk yang seperti itu, Heeh. aku enggak saranin itu divalidate, itu di aku saranin itu di advance. Hm. Karena gini, cara si cowok untuk bisa masuk ke fase advance, si cowok perlu nembak. Harus nih. Harus. Kalau di kamu harus cewek enggak boleh yang menyatakan duluan. Harus. Kalau aku tidak menyarankan cowok cewek nyatain duluan karena ee ada beberapa pertimbangan. Yang pertama kebanyakan wanita yang datang ke aku kan aku tanya, "Kamu penginnya dihubungan diperjuangkan atau memperjuangkan?" Mostly diperjuangkan. Oke. Kalau mau diperjuangkan, positioning-nya perlu tepat dari awal. Heeh. Kalau lu agresif, kalau lu dikit-dikit nyuapin, lu adalah ada di pihak yang memperjuangkan. Kalau lu di pihak yang memperjuangkan, ujung-ujungnya lu akan terus

30:49 memperjuangkan. H. Maka kalau lu pengin diperjuangkan, pasti in positioning lu tepat dulu. Heeh. Makanya dengan menjadi feminin gua tidak menyarankan wanita untuk nembak duluan. Hm. Bukan karena itu salah, bukan. Soksok aja mangga. Tapi kan ada konsekuensi di belakangnya kan. Kalau konsekuensinya lu enggak suka, jangan dilakuin. Kalau konsekuensinya lu bisa terima, sok, silakan lakuin. Karena kalau di kita, kita enggak percaya konsep hitam putih, kita enggak percaya benar salah. Kita percaya apa yang paling berguna buat dia. Nah, kalau dia dia siap sama konsensusnya, go ahead. Tapi kalau enggak siap, ya udah jangan nembak duluan. Tapi tugas wanita itu tiga dalam PDKT. He. Dicatat, dicatat, dicatat, catat. Ya, pertama memancing. Memancing inisiatif pria. Mancing tuh caranya tuh.

31:35 Pelajarin. Yang kedua, mengundang ee mengundang pria untuk jadi pahlawan. Makin sulit makin sulit nih. Udah mancing mengundang. Heeh. Iya. Yang ketiga menguji. Waduh. suruh nguji. Ah, itu itu sehari-hari itu cewek nguji. Mereka enggak sadar aja. Menguji. Menguji itu dalam arti ee men-challenge si pria untuk membuktikan bahwa dia tuh pria yang layak dapetin kita. Jadi, positioning-nya adalah eh kalau di kita ya di Love coach, kita memposisikan si wanita perlu memposisikan dirinya sebagai sebuah reward. Bukan trofy. Bukan trophy wife ya. Iya. Bukan. Bukan. Ee gua enggak tahu itu istilah tropyhy wife artinya apa. Gua kagak paham. Tapi kalau gua sesimpel gini, trofi itu kan sesuatu yang bisa kita dapatin secara murah. Kita enggak perlu ikut lomba untuk dapetin piala. Tinggal beli ke

32:21 tanah Abang ya kan, "Bang, beli piala atau ke mana?" Jakarta Utara. Ecommerce. E-commerce tinggal pesan. E itu jadi jangan jadi piala, jangan jadi trofy, tapi jadi reward. Reward dalam arti kalau reward itu tidak ada yang gratis. Reward itu perlu dimenangkan. Reward itu perlu diupayakan. Hm. Maka si wanita perlu memancing upaya-upaya dari pria. Hm. Dan itu se apa istilahnya ya? Selaras dengan konstrak sosialnya si pria dan juga hormonalnya. Karena hormonalnya kan testosteron pria kan dia pengin membuktikan saya ini pahlawan, saya ini hebat. Tugas pria wanita ya mancing-mancing aja. Ketika si prianya

