0:00 [Musik] Hai semua, selamat datang di channel Baca Saham. Pada video ini kita akan membahas satu topik dengan judul berikut ini. Tapi seperti biasa, semua pembahasan bukan rekomendasi dan hanya informasi. Ingat, kerugian kamu tanggung sendiri, ya. Nah, pada video kali ini saya tertarik membahas satu saham yang bisa dikategorikan sebagai saham besar karena market cap-nya cukup besar di Indonesia dan mereka menghasilkan laba yang besar juga. Jika kamu lihat datanya di sini, harga sahamnya sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Harga tertinggi yang pernah dicapai oleh saham ini adalah 9.350 50. Dan jika dibandingkan dengan harga saat video ini dibuat di angka 4.570,
0:47 maka coba kita hitung penurunannya sudah berapa persen dari harga tertinggi yang pernah mereka capai. Nah, jika kita hitung datanya di sini maka sudah terjadi penurunan sekitar 51% dari harga tertinggi ke harga sekarang. Harga terendah yang pernah dicapai adalah 3.220 dalam 10 tahun terakhir. Itu artinya saat video ini dibuat berada pada range yang cukup rendah jika dibandingkan dengan harga tertinggi dan terendahnya. Nah, tapi menariknya saham ini jika kita melakukan screening untuk dua kriteria ini. Yang pertama saham-saham yang menghasilkan net income di atas Rp5 triliun. Yang kedua, memiliki dividen yield di atas 5%. Dan yang ketiga adalah PBV di bawah satu kali. Oh iya, ini tiga kriteria bukan dua. Maka kamu hanya akan menemukan dua nama saham. Saham pertama menghasilkan
1:33 net income 6,9 triliun, dividen 8% dengan PBV 0,8 kali. Dan saham kedua menghasilkan net income 5,3 triliun dengan dividen yield 9,4% dan PBV 0,8 kali. Kedua saham ini memang memiliki kemiripan yang cukup mendekati satu dengan yang lain. Tapi pada video kali ini saya lebih tertarik untuk membahas saham yang memiliki net income 6,9 triliun meskipun dengan dividen nude 8,8% dengan PPV 0,84 kali. Jika kita lihat dari sisi laba, kamu akan menemukan bahwa saham ini memang mengalami penurunan laba dibandingkan Q1 tahun 2024 dan Q1 tahun 2023. Dari aspek PBV, PBV-nya juga saat video ini dibuat merupakan salah satu PBV yang terendah dalam 10 tahun
2:21 terakhir. Bisa kamu lihat untuk grafiknya di sini PBV-nya mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir. Padahal dari sisi laba memang meskipun mengalami penurunan di Q1 tahun 2025, tapi sebenarnya saham ini masih cukup menghasilkan laba yang besar. Terbukti dari hasil screening yang kita lakukan dengan tiga kriteria ini hanya terdapat dua saham dan salah satunya adalah saham yang menghasilkan net income di atas Rp6,9 triliun dalam 3 bulan pertama saja di tahun 2025. Nah, sekarang mari coba kita lihat sekilas terkait historical pembagian dividen dari saham ini. Oh ya, sebagai informasi nama saham yang saya bahas pada video kali ini adalah saham Astra Internasional. Ini merupakan informasi tampilan dividen per share. Sejak tahun
3:07 2015 hingga tahun 2025. Biasanya saham ASII membagikan dividen dua kali dalam 1 tahun. Berhubung pada tahun 2025 ini baru satu kali membagi dividen. Sehingga untuk total dividen pay-nya belum saya hitung karena kita harus menunggu lagi untuk dividen kedua yang biasanya akan dibagikan. Dan kamu juga mohon untuk mengecek datanya bisa saja ada salah input atau salah hitung. Berhubung data ini saya rekap secara manual saja. Nah, dari detik ini kamu bisa lihat bahwa dividen payment year ASII secara total mengalami naik turun dari waktu ke waktu di tahun 2015 216, di tahun 2016 168, tahun 2017 168, 2018, 20191, 2020,
3:53 2021, 2022, 2023 650, dan 2024 519. Dari data ini kamu bisa lihat bahwa terjadi naik turun yang cukup signifikan untuk angka total dividen pay-nya. Pernah turun hingga 28% di tahun 2021 dibandingkan tahun 2020, tapi pernah juga naik hingga 130% pada tahun 2023 dibandingkan tahun 2022. Saham ini juga ternyata pernah memiliki kenaikan dividen yang berkali lipat, yaitu 114% dari tahun 2021 ke tahun 2022 dan 130% dari tahun 2022 ke tahun 2023. Tapi di sisi yang lain pernah juga turun. Bahkan dividen yang dibagikan di tahun 2024 ini mengalami penurunan
