0:00 Dustin Poirier, salah satu nama besar dalam sejarah UFC, baru-baru ini angkat bicara soal wacana duel super antara Islam Mahachev dan Ilia Topuria. Meski duel ini belum resmi diumumkan oleh Dana White, suara-suara di belakang layar mulai menguat, termasuk dari para petarung top seperti Porier sendiri. Sebagai mantan juara interim kelas ringan, Porier tentu tahu apa yang dia bicarakan. Tapi saat ditanya soal prediksi pertarungan antara Islam dan Topuria, dia justru terlihat bingung. Bukan karena meremehkan kemampuan keduanya, tapi karena duel ini memang penuh tanda tanya. Porier mengakui bahwa Topuria itu
0:45 punya bom di kedua tangannya. Pukulan yang keras, tajam, dan bisa mematikan dalam sekejap. Bahkan menurutnya, Topuria bisa saja membuat kaos siapapun yang berdiri satu oktagon dengannya, baik itu di kelas bulu atau ringan. Namun, ada satu hal yang bikin Porier ragu. Ukuran tubuh Ilia Topuria. Ia belum pernah melihatnya secara langsung. Jadi, ia tak tahu pasti apakah secara fisik Topuria bisa mengimbangi Islam Mahachev. Karena seperti yang kita tahu, Islam adalah tipe petarung yang sangat besar untuk ukuran kelas ringan. Bahkan ketika masih bertarung di divisi itu, dia terlihat seperti pria kelas welter
1:30 yang hanya memotong berat badan. Tak cuma itu, Porier juga mengungkapkan bahwa dia belum pernah benar-benar melihat sejauh mana kemampuan grapling Topuria. Apakah dia bisa bertahan jika dibawa ke bawah oleh Islam? Apakah stamina dan kekuatan cengkeramannya bisa cukup untuk menahan tekanan gulat dagestan yang terkenal brutal itu? Semua itu menurut Porier masih jadi misteri. Dan itulah yang membuat duel ini sangat menarik. Duel antara striker eksplosif dengan Jiujitsu dan pukulan mengerikan melawan spesialis gulat dengan daya tahan luar biasa dan teknik kontrol yang luar biasa presisi. Sebuah duel gaya versus gaya yang penuh intrigatan.
2:19 Tapi kita mundur sedikit sebenarnya bagaimana situasinya. Jadi, Iuria sekarang resmi jadi raja baru di kelas ringan setelah menghajar Charles Olivera dan mengambil takahta yang ditinggal Mahachev. Sementara Islam Mahachev sendiri sedang naik ke kelas welter. Dia akan menghadapi Jack D Maddalena dalam dual perebutan gelar. Nah, inilah syarat yang disebutkan Dana White. Jika Islam bisa mengalahkan Madalena dan jadi juara welter, maka dia akan bertemu Topuria untuk duel super champ antara juara dua divisi yang bisa jadi duel terbesar tahun ini. Tapi ini bukan hal yang mudah. Magdalena bukan
3:04 lawan sembarangan. Petarung asal Australia itu saat ini mencatatkan 16 kemenangan beruntun setelah dua kekalahan di awal karirnya. Sementara itu, Topuria juga datang dengan rekor bersih. Tak pernah kalah dalam 17 pertarungan. Dari total itu, tujuh kemenangan diraih lewat Kao, 8 lewat kuncian, dan hanya dua kali menang angka. Ini artinya 15 dari 17 lawannya tumbang sebelum bel terakhir berbunyi. Statistik ini menunjukkan bahwa Topuia adalah finisher sejati dan tentu bukan ancaman yang bisa dianggap remeh. Di sisi lain, Islam Mahachev membawa rekor 27 kali menang
3:50 dan hanya sekali kalah. Gaya bertarungnya sangat efisien, sangat dagestani, tekanan konstan, kontrol penuh, dan kemampuan untuk membuat lawan merasa frustrasi setiap menit. Bila pertarungan ini benar-benar terjadi, maka kita akan menyaksikan duel dua filosofi bertarung yang sangat berbeda. Dan tak menutup kemungkinan duel ini jadi awal dari era baru di UFC. Apakah era dominasi striker seperti Topuria atau tetap dipegang oleh petarung grapler seperti Islam? Menariknya, di tengah gegap gempita soal pertarungan Islam versus Topuria, Dustin Porier ternyata juga punya cerita besar sendiri. Dia akan segera bertarung
4:38 melawan Max Hollow di UFC 318. Dan bukan sekadar bertarung biasa, ini adalah duel pamungkasnya, pertarungan terakhir dalam karir UFC-nya. Dan lebih emosional lagi, duel ini akan berlangsung di kampung halamannya, Luciana. Porier jelas sangat emosional. Dia mengatakan bahwa setiap air mata, darah, dan keringat selama karirnya tidak ada yang sia-sia. Bahkan jika dia diberi kesempatan kembali ke usia 17 tahun untuk memulai segalanya dari awal, dia akan tetap memilih jalan yang sama bertarung. Pertarungan melawan Hollowi ini bukan yang pertama. Mereka pernah bentrok dua kali sebelumnya. Yang
5:25 pertama terjadi di UFC 143 tahun 2012. Saat itu, Porier mengunci kemenangan dengan triangle armbar di ronde pertama. 7 tahun kemudian mereka kembali dipertemukan di UFC 236 dan meski Porier kembali menang tapi Hollowi memaksanya bertarung habis-habisan selama lima ronde. Dan kini pertemuan ketiga mereka akan jadi penutup dari trilogi panjang ini. Tapi bukan hanya itu yang membuat pertarungan ini istimewa. Gelar BMF gelar simbolik tapi penuh gengsi juga dipertaruhkan. Porier jelas ingin meninggalkan UFC dengan kepala tegak dan sabuk BMF di
6:11 pinggangnya. Ia bilang ini bukan hanya pertarungan biasa. Ini adalah momen yang ingin dia kenang selamanya. Sebuah pertarungan yang pantas disebut Fig of the Night. Bahkan ia mengatakan bahwa ketika dirinya keluar dari arena, lagu I Did It My Way milik Frank Sinatra akan mengiringinya. Sebuah pernyataan simbolik bahwa karirnya di UFC memang dia jalani dengan caranya sendiri. Penuh darah, keringat, perjuangan, dan tanpa penyesalan. Dan benar saja, Porier punya alasan untuk bangga. UFC kembali ke Luciana karena dia, karena warisan yang dia tinggalkan, karena petarung sejati seperti dia bukan
6:58 cuma soal menang kalah, tapi soal bagaimana seseorang bertarung dengan hati dan menyentuh hati banyak orang. Jadi dari duel super antara Islam Mahachev dan Ilia Topuria sampai pertarungan emosional antara Porier dan Hollow, UFC kembali menyugukan drama, emosi, dan aksi yang tak ada habisnya. Entah kalian tim grappler, tim striker, atau cuma penikmat duel seru, pertarungan-pertarungan ini layak banget untuk kita tunggu. Siapakah yang akan berjaya? Siapa yang akan menutup karir dengan kejayaan? Dan siapa yang akan membuka era baru? Mari kita tunggu bersama. Karena UFC seperti biasa tidak pernah gagal memberi
7:44 kejutan. [Musik]