"STOP" - Ps. Ruth Julia

Ruth Julia www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang cara mengatasi rasa takut dan khawatir dengan menghentikan pikiran negatif dan mengalihkannya kepada firman Tuhan. Dijelaskan bahwa kita tidak bisa mencegah pikiran negatif datang, tetapi kita bisa menghentikannya agar tidak berlarut-larut. Analogi gajah pink digunakan untuk menggambarkan bagaimana pikiran yang ditolak justru semakin kuat, sehingga perlu dialihkan dengan fokus pada hal lain, yaitu firman Tuhan. Selain itu, video ini juga menyinggung tentang krisis mencari jodoh di kalangan usia dewasa dan pentingnya gereja memiliki pelayanan yang relevan untuk menjawab kebutuhan ini.

  • Menghentikan pikiran negatif (menawan pikiran) adalah kunci mengatasi rasa takut.
  • Mengalihkan fokus dari pikiran negatif kepada firman Tuhan.
  • Gereja perlu memperhatikan kebutuhan jemaat, termasuk dalam hal mencari jodoh.

Arti dari "Stop" dan Bahaya Pikiran yang Berlarut-larut

Kebiasaan kita adalah terus memikirkan masalah, merasakannya, dan memahaminya hingga meresap ke dalam hati. Hal ini bisa memicu kekhawatiran berlebihan, misalnya takut dipecat karena kesalahan di masa lalu atau performa kerja yang buruk. Pikiran-pikiran ini bisa berkembang menjadi ketakutan akan masa depan, seperti tidak mendapat pekerjaan atau kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarga, yang akhirnya membuat kita semakin terpuruk. Oleh karena itu, penting untuk menghentikan (stop) pikiran-pikiran negatif tersebut.

Analogi Gajah Pink: Mengapa Menolak Pikiran Negatif Tidak Efektif

Kita tidak bisa mencegah pikiran buruk atau kekhawatiran muncul, seperti burung yang terbang di atas kepala kita. Namun, kita bisa mencegahnya untuk bertengger, bersarang, apalagi bertelur di pikiran kita. Contohnya, ketika ada pengumuman efisiensi karyawan di kantor, kita cenderung memikirkan kemungkinan terburuk dan merasakannya. Untuk mengatasi ini, kita harus mengambil keputusan untuk berhenti memikirkannya dan mengalihkan perhatian ke hal lain. Ketakutan tidak bisa dilawan dengan menolaknya, tetapi dengan mengalihkannya. Analogi gajah pink menggambarkan bahwa semakin kita mencoba menolak suatu pikiran (gajah pink), semakin kuat pikiran itu muncul. Cara menghilangkannya adalah dengan mengalihkan fokus ke hal lain, misalnya membayangkan ayam goreng KFC.

Mengalihkan Fokus kepada Firman Tuhan

Ketika rasa takut muncul, misalnya takut di-PHK atau tidak mendapat jodoh, kita harus segera menghentikan pikiran tersebut dan mengalihkannya. Roma 10:17 menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus. Jadi, alihkan fokus kepada firman Tuhan.

Krisis Jodoh dan Perlunya Pelayanan yang Relevan

Selain masalah ekonomi, ada krisis lain yang terjadi, yaitu kesulitan mencari jodoh, terutama di kalangan usia dewasa. Pengalaman retreat menunjukkan bahwa banyak orang tua yang berdoa meminta jodoh untuk anak-anak mereka yang sudah berumur. Gereja perlu menyadari masalah ini dan mungkin perlu membuat divisi pelayanan khusus untuk membantu jemaat yang kesulitan mencari jodoh. Anak-anak muda sekarang memiliki kesempatan terbatas untuk bertemu orang baru setelah menyelesaikan sekolah. Tempat kerja mungkin tidak banyak yang lajang atau tidak seiman. Komsel juga mungkin tidak sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, gereja perlu memikirkan cara kreatif untuk menjawab kebutuhan ini. Jika umur semakin bertambah dan belum mendapat jodoh, jangan terus dipikirkan dan dirasakan, tetapi alihkan kepada firman Tuhan.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Apa artinya stop? Arti menawan artinya stop. Nah, kita ini punya kebiasaan, Bapak, Ibu. Waktu kita mikir, kita tambah mikir, tambah jauh, tambah jauh, tambah dirasa-rasakan, tambah dipahami, tambah diresapi, tambah di apa ya? Benar-benar dimasukkan di dalam hati. Lalu Anda mulai mikir, jangan-jangan aku kena karena kemarin aku bikin kesalahan. Karena performenku bulan ini kurang bagus. Lalu Anda mulai mikir, mulai mikir bulan yang lalu, mulai mikir 1 tahun yang lalu. Semua dipikir, aduh nanti kalau gak ada gimana? Kalau nak dapat pekerjaan kayak apa? Kalau ini