4:39 dibandingkan tahun 2023. Begitu juga dengan dividen yang dibagikan di tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan dividen pertama yang dibagikan di tahun 2024. Hal itu terbilang wajar mengingat labanya juga memang mengalami penurunan sehingga menjadi wajar jika dividennya mengalami penurunan juga. Nah, hal menarik lagi yang ingin saya bahas adalah dari sisi jika kita memiliki 100.000 lembar saham ini, maka total dividen yang kita terima bervariatif. Mungkin pernah mencapai angka yang hanya 16 juta setahun. tapi pernah juga naik hingga 65 juta setahun. Itu artinya untuk saham Astra Internasional ini jika kita berharap hanya dari dividen saja maka angka dividen yang kita terima setiap tahun itu bervariatif. Tidak
5:24 tetap kadang bisa tinggi, kadang bisa biasa saja dan bahkan kadang bisa rendah juga. Nah, jika kita menghitung misalkan kita membelinya di harga Rp6.000 dengan memiliki 100.000 lembar saham diasumsikan harganya adalah Rp600 juta secara modal. Maka total dividen yang sudah dibagikan untuk tahun 2015 hingga tahun 2025 untuk dividen pertamanya adalah R3.028 yang mana jika kita dihitung berarti sudah balik modal sekitar 50,5%. Ingat ini jika kita menggunakan harga Rp6.000. Bagaimana jika kita menggunakan harga tertingginya? Misalkan di angka Rp9.350, berapa persen balik modal kita? balik modal kita adalah 32% untuk periode tahun 2015 hingga tahun 2025. Nah, ini
6:12 merupakan salah satu keuntungan dari saham-saham yang membagikan dividen dengan angka dividen yield yang cukup menarik. Karena dengan adanya penurunan harga saham, kita ternyata masih bisa berharap dari sisi investasi saham yang satunya, bukan capital gain, melainkan dividen gain. Karena meskipun harga saham yang mengalami penurunan selama perusahaan masih membagikan dividen dan selama labanya masih cukup stabil, maka perusahaan akan memberikan dividen setiap tahun berdasarkan kebijakan yang telah mereka putuskan. Dan hal itu bisa berpengaruh terhadap pengembalian modal kita dari investasi yang kita sudah lakukan. Contoh, misalkan kita membeli harga ASI di angka 9.350 dan dividen yang kita terima dalam beberapa tahun ini adalah 3.28. Mari coba kita kurangi. Berarti dengan
6:59 kondisi seperti ini, modal yang kita investasikan untuk saham ASI tersisa di angka 6.32 yang artinya kita sudah balik modal sedikit dibandingkan modal awal kita yang kita investasikan. Kita tidak lagi dianggap membeli di harga yang paling tinggi yaitu 9.000. 50, melainkan modal beli kita sudah menjadi 6.32. Dan jika hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang, akan ada masanya di mana modal kita akan semakin mengecil, mengecil, dan mengecil. Itu juga belum termasuk jika kita melakukan averaging down sehingga membuat harga rata-ratanya menjadi berkurang. Nah, jadi dari konsep sederhana seperti ini, jika kamu memiliki saham dan harganya mengalami penurunan yang sangat signifikan, jika prospeknya masih bagus, perusahaannya memang bagus, masih ada potensi
7:45 pertumbuhan di masa depan, manajemennya berkualitas dan lain sebagainya, maka ada beberapa saran yang bisa saya sampaikan pada video kali ini. Yang pertama adalah memanfaatkan dividen agar supaya kamu bisa balik modal secara perlahan. Meskipun tidak besar, meskipun dividen nil itu hanya di bawah 10% biasanya, tapi setidaknya setiap tahun kamu sudah memiliki pengembalian dana minimal katakanlah sekitar 6 sampai 7%. Dengan begitu, harga rata-rata kamu menjadi lebih rendah. Nah, untuk solusi kedua, kamu bisa memanfaatkan reinvest dividen untuk memperolehi lembar saham yang semakin banyak. Dengan begitu, dividen yang kamu terima pada tahun-tahun berikutnya juga akan semakin banyak. Nah, tapi ingat untuk poin kedua ini akan dihubungkan dengan poin pertama tadi. Jika poin pertama tadi kita balik modal dengan dividen yang kita terima.