33:06 terpancing, tingkatin intensitas pancingannya si stimulan stimulan mentrigger sehingga si prianya nembak. Jadi tugas divalidasi adalah ngecek nih orang sesuai enggak sama kriteria. H ngobrol awal dulu. Kalau udah enggak sesuai jangan pancing. Itu yang biasanya yang jadi jebakan. Akhirnya kok aku dikejar-kejar, aku udah enggak suka sama dia. Lagian lu mah mancing dulu. Belum di belum divalidasi dulu, validasi dulu baru dipancing. Makanya kita butuh waktunya 3 sampai 6 bulan. 3 bulan untuk mengetahui ee core value-nya dan 3 bulan untuk memancing si cowok untuk nembak. He he. Tapi Coach kalau sudah lewat dari 6 bulan total dia agak nembak-nembak gimana? Left. Hmm. Setelah nembak baru ngomongin difficult conversation ya. Iya. Setelah nembak bilang gini, ketika cowok nembak gua percaya bahwa eh daya

33:52 tawar tuh penting. Hm. Bergaining position tuh penting. Dan wanita bergaining position-nya itu paling besar ketika dia ditembak. Oh. Oh, kebanyakan wanita ee mau enggak kamu jadi pasangan aku? Ya udah mau jalanin udah 3 tahun kok gua enggak dinikah-nikahin. Beda kan? Lama kan. Maka pas ditembak ya ini cowok-cowok pada ngambek biasanya sama gua nih. Hati-hati kolom komen. Bikin rumit nih gua soalnya bikin rumit cowok ya gua ya. Ketika cowok nembak, heh biasanya gua ngajarin ke klien gua gini, tanya, "Makasih ya udah nyatain perasaan kamu sama aku. Aku juga sebenarnya senang sama kamu, tapi aku boleh tahu enggak kalau seandainya aku terima rencana kamu apa?" Hmm. Tahu dulu visinya ke mana.

34:38 Heeh. Gua paling senang kalau lagi ngebahas ini jadi ingat ceritanya Raffi sama Gigi. Emang begitu ya? Kan ceritanya Raffi begitu dia mau ngajak pacaran kan giginya aku sih maunya cuman yang serius aja gitu kan. Makanya cepat tuh mereka. Menarik, menarik. Oh, berarti sudah dipraktikin. Bagus, bagus, bagus, bagus, bagus. Awet lagi. Awet lagi. Jadi yang pertama adalah tanya dulu nih, ada kesamaan visi enggak? Kalau misalkan visinya ke pernikahan dites. Ingat, tugas wanita adalah menguji. Itu bluffing. Yang penting cuma dapetin lu atau beneran? Cara ngujinya adalah, "Oh, mau nikah. Emang di pikiran kamu pernikahan itu kapan?" Heeh. Heeh. Aku bukan mau maksa. Aku cuma pengin tahu di pikiran kamu kapan. Itu aja dulu ya. Iya, itu aja dulu. He. Sebelum

35:23 ngomong difficult conversation finansial anak karena belum jelas nih orang komit apa enggak. Belum jelas. Belum. Belum. Jadi ini dulu nih pernikahannya apa. Terus juga ditanya, "Oke, pernikahan di kepala kamu mau yang intimate atau yang ngundang banyak orang? Budget berapa? Dari situ gampang. Udah punya tabungan belum?" Nah, itu ini kalau cowok serius dia akan jawab dengan bangga hati. H kalau cowok cuma pengin having sex doang yah kelihatanlah body language-nya gimana sih coba praktikin biar kita belajar. Kan saya bukan cowok buaya jadi saya enggak bisa praktikin gitu. Tapi buaya itu hewan yang setia. Buaya setia. Betul. Itu di Indonesia salah tuh salah terminologi ya. Buaya itu setia. Kuda laut juga setia

36:10 tapi du dua arah ya. ACDC dia halus ya. Halus. Halus. Makanya kan tugas wanita adalah memancing dengan preframe-preframe tuh gitu ya. Udah belajar ya yang cowok-cowok belajar juga nih kayaknya. Nanti ketika sudah tahu timeline-nya udah jelas ee dan mau ke sana baru bilang, "Oke, Mas, aku suka sama semua jawaban kamu. Makasih ya kamu sudah jujur." Dinaikin lagi kejantanannya, ditrigger lagi kejantanannya, diapresiasi, divalidasi. Makasih. Jarang tahu cowok kayak kamu. Aku jadi ngerasa aman dengan jawaban-jawaban kamu. Anything lah lu jawab. Pokoknya bikin si cowok ngerasa, "Wah, saya cowok banget." G. Terus. Terus setelah ngomong kayak gitu, 6 SKS nih. Iya. Oke, Mas. Aku terima. Heeh. Tapi