0:45 gimana? Nah, terus nanti gimana? Aku makan apa? Istri sama anakku makan seperti apa? Terus gimana? Anda akhirnya tambah down. Betul enggak? Iman timbul dari pendengaran akan firman. Amin. Bagaimana kita mengakses supaya kita keluar dari rasa takut? Yuk, kita buka firman Tuhan. 2 Korintus. Kembali lagi 2 Korintus pasal 10 ayat yang kelima tadi. 2 Korintus pasal yang ke-10 ayat yang kelima. Kalimat terakhir, kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada

1:31 Kristus. Jadi, gimana, Bu kalau saya takut, Bu? Takut keuangan saya, takut toko saya sepi, takut di PHK, takut dengan kondisi. Menurut firman Tuhan, pertama yang kita perlu lakukan menawan. Apa artinya stop? Arti menawan artinya stop. Nah, kita ini punya kebiasaan, Bapak, Ibu. Waktu kita mikir, kita tambah mikir, tambah jauh, tambah jauh, tambah dirasa-rasakan, tambah dipahami, tambah diresapi, tambah di apa ya? Benar-benar dimasukkan di dalam hati. Lihat misalnya nih, contoh-contoh kita takut kerjaan, ada ancaman PHK.

2:21 Stop. Jangan diteruskan. Bapak, Ibu dengar. Kita ndak bisa mencegah burung terbang di atas kepala kita. Yang namanya takut khawatir tidak perlu diundang. Tahu-tahu apa aja bisa membikin nyelonong. Betul. Tadinya gak apa-apa, ndak mikir apa-apa, tahu-tahu nyelonong tiba-tiba khawatir. Nah, kita ndak bisa mencegah itu datang. Tapi yang bisa kita cegah, jangan biarkan burung itu sampai bertengger, apalagi bersarang, apalagi bertelur. Problemnya kita sering membiarkan bersarang sampai bertelur. Jadi contohnya gini. Aduh, kantor sudah

3:08 ngumumkan akan terjadi pengefisiensian karyawan. Aduh. Lalu Anda mulai mikir, jangan-jangan aku kena karena kemarin aku bikin kesalahan. Karena performenku bulan ini kurang bagus. Lalu Anda mulai mikir, mulai mikir bulan yang lalu, mulai mikir 1 tahun yang lalu. Semua dipikir, "Aduh nanti kalau gak ada gimana? Kalau nak dapat pekerjaan kayak apa? Kalau ini gimana? Nah, terus nanti gimana? Aku makan apa? Istri sama anakku makan seperti apa? Terus gimana? Anda akhirnya tambah down." Betul enggak? Kalau itu muncul, stop. Ambil keputusan. Stop. Bu, bisa enggak? Bisa. Pokoknya jangan

3:54 mikir ke situ lagi. Pikir yang lain. Makanya saya bilang ketakutan itu gak bisa ditengking. Caranya didistrak. Diistrack itu dialihkan. Contohnya begini, Bapak, Ibu. Saya ajak Anda pernah kita eksperimen kalau gak salah. Coba Bapak Ibu bayangkan gajah warna pink. Yuk, sama-sama yuk membayangkan gajah warna pink. Zaman dulu ada ya majalah bobo. Terus ada ada yang bagian apa? Bona. Gajah kecil berbelalai panjang dulu ceritanya warnanya. Bisa bayangin enggak yang tahu majalah bobo? Nah, yang gak tahu majalah bobo bayangkan dah imajinasi Anda. Gajah

4:39 warna pink, badannya pink, telinganya pink, ekornya pink, kakinya pink, mukanya pink, ya kan? Betul. Nah, sekarang Anda lihat ya. Gajah warna pink sekarang. Yuk, sama-sama kita tengking. Coba bayangkan tadi gajah warna pink. Bayangkan. Terus Anda bilang gini, "Gajah pink pergi." Gajah pink and lihat tuh. Mukanya pink semua. Pergi gajah pink pergi. Saya percaya gak akan pergi. Anda akan terus terbayang gajah pink. Makin dibayangkan, terus ditengking, makin kuat. Caranya gimana menghilangkan bayangan gajah pink? Gampang. Gajah pink. Tadi bayangkan gajah pink warna eh gajah warna pink besar.

5:27 Bayangkan lagi ya. Yuk sama-sama kita bayangkan Bona. Sudah. Sekarang bayangkan ayam goreng KFC. KFC Anda suka apa? Dada. Paha. Paha bawah. Terus ber asapnya ngepul-ngepul. Terus ada harum. Harum sampai ngerasain harum. Ada bau nasinya. Terus ada saus sambalnya di sampingnya. Terus Anda bikin French fries-nya. Beli French fries-nya. Saya yakin ketika Anda membayangkan Kentucky Fried Chicken, gajah pinknya hilang. Anda nangkap. Nah, itu yang kita harus lakukan dengan ketakutan. Yang pertama kita stop sampai di situ. Kita alihkan

6:13 ke mana? Yuk, buka Roma pasal 10 ayat 17. Roma pasal 10 ayat 17. Jadi, iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus. Jadi, Bapak, Ibu begini, waktu kita takut, takut di PHK, stop. Jangan dibayangkan, dirasa-rasain sampai jauh. Stop. Waktu Anda bingung atau takut, entar gua ndak dapat jodoh, gimana umur sudah mulai 30, 32. Oh, Saudara, saya pernah ya ngomong di sini ada satu divisi pelayanan yang

7:01 gereja belum pernah bikin. Saya sudah kasih tantangan ini ke gereja-gereja gak ada yang mau Pak Rodi. Siapa tahu GB Salom mau divisi pelayanan Take Me Out. Serius, Pak. Kenapa saya concern masalah ini? Siapa bilang krisis yang terjadi cuman ekonomi? Anda ngerasakan gak sekarang makin ke sini makin sulit cari jodoh? Loh, gak percaya. Satu kali saya retreat di batu orang-orang tua semua. Saya bikin alter call yang aneh. Bukan terima Yesus alter call-nya. Siapa di antara saudara yang

7:47 hari ini sedang berdoa meminta jodoh untuk anaknya? Tidak pernah saya sangka 90% maju. Ini krisis, Pak. Bukan krism, Pak. Krisis take me out, Pak. Serius. 90% maju loh. Iya. Saya tanya, saya penasaran ini jangan-jangan mereka salah dengar instruksinya ya. Saya tanya, "Ibu berdoa buat anaknya, minta jodoh anaknya umur berapa." Kalau salah kan, oh saya minta doa untuk sakit kan berarti salah. Enggak benar. Oh, anak saya umur 38. Bapak anaknya umur berapa? 42. Kalau bapak 48.

8:34 Kalau ibu tua sekali, nenek-nenek. Saya pikir mungkin buat cucu ya. Ee mohon maaf Anda berdoa untuk siapa yang dapat jodoh? Anak saya. Umur berapa? 50. Haleluya, Pak, Bu. Saya jujur ya, doakan orang sakit flu itu gampang loh. Bapak, Ibu pernah doakan orang sakit flu? Gampang ya? Tertekan gak? Terpressure gak? Tapi kalau Anda doakan orang sakit kanker yang sudah pakai mesin dan tinggal tunggu waktu terus Anda mendoakan kesembuhan, kira-kira gimana? Sembuh enggak ya? Sembuh enggak ya? Sembuh enggak ya? Sama saya ketika

9:19 doakan orang tua-orang tua yang anaknya umur 458 minta jodoh. Saya berbalik badan saya dan saya bilang gini, "Tuhan imanku ndak nyampai Tuhan serius. Jadi saya percaya gereja ini siapa tahu punya beban untuk bikin divisi take me out. Soalnya gini loh, Bu, Pak. Anak-anak kita usia punya jodoh, mereka kalau sudah selesai sekolah mereka ketemu orang kan jarang, sudah mulai terbatas. Betul gak? Ketemunya di mana? Ah, sekarang saya tanya. tempat kerja yang jomblo berapa banyak?

10:06 Itu pun belum tentu Kristen. Betul enggak? Banyak yang sudah berumah tangga. Terus suruh ketemu di mana? Di gereja. Kebaktian umum terlalu general. Masuk ke komsel. Saya tanya komselnya kalau ini cewek umur 32, komselnya komsel apa, adik-adik? Komsel remaja, berondong. Komsel apa? Dewasa muda umur berapa di sini? 25 ke atas. Tapi saya mau tanya, rata-rata yang masuk di komsel dewasa ini cewek ya? Kalau misalnya saya 35 tahun saya masuk ke komsel dewasa muda, gimana kira-kira Pak Rudi?

10:52 Ada potensi gak ketemu jodoh? Sekali lagi masih berondong juga kan? Nah, kalau yang umurnya nanggung 32 35 ini loh, Pak. Di mana komselnya? Komsel kapel muda, Bu. Sudah kawin semua. Komsel orang tua, Bu. Masa sama cucunya? Ini sebabnya sebut sebetulnya ini sebuah jeritan, Pak. Jeritan yang umur 32 ini, Pak. Where is my Adam? Ini jeritan, Pak. Jeritan. Saya dulu punya konsep, Pak Rudi. Gimana take me out? Membernya 27 ke atas. Wah,

11:41 itu didata. Woh, perlu. Nah, ini krisis, Saudara. Nah, gimana nih? Tambah dekat umur, belum dapat jodoh, stop. Jangan dirasa-rasakan. Nanti kalau sampai 32 gimana? Nanti kalau sampai 35 gimana? Nanti kalau gini dapat gimana? Nanti gini. Oh, tambah stres. Stop. Alihkan. Alihkan ke mana? Ke firman. Iman timbul dari pendengaran akan firman. Amen.

Share

Ringkasan Video YouTube