8:31 Dan untuk poin kedua, jika dividen itu kita reinvestasikan kembali, itu artinya secara logika kita belum bisa mengurangi dari harga beli awal kita karena dividen itu kita tempatkan lagi menjadi saham. Dan itu artinya harga beli kita tetap sama. Katakanlah misalkan tadi 9.350, tapi yang membedakannya adalah lembar saham kita menjadi lebih banyak. Katakanlah misalkan awalnya kita memiliki 100.000 lembar saham, tapi dengan melakukan dividen reinvestment kita memiliki lembar saham yang lebih baik. Katakanlah menjadi 101.000 lembar saham. Itu artinya meskipun harganya sama yaitu 9.350, tapi lembar saham kita menjadi semakin banyak dan hal itu akan berpengaruh terhadap dividen yang kita terima di masa depan. Hal ini cukup berbeda dengan poin pertama tadi di mana misalkan kita memiliki lemer saham Rp100.000 R000 dan
9:17 kita menerima dividen. Tapi dividen itu kita tarik dan mengurangi modal awal kita yang 9.350 ini. Katakanlah memang modal awal kita berkurang. Katakanlah misalkan dengan angka 9.350 ini kita menerima dividen 308. Artinya modal awal kita yang tadinya 9.350 menjadi 9.042. Tapi jumlah lembar saham kita tetap sama yaitu 100.000 lembar saham. Nah, ini merupakan dua pilihan yang bisa kamu tentukan. Kamu mau pilih yang mana? kamu mau terima dividennya, kamu tarik dan hal itu seolah-olah mengurangi harga beli kita atau yang kedua, dividen itu kamu reinvestasikan kembali untuk memperoleh lembar saham yang semakin banyak yang mana berpotensi di masa depan lembar saham kamu ini akan memberikan dividen yang juga lebih besar. Semuanya tergantung kepada
10:02 pilihan dan keyakinan kamu masing-masing. Mau memakai cara yang pertama silakan, mau memakai cara yang kedua silakan. Tapi ingat, tidak semua saham bisa diterapkan skenario seperti ini. Ini hanya berlaku untuk saham-saham yang masih memiliki prospek di masa depan, labanya masih bertumbuh, pembagian dividennya konsisten, dan masih memiliki harapan untuk berkembang di masa depan. Semoga video ini bisa memberikan manfaat kepada kamu. Dan ingat, ini bukan rekomendasi dan hanya sebagai informasi saja. Untuk rugi kamu yang tanggung sendiri. Sebagai informasi juga sebelumnya saya sudah sempat buat satu video yang mungkin bisa berguna. Nonton hingga selesai agar memperoleh pemahaman yangut. Nah, pada video kali ini saya khusus akan membahas dua saham, yaitu yang pertama adalah BBRI dan yang kedua adalah ITMG. Kenapa dua saham ini yang saya bahas? Saya jadi berpikir,
10:49 apakah menarik jika kita melakukan dividen investing untuk dua saham yang bertolak belakang? Yaitu yang pertama adalah banking yang terkenal dengan kinerja yang cukup stabil dan pembagian dividen yang juga cukup stabil. Dan yang kedua adalah saham batu bara yang kinerjanya cukup fluktuatif dengan pergerakan harga saham dan dividen yield yang juga cukup fluktuatif. Apa jadinya jika kita mengkombinasikan kedua sektor ini? Kita akan melihat pada video kali ini. Tapi mohon cek lagi datanya. Bisa saja terdapat kesalahan pengetikan atau pengambilan data. Oh iya, sebelum lebih lanjut informasi dulu bahwa semua saham yang disebutkan bukan rekomendasi dan hanya sebagai informasi saja. Kamu juga bisa mengotak-atik dengan menggunakan saham yang lain yang sesuai dengan kriteria dan ketertarikan kamu masing-masing. Saham yang disebutkan ini
11:35 baik itu BRI maupun ITMG hanya dijadikan sebagai contoh saja. Sekarang mari kita bahas saja untuk aspek pertamanya. Mari kita lihat dulu. BRI pernah menyentuh angka tertingginya 6.450 dan harga saat video ini dibuat di angka 3.760. Itu artinya terjadi penurunan sekitar 41%. Dan apabila harganya kembali lagi ke harga tertingginya bisa naik sekitar 72%. Sedangkan untuk ITMG harga tertingginya adalah R5.650 dan harga saat ini 22.100. Itu artinya terjadi penurunan sekitar 51% dan jika harganya kembali ke angka all time high-nya ada potensi 107%. Pertama kita lihat dulu dari sisi capital gainnya. Memang untuk dividen
12:22 investing kita tidak terlalu peduli dengan kenaikan atau penurunan harga saham dari sisi capital G-nya. Tapi apabila kita memperhatikan hal itu, maka kamu akan menemukan informasi yang cukup menarik. Baik itu BRI maupun ITMG sudah turun sekitar 40-an hingga 50%-an dari harga tertingginya. Dan apabila harganya kembali lagi ke angka all time high-nya, maka persentase kenaikannya akan lebih besar dibandingkan persentase penurunannya. ini sebenarnya pedang bermata dua. Di satu sisi kamu memang jika memiliki saham ini di harga rendah dan bisa menjualnya di harga all time high, maka ada potensi kenaikan yang sangat signifikan, yaitu 72 dan 107% untuk kedua saham ini. Tapi di sisi yang lain apabila kamu ternyata sebelumnya sudah membeli di harga yang tinggi dan harganya turun hingga ke angka saat
13:07 video ini dibuat, kemudian kamu cutlos dan nantinya kamu akan membeli lagi untuk berharap kenaikannya di angka tertingginya, maka kamu butuh kenaikan yang jauh lebih besar dibandingkan penurunan yang sudah kamu alami sebelumnya. Ini merupakan hitung-hitungan matematika sederhana dari potensi penurunan dan kenaikan harga saham. Jadi pastikan sebelum harga sahamnya mengalami penurunan dengan drastis, kamu sudah mengambil keputusan terlebih dahulu. Apakah memang ingin hold jangka panjang ataukah ingin cut loss. Jika ingin cut loss sebaiknya mengambil keputusan sebelum harganya turun dengan signifikan karena butuh kenaikan yang jauh lebih besar apabila berharap harganya naik ke angka yang sebelumnya. Nah, sekarang mari kita bahas lebih lanjut dari soal dividennya. BRI membagikan dividen per lembar dengan
13:53 total 343 per lembar. Dari dividen ini terbagi menjadi dua, yaitu 208,4 untuk dividen final dan 135 untuk dividen interim. Sedangkan ITMG membagikan dividen dengan total 3.473 yang terdiri dari 2.245 + 1228. Nah, dengan memasukkan unsur harga saham saat video ini dibuat, potensi dividen yute BRI sekitar 9,1% dan potensi ITMG sekitar 15,7%. Apabila kita rata-ratakan kedua saham ini, mari coba kita total untuk rata-rata dividen yeldg maupun BRI. Nah, kemudian kita bagi dengan harga saham saat video ini dibuat. Maka akan ditemukan rata-rata dividen sekitar 14,8%
14:39 untuk BRI maupun ITMG jika kita hitung secara rata-rata. Nah, ini juga cukup menarik karena dengan potensi yang sangat besar seperti ini, dividen yield yang bisa mencapai double digit baik itu BRI maupun ITMG. Sebenarnya hal ini bisa menjadi penyeimbang apabila portofoliomu mengalami penurunan dari sisi capital loss-nya dalam hal ini masih mengalami floating loss. Seperti yang sudah pernah saya bahas pada beberapa video sebelumnya bahwa dividen itu selain dari cash flow tahunan yang kita terima, dapat digunakan juga sebagai penyeimbang apabila terjadi penurunan harga saham. Contoh misalkan katakanlah harga saham BRI yang kamu beli di angka Rp6.000 R.000. Dan di tahun 2025 mereka membagikan dividen 343 per lembar saham. Nah, misalnya apabila harga saham saat
15:26 video ini dibuat diangka Rp3.760, apabila kita membelinya di harga Rp6.000, maka coba kita hitung sini penurunan harga sahamnya berada pada angka berapa persen. Kemudian kita bagi dengan harga Rp6.000. Dari data ini kamu bisa lihat terjadi penurunan sekitar 37% dari harga Rp6.000. Sekarang bagaimana jika kita memasukkan unsur dividen? Harga beli kita yaitu Rp6.000 kita kurangi dengan dividen yang sudah diterima yaitu 343. Dengan kata lain, harga modal kita sebenarnya tersisa di 5.657. Kemudian kita kurangi 5.657 ini dengan harga saham saat video ini dibuat dan kita bagi lagi dengan harga modal kita. Maka kita akan memperoleh berapa persen penurunannya. Mari coba kita hitung di
16:12 sini. Oke, kemudian kita bagi dengan harga modal kita, maka penurunannya adalah sekitar 33%-an. Angka ini masih lebih baik dibandingkan kita tidak memasukkan unsur dividen. Nah, itu artinya apa? Dividen ini memang sebagai cash flow, tapi juga bisa sebagai meminimalisir potensi penurunan harga saham dari sisi loss-nya. Ini berlaku untuk semua saham. Tidak hanya BRI, tidak hanya ITMG, tapi juga saham-saham lain yang rutin membagi dividen. Dan apalagi dividen yang dibagikan di tahun 2025 ini yield-nya signifikan besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang mereka pernah bagikan. Oke, sekarang kita masuk kepada pembahasan berikutnya yang akan kita lihat dari sisi proyeksinya. Nah, laba
16:58 Q1 tahun 2025 BRI labanya 13,6 triliun yang mengalami penurunan dibandingkan laba Q1 tahun 2024 15,8 artinya turun sekitar 13,9%. Sedangkan untuk ITMG labaq 1 tahun 2025-nya 1 triliun yang naik dari 965 miliar di Q1 tahun 2024. Itu artinya BRI mengalami penurunan laba 13,9% sedangkan ITMG labanya naik sekitar 10,2%. Nah, apabila hal ini kita proyeksikan ke dalam angka dividen per share-nya, maka akan diproyeksikan dividen per share di tahun 2026 nanti. Jika mengacu pada data Q1 tahun 2025 adalah sebagai berikut. BRI yang awalnya dividen perlembarnya 343 turun 13,9% menjadi 296. Sedangkan
17:47 ITMG yang awalnya dividen per lembarnya 3.473 dengan potensi kenaikan 10,2% akan menjadi 3.826. Itu artinya potensi dividenil proyeksi BRI 7,9% yang turun dari 9,1. Sedangkan ITMG naik menjadi 17,3% dari yang sebelumnya 15,7%. Ini merupakan hubungan yang cukup sederhana dari laba dan proyeksi dividen persernya. Semakin tinggi lawannya dengan asumsi pay out rasionya sama berarti ada potensi kenaikan dividen per share di masa depan. Begitu juga sebaliknya seperti BRI yang kamu lihat labanya turun berarti dividen persirnya juga diproyeksikan turun. Untuk ITMG labanya naik sehingga diproyeksikan dividen persirnya juga naik. Tapi kembali lagi ini masih mengacu pada data
18:34 Q1 tahun 2025. Kita harus menunggu data Q2, Q3, dan Q4 agar supaya hasil proyeksi menjadi lebih realistis lagi. Karena ada kemungkinan di Q2 sampai Q4 labanya mengalami kenaikan atau labanya malah mengalami penurunan sehingga terlalu dini untuk kita memproyeksikan dari data Q 1 tahun 2025. Tapi setidaknya dengan data ini saja kamu bisa lihat bahwa apabila coba kita rata-ratakan lagi berapa kira-kira persentase dividen yield rata-rata untuk dua saham ini. Nah, ini merupakan total dividen per share proyeksinya 4.121. Kemudian angka ini kita bagi dengan harga saham kedua saham ini yang kita hitung tadi. Maka kita akan memperoleh dividen nil sekitar 15,9%. Ini menarik meskipun laba BRI mengalami
19:20 penurunan dan meskipun proyeksi dividen pernya juga turun, tapi ternyata jika kita rata-ratakan maka kita akan memperoleh angka dividen yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya adalah 14,8% tapi saat dengan data proyeksi ini menjadi 15,9%. Kenapa hal itu terjadi? Karena ada kenaikan dividen dari ITMG akibat adanya kenaikan laba. Nah, itu artinya ITMG bisa menjadi penyeimbang dari kinerja BRI yang mengalami penurunan. Sebenarnya ini juga berbicara tentang portofolio terdiversifikasi atau terkonsentrasi. Jika kita menggunakan dua saham ini, maka kamu bisa lihat adanya penyeimbang dari kinerja ITMG yang mengalami peningkatan terhadap BRI yang mengalami penurunan. Nah, tapi bagaimana? Misalkan
20:07 kita hanya membeli saham BRI yang mana kinerjanya laba mengalami penurunan sehingga potensi dividen yil secara total memang mengalami penurunan dari 9,1 menjadi 7,9%. Tapi di sisi yang lain apabila portofolio terkonsentrasi kita hanya ITMG, labanya mengalami kenaikan dan otomatis DVD new-nya juga naik dari 15,7 menjadi 17,3%. Dan ada opsi ketiga yaitu dengan portofolio diversifikasi katakanlah BRI dan ITMG. Dengan penurunan kinerja BRI dan kenaikan kinerja ITMG, maka secara rata-rata dividen yil bisa naik dari 14,8 menjadi 15,9%. Kembali lagi semuanya tergantung kepada kamu. Kamu yang menentukan ingin menggunakan skema portofolio yang seperti apa. Sesuaikan dengan karakter
20:53 dan kenyamanan kamu masing-masing. Dan ingat, video ini bukan rekomendasi hanya sebagai informasi saja. Semoga ada pemahaman baru yang bisa kamu perolehi dari pembahasan kali ini. Ingat, kamu bisa menyesuaikannya tergantung kepada saham yang kamu tertarik untuk analisa lebih lanjut. Entah itu BRI, Mandiri, BNI, BNG, NISP dan lain sebagainya. Dan untuk saham-saham di bidang batu bara, kamu juga bisa menggunakan saham-saham yang lain seperti ITMG, PTBA dan lain sebagainya. Nah, ini merupakan sebuah informasi sederhana terkait potensi dividen investing dari dua saham dengan dua sektor yang bertolak belakang. Dan kamu juga perlu ingat bahwa dengan adanya kenaikan dari dividen yil tentu saja akan berdampak kepada semakin cepatnya balik modal dari sisi dividen yang kita terima setiap tahunnya. Dengan
21:40 adanya potensi katakanlah misalkan 10% berarti secara sederhana bisa kita hitung mungkin akan balik modal sekitar 10 tahun. Begitu juga seterusnya. Semakin tinggi dividen yield akan membuat pengembalian dana menjadi lebih cepat dan semakin rendah dividen yield akan membuat pengembalian dana menjadi lebih lambat. Tapi ingat ini masih proyeksi juga. Kita harus menunggu data di masa depan seperti apa. Terus update kinerjanya agar supaya bisa mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat. Demikianlah pembahasan singkat pada video ini. Selalu ingat bahwa semua saham dan pembahasan yang ditampilkan bukan rekomendasi dan hanya bersifat edukasi. Segala resiko kerugian menjadi tanggung jawab kamu sendiri. Mohon juga agar dapat mengecek kembali data yang ditampilkan karena bisa saja terjadi kesalahan pengetikan atau pengambilan data. Di video berikutnya ingin dibahas
22:25 materi apaagi? Tulis di kolom komentar ya. Berikut ini beberapa list ebook baca saham. Pertama psikologi saham. Kedua, stock for living. Ketiga, strategi nabung saham. Keempat, the stock market. Dan yang kelima, cara analisa laporan keuangan. Info pembelian silakan chat saja pada nomor WA yang tercantum pada video kali ini. Sebagai informasi, kamu bisa support channel ini dengan cara melakukan pembelian produk apa saja di Shopee menggunakan link yang diklik pada video ini. Produknya bebas. Thank you. [Musik]