36:58 ada syaratnya. Oh, harus pakai syarat nih. Iya. Jadi enggak bisa tuh unconditional love. Ini gua mau ngomong tapi ee kalau gua ngomong blak-blakan khawatir banyak yang salah paham. Eh, unconditional love adalah hasil dari cinta yang ada syaratnya. Eh, hasil dari kondisional. Iya. Unconditional adalah hasil dari yang awalnya kondisional. Kalau ujuk-ujuk ke unconditional tapi dia belum teruji. Heeh. Mamam jadi korban ya. Karena kan pattern di masa pacaran itu akan kebawa ke pernikahan kan. Betul. Betul. Nah, syaratnya gini. Oke, Mas. Aku mau lanjut. Syaratnya adalah kita ngobrol ya. He. Di bulan pertama aku mau ngobrolin soal finansial. Hm. Kalau cocok kita lanjut ke bulan kedua. Oh, gitu.

37:44 Pakai target. Beneran nih kayak perusahaan? Betul. Ada QBI-nya. E kita juga punya target waktu. Cepetan kasih tahu. Ya, intinya gitulah. Di bulan kedua baru ngomongin anak, di bulan ketiga terserah. Itu mah bikin kurikulum sendiri mau mau nanya apa. Udah. Oh, gitu. sehingga persuasinya tidak kerasa si pria enggak ngerasa dituntut. Itu yang pertama. H. Dan yang kedua, si prianya ngerasa gua ngelakuin ini karena gua pengin bahagiain lu dan gua juga ngerasa gua beruntung dapetin lu. Hm. Nah, ketika itu semua sudah terjadi biasanya drama-drama bisa diminimalisir. Minimalisir drama-drama itu. Bukan artinya enggak ada ya, pasti akan ada drama. Pasti pasti. Tapi bisa diminimalisir karena ada kesepakatan. I

38:29 itu penting ya. kesepakatan dan aturan dalam relasi tu apa aja? Percaya enggak sih sama pasangan yang semuanya berjalan smooth, easy? Jadi kan kalau tadi kan kayaknya perusahaan banget gitu ya, tek tek gitu kan. He. Tapi ketika pasangan ketemu dalam kondisi yang katanya easy, smo, dan lain sebagainya, strong connection, strong chemistry, itu rasanya smooth beneran tanpa ada si perencanaan-perencanaan yang tadi di Oh, di awal berarti ya. Ini ngomong bukan bukan kualitas relationship sampai nanti dia meninggal. Bukan bukan bukan bukan di awal aja. Ini pas proses PDK kenal tadi discover, validate sampai advance gitu. Percaya enggak terjadi? Ya percaya. H karena itu terjadi. Tapi apakah itu sesuatu yang berguna untuk

39:15 jangka panjang? Gua sih meragukan. Hm. Tapi kalau misalkan sudah kepalang kejadian udah in relationship, enggak ada waktu terlambat untuk kalibrasi dulu. Karena ada satu ada satu teori ya yang bilang bahwa semakin cepat kita ada di dalam relationship yang berkomitmen itu justru bisa semakin lama intensitas relasinya daripada kita kayak pacaran lama betul tinggal cepatnya itu yang aku perlu tahu kan aku baru dengar ya Heeh itu cepat itu kategorinya berapa sebulan, 2 bulan, 3 bulan atau seminggu. Hm. Itu yang perlu tahu yang di studi itu. Kalau misalkan dia bilang studi itu 3 bulan itu termasuk cepat, maka bisa pakai di roadmap kok itu. Oke. Oke. Nice talking. Aduh, semoga semuanya jadi belajar ya. Thank you so much, L. Seru,

40:02 seru. Iya. I ya. Sampai ketemu lagi. Siap. Ya, di mana pun kita berada. Di mana pun kita bertemu nanti ya. Ketemu di mall kek apa kek. Thank you. Y. Thank you. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube